Anda di halaman 1dari 12

MAKRIFATUL ISLAM

Oleh
Kelompok 5
AJ2-B17

Maslakah

1314111230

Anis Lutfiani

1314111230

Astrid Dyah Febri Diane

131411123042

Dessy Era Puspitasari

1314111230

Lilis Kurniawati

1314111230

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2015

A. Definisi Islam
a) Islam Menurut Bahasa (Etimologi)
Menurut etimologi, Islam berasal dari kata salima yang artinya selamat.
Kemudian dari kata tersebut dibentuk menjadi kata aslama yang artinya
meyelamatkan. Dan berarti juga tunduk, patuh dan taat.. kata aslama itulah
menjadi kata Islam yang mengandung semua arti yang terkandung dalam kata
dasarnya. Oleh sebab itu orang yang melakukakan aslama (masuk Islam)
dinamakan Muslim. Berarti orang itu telah menyatakan diri untuk taat,
menyerahkan
diri
dan
patuh
kepada
Allah
SWT.
Di dalam ayat al-Quran, ada beberapa kata yang secara umum makna dari katakata tersebut terkandung dalam lafazh Islam, diantaranya :
- Islamul
wajhi,
secara
lafazh
artinya
menundukan
wajah

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas
menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan
ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus Dan Allah mengambil Ibrahim
menjadi kesayanganNya. (QS. An-Nisaa` (4) :125).
- Istislam,
secara
lafazh
artinya
berserah
diri


.

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal
kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik
dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka
dikembalikan. (QS. Ali Imran (3) :83).
- Salim
atau
salamah,
secara
lafazh
berarti
bersih


Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.(QS.
Asy-Syuara (26) :89).
- Salaam,
secara
lafazh
artinya
selamat
sejahtera.

.
Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang
kepadamu, maka katakanlah:"Salaamun-alaikum. Rabbmu telah menetapkan
atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat
kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah
mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Anam (6) :54)
- Salmu,
secara
lafazh
berarti
damai.

.

Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan
Allah-(pun) beserta kamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala)
amal-amalmu. (QS. Muhammad. (47) :35).

b) Islam Menurut Terminology (Istilah)


Secara
termonologi,
Islam
adalah
:



.

Tunduk dan patuh untuk melaksanakan segala sesuatu yang dibawa oleh Nabi
SAW yang diketahui dan terkenal bahwasannya itu merupakan syariat Islam.
Dengan definisi tersebut, Islam menjadi penterjemah untuk keimanan
yang ada dalam lubuk hati. Maka iman adalah keyakinan yang tertanam dalam
hati, sedangkan Islam adalah pembuktian dengan melibatkan anggota badan untuk
keimanan yang tertanam kuat di dalam hati. Pemahaman ini diperkuat oleh hadits
Nabi SAW, ketika beliau ditanya oleh Jibril tentang iman, maka beliau
menjawab : ia adalah, hendaknya Engkau meyakini adanya Allah, Malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan meyakini qadla serta qadar-Nya.
Dan ketika Rasulullah SAW ditanya tentang Islam, beliau menjawab,
Islam adalah, hendaknya kamu bersyahadat, mendirikan shalat, menunaikan
zakat, melaksanakan shaum di bulan Ramadhan, dan melakukan haji apabila
kamu mampu. Kemudian ketika menyebutkan rukun Islam, beliau
bersabda,Islam itu dibangun di atas lima pondasi, dua kalimah syahadat,
mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan shaum di bulan
Ramadhan. Dari hadits itu, terlihat jelas bahwa, Islam merupakan aplikasi
daripada keimanan yang kokoh yang tertanam di dalam hati.
B. Kesempurnaan Islam
Islam adalah kesejahteraan dan kebahagiaan hidup dan kehidupan manusia, baik
di dunia maupun akhirat. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, Islam mengajarkan
segi-segi yang berkaitan dengan urusan duniawi dan segi-segi yang berhubungan dengan
urusan ukhrawi. Maka dengan demikian, Islam adalah ajaran yang mengatur hubungan
manusia dengan tuhannya, meliputi keyakinan dan penghambaan. Islam mengajarkan
tentang system keimanan dan peribadahan. Yang pertama disebut dengan rukun-rukun
iman dan yang ke dua disebut dengan rukun-rukun Islam.
Islam merupakan satu-satunya ajaran yang mengatur manusia dengan sesamanya
dan hubungannya dengan alam sekitarnya di mana dia hidup. Oleh karena itu, Islam
mengajarkan tentang tata nilai kehidupan manusia secara komprehensif, baik sosial,
ekonomi, politik, seni, kebudayaan, pernikahan, pembagian harta waris, jihad dan lain
sebagainya. Hal tersebut menunjukkan, bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan
komprehensif (syamil wa mutakamil).
Allah
SWT
berfirman,

.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, dan
janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang
nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah (2) :208).
Secara
umum,
kesempurnaan
Islam
bisa
dari
tiga
aspek:
Pertama,
Kesempurnaan
dalam
Waktu
(syumuliyyatuz
zaman)

Islam adalah risalah atau ajaran yang satu yang cocok dan sesuai sepanjang sejarah
kehidupan manusia sampai hari kiamat. Islam juga merupakan agama yang
menyempurnakan sekaligus meralat ajaran yang telah dibawa oleh para nabi dan rasul
Allah SWT sebelum Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, maka Islam adalah
agama dari seluruh nabi dan rasul yang diutus Allah SWT, pada bangsa-bangsa dan
kelompok-kelompok manusia, termasuk Nabi Muhammad SAW dan umatnya. Di antara
ayat al-Qur`an yang menunjukkan bahwa Islam adalah agama bagi nabi sebelum Nabi
Muhammad
SAW
adalah
firman
Allah
SWT,


.. Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah
memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu
kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu
sekalian
orang-orang
muslim
dari
dahulu
..
(QS. Al-Hajj (22) :78). Adapun Nabi Muhammad SAW, beliau merupakan nabi terakhir,
oleh karenanya tidak akan ada lagi setelah beliau dan secara otomatis tidak akan ada lagi
ajaran selain ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Islam adalah agama yang
sempurna yang akan senantiasa sejalan kehidupan manusia sepanjang zaman.


.
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi
dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu.
(QS.
Al-Ahzab
(33)
:
40)







. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu. Maka
barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa,sesungguhnya Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Maidah (5) : 3).
Kedua, Kesempurnaan
Sistem
(syumuliyyatul
manhaj)
Islam adalah agama yang memiliki system ajaran yang sempurna, di mana ia dibangun
berdasarkan asas akidah yang kokoh yang tercermin dalam rukun-rukun iman. Kemudian
di atas keimanan yang kokoh tersebut dibangunlah keislaman seorang hamba yang
tercermin dalam rukun-rukun Islam (ibadah dan muamalah) dan budi pekerti (akhlak).
Selanjutnya diperkuat atau didukung dengan system ajaran jihad atau amar maruf nahi
munkar demi terpeliharanya keimanan yang murni dan ibadah serta akhlak
mulia. Diantara ayat-ayat yang menunjukkan kesempurnaan system Islam adalah sebagai
berikut:
- Dalam
masalah
akidah
Allah
SWT
berfirman,

.


Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab
yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian,
maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (QS. 4:136).
- Dalam
masalah
ibadah,
contohnya
shalat
dan
zakat
Allah
SWT
berfirman
:


.
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku'lah bersama orang-orang
yang
ruku'.
(QS.
Al-Baqarah
(2)
:43)

.
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.(QS. AlBaqarah (2) :183).
- Dalam masalah muamalah, contohnya larangan transaksi ribawi
.


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan
berlipat ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat
keberuntungan. (QS. Ali Imran (3) :130).
- Dalam masalah akhlak, contoh larangan memalingkan wajah dan sombong.





.


.



Dan janganlah memalingkan muka dari manusia (karena sombong) dan
janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan
sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.Sesungguhnya
seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS. Luqman (31) : 18-19).
- Dalam
masalah
jihad.

.

.
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu
perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu)
kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan
harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuiny.
(QS. Ash-Shaf (61) : 10-11)
Ketiga
: Sempurna
dalam
tempat
(syumuliatul
makan).
Allah swt sebagai satu-satunya dzat yang menciptakan alam ini dan segala yang ada
didalamnya termasuk manusia, Dia telah menurunkan syariat Islam untuk seluruh alam
tanpa dibatasi dengan waktu begitu juga ruang atau tempat. Yang demikian itu
dikarenakan Islam bersumber dari Dzat yang satu, yaitu Allah SWT, Dialah Dzat Yang
menguasai semesta alam, dan mengetahui akan kemaslahatan hamba-hamba-Nya disetiap

waktu dan juga tempat, oleh karenanya, syariat Islam diturunkan untuk kehidupan
manusia dimanapun ia berada tanpa dibatasi sedikitpun dengan ruang atau tempat. Islam
bukan hanya untuk kewasan Arab, namun ia diperuntukkan untuk semua manusia, baik
Arab
maupun
non
Arab.
Allah
SWT
berfirman,


.
Dan Ilah kamu adalah Ilah Yang Maha Esa; Tidak ada Ilah melainkan Dia, Yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih
bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna
bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia
hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis
hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi;
sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang
memikirkan. (QS. Al-Baqarah (2) :163-164).
C. Islam adalah Pedoman Hidup
Allah SWT sebagai Dzat Yang telah menciptakan alam semesta dan segala isinya
termasuk manusia di dalamnya, tentunya Dia Maha Mengetahui akan kemaslahatan
hamba-hamba-Nya. Oleh karenanya, Allah SWT tidak membiarkan kehidupan ini tanpa
aturan, pijakan dan pedoman. Dalam rangka memberikan kemaslahatan yang sempurna,
Allah Azza Wa Jalla menurunkan syariat Islam melalui Rasul-Nya yang berlandaskan
kepada Al-Quran dan Sunnah Nabawiyyah. Oleh karenanya, bagi hamba Allah yang
menginginkan kemaslahatan yang sesungguhnya, ia harus menjadikan Al-Islam sebagai
landasan dasar dalam mengunakan akal untuk berpikir, hati untuk menentukan arah dan
tujuan hidup, serta menggunakan anggota badannya untuk membuktikan kebenarannya
dalam berpikir dan menenetukan pilihan, sehingga Islam akan selalu mewarnai relungrelung kehidupannya.
Ketika seorang hamba telah menjadikan Islam sebagai pedoman hidupnya,
niscaya ia tidak akan lagi berpikir individual; karena Islam selalu mengajarkan kepada
pemeluknya untuk berpikir demi kemaslahatan umat. Begitu juga halnya dengan
keputusan yang diambilnya, tindakan yang dilakukannya akan selalu diukur terlebih
dahulu dengan nilai-nilai Islam, sehingga kemuliaan pun akan selalu menyertainya.
Terkait dengan keharusan berpedoman kepada Al-Islam, Umar r.a telah
berkata,Kita adalah kaum yang dimuliakan Allah karena (selalu) berpegang teguh
dengan Islam, maka kita tidak akan pernah mendapatkan kemuliaan (kemaslahatan) tanpa
berpegang teguh kepadanya.
Cukuplah kesempurnaan Islam sebagai alasan yang utama untuk tidak menjadikan
ajaran atau system yang lain sebagai pedoman dalam kehidupan manusia; karena Islam
yang sudah sempurna dan mencakup segala sector kehidupan dan dijamin oleh Allah
SWT sebagai pembuat syariat tersebut, bahwa ia akan sanggup menyelesaikan semua

problematika kehidupan manusia, manakala syariat Islam itu ditinggalkan, maka


kehancuranlah yang akan menimpa.
Adalah satu ketetapan yang tidak bisa ditawar lagi, bahwa Islam adalah satusatunya konsep kehidupan yang diridlai Allah Azza Wa Jalla yang sanggup menjamin
kemaslahatan hidup manusia, baik secara pribadi maupun kelompok, di dunia maupun
akhirat. Hal tersebut, bisa dilihat dari makna-makna yang tersirat dalam ayat-ayat di
bawah
ini.




.

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orangorang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka,
karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayatayat Allah sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (QS. Ali Imran (3) :19)


.

Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan
diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS.
Ali Imran (3) :85).
D. Islam adalah Solusi
Sejalan dengan pase-pase kehidupan yang terus dilalui sering kali umat ini
menghadapi berbagai macam permasalahan, di mana permasalan tersebut terkadang
mengakibatkan perselisihan dalam hal menentukan pilihan solusinya. Islam tampil
sebagai system kehidupan yang sempurna telah memberikan konsep-konsep yang apabila
dilaksanakan dengan baik tentunya akan memberikan solusi yang mashlahat untuk umat
ini, karena Allah sendiri yang telah menjaminnya.
Oleh karena itu Allah Dzat Yang Maha Tahu akan kemaslahatan dan solusi untuk
setiap permasalahan, selalu menyeru hamba-Nya untuk mengembalikan segala
permasalahan yang terkadang diperselisihkan itu, kepada Islam agar mendapatkan solusi
yang
tidak
merugikan.
Konsep-konsep dasar kehidupan yang telah Allah tetapkan dalam Islam, tentunya
akan menjadi solusi alternatif untuk menyelesaikan segala permasalahan umat, oleh
karenanya, sudah seharusnya bagi umat Islam untuk berpegang teguh pada ketetapan
tersebut dan tidak mencoba untuk mencari-cari solusi selain solusi Islam. Hal tersebut
diingatkan
oleh
Allah
SWT
dalam
firman-Nya,

Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di
antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka
kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar
beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu)

dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisaa` (4) : 59). Dari ayat di atas, kita selalu dituntut
untuk menjadikan Islam sebagai rujukan dalam setiap permasalahan yang dihadapi, dan
menjadikannya satu-satunya solusi; karena Islam sebagai system hidup yang sempurna
tentunya telah memiliki konsep-konsep yang telah dijamin kemaslahatannya oleh Allah
SWT sebagai Dzat yang membutnya.
Sebagai contoh, kita dapat melihat sejarah pemerintahan Umar bin Abdul Aziz
yang terkenal sebagai pemerintahan yang selalu menjadikan Islam sebagai satu-satunya
pedoman dalam menjalankan pemerintahannya. Dan terbukti, selama pemerintahannya
diakui sejarah sebagai pemerintahan paling berhasil setelah Khulafaurrasyidun.
Contoh lain, untuk masalah kemiskinan Islam memiliki solusi dengan konsep zakat, infak
dan shadaqah. Untuk masalah kriminalitas, Islam memiliki solusi dengan konsep hudud
(hukuman yang telah Allah tetapkan kadar dan jenisnya) dan qishash. Untuk masalah
pembagian harta pusaka yang sering memicu konflik keluarga, Islam memiliki solusi
dengan konsep ilmu mawaris (faraa`id) yang secara rinci diatur dalam al-Qur`an. Untuk
penyakit masyarakat (pergaulan bebas), Islam memberikan solusi dengan konsep nikah.
Untuk masalah ekonomi yang sering kali mengakibatkan kerugian bagi sebagian pihak
dan menguntungkan bagi pihak yang lainnya, Islam memberikan solusi dengan konsep
etika berbisnis dalam Islam. Dan masih banyak solusi lainnya yang harus selalu dijadikan
acuan dalam menyelesaikan segala permasalah umat.
E. Karakteristik Islam
Yang dimaksud dengan karaktersitik Islam adalah hal-hal yang bersifat khusus yang
membedakan syariat dengan yang lainnya.
a) Bersumber dari Allah SWT (Rabbaniyyah)
Oleh karena syariat Islam bersumber dari Allah SWT sebagai pencipta alam
semesta, maka sudah barang tentu syariat Islam terhindar dari kelemahan dan
unsur-unsur kepentingan yang sempit. Hal ini dikarenakan hukum Allah itu
berbeda dengan hukum pisitif yang dibuat oleh manusia yang tidak akan terlepas
dari
kelemahan
dan
unsur-unsur
kepentingan
yang
sempit.
Manusia, siapapun orang pasti akan menyimpan sifat kemanusiaannya, seperti
berpihak pada kepentingan individu atau kelompok, juga menyimpan kelemahan
dan keterbatasan ilmu pengetahuan. Umpamanya, ia memiliki keahlian dalam
bidang hukum, akan tetapi lemah dalam bidang dalam bidang-bidang yang
lainnya,
seperti
politik,
sosial
dan
lain
sebagainya.
Hukum produk manusia pasti tidak akan luput daripada unsur kepentingan sempit
dan sesaat. Peraturan yang dibuat oleh pihak pemerintah biasanya berpihak
kepada kepentingan perentah dan tidak jarang menyengsarakan rakyat banyak.
Hal itu dikarenakan manusia tidak terlepas dari kepentingannya.
Satu-satunya hukum yang bersih dari kekurangan, kecurangan dan ketidak adilan
hanyalah hukum Allah SWT, karena Allah Maha Suci dari sifat-sifat tersebut.
Satu-satunya hukum yang tidak memihak kepada kepentingan sepihak dan sesaat
hanyalah hukum yang dibuat Allah SWT; karena Dia tidak berkepentingan kepada

manusia, namun sebaliknya, manusia lah yang berkepentingan kepada Allah


SWT.
b) Syariat Islam Bersifat Seimbang (Tawazuniyyah)
Keseimbangan dalam syariat Islam maknanya adalah tidak menampilkan sikap
berlebihan dalam segala aspek kehidupan, melainkan selalu berupaya untuk
bersikap proporsional sejalan dengan ketetapan yang telah digariskan dalam
Islam.
Islam tidak hanya memerintahkan kepada umatnya untuk berkonsentrasi dalam
kehidupan ukhrawi, akan tetapi ia menganjurkan juga untuk tidak melupakan
kehidupan duniawi. Islam juga tidak hanya menyuruh untuk memperhatikan
kepentingan pribadi, namun menyuruh pula untuk memperhatikan keluarga,
masyarakat dan umat.
Karakteristik keseimbangan ini, bisa terlihat dalam sebuah hadits Nabi SAW,
ketika datang kepada beliau tiga orang laki-laki dan bertanya tentang ibadahnya.
Ketika mereka mengetahui ibadahnya Rasulullah SAW, maka mereka merasa
bahwa ibadah mereka masih sangat sedikit, sehingga salah seorang dari mereka
berkata,Aku akan selalu shalat dan tidak akan tidur. kemudian yang kedua
berkata,Aku akan selalu shaum dan tidak akan pernah berbuka. dan yang ketiga
mengatakan,Aku akan menjauhi wanita dan tidak pernah menikah selamanya.
Mendengar
hal
itu,
Rasulullah
SAW
bersabda,




.
Kalian mengatakan, begini dan begini, ketauhilah! Demi Allah! Bahwa Aku
adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah di antara kalian,
akan tetapi aku melaksanakan shaum dan berbuka, aku mendirikan shalat dan aku
juga tidur, dan aku menikahi para wanita. Maka barangsiapa yang tidak
menyenangi sunnahku, ia tidak termasuk ke dalam golonganku.(HR. Bukhari
dan
Tirmidzi,
hadits
dari
Anas
bin
Malik
)
Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda,Sesungguhnya untuk dirimu ada
hak atasmu, dan tuhanmu mempunyai hak darimu, juga keluargamu mempunyai
hak darimu, maka tunaikanlah hak-hak itu sesuai dengan haknya masing
c) Berlaku untuk Umum atau Mendunia (alamiyyah)
Syariat Islam berlaku untuk semua orang di semua tempat. Ia bukan hanya
diperuntukkan untuk umat Islam saja, atau untuk wilayah Arab saja. Setiap orang
yang hidup di wilayah negeri Islam manapun, ia harus tunduk terhadap hukum
Allah,
sebagaimana
tercantum
dalam
firman-Nya,
.

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya
sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi
kebanyakan manusia tiada mengetahui. (QS. Saba` (34) : 28).

Konsekuensinya, bahwa hukum Islam berikut kaidahnya harus mampu


mewujudkan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia, dan menghantarkannya ke
derajat yang lebih tinggi; karena tidak mungkin suatu system hukum yang
diberlakukan untuk umum, tetapi kemaslahatannya hanya dirasakan oleh
sekelompok umat manusia saja.
Sumber-sumber hukum Islam dibagi kepada dua bagian, yaitu : sumber yang
bersifat permanent, seperti Al-Quran dan as-Sunnah yang merupakan sumber
utama syariat Islam. berikutnya, sumber yang bersifat fleksibel seperti ijtihad
yang merupakan dasar bagi ijma, qiyas, istihsan dan mashalih mursalah. Sumber
yang fleksibel inilah yang membuat syariat Islam dapat bertahan di mana dan
kapan saja.
d) Bersifat Universal (Syumuliyyah)
Islam merupakan peraturan yang menyeluruh atau komprehensif, tidak terbatas
hanya pada pembinaan akhlak saja, namun ia mencakup berbagai aspek
kehidupan dan mengatur segala urusan manusia, baik yang bersifat individu,
keluarga, masyarakat dan negara.
Islam telah mengatur semua aspek kehidupan seseorang, tidak ada yang
terlupakan padanya. Islam telah mengatur hubungan antara manusia dengan
penciptanya (hamblum minallahi), hubungan manusia dengan sesama manusia
lainnya (hablum minannasi), hingga hubungan manusia dengan makhluk lainnya,
hewan dan tumbuh-tumbuhan.Tidak ada suatu persoalan pun yang luput dari
aturan (syariat) Islam, setiap persoalan yang muncul dalam kehidupan manusia
pasti ada jawabannya dalam syariat Islam.
Secara garis besar, syariat Islam dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian :
Pertama, berkenaan dengan hukum akidah. Termasuk di dalamnya masalahmasalah yang berkenaan dengan prinsip bertauhid atau akidah Islam.
Kedua, berkenaan dengan akhlak (moral), seperti menghormati orang tua,
menepati janji, berkata yang baik, tidak berdusta, tidak sombong dan lain
sebagainya. Dan ketiga, berkenaan dengan masalah amaliyyah. Aspek ketiga ini
terkait dengan dua masalah utama, yaitu : aspek ibadah, yaitu aturan yang
mengatur interaksi antara manusia sebagai makhluk dengan penciptanya, aturan
yang mengatur tentang tata cara menusia melaksanakan pengabdiannya kepada
Allah SWT. Selanjutnya, aspek muamalah, yaitu aturan yang mengatur interaksi
antara sesama manusia. Aspek ini merupakan bagian yang paling luas diatur
dalam Islam; mengingat aktifitas manusia yang sangat dominan dalam hidupnya
adalah interaksinya dengan sesama manusia. Dan aspek tersebut menyangkut
hukum kekeluargaan, perdagangan, hukum tata negara dan lain sebagainya.
Wallahu Alam bish shawwab.
F. Kisah Teladan Seputar Marifatul Islam
Pada suatu ketika, seorang yang berkebangsaan Ingris yang bernama Brawn, ia
melakukan kunjungan ke negeri India, dan kunjungan tersebut merupakan yang pertama
kali ia lakukan. Ketika ia berjalan-jalan sambil memperhatikan keadaan sebagian

perkampungan di India, tiba-tiba ia merasa kehausan dan dilihatnya seorang petani India
tengah membawa air minum, kemudian ia meminta air minum kepadanya.
Namun ketika petani tersebut melihat, bahwa yang meminta air padanya itu
seorang berkebangsaan Ingris, ia tidak memiliki keinginan sedikitpun air minum
kepadanya, sehingga Brawn melanjutkan perjalanannya sambil menahan rasa haus.
Setelah beberapa langkah, si petani India itu membuang air minum dan gelasnya, lalu
menginjak-injaknya. Melihat pemandangan seperti itu Brawn merasa terkejut dan
bertanya-tanya dalam dirinya, namun ia tidak berkomentar sedikitpun, dan terus
melanjutkan perjalanannya.
Pada hari berikutnya, ia kembali melakukan perjalanan di perkampungan yang
berbeda, tiba-tiba ia kembali merasa kehausan dan didapatkannya pula seorang petani
yang secara kebetulan tengah membawa air minum seperti petani yang pertama kali
dijumpainya. Kemudian ia meminta minum kepadanya dan petani ini segera memberinya
air minum.
Setelah Brawn minum air tersebut, ia pergi dari petani itu dengan tetap
mengawasinya untuk mengetahui, apakah petani tersebut membuang gelas bekas ia
minum seperti petani yang pertama ataukah tidak?
Ternyata Brawn mendapatkan pemandangan yang berbeda, petani tersebut tidak
membuang gelas bekas ia minum, melainkan ia menyimpankannya kembali ke tempat
semula dan tidak menghancurkannya, lalu Brawn bertanya kepada penduduk setempat
terkait dengan dua pemandangan yang berbeda itu.
Dikatakan kepada Brawn, bahwa petani yang pertama adalah seorang penyembah
berhala, yang mana ia tidak rela selain dari pemeluk agamanya minum air dari gelas yang
dibawanya. Adapun petani yang ke dua, ia adalah seorang Muslim.
Kemudian Brawn (setelah masuk Islam ia menamakan dirinya dengan Abdullah) berkata
dalam dirinya,Aku merasa bahwa diriku harus lebih jauh mengenal Islam, maka aku
membaca terjemah Al-Qur`an, kemudian membaca kisah perjelanan hidup Rasulullah
SAW, lalu setelah itu aku masuk Islam.
Dari kisah ini, kita dapat mengambil ibrah (pelajaran), bahwa yang menyebabkan
Brawn masuk Islam adalah akhlak yang mulia dari petani Muslim India tersebut. Maka
apabila setiap Muslim berakhlak Islami, niscaya hal itu akan menjadi media dakwah
dakwah yang paling kuat. Sehingga sangat wajar jika muncul ungkapan yang
menyatakan,Seorang Muslim akan menjadi bukti nyata dari kebenaran ajaran Islam
dengan memilih akhlak yang mulia, dan ia akan menjadi penghujat bagi Islam manakala
memilih akhlah yang tercela; karena sesungguhnya orang yang selain Muslim akan lebih
banyak membaca Islam dari kepribadian (syakhsiyyah) Muslim yang nyata, dan tidak
akan membaca lebih banyak dari buku-buku Islam yang ditulis oleh orang-orang Muslim
itus sendiri
Nampak jelas bagi kita, bahwa ketika kita hendak menjadi seorang Muslim yang
bak, dan mengajak orang lain untuk mengikuti langkah kita, maka ajaran Islam harus

menjadi penghias keseharian kita; karena tanpa itu semua keislaman kita hanya tinggal
nama saja