Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pemanfaatan madu dalam kehidupan manusia pada saat ini telah banyak
dikonsumsi untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Pada dasarnya, madu itu
tidak hanya bermanfaat sebagai obat, tapi juga dapat dikonsumsi sehari-hari oleh
orang yang sehat untuk meningkatkan & mempertahankan daya tahan tubuh.
Salah satu pemanfaatannya adalah sebagai obat luka yang bisa disebabkan oleh
infeksi suatu bakteri khususnya adalah bakteri Staphylococcus aureus.
Orang-orang Mesir kuno menganggap madu lebah sebagai obat bagi banyak
penyakit. Madu lebah terdiri dari za-zat gula yang bermacam-macam, baik yang
bersifat monosakarida, disakarida, trisakarida. Bahkan dari hasil penelitian ahli
Gizi dan pangan, madu mengandung karbohidrat yang paling tinggi diantara
produk ternak lainnya seperti susu, telur, daging, keju dan menterga sekitar
(82,3% lebih tinggi). Setiap 100 gram madu murni bernilai 294 kalori atau
perbandingan 1000 gram madu murni setara dengan 50 butir telur ayam atau
5,675 liter susu atau 1680 gram daging. Dari hasil penelitian terbaru ternyata zatzat atau senyawa yang ada didalam madu sangat komplek yaitu mencapai 181
jenis. Salah satu keunikan madu adalah karena madu mengandung zat antibiotik.
Hal itu hasil penelitian Peter C Molan ( 1992 ), peneliti dari Departement of
Biological Sciences, University of Waikoto, Selandia Baru. Menurutnya Madu
terbukti mengandung zat antibiotik yang aktif melawan serangan berbagai kuman
patogen penyebab penyakit. Menurut Winarno (1982), kadar dekstrosa dan
levulosa yang tinggi mudah diserap oleh usus bersama zat-zat organic lain,
sehingga dapat bertindak sebagai stimulant bagi pencernaan dan memperbaiki
nafsu makan. Selain itu, madu juga memiliki sifat antimkiroba. Berdasarkan hasil
peneliti Komara (2002), madu memiliki aktivitas senyawa antibakteri terutama
pada baktero Gram (+), yakni bakteri S, Aureus, B. cereus
Selain itu juga peneliti dari Departement of Biochemistry, Faculty of
Medicine, University of Malaya di Malaysia, Kamaruddin (1997) juga

menyebutkan Bahwa di dalam madu terkandung zat anti mikrobial, yang dapat
menghambat penyakit.
Madu dapat dikonsumsi oleh siapa saja, mulai dari janin sampai tingkat orang
tua, dan tidak hanya orang yang sedang sakit saja, orang yang sehat juga dapat
megkonsumsinya secara rutin.
Permasalahan kesehatan yang paling banyak dijumpai pada kehidupan seharihari adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri atau mikroorganisme patogen
yang masuk kedalam tubuh manusia. Di antara bakteri-bakteri yang berhubungan
dengan

infeksi

tersebut

salah

satunya

adalah

Staphylococcus

aureus

(Jawetz, 2007).
S. aureus merupakan patogen bagi manusia, karena bakteri ini menghasilkan
toksin yang dapat menimbulkan penyakit. Hampir setiap orang pernah mengalami
berbagai infeksi S. aureus selama hidupnya, dari keracunan makanan yang berat
atau infeksi kulit yang kecil, sampai infeksi yang tidak dapat disembuhkan
(Jawetz, 2007).
Dari hasil berbagai penelitian menyatakan bahwa daya antibakteri madu tidak
ada sangkut pautnya dengan kadar gula tinggi maupun rendahnya kadar air, tetapi
oleh adanya suatu senyawa sejenis lysozyme yang memiliki daya antibakteri.
Senyawa tersebut lebih popular dengan nama inhibine. Bakteri gram negatif
lebih peka terhadap inhibine daripada gram positif.
Hal yang sangat menarik bagi peneliti untuk melakukan penelitian ini adalah
karena dari khasiat dan kandungan di dalam madu tersebut sehingga mampu
menghambat bakteri tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan hasil pemaparan latar belakang di atas, didapatkan rumusan
masalah sebagai berikut :
1. Apakah ada pengaruh

pemberian

madu

dalam

menghambat

pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus ?


2. Apakah pemberian madu dengan beberapa konsentrasi tertentu
menunjukkan hasil yang berbeda( lebih sensitif) dalam menghambat
bakteri tersebut ?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum

Untuk

mengetahui

pengaruh

pemberian

madu

terhadap

bakteri

Staphyilococcus aureus dan mengetahui efektifitas beberapa konsentrasi dalam


menghambat bakteri tersebut.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk menentukan zona hambat madu dalam berbagai konsentrasi terhadap
pertumbuhan Staphylococcus aureus.
2. Untuk menentukan konsentrasi efektif madu dalam menghambat pertumbuhan
Staphylococcus aureus.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain:
1. Bagi si peneliti tentunya untuk mengetahui serta menambah wawasan tentang
salah satu pemanfaatan jenis tanaman yang diteliti dan mengetahui bahanbahan alam apa saja yang dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri.
2. Bagi ilmu pengetahuan juga tentunya sebagai tambahan wawasan baru
terhadap sesuatu fenomena atau temuan baru yang nantinya bisa
dikembangkan lagi.
3. Dan memberitahukan bagi masyarakat awam yang belum mengetahuinya
apabila terbukti nantinya dalam pemeliharaan maupun pemakaian, dapat
dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
1.5 Hipotesis
1. Adanya pengaruh dari ekstrak daun jarak pagar terhadap pertumbuhan
bakteri Staphylococcus
2. Daya hambat madu dari berbagai konsentrasi menunjukkan tingkat
penurunan aktivitas pertumbuhan bakteri Staphylococcus yang sangat
tinggi.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
a. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan
eksperimen sungguhan(true experiment), yaitu dengan membandingkan kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol. Melakukan pretest terlebih dahulu, yaitu
memperhatikan keadaan awal pertumbuhan bakteri, kemudian memberikan
perlakuan pada kelompok eksperimen yaitu dengan berbagai konsentrasi, dan
pada kelompok kontrol tidak diberikan perlakuan sama sekali dan setelah itu
dibandingkan keduanya pada keadaan akhir pertumbuhan bakterinya.
b. Kerangka Konsep
Sesuai dengan judul penelitian maka disusun kerangka konsep yang berfokus
kepada pengaruh madu terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus.
Berbagai
konsentrasi yang
dicampur dengan
madu
3.3 Variabel
Penelitian

3.3.1 Variabel Independen

Zona hambat
pertumbuhan bakteri
Staphylococcus
aureus

Variabel independen pada penelitian ini adalah pengaruh berbagai


konsentrasi campuran madu.

3.3.2 Variabel Dependen


Variabel dependen pada penelitian ini adalah pertumbuhan bakteri
Staphylococcus aureus.