Anda di halaman 1dari 51

KELOMPOK B-15

KETUA : SHELVIN DINI NAWAWI (1102013270)


SEKRETARIS

: YOLA ASTRI ARSANTI

(1102013311)

ANGGOTA :
NAURAH HADDAD (1102012190)
NINDYA ARAFAH TIAWAN

(1102012195)

NURUL HABIBAH

(1102013221)

RAIHAN ALHAZMI

(1102013242)

RIZKY CARANGGONO

(1102013257)

SITI ARAFAH NASRULLAH


TUTY FAJARYANTI

(1102013275)

(1102013291)

WENNY DAMAYANTI (1102013299)


YOVI SOFIAH

(1102013314)

KELUMPUHAN WAJAH
Perempuan berusia 50 tahun saat sedang berbelanja di pusat perbelanjaan tiba-tiba
berbicara cadel dan setelah diperhatikan oleh suaminya wajah pasien terlihat tidak
simetris. Pasien juga mengeluh anggota gerak sisi kiri lebih lemah dibanding kanan.
Suami langsung membawa istrinya ke IGD RS terdekat. Pemeriksaan tanda vital
menunjukkan hipertensi. Pada pemeriksaan fisik ditemukan wajah tidak simetris.
Sulkus nasolabialis kiri tampak mendatar, namun kerutan dahi simetris. Pada saat
menjulurkan lidah, mencong ke sisi kiri tanpa adanya atrofi papil dan fasikulasi.
Terdapat hemiparesis sinistra. Dokter mengatakan pasien mengalami stroke. Sebagai
seorang suami, ia berkewajiban untuk menyantuni dan merawat istrinya dengan baik
sesuai dengan ajaran Islam.

SASARAN BELAJAR

LI. 1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Vaskularisasi Otak, N. Cranialis, Jaras Sensorik dan Motorik
1.1 Memahami dan Menjelaskan Anatomi Vaskularisasi Otak
1.2 Memahami dan Menjelaskan Anatomi Nervus Cranialis
1.3 Memahami dan Menjelaskan Jaras Sensorik dan Motorik
LI. 2. Memahami dan Menjelaskan Kelainan Fungsi Sensoris dan Motoris N. Cranialis
LI. 3. Memahami dan Menjelaskan Stroke
3.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Stroke
3.2 Memahami dan Menjelaskan Etiologi Stroke
3.3 Memahami dan Menjelaskan Epidemiologi
3.4 Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Stroke
3.5 Memahami dan Menjelaskan Patofisiologi Stroke
3.6 Memahami dan Menjelaskan Manifestasi Klinis Stroke
3.7 Memahami dan Menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis Banding Stroke
3.8 Memahami dan Menjelaskan Penatalaksanaan Stroke
3.9 Memahami dan Menjelaskan Komplikasi Stroke
3.10 Memahami dan Menjelaskan Pencegahan Stroke
3.11 Memahami dan Menjelaskan Prognosis Stroke
LI. 4. Memahami dan Menjelaskan Kewajiban Suami dan Istri

LI. 1. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ANATOMI


VASKULARISASI OTAK, NERVUS CRANIALIS, SISTEM
MOTORIK DAN SENSORIK
1.2 Memahami dan Menjelaskan Anatomi Vaskularisasi Otak
Pembuluh Nadi
Darah mengalir ke otak melalui dua arteri carotis dan dua arteri vertebralis
A. Carotis Interna
A. Vertebralis
A. Basilaris
Circulus Arteriosus Willisi
Pembuluh nadi untuk daerah otak khusus
Pembuluh Balik
Vv. Cerebrales superficialis (V. Cerebri externa)
Vv. Cerebrales profunda (V. Cerebri interna)

1.2 Memahami dan Menjelaskan Anatomi Nervus


Cranialis

Nerv
us
I
Olfaktori

Nama

Jenis
Sensori

II

Optik

Sensori

III
IV
V

Okulomotor
Troklear
Trigeminal

Motorik
Motorik
Gabungan

VI
VII

Abdusen
Fasial

Motorik
Gabungan

VIII

Vestibulokoklear

Sensori

IX

Glosofaringeal

Gabungan

Vagus

Gabungan

Aksesori
Hipoglosal

Motorik
Motorik

XI
XII

Fungsi
Menerima
rangsang
dari
hidung
dan
menghantarkannya ke otak untuk diproses
sebagai sensasi bau
Menerima
rangsang
dari
mata
dan
menghantarkannya ke otak untuk diproses
sebagai persepsi visual
Menggerakkan sebagian besar otot mata
Menggerakkan beberapa otot mata
Sensori: Menerima rangsangan dari wajah
untuk diproses di otak sebagai sentuhan
Motorik: Menggerakkan rahang
Abduksi mata
Sensorik: Menerima rangsang dari bagian
anterior lidah untuk diproses di otak sebagai
sensasi
rasa
Motorik: Mengendalikan otot wajah untuk
menciptakan ekspresi wajah
Sensori
sistem vestibular:
Mengendalikan
keseimbangan
Sensori koklea: Menerima rangsang untuk
diproses di otak sebagai suara
Sensori: Menerima rangsang dari bagian
posterior lidah untuk diproses di otak sebagai
sensasi
rasa
Motorik: Mengendalikan organ-organ dalam
Sensori: Menerima rangsang dari organ dalam
Motorik: Mengendalikan organ-organ dalam
Mengendalikan pergerakan kepala
Mengendalikan pergerakan lidah

1.3 MEMAHAMI DAN MENJELASKAN


JARAS SENSORIK DAN MOTORIK

SENSORIK
Tiga stasion jalan sensorik :
Neuron orde pertama
Neuron orde kedua
Neuron orde ketiga

Lemniscus spinalis naik ke atas di bagian belakang pons

Tractus spinothalamicus lateralis


Jalan pada medulla spinalis :
Axon dari neuron orde pertama
(ganglion spinale)
Axon dari neuron orde kedua
Jalan pada medulla oblongata
Pada medulla oblongata tractus tsb.
Terletak pada dataran lateral antara nucleus
olivarius inferius dengan nucleus tractus
spinalis N. Trigeminus.

Jalan pada mesencephalon

Lemniscus spinalis jalan pada tegmentum, lateralis dari lemniscus medialis

Jalan raya sensasi sakit dan suhu

Jalan pada pons

Jalan pada diencephalon

Serabut saraf tractus spinothalamicus lateralis akan bersinapsis dengan neuron orde
ketiga

Jalan ke cortex cerebri

Axon dari neuron orde ketiga jalan memasuki crus posterior capsula interna dan
corona radiata untuk berakhir pada gyrus postcentralis (area brodmann 3, 2, 1)

Jalan raya sensasi sakit dan suhu


Nama jalan : Tractus spinothalamicus lateralis

Jalan pada mesencephalon

Lemniscus spinalis jalan pada tegmentum, lateralis dari lemniscus medialis

Jalan pada medulla spinalis :

Axon dari neuron orde pertama


(ganglion spinale)

Serabut saraf tractus spinothalamicus lateralis akan bersinapsis dengan neuron orde
ketiga

Axon dari neuron orde kedua

Jalan pada diencephalon

Jalan ke cortex cerebri

Axon dari neuron orde ketiga jalan memasuki crus posterior capsula interna dan
corona radiata untuk berakhir pada gyrus postcentralis (area brodmann 3, 2, 1).

Jalan pada medulla oblongata

Pada medulla oblongata tractus tsb.


Terletak pada dataran lateral antara nucleus
olivarius inferius dengan nucleus tractus
spinalis N. Trigeminus.
Jalan pada pons

Lemniscus spinalis naik ke atas di bagian


belakang pons

Jalan raya sensasi sentuhan ringan dan


tekanan

Jalan ke cortex cerebri

Axon neuron orde ketiga jalan dalam crus posterius capsula interna dan corona
radiata untuk berakhir pada cortex gyrus postcentralis (area Brodmann 3,2,1)

Nama jalan : tractus spinothalamicus anterius


Jalan pada medulla spinalis
Axon dari neuron orde pertama : ganglion
spinale memasuki ujung cornu posterius
medulla spinalis

Jalan raya pembedaan sensasi diskriminasi sentuhan, getaran sendi/otot sadar


Nama jalan : fasciculus gracilis dan fasciculus cuneatus

Jalan dalam medulla spinalis

Axon dari neuron order pertama (ganglion spinale) memasuki cornu posterius
substansia alba sisi yang sama untuk segera bercabang 2 :

Cabang turun

Jalan pada medulla oblongata


Jalan beriringan dengan tractus spinothalamicus
lateralis dan tractus spinotectalis, semuanya
disebut sebagai Lemniscus spinalis
Jalan pada pons, mesencephalon dan
diencephalon
Beriringan dengan lemniscus medialis untuk
akhirnya bersinapsis pada neuron orde ketiga
pada neuron yang sama dengan lemniscus
medialis

Cabang naik

Jalan dalam medulla oblongata

Axon dari neuron orde pertama jalan ke atas secara ipsilateral (tidak menyilang garis
tengah) dan akan bersinapsis dengan neuron orde kedua

Jalan dalam pons, mesencephalon


dan diencephalon

MOTORIK

Setelah decussatio dia jalan ke atas sebagai


lemniscus medialis untuk berakhir pada
neuron orde ketiga

1. Systema pyramidalis s. Tractus corticospinalis


2. Systema Extrapyramidalis
Yang datang dari batang otak menuju medulla spinalis:
Tractus reticulospinalis

Jalan ke cortex cerebri

Tractus tectospinalis

Axon dari neuron orde ketiga kemudian jalan


dalam crus posterius capsula interna
dan corona radiata menuju gyrus
postcentralis (area Brodmann 3,2,1).

Tractus rubrospinalis

Jalan raya sensasi otot sadar(otot lurik)


dan sendi ke cerebellum
1. Tractus spinocerebellaris posterius
2. Tractus spinocerebellaris anterius
3. Tractus cuneocerebellaris

Tractus vestibulospinalis
Tractus olivospinalis
Yang datang dari cortex cerebri menuju batang otak
disebut sebagai tractus corticobulbaris:
Tractus corticostriata
Tractus corticothalamicus
Tractus corticohypothalamicus
Tractus corticonigra
Serabut serabut yang berasal dari area Brodmann 4 dan
6 tapi khusus menuju ke : Tegmentum, Nuclei pontis,
Nucleus olivarius inferius

Pusat : jalan raya motorik punya 2 pusat :


1. Neuron motorik atas atau pusat supraspinal
2. Neuron motorik bawah atau pusat spinal
Yang termasuk systema pyramidalis
Tractus Corticospinalis
Asal: Neuron orde pertama
. 1/3 berasal dari area 4 Brodmann (pusat motorik primer) pada gyrus precentralis
. 1/3 berasal dari area 6 Brodmann (pusat motorik sekunder) pada gyrus precentralus
. 1/3 berasal dari area 3, 2, 1 Brodmann (pusat somastesi) pada gyrus postcentralis

YANG TERMASUK SYSTEMA


EXTRAPYRAMIDALIS:
Datang dari Batang Otak menuju Medulla Spinalis
1. Tractus reticulospinalis
. Asal : Formatio reticulare yang terletak sepanjang mesencephalon, pons dan
medulla oblongata (neuron orde pertama).
. Tujuan : cornu anterius medulla spinalis (pusat spinal: neuron orde kedua dan ketiga)

2. Tractus Tectospinalis
Asal : colliculus superior mesencephalon
(neuron orde pertama)
Tujuan : cornu anterius medulla spinalis
(pusat spinal) dan bersinaps dengan neuron
orde kedua dan ketiga

3. Tractus Rubrospinalis

Asal : nucleus ruber (neuron orde pertama) pada


tegmentum mes-encephalon setinggi coliculus
superior.

4. Tractus vestibulospinalis
Asal : nuclei vestibularis = neuron orde
pertama (dalam pons dan med.
oblongata), menerima akson dari auris
interna melalui N.vestibularis dan
cerebelum
Tujuan : cornu anterius medulla spinalis
(pusat spinal)

5. Tractus olivospinalis

Asal : nucleus olivarius inferius (neuron orde pertama), menerima axon dari :
cortex cerebrii, corpus striatum, nuceu ruber

Tujuan : cornu anterius med. spinalis (pusat spinal)

Datang dari Cortex Cerebri menuju


Batang Otak
1. Tractus corticostriata
Asal : Area 4s, 6, 8, dan 9 brodmann
Tujuan : nucleus caudatus dan globus pallidus
2. Tractus corticothalamicus
. Asal : area brodmann 10, 11, 12
Tujuan : nucleus medialis thalami
. Asal : area brodmann 9 dan 11
Tujuan : nuclei septi thalami
. Asal : area brodmann 9
Tujuan : nucleus medialis et lateralis thalami
. Asal : area brodmann 6
Tujuan : nuclei septi thalami, nucleus medualis
et lateralis thalami

Asal : area brodmann 4

Tujuan : nuclei lateralis thalami

3. Tractus corticohypothalamicus
Asal : cortex hypocampi
Tujuan : hypothalamus
4. Tractus corticosubthalamicus
Asal : area brodman 6
Tujuan : subthalamus
5. Tractus Corticonigra
Asal : area brodmann 4, 6 dan 8
Tujuan : substantia nigra
6. Tractus yang berasal dari area brodmann 4 dan 6

Tujuan : tegmentum (mesencephalon), nuclei pontis (pons), nucleus olivarius


inferius (medulla oblongata)

LI. 2. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN


KELAINAN FUNGSI SENSORIS DAN MOTORIS
NERVUS CRANIALIS
Kelainan Yang Dapat Menimbulkan Gangguan Pada Nervus N.I
Kelainan pada nervus olfaktovius dapat menyebabkan suatu keadaan berapa gangguan
penciuman sering dan disebut anosmia, dan dapat bersifat unilatral maupun bilateral. Pada
anosmia unilateral sering pasien tidak mengetahui adanya gangguan penciuman.
Kelainan Yang Dapat Menimbulkan Gangguan Pada Nervus N.II
Kelainan pada nervus optikus dapat menyebabkan gangguan penglihatan. Gangguan
penglihatan dapat dibagi menjadi gangguan visus dan gangguan lapangan pandang.
Kelainan Yang Dapat Menimbulkan Gangguan Pada Nervus N.III
Kelainan berupa paralisis nervus okulomatorius menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak
ke medial, ke atas dan lateral, ke bawah dan keluar. Juga mengakibatkan gangguan fungsi
parasimpatis untuk kontriksi pupil dan akomodasi, sehingga reaksi pupil akan berubah. N. III
juga mempersarafi otot kelopak mata untuk membuka mata, sehingga kalau lumpuh,
kelopak mata akan jatuh (ptosis).

Kelainan Yang Dapat Menimbulkan Gangguan Pada Nervus N.IV


Kelainan berupa paralisis nervus troklearis menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak kebawah dan
kemedial. Ketika pasien melihat lurus kedepan atas, sumbu dari mata yang sakit lebih tinggi daripada mata
yang lain.
Kelainan Yang Dapat Menimbulkan Gangguan Pada Nervus N.V
Kelainan yang dapat menimbulkan gangguan pada nerus trigeminus antara lain : Tumor pada bagian fosa
posterior dapat menyebabkan kehilangan reflek kornea, dan rasa baal pada wajah sebagai tanda-tanda
dini. Gangguan nervus trigeminus yang paling nyata adalah neuralgia trigeminal atau tic douloureux yang
menyebabkan nyeri singkat dan hebat sepanjang percabangan saraf maksilaris dan mandibularis dari
nervus trigeminus
Kelainan Yang Dapat Menimbulkan Gangguan Pada Nervus N.VI
Kelainan pada paralisis nervus abdusens menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak ke lateral, ketika
pasien melihat lurus ke atas, mata yang sakit teradduksi dan tidak dapat digerakkan ke lateral, ketika
pasien melihat ke arah nasal, mata yang paralisis bergerak ke medial dan ke atas karena predominannya
otot oblikus inferior. Jika ketiga saraf motorik dari satu mata semuanya terganggu, mata tampak melihat
lurus keatas dan tidak dapat digerakkan kesegala arah dan pupil melebar serta tidak bereaksi terhadap
cahaya (oftalmoplegia totalis).
Kelainan Yang Dapat Menimbulkan Gangguan Pada Nervus N.VII
Kelainan yang dapat menyebabkan paralis nervus fasialis antara lain:
Lesi UMN (supranuklear) : tumor dan lesi vaskuler.
Lesi LMN : penyebab pada pons, meliputi tumor, lesi vaskuler dan siringobulbia.

Kelainan Yang Dapat Menimbulkan Gangguan Pada Nervus N.VIII


Kelainan pada nervus vestibulokoklearis dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan
keseimbangan (vertigo).
Kelainan Yang Dapat Menimbulkan Gangguan Pada Nervus N.IX dan N.X
Gangguan pada komponen sensorik dan motorik dari N. IX dan N. X dapat mengakibatkan
hilangnya refleks menelan yang berisiko terjadinya aspirasi paru. Kehilangan refleks ini pada
pasien akan menyebabkan pneumonia aspirasi, sepsis dan adult respiratory distress
syndrome (ARDS) kondisi demikian bisa berakibat pada kematian. Gangguan nervus IX dan
N. X menyebabkan persarafan otot-otot menelan menjadi lemah dan lumpuh.
Kelainan Yang Dapat Menimbulkan Gangguan Pada Nervus N.XI
Gangguan N. XI mengakibatkan kelemahan otot bahu (otot trapezius) dan otot leher (otot
sterokleidomastoideus). Pasien akan menderita bahu yang turun sebelah serta kelemahan
saat leher berputar ke sisi kontralateral.
Kelainan Yang Dapat Menimbulkan Gangguan Pada Nervus N.XII
Kerusakan nervus hipoglossus dapat disebabkan oleh kelainan di batang otak, kelainan
pembuluh darah, tumor dan syringobulbia. Kelainan tersebut dapat menyebabkan gangguan
proses pengolahan makanan dalam mulut, gangguan menelan dan gangguan proses
pengolahan makanan dalam mulut, gangguan menelan dan gangguan bicara (disatria) jalan
nafas dapat terganggu apabila lidah tertarik ke belakang.

KELAINAN FUNGSI MOTORIK

UMN
Spastis
Atropi (-)
Refleks fisiologis
meningkat
Refleks patologis
(+)
Tonus meningkat

LMN
Flaccid
Atropi (+)
Refleks fisiologis
menurun
Refleks patologis
(-)
Tonus menurun

PEMERIKSAAN
Inspeksi
Palpasi
Pasien disuruh mengistirahatkan ototnya. Kemudian otot ini dipalpasi untuk menentukan konsistensi
serta adanya nyeri tekan. Dengan palpasi kita dapat menilai tonus otot, terutama bila ada hipotoni.
Pemeriksaan Gerakan Pasif
Penderita disuruh mengistirahatkan ekstremitasnya.
Bagian dari ekstremitas ini kita gerakkan pada persendiannya. Gerakan dibuat bervariasi, mula-mula
cepat kemudian lambat,cepat, lebih lambat, dst.
Sambil menggerakkan kita nilai tahanannya.
Dalam keadaan normal kita tidak menemukan tahanan yang berarti, jika penderita dapat
mengistirahatkan ekstre-mitasnya dengan baik.
Pemeriksaan Gerak Aktif
Pada pemeriksaan ini kita nilai kekuatan (kontraksi) otot. Untuk memeriksa adanya kelumpuhan, kita dapat
menggunakan 2 cara berikut:
Pasien disuruh menggerakkan bagian ekstremitas atau badannya dan kita menahan gerakan ini
Pemeriksa menggerakkan bagian ekstremitas atau badan pasien dan ia disuruh menahan
Pemeriksaan Koordinasi Gerak

LI. 3. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN


STROKE
3.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Stroke
Definisi stroke menurut World Health Organization (WHO) adalah tanda-tanda klinis yang
berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global), dengan gejala-gejala
yang berlangsung selama 24 jam atau lebih, dapat menyebabkan kematian, tanpa adanya
penyebab lain selain vaskuler.
3.2 Memahami dan Menjelaskan Etiologi Stroke
Trombosis serebral
Embolisme serebral
Iskemia serebral
Haemorrhagi serebral

Faktor Resiko
a. Faktor Resiko Yang Tak Dapat Diubah
. Umur
. Jenis Kelamin
. Berat Lahir Yang Rendah
. Ras
. Faktor Keturunan
b. Faktor Resiko Yang Dapat Diubah
. Hypertensi/tekanan darah tinggi
. Merokok
. Diabetes
. Kenaikan kadar cholesterol/lemak
darah
. Penyempitan Pembuluh darah Carotis

3.3 Memahami dan Menjelaskan


Epidemiologi Stroke
Diperkirakan ada 500.000 penduduk yang terkena stroke. Dari jumlah tersebut,
sepertiganya bisa pulih kembali, sepertiga lainnya mengalami gangguan
fungsional ringan sampai sedang dan sepertiga sisanya mengalami gangguan
fungsional berat yang mengharuskan penderita terus menerus di kasur

3.4 Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Stroke


1. Berdasarkan kelainan patologis
. Stroke hemoragik
a. Perdarahan intra serebral
b. Perdarahan ekstra serebral (subarakhnoid)

. Stroke non-hemoragik (stroke iskemik, infark otak, penyumbatan)


a. Stroke akibat trombosis serebri
b. Emboli serebri
c. Hipoperfusi sistemik

2. Berdasarkan waktu terjadinya


d. Transient Ischemic Attack (TIA)
e. Reversible Ischemic Neurologic Deficit (RIND)
f. Stroke In Evolution (SIE) / Progressing Stroke

3. Berdasarkan lokasi lesi vaskuler


g. Sistem karotis
h. Sistem vertebrobasiler

3.5 Memahami dan Menjelaskan Patofisiologi Stroke


Stroke Iskemik

Stroke Hemoragik

3.6 Memahami dan Menjelaskan Manifestasi Klinis Stroke


Berdasarkan lokasinya di tubuh, gejala-gejala stroke terbagi menjadi berikut:
1. Bagian sistem saraf pusat : Kelemahan otot (hemiplegia), kaku, menurunnya fungsi sensorik
2. Batang otak, dimana terdapat 12 saraf cranial : Menurun kemampuan membau, mengecap,
mendengar, dan melihat parsial atau keseluruhan, refleks menurun, ekspresi wajah terganggu,
pernafasan dan detak jantung terganggu, lidah lemah.
3. Cerebral cortex : Aphasia, apraxia, daya ingat menurun, hemineglect, kebingungan.

Jika tanda-tanda dan gejala tersebut hilang dalam waktu 24 jam, dinyatakan sebagai Transient Ischemic
Attack (TIA), dimana merupakan serangan kecil atau serangan awal stroke.
Menurut the U.S. National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), ini adalah lima tandatanda utama dari stroke:
1. Kematian rasa (kekebasan) atau kelemahan-kelemahan yang mendadak dari muka, tangan atau kaki,
terutama pada satu sisi dari tubuh. Kehilangan dari gerakan sukarela (voluntary movement) dan/atau
sensasi mungkin adalah sepenuhnya atau sebagian. Mungkin juga ada suatu sensasi kegelian (kesemutan)
yang berkaitan pada area yang terpengaruh.
2. Kebingungan atau kesulitan berbicara atau mengerti yang mendadak. Adakalanya kelemahan pada otototot muka dapat menyebabkan pengeluaran air liur.
3. Kesulitan melihat yang mendadak pada satu atau kedua mata
4. Kesulitan berjalan, kepeningan, kehilangan keseimbangan atau koordinasi yang mendadak.
5. Sakit kepala yang parah yang mendadak dengan penyebab yang tidak diketahui

3.7 MEMAHAMI DAN MENJELASKAN DIAGNOSIS DAN


DIAGNOSIS BANDING STROKE
DIAGNOSIS
Anamnesis
Pemeriksaan Fisik
Pada penderita stoke gangguan ketangkasan gerak akan disertai gangguan upper
motoneuron yang berupa :
Tonus otot pada sisi yang lumpuh meninggi.
Refleks tendon meningkat pada sisi yang lumpuh.
Refleks patologik positif (misal refleks Babinski, Chaddocck dan Oppenheim pada sisi
yang lumpuh.

SKOR DIAGNOSIS STROKE MENURUT


SIRIRAJ
(2,5 X DK) + (2 X MT) + (2 X NK) + (0,1 X TD) (3 X TA) 12
Keterangan :
DK = Derajat kesadaran (Sadar = 0, mengantuk/stupor = 1, semikoma/koma = 2)
MT = Muntah (Tidak muntah = 0, muntah = 1)
NK = Nyeri kepala (Tidak nyeri kepala = 0, nyeri kepala = 1)
TD = Tekanan darah diastolic
TA = Tanda ateroma (Tidak ada tanda ateroma = 0, ada tanda ateroma (seperti :
diabetes angina, penyakit pembuluh darah perifer = 1
Bila skor total > 1, berarti stroke perdarahan
Bila skor total < -1, berarti srtoke iskemik

SKOR GAJAH MADA

PEMERIKSAAN PENUNJANG
CT-scan

Stroke

CT-SCAN STROKE INFARK DAN STROKE


HEMORAGIK

Magnetic Resonance Imaging (MRI)


Karakteristik MRI pada stroke hemoragik dan stroke infark

Computerized tomography dengan


angiography
Angiogram Konvensional
Carotid Doppler ultrasound
Tes-Tes Jantung
Tes-Tes Darah

DIAGNOSIS BANDING

Acute Coronary Syndrome

Atrial Fibrillation

Bell Palsy

Benign Positional Vertigo

Brain Abscess

Epidural Hematoma

Hemorrhagic Stroke in Emergency Medicine

Inner Ear Labyrinthitis

Myocardial Infarction

Neoplasms, Brain

Subarachnoid Hemorrhage

Syncope

Transient Ischemic Attack

3.8 Memahami dan Menjelaskan Penatalaksanaan Stroke

Perawatan suportif

Pengobatan Umum
Untuk pengobatan umum ini dipakai patokan 5 B yaitu:

1.

Pelihara oksigenasi jaringan secara adekuat

1.

Breathing

2.

Tekanan darah

2.

Brain

3.

Status volume darah

3.

Blood

4.

Demam

4.

Bowel

5.

Hypoglycemia/dan atau hyperglycemia

5.

Bladder

6.

Profilaksis DVT

Terapi Umum Stroke Iskemik


Letakkan kepala pasien pada posisi 300, kepala dan dada pada satu bidang
bebaskan jalan napas, beri oksigen 1-2 liter/menit sampai didapatkan hasil analisis gas darah.
Pemberian nutrisi dengan cairan isotonik, kristaloid atau koloid 1500-2000 mL dan elektrolit sesuai
kebutuhan, hindari cairan mengandung glukosa atau salin isotonik.
Kadar gula darah >150 mg% harus dikoreksi sampai batas gula darah sewaktu 150 mg% dengan insulin
drip intravena kontinu selama 2-3 hari pertama. Hipoglikemia (kadar gula darah < 60 mg% atau < 80
mg% dengan gejala) diatasi segera dengan dekstrosa 40% iv sampai kembali normal dan harus dicari
penyebabnya.
Nyeri kepala atau mual dan muntah diatasi dengan pemberian obat-obatan sesuai gejala. Tekanan
darah tidak perlu segera diturunkan, kecuali bila tekanan sistolik 220 mmHg, diastolik 120 mmHg,
Mean Arterial Blood Pressure (MAP) 130 mmHg
tekanan sistolik 90 mm Hg, diastolik 70 mmHg, diberi NaCl 0,9% 250 mL selama 1 jam, dilanjutkan
500 mL selama 4 jam dan 500 mL selama 8 jam atau sampai hipotensi dapat diatasi.
didapatkan tekanan intrakranial meningkat, diberi manitol bolus intravena 0,25 sampai 1 g/ kgBB per
30 menit

Terapi khusus Stroke Iskemik


reperfusi dengan pemberian antiplatelet seperti aspirin dan anti koagulan, atau yang dianjurkan dengan
trombolitik rt-PA (recombinant tissue Plasminogen Activator). Dapat juga diberi agen neuroproteksi, yaitu
sitikolin atau pirasetam (jika didapatkan afasia).

Terapi umum Stroke Hemoragik


dirawat di ICU jika volume hematoma >30 mL, perdarahan intraventrikuler dengan hidrosefalus, dan
keadaan klinis cenderung memburuk.
Tekanan darah harus diturunkan sampai tekanan darah premorbid atau 15-20% bila tekanan sistolik
>180 mmHg, diastolik >120 mmHg, MAP >130 mmHg
Jika didapatkan tanda tekanan intrakranial meningkat, posisi kepala dinaikkan 300, posisi kepala dan
dada di satu bidang, pemberian manitol
Terapi khusus Stroke Hemoragik
Neuroprotektor dapat diberikan kecuali yang bersifat vasodilator. Pada perdarahan subaraknoid, dapat
digunakan antagonis Kalsium (nimodipin) atau tindakan bedah (ligasi, embolisasi, ekstirpasi, maupun
gamma knife)
Penatalaksanaan Stroke Hemoragik
1. Pada TIK yang meninggi :
. Manitol bolus, 1 gr/kgBB
. Gliserol 50% oral
. Furosemid 1mg/ kg BB intravena
. Intubasi dan hiperventilasi terkontrol sampai pCO 2 29-35 mmHg
. Penggunaan steroid masih kontroversial.
. Kraniotomi dekompresif.

2. Perdarahan subaraknoid
Nimodipin digunakan untuk mencegah vasospasme.
Tindakan operasi dapat dilakukan pada perdarahan subaraknoid stadium I dan II akibat pecahnya
aneurisma sakular berry dan adanya komplikasi hidrosefalus obstruktif.

3. Penatalaksanaan Stroke Non-Hemoragik


Tujuan terapi:
Pencegahan stroke melalui reduksi faktor risiko.
Pencegahan sejak awal atau pada stroke yang rekuren dengan memodifikasi proses patologik
mendasar.
Mereduksi kerusakan otak sekunder dengan pemeliharaan perfusi yang adekuat pada daerah yang
secara garis besar mengalami iskemik dengan mengurangi dan atau menurunkan edema.
4. Penanganan dari Serangan Iskemia Akut
Mengeleminasi atau mengontrol faktor-faktor risiko.
Memberi edukasi pada pasien mengenai pengurangan faktor risiko dan tanda serta gejala-gejala
dari TIA dan stroke ringan.
Intervensi-Bedah (Endarterektomi karotis ( Cea), Angioplasti balon, Penempatan Sten)

3.9 Memahami dan Menjelaskan Komplikasi Stroke


Komplikasi Akut

Kenaikan tekanan darah


Kadar gula darah
Gangguan jantung
Gangguan respirasi
Infeksi dan sepsis
Gangguan cairan, elektrolit, asam dan basa
Ulcer stres
Komplikasi Kronik

pneumonia, dekubitus, inkontinensia serta berbagai akibat imobilisasi lain.


Rekurensi stroke.
Gangguan sosial-ekonomi.
Gangguan psikologis

a. Komplikasi Dini (0-48 jam pertama)


. Edema serebri
. Infark miokard
b. Komplikasi Jangka pendek (1-14 hari pertama)
. Pneumonia
. Infark miokard
. Emboli paru
. Stroke rekuren
c. Komplikasi Jangka panjang
. Stroke rekuren, infark miokard, gangguan vaskular lain: penyakit vascular perifer.

3.10 Memahami dan Menjelaskan Pencegahan Stroke


Rekomendasi American Stroke Association (ASA) tentang pencegahan stroke adalah sebagai berikut:
Pencegahan Primer Stroke
Pendekatan pada pencegahan primer adalah mencegah dan mengobati faktor-faktor risiko yang
dapat dimodifikasi.

Hipertensi
Diabetes melitus
Lipid
Merokok
Obesitas
Aktivitas fisik
Pencegahan Sekunder Stroke
Pencegahan sekunder stroke mengacu pada kepada strategi untuk mencegah kekambuhan
stroke. Pendekatan utama adalah mengendalikan hipertensi, CEA, dan memakai obat
antiagregat antitrombosit.

3.11 MEMAHAMI DAN MENJELASKAN PROGNOSIS


STROKE
Stroke Non Hemoragik

Indikator prognosis adalah : lokasi dan luas area lesi, umur, tipe stroke, cepat
lambatnya penanganan serta kerjasama tim medis dengan pasien dan keluarga.
Hanya 1/3 pasien bisa kembali pulih setelah serangan stroke iskemik
Umumnya, 1/3-nya lagi adalah fatal, dan 1/3- nya mengalami kecacatan jangka
panjang
Jika pasien mendapat terapi dengan tepat dalam waktu 3 jam setelah serangan, 33%
diantaranya mungkin akan pulih dalam waktu 3 bulan

Stroke Hemoragik
Prognosis pasien dgn stroke hemoragik (perdarahan intrakranial) tergantung pada
ukuran hematoma :
Hematoma > 3 cm umumnya mortalitasnya besar
Hematoma yang massive biasanya bersifat lethal
Jika infark terjadi pada spinal cord prognosis bervariasi tergantung keparahan
gangguan neurologis, jika control motorik dan sensasi nyeri terganggu maka
prognosis jelek.

LI. 4. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN


KEWAJIBAN SUAMI DAN ISTRI
Hak Bersama Suami Istri
Suami istri, hendaknya saling menumbuhkan suasana mawaddah dan rahmah. (ArRum: 21)
Hendaknya saling mempercayai dan memahami sifat masing-masing pasangannya.
(An-Nisa: 19 Al-Hujuraat: 10)
Hendaknya menghiasi dengan pergaulan yang harmonis. (An-Nisa: 19)
Hendaknya saling menasehati dalam kebaikan. (Muttafaqun Alaih)

ADAB SUAMI KEPADA ISTRI

Suami hendaknya menyadari bahwa istri adalah suatu ujian dalam menjalankan agama. (Ataubah: 24)
Seorang istri bisa menjadi musuh bagi suami dalam mentaati Allah clan Rasul-Nya. (AtTaghabun: 14)
Hendaknya senantiasa berdoa kepada Allah meminta istri yang sholehah. (AI-Furqan: 74)
Diantara kewajiban suami terhadap istri, ialah: Membayar mahar, Memberi nafkah (makan,
pakaian, tempat tinggal), Menggaulinya dengan baik, Berlaku adil jika beristri lebih dari satu.
(AI-Ghazali)
Jika istri berbuat Nusyuz, maka dianjurkan melakukan tindakan berikut ini secara berurutan:
(a) Memberi nasehat, (b) Pisah kamar, (c) Memukul dengan pukulan yang tidak menyakitkan.
(An-Nisa: 34) Nusyuz adalah: Kedurhakaan istri kepada suami dalam hal ketaatan kepada
Allah.
Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah, yang paling baik akhlaknya dan paling
ramah terhadap istrinya/keluarganya. (Tirmudzi)
Suami tidak boleh kikir dalam menafkahkan hartanya untuk istri dan anaknya.(Ath-Thalaq: 7)
Suami dilarang berlaku kasar terhadap istrinya. (Tirmidzi)
Hendaklah jangan selalu mentaati istri dalam kehidupan rumah tangga. Sebaiknya terkadang
menyelisihi mereka. Dalam menyelisihi mereka, ada keberkahan. (Baihaqi, Umar bin Khattab
ra., Hasan Bashri)

Suami hendaknya bersabar dalam menghadapi sikap buruk istrinya. (Abu Yala)
Suami wajib menggauli istrinya dengan cara yang baik. Dengan penuh kasih sayang,
tanpa kasar dan zhalim. (An-Nisa: 19)
Suami wajib memberi makan istrinya apa yang ia makan, memberinya pakaian, tidak
memukul wajahnya, tidak menghinanya, dan tidak berpisah ranjang kecuali dalam rumah
sendiri. (Abu Dawud).
Suami wajib selalu memberikan pengertian, bimbingan agama kepada istrinya, dan
menyuruhnya untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. (AI-Ahzab: 34, At-Tahrim : 6,
Muttafaqun Alaih)
Suami wajib mengajarkan istrinya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan wanita (hukum-hukum
haidh, istihadhah, dll.). (AI-Ghazali)
Suami wajib berlaku adil dan bijaksana terhadap istri. (An-Nisa: 3)
Suami tidak boleh membuka aib istri kepada siapapun. (Nasai)
Apabila istri tidak mentaati suami (durhaka kepada suami), maka suami wajib
mendidiknya dan membawanya kepada ketaatan, walaupun secara paksa. (AIGhazali)
Jika suami hendak meninggal dunia, maka dianjurkan berwasiat terlebih dahulu kepada
istrinya. (AI-Baqarah: 40)

ADAB ISTERI KEPADA SUAMI


Hendaknya istri menyadari clan menerima dengan ikhlas bahwa kaum laki-Iaki adalah
pemimpin kaum wanita. (An-Nisa: 34)
Hendaknya istri menyadari bahwa hak (kedudukan) suami setingkat lebih tinggi daripada
istri. (Al-Baqarah: 228)
Istri wajib mentaati suaminya selama bukan kemaksiatan. (An-Nisa: 39)
Diantara kewajiban istri terhadap suaminya, ialah:
a. Menyerahkan dirinya,
b. Mentaati suami,
c. Tidak keluar rumah, kecuali dengan ijinnya,
d. Tinggal di tempat kediaman yang disediakan suami
e. Menggauli suami dengan baik. (Al-Ghazali)
Istri hendaknya selalu memenuhi hajat biologis suaminya, walaupun sedang dalam
kesibukan. (Nasa i, Muttafaqun Alaih)

Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur untuk menggaulinya, lalu sang
istri menolaknya, maka penduduk langit akan melaknatnya sehingga suami
meridhainya. (Muslim)
Istri hendaknya mendahulukan hak suami atas orang tuanya. Allah swt. mengampuni
dosa-dosa seorang Istri yang mendahulukan hak suaminya daripada hak orang tuanya.
(Tirmidzi)
Yang sangat penting bagi istri adalah ridha suami. Istri yang meninggal dunia dalam
keridhaan suaminya akan masuk surga. (Ibnu Majah, TIrmidzi)
Kepentingan istri mentaati suaminya, telah disabdakan oleh Nabi saw.: Seandainya
dibolehkan sujud sesama manusia, maka aku akan perintahkan istri bersujud kepada
suaminya. .. (Timidzi)
Istri wajib menjaga harta suaminya dengan sebaik-baiknya. (Thabrani)
Istri hendaknya senantiasa membuat dirinya selalu menarik di hadapan suami(Thabrani)

Istri wajib menjaga kehormatan suaminya baik di hadapannya atau di belakangnya


(saat suami tidak di rumah). (An-Nisa: 34)

DAFTAR PUSTAKA

Chandra B. Diagnostik dan penanggulangan penderita dalam koma Cermin Dunia


Kedokteran, nomor khusus, 2002; 95 - 100.
Gilroy, John. Basic Neurology, Third Edition. McGraw-Hill Companies, Inc.
Gunawan, Sulistis Gan et al. (2007). Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta. FKUI.
Harrison. Principles of Internal Medicine. McGraw-Hill Companies, Inc.
Kowalak, Jennifer P., William Welsh, (2011). Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta. Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Martono, Hadi. Strok Dan Penatalaksanaannya Oleh Internis. Dalam: Sudoyo A, setyohadi
B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid 1 edisi 5. Jakarta:
InternaPublishing 2009: 892-897.
Pedoman Praktis Pemeriksaan Neurologi FK UI. Kesadaran. Jakarta 2006; hal. 39-50.
Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia, (2011), Guideline Stroke Tahun 2011,
Jakarta.
Price. Sylvia A.,Wilson. Lorraine M, (2006). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit., Edisi 6. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Uddin, Jurnalis. 2012. Anatomi Susunan Saraf Manusia. FKUY : Jakarta.
http://hak-dan-kewajiban-suami-dan-istri-menurut-islam/