Anda di halaman 1dari 18

8

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
I.

Konsep Dasar Penyakit


A. Pengertian Prolaps Uteri
Prolaps uteri terjadi karena kelemahan ligamen endopelvik
terutama ligamentum tranversal dapat dilihat pada nullipara dimana terjadi
elangosiokoli disertai prolapsus uteri tanpa sistokel tetapi ada enterokel.
Pada keadaan ini fasia pelvis kurang baik pertumbuhannya dan kurang
ketegangannya. (Prawiroharjo, 2010:428)
Prolapsus uteri adalah turunnya uterus dari tempat yang biasa oleh
karena kelemahan otot atau fascia yang dalam keadaan normal
menyokongnya. Atau turunnya uterus melalui dasar panggul atau hiatus
genitalis, menurut ifan(2010, dalam www.wordpress.com/prolaps-uteri,
22-4-12)
Prolapsus uteri adalah keadaan yang terjadi akibat otot penyangga
uterus menjadi kendor sehingga uterus akan turun atau bergeser ke bawah
dan

dapat

menonjol

keluar

www.scribd.com/Prolaps-Uteri,27-4-12)
B. Klasifikasi Prolaps Uteri

dari

vagina.(2010,

dalam

Friedman dan Little(1961, dalam Prawiroharjo, 2010:432)


mengemukakan beberapa macam klasifikasi yang dikenal, yaitu :
a. Prolapus tingkat I : serviks uteri turun sampai introitus vaginae
Prolapus tingkat II : serviks menonjol keluar dari introitus vaginae
Prolapus tingkat III : seluruh uterus keluar dari vagina, disebut
juga prosidensia uteri
b. Prolapus tingkat I : serviks masih di dalam vagina
Prolapus tingkat III : serviks keluar dari introitus, sedang pada
prosidensia uteri, uterus keluar seluruhnya dari vagina
c. Prolapus uteri tingkat I : serviks mencapai introitus vaginae
Prolapus uteri tingkat II : uterus keluar dari introitus kurang dari
bagian
Prolapus tingkat III ; uterus keluar dari introitus lebih besar dari
bagian
d. Prolapus tingkat I : serviks mendekati prossesus spinosus
Prolapus tingkat II : serviks terdapat di antara prossesus spinosus
dan introitus vaginae
Prolapus tingkat III : serviks keluar dari introitus
e. Desensus uteri : uterus turun tetapi serviks masih di dalam vagina
Prolapus uteri tingkat I : uterus turun dengan serviks uteri turun
paling rendah sampai introitus vaginae
Prolapus uteri tingkat II : uterus sebagian keluar dari vagina
Prolapus uteri tingkat III : prosidensia uteri, uterus keluar
seluruhnya dari vagina, disertai dengan inversion vagina

10

Gambar 1 : Klasifikasi prolaps uterus


http://reproduksiumj.blogspot.com/2009/10/prolapsusuteri.html(22-4-12)
C. Tanda dan Gejala Prolaps Uteri
Menurut Prawiroharjo(2010:434-436), gejala prolaps uteri sangat
berbeda-beda dan bersifat individual. Kadangkala penderita yang satu
dengan prolaps yang cukup berat tidak mepunyai keluhan apapun.
Keluhan yang sering muncul, yaitu :
a. Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal atau menonjol di
genitalia eksterna
b. Rasa sakit di panggul dan pinggang (backache). Biasanya, jika
penderita berbaring keluhan menghilang atau menjadi berkurang
c. Pengeluaran serviks uteri dari vulva menggangu penderita saat
berjalan

dan

bekerja.

Gesekan

porsio

uteri

oleh

celana

menimbulkan lecet sampai luka dan dekubitus pada porsio uteri


d. Leukorea karena kongesti pembuluh darah di daerah serviks, dan
area infeksi serta luka pada porsio uteri
D. Etiologi Prolaps Uteri
a. Partus berulang kali dan terlampau sering
b. Partus dengan penyulit

11

c.
d.
e.
f.

Adanya tarikan janin pada pembukaan belum lengkap


Adanya asites dan tumor-tumor di daerah pelvis
Reparasi dasar panggul yang tidak baik
Pada menopause, hormone estrogen berkurang sehingga otot dasar
panggul menjadi atrofi dan melemah (Prawiroharjo, 2010:434)

E. Fisiologi Uterus
Posisi serta letak uterus dan vagina dipertahankan oleh ligament,
fascia serta otot-otot dasar panggul. Te Linde (1966, dalam Prawiroharjo,
2010:420-424) membagi atas 4 golongan, yaitu :
a. Ligamen-ligamen yang terletak dalam rongga perut dan ditutupi oleh
peritonium :
1) Ligamentum rotundum (lig teres uteri) :
Otot-otot

polos

yang

berfungsi

memberi

bantuan

untuk

mempertahankan uterus berada tetap anterversi. Ligamentum


rotundum ini sangat kendor kanan dan kiri sehingga dapat
meregang bila uterus terdorong ke atas atau ke bawah.
2) Ligamentum sacrouterina :
Ligamentum sacrouterina terletak setinggi ostium uteri internum,
terbentang dari serviks ke dinding belakang sampai tulang sacrum.
Berfungsi mempertahankan uterus agar tetap dalam letak dan

12

posisinya di atas otot levator ani dan levator plate(lembaran levator)


dengan fiksasi ke dinding panggul.
3) Ligamentum cardinal :
Ligamentum cardinal terbentang dari serviks bagian lateral sampai
ke dinding panggul. Bersama ligamentum sacrouterina berfungsi
mempertahankan uterus agar tetap dalam letak dan posisinya di atas
otot levator ani dan levator plate(lembaran levator) dengan fiksasi
ke dinding panggul.

4) Ligamentum latum :
Ligamentum latum banyak berisi pembuluh darah dan pembuluh
getah bening, hanya sedikit memberi bantuan pada system alat
genital dalam keadaan normal kecuali dalam keadaan patologis.
Pada keadaan tertentu seperti ada ruang atau endometriosis,
ligamentum ini dapat menggantung uterus pada tempatnya sehingga
tidak terjadi prolaps.
5) Ligamentum infundibulo pelvikum (lig. Suspensorium ovarii) :
Ligamentum yang menahan tuba fallopii, berjalan dari arah
infundibulum ke dinding pelvis. Di dalamnya ditemukan urat saraf,
saluran-saluran limfe, arteri dan

vena ovarika. Sebagai alat

penunjang ligamentum ini tidak banyak artinya.

13

b. Jaringan jaringan yang menunjang vagina


1) Fasia puboservikalis :
Terletak antara dinding depan vagina dan dasar kandung kemih,
membentang dari belakang simfisis ke serviks uteri melalui bagian
bawah kandung kencing, lalu melingkari urethra menuju ke dinding
depan vagina.
Kelemahan fasia ini menyebabkan kandung kencing dan juga uretra
menonjol ke arah lumen vagina.

2) Fasia rektovaginalis :
Terletak antara dinding belakang vagina dan rectum. Kelemahan
fasia ini menyebabkan menonjolnya rektum ke arah lumen vagina.
c. Kantong Douglas
Dilapisi peritonium yang berupa kantong buntu yang terletak antara
ligamentum sacrouterinum di sebelah kanan dan kiri , vagina bagian
atas di depan dan rektum di belakang. Di daerah ini, oleh karena

14

tidak ada otot atau fasia, tekanan intraabdominal yang meninggi


dapat menyebabkan hernia (enterokel).
d. Otot dasar panggul
1) Diafragma pelvis : penutup bagian bawah rongga perut
a) Levator ani
-

Iliokoksigeus : membentang dari spina iskhiadia dan arkus


tendius yang menutupi otot obturatorius interna, terus ke
belakang dan berinsersi di pinggir lateral tulang koksigeus
dan sacrum bagian bawah.

Pubokoksigeus : berjalan dari permukaan dalam tulang


pubis bagian anterior dan median membentang ke belakang
menuju bagian belakang rectum, setelah mengelilingi
rectum dan vagina kembali ke tulang pubis di sisi lain.
Dinding lateral vagina menggantung pada otot-otot ini.

Puborektalis

Fungsi levator ani :


-

Mengertukan lumen rectum, vagina, urethra dengan cara


menariknya kea rah dinding tulang pubis, sehingga organorgan pelvis diatasnya tidak dapat turun (prolaps).

15

Menyeimbangkan tekanan intraabdominal dan tekanan


atmosfer, sehingga ligamen-ligamen tidak perlu bekerja
mempertahankan letak organ-organ pelvis di atasnya.

Sebagai sandaran dari uterus, vagina bagian atas, rectum


dan kantung kemih. Bila otot levator rusak atau mengalami
defek maka ligamen seperti ligamen cardinale, sacrouterina
dan fasia akan mempunyai beban kerja yang berat untuk
mempertahankan

organ-organ

yang

digantungnya,

sebaliknya selama otot-otot levator ani normal, ligamenligamen dan fasia tersebut otomatis dalam istirahat atau
tidak berfungsi banyak.
b) Koksigeus
c) Fasia endopelviks
2) Diafragma urogenital
Berfungsi menutup hiatus genitalis, dan member bantuan pada
levator ani untuk mempertahankan organ-organ di atasnya dan
membantu otot-otot levator ani menahan organ-organ pelvis.
Diafragma urogenital terdiri dari fasia yang kuat dengan otot
tranversa perinea, berjalan antara arkus pubis kanan-kiri.
3) Otot penutup genital eksterna

16

Gambar 2 : Ornamen-ornamen yang menyokong uterus


http://home.comcast.net/(19-4-12)

F. Patologi Prolaps Uteri


Prolaps

uteri

terjadi

karena

kelemahan

ligamentum

endopelviks, terutama ligamentum tranversal yang dapat dilihat


pada nullipara dimana terjadi elangosiokoli disertai prolaps uteri
tanpa sistokel tetapi ada enterokel. Pada keadaan ini fasia pelvis
kurang baik pertumbuhannya dan kurang keregangannya.

G. Komplikasi Prolaps Uteri

17

a. Keratinisasi Mukosa Vagina dan Portio Uteri


Procidentia uteri disertai keluarnya dinding vagina ( inversion )
karena itu mukosa vagina dan serviks uteri menjadi tebal serta
berkerut dan berwarna keputih-putihan.
b. Dekubitus
Jika serviks uteri terus keluar dari vagina, ujungnya bergeser
dengan paha dan pakaian dalam, hal itu dapat menyebabkan luka
dan radang dan lambat laun timbul ulcus dekubitus. Dalam
keadaan demikian perlu dipikirkan kemungkinan karsinoma, lebihlebih pada penderita berumur lanjut. Biopsi perlu dilakukan untuk
mendapatkan kepastian ada tidaknya karsinoma insitu.
c. Hipertrofi Serviks Uteri dan Elongasio Koli
Jika serviks uteri menurun sedangkan jaringan penahan dan
penyokong uterus masih cukup kuat, maka karena tarikan ke
bawah dari bagian uterus yang turun serta pembendungan
pembuluh darah, serviks uteri mengalami hipertrofi dan menjadi
panjang pula. Hal yang terakhir ini dinamakan Elongasio Kolli.
Hipertrofi ditentukan dengan periksa lihat dan periksa raba sedang

18

pada elongasio kolli serviks uteri pada pemeriksaan raba lebih


panjang dari biasa.

d. Gangguan miksi dan stress incontinensia


Pada sistocele berat miksi kadang-kadang terhalang, sehingga
kandung kemih tidak dapat dikosongkan sepenuhnya. Turunnya
uterus bias juga menyempitkan ureter, sehingga bisa menyebabkan
hidroureter dan hidronefrosis. Adanya Cystocele dapat pula
mengubah bentuk sudut antara kandung kemih dan urethra akibat
stress incontinensia.
e. Infeksi Saluran Kemih
f. Adanya retensio urine memudahkan timbulnya infeksi. Sistitis
yang terjadi dapat meluas ke atas dan menyebabkan Pielitis dan
pielonefritis. Akhirnya hal itu dapat menyebabkan gagal ginjal.
g. Kemandulan
Karena menurunnya serviks uteri sampai dekat pada introitus
vagina atau keluar sama sekali dari vagina, tidak mudah terjadi
kehamilan.

19

h. Kesulitan Pada Waktu Partus


Jika wanita dengan prolapsus uteri hamil, maka pada waktu
persalinan bisa timbul kesulitan pada pembukaan serviks, sehingga
kemajuan persalinan terhalang.
i. Haemorhoid
Feses yang terkumpul dalam rektokel memudahkan obstipasi dan
timbulnya haemorhoid.
j. Inkarserasi Usus Halus
Usus halus yang masuk ke dalam enterokel dapat terjepit dan tidak
direposisi lagi. Dalam hal ini perlu dilakukan laparotomi untuk
membebaskan usus yang terjepit.(Prawiroharjo, 2010:436-437)

H. Pencegahan Prolaps Uteri


a. Pemendekan waktu persalinan, terurama kala pengeluaran dan
kalau perlu dilakukan elektif (seperti ekstraksi forceps dengan
kepala sudah di dasar panggul).
b. Membuat episiostomi

20

c. Memperbaiki dan mereparasi luka atau kerusakan jalan lahir


dengan baik
d. Memimpin persalinan dengan baik agar dihindarkan penderita
meneran sebelum pembukaan lengkap
e. Menghindari paksaan dalam pengeluaran plasenta (perasat Crede)
f. Mengawasi involusi uterus pasca persalinan tetap baik dan cepat
g. Mencegah atau mengobati hal-hal yang dapat meningkatkan
tekanan intraabdominal seperti batuk-batuk yang kronik
h. Menghindari mengangkat benda-benda yang berat
i. Menganjurkan penderita agar tidak sering melahirkan dan
mempunyai banyak anak.(Prawiroharjo, 2010:437-438)

I. Pengobatan Medis
Cara ini dilakukan pada prolapus ringan tanpa keluhan atau
penderita masih ingin mempunyai anak lagi, atau penderita menolak
untuk dioperasi, atau kondisisnya tidak mengizinkan untuk dioperasi.
(Prawiroharjo, 2010:438-439)

21

a. Latihan-latihan otot dasar panggul


Latihan ini sangat berguna pada prolapus ringan, terutama yang
terjadi pada pasca persalinan yang belum lewat 6 bulan. Latihan ini
dilakukan selama beberapa bulan.
Tujuannya untuk menguatkan otot-otot dasar panggul dan otot-otot
yang mempengaruhi miksi.
Caranya, penderita disuruh menguncupkan anus dan jaringan dasar
panggul seperti biasanya seperti selesai berhajat, atau penderita
disuruh membayangkan seolah-olah sedang BAK dan tiba-tiba
menghentikannya.
b. Stimulasi otot-otot dengan alat listrik
Kontraksi otot-otot dasar panggul dapat pula ditimbulkan dengan
alat listrik. Elektrodenya dapat dipasang dalam pessarium yang
dimasukan ke dalam vagina.

22

c. Pengobatan dengan pessarium


Cara ini hanya bersifat paliatif, yaitu menahan uterus di tempatnya
selama dipakai. Sehingga bila pessarium diangkat, akan terjadi
prolapus lagi.
Prinsip pemakaian pessarium ini bahwa alat tersebut mengadakan
tekanan pada dinding vagina bagian atas, sehingga bagian dari
vagina tersebut beserta uterus tidak dapat turun dan melewati
vagina bagian bawah. Jika pessarium terlalu kecil atau dasar
panggul terlalu lemah, pessarium jatuh dan prolapus uteri akan
timbul lagi.
Pessarium yang baik untuk prolapus genitalis adalah pesssarium
cincin. Jika dasar panggul terlalu lemah dapat digunakan
pessarium Napier. Pessarium ini terdiri dari suatu gagang (stem)
dengan ujung atas seperti mangkok (cup) dengan beberapa lubang
dan di ujung bawah ada empat tali. Mangkok ditempatkan di
bawah serviks dan tali-tali dihubungkan dengan sabuk pinggang
untuk memeberi sokongan kepada pessarium.
Indikasi penggunaan pessarium :
1) Kehamilan

23

2) Bila penderita belum siap untuk dilakukan operasi


3) Sebagai terapi tes
4) Penderita menolak untuk dilakukan operasi
5) Untuk menghilangkan simpton yang ada, secara sementara

Gambar 3 : Jenis Pessarium


http://reproduksiumj.blogspot.com/2009/10/prolapsus-uteri.html(22-4-12)
J. Pengobatan Operatif
Indikasi untuk melakukan operasi pada prolapus uteri tergantung
dari beberapa factor, seperti umur penderita, keinginannya untuk
mendapatkan anak lagi, atau untuk mempertahankan uterus, tingkat
prolapus, dan adanya keluahan.
Macam-macam operasi prolapus uteri :
a. Ventrofikasi

24

Pada wanita yang masih tergolong muda dan masih menginginkan


anak, dilakukan operasi untuk membuat uterus ventrofiksasi
dengan cara memendekan ligamentum rotondum atau mengikatkan
ligamentum rotundum ke dinding perut atau dengan cara operasi
Purandare.
b. Operasi Manchester
Pada operasi ini dilakukan amputasi serviks uteri, dan penjahitan
ligamentum kardinale yang telah dipotong di muka serviks.
Dilakukan pula kolporafia anterior dan kolpoperineoplastik.
Amputasi serviks dilakukan untuk memperpendek serviks yang
memanjang (elo ngasio kolli).
Tindakan ini dapat menyebabkna infertilitas, abortus, partus
prematurus, dan distosia sservikalis pada persalinan. Bagian yang
penting dari operasi Manchester ialah penjahitan ligamentum
kardinale di depan serviks karena dengan tindakan ini ligamentum
kardinale diperpendek, sehingga uterus akan terletak dalam posisi
anteversifleksi, dan turunya uterus dapat dicegah.
c. Histerektomi vaginal
Operasi ini tepat untuk dilakukan pada prolapus uteri dalam
tingkat lanjut, dan pada wanita yang telah menopause. Setelah
uterus diangkat, puncak vagina digantungkan pada ligamentum
rotundum kanan kiri, di atas pada ligamentum infundibulo
pelvikum, kemudian operasi akan dilajutkan dengan kolporafi

25

anterior dan kolpoperineorafi untuk mencegah prolaps vagina di


kemudian hari.
d. Kolpoklesis (operasi Neugebaureur-Le Fort)
Pada waktu obat-obat serta pemberian anastesi dan perawatan
pra/pasca operasi belum baik untuk wanita tua yang seksual tidak
aktif lagi dapat dilakukan operasi sederhana dengan menjahitkan
dinding vagina depan dengan dinding belakang, sehingga lumen
vagina tertutup dan uterus terletak di atas vagina. (Prawiroharjo,
2010:441-442)