Anda di halaman 1dari 20

TUGAS MATA KULIAH

PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN


BERACUN

Disusun oleh :
Lamtua Purba

25315021

Rimba Yudha A

25315026

Fransiska Warni P 25315028

PROGRAM MAGISTER TEKNIK LINGKUNGAN


INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2015

PERDAGANGAN ILEGAL LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN


BERACUN
1. Latar Belakang
Bagi negara-negara maju yang produktifitas limbah B3-nya cukup tinggi, tentunya akan
sangat berbahaya untuk membuang limbahnya di negeri sendiri dalam jumlah besar.
Terutama negara eropa yang luas wilayah relatif sempit. Sehingga menyediakan wilayah
khusus di negaranya hanya untuk limbah B3 merupakan hal yang sangat merugikan. Selain
itu biaya pengelolaan limbah B3 sangat mahal. Oleh karena itu, ada sebuah alternatif yang
cukup menguntungkan bagi negara-negara maju yang lahannya cukup sempit yaitu dengan
melakukan perdagangan sampah/limbah batas antar Negara. Selain itu beberapa negara di
dunia masih memanfaatkan sisa limbah B3 untuk diolah kembali menjadi produk lainya atau
diambil sisa-sisa komponenenya untuk dijual kembali.
Perdagangan sampah/limbah B3 batas antar negara merupakan suatu perpindahan
sampah atau limbah B3 dari suatu negara ke negara lain, yang biasanya dilakukan oleh
negara maju terhadap negara berkembang. Sebenarnya, perpindahan merupakan suatu
tindakan yang tidak dibenarkan, atau illegal karena limbah B3 secara langsung atau tidak
langsung sangat membahayakan bagi kesehatan manusia dan lingkungan sekitarnya. Pada
dasarnya, sangat sulit untuk mencegah terjadinya perdagangan sampah. Hal ini masih terjadi
karena semakin ketatnya peraturan limbah B3 di negara-negara maju dan mahalnya biaya
pengolahan atau pembuangan bahan beracun dan turunannya. Hal tersebut berdampak pada
pencarian yang berbiaya murah dengan membuang atau mengekspor limbah B3 ke negaranegara berkembang terutama di asia dan afrika.
2. Perdagangan Limbah B3 di Indonesia
Indonesia adalah salah satu negara pengimpor limbah B3 baik secara illegal ataupun
kerjasama dengan pemerintah terutama pemerintah daerah, misalnya beberapa daerah di
wilayah Indonesia diajak kerjasama ekonomi dalam bentuk pembuangan limbah. Negara
maju menawarkan modal untuk melaksanakan pembangunan dengan imbalan alokasi
sebagian wilayah daerah tersebut dijadikan sebagai tempat pembuangan limbah negara
pembantu. Pada tahun 1996, Indonesia sudah pernah mengimpor limbah dari Australia,
berupa: 2.417 ton limbah timah bekas, 105 ton aki bekas, dan 29.500 buah baterai bekas.
Impor limbah di Indonesia biasanya untuk digunakan kembali dalam kegiatan industri dalam
negeri.
Kasus ekspor dan impor B3 di Indonesia banyak diakibatkan oleh ketidaktahuan dan
peraturan yang tidak jelas, contohnya kasus impor besi baja bekas (scrap steel) di Tanjung
Priok yang dinyatakan sebagai limbah B3. Peraturan yang berlaku menyatakan segala sesuatu

yang tercemar B3 termasuk limbah B3, namun belum menyebutkan seberapa banyak
pencemar yang terkandung dalam suatu barang yang tercemar B3 sehingga barang tersebut
dapat dikategorikan sebagai limbah B3. Hal ini menyebabkan masih banyaknya kasus abuabu yang disebabkan peraturan yang belum jelas seperti ini yang menyebabkan Indonesia
masih menjadi salah satu negara tujuan ekpor limbah.
2.1 Kasus Perdagangan Limbah Terkontaminasi B3 Melalui Pelabuhan di Indonesia
Indonesia merupakan salah satu negara tujuan ekpsor limbah B3 contoh kasus, data
selama tahun 2012 hasil investigasi Dirjen Bea Cukai ditemukan impor limbah B3 yang
dikirim ke beberapa pelabuhan di Indonesia oleh berbagai perusahaan sebanyak 1.153
kontainer yang tersebar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta (898 kontainer), sementara
sisanya tersebar di Belawan (Medan), Tanjung Perak (Surabaya), dan Tanjung Emas
(Semarang).
2.1.1 Limbah Scrap Steel (limbah besi dan hancuran logam) Terkontaminasi B3 dan
Limbah Lainya di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta
Ekspor limbah B3 biasanya melaui pelabuhan-pelabuhan dari negara maju ke negaranegara berkembang menggunakan kontainer-kontainer yang berjumlah puluhan sampai
ribuan. Empat pelabuhan besar di Indonesia selama tahun 2012 menjadi pintu datangnya
limbah B3 ke Indonesia. Kasus pertama yaitu Impor limbah B3 yang dilakukan oleh PT
Hwang Hook Steel (HHS) pada 10 Januari 2012, ditemukan sebanyak 113 kontainer asal
Inggris dan Belanda yang diduga merupakan limbah B3. Hasil pemeriksaan di dapati di
dalamnya berisi scrap steel dalam kondisi tidak dalam keadaan bersih, tercampur dengan
tanah dan ditemukan adanya limbah B3 (limbah elektronik, tar, aspal, bekas kemasan bahan
kimia) dan limbah domestik/sampah.

Gambar 1. Petugas Bea Cukai Memeriksa Kontainer yang Terindikasi Limbah B3


2.1.2 Limbah Scrap Steel Terkontaminasi B3 dan Limbah Lainya di Pelabuhan Belawan
Medan

Sekitar 40 kontainer berisi scrap steel yang terindikasi mengandung limbah bahan
beracun dan berbahaya (B3) ditemukan pada bulan Maret 2012 di terminal peti kemas
internasional Pelabuhan Belawan Medan. Sebanyak 40 kontainer scrap steel itu diimpor
pabrik peleburan besi PT Growth Sumatra Industry dari Belanda, Amerika Serikat, dan Rusia.
Kontainer tersebut diindikasi mengandung limbah B3 antara lain berupa scrap steel dan
limbah lainya yaitu karet, lampu bekas, travo bekas, dan oli bekas.
2.1.3 Limbah Terkontaminasi B3 di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya
Sebanyak 65 kontainer ditemukan berisi limbah B3 diamankan jajaran Kantor
Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tanjung Perak Surabaya di area PT Terminal
Petikemas Surabaya, Jawa Timur. Barang impor dari Inggris tersebut dipesan oleh dua
perusahaan pengelola besi dan baja yakni PT Hanil Jaya Steel. Kontainer tersebut
mengandung limbah B3 yang di antaranya berisi ban bekas, aki bekas, tabung bekas,
potongan ekektronik, dan kabel bekas yang bercampur pasir.

Gambar 2. Kontainer Berisi Limbah Beracun di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya


2.1.4 Limbah Besi Tua Terkontaminasi B3 di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang
Pada 28 April 2014 penyidik dari kejaksaan dan kepolisian menemukan 11 kontainer
berisi limbah scrap steel terindikasi B3 yang berasal dari Afrika Selatan berjumlah 11
kontainer.
3. Solusi Permasalahan Perdagangan Limbah B3 di Indonesia.
Solusi permasalahan perdagangan illegal limbah B3 di Indonesia, dilakukan melalui
kerjasama berbagai pihak baik dari pemerintah, anggota DPR, dan pihak swasta agar
Indonesia tidak menjadi tujuan pembuangan limbah B3 negara-negara industri maju di dunia.
Pada kasus impor limbah di pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, dimana limbah berasal dari
negara eropa yaitu Inggris dan Belanda.

Berdasarkan peraturan Menteri Perdagangan Nomor : 39/M-DAG/PER/9/2009, maka


setiap importir wajib mengembalikan barang yang mengandung limbah bahan beracun dan
berbahaya (B3) ke negara asalnya. "Biaya pengiriman ditanggung sepenuhnya oleh
perusahaan importir itu,". Pada kasus Tanjung Priok importir adalah PT HHS, diwajibkan
untuk mengirim kembali limbah tersebut ke negara asal atau reekspor. Penetapan reekspor
telah dikeluarkan Pengadilan Negeri Jakarta Utara nomor 01/Pen.Pid/2012/PN.JK.UT tanggal
6 Maret 2012. Langkah-langkah dan solusi yang dilakukan pemerintah untuk melarang impor
limbah B3 ke Indonesia adalah dengan mengeluarkan pertaturan-peraturan sebagai berikut:
a; Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 349/Kp/XI/1992 tentang Larangan Impor

Limbah Plastik. Peraturan ini memuat ketentuan tentang larangan impor limbah
plastik dari jenis polimer etilena, polimer sterena, polimer vinil klorida, kopolimer
vinil asetat dan vinil klorida yang vinil asetatnya dominan.
b; Keppres Nomor 61 Tahun 1993 tentang Ratifikasi Konvensi Basel. Keppres ini
ditandatangani pada 12 Juli 1993 sebagai bentuk ratifikasi Konvensi Basel yang
mengatur tentang ketentuan impor limbah B3 lintas negara.
c; PP Nomor 19 Tahun 1994 tentang Pengelolaan Limbah B3. PP ini disahkan pada 30
April 1994 dan memuat beberapa aturan pokok impor limbah B3. Beberapa di
antaranya adalah:
; Pewajiban setiap badan usaha penghasil limbah B3 untuk mengolah sendiri
limbahnya atau yang tidak mampu mengolah sendiri diwajibkan menyerahkan
limbahnya kepada pusat-pusat pengolahan limbah yang telah mendapat izin
dari instansi yang berwenang (Bapedal).
; Pelarangan tanpa pengecualian pemasukan limbah B3 dari luar negeri ke
dalam wilayah Indonesia.
; Kebijaksanaan untuk membolehkan pengiriman limbah B3 dari Indonesia ke
negara lain setelah mendapatkan persetujuan dari negara penerima dan izin
dari Pemerintah Indonesia.

4.1 Kasus Perdagangan Ilegal Limbah Berbahaya E-Waste di China


Di beberapa negara Eropa dan Amerika pembuangan limbah elektronik adalah dengan
cara mengirim limbah tersebut ke beberapa negara berkembang di Asia dan Afrika seperti
China, Indonesia, Vietnam, Nigeria dan lain-lain. Riset yang dilakukan oleh Zoeteman et al
2009 menyatakan bahwa sekitar 80% dari total limbah elektronik yang dihasilkan dibuang
atau dikirim ke negara-negara di Asia dan Afrika.
China merupakan salah satu negara di asia yang menjadi tujuan utama ekspor e-waste
negera-negara maju terutama Amerika Serikat dan negara Uni Eropa. Menurut Basel Action

Network, e-waste merupakan barang elektronik yang sudah tidak dipakai kemudian dibuang,
baik dalam keadaan rusak maupun tidak rusak, seperti komputer, handphone, kulkas, mesin
cuci,barang elektronik dan lain-lain yang memerlukan penanganan seperti pengolahan atau
pendaur-ulangan untuk menghindari kontaminasi lingkungan dan efek negatif terhadap
kesehatan manusia. Ketika e-waste dibuang atau di daur ulang tanpa kontrol dan tidak
memenuhi standard, terdapat berbagai macam efek negatif yang dihasilkan pada lingkungan
dan kesehatan manusia. E-waste memiliki lebih dari 1000 zat kimia didalamnya, kebanyakan
merupakan zat beracun, seperti timah, merkuri, arsenic, cadmium, selenium, khrome dan
flame retardans yang mampu membuat emisi dioksin ketika dibakar. Racun racun tersebut
dapat membuat kerusakan otak, reaksi alergi, kanker, permasalahan pernapasan dan lainnya.
Dalam ekspor e-waste ke China, seharusnya melalui pemeriksaan konten yang dikirim
serta melengkapai surat-surat yang dibutuhkan. China sendiri merupakan negara yang telah
meratifikasi Konvensi Basel. Namun faktanya aliran sampah elektronik berbahaya tersebut
tetap saja terjadi dengan berbagai cara dalam menyiasatinya. Selain dalam bentuk ekspor
yang sebagian besar dikirim dengan label palsu (tidak sesuai dengan isi yang dikirim).
Sesampainya e-waste di China, terdapat beberapa perlakuan terhadap e-waste tersebut.
Dikarenakan ketidakpastian dari sebagian besar kiriman e-waste ke China, maka penyortiran
merupakan hal yang perlu untuk dilakukan, setelah itu e-waste tersebut dikelompokkan sesuai
dengan tipe dan kondisinya. Berikut merupakan bagan manajemen sampah elektronik di
China. Dari sampah elektronik yang masuk akan dipilih mana saja yang termasuk e-waste
yang bisa digunakan kembali (reusable), di servis atau disimpan untuk dijual kembali.
Kemudian open burning akan dilakukan pada komponen-komponen tertentu, baik untuk
diambil materinya dan komponen pentingnya dalam keperluan recycling atau servis atau
diambil material berharganya seperti emas, baja dan timah untuk dijual kembali. Sisanya,
untuk e-waste yang tidak bernilai guna dan bekas dipereteli pada akhirnya akan berakhir di
tempat pembuangan, dimana ancaman kesehatan, lingkungan dan sosial muncul.
Guiyu di wilayah Shantou China adalah area pengolahan limbah elektronik besar di
dunia. Hal ini sering disebut sebagai "ibukota e-waste dari dunia." Mempekerjakan lebih dari
150.000 pekerja yang bekerja melalui 16 jam per hari. Daur ulang dan pembuangan e-waste
di daerah tersebut menyebabkan berbagai masalah lingkungan seperti pencemaran air tanah,
polusi udara, polusi air atau bahkan langsung baik oleh debit atau karena limpasan
permukaan (terutama di dekat daerah pesisir), serta masalah kesehatan termasuk keselamatan
dan efek kesehatan antara mereka secara langsung dan tidak langsung terlibat, karena metode
pengolahan limbah.

Penelitian lain dilakukan Leung (2009), terkait dengan konsentrasi logam berat di
permukaan debu dari proses daur ulang e-waste yang ternyata berimplikasi terhadap
kesehatan di China bagian tenggara (Guiyu). Daur ulang papan sirkut (CRT) di Guiyu, China
sebagai desa sentra daur ulang e-waste dapat menimbulkan risiko kesehatan yang signifikan
terhadap lingkungan dan manusia. Untuk mengevaluasi sejauh mana e-waste logam berat
(Cd, Co, Cr, Cu, Ni, Pb, Zn) mengkontaminasi dari papan sirkuit yang daur ulang, sampel
debu dikumpulkan dari tempat pengolahan daur ulang, berdekatan jalan, sekolah, dan sebuah
pasar makanan di luar ruangan. Dari hasil analisis ICP-OES menunjukkan konsentrasi ratarata meningkat pada tempat pengolahan (Pb 110 000, 8360 Cu, Zn 4420, dan Ni 1500 mg /
kg) dan dalam debu jalan berdekatan (Pb 22 600, 6170 Cu, Zn 2370, dan Ni 304 mg / kg).
Kandungan Cu dalam debu jalan paling tinggi yaitu 330 dan 106, dan masing-masing 371
dan 155 kali lebih tinggi, dibandingkan daerah kontrol yang terletak 8 dan 30 km dari tempat
pengolahan daur ulang e-waste. Penilaian risiko meramalkan bahwa Pb dan Cu yang berasal
dari daur ulang papan sirkuit memiliki potensi untuk menimbulkan risiko kesehatan serius
bagi pekerja dan penduduk lokal Guiyu, terutama anak-anak. Potensi dampak terhadap
lingkungan dan kesehatan manusia karena daur ulang e-waste di Guiyu yang tidak terkendali.

Gambar 3. Pekerja memilah e-waste di China


4.2 Kasus Perdagangan Ilegal Limbah Berbahaya di Negara Asia Lainya
Asia merupakan salah tujuan ekspor dan impor perdagangan limbah B3 batas antar
negara. Beberapa kasusnya adalah ekspor limbah B3 secara ilegal dari Batam ke Singapura
tahun 1994 dengan cara memasukkan sedikit demi sedikit limbah ke peti kemas bersama
produk eksponenya karena Batam tidak memiliki alat pengolahan limbah B3 (Kompas, 27
April, l994), penyelundupan 150 ton limbah makanan yang sudah kedaluarsa beserta kaleng-

kaleng maupun botolnya dari Singapura ke kecamatan Bintan Timur, Riau tahun 1994
(Kompas, 4 Juli, 1994), pernbuangan 1.600 ton limbah B3 secara ilegal oleh Singapura ke
wilayah Malaysia, di pantai Remis (Kompas, 29 luli, 1995). Tahun 1992, Australia
mengekspor lebih dari 17.000 ton timah baterai bekas ke Hong Kong, Indonesia, Jepang,
Selandia Baru, Papua Nugini, Filipina, Taiwan dan Thailand. Perusahaan-perusahaan yang
mengekspor adalah : Non Ferral Pty Ltd; (ekspor dari Australia dan Timur Tengah);
Simsmetal Ltd (ekspor dari Australia); Aus Export Trading House (ekspor dari Siprus) dan
Colby Australia Imports Pty Ltd. Kanada, tahun 1990-1992 mengekspor lebih dari 5.000 ton
limbah ke Cina, Korea Selatan, Filipina, Thailand, Indonesia, Taiwan, Hongkong dan India.
Tahun 1991, Pacific Metal Inc of Vancouver mencoba mengirimkan limbah baterai ke Cina
dan Filipina dan ditolak oleh Pemerintah Cina dan Filipina. Jepang telah mengekspor 30.000
ton timah baterai bekas ke Asia Tenggara setiap tahun. Perusahaan-perusahaan yang
mengirimkan lirnbah tersebut ke Filipina adalah Metal Trading Service Co. Ltd; Coorp; dan
LGACoTporations. Perusahaan-perusahaan ini mengirim 350 ton limbah baterai bekas ke
Filipina dari Januari hingga juni 1993. Amerika Serikat mengekspor sekirar 60.0000 ton
limbah timah bekas, sekitar 2.000 ton ke Asia, termasuk India, Korsel, Cina, Hong Kong,
Pakistan, Filipina dan Malaysia. Perusahaan yang mengekspor baterai-baterai Amerika Serika
ke Filipina adalah Ramcar Batteries Inc. di California. Tahun 1990 dan 1991, Amerika
Serikat mengekspor 7 I .000 ton dan 87.000 ton limbah timah secara berurutan. Selanjutnya
masih banyak lagi kasus perpindahan lintas batas limbah B3 lainnya yang tidak terpantau d
wilayah kawasan asia. Berikut ini adalah gambar alur perdagangan limbah contoh limbah ewaste di dunia.

Gambar 4. Alur Perdagangan Limbah E-Waste di Dunia


5. Perdagangan Lintas Batas Limbah Berdasarkan Konvensi Basel

Kerjasama regional dan internasional memiliki peran penting dalam pemeliharaan


dan perlindungan lingkungan hidup, terutama upaya mengatasi bahan berbahaya beracun
(B3). Lintas batas limbah, yang dapat berkarakter berbahaya masuk ke suatu negara kadangkadang terselubung sebagai bahan baku seperti kasus besi logam di Indonesia atau e-waste di
Nigeria. Tumbuhnya kesadaran global tentang kondisi lingkungan dan sumber daya alam
mendesak seluruh negara untuk memperhatikan dan mengubah basis sistem pengelolaan
pembangunan di seluruh sektor.
Permasalahan mengenai isu perdagangan limbah illegal diawali sekitar awal tahun
1980. Akhirnya dari hasil pertemuan perwakilan negara-negara di seluruh dunia baik negara
maju dan berkembang menghasilkan suatu kesepakatan Konvensi Basel, yaitu perjanjian
lingkungan global dan limbah. Pengendalian perdagangan illegal limbah antar batas negara
dari B3 dan pembuangannya diatur dalam konvensi ini, dan bertujuan melindungi kesehatan
manusia dan lingkungan dan meminimalkan terjadinya perpindahan limbah B3 lintas batas
negara. Konvensi ini pada umumnya menolak perpindahan limbah B3 lintas batas negara,
namun perpindahan limbah B3 lintas batas negara ini boleh dilakukan dengan pengaturan
tertentu, dan melewati beberapa persyaratan berupa prosedur terkait perizinan dari negara
pengimpor dan prinsip pemberitahuan dini mengenai isi dan jenis dari limbah yang akan
diekspor. Sebanyak 170 negara meratifikasi Konvensi Basel termasuk Indonesia. Dua pilar
yang menjadi landasan hasil dari Konvensi Basel adalah sebagai berikut:
a; Konvensi Basel sebagai sistem pengendalian global dari perpindahan lintas batas

limbah, dengan menerapkan prosedur perijinan, perpindahan limbah tanpa ijin adalah
illegal.
b; Konvensi Basel mewajibkan anggota atau negara pihak untuk memastikan agar
pengelolaan limbah berbahaya dan limbah lainnya dilakukan secara berwawasan
lingkungan.
5.1 Notifikasi Berdasarkan Konvensi Basel
Konvensi Basel mengatur bagaimana notifikasi prosedur atau sistem pengendalian
limbah antar batas. Sistem pengawasan melalui prosedur pemberitahuan terlebih dahulu dari
instansi berwenang negara pengekspor ke instansi berwenang negara pengimpor dan negara
transit apabila akan dilaksanakan perpindahan lintas batas limbah B3 dan limbah lainnya.
Selanjutnya, perpindahan lintas batas limbah B3 dan limbah lainnya hanya dapat dilakukan
setelah dilakukan notifikasi kepada otoritas negara-negara pengimpor dan negara transit (jika
ada), dan mendapat jawaban persetujuan. Apabila terjadi perpindahan limbah batas negara
secara illegal maka negara pengekpor wajib melakukan tindakan sebagai berikut:

a; Negara pengekspor menjamin limbah akan diambil kembali oleh pihak pengekspor

atau pihak penghasil.


b; Negara pengekspor menjamin limbah dibuang sesuai dengan ketentuan Konvensi
dengan cara yang berwawasan lingkungan.
c; Dalam 90 hari setelah negara pengekspor mendapat pemberitahuan tentang lalu lintas
illegal atau dalam jangka waktu lain yang mendapat persetujuan negara yang
berkepentingan, maka negara yang berkepentingan tidak dapat menolak mengenai
pengembalian limbah tersebut.

Gambar 5. Konvension Basel, Notifikasi


Selanjutnya perpindahan limbah lintas batas yang dikategorikan ilegal adalah sebagai berikut:
a; Dalam pengiriman limbah tanpa adanya notifikasi sesuai dengan ketentuanketentuan
b;
c;
d;
e;

Konvensi bagi semua negara negara yang berkepentingan.


Tanpa persetujuan negara terkait.
Persetujuan yang diperoleh dari negara yang berkepentingan melalui pemalsuan,
pemberitahuan yang salah atau kecurangan.
Limbah yang dikirim tidak sesuai dengan manifest/ dokumen.
Pembuangan limbah yang bertentangan dengan Konvensi dan prinsipprinsip umum
hukum Internasional.
Dalam perkembanganya, banyak negara yang melanggar hasil Konvensi Basel, oleh

karena itu beberapa negara seperti Swiss, Denmark dan beberapa LSM internasional
mendesak dilakukanya Basel Ban Amendment yang memuat larangan total perdagangan

semua jenis limbah B3 lintas negara, termasuk misalnya limbah elektronik. Apabila
amandemen ini disetujui maka perdagangan ilegal limbah dimasukkan sebagai tindak pidana,
tetapi belum ada kesepakatan mengenai amandemen Konvensi Basel karena beberapa negara
maju misalnya USA dan Jepang menolak amandemen. Penolakan ini didasarkan karena
negara-negara industri dilarang total mengekpor limbahnya apabila amandemen ini
disepakati.
5.2 Notifikasi Prosedur Impor dan Ekspor di Indonesia
Bahan-bahan buangan (limbah) selain bersifat merusak, juga dapat membahayakan
sumber daya alam lainnya, terutama jika tidak ditangani dengan baik. Limbah-limbah dapat
berubah menjadi limbah bahan berbahaya karena adanya senyawa atau substansi yang
memang asalnya dari bahan berbahaya, seperti bahan-bahan yang digunakan pada proses
industri kimia ataupun akibat pencampuran dari substansi yang pada awalnya (secara
individu) tidak berbahaya, tetapi setelah tercampur satu sama lainnya justru akan
menimbulkan kondisi berbahaya. Sifat berbahaya dapat pula muncul akibat volume limbah
yang terlalu besar yang mengakibatkan pencemaran lingkungan. Indonesia juga melakukan
pengendalian dalam keluar masuknya limbah B3 dikarenakan:
;
;
;
;

Mencegah Indonesia menjadi tempat pembuangan limbah Indonesia merupakan


negara transit.
Indonesia merupakan eksportir limbah B3.
Indonesia masih membutuhkan peningkatan kapasitas pengelolaan limbah B3 yang
berwawasan lingkungan (Environmental Sound Management).
Indonesia masih memerlukan rujukan secara internasional dalam melakukan
pengelolaan limbah B3 dan mengidentifikasi limbah B3.
Agar dalam pengelolaan limbah B3 tidak menimbulkan pencemaran lingkungan dan

bahaya bagi kesehatan manusia, maka pengelolaan harus didasarkan pada prinsip pengelolaan
limbah B3.
Prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengelolaan limbah B3 adalah :
1) Pollution Prevention Principle, yaitu dalam melindungi lingkungan dari pencemaran
akibat pengangkutan lintas batas limbah B3 dan pembuangannya, maka negara-negara
hendaknya dalam pengelolaan limbah B3 dapat menerapkan pendekatan yang bersifat
pencegahan sesuai dengan kemampuan masing-masing dan apabila terdapat kemungkinan
timbulnya kerusakan yang serius dan besar, maka kelangkaan atau kurangnya data yang

bersifat ilmiah tidak boleh dijadikan kemungkinan timbulnya kerusakan lingkungan. Upaya
yang dapat dilakukan oleh negara-negara adalah dengan meminimasi limbah;
2) Polluter Pays Principle, yaitu pencemar harus membayar semua biaya yang
diakibatkannya;
3) From Craddle to Grave Principle, yaitu pengawasan mulai dari dihasilkannya limbah
sampai dibuang atau ditimbunnya limbah B3;
4) Pengolahan dan penimbunan limbah B3 diusahakan dilakukan sedekat mungkin dengan
sumbernya;
5) Non Discriminatory Principle, yaitu semua limbah B3 harus diperlakukan sama di dalam
pengolahan dan penanganannya;
6) Sustainable Development, yaitu pembangunan berkelanjutan;
7) The principle right to know, prinsip ini menyatakan orang mempunyai hak untuk
mengetahui jika terdapat kondisi atau tindakan yang mungkin akan merusak atau mencemari
alam. Kegiatan pengangkutan lintas batas limbah B3 dan pembuangannya mempunyai resiko
terhadap lingkungan dan kesehatan manusia, maka negara pengimpor limbah berhak untuk
mengetahui akibat dari pengangkutan lintas batas limbah B3, melalui pemberitahuan
pendahuluan yang diberikan oleh negara pengekspor.
Dengan prinsip-prinsip tersebut, maka diharapkan lingkungan hidup dapat terlindungi
dari dampak negatif pengelolaan limbah B3 berupa pencemaran atau perusakan lingkungan
hidup.
Masyarakat internasional telah berupaya untuk menyusun pengaturan tentang
pengangkutan limbah, dengan membuat konvensi global yaitu Basel Convention on The
Control of Transboundary Movements of Hazardous Wastes And Their Disposal. Konvensi
Basel dibentuk dengan tujuan untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan akibat
pengangkutan lintas batas limbah berbahaya dan pembuangannya. Negara-negara anggota
Konvensi Basel juga menyadari bahwa negara sedang berkembang sebagai sasaran tempat
pengelolaan limbah berbahaya mempunyai kemampuan yang terbatas atau sama sekali tidak
mempunyai kemampuan untuk mengelola limbah, terutama limbah B3 dengan cara yang
berwawasan lingkungan.
Konvensi Basel 1989 menetapkan mekanisme pengawasan pengangkutan lintas batas
limbah berbahaya dengan cara mewajibkan negara pengekspor untuk memenuhi persyaratan
mengenai izin berdasarkan pemberitahuan awal (Prior Informed Consent) sebagai salah satu
bagian dari sistem pengawasan apabila akan melakukan pengangkutan lintas batas limbah
berbahaya. Selanjutnya, pengangkutan limbah berbahaya baru dapat dilakukan bila telah ada

persetujuan tertulis dari negara pengimpor dan negara transit. Jika negara pengimpor dan
negara transit mengizinkan dilakukannya pengangkutan lintas batas limbah berbahaya.

Gambar 6. Implementasi Perpindahan Lintas Negara untuk Limbah B3 menurut Ketentuan


Basel.

5.3 Persyaratan Lintas batas negara limbah B3


Pihak yang berkaitan dengan lintas batas negara dari limbah B3 baik sebagai importir
maupun eksportir harus melakukan pelaporan kegiatan pengelolaan limbah B3 nasional
(National Reporting) kepada sekretariat setiap tahun dengan menyampaikan :
1; Data pengolahan
2; Data pemanfaatan
3; Data landfill
4; Data ekspor
5; Data impor
6; Data fasilitas pengelolaan limbah B3.
Persyaratan Administrasi Dokumen Permohonan Notifikasi Ekspor Limbah B3 di
Indonesia

1; Formulir Aplikasi (yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup) yang

2;

3;

4;
5;
6;

7;

8;

9;

berisi tentang data eksportir, sumber penghasil limbah B3, negara tujuan, data
importir berikut rencana pengolahn limbah, negara transit bila dilalui, deskripsi
limbah B3 yang akan diekspor, rencana ekspor (jumlah limbah dan jadwal
pengiriman), nama pelabuhan untuk pengiriman barang, nama kapal, dan nama
transporter;
Formulir Notifikasi (sesuai lampiran V Konvensi Basel) memuat detail sebagaimana
formulir Aplikasi hanya dengan format berbeda serta tandatangan otoritas dari negara
ekportir (Indonesia);
Formulir Transboundary Movement (sesuai lampiran pada Konvensi Basel) selain
penjelasan tentang limbah B3, keterangan pelaku ekspor-impor juga memuat
tandatangan dari otoritas negara eksportir dan otoritas negara importir sebagai bukti
limbah B3 yang dikirm sudah diterima di negara tujuan;
Hasil analisa laboratorium untuk mengetahui kandungan bahan kimia dalam limbah
B3 yang akan diekspor;
Informasi data dan karakteristik limbah B3;
Surat Asuransi untuk menjelaskan tanggung jawab terhadap kemungkinan potensi
pencemaran yang terjadi dalam kegiatan perpindahan limbah termasuk jika limbah B3
tersebut harus direekspor;
Surat Persetujuan dari penghasil limbah yang memuat tentang (jenis limbah, jumlah
limbah, nama pemilik, nama eksportir yang ditunjuk, kesedian untuk menyerahkan
limbah);
Surat keterangan kerjasama dengan importir negara tujuan ekspor (jenis limbah,
jumlah limbah, nama pemilik, nama eksportir yang ditunjuk, kesedian untuk
menerima limbah);
Dokumen lainnya: SIUP, NPWP, akta Pendirian Perusahaan, Kesesuaian Nomor HS.
Dalam pengelolaan limbah B3 kegiatan ekspor maupun impor limbah B3.
dilaksanakan berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku

6. Peraturan Mengenai Perpindahan Limbah Lintas Batas di Indonesia


6.1. Ekspor Limbah
Ekspor limbah oleh negara Indonesia ke negara lain diatur dalam beberapa peraturan terkait,
antara lain sebagai berikut:

a; PP No.101/2014 tentang pengelolaan limbah B3


Pasal 74
;

Dalam hal Setiap Orang yang menghasilkan Limbah B3 tidak mampu


melakukan sendiri Pemanfaatan Limbah B3 yang dihasilkannya dapat
melakukan ekspor Limbah B3.

Penyerahan Limbah B3 kepada Pemanfaat Limbah B3 sebagaimana dimaksud


harus disertai dengan bukti Penyerahan Limbah B3.

Salinan bukti penyerahan Limbah B3 disampaikan kepada Menteri paling


lama 7 (tujuh) hari setelah penyerahan Limbah B3.

Ekspor Limbah B3 dapat dilakukan jika tidak tersedia teknologi Pemanfaatan


Limbah B3 dan/atau Pengolahan Limbah B3 di dalam negeri.

pasal 75
;

Setiap Orang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 untuk dapat melakukan


ekspor Limbah B3 yang dihasilkannya wajib:

mengajukan permohonan notifikasi secara tertulis kepada Menteri;

menyampaikan rute perjalanan ekspor Limbah B3 yang akan dilalui;

mengisi formulir notifikasi ekspor Limbah B3; dan

memiliki izin ekspor Limbah B3.

Menteri menyampaikan notifikasi kepada otoritas negara tujuan ekspor dan


negara transit berdasarkan permohonan notifikasi

Notifikasi yang disampaikan oleh Menteri paling sedikit memuat:

identitas pemohon;

identitas Limbah B3;

identitas importir Limbah B3 di negara tujuan;

nama, karakteritik, dan jumlah Limbah B3 yang akan diekspor; dan

waktu pelaksanaan ekspor Limbah B3.

Dalam hal notifikasi disetujui oleh otoritas negara tujuan dan negara transit
Limbah B3, Menteri menerbitkan rekomendasi ekspor Limbah B3.

Rekomendasi ekspor Limbah B3 sebagaimana dimaksud menjadi dasar


penerbitan izin ekspor Limbah B3 yang diberikan oleh menteri yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perdagangan.

b; Peraturan

menteri perdagangan No. 44/ M-DAG/PER/7/2012

tentang barang

dilarang ekspor
;

Menteri menetapkan barang dilarang ekspor dengan alasan :

Mengancam keamanan nasional atau kepentingan umum termasuk sosial,


budaya, dan moral masyarakat

Melindungi kehidupan manusia dan kesehatan

Merusak lingkungan hidup dan ekosistem, dll

Barang dilarang ekspor tercantum dalam lampiran peraturan menteri


perdagangan No. 44/ M-DAG/PER/7/2012 :

Lampiran I, mengenai barang di bidang pertanian

Lampiran II, mengenai barang di bidang kehutanan

Lampiran III, mengenai barang di bidang perikanan

Lampiran IV, mengenai barang di bidang industri

Lampiran V, mengenai barang di bidang pertambangan

dst

6.2 Impor Limbah B3 dan Non B3


Mengenai impor Limbah B3 diatur dalam peraturan indonesia:
a; Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor
520/MPP/kep/8/2003
Impor limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) sebagai sisa suatu usaha dan/atau
kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat
dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak
langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakan lingkungan hidup, dan/atau dapat
membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta
makhluk hidup lain, dinyatakan dilarang.
b; Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor 41/MDAG/PER/10/2008 Tentang Ketentuan Impor Limbah Non Bahan Berbahaya Dan
Beracun (Non B3).
;

Limbah Non B3 sebagaimana dimaksud dalam hanya dapat diimpor oleh


perusahaan yang melakukan kegiatan usaha industri dan telah mendapat
pengakuan sebagai Importir Produsen ( Limbah Non B3 dari Direktur
Jenderal.

Pengakuan sebagai Importir Produsen Limbah Non B3 sebagaimana dimaksud


pada ayat memuat jumlah dan jenis Limbah Non B3 yang dapat diimpor oleh
Importir Produsen Limbah Non B3 beserta ketentuan teknis pelaksanaan
importasinya.

Daftar Limbah Non B3 yang dapat diimpor sesuai dengan lampiran pada
peraturan ini.

c; Keputusan Menteri Perdagangan iNo. 349/Kp/XI/1992 tentang larangatn impor


limbah plastik dari jenis polimer etilena, polimer sterena, polimer vinil klorida, vinil
asetat dan vinil klorida yang vinil asetatnya dominan.
6.3 Transit Limbah B3
Dalam hal Limbah B3 akan dimasukkan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia untuk tujuan transit, Penghasil Limbah B3 atau Pengangkut Limbah B3 melalui
negara eksportir Limbah B3 harus mengajukan permohonan notifikasi kepada Pemerintah
Republik Indonesia melalui Menteri.
;

Permohonan notifikasi sebagaimana dimaksud harus diajukan dalam waktu paling


singkat 60 (enam puluh) hari sebelum transit dilakukan.

Permohonan notifikasi sebagaimana dimaksud dilengkapi dengan keterangan paling


sedikit mengenai:

Identitas eksportir Limbah B3;

Negara eksportir Limbah B3;

Dokumen mengenai nama, sumber, karakteristik, dan jumlah Limbah B3 yang


akan transit;

Alat angkut Limbah B3 yang akan digunakan;

Negara tujuan transit;

Tanggal rencana pengangkutan, pelabuhan atau terminal tujuan transit, waktu


tinggal di setiap

Transit, dan pelabuhan atau terminal masuk dan keluar;

Dokumen mengenai asuransi;

Dokumen mengenai pengemasan Limbah B3;

Dokumen mengenai tata cara penanganan Limbah B3 yang akan diangkut; dan

Dokumen yang berisi pernyataan dari Penghasil Limbah B3 dan eksportir


Limbah B3 mengenai keabsahan dokumen yang disampaikan.

6.4;

Peraturan Terkait Perpindahan Limbah Lintas Batas di Negara Asia

6.4.1; Cina
a; State Council ( No 31 tahun 1996) dan Law of the Peoples Republic of China
(1 April 2005)

Larangan impor limbah B3 dan sampah padat perkotaan dari negara


asing untuk final disposal

Larangan mengimpor limbah yang tidak dapat dipergunakan sebagai


raw material

b; Basel Convention and Measures for Administration of Hazardous Waste


Export Approval No. 47 ORDER of SEPA

Ekspor untuk pembuangan akhir diperbolehkan jika tidak ada fasilitas


pembuangan yang memadai di Cina mampu membuang limbah dengan
cara yang ramah lingkungan.

Perpindahan

lintas batas hanya dapat terjadi pada pemberitahuan

tertulis dari pihak yang berwenang dari negara-negara ekspor, kepada


pejabat yang berwenang dari negara-negara impor dan transit, dan
setelah persetujuan dari otoritas terkait. Selanjutnya, setiap pengiriman
limbah berbahaya harus disertai dengan dokumen manifes

Ekspor limbah untuk tujuan pembuangan akhir akan dikenakan kontrol


sesuai dengan persyaratan Basel Convention.

c; Solid Waste Law and the Ocean Environmental Protection Law,

Larangan untuk transit limbah B3 melalui wilayah Republik Rakyat


Cina, termasuk melalui air dan teritorial dalam perairan China tanpa
izin . Transit limbah berbahaya melalui wilayah laut lainnya di bawah
yurisdiksi China harus mendapatkan persetujuan tertulis dari otoritas
terkait.

Makau Daerah Administratif Khusus, Cina


Transit limbah akan dikenakan kontrol sesuai dengan persyaratan Basel
Convention.

6.4.2; Malaysia
The Environmental Quality Act 1974, (Amendment 1996) Section 34B; and the
Customs (Prohibition of Export) Order 1998 Amendment 2006.

Limbah berbahaya yang akan diekspor dengan maksud untuk


pemulihan harus sesuai dengan pedoman ekspor, salah satunya adalah
persentase minimum untuk pemulihan

Impor limbah B3 untuk pembuangan akhir dari negara-negara non


OECD (Organization for Economic Co-operation and Development )
memerlukan izin khusus

Malaysia membatasi impor limbah B3 dan limbah lainnya untuk


maksud pemulihan. persetujuan tertulis dari otoritas terkait
merupakan salah satu dokumen persyaratana

6.4.3; Singapura
Hazardous Waste (Control of Export, Import or Transit) Act (HWA)

Eksportir

limbah harus memiliki izin ekspor dari otoritas terkait (Pollution

Control Department) sebelum melakukan kegiatan ekspor limbah.

Singapura tidak mengizinkan impor limbah B3 untuk pembuangan akhir

Impor

limbah B3 dengan

maksud pemulihan (recovery process) perlu

mendapatkan izin impor dari Departemen Pengendalian Pencemaran.

Singapura membatasi transit limbah B3 dan limbah lainnya.

Transit Limbah B3 wajib disertai izin angkutan dari ototoritas terkait.

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2007. Health risks of heavy metals from long-range transboundary air
pollution.WHO
Astuti, W. 2012. Dampak Kandungan Logam Berat dalam Sampah Elektronik (E-Waste)
terhadap Kesehatan dan Lingkungan. Universitas Pandanaran.

Damanhuri, Enri. 2010. Pengelolaan Bahan Bahaya dan Beracun (B3). FTSL. ITB. Bandung
ENVIS (2008): Electronic Waste. ENVIS Newsletter, Mumbai, India.
Damanhuri, Enri. 2010. Pengelolaan Bahan Bahaya dan Beracun (B3). FTSL. ITB. Bandung
UNEP (2007a): E-Waste: Volume I Inventory Assessment Manual. United Nations
Environment Protection; 123 pp.
http://www.basel.int/Portals/4/Basel%20Convention/docs (diakses 28 oktober 2015)

http://en.wikipedia.org/wiki/Electronic_waste (Diakses 27 Oktober 2015)


http://www.greenpeace.org/international/en/news/Blogs/makingwaves/victory-indiaintroduces-e-waste-law/blog/35240/(Diakses 27 Oktober 2015)
http://www.kemenperin.go.id/artikel/567/Menperindahg-Cabut-Izin--Impor-Limbah-B3
(diakses 28 oktober 2015)

http://nasional.tempo.co/read/news/2012/03/07/206388678/ribuan-kontainer-di-tanjung-prioktak-diakui/ (Diakses 27 Oktober 2015)


Harian Umum, Kompas, 1993, I Nopernber
Harian Umum, Kompas, 1994,5 Januari
Harian Umum, Kompas, 1994,27 April
Harian Umum, Kompas, 1994,4 Juli
Harian Umum, Kompas, 1995, 29 Juli
Harian Umum, Kompas, 1995, 24 Agustus
Harian Umum, Kompas, 1996,29 Oktober
Harian lJmurn, Kompas, 1997,14 Januari
Harian Umum, Kompas, 1999,8, 10, 12, 14 Mei