Anda di halaman 1dari 15

Ketentuan Batasan Hibah Menurut Kompilasi Hukum Islam

MAKALAH
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
“ Sosiologi Hukum Islam“

OLEH:

Ana Fitri Rahayu


C01207068

DOSEN PEMBIMBING
Bpk. Yazid

FAKULTAS SYARI’AH
JURUSAN AKHWAL ASH-SHAKSIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM SUNAN AMPEL
SURABAYA
2010

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diantara masalah yang timbul dalam hukum adat kita adalah, terdapat seseorang yang
menghibahkan seluruh hartanya kepada orang lain, agar hartanya bisa bermanfaat, karena si
pemberi hibah takut hartanya kelak akan jatuh ke tangan ahli warisnya yang tak bisa di
pertanggung jawabkan nantinya, dan kelak harta tersebut akan sia-sia.
Jelas hal ini tak sejalur dengan pemikiran kita selama ini, bahwa yang perlu dibatasi
adalah wasiat yang tak boleh lebih dari sepertiga, bukan hibah. Padahal hibah dan wasiat juga
sama-sama memiliki efek tersendiri bagi para ahli waris.
Oleh sebab itu, dikarenakan beberapa masalah pelik tersebut, penulis mencoba
memapaparkan beberapa hukum mengenai hibah lebih dari sepertiga menurtut perspektif
hukum islam.

B. rumusan masalah
1. Apa pengertian hibah?
2. Sampai sejauh manakah harta yang dihibahkan kaitannya dengan ahli waris?
3. Apa esensi Kompilasi Hukum Islam dalam membatasi hbah?

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
1. Pada mulanya kata hibah itu diambil dari kata “hubuuburr riih” artinya
“nuruuruhaa” yang berarti perjalanan angin. Dalam perkembangan lebih lanjut
dipakai kata hibah dengan maksud memberikan kepada orang lain baik berupa harta
atau selainnya. Di dalam syariat islam, hibah berarti akad yang pokoknya adalah
pemberian harta milik seseorang kepafa orang lain di waktu ia masih hidup tanpa
imbalan apapun. Secara umum hibah mempunyai pengertian hal-hal yang meliputi :
a) Ibraa, yakni menghibahlan utang kepada yang berhutang;
b) Sedekah, yakni menghibahkan sesuatu dengan mengharapkan pahala di
akhirat;
c) Hadiah yakni pemberian yang menurut orang yang diberi itu untuk memberi
imbalan. 1
2. Pengertian Hibah Menurut Islam
Menurut pengertian bahasa, hibah berarti mutlak “pemberian” baik
berupa harta benda maupun yang lainnya. Menurut istilah syara’
ialah:
a) Menurut mazhab hanafi adalah enda dengan tanpa ada
syarat harus mendapat imbalan ganti, pemberian mana
dilakukan pada saat si pemberi masih hidup. Benda
yang dimilik yang akan diberika itu adalah syah milik si
pemberi
b) Menurut mazhab Maaliki, adalah memberikan suatu zat
materi tanpa mengharap imbalan, dan hanya ingin
menyenangkan orang yang diberinya tanpa mengharap
imbalan daro Allah. Hibah menurut Maliki ini sama
drngan dengan hadiah. Dan apabila pemberian itu
semata-mata untuk meminta ridha Allah dan
mengharapkan pahala maka ini dinamakan sedekah2
c) Menurut Madzhab Hanbali, adalah memberika hak

1 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, juz 3, Darul Fikr: Beirut, LIbanon.hal 417
2 M. Idris Ramulyo. Perbandingan Hukum Kewarisan Islam di PA dan Kewarisan menurut Undang-Undang
HUkum Perdata di PN. Pedoman ILmu Jaya, Jakarta. 1992. hal 150-152

3
memiliki sesuatu oleh seseorang yang dibenarkan
tasarrufnya atas suatu harta baik yang dapat diketahui
atau, karena susah untuk mengetahuinya. Harta itu ada
wujudnya untuk diserahkan. Pemberian yang mana
tidak bersifat wajib, dan dilakukan pada waktu sdi
pemberi masih hidup dengan tanpa syarat ada imbalan
d) Menurut Madzhab Syafii, hibah mengandung dua
pengertian:
1) Pengertian khusus, yaitu pemberian hanya sifatnya
sunnah yang dilakukan dengan ijab qabul pada
waktu si pemberi masih hidup. Pemberian yang
mana tidak dimaksudkan untuk menghormati atau
memuliakan seseorang dan tidak dimaksudkan
untuk mendapatkan pahala dari Allah atau karena
menutup kebutuhan orang yang diberikannya
2) Pengertian umum, yaitu hibah dalam arti umum
mencakup hadiah dan sedekah
Walaupun rumusan definisi yang dikemukakan oleh keempat
madzhab tersebut berlainan redaksinya namun intinya tetaplah
sama, yaitu;
“hibah adalah memberikan hak memilik sesuatu benda kepada orang
lain yang dilandasi oleh ketulusan hati atas dasar saling membantu
kepada sesame manusia dalam hal kebaikan” 3

3. Dalam KUH Perdata, hibah disebut schenking yang berarti suatu persetujuan,
dengan si pemberi hibah diwaktu hidupnya dengan Cuma-Cuma dan dengan tidak
ditarik kembali, menyerahkan suatu benda guna keperluan si penerima hibah untuk
digunakan sebagai layaknya milik pribadi. Dalam KUH Perdata sama sekali tidak
mengakui lain-lain hibah, kecuali hibah di antara orang-orang yang masih hidup.
Hibah itu hanya mengenal benda-benda yang sudah ada, jika benda itu meliputi
benda yang akan ada di kemudian hari, maka sekedar mengenai hal ini hibahnya
adalah batal (pasal 1666 dan 1667 KUH Perdata)4

3 M. Idris Ramulyo. Perbandingan Hukum Kewarisan Islam di PA dan Kewarisan menurut Undang-Undang
HUkum Perdata di PN. Pedoman ILmu Jaya, Jakarta. 1992. hal 150-152
4 Tamakiran, S. Asas-asas hukum waris menurut tiga sitem hukum, Pioner Jaya, Bandung. 1987

4
4. Dalam pasal 171 huruf g KHI, hibah adalah pemberian suatu benda secara
sukarela dan tanpa imbalan dari seseorang kepada orang lain yang masih hidup
untuk dimiliki. Pengertian ini sama dengan definisi yang banyak disebut dalam kitab
fiqih tradisional bahwa yang dimaksud dengan hibah adalah pemilikan sesuatu
melalui akad tanpa mengharapkan imbalan yang telah diketahui dengan jelas ketika
si pemberi hibah masih hidup. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa
kerelaan dalam melakukan perbuatan hukum tanpa ada paksaan dari pihak lain
merupakan unsure yang harus da dalam pelaksanaan hibah. Jadi asasnya adalah
sukarela.5
B. Landasan hukum
1. Surat Al-Baqarah:195

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu


menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. “

Maka untuk itulah, dengan ayat tersebut Allah memerintahkan kita untuk
berbuat sunnah dalam arti berbuat kebaikan yaitu berinfak, seperti: sodaqoh, wakaf,
hibah, dan lain-lain

2. Surat Ali-Imran:92

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu
menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka
sesungguhnya Allah mengetahuinya” 6
Hibah adalah pemberian ketika yang punya harta masih hidup, sedangkan

5 H, Abdul Manan, Aneka masalah Hukum perdata Islam di Indonesia. Hal 132
6 CD Holly qur’an

5
warisan diberikan ketika yang punya harta telah meninggal dunia. Walaupun saat
pemberiannya berbeda namun keduanya memiliki hubungan yang sangat erat,
terutama hibah itu diberikan kepada anak atau ahli waris karena akan menentukan
terhadap bagian warisan apabila hibah tersebut tidak ada persetujuan ahli waris atau
setidak-tidaknya ada ahli waris yang keberatan dengan adanya hibah tersebut, oleh
karenanya sering terjadi sengketa antara ahli waris. Sedangakan hibah yang di berikan
kepada non ahli waris, meskipun dalam kitab-kitab fiqh tak ada batasan berapapun
jumlahnya namun tak menutup kemungkinan seseorang akan menghibahkan seluruh
hartanya, yang nantinya akan berakibat membahayakan ahli waris.
Untuk itu, Berkaitan dengan masalah di atas pasal 210 KHI telah memberikan
solusi,
3. KHI PASAL 210 yang berbunyi:
“Orang yang telah berumur sekurang-kurangnya 21 tahun berakal sehat tanpa
adanya paksaan dapat menghibahkan sebanyak-banyaknya 1/3 harta bendanya
kepada orang lain atau lembaga di hadapan dua orang saksi untuk dimiliki”7
Menurut Muhammad Daud Ali dalam bukunya Sistem Ekonomi
Islam, Zakat dan Wakaf, beliau mencantumkan syarat-syarat hibah,
yang salah satunya adalah: pada dasrnya, hibah adalah pemberian
yang tidak ada kaitannya dengan kewarisan kecuali kalau ternyata
bahwa hibah itu, akan mempengaruhi kepentingan dan hak-hak ahli
waris. Dalam hal demikian, perlu ada batas maksimal hibah, tidak
melebihi sepertiga harta seseorang, selaras dengan batas wasiyat
yang tidak melebihi sepertiga harta peninggalan.8

4. Hadis Nabi:

‫ل‬ َ ‫قا‬ َ ‫ي‬ ّ ‫ر‬ ِ ْ ‫حدّث ََنا الّز‬


‫ه‬ َ ‫ن‬ ُ ‫فَيا‬ ْ ‫س‬ ُ ‫حدّث ََنا‬ َ ‫ي‬ ّ ‫د‬ ِ ْ ‫مي‬ َ ‫ح‬ ُ ْ ‫حدّث ََنا ال‬ َ
‫ل‬َ ‫قا‬ َ ‫ه‬ َ ّ َ َ‫أ‬
ِ ‫ن أِبي‬ ْ ‫ع‬ َ ‫ص‬ ٍ ‫قا‬ ‫و‬َ ‫بي‬ ِ ‫أ‬ ‫ن‬ ِ َْ ‫ب‬ ‫د‬
ِ ‫ع‬
ْ ‫س‬
َ ‫ن‬ُ ْ ‫ب‬ ‫ر‬
ُ ‫م‬
ِ ‫عا‬َ ‫ني‬ ِ ‫ر‬
َ َ ‫ب‬ ‫خ‬
ْ
‫ت‬ِ ‫و‬ْ ‫م‬ ْ
َ ‫على ال‬ َ َ ‫ه‬ ُ ْ ‫من‬ ِ ‫ت‬ ُ ْ ‫شفي‬ َ ْ ‫فأ‬ َ ‫ضا‬ ً ‫مَر‬ َ ‫ة‬ َ ّ ‫مك‬ َ ِ‫ت ب‬ ُ ‫ض‬ ْ ‫ر‬ َِ ‫م‬ َ
‫ت‬ ُ ْ ‫قل‬ ُ ‫ف‬ َ ‫عودُِني‬ ُ َ‫م ي‬ َ ّ ‫سل‬ َ ‫و‬ َ ‫ه‬ ِ ْ ‫عل َي‬َ ‫ه‬ ُ ّ ‫صّلى الل‬ َ ‫ي‬ ّ ِ ‫فأَتاِني الن ّب‬ َ
‫رث ُِني إ ِّل‬ ِ َ‫س ي‬ َ ْ ‫ول َي‬ َ ‫ماًل ك َِثيًرا‬ َ ‫ن ِلي‬ ّ ِ‫ه إ‬ ِ ّ ‫ل الل‬ َ ‫سو‬ ُ ‫َيا َر‬
َ َ
ُ ْ ‫قل‬
‫ت‬ ُ ‫ل‬ َ ‫قا‬ َ ‫ل َل‬ َ ‫قا‬ َ ‫ماِلي‬ َ ‫ي‬ ْ َ ‫صدّقُ ب ِث ُل ُث‬ َ َ ‫فأت‬ َ ‫اب ْن َِتي أ‬
‫ن‬
ْ ِ‫ك إ‬ َ ّ ‫ث ك َِبيٌر إ ِن‬ ُ ُ ‫ل الث ّل‬ َ ‫قا‬ َ ‫ث‬ ُ ُ ‫ت الث ّل‬ ُ ْ ‫قل‬ُ ‫ل َل‬ َ ‫قا‬ َ ‫شطُْر‬ ّ ‫فال‬ َ
7 Kompilasi Hukum Islam. Citra Media Wacana. 2008
8 Muhammad Daud Ali. Sistem Ekonomi Islam, zakat dan WAkaf. UI-Press. 1988. hal 25

6
ً َ ‫عال‬ َ ْ َ‫ك أ‬ َ َ‫ول َد‬
‫ة‬ َ ‫م‬ ْ ‫ه‬ ُ َ ‫ن ت َت ُْرك‬ ْ ‫نأ‬ ْ ‫م‬ ِ ‫خي ٌْر‬ َ َ‫غن َِياء‬ َ ‫ت‬ َ ْ ‫ت ََرك‬
ُ
‫ت‬ َ ‫جْر‬ ِ ‫ة إ ِّل أ‬ ً ‫ق‬ َ ‫ف‬ َ َ‫ق ن‬ َ ‫ف‬ ِ ْ ‫ن ت ُن‬ ْ َ‫ك ل‬ َ ّ ‫وإ ِن‬ َ ‫س‬ َ ‫ن الّنا‬ َ ‫فو‬ ُ ‫ف‬ ّ َ ‫ي َت َك‬
‫ت َيا‬ ُ ْ ‫قل‬ ُ ‫ف‬ َ ‫ك‬ َ ِ ‫مَرأ َت‬ ْ ‫في ا‬ ِ ‫ها إ َِلى‬ َ ‫ع‬ ُ ‫ف‬ َ ‫ة ت َْر‬ َ ‫م‬ َ ‫ق‬ ْ ّ ‫حّتى الل‬ َ ‫ها‬ َ ْ ‫عل َي‬ َ
َ ّ ‫خل‬ ُ
‫ف‬ َ ُ‫ن ت‬ ْ َ‫ل ل‬ َ ‫قا‬ َ ‫ف‬َ ‫جَرِتي‬ ْ ‫ه‬ ِ ‫ن‬ ْ ‫ع‬ َ ‫ف‬ ُ ّ ‫خل‬ َ ‫ه آأ‬ ِ ّ ‫ل الل‬ َ ‫سو‬ ُ ‫َر‬
‫ه‬
ِ ِ‫ت ب‬ َ ْ‫ه إ ِّل اْزدَد‬ ِ ّ ‫ه الل‬ َ ‫ج‬ ْ ‫و‬ َ ‫ه‬ ِ ِ ‫ريدُ ب‬ ِ َ ُ ‫مًل ت‬ َ ‫ع‬ َ ‫ل‬ َ ‫م‬ َ ‫ع‬ْ َ ‫فت‬ َ ‫دي‬ ِ ‫ع‬ ْ َ‫ب‬
َ ِ‫ع ب‬
‫ك‬ َ ‫ف‬ ِ َ ‫حّتى ي َن ْت‬ َ ‫دي‬ ِ ‫ع‬ ْ َ‫ف ب‬ َ ّ ‫خل‬ َ ُ‫ن ت‬ ْ ‫لأ‬ ّ ‫ع‬ َ َ ‫ول‬ َ ‫ة‬ ً ‫ج‬ َ ‫ودََر‬ َ ‫ة‬ ً ‫ع‬ َ ‫ف‬ ْ ‫ر‬ َِ
‫ة‬ َ
َ ‫ول‬ ْ ‫خ‬َ ‫ن‬ ُ ْ ‫عد ُ ب‬ ْ ‫س‬َ ‫س‬ ُ ِ ‫ن الَبائ‬ ْ ْ ِ ‫ن لك‬ َ َ ‫خُرو‬ َ
َ ‫ضّر ب ِك آ‬ َ ُ ‫وي‬ َ ‫م‬ ٌ ‫وا‬ َ ‫ق‬ ْ ‫أ‬
َ
‫ت‬َ ‫ما‬ َ ‫ن‬ ْ ‫مأ‬ َ ّ ‫سل‬َ ‫و‬ َ ‫ه‬ ِ ْ ‫عل َي‬ َ ‫ه‬ ُ ّ ‫صّلى الل‬ َ ‫ه‬ ِ ّ ‫ل الل‬ ُ ‫سو‬ ُ ‫ه َر‬ ُ َ ‫ي َْرِثي ل‬
‫ن ب َِني‬ ْ ‫م‬ ِ ‫ل‬ ٌ ‫ج‬ ُ ‫ة َر‬ َ َ ‫ول‬ْ ‫خ‬ َ ‫ن‬ ُ ْ ‫عد ُ ب‬ ْ ‫س‬ َ ‫و‬ َ ‫ن‬ ُ ‫فَيا‬ ْ ‫س‬ ُ ‫ل‬ َ ‫قا‬ َ ‫ة‬ َ ّ ‫مك‬ َ ِ‫ب‬
‫ي‬
ّ ‫ؤ‬ َ ُ‫ن ل‬ ِ ْ‫ر ب‬ ِ ‫م‬ ِ ‫عا‬ َ
Artinya: diriwayatkandari Sa’ad bin Abi Waqosh ra: pada tahun Haji Penghabisan
(wada’)Nabi Muhammad SAW mengunjungiku seraya mendoakan kesehatanku. Aku
berkata kepada nabi Muhammad SAW, “aku lemah karena sakitku yang
parahpadahal aku kaya dan aku tidak punya ahli wariskecuali seorang anak
perempuan. Haruskah aku menyedekahkan 2/3 kekayaanku? Nabi Muhammad SAW
bersabda, “tidak” kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda bahkan 1/3 telah cukup
banyak. Lebih baik kamu meninggalkan ahli warismudalam keadaan berkecukupan
daripada meninggalkan merekadalam keadaan miskin, mengemis kepada orang lain.
Kau akan memperoleh pahala dari sedekah yang dikeluarkan dengan niat karena
Allah, bahkam untuk yang kau suapkan dalam mulut isteriu”. Aku berkata,”ya
rasulullah, apakah aku akan sendirian ketika para sahabatku pergi?”. Nabi
Muhammad SAW bersabda, “jika kamu ditinggalkan, apapun yang kau kerjakan
akan mengangkat mu ke tempat yang tinggi. Dan mungkin saja kau akan berumur
panjang hingga(dating suatu saat ketika) sebagian orang mengambil keuntungan
darimu, dan sebagian yang lain mengambil kemudharatandarimu.” Ya Allah,
lengkapkan hijrah sahabatku dan jangan biarkan mereka berpaling “. Dan rasullah
SAW merasa sedih dengan meninggalnya Sa’ad bin khaulah yang miskin di Makkah.
(sedangkan sepeninggal nabi Muhammad SAW, Sa’ad bin Abi Waqash hidup dengan
umur yang panjang).{HR.Bukhari} 9

Dimana hadist tersebut seolah menggambarkan bahwa bersedekah yang lebih


dari sepertiga merupakan tindakan yang berakibat merusak esensi dan kepentingan
dari ahli waris

C. PENDAPAT PARA ULAMA’ MENGENAI HIBAH YANG LEBIH DARI


SEPERTIGA
1. Sayyid Sabiq mengemukakan bahwa para ahli hukum Islam
sepakat pendapatnya, bahwa seseorang dapat menghibahkan
semua hartanya kepada orang yang bukan ahli waris. 10

9 CD ROM Al-musu’ah Al hadist. Sohih Bukhori. Hadist No. 6227


10 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, juz 3, Darul Fikr: Beirut, LIbanon.hal 421

7
2. Tetapi Imam Muhammad Ibnul Hasan dan sebagian
pentahkiik mahdzab Hanafi mengemukakan bahwa tidak sah
menghibahkan semua harta, meskipun untuk keperluan kebaikan.
Mereka menganggap orang yang bebuat demikian itu sebagai orang
dungu yang wajib dibatasi tindakannya. Dalam hal ini dapat di
bedakan dalam 2 hal yaitu:11
1) jika hibah itu diberikan kepada orang lain (selain ahli waris)
atau suatu badan hukum mayoritas pakar hukum islam
sepakat tidak ada batasnya, tetapi
2) jika hibah itu diberikan kepada anak-anak pemberi hibah,
menurut Imam Malik dan Ahlul Zahir tidak
memperbolehkannya, sedangkan fuqaha’ amsar
menyatakan makruh.
Sehubungan dengan tindakan rasulullah SAW. Terhadap kasus
Nu’man Ibnu Basyir menunjukkan bahwa hibah orang tua terhadap
anaknya haruslah disamakan bahkan banyak hadist lain yang
redaksinya berbeda menjelaskan ketidakbolehan membedakan
pemberian orang tua kepada anaknya secara berbeda, yang satu
lebih banyak dari yang lain
3. Menurut pendapat Imam Ahmad Ishaq, Tsauri, dan beberapa
pakar hukum islam yang lain bahwa hibah batal apabila
melebihkan satu dengan yang lain, tidak diperkenankan
menghibahkan hartanya kepada salah seorang anaknya, haruslah
bersikap adill diantara anak-anaknya. Kalau sudah terlanjur
dilakukan maka harus dicabut kembali.
Yang masih diperselisihkan para ahli hukum islam adalah
tentang bagaimana cara penyamaan sikap dan perlakuan anak-anak
itu? Ada yang berpendapat bahwa pemberian itu adalah sama
diantara anak laki-laki dan anak perempuan, ada pula yang
berpendapat bahwa penyamaan antara anak laki-lakiitu dengan
cara menetapkan bagian untuk seorang anak laiki-laki sama dengan
bagian dua anak perempuan, sesuai dengan pembagian waris.

11 Abdul Manan, Aneka masalah Hukum perdata Islam di Indonesia. Hal 138

8
Menurut sebagian ahli hukum islam , sesungguhnya penyamaan itu
bukan hal yang wajib dilaksanakan, tetapi sunnah saja. Mereka
menyatakan bahwa hadist yang menyatakan menyamakan anak-
anaknya dalam pemberian hibah adalah lemah, demikian juga
hadist yang menyatakan bahwa pemberian semua harta yang
berbentuk hibah kepada anak-anaknya yang nakal. Pendapat yang
mewajibkan menyamakan pemberian semua harta berupa hibah
kepada anak-anaknya adalah pendapat yang kuat. Oleh karena itu,
jika dalam hal pemberian hibah itu tidak sesuai dengan ketentuan
ini, maka hibahnya adalah batal12
Prinsip pelaksanaan hibah orang tua terhadap anaknya
haruslah sesuai petunjuk Rasulullah SAW. Dalam berberapa hadist
dikemukakan bahwa bagian mereka supaya disamakan dan tidak
dibenarkan memberi semua harta kepada salah seorang anaknya.
Jika hibah yang diberikan orang tua kepada anaknya melebihi dari
ketentuan bagian waris, maka hibah tersebut dapat diperhitungkan
sebagai warisan. Sikap seperti ini menurut kompilasi didasarkan
pada kebiasaan yang dianggap positif oleh masyarakat. Karena
bukan suatu hal yang aneh apabila bagian waris yang dilakuka tidak
adil akan menimbulkan penderitaan bagi pihak tertentu, lebih-lebih
kalau penyelesaiannya sampai ke pengadilan agama tentu akan
terjadi perpecahan keluarga. Sehubungan dengan hal ini Umar Ibnul
Khttab pernah mengemukakan bahwa kembalikan putusan itu
diantara sanak keluarga, sehingga mereka membuat perdamaian
karena sesungguhnya putusan pengadilan itu sangat menyakitkan
hati dan menimbulkan penderitaan13
4. Ulama Malikyah menetapkan dalam syarat orang yang yang
menghibahkan adalah Ahlan li tabarru’ yaitu orang yang berhak
berderma dan bersedekah. Yang dimaksud dengan ahli tabarru’
adalah diantaranya adalah :
a) bukan seorang isteri. Jika harta yang dihibahkan melebihi dari
sepertiga harta, karena ketika seorang isteri ketika
12 Abdul Manan, Aneka masalah Hukum perdata Islam di Indonesia. Hal 138
13 Abdul Manan, Aneka masalah Hukum perdata Islam di Indonesia. Hal 138

9
menghibahkan harta melebihi sepertiga hartaharus mendapat
izin dari suaminya
b) bukan orang yang sakit, yang sudah mendekati kematian. Syarat
ini berlaku jika harta yang dihibahkan melebihi dari sepertga.
Jika menghibahkan lebih dari sepertga maka harus mendapatkan
persetujuan ahli waris14

BAB III

14 Abdur Rahman Al Jaziri, Al Figih ‘Ala Madzahib Al Arba’ah, juz 3. hal 294

10
ANALISIS
Islam memperbolehkan seseorang memberikan atau menghadiahkan sebagian atau
seluruhnya harta kekayaan ketika masih hidup kepada orang lain yang disebut ”intervivos”.
Pemberian semasa hidup itu lazim dikenal dengan sebutan ”hibah”. Di dalam Hukum Islam
jumlah harta seseorang yang dapat dihibahkan itu tidak terbatas. Berbeda halnya dengan
pemberian seseorang melalui surat wasiat yang terbatas pada sepertiga dari harta peninggalan
yang bersih
Hibah pada dasarnya memang tidak ada kaitannya dengan
kewarisan, karena berdasrkan pelaksanaan sudah jauh berbeda. Hibah
diberika ketika si penghibah masih hidup sedangakan kewarisan dilakukan
setelah adanya kematian
Namun dengan adanya permasalahan yang ada yaitu, ketika terdapat
seseorang yang menghibahkan seluruh hartanya kepada orang lain, agar hartanya bisa
bermanfaat, karena si pemberi hibah takut hartanya kelak akan jatuh ke tangan ahli warisnya
yang tak bisa di pertanggung jawabkan nantinya, dan kelak harta tersebut akan sia-sia. Maka
menurut hemat saya sangat perlu sekali adanya batasan pemberian hibah, karena
dikhawatirkan ada hak-hak ahli waris yang bisa menimbulkan kerancuan.
Mengutip pendapat Muhammad Ibnu Hasan, bahwa seseorang boleh menghibahkan
hartanya kepada selain ahli waris , namun tidak sah jika ia menghibahkan seluruh hartanya
walaupun untuk kebaikan. meskipun secara kepemilikan itu adalah harta si
penghibah, yang dia bisa bebas melakukan apa saja dengan hartanya.
menurut hemat penulis, ketika ia menghibahkan seluruh hartanya, maka ia tak memiliki lagi
harta untuk dibagikan kepada ahli warisnya, dan bisa berakibat pula pada perselisihan antar
keluarga, maka disini mafsadahnya lebih besar daripada maslahatnya. Meskipun dalam
masalah tadi si pemberi hibah berniat baik agar kelak hartanya terkelola dengan baik,dan
Allah telah memerintahkan kita untuk menyedekahkan harta kita dalam firman Nya
Surat Al-Baqarah:195

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu

11
menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. “

namun berdasarkan hadis nabi, tentang cerita Sa’ad bin Abi Wqash dapat dikaitkan
dengan kemaslahatan pihak keluarga dan ahli warisnya, sungguh tidak
dibenarkan sebab didalam syariat islam diperintahkan agar setiap pribadi
untuk menjaga dirinya dan keluarganya dari api neraka. Dalam konteks ini
ada kewajiban pada diri masing-masing untuk menyejahterkan keluarga.
Seandainya perbuatan yang dilakukan itu menyebabkan keluarganya
jatuh dalam keadaan miskin, maka samalah halnya ia menjerumuskan
sanak keluarganya ke gerbang kekafiran.
Pemikiran yang mengatakan bahwa tidak ada salahnya memberikan
semua harta yang dimilkinya kepada siapa saja yang dikehendikannya
sebagaimana yang dikemukakan oleh jumhur fiqoha’ bukanlah pendapat
seluruhnya salah. Sebaiknya para praktisi hukum dilingkungan Peradilan
Agama juga memperhatikan apa yang dikemukakan oleh Muhammad Ibnu
Hasan dan sebagian paentahkik mazhab hanafi bahwa tidak sah
menghibahkan semua harta meskipun dalam kebaikan, orang yang
berbuat demikian adalah orang yang dungu dan patut dibatasi hukumnya.
Pendapat ini adalah sejalan dengan apa yang dibenarkan Dalam
Kompilasi Hukum Islam yang mengatakan bahwa hibah itu seperiga dari
seluruh harta yang dimilkinya. Apabila ada kelebihan dari hibah yang
diterima itu, maka dapat dijadikan bagian warisan yang diterima para ahli
waris.

Selain itu ayat alqur’an Surat Ali-Imran:92 yang berbunyi:

“ Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu
menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka
sesungguhnya Allah mengetahuinya”

12
Ayat diatas dalam beberapa arti lafadz “ ãِãÇَ” diartikan “sebagian hartamu”. Jadi
manusia diperintahkan oleh Allah untuk menginfakkan hartanya di jalan Allah dengan cukup
sekedarnya saja.

Bahkan Pada lingkungan hukum adat di Indonesia, diakui bahwa


proses pewarisan harta seorang pewaris dapat mulai dilaksanakan sejak
pewaris masih hidup. meskipun secara umum pembagian harta warisan
dilakukan setelah pewaris meningal, tidak jarang terjadi pembagian
tersebut dilaksanakan jauh sebelum pewaris meninggal. Penyerahan harta
warisan kepada ahli waris atau seorang yang tidak termasuk ahli waris
sebelum pewaris meninggal, disebut hibah.
Dalam hal pewaris menghibahkan hartanya kepada bukan ahliwaris, penghibahan
dibatasi sepanjang tidak merugikan hak para ahli waris.

Walaupun begitu, meskipun hibah terhadap selain ahli waris dibatasi sebanyak-
banyaknya 1/3, maka bukan berarti hibah kepada anak-anak si pemberi hibah itu
diperbolehkan lebih dari sepertiga. Justru dalam hal ini aspek keadilan kepada semua anak-
anaknya harus diperhatikan.

13
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Pengertian Hibah adalah memberikan hak memilik sesuatu benda
kepada orang lain yang dilandasi oleh ketulusan hati atas dasar
saling membantu kepada sesame manusia dalam hal kebaikan
2. Hibah pada dasarnya memang tidak ada kaitannya dengan
kewarisan, karena berdasrkan pelaksanaan sudah jauh berbeda.
Hibah diberika ketika si penghibah masih hidup sedangakan
kewarisan dilakukan setelah adanya kematian. Namun dengan
adanya permasalahan yang ada, tak menutup kemungkinan
seseorang memberikan atau menhadiahkan seluruh hartanya
kepada orang lain, yang mana bisa merugikan ahli warisnya kelak
3. Esensi Kompilasi Hukum Islam, dalam memberikan Batasan
pemberian hibah adalah baik kepada anak-anaknya sendiri atau
kepada selain ahli waris. Jika batasan hibah kepada selain ahli waris
karena ada kaitannya dengan kecukupan ahli waris kelak, maka
hibah kepada anak-anaknya dibatasi juga untuk rasa keadilan.

14
DAFTAR PUSAKA

Abdul Manan, Aneka masalah Hukum perdata Islam di Indonesia.


Abdur Rahman Al Jaziri, Al Figih ‘Ala Madzahib Al Arba’ah. juz 3
Kompilasi Hukum Islam. Citra Media Wacana. 2008
Muhammad Daud Ali. Sistem Ekonomi Islam, zakat dan WAkaf. UI-Press. 1988
Muhammad Idris Ramulyo. Perbandingan Hukum Kewarisan Islam di PA dan Kewarisan
menurut Undang-Undang HUkum Perdata di PN. Pedoman ILmu Jaya, Jakarta. 1992
Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, juz 3, Darul Fikr: Beirut, LIbanon.
Tamakiran, S. Asas-asas hukum waris menurut tiga sitem hukum, Pioner Jaya, Bandung.
1987
CD ROM Al-musu’ah Al hadist. Global Islamic Software Companiy. 1991
CD Holly qur’an. Sakhr. 1997

15