Anda di halaman 1dari 11

10

BAB II
VISI, MISI, FUNGSI, TUJUAN DAN FALSAFAH
PENYULUHAN KEHUTANAN

A. VISI PENYULUHAN KEHUTANAN


V
isi Penyuluhan Kehutanan didasarkan pada visi Departemen Kehutanan sebagai organisasi
induk. Visi Departemen Kehutanan: Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor:
P.04/Menhut-II/2005 tentang Renstra-KL Departemen Kehutanan Tahun 2005-2009, Visi
Departemen Kehutanan ditetapkan sebagai berikut: "Terwujudnya Penyelenggaraan
Kehutanan untuk Menjamin Kelestarian Hutan dan Peningkatan Kemakmuran
Rakyat. Sesuai visi tersebut, Departemen Kehutanan menyelenggarakan pengurusan
hutan untuk memperoleh manfaat yang optimal dan lestari serta untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Sedangkan Visi Pusat Bina Penyuluhan Kehutanan adalah sebagai berikut:
Sesuai dengan amanat UU 41/1999 pasal 56, 69, 70, dan sebagai bagian integral yang
tidak terpisahkan dari pembangunan kehutanan maka telah dilakukan reorientasi
paradigma penyuluhan kehutanan dari semula yang bersifat rekayasa sosial menjadi
Visi dan Misi
Penyuluhan Kehutanan

bersifat

partisipatif

dan

merupakan

proses

pemberdayaan masyarakat. Atas dasar itu maka visi


Pusat

Bina

Penyuluhan

Kehutanan

ditetapkan:

Terwujudnya Penyelenggaraan Penyuluhan Kehutanan untuk Mengembangkan


Masyarakat Mandiri Berbasis Pembangunan Kehutanan"
Masyarakat mandiri berbasis pembangunan kehutanan mengandung arti bahwa
masyarakat telah memiliki kelembagaan yang kuat, kemampuan dan kemandirian secara
ekonomi, lingkungan dan sosial berbasis sumberdaya hutan dan lahan yang lestari sebagai
penyangga kehidupan, sehingga berpartisipasi aktif dalam pelestarian hutan dan
pengelolaan/ pengembangan Daerah Aliran Sungai (DAS).

B. MISI PENYULUHAN KEHUTANAN

11

Misi Departemen Kehutanan:


Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.04/Menhut-II/2005 tentang RenstraKL Departemen Kehutanan Tahun 2005-2009, Misi Departemen Kehutanan ditetapkan
sebagai berikut:
1. Menjamin keberadaan hutan dengan luasan yang cukup dan sebaran yang
proporsional
2. Mengoptimalkan aneka fungsi hutan dan ekosistem perairan yang meliputi fungsi
Konservasi, lindung dan produksi untuk mencapai manfaat lingkungan, sosial, budaya
dan ekonomi yang seimbang dan lestari.
3. Meningkatkan daya dukung DAS
4. Mendorong peran serta masyarakat
5. Menjamin distribusi manfaat yang berkeadilan dan berkelanjutan
6. Memantapkan koordinasi pusat dan daerah dalam pembangunan kehutanan
Misi Pusat Bina Penyuluhan Kehutanan
Sesuai Keputusan Menteri Kehutanan No.132/Menhut-II/2004, penyuluhan
kehutanan merupakan proses pemberdayaan masyarakat dalam mengembangkan
pengetahuan dan sikap perilaku masyarakat sehingga menjadi tahu, mau dan mampu
melakukan usaha kehutanan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya serta
mempunyai kepedulian dan berpartisipasi aktif dalam pelestarian hutan dan
lingkungannya.
Bertitik tolak dari visi Pusat Bina Penyuluhan Kehutanan dan terkait dengan misi
Departemen Kehutanan, maka misi Pusat Bina Penyuluhan Kehutanan ditetapkan
sebagai berikut :
1.

Memantapkan dan mengembangkan penyuluhan kehutanan yang mendukung


kebijakan pembangunan kehutanan.

2. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam melestarikan multi fungsi dan


manfaat sumberdaya hutan untuk meningkatkan kesejahteraannya.
3. Memantapkan dan mengembangkan jaringan kerja dan kemitraan penyuluhan untuk
mendukung pembangunan kehutanan.

12
C. FUNGSI PENYULUHAN KEHUTANAN
Seperti halnya pendidikan formal yang berusaha menyampaikan materi pendidikan
kepada anak didiknya yang didalam proses tersebut terjadi penyampaian ilmu dan
teknologi secara bertahap dan berkesinambungan, penyuluhan kehutanan juga memiliki
fungsi yang khas.
Untuk kegiatan pemanfaatan hutan, terdapat beberapa ilmu dan teknologi yang
harus disampaikan kepada petani agar benar-benar dapat memanfaatkan hutan secara
bijaksana. Hal-hal baru yang berbau ilmu dan teknologi terkadang tidak dapat langsung
diterima oleh masyarakat apalagi dengan bahasa ilmiah yang sarat dengan istilah. Untuk
itulah penyuluh kehutanan dibutuhkan untuk menjabarkan materi tersebut untuk dapat
diterima oleh petani, dilengkapi dan diubah menjadi bahasa yang sesuai dan dapat
diterima (dimengerti) oleh masyarakat.
Fungsi penyuluhan kehutanan dapat dikatakan menjabarkan penyampaian ilmu dan
teknologi pemanfaatan hutan dari sumbernya kepada masyarakat yang membutuhkannya.
Beberapa propinsi di Indonesia memiliki lembaga penelitian kehutanan sebagai
sumber ilmu dan teknologi kehutanan. Lembaga ini merupakan kumpulan para ahli,
lembaga pendidikan dan orang berpengalaman yang bertugas menemukan cara-cara baru
dalam pemanfaatan hutan. Bila dalam lembaga penelitian kehutanan tersebut terdapat
sesuatu hal yang baru yang menguntungkan, ia menyampaikan hal tersebut kepada
petugas

penyuluh, baik melalui hirarki jabatan ataupun melalui pendidikan, kursus,

lokakarya dan seminar yang selanjutnya disampaikan kepada masyarakat.


Para ahli tersebut tidak dapat secara langsung menyampaikan penemuannya kepada
masyarakat petani, mengingat isinya yang perlu dan harus disesuaikan dengan tingkat
kemampuan penerimaan masyarakat. Proses-proses tersebut dapat dilihat pada bagan di
bawah ini:
Lembaga Penelitian
- Ahli-ahli
- Lembaga-lembaga
pendidikan

Penyuluh Kehutanan
Lembaga Penyuluhan

Masyarakat disekitar
hutan sebagai Sasaran

13
Berbicara mengenai penyuluhan di satu pihak, ada lembaga penyuluhan, sebagai
jembatan untuk meneruskan penemuan para ahli kepada masyarakat. Lembaga ini harus
aktif dan aktraktif sedemikian rupa sehingga dapat menarik masyarakat untuk
memanfaatkan lembaga tersebut, dengan sasaran akhir petani tahu, mau dan mampu
untuk menerima dengan sadar apa yang dianjurkan oleh penyuluh kehutanan. Sedangkan
di lain pihak, ada masyarakat di sekitar hutan sebagai sasaran. Mereka akan memperoleh
ilmu dan teknologi mengenai pemanfaatan hutan sebagai sesuatu yang baru karena
adanya kegiatan penyuluhan kehutanan. Disamping itu mereka dapat memberikan
informasi mengenai situasi dan kondisi masyarakat di sekitar hutan, baik mengenai
keadaan lahan, upaya-upaya pemanfaatan lahan yang ada dan jenis-jenis tanaman hutan
komersil yang mereka butuhkan.
Uraian di atas memberikan gambaran bahwa materi penyuluhan kehutanan dapat
Sumber materi dan
fungsi penyuluhan
kehutanan

pula berasal dari penemuan dan pengalaman petani sendiri,


kemudian disampaikan kepada petani yang lain. Penyuluh
kehutanan dalam hal ini dapat memberikan informasi

kepada para ahli dan penentu kebijakan, masalah apa yang ditemukan dan saran-saran apa
yang disampaikan sehingga memungkinkan adanya hal-hal yang baru. Dapat disimpulkan
bahwa fungsi penyuluhan kehutanan adalah sebagai berikut:
1. Menebarkan informasi mengenai hutan.
2. Mengajarkan pengetahuan dan keterampilan mengenai pemanfaatan hutan yang lebih
baik dan menguntungkan.
3. Merangsang dan menumbuhkan swadaya dan swadana masyarakat.

D. TUJUAN PENYULUHAN KEHUTANAN


Tujuan dari penyuluhan kehutanan terbagi 2 yaitu tujuan jangka pendek dan tujuan
jangka panjang.
Tujuan jangka pendek diarahkan untuk menumbuhkan perubahan-perubahan yang
lebih terarah dalam aktivitas memanfaatkan hutan di pedesaan. Perubahan-perubahan
yang dimaksud adalah:
1. Perubahan tingkat pengetahuan, meliputi perubahan-perubahan dari apa yang telah
diketahui selama ini, sehingga sesuatu yang tadinya bersifat kurang menguntungkan
menjadi sesuatu yang lebih baik dan lebih menguntungkan.

14
2. Perubahan tingkat kecakapan dan kemampuan meliputi perubahan-perubahan dalam
hal kecakapan/kemampuan berfikir, apa yang pada mulanya kurang mendapat
perhatian,

tidak

memberi

gambaran-gambaran

akan

adanya

hal-hal

yang

menguntungkan, kini telah berubah menjadi cakap/mampu memperhatikannya,


menggambarkan dan melaksanakan cara-cara keterampilan yang lebih berdaya guna
dan berhasil guna.
3. Perubahan sikap: meliputi perubahan-perubahan dalam perilaku, perasaan yang
didukung oleh adanya peningkatan kecakapan, kemampuan, dan pemikiran.
4. Perubahan motif tindakan; meliputi perubahan-perubahan terhadap apa yang biasanya
dan sebenarnya yang mereka kerjakan yang kurang menguntungkan sehingga menjadi
perlakuan-perlakuan yang lebih menguntungkan yang didukung dengan keyakinan
dan adanya pemikiran yang telah meningkat.
Dengan tercapai dan terlaksananya hal-hal tersebut, petani diharapkan akan
mudah dan bersikap terbuka menerima petunjuk dan bimbingan dari penyuluh, lebih aktif
dan dinamis. Inilah yang menjadi pokok tujuan penyuluhan kehutanan. Dengan
dimilikinya secara penuh kesadaran pokok tujuan penyuluhan kehutanan, maka
masyarakat hutan dapat diharapkan menjadi dinamis serta tanggap terhadap hal baru.
Ada beberapa indikator yang dapat dijadikan patokan bahwa keterbukaan, keaktifan
dan kedinamisan telah meresap ke dalam benak para petani dan merealisasikan dalam
perilaku sehari-hari dapat diketahui apabila telah timbul kegiatan-kegiatan sebagai
berikut:
1. Mau bertanya tentang materi yang disuluhkan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut
terutama menyangkut masalah yang sedang dihadapinya sehari-hari dalam
memanfaatkan hutan.
2. Termotivasi untuk selalu hadir mengikuti kegiatan pentuluhan kehutanan, aktif
mengadakan diskusi untuk membahas masalah serta membantu kegiatan penyuluhan
yang akan atau sedang berlangsung.
3. Sadar dan terbuka mau menerima materi yang disuluhkan baik secara bertatap muka
dengan penyuluh atau yang didengar dan dibacanya melalui media massa (radio, TV,
surat kabar, dll).
4. Dengan keyakinan bahwa kesejahteraannya meningkat, mereka mau berusaha
mencari informasi-informasi yang berkaitan dengan teknologi-teknologi atau caracara baru dalam usaha memanfaatkan hutan.

15
Bertitik tolak dari hal-hal tersebut di atas maka tujuan jangka pendek dari
penyuluhan kehutanan adalah terbentuknya masyarakat petani yang aktif, kreatif dan
dinamis. Hal-hal tersebut harus didukung dengan perlakuan-perlakuan sebagai berikut:
1. Melakukan pertemuan-pertemuan yang kontinyu antara penyuluh dengan masyarakat
petani. Pertemuan-pertemuan yang kontinyu akan memberikan kesan di benak
masyarakat bahwa penyuluhnya "rajin" dan mau "bermasyarakat dan berbaur". Selain
itu penyuluhpun akan mendapatkan informasi-informasi terbaru tentang masalahmasalah yang dihadapi oleh masyarakat dalam pemanfaatan hutan.
2. Membina hubungan kekeluargaan dengan masyarakat. Hubungan kekeluargaan yang
erat akan mempermudah dan memperluas penyampaian dan penerimaan informasi.
3. Mengintensifkan latihan-latihan dan memperbanyak demplot-demplot.
4. Membentuk kelompok-kelompok dalam masyarakat yang dapat menunjang kegiatan
penyuluhan (kelompok tani hutan, karang taruna, bina cinta hutan dan lingkungan dan
sebagainya).
5. Memotivasi kelompok masyarakat yang telah berhasil dalam usahanya memanfaatkan
fungsi ganda hutan untuk menjadi mitra penyuluh untuk memotivasi kelompok lain
agar berhasil.
6. Bila memungkinkan diadakan semacam karya wisata untuk studi perbandingan
dengan daerah lain.
Tujuan penyuluhan kehutanan jangka panjang adalah tercapainya pemanfaatan
hutan yang lestari dan berkesinambungan dan tercapainya kesejahteraan hidup yang lebih
terjamin di kalangan pemanfaatan hutan.
E. FALSAFAH PENYULUHAN KEHUTANAN
Falsafah penyuluhan kehutanan merupakan dasar pengertian, dasar untuk
melakukan kegiatan dan dasar dalam bekerja. Ada 3 falsafah pokok yang harus dijadikan
pegangan dalam penyuluhan kehutanan yaitu, pendidikan, demokrasi dan terus menerus
(berkesinambungan).
1. Pendidikan
Pendidikan merupakan usaha untuk mengubah perilaku manusia atau pemahaman
seseorang tentang sesuatu hal, karena dalam proses pendidikan, seseorang harus belajar
dan berusaha mencari pengalaman orang lain.

16
Masyarakat yang ingin mengetahui bagaimana caranya menggunakan hutan secara
bijaksana, apa yang tidak boleh dilakukan dalam memanfaatkan hutan, ia harus aktif
berusaha agar maksudnya itu terpenuhi. Ia dapat bertanya, melihat kegiatan orang lain
ataupun langsung meminta penjelasan dari petugas penyuluh kehutanan setempat.
Pada dasarnya kelakuan petani dipengaruhi oleh pengetahuan, kecakapan dan sikap
mentalnya.

Penyuluh akan membuat perubahan pada pengetahuan, kecakapan dan

sikap petani akan mengalami perubahan, yang berarti kelakuan dan bentuk
kegiatannyapun akan berubah.

Cara berfikir, cara kerja, pengetahuan dan sikap

mentalnya ditandai oleh adanya perubahan yang bersifat lebih terarah dan
menguntungkan.
Agar masyarakat dapat belajar dengan baik sebagaimana yang diharapkan kegiatankegiatan kehutanan harus memenuhi hal-hal sebagai berikut:
a. Hal-hal yang disampaikan harus menarik minat petani. Hal ini didasarkan kepada
kenyataan bahwa seorang dapat belajar dengan cara melihat, mendengar atau dengan
melakukannya sendiri. Agar petani dapat melihat, mendengar dan ikut melakukannya
dengan baik, isi penyuluhan kehutanan harus bersifat menarik, berhubungan langsung
dengan aktivitas memanfaatkan hutan, sehingga lebih menarik untuk dimanfaatkan.
b. Hal-hal yang disampaikan dalam penyuluhan harus memperlihatkan manfaat yang
nyata dan dapat dipercaya. Kepercayaan petani tersebut merupakan modal dasar yang
dapat memperlancar kegiatan penyuluhan selanjutnya.
c. Adanya alat-alat peraga yang menarik dan demonstratif. Alat-alat peraga ini dapat
memberikan wawasan yang lebih baik, tepat sasaran dan terhindar dari
kesalahpenafsiran. Alat peraga juga akan lebih menarik perhatian masyarakat untuk
mengikuti penyuluhan.
d. Tepat waktu dan tepat tempat. Seseorang penyuluh harus betul-betul mengetahui dan
memahami waktu-waktu "sibuk" petani. Kapan mereka di ladang, kapan mereka
istirahat kapan mereka biasanya berkumpul dan kapan mereka mau menerima
penyuluhan.
Gagalnya penyampaian materi penyuluhan biasanya disebabkan oleh penyuluh yang
kurang ahli dalam penguasaan bahan, kurang lancar dalam berkomunikasi dan terlalu
menggurui. Karena itulah pegangan awal yang harus dimiliki oleh seorang penyuluh
adalah menguasai materi dan mengakrabkan diri dengan masyarakat. Pegangan ini akan
memberi kesan kepada petani bahwa petugas penyuluh kehutanan adalah "muara" segala
persoalan yang dihadapi petani dalam memanfaatkan hutan.

17
Tiga unsur pendidikan yang dapat digunakan sebagai dasar penyuluhan kehutanan
adalah:
a) Mengetahui apa, pertama-tama petani mengetahui apa itu hutan, apa itu konservasi
dan apa itu sumber daya alam. Unsur ini hanya terbatas sampai pada pengetahuan.
b) Mengetahui mengapa, petani harus diberikan pemahaman mengapa hutan harus dijaga
kelestariannya, mengapa hutan harus digunakan secara konservasi dan mengapa hutan
itu dikatakan sebagai sumber daya alam. Petani sedikitnya harus diberikan
pemahaman tentang sesuatu yang dianjurkan.
c) Mengetahui bagaimana, pada titik ini petani sudah tahu dan mampu untuk
memanfaatkan hutan dengan memperhatikan prinsip-prinsip konservasi. Prinsip ini
membawa petani kearah kerja nyata. Unsur yang ketiga ini merupakan

yang

terpenting dalam penyuluhan kehutanan karena bersifat praktis dan sesuai dengan
keinginan para petani.
2. Demokrasi
Demokrasi harus diartikan sebagai proses mencari kata sepakat, orang-orang atau
kelompok orang mengambil keputusan bersama untuk kepentingan bersama, kehendak
orang banyak harus disesuaikan dengan hasil keputusan bersama.
Petani tidak dapat dipaksa oleh petugas penyuluhan agar mau menerima dan
menerapkan segala sesuatunya. Petani berhak memutuskan sendiri segala sesuatu yang
diterimanya, berdasarkan pertimbangan, kerjasama dan musyawarah. Karena itulah
penyuluh kehutanan dalam menjalankan tugas harus dapat bekerja sama dan membantu
petani.
Petani dalam kegiatan penyuluhan, statusnya bukan murid dan bukan bawahan
penyuluh kehutanan. Apa yang menjadi kebutuhan petani, itulah yang pertama-tama harus
segera diberikan. Ini berarti sikap penyuluh terhadap petani bukan seperti atasan terhadap
bawahan, ataupun seperti guru terhadap muridnya. Petani merupakan orang yang bebas
dari segala perintah dan sanksi jabatan.
Seperti halnya dalam pembangunan kehutanan, untuk dapat mengiktusertakan
masyarakat hutan itu pertama-tama petani harus diberi pengertian apa itu kehutanan, apa
peranan mereka, harus bagaimana mereka berbuat dan apa yang harus mereka
sumbangkan dalam pembangunan tersebut. Petani tidak seharusnya hanya dianggap
manusia pasif, hanya menerima dan diberi sesuatu untuk dikerjakan tanpa diketahui apa
latar belakangnya. Penyuluhan kehutanan yang baik akan menghindarkan hal tersebut,
karena sifat penyuluhan merupakan hubungan timbal balik dan musyawarah. Sejalan

18
dengan tingkat keampuan petani dan sejalan pula dengan perkembangan teknologi
kehutanan.
Bagi penyuluh kehutanan, perubahan yang terjadi dalam ilmu dan teknologi
kehutanan, tingkat kemampuan petani maupun perubahan-perubahan yang lain yang
mempengaruhi petani, harus betul-betul dikuasai. Dengan adanya pengetahuan tentang
perubahan ini, penyuluh dapat menentukan langkah kerja apa dulu dan bagaimana harus
bekerja agar petani dapat menerima dengan sadar apa yang dianjurkan oleh penyuluh.
Ada dua fase kerja bagi seorang penyuluh kehutanan sesuai dengan falsafah bahwa
penyuluhan kehutanan merupakan proses yang terus menerus. Fase pertama, penyuluh
Fase Kerja
Penyuluh Kehutanan

hanya bersifat mendidik dengan memberi penjelasan,


contoh, semangat dan arah pemikiran baru. Fase ini
dimaksudkan

agar

petani

mau

menerima,

mempelajari, mencoba, menggunakan dan mengaplikasikan segala sesuatu yang


disampaikan oleh penyuluh. Kegiatan demonstrasi dan kunjungan lapangan merupakan
media yang paling praktis. Akan lebih efektif apabila seorang penyuluh kehutanan
mengajarkan cara menyadap getah gondorukem dari batang pinus secara langsung dengan
cara demonstrasi daripada mengajar petani dengan sekumpulan teori. Fase kedua,
selanjutnya penyuluh harus merubah kebiasaan petani dari tergantung kepada orang lain
menjadi petani yang mandiri dan memiliki inisiatif yang tinggi, di sini penyuluh berusaha
mempengaruhi petani, agar mereka dapat berkelompok. Kelompok-kelompok petani ini
dapat melakukan kerja sama, menanggulangi kebutuhan sendiri dan saling gotong royong.

F. ETIKA PENYULUHAN KEHUTANAN


Pada awalnya, kegiatan penyuluhan lebih bersifat sukarela tetapi lama-kelamaan
kegiatan penyuluhan kehutanan ini berkembang menjadi profesi. Karena mengemban
sikap profesionalisme maka penyuluh kehutanan harus memegang teguh etika
penyuluhan kehutanan.
Etika merujuk kepada tata pergaulan yang khas dan ciri-ciri pelaku yang dapat
digunakan untuk mengidentifikasi, mengasosiasikan diri dan dapat merupakan sumber
motivasi untuk berkarya dan berprestasi bagi kelompok tertentu yang memilikinya.

19
Etika bukalah peraturan, tetapi lebih dekat kepada nilai-nilai moral untuk
membangkitkan kesadaran untuk beritikad baik dan jika dilanggar akan berakibat kepada
kelompok lainnya.
Etika biasanya berorientasi kepada nilai-nilai setempat dan hukum adat yang
berlaku

dalam

masyarakat.

Karena

itu

seorang

penyuluh

kehutanan

harus

mengadaptasikan diri dengan nilai-nilai etika yang berlaku. Menghormati dan


menjunjung tinggi nilai etika yang ada di dalam masyarakat akan berdampak pada
penyuluh karena masyarakat memberikan dukungan dengan tulus ikhlas terhadap
kepentingan dan kelancaran kegiatan penyuluhan.
Beberapa perilaku yang perlu ditunjukkan atau diperagakan oleh setiap penyuluh
kehutanan meliputi:
a) Perilaku sebagai manusia seutuhnya, beriman, bertaqwa, jujur, dan disiplin.
b) Perilaku sebagai seorang anggota masyarakat, yaitu mau menghormati adat/kebiasaan
masyarakat, menghormati petani dan keluarganya (apapun keadaan dan

status

sosialnya) dan menghormati sesama penyuluh.


c) Perilaku yang menunjukkan penampilannya sebagai penyuluh yang handal, yaitu
keyakinan kuat atas manfaat tugasnya, memiliki tanggung jawab yang besar untuk
melaksanakan pekerjaannya, memiliki jiwa kerja sama yang tinggi dan berkewajiban
untuk bekerja teratur.
d) Perilaku yang mencerminkan dinamika yaitu ulet, mental dan semangat kerja yang
tinggi, selalu berusaha mencerdaskan diri dan selalu meningkatkan kemampuannya.

RANGKUMAN
1. Visi Penyuluhan Kehutanan didasarkan pada visi Departemen Kehutanan sebagai
organisasi induk yaitu Terwujudnya Penyelenggaraan Kehutanan untuk Menjamin
Kelestarian Hutan dan Peningkatan Kemakmuran Rakyat.
2. Misi Penyuluhan Kehutanan didasarkan pada Misi Departemen Kehutanan dan Misi Pusat
Bina Penyuluhan Kehutanan.
3. Fungsi Penyuluhan Kehutanan
a. Menebarkan informasi mengenai hutan.

20
b. Mengajarkan pengetahuan dan keterampilan mengenai pemanfaatan hutan yang lebih
baik dan menguntungkan.
c. Merangsang dan menumbuhkan swadaya dan swadana masyarakat.
4. Tujuan dari penyuluhan kehutanan terbagi 2 yaitu tujuan jangka pendek dan tujuan jangka
panjang. Tujuan jangka pendek diarahkan untuk menumbuhkan perubahan-perubahan
yang lebih terarah dalam aktivitas memanfaatkan hutan di pedesaan. Tujuan penyuluhan
kehutanan jangka panjang adalah tercapainya pemanfaatan hutan yang lestari dan
berkesinambungan dan tercapainya kesejahteraan hidup yang lebih terjamin di kalangan
pemanfaatan hutan
5. Falsafah penyuluhan kehutanan merupakan dasar pengertian, dasar untuk melakukan
kegiatan dan dasar dalam bekerja. Ada 3 falsafah pokok yang harus dijadikan pegangan
dalam penyuluhan kehutanan yaitu, pendidikan, demokrasi dan terus menerus
(berkesinambungan).
6. Etika penyuluh kehutananan adalah menghormati dan menjunjung tinggi nilai etika yang
ada di dalam masyarakat akan berdampak pada penyuluh karena masyarakat memberikan
dukungan dengan tulus ikhlas terhadap kepentingan dan kelancaran kegiatan penyuluhan.

Pertanyaan Untuk Pendalaman


1. Jelaskan visi penyuluhan kehutanan !
2. Jelaskan misi penyuluhan kehutanan berdasarkan misi Pusat Bina Penyuluhan
Kehutanan !
3. Jelaskan fungsi penyuluhan kehutanan !
4. Jelaskan tujuan dari penyuluhan kehutanan !
5. Jelaskan 3 falsafah pokok yang harus dijadikan pegangan penyuluhan kehutanan !
6. Jelaskan beberapa hal yang perlu ditunjukkan atau diperagakan oleh setiap penyuluh
kehutanan !