Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan

D. Metodologi Penulisan

1. Konsep Perkembangan
A. Pengertian pertumbuhan (growth), kematangan (maturation), belajar (learning), dan
latihan (exercises) serta keterkaitannya dengan perkembangan (development).
Konsep dasar perkembangan di sini dimaksudkan sebagai perubahanperubahan yang dialami oleh individu atau organisme menuju tingkat
kedewasaannya (maturity) yang berlangsung secara sistematik (Lefrancois,
1975:197) progresif (Witherington, 1952:57) dan berkesinambungan (Hurlock,
1956:7), baik mengenal fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah)-nya.
Terdapat beberapa istilah yang bertalian dan sering diasosiasikan dengan
konsep perkembangan (development) tersebut, antara lain pertumbuhan (growth),
kematangan atau masa peka (maturation) dan belajar (learning) atau pendidikan
(education) serta latihan (training/exercise).
Dengan istilah pertumbuhan dapat diartikan sebagai perubahan alamiah
secara kuantitatif pada segi jasmaniah atau fisik (Lefrancois, 1975:180) dan atau

menunjukkan kepada suatu fungsi tertentu yang baru (yang tadinya belum tampak)
dari organisme atau individu, baik fisik maupun psikis (termasuk pola-pola perilaku
dan sifat-sifat kepribadian), dalam arti yang luas (Witherington 1952:87-88, &
Hurlock, 1956). Kematangan atau masa peka menunjukkan kepada suatu masa
tertentu yang merupakan titik kulminasi dari suatu fase pertumbuhan (Witherington,
1952:88) sebagai titik tolak kesiapan (readiness) dari sesuatu fungsi (psikofisis)
untuk menjalankan fungsinya (Hurlock, 1956)
Belajar atau pendidikan dan latihan, menunjukkan kepada perubahan dalam
pola-pola sambutan atau perilaku dan aspek-aspek kepribadian tertentu sebagai hasil
usaha individu atau organisme yang bersangkutan dalam batas-batas waktu setelah
tiba masa pekanya. Dengan demikian, dapat dibedakan bahwa perubahan-perubahan
perilaku dan pribadi sebagai hasil belajar itu berlangsung secara intensional atau
dengan sengaja diusahakan oleh individu yang bersangkutan, sedangkan perubahan
dalam arti pertumbuhan dan kematangan berlangsung secara alamiah menurut
jalannya pertambhan waktu atau usia yang ditempuh oleh yang bersangkutan.
Lefrancois (1975:180) berpendapat bahwa konsep perkembangan
mempunyai makna yang luas, mencakup segi-segi kuantitatif dan kualitatif serta
aspek-aspek fisik-psikis seperti yang terkandung dalam istilah-istilah pertumbuhan,
kematangan dan belajar atau pendidikan dan latihan.
B. Definisi perkembangan (development) serta implikasinya dalam pendidikan.
Pada dasarnya, perkembangan merujuk kepada perubahan sistematik tentang
fungsi-fungsi fisik dan psikis. Perubahan fisik meliputi perkembangan biologis dasar
sebagai hasil dari konsepsi (pembuahan ovum dan sperma), dan hasil dari interaksi
proses biologis dan genetika dengan lingkungan. Sementara perubahan psikis
menyangkut keseluruhan karakteristik psikologis individu, seperti perkembangan
kognitif, emosi, sosial, dan moral.
Perkembangan dapat diartikan sebagai proses perubahan kuantitatif dan
kualitatif individu dalam rentang kehidupannya, mulai dari masa konsepsi, masa
bayi, masa kanak-kanak, masa anak, masa remaja, sampai masa dewasa.

Perkembangan dapat diartikan juga sebagai suatu proses perubahan dalam


diri individu atau organisme, baik fisik (jasmaniah), maupun psikis (rohaniah)
menuju tingkat kedewasaan atau kematangan yang berlangsung secara sistematis,
progresif, dan berkesinambungan. Yang dimaksud dengan sistematis, progresif, dan
berkesinambungan adalah sebagai berikut.
1. Sistematis, berarti perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling
ketergantungan atau saling memengaruhi antara bagian-bagian organisme
(fisik dan psikis) dan merupakan satu kesatuan yang harmonis. Contoh
prinsip ini, seperti kemampuan berjalan kaki seiring dengan matangnya
otot-otot kaki, atua berkembangnya minat untuk memerhatikan lawan jenis
seiring dengan matangnya hormon seksual.
2. Progresif, berarti perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat,
mendalam atau meluas, baik secara kuantitatif (fisik) maupun kualitatif
(psikis). Contohnya, seperti terjadinya perubahan proporsi dan ukuran fisik
anak (dari pendek menjadi tinggi, dari kecil menjadi besar); dan perubahan
pengetahuan dan kemampuan anak, dari yang sederhana sampai kepada
yang kompleks (mulai dari mengenal huruf dan angka sampai kepada
kemampuan membaca, menulis dan berhitung).
3. Berkesinambungan, berarti perubahan pada bagian atau fungsi organisme
itu berlangsung secara beraturan atau berurutan, tidak terjadi secara
kebetulan atau loncat-loncat. Contohnya, untuk dapat berjalan, seorang
anak harus menguasai tahapan perkembangan sebelumnya, yaitu telentang,
tengkurap, duduk, merangkak, dan berdiri; untuk mampu berbicara, anak
harus melalui tahapan meraban, atau untuk mencapai masa dewasa,
individu harus melalui masa remaja, anak, kanak-kanak, bayi dan masa
konsepsi.
C. Prinsip-prinsip perkembangan serta implikasinya dalam pendidikan.
1. Perkembangan Merupakan Proses yang Tidak Pernah Berhenti (Never Ending
Process)
Individu secara terus-menerus berkembang atau berubah yang dipengaruhi oleh
pengalaman atau belajar sepanjang hidupnya. Perkembangan, baik fisik maupun
psikis berlangsung secara terus0menerus sejak masa konsepsi sampai mencapai
kematangan atau masa tua.

2. Semua Aspek Perkembangan Saling Memengaruhi


Setiap aspek perkembangan individu, baik fisik, intelektual, emosi, sosial,
maupun moral-spiritual, satu sama lainnya saling memengaruhi. Pada umumnya
terdapat hubungan atau korelasi yang positif antara aspek-aspek tersebut. Apabila
seorang anak dalam pertumbuhan fisiknya mengalami gangguan (sering sakitsakitan), maka dia akan mengalami kemandegan dalam perkembangan aspek
lainnya, seperti: kecerdasan dan emosinya. Begitu pula, apabila perkembangan
spiritualitas keagamaan anak kurang baik, maka anak akan berkembang menjadi
seorang yang berkarakter atau berkepribadian yang tidak baik.
3. Perkembangan Mengikuti Pola atau Arah Tertentu
Perkembangan terjadi secara teratur mengikuti pola atau arah tertentu. Setiap
tahap perkembangan merupakan hasil perkembangan tahap selanjutnya, dan
merupakan prasyarat bagi perkembangan selanjutnya. Menurut Yelon dan
Weinstein (1977) pola perkembangan itu sebagai berikut.
a. Cephalocaudal (Perkembangan itu dimulai dari kepala ke kaki) dan
Proximodistal (Perkembangan itu dimulai dari tengah)
b. Struktur mendahului fungsi, yang berarti bahwa anggota tubuh individu
akan berfungsi setelah matang strukturnya.
c. Perkembangan itu berdiferensiasi, yang berarti bahwa perkembangan fisik
maupun psikis berlangsung dari umum ke khusus (spesifik)
d. Perkembangan berlangsung dari konkret ke abstrak, yang berarti bahwa
perkembangan itu berproses dari kemampuan berpikir konkret (objeknya
tampak) menuju ke abstrak (objeknya tak tampak)
e. Perkembangan berlangsung dari egosentrisme ke perspektivisme, yang
berarti bahwa pada mulanya seorang anak hanya memerhatikan dirinya
sebagai pusat, atau hanya mementingkan keinginan, kebutuhan dirinya
sendiri. Melalui pengalamannya bergaul dengan orang lain (khususnya
teman sebaya), sikap egosentris itu secara perlahan-lahan berubah jadi
perspektivis (anak sudah mulai memerhatikan kepentingan orang lain)
f. Perkembangan berlangsung dari out-control ke inner-control, yang berarti
bahwa pada awalnya anak sangat tergantung kepada pengawasan atau
bantuan orang lain dalam memenuhi kebutuhan atau untuk melakukan suatu
kegiatan yang terkait dengan kedisiplinan. Seiring dengan bertambahnya
pengalaman atau belajar dari pergaulan sosial tentang norma atau nilainilai, baik di linkungan keluarga, sekolah, teman sebaya, maupun

masyarakat, anak dapat mengembangkan kemampuannya untuk mengontrol


tindakan atau perilakunya oleh dirinya sendiri (inner-control).
4. Perkembangan Terjadi Pada Tempo yang Berlainan
Perkembangan fisik dan psikis mencapai kematangannya terjadi pada waktu dan
tempo yang berbeda (ada yang cepat dan ada yang lambat).
5. Setiap Fase Perkembangan Mempunyai Ciri Khas, Prinsip ini dapat dijelaskan
dengan contoh:
a. sampai usia 2 tahun, aak memusatkan perhatiannya untuk menguasai gerakb.

gerik fisik dan belajar berbicara


pada usia 3-6 tahun, perkembangan dipusatkan untuk menjadi manusia

sosial (belajar bergaul dengan orang lain)


6. Setiap Individu yang Normal Akan Mengalami Tahapan atau Fase Perkembangan
Prinsip ini berarti bahwa dalam menjalani kehidupannya yang normal dan berusia
panjang, individu akan mengalami masa atau fase perkembangan : masa konsepsi,
bayi, kanak-kanak, anak, remaja, dan dewasa. Tahapan perkembangan manusia
itu dijelaskan dalam Al-Quran, surat Al-Hajj ayat 5, yang artinya sebagai berikut.
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan, maka ketahuilah
sesungguhan kami telah menciptakan kamu dari tanah (turab), kemudian dari
tetesan mani (nuthfah), kemudian segumpal darah (alaqah), kemudian struktur
daging (mudhgah) yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar
kami jelaskan kepadamu, dan Kami tetapkan dalam rahim siapa yang Kami
kehendaki sampai waktu yang ditentukan, kemudian kami keluarkan kamu
sebagai bayi, kemudian berangsur-angsur kamu menjadi dewasa, dan diantara
kamu ada yang diwafatkan dan ada pula yang diperpanjang umurnya sampai
pikun, supaya tidak diketahui lagi sesuatu pun yang dulu diketahuinya.Sejatinya,
setiap manusia memiliki tahapan perkembangan seperti tersebut di atas, hanya
dalam kenyataannya tidak semua manusia memiliki perjalanan hidup sesuai
dengan rentang tahapan perkembangan tersebut. Ada individu yang hidupnya
hanya sampai masa bayi, kanak-kanak, anak, atau remaja. Namun, ada juga yang
rentang kehidupannya sampai usia dewasa atau masa pikun (usia lanjut).
D. Tahapan Perkembangan.
Tahap-Tahap perkembangan Intelek/kognitif (Pikiran)
a. Tahap Sensor Motorik
Dialami anak usia 0-2 tahun. Pada tahap ini, interaksi anak dengan orang
tuanya terutama dilakukan melalui perasaan dan otot-ototnya. Dan ditandai
dengan karakter yang menonjol, contoh karakter:

- Tindakan bersifat Naluri


- Aktifitas didasarkan pada pengalaman Indera.
- Individu mampu melihat dan meresapi pengalaman. tapi belum mampu
mengategorikan
b. Tahap Pra-Operasional
Berlangsung pada 2 7 tahun. tahap ini disebut juga tahap intuisi. karena
perkembangan kogitifnya memperlihatkan kecenderungan yang ditandai
oleh suasana Intuitif, artinya semua perbuatan rasionalnya tidak didukung
oleh pimikiran, tapi oleh unsur perasaan yang cenderung alami.
contoh karakter:
- Cara berpikir imajinatif
- bahasa yang bersifat egosentris
- rasa ingin tahu yang tinggi
- bahasanya berkembang pesat
c. Tahap Operasional Kongkret
Pada usia 7-11 tahun. tahap ini mulai menyesuaikan diri dengan realitas
kongkret(nyata) dan sudah mulai berkembang rasa ingin tahunya.
Contoh karakter:
- sesuatu dipahami sebagaimana yang tampak saja atau sebagaimana
kenyataan yang mereka alami. sehingga cara berpikir individu belum
menangkap
yang abstrak, meski cara berpikirnya tampak sistematis dan logis.
d. Tahap Operasional Formal.
Tahap ini dialami pada usia 11 tahun keatas. pada masa ini, anak telah
mampu mewujudkan suatu keseluruhan dalam pekerjaannya.
Contoh karakteristik:
- Individu dapat mencapai logika dan rasio serta dapat menggunakan
abstraksi.
- mampu.
2. Tahapan Perkembangan Kepribadian
Meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan, namun dalam kenyataannya
sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian dapat dan mungkin terjadi, terutama
dipengaruhi oleh faktor lingkungan dari pada faktor fisik.
Erikson dalam Nana Syaodih Sukmadinata, 2005 mengemukakan bahwa,
tahapan perkembangan kepribadian yaitu:

1. Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust mistrust. Perilaku bayi
didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di
sekitarnya. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya, tetapi orang yang dianggap
asing dia tidak akan mempercayainya. Oleh karena itu kadang-kadang bayi
menangis bila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. Ia bukan saja tidak
percaya kepada orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing, tempat
asing, suara asing, perlakuan asing dan sebagainya. Kalau menghadapi situasi-situasi
tersebut seringkali bayi menangis.
2. Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya kecenderungan autonomy
shame, doubt. Pada masa ini sampai-batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri
sendiri, dalam arti duduk, berdiri, berjalan, bermain, minum dari botol sendiri tanpa
ditolong oleh orang tuanya, tetapi di pihak lain dia ga telah mulai memiliki rasa
malu dan keraguan dalam berbuat, sehingga seringkali minta pertolongan atau
persetujuan dari orang tuanya.
3. Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative guilty.
Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan, dengan kecakapankecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan, tetapi karena
kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan.
Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah, dan
untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat.
4. Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industryinferiority.
Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya, pada masa ini anak sangat
aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Dorongan untuk mengatahui
dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar, tetapi di pihak lain karena
keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadang-kadang dia
menghadapi kesukaran, hambatan bahkan kegagalan. Hambatan dan kegagalan ini
dapat menyebabkan anak merasa rendah diri.
5. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity Identity
Confusion. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan
dan kecakapankecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan
memperlihatkan identitas diri, ciri-ciri yang khas dari dirinya. Dorongan membentuk
dan memperlihatkan identitas diri ini, pada para remaja sering sekali sangat ekstrim
dan berlebihan, sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai
penyimpangan atau kenakalan. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di
satu pihak, sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap

kelompok sebayanya. Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian


peran, dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada
masing-masing anggota.
6. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy
isolation. Kalau pada masa sebelumnya, individu memiliki ikatan yang kuat dengan
kelompok sebaya, namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar.
Mereka sudah mulai selektif, dia membina hubungan yang intim hanya dengan
orang-orang tertentu yang sepaham. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk
membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang tertentu, dan kurang akrab
atau renggang dengan yang lainnya.
7. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity stagnation.
Sesuai dengan namanya masa dewasa, pada tahap ini individu telah mencapai
puncak dari perkembangan segala kemampuannya. Pengetahuannya cukup luas,
kecakapannya cukup banyak, sehingga perkembangan individu sangat pesat.
Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas, tetapi dia tidak mungkin
dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan, sehingga tetap pengetahuan
dan kecakapannya terbatas. Untuk mengerjakan atau mencapai hal hal tertentu ia
mengalami hambatan.
8. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity despair.
Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi, semua yang
telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. Pribadi yang telah
mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. Mungkin ia
masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya tetapi karena
faktor usia, hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. Dalam situasi ini
individu merasa putus asa. Dorongan untuk terus berprestasi masih ada, tetapi
pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan tersebut,
sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya.
3. Fase-fase Perkembangan Manusia
Tahap tahap perkembangan manusia memiliki fase yang cukup panjang. Untuk tujuan
pengorganisasian dan pemahaman, kita umumnya menggambarkan perkembangan dalam
pengertian periode atau fase perkembangan.
Klasifikasi periode perkembangan yang paling luas digunakan meliputi urutan sebagai
berikut: Periode pra kelahiran, masa bayi, masa awal anak anak, masa pertengahan dan akhir

anak anak, masa remaja, masa awal dewasa, masa pertengahan dewasa dan masa akhir
dewasa.
Perkiraan rata rata rentang usia menurut periode berikut ini memberi suatu gagasan
umum kapan suatu periode mulai dan berakhir. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut
mengenai pada setiap periode tahap tahap perkembangan manusia dalam buku Life-Span
Development oleh John Santrock:
1. Periode prakelahiran (prenatal period) ialah saat dari pembuahan hingga kelahiran.
Periode ini merupakan masa pertumbuhan yang luar biasa dari satu sel tunggal
hingga menjadi organisme yang sempurna dengan kemampuan otak dan perilaku,
yang dihasilkan kira kira dalam periode 9 bulan.
2. Masa bayi (infacy) ialah periode perkembangan yang merentang dari kelahiran
hingga 18 atau 24 bulan. Masa bayi adalah masa yang sangat bergantung pada orang
dewasa. Banyak kegiatan psikologis yang terjadi hanya sebagai permulaan seperti
bahasa, pemikiran simbolis, koordinasi sensorimotor, dan belajar sosial.
3. Masa awal anak anak (early chidhood) yaitu periode pekembangan yang merentang
dari masa bayi hingga usia lima atau enam tahun, periode ini biasanya disebut
dengan periode prasekolah. Selama masa ini, anak anak kecil belajar semakin
mandiri dan menjaga diri mereka sendiri, mengembangkan keterampilan kesiapan
bersekolah (mengikuti perintah, mengidentifikasi huruf), dan meluangkan waktu
berjam jam untuk bermain dengan teman teman sebaya. Jika telah memasuki kelas
satu sekolah dasar, maka secara umum mengakhiri masa awal anak anak.
4. Masa pertengahan dan akhir anak anak (middle and late childhood) ialah periode
perkembangan yang merentang dari usia kira kira enam hingga sebelas tahun, yang
kira kira setara dengan tahun tahun sekolah dasar, periode ini biasanya disebut
dengan tahun tahun sekolah dasar. Keterampilan keterampilan fundamental seperti
membaca, menulis, dan berhitung telah dikuasai. Anak secara formal berhubungan
dengan dunia yang lebih luas dan kebudayaan. Prestasi menjadi tema yang lebih
sentral dari dunia anak dan pengendalian diri mulai meningkat.
5. Masa remaja (adolescence) ialah suatu periode transisi dari masa awal anak anak
hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira kira 10 hingga 12 tahun dan
berakhir pada usia 18 tahun hingga 22 tahun. Masa remaja bermula pada perubahan
fisik yang cepat, pertambahan berat dan tinggi badan yang dramatis, perubahan
bentuk tubuh, dan perkembangan karakteristik seksual seperti pembesaran buah
dada, perkembangan pinggang dan kumis, dan dalamnya suara. Pada perkembangan

ini, pencapaian kemandirian dan identitas sangat menonjol (pemikiran semakin


logis, abstrak, dan idealistis) dan semakin banyak menghabiskan waktu di luar
keluarga.
6. Masa awal dewasa (early adulthood) ialah periode perkembangan yang bermula
pada akhir usia belasan tahun atau awal usia duapuluhan tahun dan yang berakhir
pada usia tugapuluhan tahun. Ini adalah masa pembentukan kemandirian pribadi dan
ekonomi, masa perkembangan karir, dan bagi banyak orang, masa pemilihan
pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara akrab, memulai keluarga, dan
mengasuh anak anak.
Masa pertengahan dewasa (middle adulthood) ialah periode perkembangan yang
bermula pada usia kira kira 35 hingga 45 tahun dan merentang hingga usia
enampuluhan tahun. Ini adalah masa untuk memperluas keterlibatan dan tanggung
jawab pribadi dan sosial seperti membantu generasi berikutnya menjadi individu
yang berkompeten, dewasa dan mencapai serta mempertahankan kepuasan dalam
berkarir.
7. Masa akhir dewasa (late adulthood) ialah periode perkembangan yang bermula pada
usia enampuluhan atau tujuh puluh tahun dan berakhir pada kematian. Ini adalah
masa penyesuaian diri atas berkurangnya kekuatan dan kesehatan, menatap kembali
kehidupannya, pensiun, dan penyesuaian diri dengan peran peran sosial baru.
4. Prinsip dan Teori Tumbuh Kembang
A. Prinsip-prinsip Tumbuh Kembang Anak
Proses tumbuh kembang anak juga mempunyai prinsip-prinsip yang saling
berkaitan. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan


belajar.Kematangan merupakan proses intrinsik yang terjadi dengan
sendirinya, sesuai dengan potensi yang ada pada individu. Belajar
merupakan perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha. Melalui
belajar, anak memperoleh kemampuan menggunakan sumber yang
diwariskan dan potensi yang dimiliki anak.

Pola perkembangan dapat diramalkan.


Terdapat persamaan pola perkembangan bagi semua anak. Dengan
demikian perkembangan seorang anak dapat diramalkan. Perkembangan

berlangsung dari tahapan umum ke tahapan spesifik, dan terjadi


berkesinambungan.
2. Konsep Tumbuh Kembang
Sebagai pemberi pelayanan keperawatan, perawat memeberikan pelayanan
dari mulai manusia sebelum lahir sampai dengan meninggal, dalam merawat kasus
yang samapun tindakan yang diberikan akan sangat berdeda karena setiap orang
adalah unik, sehingga seorang perawat dituntut untuk mengerti proses tumbuh
kembang.
Tumbuh kembang merupakan hasil dari 2 faktor yang berinteraksi yaitu
1.

faktor herediter

2.

faktor lingkungan.
Manusia dalam tumbuh dan berkembang dipengaruhi oleh kondisi:
1. fisik
2. kogniti
3. psikologis
4. moral
5. spiritual
Tumbuh kembang merupakan proses yang dinamis dan terus menerus.
Prinsip tumbuh kembang
1. tumbuh kembang terus menerus dan komplek
2. tumbuh kembang merupakan proses yang teratur dan dapat diprediksi
3. tumbuh kembang berbeda dan terintegrasi

4. setiap aspek tumbuh kembang berbeda dalah setiap tahapnya dan dapat
dimodifikasi
5. tahapan tumbang spesifik untuk setiap orang

Prinsip Perkembangan dari Kozier dan Erb


1. manusia tumbuh secara terus menerus
2. manusia mengikuti bentuk yang sama dalam pertumbuhan dan perkembangan
3. manusia berkembang menyebabkan dia mendapatkan proses pembelajaran dan
kematangan
4. masing-masing tahapan perkembangan memiki karakteristik tertentu
5. selama bayi (infancy) dan balita merupakan saat pembentukan perilaku, gaya
hidup, dan bentuk pertumbuhan.
Tumbuh kembang adalah Orderly (tertib) dan sequential tetapi juga terus menerus
dan komplek.
1. Setiap orang memiliki pengalam yang sama bentuknya
2. Setiap bentuk dan tingkat perkembangan adalah khas
Tumbuh kembang memiliki pola teratur dan dapat diprediksi;
1. Cephalocaudal (head to tail)
2. Proximaldistal
3. Symetrical
Tumbuh kembang berbeda dan terintegrasi

Contoh syaraf tumbuh khas atau berbeda karena berespon terhadap rangsangan yang
berbeda.
Perbedaan aspek dalam tumbuh kembang terjadi karena beda tahap, jumlah dan dapat
dimodifikasi.
1. tulang tumbuh cepat pada tahun pertama, selama tahun sebelum sekolah
pertumbuhan tulang melambat
2. bicara berkembang cepat pada usia 3 5 tahun
Tahapan tumbuh kembang spesifik untuk setiap orang. Keterampilan dan kematangan
fisik dan psikologis berbeda dan khusus dari setiap orang

Teori tumbuh kembang


1. Psychoanalisa dari Sigmund Freud
2. Psichososial dari Erik Erikson
3. Perkembangan Kognitif dari Jean Piaget
4. Perkembangan Moral dari Lawrence Kohlberg dan Carol Gilligan
5. Perkembangan kepercayaan dari James Fowler
Prinsip-prinsip dasar tumbuh kembang
A. Teratur dan mengikuti aturan tertentu sesuai usia
B. Mempunyai tujuan dan berlangsung mengikuti aksis tubuh:
1. Cephalocaudal: Pertumbuhan (dari kepala ke bagian yang lebih rendah)
2. Proksimodistal: perkembangan (dari area sentral (proksimal tubuh) ke arah
luar (periferal)
3. Diferensiasi perkembangan (dari simpel ke kompleks).
4. Kompleks, belum dapat diramalkan, terjadi dengan pola yg konsisten dan
kronologis
5. Unik pada masing-masing individu dan turunannya, dan setiap individu
berusaha mencapai perkembangan yg maksimal

6. Terjadi melalui konflik dan adaptasi serta merupakan tantangan bagi tiap
individu dalam bentuk tugas spesifik tertentu sesuai umur dan
kemampuan.
7. Menuntut latihan dan energi yg ditujukan pada masing-masing tahap
perkembangan dan tugas menyelesaikannya.
1. Teori perkembangan psikoseksual Sigmund Freud
Teori perkembangan psikoseksual Sigmund
Freud adalah salah satu teori yang paling terkenal,
akan tetapi juga salah satu teori yang paling
kontroversial. Freud percaya kepribadian yang
berkembang melalui serangkaian tahapan masa kanak-kanak di mana mencari
kesenangan-energi dari id menjadi fokus pada area sensitif seksual tertentu.
Energi psikoseksual, atau libido , digambarkan sebagai kekuatan pendorong di
belakang perilaku.

Menurut Sigmund Freud, kepribadian sebagian besar dibentuk oleh


usia lima tahun. Awal perkembangan berpengaruh besar dalam pembentukan
kepribadian dan terus mempengaruhi perilaku di kemudian hari.

Jika tahap-tahap psikoseksual selesai dengan sukses, hasilnya adalah


kepribadian yang sehat. Jika masalah tertentu tidak diselesaikan pada tahap
yang tepat, fiksasi dapat terjadi. fiksasi adalah fokus yang gigih pada tahap
awal psikoseksual. Sampai konflik ini diselesaikan, individu akan tetap
terjebak dalam tahap ini. Misalnya, seseorang yang terpaku pada tahap oral
mungkin terlalu bergantung pada orang lain dan dapat mencari rangsangan
oral melalui merokok, minum, atau makan.

A. Fase Oral

Pada tahap oral, sumber utama bayi interaksi terjadi melalui


mulut, sehingga perakaran dan refleks mengisap adalah sangat penting.
Mulut sangat penting untuk makan, dan bayi berasal kesenangan dari
rangsangan oral melalui kegiatan memuaskan seperti mencicipi dan
mengisap. Karena bayi sepenuhnya tergantung pada pengasuh (yang
bertanggung jawab untuk memberi makan anak), bayi juga
mengembangkan rasa kepercayaan dan kenyamanan melalui stimulasi
oral.
Konflik utama pada tahap ini adalah proses penyapihan, anak
harus menjadi kurang bergantung pada para pengasuh. Jika fiksasi
terjadi pada tahap ini, Freud percaya individu akan memiliki masalah
dengan ketergantungan atau agresi. fiksasi oral dapat mengakibatkan
masalah dengan minum, merokok makan, atau menggigit kuku.
B. Fase Anal
Pada tahap anal, Freud percaya bahwa fokus utama dari libido
adalah pada pengendalian kandung kemih dan buang air besar. Konflik
utama pada tahap ini adalah pelatihan toilet anak harus belajar untuk
mengendalikan kebutuhan tubuhnya. Mengembangkan kontrol ini
menyebabkan rasa prestasi dan kemandirian.
Menurut Sigmund Freud, keberhasilan pada tahap ini tergantung
pada cara di mana orang tua pendekatan pelatihan toilet. Orang tua yang
memanfaatkan pujian dan penghargaan untuk menggunakan toilet pada
saat yang tepat mendorong hasil positif dan membantu anak-anak merasa
mampu dan produktif. Freud percaya bahwa pengalaman positif selama
tahap ini menjabat sebagai dasar orang untuk menjadi orang dewasa
yang kompeten, produktif dan kreatif.
Namun, tidak semua orang tua memberikan dukungan dan
dorongan bahwa anak-anak perlukan selama tahap ini. Beberapa orang
tua bukan menghukum, mengejek atau malu seorang anak untuk
kecelakaan. Menurut Freud, respon orangtua tidak sesuai dapat
mengakibatkan hasil negatif. Jika orangtua mengambil pendekatan yang

terlalu longgar, Freud menyarankan bahwa-yg mengusir kepribadian


dubur dapat berkembang di mana individu memiliki, boros atau merusak
kepribadian berantakan. Jika orang tua terlalu ketat atau mulai toilet
training terlalu dini, Freud percaya bahwa kepribadian kuatanalberkembang di mana individu tersebut ketat, tertib, kaku dan obsesif.
C. Fase Phalic
Pada tahap phallic , fokus utama dari libido adalah pada alat
kelamin. Anak-anak juga menemukan perbedaan antara pria dan wanita.
Freud juga percaya bahwa anak laki-laki mulai melihat ayah mereka
sebagai saingan untuk ibu kasih sayang itu. Kompleks
Oedipusmenggambarkan perasaan ini ingin memiliki ibu dan keinginan
untuk menggantikan ayah.Namun, anak juga kekhawatiran bahwa ia
akan dihukum oleh ayah untuk perasaan ini, takut Freud disebut
pengebirian kecemasan.
Istilah Electra kompleks telah digunakan untuk menggambarkan
satu set sama perasaan yang dialami oleh gadis-gadis muda. Freud,
bagaimanapun, percaya bahwa gadis-gadis bukan iri pengalaman penis.
Akhirnya, anak menyadari mulai mengidentifikasi dengan induk
yang sama-seks sebagai alat vicariously memiliki orang tua lainnya.
Untuk anak perempuan, Namun, Freud percaya bahwa penis iri tidak
pernah sepenuhnya terselesaikan dan bahwa semua wanita tetap agak
terpaku pada tahap ini. Psikolog seperti Karen Horney sengketa teori ini,
menyebutnya baik tidak akurat dan merendahkan perempuan.
Sebaliknya, Horney mengusulkan bahwa laki-laki mengalami perasaan
rendah diri karena mereka tidak bisa melahirkan anak-anak.
D. Fase Latent
Periode laten adalah saat eksplorasi di mana energi seksual tetap
ada, tetapi diarahkan ke daerah lain seperti pengejaran intelektual dan
interaksi sosial. Tahap ini sangat penting dalam pengembangan
keterampilan sosial dan komunikasi dan kepercayaan diri.

Freud menggambarkan fase latens sebagai salah satu yang relatif


stabil. Tidak ada organisasi baru seksualitas berkembang, dan dia tidak
membayar banyak perhatian untuk itu. Untuk alasan ini, fase ini tidak
selalu disebutkan dalam deskripsi teori sebagai salah satu tahap, tetapi
sebagai suatu periode terpisah.
E. Fase Genital
Pada tahap akhir perkembangan psikoseksual, individu
mengembangkan minat seksual yang kuat pada lawan jenis. Dimana
dalam tahap-tahap awal fokus hanya pada kebutuhan individu,
kepentingan kesejahteraan orang lain tumbuh selama tahap ini. Jika
tahap lainnya telah selesai dengan sukses, individu sekarang harus
seimbang, hangat dan peduli. Tujuan dari tahap ini adalah untuk
menetapkan keseimbangan antara berbagai bidang kehidupan.

2.

Teori Psikososial Erikson


Man the un-known (manusia adalah makhluk yang misteri) demikian
di ungkapkan oleh Alexis Carel ketika menggambarkan ketidaktuntasan
pencarian hakikat manusia oleh para ahli. Banyak ikhtiar akademis yang
dilakukan oleh para ahli saat ingin memapar siapa sesungguhnya dirinya.
Ilmu-ilmu seperti filsafat, ekonomi, sosiologi, antropologi juga psikologi dan
beberapa ilmu lainnya adalah ilmu yang membahas tentang manusia dengan
perspektif masing-masing.
Erik Erikson adalah salah satu diantara para ahli yang melakukan
ikhtiar itu. Dari perspektif psikologi, ia menguraikan manusia dari sudut
perkembangannya sejak dari masa 0 tahun hingga usia lanjut. Erikson
beraliran psikoanalisa dan pengembang teori Freud. Kelebihan yang dapat kita
temukan dari Erikson adalah bahwa ia mengurai seluruh siklus hidup manusia,
tidak seperti Freud yang hanya sampai pada masa remaja. Termasuk disini
adalah bahwa Erikson memasukkan faktor-faktor sosial yang mempengaruhi
perkembangan tahapan manusia, tidak hanya sekedar faktor libidinal sexual.

Teori Erik Erikson tentang perkembangan manusia dikenal dengan


teori perkembangan psiko-sosial. Teori perkembangan psikososial ini adalah
salah satu teori kepribadian terbaik dalam psikologi. Seperti Sigmund Freud,
Erikson percaya bahwa kepribadian berkembang dalam beberapa tingkatan.
Salah satu elemen penting dari teori tingkatan psikososial Erikson adalah
perkembangan persamaan ego. Persamaan ego adalah perasaan sadar yang kita
kembangkan melalui interaksi sosial. Menurut Erikson, perkembangan ego
selalu berubah berdasarkan pengalaman dan informasi baru yang kita dapatkan
dalam berinteraksi dengan orang lain. Erikson juga percaya bahwa
kemampuan memotivasi sikap dan perbuatan dapat membantu perkembangan
menjadi positif, inilah alasan mengapa teori Erikson disebut sebagai teori
perkembangan psikososial.
Ericson memaparkan teorinya

melalui konsep polaritas

yang

bertingkat/bertahapan. Ada 8 (delapan) tingkatan perkembangan yang akan


dilalui oleh manusia. Menariknya bahwa tingkatan ini bukanlah sebuah
gradualitas. Manusia dapat naik ketingkat berikutnya walau ia tidak tuntas
pada tingkat sebelumnya. Setiap tingkatan dalam teori Erikson berhubungan
dengan kemampuan dalam bidang kehidupan. Jika tingkatannya tertangani
dengan baik, orang itu akan merasa pandai. Jika tingkatan itu tidak tertangani
dengan baik, orang itu akan tampil dengan perasaan tidak selaras.
Dalam setiap tingkat, Erikson percaya setiap orang akan mengalami
konflik/krisis yang merupakan titik balik dalam perkembangan. Erikson
berpendapat, konflik-konflik ini berpusat pada perkembangan kualitas
psikologi atau kegagalan untuk mengembangkan kualitas itu. Selama masa ini,
potensi pertumbuhan pribadi meningkat. Begitu juga dengan potensi
kegagalan.
A. Trust vs Mistrust (percaya vs tidak percaya)
Terjadi pada usia 0 s/d 18 bulan
Tingkatpertamateoriperkembanganpsikososial
antara

Erikson

kelahiransampaiusiasatutahun

merupakantingkatanpalingdasardalamhidup.

terjadi
dan

Olehkarenabayisangatbergantung,
perkembangankepercayaandidasarkan pada ketergantungan dan

kualitasdaripengasuhkepadaanak.
Jika anak berhasil membangun kepercayaan, dia akan merasa
selamat dan aman dalam dunia. Pengasuh yang tidak konsisten,
tidak tersedia secara emosional, atau menolak, dapat mendorong
perasaan tidak percaya diri pada anak yang di asuh. Kegagalan
dalam mengembangkan kepercayaan akan menghasilkan ketakutan
dan kepercayaan bahwa dunia tidak konsisten dan tidak dapat di

tebak.
B. Otonomi (Autonomy) VS malu dan ragu-ragu (shame and doubt)
Terjadi pada usia 18 bulan s/d 3 tahun
Tingkat ke dua dari teori perkembangan psikososial Erikson ini
terjadi selama masa awal kanak-kanak dan berfokus pada

perkembangan besar dari pengendalian diri.


Seperti Freud, Erikson percaya bahwa latihan penggunaan toilet
adalah bagian yang penting sekali dalam proses ini. Tetapi, alasan
Erikson cukup berbeda dari Freud. Erikson percaya bahwa belajar
untuk mengontrol fungsi tubuh seseorang akan membawa kepada

perasaan mengendalikan dan kemandirian.


Kejadian-kejadian penting lain meliputi pemerolehan pengendalian
lebih yakni atas pemilihan makanan, mainan yang disukai, dan

juga pemilihan pakaian.


Anak yang berhasil melewati tingkat ini akan merasa aman dan
percaya diri, sementara yang tidak berhasil akan merasa tidak

cukup dan ragu-ragu terhadap diri sendiri.


C. Inisiatif (Initiative) vs rasa bersalah (Guilt)
Terjadi pada usia 3 s/d 5 tahun.
Selama masa usia prasekolah mulai menunjukkan kekuatan dan
kontrolnya akan dunia melalui permainan langsung dan interaksi
sosial lainnya. Mereka lebih tertantang karena menghadapi dunia

sosial yang lebih luas, maka dituntut perilaku aktif dan bertujuan.
Anak yang berhasil dalam tahap ini merasa mampu dan kompeten
dalam memimpin orang lain. Adanya peningkatan rasa tanggung

jawab dan prakarsa.


Mereka yang gagal mencapai tahap ini akan merasakan perasaan
bersalah, perasaan ragu-ragu, dan kurang inisiatif. Perasaan

bersalah yang tidak menyenangkan dapat muncul apabila anak

tidak diberi kepercayaan dan dibuat merasa sangat cemas.


Erikson yakin bahwa kebanyakan rasa bersalah dapat digantikan

dengan cepat oleh rasa berhasil.


D. Industry vs inferiority (tekun vs rasa rendah diri)
Terjadi pada usia 6 s/d pubertas.
Melalui interaksi sosial, anak mulai mengembangkan perasaan

bangga terhadap keberhasilan dan kemampuan mereka.


Anak yang didukung dan diarahkan oleh orang tua dan guru
membangun peasaan kompeten dan percaya dengan ketrampilan

yang dimilikinya.
Anak yang menerima sedikit atau tidak sama sekali dukungan dari
orang tua, guru, atau teman sebaya akan merasa ragu akan

kemampuannya untuk berhasil.


Prakarsa yang

dicapai

sebelumnya memotivasi mereka untuk terlibat

dengan pengalaman-pengalaman baru.


Ketika beralih ke masa pertengahan dan akhir kanak-kanak,
mereka

mengarahkan

energi

menuju

penguasaan

pengetahuan dan keterampilan intelektual.


Permasalahan yang dapat timbul pada tahun sekolah dasar
adalah berkembangnya rasa

mereka

rendah

diri,perasaan

tidak

berkompeten dan tidak produktif.


Erikson yakin bahwa guru memiliki tanggung jawab khusus bagi

perkembangan ketekunan anak-anak.


E. Identity vs identify confusion (identitas vs kebingungan identitas)
Terjadi pada masa remaja, yakni usia 10 s/d 20 tahun
Selama remaja ia mengekplorasi kemandirian dan membangun

kepakaan dirinya.
Anak dihadapkan dengan penemuan siapa mereka, bagaimana
mereka nantinya, dan kemana mereka menuju dalam

kehidupannya (menuju tahap kedewasaan).


Anak dihadapkan memiliki banyak peran baru dan
status sebagai orang dewasa pekerjaan dan romantisme, misalnya,
orangtua harus mengizinkan remaja menjelajahi banyak peran dan
jalan yang berbeda dalam suatu peran khusus.

Jika remaja menjajaki peran-peran semacam itu dengan cara yang


sehat dan positif untuk diikuti dalam kehidupan, identitas positif

akan dicapai.
Jika suatu identitas remaja ditolak oleh orangtua, jika remaja tidak
secara memadai menjajaki banyak peran, jika jalan masa depan

positif tidak dijelaskan, maka kebingungan identitas merajalela.


Namun bagi mereka yang menerima dukungan memadai maka
eksplorasi personal, kepekaan diri, perasaan mandiri dan control

dirinya akan muncul dalam tahap ini.


Bagi mereka yang tidak yakin terhadap kepercayaan diri dan
hasratnya, akan muncul rasa tidak aman dan bingung terhadap diri

dan masa depannya.


F. Intimacy vs isolation (keintiman vs keterkucilan)
Terjadi selama masa dewasa awal (20an s/d 30an tahun)
Erikson percaya tahap ini penting, yaitu tahap seseorang
membangun hubungan yang dekat dan siap berkomitmen dengan

orang lain.
Mereka yang berhasil di tahap ini, akan mengembangkan

hubungan yang komit dan aman.


Erikson percaya bahwa identitas personal yang kuat penting untuk
mengembangkan

hubungan

yang

intim.

Penelitian

telah

menunjukkan bahwa mereka yang memiliki sedikit kepakaan diri


cenderung memiliki kekurangan komitemen dalam menjalin suatu
hubungan dan lebih sering terisolasi secara emosional, kesendirian

dan depresi.
Jika mengalami kegagalan, maka akan muncul rasa keterasingan

dan jarak dalam interaksi dengan orang.


G. Generativity vs Stagnation (Bangkit vs Stagnan)
Terjadi selama masa pertengahan dewasa (40an s/d 50an tahun).
Selama masa ini, mereka melanjutkan membangun hidupnya

berfokus terhadap karir dan keluarga.


Mereka yang berhasil dalam tahap ini, maka akan merasa bahwa
mereka berkontribusi terhadap dunia dengan partisipasinya di

dalam rumah serta komunitas.


Mereka yang gagal melalui tahap ini, akan merasa tidak produktif

dan tidak terlibat di dunia ini.


H. Integrity vs depair (integritas vs putus asa)
Terjadi selama masa akhir dewasa (60an tahun)

Selama fase ini cenderung melakukan cerminan diri terhadap masa

lalu.
Mereka yang tidak berhasil pada fase ini, akan merasa bahwa

hidupnya percuma dan mengalami banyak penyesalan.


Individu akan merasa kepahitan hidup dan putus asa
Mereka yang berhasil melewati tahap ini, berarti ia dapat

mencerminkan keberhasilandan kegagalan yang pernah dialami.


Individu ini akan mencapai kebijaksaan, meskipun saat
menghadapi kematian.

Perbandingan Sigmudn Freud


Erikson adalah pengembang teori Freud dan mendasarkan kunstruk teori
psikososialnya dari psiko-analisas Freud. Kalau Freud memapar teori perkembangan manusia
hanya sampai masa remaja, maka para penganut teori psiko-analisa (freudian) akan
menemukan kelengkapan penjelasan dari Erikson, walaupun demikian ada perbedaan antara
psikosexual Freud dengan psikososial Erikson. Beberapa aspek perbedan tersebut dapat
dilihat di bawah ini:

Freud
Perenan/fungsi

Erikson
id

ketidaksadaransangatpenting

danPeran/fungsi ego lebih ditonjolkan, yang


berhubungan dengan tingkah laku yang nyata.

Hubungan segitiga antara anak, ibu dan ayahHubungan-hubungan yang penting lebih luas,
menjadi landasan yang terpenting dalamkarena mengikutsertakan pribadi-pribadi lain
perkembangan kepribadian.

yang ada dalam lingkungan hidup yang


langsung

pada

anak. Hubungan

anakdan
orangtuamelaluipolapengaturanbersama

antara

(mutual regulation).
Orientasi

patologik,

mistik

karenaOrientasinya

optimistik,

kerena

kondisi-

berhubungan dengan berbagai hambatan padakondisi dari pengaruh lingkungan sosial yang
struktur kepribadian dalam perkembanganikut mempengaruhi perkembang kepribadian
kepribadian.
Timbulnya

anak bisa diatur.


berbagai

hambatan

dalamKonflik timbul antara ego dengan lingkungan

kehidupan psikisnya karena konflik internal,sosial yang disebut: konflik sosial.


antara id dan super ego.

3. Teori Kebutuhan Dasar Maslow


Abraham Maslow mengembangkan teori kepribadian yang telah
mempengaruhi sejumlah bidang yang berbeda, termasuk pendidikan. Ini
pengaruh luas karena sebagian tingginya tingkat kepraktisans teori Maslow.
Teori ini akurat menggambarkan realitas banyak dari pengalaman pribadi.
Banyak orang menemukan bahwa mereka bisa memahami apa kata Maslow.
Mereka dapat mengenali beberapa fitur dari pengalaman mereka atau perilaku
yang benar dan dapat diidentifikasi tetapi mereka tidak pernah dimasukkan ke
dalam kata-kata.
Maslow adalah seorang psikolog humanistik. Humanis tidak percaya
bahwa manusia yang mendorong dan ditarik oleh kekuatan mekanik, salah
satu dari rangsangan dan bala bantuan (behaviorisme) atau impuls naluriah
sadar (psikoanalisis). Humanis berfokus pada potensi. Mereka percaya bahwa
manusia berusaha untuk tingkat atas kemampuan. Manusia mencari batas-

batas kreativitas, tertinggi mencapai kesadaran dan kebijaksanaan. Ini telah


diberi label berfungsi penuh orang, kepribadian sehat, atau sebagai
Maslow menyebut tingkat ini, orang-aktualisasi diri.
Maslow telah membuat teori hierarkhi kebutuhan. Semua kebutuhan
dasar itu adalah instinctoid, setara dengan naluri pada hewan. Manusia mulai
dengan disposisi yang sangat lemah yang kemudian kuno sepenuhnya sebagai
orang tumbuh. Bila lingkungan yang benar, orang akan tumbuh lurus dan
indah, aktualisasi potensi yang mereka telah mewarisi. Jika lingkungan tidak
benar (dan kebanyakan tidak ada) mereka tidak akan tumbuh tinggi dan
lurus dan indah.
Maslow telah membentuk sebuah hirarki dari lima tingkat kebutuhan
dasar. Di luar kebutuhan tersebut, kebutuhan tingkat yang lebih tinggi ada. Ini
termasuk kebutuhan untuk memahami, apresiasi estetik dan spiritual
kebutuhan murni. Dalam tingkat dari lima kebutuhan dasar, orang tidak
merasa perlu kedua hingga tuntutan pertama telah puas, maupun ketiga sampai
kedua telah puas, dan sebagainya. Kebutuhan dasar Maslow adalah sebagai
berikut:

Teori Kebutuhan Maslow

A. Kebutuhan Fisiologis
Ini adalah kebutuhan biologis. Mereka terdiri dari kebutuhan
oksigen, makanan, air, dan suhu tubuh relatif konstan. Mereka
adalah kebutuhan kuat karena jika seseorang tidak diberi semua
kebutuhan, fisiologis yang akan datang pertama dalam pencarian
seseorang untuk kepuasan.

B. Kebutuhan Keamanan
Ketika semua kebutuhan fisiologis puas dan tidak
mengendalikan pikiran lagi dan perilaku, kebutuhan keamanan
dapat menjadi aktif. Orang dewasa memiliki sedikit kesadaran
keamanan mereka kebutuhan kecuali pada saat darurat atau
periode disorganisasi dalam struktur sosial (seperti kerusuhan
luas). Anak-anak sering menampilkan tanda-tanda rasa tidak aman
dan perlu aman.
C. Kebutuhan Cinta, sayang dan kepemilikan
Ketika kebutuhan untuk keselamatan dan kesejahteraan
fisiologis puas, kelas berikutnya kebutuhan untuk cinta, sayang
dan kepemilikan dapat muncul. Maslow menyatakan bahwa orang
mencari untuk mengatasi perasaan kesepian dan keterasingan. Ini
melibatkan kedua dan menerima cinta, kasih sayang dan
memberikan rasa memiliki.
D. Kebutuhan Esteem
Ketika tiga kelas pertama kebutuhan dipenuhi, kebutuhan
untuk harga bisa menjadi dominan. Ini melibatkan kebutuhan baik
harga diri dan untuk seseorang mendapat penghargaan dari orang
lain. Manusia memiliki kebutuhan untuk tegas, berdasarkan,
tingkat tinggi stabil diri, dan rasa hormat dari orang lain. Ketika

kebutuhan ini terpenuhi, orang merasa percaya diri dan berharga


sebagai orang di dunia. Ketika kebutuhan frustrasi, orang merasa
rendah, lemah, tak berdaya dan tidak berharga.

E. Kebutuhan Aktualisasi Diri


Ketika semua kebutuhan di atas terpenuhi, maka dan hanya
maka adalah kebutuhan untuk aktualisasi diri diaktifkan. Maslow
menggambarkan aktualisasi diri sebagai orang perlu untuk menjadi
dan melakukan apa yang orang itu lahir untuk dilakukan.
Seorang musisi harus bermusik, seniman harus melukis, dan
penyair harus menulis. Kebutuhan ini membuat diri mereka
merasa dalam tanda-tanda kegelisahan. Orang itu merasa di tepi,
tegang, kurang sesuatu, singkatnya, gelisah. Jika seseorang lapar,
tidak aman, tidak dicintai atau diterima, atau kurang harga diri,
sangat mudah untuk mengetahui apa orang itu gelisah tentang. Hal
ini tidak selalu jelas apa yang seseorang ingin ketika ada
kebutuhan untuk aktualisasi diri.
Teori hierarkhi kebutuhan sering digambarkan sebagai
piramida, lebih besar tingkat bawah mewakili kebutuhan yang
lebih rendah, dan titik atas mewakili kebutuhan aktualisasi diri.
Maslow percaya bahwa satu-satunya alasan bahwa orang tidak
akan bergerak dengan baik di arah aktualisasi diri adalah karena
kendala ditempatkan di jalan mereka oleh masyarakat negara. Dia
bahwa

pendidikan

merupakan

salah

satu

kendala.

Dia

merekomendasikan cara pendidikan dapat beralih dari orang biasapengerdilan taktik untuk tumbuh pendekatan orang. Maslow
menyatakan bahwa pendidik harus menanggapi potensi individu
telah untuk tumbuh menjadi orang-aktualisasi diri / jenis-nya
sendiri. Sepuluh poin yang pendidik harus alamat yang terdaftar:
1. Kita harus mengajar orang untuk menjadi otentik, untuk
menyadari diri batin mereka dan mendengar perasaan merekasuara batin.

2. Kita harus mengajar orang untuk mengatasi pengkondisian


budaya mereka dan menjadi warga negara dunia.
3. Kita harus membantu orang menemukan panggilan mereka
dalam hidup, panggilan mereka, nasib atau takdir. Hal ini
terutama difokuskan pada menemukan karier yang tepat dan
pasangan yang tepat.
4. Kita harus mengajar orang bahwa hidup ini berharga, bahwa
ada sukacita yang harus dialami dalam kehidupan, dan jika
orang yang terbuka untuk melihat yang baik dan gembira dalam
semua jenis situasi, itu membuat hidup layak.
5. Kita harus menerima orang seperti dia atau dia dan membantu
orang belajar sifat batin mereka. Dari pengetahuan yang
sebenarnya bakat dan keterbatasan kita bisa tahu apa yang
harus membangun di atas, apa potensi yang benar-benar ada.
6. Kita harus melihat itu kebutuhan dasar orang dipenuhi. Ini
mencakup keselamatan, belongingness, dan kebutuhan harga
diri.
7. Kita harus refreshen kesadaran, mengajar orang untuk
menghargai keindahan dan hal-hal baik lainnya di alam dan
dalam hidup.
8. Kita harus mengajar orang bahwa kontrol yang baik, dan
lengkap meninggalkan yang buruk. Dibutuhkan kontrol untuk
meningkatkan kualitas hidup di semua daerah.
9. Kita harus mengajarkan orang untuk mengatasi masalah sepele
dan bergulat dengan masalah serius dalam kehidupan. Ini
termasuk masalah ketidakadilan, rasa sakit, penderitaan, dan
kematian.
10. Kita harus mengajar orang untuk menjadi pemilih yang baik.
Mereka harus diberi latihan dalam membuat pilihan yang baik.
4. Teori Perkembangan Kognitif Piaget
Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Jean Piaget,
seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya
memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi
perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep
kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih

tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam


representasi konsep yang berdasar pada kenyataan.
Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata
skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya dalam
tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru
dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan
ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme
(yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan
pengetahuan dan kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita
membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi
dengan sendirinya terhadap lingkungan. Untuk pengembangan teori ini,
Piaget memperoleh Erasmus Prize. Piaget membagi skema yang
digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama
yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:
A. Periode sensorimotor
Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan
selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema
awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut.
Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode.
Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan
kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam subtahapan:
1. Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai
usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan
refleks.
2. Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia
enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan
terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
3. Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul
antara usia empat sampai sembilan bulan dan
berhubungan terutama dengan koordinasi antara
penglihatan dan pemaknaan.
4. Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder,
muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan,

saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek


sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya
berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi
objek).
5. Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul
dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan
berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara
baru untuk mencapai tujuan.
6. Sub-tahapan awal representasi simbolik,
berhubungan terutama dengan tahapan awal
kreativitas.

B. Tahapan praoperasional
Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan.
Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan
bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru
dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra)Operasi dalam teori
Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap
objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang
jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak
belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan
gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris:
anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak
dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti
mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbedabeda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya
berbeda-beda.
Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan
sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun.
Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan
berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda

dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih


menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan
ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat
memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut
berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami
bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring
pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain
semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat
ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki
perasaan.

C. Tahapan operasional konkrit


Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan.
Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai
ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses
penting selama tahapan ini adalah:
1. Pengurutan kemampuan untuk mengurutan objek
menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya.
Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka
dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar
ke yang paling kecil.
2. Klasifikasi kemampuan untuk memberi nama dan
mengidentifikasi serangkaian benda menurut
tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain,
termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda
dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian
tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan
logika berupa animisme (anggapan bahwa semua
benda hidup dan berperasaan)
3. Decentering, anak mulai mempertimbangkan
beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa
memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan

lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih


sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
4. Reversibility,anak mulai memahami bahwa jumlah
atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke
keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat
menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan
sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
5. Konservasi, memahami bahwa kuantitas, panjang,
atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan
dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau
benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak
diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama
banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke
gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu
akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
6. Penghilangan sifat Egosentrisme, kemampuan untuk
melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain
(bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara
yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang
memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam
kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang
memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu
baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap
operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan
tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak
walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah
dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.
D. Tahapan operasional formal
Tahap operasional formal adalah periode terakhir
perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai
dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus
berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah
diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak,
menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi

yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami


hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat
segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada
"gradasi abu-abu" di antaranya. Dilihat dari faktor biologis,
tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai
perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa
secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan
psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak
sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini,
sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai
seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap
operasional konkrit.

Informasi umum mengenai tahapan-tahapanKeempat tahapan ini


memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Walau tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi
tetapi urutannya selalu sama. Tidak ada ada tahapan yang
diloncati dan tidak ada urutan yang mundur.
2. Universal (tidak terkait budaya)
3. Bisa digeneralisasi: representasi dan logika dari operasi yang
ada dalam diri seseorang berlaku juga pada semua konsep
dan isi pengetahuan
4. Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang
terorganisasi secara logis
5. Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan mencakup
elemen-elemen dari tahapan sebelumnya, tapi lebih
terdiferensiasi dan terintegrasi)
6. Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif

dalam model berpikir, bukan hanya perbedaan kuantitatif


Proses perkembangan
Seorang individu dalam hidupnya selalu berinteraksi dengan

lingkungan. Dengan berinteraksi tersebut, seseorang akan memperoleh


skema. Skema berupa kategori pengetahuan yang membantu dalam
menginterpretasi dan memahami dunia. Skema juga menggambarkan
tindakan baik secara mental maupun fisik yang terlibat dalam
memahami atau mengetahui sesuatu.

Sehingga dalam pandangan Piaget, skema mencakup baik


kategori pengetahuan maupun proses perolehan pengetahuan tersebut.
Seiring dengan pengalamannya mengeksplorasi lingkungan, informasi
yang baru didapatnya digunakan untuk memodifikasi, menambah, atau
mengganti skema yang sebelumnya ada. Sebagai contoh, seorang anak
mungkin memiliki skema tentang sejenis binatang, misalnya dengan
burung. Bila pengalaman awal anak berkaitan dengan burung kenari,
anak kemungkinan beranggapan bahwa semua burung adalah kecil,
berwarna kuning, dan mencicit. Suatu saat, mungkin anak melihat
seekor burung unta. Anak akan perlu memodifikasi skema yang ia
miliki sebelumnya tentang burung untuk memasukkan jenis burung
yang baru ini.
a. Asimilasi adalah proses menambahkan informasi baru ke dalam
skema yang sudah ada. Proses ini bersifat subjektif, karena
seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau
informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema
yang sudah ada sebelumnya. Dalam contoh di atas, melihat
burung kenari dan memberinya label "burung" adalah contoh
mengasimilasi binatang itu pada skema burung si anak.
b. Akomodasi adalah bentuk penyesuaian lain yang melibatkan
pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi
baru yang tidak sesuai dengan skema yang sudah ada. Dalam
proses ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru sama
sekali. Dalam contoh di atas, melihat burung unta dan
mengubah skemanya tentang burung sebelum memberinya
label "burung" adalah contoh mengakomodasi binatang itu
pada skema burung si anak.
Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi
seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu
tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang
individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa
keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di
lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang

tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian


di atas.
Dengan demikian, kognisi seseorang berkembang bukan karena
menerima pengetahuan dari luar secara pasif tapi orang tersebut secara
aktif mengkonstruksi pengetahuannya.

Isu dalam perkembangan kognitif, Isu utama dalam perkembangan


kognitif serupa dengan isu perkembangan psikologi secara umum.
Tahapan perkembangan
a. Perbedaan kualitatif dan kuantitatif
Terdapat kontroversi terhadap pembagian tahapan
perkembangan berdasarkan perbedaan kualitas atau kuantitas
kognisi.
b. Kontinuitas dan diskontinuitas
Kontroversi ini membahas apakah pembagian tahapan
perkembangan merupakan proses yang berkelanjutan atau
proses terputus pada tiap tahapannya.
c. Homogenitas dari fungsi kognisi
Terdapat perbedaan kemampuan fungsi kognisi dari tiap

individu
Natur dan nurtur
Kontroversi natur dan nurtur berasal dari perbedaan antara
filsafat nativisme dan filsafat empirisme. Nativisme mempercayai
bahwa pada kemampuan otak manusia sejak lahir telah
dipersiapkan untuk tugas-tugas kognitif. Empirisme mempercayai
bahwa kemampuan kognisi merupakan hasil dari pengalaman.

Stabilitas dan kelenturan dari kecerdasan

Secara relatif kecerdasan seorang anak tetap stabil pada


suatu derajat kecerdasan, namun terdapat perbedaan kemampuan
kecerdasan seorang anak pada usia 3 tahun dibandingkan dengan
usia 15 tahun.

Sudut pandang lain


Pada saat ini terdapat beberapa pendekatan yang berbeda
untuk menjelaskan perkembangan kognitif.

Teori perkembangan kognitif neurosains


Kemajuan ilmu neurosains dan teknologi memungkinkan
mengaitkan antara aktivitas otak dan perilaku. Biologis menjadi
dasar dari pendekatan ini untuk menjelaskan perkembangan
kognitif. Pendekatan ini memiliki tujuan untuk dapat mengantarai
pertanyaan mengenai umat manusia yaitu
1. Apakah hubungan antara pemikiran dan tubuh, khususnya
antara otak secara fisik dan mental proses
2. Apakah filogeni atau ontogeni yang menjadi awal mula dari
struktur biologis yang teratur

Teori Konstruksi pemikiran-sosial


Selain biologi, konteks sosial juga merupakan salah satu
sudut pandang dari perkembangan kognitif. Perspektif ini
menyatakan bahwa lingkungan sosial dan budaya akan
memberikan pengaruh terbesar terhadap pembentukan kognisi dan
pemikiran anak. Teori ini memiliki implikasi langsung pada dunia
pendidikan. Teori Vygotsky menyatakan bahwa anak belajar secara
aktif lebih baik daripada secara pasif. Tokoh-tokohnya diantaranya
Lev Vygotsky, Albert Bandura, Michael Tomasello

Teori Theory of Mind (TOM)


Teori perkembangan kognitif ini percaya bahwa anak
memiliki teori maupun skema mengenai dunianya yang menjadi

dasar kognisinya. Tokoh dari ToM ini diantaranya adalah Andrew


N. Meltzoff

BAB III
KESIMPULAN

Daftar Pustaka

Ali Mohammad, dkk. 2008. Psikologi Remaja : Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi
Aksara
Makmum, Abin Syamsudin. 2007. Psikologi Kependidikan. Bandung: PT Rosdakarya.
Sugandhi, Nani M, dkk. 2011. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada
Yusuf , Syamsu LN, dkk. 2011. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada
http://belajarpsikologi.com/tahapan-perkembangan-kepribadian/
http://bio-sanjaya.blogspot.com/2011/12/teori-piaget-tahap-perkembangan.html/
http://edukasi.kompasiana.com/2010/10/25/makalah-perkembangan-peserta-didik/
http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/07/makalah-perkembangan-peserta-didik.html
http://maoapaadadisini.blogspot.com/2011/06/perkembangan-pada-psikologi-pendidikan.html
http://superthowi.wordpress.com/2012/03/18/perkembangan-peserta-didik/
http://www.psikologizone.com/fase-fase-perkembangan-manusia/06511465
http://zhuldyn.wordpress.com/materii-lain/perkembangan-peserta-didik/
Jhon W. Santrock, Life-Span Development, University of Texas at Dallas, 1995
Singgih D. Gunarsa, Dasar dan Teori Perkembangan Anak, Gunung Mulia, Jakarta, 1990
Sarlito W Sarwono, Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh Psikologi, Bulan Bintang,
Jakarta, 2002
http://www.haveford.edu/psych/ddavis/p1099/erikson.stages.htm/.
Bjorklund, D.F. (2000) Children's Thinking: Developmental Function and individual
differences. 3rd ed. Bellmont, CA : Wadsworth
Cole, M, et al. (2005). The Development of Children. New York: Worth Publishers.
Johnson, M.H. (2005). Developmental cognitive neuroscience. 2nd ed. Oxford : Blacwell
publishing
Piaget, J. (1954). "The construction of reality in the child". New York: Basic Books.
Piaget, J. (1977). The Essential Piaget. ed by Howard E. Gruber and J. Jacques Voneche
Gruber, New York: Basic Books.

Piaget, J. (1983). "Piaget's theory". In P. Mussen (ed). Handbook of Child Psychology. 4th
edition. Vol. 1. New York: Wiley.
Piaget, J. (1995). Sociological Studies. London: Routledge.
Piaget, J. (2000). "Commentary on Vygotsky". New Ideas in Psychology, 18, 241259.
Piaget, J. (2001). Studies in Reflecting Abstraction. Hove, UK: Psychology Press.
Seifer, Calvin "Educational Psychology