Anda di halaman 1dari 10

PROSEDUR IDENTIFIKASI TANAH DAN KELAS LAHAN

1. Persiapan
a. Cangkul
b. Sendok semen
c. Pisau
d. Meteran
e. Air
f. Wadah/plastik
2. Pengambilan sampel
Sampel diambil sesuai titik yang telah ditentukan
3. Langkah-Langkah
a. Bersihkan titik sampel dari rumput dan sampah lainnya
b. Gali titik sampel hingga kedalaman 60 cm
c. Ambil sampel berdasarkan jenis horizon tanah yang dijumpai pada titik penggalian
d. Masukan sampel kedalam wadah/plastik pisahkan sesuai sampel horizon
4. Tabel Kinerja
Horizon Tanah
Sampel / Kedalaman
Horizon
Ciri ciri

Sampel

KLASIFIKASI TANAH
Tekstur Tanah

JENIS TANAH

Ciri - Ciri

Sampel

Sampel

Jenis Tanah

KELAS LAHAN
Kelas Lahan

Ciri Ciri

Ciri Ciri

5. Panduan
1) Horizon Tanah
1)

Horizon O

Horizon O merupakan horizon bagian atas, lapisan tanah organik, yang terdiri dari
humus daun dan alas. Utamanya dijumpai pada tanah-tanah hutan yang belum terganggu.
Merupakan horizon organik yang terbentuk di atas lapisan tanah mineral. Horizon
organik merupakan tanah yang mengandung bahan organik > 20% pada seluruh
penampang tanah, tanah mineral biasanya kandungan bahan organik kurang dari 20%
karena sifat-sifatnya didominasi oleh bahan mineral. Ada 2 jenis horizon O yaitu :
a)
O1: bentuk asli sisa-sisa tanaman masih terlihat berupa guguran daun-daun dan
puing-puing organik yang belum terombak.
b)
O2: bentuk asli sisa-sisa tanaman tidak terlihat merupakan campuran bahan bahan
dan rombakan bahan organik.

2) Horizon A
Horizon A merupakan horizon di permukaan yang tersusun oleh campuran bahan
organik dan bahan mineral. Horizon A juga disebut sebagai horison eluviasi (pencucian).
Ada 3 jenis horison A, antara lain :
a)
A1 : Horizon ini merupakan horizon percampuran antara horizon organik dan
mineral sehingga pada lapisan ini berwarna kelam/ gelap (dark). Keterdapatan bahan
organik pada lapisan ini burujud partikel tersendiri atau bahan organik yang menyelaputi
bahan mineral.
b)
A2 : Horizon ini dikenal juga sebagai horizon eluviasi atau lapisan yang
mengalami pencucian secara maksimal. Kation bahan organik, besi, alumunium dan atau
basa lain yang berwarna telah mengalami pencucian dan yang tertinggal adalah bahanbahan resisten kuarsa yang kasar dan tidak berwarna, sehingga pada lapisan iniditandai
dengan warna yang pucat/terang/cerah, namun mempunyai tekstur yang paling kasar dan
struktur longgar dibanding dengan lapisan-lapisan lain.
c)
A3 Horizon ini merupakan peralihan A ke horizon B atau C dengan ciri warna
yang mendekati horizon A.2. Namun, apabila peralihan kurang jelas dan hanya
menampakkan ciri dan warna campuran maka horizon ini diberi simbol AB jika beralih
ke B, atau AC jika langsung beralih ke C.

3) Horizon E
Merupakan lapisan warna terang dalam hal ini adalah lapisan bawah dan di atas
A Horizon B Horizon. Hal ini terdiri dari pasir dan lumpur, setelah kehilangan sebagian
besar dari tanah liat dan mineral sebagai bertitisan melalui air tanah (dalam proses
eluviation). Lapisan Eluviasi atau Horison Eluviasi adalah horizon yang telah mengalami
proses eluviasi (pencucian) sangat intensif sehingga kadar bahan organik tanah, liat
silikat, Fe dan Al rendah tetapi kada pasir dan debu kuarsa (seskuoksida) serta mineral
resisten lainnya tinggi, sehingga berwarna agak terang.
4) Horizon B
Horizon B adalah horizon illuvial atau horison pengendapan sehingga terjadi
akumulasi dari bahan-bahan yang tercuci dari horizon diatasnya. Horizon iluviasi
(penimbunan) dari bahan-bahan yang tercuci di atasnya (liat, Fe, Al, bahan organik).
Ciri lain dari lapisan ini ialah :
a)
Terdapat konsentrasi residu sesquioksida dan atau lempung yang terbentuk karena
larutnya karbonat atau garam-garam lainnya.
b)
Adanya alterasi atau perubahan bahan-bahan dari keadaan asalnya den
terbentuk struktur berbutir (granuler), gumpal (blocky) atau tiang (prismatic).
Ada 3 Jenis Horizon B, yaitu :
a)
B1 : Horizon peralihan dengan horizon A yang mempunyai warna dan ciri yang
lebih mendekati warna dan ciri horizon B.
b)
B2: Horizon yang paling maksimal menampakkan horizon B, sehingga warnanya
paling kelam/tua,tekstur paling berat dan struktur paling padat.
c)
B3: Horizon peralihan dari horizon B ke C atau R dengan warna dan ciri
mendekati warna dan ciri horizon B. Jika horizon percampuran ini sulit dengan horizon di
bawahnya maka diberi simbol BC jika dibawahnya adalah horizon C, dan BR jika
dibawahnya langsung horizon R.

5) Horizon C

Horizon C adalah lapisan tanah yang bahan penyusunnya masih serupa dengan
batuan induk (R) atau belum terjadi perubahan. Horizon C disebut juga dengan regolith:
di lapisan bawah dan di atas Horizon B R Horizon. Terdiri dari sedikit rusak bedrock-up.
Tanaman akar tidak menembus ke dalam lapisan ini, sangat sedikit bahan organik yang
ditemukan di lapisan ini.
Horizon ini sudah tidak terbagi lagi dimana sama sekali tidak mempunyai sifatsifat horizon O, A, dan B tetapi tersusun atas bahan-bahan yang telah dirubah:
a)

Pelapukan di luar daerah kegiatan biologi utama,

b)
Pemadatan (cementasi) reversibel berupa proses perabuhan, penambahan berat
volume dan sifat-sifat lain dari fragipan (padas),
c)

Gleysasi,

d)
Penimbunan dan pemadatan karbonat kapur atau Mg atau garam-garam lain yang
terlarut,
e)

Pemadatan bahan-bahan silikat dan alkali besi dan silika.

6) Horizon R
Batuan induk tanah (R) merupakan bagian terdalam dari tanah dan masih berupa
batuan.

2) Tekstur Tanah
Tekstur
Pasir
Pasir
berlempung
Lempung
berpasir
Lempung
Lempung
berdebu
Debu

Ciri Ciri
Sangat kasar sekali, tidak membentuk bola dan gulungan serta tidak
melekat
Sangat kasar, membentuk bola yang mudah sekali hancur, serta agak
melekat
Agak kasar, membentuk bola agak kuat tapi mudah hancur serta agak
melekat
Tidak kasar dan tidak licin, membentuk bola teguh, dapat sedikit
digulung dengan permukaan mengkilat dan melekat
Licin, membentuk bola teguh dapat sedikit digulung dengan permukaan
mengkilat serta agak melekat
Licin sekali, membentuk bola teguh dapat sedikit digulung dengan

permukaan mengkilat serta agak melekat


Lempung
Agak kasar, membentuk bola agak teguh, membentuk gulungan tapi
berliat
mudah hancur serta agak melekat
Lempung liat Kasar agak jelas, membentuk bola agak teguh, membentuk gulungan
berpasir
tapi mudah hancur serta melekat
Lempung liat Licin jelas, membentuk bola teguh, gulungan mengkilat melekat
berdebu
Liat berpasir
Agak licin membentuk bola dalam keadaan kering sukar dipilin, mudah
digulung serta melekat
Liat
Berat, membentuk bola sempurna, bila kering sangat keras, basah sangat
melekat
3) Warna Tanah
Menggunakan munsell soil colour chart
4) Klasifikasi Tanah
1. Tanah vulkanis (andosol)
Tanah vulkanis atau tanah andosol (tuff), berasal dari hasil pelapukan debu vulkanis dan material
letusan gunung api lainnya. Tanah ini banyak terdapat di daerah gunung api, terutama yang
sudah pernah meletus. Jenis tanah ini sangat subur dan baik untuk dimanfaatkan sebagai lahan
pertanian. Ciri-ciri tanah vulkanis adalah berwarna kelabu hingga kuning dan peka terhadap
erosi.
2. Tanah aluvial
Tanah aluvial berasal dari endapan lumpur sungai. Tanah ini banyak ditemukan di sepanjang
lembah, pertemuan sungai dan laut, bantaran sungai (kanan kiri sungai), kaki gunung, dataran
yang sering dilanda banjir (flood plains), serta muara sungai (delta). Tanah aluvial sangat subur
dan cocok untuk tanaman padi, palawija, tebu, tembakau, karet, kelapa, dan kopi. Ciri-ciri tanah
aluvial: warna kelabu dan sifatnya peka terhadap erosi.
3. Tanah humus
Tanah humus adalah sisa-sisa hasil pelapukan tumbuh-tumbuhan yang telah diuraikan oleh
organisme kecil dalam tanah. Humus memulihkan zat kimia yang berguna bagi tanah, sehingga
tumbuhan dapat hidup. Tanah humus sangat subur dan cocok untuk lahan pertanian. Ciri-cirinya:
berwarna kehitaman, subur mengandung bahan organik, dan mudah basah.
4. Tanah laterit
Tanah laterit adalah tanah yang terjadi karena adanya pelarutan garam-garaman di dalam batuan,
sehingga tinggal oksidasi besi dan aluminium. Pelarutan oleh air hujan terjadi pada daerah
bersuhu tinggi. Berbagai mineral yang telah larut diba- wa air ke tempat lebih rendah. Tanah

laterit kurang subur, hanya tepat untuk tanaman palawija, hortikultura, dan karet. Tanah ini
banyak mengandung zat besi dan aluminium.
5. Tanah kapur (terraroza)
Tanah kapur berasal dari pelapukan batuan kapur yang banyak terdapat di daerah pegunungan
kapur. Karena kandungan bahannya, tanah ini sangat tepat untuk tanaman jati.
Ciri-cirinya: warna putih kecoklatan, keras, dan tidak subur.
6. Tanah gambut (organosol)
Tanah gambut adalah tanah yang berasal dari bahan organik (tumbuh-tumbuhan) yang hidup di
rawa dan mengalami proses pembusukan tidak sempurna.Ciri-ciri utama tanah ini: memiliki
tingkat keasaman tinggi, dan tidak subur, tanpa pe- ngolahan khusus tidak baik untuk lahan
pertanian.
7. Tanah mergel
Tanah mergel adalah tanah yang terjadi dari campuran batuan kapur, tanah liat, dan pasir. Banyak
terdapat di lereng pegunungan, dan dataran rendah. Tanah mergel termasuk tanah subur.
8. Tanah regosol
Tanah regosol adalah tanah berupa material- material kasar. Terbentuk dari pasir pantai atau
material dari gunung api yang belum banyak mengalami pelapukan.
Ciri-ciri utama tanah ini adalah berbutiran besar/kasar.
9. Tanah latosol
Tanah latosol adalah tanah berbatu-batu, yaitu tanah tua berupa batuan keras yang belum
melapuk dengan sempurna. Biasanya terdapat di lereng pegunungan yang mengalami erosi.
Tanah jenis ini berciri keras dan tidak subur.
10. Tanah podzolik
Tanah podzolik adalah tanah yang terdiri dari batuan yang banyak mengandung kuarsa. Tanah
jenis ini dijumpai di pegunungan tinggi.

5) Kelas Lahan
ak dapat diusahakan untuk pertanian.
1. Kelas I, tanah pada kelas ini memiliki sedikit faktor pembatas dan memiliki
resiko kerusakan yang kecil. Jenis tanah pada kelas ini sangat baik dan dapat
diusahakan untuk segala jenis pertanian. Tanah ini umumnya relatif datar,
bahaya erosi kecil, solum tanah dalam, drainase baik, mudah diolah, penahan
air yang baik dan responsif terhadap pemupukan.

2. Kelas II, tanah pada kelas ini mempunyai sedikit faktor pembatas yang dapat
mengurangi pilihan penggunaannya atau membutuhkan tindakan konservasi
yang sedang. Oleh sebab itu tanah pada kelas ini membutuhkan pengelolaan
tanah yang cukup hati-hati meliputi tindakan konservasi, menghindari
kerusakan dan memperbaiki hubungan air-udara dalam tanah bila ditanami
faktor pembatas dalam kelas ini dapat merupakan satu atau kombinasi dari
faktor-faktor lereng landai, kepekaan erosi sedang dan struktur tanah yang
kurang baik. Adanya faktor-faktor ini tentu saja memerlukan perhatian yang
agak serius jika kita ingin mengusahakan tanah, seperti pengolahan tanah
secara kontur, strip cropping, pergiliran tanaman, pemupukan dan pengapuran,
dan pembuatan saluran saluran air.
3. Kelas III, tanah pada kelas ini mempunyai lebih banyak faktor pembatas
daripada tanah pada kelas II, dan apabila digunakan untuk usaha pertanian
akan memerlukan tindakan konservasi yang serius, yang umumnya lebih sulit
baik dalam pelaksanaan maupun pemeliharaannya. Faktor faktor pembatas
pada lahan kelas ini dapat berupa lereng yang agak miring, cukup peka
terhadap erosi, drainase jelek, permeabilitas tanah sangat lambat, solum
dangkal, kapasitas menahan air rendah, kesuburan dan produk aktifitas tanah
rendah dan sulit untuk diperbaiki.
4. Kelas IV, tanah pada kelas ini merupakan faktor pembatas yang lebih besar dari
pada kelas III, sehingga jenis penggunaan / jenis tanaman yang diusahakan juga
sangat terbatas. Tanah pada kelas ini terletak pada lereng yang cukup curam
(15% - 30%), sehingga sangat peka terhadap erosi, drainase nya jelek, solumnya
dangkal, dan kapasitas menahan air rendah.
5. Kelas V, tanah pada kelas ini terletak pada tempat yang datar/ agak cekung,
selalu basah / tergenang air,atau terlalu banyak batu di atas permukaan tanah.
Karena itu tanah pada kelas ini tidak sesuai untuk usaha pertanian tanaman
semusim, namun lebih sesuai untuk ditanami dengan vegetasi permanen seperti
tanaman makanan ternak/ dihutankan.
6. Kelas VI, tanah pada kelas ini terletak pada daerah yang mempunyai lereng
yang cukup curam, sehingga mudah ter-erosi/ telah mengalami erosi yang
sangat berat/ mempunyai solum yang sangat dangkal. Tanah pada kelas ini
tidak sesuai di jadikan lahan pertanian namun lebih sesuai untuk vegetasi
permanen.
7. Kelas VII, tanah pada kelas ini terletak pada lereng yang cukup curang, telah
tererosi berat, solum sangat dangkal dan berbatu. Karena itu tanah ini hanya
cocok untuk ditanami dengan vegetasi permanen.
8. Kelas VIII, tanah pada kelas ini terletak pada lereng yang sangat curam,
permukaan sangat kasar, tertutup batuan lepas/ batuan singkapan/ tanah pasir

pantai. Karena itu tanah pada kelas ini dibiarkan pada keadaan alami dibawah
vegetasi alami (cagar alam, hutan lindung, atau tempat rekreasi).