Anda di halaman 1dari 9

Tugas Interaksi Obat

INTERAKSI OBAT ANTIDIABETES


Di
S
U
S
U
N
Oleh :

Kelompok II

PROGRAM STUDI EKSTENSI FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2016

Anggota kelompok II

Megawati

141524007

Agnes Melva Leonore

141524009

Venny C S Sitompul

141524016

Dedek tasya sembiring

141524020

Pocut Keumala Fauma

141524032

Nofemi

141524052

Fatmailani Rtg

141524062

Chinty Indria M S

141524069

Ervina Septa Y Tarigan

141524070

Ellyda hafni Hsb

141524072

Foto kelompok II

Fatmailani

venny
Dedek

pocut
chinty

ellyda
nofemi

megawati
septa

agnes

BAB I
PENDAHULUAN
Obat antidiabetik adalah obat yang digunakan untuk terapi diabetes
melitus. Obat sistem hormon, termasuk kontrasepsi terdiri dari antidiabetik yaitu
antidiabetik oral : akarbose, glibenklamid, gliklazid, glikuidon, glimepirid,
klorpropramid, linagliptin, metformin, nateglinide, pioglitazon, repaglinid,
sitaglipin, vildagliptin. Dan antidiabetik parenteral yaitu insulin aspart, insulin
detemir, insulin glulisin, dan sebagainya (ISFI, 2014).
Ada 5 golongan antidiabetik oral (ADO) yang dapat digunakan untuk DM
dan telah dipasarkan di Indonesia, yakni :sulfonilurea, meglitinid, biguanid,
penghambat -glikosidase, dan tiazolidinedion. Kelima golongan ini dapat
diberikan pada DM tipe II yang tidak dapat dikontrol hanya dengan diet dan
latihan fisik saja (Suherman, 2010)

Golongan Sulfonilurea
Mekanisme kerja : golongan obat ini sering disebut insulin secretagogues,

kerjanya merangsang sekresi insulin dari granul sel-sel Langerhans pancreas.


Rangsangannya melalui interaksi dengan ATP sensitive K channel pada membrane
sel-sel yang menimbulkan depolarisasi membrane dan keadaan ini akan
membuka kanal Ca. Dengan terbukanya kanal Ca maka ion Ca++ akan masuk sel
, merangsang granula yang berisi insulin dan akan terjadi sekresi insulin dengan
jumlah yang ekuivalen dengan peptide C (Suherman, 2010)
Glibenklamida

memiliki

nama

kimia

1-(4-(2-(5-kloro-2-metoksi

benzamido) etil benzenasulfonil)- 3- sikloheksilurea , C 22H28CIN3O5S dengan


berat

molekul

494.

Tablet

glibenklamid

mengandung

glibenklamida,

C22H28CIN3O5S, tidak kurang dari 95,0% dan tidak lebih dari 105.0% dari jumlah
yang tertera pada etiket ( Ditjen Pom, 1995)

Golongan Biguanid
Mekanisme kerja : Metformin menurunkan produksi glukosa di hepar dan

meningkatkan sensitivitas jaringan otot dan adipose terhadap insulin. Efek ini
terjasi karena adanya aktivasi kinase di sel. Meski masih controversial, adanya
penurunan produksi glukosa hepar, banyak data yang menunjukkan bahwa

efeknya terjadi akibat penurunan glukoneogenesis. Biguanid tidak merangsang


ataupun menghambat perubahan glukosa menjadi lemak. Pada pasien diabetes
yang gemuk, biguanid dapat menurunkan berat badan dengan mekanisme yang
belum jelas pula, pada orang nondiabetik yang gemuk tidak timbul penurunan
berat badan dan kadar glukosa darah. Metformin oral akan mengalami absorpsi di
intestine, dalam darah tidak terikat protein plasma, ekskresinya melalui urin dalam
keadaan utuh. Masa paruhnya sekitar 2 jam (Suherman, 2010)

Golongan Tiazolidinedion

Mekanisme kerja : Insulin merangsang pembentukan dan translokasi GLUT ke


membran sel di organ perifer. Ini terjadi karena insulin merangsang PPAR
terdapat di target insulin, yakni di jaringan adiposa, hepar, pancreas,
keberadaannya di otot di otot skelet masih diragukan. Tiazolidinedion merupakan
agonist potent dan selektif PPAR, mengaktifkan PPAR membentuk kompleks
dan terbentuklah GLUT baru. Di jaringan adiposa PPAR mengurangi keluarnya
asam lemak menuju ke otot, dan karenanya dapat mengurangi resistensi insulin.
Pendapat lain aktivasi hormone adiposity dan adipokin, yang nampaknya adalah
adiponektin. Senyawa ini dapat meningkatkan sensitivitas insulin melalui
peningkatan AMP kinase yang merangsang transport glukosa ke sel dan
meningkatkan oksidasi asam lemak. Efek samping berupa peningkatan berat
badan, edema, menambah volume plasma dan memperburuk gagal jantung
kongestif. Edema sering terjadi pada penggunaannya bersama insulin. Kecuali
penyakit hepar , tidak dianjurkan pada gagal jantung kelas 3 dan 4 (Suherman,
2010)

Golongan Meglitinid
Repaglinid dan nateglinid merupakan golongan meglitinid, mekanisme

kerjanya sama dengan sulfonil urea tetapi struktur kimianya sangat berbeda.
Golongan ini merangsang insulin dengan menutup kanal K yang ATP-independent
di sel pankreas. Pada pemberian oral absorbsinya cepat dan kadar puncaknya
dicapai dalam waktu 1 jam. Masa paruhnya 1 jam, karenanya harus diberikan
beberapa kali sehari sebelum makan. Metabolism utamanya di hepar dan
metabolitnya tidak aktif. Sekitar 10% di metabolisme di ginjal. Efek samping

utamanya hipoglikemia dan gangguan saluran cerna. Reaksi alergi juga pernah
dilaporkan (Suherman, 2010)

Penghambat Enzim -glikosidase


Obat golongan ini dapat memperlambat absorpsi polisakarida, dekstrin,

dan disakarida di intestine. Dengan menghambat enzim glikosidase di brush


border intestine, dapat mencegah peningkatan glukosa plasma pada orang normal
dan pasien DM. Karena kerjanya tidak mempengaruhi insulin, maka tidak akan
menyebabkan efek samping hipoglikemi. Akarbose dapat digunakan sebagai
monoterapi pada DM usia lanjut atau DM yang glukosa postprandial sangat
tinggi. Di klinik sering digunakan bersama antidiabetik oral lain dan/ atau insulin.
Obat golongan ini dapat diberikan pada waktu mulai makan dan absorbsi buruk
(Suherman, 2010)

Obat Hiperglikemik
1. Glukagon
Glukagon didegradasi secara luas di hati dan ginjal maupun dalam plasma,

dan

pada

tempat

reseptor

jaringannya.

Glukagon

juga

meningkatkan

glukoneogenesis. Efek ini mungkin sekali disebabkan oleh menyusutnya


simpanan glikogen dalam hepar, karena dengan berkurangnya glikogen dalam
hepar proses deaminasi dan transminasi menjadi lebih aktif. Dengan
meningkatnya proses tersebut maka pembentukan kalori juga makin besar. Sekresi
glukagon pankreas meninggi dalam keadaan hipoglikemia dan menurun dalam
keadaan

hiperglikemia.

Sebagian

besar

glucagon

endogen

mengalami

metabolisme di hati. Glucagon terutama digunakan pada pengobatan hipoglikemia


yang timbul oleh insulin (Suherman, 2010)
2. Diazoksid
Obat ini memperlihatkan efek hiperglikemia bila diberikan oral dan efek
antihipertensi bila diberikan i.v. sediaan ini meningkatkan kadar glukosa sesuai
besarnya dosis dengan menghambat langsung sekresi insulin (Suherman, 2010)
Diazoksid digunakan pada hiperinsulinisme misalnya pada insulinoma atau
hipoglikemia yang sensitive terhadap leusin. Diazoksid 90% terikat pada plasma

protein dalam darah. Meskipun diazoksid termasuk golongan tiazid, obat ini
termasuk meretensi air dan natrium. Diuretic tiazid meninggikan efek
hiperglikemia dan hiperurisemia. Diazoksid oral menimbulkan potensiasi efek
obat antihipertensi lain, meskipun obat ini digunakan sendiri efeknya tidak kuat.
Diazokisd dapat menimbulkan iritasi saluran cerna, trombositopeni dan netropeni.
Diazoksid bersifat teratogenik pada hewan juga menyebabkan degenerasi sel
pancreas fetus sehingga obat ini tidak boleh diberikan pada wanita hamil
(Suherman, 2010)
Gejala klasik DM seperti poliuria, polidipsi, polifagia, dan penurunan
berat badan tidak selalu tampak pada lansia penderita DM karena seiring dengan
meningkatnya usia terjadi kenaikan ambang batas ginjal untuk glukosa sehingga
glukosa baru dikeluarkan melalui urin bila glukosa darah sudah cukup tinggi.
Selain itu, karena mekanisme haus terganggu seiring dengan penuaan, maka
polidipsi pun tidak terjadi, sehingga lansia penderita DM mudah mengalami
dehidrasi hiperosmolar akibat hiperglikemia berat. DM pada lansia umumnya
bersifat asimptomatik, kalaupun ada gejala, seringkali berupa gejala tidak khas
seperti kelemahan, letargi, perubahan tingkah laku, menu-runnya status kognitif
atau kemampuan fungsional (antara lain delirium, demensia, depresi, agitasi,
mudah jatuh, dan inkontinensia urin). Inilah yang menyebabkan diagnosis DM
pada lansia seringkali agak terlambat. Bahkan, DM pada lansia seringkali baru
terdiagnosis setelah timbul penyakit lain (kurniawan, 2010)
Pada saat ini, jumlah usia lanjut (lansia, berumur >65 tahun) di dunia
diperkirakan mencapai 450 juta orang (7% dari seluruh penduduk dunia), dan nilai
ini diperkirakan akan terus meningkat. Sekitar 50% lansia mengalami intoleransi
glukosa dengan kadar gula darah puasa normal. Studi epidemiologi menunjukkan
bahwa prevalensi Dia-betes Melitus maupun Gangguan Toleransi Glukosa (GTG)
meningkat seiring dengan pertambahan usia, menetap sebelum akhirnya menurun.
Dari data WHO didapatkan bahwa setelah mencapai usia 30 tahun, kadar glukosa
darah akan naik 1-2 mg%/tahun pada saat puasa dan akan naik sebesar 5,6-13 mg
%/tahun pada 2 jam setelah makan. Seiring dengan pertambahan usia, lansia
mengalami kemunduran fisik dan mental yang menimbulkan banyak konsekuensi.

Selain itu, kaum lansia juga mengalami masalah khusus yang memerlukan
perhatian antara lain lebih rentan terhadap komplikasi. (Kurniawan, 2010)
BAB II
TABEL INTERAKSI OBAT ANTIDIABETIK
no
1

Gol Obat

Interaksi obat

Golongan Sulonilurea
glibenklamid
Aspirin

Sifat

Mekanisme/uraian

Ket
Untung/
rugi

sinergis

Efek aditif (salisilat dala dosis

rugi

yang besar dapat menurunkan


kadar ggula darah) yang
Jahe (Zingiber

sinergis

menyebabkan hipoglikemik
Penurunann kadar gula darah

officinale),

semakin meningkat sehingga

Bawang merah

hipoglikemik

rugi

(Allium

Glipizid

sativum)
Lidah buaya

antagonis

Kadar gula darah meningkat

rugi

(Aloe fera)
Fluconazole

Sinergis

Kadar obat antidiabetes

rugi

meningkat sehingga terjadi


Tolbutamid

Kloramphenico

sinergis

hipoglikemik koma
Menghambat enzim dihati yang

rugi

berhubungan dengan
metabolisme dari tolbutamid
yang menyebabkan hipoglikemik

Golongan biguanida
Metformin
Fenklofenak

sinergis

Penurunan clearence dari obat

rugi

antidiabetes yang menyebakan


Alkohol

sinegis

hipoglikemik
Meningkatkan metabolisme dari

rugi

metformin sehingga hipoglikemik


3

Golongan penghambat alfa glikosidase


Acarbose
Antasida
sinergis

Laju absorpsi obat antidiabetes

meningkat sehingga hipoglikemik


DAFTAR PUSTAKA

rugi

Ditjen POM. (1995). Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta : Depkes RI.
Halaman 410 411.
Innes, J.A. (2009). Davidsons Essentials of Medicine. China : Elsevier. Halaman
285 289
ISFI. (2014). Informasi Satelite Obat Indonesia. Volume 49. Jakarta : Isfi
Penerbitan. Halaman 247
Kurniawan, I. (2012). Diabetes Melitus Tipe 2 pada Usia Lanjut. Maj Kedokteran
Indonesia, Vol: 60. Nomor: 12. Klinik Usila Puskesmas Pangkalbalam,
Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung. Halaman : 577 578
Suherman, S.K, dan Nafriadi. (2012). Farmakologi Dan Terapi Edisi V. Jakarta:
Fakulatas Kedokteran UI. halaman 481 483, 485, 489 495