Anda di halaman 1dari 3

TUGAS KKM SMF/BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM

SCHISTOSOMIASIS
Definisi
Schistosomiasis merupakan penyakit infeksi parasit kronis yang disebabkan oleh cacing
darah (Trematoda) dari genus Schistosoma. Disebut juga bilharziasis yang diambil dari nama
Theodor Bilharz, seorang ahli patologi berkebangsaan Jerman yang mengidentifikasi cacing
ini pada tahun 1851. Schistosomiasis sering ditemukan pada daerah tropis dan sub-tropis.
Etiologi
Schistosmiasis disebabkan oleh cacing darah (Trematoda) dari genus Schistosoma. Menurut
gambaran klinisnya, schistosomiasis dapat dibagi menjadi dua, yaitu schistosomiasis
vesikalis (urogenital) yang disebabkan oleh Schistosoma hematobium dan schistosomiasis
schistosomiasis intestinal yang disebabkan oleh Schistosoma mansoni dan Schistosoma
japonicum.
Siklus Hidup Schistosoma
Telur schistosoma dapat keluar bersama urin atau feses lalu masuk ke dalam air tawar. Di
dalam air, telur akan menetas dan keluar larva yang disebut mirasidia. Mirasidia tersebut
selanjutnya menginfeksi semacam siput sebagai penjamu perantara (intermediate host) yang
sesuai untuk perkembangbiakan lebih lanjut. Di dalam tubuh siput, mirasidia akan berubah
menjadi sporokista induk, kemudian menjadi sporokista anak, dan berubah menjadi sekaria
yang infektif lalu masuk berenang dalam air tawar yang hanya dapat bertahan hidup selama
48 jam. Manusia dapat terpajan dengan serkaria melalui kulit atau mukosa mulut dan saluran
cerna apabila berada dalam air misalnya sewaktu mandi, berenang, menyeberangi sungai,
atau mencuci pakaian. Dalam tubuh, serkaria segera menjadi larva schistosomula yang akan
mengikuti sistem peredaran darah hingga sampai pada sirkulasi portal dalam hepar dan segera
menjadi cacing dewasa.
Setelah beberapa minggu, cacing dewasa berpasangan dan kawin, lalu bermigrasi ke
habitatnya masing-masing sesuai dengan spesiesnya. S. japonicum akan tinggal di pembuluh
darah vena sekitar usus dan hati, misalnya vena porta hepatica dan vena mesenterica
superior. Di dalam habitat inilahcacing betina akan bertelur dari beberapa butir sampai
beberapa ratus per hari. Kemudian telur cacing terbawa oleh darah ke jaringan usus atau bulibuli, dan dengan demikian telur-telur tersebut dapat keluar bersama urin atau feses.

Gejala Klinis
Akut
Intestinal
Urogenital
Demam, malaise, mialgia, Ulserasi, pseudopolip, dan Hematuria
nyeri kepala, nyeri perut, mikroabses pada usus besar
batuk non produktig
Eosinofilia
Infiltrat

paru

thoraks
Swimmer itch

pada

Nyeri abdomen, darah pada Fibrosis


feses
foto Pembesaran

hepar

fibrosis periportl
Dilatasi

pembesaran

ginjal
dan Lesi genital,
pervaginam,

pembuluh

abdomen

ureter,

kerusakan
perdarahan
dispareunia,

kerusakan tuba fallopi


darah Kerusakan pada vesikula

superfisial, seminalis, prostat, infertilitas


lien,

varises yang ireversibel

esofagus
Diagnosis
Ditemukannya telur parasit pada feses atau urin merupakan baku emas dalam mendiagnosis
shcistosomiasis. Sampel feses diperiksa untuk mengetahui keberadaan telur parasit dengan
menggunakan hapusan tebal Kato-Katz atau teknik rapid Kato. Dikatakan infeksi berat
apabila ditemukan lebih dari 400 butir telur dalam 1 gram feses. Saat ini, teknik Kato-Katz
masih merupakan baku emas yang digunakan untuk mendiagnosis schistosomiasis. Teknik
Kato-Katz memiliki sensitivitas yang rendah apabila hanya menggunakan satu sampel saja,
sehingga sebaiknya diambil beberapa sampel dari satu individu. Untuk schistosomiasis
urogenital, pemeriksaan sampel urin dengan menggunakan teknik filtrasi dan mikroskopik
untuk mendeteksi adanya telur S. hematobium merupakan dasar untuk menemukan spesies
ini.
Selanjutnya dapat dilakukan tes imunodiagnosis apabila pemeriksaan urin atau feses
memberikan hasil negatif atau diperkirakan adanya infeksi ektopik. Hasil yang akurat
diperoleh 6-8 minggu setelah terpajan air yang tercemar dengan serkaria. Dapat dilakukan tes
seperti Indirect Hemaglutination Assay (IHA) atau Circumoval Precipitin Test (COPT) untuk
mendeteksi adanya antibodi terhadap berbagai fase schistosoma.
Pada infeksi S. mansoni dan S. japonicum, esofagoskopi atau kolonoskopi, foto thotaks, atau
USG abdomen dapat dilakukan. Gambaran USG pada hepar memberi gambaran
patognomonis berupa fibrosis periportal, sehingga tidak perlu dilakukan biopsi. Pada infeksi

S. hematobium dapat dideteksi adanya hematuria tersamar secara mikroskopik atau tes celup
terutama pada urin porsi pertama. Pada infeksi lanjut dengan pemeriksaan sistoskopi dapat
ditemukan ulkus sandy patches dan adanya daerah-daerah yang mengalami metaplasia. Pada
foto polos abdomen bagian bawah dapat ditemukan perkapuran dinding buli-buli atau ureter.
Dengan CT dapat ditemukan gambaran patognomonis kalsifikasi turtle back.
Penatalaksanaan
Praziquantel. Obat ini dikatakan efektif terhadap semua jenis spesies shcistosoma yang
menginfeksi manusia. Dosis yang digunakan adalah 30-60 mg/kg BB/hari. Efek samping
yang ditimbulkan dapat berupa malaise, sakit kepala, anoreksia, nyeri perut, diare, pruritus,
urtikaria, artralgia, dan mialgia.
Oxamniquine. Obat ini hanya efektif untuk S. mansoni. Dosis sebesar 12-15 mg/kgBB/hari
atau 40-60 mg/kgBB/hari dosis terbagi dua atau tiga selama 2-3 hari. Obat ini mempunyai
efek mutagenic dan teratogenik sehingga tidak boleh diberikan pada ibu hamil.