Anda di halaman 1dari 8

Dari wikipedia :

Karma dan reinkarnasi[sunting | sunting sumber]

Dua sadu di Kuil Pahupatinatha, Nepal.


Sadu adalah istilah bagi kaum yogi yang sedang menempuh Rajayoga, yaitu jalan pengendalian pikiran, demi
melepaskan diri dari belenggu duniawi sehingga dapat mencapai kesadaran spiritual tingkat tinggi atau
bahkan moksa.

Karma diterjemahkan secara harfiah sebagai tindakan, kerja, perbuatan,[193] dan dapat
dideskripsikan sebagai "hukum moral sebabakibat". [194] Menurut hukum karma, nasib baik berasal
dari tindakan baik terdahulu, dan nasib buruk berasal dari tindakan buruk terdahulu, yang
merupakan suatu sistem aksi-reaksi dan membentuk suatu siklus reinkarnasi.[195] Fenomena sebabakibat tersebut tidak hanya berlaku bagi dunia material, namun juga terhadap pikiran, perkataan,
tindakan, dan tindakan yang dilakukan berdasarkan perintah seseorang. [196]
Menurut kitab Upanishad, suatu jiwa membentuk sanskara (kesan) dari tindakan, baik secara fisik
atau mental. Linga-sarira(tubuh yang lebih halus daripada tubuh fisik namun lebih kasar daripada
jiwa) dilekati kesan-kesan tersebut, dan membawanya ke kehidupan selanjutnya, sehingga
menciptakan jalan kehidupan tersendiri bagi setiap orang.[197] Maka dari itu, konsep karmayang
universal, netral, dan tak pernah melesetberkaitan dengan reinkarnasi, demikian pula kepribadian,
watak, dan keluarga seseorang. Karma menyatukan konsep kehendak bebas dan nasib.
Karena agama Hindu meyakini bahwa jiwa tidak dapat dihancurkan,[198] maka kematian tidak
dipandang sebagai momok bagi kehidupan karena merupakan fenomena alami.[199] Maka dari itu,
seseorang yang sudah meninggalkan ambisi dan keinginannya, tidak memiliki tanggung jawab lagi
di dunia, atau terjangkiti penyakit mematikan dapat mengusahakan kematian dengan
cara Prayopavesa.[200]
Siklus aksi, reaksi, kelahiran, kematian, dan kelahiran adalah proses berkesinambungan yang
disebut samsara (reinkarnasi). Pemahaman akan reinkarnasi dan karma merupakan premis kuat
dalam filsafat Hindu. Dalam kitab Bhagawadgita (II:22) tertulis:
Seperti halnya seseorang memakai baju baru dan menanggalkan baju yang lama,

demikian pula jiwa memasuki tubuh yang baru, meninggalkan tubuh yang lama.
Dalam kepercayaan Hindu, samsara memberikan kesempatan bagi manusia untuk
menikmati kesenangan sesaat pada setiap kelahiran. Selama manusia terlena untuk terus
menikmati kesenangan tersebut, maka mereka akan dilahirkan kembali. Akan tetapi,
pelepasan diri dari belenggu samsara (melalui moksa) diyakini dapat memberikan
kebahagiaan dan kedamaian abadi.[201] Menurut kepercayaan ini, setelah mengalami
reinkarnasi berkali-kali, pada akhirnya suatu atman akan mencari persatuan dengan sukma
alam semesta (Brahman/Paramatman).
Dalam agama Hindu, tujuan hidup sejatiyang disebut sebagai moksa, nirwana,
atau semadidipahami dalam berbagai arti: realisasi penyatuan jiwa dengan Tuhan;
realisasi hubungan kekal dengan Tuhan; realisasi dari penyatuan seluruh hal yang ada;
wawas diri sempurna serta pengetahuan akan diri yang sejati; pencapaian atas kedamaian
batin yang sempurna; dan pelepasan dari segala keinginan duniawi. Realisasi semacam itu
membebaskan seseorang dari samsara dan mengakhiri siklus lahir kembali. [202][203]
Konseptualisasi moksa berbeda-beda tergantung mazhab atau aliran Hinduisme. Sebagai
contoh, mazhab Adwaita Wedanta berpedoman bahwa setelah mencapai moksa, atman
tidak lagi mengenali dirinya sebagai individu, melainkan menyadari bahwa Brahman identik
dalam segala hal, termasuk kesamaannya dengan atman. Pengikut
mazhab Dwaita(dualistis) memandang individu sebagai bagian dari Brahman, dan setelah
mencapai moksa, mereka yakin akan memperoleh kekekalan di loka bersama dengan
manifestasiIswara yang dipilihnya. Maka dari itu, dianalogikan bahwa
pengikut dwaita berharap untuk "menikmati gula", sementara pengikut Adwaita berharap
untuk "menjadi gula".[204]

Tujuan hidup manusia[sunting | sunting sumber]


Filsafat Hindu klasik mengakui empat hal yang harus dipenuhi sebagai tujuan hidup
manusiasebagaimana dijabarkan di bawah iniyang disebut purusarta:

Darma: Darma adalah prinsip yang tak boleh diabaikan oleh umat Hindu. Darma dapat
dipandang sebagai kewajiban (dalam hal kegiatan duniawi atau pun rohani), hukum,
keadilan, tindakan benar, dan berbagai kualitas yang mendukung harmoni segala
sesuatu. Brihadaranyaka-upanishad memandang darma sebagai prinsip universal
tentang aturan, kewajiban, dan harmoniyang berasal dari Brahman. Darma berlaku
sebagai prinsip moral bagi alam semesta. Darma merupakan sat (kebenaran), ajaran
pokok dalam agama Hindu. Hal ini berpangkal pada pernyataan dalam Regweda bahwa
"Ekam Sat," (Kebenaran Hanya Satu), dari keyakinan bahwa Brahman itu sendiri
merupakan "Satcitananda" (Kebenaran-Kesadaran-Keberkatan). Darma tidak hanya

sekadar aturan atau harmoni, namun kebenaran murni.


Dalam Mahabharata, Kresna mendefinisikan darma sebagai penegak perkara di dunia
manusia dan dunia lain (Mbh 12.110.11). Kata Santana berarti 'kekal', 'tak mati', atau
'selamanya'; maka, agama Hindu sebagaiSantana-dharma bermakna suatu darma
yang tidak berawal atau berakhir.[205]

Arta: Arta adalah upaya mencari harta demi penghidupan dan kemakmuran. Hal ini juga
mencakup usaha mencari pekerjaan, berpolitik, memelihara kesehatan, dan mencari
kesejahteraan material.[206] Arta dibutuhkan demi mencapai kehidupan yang makmur
sentosa, terutama bagi umat yang sudah berumah tangga. Ajaran tentang arta
disebutArthashastra, dan yang termasyhur di antaranya
adalah Arthashastra karya Kautilya.[207]

Kama: Kama berarti hasrat, keinginan, gairah, kemauan, dan kenikmatan panca indra.
Kama dapat pula berarti kesenangan estetis dalam menikmati kehidupan (seni,hiburan,
kegembiraan), kasih sayang, atau pun asmara.[208][209] Akan tetapi, kama dalam
hubungan asmara atau percintaan hanya dapat dipenuhi melalui hubunganpernikahan.
Kama dibutuhkan dalam membangun kehidupan rumah tangga, atau grehasta.

Moksa: Moksa atau mukti adalah tujuan hidup yang utama bagi umat Hindu. Moksa
adalah keadaan yang sama sekali berbeda dengan pencapaian surga. Moksa adalah
suatu kondisi saat individu menyadari esensi dan realitas sejati dari alam semesta,
sehingga individu mengalami kemerdekaan dari kesan-kesan duniawi, tanpa suka atau
pun duka, lepas belenggu samsara, serta lepas dari hasil perbuatan (karma) yang
melekati individu selama mengalami proses reinkarnasi.[210]

Jalan menuju Tuhan[sunting | sunting sumber]

Karmayoga

Bhaktiyoga

Jnanayoga

Rajayoga
Empat jalan spiritualitas (caturmarga) dalam agama Hindu. Setiap jalan menyediakan cara yang
berbeda untuk mencapai moksa.

Umat Hindu memenuhi tujuan hidupnya dengan menempuh jalan yang berbeda-beda. Jalan
tersebut merupakan yoga. Yoga di sini dapat diartikan sebagai disiplin fisik, mental, dan
spiritual demi memperoleh kedamaian dan ketenangan pikiran. [211] Dalam konteks dan tradisi
lain, yoga dapat pula didefinisikan sebagai "upaya mengendalikan pikiran agar [pikiran] tidak
liar", atau "[usaha] mempersatukan diri dengan Tuhan".[211] Ajaran tentang pelaksanaan yoga
dihimpun dan diuraikan oleh para resi atau orang bijak. Kitab yang memuat ajaran yoga
meliputi Bhagawadgita, Yogasutra, Hathayoga-pradipika, dan Upanishad sebagai basis
filosofis dan historisnya. Yoga mengarahkan umat Hindu untuk mencapai tujuan hidup yang

spiritual (moksa, samadhi, atau nirwana), baik secara langsung maupun tidak langsung.
Empat macam jalan (yoga) utama yang sering disinggung yakni: [212]
1. Karmayoga (melaksanakan kewajiban sebaik-baiknya dengan ikhlas)
2. Bhaktiyoga (mencintai Tuhan dan menyayangi segala makhluk)
3. Jnanayoga (mencari pengetahuan dan berkontemplasi tentang Tuhan)
4. Rajayoga (mengendalikan pikiran dengan meditasi, sikap tubuh, atau semacamnya)
Seseorang dapat memilih salah satu atau beberapa yoga sekaligus, sesuai dengan
kecenderungan dan pemahamannya. Beberapa aliran Hinduisme yang menekankan
pengabdian mengajarkan bahwa bhakti adalah satu-satunya jalan praktis untuk mencapai
kesempurnaan spiritual bagi masyarakat awam, berdasarkan kepercayaan bahwa dunia
sedang berada pada masa Kaliyuga (salah satu jangka waktu dalam siklus Yuga yang kini
sedang berlangsung).[213] Melaksanakan salah satu yoga tidak berarti mengabaikan yang
lainnya. Banyak mazhab Hinduisme mengajarkan bahwa berbagai yoga secara alami
berbaur dan mendukung pelaksanaan yoga lainnya. Contohnya praktik jnanayoga, yang
dianggap pasti mengarahkan seseorang untuk memberikan kasih sayang murni (tujuan
utama bhaktiyoga), dan demikian sebaliknya.[214] Seseorang yang mendalami meditasi
tingkat tinggi (seperti yang ditekankan raja yoga) harus mewujudkan prinsip pokok
dari karmayoga, jnanayoga, dan bhaktiyoga, baik secara langsung maupun tak langsung.[212]
[215]

Dari website lain :


Tujuan Agama Hindu
Tujuan agama Hindu yang dirumuskan sejak Weda mulai diwahyukan adalah Moksartham Jagadhitaya
ca iti Dharma, yang artinya bahwa agama (dharma) bertujuan untuk mencapai kebahagiaan rohani dan
kesejahteraan hidup jasmani atau kebahagiaan secara lahir dan bathin. Tujuan ini secara rinci disebutkan
di dalam Catur Purusa Artha, yaitu empat tujuan hidup manusia, yakni Dharma, Artha, Kama dam Moksa.
Dharma berarti kebenaran dan kebajikan, yang menuntun umat manusia untuk mencapai kebahagiaan
dan keselamatan. Artha adalah benda-benda atau materi yang dapat memenuhi atau memuaskan
kebutuhan hidup manusia. Kama artinya hawa nafsu, keinginan, juga berarti kesenangan sedangkan
Moksa berarti kebahagiaan yang tertinggi atau pelepasan.
Di dalam memenuhi segala nafsu dan keinginan harus berdasarkan atas kebajikan dan kebenaran yang
dapat menuntun setiap manusia di dalam mencapai kebahagiaan. Karena seringkali manusia menjadi
celaka atau sengsara dalam memenuhi nafsu atau kamanya bila tidak berdasarkan atas dharma. Oleh
karena itu dharma harus menjadi pengendali dalam memenuhi tuntunan kama atas artha, sebagaimana
disyaratkan di dalam Weda (S.S.12) sebagai berikut:
Kamarthau Lipsmanastu
dharmam eweditaccaret,

na hi dhammadapetyarthah
kamo vapi kadacana.
Artinya:
Pada hakekatnya, jika artha dan kama dituntut, maka hendaknyalah dharma dilakukan terlebih dahulu.
Tidak dapat disangsikan lagi, pasti akan diperoleh artha dan kama itu nanti. Tidak akan ada artinya, jika
artha dan kama itu diperoleh menyimpang dari dharma.
Jadi dharma mempunyai kedudukan yang paling penting dalam Catur Purusa Artha, karena dharmalah
yang menuntun manusia untuk mendapatkan kebahagiaan yang sejati. Dengan jalan dharma pula
manusia dapat mencapai Sorga, sebagaimana pula ditegaskan di dalam Weda (S.S.14), sebagai berikut:
Dharma ewa plawo nanyah
swargam samabhiwanchatam
sa ca naurpwani jastatam jala
dhen paramicchatah
Artinya:
Yang disebut dharma adalah merupakan jalan untuk pergi ke sorga, sebagai halnya perahu yang
merupakan alat bagi saudagar untuk mengarungi lautan.
Selanjutnya di dalam Cantiparwa disebutkan pula sebagai berikut:
Prabhawar thaya bhutanam
dharma prawacanam krtam
yah syat prabhawacam yuktah
sa dharma iti nicacayah
Artinya:
Segala sesuatu yang bertujuan memberi kesejahteraan dan memelihara semua mahluk, itulah disebut
dharma (agama), segala sesuatu yang membawa kesentosaan dunia itulah dharma yang sebenarnya.
Demikian pula Manusamhita merumuskan dharma itu sebagai berikut:
Weda pramanakah creyah sadhanam dharmah
Artinya:
Dharma (agama) tercantum didalam ajaran suci Weda, sebagai alat untuk mencapai kesempurnaan
hidup, bebasnya roh dari penjelmaan dan manunggal dengan Hyang Widhi Wasa (Brahman).
Weda (S.S. 16) juga menyebutkan :
Yathadityah samudyan wai tamah
sarwwam wyapohati
ewam kalyanamatistam sarwwa
papam wyapohati
Artinya:
Seperti halnya matahari yang terbit melenyapkan gelapnya dunia, demikianlah orang yang melakukan
dharma, memusnahkan segala macam dosa.
Demikianlah dharma merupakan dasar dan penuntun manusia di dalam menuju kesempurnaan hidup,
ketenangan dan keharmonisan hidup lahir bathin. Orang yang tidak mau menjadikan dharma sebagai
jalan hidupnya maka tidak akan mendapatkan kebahagiaan tetapi kesedihanlah yang akan dialaminya.
Hanya atas dasar dharmalah manusia akan dapat mencapai kebahagiaan dan kelepasan, lepas dari
ikatan duni`wi ini dan mencapai Moksa yang merupakan tujuan tertinggi. Demikianlah Catur Purusa Artha
itu.

Sering kali kita bertanya dalam diri kita sendiri prihal kehidupan ini, seperti: apa tujuan hidup ini?,
Untuk apa hidup ini? kemana kita pergi setelah kehidupan ini? Dan sebagainya. Dalam agama
Hindu yang menjadi tujuan hidup utama manusia di dunia ini tertuang dalam ajaran Catur Purusa
Artha yaitu empat tujuan untuk mencapai kebahagiaan didunia dan akhirat. Yang diantaranya :
dharma, artha, kama dan moksa.
Dharma yaitu ajaran-ajaran suci yang mengatur, memelihara atau menuntun umat manusia untuk
mencapai kesejahteraan jasmani dan ketentraman bhatin. Dharma juga berarti agama dan
kewajiban, kemuliaan, kebajikan serta kebenaran. Dharma merupakan pegangan hidup umat Hindu
yang dilaksanakan dalam aspek kehidupan sehari-hari baik dalam ucapan, pikiran dan dalam
berprilaku sehari-hari dirumah maupun dalam masyarakat dan lingkungan.
Segala tindakan mesti didasari dengan dharma atau kebenaran. Dalam kitab Sarasamuscaya
dinyatakan :
Yan Paramarthanya, yan arthakama sadhyan, dharma juga lekasakena rumuhun, niyata
katemwaning artha kama mene tan paramartha wi katemwaning arthakama dening anasar sakeng
dharma (12) Artinya : kesimpulannya, kalau artha dan kama yang dituntut, maka seharusnya
dharma dilakukan lebih dahulu, tak tersangsikan lagi, pasti akan diperoleh artha dan kama itu nanti,
tidak akan ada artinya jika artha dan kama itu diperoleh menyimpang dari dharma. Jadi dalam
petikan kitab Sarasamuscaya tadi ditekankan bahwa dharma mesti dilaksanakan, maka artha dan
kama datang dengan sendirinya.
Dalam kitab Sarasamuscaya juga dinyatakan bahwa : segala yang diajarkan oleh sruti dan smerti
adalah dharma. Jadi dharma dalam ajaran agama Hindu menduduki tempat yang amat penting
dalam kehidupan ini. Dan dalam kitab manu samhita dikatakan : Weda Pramanakah sreya
sadhanam dharmah (1) yang artinya : di dalam ajaran suci weda dharma dikatakan sebagai alat
untuk mencapai kesempurnaan.
Artha yaitu harta benda atau kekayaan/uang. Dalam dunia modern ini uang memegang peranan
penting. Uang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam hidup ini. Tanpa artha/uang/materi
yang memadai hidup ini akan terasa sulit. Kesulitan hidup cendrung membuat orang bertindak
adharma seperti mencopet, mencuri, merampok, menipu, merampas, membohongi orang dan
sebagainya. Jadi memiliki artha/material yang layak/memadai merupakan salah satu penunjang
untuk berbuat dharma.
Ajaran agama Hindu sangat memperhatikan kedudukan dan fungsi artha dalam kehidupan ini.
Mencari dan memiliki artha bukanlah sesuatu yang dilarang malahan merupakan sesuatu hal yang
diajurkan. Asalkan semuanya itu diperoleh berdasarkan dharma, dan digunakan untuk kepentigan
dharma pula. Ajaran agama Hindu menegaskan bahwa artha sebenarnya bukanlah merupakan
tujuan, namun hanya merupakan sarana untuk mencapai tujuan. Sebagai mana telah diuraikan
bahwa tujuan hidup yang terakhir menurut ajaran agama Hindu adalah untuk mencapai
kebahagiaan dalam penunggalan dengan Sang Hyang Widhi, yang disebut juga moksa atau
kelepasan.Harta yang diperoleh atau dimiliki dalam penggunaan harus dibagi menjadi tiga :

1. Sadhana ri kasiddaning dharma; yang artinya Artha dipakai untuk


memenuhi dharma. Sebagai contoh adalah untuk melakukan

kewajiban-kewajiban hidup sebagai manusia, pelaksanaan Panca


Yadnya dan sebagainya.
2. Sadhana ri kasiddaning kama; yang artinya Artha dipakai untuk
memenuhi kama. Sebagai contoh adalah untuk kegiatan kesenian,
olah raga, rekreasi dan sebagainya.
3. Sadhana ri kasiddaning artha; yang artinya Artha dipakai untuk
mendapatkan harta kembali. Sebagai contoh untuk kegiatan
memproduksi sesuatu, kegiatan ekonomi dan sebagainya.
kegunaan dari harta atau kekayaan itu juga untuk disedekahkan. Karena pahala dari bersedekah
yang dilaksanakan dengan tulus ikhlas tersebut adalah tak ternilai harganya. Dalam ajaran agama
Hindu berkali-kali ditekankan bahwa harta kekayaan itu tidak akan dibawa mati. Yang akan
meringankan dan menuntun pergi ke akhirat adalah perbuatan baik atau buruk. Karenanya harta
kekayaan itu hendaknya disedekahkan, dipakai dan diabdikan untuk perbuatan dharma. Hanya
dengan demikianlah harta tersebut mempunyai nilai yang utama.
Kama:yaitu nafsu atau keinginan yang dapat memberikan kepuasan atau kesejahteraan hidup
manusia. Kepuasan atau kenikmatan tersebut memang merupakan salah satu tujuan atau
kebutuhan manusia, karena manusia mempunyai dasendriya atau 10 indriya. Kesepuluh indriya
tersebut menyebabkan manusia berbuat sesuatu. Indriya sering diumpamakan seperti kuda liar,
kalau dapat dikendalikan akan merupakan kekuatan yang luar biasa. Kama atau kesenangan
menurut ajaran agama tidak akan ada artinya jika diperoleh menyimpang dari dharma. Karenanya
dharma menduduki tempat di atas dari kama dan menjadi pedoman didalam pencapaian kama.
Moksa : yang merupakan tujuan terakhir dan tertinggi dari manusia. Moksa disebut juga mukti atau
nirwana yang berarti kebebasan atau kelepasan, maksudnya adalah suatu kebahagiaan dimana
atma dapat lepas dari pengaruh maya dan ikatan subha asubha karma, serta bersatu kembali
dengan asalnya yaitu Brahman. Pada hakekatnya setiap manusia mendambakan kebahagiaan yang
kekal abadi (sat cit ananda), namun kebahagiaan seperti itu tak kunjung dirasakan karena menurut
ajaran agama Hindu kebahagiaan yang sejati atau kebahagiaan yang kekal abadi itu hanya didapat
dalam penyatuan dengan Ida Sang Hyang Widhi kebahagiaan seperti inilah yang disebut dengan
moksa. (*)