Anda di halaman 1dari 3

Lailatul Qodar, Al-qur'an dan Teori Relativitas

Apa itu lailatul qodar? Orang akan menjawab: malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Dan itulah jawaban yang penulis dapatkan ketika lailatul qodar ditanyakan kebeberapa
teman. Al-Qur'an sendiri memang menyebutkan demikian: malam yang nilainya setara
dengan seribu bulan. Jawaban tersebut segera penulis tanggapi, memang benar lailatul qodar
itu malam yang kebaikan setara dengan seribu bulan tetapi bukankah pertanyaaan dalam Al-
Qur'an itu belum tuntas terjawab, bahkan terkesan kita disuruh menguak misteri
pertanyaannya dari surat al-qodar ayat satu tersebut?. Coba kita simak lebih lanjut bagaimana
surat tersebut memulai dialognya dengan pembaca: talah Kami turunkan pada malam
kemuliaan. Bukan langsung mempertanyakan tentang lailatul qodar itu sendiri tetapi sesuatu
yang telah Allah turunkan pada malam yang mulia tersebut. Tidak seperti surat-surat yang
lain , seperti surat al-Qori'ah yang langsung mempertanyakan arti atau hakikat dari al-Qori'ah
tersebut. Ini menandakan ada sesuatu hal yang Allah turunkan pada malam itu bukan sekedar
menjelaskan apa itu lailatul qodar meskipum surat tersebut lebih terkonsentrasi mengenai arti
lailatul qodar itu sendiri dan tidak menjelaskan mengenai apa yang telah Allah
"anzalnahu"kan dimalam itu, apalagi langsung mengacu kepada "hu", nya. Jelas ini
menandakan bahwa Allah hendak mengajak kita berpikir dan menangkap sesuatu yang
menjadi sebuah misteri, seolah-olah pada malam itu ada harta karun yang tersembunyi dan
manusia tak diberi tahu apa wujud harta karun tersebut.
Kembali pada masalah lailatul qodar: jawaban yang tertera dalam al-Qur'an tersebut
seolah hanyalah sebuah analogi, perumpamaan, yang Allah buat untuk mengkomparasikan
dengan malam-malam biasa. Seperti halnya saat kita membuat perumpamaan semisal: segelas
madu itu lebih baik dari pada seribu gelas air sungai. Sebuah analogi yang hanya
membandingkan dari sudut manfaat atau nilainya saja .
Begitu pula perumpaan Allah yang telah dibuat-Nya terhadap lailatul qodar dengan
malam-malam yang lain, tak lain hanya membandingkan dari segi nilai, kualitas malam
tersebut. Dan kalau kita baca keseluruhan ayat tersebut akan kita dapati sebuah
pendeskripsian terhadap malam tersebut, sebuah penggambaran alur cerita pada mnalam itu,
bagaimana malaikat-malaikat dan ruh mengatur segala urusan dan malam yang penuh
kesejahteraan.
Surat tersebut seolah bertutur bagaimana keadaan malam tersebut dan apa arti malam
tersubut. Sehingga ayat tersebut belum mengungkap mengapa dan apa yang telah Allah
turunkan pada malam tersebut seperti yang telah disebutkan diawal ayat tesebut. Pertanyaan
"mengapa " malam tersebut mempunyai nilai yang lebih "agung" jika dibanding dengan
malam-malam biasa dan dibulan biasa pula, layaknya mengapa besi satu karung kok lebih
berat dari pada kapas satu karung? Hal apa yang bisa menjadikan perbedaan tersebut.
Mengapa penulis membuat pengandaian tersebut tidak lain penulis cermati adanya satu titik
pandang yang sama untuk melihat antara malam al Qodar dengan malam-malam yang lain
yakni titik tolak keadaan. Keadaan yang didasarkan pada rotasi bumi dan pergerakannya
mengitari matahari. Karena surat tersebut memuat kata "malam" dan "bulan". Sebuah
keadaan yang didasarkan pada terbit dan tenggelamnya sang surya. Inilah yang perlu kita
selami makna dari malam tersebut, gerangan apa yang menyebabkan malam tersebut bernilai
lebih jika dibandingkan dengan malam-malam yang lain bahkan jika dibandingkan dengan
kumpulan-kumpulan hari, bulan.
Setidaknya apa yang disebutkan dalam surat al-Qodar khususnya ayat pertamanya juga
telah disebutkan dalam surat ad-Dukhan ayat 3,4, "sesungguhnya Kami menurunkannya pada
malam yang diberkahi. Sungguhlah kami yang memberi peringatan. Pada malam itu
dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. Ayat ini melanjutkan ayat pertama surat
tersebut yang menyebutkan bahwa Allah telah menurunkan kitab " mubiin", kitab yang nyata.
Kitab al-Qur'an diturunkan pada malam dibulan Romadhon, bulan yang di dalamnya
diturunkan (permulaan) al-Qur'an.." sehingga apa yang Allah turunkan pada malam tersebut
tidak lain adalah Al-qur'an. Ibnu Abbas berkata bahwa Allah menurunkan al-Quran secara
keseluruhan dari lawh mahfuzh ke baitul 'izzah di langit dunia. Kemudan al-Qur'an tersebut
diturunkan secara berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan selama 23 tahun kepada
Rosulullah.
Al-Qur'an diturunkan pada malam tersebut tak lain bertujuan sebagai bentuk
pengagungan terhadapnya. Sehingga jika dirunut yang menyebabkan malam itu menjadi lebih
berbobot dari pada kumpulan-kumpalan malam adalah karena al-Qur'an. Karena al-Qur'an
jugalah malaikat-malikat menembus cakrawala alam semesta untuk menyampaikan berkah
yang telah Allah janjikan kepada siapa saja yang pada malam itu bermesraan dengan
Robbnya, menyatu menghayati akan dirinya, Tuhannya juga mengapa ia harus menyembah-
Nya.
Setidaknya, sampai saat ini, yang menjadi penyebab malam lailatul qodar menjadi
begitu mulia, mengalahkan dengan malam-malam di hari-hari biasa, karena al-Qur'an.
Pertanyaan selanjutnya: mengapa al-Qur'an kok mampu menjadi begitu mumpuni menjadikan
malam tersebut hebat. Kalau dalam bahasa fisika atau ilmu sains lainnya suatu benda begitu
mempunyai massa, bobot, yang berbeda dengan benda yang lain dikarenakn adanya massa
jenis yang terkandung di dalamnya. Sehingga al-qur'an jka kita analogikan dengan dunia
tersebut, fisika, tentunya mempunyai komponen-komponen yang menyusunnya tentulah
agung. Sehingga menjadikan al-Qur'an tersebut mempunya kuantitas dan kualitas yang
'adhim.
Dalam dirinya sendiri, al-Qur'an, disebutkan bahwa ia adalah kitab petunjuk, obat,
peringatan dan masih banyak sebutan kegunaannya sehingga jika dikerucutkan ia adalah
rahmatan lil 'alamin, rahmat semesta. Al-qur'an bukan semata diturunkan kepada orang islam
tetapi kepada seluruh alam, orang non muslim pun dipersilahkan untuk mentadabburinya.
Jadi al-Qu'an adalah mukjizat bagi siapa saja yang mencintainya. Orang yang mencintai akan
mendapatkan pancaran nur ilahi dan bila di imani dan diselami isinya akan membawanya ke
wilayah kebenaran yang benar, haqul haq.
M. Quraish Shihab dalam bukunya, Lentera Hati, menuliskan: tidak ada satu bacaan
pun, selain al-Qur'an, yang dipelajari redaksinya, bukan hanya dari segi penetapan kata demi
kata dalam susunannya serta pemilihan kata tersebut, tetapi mencakup arti kandungannya
yang tersebut, tetapi mencakup arti kandungannya yang tersurat dan tersirat sampai kepada
kesan-kesan yang ditimbulkannya dan yang dikenal dalam bidang studi al-Qur'an dengan
tafsiri.
Tidak ada satu bacaan pun, selain al-Qur'an, yang diatur dan dipelajari tata-cara
penulisannya, baik dari segi persesuain dan perbedaannya dengan penulisan masa kini,
sampai pada mencari rahasia perbedaannya dengan penulisan masa kini, sampai pada mencari
rahasia perbedaan penulisan kata-kata yang sama seperti penulisan kata "bismi" yang pada
wahyu pertama ditulis dengan menggunkan huruf alif setelah ba'. Sedangkan pada ucapan
bismillah ditulis tanpa alif dan kemudian ditemukan pertimbangan-pertimbangan yang sangat
mengagumkan dari perbedaan-perbedaan tersebut.
Sebetulnya masih banyak ilmu yang bisa ditilik oleh manusia dari al-Qur'an, entah ia
menilik dari segi sastra, sains, atau ilmu sejarahnya. Seolah al-Qur'an tak ada titik akhirnya
untuk kita berhenti berjalan di atasnya. Dari celah-selah redaksinya dtemukan tiga bukti
kebenaran. Pertama, keindahan, keserasian dan kesimbangan kata-katanya. Kedua,
pemberitaan gaib yang diungkapkannya. Ketiga, isyarat-isyarat ilmiahnya sungguh
mengagumkan ilmuwan masa kini, apalagi yang menyampaikannya adalah seorang ummi
yang tidak pandai membaca dan menulis serta hidup dilingkungan masyarakat terbelakang.
Al-qur'an merupakan sebuah titik acuan untuk melihat segala sesuatu hal. Ia adalah
kerangka acuan untuk segala sesuatu yang ada didunia ini. Kita tahu bahwa segala sesuatu
yang ada di alam ini, entah itu pikiran kebenaran yang di cetuskan manusia sangatlah bersifat
relatif, sementara. Mungkin kebenaran yang saat ini ada kita amini sebagai sesuatu kebenaran
mutlak tapi apakah ia akan langgeng nilai kebenaran tersebut jika telah di uji dengan waktu
yang terus mengalir. Kalau tidak ada titik uji untuk dijadikan patokan maka akan terjadi
kekacuan di tengah kehidupan manusia. Manusia akan menggunakan kerangka kebenaran
sendiri, manusia hanya akan mengenal benere dewe, manusia lain dianggap salah, begitu juga
manusia yang lain memandang dirinya. Manusia berada dalam dua titik: benar karena
menggunakan perspektif kebenaranya sendiri. Titik salah, jika ditilik dari perspektif
kebenaran orang lain.
Untuk itu lah al-Qur'an diturunkan sebagai huda, petunjuk, dijadikan pijakan dalam
melihat diantara kebenara-kebenaran tersebut. Al-qur'an diturunkan untuk menghentikan
kengeyelan-kengeyelan manusia dan kerancuan dalam menelurkan kebenarannya yang
bersifat relatif tersebut.
Akankah manusia masih setia memandang al-Qur'an sebagai paradigmanya dalam
memandang kebenaran di dunia ini? Ataukah ia akan sekedar menjadi bacaan rutin yang
hanya berorientasi pahala yang notabenenya hanya mementingkan dirinya sendiri, yakni
terbebasnya dirinya dari neraka dan mendapatkan surga. Ataukah ia akan menjadi pajangan
etalase rumah-rumah sekedar menaikkan nilai dirinya dihadapan manusia supaya mendapat
predikat sebagai manusia saleh?. Ataukah ia memang sebuah kitab yang selalu dirindukan
rahasia-rahasia yang termuat di dalamya?. Wa'allahu a'lam.

Khoirul Anwar
Mahasiswa Pendidikan Kimia, UIN Sunan Kalijaga