Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tulisan ini akan mengakaji mengenai beberapa aspek penting dalam
hukum perdata internasional. Diantaranya ialah istilah pilihan hukum dan
pemakaian hukum asing dalam hukum perdata internasional. Penulis juga
akan memberikan salah satu contoh studi kasus terkait dengan pemakaian
hukum asing dalam kasus hukum perdata internasional, dimana hukum asing
tidak selalu dapat diterima oleh pengadilan nasional suatu negara, tetapi juga
dapat ditolak dengan beberapa alasan. Jadi kasus yang dangkat yaitu
penolakan peradilan Indonesia terhadap putusan arbitrasi asing dalam
sengketa Trading Corporation of Pakistan Limited dengan PT Bakrie
Brothers.
Seiring dengan arus globalisasi, perdagangan internasional merupakan
bidang yang berkembang cepat. Kemajuan teknologi dan komunikasi
mengakibatkan aktivitas ekonomi tidak terhambat lagi oleh batas-batas
Negara. Ruang lingkup bidang hukum pun cukup luas. Salah satunya yaitu
hukuk perdata internasional. Hukum perdata internasional ialah hukum yang
mengatur hubungan privat antara pihak satu dengan pihak lainnya yang
melewati batas negara dan mencakup dua atau lebih stelsel hukum yang
berbeda.
Semakin banyaknya aktifitas masyarakat pada skala internasional saat ini,
menyebabkan kebutuhan akan kepastian hukum semakin tinggi. Hukum
perdata internasional yang pada dasarnya bersumberkan hukum nasional
masing-masing negara mengatur segala jenis bentuk hukum yang sifatnya
privat. Hukum perdata internasional memiliki beberapa keunikan yang tidak
dijumpai dalam hukum publik. Pihak-pihak yang mengadakan suatu perjanjian
ataupun pihak-pihak yang bersengketa boleh memilih hukum atau badan
peradilan mana yang akan digunakan dalam penyelesaian suatu sengketa. Hal
ini dikenal dengan istilah pilihan hukum.

Hukum perdata internasional juga berbicara mengenai pemakaian hukum


asing, karena dalam hukum perdata internasional terpaut dua atau lebih stelsel
hukum yang berbeda. Dalam pemakain hukum asing, suatu badan hukum
nasional juga harus mempertimbangkan hal-hal yang harus diperhatikan dalam
penggunaan hukum asing. Diantaranya hak-hak yang dimiliki seseorang (suatu
subjek hukum) tidak bertentangan dengan kepentingan umum masyarakat lex
fori. Dan putusan hukum asing tersebut tidak bertentangan dengan undangundang nasional suatu negara yang bersengketa. Jika terjadi hal yang demikian,
maka suatu negara tersbeut boleh untuk tidak memakai hukum asing tersebut,
salah satunya ialah putusan dari arbitrasi internasional atau asing.
Salah satu sengketa perdata internasional yaitu antara

Trading

Corporation of Pakistan Limited dengan PT Bakrie Brothers. Dimana dalam


sengketa ini diselesaikan melalui arbitrasi internasional. Akan tetapi pengadilan
indonesia tidak menerima putusan hukum dari arbitrasi tersebut dikarenakan
beberapa hal. Untuk itu penulis akan mencoba menjelaskan sengketa perdata
ini dimana sebelumnya penulis akan menjelaskan apa itu pilihan hukum dan
pemakaian hukum asing dalam hukum perdata internasional.

PILIHAN HUKUM
Istilah pilihan hukum hanya dibenarkan dalam bidang hukum perjanjian.
Dan tidak dapat diadakan pilihan hukum di bidang hukum kekeluargaan.
Istilah-istilah pilihan hukum dalam bahasa lain antara lain adalah: Partij
autonomie,autonomie des parties (Perancis), intension of the parties (Inggris)
atau (choice of law)1.
Pilihan hukum hanya dibenarkan dalam bidang hukum perjanjian. Tidak
dapat diadakan pilihan hukum di bidang hukum kekeluargaan misalnya 2.
Pilihan hukum berarti, Para pihak dalam suatu kontrak bebas untuk
1 Dharma rozali, Aspek-aspek Hukum Perdata, 2012, diakses di lontar.ui.ac.id/file?
file=digital/20312547-S%2043148-Aspek-aspek-full%20text.pdf pada 24 April 2014
pukul 15.00 WIB.

melakukan pilihan, mereka dapat memilih sendiri hukum yang harus dipakai
untuk kontrak mereka. Para pihak dapat memilih hukum tertentu akan tetapi
tidak bebas untuk menentukan sendiri perundang-undangan nya. Jadi pilihan
hukum merupakan hukum mana yang akan digunakan dalam pembuatan suatu
kontrak.
Para pihak yang mengadakan perjanjian dagang berhak melakukan
kesepakatan tentang pilihan hukum (choice of law) dan pilihan forum (choice
of forum) yang berlaku bagi perjanjian tersebut. Pilihan hukum (choice of law)
menentukan hukum yang berlaku (governing law), demikian pula, pilihan
forum arbitrase (arbitrase clause) menentukan jurisdiksi forum penyelesaian
sengketa3. Hukum yang akan berlaku ini dapat mencakup beberapa macam
hukum. Hukum-hukum tersebut adalah: hukum yang akan diterapkan terhadap
pokok sengketa (applicable substantive law atau lex causae) dan hukum yang
akan berlaku untuk persidangan (procedural law).
Hukum yang akan berlaku akan sedikit banyak bergantung pada
kesepakatan para pihak. Hukum yang akan berlaku tersebut dapat berupa
hukum nasional suatu Negara tertentu. Biasanya hukum nasional tersebut ada
atau terkait dengan nasionalitas salah satu pihak. Apabila salah satu pihak atau
kedua belah pihak tidak sepakat mengenai salah satu hukum nasional tersebut,
biasanya kemudian mereka akan berupaya mencari hukum nasional yang
relative lebih netral. Alternatif lainnya yang memungkinkan dalam hukum
perdagangan internasional adalah menerapkan prinsip-prinsip kepatuhan dan
kelayakan (ex aequo et bono) namun demikian penerapan prinsip ini pun
harus berdasarkan pada kesepakatan para pihak.
Pilihan Hukum berakar dari prinsip Freedom Of Contract yang diterima
hampir di seluruh system hukum melalui prinsip ini. Dalam batas batas
tertentu para pihak diperkenankan untuk menentukan sendiri hal hal yang
mereka perjanjikan. Pilihan Hukum / pilihan forum yang dicantumkan secara

2 Sudargo Gautama, Pengantar Hukum Perdata Internasional Indonesia, Bandung:


Penerbit Binacipta, cet. Ke-5, 1987, hlm. 204
3 Adolf, Hukum Perdagangan Internasional, hlm. 214

tegas dalam naskah kontrak akan menghasilkan beberapa keuntungan, antara


lain 4:
1. Mengurangi

beban

biaya

bila

terjadi

perselisihan,

dengan

dicantumkannya pilihan hukum / forum secara tegas maka bila terjadi


perselisihan pemeriksaan untuk menentukan hukum mana atau
Yurisdiksi mana yang akan dipergunakan tidak diperlukan lagi. Hakim
akan menanyai pada Klausula pilihan hukum untuk mengatasi masalah
tersebut. Tentunya hal ini akan menghemat biaya bila dibandingkan
dengan adanya pemeriksaan pendahuluan untuk menentukan hukum /
forum yang akan dipergunakan.
2. Dengan adanya klausula pilihan

hukum,

maka

pemeriksaan

pendahuluan untuk memutuskan hukum / forum yang dipergunakan


tidak diperluka lagi. Dengan demikian hal ini dapat menghemat waktu
pemerikaan perkara jika terjadi perselisihan.
3. Dengan pilihan hukum / pilihan forum akan diperoleh kepastian
hukum

mengenai

hukum

forum

yang

akan

dipergunakan

menyelesaikan sengketa. Dengan demikian terjadinya forum shoping


dapat dihindarkan. Disamping itu, dengan adanya kepastian mengenai
apa yang menjadi hukum, maka para pihak dapat mempersiapkan diri
lebih awal untuk memahami hukum / forum yang telah dipilih. Dalam
hal hukum yag dipilih adalah hukum salah satu pihak, maka pihak
tersebut akan diuntungkan karena lebih mengenal hukum yang
mengatur hubungan yang mereka lakukan.
Salah satu masalah yang paling penting ialah mengenai batasan dalam
pilihan hukum agar tidak menimbulkan masalah-masalah hukum baru.
Meskipun pilihan hukum berakar dari prinsip freedom of contract, tidak
berarti bahwa para pihak bebas sebebas bebasnya melakukan pilihan hukum.
Di samping itu hakim yang memeriksa perselisihan yang lahir dari sebuah
kontrak tidak dengan sendirinya harus menerima hukum yang telah dipillih
oleh para pihak dalam kontrak-kontrak bisnis yang mereka sepakati. Pilihan
4 Pilihan Hukum dalam Kontrak Bisnis, diakses di
ocw.usu.ac.id/...hukum.../kn_508_slide_pilihan_hukum_dalam_kontrak_bisnis.pdf
pada tanggal 25 April 2014.

hukum memiliki berbagai batasan. Secara umum diterima bahwa pilihan


hukum hanya dibenarkan dalam lapangan hukum perjanjian (kontrak). Hal ini
pun mendapat pembatasan, antara lain terhadap perjanjian kerja (perburuhan)
dan perjanjian mengenai perkawinan tidak diperkenankan melakukan pilihan
hukum.
Pembatasan lain terhadap kebebasan melakukan pilihan hukum adalah
public policy dan ketertiban umum. Pilihan hukum tidak dibenarkan apabila
terhadap masalah yang diperjanjikan telah terdapat public policy atau orde
public yang sifatnya memaksa. Dalam hal yang demikian, hakim akan
menolak pilihan hukum apabila terhadap persoalan yang diperjanjikan para
pihak terhadap hukum atau kebijakan publik yang bersifat memaksa. Hakim
juga akan menolak pilihan hukum apabila penerapan pilihan hukum tersebut
justru mengakibatkan terlanggarnya ketertiban umum atau prinsip-prinsip
keadilan dalam yurisdksi pengadilan yang mengadili perkara tersebut.
Pada prinsipnya para pihak memang bebas untuk melakukan pilihan
hukum yang mereka kehendaki, tetapi kebebasan ini bukan berarti sewenangwenang. Jadi adapun batasan-batasan terhadap pilihan hukum adalah sebagai
berikut: pilihan hukum hanya boleh dilakukan sepanjang tidak melaggar apa
yang dikenal sebagai ketertiban umum (public policy), pilihan hukum tidak
boleh menjelma menjadi penyelundupan hukum, pilihan hukum dibatasi oleh
sistem hukum tertentu yang memaksa (dwingen recht)5.
Macam-macam Pilihan hukum
1. Pilihan Hukum secara tegas
Pilihan hukum secara tegas dapat dilihat dalam klausula-klausula
kontrak

joint venture, management contract atau technical assistant

contract, di mana para pihak yang mengadakan kontrak secara tegas dan
jelas menentukan hukum mana yang mereka pilih. Dalam pilihan hukum
yang dinyatakan secara tegas, pilihan hukum dinyatakan dengan kata-kata
yang menyatakan pilihan hukum tertentu dalam kontrak tersebut.
Bilamana hakim dalam menentukan hukum mana yang harus berlaku
dalam kontrak tersebut, hakim akan menggunakan pilihan hukum sebagai
titik taut penentunya.
5 Gautama, Op.Cit., hlm. 171

2. Pilihan Hukum secara diam-diam


Untuk mengetahui adanya pilihan hukum tertentu yang dinyatakan
secara diam-diam, dapat disimpulkan dari maksud atau ketentuanketentuan dan fakta-fakta yang terdapat dalam suatu kontrak. Fakta-fakta
yang berkaitan dengan kontrak tersebut, misalnya bahasa yang
dipergunakan, mata uang yang digunakan, gaya atau style Indonesia.
3. Pilihan hukum yang dianggap
Pilihan hukum secara dianggap ini hanya merupakan presumption
iuris, suatu dugaan hukum. Hakim menerima telah terjadi suatu pilihan
hukum berdasar dugaan belaka, Pada pilihan hukum demikian tidak dapat
dibuktikan menurut saluran yang ada. Dugaan hakim merupakan pegangan
yang dipandang cukup untuk mempertahankan bahwa para pihak benarbenar telah menghendaki berlakunya suatu sistem hukum tertentu.
4. Pilihan hukum secara hypothetisch
Pilihan hukum secara hipotesis ini dikenal terutama di Jerman.
Sebenarnya di sini tidak ada kemauan dari para pihak untuk memilih
sedikitpun. Hakim yang melakukan pilihan hukum tersebut. Hakim
bekerja dengan fiksi, seandainya para pihak telah memikirkan hukum
mana yang dipergunakan, hukum manakah yang dipilih mereka dengan
cara sebaik-baiknya, jadi, sebenarnya tidak ada pilihan hukum bagi para
pihak. Hakim yang menentukan pilihan hukum tersebut.

PEMAKAIAN HUKUM ASING


Hukum asing ialah hukum yang berlaku di negara lain / asing di luar
wilayah6. Hukum asing berarti hukum yang dipakai mengarah kepada aturan
hukum maupun proses hukum dari suatu negara lain. Biasanya jika dalam
negara tersebut belum ada suatu ketentuan yang mengatur suatu hal, maka
negara

tersebut

akan

memberlakukan

hukum

asing

sebagai

bahan

referensi. Pemakaian hukum asing banyak ditemui dalam kasus hukum perdata
internasional. Pemakaian hukum asing tidak hanya hukum asing yang tertulis
6 Hukum Perdata Internasiona, 2011, diakses di
vanplur.wordpress.com/2011/04/23/hukum-perdata-internasional/ pada 25 April 2014
pukul 17.00 WIB..

(perundang-undangan) saja, melainkan juga hukum tidak tertulis, yaitu hukum


(kebiasaan, yurisprudensi, dan doktrin /pendapat para ahli hukum) dari Negara
yang bersangkutan.
Dalam pemakaian hukum asing dikenal adanya istilah vested rights atau
hak-hak yang diperoleh. Vasted rights didefenisikan sebagai suatu perbuatan
yang dilakukan di luar forum dapat menerbitkan suatu hak yang melekat pada
pihak penggugat dan akan dilaksanakan atau diakui oleh forum tempat hak itu
diajukan sebagai perkara7. Yang menjadi persoalan dalam HPI, apakah hak dan
kewajiban hukum yang dimiliki seseorang berdasarkan kaedah-kaedah dari
suatu sistim hukum asing tertentu harus diakui atau tidak oleh lex fori.
Hak dan kewajiban hukum yang telah diperoleh seseorang berdasarkan
suatu kaedah hukum haruslah dihormati oleh siapa saja, termasuk oleh lex fori,
kecuali bila pengakuan terhadap hak-hak semacam itu akan menimbulkan
akibat yang bertentangan dengan public order dari masyarakat forum.
Pandangan atau asas ini berkembang pada masa memuncaknya pandangan
hidup individualistic yang menganggap bahwa hak milik mempunyai kekuatan
hukum yang mutlak di mana pun dan terhadap apap pun. Namun dengan
perkembangan pandangan hak milik mempunyai fungsi social, doktrin
Vested rights ini mengalami pergeseran dan orang cenderung menganut ajaran
secara terbatas (qualified).
Dapat disimpulkan Vested rights atau hak-hak yang diperoleh berarti hakhak yang dimiliki seseorang (suatu subjek hukum) berdasarkan kaedah hukum
asing dapat diakui didalam yuridiksi lex fori, selama pengakuan itu tidak
bertentangan dengan kepentingan umum masyarakat lex fori. Dengan kata lain
hak-hak yang diperoleh dapat diakui selama pengakuan itu tidak bertentangan
dengan ketertiban umum lex fori atau dengan asas-asas keadilan yang hidup
dalam masyarakat forum.

7 Frederick, Hukum Perdata Internasional, diakses di www.academia.edu/6262395/HPI


pada 25 April 2014 pukul 16.00 WIB.

Studi kasus: Peradilan Indonesia Menolak Arbitrasi Internasional dalam


Sengketa Trading Corporation of Pakistan Limited dengan PT Bakrie
Brothers
Perkara antara Trading Corporation of Pakistan Limited dengan PT Bakrie
and Brothers terjadi pada tahun 1981, ketika putusan arbitrase internasional
dari badan arbitrase Inggris diminta melaksanakan eksekusi di Indonesia oleh
pihak yang bersengketa. Pakistan Trading Company, Ltd. Mengajukan
sengketa tersebut kepada badan arbitrase Inggris yakni Federation of Oils,
Seed and Fats Association, Ltd. dengan dasar bahwa PT Bakrie Brothers telah
melanggar isi kontrak perjanjian perdagangan antara kedua belah pihak, dan
juga menolak untuk membayar ganti rugi.
Pada tanggal 8 September 1981, Badan Arbitrase Inggris Federation of
Oils, Seed and Fats Association, Ltd (FOSFA) melalui putusan nomor 2282
memutuskan bahwa pihak Bakrie Brothers harus membayar ganti rugi sebesar
US$ 18510,74 berdasarkan Convention on The Recognition and Enforcement
of Forein Arbitral Awards. Sebagai kelanjutan dari hasil putusan badan
arbitrase Inggris tersebut, Pakistan Trading Company, Ltd melakukan
permohonan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk dapat
melaksanakan putusan itu. Permohonan itu diajukan dengan dasar: 1) Indonesia
telah meratifikasi Konvensi New York 1958 (Keppres 34/1981); 2) Kepres
34/1981 berlaku secara resiprositas antara negara-negara yang telah
meratifikasi Konvensi New York dan Inggris adalah satu satu anggota
Konvensi New York.
Akan tetapi, permohonan Pakistan Trading Company, Ltd ditolak oleh
Pengadilan

Negeri

Jakarta

Selatan

malalui

putusan

64/pdt/G/1984/PN.JKT.SEL, dengan menyatakan bahwa putusan arbitrase


tersebut tidaklah sah karena putusan tersebut dikeluarkan di Inggris, sedangkan
menurut asas resiprositas yang tercantum dalam Keppres 34/1981, Inggris tidak
berhak untuk memutuskan perkara arbitrase ini, sebab negara yang saling
berhubungan (contracting states) adalah Indonesia dan Pakistan, bukan
Indonesia dan Inggris. Pertimbangan lainnya adalah bahwa keputusan tersebut

bertentangan dengan prosedur pengambilan putusan oleh badan arbitrase


dimana pihak Bakrie Brothers tidak diberikan kesempatan untuk membela diri
sebagaimana diatur dalam Pasal V (3) Konvensi New York.
Penolakan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, membuat Pakistan Trading
Company, Ltd mengajukan upaya hukum selanjutnya hingga upaya kasasi,
namun permohonan kasasi tersebut ditolak oleh Mahkamah Agung, karena
menurut Mahkamah Agung keputusan Judex Facti tersebut tidak bertentangan
dengan Pasal 10 (3) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970, dan Pasal 30
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985, Pasal 636 RV, 637 RV, 639 RV, 642
RV. Selain itu, Award of Arbitration No. 2882 dinilai tidak berkekuatan hukum
sehingga tidak dapat dilaksanakan.
Analisa Kasus
Pada kasus ini, Trading Corporation of Pakistan Limited menganggap
memiliki hak untuk menentukan badan arbitrasenya, yaitu Badan Arbitrase
Inggris Federation of Oils, Seed and Fats Association, Ltd (FOSFA). Pilihan
tersebut juga didasari kepada isi dari Convention on the Recognition and
Enforcement of Foreign Arbitral Awards, yang menyatakan bahwa pihak diluar
yang bersengketa dapat dipilih menjadi badan arbitrase. Oleh sebab itu
meskipun yang bersengketa ialah perusahaan Pakistan dan Indonesia, arbitrase
dapat dilakukan di kota London. Secara spesifik pernyataan tersebut
dicantumkan dalam Pasal V (1) dan (2) Konvensi New York.
Pada intinya kedua ayat ini menyatakan bahwa arbitrase di tempat lain
dapat diselenggarapan apabila arbitrase tidak dapat dilaksanakan di kedua
negara yang bertentangan atau berkepentingan. Konvensi New York 1958
diajdikan acuak karena Indonesia telah menjadi anggota konvensi tersebut dan
telah meratifikasi Convention on the Recognizition and Enforecement of
Arbitral Award, yang oleh sebab itu memperkuat pernyataan bahwa Indonesia
harus mengikuti isi perjanjian tersebut.
Akan tetapi, permohonan yang dilakukan oleh

Pakistan Trading

Company, Ltd ditolak oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dan pengajuan

konsesi juga ditolak oleh Mahkamah Agung dan menguatkan putusan


Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan Pengadilan Tinggi Jakarta dengan
berbagai pertimbangan, terutama dengan adanya Peraturan Mahkamah Agung
No. 1 Tahun 1990 tentang Tata Cara Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing,
pasal 2 yang sesuai dengan bunyi peraturan Mahkamah Agung itu, maka
arbitrase yang dilakukan oleh Pakistan Trading Company, Ltd tergolong jenis
Arbitrase Asing, akan tetapi sesuai dengan Perma No. 1 Tahun 1990 arbitrase
perdagangan dengan Indonesia dapat dilakukan oleh Pengadilan Negeri Jakarta
Pusat, apabila disesuaikan dengan isi Konvensi New York, maka jelas bahwa
apabila negara yang bersengketa atau berkepentingan dapat melaksanakan
arbitrase, maka arbitrase menggunakan pihak lain dapat dinilai tidak memiliki
kekuatan hukum.
Selain itu didalam Konvensi New York juga menyatakan bahwa negara
peserta dapat menolak pelaksanaan sengketa arbitrase luar negeri apabila
perjanjian pokok yang berisi penyelesaian sengketa arbitrase tersebut
bertentangan dengan undang-undang nasional (public policy) negara tersebut.
Pihak PT Bakrie & Brothers dinyatakan tidak bersalah dan tidak harus
membayar ganti rugi juga dengan alasan yang kuat bahwa PT Bakrie &
Brothers telah membayar performance bond terhadap pihak Pakistan Trading
Company, Ltd dalam kerjasama minyak itu. Performance bond merupakan
jaminan yang diberikan perusahaan untuk menjamin terselesaikannya dengan
baik suatu proyek terhadap perusahaan partner (kliennya). Performance bond
digunakan apabila kontrak mengalami kegagalan atau kerugian, maka klien
akan terjamin dari gagalnya kontrak itu.
Penyelesaian sengketa melalui arbitrase memiliki otonomi yang luas
(party otonomy) dalam menentukan forum, aturan, prosedur, atau hal lainnya
yang dianggap sesuai untuk dipergunakan dalam menyelesaikan sengketa. Pada
kasus ini, Trading Corporation of Pakistan Limited menganggap memiliki hak
untuk menentukan badan arbitrasenya, yaitu Badan Arbitrase Inggris
Federation of Oils, Seed and Fats Association, Ltd (FOSFA). Pilihan tersebut
juga didasari kepada isi dari Convention on the Recognition and Enforcement

10

of Foreign Arbitral Awards, yang menyatakan bahwa pihak diluar yang


bersengketa dapat dipilih menjadi badan arbitrase. Oleh sebab itu meskipun
yang bersengketa ialah perusahaan Pakistan dan Indonesia, arbitrase dapat
dilakukan di kota London. Secara spesifik pernyataan tersebut dicantumkan
dalam Pasal V (1) dan (2) Konvensi New York, yang pada intinya menyatakan
bahwa arbitrase ditempat lain dapat diselenggarakan apabila arbitrase tidak
dapat dilaksanakan dikedua negara yang bertentangan atau berkepentingan.
Arbitrase dimenangkan oleh Trading Corporation of Pakistan dengan putusan
PT Bakrie Brothers harus membayar ganti rugi atas kerjasama tersebut sebesar
US$ 18510,74.
Namun dalam pelaksanaan hasil tersebut tetap memerlukan persetujuan
Pengadilan Tinggi negara yang dijatuhi hasil arbitrase tersebut. Namun
permohonan TPC tersebut ditolak dengan alasan bahwa badan arbitrase yang
ditunjuk tidak memiliki hak dalam memutuskan perkara arbitrase tersebut. TPC
kemudian mengajukan kasasi kepada Mahkamah Agung, namun mendapatkan
penolakan yang sama. Penolakan tersebut didasari kepada alasan bahwa
berdasarkan Konvensi New York, arbitrase dapat dilakukan ditempat lain
apabila negara yang bersengketa tidak dapat menyelesaikan arbitrase
tersebut. Dalam hal ini sebenarnya, penyelesaian sengketa dapat dilakukan
oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sesuai ketentuan MA No. 1 Tahun 1990
Republik Indonesia. Oleh sebab itu keputusan FOSFA tidak memiliki kekuatan
hukum, dan dapat ditolak. Selain itu pertimbangan Mahkamah Agung juga
terletak kepada posisi PT Bakrie & Brothers dalam arbitrase tersebut, hasil
putusan dinyatakan tidak adil, karena PT Bakrie & Brothers pada saat itu tidak
diberikan kesempatan untuk membela dirinya.
Berdasarkan kasus sengketa perdagangan yang terjadi antara perusahaan
Trading Corporation of Pakistan dengan PT Bakrie & Brothers dapat
disimpulkan bahwa arbitrase internasional bisa saja ditolak keputusannya oleh
arbitrase nasional.
1.2 Rumusan Masalah

11

Berdasarkan pemaparan diatas, hukum perdata internasional memiliki


keunikkan dari hukum-hukum lainnya. Setiap pihak-pihak yang akan
mengadakan suatu kontrak bebas menentukan pilihan hukum yang akan
dipakai dalam perjanjian mereka dengan batasan-batasan tertentu. Berbicara
hukum perdata internasional juga akan berbicara mengenai hukum asing.
Pemakaian hukum asing juga memiliki batasan-batasan selagi tidak melanggar
ketertiban di suatu negara yang hendak memakai hukum asing tersebut. Untuk
itu tulisan ini menjawab beberapa rumusan masalah, yaitu:
1. Apa defenisi, batasan, dan macam-macam pilihan hukum dalam
hukum perdata internasional?
2. Apa yang dimaksud dengan pemakaian hukum asing?
3. Kenapa peradilan indonesia menolak putusan arbitrase internasional
dalam sengketa Trading Corporation of Pakistan Limited dengan PT
Bakrie Brothers?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan sebagai berikut:
1. Mengetahui defenisi, batasan, dan macam-macam pilihan hukum
dalam hukum perdata internasional.
2. Mengetahui yang dimaksud dengan pemakaian hukum asing
3. Mengetahui kenapa peradilan Indonesia menolak putusan arbitrasi
asing dalam sengketa Trading Corporation of Pakistan Limited
dengan PT Bakrie Brothers .
1.3.2

Manfaat Penelitian

Pada akhirnya, penelitian ini diharapkan untuk:


1. Mampu menjadi sebuah bacaan ilmiah yang menggambarkan apa
yang dimaksud dengan pilihan hukum dan pemakaian hukum asing
dalam hukum perdata internasinal beserta contoh studi kasusnya.
2. Secara akademis, dapat menjadi salah satu bahan referensi bagi
mahasiswa

yang

melakukan

penulisan

dengan

mengambil

permasalahan yang sama.

12

1.4 Kerangka Teori


Dalam tulisan ini penulis menggunakan beberapa teori dalam hukum perdata
internasional yang berhubugan dengan penyelesaian suatu kasus hukum perdata
internasional yaitu sengketa antara Trading Corporation of Pakistan Limited
dengan PT Bakrie Brothers. Teori yang digunakan ialah teori pilihan hukum dan
teori arbitrase internasional.
Arbitrase adalah cara adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar
peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara
tertulis oleh para pihak yang bersengketa. Adapun perjanjian arbitrase diartikan
sebagai suatu kesepakatan berupa klausul arbitrase yang tercantum dalam suatu
perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa, atau suatu
perjanjian arbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketa.
Konvensi New York 1958 yaitu Convention on the Recognition and Enforcement
of Foreign Arbitral Award (konvensi atas pengakuan atas pelaksanaan putusan
arbitrase luar negeri) yang telah diterima/ diaksesi oleh Indonesia melalui
Keputusan Presiden no. 34 tahun 1981 merupakan pengakuan resmi arbitrase
internasional dalam sistem tata hukum nasional di Indonesia .
Pokok-pokok materi yang diatur dalam konvensi tersebut antara lain adalah:
a. Arti putusan arbitrase asing , yaitu putusan-putusan arbitrase yang dibuat
di wilayah negara lain dari negara tempat di mana diminta pengakuan dan
pelaksanaan eksekusi atas putusan arbitrase yang bersangkutan.
b. Asas resiprositas, berarti penerapan pengakuan dan pelaksanaan eksekusi
putusan arbitrase asing dalam suatu negara atas permintaan dari negara
lain, hanya dapat diterapkan apabila antara negara yang bersangkutan telah
ada lebih dulu hubungan ikatan bilateral atau multilateral.
c. Pembatasan sepanjang sengketa dagang, negara peserta membatasi
penaklukan diri hanya terhadap pengakuan dan pelaksanaan putusan
arbitrase asing, sepanjang mengenai persengketaan perjanjian bisnis dan
perdagangan.
d. Berbentuk tertulis, yakni perjanjian atau klausula harus ditetapkan secara
tertulis.

13

e. Arbitrase memiliki kompetensi absolut, artinya sekali para pihak membuat


persetujuan penyelesaian perselisihan melalui arbitrase, sejak saat itu
arbitrase telah memiliki kompetensi absolut untuk memutus persengketaan
yang timbul dari perjanjian yang bersangkutan.
f. Putusan arbitrase final and binding, artinya sebagai putusan yang mengikat
dan binding serta harus melaksanakan eksekusi menurut aturan hukum
acara yang berlaku dalam wilayan negara di mana putusan arbitrase yang
bersangkutan dimohon eksekusi.
g. Eksekusi tunduk pada asas ius sanguinis, atau asas personalitas, yaitu tata
cara pelaksanaan eksekusi tunduk pada pengadilan di mana permohonan
eksekusi diajukan.
h. Dokumen yang dilampirkan pada permohonan pengakuan eksekusi,
meliputi seluruh dokumen sebagai dasar terbitnya putusan arbitrase
tersebut.
i. Penolakan

eksekusi,

dapat

dimungkinkan

apabila

Masalah yang disengketakan menurut hukum dari negara di tempat mana


permohonan diajukan, tidak boleh diselesaikan menurut forum arbitrase
Pengakuan dan eksekusi putusan arbitrase asing yang bersangkutan akan
menimbulkan pertentangan dengan kepentingan umum.
Selain itu penulis juga menggunakan teori pilihan hukum. Dalam kontrak
berdimensi internasional, penentuan pilihan hukum (choice of law) adalah sangat
penting untuk menghindarkan terjadinya conflict of law, mengingat para pihak
yang terlibat, tempat transaksi dan sistem hukum yang terkait berbeda-beda dan
bahkan mungkin bertentangan atau berkebalikan antar satu jurisdiksi hukum
dengan jurisdiksi hukum lainnya. Bahkan sekalipun choice of law telah ditetapkan
dalam suatu kontrak atau perjanjian, hukum perdata internasional tetap
menyisakan persoalan-persoalan mendasar dalam proceedings suatu perkara. Hal
ini berakar dari perbedaan kualifikasi antara berbagai sistem hukum perdata
internasional di dunia. Perbedaan kualifikasi itu terutama terdapat dalam tiga
golongan besar, yaitu :
a. Kualifikasi menurut lex fori (yaitu menurut hukum hakim).
b. Kualifikasi menurut lex causae ( yaitu hukum yang dipergunakan untuk
menyelesaikan persoalan Hukum perdata internasional yang bersangkuta)

14

c. Kualifikasi secara otonom (autonomen qualification), berdasarkan


comparative method atau analytical jurisprudence.

1.5 Hipotesa
Hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masala penelitian, yang
kebenarannya harus diuji secara empiris. Kebenaran hipotesa masih memerlukan
pembuktian dan pengujian dalam suatu penilitian yang dilakukan, hipotesa dalam
suatu dalil yang dianggap belum menjadi dalil yang sesungguhnya oleh karena
masih diuji atau dibolehkan dalam penelitian yang akan dilakukan.
Adapaun hipotesa yang dapat diajukan dari sengketa antara Trading
Corporation of Pakistan Limited dengan PT Bakrie Brothers ialah Peradilan
Indonesia menolak menggunakan putusan Arbitasi Internasional karena
bertentangan dengan undang-undang nasional (public policy).

1.6 Defenisi Konsepsional


Penulisan ini menggunakan beberapa konsep yang akan menjelaskan beberapa
hal yang harus diketahui. Konsep tersebut akan dijelaskan untuk memberikan
pemahaman dalam memahami penelitian ini. Konsep tersebut antara lain:
Hukum perdata Internasional ialah keseluruhan peraturan dan keputusan
hukum yang menunjukkan stelsel hukum manakah yang berlaku atau apakah yang
merupakan hukum , jika hubungan-hubungan dan peristiwa antara warga negara
pada suatu waktu tertentu memperlihatkan titik-titik pertalian dengan stelsel stelsel dan kaidah - kaidah hukum dari dua atau lebih negara yang berbeda dalam
lingkungan,kuasa,tempat,pribadi,dan soal-soal.
Pilihan hukum ialah hukum mana yang akan dipilih oleh pihak-pihak yang
terlibat dalam suatu kontrak perjanjian.Para pihak dalam suatu kontrak bebas
untuk melakukan pilihan, mereka dapat memilih sendiri hukum yang harus
dipakai untuk kontrak mereka.

15

Hukum asing ialah hukum yang berlaku di negara lain / asing di luar wilayah.
Hukum asing berarti hukum yang dipakai mengarah kepada aturan hukum
maupun proses hukum dari suatu negara lain.
Arbitrasi ialah penyelesaian atau pemutusan sengketa oleh seorang hakim
atau para hakim berdasarkan persetujuan bahwa para pihak akan tunduk kepada
atau akan mentaati keputusan para hakim yang mereka pilih.
Ketertiban umun ialah pembatasan berlakunya suatu kaedah asing dalam
suatu negara karena bertentangan denan kepantingan umum atau ketertiban
hukum.
1.7 Defenisi Operasional
Definisi operasional merupakan prosedur-prosedur yang mendeskripsikan
kegiatan yang harus dilakukan untuk mengatahui eksistensi empiris atau derajat
eksistensi empiris suatu konsep8.
Pilihan hukum merupakan hukum mana yang akan dipilih oleh pihak-pihak
yang terlibat dalam suatu kontrak perjanjian.Para pihak dalam suatu kontrak bebas
untuk melakukan pilihan, mereka dapat memilih sendiri hukum yang harus
dipakai untuk kontrak mereka. Batasan-batasan terhadap pilihan hukum adalah
pilihan hukum hanya boleh dilakukan sepanjang tidak melaggar apa yang dikenal
sebagai ketertiban umum (public policy), pilihan hukum tidak boleh menjelma
menjadi penyelundupan hukum, pilihan hukum dibatasi oleh sistem hukum
tertentu yang memaksa (dwingen recht). Macam-macam pilihan hukum ada
empat, yaitu pilihan hukum yang dinyatakan secara tegas, pilihan hukum secara
samar-samar, pilihan hukum yang dianggap, dan

Pilihan hukum secara

hypothetisch.
Pemakaian hukum asing dalam kasus HPI tidak begitu banyak dijumpai.
Umumnya setiap negara tetap mengupayakan hukum yang dipakai ialah hukum
nasional apalagi negara yang menerapkan prinsip dominicili.penggunaan putusan
arbitrasi internasional dapat dikategotikan dalam pemakaian hukum asing.
Pemakaian hukum asing seperti berupa penggunaan putusan arbitrasi internasional
juga hrus mempertimbangkan prinsip-prinsip tertentu yaitu selagi tidak
8 Mochtar Masoed, Ilmu Hubungan Internasional, Disiplin dan Metodologi. Jakarta:
LP3ES., 1994 hal. 100

16

melakukan pelanggaran terhadap ketertiban umum dan tidak menyimpang dari


perundang-undangan nasional.
Seperti sengketa Trading Corporation of Pakistan Limited dengan PT Bakrie
Brothers.

Peradilan

Indonesia

menolak

menggunakan

putusan

Arbitasi

Internasional karena menyimpang dari uandang-undang Indonesia dan dinilai


adanya ketidakadilan dalam putusan tersebut.
1.8 Ruang Lingkup Penelitian
Untuk dapat menjadikan penelitian ini lebih fokus kesatu arah, hingga hasil
dari penelitian ini nantinya akan memperoleh hasil yang maksimal, maka peneliti
menentukan ruang lingkup yang mencakup dalam penelitian ini. Oleh karena itu
peneliti menfokuskan pada putusan hukum dari arbitrasi internasional yang
ternyata ditolak oleh peradilan Indonesia.
1.1 Metode Penelitian
1.1.1 Sifat Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif
dengan model analisis eksplanasi. Metode penelitian kualitatif dalam arti
penelitian kualitatif tidak mengandalkan bukti berdasarkan logika
matematis, prinsip angka, atau metode statistik.
Sedangkan yang dimaksud dengan metode deskriptif dalam
penelitian kualitatif adalah suatu metode dengan cara mempelajari
masalah-masalah dan tata cara yang berlaku dalam masyarakat, serta
situasi-situasi tertentu dengan tujuan penelitian yaitu mengambarkan
fenomena secara sistematis fakta atau karakteristik populasi tertentu atau
bidang tertentu secara faktual dan cermat.
Penelitian ini melihat hubungan sebab akibat dari gejala-gejala
yang diteliti dalam suatu latar yang bersifat ilmiah dengan teknik analisa,
dimana penelitian ini tidak saja menerapkan usaha untuk mengumpulkan
data atau informasi sebanyak mungkin tapi juga bermaksud untuk
menjelaskan bagaimana hubungan gejala atau fenomena lainnya.
1.1.2 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini penulis mengumpulkan dan melalui teknik
library research. Dimana dalam teknik pengumpulan data penulis
memanfaatkan buku-buku, artikel, jurnal dan berita-berita yang berasal

17

dari berbagai media. Dalam penelitian ini penulis juga menggunakan


fasilitas internet dalam memperoleh data tambahan.

REFERENSI

Adolf, Huala, Hukum Perdagangan Internasional, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
cet. 1, 2005
Gautama, Sudargo, Hukum Perdata Internasional Indonesia, Buku Kelima Jilid
Kedua (Bagian Keempat), Bandung: Penerbit Alumni, 1998
Ridwan, Pengantar Hukum Perdata Internasional, Jogyakarta: FH UII Press, Cet. 1,
2007
Masoed , Mochtar.1994.Ilmu Hubungan Internasional, Disiplin dan Metodologi. Jakarta:
LP3ES.

Dharma rozali, Aspek-aspek Hukum Perdata, 2012, diakses di lontar.ui.ac.id/file?


file=digital/20312547-S%2043148-Aspek-aspek-full%20text.pdf pada 24 April 2014
pukul 15.00 WIB.

18

Pilihan Hukum dalam Kontrak Bisnis, diakses di


ocw.usu.ac.id/...hukum.../kn_508_slide_pilihan_hukum_dalam_kontrak_bisnis.pdf
pada tanggal 25 April 2014.
Hukum Perdata Internasiona, 2011, diakses di
vanplur.wordpress.com/2011/04/23/hukum-perdata-internasional/ pada 25 April 2014
pukul 17.00 WIB..
Frederick, Hukum Perdata Internasional, diakses di www.academia.edu/6262395/HPI
pada 25 April 2014 pukul 16.00 WIB.

19