Anda di halaman 1dari 41

MAKALAH TURKI UTSMANI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setelah Khilafah Abbasiyah[1] di Baghdad runtuh[2] akibat serangan
tentara Mongol, kekuatan politik Islam mengalami kemunduran secara
drastis. Wilayah kekuasaannya tercabik-cabik dalam beberapa kerajaan
kecil yang satu sama lain saling memerangi. Beberapa peninggalan budaya
dan peradaban Islam banyak yang hancur akibat serangan bangsa Mongol
itu, keadaan politik umat Islam secara keseluruhan baru mengalami
kemajuan kembali setelah muncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar,
diantaranya Utsmani di Turki, Mughal di India dan Safawi di Persia.
Kerajaan Utsmani ini adalah yang pertama berdiri juga yang terbesar dan
paling lama bertahan dibanding dua kerajaan lainnya.
Pendiri kerajaan ini adalah bangsa Turki dari kabilah Oghuz yang
mendiami daerah Mongol dan daerah utara negeri Cina. Dalam jangka
waktu kira-kira tiga abad, mereka pindah ke Turkistan kemudian Persia dan
Irak. Mereka masuk Islam sekitar abad ke sembilan atau ke sepuluh, ketika
mereka menetap di Asia Tengah. Di bawah tekanan serangan-serangan
Mongol pada abad ke-13 M, mereka melarikan diri ke daerah barat dan
mencari tempat pengungsian di tengah-tengah saudara-saudara mereka,
orang-orang Turki Seljuk, di dataran tinggi Asia Kecil. Di sana, di bawah
pimpinan Al Tughril, mereka mengabdikan diri kepada Sultan Alauddin II,
Sultan Seljuk yang kebetulan sedang berperang melawan Bizantium. Berkat
bantuan mereka, Sultan Alauddin mendapat kemenangan. Atas jasa baik
itu, Alauddin menghadiahkan sebidang tanah di Asia Kecil yang berbatasan

dengan Bizantium. Sejak itu mereka terus membina wilayah barunya dan
memilih kota Syukud sebagai ibu kota.
Perjalanan panjang kerajaan Turki Utsmani telah melahirkan 35 orang
Sultan dengan corak kepemimpinan masing-masing. Tetapi sebagaimana
Dinasti lainnya, hukum sejarah juga berlaku, bahwa masa pertumbuhan
yang diiringi dengan masa gemilang biasanya berakhir dengan masa
kemunduran bahkan mungkin kehancuran.
Makalah ini akan membahas sejarah berkembangnya kerajaan Turki
Utsmani, masa puncak dan kemajuan peradaban serta tokoh-tokoh yang
berperan di dalamnya.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
a. Berdirinya kerajaan Turki Utsmani
b. Masa puncak dan kemajuan peradaban
a. Tokoh-tokoh yang berperan
C. Tujuan Masalah
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
a. Untuk mengetahui berdirinya kerajaan Turki Utsmani
b. Untuk mengetahui masa puncak dan kemajuan peradaban
c. Untuk mengetahui Tokoh-tokoh yang berperan pada masa Turki Utsmani

BAB II
PEMBAHASAN

A. Berdirinya Kerajaan Turki Utsmani


Nama kerajaan Utsmaniyah itu diambil dari dan dibangsakan kepada
nenek moyang mereka yang pertama, Sultan Utsmani Ibnu Sauji Ibnu
Arthogol Ibnu Sulaimansyah Ibn Kia Alp, kepala Kabilah Kab di Asia
Tengah[3]. Awal mula berdirinya Dinasti ini banyak tertulis dalam legenda
dan sejarah sebelum tahun 1300. Dinasti ini berasal dari suku Qoyigh
Oghus. Yang mendiami daerah Mongol [4] dan daerah utara negeri Cina
kurang lebih tiga abad. Kemudian mereka pindah ke Turkistan, Persia dan
Iraq. Mereka masuk Islam pada abad ke-9/10 ketika menetap di Asia
Tengah.
Kerajaan Turki Utsmani didirikan oleh suku bangsa pengembara yang
berasal dari wilayah Asia Tengah, yang termasuk suku Kayi. Ketika bangsa
Mongol menyerang dunia Islam, pemimpin suku Kayi Sulaiman Syah,
mengajak anggota sukunya untuk menghindari serbuan bangsa Mongol
tersebut dan lari ke arah Barat. Mereka akhirnya terbagi menjadi dua
kelompok yang pertama ingin pulang ke negeri asalnya, yang kedua
meneruskan perantauannya ke wilayah Asia Kecil.
Kelompok kedua itu berjumlah sekitar 400 keluarga dipimpin oleh
Erthegrol (Arthoghol) anak Sulaiman. Akhirnya mereka menghambakan
dirinya kepada Sultan Ala Ad-Din II dari Turki Saljuq Rum yang
pemerintahannya berpusat di Konya, Anatholi, Asia Kecil. Ertheghol
mempunyai seorang anak yang bernama Usman, kira-kira lahir tahun
1258. Nama Usmanlah ditunjuk sebagai nama kerajaan Turki Utsmani.

Namun dikawasan Timur, kekuatan Turki memperoleh tantangan dari


dinasti Shafawiyyah, yakni dinasti lain yang muncul dari asal-usul yang
tidak jelas, yang juga cikal bakal terbentuknya kabilah Turki. Terjadi
perjuangan panjang guna mengendalikan wilayah-wilayah perbatasan yang
terletak diantara pusat kekuasaan, yakni Anatolia timur dan Irak. Bagdad
ditaklukkan oleh dinasti Utsmaniyyah pada tahun 1534 M, direbut oleh
Shafawiyyah pada tahun 1623 M, dan tidak dikuasai lagi oleh dinasti
Utsmaniyyah hingga tahun 1638 M. Sebagian disebabkan perjuangan
melawan dinasti Shafawiyyah. Dinasti Utsmaniyyah berpindah ke selatan
memasuki tanah-tanah kesultanan mamluk.
Pada abad ke-13 M, saat Jhengis Khan[5] mengusir orang-orang Turki
dari Khurasan dan sekitarnya. Kakeknya Utsman, yang bernama Sulaeman
bersama pengikutnya bermukim di Asia kecil. Setelah reda serangan Mongol
terhadap mereka, Sulaeman menyebrangi Sungai Efrat [6] (dekat Aleppo[7]).
Namun, saat di tengah pelayarannya kapal Sulaeman tenggelam, empat
putra Sulaeman yang bernama Shunkur, Gundoghur, al Tughril, dan
Dundar selamat. Al Tughril dan Dundar bermukim di Asia Kecil. Keduanya
akhirnya berhasil mendekati Sultan Saljuk yang bernama Sultan Alauddin
di Anggara (kini Angara)[8] yang sedang berperang melawan Bizantium.
Karena bantuan mereka inilah, Bizantium[9] dapat dikalahkan. Ali dalam
Karim, menjelaskan bahwa sebagai balas jasa, Alauddin memberikan
daerah Iski Shahr dan sekitarnya kepada al Thugril.[10]
Al Tughril meninggal Dunia tahun 1289. Kepemimpinan dilanjutkan
oleh puteranya, Utsman. Putera Al Tughril inilah yang dianggap sebagai
pendiri kerajaan Utsmani. Utsman memerintah antara tahun 1290-1326 M.
Pada tahun 1300 M, bangsa Mongol kembali menyerang Kerajaan Seljuk,
dan dalam pertempuran tersebut Sultan Alauddin terbunuh. Setelah
wafatnya

Sultan

Alauddin

tersebut,

Utsman

memproklamasikan

kemerdekaannya dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya.

Penguasa pertamanya adalah Utsman yang sering disebut Utsman I.


Setelah Utsman I mengumumkan dirinya sebagai Padisyah al-Utsman (raja
besar keluarga Utsman) tahun 1300 M setapak demi setapak wilayah
kerajaan diperluas.
Dipilihnya negeri Iskisyihar menjadi pusat kerajaan. Usman mengirim
surat kepada raja-raja kecil guna memberitahukan bahwa sekarang dia raja
yang besar dan dia menawar agar raja-raja kecil itu memilih salah satu
diantara tiga perkara, yakni ; Islam, membayar Jaziah dan perang. Setelah
menerima surat itu, separuh ada yang masuk Islam ada juga yang mau
membayar Jizyah. Mereka yang tidak mau menerima tawaran Usman
merasa terganggu sehingga mereka meminta bantuan kepada bangsa
Tartar, akan tetapi Usman tidak merasa takut menghadapinya. Usman
menyiapkan tentaranya dalam mengahdapi bangsa Tartar, sehingga mereka
dapat ditaklukkan.
Usman mempertahankan kekuasaan nenek moyang dengan setia dan
gagah perkasa sehingga kekuasaan tetap tegak dan kokoh sehingga
kemudian dilanjutkan dengan putera dan saudara-saudaranya yang gagah
berani meneruskan perjuangan sang ayah dan demi kokohnya kekuasaan
nenek moyangnya.
Gelar bagi penguasa Utsmani adalah Padi Syah atau Sultan, gelar
tersebut menandangi kaitannya dengan tradisi kerajaan Persia, tapi ia juga
ahli waris tradisi Islam, mereka mengklaim bahwa dirinya adalah pelaksana
otoritas yang absah dalam term-term Islam. Dinasti Utsmaniyyah terkadang
menggunakan gelar khalifah, akan tetapi gelar tersebut tidak membawa
klaim apapun bagi otoritas universal atau eksklusif seperti pada pendahulu
mereka, adakalanya gelar seorang sultan itu lebih dari sekedar lokal dan
dengan menggunakan kekuasaannya untuk tujuan yang diridhoi agama. [11]
Dinasti

Utsmaniyyah

mempertahankan

perbatasan

Islam

dan

mengadakan ekspansi, mereka berseteru dengan dinasti Shafawiyyah untuk

memperebutkan Anatholia dan Irak. Dinasti Shafawiyyah memproklamirkan


Syiah sebagai agama resmi dinasti, sedangkan dinasti Utsmaniyyah
menganut ajaran Sunni seiring dengan perluasan imperium yang meliputi
pula pusat-pusat budaya tinggi Islam perkotaan.
Sultan bukan hanya sebagai pembela perbatasan-perbatasan Islam,
melainkan juga sebagai pengawal kota-kota suci, Makkah, Madinah,
Yerusalem, Zebron. Seorang sultan itu memiliki gelar sebagai pelayan kota
suci, ia juga memegang pemerintahan pada zaman Turki Utsmani, yaitu Pat
Syiah yang mengklaim dirinya sebagai pemimpin otoritas yang sah dalam
term-term yang absah dalam Islam. Sistem pemerintahannya dipegang oleh
pemerintah yang bertolak belakang dengan pendahulunya.
Birokrat-birokrat dinasti Utsmaniyyah yang dilatih dalam sistem istana
dan bukan di madrasah atau di sekolah agama memiliki suatu pandangan
lain terhadap hubungan timbal balik antara politik dan agama. Pandangan
mereka

dilukiskan

sebagai

mengutamakan

rasion

detat.

Birokrat

Utsmaniyyah melihat pemeliharaan kesatuan negara dan kemajuan Islam


sebagai tugasnya. Ini diungkapkan dalam rumusan Din U devlet (din wa
daulat) atau agama dan negara. Tetapi aspek paling efektif dari kontrol
pemerintahan Utsmaniyyah terhadap lembaga Ulama, yaitu hirarki orangorang berilmu atau memiliki pengetahuan keagamaan.[12]
Setelah ada birokrasi Utsmaniyyah terjadi perubahan baik di dalam
negeri

kebanyakan

diantara

mereka

telah

menjalani

suatu

reaksi

keagamaan dan politis yang garis besarnya sejajar sama-sama menuju


masa depan yang belum pasti, tetapi ini berlaku di Mesir dan Nahas Via
Faruq ke Najib, di Suriah, di Iran. Bahwa kita melihat kemerosotan dan
keruntuhan pemerintahan parlementer dan pertumbuhan diktator. Tetapi
toh hal tersebut terjadi dimana-mana. Turki telah menjadi dewan Eropa dan
sesudah itu anggota Pakta Atlantik yang menjadikan semangat Turki lebih
besar dari negara-negara lain.

Adapun kebijakan luar negeri Turki telah berjalan sejajar dengan


negara-negara lain, karena perkembangan di dalam negeri yang serupa.
Suatu gerak Westernisasi yang sukses dan kontinyu, suatu pertumbuhan
dan perbaikan pemerintahan berparlemen.
Pada puncak sistem kendali imperium yang luas ini bertahta seorang
penguasa keluarga kerajaan keluarga Usman. Otoritas kekuasaan terletak
pada keluarga dan bukan pada anggota yang ditunjuk, tidak ada hukum
baku yang mengatur pergantian kekuasaan, yang ada hanyalah tradisi
suksesi damai dan pemerintahan yang panjang hingga awal abad ke-17 M.
Penguasa selalu digantikan oleh salah seorang putranya, akan tetapi setelah
itu yang lazim berlaku adalah manakah keluarga tertua, sang penguasa
hidup di tengah-tengah keluarga besar di dalamnya termasuk para Harem
berikut pengawalnya, pelayan pribadi, tukang kebun, dan penjaga istana.
Kedudukan dibawah penguasa ditempati oleh Sadr-i azam (pejabat
tinggi) atau dalam bahas Inggris lazim Grand Vizier (Menteri Besar). Setelah
periode pertama dinasti Utsmaniyyah, Sadr-i azam tadi dianggap memiliki
kekuasaan mutlak yang berada langsung dibawah sang penguasa, ia
dibantu

oleh

sejumlah

wazir lain yang mengendalikan

militer

dan

pemerintah provinsi serta pelayanan sipil. Sebagian besar militer Usman


merupakan kekuatan kafaleri yang direkrut dari orang-orang Turki dan
penduduk lain dari Anatholia dan pedesaan Balkan, kafaleri dibantu oleh
sejumlah prajurit dan diberi hak pengumpulan dan penyimpan pajak atas
lahan pertanian sebagai imbalan atas pelayanan yang mereka berikan.
Sistem ini dikenal dengan sistem Timar.[13]
Pada abad ke-16 M, mulai berkembang birokrasi yang rumit (kalemiye),
yakni birokrasi yang terdiri dari dua kelompok besar, yaitu :
1.

Sekretaris yang mempersiapkan secara seksama dokumen-

dokumen pemerintah, peraturan dan tanggapan terhadap petisi.

2.

Para petugas yang menjaga keuangan, penilaian terhadap aset

yang terkena pajak serta catatan mengenai berapa besar jumlah


pajak yang terkumpul.
Pada paruh pertama abad ke-17 M, terdapat periode ketika kekuasaan
pemerintah melemah, ada beberapa alasan mengapa hal ini terjadi, salah
satunya adalah inflasi, dan hal ini diikuti oleh kebangkitan kembali
kekuatan pemerintahan tetapi dalam format yang berbeda, yakni menteri
besar menjadi lebih kuat, jalur promosi menjadi lebih banyak lewat
keluarga istana menteri besar dan para pejabat tinggi lainnya daripada
lewat keluarga istana penguasa. Imperium cenderung berubah menjadi
Oligarkhi. Para pejabat yang kuat dan mereka ini terikat oleh sentimen
Asykhabiyah, karena tumbuh dalam rumah tangga yang sama, pendidikan
yang sama dan tidak jarang oleh kekerabatan dan perkawinan. Jadi, setelah
pada paruh pertama abad ke-17 M, organisasi dan pola aktivitas
pemerintahan sudah mencerminkan ideal kerajaan Persia (menurut Nizham
al-Muluk -penulis tema sejenis-), maksudnya para penguasa harus menjaga
jarak dengan lapisan masyarakat yang berbeda agar dapat mengatur
aktifitas masyarakat dan memelihara harmonis segenap lapisan. [14]
B. Masa Puncak Dan Kemajuan Peradaban
Setelah

Utsman

mengumumkan

dirinya

sebagai Padisyah

al

Utsman(raja besar keluarga Utsman), setapak demi setapak wilayah


kerajaan dapat diperluasnya. Ia menyerang daerah perbatasan Byzantium
dan menaklukkan kota Broessa tahun 1317 M, kemudian pada tahun 1326
M dijadikan sebagai ibu kota kerajaan.
Pada awalnya kerajaan Turki Utsmani hanya memiliki wilayah yang
sangat kecil, namun dengan adanya dukungan militer, tidak beberapa lama
Utsmani menjadi Kerajaan yang besar bertahan dalam kurun waktu yang
lama. Setelah Usman meninggal pada 1326, puteranya Orkhan (Urkhan)
naik tahta pada usia 42 tahun. Pada periode ini tentara Islam pertama kali

masuk ke Eropa. Orkhan berhasil mereformasi dan membentuk tiga


pasukan utama tentara. Pertama, tentara sipani (tentara reguler) yang
mendapatkan gaji tiap bulannya. Kedua, tentara Hazeb (tentara reguler)
yang digaji pada saat mendapatkan harta rampasan perang (Mal alghanimah). Ketiga tentara Jenisari direkrut pada saat berumur dua belas
tahun, kebanyakan adalah anak-anak kristen yang dibimbing islam dan
disiplin yang kuat.
Pada masa pemerintahan Orkhan (1326-1359 M), kerajaan Turki
Utsmani ini dapat menaklukkan Azmir (1327 M), Thawasyanli (1330 M),
Uskandar (1338 M), Ankara (1354 M) dan Gallipoli (1356 M). Daerah-daerah
itulah yang pertama kali diduduki kerajaan Utsmani, ketika Murad I,
pengganti

Orkhan

berkuasa

(1359-1389

M).

Selain

memantapkan

keamanan dalam negeri, ia melakukan perluasan daerah ke benua Eropa.


Ia dapat menaklukkan Adnanopel yang kemudian dijadikan ibukota
kerajaan yang baru. Mrerasa cemas terhadap ekspansi kerajaan ke Eropa,
Paus mengobarkan semangat perang. Sejumlah besar pasukan sekutu
Eropa disiapkan untuk memukul mundur Turki Utsmani, namun Sultan
Bayazid I (1389-1403 M), dapat menghancurkan pasukan sekutu Kristen
Eropa tersebut.
Haji

Bithas,

seorang

ulama

sufi

menyebut

pasukan

tersebut

denganEnicary pasukan baru, mereka juga dekat dengan tentara bakteshy,


sehingga akhirnya pasukan tersebut juga dinamai tentara bakhteshy
tentara tersebut dibagi dalam, sepuluh, seratus dan seribu setiap
kelompoknya, mereka diasingkan dari keluarga, mereka membawa kejayaan
Utsmani, pasukan elit ini dikeluarkan saat tentara reguler dan tentara
ireguler sudah lelah dalam pertempuran. Dengan cepat dan sigap pasukan
ini menyerbu setiap musuh yang datang melawan.[15]
Dalam peluasan wilayah Utsmani mengalami kemunduran, merekalah
yang melakukan reformasi dan menjadi penguasa defaktor, karena tentara

tersebut terlalu menyalahgunakan kekuasaan, akhirnya pada masa Sultan


Mahmud II mereka dibubarkan.
Penggantinya

yaitu, puteranya

yang bernama Murad I berhasil

menaklukkan banyak daerah, seperti Adrianopal, Masedonea, Bulgaria,


serbia dan Asia kecil. Namun yang paling monumental adalah penaklukan
di Kosovo. Dengan demikian lima ratus tahun daerah tersebut dikuasai oleh
pemerintah Turki Utsmani. Dia penguasa yang shaleh dan taat kepada
Allah. Murad I meskipun banyak menalukkan peperangan namun tidak
pernah kalah, ia dijuluki sebagai Alexander pada abad pertengahan,
bahkan ia dinilai sebagai pendiri dinasti Turki Utsmani yang sebenarnya.
Putra Murad yang bernama Bayazid menggantikan ayahnya, ia terkenal
dengan gelar Ildrim/Eldream. Bayazid dengan cepat menaklukkan daerah
dan memperluas di Eropa.[16]
Ekspansi Bayazid I sempat berhenti karena adanya tekanan dan
serangan dari pasukan Timur Lenk ke Asia kecil. Pertempuran hebat terjadi
antara tahun 1402 M dan pasukan Turki mengalami kekalahan. Bayazid I
dan putranya ditawan kemudian meninggal pada tahun 1403 M[17].
Kekalahan tersebut membawa dampak yang buruk bagi Kerajaan Utsmani
yaitu banyaknya penguasa-penguasa Seljuk di Asia kecil yang melepaskan
diri. Begitu pula dengan Bulgaria dan Serbia, tetapi hal itu dapat diatasi
oleh Sultan Muhammad I (1403-1421 M). Usaha beliau yang pertama yaitu
meletakkan dasardasar keamanan dan perbaikan-perbaikan dalam negeri.
Usaha beliau kemudian diteruskan oleh Sultan Murad II (1421-1451). Turki
Utsmani mengalami kemajuannya pada masa Sultan Muhammad II (14511484 M) atau Muhammad Al-Fatah. Beliau mengalahkan Bizantium dan
menaklukkan Konstantinopel[18] pada tahun 1453 M yang merupakan
kekuatan terakhir Imperium Romawi Timur.
Setelah ia meninggal digantikan dengan Murad II. Ia mengembalikan
daerah-daerah di Eropa (kosovo) yang lepas setelah meninggalnya Bayazid,

Timurlang juga seorang penguasa yang saleh dan dicintai rakyatnya, ia


seorang yang sabar, cerdas, berjiwa besar, dan ahli ketatanegaraan. Ia
banyak dipuji oleh sejarawan barat, ia banyak membangun masjid dan
sekolah, termasuk pula adil, sehingga orang non muslimpun hidup di
tengah kedamaian.
Penggantinya Murad II adalah Muhammad II dalam sejarah terkenal
dengan Muhammad Al-Fatih, ia berhasil menaklukkan kota konstantinopel
pertama kali yang telah dicita-citakan sejak khalifah Usman bin Affan,
Gubernur Muawiyah yang pertama kali menyerang konstantinopel dan
khalifah-khalifah

selanjtnya

yang

berabad-abad

mencita-citakan

penaklukan konstantinopel, akhirnya tercapai pada abad 29 mei 1453.


Pada saat itulah awal kehancuran Bizantium yang telah berkuasa
sebelum masa Nabi. Sultan Muhammad al-Fatih menaklukkan venish, Italy,
Rhodos, dan cremia yang terkenal dengan konstantinopel.
Selanjutnya pada tahun 1520-1566 M, Sulaiman Agung menjadi
penguasa baru di kerajaan Turki Utsmani menggantikan Salim I dan dia
dijuluki Sulaiman Al-Qanuni. Sulaiman bukan hanya sultan yang paling
terkenal dikalangan Turki Utsmani, akan tetapi pada awal ke 16 ia adalah
kepala negara yang paling terkenal di dunia. Ia seorang penguasa yang
shaleh, ia mewajibkan rakyat muslim harus shalat lima kali dan berpuasa
di bulan ramadhan, jika ada yang melanggar tidak hanya dikenai denda
namun juga sanksi badan.[19]
Sulaiman juga berhasil menerjemahkan Al-Quran dalam bahasa Turki,
pada saat Eropa terjadi pertentangan antara katolik kepada khalifah
Sulaiman, merteka di beri kebebasan dalam memilih agama dan diberikan
tempat di Turki Utsmani. Lord Cerssay mengatakan, bahwa pada zaman
dimana dikenal ketidakadilan dankelaliman katholik roma dan protestan,
maka Sultan Sulaiman yang paling adil dengan rakyatnya meskipun ada

yang tidak beragama islam. Setelah Sulaiman, kerajaan turki Utsmani


mengalami kemunduran.
Setelah Usman mengumumkan dirinya sebagai Padisyah al Usman(raja
besar keluarga Usman), setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat
diperluasnya.

Ia

menyerang

daerah

perbatasan

Byzantium

dan

menaklukkan kota Broessa tahun 1317 M, kemudian pada tahun 1326 M


dijadikan sebagai ibu kota kerajaan.[20]
Pada masa pemerintahan Orkhan (1326-1359 M), kerajaan Turki
Utsmani ini dapat menaklukkan Azmir (1327 M), Thawasyanli (1330 M),
Uskandar (1338 M), Ankara (1354 M) dan Gallipoli (1356 M). Daerah-daerah
itulah yang pertama kali diduduki kerajaan Utsmani,ketika Murad I,
pengganti

Orkhan

berkuasa

(1359-1389

M).

Selain

memantapkan

keamanan dalam negeri, ia melakukan perluasan daerah ke benua Eropa.


Ia dapat menaklukkan Adnanopel yang kemudian dijadikan ibukota
kerajaan yang baru. Mrerasa cemas terhadap ekspansi kerajaan ke Eropa,
Paus mengobarkan semangat perang. Sejumlah besar pasukan sekutu
Eropa disiapkan untuk memukul mundur Turki Utsmani, namun Sultan
Bayazid I (1389-1403 M), dapat menghancurkan pasukan sekutu K RISTEN
Eropa tersebut.[21]
Ekspansi Bayazid I sempat berhenti karena adanya tekanan dan
serangan dari pasukan Timur Lenk ke Asia kecil. Pertempuran hebat terjadi
antara tahun 1402 M dan pasukan Turki mengalami kekalahan. Bayazid I
dan putranya ditawan kemudian meninggal pada tahun 1403 M[22] (Ali,
1991:183). Kekalahan tersebut membawa dampak yang buruk bagi
Kerajaan Utsmani yaitu banyaknya penguasa-penguasa Seljuk di Asia kecil
yang melepaskan diri. Begitu pula dengan Bulgaria dan Serbia, tetapi hal
itu dapat diatasi oleh Sultan Muhammad I (1403-1421 M). Usaha beliau
yang pertama yaitu meletakkan dasardasar keamanan dan perbaikanperbaikan dalam negeri. Usaha beliau kemudian diteruskan oleh Sultan

Murad

II

(1421-1451).

Turki Utsmani mengalami kemajuannya pada masa Sultan Muhammad II


(1451-1484 M) atau Muhammad Al-Fatah. Beliau mengalahkan Bizantium
dan menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 M yang merupakan
kekuatan terakhir Imperium Romawi Timur.
Pada masa Sultan Salim I (1512-1520 M), ekspansi dialihkan ke Timur,
Persia, Syiria dan Mesir berhasil ditaklukkannya. Ekspansi tersebut
dilanjutkan oleh putranya Sulaiman I (1520-1526 M) dan berhasil
menaklukkam Irak, Belgaro,kepulauan Rhodes, Tunis dan Yaman. Masa
beliau merupakan puncak keemasan dari kerajaan Turki Utsmani, karena
dibawah pemerintahannya berhasil menyatukan wilayah yang meliputi
Afrika Utara, Mesir, Hijaz, Irak, Armenia, Asia Kecil, Krimea, Balkan,
Yunani, Bulgaria, Bosnia, Hongaria, Rumania sampai batas sungai Danube
dengan tiga lautan, yaitu laut Merah, laut Tengah dan laut Hitam.[23]
Utsmani

yang

berhasil

menaklukkan

Mesir

tetap

melestarikan

beberapa system kemasyarakatan yang ada sekalipun dengan beberapa


modifikasi.

Utsmani

menyusun

kembali

sistem

pemerintahan

yang

memusat dan mengangkat beberapa Gubernur militer dan pejabat-pejabat


keuangan untuk mengamankan pengumpulan pajak dan penyetoran
surplus pendapatan ke Istambul. Peranan utama pemerintahan Utsmani
adalah menentramkan negeri ini, melindungi pertanian, irigasi dan
perdagangan sehingga mengamankan arus perputaran pendapatan pajak.
Dalam rentangan abad pertama dan abad pertengahan dari pereode
pemerintahan
pertanian

Utsmani,

meningkat

sistem

irigasi

dengan

pesat

di

Mesir

dan

diperbaiki,

kegiatan

kegiatan

perdagangan

dikembangkan melalui pembukaan kembali beberapa jalur perdagangan


antara India dan Mesir[24].
Akibat kegigihan dan ketangguhan yang dimiliki oleh para pemimpin
dalam mempertahankan Turki Utsmani membawa dampak yang baik

sehingga kemajuankemajuan dalam perkembangan wilayah Turki Utsmani


dapat di raihnya dengan cepat. Dengan cara atau taktik yang dimainkan
oleh beberapa penguasa Turki seperi Sultan Muhammad yang mengadakan
perbaikan-perbaikan

dan

meletakkan

dasar-dasar

keamanan

dalam

negerinya yang kemudian diteruskan oleh Murad II (1421-1451M) [25].


Sehingga Turki Utsmani mencapai puncak kejayaan pada masa Muhammad
II (1451- 1484 M). Usaha ini di tindak lanjuti oleh raja-raja berikutnya,
sehingga

dikembangkan

oleh

Sultan

Sulaiman

al-Qonuni.

Ia

tidak

mengarahkan ekspansinya kesalah satu arah timur dan Barat, tetapi


seluruh wilayah yang berada disekitar Turki Utsmani itu, sehingga
Sulaiman

berhasil

menguasai

wilayah

Asia

kecil.

Kemajuan

dan

perkembangan wilayah kerajaan Utsmani yang luas berlangsung dengan


cepat dan diikuti oleh kemajuan-kemajuan dalam bidang-bidang kehidupan
lain yang penting, diantaranya :
a. Bidang Kemiliteran dan Pemerintahan
Untuk pertama kalinya Kerajaan Utsmani mulai mengorganisasi taktik,
strategi tempur dan kekuatan militer dengan baik dan teratur. Sejak
kepemimpinan

Ertoghul

sampai

Orkhan

adalah

masa

pembentukan

kekuatan militer. Perang dengan Bizantium merupakan awal didirikannya


pusat pendidikan dan pelatihan militer, sehingga terbentuklah kesatuan
militer yang disebut dengan Jenissari atauInkisyariah . Selain itu kerajaan
Utsmani membuat struktur pemerintahan dengan kekuasaan tertinggi di
tangan Sultan yang dibantu oleh Perdana Menteri yang membawahi
Gubernur. Gubernur mengepalai daerah tingakat I. Di bawahnya terdapat
beberapa bupati. Untuk mengatur urusan pemerintahan negara, di masa
Sultan Sulaiman I dibuatlah UU yang diberi nama Multaqa Al-Abhur , yang
menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Utsmani sampai datangnya
reformasi pada abad ke-19. Karena jasanya ini, di ujung namanya di
tambah gelar al-Qanuni[26] .

b. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Budaya


Kebudayaan Turki Utsmani merupakan perpaduan bermacam-macam
kebudayaan diantaranya adalah kebudayaan Persia, Bizantium dan Arab.
Dari kebudayaan Persia mereka banyak mengambil ajaran-ajaran tentang
etika dan tata krama dalam istana raja-raja. Organisasi pemerintahan dan
kemiliteran banyak diserap dari Bizantium. Dan ajaran tentang prinsipprinsip ekonomi, sosial dan kemasyarakatan, keilmuan dan huruf diambil
dari Arab[27]. Dalam bidang Ilmu Pengetahuan di Turki Utsmani tidak begitu
menonjol karena mereka lebih memfokuskan pada kegiatan militernya,
sehingga dalam khasanah Intelektual Islam tidak ada Ilmuwan yang
terkemuka dari Turki Utsmani.
c. Bidang Keagamaan
Agama dalam tradisi masyarakat Turki mempunyai peranan besar
dalam lapangan sosial dan politik. Masyarakat digolongkan berdasarkan
agama, dan kerajaan sendiri sangat terikat dengan syariat sehingga fatwa
ulama menjadi hukum yang berlaku. Oleh karena itu, ajaran-ajaran
tharekat berkembang dan juga mengalami kemajuan di Turki Utsmani. Para
Mufti menjadi pejabat tertinggi dalam urusan agama dan beliau mempunyai
wewenang dalam memberi fatwa resmi terhadap problem keagamaan yang
terjadi dalam masyarakat.
Kemajuan-kemajuan yang diperoleh kerajaan Turki Utsmani tersebut
tidak terlepas daripada kelebihan-kelebihan yang dimilikinya, antara lain:
a. Mereka adalah bangsa yang penuh semangat, berjiwa besar dan giat.
b. Mereka memiliki kekuatan militer yang besar.
c. Mereka menghuni tempat yang sangat strategis, yaitu Constantinopel yang
berada pada tititk temu antara Asia dan Eropa[28].
Disamping itu keberanian, ketangguhan dan kepandaian taktik yang
dilakukan olah para penguasa Turki Utsmani sangatlah baik, serta

terjalinnya hubungan yang baik dengan rakyat kecil, sehingga hal ini pun
juga mendukung dalam memajukan dan mempertahankan kerajaan Turki
Utsmani.
D. Tokoh-tokoh pada Masa Turki Utsmani
Masa pemerintahan Sulaiman I (1520-1566 M) merupakan puncak
kejayaan daripada kerajaan Turki Utsmani. Beliau terkenal dengan sebutan
Sulaiman Agung atau Sulaiman Al-Qonuni. Akan tetapi setelah beliau wafat
sedikit demi sedikit Turki Utsmani mengalami kemunduran. Setelah
Sulaiman meninggal Dunia, terjadilah perebutan kekuasaan antara puteraputeranya, yang nenyebabkan kerajaan Turki Utsmani mundur akan tetapi
meskipun terus mengalami kemunduran kerajaan ini untuk masa beberapa
abad masih dipandang sebagai militer yang tangguh. Kerajaan ini memang
masih bertahan lima abad lagi setelah sepeninggalnya Sultan Sulaiman
1566 M[29].
Sultan Sulaiman di ganti Salim II. Pada masa pemerintahan Salim II
(1566-1573 M), pasukan laut Utsmani mengalami kekalahan atas serangan
gabungan tentara Spanyol, Bandulia, Sri Paus dan sebagian armada
pendeta Malta yang dipimpin Don Juan dari Spanyol. Kekalahan ini
menyebabkan Tunisia[30] dapat direbut musuh. Tetapi pada tahun 1575 M,
Tunisia dapat direbut kembali oleh Sultan Murad III (1574-1595 M). Pada
masa pemerintahannya, keadaan dalam negeri mengalami kekacauan. Hal
itu disebabkan karena ia mempunyai kepribadian yang buruk. Keadaan itu
semakin kacau setelah naiknya Sultan Muhammad III (1595-1603 M),
Sultan Ahmad I (1603-1671 M) dan Musthofa I (1617-1622 M), akhirnya
Syeikh Al-Islam mengeluarkan fatwa agar Musthofa I turun dari jabatannya
dan diganti oleh Usman II (1618-1622 M)[31].
Pada masa pemerintahan Sultan Murad IV (1623-1640 M), mulai
mengadakan perbaikan-perbaikan, tetapi sebelum ia berhasil secara
keseluruhan, masa pemerintahannya berakhir. Kemudian pemerintahan

dipegang oleh Ibrahim (1640-1648 M), yang pada masanya orang-orang


Venesia[32] melakukan peperangan laut dan berhasil mengusir orang Turki
Utsmani di Cyprus[33] dan Creta pada tahun 1645 M. Pada tahun 1663 M
pasukan Utsmani menderita kekalahan dalam penyerbuan ke Hungaria.
Dan juga pada tahun 1676 M dalam pertempuran di Mohakes, Hungaria.
Turki Utsmani dipaksa menandatangani perjanjian Karlowitz [34] pada tahun
1699 M yang berisi pernyataan penyerahan seluruh wilayah Hungaria,
sebagian besar Slovenia dan Croasia kepada Hapsburg. Dan penyerahan
Hermeniet, Padalia, Ukraenia, More dan sebagian Dalmatia kepada
penguasaVenesia.
Pada tahun 1770 M pasukan Rusia mengalahkan armada Utsmani di
sepanjang pantai Asia Kecil. Namun kemenangan ini dapat direbut kembali
oleh Sultan Musthofa III (1757- 1774 M). Dan pada tahun 1774 M,
penguasa Utsmani Abddul Hamid (1774-1789 M) terpaksa menandatangani
kinerja dengan Catherine II[35] dari Rusia yang berisi penyerahan bentengbenteng

pertahanan

di

Laut

Hitam

kepada

Rusia

dan

pengakuan

kemerdekaan atas Crimea[36].


Pemerintahan Turki, masa pasca Sulaiman banyak terjadi kekacauankekacauan yang menyebabkan kemunduran dalam mempertahankan Turki
Utsmani (kerajaan Utsmani). Hal ini dikarenakan benyaknya berganti
pemimpin atau penguasa yang hanya meperebutkan jabatan tanpa
memikirkan langkah-langkah selanjutnya yang lebih terarah pada tegaknya
kerajaan Utsmani. Sifat dari pada para pemimpin juga mempengaruhi
keadaan kerajaan Utsmani, seperti halnya sifat jelek yang dilakukan Sultan
Murad III (1574-1595 M) yakni yang selalu menuruti hawa nafsunya
sehingga kehidupan moral Sultan Murad yang jelek itu menyebabkan
timbulnya kekacauan dalam negeri Utsmani itu sendiri.
Banyaknya kemunduran yang dirasakan selama kurang lebih dua abad
ditinggal Sultan Sulaiman. Tidak ada tanda-tanda membaik sampai

setengah pertama dari abad ke -19 M. Oleh karena itu, satu persatu negaranegara di Eropa yang pernah dikuasai kerajaan Utsmani ini memerdekakan
diri. Bukan hanya negeri-negeri di Eropa yang memang sedang mengalami
kemajuan memberonak terhadap kerajaan-kerajaan Utsmani, tetapi juga
beberapa didaerah timur tengah mencoba bangkit memberontak. Dari
sinilah dapat disimpulkan bahwa kemunduran Turki Utsmani pasca
Sulaiman disebabkan karena banyaknya terjadi kekacauan-kekacauan yang
menyebabkan kemunduran dalam kerajaan Utsmani.[37]
Tokoh-Tokoh Pembaharuan Masa Kerajaan Turki Utsmani
1. Sultan Mahmud II

Mahmud lahir pada tahun 1785 dan mempunyai


didikan tradisional, antara lain pengetahuan agama,
pengetahuan pemerintahan, sejarah dan sastra Arab,
Turki dan Persia. Ia diangkat menjadi Sultan di tahun
1807 dan meninngal di tahun 1839. Di bagian pertama
dari masa kesultanannya ia disibukkan oleh peperangan
dengan Rusia dan usaha menundukkan daerah-daerah
yang mempunyai kekuasaan otonomi besar, peperangan
dengan
Rusia
selesai
di
tahun
1812.
Setelah
kekuasaannya sebagai pusat pemerintahan Kerajaan
Utsmani bertambah kuat, Sultan Mahmud II melihat
bahwa telah tiba masanya untuk memulai usaha-usaha
pembaharuan yang telah lama ada dalam pemikirannya. [38]
Sultan Mahmud II, dikenal sebagai Sultan yang tidak
mau terikat pada tradisi dan tidak segan-segan melanggar
adat
kebiasaan
lama.
Sultan-sultan
sebelumnya
menganggap diri mereka tinggi dan tidak pantas bergaul
dengan rakyat. Oleh karena itu, mereka selalu
mengasingkan diri dan meyerakan soal mengurus rakyat

kepada bawahan-bawahan. Timbullah anggapan mereka


bukan manusia biasa dan pembesar-pembesar Negara pun
tidak
berani
duduk
ketika
menghadap
Sultan.
Tradisi aristokrasi ini dilanggar oleh Mahmud II. Ia
mengambil sikap demokratis dan selalu muncul di muka
umum untuk berbicara atau menggunting pita pada
upacara-upacara resmi. Menteri dan pembesar-pembesar
negara lainnya ia biasakan duduk bersama jika datang
menghadap. Pakaiam kerajaan yang ditentukan untuk
Sultan dan pakaian kebesaran yang biasa dipakai Menteri
dan pembesar-pembesar lain ia tukar dengan pakaian
yang lebih sederhana. Tanda-tanda kebesaran hilang,
rakyat biasa dianjurkan pula supaya meninggalkan
pakaian tradisional dan menukarnya dengan pakaian
Barat. Perubahan pakaian ini menghilangkan perbedaan
status dan sosial yang nyata kelihatan pada pakaian
tradisional. Kekuasaan-kekuasaan luar biasa yang
menurut tradisi dimiliki oleh penguasa-penguasa Utsmani
ia batasi. Kekuasaan Pasya atau Gubernur untuk
menjatuhkan hukum mati dengan isyarat tangan ia
hapuskan. Hukuman bunuh untuk masa selanjutnya
hanya bisa di keluarkan oleh hakim. Penyitaan negara
terhadap harta orang yang dibuang atau dihukum mati
juga ia tiadakan. Sultan Mahmud II juga mengadakan
perubahan dalam organisasi pemerintahan Kerajaan
Utsmani. Menurut tradisi Kerajaan Utsmani dikepalai oleh
seorang Sultan yang mempunyai kekuasaan duniawi dan
kekuasaan rohani. Sebagai penguasa duniawi ia memakai
titel Sultan dan sebagai kepala rohani umat Islam ia
memakai gelar Khalifah. Dengan demikian, Raja Utsmani

mempunyai
dua
bentuk
kekuasaan,
kekuasaan
memerintah Negara dan kekuasaan menyiarkan dan
membela Islam.[39]
Perubahan penting yang diadakan oleh Sultan
Mahmud II dan yang kemudian mempunyai pengaruh
besar pada perkembangan pembaharuan di Kerajaan
Utsmani ialah perubahan dalam bidang pendidikan.
Seperti halnya di Dunia Islam lain di zaman itu, Madrasah
merupakan satu-satunya lembaga pendidikan umum yang
ada di Kerajaan Utsmani. Di Madrasah hanya diajarkan
agama sedangkan pengetahuan umum tidak diajarkan.
Sultan Mahmud II sadar bahwa pendidikan Madrasah
tradisional tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman abad
ke-19. Di masa pemerintahannya orang kurang giat
memasukkan anak-anak mereka ke Madrasah dan
mengutamakan mengirim mereka belajar keterampilan
secara praktis di perusahaan industri. Oleh karena itu, ia
mengadakan perubahan dalam kurikulum Madrasah
dengan menambah pengetahuan-pengetahuan umum di
dalamnya, seperti halnya di Dunia Islam lain pada waktu
itu memang sulit. Madrasah tradisional tetap berjalan
tetapi disampingnya Sultan mendirikan dua sekolah
pengetahuan
umum.
Mekteb-i
Maarif
(Sekolah
Pengetahuan Umun) dan Mekteb-i Ulum-u Edebiye
(Sekolah Sastra). Siswa untuk kedua sekolah itu dipilih
dari lulusan Madrasah yang bermutu tinggi. Selain itu,
Sultan Mahmud II juga mendirikan Sekolah Militer,
Sekolah Teknik, Sekolah Kedokteran dan Sekolah
Pembedahan. Lulusan Madrasah banyak meneruskan
pelajaran di sekolah-sekolah yang baru didirikannya.

Selain dari mendirikan Sekolah Sultan Mahmud II juga


mengirim siswa-siswa ke Eropa yang setelah kembali ke
tanah air juga mempunyai pengaruh dalam penyebaran
ide-ide baru di Kerajaan Utsmani. Pembaharuanpembaharuan yang diadakan Sultan Mahmud II di ataslah
yang menjadi dasar bagi pemikiran dan usaha
pembaharuan selanjutnya di Kerajaan Utsmani abad ke-19
dan Turki abad ke-20.[40]
2. Tanzimat

Istilah tanzimat berasal dari bahasa Arab dari kata


Tanzim yang berarti pengaturan, penyusunan dan
memperbaiki. Dalam pembaharuan yang diadakan pada
masa Tanzimat merupakan sebagai lanjutan dari usahausaha yang dijalankan oleh Sultan Mahmud II yang
banyak mengadakan pembaharuan peraturan dan
perundang-undangan. Secara terminology. Tanzimat
adalah suatu usaha pembaharuan yang mengatur dan
menyusun serta memperbaiki struktur organisasi
pemerintahan, sosial, ekonomi dan kebudayaan, antara
tahun 1839-1871 M. Tokoh-tokoh penting Tanzimat antara
lain : Mustafa Rasyid Pasya, Mustafa Sami, Mehmed Sadek
Rifat Pasya dan Ali Pasya seperti yang dijelaskan berikut
ini :[41]
a. Mustafa Rasyid Pasya (1880-1858). Pemuka utama dari
pembaharuan di zaman Tanzimat ialah Mustafa Rasyid
Pasya, ia lahir di Istanbul pada tahun 1800,
berpendidikan Madrasah kemudian menjadi pegawai
pemerintah. Mustafa Rasyid Pasya pada tahun 1034
diangkat menjadi Duta Besar untuk daerah Perancis,

selain itu ia juga pernah diangkat menjadi Duta Besar


Kerajaan Utsmani di beberapa negara lain. Setelah itu ia
dipanggil pulang untuk menjadi Menteri Luar Negeri dan
pada akhirnya ia diangkat menjadi Perdana Menteri.
Usaha pembaharuannya yang terpenting ialah sentralisasi
pemerintahan dan modernisasi angkatan bersenjata pada
tahun 1839.
b. Mustafa Sami Pasya (wafat 1855). Mustafa Sami Pasya
mempunyai banyak pengalaman di luar negeri antara lain
di Roma, Wina, Berlin, Brussel, London, Paris dan negara
lainnya sebagai pegawai dan duta. Menurut pendapat
Mustafa Sami Pasya, kemajuan bangsa Eropa terletak
pada
keunggulan
mereka
dalam
lapangan
ilmu
pengetahuan dan teknologi. Sebab lain dilihatnya karena
toleransi beragama dan kemampuan orang Eropa
melepaskan diri dari ikatan-ikatan agama, di samping itu
pula pendidikan universal bagi pria dan wanita sehingga
umumnya orang Eropa pandai membaca dan menulis.
c. Mehmed Sadik Rifat Pasya. Seorang pemuka tanzimat
lain yang pemikirannya lebih banyak diketahui orang
adalah Mehmed Sadik Rifat Pasya yang lahir pada tahun
1807 dan wafat tahun 1856 M. Pendidikannya selesai di
madrasah, ia melanjutkan pelajaran ke sekolah sastra,
yang khusus diadakan untuk calon-calon pegawai istana.
Tahun 1834 ia diangkat menjadi Pembantu Menteri Luar
negeri, tiga tahun kemudian ia diangkat menjadi Menteri
Luar Negeri dan selanjutnya Menteri Keuangan. Pokokpokok pemikiran dan pembaharuannya ialah Sultan dan
pembesar-pembesar negara harus tunduk pada undang-

undang dan peraturan-peraturan lainnya. Negara harus


tunduk pada hokum (negara hukum), kodifikasi hukum,
administrasi, pengaturan hak dan kewajiban rakyat,
reorganisasi, angkatan bersenjata, pendidikan dan
keterampilan serta dibangunnya Bank Islam Utsmani pada
tahun 1840. Ide-ide yang dicetuskan Sadik Rifat pada
zaman itu merupakan hal baru karena orang tidak
mengenal peraturan, hukum, hak dan kebebasan. Ketika
itu petani lebih banyak menjadi budak bagi tuan tanah
dan rakyat budak bagi Sultan. Pemikiran Sadik Rifat
sejalan dengan pemikiran Mustafa Rasyid Pasya yang pada
masa itu mempunyai kedudukan sebagai Menteri Luar
Negeri.
d. Ali Pasya (1815-1871). Beliau lahir pada tahun 1815 di
Istanbul dan wafat tahun 1871, anak dari seorang pelayan
toko. Dalam usia 14 tahun ia sudah diangkat menjadi
pegawai. Tahun 1840 diangkat menjadi Duta Besar
London dan sebelum menjadi Duta Besar ia sering kali
menjadi staf Perwakilan Kerajaan Utsmani di berbagai
negara Eropa dan di tahun 1852 ia menggantikan
kedudukan Rasyid Pasya sebagai Perdana Menteri. Usaha
pembaharuannya antara lain : tentang pengakuan semua
aliran spiritual pada masa itu, jaminan melaksanakan
ibadahnya masing-masing, larangan memfitnah karena
agama, suku dan bahasa, jaminan kesempatan belajar,
sistem peradilan dan lain-lainnya.
Pembaharuan yang dilaksanakan oleh tokoh-tokoh
pembaharuan di zaman Tanzimat tidaklah seluruhnya
mendapat dukungan bahkan mendapat kritikan baik dari

dalam atau di luar Kerajaan Utsmani karena gerakangerakan tanzimat untuk mewujudkan pembaharuan
didasari
oleh
pemikiran
liberalisme
Barat
dan
meninggalkan pola dasar syariat agama, hal ini salah satu
sebab yang utama sehingga gerakan tannzimat mengalami
kegagalan dalam usaha pembaharuannya.[42]
3. Usman Muda

Sebagaimana dikatakan bahwa pembaharuan yang


diusahakan dalam Tanzimat belumlah mendapat hasil
sebagaimana yang diharapkan, bahkan mendapat
kritikan-kritikan dari luar kaum cendekiawan. Kegagalan
oleh Tanzimat dalam mengganti konstitusi yang absolut
merupakan cambuk untuk usaha-usaha selanjutnya.
Untuk mengubah kekuasaan yang absolut maka timbullah
usaha atau gerakan dari kaum cendikiawan melanjutkan
usaha-usaha Tanzimat. Gerakan ini dikenal dengan Young
Ottoman-Yeni Utsmanilar (Gerakan Utsmani Muda) yang
didirikan pada tahun 1865.[43]
Utsmani Muda pada asalnya merupakan perkumpulan
manusia yang didirikan di tahun 1865 dengan tujuan
untuk mengubah pemerintahan absolut kerajaan Utsmani
menjadi pemerintahan konstitusional. Setelah rahasia
terbuka pemuka-pemukanya lari ke Eropa di tahun 1867
dan di sanalah gerakan mereka memperoleh nama
Utsmani Muda. Para tokoh Utsmani Muda banyak yang
melakukan gerakan rahasia dalam menentang kekuasaan
absolut Sultan. Namun sikap politik mereka itu akhirnya
diketahui oleh Sultan. Akhirnya mereka banyak yang pergi
ke Eropa dan di sana mereka menyusun kekuatan. Maka

setelah situasi Turki aman kembali, mereka pun banyak


yang pulang ke tanah air dan meneruskan cita-cita
mereka, terutama tentang ide-ide pembaharuan.[44]
Beberapa tokoh dari gerakan itu membawa angin baru
tentang demokrasi dan konstitusional pemerintahan yang
menjunjung tinggi kekuasaan rakyat bukan kekuasaan
absolut. Diantara tokoh itu ialah : Zia Pasya, Nanik Kemal,
dan Midhat Pasya.
a. Zia Pasya Zia Pasya lahir pada tahun 1825 di Istambul
dan meninggal dunia pada tahun 1880. Ia anak seorang
pegawai Kantor Beacukai di Istanbul. Pendidikannya
setelah selesai sekolah di Sulaemaniye yang didirikan
Sultan Mahmud II dalam usia muda dia diangkat menjadi
pegawai pemerintah, kemudian atas usaha Mustafa Rasyid
Pasya pada tahun 1854 ia diterima menjadi salah seorang
sekretaris Sultan. Disinilah ia dapat mengetahui tentang
sistem dan cara Sultan memerintah dengan otoriter. Untuk
keperluan tugas barunya, ia mempelajari bahasa Perancis
dan dalam waktu yang singkat ia menguasai dan dapat
menerjemahkan buku-buku Perancis ke dalam bahasa
Turki. Karena terjadi kesalah-pahaman dengan Ali Pasya
maka ia pergi ke Eropa pada tahun 1867 dan tinggal
disana selama lima tahun.[45]
Ketika berada di Eropa itulah banyak pengalaman yang
didapatkannya.
Beberapa
pemikirannya
akhirnya
menjurus kepada usaha pembaharuan. Usaha-usaha
pembaharuannya antara lain, kerajaan Utsmani menurut
pendapatnya
harus
dengan
sistem
pemerintahan
konstitusional,
tidak
dengan
kekuasaan
absolut.

Menurutnya negara Eropa maju disebabkan tidak terdapat


lagi pemerintahan yang absolut, semuanya dengan sistem
pemerintahan konstitusional. Dalam sistem pemerintahan
konstitusional harus ada Dewan Perwakilan Rakyat.
Kemudian Zia mengemukakan haditsPerbedaan pendapat
di kalangan umatku merupakan rahmat dari Tuhan,
sebagai alasan untuk perlu adanya Dewan Perwakilan
Rakyat, di mana perbedaan pendapat itu ditampung dan
kritik
terhadap
pemerintah
dikemukakan
untuk
kepentingan umat seluruhnya. Sebagai orang yang taat
menjalankan agama Islam, Zia sebenarnya tidak
sepenuhnya setuju terhadap pembaharuan yang hanya
mencomot ide-ide Barat tanpa sikap kritis. Itulah
sebabnya dia lebih melihat kesesuaian antara kepentingan
rakyat dengan ide pembaharuan yang datangnya dari
Barat. Dalam hal demikian, ia juga tidak sependapat
dengan orang yang mengatakan bahwav agama Islam
dapat dianggap sebagai penghalang kemajuan.
b. Midhat Pasya. Nama lengkapnya Hafidh Ahmad Syafik
Midhat Pasya, lahir pada tahun 1822 di Istanbul.
Pendidikan agamanya diperoleh dari ayahnya sendiri.
Dalam usia sepuluh tahun ia telah hafal Al-Quran, oleh
karena itu ia digelari Al-Hafidh. Pendidikannya yang
tertinggi adalah pada Universitas Al-Fatih. Dia termasuk
tokoh Utsmani Muda yang mempunyai peranan cukup
penting dalam ide pembaharuan. Ia anak seorang hakim
agama yang dalam usia belasan tahun sudah menjadi
pegawai di Biro Perdana Menteri. Tahun 1858 ia diberikan
kesempatan untuk berkunjung ke Eropa selama enam
bulan. Setelah itu beberapa saat kemudia, ia diangkat

menjadi gubernur di berbagai daerah. Dengan kemampuan


dan kecakapan yang luar biasa akhirnya Sultan
mengangkatnya menjadi Perdana Menteri tahun 1872.
Ketika Sultan Abdul Hamid berkuasa menggantikan
Sultan Murad V, ia diangkat kembali menjadi Perdana
Menteri. Saat itu ada perjanjian langsung bahwa Sultan
akan memberikan sokongan atas gerakan-gerakannya.
Sultan juga nampaknya memberi angin segar atas
pembaharuan kelompok Utsmani Muda. Beberapa langkah
pembaharuan itu, seperti memperkecil kekuasaan kaum
eksekutif dan memberikan kekuasaan lebih besar kepada
kelompok legislatif. Golongan ini juga berusaha
menggolkan sistem konstitusi yang sudah ditegakkan
dengan memakai istilah terma-terma yang islami, seperti
musyawarah untuk perwakilan rakyat, baiah untuk
kedaulatan rakyat dan syariah untuk konstitusi. Dengan
usaha ini sistem pemerintahan Barat lambat laun dapat
diterima kelompok ulama dan Syaikh Al-Islami yang
sebenarnya banyak menentang ide pembaharuan pada
masa sebelumnya.[46]
Tanggal 23 Desember 1876 konstitusi yang bersifat
semi-otokrasi ditanda tangani oleh Sultan Abdul Hamid.
Isi dari konstitusi ini sebagian besar masih belum
mencerminkan langkah nyata dari pembaharuan sistem
pemerintahan, karena kekuasaan Sultan masih demikian
besar. Salah satu contoh adalah pasal 113 dari UndangUndang yang dibuat, berbunyi bahwa dalam keadaan
darurat Sultan boleh memberikan pengumuman tertentu
dan boleh menangkap atau mengasih orang-orang yang
dianggap membahayakan kepentingan negara. Jadi, dari

bunyi pasal tersebut Sultan masih diberi wewenang besar


untuk menjalankan keputusan yang bersifat mutlak.
Justru pasal ini nanti digunakannya untuk menangkap
orang-orang yang tidak disenangi Sultan, termasuk
diantaranya tokoh Utsmani Muda Midhat Pasya ini.
c. Namik Kemal. Beliau termasuk pemikir terkemuka dari
Utsmani Muda, lahir pada tahun 1840 di Tekirdag. Dia
berasal dari keluarga ningrat. Orangtuanya menyediakan
pendidikan di rumah di samping pelajaran bahasa Arab,
Persia, juga diberikan bahasa Perancis. Oleh karena itu,
dalam usia yang sangat muda ia sudah menguasai
berbagai bahasa. Dalam usia belasan tahun dia diangkat
menjadi pegawai kantor penerjemah dan kemudian
dipindahkan menjadi pegawai di istana Sultan. Namik
Kemal banyak dipengaruhi oleh pemikiran Ibrahim Sinasih
(1826-1871) yang berpendidikan Barat dan banyak
mempunyai pandangan modernisme. Nanik mempunyai
jiwa Islami yang tinggi, sehingga walaupun ia dipengaruhi
pemikiran Barat namun masih menjunjung tinggi moral
Islam dalam ide-ide pembaharuannya.[47]
Menurutnya Turki saat ini mundur karena lemahnya
politik dan ekonomi. Untuk bisa memajukan ekonomi dan
politik Turki harus ada perubahan dalam sistem
pemerintahan. Untuk mewujudkan sistem pemerintahan
yang
ideal,
penguasa
harus
menjunjung
tinggi
kepentingan rakyat. Karena kepentingan rakyat menjadi
asas negara, maka negara mesti demokratis, yaitu
pemerintahan yang didasarkan atas dukungan dan
kepentingan. Yang dikehendaki oleh Nanik Kemal adalah

pemerintahan demokrasi dan pemerintahan serupa ini


menurut pendapatnya tidak bertentangan dengan ajaran
Islam. Negara Islam yang dibentuk dan dipimpin oleh
empat khalifah besar, sebenarnya mempunyai corak
demokrasi.
Sistem
baiah
yang
terdapat
dalam
pemerintahan Khalifah pada hakikatnya merupakan
kedaulatan rakyat. Melalui baiah rakyat menyatakan
persetujuan mereka atas pengangkatan khalifah yang
baru. Dengan demikian baiah merupakan kontrak sosial
dan kontrak yang terjadi antara rakyat dan khalifah itu
dapat dibatalkan jika khalifah mengabaikan kewajibankewajibannya sebagai Kepala Negara.
Di dalam Islam ada ajaran yang disebut al-maslahah
al-ammah dan ini sebenarnya adalah maslahat umum.
Khalifah tidak boleh mengambil sikap atau tindakan yang
bertentangan dengan maslahat umum. Karena itu
merupakan suatu bentuk dari pendapat umum. Khalifah
harus selalu memperhatikan dan menghormati pendapat
umum. Lebih lanjut lagi, musyawarah adalah dasar
penting dalam soal pemerintahan dalam Islam. Sistem
musyawarah ini memperkuat corak demokrasi pemerintah
Islam. Pembuat hukum dalam Islam ialah kaum ulama,
yang melaksanakan hukum adalah pemerintah.
Dengan membawa argumen-argumen seperti di atas,
Namik Kemal berpendapat bahwa sistem pemerintahan
konstitusional tidaklah merupakan bidah dalam Islam. Di
antara ide-ide lain yang dibawa Namik terdapat cinta
tanah air Turki, tetapi seluruh daerah kerajaan Utsmani.
Konsep tanah airnya tidak sempit. Sebagai orang yang

dijiwai ajaran Islam, ia melihat perlunya diadakan


persatuan seluruh umat Islam di bawah pimpinan
Kerajaan Utsmani, sebagai negara Islam yang terbesar dan
terkuat di waktu itu.
4. Turki Muda

Setelah dibubarkannya parlemen dan dihancurkannya


gerakan Utsmani Muda, maka Sultan Abdul Hamid
memerintah dengan kekuasaan yang lebih absolut.
Kebebasan berbicara dan menulis tidak ada. Dalam
suasana yang demikian timbullah gerakan oposisi
terhadap pemerintah yang obsolut Sultan Abdul Hamid
sebagaimana halnya di zaman yang lalu dengan Sultan
Abdul Aziz. Gerakan oposisi dikalangan perguruan tinggi,
mengambil bentuk perkumpulan rahasia, di kalangan
cendekiawan dan pemimpin-pemimpinnya lari ke luar
negeri dan disana melanjutkan oposisi mereka dan
gerakan di kalangan militer menjelma dalam bentuk
komite-komite rahasia. Oposisi berbagai kelompok inilah
yang kemudian dikenal dengan nama Turki Muda.
Tokoh-tokoh Turki Muda, antara lain adalah Ahmad
Riza (1859-1930), Mehmed Murad (1853-1912) dan
Pangeran Sahabuddin (1887-1948).[48]
a. Ahmad Riza Ahmad Riza adalah anak seorang bekas
anggota
parlemen
bernama
Injilis
Ali.
Dalam
pendidikannya ia sekolah di pertanian untuk kelak dapat
bekerja dan berusaha mengubah nasib petani yang
malang dan studinya ini diteruskan di Perancis
sekembalinya ia dari perancis ia bekerja di Kementerian
Pertanian, tapi ternyata hubungan pemerintah dengan

petani yang miskin sedikit sekali, karena kementerian itu


lebih disibukkan dengan birokrasi. Kemudia ia pindah ke
Kementerian Pendidikan namun disini juga disibukkan
dengan birokrasi tapi kurang disibukkan dengan
pendidikan.
Pembaharuan yang dilakukan oleh Ahmad Riza antara lain
adalah ingin mengubah pemerintahan yang absolut
kepada pemerintahan konstitusional. Karena menurutnya
akan menyelamatkan Kerajaan Utsmani dari keruntuhan
adalah melalui pendidikan dan ilmu pengetahuan positif
dan bukan dengan teologi atau metafisika. Adanya dan
terlaksananya program pendidikan yang baik akan
berhajat pada pemerintahan yang konstitusional.
b. Mehmed Murad (1853-1912). Mehmed Murad berasal dari
Kaukasus dan lari ke Istanbul pada tahun 1873 yakni
setelah gagalnya pemberontakan Syekh Syamil di daerah
itu. Ia belajar di Rusia dan di sanalah ia berjumpa dengan
ide-ide Barat, namun pemikiran Islam berpengaruh pada
dirinya.
Ia berpendapat bahwa bukanlah Islam yang menjadi
penyebab mundurnya Kerajaan Utsmani dan bukan pula
rakyatnya, namun sebab kemunduran itu terletak pada
Sultan yang memerintah secara absolut. Oleh karena itu,
menurutnya kekuasaan Sultan harus dibatasi. Dalam hal
ini dia berpendapat bahwa musyawarah dalam Islam sama
dengan konstitusional di dunia Barat. Ia mengusulkan
didirikan satu Badan Pengawas yang tugasnya mengawasi
jalannya undang-undang agar tidak dilanggar oleh
pemerintah. Di samping itu diadakan pula Dewan syariat

agung yang anggotanya tersusun dari wakil-wakil negara


Islam di Afrika dan Asia dan ketuanya Syekh Al-Islam
Kerajaan Utsmani.
c. Pangeran Sahabuddin (1887-1948). Pangeran Sahabuddin
adalah keponakan Sultan Hamid dari pihak ibunya,
sedang dari pihak bapaknya adalah cucu dari Sultan
Mahmud II, oleh karena itu ia keturunan raja. Namun ibu
dan bapaknya lari ke Eropa menjauhkan diri dari
kekuasaan Abdul Hamid. Maka dengan demikian
kehidupan Sahabuddin lebih banyak dipengaruhi oleh
pemikiran Barat. Menurutnya yang pokok adalah
perubahan sosial, bukan penggantian Sultan. Masyarakat
Turki sebagaimana masyarakat Timur lainnya mempunyai
corak kolektif, dan masyarakat kolektif tidak mudah
berubah dalam menuju kemajuan. Dalam masyarakat
kolektif orang tidak percaya diri sendiri, oleh karena itu ia
tergantung pada kelompok atau suku sedangkan
masyarakat yang dapat maju menurutnya adalah
masyarakat yang tidak banyak bergantung kepada orang
lain tetapi sanggup berdiri sendiri dan berusaha sendiri
untuk mengubah keadaannya.[49]
E. Kemunduran Kerajaan Turki Utsmani
Kehancuran

imperium

Utsmani

merupakan

transisi

yang

lebih

komplek dari masyarakat Islam imperial abad 18. Menjadi negara-negara


nasional modern, rezim Utsmani menguasai wilayah yang sangat luas,
meliputi Balkan, Turki, Timur Tengah, Mesir dan Afrika Utara, dan pada
abad

ke-19,

pemerintah

secara

pusat,

substansial

Utsmani

mengkonsolidasikan

memperbaiki

kekuasaannya

atas

kekuasaan
beberapa

propinsi dan melancarkan reformasi ekonomi, sosial, dan kultural yang

dengan kebijakan tersebut mereka berharap dapat menjadikan rezim


Utsmani mampu bertahan di dunia modern. [50]
Meskipun Utsmani telah berjuang mempertahankan reformasi negara
dan masyarakat, namun perlahan-lahan imperium Utsmani kehilangan
wilayah kekuasaannya. Beberapa kekuatan Eropa yang terlebih dahulu
mengkonsolidasikan militer, ekonomi dan kemajuan teknologi mereka
sehingga pada abad ke-19 bangsa Eropa jauh lebih kuat dibandingkan
rezim Utsmani.
Untuk dapat bertahan, rezim Utsmani bergantung pada keseimbangan
kekuatan-kekuatan Eropa. Hingga tahun 1878 kekuatan Inggris dan Rusia
berimbang dan hal ini menyelamatkan rezim Utsmani dari mereka, namun
pada tahun 1878 sampai 1914, sebagian besar wilayah Balkan menjadi
merdeka dan Rusia, Inggris, dan Austria Hungaria semua merebut
sejumlah wilayah Utsmani hingga ia menjadi imperium yang tidak
beranggota, memuncak pada akhir Perang Dunia I lantaran terbentuknya
sejumlah negara baru di Turki dan di Timur Tengah Arab.
Kemunduran Turki Utsmani terjadi setelah wafatnya Sulaiman AlQonuni. Hal ini disebabkan karena banyaknya kekacauan yang terjadi
setelah Sultan Sulaiman meninggal diantaranya perebutan kekuasaan
antara putera beliau sendiri. Para pengganti Sulaiman sebagian besar orang
yang lemah dan mempunyai sifat dan kepribadian yang buruk. Juga karena
melemahnya semangat perjuangan prajurit Utsmani yang mengakibatkan
kekalahan dalam mengahadapi beberapa peperangan. Ekonomi semakin
memburuk dan system pemerintahan tidak berjalan semestinya. Selain
faktor diatas, ada juga faktor-faktor yang menyebabkan kerajaan Utsmani
mengalami kemunduran, diantaranya adalah :[51]
1. Wilayah Kekuasaan yang Sangat Luas

Perluasan wilayah yang begitu cepat yang terjadi pada kerajaan


Utsmani, menyebabkan pemerintahan merasa kesulitan dalam melakukan
administrasi

pemerintahan,

terutama

pasca

pemerintahan

Sultan

Sulaiman.
Sehingga administrasi pemerintahan kerajaan Utsmani tidak beres.
Tampaknya penguasa Turki Utsmani hanya mengadakan ekspansi, tanpa
mengabaikan

penataan

sistem

pemerintahan.

Hal

ini

menyebabkan

wilayah-wilayah yang jauh dari pusat mudah direbut oleh musuh dan
sebagian berusaha melepaskan diri.

2. Heterogenitas Penduduk
Sebagai kerajaan besar, yang merupakan hasil ekspansi dari berbagai
kerajaan, mencakup Asia kecil, Armenia, Irak, Siria dan negara lain, maka
di kerajaan Turki terjadi heterogenitas penduduk. Dari banyaknya dan
beragamnya penduduk, maka jelaslah administrasi yang dibutuhkan juga
harus memadai dan bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka. Akan tetapi
kerajaan

Utsmani

pasca

Sulaiman

tidak

memiliki

administrasi

pemerintahan yang bagus di tambah lagi dengan pemimpinpemimpin yang


berkuasa sangat lemah dan mempunyai perangai yang jelek.
3. Kelemahan para Penguasa
Setelah sultan Sulaiman wafat, maka terjadilah pergantian penguasa.
Penguasa-penguasa tersebut memiliki kepribadian dan kepemimpinan yang
lemah akibatnya pemerintahan menjadi kacau dan susah teratasi.
4. Budaya Pungli
Budaya ini telah meraja lela yang mengakibatkan dekadensi moral
terutama dikalangan pejabat yang sedang memperebutkan kekuasaan
(jabatan).
5. Pemberontakan Tentara Jenissari

Pemberontakan Jenissari terjadi sebanyak empat kali yaitu pada tahun


1525 M, 1632 M, 1727 M dan 1826 M. Pada masa belakangan
pihak Jenissari tidak

lagi

menerapkan

prinsip

seleksi

dan

prestasi,

keberadaannya didominasi oleh keturunan dan golongan tertentu yang


mengakibatkan adanya pemberontakan-pemberontakan.
6. Merosotnya Ekonomi
Akibat peperangan yang terjadi secara terus menerus maka biaya pun
semakin membengkak, sementara belanja negara pun sangat besar,
sehingga perekonomian kerajaan Turki pun merosot.
7. Terjadinya Stagnasi dalam Lapangan Ilmu dan Teknologi
Ilmu dan Teknologi selalu berjalan beriringan sehingga keduanya
sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Keraajan Utsmani kurang berhasil
dalam pengembagan Ilmu dan Teknologi ini karena hanya mengutamakan
pengembangan militernya. Kemajuan militer yang tidak diimbangi dengan
kemajuan ilmu dan teknologi menyebabkan kerajaan Utsmani tidak
sanggup menghadapi persenjataan musuh dari Eropa yang lebih maju.

BAB III
KESIMPULAN
Dari penjelasan dan uraian diatas perjalanan Islam pada masa turki
Utsmani periode 1500-1700 dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Nama kerajaan Utsmani diambil dari nama Sultan pertama bernama
Usman. Beliau dengan gigihnya meneruskan cita-cita ayahnya sehingga
dapat menguasai suatu wilayah yang cukup luas dan dapat dijadikan
sebuah kerajaan yang kuat. Bangsa Turki Utsmani berasal dari suku
Qoyigh, salah satu kabilah Turki yang amat terkenal. Pada abad ke-13
mereka mendapat serangan dari bangsa Mongol. Akhirnya mereka mencari
perlindungan dari saudaranya, yaitu Turki Seljuk. Dibawah pemerintahan
Ortoghul, mereka mengabdikan diri kepada Sultan Alaudin yang sedang
melawan Bizantium. Karena bantuan mereka, Sultan Alaudin dapat
mengalahkan Bizantium. Kemudian Sultan Alaudin memberi imbalan tanah
di Asia Kecil yang berbatasan dengan Bizantium. Setelah Sultan Alaudin
wafat (1300 M), orang-orang Turki segera memproklamirkan kerajaan Turki
Utsmani dengan Usman I sebagai sultannya.
2. Perluasan wilayah kerajaan Turki terjadi dengan cepat, sehingga membawa
kejayaan, disamping itu raja-raja yang berkuasa sangat mempunyai potensi
yang kuat dan baik. Banyak daerah-daerah yang dapat dikuasai (di Asia
Kecil) sehingga memperkuat berdirinya kerajaan Turki Utsmani. Salah satu
sumbangan terbesar kerajaan Turki Utsmani dalam penyebaran Islam
adalah penaklukkan kota benteng Constantinopel (Bizantium) ibukota
Romawi Timur (1453 M), penaklukkan kota itu terjadi pada masa Sultan
Muhammad II (1451-1481 M) yang terkenal dengan gelar Al-Fatih. Dalam
perkembangan selanjutnya kerajaan Turki Utsmani mengalami kemajuan
yang

sangat

pesat.

Kemajuan-kemajuan

tersebut

meliputi

bidang

kemiliteran, pemerintahan, kebudayaan dan agama. Selanjutnya Turki

Utsmani mengalami puncak keemasan adalah pada masa pemerintahan


Sulaiman I (1520-1566 M) yang terkenal dengan sebutan Sulaiman Agung.
3. Dari perkembangan yang sangat baik itu maka Turki Utsmani mengalami
kemajuankemajuan

yang

mendukung

sekali

dalam

pemerintahannya

diantaranya:
a. Dalam bidang kemiliteran dan pemerintahan. Turki mempunyai militer yang
sangat kuat dan siap bertempur kapan dan dimana saja. Di bidang urusan
pemerintahan dibuat undang-undang yang berguna untuk mengatur
urusan pemerintahan di Turki Utsmani.
b.

Dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Budaya. Turki kaya akan


kebudayaan, karya telah terjadi akulturasi budaya antara Arab, Persia dan
Bizantium. Akan tetapi dalam bidang ilmu pengetahuan Turki Utsmani
tidak begitu menonjol karena terlalu berfokus pada bidang kemiliteran.

c.

Dalam Bidang Keagamaan. Peranan agama di Turki Utsmani


sangatlah besar terutama dalam tradisi masyarakat. Mufti/Ulama' menjadi
pejabat tinggi dalam urusan agama dan berwenang memberi fatwa resmi
terhadap problem keagamaan yangdihadapi masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Albert Hourani, Sejarah Bangsa-Bangsa Muslim, Mizan, Bandung, 2004.
Ali, Syed Amir, Api Islam, Jakarta: Bulan Bintang. 1978
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II, Jakarta: Raja
Grafindo Persada. 1993.
Gustave E. Von G., Islam Kesatuan dalam Beragama, Yayasan Obor Indonesia dan
LSI, Jakarta.
Hamka, Sejarah Umat Islam, III, (Jakarta: Bulan Bintang, 1981)
Harun Nasution, Perkembangan Modern dalam Islam, Yayasan Obor Indonesia,
Jakarta, 1985.
Hitti, Philip K. History of the Arabs London, McMillan, 1970
Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta,
2000.
Al Nadwi, Abu-Al Hasal Ali, Islam Membangun Peradaban Dunia, (Jakarta: Pustaka
Jaya, Djambatan, 1988)
Syafiq A. Mughni, Sejarah Kebudayaan Islam di Turki, Logos, Jakarta, 1997.
Toprak, Binnaz, Islam and Political Development in Turkey, (Leiden:W.J.Brill, 1981)

[1]

Bani
Abbasiyah atau Kekhalifahan
Abbasiyah adalah kekhalifahan kedua Islam yang
berkuasa di Baghdad (sekarang ibu kota Irak). Kekhalifahan ini berkembang pesat dan menjadikan
dunia Islam sebagai pusat pengetahuan dengan menerjemahkan dan melanjutkan tradisi keilmuan
Yunani dan Persia. Kekhalifahan ini berkuasa setelah merebutnya dari Bani Umayyah dan
menundukan semua wilayahnya kecuali Andalusia. Bani Abbasiyah dirujuk kepada keturunan dari
paman Nabi Muhammad yang termuda, yaitu Abbas bin Abdul-Muththalib (566-652), oleh karena itu
mereka juga termasuk ke dalam Bani Hasyim. Berkuasa mulai tahun 750 dan memindahkan ibukota
dari Damaskus ke Baghdad. Berkembang selama dua abad, tetapi pelan-pelan meredup setelah
naiknya bangsa Turki yang sebelumnya merupakan bahagian dari tentara kekhalifahan yang mereka
bentuk, dan dikenal dengan nama Mamluk. Selama 150 tahun mengambil kekuasaan memintas Iran,
kekhalifahan dipaksa untuk menyerahkan kekuasaan kepada dinasti-dinasti setempat, yang sering
disebut amir atau sultan. Menyerahkan Andalusia kepada keturunan Bani Umayyah yang melarikan
diri, Maghreb dan Ifriqiya kepada Aghlabid dan Fatimiyah.
http://id.wikipedia.org/wiki/Bani_Abbasiyah
[2]
Kejatuhan totalnya pada tahun 1258 disebabkan serangan bangsa Mongol yang
dipimpinHulagu Khan yang menghancurkan Baghdad dan tak menyisakan sedikitpun dari
pengetahuan yang dihimpun di perpustakaan Baghdad. http://id.wikipedia.org/wiki/Bani_Abbasiyah
[3]
Hamka. Sejarah Umat Islam III. Jakarta: Bulan Bintang. 1981. h. 205.

[4]

Mongolia (bahasa Mongol: ) adalah sebuah negara yang terkurung daratan diAsia
Timur, berbatasan dengan Rusia di sebelah utara dan Republik Rakyat Cina di selatan. Mongolia
merupakan pusat Kekaisaran Mongol pada abad ke-13, tetapi dikuasai oleh Dinasti Qingsejak
akhir abad
ke-17 hingga
sebuah
pemerintah
merdeka
dibentuk
dengan
bantuan Uni
Sovietpada 1921.Tetapi
kemerdekaan
Mongolia
tidak
diakui China sampai
tahun
1949.Setelah KomunisMenguasai Cina
daratan baru
akhirnya
mengakui
kemerdekaan
Mongolia.Setelah keruntuhan Uni Soviet, Mongolia menganut aliran demokrasi. Dengan luas wilayah
yang sebanding dengan Alaska, sebagian besar wilayah Mongolia memiliki tanah yang gersang:
kebanyakan wilayah berupa padang rumput, dengan pegunungan di bagian barat dan utara
dan Gurun Gobi di selatan. Mayoritas penduduknya beretnis Mongol yang menganut agama Buddha
Tibet dengan kehidupan nomad.http://id.wikipedia.org/wiki/Mongolia. 5 Mei 2011
[5]
Jenghis Khan (bahasa Mongolia: ), juga dieja Genghis Khan, Jinghis Khan,Chinghiz
Khan, Chinggis
Khan, Changaiz
Khan,
dll,
nama
asalnya Temjin,
juga
dieja Temuchinatau TiemuZhen,
(sek. 1162 - 18
Agustus 1227)
adalah khan Mongol dan
ketua militer yang
menyatukan
bangsa Mongolia
dan kemudian mendirikan Kekaisaran
Mongolia dengan menaklukkan sebagian besar wilayah di Asia, termasuk utara Tiongkok (Dinasti
Jin), Xia Barat, Asia Tengah,Persia, dan Mongolia. Penggantinya akan meluaskan penguasaan
Mongolia menjadi kekaisaran terluas dalam sejarah manusia. Dia merupakan kakek Kubilai Khan,
pemerintah Tiongkok bagiDinasti Yuan di China. http://id.wikipedia.org/wiki/Jenghis_Khan.
[6]
Efrat Sungai Efrat atau Sungai Furat (Inggris: Euphrates, Arab: ) adalah salah
satu sungai yang mencirikan Mesopotamia (satu lagi Sungai Tigris) yang mengalir dari Anatolia.
Sungai
ini
panjangnya
lebih
kurang
2,781
kilometer
(1,730
mil).
http://id.wikipedia.org/wiki/Sungai_Efrat Anatolia (Yunani:
Anatol atau Asia
Kecil,
"terbitnya matahari" atau "Timur"; perbandingan "Asia Timur" dan "Levant", oleh etimologi
umumbahasa Turki Anadolu dari ana "ibu" dan dolu "isi"), juga disebut dengan nama Latin Asia
Minor, ialah sebuah kawasan di Asia Barat Daya yang kini dapat disamakan dengan Turki bagian
Asia. http://id.wikipedia.org/wiki/Anatolia.
[7]
Aleppo merupakan kota terbesar kedua Suriah, setelah Damaskus, ibukota Suriah.
Penduduknya berjumlah 2.130.000 jiwa (2005). Kota Aleppo termasuk kota tertua di dunia, sudah
ada sejak tahun 2000 SM. Kota ini dulu bernama Halab. Dalam naskah Babilonia Kuno (750 SM),
nama Halab sudah disebut, demikian pula nama Aleppo dalam inskripsi Mesir Kuno (abad ke-16
SM). Aleppo berubah namanya menjadi Beroia oleh Seleucus Niktator (312-64 SM) pada
masaKerajaan Seleukus. Karena letak Aleppo yang sangat strategis sebagai pusat perdagangan,
sudah banyak bangsa yang sering menaklukan Aleppo. Mulai dari bangsa, Hitit (2000 SM), Mesir
dan Asiria(abad ke-8 SM), Persia (abad ke-6 SM), Macedonia (332 SM), Romawi (64 SM), Arab (635
M), Tatar(1260), Mongol (1398), Kesultanan Utsmaniyah (1517 M), dan Perancis (1920 M). Kota
Aleppo menjadi bagian dari negara Suriah sejak tahun 1944. http://id.wikipedia.org/wiki/Aleppo
[8]
M. Abdul Karim. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Pustaka Book
Publisher. 2007. h. 310
[9]
Byzantium (Bahasa Yunani: ) adalah sebuah kota Yunani kuno, yang menurut
legenda, didirikan oleh para warga koloni Yunani dari Megara pada tahun 667 SM dan dinamai
menurut nama Raja mereka Byzas atau Byzantas (Bahasa Yunani: atau ). Nama
"Byzantium" merupakan Latinisasi dari nama asli kota tersebut Byzantion. Kota ini kelak menjadi
pusat Kekaisaran Byzantium, (Kekaisaran Romawi penutur Bahasa Yunani menjelang dan pada Abad
Pertengahan dengan nama Konstantinopel. Setelah jatuhnya Konstantinopel ke tangan Kerajaan
Ottoman, kota ini selanjutnya dikenal sebagai Istanbul bagi Bangsa Turki Ottoman, namun nama
tersebut
belum
menjadi
nama
resmi
kota
ini
sampai
tahun 1930.
http://id.wikipedia.org/wiki/Bizantium.
[10]
M. Abdul Karim. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. 2007. h. 311
[11]
Gustave E. Von G., Islam Kesatuan dalam Beragama, Yayasan Obor Indonesia dan LSI,
Jakarta
[12]
Ibid
[13]
Dr. Syafiq A. Mughni, Sejarah Kebudayaan Islam di Turki, Logos, Jakarta, 1997
[14]
Harun Nasution, Perkembangan Modern dalam Islam, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta,
1985
[15]
Ibid
[16]
Hitti, Philip K. History of the Arabs London, McMillan, 1970

[17]

Syed Amir Ali. Api Islam. Jakarta: Bulan Bintang. 1978. h. 183.
Konstantinopel (nama Romawi: Constantinopolis; bahasa Yunani: Konstantinoupolis atau
) adalah nama lama kotaIstanbul di Turki. Konstantinopel kini adalah wilayah
antara Tanduk Emas dan Laut Marmara di Istanbul. Nama aslinya adalah Bizantium (bahasa Yunani:
Byzantion atau , dibaca Bii-ZAN-tii-on). Nama ini merujuk kepada kaisar RomawiKonstantin
I yang menjadikannya ibukota kekaisaran Romawi pada 11 Mei 330 M. Konstantin menamakan
kotanya Nova Roma (Roma Baru), namun nama tersebut tidak pernah digunakan secara umum.
http://id.wikipedia.org/wiki/Konstantinopel.
[19]
Toprak, Binnaz, Islam and Political Development in Turkey, (Leiden:W.J.Brill, 1981)
[20]
Badri Yatim, Loc.Cit
[21]
Ibid
[22]
Nadwi, Abu-Al Hasal Ali Al, Islam Membangun Peradaban Dunia, (Jakarta: Pustaka Jaya,
Djambatan, 1988)
[23]
Albert Hourani, Sejarah Bangsa-Bangsa Muslim, Mizan, Bandung, 2004, hlm. 211
[24]
Ibid.
[25]
Badri Yatim, Ibid. h. 133-134
[26]
Hitti, ibid. hl,. 713-714
[27]
Toprak, Binnaz, Islam and Political Development in Turkey, (Leiden:W.J.Brill, 1981) h. 60
[28]
Dr. Syafiq A. Mughni, Sejarah Kebudayaan Islam di Turki, Logos, Jakarta, 1997. hlm. 244)
[29]
Badri Yatim, Op.Cit. hlm. 135.
[30]
Republik Tunisia (bahasa Arab: ) adalah sebuah negara Arab Muslim diAfrika
Utara, tepatnya di pesisir Laut Tengah. Tunisia berbatasan dengan Aljazair di sebelah barat,
dan Libya di selatan dan timur. Di antara negara-negara yang terletak di rangkaian Pegunungan
Atlas, wilayah Tunisia termasuk yang paling timur dan terkecil. 40% wilayah Tunisia berupa padang
pasir Sahara, sisanya tanah subur. http://id.wikipedia.org/wiki/Tunisia
[31]
Ibid
[32]
Venesia (bahasa
Italia: Venezia)
adalah
ibu
kota regione Veneto dan Provinsi
Venesia diItalia. Kota ini memiliki luas wilayah 412 km dan populasi 271.663 jiwa (2003). Republik
Venesiaberdiri di kota ini dari abad ke-9 hingga ke-18. Kota kanal ini terkenal dengan
sarana transportasi air, di antaranya gondola. http://id.wikipedia.org/wiki/Venesia
[33]
Republik Siprus adalah sebuah negara pulau di Laut Tengah bagian timur, 113 km di
sebelah selatan Turki dan 120 km di sebelah barat Suriah. Ibu kotanya adalah Lefkosia (Nikosia).
Siprus, ketika masih merupakan jajahan Britania Raya, akan diberikan kepada Yunani. Tetapi
minoritas Turki menolak. Akhirnya kompromi disepakati dan pada tahun 1959 didirikan negara
Siprus merdeka. Tetapi kedua belah pihak tidak puas dan akhirnya pada tahun 1974 sebuah
kelompok yang menginginkan persatuan dengan Yunani mengadakan kudeta yang dibalas dengan
invasi Turki. Semenjak itu Turki menduduki wilayah utara. http://id.wikipedia.org/wiki/Cyprus
[34]
Sementara itu, di luar negeri, sejak penaklukan Konstantinopel pada abad ke-15, EropaKristen telah melihatnya sebagai awal dari masalah ketimuran (al-masalah as-syarqiyyah), hingga
abad ke-16 M, saat terjadinya penaklukan sebagian besar wilayah Balkan, seperti Bosnia dan
Albania, serta Yunani dan kepulauan Ionia. Masalah ketimuran inilah yang mendorong Paus Paulus
V (1566-1572 M) menyatukan negeri-negeri Eropa yang sebelumnya terlibat dalam konflik
antaragama, antara sesama Kristen, yaitu Protestan dan Katolik. Konflik ini baru bisa diakhiri
setelah diselenggarakanya Konferensi Westavalia tahun 1667 M. Pada saat yang sama, penaklukan
Khilafah Utsmaniah pada tahun-tahun tersebut telah terhenti. Memang, setelah kekalahan Khilafah
Utsmaniah atas Eropa (Paus Paulus V, Spanyol, Hungaria dan Perancis) dalam Perang Lepanto tahun
1571 M, Khilafah nyaris hanya mempertahankan wilayahnya. Kelemahan Khilafah Utsmaniah pada
abad ke-17 M itu juga dimanfaatkan oleh Austria dan Venesia untuk memukul Khilafah. Melalui
Perjanjian Carlowitz (1699 M), wilayah Hongaria, Slovenia, Kroasia, Hemenietz, Padolia, Ukraina,
Morea, dan sebagian Dalmatia lepas; masing-masing ke tangan Venesia dan Habsburg. Bahkan,
Khilafah Utsmaniah terpaksa harus kehilangan wilayahnya di Eropa, setelah kekalahannya dengan
Rusia dalam Perang Crimea pada abad ke-18 M, dan semakin tragis setelah dilakukannya Perjanjian
San
Stefano
(1878)
dan
Berlin
(1887
M).
http://islamic.xtgem.com/ibnuisafiles/list/2009/Januari/khilafah/1/khilafah19.htm
[35]
Yekaterina (Catherine) II Alekseyevna of Russia, bergelar yang Agung (bahasa
Rusia:?????????II???????, Yekaterina II Velikaya; adalah seorang Tsarina Rusia yang berkuasa selama 34
tahun, dari tanggal 28 Juni 1762 sampai kematiannya. Ia meninggal karena stroke pada tanggal 15
[18]

November, 1796 dan


dimakamkan
di Katedral
Peter
dan
Paul, Saint
Petersburg.
http://id.wikipedia.org/wiki/Yekaterina_II_dari_Rusia
[36]
Ali, Syed Amir, Api Islam, Jakarta: Bulan Bintang. 1978. hlm. 191
[37]
Ali. Ibid.
[38]
Harun Nasution, Perkembangan Modern dalam Islam, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta,
1991. hlm. 90-91
[39]
Harun Nasution, Ibid. hl. 91-92
[40]
Harun Nasution, Ibid. hlm 93-96
[41]
Dr. Syafiq A. Mughni, Sejarah Kebudayaan Islam di Turki, Logos, Jakarta, 1997
[42]
Nadwi, Abu-Al Hasal Ali Al, Islam Membangun Peradaban Dunia, (Jakarta: Pustaka Jaya,
Djambatan, 1988)
[43]
Ibid, Hlm. 21
[44]
Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2000. hlm.
97
[45]
Ibid
[46]
Hitti, Philip K. History of the Arabs London, McMillan, 1970. h. 99
[47]
Ibid
[48]
Harun Nasution, Perkembangan Modern dalam Islam, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta,
1985
[49]
Hamka, Sejarah Umat Islam, III, (Jakarta: Bulan Bintang, 1981). H. 603
[50]
Badri Yatim, Loc.Cit.
[51]
Badri Yatim. Ibid. hl. 221-224