Anda di halaman 1dari 3

Mengapa Anak Tidak Suka, Takut, atau Bodoh

Matematika?
6 April 2015 09:04

Beberapa minggu ini saya banyak menangani kasus anak bermasalah. Usianya
beragam mulai empat tahun hingga remaja. Umumnya, dalam menangani klien anak,
saya selalu mewajibkan kedua orangtua atau pengasuh utama anak hadir di sesi awal
untuk konsultasi atau konseling. Dan biasanya dari sesi awal ini saya dapatkan
gambaran umum pola asuh yang berlaku di rumah dan tentunya pengaruhnya terhadap
kondisi psikologis anak.
Pada paragraf di atas saya menuliskan kata bermasalah di antara tanda kutip untuk
menunjukkan bahwa belum tentu anak bermasalah. Sering dijumpai, anak normal, baik,
namun dianggap bermasalah karena pemahaman orangtua yang salah mengenai tahap
perkembangan psikologis anak. Banyak anak menjadi atau dibuat menjadi bermasalah
karena pola asuh dan proses pendidikan yang tidak berpihak pada keunikan anak dan
menciderai psikis anak.
Proses belajar yang benar seyogyanya memerhatikan tahap perkembangan anak.
Piaget membagi perkembangan anak menjadi empat tahap: Periode sensorimotor (usia
02 tahun), periode praoperasional (usia 27 tahun), periode operasional konkrit (usia
711 tahun), dan periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa).
Dalam pembelajaran matematika yang umum terjadi adalah anak tidak mendapat
kesempatan belajar secara konkrit. Yang dimaksud dengan pembelajaran konkrit
adalah anak menggunakan benda-benda konkrit, yang bisa dimanipulasi dengan
tangan, dipegang, dilihat, dirasakan, untuk memahami konsep banyak atau sedikit.
Anak, biasanya, langsung dikenalkan dengan angka. Mulai angka 1,2,3, satuan,
puluhan, ratusan, bahkan ribuan. Angka adalah simbol dan sifatnya abstrak. Untuk
memahami angka, anak terlebih dahulu perlu mengkonstruksi pemahaman
menggunakan benda konkrit. Cara ini yang dulu digunakan para orangtua mengajar
anak-anak mengenal jumlah dan angka. Namun sayangnya cara ini, saat ini, sudah
jarang digunakan. Anak langsung diajari angka, tanpa melewati proses belajar konkrit.
Untuk bisa membuat anak jago matematika biasanya orangtua akan mengirim anak ke
kursus matematika. Dari pengamatan saya, banyak kursus yang hanya menerapkan
prinsip drilling, anak diberi tugas yang (sangat) banyak dengan prinsip pengulangan
agar bisa menghitung cepat. Namun bila anak diberi soal cerita dan perlu mengerti
maksud cerita untuk bisa melakukan kalkulasi matematis biasanya anak mengalami
kesulitan. Anak juga biasanya tidak bisa merasakan berapa banyak selisih antara satu
dan sepuluh, atau sepuluh dan dua puluh. Benar mereka tahu bahwa sepuluh lebih
besar dari satu. Namun berapa bedanya, selisihnya, banyaknya, mereka tidak bisa
merasakannya. Ini semua karena konstruksi pemahaman anak tidak berdasar proses
belajar konkrit.
Kendala lain muncul saat anak yang belum fasih penjumlahan tiba-tiba diajari tabel
perkalian. Ini juga satu kesalahan fatal. Perkalian adalah bentuk lain dari penjumlahan
berulang. Lemah di penjumlahan membuat anak sulit menguasai perkalian.

Belum lagi bila orangtua menuntut anaknya pintar matematika seperti anak temannya,
atau menguasai materi yang sebenarnya belum waktunya dipelajari dan dikuasai si
anak.
Kendala beruntun ini akhirnya membuat anak merasa matematika sulit, tidak
menyenangkan, menakutkan, dan perlu dihindari sebisa mungkin. Dan ini akan terus
terbawa hingga dewasa.
Orangtua, tanpa tahu duduk masalah yang sebenarnya, berusaha membantu anak
mengatasi masalah dengan meminta atau mengharuskan anak belajar lebih keras,
lebih lama, les matematika dengan guru berbeda. Ada juga orangtua yang
menggunakan cara yang keras dalam upaya membuat anaknya pintar matematika,
misalnya memarahi, mengancam, atau menghukum. Anak bukannya menjadi lebih
berkembang justru menjadi semakin trauma dan tidak suka matematika. Anak
menghubungkan belajar matematika atau matematika itu sendiri dengan penderitaan
(pain), rasa sakit, tidak nyaman.
Faktor lain yang membuat anak tidak suka matematika adalah karena cara mengajar
guru yang kurang menghargai keunikan dan kecepatan belajar anak. Ada guru yang
menuntut anak menguasai bahan ajar dengan cepat. Bila anak agak lambat biasanya
guru akan menegur atau memberi label anak bodoh. Ada juga guru yang karena
sikapnya, disengaja atau tidak, membuat anak malu, di dalam kelas, karena tidak bisa
mengerjakan soal. Semua ini memberi kontribusi pada ketidaknyamanan anak terhadap
pelajaran matematika.
Solusi untuk masalah ini adalah pertama, emosi negatif yang berhubungan dengan
matematika harus dihilangkan total. Kedua, kecakapan dasar matematika seperti
penjumlahan, pengurangan, pembagian dan perkalian perlu diperkuat. Bila perlu, anak
tinggal kelas untuk mendapat kesempatan memperbaiki fondasi matematikanya. Dan
ketiga, yang juga sangat penting adalah pendampingan, dukungan, kasih sayang dari
orangtua pada anak.
Hal lain yang perlu diperhatikan orangtua adalah adanya lompatan materi yang cukup
signifikan antara SD kelas 3 dan kelas 4. Anak yang kemampuan matematika dasarnya
tidak kuat akan mengalami kesulitan saat naik kelas 4.
Satu kendala lain yang pernah saya temukan pada klien anak SD yang tidak suka
matematika yaitu ia tidak mengerti soal, yang ditulis dalam bahasa Inggris, sehingga
tidak bisa menjawab dengan benar. Saat soal ditulis dalam bahasa Indonesia anak
mampu menjawab dengan benar.
Saya pernah menangani anak perempuan, sebut saja sebagai Jeni, kelas 4 SD yang
sangat pintar penjumlahan, perkalian, dan pembagian. Namun, saat diminta
mengerjakan soal pengurangan, Jeni tidak bisa. Jeni merasa takut dan cemas saat
diminta mengerjakan soal pengurangan. Dan setelah diterapi baru diketahui
penyebabnya.
Ayahnya Jeni telah berusaha membantu Jeni mengatasi masalah ini. Ia bahkan telah
meminta Jeni menjalani tes IQ, tes sidik jari, konseling, memberi les matematika pada

Jeni. Hasilnya, tidak seperti yang diharapkan. Bahkan tes sidik jari Jeni menyatakan IQnya Jeni hanya 90an. Saya tentu tidak percaya dengan hal ini.
Saat jumpa saya di ruang terapi, Jeni mampu berkomunikasi dengan lancar dan menjelaskan masalahnya. Dari sini
saya tahu Jeni punya rasa percara diri yang bagus. Dan semakin saya bicara dengan Jeni semakin saya meragukan
hasil tes IQ-nya. Jeni tampak sebagai anak yang cerdas.

Apa yang terjadi pada Jeni? Sekolah Jeni menggunakan kurikulum internasional
dengan buku ajar dari Australia. Saat kelas 1 SD mereka tentu diajari matematika. Di
sinilah muncul masalah. Sistem mata uang Australia dan Indonesia jelas beda. Australia
menggunakan dolar dan sen. Satu dolar sama dengan 100 sen. Dan saat itu Jeni
diminta ke depan kelas mengerjakan soal cerita. Kendala mundul karena ia melakukan
pengurangan 10 dolar dan 2 dolar 63 sen. Atau bila dalam bahasa matematis
persamaannya adalah: 10 2,63. Ini adalah bilangan desimal yang tentu sangat sulit
dipahami oleh anak kelas 1 SD.
Akibatnya, Jeni tidak bisa dan ditertawakan teman-temannya. Ini diperparah lagi
dengan gurunya memberi motivasi negatif dengan berkata, Masa soal begini mudah
nggak bisa?
Perasaan malu, cemas, takut, dan tidak mampu yang Jeni rasakan saat di depan kelas
ini langsung terhubung dengan pengurangan. Dan setelahnya, setiap kali mengerjakan
soal pengurangan Jeni pasti tidak bisa. Usai terapi, saat saya beri soal pengurangan ia
dapat mengerjakan dengan mudah dan percaya diri.