Anda di halaman 1dari 2

Gambaran klinis Keloid Pasien mengeluhkan adanya benjolan sebesar biji salak

pada telinga kiri, terdapat 2 benjolan. Benjolan teraba kenyal, berwarna kemerahan,
tidak terasa gatal ataupun nyeri. Menurut keterangan pasien, pasien sebelumnya
pernah melakukan tindik pada telinga kiri. Sejak 1 tahun terakhir pasien mengaku
tidak lagi rutin kontrol, sebelumnya pasien rutin melakukan suntik pada benjolan
tersebut. Setelah 1 tahun tidak kontrol pasien merasa benjolan bertambah besar.
Pemeriksaan Dermatologis
UKK : Tampak tumor dengan permukaan licin ukuran 4 x 3 x 2 cm pada telinga kiri
Bagaimana gejala klinis keloid?
Bagaimana tatalaksana pasien keloid?
Bagaimana pemeriksaan penunjang keloid ?
Pembahasan
Definisi
Keloid adalah parut abnormal yang timbul sebagai akibat dari proses penyembuhan
luka. Jaringan parut abnormal ini terbentuk akibat dari sintesis dan degradasi
kolagen yang tidak seimbang. Komponen pemicu pembentuk keloid adalah
fibronektin dan glikosaminoglikan yang berlebihan.
Manifestasi Klinis
Lesi berupa papul, nodul, tumor dari kenyal sampai keras, tidak teratur. Berbatas
tegas menebal, padat, berwarna coklat, merah muda dan merah. Lesi yang masih
awal kenyal, permukaan licin, kadang dikelilingi hufa eritematosa dan mungkin juga
terdapat teleangiektasis. Pada perkembangannya lesi dapat disertai gatal dan nyeri
Gambaran selanjutnya dapat memanjang seperti cakar kadang dapat terjadi ulserasi
serta bisa terbentuk sinus didalamnya. Sedangkan pada lesi yang lanjut biasanya
sudah mengeras, hiperpigmentasi, dan asimetris. Keloid berkembang selama
beberapa minggu sampai bulan setelah trauma. Keloid meluas diluar batas luka,
tidak mengalami regresi secara spontan.
Lokasi yang sering pada kulit putih di wajah (pipi, telinga, ekstremitas atas, dada
daerah parasternal, leher, punggung, ekstremitas bawah. Sedangkan pada orang
kulit hitam sering di cuping telinga, wajah, leher, ekstremitas bawah, payudara, dada,
punggung dan abdomen
Pemeriksaan penunjang
Pada keloid dapat dilakukan pemeriksaan histologis yang akan memberikan
gambaran berupa peningkatan deposisi kolagen dan glikosaminoglikan yang
merupakan komponen utama pembentuk matrik ekstraseluler. Kolagen pada keloid
terdiri dari bundel kolagen hialin dengan susunan yang beraturan yang dikenal
sebagai kolagen keloidal. Hal ini berbeda dengan bekas luka normal dimana bundel
kolagen yang berorientasi sejajar dengan permukaan kulit.
Tatalaksana
1. Injeksi steroid intra lesi : Triamsinolon asetonid dapat menghambat sintesis
kolagen dan pertumbuhan fibroblas secara invitro, triamsinolon asetonid dapat
menurunkan TGF . Dengan menurunnya TGF akan menyebabkan ekspresi
fibroblas dalam menghasilkan kolagen berkurang, selain itu kulit akan menjadi lebih

lunak dikarenakan fibroblas berpoliferasi menjadi miofibroblas yang menyebabkan


kontraksi pada luka dihambat pembentukannya.
2. Pembedahan (eksisi) : Tindakan ini mungkin berhasil dengan memuaskan, namun
demikian berpotensi menimbulkan kekambuhan.
3. Krioterapi : Digunakanpada lesi yang berukuran kecil, penggunaannya dapat
mengurangi nyeri akibat injeksi dan memperpanjang masa penyembuhan.
4. Radioterapi : dapat menyebabkan terjadinya eritema dan hiperpigmentasi
5. Laser : Penggunaan laser tidak cukup memuaskan, terapi laser menggunakan
karbondioksida dan argon dapat memicu kekambuhan hingga 90 %. Namun
demikian, hasil trapi dengan penggunaan pulsed dye laser yang mempunyai panjang
gelombang 585nm. Penggunaan pulsed dye laser menghambat regulasi dari TGF ,
dan meningkatkan regulasi dari metalproesterase MMP-13 yang akan menekan
proliferasi fibroblas keloidalsebaik menginduksi apotosis
6. Silikon Bel Sheet : Penggunaan lembaran silikon gel sheet akan memberikan
penghalang terhadap oklusi dan melunakkan bekas luka, juga mengurangi eritem.
7. Imiquimod : merupakan imunomodulator topikal sebagai terapi bagian luar genital
& perianal. Imiquimod berperan melalui tol-like receptor 7 yang berperan dalam
proses apregulasi sitokin proinflamasi seperti TNF yang berperan dalam
penurunan sintesis kolagten dan fibroblas.
8. Bleomisin : Suatu agen kemoterapi penyakit kanker, mempunyai efek
menghalangi siklus sel, menurunkan DNA dan RNA dan menghasilkan ROS.
9. Imerferon 2b : suatu sitokin yang memodulasi aktivitas faktor pertumbuhan dan
telah terbukti memilii efek antiproliferatif dan antifibrolitik
Prognosis : Secara kosmetika, keloid mempunyai prognosis yang buruk
dikarenakan belum ada terapi yang efektif dan efisien.
Referensi :
1. Edris AS. Management of Keloid and Hypertropjic Scar. Medic line
2. Djuanda. A (2010). Ilmu Penyaki Kulit dan Kelamin. Jakrta. FKUI
3. Siregar,RS (2004). Atlas Berwarna Saripati Penyzkit Kulit. Jakarta : EGC
4. Robles DT, Noore E, Draznin M,Berg P. Keloid : Patophysiology and Management. Dermatology
online journal 13 (3):9