Anda di halaman 1dari 9

a.

Inovasi Sampah
Rogers menjelaskan inovasi adalah sebuah ide, praktek, atau objek yang dianggap

baru oleh individu satu unit adopsi lainnya (Suwarno, 2007:3). Menurut Mckeown bahwa
inovasi adalah suatu bentuk perubahan dari suatu hal, baik yang bersifat inkremental (sedikit
demi sedikit), maupun perubahan yang radikal (Ancok, 2012:34-35). Penerapan inovasi
dalam kehidupan masyarakat akan mendapatkan manfaat dari segi sosial dan ekonomi.
2.6.1

Reverse Vending Machine


RVM merupakan sebuah mesin yang digunakan untuk menerima botol PET, baterai

bekas, atau material sampah anorganik lainnya yang bisa didaur ulang. Ketika sampah
diterima oleh mesin tersebut, pengguna akan memperoleh sejumlah uang tunai sesuai dengan
harga yang ditetapkan per unit dan kuantitas barang yang diserahkan (Kelompok Kerja Air
Minum dan Penyehatan Lingkungan, 2014). Pada tahun 2011, Perusahaan Danone Aqua
bekerjasama dengan Indonesia Business Links (IBL), mendatangkan mesin penghancur
sampah yang disebut dengan Reverse Vending Machine (RVM). Mesin ini mampu mencacah
sampah botol plastik dan kaleng menjadi biji-biji plastik dan kaleng. Mesin ini bertujuan
memberi edukasi pada masyarakat Indonesia tentang pembuangan sampah yang dikemas
dalam program Gemar Membuang Sampah (GEMAS). Namun, mesin ini baru ada satu di
Indonesia dan hanya dibawa berkunjung ke beberapa tempat.

Gambar 2.. Reverse Vending Machine


Sumber: Zika Zakiya, 2012

2.6.2 Pengolahan Limbah Padat menjadi Refused Derived Fuel


Limbah Padat Kota (LMK) memiliki potensi besar sebagai bahan baku terbarukan
untuk menghasilkan energi modern melalui termokimia yang disebut pirolisis. Pirolisis

adalah proses degradasi termal dari padatan dalam kondisi tidak adanya oksigen, yang
memungkinkan terjadinya beberapa jalur konversi thermokimia sehingga padatan tersebut
menjadi gas (permanent gasses), cairan (pyrolitic liquid) dan padatan (char) (Di Blasi, 2008),
proses selanjutnya yaitu densifikasi untuk pembentukan char. Jadi proses yang dilakukan
pada intinya adalah mengolah sampah kota menjadi char/arang melalui proses pirolisis dan
kemudian memadatkannya sehingga menjadi briket char. Analisis termogravimetri dilakukan
untuk menganalisis karakteristik pembakaran briket dari briket LMK dan briket LMK char.
Sampel dalam penelitian ini adalah 70% berat komponen organik LMK -30% berat LMK
komponen non organik. Sampel 20 gram ditempatkan dalam tungku yang temperaturnya
meningkat 10 C/min dan sampai suhu sampel mencapai 400 C dan ditahan selama 30 menit
sebelum sampel didinginkan hingga mencapai suhu kamar. 100 ml/menit nitrogen
diperlihatkan dari bagian bawah tungku sebagai gas yang terbuang. Char yang sudah
terbentuk dipadatkan dan kemudian ditandai dalam keseimbangan makro produksi, diadopsi
dari Swithenbank et al. Sampel 3 gram ditempatkan dalam tungku yang temperaturnya
meningkat dengan laju pemanasan yang dipilih sampai massa sampel hampir konstan.
Penelitian menunjukkan bahwa efek pirolisis memberikan peningkatan nilai sampel
pemanasan dan memberikan suhu pengapian lebih rendah dari char briket pembakaran
( Himawanto dkk, 2010).

Gambar 2... Refused Derived Fuel


Sumber: Anonim, 2007

2.6.3

The Green Exchange (Penukaran Sampah)


Program ini merupakan salah satu program yang dimiliki kota Curitiba untuk

mengatasi permasalahan sampah perkotaan. Program yang dimulai pada tahun 1991 ini
ditujukan bagi masyarakat berpendapatan rendah. Kegiatannya adalah mengumpulkan,
memilah dan menukar sampah rumah tangga dengan barang kebutuhan sehari-hari seperti
tiket bis, buku tulis bagi anak sekolah, dan bahan makanan. Disediakan 97 lokasi penukaran
sampah yang berpindah setiap dua minggu sekali. Dalam perkembangannya pemerintah Kota

Curitiba mengeluarkan kebijakan menukar sampah dengan buah dan sayuran segar. Setiap
empat kilogram sampah dihargai setara dengan satu kilogram buah atau sayuran segar.
Melalui program ini setiap bulan ada sekitar 60.000 kilogram buah dan sayuran segar yang
dibarter dengan sampah. Pemerintah Kota Curitiba membeli buah dan sayuran segar dari
petani lokal. Program ini selain dapat menstabilkan perekonomian petani, sekaligus juga
menyediakan bahan pangan bagi 35.000 keluarga miskin serta menjaga kebersihan
lingkungan kota. Melalui program ini setiap hari ada sekitar 9 ton sampah yang berhasil
dikumpulkan masyarakat Kota Curitiba (Martins 2007 dalam Keuhn, 2007; Fazzano & Weiss,
2004).

Gambar 2.... Program Green Exchange di Curitiba


Sumber: Hikmawan, 2015

2.6.4

Insinerator
Insinerator adalah tungku pembakaran untuk mengolah limbah padat, yang

mengkonversi materi padat (sampah) menjadi materi gas, dan abu, (bottom ash dan fly ash).
Insinerasi merupakan proses pengolahan limbah padat dengan cara pembakaran pada
temperature lebih dari 800C untuk mereduksi sampah mudah terbakar (combustible) yang
sudah tidak dapat didaur ulang lagi, membunuh bakteri, virus, dan kimia toksik. Proses
insinerasi berlangsung melalui 3 tahap, yaitu:
1. Mengubah air dalam sampah menjadi uap air, hasilnya limbah menjadi kering
yang akan siap terbakar
2. Proses pirolisis, yaitu pembakaran tidak sempurna, dimana temperatur belum
terlalu tinggi
3. Proses pembakaran sempurna.
Insinerasi dapat mengurangi berat sampah 70-80 % atau volume 85- 95 %. Salah satu
kelebihan yang dikembangkan terus dalam teknologi terbaru dari insinerator ini adalah
pemanfaatan energi. Disamping itu sampah dapat dimusnahkan dengan cepat, terkendali dan
insitu, serta tidak memerlukan lahan yang luas seperti halnya proses landfill. Di beberapa

negara maju, teknologi insinerasi sudah diterapkan dengan kapasitas besar, namun dianggap
bermasalah dalam pencemaran, merupakan sumber polusi dioxin dan logam berat, seperti
merkuri dan kadmium, arsen dan kromium di udara. Teknologi ini membutuhkan biaya
investasi, operasi dan pemeliharaan yang cukup tinggi. Teknologi pembakaran sampah dalam
skala besar/skala kota dilakukan di instalasi pembakaran insinerator. Teknologi ini mampu
mengurangi sampah hingga 80 % berat, sehingga yang 20% merupakan sisa pembakaran
yang harus dibuang ke TPA atau dimanfaatkan lebih lanjut. Sisa pembakaran ini relatif stabil
dan tidak dapat membusuk lagi, sehingga lebih mudah penanganannya (A. Sutowo Latief,
2010)

Gambar 2... Insinerator


Sumber: Anonim, 2015

2.6.5

Biogas dari Limbah Organik


Biogas adalah gas mudah terbakar (flammable) yang dihasilkan dari proses

penguraian bahan organik oleh bakteri yang hidup dalam kondisi kedap udara (bakteri
anaerob) terhadap limbah-limbah organik baik di digester (pencerna) anaerob maupun di
tempat pembuangan akhir sampah atau sanitary landfill . Gas ini sering dimanfaatkan untuk
pemanas, memasak, pembangkit listrik dan transportasi. Biogas dihasilkan dari fermentasi
anaerob oleh bakteri metanogenesis pada bahan-bahan organik seperti kayu/tumbuhan, buahbuahan, kotoran hewan dan manusia merupakan gas campuran gas Metana (60-70%), CO2
dan gas lainnya. Komposisi biogas bervariasi tergantung pada limbah organik dan proses
fermentasi anaerob. potensi limbah organik adalah dari limbah organik sanitasi toilet (feces
manusia) dan sampah organik yang berasal dari sisa rumah makan dan supermarket seperti
sampah sayuran, buah-buhan, nasi daging/ikan. Biogas dapat digunakan untuk menggantikan
bahan bakar konvensional yang sudah umum digunakan seperti minyak tanah (kerosene) atau

kayu bakar, serta penggunaan biogas juga meyelamatkan lingkungan dari pencemaran dan
mengurangi kerusakan lingkungan hidup. (Budiman Richardo Saragih, 2010).
Secara umum, alur proses pencernaan/digesting limbah organik sampai menjadi
biogas

dimulai

dengan

pencernaan

limbah

organik

yang

disebut

juga

dengan

fermentation/digestion anaerob. Pencernaan tergantung kepada kondisi reaksi dan interaksi


antara bakteri methanogens, non-methanogens dan limbah organik yang dimasukkan sebagai
bahan input/feedstock kedalam digester. Proses pencernaan ini (methanization) disimpulkan
secara sederhana melalui tiga tahap, yaitu: hidrolisis (liquefaction), asidifikasi (acyd
production), dan metanogenesis (biogas production) seperti gambar berikut:

Gambar 2.7 Tiga Tahapan Proses Fermentasi Anaerob Limbah Organik


Sumber: Anonim, 2010

2.6.6

Bank Sampah
Langkah penanganan sampah perkotaan yang lain adalah pendirian bank sampah yang

sekarang marak bermunculan di sejumlah tempat. Di wilayah Kota Bogor misalnya, berdiri
bank sampah dan menjadi proyek percontohan dari KLH. Bank sampah merupakan sistem
pengolahan sampah berbasis rumah tangga dengan memberikan ganjaran berupa uang
kepada mereka yang berhasil memilah dan menyetor sampah (Sandra Kaunang, 2011).
Besarnya uang tergantung dari jenis sampah. Dengan adanya bank sampah, maka alur
kebiasaan masyarakat membuang sampah menjadi lebih baik. Proses pengumpulan sampah
dimulai dari sumber rumah tangga sampai masyarakat luas. Setelah dipilah, sampah tersebut
disetor ke bank sampah untuk diolah sesuai jenis sampah. Hasil olahan (daur ulang) dijual
kembali ke masyarakat.

Gambar 2... Proses Pengumpulan Sampah di Bank Sampah Malang


Sumber: Anonim, 2013

b. Sistem Pengelolaan Sanitasi


Berdasarkan Buku Opsi Sistem dan Teknologi Sanitasi yang dikeluarkan oleh Tim
Teknis Pembangunan Sanitasi pada tahun 2010, pengelompokan sistem sanitasi di bagi
menjadi 5 kelompok fungsional,yaitu:
2.9.1

Pembuangan (User Interface)


Pembuangan yang dimaksud adalah saluran pembuangan air limbah berupa black

water. Black water terdiri dari urine, tinja, air pembersih anus, materi pembersih yang dipakai
untuk membersihkan anus, dan air guyur (air yang dipakai untuk menggelontor kotoran
manusia dari user-interface). Pembuangan ini menggunakan WC Sentor (WC duduk maupun
WC jongkok) yang ada di MCK. MCK yang dimaksud adalah MCK yang dilengkapi dengan
kamar mandi, sarana cuci dan saluran pembuangan air limbah.
Pembuangan lain yaitu pembuangan grey water yang terdiri dari air cucian dari dapur,
air cucian pakaian, dan air untuk mandi. Pembuangan ini biasanya terjadi di tempat cuci
piring, kamar mandi, dan tempat pembuangan cucian.
2.9.2

Pengumpulan dan Penampungan dan/atau Pengolahan Awal


Pengumpulan dan penampungan dan/atau pengolahan awal adalah proses lanjutan

setelah black water dan grey water melalui pembuangan (user-interface), yaitu menggunakan
septic tank. Septic tank adalah tempat pembuangan air limbah yang melalui MCK terlebih
dahulu. Sedangkan untuk rumah yang tidak memiliki septic tank , tidak terjadi proses
pengumpulan akan tetapi dari pembuangan langsung menuju ke proses pengangkutan atau
pengaliran.

2.9.3

Pengangkutan atau Pengaliran


Pengangkutan didefinisikan sebagai perpindahan tempat, baik mengenai benda-benda

maupun orang, karena perpindahan itu mutlak dibutuhkan dalam rangka mencapai dan
meninggikan manfaat serta efisien (Sinta Uli, 2006; 20). Sedangkan yang dimaksud
pengangkutan disini adalah perpindahan tempat air limbah dari MCK dan/atau septic tank
menggunakan truk penyedot tinja (vacuum truck), drainase lingkungan, atau pipa kolektor.
2.9.4

Pengolahan Akhir Terpusat


Pengolahan disini merupakan tindakan memproses air limbah menggunakan sistem

terpusat yaitu IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah). IPAL adalah gabungan Unit
Pengolahan Tangki Imhoff dan Unit Pengolahan Kolam Stabilisasi. Tangki imhoff adalah alat
untuk mencegah padatan yang keluar dari saluran agar tidak tercampur lagi, tapi
memungkinkan padatan terurai dalam unit yang sama. Sedangkan kolam stabilisasi adalah
kolam tanah buatan yang terdiri dari serangkaian kolam anaerobik, fakultatif dan kolam
maturasi.
Pengolahan lain yaitu IPLT (Instalasi Pengolahan Limbah Tinja), yaitu instalasi
pengolahan air limbah yang dirancang hanya menerima dan mengolah lumpur tinja yang akan
diangkut melalui truk tinja (Oktarina, 2013).
2.9.5

Pembuangan akhir
Pembuangan akhir adalah proses terakhir pengolahan air limbah. Sebelumnya, air

limbah tersebut diidentifikasi terlebih dahulu masih dapat dipakai kembali atau sudah tidak
berguna yang artinya langsung dibuang ke sungai/air tanah.
Pengelolaan air limbah antara lain diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 16/2005
tentang Pengembangan Sistem Perencanaan Air Minum. Sistem pengelolaan air limbah dapat
dikelompokkan sebagai berikut:
1. Sistem setempat (On-site System)
Yaitu pengolahan air limbah (black dan grey water) yang langsung diolah setempat.
Dalam kasus sistem sanitasi setempat, kotoran manusia dan air limbah
dikumpulkan dan diolah di dalam properti (lahan) milik pribadi dengan teknologi
semisal septic tank. Selain itu, fasilitas komunal kecil, seperti septic tank komunal
(untuk 5 hingga 10 keluarga) dan fasilitas komunal seperti MCK dan MCK Plus
dengan septic tank sendiri (setempat), dapat dianggap sebagai fasilitas setempat.

Gambar 2.... Sistem Sanitasi Setempat (On-site)


Sumber: Materi Sosialisasi BPLHD DKI Jakarta, 2011

2. Sistem Terpusat (Off-Site System)\


Yaitu pengolahan yang air limbahnya dialirkan melalui perpipaan ke instalasi
pengolahan air limbah (IPAL). Sistem sanitasi terpusat, yang biasanya dikelola oleh
Pemerintah Daerah atau badan swasta resmi, mengalirkan black dan grey water
sekaligus. Sistem sanitasi terpusat dan hibrida umumnya menyertakan WC gelontor
(bukan WC simbur) yang tersambung ke saluran limbah. Untuk sistem hibrida
(semisal

small

bore

sewer),

WC

tersambung

melalui

tangki

pencegat

(interseptor).Air kotoran manusia (black water) dan air limbah rumah tangga (grey
water) umumnya digabungkan di satu tempat (bak kontrol), dan dibuang ke saluran
melalui satu sambungan rumah.

Gambar 2.... Sistem Sanitasi Terpusat (Off-site)


Sumber: Materi Sosialisasi BPLHD DKI Jakarta, 2011