Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS KETERKAITAN INDUSTRI MINYAK MENTAH INDONESIA

DENGAN PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA


TAHUN 1990 2013
Muhammad Dedy Firmansyah1
Prof.Dr.I Wayan Sudirman,SE.SU2
1
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana (Unud), Bali, Indonesia
e-mail: dedyflava@ymail.com
2
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana (Unud), Bali, Indonesia
ABSTRAK
Pertumbuhan ekonomi merupakan masalah perekonomian dalam jangka panjang dan
dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pertumbuhan ekonomi juga merupakan suatu kondisi dimana
terjadinya perkembangan Gross National Product (GNP) yang mencerminkan adanya
pertumbuhan output per kapita dan meningkatnya standar hidup masyarakat. Tujuan penelitian
ini adalah untuk menganalisis keterkaitan industri minyak mentah Indonesia dengan
pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun 1990 2013 secara simultan dan parsial serta
mengetahui variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di
Indonesia tahun 1990 2013. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah
analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan produksi minyak mentah
Indonesia, ekspor neto minyak mentah Indonesia, inflasi, dan kurs dollar Amerika Serikat
berpengaruh secara simultan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun 1990 2013.
Dari hasil uji secara parsial diperoleh hasil bahwa variabel produksi minyak mentah Indonesia,
ekspor neto minyak mentah Indonesia, inflasi, dan kurs dollar Amerika Serikat secara parsial
berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun 1990
2013. Hasil analisis menunjukkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia selama periode 1990
2013 lebih dipengaruhi oleh inflasi dibandingkan dengan produksi minyak mentah Indonesia,
ekspor neto minyak mentah Indonesia, dan kurs dollar Amerika Serikat. Hal ini terlihat dari hasil
estimasi bahwa variabel inflasi lebih dominan dan memberikan pengaruh positif dan signifikan.
Kata Kunci : Pertumbuhan Ekonomi, Minyak Mentah, Ekspor Neto, Inflasi, dan Kurs Dollar
Amerika Serikat.
ABSTRACT
Economic growth is a matter of the economy in the long run and is influenced by various
factors. Economic growth also is a condition in which the development of the Gross National
Product (GNP), which reflects the growth of output per capita and rising living standards. The
purpose of this study was to analyze the association of Indonesian crude oil industry with
economic growth in Indonesia in 1990 - 2013 simultaneously and partially and determine which
variables are the most dominant influence on economic growth in Indonesia in 1990 - 2013. The
analysis technique used in this research is the analysis of multiple linear regression. The results
showed Indonesian crude oil production, net exports of crude oil Indonesia, inflation, and the
US dollar exchange rate effect simultaneously to economic growth in Indonesia in 1990 - 2013.
From the results of partial test result that the Indonesian crude oil production variables, net
exports of crude oil Indonesia, inflation, and the United States dollar exchange rate partially
positive and significant effect on economic growth in Indonesia in 1990 - 2013. The analysis
showed economic growth in Indonesia during the period 1990 - 2013 is more affected by

inflation than the Indonesian crude oil production, net exports of crude oil Indonesia, and the
US dollar exchange rate. This is evident from the results of the estimation that inflation is more
dominant variables and provide a positive and significant effect.
Keywords: Economic Growth, Crude Oil, Net Exports, Inflation, and the US Dollar exchange
rate
PENDAHULUAN
Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu kondisi dimana terjadinya perkembangan GNP
yang mencerminkan adanya pertumbuhan output per kapita dan meningkatnya standar hidup
masyarakat (Asfia, 2009). Tambunan (2001) proses pertumbuhan ekonomi di pengaruhi oleh
kualitas dan ketersediaan dari berbagai factor produksi yaitu kapital, SDM, teknologi,
entrepreneurshi, bahan baku, dan energi. Di dalam Pertumbuhan ekonomi sangat di pengaruhi
oleh faktor internal, antara lain faktor ekonomi serta faktor non ekonomi spesifiknya seperti
politik dan sosial sedangkan faktor eksternal sangat didominasi oleh faktor-faktor ekonomi yaitu
pertumbuhan ekonomi kawasan atau dunia dan perdagangan internasional.
Pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh produksi dalam negeri yang dimana semakin
tinggi produksi makan semakin tinggi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Produksi disini
merupakan produksi minyak mentah di Indonesia. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Mariati (2009) mengenai pengaruh produksi minyak mentah di Indonesia ,
konsumsi dunia dan harga dunia terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dari hasil uji empiris
ditemukan bahwa produksi memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap
pertumbuhan ekonomi Indonesia, dimana produksi minyak mentah di Indonesia mengalami
peningkatan yang tinggi sehingga mampu memberikan devisa yang besar terhadap pertumbuhan
ekonomi di Indonesia kedepannya.
Hubungan antara pertumbuhan ekspor dan pertumbuhan ekonomi di negara-negara
berkembang telah banyak menimbulkan dampak positif serta devisa bagi negara pengekspor
sendiri. Selain itu perdagangan luar negeri merupakan sektor ekonomi yang sangat berperan
dalam menunjang pembangunan ekonomi Indonesia. Semakin besar ekspor suatu barang dan
mengurangi jumlah impor yang dilakukan oleh suatu negara ke negara lain akan memperbesar
devisa negara yang akan berdampak meningkatnya pertumbuhan ekonomi di suatu negara
tersebut. Hal tersebut sejalan dengan teori Keynes yaitu pertumbuhan ekonomi merupakan
fungsi dari ekspor. Semakin tinggi nilai ekspor, maka pertumbuhan ekonomi semakin tinggi
yang juga pada gilirannya akan mendorong perubahan ekonomi daerah dan didukung juga olehi
penelitian yang dilakukan oleh Ibrahim (2013) yang mengatakan bahwa pengaruh dari perubahan
nilai ekspor terhadap perubahan pertumbuhan ekonomi dapat di jelaskan bahwa nilai ekspor
berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini ditunjukkan
oleh koefisien regresi nilai ekspor yaitu sebesar (0.012847). Artinya setiap kenaikan tingkat nilai
ekspor sebesar 1% maka pertumbuhan ekonomi akan naik sebesar 0.128%, ceteris paribus. Hasil
ini
Inflasi disini berkaitan erat dengan yang namanya pertumbuhan ekonomi. Pengaruh
inflasi dalam pertumbuhan ekonomi telah menjadi salah satu isu utama yang terus diuji dalam
makroekonomi. Inflasi adalah kenaikan harga barang-barang yang bersifat umum dan terusmenerus (Rahardja dan Manurung, 2008:165). Sehingga perubahan dalam laju inflasi dapat
mempengaruhi aktivitas perdagangan internasional. Samuelson dan Nordhaus (2004) dan
Madura (2006) dalam Manajemen Keuangan Internasional juga menyebutkan bahwa inflasi
merupakan faktor penentu dalam perubahan nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi. Oleh karena
itu, tingkat inflasi dipilih sebagai variabel bebas utama dalam mempengaruhi pertumbuhan

ekonomi. Jika inflasi itu naik, maka dapat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi
yang mengalami kenaikan. Hal tersebut didukung oleh penelitian dari Rovia (2009) yang
mengatakan bahwa inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi
dimana hasil estimasi menunjukkan bahwa koefisien regresi inflasi sebesar +0,194404646804,
hal ini menunjukkan jika tingkat inflasi meningkat sebesar 1%, maka tingkat pertumbuhan
ekonomi (Y) akan mengalami kenaikan sebesar 0,19 persen. Tanda positif (+) menunjukkan
adanya hubungan yang searah antara inflasi dengan pertumbuhan ekonomi, yaitu jika inflasi naik
maka pertumbuhan ekonomi akan naik.
Menurut Nanga (2005:273) salah satu wujud pembangunan ekonomi suatu negara adalah
dengan melakukan hubungan luar negeri salah satunya dengan cara tukar menukar mata uang.
Mata uang yang digunakan sebagai pembanding dalam tukar menukar mata uang adalah Dollar
Amerika Serikat (US Dollar) karena Dollar Amerika merupakan salah satu mata uang yang kuat
dan merupakan mata uang acuan bagi sebagian besar negara berkembang. Jadi nilai tukar rupiah
harus tetap terjaga pada standar nilai tukar yang telah ditetapkan dan sebaiknya nilai tukar rupiah
harus lebih ditingkatkan untuk menadapatkan devisa negara yang otomatis mempengaruhi
hubungan positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Hal tersebut didukung melalui
penelitian yang dilakukan oleh Roshinta dkk (2014) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh
positif dan signifikan antara nilai tukar rupiah terhadap pertumbuhan ekonomi, dimana variabel
nilai tukar rupiah memiliki pengaruh sebesar yang dimana devisa dari peningkatan tersebut akan
menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang positif di Indonesia.
METODE PENELITIAN
Dalam penelitiaan ini digunakan data tahun 1990 2013 yang diperoleh dari berbagai
sumber antara lain : data pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan inflasi diperoleh dari Badan
Pusat Statistik (BPS). Data produksi minyak mentah Indonesia dan ekspor neto minyak mentah
Indonesia diperoleh dari Ditjen Migas (DESDM). Data kurs dollar Amerika Serikat diperoleh
dari Statistik Indonesia. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.
Data sekunder yang digunakan adalah data yang dicatat secara sistematis yang berbentuk data
runtut waktu (time series data). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat yaitu
pertumbuhan ekonomi di Indonesia (Y). Variabel bebas dalam penelitian adalah produksi minyak
mentah Indonesia (X1), ekspor neto minyak mentah Indonesia (X2), inflasi (X3), kurs dollar
Amerika Serikat (X4). Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis kuantitatif
yaitu regresi linier berganda. Model regresi linear berganda untuk penelitian ini ditunjukkan oleh
persamaan sebagai berikut (Suyana, 2009:71) :
Y
= + 1X1 + 2X2 + 3X3 + 4X4 + i.(1)
Keterangan:
Error: Reference source not found
= Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia

= Konstanta
Error: Reference source not found Error: Reference source not found4
=
Koefisien
Regresi
Error: Reference source not foundProduksi Minyak Mentah Indonesia
Error: Reference source not found
= Ekspor Neto Minyak Mentah Indonesia
Error: Reference source not found
= Inflasi
Error: Reference source not found
= Kurs Dollar Amerika Serikat
Error: Reference source not found
= error

HASIL DAN PEMBAHASAN


Indonesia merupakan negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah, seperti di
luar Jawa, Indonesia memiliki minyak mentah, gas alam, timah, tembaga, dan emas yang sangat
melimpah. Indonesia menduduki peringkat terbesar ke dua di dunia sebagai pengekspor gas
alam, walaupun akhir-akhir ini mulai menjadi pengimpor minyak mentah. Indonesia memiliki
hasil pertanian utama seperti beras, teh, kopi, rempah-rempah, dan karet. Sektor industri
menyumbang 40,7%, sedangkan sektor pertanian menyumbang 14,0%. Meskipun demikian,
sektor pertanian mempekerjakan lebih banyak orang daripada sektor-sektor lainnya, yaitu 44,3%
dari 95 juta orang tenaga kerja. Sektor jasa mempekerjakan 36,9%, dan sisanya sektor industri
sebesar 18,8%. Sektor jasa adalah penyumbang terbesar PDB, yang mencapai 45,3% untuk PDB
2005 (Wikipedia, diunduh 19 Oktober 2014).
1. Analisis Linier Berganda
Analisis ini digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel produksi minyak mentah
(X1), ekspor neto minyak mentah Indonesia (X2), inflasi (X3), dan kurs dollar Amerika Serikat
(X4) terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun 1990 2013 (Y) :

= 2,277 + 0,008 X1 + 0,001 X2 + 0,362 X3 + 0,000 X4.(2)


SE
=
(0,003)
(0,000)
(0,066)
(0,000)
thitung
=
(2,550)
(3,370)
(5,479)
(2,172)
Sig
=
(0,020)
(0,004)
(0,000)
(0,043)
R2
= 0,672
Fhitung
= 12,805
Sig
= 0,000
Berdasarkan persamaan regresi tersebut dapat diketahui besarnya pengaruh masing
masing variabel bebas yang berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia
tahun 1990 2013.
2. Uji Asumsi Klasik
Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji residual dari model regresi yang dibuat apakah
berdistribusi normal atau tidak (Suyana, 2009:11). Data dapat dikatakan berdistribusi normal jika
Asimp.sig (2-tailed) > level of significant ( = 5%) dan apabila Asimp.sig (2-tailed) < level of
significant ( = 5%) maka dikatakan tidak berdistribusi normal.
Tabel 1. Hasil Uji Normalitas
Unstandardized Residual
Kolmogorov-Smirnov Z

0,752

Asymp. Sig. (2-tailed)

0,624

Sumber : Data Diolah, 2013


Tabel 1 menunjukkan bahwa nilai residual Kolmogrov-Smirnov 0,752 dengan tingkat
signifikansi sebesar 0,624 berarti unstandardized residual dari setiap variabel yang digunakan
dalam penelitian ini berdistribusi normal karena nilai Asimp.sig (2-tailed) > level of significant
( = 5%).

Uji Multikolinearitas
Uji Multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan
adanya indikasi berupa korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang diuji seharusnya tidak
terjadi korelasi antar variabel bebas karena model regresi yang baik adalah model regresi bebas
multikolinearitas. Untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas pada suatu model regresi
dapat dilihan pada nilai Tolerance. Jika nilai Tolerance lebih dari 10 persen maka dapat
dikatakan bahwa model tidak terdapat multikolinearitas sehingga layak untuk dipredeksi
(Suyana, 2009:94).
Tabel 2. Perhitungan Tolerance dan Variance Inflation Factor
Collinearity Statistics
Model
Tolerance
VIF
0,681
1,469
Produksi Minyak Mentah Indonesia
Ekspor Neto Minyak Mentah Indonesia

0,755

1,324

Inflasi

0,965

1,037

Kurs Dollar Amerika Serikat

0,617

1,620

Sumber : Data Diolah, 2013


Tabel 2 menunjukkan bahwa variabel produksi minyak mentah Indonesia, ekspor neto
minyak mentah Indonesia, inflasi, dan kurs dollar Amerika Serikat bebas dari multikolinearitas
karena nilai tolerance di atas o,1 dan nilai VIF di bawah 10.
Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi dilakukan untuk mendeteksi adanya korelasi antara data pada masa
sebelumnya (t-1) dengan data sesudahnya (t1). Model uji yang baik adalah terbebas autokorelasi.
Deteksi autokorelasi digunakan uji Durbin-Watson (DW Test). Uji ini hanya digunakan untuk
autokorelasi tingkat satu (first order autocorrelation) dan mensyaratkan adanya intercept dalam
model regresi dan tidak ada variabel lagi diantara variabel penjelas. Dari hasil perhitungan
diperoleh bahwa du (1,78) < dW (2,026) < 4-du (2,22) , ini berarti Ho diterima ini berarti dhitung berada di daerah bebas autokolerasi.
Uji Heterokedastisitas
Uji Heteroskedastisitas menurut Ghozali (2006:139) ditujukan untuk menguji apakah di
dalam model regresi terjadi perbedaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan
yang lain. Heteroskedastisitas terjadi jika tidak ada kesamaan deviasi standar variabel terikat
(dependen) pada setiap variabel bebas (independen). Salah satu cara untuk menguji ada tidaknya
heteroskedastisitas yaitu melalui uji glesjer yang dilakukan dengan mergegresikan volume
absolute residual terhadap variabel bebas. Jika tidak terdapat satu variabel bebaspun yang
berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat (volume absolute residual), maka artinya tidak
terdapat heteroskedastisitas.

Tabel 3. Hasil Uji Heterokedastisitas dengan Uji Glejser


Variabel

Sig

Produksi Minyak Mentah Indonesia

0,514

Ekspor Neto Minyak Mentah Indonesia

0,335

Inflasi

0,365

Kurs Dollar Amerika Serikat

0,571

Sumber : Data Diolah, 2013


Tabel 3 menunjukkan bahwa produksi minyak mentah Indonesia, ekspor neto minyak
mentah Indonesia, inflasi, dan kurs dollar Amerika Serikat menunjukkan signifikan yang dimana
nilai tingkat signifikansi di atas 0,05.
Uji Serempak (Uji F)
Uji simultan (Uji F) ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas secara
simultan terhadap variabel terikat.
Tabel 4. Hasil Uji F dengan SPSS
ANOVAb

Model
1

Sum of
Squares
Regression
Residual
Total

df

Mean Square

234.479

58.620

86.976

19

4.578

321.455

23

F
12.805

Sig.
.000a

a. Predictors: (Constant), Kurs (IDR/USD) (X4), Inflasi (%) (X3), Ekspor Neto
Minyak Mentah Indonesia (US$) (X2), Produksi Minyak Mentah Indonesia (X1)
b. Dependent Variable: Pertumbuhan Ekonomi (%) (Y)
Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai F hitung (12,805) > F tabel (2,90) maka Ho ditolak.
Ini berarti produksi minyak mentah Indonesia (X1), ekspor neto minyak mentah Indonesia (X2),
inflasi (X3), dan kurs dollar Amerika Serikat (X 4) berpengaruh signifikan secara simultan
terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia (Y) tahun 1990 - 2013. Nilai R2= 0,672 ini berarti
bahwa 67,2 persen pertumbuhan ekonomi di Indonesia dipengaruhi oleh variabel produksi
minyak mentah Indonesia, ekspor neto minyak mentah Indonesia, inflasi, dan kurs dollar
Amerika Serikat, sedangkan sisanya sebesar 32,8 persen dipengaruhi oleh variabel lain yang
tidak dimasukkan ke dalam model.
Uji Parsial (Uji t)
Produksi minyak mentah Indonesia berpengaruh positif dan signifikan secara parsial
terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun 1990 2013 dimana thitung= 2,550 > ttabel=
1,729 yang berarti Ho ditolak. Koefisien beta produksi minyak mentah Indonesia 0,008 yang
menunjukkan bahwa apabila terjadi peningkatan produksi minyak mentah sebesar 1 juta barel
akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun 1990 2013 sebesar 0,008 persen,

dan variabel ekspor neto minyak mentah Indonesia, inflasi, kurs dollar Amerika Serikat dianggap
konstan. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Mariati (2009) mengenai
pengaruh produksi nasional, konsumsi dunia dan harga dunia terhadap ekspor Crude Palm Oil
(CPO) dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dari hasil uji empiris ditemukan bahwa
terdapatnya hubungan yang positif dan signifikan antara produksi CPO nasional dan ekspor CPO
Indonesia, sehingga jika produksi CPO nasional meningkat maka akan diikuti juga oleh
peningkatan ekspor CPO Indonesia dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Ekspor neto minyak mentah Indonesia berpengaruh positif dan signifikan secara parsial
terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun 1990 2013 dimana thitung=3,307 > ttabel=
1,729 yang berarti H0 ditolak. Koefisien beta ekspor neto minyak mentah Indonesia 0,001 yang
menunjukkan bahwa apabila terjadi peningkatan ekspor neto minyak mentah sebesar 1 juta US$
akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun 1990 2013 sebesar 0,001 persen,
dan variabel produksi minyak mentah Indonesia, inflasi, kurs dollar Amerika Serikat dianggap
konstan. Hal ini sejalan dengan teori Keynes yaitu pertumbuhan ekonomi adalah fungsi dari
ekspor. Semakin tinggi nilai ekspor, maka semakin meningkat pertumbuhan ekonomi yang
nantinya akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Hasil ini didukung oleh penelitian yang
dihasilkan oleh Ibrahim (2013) di sini di katakan bahwa pengaruh dari perubahan nilai ekspor
terhadap berubahnya pertumbuhan ekonomi, yaitu PDRB berpengaruh positif dan signifikan
terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini ditunjukkan oleh koefisien regresi nilai ekspor yaitu
sebesar (0.012847). Setiap kenaikan tingkat nilai ekspor sebesar 1% maka pertumbuhan ekonomi
akan naik sebesar 0.128%, ini di sebut dengan kondisi ceteris paribus.. Berdasarkan hasil
estimasi regresi berganda data panel oleh Yesi Hendriani Supartoyo, Jen Tatuh, dan Recky H. E.
Sendouw menampakan bahwa laju pertumbuhan ekspor netto berpengaruh positif dan signifikan
terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2006 2010. Koefisien laju pertumbuhan
ekspor netto adalah 0,0003 dan nilainya adalah positif, maka dapat di jelaskan laju pertumbuhan
ekspor netto berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia secara signifikan.
Apabila pertumbuhan ekspor netto naik menjadi 1 persen, maka pertumbuhan ekonomi naik
sebesar 0,0003 persen. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sodik
dan Nuryadin (2006) dapat di jelaskan bahwa variabel eskpor netto adalah proxy dari
keterbukaan perekonomian daerah. Nilai koefisien regresi yang kecil disebabkan oleh selisih dari
nilai ekspor yang tidak terlalu besar dibandingkan nilai impor yang dilakukan Indonesia selama
kurun waktu penelitian. Sehingga dapat di simpulkan bahwa tingkat ekspor netto suatu daerah
sangat berperan dalam proses peningkatan pertumbuhan ekonomi regional walaupun perannya
belum terlalu besar.
Inflasi berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap pertumbuhan ekonomi
di Indonesia tahun 1990-2013 dimana thitung= 5,479 > ttabel=1,729 yang berarti Ho ditolak.
Koefisien beta inflasi 0,362 yang menunjukkan bahwa apabila terjadi peningkatan tingkat inflasi
1 persen (%) akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun 1990 2013 sebesar
0,362 persen, dan variabel produksi minyak mentah Indonesia, ekspor neto minyak mentah
Indonesia, kurs dollar Amerika Serikat dianggap konstan. Hal tersebut didukung oleh penelitian
dari Rovia (2009) yang mengatakan bahwa inflasi berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan
ekonomi dimana hasil estimasi menunjukkan bahwa koefisien regresi inflasi sebesar
+0,194404646804, hal ini menunjukkan jika tingkat inflasi meningkat sebesar 1%, sedangkan
variabel pengangguran tetap maka tingkat pertumbuhan ekonomi (Y) akan mengalami kenaikan
sebesar 0,19 persen. Tanda positif (+) menunjukkan adanya hubungan yang searah antara inflasi
dengan pertumbuhan ekonomi, yaitu jika inflasi tinggi maka pertumbuhan ekonomi akan tinggi.

Kurs Dollar Amerika Serikat berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap
pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun 1990 2013 yang dimana thitung= 2,172 > ttabel= 1,729
yang berarti Ho ditolak. Koefisien beta kurs dollar Amerika Serikat 0,000 yang menunjukkan
bahwa apabila terjadi peningkatan kurs dollar Amerika Serikat sebesar 1 Rp/US$ akan
meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun 1990 2013 sebesar 0,000 persen, dan
variabel produksi minyak mentah Indonesia, ekspor neto minyak mentah Indonesia, inflasi
dianggap konstan. Hal tersebut didukung melalui penelitian yang dilakukan oleh Roshinta dkk
yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara nilai tukar rupiah
terhadap pertumbuhan ekonomi, dimana variabel nilai tukar rupiah memiliki pengaruh sebesar
42% terhadap perubahan pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh variabel variabel lain yang
dimasukkan dalam penelitian.
Variabel yang Berpengaruh Dominan
Berdasarkan hasil Statistical Product and Service Solution (SPSS) pada tabel Coefficient
kolom Standardized terlihat bahwa nilai beta tertinggi diperoleh oleh variabel inflasi sebesar
0,666 yang mengindikasikan inflasi mempunyai pengaruh paling dominan terhadap pertumbuhan
ekonomi di Indonesia karena inflasi sebagai salah satu indikator untuk melihat stabilitas ekonomi
suatu wilayah yang menunjukkan perkembangan harga barang dan jasa secara umum yang
dihitung dari indeks harga konsumen.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya maka dapat
diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1) Produksi minyak mentah Indonesia, ekspor neto minyak mentah Indonesia, inflasi, dan
kurs dollar Amerika Serikat secara simultan berpengaruh signifikan terhadap
pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun 1990 - 2013. Variasi (naik turunnya)
pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun 1990 - 2013 dipengaruhi oleh variasi (naik
turunnya) produksi minyak mentah Indonesia, ekspor neto minyak mentah Indonesia,
inflasi, dan kurs dollar Amerika Serikat, yaitu sebesar 67,2 persen, sedangkan sisanya
sebesar 32,8 persen dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model
penelitian.
2) Dari hasil uji secara parsial diperoleh hasil bahwa variabel produksi minyak mentah
Indonesia, ekspor neto minyak mentah Indonesia, inflasi, dan kurs dollar Amerika Serikat
secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di
Indonesia tahun 1990 - 2013.
3) Variabel Inflasi merupakan variabel yang berpengaruh dominan dibandingkan dengan
produksi minyak mentah Indonesia, ekspor neto minyak mentah Indonesia, dan kurs
dollar Amerika Serikat terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun 1990 - 2013
dengan nilai beta tertinggi yaitu 0,666.
Saran
Sebaiknya langkah yang dilakukan pemerintah dalam hal produksi dan ekspor minyak
mentah Indonesia adalah menjaga tingkat nilai produksi dan ekspor minyak mentah Indonesia
agar tetap stabil sehingga akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Jika dilihat dari hasil penelitian bahwa variabel inflasi yang paling berpengaruh terhadap
pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Oleh karena itu untuk menekan laju inflasi yang semakin

tinggi, pemerintah harus berusaha menjaga tingkat inflasi pada titik yang paling menguntungkan
untuk perekonomian di Indonesia.
REFERENSI
Asfia Murni. 2009. Ekonomika Makro. Jakarta: PT. Refika Aditama.
Boediono. 1992. Teori Pertumbuhan Ekonomi, Seri Sinopsis Pengantar Ilmu ekonomi, Edisi 1,
Cetakan Ke 5. Yogyakarta: BPFE.
Ghozali, Imam. 2006. Aplikasi Analisis Multivariative Dengan Program SPSS. Seamarang :
Badan Penerbit Undip.
Ibrahim, Rachman. 2013. Analisis Ekspor Komoditi Perkebunan Terhadap Pertumbuhan
Ekonomi Di Sulawesi Utara, Jurnal EMBA , Vol.1 No.3 September 2013, Hal. 401-410.
Iskandar, & Suseno. 2004. Sistem dan Kebijakan Nilai Tukar. Jakarta: Pusat Pendidikan Dan
Studi Kebanksentralan (PPSK) Bank Indonesia.
Madura, Jeff. 2006. International Corporate Finance. Keuangan Perusahaan Internasional.
Edisi 8.Buku 1. Jakarta: Salemba Empat.
Mariati, Rita. 2009. Pengaruh Produksi Nasional, Konsumsi Dunia Dan Harga Dunia
Terhadap Ekspor Crude Palm Oil (CPO) Di Indonesia. Jurnal EPP.Vol.6 No.1. 2009 :
30-35. Program Studi Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Mulawarman,
Samarinda.
Nanga, Muana. 2005. Makro Ekonomi: Teori Masalah dan Kebijakan. Edisi Kedua. Jakarta: PT.
Raja Grafika Persada.
Pratama Rahardja dan Mandala Manurung. 2008. Teori Ekonomi Makro: Suatu Pengantar,
Lembaga Penerbit FE UI.
Rovia, Nugrahani, Pramesti. 2009. Pengaruh Pengangguran dan Inflasi Terhadap Pertumbuhan
Ekonomi di Kabupaten Trenggalek. Jurnal Pengangguran dan Inflasi. 2009. Fakultas
Ekonomi Unesa, Kampus Ketintang Surabaya.
Samuelson. 2001. Ilmu Mikro Ekonomi. Jakarta: Media Global Edukasi.
Sugiyono. 2002. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: CV Alfabeta.
Sodik Jamzani & Nuryadin Didi, 2003. Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi Regional (Studi
Kasus pada 26 provinsi di Indonesia, Pra dan Pasca Otonomi). Jurnal Ekonomi
Pembangunan (Hal.157).
Sukirno, Sadono. 2004. Makro Ekonomi. Edisi Ketiga. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Suyana Utama, Made. 2009. Statistika Ekonomi dan Bisnis. Denpasar: Udayana University
Press.
Tambunan, Tulus. 2001. Perekonomian Indonesia: Teori dan Penemuan Empiris. Jakarta:
Salemba Empat.
Todaro, Michael P. 2002. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Edisi Ketujuh. Jakarta:
Penerbit Erlangga.
Wikipedia. diunduh 19 Oktober 2014. http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia.