Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam tulisan ini akan dijelaskan mengenai hukum perdagangan internasional terkait
dengan prinsip perdagangan internasional, perkembangan hukum internasional serta unifikasi
dan harmonisasi dengan studi kasus sengketa Anti-dumping Produk Kertas dengan Korea
Selatan terhadap tuduhan praktek dumping oleh Indonesia.
Hukum perdagangan internasional merupakan bidang hukum dengan ruang lingkip yang
luas dan bidang hukum yang berkembang dengan cepat. Dengan bentuknya yang sederhana
mulai dari berter, jual beli barang (komoditi : produk-produk pertanian, perkebunan dan
sejenisnya), hingga hubungan transaksi dagang yang kompleks.
Terdapat beberapa definisi pedagangan internasional sejalan dengan pekembangannya
yang cepat. Menurut Professor Clive M. Schmitthoff yang merupakan seorang guru besar dari
City of London College adalah ... the body of rules governing commercial relationship of a
private law nature involving different nations.1 Dapat disimpulkan bahwa hukum
perdagangan internasional adalah kumpulan aturan-aturan yang mengatur hubunganhubungan perdagangan (komersial) yang sifatnya perdata dan sekumpulan hukum tersebut
mengatur transaksi-transaksi yang berbeda negara.2

Huala Adolf , Hukum Perdagangan Internasional Prinsip-prinsip dan Konsepsi Dasar

<http://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/32342940/1_HUKUM_PERDAGANGAN_INTERNASIO
NAL_Prinsip-prinsip_dan_Konsepsi_Dasar-libre.PDF?
AWSAccessKeyId=AKIAJ56TQJRTWSMTNPEA&Expires=1398584217&Signature=StwTHxK8C0%2FFuH0
RGcTEIP26tDw%3D>, diakses pada tanggal 26 April 2014
2

Ibid

Menurut M. Rafiqul Islam Hukum perdagangan internasional lebih menekankan pada


keterkaitan antara perdagangan internasional dengan hubungan keuangan. Rafiqul Islam
membatasi pedagangan internasional sebagai "... a wide ranging transnational, commercial
exchange of goods and services between individual business persons, trading bodies and
States".3 Dengan adanya batasan-batasan tersebut dapat dilihat bahwa ruang lingkup
perdagangan internasional sangat luas.
Adanya keterkaitan antara hubungan finansial dengan perdagangan internasional
terlihat karena hubungan-hubungan keuangan tersebut mendampingi transaksi perdagangan
antara para pedagang (kecuali transaksi barter atau counter trade).
Menurut Sanson yaitu seorang sarjana dari Australia bahwa hukum perdagangan
internasional adalah can be defined as the regulation of the conduct of parties involved in
the exchange of goods, services and technology between nations. Dalam definisi tersebut
Sanson tidak menyebutkan secara jelas bidang hukum ini termasuk bidang hukum yang
mana, apakah hukum privat, public atau hukum internasional. Sanson hanya menyebut
bidang hukum ini adalah peraturan dari Sanson juga tidak menyebut pihaknya secara jelas,
hanya parties saja. untuk kajian objeknya Sanson menyebut secara jelas yaitu mengenai
jual belibarang, jasa dan teknologi. Hukum perdagangan internasional di bagi menjadi dua
oleh Sanson yaitu hukum perdagangan internasional publik (public interntional trade law)
yaitu hukum yang mengatur perilaku perdagangan antar negara dan hukum perdagangan
internasional privat (private international trade law) yaitu hukum yang mengatur perilaku
perdagangan perorangan.4
Menurut Hercules Booysen seorang sarjana Afrika berpendapat bahwa sangat lah sulit
untuk memberikan definisi yang tegas pada bidang hukum karena ilmu hukum ini sangatlah
3

Ibid

Ibid

kompleks dan untuk memberikan definisi pada hukum perdagangan internasional juga
sangatlah sulit dan kurang tepat. Namun, Hercules Booysen memberikan beberapa unsur
definisi dari hukum perdagangan internasional yaitu: 5
a. Hukum perdagangan internasional dilihat sebagai sesuatu cabang yang khusus dari
hukum internasional.
b. Hukum perdagangan

internasional

merupakan

sekumpulan

aturan

hukum

internasional yang berlaku terhadap perdagangan barang, jasa dan perlindungan hak
atas kekayaan intelektual.
c. Hukum perdagangan internasional terdiri dari aturan hukum nasional yang
mempunyai pengaruh langsung pada perdagangan internasional secara umum.
Dalam keempat definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa hukum perdagangan
internasional merupakan sekumpulan aturan yang membahas mengenai aturan dagang antar
negara.
Prinsip-prinsip yang terdapat dalam hukum internasional dikenalkan oleh Profesor
Aleksancer Goldtajn yang merupakan sarjana hukum internasional. Hukum perdagangan
internasional memiliki prinsip-prinsip yaitu : 6
a.
b.
c.
d.

Prinsip Dasar Kebebasan Berkontrak


Prinsip Dasar Pacta Sunt Servanda
Prinsip Dasar Penyelesaian Sengketa Melalui Arbitrase
Prinsip Dasar Kebebasan Komunikasi (Navigasi)

Prinsip dasar kebebasan Berkontrak ini merupakan prinsip yang universal. Setiap
sistem dagang atau sistem hukumnya mengakui kebebasan kepada para pihak untuk membuat
kontrak dagang bebas. Kebebasan ini meliputi kebebasan untuk melakukan jenis kontrak
yang disepakati oleh para pihak, termasuk dalam memilih forum penyelesaian sengketa

Ibid

http://elib.unikom.ac.id/download.php?id=46710, diakses pada tanggal 26 April 2014

dagang. Dalam kebebasan ini tentu tidak boleh bertentangan terhadap UU, kepentingan
umum, kesusilaan, kesoponan dll yang ditetapkan oleh masing-masing sistem hukum. Prinsip
dasar Pacta Sunt Servanda yang juga bersifat universal yaitu setiap kespakatan atau kontrak
yang telah disepakati harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Prinsip dasar penyelesaian
sengketa melalui arbitrase ini sudah sering digunakan. Arbitrase merupakan forum
penyelesaian sengketa yang semakin sering digunakan dalam perdagangan internasional.
Klausul arbitrase pun semakin sering dicantumkan dalam kontrak-kontrak dagang. Prinsip
dasar kebebasan komunikasi (Navigasi) suatu kebebasan dalam berkomunikasi oleh para
pihak untuk keperluan dagang pada siapapun dalam berbagai sarana komunikasi.
Perkembangan hukum perdagangan internasional ini semakin cepat dan mengalami
perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan hukum perdagangan internasional ini dapat
dilihat dari tiga tahap yaitu : Hukum perdagangan internasional dalam masa awal
pertumbuhan, Hukum perdagangan internasional yang dicantumkan dalam hukum nasional
Lahirnya aturan-aturan hukum perdagangan internasional dan Munculnya lembaga lembaga
internasional yang mengurusi perdagangan internasional.
Tahap perkembangan yang pertama, lahirnya hukum perdagangan internasional ini
sejak adanya praktek dagang oleh para pedagang. Hukum yang diciptakan para pedangan ini
biasa disebut sebagai lex mercatoria (law of merchant).7 Lex mercatoria ini muncul dari
adanya empat faktor yaitu : Pertama, disebut the law of the fairs yaitu aturan-aturan yang
lahir dari kebiasaan yang terjadi dalam pekan raya. Kedua, adanya kebiasaan-kebiasaan
dalam hukum laut. Ketiga, munculnya kebiasaan yang timbul dari praktek penyelesaian
sengketa-sengketa dalam bidang perdagangan. Keempat, adanya peran notaris dalam
memberikan pelayanan jasa-jasa hukum dagang.

Huala Adolf, loc.cit

Pada tahap perkembangan yang kedua, negara mulai meyadari bahwa perlunya
peraturan hukum dalam perdagangan internasional. Negara mulai mencantumkan aturanaturan perdagangan dalam kitab undang-undang hukum perdagangan internasional mereka.
Aturan tersebut juga diadopsi sedikit dari lex mercatoria.
Tahap perkembangan ketiga ini semakin banyaknya perjanjian internasional yang
ditandatangani secara bilateral, regional maupun multilateral sehingga memperngaruhi
lahirnya aturan-aturan hukum perdagangan internasional. Perkembangan tahap ini muncul
secara signifikan setelah Perang Dunia II berakhir. GATT merupakan perjanjian internasional
yang lahir pada masa ini, disepakati pada tahun 1947.8 Pada tahap ketiga ini disebut juga
sebagai tahap internationalism. Perkembangan GATT dari awal terus berkembang dan
mengalami pembangunan cukup penting. Negara-negara anggota GATT juga telah sepakat
untuk membentuk suatu organisasi internasional yang baru yaitu WTO pada putaran
perundingan tahun 1986-19949. Pada tahap ketiga ini juga dilihat dari muncul nya organisasi
internasional seperti PBB. Lalu, dengan disepakatinya pendirian badan-badan ekonomi
regional disuatu kawasan region tertentu. Sebagai contoh di negara ASEAN membentuk
Asean Free Trade Area (AFTA) pada 2003. Sebelum negara-negara ASEAN blok
perdagangan regional pada awalnya adalah the European Single Market pada tahun 1992 dan
diikuti oleh blok perdagangan Amerika Utara The North American Free Trade Agreeement
(NAFTA) pada tahun 1994.10 Dalam pembentukan blok-blok regional ini membawa sisi
positif, namun ada juga sisi negatif yaitu berupa kekhawatiran dari masyarakat internasional
karena melahirkan peraturan regional eksklusif yang ternyata menyimpang dari ketentuanketentuan umum dalam GATT/WTO.

Ibid

Ibid

10

Ibid

Hukum perdagangan internasional diperlukan unifikasi dan harmonisasi hukum.


Dalam aturan-aturan hukum perdangangan internasional setiap negara dicantumkan dalam
hukum nasional negara masing-masing. Aturan-aturan hukum nasional ini dalam bidang
perdagangan internasional telah menjadi sumber hukum yang cukup penting dalam hukum
perdagangan internasional. Dengan adanya banyak aturan hukum nasional dapat
menimbulkan perbedaan antar tiap negara. Ada tiga tenik dalam menghadapi permasalahan
tersebut yaitu :
a. Negara menerapkan hukum perdagangan internasional dalam mengatur
perdagangan internasional dan menolak penggunaan hukum nasionalnya.
b. Hukum nasional dapat digunakan apabila aturan hukum perdagangan
internasional tidak ada atau tidak disepakati oleh salah satu pihak.
c. Melakukan unifikasi dan harmonisasi hukum aturan-aturan substantif hukum
perdagangan internasional. Dengan cara ini memungkinkan terhindar dari
konflik antara sistem-sistem hukum yang dianut oleh masing-masing negara.
Cara ini dipandang cukup efisien.
Unifikasi dan Harmonisasi adalah suatu proses atau upaya dari penyeragaman
substansi pengaturan sistem-sistem hukum yang ada, termasuk dalam pengintegrasian sistem
hukum yang sebelumnya berbeda.11
Unifikasi dan Harmonisasi dalam hukum perdagangan internasional bertujuan untuk
menyamakan persepsi agar memudahkan para pihak dalam memenuhi kebutuhan hukum,
agar memudahkan dalam penyelesaian yang adil dari segi hukum dalam masalah praktek
dagang internasional dengan para pihak dapat menyesuaikan hak dan kewajiban yang diatur
dalam produk hukum tersebut, serta memudahkan penyelesaian sengketa (adanya kepastian
hukum akan lebih menjamin hubungan bisnis).12
11

Ibid

12

____. Harmonisasi dan unifikasi Hukum Dagang Internasional

<http://aafandia.files.wordpress.com/2009/05/harmonisasi-dan-unifikasi-hukum-dagang-internasional.pdf>,

Dumping dan Anti-Dumping merupakan sebuah contoh dari kasus perdagangan


internasional. Dumping dalam perdagangan internasiona yaitu jika ekspor oleh negara atau
perusahaan dari suatu produk dengan harga yang lebih rendah di pasar luar negeri
dibandingkan dengan harga yang dikenakan di pasar domestik. 13 Dengan adanya dumping
tersebut tentunya memiliki akibat yang membahayakan bagi kelangsungan hidup keuangan
produsen atau produsen produk di negara pengimpor. Dalam perjanjian WTO, tidak diatur
mengenai tindakan perusahaan yang melakukan dumping ini, namun berfokus pada
bagaimana pemerintah memiliki reaksi atau tidak untuk mendisiplinkan anti dumping ini.
Inilah yang disebut dengan Anti-dumping Agreement.14 Perjanjian Anti-Dumping diatur dalam
Agreement on the Implementation of Article VI of GATT 1994. Tarif yang berlaku dan diikat
secara sama kepada semua mitra dagang anggota WTO merupakan kunci pokok kelancaran
arus perdagangan barang. Dalam persetujuan ini pemerintah diperbolehkan mengambil
tindakan dalam reaksi dumping ini jika terbukti merugikan industri domestik. Untuk
membuktikan terjadinya kerugian maka pemerintah harus membandingkannya terhadap
tingkat harga ekspor suatu produk dengan harga jual produk tersebut di negara asalnya.
Anti dumping sangat penting untuk menjalankan perdagangan internasional agar
terciptanya fair trade. Ada tiga isu utama dalam peraturan WTO yang memegang tegas
prinsip-prinsip namun tetap memperbolehkan adanya pengecualian yaitu :15
a. Tindakan untuk melawan dumping
b. Countervailing measures yaitu subsidi dan tindakan-tindakan imbalan untuk
menyeimbangkan subsidi

diakses pada tanggal 26 April 2014


13

http://www.investopedia.com/terms/d/dumping.asp, diakses pada tanggal 26 April 2014

14

http://www.wto.org/english/tratop_e/adp_e/adp_e.htm, diakses pada tanggal 26 April 2014

15

http://binchoutan.files.wordpress.com/2008/06/studi-kasus-dumping.pdf, diakses pada tanggal 26 April 2014

c. Emergency measures yaitu tindakan-tindakan darurat untuk membatasi impor


secara sementara demi mengamankan industri dalam negeri.
Praktek dumping ini tentu saja merupakan sebuah hal yang tidak adil dalam
perdagangan internasional. Hal ini menyebabkan kerugian bagi dunia usaha yang terjadi di
negara pengimpor, dengan banyaknya barang-barang yang masuk dari pengekspor dengan
harga yang relatif murah membuat barang sejenis akan kalah bersaing, yang berakibat
matinya pasar barang sejenis di dalam negeri.
Permasalahan yang terjadi di Indonesia terkait dalam perdagangan internasional
adalah tuduhan dumping. Dalam mengatasi permasalahan ini perlunya upaya dalam negeri
untuk melakukan penerapan ketentuan anti dumping, secara internasional ataupun nasional. 16
Melakukan penerapan ketentuan anti dumping dalam tata hukum indonesia sangat esensial,
hal ini dikarenakan Indonesia adalah salah satu negara yang strategis sebagai pasar bagi
produk impor17. Ini merupakan salah satu sebab banyaknya produk impor yang beredar di
Indonesia dengan penjualan dumping.
Dalam kasus ini Indonesia pernah dituduh melakukan praktek dumping terhadap
ekspor kertas ke Korea Selatan. Ini bermula pada saat Korea Selatan mengajukan petisi
kepada produk kertas Indonesia melalui Korean Trade Commission (KTC) pada tanggal 30
September 2002.18 Tuduhan praktek dumping tersebut ditujukan kepada perusahaanperusahaan indonesia yaitu adalah PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk, PT. Pindo Deli Pulp &

16

Muhammad Sood, Regulasi Anti Dumping Sebagai Upaya Perlindungan Terhadap Industri Dalam Negeri,

<http://Jte.Ftunram.Ac.Id/Regulasi-Anti-Dumping-Sebagai-Upaya-Perlindungan-Terhadap-Industri-DalamNegeri/>, diakses pada tanggal 26 April 2014


17

Ibid

18

http://Ojs.Unud.Ac.Id/Index.Php/Kerthanegara/Article/Download/8071/6086, diakses pada tanggal 26 April

2014

Mills, PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk dan April Pine Paper Trading Pte Ltd. 19 Ada 16
jenis kertas indonesia yang dijadikan tuduhan praktek dumping yang tergolong dalam
kelompok uncoated paper and paper board used for writing, printing, or other graphic
purpose serta carbon paper, self copy paper and other copying atau transfer paper.
Akibat dari tuduhan dumping dari Korea Selatan terhadap Indonesia maka pada Mei
2003 Korea Selatan memberlakukan bea masuk anti dumping atas produk kertas Indonesia.
Tetapi, pada November 2003 Korea Selatan menurunkan bea masuk anti dumping terhadap
produk kertas Indonesia ke Korsel. KTC untuk sementara pada tanggal 9 Mei 2003 mengenai
BMAD (Bea Masuk Anti Dumping) dikenakan besaran untuk Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk
sebesar 51,61 persen, PT Pindo Deli 11,65 persen, PT Indah Kiat 0,52 persen, April Pine dan
lainnya sebesar 2,80 persen.20 KTC menurunkan BMAD untuk PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia
Tbk, PT Pindo Deli dan PT Indah Kiat masingmasing sebesar 8,22 persen, serta untuk April
Pine dan lainnya 2,8 persen pada tanggal 7 November 2003. Konsultasi dilakukan pada
tanggal 4 Juli oleh Indonesia dan Korea Selatan mengenai tuduhan dumping ini. Disputes
Settlement Body WTO membentuk Panel pada tanggal 27 September 2004, negara yang ikut
berpartisipasi adalah diantaranya Amerika Serikat, Eropa, Jepang, China dan Kanada. Sidang
Panel pertama diselenggarakan pada 1-2 Februari 2005, lalu Sidang Panel kedua diadakan
pada 30 Maret 2005 dan Panel Report pada 28 Oktober 2005.
Hasil dari Panel Report tersebut adalah :
a. Ternyata KTC telah melanggar ketentuan WTO mengenai penetuan margin
dumping bagi beberapa perusahaan Indonesia.
b. Pelanggaran ketentuan WTO oleh Korea Selatan dengan menolak data dari
dua perusahaan kertas Indonesia.

19

http://binchoutan.files.wordpress.com/2008/06/studi-kasus-dumping.pdf, loc.cit

20

Ibid

c. Panel hanya memeriksa kasus hukum ekonomi berdasarkan klaim utama yang
diajukan oleh Indonesia.
d. Penolakan panel terhadap permohonan Indonesia agar panel membatalkan
tindakan anti dumping oleh Korea Selatan.
1.2. Rumusan Masalah
Korea Selatan mengajukan petisi kepada Korean Trade Commission (KTC) terhadap
Indonesia dengan tuduhan melakukan praktik dumping kertas. Tuduhan Korea Selatan
terhadap Indonesia dalam praktik dumping tentu membuat Indonesia merasa dirugikan.
Dengan tuduhan tersebut Indonesia dikenakan tindakan anti dumping yaitu bea masuk
anti dumping. Namun setelah dilaksanakan panel hasilnya adalah KTC telah melakukan
pelanggaran terhadap ketentuan WTO, Korea Selatan juga melakukan pelanggaran
dengan menolak dua data dari perusahaan Indonesia, lalu panel menolak permohonan
Indonesia agar panel membatalkan tindakan anti dumping oleh Korea Selatan. Dari latar
belakang diatas dapat dirumuskan sebuah rumusan masalah yaitu Bagaimana
penyelesaian sengketa anti dumping yang dilakukan Indonesia melalui ketentuan
WTO?
1.3. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian
Tujuan dari penelitian adalah :
a. Mengetahui bagaimana perkembangan hukum perdagangan internasional
b. Mengetahui permasalahan sengketa anti-dumping produk kertas Indonesia dengan
Korea Selatan
c. Mengetahui bagaimana penyelesaian kasus sengketa anti dumping produk kertas
Indonesia dengan Korea Selatan
Manfaat dari penelitian ini adalah :
a. Secara akademis, memberikan informasi lebih lanjut mengenai permasalahan
tindakan anti dumping oleh Korea Selatan terhadap Indonesia.
b. Secara praktis, ingin memberikan referensi lebih lanjut bagi penelitian-penelitian
selanjutnya
1.4. Kerangka Teori

Dalam sebuah tulisan ilmiah dibutuhkan suatu kerangka teori beserta konsep dan teori
yang jelas. Konsep dan teori yang digunakan pun harus relevan dengan penelitian yang
dilakukan.
Liberalisme banyak membahas tentang semua aspek kehidupan manusia. Liberalisme
berbicara tentang bahasa rasionalitas yang merupakan ciri utama semua hubungan
manusia termasuk hubungan internasional, perlunya pemerintah namun sentralisasi
pemerintahan tidak diperlukan dan kebebebasan individu merupakan kepentingan politik
yang utama.21
Di dalam hubungan internasional menurut kaum liberalis, ada dua aktor yang
berperan penting yaitu negara dan aktor non-negara. Liberalisme adalah paham yang
menempatkan kebebasan individu pada level tertinggi di atas segalanya, negara
mempunyai peran yang seharusnya tidak begitu kompleks apalagi dalam urusan
mengatur kebebasan individu. Kaum liberalis percaya untuk membentuk kesejahteraan
tidak mutlak bertumpu pada pemerintah namun juga dapat ditentukan oleh individu.
Bertolak belakang dengan kaum realis, kaum liberalis memandang segala sesuatu dari
segi kolaborasi dan koorperatif. Manusia dipandang dari sisi baik dan positif, sisi inilah
yang memungkinkan suatu negara menjadi lebih maju. Kaum liberalis percaya bahwa
kemajuan yang dicapai suatu negara dalam sistem internasional dapat dicapai dengan
sifat keoptimisan yang baik. Kaum liberalis membantah kaum realis bahwa anarki yang
terjadi seolah menjadi hal yang mutlak. 22
Secara umum, kaum liberal sependapat dengan kaum realis yang memandang sistem
internasional adalah anarki. Namun, kembali pada asumsi dasar bahwa pada dasarnya
manusia adalah baik. Perang memang bisa dihindari namun liberalisme yang menjunjung
tinggi akal pikiran manusia yang rasional menganggap bahwa manusia yang memiliki
banyak kepentingan, akan cenderung memilih jalan kolaborasi dan kerjasama sebagai
21

Steans,Jill & Pettiford, Llyod. Hubungan Internasional (Perspektif dan Tema), hlm 100

22

http://publikasi.umy.ac.id/index.php/hi/article/viewFile/1119/1187 diunduh pada 26 April 2014

metodenya. Perdamaian dapat dicapai dengan kerjasama antar negara sehingga konflik
kepentingan dapat dihindari. Perang dapat menimbulkan perih yang terkadang dapat
menumbuhkan kerjasama yang menguntungkan bagi diri atau negara.
Teori yang digunakan adalah hukum perdagangan internasional, seperti yang telah
dibahas di latar belakang bahwa hukum perdagangan internasional adalah kumpulan
aturan-aturan yang mengatur hubungan-hubungan perdagangan (komersial) yang
sifatnya perdata dan sekumpulan hukum tersebut mengatur transaksi-transaksi yang
berbeda negara.
1.5. Hipotesa
Berdasarkan kerangka teori dan latar belakang diatas dapat ditarik sebuah hipotesa
yaitu Penyelesaian sengketa anti dumping yang dilakukan Indonesia melalui
ketentuan WTO yaitu Indonesia menggunakan haknya dan kemanfaatan dari
mekanisme dan prinsip-prinsip multilateralisme sistem perdagangan WTO
terutama prinsip

transparansi

sehingga

Indonesia

berhasil

memenangkan

sengketa.
Dengan Indikator sebagai berikut.
1. Indonesia mengajukan keberatan atas pemberlakuan kebijakan anti-dumping
Korea ke DSM (Dispute Settlement Mechanism) dalam kasus Anti-Dumping
untuk Korea-Certain Paper Products.
2. Indonesia mengadakan konsultasi pada Korea Selatan mengenai penyelesaian
penyelesaian sengketa atas pengenaan tindakan anti-dumping Korea Selatan
terhadap impor produk kertas asal Indonesia, walaupun tidak membuahkan
hasil pada tanggal 4 Juni 2004
3. Indonesia kemudian mengajukan permintaan ke DSB (Dispute Settlement
Body) WTO agar Korea Selatan mencabut tindakan anti dumpingnya yang

melanggar kewajibannya di WTO dan menyalahi beberapa pasal dalam


ketentuan Anti-Dumping.
4. DSB WTO menyampaikan Panel Report ke seluruh anggota Pada tanggal 28
Oktober 2005 dengan mengatakan bahwa tindakan anti-dumping Korea
Selatan tidak konsisten dan telah menyalahi ketentuan Persetujuan AntiDumping.
5. Kedua belah pihak yang bersengketa pada akhirnya mencapai kesepakatan
bahwa Korea harus mengimplementasikan rekomendasi DSB dan menentukan
jadwal waktu bagi pelaksanaan rekomendasi DSB tersebut (reasonable period
of time/RPT).
1.6. Definisi Konseptual
Definisi Konspetual ini diperlukan dalam memudahkan penelitian ini dalam
melakukan pengujian-pengujian hipotesis yang dapat diterima. Dalam bukunya Mohtar
Masoed yang berjudul Ilmu Hubungan Internasional Disiplin dan Metodologi definisi
konseptual adalah sebuah definisi yang menggambarkan konsep dengan menggunakan
konsep lain.23 Agar memudahkan dalam menyamakan sudut pandang permasalahan yang
dibahas dalam penelitian, maka akan dibahas konsep-konsep yang telah dibahas pada
penelitian ini.
World Trade Organization (WTO) adalah organisasi internasional yang berkaitan
dengan aturan perdagangan antar Negara.24
Dispute Settlement Body (DSB) adalah badan penyelesaian sengketa yaitu suatu
badan yang memiliki tanggung jawab utama untuk menyelesaikan sengketa dengan
pemerintah negara anggota.25

23

Mohtar Masoed. , 1990. Ilmu Hubungan Internasional Disiplin dan Metodologi, LP3ES, edisi revisi, Jakarta,

hlm 98.
24

What is the WTO? <http://www.wto.org/english/thewto_e/whatis_e/whatis_e.htm>, diakses pada tanggal 26

April 2014

Dispute Settlement Mechanism (DSM) yaitu mekanisme dalam penyelesaian


sengketa dalam perdagangan internasional.
1.7. Definisi Operasional
Dalam buku Ilmu Hubungan Internasional Disiplin dan Metodologi karya Mohtar
Masoed disebutkan bahwa definisi oerasional adalah suatu serangkaian prosedur yang
mendeskripsikan kegiatan yang dilakukan jika ingin mengetahui eksistensi empiris suatu
konsep.26
Dalam penelitian ini dijelaskan mengenai tuduhan Korea Selatan terhadap praktik
dumping ekspor kertas Indonesia. Dengan adanya sengketa anti dumping Indonesia dan
Korea Selatan tentu merugikan Indonesia. Akibat dari tuduhan dumping dari Korea
Selatan terhadap Indonesia maka pada Mei 2003 Korea Selatan memberlakukan bea
masuk anti dumping atas produk kertas Indonesia. Tetapi, pada November 2003 Korea
Selatan menurunkan bea masuk anti dumping terhadap produk kertas Indonesia ke
Korsel.
Setelah di lakukan Panel Report diketahui bahwa terjadi pelanggaran ketentuan WTO
oleh KTC dan Korea Selatan melakukan pelanggaran ketentuan WTO dengan menolak
data dari dua perusahaan kertas Indonesia. Setelah diketahui hasil panel tersebut
Indonesia mulai melakukan gugatan terhadap Korea Selatan terhadap tuduhan praktik
dumping, dan dilakukan penyelesaian oleh Dispute Settlement Body WTO.
1.8. Ruang Lingkup
Dalam penelitian ini penulis hanya membatasi masalah hanya sebatas hukum
perdagangan, definisi, prinsip, perkembangan, unifikasi dan harmonisasi beserta contoh
kasus.
1.9. Metodologi Penelitian
a. Metode Penelitian
25

Dispute settlement, <http://www.wto.org/english/tratop_e/dispu_e/dispu_e.htm#disputes>, diakses pada

tanggal 26 April 2014


26

Mohtar Masoed, op cit, hlm 100

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian
deskriptif yaitu dalam penulisan penelitian akan menggambarkan apa saja yang terjadi
pada fenomena yang diteliti.
b. Teknik Penulisan
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik penelitian pustaka (library
research) yaitu teknik dengan pengumpulan data-data yang diperoleh melalui studi
pustaka dari beberapa buku, jurnal, artikel dsb yang mendukung penelitian ini.
1.10. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Pendahuluan berisikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat
penelitian, kerangka teori, hipotesa, definisi konsepsional, definisi operasional, ruang
lingkup penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II PERAN WTO DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL
Bab II berisikan mengenai gambaran

bagaimana WTO menangani perdagangan

internasional seluruh dunia.


BAB III SENGKETA ANTI DUMPING ANTARA INDONESIA DAN KOREA
SELATAN
Bab III berisikan mengenai bagaimana perkembangan dari kasus sengketa anti
dumping antara Indonesia dan Korea Selatan
BAB IV PENYELESAIAN

SENGKETA ANTI DUMPING KOREA SELATAN

DAN INDONESIA MELALUI WTO


Bab IV berisikan bagaimana penyeleseaian sengketa anti dumping antara Korea Selatan
dan Indonesia melalui WTO
BAB V KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

Adolf, Huala. Hukum Perdagangan Internasional Prinsip-prinsip dan Konsepsi Dasar


<http://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/32342940/1_HUKUM_PERDA
GANGAN_INTERNASIONAL_Prinsip-prinsip_dan_Konsepsi_Dasar-libre.PDF?

AWSAccessKeyId=AKIAJ56TQJRTWSMTNPEA&Expires=1398584217&Signature
=StwTHxK8C0%2FFuH0RGcTEIP26tDw%3D>, diakses pada tanggal 26 April 2014
Masoed, Mohtar. 1990. Pengantar Ilmu hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi.
LP3ES. Jakarta.
Steans, Jill & Pettiford, Llyod. 2009. Hubungan Internasional (Perspektif dan Tema). Pustaka
Pelajar. Yogyakarta.
____. Harmonisasi dan unifikasi Hukum Dagang Internasional
<http://aafandia.files.wordpress.com/2009/05/harmonisasi-dan-unifikasi-hukumdagang-internasional.pdf>, diakses pada tanggal 26 April 2014
http://binchoutan.files.wordpress.com/2008/06/studi-kasus-dumping.pdf, diakses pada
tanggal 26 April 2014
http://elib.unikom.ac.id/download.php?id=46710, diakses pada tanggal 26 April 2014
http://www.investopedia.com/terms/d/dumping.asp, diakses pada tanggal 26 April 2014
http://Ojs.Unud.Ac.Id/Index.Php/Kerthanegara/Article/Download/8071/6086,

diakses

pada tanggal 26 April 2014


http://www.wto.org/english/tratop_e/adp_e/adp_e.htm, diakses pada tanggal 26 April 2014

HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL


(Studi Kasus : Sengketa Anti-dumping Produk Kertas dengan Korea Selatan terhadap
tuduhan praktek dumping oleh Indonesia)

Oleh Kelompok 4
Halida (1001134777)
Vina Rahmadini (1101155530)
M. Farid (1101121282)
Febrianto Nainggolan (1101112595)

JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS RIAU
2014