Anda di halaman 1dari 57

Tebal kulit bumi tidak merata.

Kulit bumi di bagian benua/daratan lebih tebal daripada di bawah


samudera. Bumi tersusun atas beberapa lapisan :
1. Barisfer, yaitu lapisan inti bumi merupakan bahan padat yang tersusun ataslapisan
nife (niccolum = nikel dan ferrum = besi). Jari2nya 3.470 km dan batas luarnya 2.900 km di
bawah permukaan bumi.
2. Asthenosfer (Mantle), adalah lapisan pengantara yaitu lapisan yang terdapat di atas barisfer
setebal 1.700 km. berat jenisnya rata2 5 gr/cm3, merupakan bahan cair bersuhu tinggi dan
berpijar.
3. Litosfer, yaitu lapisan yang terletak di atas asthenosfer, dengan ketebalan 1.200 km. berat
jenisnya rata2 2,8 gr/cm3. Litosfer terdiri atas 2 bagian :
a)
Lapisan Sial, yaitu lapisan kulit bumi yang tersusun atas logam silisium dan aluminium,
senyawanya dalam bentuk SiO2 dan Al2O3. Dalam lapisan ini terdapat batuan antara lain batuan
sedimen, granit, andesit, dan batuan metamorf. Lapisan sial disebut juga lapisan kerak bersifat padat
dan kaku memiliki ketebalan 35 km. kerak ini dibagi menjadi dua bagian yakni :
Kerak benua, merupakan benda padat yang terdiri dari batuan beku granit pada bagian atasnya
dan batuan beku basalt pada bagian bawahnya. Kerak ini yang menempati sebagai benua.
Kerak samudera, merupakan benda padat yang terdiri atas endapan di laut pada bagian atas,
kemudian di bawahnya terdapat batu2an vulkanik dan lapisan yang paling bawah tersusun atas
batuan beku gabro dan peridotit. Kerak ini menempati sebagai samudera.
b) Lapisan Sima, yaitu lapisan kulit bumi yang tersusun atas logam silisium dan magnesium dalam
bentuk senyawa SiO2 dan MgO. Lapisan ini mempunyai berat jenis yang lebih besar daripada lapisan
sial karena mengandung besi dan magnesium, yaitu mineral ferromagnesium dan batuan basalt.
Lapisan sima merupakan bahan yang bersifat elastis dan mempunyai ketebalan rata2 65 km.
Batuan kulit bumi dapat dibagi menjadi 3 golongan, yaitu :
1)
Batuan Beku.
Batuan beku adalah batuan yang terbentuk dari magma pijar yang mendingin menjadi padat.
Berdasarkan tempat pendinginannya ada 3 macam batuan beku, yaitu :
a)
Batuan Beku Dalam.
Batuan ini disebut juga batuan beku plutonis (batuan beku abyssis), terjadinya jauh di bawah
permukaan bumi, berasal dari magma yang mendingin. Pendinginan sangat lambat, sehingga
berlangsungnya proses kristalisasi sangat leluasa. Oleh karena itu, batuan beku dalam terdiri atas
kristal2 penuh, mempunyai struktur (susunan) holokristalin atau granitis. Contohnya : batu garanit,
diorite, gabro dan seynit.
b)
Batuan Korok.
Batuan ini terbentuk di dalam korok2 atau gang2 di dalam kulit bumi. Karena tempatnya dekat
permukaan, pendinginannya lebih cepat. Itulah sebabnya batuan ini terdiri dari Kristal besar, Kristal
kecil, dan bahkan ada yang tidak mengkristal, yaitu bahan amorf. Contohnya : granit porfir dan diorite
porfirit.
c) Batuan Leleran/Beku Luar.
Batuan ini terbentuknya di luar kulit bumi, sehingga turunnya temperatur cepat sekali. Zat2 dari magma
hanya dapat membentuk kristal2 kecil, dan sebagian ada yang sama sekali tidak dapat mengkristal.
Contohnya : liparit dan batu apung.
2)
Batuan Sedimen atau Batuan Endapan.
Bila batuan beku lapuk, bagian2nya yang lepas mudah diangkut oleh air, angin, atau es dan diendapkan
di tempat lain. Batuan yang mengendap ini disebut batuan sedimen. Batuan ini mula2 lunak, tetapi
lama-kelamaan menjadi keras karena proses pembatuan.
Dilihat dari perantaranya batuan sedimen dapat dibagi menjadi 3 golongan, yaitu :
a. Batuan Sedimen Aeris atau Aeolis.
Pengangkut batuan ini adalah angin, contohnya : tanah los, tanah turf, dan tanah pasir di gurun.
b. Batuan Sedimen Glasial.
Pengangkutan batuan ini adalah es. Contohnya : moraine (moraine).

c. Batuan Sedimen Aquatis.


Pegangkutan batuan ini adalah air. Contohnya :
Breksi (Brecci) adalah batuan sedimen yang terdiri dari batu2an yang bersudut tajam yang
sudah melekat satu sama lain.
Konglomerat adalah batuan sedimen yang terdiri dari batu2an yang bulat2 yang sudah melekat
satu dengan yang lainnya.
Batu Pasir adalah batuan sedimen yang berbutir-butir dan melekat satu sama lain.
Dilihat dari tempat pengendapannya ada 3 macam batuan sedimen, yaitu :
1. Batuan Sedimen Lakustre.
Adalah batuan sedimen yang diendapkan di danau. Contohnya : turf danau, tanah liat danau.
2. Batuan Sedimen Kontinental.
Adalah batuan batuan sedimen yang diendapkan di daratan. Contohnya : tanah los, tanah gurun pasir.
3. Batuan Sedimen Marine.
Adalah batuan sedimen yang diendapkan di laut. Contohnya : lumpur biru di pantai, endapan
radiolarian di laut dalam dan lumpur merah.
3)
Batuan Metamorf (Batuan Malihan).
Batuan ini merupakan batuan yang telah mengalami perubahan yang dahsyat secara kimiawi. Asalnya
dapat dari batuan beku atau batuan sedimen.
Batuan metamorf dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :
a. Batuan Metamorf Kontak
Batuan ini terjadi akibat suhu yang sangat tinggi. Biasanya terletak dekat dengan dapur magma.
Contohnya : marmer, dan batu bara.
b. Batuan Metamorf Dynamo.
Batuan ini terjadi karena tekanan yang tinggi dan dalam waktu yang lama, disebut juga metamorf
kinetis. Contohnya: batu asbak, antrasit, schist dan shale.
c. Batuan Metamorf Pneumatolitis Kontak.
Terjadi karena pengaruh suhu yang tinggi dan mendapat tambahan gas lain pada waktu terbentuknya
batuan tersebut. Contohnya, batu permata dan topas.

Unsur2 yang Terdapat dalam kerak Dan Kulit Bumi :


NAMA UNSUR
OksigenSilikonAluminium
Ferrum (besi)
Kalsium
Natrium
Kalium

BANYAKNYA (%)
46,60
27,72
8,13
5,00
3,63

Magnesium

2,83
2,59
2,09

JUMLAH

98,59

Untuk mengetahui jenis mineral yang terkandung di dalam suatu batuan dipergunakan 2 cara, yaitu :
1. Mengenal mineral secara fisik.
Dalam hali ini dipergunakan sifat2 fisik mineral tersebut, diantaranya
Warna
Kilap
Tembusnya cahaya
Bentuk Kristal
Bentuk belahan
Kekerasan
Berat jenis
Reaksi terhadap zat yang asam
Kemagnetan
2. Mengenal mineral secara kimia.
Secara kimia ini mempergunakan pedoman pada unsur2 yang terkandung pada batuan, seperti :
Mineral murni
Logam yaitu emas, perak, besi
Bukan logam yaitu belerang, intan, grafit
Setengah logam yaitu bismuth.
Senyawa dengan sulfida
Senyawa dengan oksida
Senyawa dengan halida
Senyawa dengan karbonat
Senyawa dengan fosfat
Senyawa dengan silikat
Tanah (Pedosfer) yaitu suatu benda alam yang menempati lapisan kulit bumi yang teratas dan terdiri
atas butir tanah, air, udara, sisa tumbuh2an dan hewan, yang merupakan tempat tumbuhnya tanaman.
Sebagai tempat tumbuhnya tanaman, perananan tanah yaitu sebagai tempat tegaknya tanaman, tempat
menyediakan unsur2 makanan, air, dan tempat menyediakan udara bagi pernapasan akar. Kehidupan
tanaman sangat ditentukan oleh sifat2 tanah, yang merupakan lingkungan hidup sistem perakarannya.
Hal2 yang berhubungan dengan tanah sebagai berikut :
LAPISAN TANAH
Dalam garis besarnya lapisan tanah itu dapat dibagi menjadi empat, yaitu :
1. Lapisan Tanah Atas.
Lapisan ini tebalnya antara 10 cm 30 cm, warnanya cokelat sampai kehitam-hitaman, lebih gembur,
yang disebut tanah olah atau tanah pertanian. Di sini hidup dan berkembang biak semua jasad hidup
tanah dan merupakan lapisan tanah yang tersubur sebagai tempat hidupnya tanaman. Warna
hitam/cokelat dan suburnya tanah disebabkan oleh bunga tanah.
2. Lapisan Tanah Bawah.
Lapisan tanah kedua ini tebalnya antara 50 cm 60 cm, lebih tebal daripada lapisan atas, warnanya
kemerah-merahan. Lebih terang atau lebih muda, dan lebih padat. Lapisan tanah ini sering disebut
dengan tanah cadas atau tanah keras. Di sini kegiatan jasad hidup berkurang. Tanaman berumur
panjang, yang mempunyai akar tunggang yang dalam dapat mencapai lapisan tanah ini.
3. Lapisan Bahan Induk Tanah.
Lapisan tanah ketiga ini warnanya kemerah-merahan atau kelabu, keputih-putihan. Lapisan ini dapat

pecah dan diubah dengan mudah, tetapi sukar ditembus oleh akar. Di lereng2 gunung lapisan ini sering
kelihatan dengan jelas, dimana lapisan di atasnya telah hanyut oleh hujan.
4. Lapisan Batuan Induk.
Lapisan yang keempat ini disebut batuan induk. Masih merupakan batuan pejal, belum mengalami
proses pemecahan. Inilah merupakan bahan induk tanah yang mengalami perubahan beberapa proses
dan memakan waktu yang lama. Di pegunungan2 sering kelihatan, tetapi tumbuh2an tak dapat hidup.

TERJADINYA TANAH
Tanah terjadi dari batuan induk, kemudian berubah menjadi bahan induk tanah, dan berangsur-angsur
menjadi lapisan tanah bawah, yang akhirnya membentuk tanah atas dalam waktu yang lama sekali. Ada
beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya tanah, yaitu :
1. Sinar matahari
2. Air
3. Udara
4. Tumbuh-tumbuhan
5. Makhluk hidup
6. Jasad hidup dalam tanah.
Tingkatan-tingkatan dalam Proses Perubahan Tanah :
1)
Stadium Embrional : tanah yang masih berupa batuan segar.
2)
Stadium Yuvernil : tanah muda remaja yang belum begitu produktif.
3)
Stadium Veriil : tanah dewasa yang produktif
4)
Stadium Seriil : tanah sudah tua dan kurang produktif.
Macam-macam jenis tanah, yaitu :
1. Tanah Vulkanis, yaitu tanah yang berasal dari bahan2 yang dikeluarkan oleh letusan gunung
berapi. Tanah ini terdapat banyak di sekitar gunung berapi.
2. Tanah Kapur, yaitu tanah yang tembus air, tanah ini kurang subur, dan banyak terdapat di
pegunungan kapur.
3. Tanah Laterit, yaitu tanah vulkanis yang telah kena proses pelarutan karena hujan yang banyak
serta suhu yang tinggi, sehingga warnanya dari kelabu berubah menjadi kemerah-merahan.
4. Tanah Padzol, yaitu tanah vulkanis yang terkena hujan banyak, tetapi dengan suhu yang
rendah, dan banyak terdapat di daerah pegunungan. Warnaya kekuning-kuningan.
5. Tanah Margalit, yaitu tanah yang terjadi dari batuan yang banyak mengandung kapur dengan
pengaruh hujan yang tidak merata sepanjang tahun, sehingga warnanya berubah menjadi hitam.
6. Tanah Terrarosa, yaitu tanah yang terbentuk karena hasil pelarutan batuan kapur, tanah ini
banyak ditemukan di dasar2 lembah dan dolina2 pegunungan kapur.
7. Tanah Liat, yaitu jenis tanah yang memiliki butiran2 yang halus, dan bentuknya berupa
lempeng sifat dari tanah ini, bila kena air sangat lekat dan jika kering menjadi keras dan pecah2.

8. Tanah Napal, yaitu tanah liat yang tercampur dengan batu kapur.
9. Tanah Kaolin, yaitu jenis tanah liat yang baik untuk membuat barang2 keramik.
10. Tanah Rawang (organosol), yaitu tanah yang terbentuk dari sisa tumbuh2an dan terdapat di
daerah yang berpaya-paya dan selalu tergenang air.
11. Tanah Padas, yaitu tanah yang padat, akibat mineral2 yang dikeluarkan oleh air dari lapisan
bagian atas tanah.
12. Tanah Aluvival, yaitu tanah yang berasal dari endapan lumpur yang dibawa melalui sungai2.
Tanah ini bersifat subur sehingga baik untuk pertanian.
13. Tanah Pasir, yaitu tanah yang berasal dari batu pasir yang telah melapuk. Tanah ini sangat
miskin dan kadar air di dalamnya sangat sedikit. Tanah pasir yang terdapat di pantai2 pasir
disebut sand dune. Contohnya pantai parangtirtis, Yogyakarta.
14. Tanah Humus (Bunga Tanah), yaitu tanah yang terjadi dari tumbuh2an yang telah membusuk.
Tanah yang mengandung humus bersifat sangat subur dan umumnya berwarna hitam.
15. Tanah Lempung (debu), Yaitu tanah yang tidak mudah merembaskan air. Tanah lempung lebih
berat daripada tanah pasir, tetapi lebih ringan daripada tanah liat. Butir2nya lebih halus daripada
tanah pasir, tetapai lebih longgar daripada tanah liat.

SIFAT-SIFAT TANAH
Memperhatikan dari sifat2 tanah sangat penting sekali, terutama bila tanah itu akan digunakan sebagai
areal tumbuhnya tumbuh2an. Sifat2 yang penting dari tanah terdiri atas unsur :
1. Warna Tanah
Warna tanah dipengaruhi oleh kandungan organik atau kimiawi. Pada umumnya tanah yang banyak
kandungan organiknya akan berwarna gelap, dan memiliki tingkat kesuburan yang cukup tinggi.
2. Tekstur Tanah.
Yang dimaksud dengan tekstur tanah yaitu besar kecilnya butiran2 tanah, dimana tekstur ini dapat kita
bedakan jadi 3 kelas yaitu tanah pasir, lempung dan tanah liat. Tekstur tanah yang baik adalah tanah
lempung dengan perbandingan antara pasir, debu dan tanah liat harus sama, sehingga tanah tidak terlalu
lepas dan tidak terlalu lekat.

3. Struktur Tanah.
Yang dimaksud dengan struktur tanah yaitu susunan dari butiran2 tanah, dimana struktur ini dapat kita
bedakan menjadi 3 macam yaitu struktur lepas butir, struktur remah, dan struktur gumpal. Tanah
dikatakan memiliki struktur lepas butir, bila butir2 tanah letaknya berderai atau terlepas satu sama
lainnya, sedangkan tanah berstruktur remah bila butir2 tanah berkumpul membentuk semacam kerak
roti. Dan struktur remah merupakan struktru tanah yang paling baik untuk dijadikan sebagai tanah
pertanian. Tanah yang berstruktur gumpal ditandai dengan butir2 tanah melekat sangat rapat satu sama
lain.
4. Derajat Keasaman ( pH ) Tanah.
Bila dilihat dari derajat keasamannya, tanah ada yang bersifat asam, dan ada yang alkalis/basa serta ada
yang bersifat netral. Keasaman ini bisa terjadi karena tanah selalu tergenang air. Dan umumnya akar
tanaman akan rusak bila tanah terlalu asam maupun terlalu basa. Umumnya tanaman memerlukan pH
tanah yang netral.
Dipermukaan bumi, lahan atau tanah mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut
disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :
1. Tekstur tanah
2. Permeabilitas tanah
3. Ketebalan atau solum tanah
4. Kemiringan lereng
5. Tingkat erosi
6. Penyaluran air.
Berkenaan dengan warna pada tanah yang berbeda-beda, maka adapun asal-usul dari warna2 tersebut
adalah sebagai berikut :
1. Kuning,berasal dari mineral limonit (2Fe2O33H3O).
2. Cokelat, berasal dari bahan 2 organis asam yang lapuk sebagian.
3. Putih, berasal dari mineral2 silika-kuarsa (SiO2), kapur (CaCO3), kaolin, bauksit, aluminium
dan silikat, gypsum (CaCO42H2O), nitrat, garam2 yang sudah larut serta koloida2 organis
tertentu.
4. Hitam, berasal dari bahan2 organis yang telah terurai dengan hebat, dan biasanya ada
hubungannya dengan unsur2 karbon (C), magnesium (Mg), serta beleran (S).
5. Merah, berasal dari mineral hematite (Fe2O3) atau turgit (2Fe2O3H2O).
6. Hijau, berasal dari oksida ferrous.
7. Biru, berasal dari mineral lilianit.
Untuk menjaga kesuburan tanah dan mengurangi dampak erosi terhadap tanah, maka dapat dilakukan
beberapa langkah berikut :
1. Terassering, yaitu menanam tanaman dengan sistem berteras-teras untuk mencegah erosi tanah

2. Contour Farming, yaitu menanami lahan menurut garis kontur, sehingga perakaran dapat
menahan tanah.
3. Pemupukan
4. Pembuatan Tanggul Pasangan untuk menahan hasil erosi.
5. Contour Plowing, yaitu membajak searah garis kontur sehingga terjadilah alur2 horisontal.
6. Contour Strip Cropping, yaitu bercocok tanam dengan cara membagi bidang2 tanah itu dalam
bentuk sempit dan memanjang dengan mengikuti garis kontur sehingga bentuknya berbelokbelok.
7. Crop Rotation, yaitu usaha pergantian jenis tanaman supaya tanah tidak kehabisan salah satu
unsur hara akibat diisap terus oleh salah satu jenis tanaman.
8. Reboisasi, yaitu menanami kembali hutan2 yang gundul.
9. Drainase, yaitu pengaturan sirkulasi air untuk kesuburan tanah.
MACAM-MACAM BENTUK MUKA BUMI
Sebagai akibat dari tenaga eksogen dan endogen, maka terbentuklah perbedaan ketinggian
permukaan bumi, yang dikenal dengan sebutan relief. Relier permukaan bumi terdiri atas dua
macam, yaitu :
a. Relief daratan, terdiri atas :
1. Gunung, yaitu daerah yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya, dan ditandai dengan adanya
puncak, lereng, dan kaki gunung.
2. Lembah, yaitu daerah ledokan/lebih rendah dari tempat sekitarnya dan berda di bawah kaki
gunung.
3. Pegunungan, yaitu rangkaian beberapa gunung, bentuknya memanjang. Contohnya pegunungan
bukit barisan di pulau sumatera.
4. Bukit, yaitu sejenis pegunungan yang tingginya antara 200 sampai 300 meter. Bukit yang
berkelompok disebut perbukitan.
5. Pematang, yaitu suatu perbukitan atau pegunungan yang puncaknya berderet apabila didaki dari
puncak yang satu ke puncakyang lain tidak perlu sampai ke kakinya.
6. Cekungan, yaitu bentuk muka bumi yang cekung yang umumnya dikelilingi oleh gunung atau
pegnungan .
7. Lereng, yaitu suatu medan atau daerah permukaan tanah yang letaknya miring, tidak horizontal
dan tidak vertikal.
8. Plato atau Plateau, bentuk permukaan bumi ini merupakan dataran tinggi dengan bagian atas
relative rata dan telah mengalami erosi. Misalnya, Plato Dieng di Jawa Tengah, dan Plato Madi
di Kalimantan.
9. Dataran Rendah, yaitu daerah datar yang berada pada ketinggian kurang dari 200 m dari
permukaan laut.
10. Dataran Tinggi, yaitu daerah datar yang berada pada ketinggian lebih dari 200 m dan berciri
sejuk.
11. Depresi, adalah bagian permukaan bumi yang mengalami penurunan. Bentuk depresi yang
memanjang disebut slenk, sedangkan yang membulat disebutbasin. Misalnya, Depresi Jawa
Tengah dan Lembah Semangka.
12. Ngarai (Canyon), yaitu lembah yang dalam dan sempit dengan lereng yang curam, misalnya
ngarai sianok di Sumatera Barat.
13. Pantai, adalah bagian dari darat yang terdekat dengan laut. Garis pantai adalah garis batas
antara laut dan darat. Tepi pasir atau pesisir adalah bagian dari darat yang tergenang air ketika
pasang naik dan kering ketika surut. Daratan yang terletak di tepi laut disebut pantai. Di daerah
pantai dikenal berbagai bentuk muka bumi sebagai berikut :
1)
Teluk, yaitu laut yang menjorok ke daratan.
2)
Tanjung atau ujung, yaitu daratan yang menjorok ke laut. Ujung yang sangat panjang dinamakan
jazirah atau semenanjung.
3)
Delta, tanah endapan di muara sungai.
4)
Gosong, pulau yang tergenang ketika laut pasang dan muncul ke permukaan ketika air laut surut

disebut gosong (gosong pasir).

b. Relief Dasar Laut, terdiri atas :


1. Palung Laut (trog), yaitu ledokan atau celah yang sangat dalam, berada di dasar laut. Contoh :
PalungMindano di Filipina.
2. Lubuk Laut (basin atau bekken), merupakan celah yang sangat dalam di dasar laut dan
bentuknya agak bulat. Terjadi karena tenaga tektonik, sehingga dasar laut turun. Contoh : lubuk
laut sulu di Sulawesi.
3. Punggung Laut, merupakan bukit yang terdapat di dasar laut dan sebagian yang ada di atas
permukaan air laut merupakan pulau. Contoh : punggung laut siboga, Snellius, obi, dammar,
nila, dan seram.
4. Ambang Laut (drempel), yaitu dasar laut yang mencuat memisahkan satu perairan dengan
perairan lain, contoh : ambang laut Sulawesi.
5. Gunung Laut, yaitu gunung yang muncul dari dasar laut, contoh : gunung Krakatau.
6. Shelf (laut dangkal/paparan), yaitu laut dangkal yang kedalamannya kurang dari 200 m.
contohnya : paparan sahul, paparan sunda.
7. Laut Dalam, yaitu laut yang kedalamannya lebih dari 200 m, misalnya laut banda.
8. Pulau Koral/Pulau Karang (Terumbu), adalah dasar laut yang sebagian atau semuanya terdiri
atas karang.
Tenaga yang mengubah bentuk permukaan bumi terdiri dari tenaga endogen daneksogen.
A. Tenaga Endogen

merupakan tenaga yang berasal dari dalam bumi. Tenaga ini dapat memberi bentuk relief di permukaan
bumi. Tenaga endogen ada yang mempunyai sifat membangun dan ada yang mempunyai sifat merusak.
Tetapi secara umum tenaga endogen bersifat membangun. Tenaga endogen merupakan kekuatan yang
mendorong terjadinya pergerakan kerak bumi. Pergerakan ini disebut diastropisme. Adanya tenaga
endogen menyebabkan terjadinya pergeseran kerak bumi. Pergeseran kerak bumi akan menjadikan
permukaan bumi berbentuk cembung, seperti pegunungan atau gunung berapi, serta berbentuk cekung,
seperti laut dan danau. Adapun yang termasuk tenaga endogen meliputi :
1. Vulkanisme
Yang dimaksud dengan vulaknisme adalah peristiwa yang berhubungan dengan naiknya magma dari
dalam perut bumi. Magma adalah campuran batu2an dalam keadaan cair, liat serta sangat panas.
Aktivitas magma disebabkan oleh tingginya suhu magma dan banyaknya gas yang terkandung di
dalamnya. Magma ini dapat berbentuk gas, padat dan cair.

Intrusi magma, adalah aktivitas magma di dalam lapisan litosfera, memotong atau menyisip litosfer
dan tidak mencapai permukaan bumi. Intrusi magma disebut jugaplutonisme. Ekstrusi magma adalah
kegiatan magma yang mencapai permuakaan bumi. Ekstrusi magma merupakan kelanjutan dari intrusi
magma.
Dilihat dari bentuk dan terjadinya, ada 3 macam gunung api, yaitu :
a)
Gunung Api Maar.
Bentuknya seperti danau kecil (danau kawah). Terjadi karena letusan eksplosif. Bahannya terdiri dari
efflata. Contohnya gunung lamongan di Jawa Timur.

b)
Gunung Api Kerucut (Strato).
Bentuknya seperti kerucut, terjadi karena letusan dan lelehan effusif, secara bergantian. Bahannya
berlapis-lapis, sehingga disebut lava gunung api strato. Jenis ini yang terbanyak terdapat di Indonesia.
c)
Gunung Api Perisai (Tameng).
Bentuknya seperti perisai, terjadi karena lelehan maupun cairan yang keluar dan membentuk lereng
yang sangat landai. Bahan lavanya bersifat cair sekali. Sudut kemiringan lereng antara 1o 10o.
contohnya Gunung Maona Loa dan Kilanca di Hawaii.

Kuat atau lemahnya ledakan gunung api tergantung dari : tekanan gas, kedalaman dapur magma,
luasnya sumber/dapur magma, dan sifat magma (cair/kental).
Menurut aktivitasnya, gunung api dapat dibagi menjadi 3 gologan, yaitu :
1. Gunung Api Aktif, yaitu gunung api yang masih bekerja yang kawahnya selalu mengeluarkan
asap, gempa, dan letusan. Misalnya gunung Stromboli.
2. Gunung Api Mati, yaitu gunung api yang sejak tahun 1600 sudah tidak meletus lagi. Misalnya
gunung patuha, gunung sumbing, dan sebagainya.
3. Gunung Api Istirahat, yaitu gunung api yang sewaktu-waktu meletus dan kemudian istirahat
kembali, misalnya gunung ciremai, gunung kelud, dan sebagainya.

Bagian2 dari gunung berapi terdiri atas :


1. Kaldera, ialah kawah kepundan yang amat besar, luas, dan bertebing curam yang ada di puncak
gunung berapi. Kaldera terjadi sewaktu gunung api meletus dengan hebat dan sebagian dari
puncak gunung api itu terbang/gugur ke dalam pipa kawah.
2. Saluran Diaterma (Saluran Kepundan), yaitu lubang besar yang berbentuk pipa panjang dari
puncak ke sumber magma tempat mengalirnya magma keluar permuakaan bumi.

3. Dapur Magma, yaitu tempat/pusat/sumber dari kumpulan magma yang merupakan panas dari
kerak bumi berada.
4. Sill, adalah magma yang masuk diantara dua lapisan bahan sedimen dan membeku (intrusi
datar).
5. Lakolit, adalah magma yang masuk diantara batuan sedimen dan menekan ke atas sampai
bagian atas cembung dan bagian bawah datar.
6. Batolit, adalah magma yang menembus lapisan batu2an dan membeku di tengah jalan.
7. Gang, yaitu batuan dari intrusi magma yang memotong lapisan batuan yang berbentuk pipih
atau lempeng.
8. Apofisa, yaitu cabang dari erupsi korok (gang).

Bahan2 yang dikeluarkan oleh gunung berapi, antara lain :


1. Efflata (Benda Padat).
Menuru asalnya efflata dibagi 2 yakni : efflata allogen : berasal dari batu2an sekitar pipa kawah yang
ikut terlempar, dan efflata antogen: berasal dari magma sendiri atau disebut juga pyroclastic. Menurut
ukuran, efflata dibedakan atas : bom yaitu batu2an besar, lapili yaitu batu2an sebesar kacang/kerikil,
pasir, debu, dan batu apung.
2. Bahan Cair.
Terdiri atas :
a)
Lava, yaitu magma yang telah sampai di luar.
b)
Lahar Panas, berupa lumpur panas mengalir yang terjadi dari magma yang bercampur air.
c)
Lahar Dingin, yaitu lumpur magma yang telah mendingin.
3. Ekshalasi (Bahan Gas).
Terdir atas :
a)
Solfatar, yaitu gas belerang (H2S) yang keluar dari dalam lubang.
b)
Fumarol, yaitu uap air.
c)
Mofet, yaitu gas asam arang (CO2).
Gunung merapi yang sedang meletus sangat berbahaya karena mengeluarkan :
a)
Banjir lahar.
b)
Banjir lava
c)
Gelombang pasang.
d)
Awan emulsi.
Manfaat2 gunung api, antara lain :
1. Menyuburkan tanah.
2. Dapat mendatangkan hujan.

3. Memperluas daerah pertanian karena semburan dan vulkanik


4. Memperbanyak jenis tanaman budi daya.
5. Menyebabkan letak mineral (barang tambang) dekat dengan permukaan tanah.
6. Menjadi tempat pariwisata dan sanatorium, karena udaranya yang sejuk.
7. Dapat dimanfaatkan sebagai pusat pembangkit tenaga listrik (geothermal).
Peristiwa post vulkanis adalah peristiwa yang terdapat pada gunung berapi yang sudah mati atau yang
telah meletus. Yang termasuk perisitiwa pos vulkanis adalah :
1. Makdani, adalah mata air mineral yang biasanya panas. Mata air ini biasanya dapat
dimanfaatkan untuk pengobatan, khususnya penyakit kulit.
2. Geyser, adalah mata air yang memancarkan air panas secara periodik. Ada yang memancar
setiap jam, satu hari, sampai satu minggu. Tinggi pancarannya dapat mencapai 10 100 meter.
Peristiwa mengalirnya magma keluar permukaan bumi disebut dengan erupsi. Berdasarkan kekuatan
letusannya, erupsi gunung berapi dapat dibedakan atas 3 jenis yaitu :
1. Erupsi Effusif, yaitu erupsi yang terjadi dengan sangat lemah, tidak menimbulkan ledakan2.
2. Erupsi Eksplosif, yaitu erupsi yang erjadi dengan sangat kuat, disertai dengan ledakan2
dahsyat.
3. Erupsi Campuran, kekuatan erupsi campuran tidak sekuat erupsi eksplosif, namun lebih kuat
dari erupsi effusif.

Berdasarkan bentuk dan lokasi dari tempat keluarnya magma, erupsi dapat dibedakan menjadi :
1. Erupsi Vent (Erupsi Sentral).
Pada erupsi jenis ini, magma keluar melalui pipa kepundan gunung api dan jangka waktu erupsinya
pendek.
2. Erupsi Linear (Fissure Eruption).
Erupsi jenis ini tidak melalui lubang kepundan gunung berapi, melainkan keluar meleleh lewat
retakan2 kerak bumi.
3.
Erupsi Areal.
Yaitu magma keluar melalui lubang yang besar, karena magma terletak sangat dekat dengan permukaan
bumi sehingga magma menghancurkan dapur magma yang menyebabkan magma meleleh keluar ke
permukaan bumi. Misalnya Yellow Stone National Park di Amerika Serikat yang luasnya 10.000 km2.
Di Indonesia terdapat beberapa deretan pegunungan, yaitu:
1. Deretan pegunungan Sunda, yaitu deretan pegunungan yang berjajar dari Pulau Sumatera,
Jawa, Nusatenggara, Maluku Selatan dan berakhir di Pulau Banda.
2. Deretan Sirkum Australia, yaitu deretan pegunungan yang berjajar dari Australia, ujung timur
Pulau Irian, masuk melalui bagian tengah Irian dengan puncak tertinggi Jayawijaya.
3. Deretan pegunungan Sangihe, yaitu deretan pegunungan yang membujur dari Kepulauan
Sangihe (Sulawesi Utara), masuk ke Minahasa, Teluk Gorontalo (dengan Gunung Una-Una
yang sering meletus) hingga Sulawesi Selatan.

4. Deretan Pegunungan Halmahera, yaitu deretan pegunungan yang berderet mulai dari Pulau
Talaut, Pulau Maju dan Tifor di Maluku Utara, masuk ke Halmahera serta Pulau Ternate dan
Tidore, berbelok ke timur hingga Kepala Burung
5. Deretan Pegunungan Kalimantan, deretan ini bermula dari Pulau Palawan (Filipina) kemudian
masuk ke Kalimantan.

2. Seisme (Gempa Bumi)


Gempa bumi adalah getaran pada permukaan kulit bumi yang disebabkan oleh kekuatan2 dari dalam
bumi. Timbulnya getaran ini dikarenakan adanya retakan atau dislokasi pada kulit bumi. Jika terjadinya
getaran karena adanya retakan di dasar laut, yang kemudian merambat melalui air laut, maka terjadilah
gempa laut yang dapat menggoncangkan kapal2 dan menimbulkan gelombang pasang yang mencapai
puluhan meter tingginya. Peristiwa ini disebut dengan tsunami.
Dilihat dari intensitasnya ada 2 macam jenis gempa yaitu :
1. Macroseisme, yaitu gempa yang intensitasnya besar dan dapat diketahui tanpa menggunakan
alat.
2. Microseisme, yaitu gempa yang intensitasnya kecil sekali dan hanya dpat diketahui dengan
menggunkan alat perekam.
Hal ikhwal mengenai gempa bumi perlu diselidiki agar akibat yang ditimbulkannya dapat diramalkan
dan upaya penanggulangannya dapat dilakukan. Ilmu yang mempelajari gempa bumi, gelombang2
seismik serta perambatannya disebutseismologi.
Dalam kajian seismologi di perluakan berbagai alat. Salah satu alat yang terpenting
adalah seismograf atau alat untuk mencatat gempa. Ada 2 macam seismograf, yaitu :
1. Seismograf Horizontal, yaitu seismograf yang mencatat getaran bumi pada arah horizontal.
2. Seismograf Vertikal, yaitu seismograf yang mencatat getaran bumi pada arah vertikal.

Gambar : Seismograf

Besaran (magnitudo) gempa yang didasarkan pada amplitudo gelombang tektonik dicatat oleh
seismograf dengan menggunakan skal Richter. Skala ini ini dibuat olehCharles F. Richter pada tahun
1935.
Sumber gempa di dalam bumi disebut dengan Hiposentrum. Dari hiposentrum ini di teruskan ke segala
arah. Tempat hiposentrum ini ada yang dalam sekali, dan ada yang dangkal. Di Indonesia terdapat
hiposentrum yang dalamnya lebih dari 500 km, contohnya di bawah laut Flores 720 km.
Pusat gempa pada permukaan kulit bumi di atas hiposentrum disebut denganEpisentrum. Kerusakan
yang terbesar terdapat di sekitar episentrum.

Daerah2 yang mengalami gempa dapat dibuat peta. Pada peta tersebut ada beberapa macam
garis,yaitu :
1. Homoseiste, yaitu garis yang menghubungkan tempat2 yang pada saat yang sama mengalami
getaran gempa.
2. Isoseiste, yaitu garis yang menghubungkan tempat2 yang dilalui oleh gempa yang sama
intensitasnya.
3. Pleistoseiste, yaitu garis yang menggelilingi daerah yang mendapat kerusakan terhebat dari
gempa bumi.
Gempa bumi merambat melalui 3 macam getaran, yaitu :
1. Getaran Longitudinal (Merapat Merenggang).
Getaran ini berasal dari hiposentrum dan bergerak melalui dalam bumi, kecepatan getarannnya sangat
cepat, hingga mencapai 7 sampai 14 km per jam. Getaran ini datangnya paling awal da merupakan
getaran pendahuluan yang pertama, itulah sebabnya disebut juga getaran primer. Getaran ini belum
menimbulkan kerusakan.
2. Getaran Transversal (Naik-Turun)
Getaran ini asalnya juga dari hiposentrum dan bergerak juga melalui dalam bumi. Kecepatan getaran
ini antara 4 sampai 7 km per jam. Getaran ini datang setelah getaran longitudinal dan merupakan
getaran pendahuluan kedua yang disebut getaran sekunder.
3. Getaran Gelombang Panjang.
Getaran ini asalnya dari episentrum dan bergerak melalui permukaan bumi. Kecepatan getaran ini
antara 3,8 sampai 3,9 km per jam. Getaran ini datangnya paling akhir, tetapi merupakan getaran pokok.
Getaran ini yang menimbulkan kerusakan.

KLASIFIKASI GEMPA
Kita dapat membedakan macam2 gempa bumi berdasarkan :
1. Hiposentrum gempa atau jarak pusat gempa yaitu :
Gempa Dalam, jika hiposentrumnya terletak antara 300-700 km di bawah permukaan bumi.
Gempa Intermidier, jika hiposentrumnya terletak antara 100-300 km di bawah permukaan bumi.
Gempa Dangkal, jika hiposntrumnya terletak dari 100 km di bawah permukaan bumi.
2. Atas dasar bentuk episentrumnya, dibedakan :
Gempa Linier, jika episentrumnya berbentuk garis. Contohnya gempa tektonik karena
bentuknya bisa berupa daerah patahan.
Gempa Sentral, jika episentrumya berbentuk titik. Contohnya gempa vulkanik atau gempa
runtuhan.
3. Atas dasar letak episentrum gempa, dibedakan atas :
Gempa Laut, jika episentrumnya terletak di dasar laut.
Gempa Daratan, jika episentrumnya di daratan.
4. Atas dasar jarak episentral, gempa dibedakan atas :
Gempa Setempat, jika jarak tempat gempa terasa sampai ke episentralnya kurang dari 10.000
km.
Gempa Jauh, jika episentral dan tempat gempa terasa berjarak sekitar 10.000 km
Gempa Sangat Jauh, jika episentral dan tempat gempa terasa lebih dari 10.000 km.
5. Atas dasar peristiwa yang menyebabkan gempa, dapat dibedakan atas :
Gempa Tektonik atau Gempa Dislokasi, yaitu gempa yang terjadi setelah terjadinya dislokasi
atau karena gerakan lempeng. Gempa inilah yang dapat berakibat parah, terutama jika jarak
hiposentrumnya dangkal.
Gempa Vulkanik, yaitu gempa yang terjadi sebelum, pada saat dan sesudah peristiwa letusan
gunung api.
Gempa Runtuhan, gempa yang terjadi akibat runtuhya bagian atas litosfer, karena bagian
sebelah dalam bumi berongga. Misalnya gempa di daerah kapur.
Gempa Buatan, yaitu gempa yang disebabkan oleh perbuatan manusia. Misalnya gempa yang
terjadi akibat ledakan dinamit yg di gunakan untuk membuat gua/lubang untuk kegunaan
penggalian atau pertambangan.
Untuk menentukan letak episentrum caranya sebagai berikut :
1. Dengan menggunakan hasil pencatatan seismograf. Cara ini dengan menggunakan 3
seismograf, yaitu satu seismograf vertikal, atu seismograf horizontal yang berarah utara dan
selatan sedang satu lagi seismograf berarah timur dan barat.
2. Dengan menggunakan 3 tempat yang terletak satu homoseiste. Cara ini dengan menggunakan
seismograf di 3 tempat yang merasakan getaran gempa pada saat yang sama. Pertama-tama kita
hubungkan tempat seismograf yang satu homoseiste. Karena 3 seismograf maka didapat 2 garis.
Dua garis itu dibuat garis sumbu, sehingga episentrum terletak pada pertemuan dua garis
sumbu.

3. Dengan menggunakan 3 tempat yang mencatat jarak episentrum. Untuk menentukan jarak
episentrum digunakan rumus Laska :
= { (S P ) } 1 x 1.000 km
= delta = jarak episentrum
S P = selisih waktu pencatatan gelombang primer dengan gelombang sekunder dalam satuan menit.
1 = satu menit.
Contoh :
Gelombang S tiba pada pukul 10.2944, sedang gelombang P tiba pada pukul 10.2514. berapakah
jarak episentrum sebuah seismograf dari daerah Z ?
Jawab :
{ ( 10.2944 10.2514 ) } 1 x 1.000 km
= ( 4 1/2 1 ) x 1.000 km = 3.500 km.
Sekarang misalnya letak episentrum dari 3 tempat, yaitu Z = 3.500 km, Y= 5.250 km, dan X = 3.750
km.
Maka cara membuatnya :
1. Dibuat perbandingan skala horizontal 1 cm = 1000 km. maka Z = 3,5 cm, Y = 5,25 cm, X =
3,75 cm.
2. Buat lingkaran sesuai jari2 Z,Y,X.
3. Ketiga lingkaran akan berpotongan pada satu titik E (episentrum).
4. Dengan menggunakan lingkaran isoseiste. Dari laporan secara visual dapat dibuat tanda2 pada
peta yang kemudian dapat ditentukan beberapa isoseiste di daerah bencana gempa. Dengan
mengetahui lingkaran atau elips isoseiste itu dari luar kea rah dalam, dapat ditentukan tempat
episentrum.
3. Tektonisme

Tektonisme adalah perubahan/pergeseran letak lapisan kulit bumi secara mendatar atau vertikal. Jadi
yang dimaksud dengan gerak tektonik adalah semua gerak naik dan turun yang menyebabkan
perubahan bentuk kulit bumi. Gerak ini dibedakan lagi menjadi :
1. Gerak Epirogenetik, adalalah gerak atau pergeseran lapisan kulit bumi yang relatif lambat,
berlangsung dalam waktu yang lama, dan meliputi daerah yang luas. Ada dua macam gerak
epirogenetik, yaitu :
a)
Epirogenetik Positif, yaitu gerak turunnya daratan sehingga terlihat seakan permukaan air laut
naik.
b)
Epirogenetk Negatif, yaitu gerak naiknya daratan sehingga terlihat seakan permukaan air laut
turun.

2. Gerak Orogenetik, adalah gerak atau pergeseran lapisan kulit bumi yang relatif lebih cepat dan
meliputi daerah yang tidak begitu luas. Gerak ini disebut juga gerakan pembentuk pegunungan. Bentuk
gerakan orogenetik dapat dibedakan menjadi :
a)
Wraping (Pelengkungan)

Pada muka bumi yang terdapat bentukan jenis ini, dataran akan melengkung ke atas sehingga terbentuk
suatu kubah atau yang disebut juga dengan Dome. Hal ini disebabkan gerak vertikal yang tidak merata
di suatu daerah, khususnya di daerah yang berbatuan sedimen. Selain kubah, ada juga yang mengarah
ke bawah hingga membentuk cekungan atau basin, diameternya dapat mencapai beberapa mil.
b)
Folding (Pelipatan)

Pelipatan akan terjadi apabila struktur batuan pada suatu daerah menderita suatu tekanan yang lemah.
Namun, berlangsung lama dan belum melampaui titik patah batuan sehingga hanya membentuk lipatan.
Bagian puncak suatu lipatan disebut dengan antiklin, sedangkan lembahnya disebut dengan sinklin.
c)
Jointing (Retakan).
Retakan pada muka bumi terbentuk karena adanya pengaruh gaya regangan yang mengarah ke dua arah
yang berlawanan pada muka bumi sehingga terjadi retakan2, tetapi masih bersambung.
Retakan biasanya terjadi pada batuan yang rapuh sehingga tenaga yang kecil saja sudah dapat membuat
muka bumi retak2. Pada umumnya retakan ini ditemukan pada puncak antiklinal, yang
disebut tektonik joint.
d) Faulting (Patahan).

Jika folding atau pelipatan membentuk muka bumi dalam waktu yang berlangsung lama maka faulting
atau patahan terjadi karena tekanan yang kuat dan berlangsung sangat cepat. Batuan tidak hanya

mengalami retakan, juga mengalami displacementatau sudah terpisah satu dengan lainnnya.
Pada umumnya, daerah sepanjang patahan merupakan daerah pusat gempa bumi karena selalu
mengalami pergeseran batuan kerak bumi. Patahan dapat menyebabkan turunnya bagian kulit bumi
atau yang disebut dengan graben, atau yang sering disebut juga dengan slenk.
Selain menyebabkan turunnya bagian kulit bumi, patahan juga dapat menyebabkan naiknya kulit bumi.
Hal ini terjadi apabila bagian diantara dua patahan mengalami pengangkatan sehingga menjadi lebih
tinggi dari daerah sekitarnya, atau yang biasa disebut dengan horst.
Prinsip-Prinsip Pergeseran Lempeng Litosfer
Seperti yang diuraikan sebelumnya bahwa litosfer yang tipis berada di atas asthenosfer yang bersifat
cair (plastis). Menurut para ahli geologi litosfer tersebut terkoyak-koyak disana-sini sehingga terpecahpecah membentuk suatu kepingan yang disebut lempeng litosfer dan bergerak akibat adanya arus
konveksi di asthenosfer. Jadi, tanah yang kita injak sebetulnya bergerak rata2 sejauh 1 10 cm per
tahun. Dengan adanya gerakan tersebut maka lempeng litosfer saling berdesakan dan bertumbukan,
maka timbul prinsip2 pergeseran lempeng litosfer, yaitu :
1. Lempeng litosfer saling bertumbukan (divergensi) dimana salah satunya sampai menyusup di
bawah lempeng litosfer lainnya.
2. Lempeng litosfer saling berpapasan, yang membentuk sesar mendatar.
3. Lempeng litosfer saling memisah (konvergensi), yang membentuk punggungan di tengah
samudera.
B. Tenaga Eksogen
adalah tenaga yang berasal dari luar bumi, antara lain berasal dari hujan, panas matahari, angin, aliran
air, dan luncuran gletser serta makhluk hidup. Tenaga eksogen dapat mengubah bentuk permukaan
bumi menjadi berlubang, berbukit dan bentuk lainnya. Tenaga eksogen ini bersifat merusak. Artinya
menyebabkan terjadinya kikiksan atau erosi, pelapukan, dan pengangkutan material (mass wasting).
Pada prosesnya menghasilkan bentuk sisa (residual) dan bentuk endapan (depositional). Tenaga
eksogen dapat di bagi menjadi :
1. Weathering (Pelapukan).
Pelapukan adalah segala perubahan dalam batuan karena pengaruh keadaan cuaca (misalnya air, suhu).
Adanya perbedaan temperatur yang tinggi dan rendah, sangat besar pengaruhnya terhadap batu2an.
Macam2 jenis pelapukan antara lain :
1)
Pelapukan Fisis (Pelapukan Mekanik).
Pelapukan mekanik merupakan pelapukan batuan yang tidak disertai dengan perubahan susunan kimia,
seperti batuan yang besar pecah dan berubah menjadi semakin kecil, selanjutnya sampai halus, tetapi
susunan kimianya sama dengan batuan induknya. Sebab2 pelapukan mekanis antara lain :
Insolasi (pengaruh sinar matahari) dan perubahan suhu.
Pembekuan.
Pengerjaan garam.
Daya erosi
Gelombang laut yang memukul pantai.

2)
Pelapukan Kimia
Pelapukan kimi merupakan pelapukan batuan melalui proses kimia yang disertai dengan perubahan
susunan zat dari mineral batuan induknya. Contohnya : hancurnya batuan karena larutan batuan kapur
yang dicampur oleh air hujan yang banyak mengandung CO2.
3)
Pelapukan Biologis (Pelapukan Organik)
Pelapukan organik merupakan pelapukan batuan yang disebabkan oleh oraganisme2 (tumbuh2an,
hewan, dan manusia). Manusia dapat merusak ekosistem yang lebih besar lagi, tetapi dapat juga
memelihara ekosistem yang sudah rusak dan memperbaharui lagi. Pelapukan organis sebagian masuk
pelapukan fisik dan sebagian masuk pelapukan kimia.
Pelapukan bioligis dapat digolongkan menjadi 2 yaitu :
Pelapukan biologis fisik, misalnya tekanan akar, merayapnya cacing, dan sebagainya.
Pelapukan biologis kimia, misalnya pelapukan bunga tanah (humus), pengerjaan jasad2 hidup
pada batuan, yaitu dengan jalan mengeluarkan zat2 tertentu.

2. Erosi (Pengikisan).
Erosi adalah proses pengikisan permukaan bumi oleh tenaga yang melibatkan pengangkatan benda2
seperti air, es, angin, dan gelombang arus.
Macam2 jenis erosi, yaitu :
1)
Erosi Air
Air yang mengangkut batu2an yang hancur mempunyai kekuatan mengikis lebih besar. Peristiwa
gesekan pada erosi air tergantung pada : kecepatan gerak, daya angkut air, dan keaadan permukaan.

2)
Abrasi, adalah pengikisan batuan yang disebabkan oleh pengerjaan air laut. Besar kecilnya
gelombang atau kecepatan angin, dapat menimbulkan perubahan bentuk di sepanjang pantai disebut
abrasi platform.

3)
Gletser, yaitu pegikisan yang disebabkan oleh pengerjaan es . pengikisan oleh es disebut juga
glacial/eksarasi. Di daerah pegunungan yang tinggi sering terdapat salju abadi atau es. Es bergerak
turun melalui lereng dan mengikis dasar lereng gunung serta mendorongnya ke lembah.

4)

Korasi, yaitu pengikisan yang disebabkan oleh pengerjaan angin.

Erosi yang disebabkan oleh tenaga air, misalnya :


1)
Erosi percikan, yaitu erosi yang disebabkan oleh tetesan air hujan yang memecahkan butir-butir
tanah.
2)
Erosi lembar, yaitu pengikisan dan pengangkutan lapisan tanah permukaan, yang disebabkan
oleh aliran air di permukaan tanah.
3)
Erosi Alur, yaitu pengikisan lapisan tanah yang sudah membentuk alur-alur dengan lebar < 40
cm dan kedalaman < 25 cm.
4)
Erosi Parit, yaitu pengikisan lapisan tanah yang mebentuk alur-alur yang lebih besar,sehingga
sering disebut parit m ukuran lebar > 40 cm dan kedalaman > 25 cm. Erosi tebing sungai, yaitu aliran
air sungai mengikis tebing sungai.

3. Sedimentasi (Pengendapan)
Lapisan hasil pelapukan yang terjadi dipermukaan bumi, baik di daratan yang rata maupun di lereng2
bukit, pegunungan atau gunung dipengaruhi oleh bermacam-macam kekuatan. Daerah yang terkena

pelapukan maupun yang menerima hasil pelapukan menghasilkan struktur morfologi yang berbedabeda.
Bentukan2 dalam proses pengendapan/sedimentasi di daerah pantai antara lain :
1)
Pesisir (Beach).
Adalah pantai yang terdiri atas endapan pasir sebagai hasil erosi.
2)
Dune
Adalah bukit pasir di daerah pedalaman yang terjadi sebagai akibat hembusan angin di daerah pasir
yang luas.
3)
Spit dan Bar.
Spit adalah material pasir sebagai proses pengendapan yang terdapat di muka teluk, berbentuk
memanjang, dan salah satu ujungnya menyatu dengan daratan. Sedangkan ujung lain terdapat di laut.
Bar adalah punggungan pasir dan kerikil yang diendapkan tepat diseberang teluk. Bila bar ini
menghubungkan dua pulau disebut tambolo.
4)
Delta.
Adalah bentukan dari proses pengendapan erosi yang di bawa oleh aliran sungai di daerah pantai.
Dalam proses sedimentasi/pengendapan ini akan menghasilkan batuan sedimentasi. Batuan sedimen
juga dapat diklasifikasikan berdasarkan tenaga alam yang mengangkut dan tempat sedimen.

Berdasarkan tenaga alam yang mengangkutnya ada empat macam sedimen yaitu :
1. Sedimen Akuatis : pengendapan oleh air
2. Sedimen Aeris (Aeolis) : pengendapan oleh angin
3. Sedimen Glasial : pengendapan oleh es
4. Sedimen Marine : pengendapan oleh air laut.
Berdasarkan tempatnya ada 5 macam sedimen, yaitu :
1. Teristris : pengendapan di darat
2. Sedimen Fluvial : pengendapan di sungai
3. Sedimen Limnis : pengendapan di rawa2 atau danau
4. Sedimen Marine : pengendapan di laut
5. Sedimen Glasial : pengendapan di daerah es.
4. Pengangkutan Material (Mass Wasting).
Pengangkutan material (mass wasting) terjadi karena adanya gaya gravitasi bumi sehingga terjadi
pengangkutan atau perpindahan material dari satu tempat ke tempat lain. Proses mass
wasting berlangsung dalam empat jenis pergerakan material.
1)
Jenis pergerakan pelan (lambat).
Rayapan merupakan bentuk dari jenis pergerakan lambat pada proses mass wasting. Rayapan adalah
gerakan tanah dan puing batuan yang menuruni lereng secara pelan, dan biasanya sulit untuk diamati
kecuali dengan pengamatan yang cermat. Rayapan terbagi menjadi beberapa jenis.
a)
Rayapan tanah. Yaitu gerakan tanah menuruni lereng.
b)
Rayapan halus. Yaitu gerakan puing batuan hasil pelapukan pada lereng curam yang menuruni
lereng.
c)
Rayapan batuan. Yaitu gerakan blok-blok secara individual yang menuruni lereng.

d)
Rayapan batuan gletser (rock glatsyer creep). Yaitu gerakan lidah-lidah batuan yang
tercampak menuruni lereng.
e)
Solifluksi (solifluction). Yaitu aliran pelan masa batuan yang banyak mengandung air menuruni
lereng di dalam saluran tertentu.
2)
Jenis pergerakan cepat.
Jenis pergerakan ini dapat dibagi sebagai berikut :
a)
Aliran tanah. Yaitu gerakan berlempung atau berlumpur yang banyak mengandung air menuruni
teras atau lereng perbukitan yang kemiringannya kecil.
b)
Aliran lumpur. Yaitu gerak puing batuan yang banyak mengandung air menuruni saluran
tertentu secara pelan hingga sangat cepat.
c)
Gugur puing. Yaitu puing-puing batuan yang meluncur di dalam saluran sempit menuruni
lereng curam.
3)
Longsor lahan (landslide).
Gerakan yang termasuk dalam kategori ini merupakan jenis yang mudah diamati, dan biasanya berupa
puing massa batuan. Gerakan tersebut dapat dibagi menjadi :
a)
Luncur. Yaitu gerakan penggelinciran dari satu atau beberapa unit puing batuan, atau biasanya
disertai suatu putaran ke belakang pada lereng atas di tempat gerakan tersebut terjadi.
b)
Lonsor puing. Yaitu peluncuran puing batuan yang tidak terpadatkan, dan berlangsung cepat
tanpa putaran ke belakang.
c)
Jatuh puing. Yaitu puing batuan yang jatuh hampir bebas dari suatu permukaan yang vertikal
atau menggantung.
d)
Lonsor batu. Yaitu massa batuan yang secara individu meluncur atau jatuh menuruni permukaan
lapisan atau sesaran.
e)
Jatuh batu. Yaitu blok-blok batuan yang jatuh secara bebas dari lereng curam,
4)
Amblesan (subsidensi).
Amblesan yaitu pergeseran tempat ke arah bawah tanpa permukaan bebas dan tidak menimbulkan
pergeseran horizontal. Hal ini umumnya terjadi karena perpindahan material secara pelan-pelan di
daerah massa yang ambles.
5. Denudasi.
Adalah proses yang mengakibatkan perendahan relief daratan akibat longsor, pengerjaan manusia dan
lain sebagainya.
Hidrosfer berasal dari kata hidros = air dan sphere = daerah atau bulatan. Hidrosfer dapat diartikan
daerah perairan yang mengikuti bentuk bumi yang bulat. Daerah perairan ini meliputi samudera, laut,
danau, sungai, gletser, air tanah, dan uap air yang terdapat di atmosfer. Diperkirakan hampir tiga
perempat atau 75 % muka bumi tertutup oleh air. Jadi dapat dikatakan bumi kita ini adalah planet air.
Air di bumi memiliki jumlah yang tetap dan senantiasa bergerak dalam suatu lingkaran
peredaran yang disebut dengan siklus hidrologi, siklus air ataudaur hidrologi.
Persentase luas permukaan laut dan luas permukaan daratan
Di belahan bumi utara dan selatan.
BELAHAN BUMI

LUAS LAUTAN (%)

LUAS DARATAN (%)

Utara
Selatan

61
81

39
19

Untuk keperluan pemahaman praktis dalam mempelajari tentang air diperlukan beberapa cabang ilmu,
antara lain sebagai berikut :
1. Hidrometeorologi, yaitu ilmu yang mempelajari hubungan antara unsur2 meteorologi dan
siklus hidrologi yang ditekankan kepada hubungan timbal balik.
2. Potamologi, yaitu ilmu yang mempelajari air yang mengalir di permukaan tanah, baik yang
melalui saluran, maupun yang tidak melalui saluran.
3. Geohidrologi, yaitu ilmu yang mempelajari keberadaan, persebaran, dan gerak air di bawah
permukaan tanah.

4. Limnologi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk air yang berada di danau.
5. Oseanologi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang keadaan air di lautan.
Siklus air dibedakan menjadi 3 macam, yaitu sebagai berikut :
1. Siklus Air Kecil, yaitu air laut menguap, mengalami kondensasi menjadi awan dan hujan, lalu
jatuh ke laut.

2. Siklus Air Sedang, yaitu air laut menguap, mengalami kondensasi dan dibawa angin, membentuk
awan di atas daratan, jatuh sebagai hujan, lalu masuk ke tanah, selokan, sungai, dan ke laut lagi.

3. Siklus Air Besar, yaitu air laut menguap menjadi gas kemudian membentuk kristal2 es di atas laut,
dibawa angin ke daratan (pegunungan tinggi), jatuh sebagai salju, membentuk gletser (lapisan es yang
mencair), masuk ke sungai, lalu kembali ke laut.

Terjadinya siklus air tersebut disebabkan oleh adanya proses2 yang mengikuti gejala meteorologis dan
klimatologis, antara lain :
1. Evaporasi, yaitu penguapan benda2 abiotik dan merupakan proses perubahan wujud air
menjadi gas. Penguapan di bumi 80 % berasal dari penguapan air laut.
2. Transpirasi, yaitu proses pelepasan uap air dari tumbuh2an melalui stomata atau mulut daun.
3. Evapotranspirasi, yaitu proses gabungan antara evaporasi dan transpirasi.
4. Kondensasi, yaitu proses perubahan wujud uap air menjadi air akibat pendinginan.
5. Adveksi, yaitu transportasi air pada gerakan horizontal seperti transportasi panas dan uap air
dari satu lokasi ke lokasi yang lain oleh gerakan udara mendatar.
6. Presipitasi, yaitu segala bentuk curahan atau hujan dari atmosfer ke bumi yang meliputi hujan
air, hujan es, dan hujan salju.
7. Run Off (Aliran Permukaan), yaitu pergerakan aliran air di permukaan tanah melalui sungai
dan anak sungai.
8. Infiltrasi, yaitu perembesan atau pergerakan air ke dalam tanah melalui pori tanah.
Di dalam siklus hidrologi terjadi proses kondensasi dan sublemasi. Kondensasi adalah proses
berubahnya uap air menjadi butir2 air, sedangkan sublemasi adalah proses berubahnya uap air menjadi
butir2 es atau salju. Menurut perkiraan, air yang ada dipermukaan bumi seluruhnya mencapai
1.360.000.000 km3. Sekitar 1.320.000.000 km3 berada di lautan/samudera dan sisanya terjadi sirkulasi
pada atmosfer ke daratan dan kembali ke laut atau samudera.
Air yang ada dipermukaan bumi dan di udara berada dalam bentuk cair, gas dan padat (es
atau salju). Perubahan air dalam tiga bentuk ini memang sangat menakjubkan. Jika terjadi perubahan
temperatur, air dapat berubah menjadi es yang disebut membeku (freezing), atau sebaliknya es akan
berubah menjadi air yang disebut mencair (melting), dan air yang mencair tersebut dapat pula berubah
menjadi gas melalui proses penguapan (evaporation).
Dalam setahun tidak kurang dari 500.000 km3 air di muka bumi berubah menjadi gas ke
dalam atmosfer. Kurang lebih 430.000 km3 air laut berubah menjadi uap air atau sekitar 1.000
km3 setiap hari, dan sisanya 70.000 km3 menguap dari daratan (termasuk penguapan dari tanaman yang
disebut dengan Transpiration).

Uap air yang terdapat dalam udara dapat berubah menjadi butir2 air atau es (kondensasi).
Jika temperatur udara terus menurun, butiran air berubah menjadi kristal2 es, lama kelamaan semakin
besar, dan udara tidak lagi mampu menahan beratnya sehingga jatuh ke bumi sebagai hujan
(precipitation). Butiran2 air atau kristal2 es yang masih bertahan melayang-layang di udara karena
amat kecil disebut awan.
Sebaliknya, setiap tahunnya curah hujan yang jatuh ke permukaan bumi sekitar 500.000 km3,
yaitu 390.000 km3 langsung jatuh di laut/samudera, dan 110.000 km3 jatuh di daratan. Persebaran air
yang berada di muka bumi secara persentase adalah sebagai berikut : air laut 97,5 %, air sungai, air
danau, air tanah, dan salju 2,449 %, serta berupa uap air 0,001 %.
AIR PERMUKAAN.
Air permukaan adalah bagian dari air hujan yang tidak mengalami infiltrasi (peresapan), atau
air hujan yang mengalami peresapan dan muncul kembali ke permukaan bumi sebagai mata air. Mata
air yang muncul di permukaan bumi akan mengalir sebagai air permukaan.
Macam-macam air permukaan :
A. Sungai
Sungai adalah air tawar yang mengalir dari sumbernya di daratan menuju dan bermuara di
laut, danau, atau sungai lain yang lebih besar. Aliran sungai merupakan aliran yang bersumber dari 3
jenis limpasan, yaitu : limpasan yang berasal dari hujan, limpasan dari anak2 sungai, dan limpasan dari
air tanah.
Pada umumnya, sungai bermuara sampai ke laut atau danau2. Tetapi, adapula sungai2 yang
muaranya tidak dapat mencapai laut banyak terdapat di daerah gurun yang amat kering. Di Australia,
sungai jenis ini disebut creek dan di Arab disebut Wadi. Pada saat hujan, palung2 sungai ini berisi air
tetapi bilamana hujan tidak ada, sungai ini hanya berupa palung2 yang kerin. Air hujan yang mengalir

tidak dapat mencapai laut karena banyak meresap ke dalam tanah yang kering dan ada pula yang habis

menguap kembali ke atmosfer.


Besarnya volume air yang mengalir pada suatu sugai dalam satuan waktu pada titik tertentu
di sungai itu, disebut debit air. Debit air sungai terkecil terdapat di bagian hulu, sedangkan yang
terbesar terdapat di bagian muara. Sungai yang besar berarti debit airnya besar, sebaliknya, sungai yang
kecil berarti debit airnya kecil.
Besar kecilnya volume air yang mengalir (debit air sungai) dipengaruhi oleh beberapa faktor,
antara lain sebagai berikut :
1. Iklim, usur iklim sangat berpengaruh terhadap debit air sungai. Banyaknya curah hujan
(Presipitasi) dan besarnya penguapan (evaporasi) sangat menentukan volume air yang ada
dalam sungai.
Pada saat musim penghujan presipitasi lebih besar dibandingkan besarnya evaporasi yang
mengakibatkan debit air menjadi besar bahkan terjadi luapan air atau banjir. Tetapi sebaliknya, pada
musim kemarau jumlah presipitasi menurun tetapi tingkat penguapan meningkat sehingga debit air
semakin kecil.
1. Kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS), luas dan ketinggian daerah aliran sungai berpengaruh
besar terhadap debit air sungai. Daerah aliran sungai adalah bagian permukaan bumi yang
berfungsi untuk menerima, menyimpan, dan mengalirkan air hujan yang jatuh di atasnya
melalui sungai. Contoh : hujan yang jatuh pada bagian permukaan bumi mengalirkan airnya ke
sungai, misalnya sungai Kapuas. Bagian permukaan bumi yang menerima air hujan dan
mengalirkan airnya ke sungai Kapuas disebut DAS Kapuas. Das biasanya dibatasi oleh
punggung/igir perbukitan atau pegunungan. DAS yang luas berarti memiliki daerah tangkapan
hujan yang luas pula, sehingga debit air sungai yang mengalir pada DAS itu akan lebih besar.

Ada berbagai bentuk atau tipe sungai yaitu :


1. Sungai Consequent Lateral, yakni sungai yang arah alirannya menuruni lereng2 asli yang ada
di permukaan bumi seperti dome, blockmountain, atau dataran yang baru terangkat.
2. Sungai Consequent Longitudinal, yakni sungai yang alirannya sejajar dengan antiklinal
(bagian puncak gelombang pegungungan).
3. Sungai Subsequent, yakni sungai yang terjadi jika pada sebuah sungaiconsequent
lateral terjadi erosi mundur yang akhirnya akan sampai ke puncak lerengnya, sehingga sungai
tersebut akan mengadakan erosi se samping dan memperluas lembahnya. Akibatnya akan
timbul aliran baru yang mengikuti arah strike (arah patahan).
4. Sungai Superimposed, yakni sungai yang mengalir pada lapisan sedimen datar yang menutupi
lapisan batuan di bawahnya. Apabila terjadi peremajaan, sungai tersebut dapat mengikis
lapisan2 penutup dan memotong formasi batuan yang semula tertutup, sehingga sungai itu
menempuh jalan yang tidak sesuai dengan struktur batuan.
5. Sungai Antecedent, yakni sungai yang arah alirannya tetap karena dapat mengimbangi
pangangkatan yang terjadi. Sungai ini hanya dapat terjadi bila pengangkatan tersebut berjalan
dengan lambat.
6. Sungai Resequent, yakni sungai yang mengalir menuruni dip slope(kemiringan patahan) dari
formasi2 daerah tersebut dan searah dengan sungai consequent lateral. Sungai resequent ini
terjadi lebih akhir sehingga lebih muda dan sering merupakan anak sungai subsequent.
7. Sungai Obsequent, yakni sungai yang mengalir menuruni permukaan patahan, jadi berlawanan
dengan dip dari formasi2 patahan.
8. Sungai Insequent, yakni sungai yang terjadi tanpa ditentukan oleh sebab2 yang nyata. Sungai
ini tidak mengalir mengikuti perlapisan batuan atau dip. Sungai ini mengalir dengan arah tidak
tentu sehingga terjadi pola aliran dendritis.
9. Sungai Reverse, yani sugai yang tidak dapat mempertahankan arah alirannya melawan suatu
pengangkatan, sehingga mengubah arahnya untuk menyesuaikan diri.
10. Sungai Composit, yakni sungai yang mengalir dari daerah yang berlainan struktur geologinya.
Kebanyakan sungai yang besar merupakan sungaicomposit.
11. Sungai Anaclinal, yakni sungai yang mengalir pada permukaan, yang secara lambat terangkat
dan arah pengangkatan tersebut berlawanan dengan arah arus sungai.
12. Sungai Compound, yakni sungai yang membawa air dari daerah yang berlawanan
geomorfologinya.
Ada berbagai pola aliran sungai, sebagai berikut :
1. Pararel, adalah pola aliran yang terdapat pada suatu daerah yang luas dan miring sekali,
sehingga gradient dari sungai itu besar dan sungainya dapat mengambil jalan ke tempat yang
terendah dengan arah yang kurang lebih lurus. Pola ini misalnya dapat terbentuk pada

2.

3.
4.
5.
6.
7.

8.

suatu coastal plain (dataran pantai) yang masih muda yang lereng aslinya miring sekali kea rah
laut.
Rectangular, adalah pola aliran yang terdapat pada daerah yang mempunyai struktur patahan,
baik yang berupa patahan sesungguhnya atau hanya joint (retakan). Pola ini merupakan pola
aliran siku2.
Angulate, adalah pola aliran yang tidak membentuk sudut siku2 tetapi lebih kecil atau lebih
besar dari 90o. di sini masih kelihatan bahwa sungai2 masih mengikuti garis2 patahan.
Radial Centrifugal, adalah pola aliran pada kerucut gunung berapi atau dome yang baru
mencapai stadium muda dan pola alirannya menuruni lereng2 pegunungan.
Radial Centripetal, adalah pola aliran pada suatu kawah atau crater dan suatu kaldera dari
gunung berapi atau depresi lainnya, yang pola alirannya menuju ke pusat depresi tersebut.
Trellis, adalah pola aliran yang berbentuk seperti trails. Di sini sungai mangalir sepanjang
lembah dari suatu bentukan antiklin dan sinklin yang pararel.
Annular, adalah variasi dari radial pattern. Terdapat pada suatu dome atau kaldera yang sudah
mencapai stadium dewasa dan sudah timbul sungai consequent, subsequent, resequent dan
obsequent.
Dentritic, adalah pola aliran yang mirip cabang atau akar tanaman. Terdapat pada daerah yang
batu2annya homogen, dan lereng2nya tidak begitu terjal, sehingga sungai2nya tidak cukup
mempunyai kekuatan untuk menempuh jalan yang lurus dan pendek.

Macam-macam sungai berdasarkan keajegan aliran airnya, yaitu sebagai berikut :


1. Sungai Episodik, yaitu sungai yang airnya tetap mengalir baik pada musim kemarau maupun
pada musim penghujan. Jenis sungai ini banyak terdapat di Irian Jaya, Sumatera, dan
Kalimantan.
2. Sungai Periodik, yaitu sungai yang hanya berair pada musim penghujan saja, sedang pada
musim kemarau kering tak berair. Jenis sungai ini banyak terdapat di Jawa Timur, Nusa
Tenggara, dan Sulawesi, pada umumnya sungai periodik ini mempunyai mata air dari daerah2
yang hutannya sudah gundul.
Macam-macam sungai berdasarkan sumber airnya yaitu sebagai berikut :
1. Sungai Tadah Hujan, yaitu sungai yang volume airnya tergantung pada air hujan, seperti
sungai2 di Pulau Jawa.
2. Sungai Campuran atau Sungai Kombinasi, yaitu sungai yang sumber airnya berasal dari air
hujan dan gletser (salju yang mencair, kemudian mengalir) oleh karena itu jika sungai mata
airnya dari gletser disebut sungai gletser. Contohnya sungai Mamberema di Irian Jaya.
Bagian-bagian pada daerah aliran sungai, yaitu :
1)
Bagian Hulu Sungai.
Yaitu bagian sungai yang dekat dengan mata air, merupakan sungai dalam stadium muda, dengan ciri2 :
Pengikisan kearah dalam atau vertikal.
Aliran airnya deras

Tebingnya curam
Tidak terjadi proses pengendapan/sedimentasi
Belum terdapat teras2 sungai.
2)
Bagian Tengah Sungai.
Yaitu bagian antara hulu sungai dengan hilir sungai dan disebut stadium dewas, dengan ciri2 :
Pengikisan ke arah dalam dan samping
Alirannya kurang begitu jelas
Banyak terjadi pengendapan
Terdapat teras2 sungai.
Terbentuknya pola aliran yang berkelok-kelok atau disebut meander.
3)
Bagian Hilir Sungai.
Yaitu bagian sungai yang dekat ke laut, dan disebut stadium tua dengan ciri2 :
Pengikisan tidak terjadi
Aliran air tenang
Banyak terjadi pengendapan
Teras2 sudah tidak jelas
Sungai banyak berkelok-kelok
Terdapat beting2 pasir di tengah sungai yang disebut dengan delta.
B. Danau.
Danau ialah suatu kumpulan air dalam cekungan tertent, yang biasanya berbentuk mangkuk.
Danau mendapat air dari curah hujan, sungai2, serta mata air, dan air tanah. Keempat sumber tersebut
bersama-sama dapat mengisi dan memberikan suplai air pada danau. Dalam hal demikian biasanya
danau itu bersifat permanen, artinya tetap berair sepanjang tahun. Sebaliknya, jika sumber air pengisi
danau itu hanya salah satu unsur saja misalnya dari curah hujan, maka danau itu umumnya bersifat
temporer atau periodic. Artinya danau tersebut pada waktu2 tertentu kering.
Menurut macam airnya, danau dapat dibedakan menjadi 2, yaitu sebagai berikut :
1)
Danau Air Asin.
Pada umumnya danau air asin terdapat di daerah semiarid dan arid, di mana penguapan yang terjadi
sangat kuat, dan tidak memiliki aliran keluaran. Kalau danau semacam ini menjadi kering, maka
tinggallah lapisan garam di dasar danau tersebut. Danau2 yang bersifat temporer banyak terdapat di
daerah arid yang mempunyai kadar garam tinggi. Contoh danau kadar garam yang tinggi adalah Great
Salt Lake, kadar garamnya sebesar 18,6 %, dan Danau Merah (dekat laut asam), kadar garamnya 32 %.
2)
Danau Air Tawar.
Danau air tawar terutama terdapat di daerah2 humid (basah) dimana curah hujan tinggi. Pada
umumnya, danau ini mendapatkan air dari curah hujan dan selalu mengalirkan airnya kembali ke laut.
Jadi danau ini merupakan danau terbuka.
Menurut terjadinya, danau dapat dibagi menjadi beberapa jenis sebagai berikut :
1)
Danau Vulkanik/Kawah/Maar, yaitu danau yang terjadi karena peletusan gunung berapi yang
menimbulkan kawah luas di puncaknya. Kawah tersebut kemudian terisi oleh air hujan dan
terbentuklah danau. Contoh : Danau Kawah Gunung Kelud dan Gunung Batur.
2)
Danau Lembah Gletser, setelah zaman es berakhir, daerah2 yang dulunya dilalui gletser
menjadi kering dan diisi oleh air. Kalau lembah yang telah terisi air itu tak berhubungan dengan laut,
maka lembah itu akan menjadi danau. Contohnya: danau Michigan, danau Huron, Superior, Erie, dan
danau Ontario.
3)
Danau Tektonik, adalah danau yang terjadi karena peristiwa tektonik; yang mengakibatkan
terperosoknya sebagian kulit bumi. Maka terbentuklah cekungan yang cukup besar. Contoh danau
tektonik adalah : danau toba, singkarak, kerinci dll.
4)
Danau Dolina/Karst, adalah danau yang terjadi karena pelarutan batuan kapur, sehingga
membentuk cekungan2 yang yang bentuknya seperti dolina/karst. Danau ini banyak ditemukan di
daerah pegunungan kapur.

5)
Danau Hempangan/Bendungan, adalah danau yang terjadi karena aliran sebuah sungai
terbendung oleh lava, sehingga airnya menggenang dan terbentuklah danau. Contohnya danau laut
tawar di Aceh dan Tondano.
6)
Danau Buatan, adalah danau yang dibendung oleh manusia dengan tujuan untuk irigasi,
perikanan, pembangkit tenaga listrik dan lain. Contohnya : Danau Siombak di Marelan, Proyek Asahan
dll.
C. Rawa
Rawa adalah daerah di sekitar sungai atau muara sungai yang cukup besar yang merupakan
tanah lumpur dengan kadar air relatif tinggi.
Rawa dilihat dari genangan airnya, dapat dibedakan menjadi 2 bagian yaitu :
1)
Rawa yang airnya selalu tergenang
Tanah2 di daerah rawa yang selalu tergenang airnya tidak dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian
kerena lahannya tertutup tanah gambut yang tebal. Di daerah rawa yang airnya selalu tergenang, sulit
terdapat bentuk kehidupan binatang karena airnya sangat asam. Derajat keasaman (pH) di daerah ini
mencapai 4,5 atau kurang dengan warna air kemerah-merahan.
2)
Rawa yang airnya tidak selalu tergenang.
Rawa jenis ini mengandung air tawar yang berasal dari limpahan air sungai pada saat air laut pasang
dan airnya relatif mongering pada saat air laut surut. Akibat adanya pergantian air tawar di daerah rawa,
maka keasaman tanah tidak terlalu tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai areal sawah pasang
surut. Salah satu tanda yang menunjukkan bahwa kawasan rawa memiliki tanah yang tidak terlalu asam
adalah banyaknya pohon2 rumbia.
=========================================================================
=================================
MORFOLOGI PESISIR PANTAI
Laut menutupi permukaan bumi kurang lebih 75 %. Batas perairan laut dangan daratan disebut garis
pantai (pertemuan permuakaan laut dengan daratan). Perairan laut di permukaan bumi tidak merata
luasnya. Pada belahan bumi utara tertutup lautan sebesar 60%, sedangkan pada belahan bumi selatan
yang tertutup lautan sekitar 80%.
Kedalaman laut dan samudera sangat bervariasi, ada yang dangkal tetapi banyak pula yang
dalam. Dalam dan dangkalnya dasar laut menunjukkan relief dasar laut. Relief dasar laut lebih besar
dibandingkan relief di daratan. Hal ini terbukti dari kedalaman laut rata2 mencapai 3.800 m, sedangkan
ketinggian daratan rata2 hanya 840 m. laut yang terdalam ada di Palung Mindanau (Palung Filipina),
mencapai kedalaman 10.830 m sedangkan daratan yang tertinggi adalah pada Gunung Everest, yang
mencapai ketinggian 8.880 m.
Untuk mengetahui kedalaman laut, dilakukan pengukuran2 yang disebut menduga dalamnya
laut. Pengukuran kedalaman laut ini dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
1)
Batu Duga, cara ini disebut juga tali unting, merupakan cara mengukur kedalaman laut yang
paling sederhana. Sebongkah besi diikat pada ujung tali dan sebuah tabung beserta alat pemberat
diturunkan ke dasar laut. Sistem ini memerlukan waktu yang lama karena untuk mengukur kedalaman
laut sampai 5000 m saja memerlukan waktu sampai satu jam. Selain itu, kedalaman laut yang
sebenarnya kadang2 kurang tepat disebabkan tali yang diturunkan sering condong/atau lengkung
karena terbawa oleh arus laut.
2)
Gema Duga, cara ini merupakan teknologi yang lebih maju dan mulai digunakan sejak tahun
1920. Cara ini menggunakan alat pengirim dan penerima gelombang suara. Suara dari alat pengirim
akan merambat ke dasar laut dan sesampainya di dasar laut dipantulkan kembali ke atas. Pantulan
kembali gema suara akan diterima oleh alat penerima di atas kapal. Alat gema duga sering
dinamakan hidrofon. Dengan mengetahui kecepatan suara yang diterima, maka dapat diketahui
kedalamannya. Dengan pengandaian kecepatan suara dalam air laut 1.500 m/det, dihasilkan rumus
kedalaman laut sebagai berikut :
D=txv
2
Keterangan :

D
= kedalaman laut
t
= jangka waktu antara suara yang dikirimkan sampai diterima kembali pantulan gema
suaranya.
v
= kecepatan suara dalam air.
Contoh :
Waktu antara dikirimnya suara dari kapal sampai diterima kembali gema suaranya oleh hidrofon di atas
kapal adalah 7 detik. Maka kedalaman laut tersebut adalah :
D = t x v = 1500 x 7 = 5.250 meter
2
2
Dengan waktu hanya 7 detik, laut yang kedalamannya mencapai 5.250 m telah dapat diketahui.
Berdasarkan letaknya, laut dapat dibedakan menjadi 5 jenis, yaitu :
1)
Laut Tepi.
Laut tepi merupakan laut yang berada di tepi benua dan dipisahkan oleh kepulauan dari samudera.
Contoh dari laut ini adalah Laut Cina Selatan yang terletak di tepi Benua Asia.
2)
Laut Pedalaman.
Laut pedalaman merupakan laut yang hampir seluruhnya dikelilingi oleh daratan atau terletak di
tengah2 suatu benua. Laut yang masuk jenis ini adalah laut hitam yang terletak di tengah Benua Asia,
juga Laut Adriatik.
3)
Laut Tengah.
Laut tengah merupakan lautan yang memisahkan dua benua atau lebih. Misalnya laut tengah
(Mediterania) yang memisahkan Benua Eropa dan Afrika, juga laut Indonesia yang memisahkan Benua
Asia dengan Australia.
4)
Selat.
Selat merupakan laut sempit yang terletak di antara dua pulau atau dua benua. Misalnya selat Sunda
yang terletak di antara pulau Sumatera dengan Pulau Jawa.
5)
Teluk.
Teluk merupakan laut yang menjorok ke daratan. Contoh dari teluk adalah Teluk Siam yang terdapat di
Thailand.
Pembagian laut menurut zona atau jalur kedalamannya, laut dapat dibedakan menjadi
beberapa zona sebagai berikut :
1)
Zona Litoral atau Jalur Pasang, yaitu bagian cekungan lautan yang terletak diantara pasang
naik dan pasang surut.
2)
Zona Epineritik, yaitu bagian cekungan lautan diantara garis2 surut dan tempat paling dalam
yang masih dapat dicapai oleh daya sinar matahari (pada umumnya sampai sedalam 50 m).
3)
Zona Neritik, yaitu bagian cekungan lautan yang dalamnya antara 50 200 m.
4)
Zona Batial, yaitu bagian cekungan lautan yang dalamnya antara 200 2000 m.
5)
Zona Abisal, yaitu bagian cekungan lautan yang dalamnya lebih dari 2000 m.

Pembagian laut menurut terjadinya, laut dapat dibedakan menjadi 3 golongan, yaitu sebagai
berikut :
1)
Laut Transgresi atau Laut Meluas, yaitu laut yang terjadi karena perubahan permukaan air laut
positif, baik yang disebabkan oleh kenaikan permukaan air laut itu sendiri atau oleh turunnya daratan
perlahan-lahan, sehingga sebagian dari daratan digenangi air. Laut jenis ini pada umumnya terjadi pada
akhir zaman glacial. Contoh : Laut Utara dan Laut Jawa.
2)
Laut Ingresi atau Laut Tanah Turun, laut ini terjadi karena turunnya tanah sebagai akibat
tekanan vertikal (gaya endogen) yang menimbulkan patahan. Contoh : laut Karibia, Laut Jepang, dan
Laut Tengah.
3)
Laut Regresi atau Laut Menyempit, laut ini terjadi karena laut mengalami proses penyempitan
akibat adanya endapan2 di laut yang dibawa sungai sehingga laut tersebut mengalami pendangkalan.
Contohnya : Selat Malaka.
Arus laut adalah aliran air laut yang mempunyai arah dan peredaran yang tetap dan teratur. Gerak
aliran arus laut dapat disamakan dengan aliran air sungai, tetapi aliran arus laut lebih lebar. Arus laut
dapat dibedakan menurut letak, suhu, dan cara terjadinya.
1. Menurut letaknya
1)
Arus bawah ialah arus laut yang bergerak di bawah permukaan laut, misalnya arus bawah di
Selat Gibraltar.
2)
Arus atas ialah arus laut yang bergerak di permukaan laut, misalnya arus Kalifornia.
1. Menurut suhunya.
1)
Arus panas ialah bila suhu arus air laut lebih panas daripada suhu air laut di sekitarnya, misalnya
arus teluk.
2)
Arus dingin ialah bila suhu arus laut lebih dingin dari laut di sekitarnya, misalnya arus Labrador.
1. Menurut terjadinya.
1)
Arus karena perbedaan kadar garam atau berat jenis air laut.
2)
Arus karena dingin
3)
Arus karena perbedaan niveau (beda tinggi muka air)
4)
Arus karena pengaruh daratan/benua.
5)
Arus karena pasang naik dan surut.
Kecerahan atau warna air laut tergantung pada zat2 oraganik maupun anorganik yang ada di laut.
Warna air laut ada beberapa macam karena beberapa sebab berikut :
1)
Pada umumny lautan berwarna biru, hal ini disebabkan oleh sinar matahari yang bergelombang
pendek (sinar biru) dipantulkan lebih banyak daripada sinar lain.
2)
Warna kuning, karena dasarnya terdapat lumpur kuning, misalnya sungai Kuning di Cina
(sungai Huang Ho).
3)
Warna hijau, karena adanya plankton2 dalam jumlah besar.
4)
Warna putih, karena permukaannya selalu tertutup es, misalnya latu di Kutub Utara dan Selatan.

5)
Warna ungu, karena adanya organism kecil yang mengeluarkan sinar2 fosfor, misalnya Laut
Ambon.
6)
Warna hitam, karena dasarnya terdapat lumpur hitam. Misalnya laut Hitam.
7)
Warna merah, karena banyaknya binatang2 kecil berwarna merah yang terapung-apung,
misalnya laut merah.
Salinitas atau kadar garam air laut adalah banyaknya garam (dinyatakan dengan gram) yang terdapat
dalam satu liter air laut. Garam di laut berasal dari hasil2 pelapukan di daratan. Hasil2 pelapukan ini
mengandung bermacam-macam garam, yang oleh air sungai di larutkan, dihanyutkan, serta dibawa ke
laut. Hampir di setiap tempat laut memiliki salinitas (kadar garam) antara 33% hingga 37%. Pada air
laut dalam, nilai salinitas antara 34,5% dan 35% rata2 salinitas air laut adalah 35%.
Menurut Clarke, di dalam air laut terdapat larutan garam seperti :
1)
Kalsium karbonat (CaCO3) : 0,34%
2)
Magnesium bromida (MgBr2) : 0,22%
3)
Kalium Sulfat (K2SO4) : 2,64%
4)
Kalsium sulfat (CaSO4) : 3,60%
5)
Magnesium sulfat (MgSO4) : 4,74%
6)
Magnesium Klorida (MgCL2) : 10,88%
7)
Natrium Klorida (NaCl) : 77,78%
Perubahan kadar garam di laut tidak besar. Hal ini disebabkan oleh kecilnya proses penguapan bila
dibandingkan dengan isi air laut tersebut. Besar kecilnya kadar garam di laut ditentukan oleh faktor2
berikut :
1)
Banyak sedikitnya air yang berasal dari gletser
2)
Besar kecilnya curah hujan di tempat tersebut
3)
Besar kecilnya penguapan di tempat tersebut
4)
Besar kecilnya atau banyak sedikitnya sungai yang bermuara di tempat tersebut.
Mineral laut berasal dari daratan yang dibawa oleh aliran sungai2. Mineral itu antara lain
adalah :
1)
Garam, tempat2 pembuatan garam dijumpai di Pulau Madura dan Rembang.
2)
Kapur, berasal dari kerang, globigerine (foraminifera), dan sebagainya.
3)
Kalium karbonat, berasal dari sebangsa lumut (potash)
4)
Fosfat, berasal dari tulang2 ikan dan kotoran burung pemakan ikan, dan biasanya untuk pupuk.
Kekayaan fauna dan flora laut sama halnya dengan daratan. Pada umumnya organisme laut
dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu :
1)
Bentos, ialah binatang2 laut yang hidupnya di dasar laut. Bentos ini dapat pula dibagi menjadi
dua golongan yaitu : (1) bentos sesial, yang hidupnya terikat pada suatu tempat, misalnya tiram, koral,
jenis2 brochipoda dan sebagainya, dan (2)bentos vagil, yang bergerak di dasar laut, misalnya landak
laut, siput laut, dan sebagainya.
2)
Pelagos, ialah organisme yang hidupnya tak tergantung pada dasar laut dan umumnya menjadi
penghuni lapisan air bagian atas. Pelagos dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu (1) nekton,
ialah golongan organisme yang mempunyai alat badan sendiri untuk bergerak sehingga dapat tinggal di
daerah tertentu yang menyediakan banyak makanan atau tempat2 yang keadaannya baik bagi mereka.
Contoh : semua jenis ikan, ubur2 dan sebagainya (2) plankton, ialah golongan organisme yang tidak
mempunyai alat2 badan sendiri untuk bergerak. Gerakan mereka bergantung pada arus yang
disebabkan oleh angin atau perbedaan suhu. Contoh : jenis2 binatang bersel satu seperti radiolarian,
foraminifera, dan tumbuh2an yang bersel satu misalnya algae, diatomea, demikian juga binatang2
bersel banyak yang kecil seperti sebangsa udang kecil.
Sama halnya dengan di daratan, di lautan pun sedimentasi terjadi terutama berasal dari sisa2 organisme
yang mati maupun bahan2 anorganis. Beberapa jenis endapan lumpur berturut-turut dari pantai ke laut
dalam, yaitu :
1. Endapan Lumpur Terigen, endapan yang terdiri dari materi2 halus, terutama materi2 dari
daratan yang dibawa oleh sungai2.

2. Endapan Lumpur Globigerina, yaitu endapan yang terdiri atas sisa2 binatang dan tumbuhan2
yang telah mati, terutama terdiri dari kapur berasam arang dan asam kersik. Lumpur globigerina
di atas terutama terdapat di dasar laut yang dalamnya antara 2000 m sampai 4000 m.
3. Endapan Lumpur Radiolaria atau Lumpur Laut Merah, yaitu endapan yang sebagian
berasal dari hasil2 letusan gunung berapi di dalam laut dan sebagian berasal dari sisa2 binatang
yang amat kecil yang berangka zat kersik. Endapan ini terdapat pada laut yang dalam (4.000
7.000 m) dan tidak terdapat kapur atau persenyawaan2 kapur
Dalam kehidupan sehari-hari, istilah atmosfer biasa dikenal sebagai udara yang berada di sekitar kita
dengan ketinggian hingga 1.000 kilometer. Atmosfer terbentuk sewaktu Bumi ini tumbuh, gas-gas yang
terjebak di dalam planetesimal tadi lepas sehingga menyelimuti bola Bumi. Lama-kelamaan, gas oksigen
dilepaskan oleh tumbuhan pertama di Bumi sehingga udara di atmosfer purba bertambah tebal hingga saat
ini.
Atmosfer sangat dibutuhkan bagi kehidupan di Bumi ini. Udara merupakan sumber daya alam yang
digunakan oleh semua makhluk hidup di Bumi untuk bernapas. Bahkan, kita terlindungi dari batu meteormeteor yang hendak jatuh ke Bumi karena atmosferlah batu-batu meteor tersebut tidak jatuh ke Bumi.
Selain itu, atmosfer juga mempunyai peranan mengatur keseimbangan suhu agar tidak terlalu panas pada
siang hari dan tidak terlalu dingin pada malam hari.
Atmosfer ialah lapisan gas dengan ketebalan ribuan kilometer yang terdiri atas beberapa lapisan dan
berfungsi melindungi bumi dari radiasi dan pecahan planet lain (meteor). Meteorologi adalah ilmu yang
mempelajari atmosfer yang menekankan pada lapisan udara yang menyelubungi bumi. Beberapa hal
pokok yang dipelajari dalam meteorologi di antaranya adalah angin, awan, cuaca, guntur, gejala cahaya,
endapan air di udara, serta suhu dan tekanan udara.
Dua bagian utama yang dipelajari di afmosfer sebagai berikut :
a)
Bagian atmosfer atas, yang dimonitoring dengan menggunakan balon yang dilengkapi
dengan meteograf (alat pencatat temperatur, tekanan, dan basah udara), juga balon yang dipasangi alat
berupa radio sonde yang dapat memancarkan hasil penyelidikan mengenai temperatur, tekanan, dan
lengas udara ke permukaan bumi.
b)
Bagian atmosfer bawah, yang dimonitoring dengan beberapa alat pencatat secara langsung
dengan menggunakan termometer, anemometer, altimeter, barometer, dan alat lainnya.

Karakteristik Lapisan Atmosfer


Atmosfer terdiri atas banyak lapisan. Tiap lapisan mempunyai karakteristik yang berbeda-beda :
a. Troposfer
Lapisan ini mempunyai ketebalan yang berbeda-beda di tiap wilayah di atas Bumi. Di atas kutub, tebal
lapisan ini sekitar 9 km. Semakin dekat dengan daerah khatulistiwa lapisan ini semakin tebal hingga
mencapai 15 km. Perbedaan ketebalan ini disebabkan oleh rotasi Bumi, akibatnya terjadi perbedaan
kondisi cuaca antara kutub dan khatulistiwa. Yang istimewa, lapisan ini menjadi tempat terjadinya prosesproses cuaca, seperti awan, hujan, serta proses-proses pencemaran lainnya. Pada lapisan ini tinggi

rendahnya suatu tempat di permukaan Bumi berpengaruh terhadap suhu udaranya. Hal ini
mengikuti hukum gradien geothermis, yaitu semakin tinggi (tiap kenaikan 1.000 meter) suatu tempat di
permukaan Bumi, temperatur udaranya akan turun rata-rata sekitar 6C di daerah sekitar khatulistiwa.
Peralihan antara lapisan troposfer dengan stratosfer disebut tropopause.
b. Stratosfer
Lapisan di atas tropopause adalah lapisan stratosfer. Di lapisan ini tidak berlaku hukum gradien geothermis
karena semakin tinggi posisi di tempat ini, suhu akan semakin naik. Hal ini disebabkan kandungan uap air
dan debu hampir tidak ada. Karakteristik yang menarik pada lapisan ini adalah adanya lapisan ozon yang
sangat bermanfaat bagi kehidupan kita. Keberadaan ozon sekarang ini semakin menipis karena adanya
pencemaran dari gas CFCs (Chloroflourocarbons). Di atas lapisan stratosfer terdapat lapisan stratopause
yang merupakan lapisan peralihan antara stratosfer dan mesosfer.
c. Mesosfer
Lapisan ini merupakan tempat terbakarnya meteor dari luar angkasa menuju Bumi sehingga lapisan ini
merupakan lapisan pelindung Bumi terhadap benturan benda atau batuan meteor. Di atas lapisan
mesosfer terdapat lapisan mesopause yang merupakan lapisan peralihan antara mesosfer dan termosfer.
d. Termosfer
Lapisan di atas mesopause adalah lapisan termosfer. Pada lapisan ini terdapat aurora yang muncul kala
fajar atau petang. Lapisan ini penting bagi komunikasi manusia karena memantulkan gelombang radio ke
Bumi sehingga gelombang radio pendek yang dipancarkan dari suatu tempat dapat diterima di bagian
Bumi yang jauh.
e) Ionosfer
berada 100800 km dari muka bumi (1) Seluruh atom dan molekul udara mengalami ionisasi di dalam
lapisan ini. (2) Daerah ionosfer berkisar mengandung muatan listrik. (3) Terdapat tiga lapisan pada
ionosfer, yaitu: (i) lapisan Kennelly Heavyside (lapisanE), pada ketinggian antara 100200 km; (ii) lapisan
Appleton (lapisan F), pada ketinggian 200400 km; (iii) gelombang radio mengalami pemantulan
(gelombang panjang dan pendek) pada kedua lapisan di atas; (iv) lapisan atom, berada pada ketinggian
400800 km.
f. Eksosfer
Lapisan ini merupakan lapisan terluar yang mengandung gas hidrogen dan kerapatannya makin tipis
sampai hampir habis di ambang angkasa luar. Cahaya redup yaitu cahaya zodiakal dan gegenschein
muncul pada lapisan eksosfer yang sebenarnya merupakan pantulan sinar matahari oleh partikel debu
meteor yang banyak jumlahnya dan bergelantungan di angkasa.
Penyelidikan Atmosfer dan Kegunaannya
Penyelidikan atmosfer mempunyai beberapa fungsi utama, antara lain, sebagai berikut:
a)
sebagai pedoman dalam membuat ramalan cuaca (prakiraan cuaca) jangka pendek ataupun jangka
panjang. Ramalan cuaca sangat penting bagi kepentingan pertanian, penerbangan, pelayaran,
peternakan, dan lain-lain;
b)
sebagai dasar untuk menyelidiki syarat-syarat hidup dan ada tidaknya kemungkinan hidup di lapisan
udara bagian atas;
c)
sebagai pedoman untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan dilakukannya hujan buatan di suatu
wilayah tertentu;
d)
untuk mengetahui sebab-sebab gangguan yang terjadi pada gelombang radio, televisi, dan
menemukan cara untuk memperbaiki hubungan melalui udara.
Penyelidikan atmosfer tersebut bertempat di stasiun meteorologi atau observatorium meteorologi.
Cuaca dan Iklim
Istilah cuaca dan iklim sering digunakan untuk menggambarkan kondisi udara di suatu wilayah dan pada
saat-saat tertentu. Kedua istilah ini memang serupa tetapi tidak sama. Jika cuaca menggambarkan
keadaan udara harian di tempat tertentu yang relatif sempit dan waktu yang singkat, iklim menggambarkan
kondisi udara tahunan dan meliputi wilayah yang relatif luas. Agar kamu lebih memahami perbedaannya,
bacalah ilustrasi berikut.
Pada hari Senin langit di Pontianak tampak begitu gelap, banyak awan serta angin yang bertiup terasa
dingin, seperti membawa uap air. Selang beberapa waktu kemudian hujan turun dengan lebat. Pada saat
yang bersamaan di Yogyakarta, langit begitu cerah sehingga Matahari bersinar dengan intensitas yang
kuat dan udara terasa panas. Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa pada hari Senin cuaca antara
Pontianak dan Yogyakarta berbeda.
Yogyakarta dan Pontianak merupakan dua kota yang terdapat di wilayah Indonesia. Keduanya memiliki
iklim yang sama, yaitu iklim tropis. Dengan iklim tropis, wilayah Indonesia sepanjang tahun terkena sinar
matahari. Berbeda dengan daerah kutub yang beriklim dingin, sinar matahari selama setahun tidak
selamanya menyinari daerah tersebut.

Perbedaan Cuaca dan Iklim


Komposisi Atmosfer
Atmosfer terbentuk dari campuran gas-gas. Komposisi atmosfer berubah dari waktu ke waktu dan dari satu
tempat ke tempat lain. Gas-gas utama pembentuk atmosfer dan manfaatnya sebagai berikut :

Komponen-Komponen Cuaca dan Iklim


Iklim adalah rata-rata cuaca pada suatu wilayah yang luas dan dalam waktu yang lama (lebih kurang
selama 30 tahun), sedangkan cuaca adalah kondisi atmosfer pada suatu tempat yang tidak luas pada
waktu yang relatif singkat. Dalam pengertian yang lebih singkat cuaca ialah keadaan udara pada saat
tertentu di suatu tempat. Cuaca mempunyai jangkauan waktu 24 jam dan jika lebih merupakan prakiraan
cuaca. Keadaan atmosfer dapat diamati setiap hari. Misalnya, pada hari berawan, hari hujan, angin
kencang, dan sebagainya. Dengan pengamatan pada komponen-komponen cuaca, dapat dilakukan
perkiraan cuaca pada waktu dan lokasi tertentu. Untuk itu, sangatlah penting dilakukan pengamatan dan
penelitian mengenai cuaca, iklim, dan komponen-komponen pembentuknya.
1) Penyinaran Matahari sebagai Komponen Penting Pembentuk Cuaca dan Iklim
Matahari adalah sumber panas bagi bumi. Walaupun bumi sudah memiliki panas sendiri yang berasal dari
dalam, panas bumi lebih kecil artinya dibandingkan dengan panas matahari. Panas matahari mencapai 60
gram kalori/cm2 tiap jam, sedangkan panas bumi hanya mencapai 55 gram/cm2 tiap tahunnya. Besarnya
sinar matahari yang mencapai bumi hanya sekitar 43% dari keseluruhan sinar yang menuju bumi dan
>50% lainnya dipantulkan kembali ke angkasa. Panas bumi sangat tergantung kepada banyaknya panas
yang berasal dari matahari ke bumi.

Perbedaan temperatur di bumi dipengaruhi oleh letak lintang dan bentuk keadaan alamnya. Indonesia
termasuk wilayah beriklim tropis karena terletak pada lintang antara 608 LU dan 1115 LS, ini terbukti di
seluruh wilayah Indonesia menerima rata-rata waktu penyinaran matahari cukup banyak. Panas matahari
yang sampai ke permukaan bumi sebagian dipantulkan kembali, sebagian lagi diserap oleh udara, awan,
dan segala sesuatu di permukaan bumi. Banyak sedikitnya sinar matahari yang diterima oleh bumi
dipengaruhi oleh beberapa faktor, sebagai berikut.
a)
Lama penyinaran matahari, semakin lama penyinaran semakin tinggi pula temperaturnya.
b)
Tinggi rendah tempat, semakin tinggi tempat semakin kecil (rendah) temperaturnya.

c)
Sudut datang sinar matahari, semakin tegak arah sinar matahari (siang hari) akan semakin panas.
Tempat yang dipanasi sinar matahari yang datangnya miring (pagi dan sora hari) lebih luas daripada yang
tegak (siang hari).
d)
Keadaan tanah, yaitu tanah yang kasar teksturnya dan berwarna hitam akan banyak menyerap
panas dan tanah yang licin (halus teksturnya) dan berwarna putih akan banyak memantulkan panas.
e)
Angin dan arus laut, adanya angin dan arus laut yang berasal dari daerah dingin akan mendinginkan
daerah yang dilaluinya.
f)
Keadaan udara, banyaknya kandungan awan (uap air) dan gas arang, akan mengurangi panas
yang terjadi.
g)
Sifat permukaan, daratan lebih cepat menyerap dan menerima panas daripada lautan.
Panas matahari yang sampai ke permukaan bumi akan berangsur memanasi udara di sekitarnya.
Pemanasan terhadap udara melalui beberapa cara, yaitu turbulensi, konveksi, kondensasi, dan adveksi.

Turbulensi ialah penyebaran panas secara berputar-putar dan penyebaran panasnya menyebabkan udara
yang sudah panas bercampur dengan udara yang belum panas. Konveksi ialah pemanasan secara
vertikal dan penyebaran panasnya terjadi akibat adanya gerakan udara secara vertikal, sehingga udara di
atas yang belum panas ini menjadi panas karena pengaruh udara bawahnya yang sudah terlebih dahulu
panas. Konduksi ialah pemanasan secara kontak langsung atau bersinggungan langsung. Pemanasan ini
terjadi karena molekul-molekul udara yang dekat dengan permukaan bumi akan menjadi panas setelah
bersinggungan dengan bumi yang memiliki panas dari dalam. Adveksi ialah penyebaran panas secara
horizontal yang mengakibatkan perubahan fisik udara di sekitarnya, yaitu udara menjadi panas.
Letak astronomis Indonesia berada pada 9445 BT 14105 BT dan 608LU 1115 LS serta dilalui oleh
garis khatulistiwa sehingga sangat memengaruhi keadaan suhu udara rata-rata setiap hari sepanjang
tahunnya. Posisi Indonesia yang terletak pada daerah lintang rendah menyebabkan suhu rata-rata tahunan
yang tinggi, yaitu kurang lebih kurang lebih 26C. Perbedaan suhu juga dipengaruhi oleh ketinggian suatu
daerah dari permukaan laut, semakin tinggi suatu tempat, semakin rendah suhunya. Perbedaan suhu ini
memengaruhi habitat beragam jenis tanaman yang tumbuh di dalamnya. Wilayah Indonesia merupakan

kepulauan sehingga luas wilayah perairan sangat luas, hal ini sangat memengaruhi kondisi suhu di
wilayahnya. Karena kondisi tersebut menimbulkan tidak terjadinya perbedaan suhu yang besar antara
suhu maksimum dan suhu minimum tahunannya.
Perubahan suhu di Indonesia terjadi karena faktor-faktor seperti berikut ini:
1)
adanya perbedaan suhu siang dan malam; suhu maksimum terjadi pada siang hari sekitar pukul
13.0014.00, sedangkan suhu minimum terjadi saat menjelang pagi lebih kurang pukul 04.30;
2)
adanya perbedaan tinggi tempat dari permukaan laut, setiap kenaikan 100 m suhunya turun lebih
kurang 0,5C.
2) Komponen-Komponen Cuaca
Komponen cuaca antara lain terdiri atas temperatur udara, tekanan udara, curah hujan, angin, awan,
kelembapan udara, dan curah hujan.
a) Suhu atau Temperatur Udara
Panas bumi bersumber dari matahari. Tingkat dan derajat panas matahari diukur dengan menggunakan
alat termometer. Suhu udara di bumi semakin naik ke atmosfer semakin turun, dengan teori setiap kita naik
100 m suhu akan turun 1C (udara dalam keadaan kering). Secara horizontal, suhu di berbagai tempat di
permukaan bumi tidak sama. Dengan menggunakan peta isoterm perbandingan suhu satu tempat dengan
tempat yang lain akan mudah dilihat. Garis isoterm adalah garis yang menghubungkan tempat-tempat
dengan suhu rata-rata yang sama. Perubahan suhu sepanjang hari dapat diketahui dengan melihat
catatan suhu pada termograf dan termometer. Suhu tertinggi biasa terjadi pada pukul satu atau dua siang,
sedangkan suhu terendah biasa terjadi pukul empat atau lima pagi. Dari rata-rata derajat panas sepanjang
harinya didapatkan suhu harian.

Dalam satu bulan terdapat catatan suhu harian yang tidak sama setiap harinya. Dari catatan suhu harian
selama satu bulan kemudian diambil rata-rata dan dihasilkan suhu bulanan. Suhu bulanan juga tidak sama
setiap bulannya. Daerah dengan topografi rendah relatif lebih panas dibandingkan daerah berbukit dan
pegunungan. Daerah khatulistiwa yang bersifat tropis lebih panas dibanding daerah subtropis dan kutub.
Perbedaan suhu udara di banyak tempat dipengaruhi faktorfaktor sebagai berikut.
1) Letak lintang.
2) Ketinggian tempat.
3) Jenis permukaan.
4) Kelembapan udara.
5) Tutupan awan di angkasa.
6) Arus samudra.
7) Jarak dari laut.
b) Tekanan Udara
Permukaan bumi ini secara langsung ditekan oleh udara karena udara memiliki massa. Karena udara
adalah benda gas yang menyelubungi bumi dan mempunyai massa, akan terjadi peristiwa di bawah ini.
1)
Massa udara menumpuk di permukaan bumi dan udara di atas menindih udara di bawahnya,
tekanan ini dinamakan tekanan udara.
2)
Massa udara dipengaruhi oleh gaya gravitasi bumi. Hal ini menyebabkan semakin dekat dengan
bumi udara semakin mampat dan semakin ke atas semakin renggang. Akibatnya, semakin dekat dengan
bumi tekanan udara semakin besar dan sebaliknya.
3)
Massa udara jika mendapatkan panas akan memuai dan jika mendapatkan dingin akan menyusut.
Tekanan udara dapat diukur dengan menggunakan barometer. Toricelli pada tahun 1643 menciptakan
barometer air raksa. Karena barometer air raksa tidak mudah dibawa ke mana-mana, dapat menggunakan
barometer aneroid sebagai penggantinya. Tekanan udara akan berbanding terbalik dengan ketinggian
suatu tempat sehingga semakin tinggi tempat dari permukaan laut semakin rendah tekanan udarannya.
Kondisi ini karena makin tinggi tempat akan makin berkurang udara yang menekannya. Satuan hitung
tekanan udara adalah milibar, sedangkan garis pada peta yang menghubungkan tempat-tempat dengan
tekanan udara yang sama disebut isobar.

Ketinggian suatu tempat dari permukaan laut juga dapat diukur dengan menggunakan barometer.
Kenaikan 10 m suatu tempat akan menurunkan permukaan air raksa dalam tabung sebesar 1 mm. Dalam
satuan milibar (mb), setiap kenaikan 8 m pada lapisan atmosfer bawah, tekanan udara turun 1 mb,
sedangkan pada atmosfer atas dengan kenaikan > 8 m tekanan udara akan turun 1 mb. Barometer aneroid
sebagai alat pengukur ketinggian tempat dinamakan juga altimeter yang biasa digunakan untuk mengukur
ketinggian kapal udara yang sedang terbang.
c) Angin
Perbedaan tekanan udara di satu tempat dengan tempat yang lain menimbulkan aliran udara. Pada
dasarnya angin terjadi disebabkan oleh perbedaan penyinaran matahari pada tempat-tempat yang
berlainan di muka bumi. Perbedaan temperatur menyebabkan perbedaan tekanan udara. Aliran udara
berlangsung dari tempat dengan tekanan udara tinggi ke tempat dengan tekanan udara yang lebih rendah.
Udara yang bergerak inilah yang disebut angin.
Arah angin dapat diketahui dengan menggunakan beberapa cara, salah satunya adalah dengan
menggunakan bendera angin. Arah angin juga dapat diketahui dengan menggunakan baling-baling angin.
Pada saat ini telah ditemukan alat yang mampu mengukur arah dan kecepatan angin secara bersamaan.
Arah angin biasanya dinyatakan dalam derajat, 360 atau 0 berarti angin utara; 90 angin timur; 180
angin selatan; dan 270 angin barat. Kecepatan angin dapat diukur dengan menggunakan alat yang
disebut anemometer. Biasanya digunakan anemometer mangkuk, yang terdiri atas bagian inti berupa tiga
sampai empat mangkuk yang dapat berputar pada sumbu tegak lurus. Mangkuk-mangkuk tersebut akan
berputar jika bagian yang cekung ditiup angin. Arah dan kecepatan angin pada suatu waktu dapat
diketahui melalui anemometer dan hasil catatannya anemogram yang berupa skala.

Salah satu kegunaan pengukuran arah dan kecepatan angin adalah untuk keperluan penerbangan dan
navigasi di samping untuk keperluan lain. Dengan mengetahui arah dan kecepatan angin di permukaan
bumi, dapat digunakan sebagai pedoman dalam menentukan arah dan panjang landasan pacu pesawat
terbang, jumlah penumpang yang harus diangkut, serta bahan bakar yang diperlukan. Untuk itu, perlu
diadakan penye lidikan mengenai arah dan kecepatan angin pada lapisan udara atas.
Studi dan penelitian tentang angin biasa menggunakan balon udara yang diikuti arah geraknya dengan
menggunakan alat theodolit. Theodolit merupakan teropong yang berfungsi untuk mengukur sudut
harizontal dan vertikal. Dengan mengetahui kedudukan balon tiap menitnya akan diketahui pula arah dan
kecepatan angin pada ketinggian tertentu. Cara ini hanya terbatas pada ketinggian 6 sampai 7 km.
Pengukuran di atas ketinggian tersebut dilakukan dengan alat yang disebut rawin.Alat ini terdiri atas balon
yang lebih besar dan dilengkapi dengan reflektor atau pemancar radio. Dalam penelitian-penelitian modern
sekarang ini, satelit mempunyai peranan penting di dalam melakukan pengukuran pada lapisan-lapisan
udara, termasuk penelitian tentang angin.
Kecepatan angin dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain, sebagai berikut :
1)
Gradien barometrik Gradien barometrik yaitu angka yang menunjukkan perbedaan tekanan udara
melalui dua garis isobar yang dihitung untuk tiap-tiap 111 km = 1 di ekuator. Satuan jarak diambil dari 1 di
ekuator yang panjangnya sama dengan 111 km (1/360 40.000 km = 111 km).
2)
Hukum Stevenson Hukum ini menyatakan bahwa kecepatan angin bertiup berbanding lurus dengan
gradien barometriknya. Semakin besar gradien barometriknya semakin besar kecepatannya.
3)
Relief permukaan bumi Angin bertiup kencang pada daerah yang reliefnya rata dan tidak ada
rintangan dan sebaliknya.

4)
Ada tidaknya pohon-pohon yang lebat dan tinggi Kecepatan angin dapat dihambat oleh adanya
pohon-pohon yang lebat dan tinggi.
Buys Ballot seorang meteorolog berkebangsaan Belanda membuat hukum mengenai arah angin, yaitu:
Udara mengalir dari daerah bertekanan maksimum ke daerah bertekanan minimum. Arah angin akan
membelok ke kanan di belahan bumi utara, serta membelok ke kiri di belahan bumi selatan.
Pembiasan arah angin terjadi disebabkan oleh rotasi bumi dari barat ke timur, serta bentuk bumi yang
bulat.
Efek Coriolis
Angin bertiup dari daerah yang bertekanan tinggi (TT) ke daerah bertekanan rendah (TR). Bila Bumi tidak
berotasi, maka arah aliran angin lurus dari TT ke TR. Tetapi, karena Bumi berotasi, maka arah aliran angin
menjadi berbelok. Pembelokan arah aliran angin ini dikenal dengan efek Coriolis. Coriolis adalah seorang
ilmuwan dari Prancis yang pertama kali menjelaskan gejala ini.
Gejala ini dapat dicontohkan sebagai berikut. Suatu roket diluncurkan dari Kutub Selatan dengan target
berlokasi di khatulistiwa. Roket membutuhkan waktu satu jam untuk sampai target. Selama satu jam, Bumi
telah berotasi 15 ke arah timur. Setelah satu jam, maka roket mengalami penyimpangan arah sebesar 15
ke kiri dari target.
Efek Coriolis memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a. Pembelokan mengarah pada sudut yang benar terhadap arah angin.
b. Berdampak hanya pada arah angin, bukan kecepatan angin.
c. Dipengaruhi kecepatan angin. Angin yang bertiup lebih cepat, maka penyimpangan juga lebih besar.
d. Pengaruh paling kuat di daerah kutub dan melemah ke arah khatulistiwa. Bahkan, tidak terjadi di daerah
khatulistiwa.
Berdasarkan gerakan dan sifatnya, angin dapat dibedakan menjadi:
1) Angin Pasat dan Angin Antipasat
Angin pasat terdiri atas angin pasat tenggara yang bertiup di belahan Bumi selatan dan angin pasat timur
laut yang bertiup di belahan Bumi utara. Angin pasat bertiup tetap sepanjang tahun dari daerah subtropik
menuju daerah ekuator (khatulistiwa). Angin antipasat adalah nama lain dari angin barat, yang merupakan
kebalikan dari angin pasat.
Angin di atas khatulistiwa yang mengalir ke daerah kutub dan turun di daerah maksimum subtropik. Angin
ini disebut angin antipasat. Di belahan Bumi utara disebut angin antipasat barat daya dan di belahan Bumi
selatan disebut angin antipasat barat laut. Pada daerah sekitar lintang 20 30LU dan LS, angin antipasat
kembali turun secara vertikal sebagai angin kering. Angin kering ini menyerap uap air di udara dan
permukaan daratan. Akibatnya, terbentuk gurun di muka Bumi. Misalnya gurun di Arab Saudi, gurun Afrika,
atau gurun di Australia.
2) Angin Muson/Muson
Di Indonesia, terdapat dua jenis angin muson, yaitu angin muson barat dan angin muson timur. Angin
muson barat bertiup pada bulan OktoberApril, saat itu kedudukan Matahari berada di belahan Bumi
selatan atau Benua Australia. Sedangkan angin muson timur bertiup pada bulan AprilOktober, saat itu
kedudukan Matahari berada di belahan Bumi utara atau Benua Asia.

Angin muson yang terjadi di Indonesia ada dua, yaitu angin muson barat dan angin muson timur. Angin
muson barat terjadi pada bulan OktoberApril. Pergerakan angin muson barat yang kaya uap air
mengakibatkan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim hujan. Saat itu kedudukan Matahari
berada di belahan Bumi selatan. Nah sampai di sini, tentu kamu tahu daerah-daerah yang bertekanan

udara tinggi dan tekanan udaranya rendah serta ke mana arah pergerakan angin muson barat. Angin
muson timur terjadi pada bulan AprilOktober. Angin muson timur yang bersifat kering mengakibatkan
sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim kemarau. Saat itu kedudukan Matahari berada di
belahan Bumi utara.
3) Angin Lokal
Angin lokal hanya dirasakan di wilayah yang relatif sempit dan pengaruhnya tidak luas.
1) Angin Darat dan Angin Laut
Pada saat siang hari daratan lebih cepat panas daripada lautan, sementara itu pada malam hari daratan
lebih cepat dingin dari lautan. Perbedaan suhu ini akan mempengaruhi tekanan udara antara darat dan
laut. Pada siang hari tekanan udara daratan lebih rendah daripada lautan sehingga udara bergerak dari
laut ke darat dan disebut angin laut. Sebaliknya, pada malam hari tekanan udara daratan lebih tinggi
daripada lautan sehingga udara bergerak dari darat ke laut dan disebut angin darat.

2) Angin Lembah dan Angin Gunung


Pada malam hari puncak gunung lebih cepat dingin daripada lembah. Sementara itu, pada siang hari
puncak gunung lebih cepat panas daripada lembah. Perbedaan suhu udara antara puncak gunung serta
lembah ini akan mempengaruhi tekanan udaranya dan akhirnya akan mempengaruhi kondisi angin yang
bertiup. Pada malam hari tekanan udara di puncak gunung lebih tinggi daripada lembah sehingga angin
bertiup dari puncak gunung ke lembah dan disebut angin gunung. Sebaliknya, pada siang hari tekanan
udara di puncak gunung lebih rendah daripada di lembah, akibatnya angin bertiup dari lembah ke puncak
gunung dan disebut angin lembah.

4) Angin Fohn
Angin fohn merupakan kelanjutan dari proses terjadinya hujan orografis. Setelah terjadi hujan di salah satu
sisi lereng gunung, angin yang sudah tidak membawa uap air ini tetap meneruskan embusannya menuruni
sisi lereng gunung yang lain. Oleh karena sifatnya yang kering, tumbuhan yang dilaluinya menjadi layu
sehingga berdampak negatif pada usaha pertanian.

Di Indonesia penyebutan angin fohn berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya.
Penyebutan itu antara lain:
a) Angin brubu di Sulawesi Selatan.
b) Angin bahorok di Deli (Sumatra Utara).
c) Angin kumbang di Cirebon (Jawa Barat).
d) Angin gending di Pasuruan dan Probolinggo (Jawa Timur).
e) Angin wambrau di Papua.
5) Angin Siklon dan Angin Antisiklon
Angin siklon dan angin antisiklon antara belahan Bumi utara dan selatan arahnya berbeda. Perhatikan
gambar di samping. Dari gambar tersebut bagaimana pendapatmu mengenai angin siklon dan antisiklon,
baik di belahan Bumi utara ataupun belahan Bumi selatan? Angin siklon merupakan udara yang bergerak
dari beberapa daerah bertekanan udara tinggi menuju titik pusat tekanan udara rendah di bagian dalam.
Sementara angin antisiklon bergerak dari daerah pusat tekanan udara tinggi menuju tekanan udara rendah
yang mengelilinginya di bagian luar. Gerakan arah angin ini berputar. Di daerah tropis, angin siklon sering
terjadi di laut. Penyebutan angin siklon di beberapa daerah berbeda-beda di antaranya sebagai berikut :
a) Hurricane, yaitu angin siklon di Samudra Atlantik.
b) Taifun, yaitu angin siklon di Laut Cina Selatan.
c) Siklon, yaitu angin siklon di Teluk Benggala dan Laut Arab.
d) Tornado, yaitu angin siklon di daerah tropis Amerika.
e) Sengkejan, yaitu angin siklon di Asia Barat.
6) Angin yang Bersifat Dingin
Jenis angin yang bersifat dingin antara lain sebagai berikut.
a)
Angin Mistral Angin ini berasal dari pegunungan menuju ke dataran rendah di pantai. Sebagai
contoh angin yang bertiup di pantai Laut Tengah, selatan Prancis.
b)
Angin Bora Angin bora bertiup di wilayah Balkan. Angin ini turun dari Dataran Tinggi Balkan ke
Pantai Istria dan Albania.
7) Daerah Konvergensi Antartropik (DKAT)
Daerah Konvergensi Antartropik (DKAT) merupakan daerah pertemuan antara angin pasat tenggara dan
angin pasat timur laut atau disebut equator thermal. Daerah ini ditandai dengan keadaan di sekitarnya
memiliki suhu tinggi. Akibat kenaikan massa udara, wilayah DKAT terbebas dari angin topan dan
dinamakan Doldrum atau daerah tenang khatulistiwa (equatorial calm). DKAT selain sebagai tempat
terbentuknya konvergensi massa udara naik, juga sebagai pembentuk awan yang menimbulkan hujan
lebat. Pengaruh DKAT di Indonesia, yaitu:
a) Menyebabkan hujan frontal dan hujan zenit.
b) Penguapan tinggi, karena suhu tinggi dan laut Indonesia sangat luas.
c) Garis DKAT terbentuk karena suhu udara di sekitar khatulistiwa tinggi.
Angin Puting Beliung
Pada awal tahun 2007 sejumlah daerah di Indonesia dihantam angin puting beliung. Akibatnya, banyak
bangunan porak-poranda dan beberapa penghuninya mengalami luka-luka karena diterjang angin

tersebut. Mengapa angin puting beliung ini bertiup? Pada musim pancaroba itulah, angin selalu berubah
arah karena perbedaan pola tekanan. Saat angin bergerak dari arah tenggara ke barat karena tekanan
udara di Australia (tenggara) lebih tinggi dari Asia (barat). Namun, kadang tekanan udara di Asia lebih
tinggi dari Australia sehingga arah angin berubah arah. Inilah yang menyebabkan arah angin kerap
berubah yang menimbulkan terjadinya angin puting beliung. Namun, intensitas angin puting beliung kian
berkurang begitu memasuki awal musim hujan. Pada bulan itu angin sepenuhnya akan berbalik arah, yaitu
dari Asia ke Australia karena tekanan udara di Asia lebih tinggi dari tekanan udara di Australia. Yang perlu
diingat angin puting beliung bisa terjadi lagi pada masa peralihan musim hujan ke musim kemarau. Angin
puting beliung biasanya melakukan aksinya antara 510 menit. Angin itu memiliki gerak turbulensi dari
atas, bawah, atas, dan seterusnya yang ditimbulkan karena perbedaan tekanan. Angin ini selalu membawa
partikel-partikel air. Dengan kecepatan berkisar 60 km/jam dan beraksi 510 menit ditambah gerak
turbulen yang membawa partikel air, angin ini mempunyai daya rusak yang cukup besar.
d) Awan
Awan ialah kumpulan titik-titik air atau kristal-kristal es yang halus dalam udara di atmosfer yang terjadi
karena adanya pengembunan dan pemadatan uap air yang terdapat di udara setelah melampaui keadaan
jenuh. Kondisi awan dapat berupa cair, gas, atau padat karena sangat dipengaruhi oleh keadaan suhu.
Pembagian awan berdasarkan hasil kongres international tentang awan yang dilaksanakan di Munchen,
Jerman pada tahun 1802 dan Uppsala, Swedia pada tahun 1894, sampai saat ini masih digunakan
sebagai acuan utama. Pembagian awan menurut para pakar tersebut adalah sebagai berikut.
1)
Awan tinggi, berada pada ketinggian antara 6 km 12 km, terdiri dari kristal-kristal es karena
ketinggiannya. Kelompok awan tinggi, antara lain sebagai berikut.
a)
Cirrus (Ci): Awan ini halus dengan struktur seperti serat, berbentuk menyerupai bulu burung dan
tersusun seperti pita yang melengkung di langit sehingga tampak bertemu di satu atau dua titik pada
horizon, dan sering terdapat kristal es. Awan ini tidak menimbulkan hujan.
b)
Cirro Stratus (Ci-St): Awan ini berbentuk menyerupai kelambu putih yang halus dan rata menutup
seluruh langit sehingga tampak cerah, atau terlihat seperti anyaman yang bentuknya tidak beraturan. Awan
ini sering menimbulkan terjadinya hallo, yaitu lingkaran yang bulat dan mengelilingi matahari atau bulan,
dan biasa terjadi pada musim kering.
c)
Cirro Cumulus (Ci-Cu): Awan ini berpola terputus-putus dan penuh dengan kristal-kristal es sering
kali berbentuk seperti segerombolan domba dan sering dapat menimbulkan bayangan di permukaan bumi.
2)
Awan menengah, berada pada ketinggian antara 36 km. Kelompok awan menengah, antara lain
sebagai berikut.
a)
Alto Cumulus (A-Cu): Awan ini berukuran kecil-kecil, tetapi berjumlah banyak dan berbentuk seperti
bola yang agak tebal berwarna putih sampai pucat dan ada bagian yang kelabu. Awan ini bergerombol dan
sering berdekatan sehingga tampak saling bergandengan.
b)
Alto Stratus (A-St): Awan ini bersifat luas dan tebal dengan warna awan adalah kelabu.
3)
Awan rendah, berada pada ketinggian kurang dari 3 km. Kelompok awan rendah, antara lain
sebagai berikut.
a)
Strato Cumulus (St-Cu): Awan ini berbentuk bola-bola yang sering menutupi seluruh langit sehingga
tampak menyerupai gelombang di lautan. Jenis awan ini relatif tipis dan tidak menimbulkan hujan.
b)
Stratus (St): Awan ini berada pada posisi yang rendah dan agihan yang sangat luas dengan
ketinggian <2000 antara="" awan="" berbeda.="" berlapis-lapis.="" dan="" dasarnya="" hujan.="" ini=""
jenis="" kabut="" m.="" menimbulkan="" menyebar="" pada="" seperti="" span="" stratus="" tampak=""
tidak="">
c)
Nimbo Stratus (Ni-St): Awan ini berbentuk tidak menentu dengan tepi compang-camping tak
beraturan. Awan ini hanya menimbulkan hujan gerimis, berwarna putih kegelapan, dan penyebarannya di
langit cukup luas.
4)
Awan yang terjadi karena udara naik, berada pada ketinggian antara 500 m1.500 m. Kelompok
awan ini, antara lain sebagai berikut.
a)
Cumulus (Cu): Awan tebal dengan puncak-puncak yang agak tinggi, terbentuk pada siang hari
karena udara yang naik, dan akan tampak terang jika mendapat sinar langsung dari matahari dan terlihat
bayangan berwarna kelabu jika mendapat sinar matahari dari samping atau sebagian saja.
b)
Cumulus Nimbus (Cu-Ni): Awan inilah yang dapat menimbulkan hujan dengan kilat dan guntur,
bervolume besar dengan ketebalan yang tinggi, posisi rendah dan puncak yang tinggi sebagai menara
atau gunung dengan puncaknya yang melebar.

Terjadinya hujan tidak tergantung pada tebal tipisnya awan, tetapi lebih tergantung pada musim. Pada
waktu musim kering, meskipun ketebalan awan tinggi belum tentu mendatangkan hujan disebabkan oleh
faktor angin yang dominan, begitu sebaliknya pada musim hujan. Awan yang rendah pada permukaan
bumi disebut kabut.
e) Kelembapan Udara
Kelembapan udara dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
Kelembapan mutlak dan kelembapan nisbi. Kelembapan mutlak (absolut) ialah jumlah massa uap air
yang ada dalam suatu satuan volume di udara. Kelembapan nisbi (relatif) ialah banyaknya uap air di

dalam udara berupa perbandingan antara jumlah uap air yang ada dalam udara saat pengukuran dan
jumlah uap air maksimum yang dapat ditampung oleh udara tersebut.

Angka-angka persentase tersebut menunjukkan bahwa jika suhu udara naik, kelembapan relatifnya
berkurang. Oleh sebab itu, nilai kelembapan relatif tertinggi terjadi pada pagi hari dan nilai terendah terjadi
pada sore hari. Alat yang digunakan untuk mengukur kelembapan nisbi adalah higrometer rambut.
Higrometer yang mencatat kelengkapan data secara geometris disebut higrograf.
f) Curah Hujan
Hujan atau presipitasi ialah peristiwa jatuhnya butir-butir air atau es dari lapisan-lapisan troposfer ke
permukaan bumi. Banyaknya hujan yang jatuh pada suatu tempat di bumi dapat diketahui dengan
mengukur besarnya curah hujan tersebut menggunakan alat penakar hujan. Ada pula beberapa sebutan
untuk alat penakar hujan yaitu sering disebut fluviometer ataupun ombrometer. Curah hujan atau
presipitasi adalah banyaknya air hujan atau kristal es yang jatuh hingga permukaan bumi. Alat pengukur
curah hujan berfungsi untuk mengukur jumlah hujan yang jatuh selama sehari di dalam suatu gelas ukur.
Alat pencatat hujan otomatik berfungsi mencatat secara otomatis jumlah curah hujan pada kertas pencatat
yang setiap hari atau minggu diganti dengan yang baru. Cara menghitung curah hujan dalam sebulan
adalah dengan menjumlah curah hujan di tiap hari dalam satu bulan. Besarnya curah hujan tidak merata di
setiap wilayah Indonesia. Jumlah curah hujan tidak sama sepanjang tahun, paling banyak ialah selama
bertiup angin musim barat.
Apakah ukuran butir-butir hujan sama? Hujan memiliki ukuran butir yang berbeda-beda. Berdasarkan
ukuran butirannya, hujan dibedakan sebagai berikut.
1)
Hujan gerimis (drizzle), diameter butir-butir air hasil kondensasi kurang dari 0,5 mm.
2)
Hujan salju (snow), terdiri atas kristal-kristal es dengan suhu udara berada di bawah titik beku.
3)
Hujan batu es, merupakan curahan batu es yang turun di dalam uap panas dari awan dengan suhu
udara di bawah titik beku.
4)
Hujan deras (rain), yaitu curahan air yang turun dari awan dengan suhu udara di atas titik beku dan
diameter butirannya kurang lebih 5 mm.
Ada bermacam-macam jenis hujan yang dapat dijelaskan berikut ini.
1)
Hujan zenithal, adalah hujan yang terjadi di daerah tropis, disebut juga hujan naik ekuatorial, biasa
terjadi pada waktu sore hari setelah terjadi pemanasan maksimal antara pukul 14.0015.00. Di daerah
tropis selama setahun mengalami dua kali hujan zenithal, sedangkan daerah lintang 23 LU/LS
mengalami satu kali hujan zenithal. Di daerah tropis, daerah lintang 10 LU10 LS, hujan ini terjadi

bersamaan waktunya dengan kedudukan matahari pada titik zenitnya, atau beberapa waktu sesudahnya.

2)
Hujan muson, adalah hujan yang terjadi di daerah-daerah muson. Hujan zenithal di daerah muson
mengalami perubahan karena daerahdaerah ini dipengaruhi oleh angin muson.
3)
Hujan siklonal, adalah hujan yang terjadi karena udara panas naik disertai angin berputar atau
cyclon. Karena kondisi di atas dingin, udara menjadi jenuh, dan setelah itu terjadilah prosesi kondensasi
yang menimbulkan awan dan akhirnya hujan siklonal terjadi.
4)
Hujan musim dingin, adalah hujan yang terjadi di daerah-daerah subtropis. Daerah subtropis di
pesisir barat kontinen-kontinen pada waktu musim dingin mengalami hujan, ketika matahari berada pada
posisi nadir. Daerah hujan musim dingin, antara lain: Portugal, Spanyol, Afrika Utara, Palestina,
Mesopotamia, dan California Barat Daya.
5)
Hujan musim panas, adalah hujan yang terjadi di daerah subtropis, di sekitar pesisir timur kontinenkontinen. Daerahnya terletak antara 30 40 LU/LS, yaitu sebelah tenggara Amerika Serikat, Argentina
Utara, Uruguay, Cina Timur, Jepang, dan lain-lain.
6)
Hujan frontal, adalah hujan yang terjadi jika massa udara yang dingin dengan kekuatan besar
memecah massa udara yang panas dan kemudian massa yang lebih ringan terangkat ke atas. Pergolakan
udara dengan pusaran-pusaran bergerak ke atas sehingga bertemulah massa udara panas dan dingin
yang dibatasi oleh garis yang disebut garis front. Di sekitar garis inilah terbentuk awan yang bergumpal

dan bergerak ke atas dengan cepat sehingga terjadilah hujan lebat atau hujan frontal.

7)
Hujan pegunungan atau hujan orografis, adalah hujan yang terjadi di daerah pegunungan, di
mana udara yang mengandung uap air bergerak naik ke atas pegunungan. Gerakan itu menurunkan suhu
udara tersebut sehingga terjadi kondensasi dan turunlah hujan pada lereng yang berhadapan dengan arah
datangnya angin.

Beberapa daerah yang jarang turun hujan adalah di daerah pedalaman benua. Misalnya, Gurun Sahara,
Gurun Gobi, Daerah Tibet, Semenanjung Arabia, pedalaman Persia, Turkistan, bagian barat Afrika Selatan,
dan di sebagian daerah subtropis. Sebutan daerah basah dan kering sangat dipengaruhi oleh banyak
sedikitnya curah hujan yang turun di daerah tersebut. Daerah basah mempunyai curah hujan tinggi, di atas
3.000 mm/tahun. Contohnya adalah Dataran Tinggi Sumatra Barat, Sibolga, Ambon, Bogor, Batu Raden,
dan Dataran Tinggi Irian Jaya (Papua). Daerah kering mempunyai curah hujan rendah, kurang dari 1.000
mm/tahun. Contohnya adalah daerah padang rumput di Nusa Tenggara dan sekitar Palu dan Luwuk di

Sulawesi Tengah. Daerah di sekitar garis ekuator 010 LU/LS secara umum merupakan daerah panas
dan daerah dingin terletak antara 66 90 LU/LS.
Di samping itu, letak lintang dan tinggi tempat menentukan panas dinginnya suatu daerah di muka bumi.
Misalnya:
(1) Zona panas, terletak di ketinggian 0700 meter dpl.
(2) Zona sedang terletak di ketinggian antara 7001.500 meter dpl.
(3) Zona sejuk terletak di ketinggian antara 15002.500 meter dpl.
(4) Zona dingin terletak di ketinggian antara 2.5003.300 meter dpl.
Pengukuran Hujan
Jumlah hujan yang jatuh di suatu daerah selama
waktu tertentu disebut curah hujan. Untuk mengetahui besarnya curah hujan digunakan alat yang disebut
penakar hujan (rain gauge). Alat ini terdiri atas corong dan penampung air hujan. Corong berfungsi
mengumpulkan air hujan dan menyalurkan ke penampung. Air hujan yang tertampung secara teratur harus
dikosongkan dan jumlahnya diukur menggunakan tabung penakar. Curah hujan biasanya diukur dalam
milimeter (mm) atau sentimeter (cm).
Jumlah hujan yang sudah diukur kemudian dicatat untuk berbagai tujuan. Beberapa jenis data hujan dapat
diperoleh dari hasil pengukuran hujan, antara lain:
1) Jumlah curah hujan harian. Merupakan hasil pengukuran hujan selama 24 jam.
2) Curah hujan bulanan. Merupakan jumlah total curah hujan harian selama sebulan.
3) Curah hujan tahunan. Merupakan jumlah total curah hujan harian selama 12 bulan.
Persebaran Curah Hujan di Indonesia
Hujan terjadi ketika uap air membentuk awan di angkasa dan jatuh ke permukaan Bumi setelah mengalami
kondensasi. Turunnya hujan melalui beberapa proses dan menurut keadaan wilayah yang berbedabeda.
Di wilayah yang luas, hujan turun tidak merata dengan jumlah tidak sama.
Keadaan Curah Hujan di Indonesia
Wilayah Indonesia sangat luas dan memiliki topografi yang berbeda-beda seperti pegunungan, dataran
tinggi, dan dataran rendah. Keadaan ini menjadikan hujan yang turun sangat bervariasi. Perhatikan curah
hujan beberapa kota di Indonesia yang tercatat di stasiun iklim pada tabel berikut ini.
Berdasarkan tabel di atas, Kota Padang memiliki curah hujan paling banyak dalam setahun, yaitu 4.569
mm. Sedang curah hujan bulanan tercatat paling tinggi terjadi di Kota Makassar, yaitu 658 mm (Januari).
Kota Kupang dalam setahun hanya menerima curah hujan 1.620 mm (terkecil).
Pengaruh Curah Hujan terhadap Vegetasi Alam di Indonesia
Curah hujan sebagai unsur utama iklim memengaruhi vegetasi alam yang tumbuh di Indonesia. Wilayah
Indonesia yang terletak antara 5 LU11 LS atau beriklim tropis memiliki curah hujan tinggi (> 2.000 mm)
dalam setahun dan suhu udara tahunan rata-rata sekitar 28 C. Keadaan ini menjadikan vegetasi alam
yang tumbuh berupa hutan tropis. Jenis hutan tropis yang tumbuh di Indonesia didominasi oleh hutan
hujan tropis (tropical rainforest). Selain itu, terdapat juga hujan monsun tropis (tropical monsun forest) dan
hutan mangrove (mangrove forest). Hutan mangrove banyak tumbuh di sepanjang pantai, delta, muara,
dan sungai.
Klasifikasi dan Tipe Iklim
a) Iklim dan Faktor Pembentuknya
Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kondisi iklim di suatu tempat, sebagai berikut:
(1) letak garis lintang,
(2) tinggi tempat,
(3) banyak sedikitnya curah hujan yang jatuh,
(4) posisi daerah: dekat dengan laut, gunung, dataran pasir, atau dengan bentang alam lain,
(5) daerah pegunungan yang dapat memengaruhi posisi bayangan hujan,
(6) keadaan awan dan suhu udara,
(7) pengaruh luas daratan,
(8) kelembapan udara dan keadaan awan,
(9) pengaruh arus laut,
(10) panjang pendeknya musim setempat, dan
(11) pengaruh topografi dan penggunaan lahan (vegetasi).
b) Macam-Macam Iklim
Macam-macam iklim yang disesuaikan dengan dasar dalam pembagian daerah-daerah iklim sebagai
berikut :
(1) Iklim Matahari
Dasar perhitungan dalam melakukan pembagian daerah iklim matahari adalah kedudukan dan pergeseran
semu matahari yang memengaruhi banyaknya sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi. Karena

matahari selalu bergeser di antara lintang 23 LU sampai dengan 23 LS, terjadilah perbedaan
penyinaran di muka bumi. Secara teoritis dapat dinyatakan bahwa makin jauh suatu tempat dari
khatulistiwa, makin besar sudut datang sinar matahari. Ini berarti makin sedikit pula jumlah sinar matahari
yang diterima oleh permukaan bumi. Pembagian daerah iklim matahari berdasarkan pada letak garis
lintangnya, sebagai berikut :
i. Daerah iklim tropis, berada pada 0 LU23 LU dan 0 LS23 LS.
ii. Daerah iklim sedang, berada pada 23LU66 LU dan 23 LS66 LS.
iii. Daerah iklim dingin, berada pada 66 LU90 LU dan 66 LS90 LS.

Karena pembagian iklim matahari didasarkan pada suatu teori, temperatur udara makin rendah jika
letaknya makin jauh dari khatulistiwa, para ahli menyebut iklim matahari dengan istilah iklim teoritis. Pada
kondisi yang sebenarnya di beberapa tempat terjadi distorsi terhadap teori tersebut.
(2) Iklim Fisis
Iklim fisis ialah iklim yang pembagiannya didasarkan pada kenyataan kondisi sebenarnya suatu daerah
yang disebabkan pengaruh lingkungan alamnya. Faktor-faktor lingkungan itu sebagai berikut:
(a) pengaruh daratan yang luas,
(b) pengaruh penutup lahan (vegetasi),
(c) pengaruh topografi (relief),
(d) pengaruh arus laut,
(e) pengaruh lautan, dan
(f) pengaruh angin.
Iklim fisis dapat dibedakan menjadi:
(a) iklim laut atau maritim,
(b) iklim darat atau kontinental,
(c) iklim dataran tinggi,
(d) iklim gunung dan pegunungan, dan
(e) iklim musim (muson).
(3) Iklim Menurut Koppen
Pada tahun 1918, seorang ahli iklim Jerman bernama W. Koppen membagi dunia menjadi lima zona iklim
pokok berdasarkan temperatur dan hujan, dengan menggunakan ciri-ciri temperatur dan hujan berupa

huruf-huruf besar dan huruf-huruf kecil. Kelima iklim pokok tersebut masih dirinci lagi menjadi sebelas
macam iklim sebagai variasinya. Ciri-ciri temperatur menurut Koppen sebagai berikut :
a)
Temperatur normal dari bulan-bulan terdingin paling rendah 18C. Suhu tahunan antara 20C
sampai 25C dengan curah hujan rata-rata dalam setahun > 60 mm.
b)
Temperatur normal dari bulan-bulan yang terdingin antara 18C 3C.
c)
Temperatur bulan-bulan terdingin < 3C.
d)
Temperatur bulan-bulan terpanas > 0C.
e)
Temperatur bulan-bulan terpanas < 10C.
f)
Temperatur bulan-bulan terpanas <0 span="">
g)
Temperatur bulan-bulan terpanas < 0C.
Ciri-ciri hujan sebagai berikut:
(a) iklim kering dengan hujan di bawah batas kering;
(b) selalu basah karena hujan jatuh dalam semua musim;
(c) bulan-bulan kering terjadi pada musim panas di belahan bumi tempat tersebut;
(d) bulan-bulan kering terjadi pada musim dingin di belahan bumi tempat tersebut;
(e) bentuk peralihan di mana hujan cukup untuk membentuk hutan dan musim keringnya pendek.
Koppen membedakan iklim menjadi lima kelompok utama, sebagai berikut.
(a) Iklim A yaitu iklim khatulistiwa yang terdiri atas:
(1) Af : iklim hutan hujan tropis
(2) Aw : iklim sabana
(b) Iklim B yaitu iklim subtropik yang terdiri atas:
(1) BS : iklim stepa
(2) BW : iklim gurun
(c) Iklim C yaitu iklim sedang maritim yang terdiri atas:
(1) Cf : iklim sedang maritim tidak dengan musim kering
(2) Cw : iklim sedang maritim dengan musim dingin yang kering
(3) Cs : iklim sedang maritim dengan musim panas yang kering
(d) Iklim D yaitu iklim sedang kontinental yang terdiri atas:
(1) Df : iklim sedang kontinental yang selalu basah
(2) Dw : iklim sedang kontinental dengan musim dingin yangkering
(e) Iklim E yaitu iklim arktis atau iklim salju yang terdiri atas:
(1) ET : iklim tundra
(2) EF : iklim dengan es abadi Ciri iklim di pegunungan menurut Koppen sebagai berikut:
(1) Iklim RG : iklim pegunungan ketinggian < 3.000 m.
(2) Iklim H : iklim pegunungan ketinggian > 3.000 m.
(3) Iklim RT : iklim pegunungan sesuai dengan ciri- ciri iklim ET (tundra).
Untuk menentukan tipe iklim suatu daerah menurut W. Koppen dapat dilakukan dengan menghubungkan
jumlah hujan pada bulan terkering dengan jumlah hujan setahun, secara lurus pada diagram Koppen.
(4) Iklim Menurut Oldeman
Oldeman mengklasifikasikan iklim berdasar pada banyaknya bulan basah dan bulan kering dalam
penentuan tipe iklimnya yang dikaitkan dengan sistem pertanian di suatu daerah tertentu, yaitu kebutuhan
air yang digunakan tanaman pertanian untuk hidup. Penggolongan iklim tersebut lebih sering disebut zona
agroklimat.
Curah hujan merupakan sumber utama dari tanaman yang beririgasi nonteknis (tadah hujan). Tanaman
pertanian pada umumnya dapat tumbuh normal dengan curah hujan antara 200 mm 300 mm, dan curah
hujan di bawah 200 mm sudah mencukupi untuk tanaman palawija. Zona agroklimat pada klasifikasi ini
dibagi menjadi lima subdivisi utama. Kemudian dari tiap-tiap subdivisi tersebut terdapat bulan kering yang
berurutan sesuai dengan masa tanamnya, dengan tidak menambahkan faktor-faktor lain yang
memengaruhinya, tetapi penggolongan iklim ini sangat berguna bagi pemanfaatan lahan pertanian dan
cenderung bersifat ringkas dan praktis.
Berdasarkan jumlah bulan basah dan bulan kering yang telah diketahui tersebut, pengelolaan lahan
pertanian mendapatkan informasi yang berguna dalam perencanaan pola tanam dan sistem tanamnya.
Hasil ini juga sangat mungkin digunakan untuk kepentingan lain selain bidang pertanian.
Distribusi Curah Hujan di Indonesia
Indonesia terletak di daerah ekuatorial dan secara geografis menyebabkan besarnya penguapan yang
terjadi. Hal tersebut ditunjukkan masih cukup besarnya curah hujan yang jatuh pada musim kemarau.
Suhu yang tinggi dan luas perairan yang dominan menyebabkan penguapan udara yang terjadi sangat
tinggi, dan mengakibatkan kelembapan udara yang tinggi pula. Kelembapan udara yang tinggi inilah yang
menyebabkan curah hujan di Indonesia selalu tinggi, apalagi dipengaruhi oleh wilayah hutan yang luas.

Besar kecilnya curah hujan di suatu tempat sangat dipengaruhi beberapa faktor, yaitu:
(1) letak daerah konvergensi antartropis,
(2) posisi geografis suatu daerah,
(3) bentuk bentang lahan dan arah kemiringan lerengnya,
(4) panjang medan datar sebagai jarak perjalanan angin, dan
(5) arah angin yang sejajar dengan pantai.
Curah hujan di Indonesia tergolong tinggi dengan rata-rata > 2.000 mm/tahun. Rata-rata curah hujan
tertinggi terdapat di daerah Baturaden di kaki Gunung Slamet, dengan curah hujan rata-rata > 589
mm/bulan, sedangkan rata-rata curah hujan terkecil terdapat di daerah Palu, Sulawesi Tengah, dengan
curah hujan rata-rata 45,6 mm/bulan.
Distribusi Jenis Vegetasi Alam Berdasarkan Bentang Alam dan Iklimnya
Kondisi iklim dan cuaca suatu wilayah berpengaruh besar terhadap keadaan makhluk hidup yang tinggal di
dalamnya. Di samping manusia, flora dan fauna unsur abiotik pun sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim.
Bentang alam, bentang budaya, kebiasaan hidup, bahkan tradisi hidup manusia di suatu daerah
merupakan cerminan dari kondisi iklim daerah tersebut. Kondisi tersebut dapat dilihat dari jenis bahan dan
bentuk rumah, jenis dan bentuk pakaian, makanan pokok penduduk, jenis alat transportasi, dan
sebagainya.
1) Korelasi antara Tipe Iklim dan Bentang Alam
Bentang lahan adalah gabungan dari bentuk lahan, yaitu kenampakan tunggal seperti bukit atau sebuah
lembah sungai. Kombinasi dari kenampakan-kenampakan tersebut membentuk suatu bentang lahan.
Bentang alam adalah bagian yang tampak langsung di alam seperti permukaan tanah, vegetasi, dan
daerah perairan. Perubahan bentang alam relatif sangat kecil jika dibandingkan dengan bentang budaya.
Komponen bentang alam relatif stabil keberadaannya, sedangkan bentang budaya yang terdiri dari
komponen pokok manusia dan juga lingkungannya lebih bersifat dinamis dan selalu mengalami
perubahan.
Perubahan penggunaan lahan dari hutan ke pertanian merupakan salah satu ciri perubahan bentang alam
yang stabil menjadi bentang budaya akibat interaksi dan kebutuhan manusia untuk mempertahankan
hidupnya. Demikian juga pertambahan penduduk yang menuntut penambahan sarana perumahan dan
fasilitas hidup tentu makin mengurangi luas areal bentang alam. Hubungan timbal balik antara manusia
dan lingkungan alam merupakan salah satu indikator seberapa jauh manusia mampu menyesuaikan diri
dan beradaptasi dengan lingkungan alamnya.
Bentang alam yang berubah menjadi bentang budaya menimbulkan perubahan perilaku, kebiasaan, dan
budaya penduduk. Sebagai contoh penambahan dan perluasan jalan dan penambahan lokasi permukiman
menuntut adanya penambahan fasilitas lain apalagi jika ditambah dengan pembangunan pertokoan besar
dan lokasi industri.
Iklim di suatu tempat dapat mencerminkan sejauh mana kemajuan peradaban dan kebudayaan di suatu
tempat. Hal tersebut terjadi karena faktor berikut.
a)
Iklim dapat membatasi atau mendukung aktivitas dan perilaku manusia
1. Manusia cenderung memilih tempat tinggal di daerah yang beriklim baik. Contohnya di daerah
beriklim sedang, artinya tidak terlalu panas ataupun dingin dan terdapat sumber air.
2. Bidang-bidang usaha tertentu seperti pertanian dan perkebunan, sangat dibatasi oleh kondisi iklim
yang ekstrem yaitu terlalu dingin, panas, atau kering.
b)
Kesehatan manusia sangat dipengaruhi oleh kondisi dan perubahan iklim
1. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk seperti demam berdarah dan malaria terjadi pada
musim penghujan dan terjadinya genangan-genangan air.
2. Penyakit diare dan muntah berak terjadi pada musim panas yang banyak hujan, yang biasanya
disebabkan oleh sanitasi dan tingkat kebersihan penduduk yang kurang karena pengaruh hujan.
2) Iklim dan Pengaruhnya terhadap Jenis-Jenis Vegetasi Alam
Faktor iklim suatu daerah berpengaruh besar terhadap persebaran floranya, terutama jumlah hujan dan
temperaturnya. Tumbuhan di Indonesia hidup sepanjang tahun karena suhu rata-rata yang cukup tinggi
dan didukung persediaan air yang cukup. Kondisi ini lain dengan negaranegara di daerah subtropis yang
mengalami musim gugur. Di Indonesia terdapat perbedaan jenis tumbuhan dan kemampuan tumbuh flora
di daerah yang satu dengan daerah yang lain.
Berdasarkan jumlah hujan yang berbeda-beda itu, flora di Indonesia dibagi menjadi sebagai berikut.
a) Hutan Hujan Tropis
Hutan ini terdiri dari tumbuh-tumbuhan berpohon besar dan rindang yang berada di daerah dengan suhu
tinggi dan curah hujan yang tinggi pula. Tumbuhan yang hidup seperti kamper, meranti, kruing, rotan, dan
tumbuhan lainnya. Karakter lain adalah adanya tumbuhan epifit yang hidup pada pohon-pohon besar
tersebut, antara lain, anggrek dan rotan. Di samping tumbuhan epifit juga terdapat tumbuh-tumbuhan kecil

berupa paku-pakuan, perdu, dan pakis di sela-sela tumbuhan besar yang ada. Karena lebatnya, sinar
matahari kadang tidak mampu menembus sampai ke dalam hutan hujan tropis. Di Indonesia sebaran
hutan hujan tropis berada di Pulau Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, dan Papua.
b) Hutan Musim
Hutan musim adalah hutan yang keberadaan tanaman di dalamnya sangat tergantung oleh musim, disebut
juga hutan meranggas. Hutan meranggas berarti hutan yang daun-daunnya meranggas di musim kemarau
dan akan tumbuh lagi ketika musim hujan datang. Hutan ini dapat ditemui pada daerah beriklim sedang
yang terlihat dengan nyata adanya musim gugur dan musim semi. Di Indonesia sebaran hutan musim
terdapat di Jawa dan Sulawesi yang berupa hutan jati, sengon, dan akasia.
c) Sabana
Sabana merupakan padang rumput yang berselang-seling dengan semak belukar dan berada pada daerah
dengan suhu yang tinggi dengan curah hujan sedikit. Di Indonesia sabana terdapat di Nusa Tenggara
Barat dan Nusa Tenggara Timur, juga di sebagian Sulawesi Tengah.
d) Stepa
Stepa merupakan padang rumput di daerah dengan curah hujan sedikit dan bersuhu udara tinggi. Di
Indonesia stepa dapat ditemui di Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
3) Hubungan Ketinggian Tempat dengan Jenis Vegetasi
Makin tinggi suatu tempat dari permukaan laut, suhunya akan semakin dingin. Oleh karena itu, suhu di
daerah pegunungan lebih dingin dibandingkan dengan dataran rendah.
J.W. Junghuhn, seorang ahli tumbuhan dari Jerman, telah membagi kelompok tumbuhan menurut tinggi
rendahnya suatu tempat yang didasarkan pada tanaman perkebunan, sebagai berikut:
a)
daerah panas, dengan ketinggian antara 0700 meter dpl, merupakan areal yang tepat untuk
pertumbuhan tanaman perkebunan seperti: cokelat, kopi, karet, tembakau, dan kelapa;
b)
daerah sedang, dengan ketinggian antara 7001.500 meter dpl, merupakan areal yang tepat untuk
tanaman perkebunan seperti: pinang, kopi, teh, dan kina;
c)
daerah dingin, dengan ketinggian antara 1.5002.500 meter, merupakan areal yang tepat untuk jenis
tanaman cemara;
d)
daerah sangat dingin, dengan ketinggian antara 2.5003.500 meter, merupakan areal yang tepat
untuk rumput-rumput kerdil dan hutan alpin;
e)
daerah salju, yang berketinggian >3.500 meter, merupakan areal yang tidak mampu ditumbuhi
tanaman karena permukaannya diliputi salju.
4) Hubungan Bentang Lahan dan Keadaan Tanah dengan Jenis Vegetasi
Bentang lahan dengan tanah subur yang berasal dari material vulkanis merupakan tempat yang biasa
ditumbuhi oleh hutan lebat dan berbagai macam tumbuhan di dalamnya. Daerah ini mempunyai jenis
tanaman yang beraneka ragam yang biasa disebut hutan heterogen. Bentang lahan dengan tanah kurang
subur yaitu di tanah yang tandus yang biasanya merupakan lapukan dari material kapur, lebih banyak
ditumbuhi oleh semak belukar, rumput, dan alang-alang. Bentang lahan daerah pantai berawa-rawa dan
bertanah lumpur yang biasa disebut daerah rawa, didominasi oleh tumbuhan hutan mangrove (bakau).
5) Distribusi Jenis-Jenis Vegetasi Alam
Seorang ahli biologi bernama Hart Meeriem pada tahun 1889, menemukan tipe agihan tumbuhan
berdasarkan variasi ketinggiannya. Ia menelusuri Gunung San Fransisco mulai dari kaki hingga puncak.
Meeriem berkesimpulan bahwa tipe tumbuhan pada suatu daerah sangat tergantung pada temperatur dan
kelembapannya. Terbukti bahwa kelembapan lebih berperan daripada temperatur dalam tipe agihan
tumbuhan. Jenis tumbuhan besar membutuhkan curah hujan yang lebih tinggi daripada jenis tumbuhan
kecil. Akibatnya, semakin ke daerah bercurah hujan kecil dan sangat kecil, akan semakin banyak kita lihat
dominasi tumbuhan kecil seperti belukar, padang rumput, dan akhirnya kaktus atau tanaman padang pasir
pada daerah yang sangat minim hujannya.
Di dunia komunitas organisme tumbuhan dibagi menjadi enam macam tumbuhan utama yang tersebar
sepanjang perubahan kekeringan dan kelembapan. Enam macam komunitas tumbuhan tersebut adalah
sebagai berikut :
a) Padang Rumput
Daerah padang rumput mempunyai kisaran curah hujan sebesar 250 mm sampai dengan 500 mm/tahun,
dan pada beberapa padang rumput, curah hujan dapat mencapai 1.000 mm. Daerah ini terbentang dari
daerah tropika sampai ke daerah subtropika. Karena hujan yang turun tidak teratur dan kondisi porositas
rumput yang relatif rendah, tumbuhan kesulitan dalam mendapatkan air, sehingga hanya tumbuhan rumput
yang mampu bertahan hidup dan beradaptasi dengan kondisi tersebut.
b) Gurun Daerah
gurun mempunyai kisaran curah hujan sekitar 250 mm/tahun atau kurang sehingga termasuk curah hujan
rendah dan tidak teratur. Gurun banyak terdapat di daerah tropis yang berbatasan dengan padang rumput.

Keadaan alam dari padang rumput ke arah gurun, biasanya makin jauh dari padang rumput kondisinya
makin gersang. Panas yang tinggi karena teriknya matahari mencapai >40C sehingga menimbulkan suhu
yang panas di siang hari dan penguapan yang tinggi pula. Amplitudo harian yaitu perbedaan pada siang
dan malam hari sangat besar. Tumbuhan yang hidup menahun di gurun adalah tumbuhan yang dapat
beradaptasi terhadap kekurangan air dan penguapan yang cepat, sehingga tumbuhan yang hidup di gurun
biasanya berdaun kecil seperti duri atau tidak berdaun, tetapi berakar panjang untuk mengambil air.
Jaringan spons pada tumbuhan di sini berfungsi menyimpan air.
c) Tundra
Daerah tundra memiliki dua musim yaitu musim dingin yang panjang dan gelap serta musim panas yang
panjang serta terang terus-menerus. Daerah tersebut hanya terdapat di belahan bumi utara dan terletak di
sebagian besar lingkungan kutub utara. Daerah tundra di kutub ini dapat mengalami gelap berbulan-bulan
karena matahari hanya mencapai 23 LU/LS. Di daerah tundra banyak terdapat lumut dan pohon yang
tertinggi hanya berupa semak yang relatif pendek. Jenis lumut yang hidup, antara lain, lumut kerak dan
sphagnum. Tumbuhan semusim di daerah tundra biasanya berbunga dengan warna yang mencolok
dengan masa
pertumbuhan yang sangat pendek. Tumbuhan di daerah ini mampu beradaptasi terhadap keadaan dingin
meskipun dalam keadaan beku masih tetap bertahan hidup.
d) Hutan Basah
Hutan-hutan basah tropika di seluruh dunia mempunyai persamaan, di antaranya, terdapatnya beratusratus spesies tumbuhan di dalamnya. Sepanjang tahun hutan basah mendapatkan cukup air sehingga
memungkinkan tumbuhnya tanaman dalam jangka waktu yang lama sehingga komunitas hutan tersebut
akan sangat kompleks. Hutan basah tropika terdapat di daerah tropika dan subtropika, misalnya, di
Indonesia, daerah Australia bagian Irian Timur, Amerika Tengah, dan Afrika Tengah.

Ketinggian pohon-pohon utama berkisar antara 20 sampai dengan 40 meter dengan cabang-cabangnya
yang lebat sehingga membentuk tudung (canopy) yang mengakibatkan hutan menjadi gelap. Tidak ada
sumber air lainnya selain air hujan, dan air hujan sulit mencapai dasar hutan tersebut secara langsung. Di
dalam hutan ini juga terdapat perubahan-perubahan iklim, tetapi hanya bersifat mikro (dari todung hutan
sampai dasar hutan saja). Kelembapan di hutan basah tinggi dan suhu sepanjang hari hampir sama sekitar
25C. Di samping pepohonan yang tinggi, terdapat liana dan epifit yang berupa rotan dan anggrek yang
merupakan tumbuhan khas di daerah itu.
e) Hutan Gugur
Hutan gugur tumbuh di daerah beriklim sedang. Di sana umumnya juga terdapat padang rumput dan
gurun. Curah hujan merata sepanjang tahun sebesar 750 sampai 1.000 mm per tahun. Terdapat pula
musim dingin dan musim panas yang dengan adanya musim tersebut tumbuhan di sana beradaptasi
dengan menggugurkan daunnya menjelang musim dingin. Musim gugur adalah musim yang ada sebelum
musim dingin tiba. Tumbuhan yang bersifat menahun dari musim gugur sampai dengan musim semi
berhenti pertumbuhannya, sedangkan tumbuhan yang sifatnya semusim akan mati pada musim dingin.
Tumbuhan semusim hanya meninggalkan bijinya saja dan hanya mampu bertahan pada suhu dingin, dan
akan berkecambah pada saat menjelang musim panas tiba.
f) Taiga
Taiga adalah hutan pohon pinus yang daunnya seperti jarum dan merupakan bioma yang hanya terdiri atas
satu spesies pohon. Daerah persebarannya terdapat di belahan bumi utara seperti Rusia, Siberia, dan
Kanada. Beberapa contoh pohon yang hidup di hutan taiga, antara lain: konifer, terutama pohon spruce
(picea), alder (alnus), birch (betula), dan juniper (juniperus). Masa pertumbuhan spesies ini pada musim
panas, berlangsung antara 3 sampai dengan 6 bulan.
d. Gejala Alam Penyebab Perubahan Iklim Global
Faktor-faktor berupa gejala alam yang menyebabkan gangguan terhadap iklim global dunia, antara lain:
gejala meningkatnya suhu udara di bumi yang disebut Efek Rumah Kaca, kondisi yang menyebabkan

kekeringan pada rentang waktu lama disebut El Nino, dan kondisi yang menyebabkan hujan lebat pada
rentang waktu lama disebut La Nina.

1) Efek Rumah Kaca


Efek rumah kaca adalah terjadinya peningkatan suhu udara di muka bumi akibat semakin banyaknya gas
pencemar di dalam udara. Industri-industri, pabrik-pabrik, kendaraan bermotor, dan semua sarana untuk
memenuhi kebutuhan manusia yang menggunakan bahan bakar bensin, solar, minyak tanah, dan batu
bara menghasilkan gas buang berupa: CO2, CO, NO2, SO2,, HCN, HCl, H2S, HF, dan NH4. yang terus
meningkat jumlahnya. Besarnya CO2 dan gas pencemar lain yang terakumulasi semakin hari semakin
tinggi, hal tersebut menghambat radiasi sinar matahari yang mencapai permukaan bumi. Sinar matahari
sebagian dipantulkan oleh akumulasi gas-gas pencemar tersebut kembali ke angkasa, tetapi tertahan oleh
gas lain yang kembali dipantulkan ke bumi yang berakibat semakin panasnya udara di permukaan bumi.
Kenaikan suhu bumi ini akan berakibat lebih jauh yaitu: mencairnya es di kutub, meningkatnya permukaan
air laut akibat es yang mencair, terendamnya areal pertanian di tepi pantai akibat naiknya air laut, dan
menurunnya produksi hasil pertanian karena terendamnya areal pertanian di tepi pantai.
2) El Nino
El Nino adalah terjadinya pemanasan temperatur air laut di pantai barat PeruEkuador yang menyebabkan
gangguan iklim secara global. El Nino datang mengganggu setiap dua tahun sampai tujuh tahun
sekali. Peristiwa ini diawali dari memanasnya air laut di perairan Indonesia yang kemudian bergerak ke
arah timur menyusuri ekuator menuju pantai barat Amerika Selatan sekitar wilayah Peru dan Ekuador.
Bersamaan dengan kejadian tersebut air laut yang panas dari pantai barat Amerika Tengah, bergerak ke
arah selatan sampai pantai barat Peru-Bolivia sehingga terjadilah pertemuan air laut panas dari kedua
wilayah tersebut. Massa air panas dalam jumlah besar terkumpul dan menyebabkan udara di daerah itu
memuai sehingga proses konveksi ini menimbulkan tekanan udara menurun (minus). Kondisi ini
mengakibatkan seluruh angin yang ada di sekitar Pasifik dan Amerika Latin bergerak menuju daerah
tekanan rendah tersebut. Angin muson di Indonesia yang datang dari Asia dengan membawa uap air juga
membelok ke daerah tekanan rendah di pantai barat Peru

Ekuador.
Peristiwa
tersebut mengakibatkan angin yang menuju Indonesia hanya membawa uap air yang sedikit sehingga
kemarau yang sangat panjang terjadi di Indonesia. Akibat peristiwa tersebut juga dirasakan di Australia dan
Afrika Timur. Sementara itu, di Afrika Selatan justru terjadi banjir besar dan menurunnya produksi ikan
akibat melemahnya up-welling. Kemarau panjang akibat El Nino biasanya disertai dengan kebakaran
rumput dan hutan. Pada tahun 1994 dan 1997, baik Indonesia maupun Australia mengalami kebakaran
akibat peristiwa El Nino.
3) La Nina
Peristiwa La Nina merupakan kebalikan dari El Nino. La Nina berarti bayi perempuan. La Nina berawal dari
melemahnya El Nino sehingga air laut yang panas di pantai Peru dan Ekuador bergerak ke arah barat dan
suhu air laut di daerah itu berubah ke kondisi semula (dingin) sehingga up-welling muncul kembali
sehingga kondisi cuaca kembali

normal.
La Nina juga
berarti kembalinya kondisi ke keadaan normal setelah terjadinya El Nino. Air laut panas yang menuju arah
barat tersebut pada akhirnya sampai di Indonesia yang bertekanan dingin sehingga seluruh angin di
sekitar Pasifik Selatan dan Samudra Indonesia bergerak menuju Indonesia. Angin tersebut menyebabkan
hujan lebat dan banjir karena sangat banyaknya uap air yang dibawa. Peristiwa La Nina di Indonesia pada
tahun 1955, 1970, 1973, 1975, 1995, dan 1999 terhitung sejak Indonesia merdeka (1945).