Anda di halaman 1dari 4

CONTOH KASUS DAN PEMECAHAN KASUS

ETIKA BIDAN

NI NYOMAN MANIK SUGIARTI

(P07124215025)

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEBIDANAN
2016

1. Contoh Kasus
Disalah satu rumah sakit swasta di daerah X terjadi kasus yang sukses heboh warga
sekitar. Seorang bayi Ny A umur 2 bulan yang sedang opname karena menderita diare di ruang
bayi RS tersebut. Diizinkan pulang oleh dokter setelah perawatan 3 hari di RS. Salah seorang
bidan yang bertugas jaga di ruang bayi tersebut mengintruksikan salah satu siswa yang sedang
praktik lapangan dari SMK kesehatan untuk memasang aff infus pada bayi tersebut tanpa
pengawasan, sehingga jarinya terluka dan mengeluarkan banyak darah. Dari kejadian tersebut,
orang tua bayi menuntut RS yang bersangkutan.
2. Analisis Kesalahan pada Kasus
a. Aspek Tenaga Kesehatan
Berdasarkan hasil analisis terhadap kasus tersebut, dapat disimpulkan bahwa keluarga
pasien melakukan tuntutan terhadap Rumah Sakit atas dasar dugaan malpraktik (kesalahan dalam
melaksanakan tindakan) yang telah dilakukan siswa praktikan terhadap bayi Ny. A. Berkaitan
dengan tuntutan tersebut, apabila dicermati secara seksama, bidan merupakan tenaga kesehatan
yang seharusnya memberi pertanggungjawaban. Bidan tersebut telah melakukan kelalaian medis
karena sudah memberikan instruksi pada siswa praktikan untuk memasang aff infus pasien tanpa
pendampingan.
Siswa atau mahasiwa yang sedang melaksanakan praktik lapangan di Rumah Sakit boleh
melakukan tindakan pelayanan kesehatan dibawah bimbingan pegawai Rumah sakit tersebut atau
CI (Clinical Instructure). Dari kasus diatas diketahui siswa SMK tersebut melakukan tindakan
Aff Infus kepada pasien karena diinstruksikan oleh seorang bidan di rumah sakit tersebut.
Sehingga yang bertanggung jawab penuh atas tindakan siswa itu adalah bidan tersebut.
b. Aspek Hukum
Rumah Sakit merupakan institusi kesehatan yang memegang peranan sangat penting
dalam pelayanan kesehatan bagi pasien selaku konsumen, yang harus ditunjang oleh tenaga
kesehatan yang profesional dalam melaksanakan pelayanan kesehatan, diantaranya dokter,
perawat, bidan ataupun tenaga kesehatan yang lainnya. Hal tersebut tentu tidak sesuai dengan
apa yang telah dilakukan oleh bidan dalam kasus di atas, dimana oleh masyarakat tindakan

tersebut sering dikategorikan sebagai malpraktik (kelalaian tindakan medis) atas keputusannya
memberi instruksi pada siswa yang belum berkompeten, melakukan tindakan medis tanpa
pendampingan.
Kelalaian medis atau Medical Accident menggambarkan peristiwa atau kejadian klinis
yang tidak cocok atau yang berlawanan dengan harapan, tanpa menetapkan dulu apa penyebab
kejadian yang tidak diinginkan itu dan siapa yang bersalah. Ini sesuai dengan asas hukum
praduga tak bersalah, sampai kesalahan benar-benar terbukti. Kelalaian medis dari aspek hukum
merupakan suatu sikap kurang hati hati menurut ukuran yang wajar, acuh tak acuh, dan
ceroboh. Sedangkan unsur unsur kelalaian ini terdiri dari adanya suatu kewajiban, melanggar
standar, tindakan di bawah standar umum dan ada kerugian, serta sebab akibat.
Perlindungan hukum bagi pasien sebagai konsumen jasa pelayanan kesehatan dalam hal
ini dimaksudkan sebagai tindakan untuk melindungi pasien jika ada kelalaian/ kesalahan tenaga
kesehatan dalam melakukan tindakan medik (Kelalaian medik). Merugikan. Selain mengurangi
kepercayaan masyarakat terhadap profesi tenaga kesehatan juga menimbulkan kerugian pada
pasien, misalnya terjadi kematian atau cacat permanen.
Pasal 46 UU nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, dinyatakan bahwa Rumah
Sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap semua kerugian yang ditimbulkan atas kelalaian
yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di Rumah Sakit. Sehingga pasien memiliki hak untuk
menggugat dan/ atau menuntut rumah sakit apabila rumah sakit diduga memberikan pelayanan
yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun pidana.
Berkaitan dengan kelalaian medis, ketentuan pidana yang tersangkut yaitu: Menyebabkan
mati atau luka karena kelalaian ( Pasal 359 KUHP, Pasal 360 KUHP, Pasal 361 KUHP ).
Sedangkan dalam hukum perdata dapat tersangkut peraturan antara lain: pasal 1365, pasal 1366,
pasal 1367 KUH Perdata. Berkaitan dengan ganti rugi ini juga diatur dalam pasal 55 UU
Kesehatan sebagai berikut :
1) Setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan tenaga
kesehatan.
2) Ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Seorang tenaga kesehatan yang menyimpang dari standar profesi dan melakukan
kesalahan profesi belum tentu melakukan malpraktik medis yang dapat dipidana.
3. Pemecahan Kasus
Pada kasus di atas seorang bidan diasumsikan telah melakukan kelalaian medis dengan
menginstruksikan seorang siswa SMK kesehatan untuk memasang aff infus namun tanpa

mengawasinya. Sehingga menyebabkan pendarahan pada tangan bayi tersebut. Pada dasarnya hal
tersebut dapat dicegah jika bidan yang saat itu bertugas sebagai pengawas tindakan siswa SMK
tersebut melakukan pengawasan guna mendampingi siswa yang bersangkutan. Hal ini karena
seorang siswa atau mahasiswa yang sedang melakukan praktik lapangan belum dapat dikatakan
professional atau kompeten dalam mengambil tindakan. Selain itu bidan juga harus yakin dan
memastikan bahwa siswa atau mahasiswa yang bersangkutan dapat memasang aff infus dengan
tepat. Sehingga tidak terjadi masalah yang pada dasarnya dapat dicegah.