Anda di halaman 1dari 6

Cara Pengadaan Bibit

Pengadaan bibit sapi ternak pada peternakan sapi perah penduduk


bertujuan untuk mempersiapkan sapi-sapi muda yang nantinya berfungsi sebagai
generasi pelanjut dari sapi-sapi yang akan diafkir dan juga untuk meningkatkan
produksi susu yang dihasilkan dengan melakukan seleksi dan perkawinan. Pak
Sunusi (peternak) memiliki 1 ekor peranakan sapi sahiwal yang dipelihara dengan
modal sendiri dan ada bantuan bibit dari Pemerintah setempat. Pemberian bantuan
bibit ini ditujukan agar para peternak dapat meningkatkan pendapatan dan taraf
hidupnya. Begitupula dengan pembangunan peternakan yang sedang giat-giatnya
dilaksanakan baik oleh pemerintah maupun swasta. Tentunya pembangunan sektor
ini selalu akan diarahkan untuk meningkatkan pendapatan dan taraf hidup
peternak, memperluas lapangan kerja, serta memperluas pasar dalam negeri
maupun luar negeri melalui peternakan yang maju, efisien dan tangguh sehingga
mampu meningkatkan dan menganekaragamkan hasil dan mutu produksi.
Cara Pengangkutan Bibit Sapi Perah
Menimbang :
bahwa sebagai tindah lanjut dari pasal 3 peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun
1977, pelu ditetapkan peraturan tentang kesehatan bibit sapi perah yang akan
dimasukkan ke Indonesia.
Mengingat :

1. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1967

2. Ordonansi Tahun 1912 Nomor 432 dan 435

3. Peratuan Pemerintah Nomor 15 tahun 1977

4. Keputusan Presiden Nomor 59/M Tahun 1978;

5. Keputusan Presiden Nomor 44 dan 45 jo. Keputusan Presiden Nomor


47 Tahun 1979;

6. Surat Keputusan MenteriPertanian Nomor 328/KPTS/OP/5/1978;

7. Surat keputusan Menteri Pertanian Nomor 750/KPTS/Um/10/1982;

8. Surat keputusan Menteri Pertanian Nomor 752/KPTS/Um-1982.

MEMUTUSKAN
Menetapkan :
SURAT KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN TENTANG KESEHATAN
BIBIT SAPI PERAH YANG AKAN DIMASUKKAN DARI AUSTRALIA DAN
SELANDIA BARU KE INDONESIA.
Pasal 1
Dalam Surat keputusan ini yang dimaksud dengan :

a. Daerah peternakanadalah bagian dari suatu Negara atau derah usaha


pertenakan yang mengeluarkan bibit sapi pernah yang akan dimasukkan ke
Indonesia.

b. Alat pengangkutan adalah kapal laut atau pesawat terbang yang dipakai
untuk mengangkut bibit sapi perah ke Indonesia.

Pasal 2
Bibit sapi perah yang akan dimasukkan ke Indonesia harus disertai dengan Surat
Keterangan Kesehatan Hewan yang diterbitkan oleh dokter hewan/pejabat yang
berwenang dari Negara asal bibit sapi perah yang merangkan tentang :

A. Situasi kesehatan hewan didaerah peternakan asal bibit sapi perah


bahwa :

1.a. Bbit sapi perah yang akan dimasukkan dari Australia Ke Indonesia
harus memenuhipersyaratkan :

- Sekurang-kurangnya 6 bulan sebelum pengapalan, bebas dari penyakit :


Anthrax, Bovine Malignant Catarrh, Contagious Bovine Pleuropneumonia,
"Q" Fever, Campylo Bacter Foetus, Trichomonas Foetus dan Infectious
Bovine Rhinotracheltis.

- Sekurang-kurangnya 5 (lima), tahun sebelum pengapalan, harus bebas


dari Johne's Disease.

- Sekurang-kurangnya 60 hari sebelum pengapalan, harus bebas dari gejala


Klinis Lebtos Pirosis.

b. Bibit sapi perah yang akan dimasukkan dari Selandia Baru ke Indonesia
harus memenuhi persyaratan :

- Sekurang-kuarangnya 6 bulan sebelum pengapalan harus bebas dari


penyakit Intestinal salmonella Infectious, Clostridial disease, Leucosis,

Compylobacter foetus, trichomonas foetus, Leucosis, Campylobacter


foetus,

- Trichomonas oetus, Mucosal Disease, "Q" fever dan Leptospirosis.

- Sekurang-kurang 5 Tahun sebelum pengapalan harus bebas dari Johne's


disease.

2. Bibit sapi perah harus berasal dari daerah peternakan yang dinyatakan
bebas brucellosis dan tuberculosis.

3. Bibit sapi perah harus berasal dari kelompok ternak yang tidak dijumpai
penyakitan penyakit Ring worm dan Pink eye.

B. Bibit sapi perah tersebut pada huruf A telah diuji oleh dokter hewan
pemerintah yang berwenang di Negara asal dengan hasil negatip yang
meliputi :

1. Bibit sapi perah yang berasal dari Australia, pengujian dilakukan


terhadap brucellosis, tuberculosis, Compylobacter foetus dan trichomonas
oetus.

2. Bibit sapi perah yang berasal dari Selandia Baru pengujian dilakukan
terhadap brucellosis dan tuberculosis.

C. Bibit sapi perah tersebut pada huruf B, harus dibebaskan terhadap


ektoparasit dan dilakukan tindakan pencegahan terhadap penyakit
leptospirosis, anaplasmosis, babesiosis dan clostridiosis dan clostridiosis
oleh pejabat pemerintah yang berwenang di Negara asal.

D. bibit sapi perah tersebut pada huruf C selanjutnya dipelihara terpisah


dari hewan lain sejak dimulai pengujian pertama sampai menjelang waktu
pengangkutan.

E. Bibit sapi perah tersebut pada huruf D, pada waktu akan dimuat kea lat
pengangkutan harus dalam keadaan sehat, bebas dari ektoparasit dan
gejala penyakit menular.

Pasal 3
(1) pelaksanaan ketentuan-ketentuan tersebut pada pasal 2, dinegara asal bibit sapi
perah harus dikonfirmasi oleh dokter hewan Indonesia.
(2) Biaya untuk keperluan tersebut pada ayat (2) dibebankan kepada importer.

(3) Penunjukan dokter Hewan Indonesia dan tata cara pelaksanaan konfirmasi
ditetapkan lebih lanjut oleh Direktur Jenderal Peternakan.
Pasal 4
Lembar asli Surat Keterangan Kesehatan Hewan tersebut pada pasal 2 harus
diberikan kepada Kapten/Nakhoda alat pengangkutan sedang rekamannya
diserahkan kepada Perwakilan Republik Indonesia di Negara asal bibit sapi perah
dan kepada dokter hewan Indonesia.
Pasal 5
(1) Pengangkutan bibit sapi perah dari Negara asal pelabuhan pengeluaran bibit
sapi perah sampai pelabuhan tujuan di Indonesia harus langsung tanpa singgah di
tempat lain.
(2) Alat pengangkutan tersebut pada ayat (1) tidak diperbolehkan mengangkut
hewan/ternak lain selain bibit sapi perah yang telah disetujui.
(3) Apabila terjadi penjangkit penyakit Mulut dan Kuku dan atau Contagius
Bovine Pleuropneumonia atau Rinderpest selama perjalanan maka :

a. alat pengangkutankapal laut tidak diperkenankan merapat dipelabuhan


Indonesia.

b. Alat pengangkutan pesawat terbang tidak diperkenankan


menurunkan/membongkar muatan dipelabuhan Indonesia.

(4) Bibit sapi perah tersebut pada ayat (3) ditolak.


Pasal 6
Ketentuan pelaksanaan Surat Keputusan ini ditetapkan lebih lanjut oleh Direktur
Jenderal Peternakan.
Pasal 7
Surat Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 12 Oktober 1982
MENTERI PERTANIAN
ttd,
PROF.IR.SOEDARSONO HADISAPOETRO

Cara Penerimaan Sapi Perah


Penerimaan Pendapatan kotor atau penerimaan usaha tani adalah nilai
produk total usaha tani dalam jangka waktu tertentu baik yang dijual maupun
yang tidak dijual. Dalam menaksir pendapatan kotor, semua komponen produksi
yang tidak dijual harus dinilai berdasarkan harga pasar. Pendapatan kotor ternak
dihitung sebagai penjualan ternak ditambah nilai ternak yang digunakan untuk
konsumsi rumah tangga, pembanyaran dan hadiah ditambah nilai ternak pada
akhir tahun pembukuan ditambah nilai hasil ternak yang diperoleh sebagai upah
dan hadiah dikurangi nilai ternak pada awal tahun pembukuan. Dengan kata lain
pendapatan kotor usahatani adalah ukuran hasil perolehan total sumber daya yang
digunakan dalam usahatani (Soekartawi et.al, 1986).
Menurut

Hadisapoetra

(1973),

pendapatan

kotor

adalah

seluruh

pendapatan yang diperoleh dari semua cabang dan sumber didalam usahatani
selama satu atahun, yang dapat diperhitungkan dari hasil penjualan, pertukaran
atau penaksiran kembali. Yang termasuk penerimaan usahatani adalah
a. Jumlah uang yang diterima dari hasil penjualan dengan mengingat akan adanya
penerimaan pada permulaan dan pada akhir tahun
b. Nilai dari pengeluaran-pengeluaran berupa bahan dari usahatani kepada rumah
tangga dan keperluan pribadi dari petani dan kepada usaha-usaha yang tidak
termasuk usahatani
c. Nilai bahan yang dibayarkan sebagai upah kepada tenaga kerja luar
d. Nilai dari bahan-bahan yang dihasilkan dari usahatani yang dipergunakan lagi
dalam usahatani sendiri sebagai bangunanbangunan tetap misalnya kayu untuk
perumahan dan alat-alat.
e. Tambahan nilai dari persediaan modal ternak dan tanaman
f. Hasil sewa alat-alat dan uapah tenaga kerja keluarga dari pihak-pihak lain
Pendapatan Bersih
Ukuran yang sangat berguna untuk menilai penampilan usahatani kecil
adalah penghasilan bersih usahatani (net farm earnings). Angka ini diperoleh dari
pendapatan bersih usahatani dengan mengurangkan bunga yang dibayarkan
kepada modal pinjaman. Ukuran ini menggambarkan penghasilan yang diperoleh
dari usahatani untuk keperluan keluarga dan merupakan imbalan terhadap semua
sumberdaya milik keluarga yang dipakai didalam usahatani. Pendapatan bersih

usahatani (net farm income) adalah selisih antara pendapatan kotor usahatani dan
pengeluaran total usahatani (Soekartawi et al, 1986).
Menurut Mahekam (1991), pendapatan bersih usahatani (laba) dapat
didefinisikan sebagai berikut :
a. Jumlah perbedaan antara uang tunai yang dipegang oleh petani pada awal dan
akhir tahun
b. Hasil pertanian atau ternak di tangan petani pada akhir tahun
c. Peningkatan nilai selama tahun berjalan, aset milik petani, misalnya rumah,
mesin dan lahan
d. Jumlah perbedaan pendapatan antara pendapatan kotor dan biaya operasi.
Dengan kata lain laba atau pendapatan bersih adalah marjin kotor total
dikurangi biaya tetap untuk operasi
Penerimaan usaha ternak sapi perah berasal dari penjualan susu,
pertambahan nilai ternak, penjualan ternak dan penjualan kotoran ternak.
Tabel Rata-rata Penerimaan Usaha Ternak Sapi Perah
No

Uraian

Fisik

Rata-rata (Rp/thn)

1.

Penjualan Susu

5291liter

15.355.366,67

2.

Pertambahan Nilai

Ternak-

12.420.000,00

3.

Penjualan Ternak

1ekor

7.580.000,00

4.

Penjualan Kotoran Ternak

4truk

281.250,00

Jumlah 35.636.616,67 Sumber : Analisis Data Primer


Pendapatan Bersih Usaha Ternak Sapi Perah Pendapatan bersih usaha ternak sapi
perah diperoleh dari total penerimaan dikurangi total biaya. Tabel 21. Rata-rata
Pendapatan Usaha Ternak Sapi Perah
No Uraian

Rata-rata (Rp/thn)

1. Total Penerimaan

35.636.616,67

2. Total Biaya

34.753.765,58

Pendapatan 882.851,09 Sumber : Analisis Data Primer