Anda di halaman 1dari 9

4.

PEMBAHASAN
Analisa Prosedur
a. Fungsi alat
Gelas ukur berfungsi untuk meletakkan zat yang akan distandarisasi.
Labu takar berfungsi untuk mengkur volume dan menghomogenan larutan dengan
cara di bolak balik 8-12 kali.
Timbangan analitik berfungsi untuk menimbang massa zat (NaOH)
Erlenmeyer berfungsi untuk meletakkan larutan ketika titrasi
Pipet tetes berfungsi untuk mengambil larutan dalam skala kecil atau tetes demi
setetes(mengambil larutan pp untuk standarisasi).
Buret berfungsi untuk meletakkan larutan sekunder ketika proses titrasi.
b. Fungsi bahan
NaOH berfungsi sebagai larutan sekunder untuk mentitrai asam cuka.
HCl berfungsi sebagai zat yang akan diidentifikasi konsentrasinya.
Indikator pp & metal orange berfungsi sebagai indikator yang menunjukan titik
ekivalen.
CH3COOH berfungsi sebagai zat yang akan diidentifikasi kadar asam asetatnya atau
sebagai zat yang dititrasi.
Boraks dan asam oksaalat berfungsi sebagai larutan primer sebagai acuan dalam
mencari konsentrasi larutan sekunder.
c. Prosedur kerja :
1. Pembuatan Larutan Standar HCl 0,1 M
Pertama yang dilakukan untuk membuat larutan standar HCl 0,1 M adalah menghitung
volume HCl pekat yang dibutuhkan dengan menggunakan rumus pengenceran. Membutuhkan
0,97 mL HCl pekat untuk diencerkan. Mengambil 0,97 mL pekat menggunakan pipet volume
dan memasukkan ke dalam labu ukur 100 mL. Menambahkan aquades hingga mencapai tanda
batas. Menutup labu ukur dengan penutup dan menghomogenkan larutan HCl 0,1 M.
Didapatkan hasil berupa larutan standar HCl 0,1 M. Memasukkan larutan standar HCl 0,1 M
kedalam buret.
2. Pembuatan Larutan HCl dengan boraks (Na2B4O7. 10H2O)
Mula-mula menimbang massa boraks untuk reaksi standarisasi menggunakan rumus
molaritas. Didapatkan nilai 1,9 gram. Mengambil 10 mL larutan boraks dan memasukkan
kedalam erlenmayer. Menambahkan indikator metil orange sebanyak 2-3 tetes. Mentitrasi
larutan boraks dengan menggunakan HCl 0,1 M pada percobaan sebelumnya. Mengamati
hingga terjadi perubahan warna dari orange ke ungu. Mencatat volume HCl yang digunakan
untuk mentitrasi larutan boraks. Melakukan duplo / percobaan yang sama sebanyak 2 kali
untuk mendapatkan volume rata-rata HCl yang dibutuhkan untuk mentitrasi larutan boraks.
Menghitung konsentrasi HCl, didapatkan hasil berupa larutan HCl yang telah terstandarisasi.

3. Pembuatan Larutan Standar NaOH 0,1 M

Pertama menghitung berat kristal NaOH yang dibutuhkan untuk membuat larutan standar
NaOH 0,1 M. Menimbang kristal NaOH sebanyak 0,4 gram menggunakan timbangan analitik.
Memasukkan kristal NaOH kedalam gelas beker dengan cara membilas gelas arloji dan
menambahkan aquades secukupnya. Melarutkan kristal NaOH. Memindahkan kristal NaOH
kedalam labu ukur 100 mL dan ditambahkan aquades hingga mencapai tanda batas.
Menghomogenkan larutan NaOH dan didapatkan hasil larutan standar NaOH sebesar 0,1 M.
Memasukkan larutan standar NaOH 0,1 M kedalam buret yang selanjutnya digunakan untuk
mentitrasi asam oksalat.
4. Pembuatan Larutan NaOH 0,1 M dengan Asam Oksalat (H2C2O4. 2H2O)
Ambil 10 mL asam oksalat 0,05 M kedalam elenmayer. Menambahkan indikator pp sebanyak
2-3 tetes. Mentitrasi asam oksalat dengan menggunakan NaOH. Mengamati hingga terjadi
perubahan warna dari jernih ke ungu muda. Mencatat volume NaOH yang digunakan untuk
mentitrasi asam oksalat. Melakukan duplo / mengulangi percobaan 2 kali untuk mendapatkan
volume rata-rata NaOH yang ditambahkan kedalam asam oksalat. Menghitung molaritas
NaOH. Didapatkan hasil berupa larutan NaOH yang telah terstandarisasi.
5. Penggunaan Larutan Standar Basa untuk Mendapatkan Kasar Asam Asetat pada
Cuka
Ambil larutan cuka sebanyak 10 mL masukkan kedalam labu ukur 100 mL, selanjutnya
menambahkan aquades hingga mencapai tanda batas miniskus bawah. Menghomogenkan
larutan cuka. Ambil sebanyak 10 mL larutan cuka dan memasukkannya kedalam erlenmayer.
Tambahkan indikator pp sebanyak 2-3 tetes. Mentitrasi larutan cuka menggunakan larutan
NaOH yang berada didalam buret. Amati hingga terjadi perubahan warna dari jernih ke ungu
muda. Catat volume NaOH yang digunakan untuk mentitrasi larutan cuka dan menghitung
kadar asam asetat yang terkandung didalam cuka dan lakukan duplo.
E. Analisa Hasil
1. Pembuatan Larutan Standar HCl 0,1 M
x x 10
M=
Mr
1,19 x 32 x 10
=
36,5
= 10,43 M
MHCl pekat . VHCl pekat = MHCl . VHCl
10,43 . V = 0,1 . 100
V = 0,97 mL

10
. Yang mana
Mr
adalah berat jenis, % adalah kadar, dan Mr adalah massa relative

Untuk membuat larutan HCl pekat dengan menggunakan rumus : M =

M adalah molaritas,
zat.
Selanjutnya, setelah diketahui molaritasnya,melakukan pengenceran dengan menggunakan
rumus :
V1 M1 = V2 M2
V1 adalah volume larutan yang akan diencerkan, M1 adalah konsentrasi larutan yang akan
diencerkan, V2 adalah volume larutan hasil pengenceran, dan M2 adalah konsentrasi larutan
hasil pengenceran (Suyatno, 2007).

2. Pembuatan larutan HCl dengan Boraks (Na2B407. 10H2O


Berat Boraks
Molaritas HCl
n
2 x V boraks x M boraks
M
=
M HCl
=
v
V HCl
n
2 x 10 x 0,05
0,05
=
=
0,1
12,7
3
n
= 5 x 10
= 0,08 M
gr
n
=
Mr
gr
=
5 x 103
381
gr
= 1,9
Pada

percobaan

ini,

dilakukan

standarisasi

larutan

HCl

dengan

boraks

2 V boraks M boraks
V HCl
Adapun hal-hal yang dapat mempengaruhi keberhasilan percobaan antara lain, kebersihan
alat, perhitungan yang kurang akurat dan teliti, dan pengukuran larutan yang kurang tepat.
Kurang teliti dalam melihat perubahan warna pada saat titrasi (Suyatno, 2007).
menggunakan rumus :

M HCl

3. Pembuatan Larutan Standar NaOH 0,1 M


gr
1000

M
=
Mr V (mL)
gr 1000

0,1
=
40 100
4
gr

= 10 gr
= 0,4

Untuk membuat larutan NaOH 0,I M dari kristal NaOH dapat dibuat memakai perhitungan
gr
1000

dengan rumus : M =
Mr V (mL)
M adalah konsentrasi larutan, gr adalah massa Kristal dalam bentuk gram, Mr adalah massa
molekul relative, dan V adalah volume larutan (Suyatno, 2007).
4. Pembuatan Larutan NaOH 0,1 M dengan Asam Oksalat (H2C2O4. 2H2O)
2 X V H2C2O4 X M H 2C2O4
M NaOH
=
V NaOH
2 X 10 X 0,05
=
12
= 0,083

2 gram mol NaOH = 1 gram mol H2C2O4


Pada percobaan ini, untuk menstandarisasi larutan HCl dengan boraks menggunakan harus
mengetahui molaritas NaOH terlebih dahulu dengan menggunakan rumus :

MNaOH =

2 V H 2C 2O 4 M H 2C 2O 4
V NaOH

(Manan,2005).

5. Pembuatan Larutan Standar Basa untuk Menetapkan Kadar Asam Asetat pada Cuka
M NaOH V NaOH fp
M Asam Cuka
=
V AsamCuka
(4,5 x 4,5) x 100
=
10
M

= 3,735

gr 1000
x
Mr
V
gr 1000
x
3,735 =
60
10
1000 x gr
3,735 =
600
gr
= 2,241
gr
100
% b/b =
V
2,241
100
=
10
M

% b/b = 22,41 %

Pada percobaan ini, untuk mengetahui kadar asam asetat pada cuka perdagangan digunakan
gr
100
rumus kadar yaitu % b/b =
V
gr adalah massa NaOH dalam bentuk gram, dan V adalah volume larutan dalam bentuk mL
(Suyatno, 2007).

5. Data Hasil Pratikum


1. Pembuatan Larutan Standar HCl 0,1 M
BJ HCl
Kadar HCl
Volume HCl yang dibutuhkan
Perhitungan:

36,5
32%
0,97 mL

x x 10
Mr
1,19 x 32 x 10
=
36,5

M=

= 10,43 M
MHCl pekat . VHCl pekat = MHCl . VHCl
10,43 . V = 0,1 . 100
V = 0,97 mL
Mengapa dalam pembuatan larutan standar HCl, BJ HCl harus diperhitungkan?
Karena HCl merupakan golongan larutan asam pekat sehinga berat jenisnya
harus diperhitungkan dan apabila tidak sesuai akan mempengaruhi perhitungan
molaritas HCl
2. Standarisasi larutan HCl 0,1 M dengan boraks (Na2B4O7.10H2O)
Volume HCl
Molaritas HCl
Berat boraks
BM boraks
Molaritas larutan HCl hasil
standarisai
Perhitungan:Na2B4O7.10H2O +

12,7 mL
0,1
1,9 gram
381
0,08 M
2HCl NaCl + 4H3BO3 + 5H2

n
v

Mboraks =

n
0,1

0,05

= 5x10-3

5x10-3 =

2 . MBoraks . VBoraks
VHCl
2 . 0,05 .10
=
12,7

MHCl =

MHCl = 0,08 M

gr
Mr
gr
381

gr = 1,9 gram
Mengapa asam boraks digunakan untuk menstandarisasi larutan HCl?
Karena antara HCl dan boraks terjadi reaksi sempurna. HCl ( asam kuat ) akan
bereaksi dengan boraks (basa lemah ) membentuk garam yang bersifat asam.
Reaksi :
Na2B4O7.10H2O + 2HCl ===> 2NaCl + 4H3BO3 +5H2O
Dari reaksi antara asam kuat dan basa lemah itu akan lebih mudah diamati titik
akhir titrasinya. Pada percobaan ini, boraks merupakan larutan standar primer
dan HCl merupakan larutan standar sekunder.

3. Pembuatan larutan standar NaOH 0,1 M


Berat NaOH
Volume larutan NaOH
Molaritas larutan NaOH
Perhitungan:

0,4 gram
100
0,1

gr 1000
x
Mr
V
MNaOH . Mr . V
gr =
1000
0,1. 40 . 100
=
1000

NaOH =

= 0,4 gram
Mengapa larutan NaOH harus distandarisasi?
Hal ini dilakukan untuk memastikan keakuratan konsentrasi NaOH yang nantinya
akan digunakan sebagai larutan standar, dan untuk menunjukkan apakah larutan
NaOH ini dapat bereaksi sempurna baik dengan asam lemah maupun kuat
(Khopkar, 2008).
4. Standarisasi larutan NaOH 0,1 M dengan asam oksalat (H2C2O4.2H2O)
Volume Na-oksalat
BM Na-oksalat
Volume aquades
Volume larutan NaOH 0,1 M

10 ml
126
90 ml
12 ml (V1 = 12 ml

V2 = 12 ml)

Molaritas larutan NaOH


0,083 M
Perhitungan:H2C2O4 + 2NaOH Na2C2O4 + 2H2O

MNaOH .VNaOH
nNaOH
=
MAsam Oksalat . VAsam Oksalat
nAsam Oksalat
nNaOH . MAsam Oksalat . VAsamOksalat
M NaOH =
VNaOH
2 . 0,05 .10
=
12
= 0,083 M
Mengapa standarisasi larutan NaOH menggunakan Na-oksalat?
Karena antara NaOH dan asam oksalat terjadi reaksi sempurna. NaOH ( basa kuat
) akan bereaksi dengan asam oksalat (asam lemah ) membentuk garam yang
bersifat basa.
Reaksi :
2NaOH + H2C2O4
===>
Na2C2O4 + 2H2O
Dari reaksi antara basa kuat dan asam lemah itu akan lebih mudah diamati titik
akhir titrasinya.Pada percobaan ini, asam oksalat merupakan larutan standar
primer dan NaOH merupakan larutan standar sekunder.

5. Penetapan kadar asam asetat pada cuka


Volume larutan asam cuka
Volume NaOH (titrasi)
Molaritas NaOH
BM asam organik dominan
Persamaan reaksi
Kadar total asam (% b/v)
Perhitungan:

CH3COOH =

10 ml
4,5 (V1 = 4,5 ml
V2 = 4,5 ml)
0,083
CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O
22,41 % (b/v)

( M NaOH . V NaOH ). FP
V CH 3 COOH
0,083 x 4,5 x 100
10

= 3,735 M

gr 1000
x
Mr
V
gr 1000
x
60
10

CH3COOH =

3,735 =

gr = 2,241 gram

Kadar total asam( % b/v) =

gr
x 100
ml

2,241
x 100
10

= 22,41 %
Apakah prinsip analisis kadar total asam bisa digunakan untuk menentukan
keasaman produk pangan yang lain?Jelaskan contoh aplikasinya!
Prinsip analisis kadar total asam dapat digunakan untuk menentukan keasaman
produk pangan, contohnya adalah dalam proses pembuatan yoghurt (Wirawan,
2010).
Nilai total asam yang diperoleh dari produk yogurt yang dianalisis harus memiliki
persyaratans tandar mutu yogurt Indonesia yang harus dipenuhi seperti dalam SNI
01-2981-1992 yaitu 0.5-2.0% (b/b)
(Irfan, 2005).

KESIMPULAN
Larutan standar adalah larutan yang mengandung suatu zat dengan berta ekivalen tertentu
dalam volume tertentu.untuk larutan yang belum standar (larutan sekunder )perlu dilakukan
standarisai ,dimana standarisasi larutan adalah teknik untuk mengetahui secara pasti
konsentrasi larutan sekunder yang belum diketahui menggunakan larutan primer atau
membakukan larutan dengan indicator hingga terjadi perubahan warna melalui titrasi dan
kemudian dilakukan perhitungan konsentrasi.Dalam pembuatan larutan 0,1 M HCl diperlukan
0,96 ml HCl untuk mengencerkan larutan tersebut,dan untuk mengetahui konsentrasi larutan
sebenarnya dapat diketahui dengan standarisasi yang dilakukan dengan cara titrasi,Pada
penitrasian Boraks (Na2B4O7.10H2O) dan Na2CO3 diperoleh warna kuning diawal, kemudian
warna orange pada proses, dan warna merah muda di akhir. Dengan volume HCl 12,7 ml pada
standarisasi dengan Boraks dan volume HCl 9,9 ml pada Na2CO3.,kemudian pada standarisasi
boraks diperoleh moralitas HCl 0,08 M.dan dalam perhitungan kadar total asam pada cuka
perdagangan diperoleh 22,41 %.

DAFTAR PUSTAKA
Irfan, Anshory.2005. Ilmu Kima. Jakarta : Erlangga
Manan, M. 2005. Membuat Reagen Kimia di Labolatorium. Bumi Aksara, Jakarta

Suyatno. 2007. Kimia. Bandung : PT Grafindo Media Pratama


Wirawan. 2010. Super Kimia. Jakarta : Wahyu Media

Tanggal

Nilai

Paraf
Asisten