Anda di halaman 1dari 93

1 Definisi Kawasan Perkotaan Pontianak

1.1 Delineasi Kawasan Perkotaan Pontianak


1. Pontianak Metropolitan Area (PMA); Perencanaan Pontianak Metropolitan Area
(PMA) telah dimulai sejak tahun 2007. Wilayah Kota Pontianak meliputi Kecamatan
Pontianak Selatan, Pontianak Barat, Pontianak Utara, Pontianak Timur, dan Pontianak
Kota. Wilayah lain yang masuk dalam Kota Pontianak adalah Kabupaten Kubu Raya
(Kecamatan Sungai Kakap, Sungai Raya, Ambawang, Kuala Mandor, Rasau Jaya), serta
wilayah Kabupaten Pontianak yang meliputi satu daerah, yaitu Kecamatan Siantan.
2. Kawasan Perkotaan Pontianak (KMP); didasarkan pada Draft RTRW Provinsi
Kalimantan Barat tahun 2014 2034. Berikut beberapa tinjauan kawasan metropolitan
Pontianak dan sekitarnya berdasarkan RTRW Provinsi Kalimantan Barat tahun 2014
2034
a. Salah satu strategi pengembangan yang dijelaskan didalam RTRW Provinsi
Kalimantan Barat adalah memacu perkembangan kota Pontianak dan kawasan
perkotaan di sekitarnya menjadi Kawasan Perkotaan Pontianak (KMP) sebagai
simpul transportasi dan pusat kegiatan ekonomi bertaraf internasional.
b. Cakupan wilayah dari Kawasan Metropolitan Pontianak adalah mencakup Kota
Pontianak beserta bagian wilayah Kabupaten Kubu Raya dan bagian wilayah
Kabupaten Mempawah yang berbatasan dengan Kota Pontianak.
c. Meliputi wilayah Kota Pontianak (Kecamatan Pontianak Selatan, Pontianak Barat,
Pontianak Utara, Pontianak Timur, dan Pontianak Kota), wilayah Kabupaten Kubu
Raya (Kecamatan Sungai Kakap, Sungai Raya, Ambawang, Kuala Mandor, Rasau
Jaya), serta wilayah KabupatenPontianak yang meliputi satu daerah, yaitu
Kecamatan Siantan.
d. Penetapan kawasan andalan Pontianak dan sekitarnya dengan sektor unggulan,
pertanian, perikanan, industri dan pariwisata.
e. Kawasan Metropolitan Pontianak dan sekitarnya yang ditetapkan sebagai kawasan
strategis dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi dengan sektor unggulannya
adalah perdagangan dan jasa, industri, dan pariwisata
Berdasarkan rujukan diatas, maka gambaran awal kawasan perkotaan Pontianak dsk
adalah sebagai berikut:

1.2 Keterkaitan dengan WPS


Wilayah pengembangan strategis (WPS) merupakan salah satu konsep pengembangan
wilayah baru dimana wilayah pulau/kepulauan dikelompokkan ke dalam beberapa tipe
wilayah pengembangan guna memudahkan pengelolaannya. Wilayah pengembangan
strategis didalamnya melingkupi kawasan perkotaan, kawasan industri, dan kawasan
maritim.
Dengan melihat posisi kawasan perkotaan Pontianak yang berada di pulau Kalimantan,
maka tema besar pada pengembangan wilayah Kalimantan adalah sebagai berikut:
1) Mempertahankan fungsi Kalimantan sebagai paru paru dunia
2) Salah satu lumbung pangan nasional
3) Pengembangan industri berbasis komoditas kelapa sawit dan karet
4) Lumbung energi nasional dengan pengembangan hilirisasi komoditas batu bara,
bauksit, bijih besi, gas alam cair, pasir zirkon dan pasir kuarsa
Kaitannya dengan WPS, kawasan perkotaan Pontianak masuk dalam WPS Ketapang
Pontianak Singkawang Sambas dengan status WPS adalah WPS Pusat
Pertumbuhan sedang Berkembang. Gambar gambar berikut ini akan menjelaskan
mengeenai profil dan program infrastruktur pendukung tahun 2017 WPS Ketapang
Pontianak Singkawang Sambas.

Gambar 1 Profil WPS Pusat Pertumbuhan Sedang Berkembang Ketapang Pontianak Singkawang Sambas

Gambar 2 Profil Program Infrastruktur Tahun 2017 WPS Pusat Pertumbuhan Sedang Berkembang:
Ketapang Pontianak Singkawang Sambas

1.3 Rencana Struktur Dan Pola Ruang Kawasan Metropolitan


Pontianak
Dasar pertimbangan dalam penyusunan rencana struktur dan pola ruang kawasan
Metropolitan Pontianak adalah sebagai berikut:
1. Pembatasan pengembangan kawasan perkotaan untuk tidak meluas dan tidak
beraturan
2. Perlindungan terhadap keberadaan kawasan berfungsi lindung, baik yang kawasan
yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya, kawasan
perlindungan setempat, maupun kawasan rawan bencana
3. Integrasi fungsi dan sistem kota kota yang sesuai dengan daya dukung lingkungan
secara berkelanjutan
4. Antisipasi perkembangan kegiatan baik yang menyangkut penduduk maupun
ekonomi perkotaan di masa mendatang
5. Pengurangan ketergantungan pelayanan kegiatan perkotaan di kota inti (Pontianak
Sungai Raya)

A. Kebijakan Pengembangan Struktur Ruang Metropolitan Pontianak


Kebijakan pengembangan struktur tata ruang wilayah Metropolitan Pontianak
adalah:
1. Pengembangan struktur tata ruang wilayah metropolitan Pontianak dengan
mengembangkan sistem kota fungsional/kawasan perkotaan secara terintegrasi
antar wilayah kabupaten dan kota dalam bentuk kota inti dan kota satelit sesuai
dengan fungsinya masing masing dan daya dukung lingkungan secara
berkelanjutan
2. Pengembangan kegiatan ekonomi sesuai dengan fungsi kota kota dan wilayah
yang akan dikembangkan sesuai dengan daya dukung dan sumber daya lokal
serta meningkatkan kesejahteraan penduduk kawasan Metropolitan Pontianak
3. Kebijakan pengembangan sistem jaringan jalan untuk meningkatkan
keterkaitan antar kota/pusat pertumbuhan
Perumusan struktur tata ruang wilayah Metropolitan Pontianak pada masayang
akan datang diarahkan untuk mengintegrasikan pengembangan tataruang kawasan
perkotaan dalam lingkup wilayah metropolitan denganadanya limitasi dan kendala
daya dukung lingkungan terutama lahan gambut dan banjir dalam
pengembangannya.
B. Rencana Distribusi Penduduk
Perencanaan penduduk merupakan satu keharusan dalam perencanaan tata ruang
kawasan, terutama berkaitan dengan perkiraankebutuhan sarana dan prasarana
kawasan serta kebutuhan ruang KawasanMetropolitan Pontianak masa yang akan
datang, sesuai dengan tahunrencana. Jumlah penduduk Kawasan Metropolitan
Pontianak pada tahun2027 berdasarkan hasil simulasi model dinamis
perkembangan adalah3.553.298 jiwa dengan kepadatan kotor rata-rata 1.200 jiwa
tiap Km2.
Rencana kependudukan bertujuan untuk mendistribusikan penduduk sehingga
terdapat keseimbangan penduduk untuk mendorong percepatan di seluruh
kawasan.
Tabel 1 Distribusi Jumlah Penduduk Skenario 2 (Konsep Pemerataan)
No

Kecamatan

Kota Pontianak
Kabupaten Kubu Raya
1
Sungai Kakap
2

Sungai Raya

Sungai Ambawang

4
Kuala Mandor
5
Rasaujaya
Kabupaten Pontianak
1
Siantan
Jumlah

2008
44

2012
53

Tahun
2017
72

2022
98

2027
133

53.144,66
105.121,9
6
136.586,2
8
44.049,32
24.060,00

1
2

2
3

2
4

3
5

4
7

52.544,78
415.407,0
0

Luas (Ha)
10.649,32

C. Rencana Sistem Pusat Kegiatan/Sistem Kota Kota


Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di pedesaan umumnyamasih jauh
tertinggal dibandingkan dengan mereka yang tinggal diperkotaan. Hal ini
merupakan konsekuensi dari perubahan struktur ekonomidan proses industrialisasi,
dimana investasi ekonomi oleh swasta maupunpemerintah (infrastruktur dan
kelembagaan) cenderung terkonsentrasi didaerah perkotaan. Selain daripada itu,
kegiatan ekonomi di wilayahperkotaan masih banyak yang tidak sinergis dengan
kegiatan ekonomi yangdikembangkan di wilayah pedesaan. Akibatnya, peran kota
yang diharapkandapat mendorong perkembangan pedesaan, justru memberikan
dampak yangmerugikan pertumbuhan pedesaan.

Kondisi tersebut mencerminkan rendahnya kualitas keterkaitanpembangunan antar


kota. Strategi penanggulangannya diterjemahkan dalamsuatu program yang
bertujuan untuk :
1. Mewujudkan pengembangan kota-kota secara hirarkis dan memilikiketerkaitan
kegiatan ekonomi antar kota yang sinergis dan salingmendukung dalam upaya
perwujudan sistem perkotaan nasional;
2. Menghambat dan mencegah terjadinya urban sprawl dan konurbasi;
3. Mengurangi arus migrasi masuk langsung dari desa ke kota-kota intimelalui
penciptaan kesempatan kerja, termasuk peluang usaha padakota-kota satelit
dan kota kecamatan.
Arahan kegiatan yang dilakukan sebagai berikut :
1. Penetapan dan pemantapan peran dan fungsi kota-kota secara hirarkisdalam
kerangka sistem wilayah pengembangan ekonomi dan sistempembangunan
perkotaan nasional
2. Peningkatan penyediaan jaringan transportasi wilayah yangmenghubungkan
antar kota-kota secara hirarkis untuk memperlancarkoleksi dan distribusi
barang dan jasa
3. Pembentukan forum kerjasama antar pemerintah kota/kabupaten untuk
merumuskan kerjasama pembangunan khususnya : (a) pembangunan industri
pengolahan yang saling menunjang satu sama lain dalam suatu mata-rantai
industri di masing-masing kota secara hirarkis sesuai dengan tipologi kota; (b)
pembangunan infrastruktur yang mempersyaratkan skala ekonomi tertentu; (c)
pelestarian sumberdaya air dan banjir yang memerlukan keterpaduan
pengelolaan
Berdasarkan hasil analisis pusat-pusat permukiman yang ada di
KawasanMetropolitan Pontianak, terdapat tiga tingkatan (hirarki) pusatpusatpermukiman yaitu pusat permukiman hirarki I, II, dan III. Pusatpusatpermukiman yang direncanakan pengembangannya pada kurun wakturencana
tetap mengacu pada hirarki ini, dengan mengantisipasiperkembangan, skala
pelayanan serta status administrasi pusat-pusatpermukiman. Dengan demikian
hirarki pusat-pusat permukiman tersebutadalah :
1. Pusat Permukiman Hirarki I : Pusat permukiman hirarki I adalah
pusatpermukiman dengan fasilitas pelayanan dan potensi tertinggi
dalamlingkup Kawsan Metropolitan Pontianak (berperan sebagai
pusatpelayanan kawasan dan sekaligus sebagai kota ibukota
ProvinsiKalimantan Barat). Pusat permukiman hirarki I di KawasanMetropolitan
Pontianak adalah Kota Inti Pontianak (Kota Pontianak, Sei Ambawang dan
Sungai Raya).
2. Pusat Permukiman Hirarki II : Pusat permukiman hirarki II diarahkansebagai
pendukung pengembangan Kawasan Metropolitan Pontianakdengan skala
pelayanan sub kawasan (masing-masing kecamatan).Pusat permukiman hirarki
II di Kawasan Metropolitan Pontianakadalah Kota Jungkat, Kota Kuala Mandor,
Kota Sungai Kakap, danKota Rasau Jaya.
3. Pusat Permukiman Hirarki III: Pusat permukiman hirarki III diarahkansebagai
pendukung pengembangan wilayah dengan skala pelayanandesanya sendiri.
Pusat permukiman hirarki III, yaitu Punggur, KualaDua, dan Jeruju Besar.
Arahan pusat-pusat permukiman di atas dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 2 Arahan Sistem Pusat pusat Permukiman dan Skala Pelayanan
Hierarki Pusat
Permukiman

Nama Pusat Permukiman

Skala Pelayanan

Kota Inti Pontianak (kota


Pontianak, Sei Ambawang dan
Sungai Raya

Kawasan Metropolitan Pontianak


maupun Provinsi Kalimantan Barat

II

Siantan, Kuala Mandor, Sungai


Kakap, Rasau Jaya

Satu Kecamatan

III

Punggur, Kuala Dua, Jeruju


Besar

Beberapa Desa

Gambar 3 Peta Struktur Ruang Kawasan Metropolitan Pontianak

Tabel 3 Arahan Fungsi Kota Kota di Metropolitan Pontianak sampai Tahun 2027
No

Hierarki

Kota/Kawasan Perkotaan

Kota Inti

Kota Pontianak Kota Sungai Raya


Sungai Ambawang

II

Kota Satelit I

Kota Jungkat (Kecamata Siantan)

Kota Satelit I

Sungai Kakap

Kota Satelit I

Kuala Mandor

Fungsi Pengembangan
Perdaganan dan jasa
Transportasi regional
Pemerintahan
Pendidikan tinggi
Industri
Permukiman
Pertanian/ agribisnis
Industri pengolah hasil pertanian
Permukiman
Pertanian/ agribisnis
Industri pengolah hasil pertanian
Permukiman
Pertanian/ agribisnis
Industri pengolah hasil pertanian

No
III

Hierarki

Kota/Kawasan Perkotaan

Kota Satelit II

Punggur (Sungai Kakap)

Kota Satelit II

Jeruju Besar

Kota Satelit II

Rasau Jaya

Kota Satelit II

Kuala Dua

Fungsi Pengembangan
Permukiman
Pertanian/agribisnis
Industri pengolah hasil
Permukiman
Pertanian/agribisnis
Industri pengolah hasil
Permukiman
Pertanian/agribisnis
Industri pengolah hasil
Permukiman
Pertanian/agribisnis
Industri pengolah hasil

pertanian

pertanian

pertanian

pertanian

D. Rencana Sistem Transportasi


Saat ini sistem transportasi yang terdapat di Kawasan MetropolitanPontianak terdiri
dari sistem transportasi darat, transportasi laut, dantransportasi udara. Rencana
sistem transportasi ke depannya adalah rencanasistem transportasi darat yang
terdiri dari jalan raya dan jalan kereta api,sistem transportasi angkutan sungai dan
penyeberangan, serta rencanatransportasi laut dan transportasi udara.Jaringan
jalan yang akan dikembangkan di dalam kawasan metropolitanterdiri dari jalan
arteri primer dan jalan arteri sekunder. Jalan arteri primerdiarahkan untuk melayani
pergerakan eksternal (antar kota antar provinsimaupun luar negeri), sedangkan
arteri sekunder berfungsi melayanipergerakan internal (antar kota di dalam
kawasan metropolitan). KawasanMetropolitan Pontianak merupakan wilayah yang
direncanakan akan dilaluioleh lalu lintas antar kota dari/ke Provinsi Kalimantan
Tengah(Palangkaraya) dan Provinsi Kalimantan Timur (Samarinda) serta
Kuching(Sarawak). Lalu lintas antar kota saat ini dilayani oleh jalan arteri primer
ruasSiantan-Pontianak-Tayan dan Siantan-Pontianak-Sungai Kakap. Ruas
jalantersebut melewati pusat kota dan pusat kegiatan lainnya,
berdasarkankecenderungan pergerakan, ruas jalan tersebut merupakan jalur yang
palingtinggi volume lalu lintasnya.
Angkutan sungai merupakan angkutan tradisional masyarakat Kalimantanpada
umumnya, selain karena angkutan tradisionil pengembangan angkutansungai
diarahkan sebagai pilihan moda dalam sistem transportasiMetropolitan Pontianak
mengingat daerah ini dilintasi atau dipisahkan olehsungai besar (Sungai Kapuas)
maupun Sungai Landak. Jalur sungai yangdikembangkan menjadi jalur angkutan
sungai adalah Sungai Kapuas danSungai Landak. Direncanakan lokasi dermaga
angkutan sungai memilikiketerpaduan dengan moda transportasi lainnya.
Angkutan kereta api merupakan alternatif moda transportasi masal yangakan
dikembangkan untuk sistem transportasi Pulau Kalimantan termasuk didalamnya
Kawasan Metropolitan Pontianak. Jalur kereta api di kawasanmetropolitan diarahkan
mendekati pusat pusat kegiatan dan terminalangkutan bus. Stasiun kereta api
rencananya terdapat di luar Kota Pontianak.
Bandar udara terdapat di Kecamatan Sungai Raya (Kabupaten Kubu Raya)dan
merupakan bandara internasional dan rencananya akan dikembangkandengan
panjang landasan menjadi 2.500 meter dan mampu dilandasi pesawatbesar seperti
A 330 dan B 767 300 ER.
Pelabuhan Pontianak terdapat di Kota Pontianak tepatnya berada di SungaiKapuas.
Pelabuhan ini melayani pelayaran dalam negeri dan luar negeri baikuntuk
penumpang maupun kargo. Saat ini lalu lintas kapal sering terganggu,akibat
terjadinya pendangkalan sungai, oleh karena itu rencana sistemangkutan laut
terutama diarahkan terhadap penjagaan kedalaman alurpelayaran Pelabuhan
Pontianak, sehingga tetap dapat dilayari kapal.
E. Rencana Sistem Jaringan Raya

Rencana pengembangan jaringan jalan raya di Kawasan MetropolitanPontianak


didasarkan pada:
1. Kecenderungan pergerakan yang terjadi.
2. Arahan rencana struktur ruang perkotaan metropolitan.
3. Arahan rencana tata ruang Provinsi Kalimantan Barat.
4. Arahan rencana tata ruang Pulau Kalimantan.
Berdasarkan tipe pergerakan yang terjadi di Kawasan Metropolitan Pontianak terdiri
dari :
1. Pergerakan eksternal-eksternal, yaitu pergerakan saat ini dari/ke luarnegeri
(Kuching-Sarawak) maupun yang direncanakan akan dilalui olehlalu lintas antar
kota dari/ke Provinsi Kalimantan Tengah(Palangkaraya) dan Provinsi Kalimantan
Timur (Samarinda).
2. Pergerakan internal-eksternal, yaitu pergerakan dari/ke KawasanMetropolitan
Pontianak dengan kota-kota di luar Kawasan MetropolitanPontianak.
3. Pergerakan internal-internal, yaitu pergerakan antar pusat-pusat didalam
Kawasan Metropolitan Pontianak.
4. Pergerakan intra zona, yaitu pergerakan di dalam kota inti (KotaPontianak).
Dari konstelasi jaringan jalan yang ada, pergerakan eksternal-eksternal, internaleksternal dan internal-internal yang terjadi di Kawasan Metropolitan Pontianak
sebagian besar dilayani oleh ruas jalan :
1. Ruas Jalan Pontianak Sei Pinyuh yang saat ini merupakan jalan arteriprimer,
kelas III A dengan status jalan nasional.
2. Ruas-ruas jalan yaitu Jalan Khatulistiwa, Jalan Gusti Situt Mahmud,Jalan Perintis
Kemerdekaan, Jalan Ahmad Yani, Jalan Veteran, JalanTanjung Pura, Jalan Pahlawan
dan Jalan Supadio yang saat inimerupakan jalan arteri primer, kelas III A dengan
status jalan nasional.
3. Ruas-ruas jalan yaitu Jalan Pak Kasih dan Jalan Rahadi Usman yang saatini
merupakan jalan arteri sekunder, kelas III A dengan status jalannasional.
4. Ruas Jalan Tanjung Raya II/Tanjung Hulu yang saat ini merupakanjalan kolektor
primer, kelas III B dengan status jalan nasional.
5. Ruas-ruas jalan yaitu Jalan Imam Bonjol, Jalan Adi Sucipto, JalanHasanuddin, Jalan
Jl. H. Rais A. Rahman, Jl. Husein Hamzah, danPontianak - Sei. Kakap yang saat ini
merupakan jalan kolektor sekunder,kelas III B dengan status jalan provinsi.
Dengan demikian beban lalu lintas pada ruas-ruas jalan tersebut cukup tinggi, dan
pada ruas-ruas jalan tersebut terjadi campuran lalu lintas antara lalu lintas menerus
(through traffic) dengan lalu lintas ulang-alik (commuter), sehingga dengan volume
lalu lintas yang tinggi dan adanya campuran lalu lintas menyebabkan tingkat
pelayanan ruas-ruas jalan tersebut kedepannya menjadi rendah.
Pergerakan intra zona terutama di Kota Pontianak yaitu akses PelabuhanPontianak
ke arah utara yaitu menuju Kawasan Metropolitan Pontianakbagian utara, saat ini
masih melewati pusat Kota Pontianak, yaitu melaluijalan arteri primer (nasional)
yang dihubungkan hanya oleh Jembatan KapuasI, sehingga terjadi campuran lalu
lintas antara lalu lintas eksternal-eksternal,internal-eksternal dan lalu lintas intra
zona Kota Pontianak yangmenyebabkan rendahnya tingkat pelayanan jalan pada
ruas-ruas jalantersebut.Rencana jaringan jalan juga ditujukan untuk melayani
pergerakan pusat - pusatdi dalam struktur ruang perkotaan. Arahan rencana
struktur ruangKawasan Metropolitan Pontianak terdiri dari kota inti dan kota satelit
(kotakecil). Sesuai dengan rencana struktur ruang kota yang menjadi kota inti
darikawasan metropolitan adalah Kota Pontianak, sedangkan yang akan
menjadikota satelit adalah Jungkat, Sungai Ambawang, Kuala Mandor, Sei
Kakp,Sungai Raya dan Rasau.
Pengembangan rencana jaringan jalan di Kawasan Metropolitan Pontianaktidak
terlepas dari konstelasi tata ruang Pulau Kalimantan. Berdasarkanrencana tata

ruang Pulau Kalimantan, yang akan dikembangkan menjadijalan strategis nasional


di Pulau Kalimantan adalah :
1. Jalan Lintas Kalimantan poros selatan.
2. Jalan Lintas Kalimantan poros tengah.
3. Jalan penghubung poros perbatasan Entikong (Utara) ke selatan(Ketapang).
4. Jalan sepanjang perbatasan Serawak Kalimantan Barat.
5. Jalan poros utara selatan menuju perbatasan (Jagoi Babang).
Jalan Trans Kalimantan Poros Selatan sepanjang 3.214,33 Kmmenghubungkan
Ibukota Provinsi Kalimantan Barat (Pontianak), ibukotaProvinsi Kalimantan Tengah
(Palangka Raya), Ibukota Provinsi KalimantanSelatan (Banjarmasin) dan Ibukota
Provinsi Kalimantan Timur (Samarinda).
Ruas-ruas jalan yang akan dikembangkan untuk menghubungkan kota-kotatersebut
yang berada di dalam Kawasan Metropolitan Pontianak adalahSungai PinyuhPontianak-Tayan, dan Pontianak-Rasau. Pengembanganjaringan jalan dimaksudkan
untuk melayani setiap jenis pergerakan yangterjadi di dalam Kawasan Metropolitan
Pontianak yaitu meliputi pergerakaneksternal-eksternal, pergerakan internaleksternal, pergerakan internalinternaldan pergerakan intrazona. Berdasarkan
pertimbangan hal-haltersebut di atas, arahan pengembangan jaringan jalan di
KawasanMetropolitan Pontianak adalah sebagai berikut :
1. Restrukturisasi jaringan jalan, dengan direncanakannya KawasanMetropolitan
Pontianak sebagai kawasan perkotaan maka perludilakukan restrukturisasi kelas
fungsi jaringan jalan. Restrukturisasitersebut terutama untuk memisahkan
jaringan jalan sistem primeryang melayani pergerakan antar kota dengan
jaringan jalan sistemsekunder yang melayani pergerakan perkotaan.
2. Peningkatan layanan jaringan jalan sistem primer untuk melayanipergerakan
Lintas Kalimantan dan pergerakan dari/ke PelabuhanPontianak.
3. Peningkatan layanan jaringan jalan sistem sekunder untuk melayanipergerakan
antar kota di dalam Kawasan Metropolitan dan pergerakanintra zona Kota
Pontianak.

2 Profil Kawasan Perkotaan Pontianak


2.1 Kota Pontianak
2.1.1 Administrasi Wilayah
Secara geografi, wilayah Kota Pontianak berdekatan dengan beberapa pusat
pertumbuhanRegional yaitu Batam, Pekanbaru, Natuna, Jakarta, Balikpapan dan
Pangkalan Bun. KotaPontianak letaknya juga tidak jauh dari Negara Asean yang cukup
berkembang seperti Malaysia,Brunei Darussalam dan Singapura. Bahkan Kota Pontianak
berbatsan langsung dengan NegaraBagian Sarawak Malaysia, sehingga menjadi
beranda terdepan Negara Indonesia dalamberinteraksi langsung dengan negara
tetangga Malaysia.
Kota Pontianak merupakan Ibukota Provinsi Kalimantan Barat yang terdiri dari 6
kecamatan danterbagi menjadi 29 kelurahan, 534 Rukun warga (RW) dan 2.372 Rukun
Tetangga (RT) denganluas mencapai 107,82 km. Wilayah Kota Pontianak berbatasan
dengan wilayah KabupatenPontianak dan Kabupaten Kubu Raya dengan batas-batas
sebagai berikut:
Bagian Selatan : Desa Sungai Raya Kecamatan Sungai Raya dan Desa Punggur Kecil,
Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya
Bagian Timur : Desa Kapur Kecamatan Sungai Raya dan Desa Kuala Ambawang
KecamatanSungai Ambawang Kabupaten Kubu Raya
Bagian Barat : Desa Pal IX dan Desa Sungai Rengas Kecamatan Sungai Kakap
KabupatenKubu Raya

Bagian Utara : Desa Wajok Hulu Kecamatan Siantan Kabupaten Pontianak dan Desa
Mega Timur dan Desa Jawa Tengah Kecamatan Sungai Ambawang KabupatenKubu
Raya

2.1.2 Topografi
Kota Pontianak terletak di Delta Sungai Kapuas dengan konturtopografis yang relatif
datar dengan ketinggian permukaantanah berkisar antara 0.1 s/d 1.5 meter di atas
permukaan laut.Hampir seluruh wilayah Kota Pontianak dan sekitarnya dalamradius 15
km dari muara sungai Landak terletak pada dataranrendah yang secara rata-rata
ketinggian tanahnya adalah 1-2meter di atas permukaan laut dan kelandaian kurang
dari 2%.
Ketinggian air dari permukaan tanah pada saat banjir di wilayahkota rata-rata 50 cm.
Pada pengamatan pasang surut melaluialat ukur (pada koordinat 00055 LU dan

1090220 BT)diperoleh titik pasang tertinggi sebesar 2,42 meter, titik pasangterendah
sebesar 0,07 meter dan muka laut rata-rata maksimal0,89 meter).
Kota Pontianak terbelah menjadi tiga daratan dipisahkan olehSungai Kapuas Besar,
Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Landakdengan lebar 400 meter. Kedalaman sungaisungai tersebutberkisar antara 12 sampai dengan 16 meter. Sedangkancabangnya
mempunyai lebar sebesar 250 meter. Sungai iniselain sebagai pembagi wilayah fisik
kota juga berfungsi sebagaipembatas perkembangan wilayah yang
mempunyaikarakteristik berbeda dan menjadi salah satu urat naditransportasi orang
dan barang yang menghubungkan KotaPontianak dengan wilayah pedalaman

2.1.3 Geologi dan Jenis Tanah


Kondisi geologi di Kota Pontianak termasuk ke dalam kategoriwilayah peneplant dan
sedimen alluvial yang secara fisikmerupakan jenis tanah liat. Jenis tanah ini berupa
gambutbekas endapan lumpur sungai Kapuas. Dengan kondisi tersbut,tanah yang ada
sangat labil dan mempunyai daya dukung yangsangat rendah.
Jenis batuan yang ada berupa batuan endapan Alluvium danLitoral yang masing-masing
memiliki karakteristik sedikitberbeda. Batuan endapan Alluvium tersusun dari
sedimen,clastic dan alluvium dan merupakan hasil dari endapanterrestrial alluvium.
Sedangkan batuan endapan litoral tersusundari sediment, clastic dan fine dan
merupakan hasil dariendapan litoral dan estuary.
Komposisi tanah di sepanjang sungai merupakan terbentuk dari proses pengendapan
yangmenghasilkan daerah tropaquent dibarengi dengan tropofluevent dan dalam
kondisi tersaturasipermanen fluvaquent. Tropofluevent dan fluvaquent berasal dari
endapan akresi baru dariberbagai komposisi dan bentuk, termasuk materi organik.
Sabuk tropaquent melebar ke arah
selatan mencapai pusat Kota Pontianak dan sungai Kapuas di dekatnya.Jenis tanah di
Kota Pontianak terdiri dari jenis tanah Organosol, Gley, Humus dan Aluvial
dengankarateristik masing-masing berbeda satu dengan yang lainnya. Pada beberapa
bagian wilayahterdapat tanah gambut dengan ketebalan mencapai 1-6 meter, sehingga
menyebabkan dayadukung tanah yang kurang baik apabila diperuntukkan untuk
mendirikan bangunan besarataupun untuk menjadikannya sebagai lahan pertanian.

2.1.4 Hidrologi
Kota Pontianak terbagi menjadi3 bagian daratan oleh SungaiKapuas Besar, Kapuas Kecil
danSungai Landak. Bagian utarameliputi Kecamatan PontianakUtara, bagian timur
meliputiKecamatan Pontianak Timur danbagian selatan meliputiKecamatan Pontianak
Selatan,Kecamatan Pontianak Kota danKecamatan Pontianak Barat.
Berdasarkan pembagian wilayahtersebut sistem jaringandrainase dibentuk oleh 3
sungaibesar, saluran primer, saluransekunder dan saluran tersier.Pada masing-masing
wilayahbagian terbentuk jaringandrainase regional. Mengingat dalam sistem drainase
regional bagian selatan terdapat saluranprimer yang cukup banyak, maka dibagian
selatan dibagi menjadi 4 sub`sistem jaringan drainaseyaitu subsistem Sungai Belitung,
subsistem Sungai Jawi, subsistem Sungai Tokaya dan subsistemSungai Raya.
Subsistem Sungai Beliung adalah subsistem paling barat yang berbatasan dengan
subsistemsungai Jawi disebelah timurnya. Batas antara subsistem ini dengan subsistem
sungai jawi adalahJl. Hasanuddin, Jl. HRA Rahman dan Jl. Husein Hamzah. Subsistem
sungai jawi ini berbatasandengan subsistem Parit Tokaya disebelah timurnya. Batas
antara subsistem sungai jawi dengansub sistem Parit Tokaya adalah Jl. HA Salim, Jl. GS
Lelanang, Jl. Sultan Abdurahman, Jl. SutanSyahril dan Jl. Prof. M. Yamin. Batas antara
subsistem Parit Tokaya dengan subsistem SungaiRaya adalah pertengahan lahan
Universitas Tanjungpura dan terusannya.

2.1.5 Klimatologi
Ditinjau dari iklim yang ada, Kota Pontianak mempunyai iklim tropis yang terbagi
menjadi 2musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Pada kondisi normal,

musim kemarauterjadi pada bulan Mei sampai dengan bulan Juli sedangkan untuk
musim penghujan terjadi padabulan September sampai dengan bulan Desember. Ratarata suhu di Kota Pontianak mencapai26,10-27,4oC dengan kelembaban udara 86-92%
dan lama penyinaran matahari 34-78%.
Adapun besarnya curah hujan berkisar antara 3000-4000 mm per tahun sedangkan
tinggidaratan hanya 0,10-1,5 m diatas permukaan laut, sehingga Kota Pontianak sangat
rentanterhadap genangan air apabila terjadi pasang air laut yang disertai oleh hujan.

2.1.6 Penggunaan Lahan


1. Kawasan lindung
Berdasarkan RTRW Kota Pontianak 2013-2033, jenis kawasan lindung yang terdapat
di KotaPontianak meliputi kawasan yang memberikan perlindungan terhadap
kawasan bawahannya,kawasan perlindungan setempat, kawasan pelestarian alam
dan kawasan cagar budaya. Kawasanlindung di Kota Pontianak yang direncanakan
adalah:
a. Kawasan Lindung Gambut
Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya adalah
kawasanbergambut. Yang dimaksud dengan kawasan bergambut adalah
Kawasan yang unsur pembentuktanahnya sebagian besar berupa sisa-sisa bahan
organik yang tertimbun dalam waktu lama.Kriteria kawasan bergambut adalah
mempunyai kedalaman gambut lebih dari 4 meterpenetapannya dilakukan
berdasarkan Keppres No 32 Tahun 1990.
Adapun lokasi keberadaan gambut di Kota Pontianak sebagian kecil terdapat di
KecamatanPontianak Tenggara dan sebagian besar terdapat di Kecamatan
Pontianak Utara dengan luaskeseluruhan lebih kurang sebesar 1.607 Ha atau
sekitar 14,9 Persen dari luas kota secarakeseluruhan. Kawasan bergambut
dengan ketebalan 4 meter atau lebih merupakan kawasanlindung yang
terkategori sebagai perlindungan kawasan bawahannya. Peraturan zonasi
untukkawasan bergambut disusun dengan memperhatikan beberapa hal sebagai
berikut:
Pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa merubah bentang alam;
Pelarangan seluruh kegiatan yang berpotensi merubah tata air dan ekosistem
unik;
Pengendalian material sedimen yang masuk ke kawasan bergambut melalui
badan air.
b. Kawasan rawan banjir dan genangan
Seperti yang telah disebutkan diatas letak geografis Kota Pontianak dilalui oleh
Sungai Kapuasserta topografinya yang sebagian besar wilayahnya merupakan
lahan yang datar dengankemiringan lahan 0 - 2 %. Oleh karenanya terdapat
beberapa lokasi yang memiliki potensitergenang air antara lain:
Parit Tokaya dan Sekitarnya : Kawasan Masjid Raya Mujahidin, Jalan KS. Tubun,
Sutoyo,Suprapto dan Ahmad Yani
Sungai Bangkong : jl. Alianyang dan Sekitarnya dan jalan Putri Daranante

2.1.7 Demografi
1. Jumlah dan kepadatan penduduk
Grafik berikut ini memperlihatkan jumlah penduduk kota Pontianak tahun 2010
2014.

610,000
598,097

600,000

586,243

590,000

575,843

580,000
Jumlah Penduduk (jiwa)

565,856

570,000

560,000
554,764
550,000
540,000
530,000
2010

2011

2012

2013

2014

Tahun

Gambar 4 Perkembangan Jumlah Penduduk Kota Pontianak Tahun 2010 2014

Pontianak Utara; 9%

Pontianak Selatan; 16%

Pontianak Kota; 20%


Pontianak Tenggara; 9%
Pontianak Timur; 26%
Pontianak Barat; 21%

Gambar 5 Kepadatan Penduduk Kota Pontianak tiap Kecamatan tahun 2014 (jiwa/km2)

2. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)


Grafik berikut ini menunjukkan perkembangan IPM kota Pontianak dari tahun 2009
tahun 2013.

75.00
74.50

74.64

74.00

74.21

73.50
IPM

73.43

73.00
72.96

72.50
72.41
72.00
71.50
71.00
2009

2010

2011

2012

2013

Tahun

Gambar 6 Perkembangan IPM Kota Pontianak tahun 2009 2013

3. Kemiskinan
Tabel dan grafik menunjukkan jumlah dan perkembangan jumlah penduduk miskin
di kota Pontianak dari tahun 2006 2013.
Tabel 4 Jumlah Penduduk Miskin Kota Pontianak tahun 2006 2013
Penduduk Miskin
Persentas
Jumlah (000)
e
36,50
7,15
37,70
6,77
52,80
9,29
36,56
6,38
36,60
6,62
34,39
6,15
32,53
5,77
32,80
5,56

Tahun
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
400,000
350,000

341,422
310,707

300,000
250,000
Rp/Kap/Bulan

253,357
242,772
218,802
193,984
150,000
169,342
158,130
100,000
200,000

50,000
0
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Tahun

Gambar 7 Garis Kemiskinan Kota Pontianak tahun 2006 2013

2.1.8 Perekonomian
Grafik berikut ini menunjukkan perkembangan PDRB kota Pontianak tahun 2009 2013
berdasarkan atas dasar harga konstan 2000.

9,000,000.00
8,000,000.00
7,885,723.22
7,436,433.57
7,010,567.03
6,621,193.75
6,000,000.00
6,282,408.54
5,000,000.00
7,000,000.00

Nilai (Juta Rupiah)

4,000,000.00
3,000,000.00
2,000,000.00
1,000,000.00
0.00
2009

2010

2011

2012*

2013**

Tahun

Gambar 8 PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha Kota Pontianak (Juta Rupiah)
Tahun 2019 2013

Tabel 5 PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha Kota Pontianak (Juta Rupiah)
Tahun 2009 2013
N
o

Lapangan Usaha

2009

2010

2011

2012*

2013**

Pertanian

84.131,69

87.763,84

91.860,58

96.204,73

100.062,54

Pertambangan dan
Penggalian

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

Industri Pengolahan

529.553,34

541.932,89

555.503,61

570.582,82

591.928,32

Listrik, Gas & Air


Bersih

37.023,45

38.608,08

40.290,56

42.104,35

43.942,63

Bangunan

1.098.390,68

1.156.301,
39

1.223.454,
60

1.302.503,
70

1.380.028,
28

Perdagangan, Hotel &


Restoran

1.449.357,05

1.539.794,
29

1.651.209,
99

1.761.149,
97

1.857.719,
08

Pengangkutan &
Komunikasi

1.155.153,73

1.260.410,
28

1.374.288,
36

1.500.555,
65

1.631.327,
96

Keuangan, Persewaan
& Jasa Perusahaan

669.030,48

706.128,51

745.925,32

790.896,20

835.822,56

Jasa-Jasa

1.259.768,12

1.290.254,
47

1.328.034,
01

1.372.436,
15

1.444.891,
85

*)

Angka Perbaikan

**)

Angka Sementara

2.2 Kabupaten Mempawah (ex Kabupaten Pontianak)


2.2.1 Administrasi Wilayah
Secara geografis Kabupaten Mempawah terletak pada posisi 044 Lintang Utara dan
00,4Lintang Selatan serta 10824- 109 21,5 Bujur Timur. Karakte rfisik wilayah
terdiri dari daerah daratan dan pulau-pulau pesisir yang memiliki lautan.
Secara administrative Perbatasan Kabupaten Mempawah adalah sebagai berikut:
1. Sebelah Utara

Berbatasan dengan Kabupaten Bengkayang

2. Sebelah Selatan :
Pontianak

Berbatasan dengan Kabupaten Kubu Raya dan Kota

3. SebelahTimur

Berbatasan dengan Kabupaten Landak

4. Sebelah Barat

Berbatasan dengan Selat Karimata

Pada Tahun 2007 Kabupaten Pontianak dimekarkan dengan membentuk Kabupaten


Kubu Raya yang didasarkan pada Undang-undang Nomor 35 Tahun 2007 tentang
Pembentukan Kabupaten Kubu Raya. Sebelumnya pada Tahun 1999 Kabupaten
Pontianak juga telah dimekarkan dengan membentuk Kabupaten Landak yang
didasarkan pada Undang-undang Nomor 55 Tahun 1999, yang kemudian dirubah
dengan Undang-undang Nomor 15 Tahun 2000 tentang Perubahan Undang-undang
Nomor 55 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Landak. Sebagai konsekuensi
langsung dari pemekaran tersebut adalah berkurangnya luas Kabupaten Pontianak
secara signifikan dari18.171,20 km dengan 28 Kecamatan sebelum Tahun 1999
(Dimekarkannya Kabupaten Landak) menjadi 8.262,10 km dengan 18 Kecamatan
setelah pemekaran. Selanjutnya dengan pemekaran kembali Kabupaten Pontianak
dengan membentuk Kabupaten Kubu Raya pada Tahun 2007, maka luas Kabupaten
Pontianak setelah dimekarkan kembali menjadi hanya seluas 2.797,88 km dengan 9
Kecamatan dan 60 desa serta 7 kelurahan.
Selanjutnya dalam perkembangan penyelenggaraan pemerintahan di Kabupaten
Pontianak dan dengan dilatarbelakangi oleh faktor sejarah, budaya, adat istiadat
masyarakat Kabupaten Pontianak, maka berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 58 tahun 2014 tanggal 21 juli 2014, Nama Kabupaten Pontianak
berubah menjadi Kabupaten Mempawah.

Gambar 9 Luas Kabupaten Mempawah Setelah Dimekarkan

Gambar 10 Luas Kabupaten Mempawah Per Kecamatan Tahun 2014

2.2.2 Klimatologi
Iklim di Kabupaten Mempawah lebih dipengaruhi oleh iklim pancaroba sebagaimanai
klim daerah yang berada pada daerah khatulistiwa.
Curah hujan di suatu tempat antara lain dipengaruhi oleh keadaan iklim, keadaan
Topografi dan perputaran / pertemuan arus udara. Oleh karena itu jumlah curah hujan
beragam menurut bulan dan letak stasiun pengamat. Rata-rata curah hujan di
Kabupaten Mempawah pada Tahun 2012 berkisar antara 54,7s/d319,3 milimeter. Ratarata curah hujan bulanan tertinggi terjadi pada bulan Desember mencapai 319,3
milimeter, sedangkan rata-rata curah hujan terendah terjadi pada bulan Juni, yaitu
mencapai 54,7 milimeter.
Pada Tahun 2012, jumlah hari hujan di Kabupaten Mempawah berkisar antara 9s/d28
hari hujan. Jumlah hari hujan tertinggi terjadi pada Bulan November mencapai 28 hari
hujan dan jumlah hari hujan terendah terjadi pada Bulan Juni yang mencapai 9 hari
hujan. Kabupaten Mempawah mempunyai kelembaban udara (lembab nisbi) relative
tinggi dimana pada Tahun 2012 rata-rata berkisar 82 persen sampai 86 persen.
Suhu udara di suatu tempat antara lain ditentukan oleh tinggi rendahnya tempat
tersebut dari permukaan air laut dan jaraknya dari pantai. Berdasarkan data dari stasiun
klimatologi Siantan Tahun 2011, temperatur udara rata-rata berkisar antara 26,4C
sampai dengan 27,7C. Temperatur udara maksimum terjadi pada Bulan Mei yaitu
sebesar 32,3C, sedangkan temperatur udaraminimum terjadi padaBulan September,
yaitu sebesar 23,1C.

2.2.3 Penggunaan Lahan


Sebagian besar luas tanah di Kabupaten Mempawah adalah hutan negara (36,13%) dan
luas perkebunan (22,98%). Adapun areal hutan negara terluas terletak di Kecamatan
Sadaniang seluas 8.653 ha, sedangkan luas lahan perkebunan terluas berada di
Kecamatan Sungai Pinyuh yaitu 4.475 ha.

Dari 127,69 ribu ha luas Kabupaten Mempawah, areal untuk permukiman hanya
berkisar 7,61 persen. Adapun areal permukiman terluas berada di Kecamatan Sungai
Kunyit diikuti kemudian oleh Kecamatan Segedong dan Kecamatan Sungai Pinyuh.

2.2.4 Demografi
1. Jumlah dan kepadatan penduduk
Grafik berikut menunjukkan jumlah penduduk kabupaten Mempawah tahun 2010
2014.
255,000
250,000
249,521

245,000
Jumlah Penduduk (jiwa)

245,924

240,000
235,000

242,095
238,391

234,021
230,000
225,000
2010

2011

2012

2013

2014

Tahun

Gambar 11 Perkembangan Jumlah Penduduk Kabupaten Mempawah Tahun 2010 2014

Toho; 8% Sadaniang; 3% Siantan ; 14%


Sungai Kunyit; 8%

Segedong; 7%

Mempawah Timur; 12%


Sungai Pinyuh; 22%
Mempawah Hilir; 15%
Anjongan; 12%

Gambar 12 Kepadatan Penduduk Kabupaten MempawahBerdasarkan Kecamatan tahun 2014 (jiwa/km2)

2. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)


Tabel berikut ini menunjukkan perkembangan IPM di kabupaten Mempawah pada
tahun 2014.

Tabel 6 IPM Kabupaten Mempawah Tahun 2014


No

Kabupaten/Kota

Angka
Harapan Hidup

Rata-rata Harapan
Lamanya Sekolah

Rata-rata
Lama
Sekolah

IPM

Kab. Sambas

67,74

11,46

5,80

63,28

Kab. Bengkayang

72,89

11,11

5,97

64,40

Kab. Landak

71,97

12,00

7,05

63,59

Kab. Mempawah

70,28

11,75

6,33

62,78

Kab. Sanggau

70,28

10,60

6,37

62,06

Kab. Ketapang

70,51

10,90

6,22

63,27

Kab. Sintang

70,95

10,25

6,63

63,19

Kab. Kapuas Hulu

71,94

11,80

6,65

62,90

Kab. Sekadau

70,80

11,12

6,54

61,89

10

Kab. Melawi

72,38

10,65

6,00

62,89

11

Kab. Kayong Utara

67,03

10,89

5,19

58,52

12

Kab. Kubu Raya

69,64

12,34

6,41

64,52

13

Kota Pontianak

72,01

13,84

9,62

76,63

14

Kota Singkawang

70,84

12,80

7,26

69,84

3. Kemiskinan
Tabel berikut ini menunjukkan batas miskin, persentase penduduk miskin dan
jumlah penduduk miskin yang ada di Kabupaten Mempawah tahun 2014.
Tabel 7 Jumlah Penduduk Miskin, Persentase Penduduk Miskin dan Jumlah Penduduk Miskin Kabupaten
Mempawah Tahun 2014
No

Kabupaten/Kota

Batas
Miskin

Persentase
Penduduk Miskin

Jumlah Penduduk
Miskin

Kab. Sambas

278.704

9,90

51,15

Kab. Bengkayang

240.704

8,01

18,41

Kab. Landak

252.336

14,18

49,47

Kab. Mempawah

240.081

6,30

15,55

Kab. Sanggau

222.877

4,71

20,41

Kab. Ketapang

310.504

12,85

58,83

Kab. Sintang

358.693

10,09

38,97

Kab. Kapuas Hulu

304.138

11,11

26,35

Kab. Sekadau

229.464

6,93

13,21

10

Kab. Melawi

371.723

13,70

26,02

11

Kab. Kayong Utara

207.989

10,87

11,08

12

Kab. Kubu Raya

269.835

6,04

32,11

13

Kota Pontianak

341.422

5,56

32,79

14

Kota Singkawang

320.211

6,50

12,97

2.2.5 Perekonomian
Grafik berikut ini menunjukkan perkembangan PDRB Kabupaten Mempawah dari tahun
2010 2014 berdasarkan atas dasar harga konstan 2010.
4,200,000.00
4,000,000.00
3,965,684.10

3,800,000.00

3,741,355.30

3,600,000.00
Nilai (juta rupiah)

3,548,333.60

3,400,000.00

3,410,002.10
3,310,824.10
3,200,000.00
3,000,000.00
2,800,000.00
2010

2011

2012

2013*) 2014**)

Tahun

*) Angka sementara
**) Angka sangat sementara
Gambar 13 Perkembangan PDRB Atas Harga Konstan 2010 Kabupaten Mempawah tahun 2010 2014

2.3 Kabupaten Kubu Raya


2.3.1 Administrasi Wilayah
Secara geografis, Kabupaten Kubu Raya berada di sisi Barat Daya Propinsi Kalimantan
Barat atau berada pada posisi 01340,83 sampai dengan 10053,09 Lintang Selatan
dan 1090219,32 Bujur Timur sampai dengan 1095832,16 Bujur Timur.
Sedangkan secara administratif batas wilayah Kabupaten Kubu Raya adalah sebagai
berikut:
1. Utara: berbatasan dengan Kota Pontianak, Kabupaten Pontianak dan Kabupaten Landak
2. Selatan: berbatasan dengan Kabupaten Kayong Utara
3. Barat: berbatasan dengan Laut Natuna
4. Timur: berbatasan dengan Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Sanggau
Kabupaten Kubu Raya merupakan kabupaten yang ada di Kalimantan Barat dengan luas
wilayah mencapai 6.985,24 km2.
Dari 9 kecamatan pada akhir tahun 2011, kecamatan yang memiliki wilayah terluas
adalah Kecamatan Batu Ampar (2.002,70 Km2 atau 28,67 persen dari luas Kabupaten
Kubu Raya) dan kecamatan dengan wilayah terkecil adalah Kecamatan Rasau Jaya
(111,07 Km2 atau 1,59 persen dari luas Kabupaten Kubu Raya.

2.3.2 Klimatologi
Curah hujan dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya adalah iklim, keadaan
geografi dan perputaran/pertemuan arus udara. Pada tahun 2014, rata rata curah
hujan di Kubu Raya adalah 229,6. Curah hujan terendah tercatat pada bulan Januari
yaitu 94 mm dan tertinggi tercatat pada bulan November sebesar 430 mm. Sedangkan
rata rata hari hujan pada tahun 2014 adalah 18 hari. Jumlah hari hujan terbanyak
terjadi pada bulan November yaitu 25 hari sedangkan terendah terjadi pada bulan Juli
tercatat sebesar 9 hari.
Adapun keadaan angin di wilayah Kabupaten Kubu Raya pada tahun 2014 tercatat
kecepatan angin sebesar 5 knot dan kecepatan maksimum terjadi pada bulan oktober
yakni sebesar 30 knot.

2.3.3 Penggunaan Lahan


Dilihat dari penggunaan tanah menurut kecamatan di Kabupaten Kubu Raya, pada
tahun 2014 sebagian besar daerah Kabupaten Kubu Raya Hutan Negara (355.400
hektar atau 50,88 persen), perkebunan (99.976 hektar atau 14,31 persen) dan sawah
pasang surut (48.853 hektar atau 6,99 persen) yang terhampar di seluruh kecamatan.

2.3.4 Demografi
1. Jumlah dan kepadatan penduduk
Grafik berikut ini menunjukkan perkembangan jumlah penduduk Kabupaten Kubu
Raya tahun 2010 2014.
550000
540000
538815

530000
529320

520000
Jumlah Penduduk (jiwa) 510000

522174
511235

500000
500970
490000
480000
2010

2011

2012

2013

2014

Tahun

Gambar 14 Perkembangan Jumlah Penduduk Kabupaten Kubu Raya tahun 2010 2014

Kuala Mandor B; 5% Batu Ampar; 2% Terentang; 1% Kubu; 3%


eluk Pakedai; 7%
Sungai Ambawang; T
10%

Sungai Jaya; 22%

Sungai Kakap; 25%

Rasau Jaya; 24%

Gambar 15 Kepadatan Penduduk Kabupaten Kubu Raya Berdasarkan Kecamatan tahun 2014 (jiwa/km2)

2. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)


Tabel berikut ini menunjukkan perkembangan IPM di kabupaten Kubu Raya pada
tahun 2014.
Tabel 8 IPM Kabupaten Kubu Raya Tahun 2014
No

Kabupaten/Kota

Angka
Harapan Hidup

Rata-rata Harapan
Lamanya Sekolah

Rata-rata
Lama
Sekolah

IPM

Kab. Sambas

67,74

11,46

5,80

63,28

Kab. Bengkayang

72,89

11,11

5,97

64,40

Kab. Landak

71,97

12,00

7,05

63,59

Kab. Mempawah

70,28

11,75

6,33

62,78

Kab. Sanggau

70,28

10,60

6,37

62,06

Kab. Ketapang

70,51

10,90

6,22

63,27

Kab. Sintang

70,95

10,25

6,63

63,19

Kab. Kapuas Hulu

71,94

11,80

6,65

62,90

Kab. Sekadau

70,80

11,12

6,54

61,89

10

Kab. Melawi

72,38

10,65

6,00

62,89

11

Kab. Kayong Utara

67,03

10,89

5,19

58,52

12

Kab. Kubu Raya

69,64

12,34

6,41

64,52

13

Kota Pontianak

72,01

13,84

9,62

76,63

14

Kota Singkawang

70,84

12,80

7,26

69,84

3. Kemiskinan
Grafik berikut ini menunjukkan jumlah penduduk miskin Kabupaten Kubu Raya
tahun 2011 2013.

33
32.8
32.8

32.6
32.4
Jumlah Penduduk Miskin (jiwa (000)

32.2
32

32.1

31.831.9
31.6
31.4
2011

2012

2013

Tahun

Gambar 16 Jumlah Penduduk Miskin Kabupaten Kubu Raya tahun 2011 2013.

2.3.5 Perekonomian
Grafik berikut menunjukkan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 Kabupaten Kubu
Raya tahun 2010 2014.
16,000,000.0
14,000,000.0
13,669,891.0
12,842,744.8
12,040,888.8
11,294,015.8
10,000,000.0
10,600,277.1
8,000,000.0
12,000,000.0

Nilai (juta rupiah)

6,000,000.0
4,000,000.0
2,000,000.0
2010

2011

2012

2013*

2014**

Tahun

Gambar 17 PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 Kabupaten Kubu Raya tahun 2010 2014

3 Infrastruktur Kawasan Perkotaan Pontianak


3.1 Sistem Penyediaan Air Minum
3.1.1 Potensi Sumber Air Baku
1) Sungai Kapuas (Intake Kapuas Imam Bonjol, Sei Jawi Luar)
Untuk melayani Kota metropolitan dan sekitarnya, namun permasalahan yang ada
saat ini adalah kedua intake tersebut dipengaruhi Intrusi air laut saat musim
kemarau.
2) Waduk Penepat
Untuk mengantisipasi kondisi kemarau ( Sungai Kapuas terintruisi Air Asin)
dibangun Intake Cadangan di Penepat (24 km arah hulu Intake Kapuas ) dengan
sumber air baku Sungai Landak. Pengaliran dari Intake Penepat dilakukan dengan
pemompaan melalui pipa transmisi air baku sejauh 24 km selanjutnya diolah
menjadi air bersih pada IPA di Imam Bonjol Pontianak. Guna peningkatan kapasitas
air baku saat kemarau telah dilakukan pembangunan waduk penepat dengan luas 2
( dua ) Ha yang mampu menampung air baku 45.000 m3 dengan 12 jam pengaliran,
pembangunan tersebut dimaksudkan untuk mengantisipasi jika Intake Imam Bonjol
terinteruisi air asin, sehingga kontinuitas layanan dapat terjaga dengan kapasitas
minimal.
Waduk Penepat hanya memiliki debit sebesar 400 l/dtk. Namun berdasarkan hasil
analisa hidrologi diketahui bahwa potensi debit pada Sungai Landak (Penepat)
sebesar 99,55 m3/dtk. Apabila akan digunakan untuk pemenuhan air (pada saat
interusi air laut) pada tahun 2030 harus ada penambahan kapisitas tampungan.
Berdasarkan perhitungan kebutuhan air baku pada taun 2030 diketahui sebesar 4
m3/detik (pembulatan dari 3,93 m3/dtk). Dengan asumsi kedalaman air sebesar 4
meter maka tabel berikut menampilkan kebutuhan lahan dan volumenya:

Tabel 9 Analisa Kebutuhan Ketersediaan Volume dan Luas Lahan Unuk Waduk Penepat

a. Kelebihan penggunaan waduk penepat


1. Pembangunan waduk Penepat beserta kelengkapannya telah menghabiskan
dana yang cukup besar sehingga akan sia-sia jika tidak terus dimanfaatkan.
2. Tidak perlu pembuatan jalur pipa transmisi baru karena saat ini telah
dilakukan peremajaan pipa.
b. Kekuranganpenggunaan waduk penepat
1. Waduk Penepat memiliki potensi terinterusi air laut, walaupun jarang terjadi.
Berdasarkan informasi yang didapat oleh tim konsultan interusi air laut pada
Penepat bisa mencapai 1000 mg/liter.
2. Jalur suplesi yang cukup jauh antara waduk penepat dan PDAM Imam Bonjol
sehingga diperlukan beberapa boster. Hal tersebut cukup merugikan ditinjau
dari tingginya biaya OP.

3) Sungai Landak (Biong)


Sungai Landak pada daerah Biong terletak di hulu Penepat sejauh 6 km.
Berdasarkan info yang didapat oleh tim Konsultan daerah tersebut belum interusi
air laut. Hanya sesekali saja saat kemarau panjang terjadi interusi dengan kadar
yang rendah yaitu sebesar <10 mg/liter.
Potensi dari sumber air sungai landak daerah Biong adalah untuk tambahan suply
air ke waduk penepat dengan jarak 6 km, sehingga untuk kebutuhan air bersih di
massa mendatang tidak membutuhkan perubahan desain tampungan dari waduk
penepat. Namun apaila dalam perkembangan kondisi persungaian di masa
mendatang waduk penepat sudah sering terjadi intrusi saat musim kemarau, maka
pengambilan dari biyung dapat digunakan untuk menggantikan pengambilan dari
waduk penepat.
a. Kelebihan
1. Prinsip dari alternative ini adalah menambahkan kapasitas pada Waduk
Penepat dari Sungai Landak di daerah Biong. Sehingga Waduk Penepat tetap
difungsikan.
2.

Tidak diperlukan rekayasa yang rumit karena prinsip dasar dari alternative ini
adalah membuat intake dari Sungai Landak di daerah Biong dan disalurkan
dengan pipa menuju waduk penepat.

3. Jalur pipa antara waduk penepat dan PDAM Imam Bonjol tetap dapat
dimanfaatkan.
4. Daerah Biong jarang sekali terinterusi apabila terjadi hanya sebesar <10
mg/liter.
4) Sungai Ambawang
Pengembangan Ambawang sendiri telah lama dilakukan study, yaitu pembangunan
bendung karet dan shortcut channel Sungai Landak yang dibawa menuju Sungai
Ambawang untuk tujuan supply debit dan pengenceran residu pada Sungai
Ambawang.
Potensi debit sungai ambawang adalah cukup besar yaitu : 4000 liter/detik mampu
memenuhi kebutuhan Metropolitan Pontianak hingga tahun 2030, namun memiliki
kelemahan yaitu :
1. Sungai Ambawang memiliki kedalaman 10 meter, sedangkan bendung karet
dari pabrik hanya setinggi 5 meter sehingga perlu dilakukan rekayasa teknis
untuk pembangunannya.
2. Sungai Ambawang merupakan jalur transportasi sungai yang cukup ramai.
Apabila dibangun Bendung Karet akan terjadi pemutusan jalur transportasi.
3. Memutuhkan suplesi air dari landak untuk kebutuhan pengenceran residu dan
sedimen Sungai Ambawang sejauh 9 km.
5) Sungai Kapuas Kecil Wilayah Durian Kubu Raya
Di wilayah Durian Kabupaten Kubu Raya terdapat pengambilan air baku, dimana di
sunga ini beroperasi instalasi air yaitu :
Instalasi Arang Limbung kapasitas total
terpasang 130 l/det terdiri dari 1 paket
beton kapasitas 80 liter per detik, 1
paket baja 30 liter per detik dan 1
paket baja 20 liter per detik.
Instalasi penglahan air di Kuala dua
kapasitas terpasang 10 liter per detik

3.1.2 Neraca Air


Total Kebutuhan untuk Kota metropolitan
hingga tahun 2030 adalah :

IPA

Tabel 10 Rekapitulasi Kebutuhan Air Baku Metropolitan Pontianak

5000
4000
3000
Kebutuhan Air (l/detik)

3367

3684

3926

2751
2000
1000
0
2015

2020

2025

2030

Tahun

Gambar 18 Grafik Peningkatan Kebutuhan Air Baku Metropolitan Pontianak

Sedangkan potensi ketersediaan sumber sumber air baku di sekitar Kota metropolitan
adalah sebesar :

Gambar 19 Gambar Peta Daerah Tangkapan Air Rencana Intake Pengambilan Penyediaan Air Baku

Berdasarkan besar tingkat kebutuhan air bersih dan besar ketersediaan air baku maka
berikut perbandingan ketersediaan dan kebutuhan air di Kota Metropolitan hingga tahun
2030:
Tabel 11 Neraca Air Wilayah Kota Metropolitan Pontianak

Sumber: Hasil Analisa

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa potensi air di Kalimantan Barat
terutama daerah Metropolitan Pontianak cukup besar, Terjadi surplus air apabila
dibandingkan antara debit andalan dan kebutuhan air minum. Namun yang perlu
diperhatikan adalah masalah kualitas air dan interusi air laut.

3.1.3 Kondisi Eksisting SIstem Penyediaan Air


a.

Kondisi Eksisting Sistem Penyediaan Air Kota Pontianak


Kegiatan penyediaan air minum Kota Pontianak dimulai tahun 1959 yang ditandai
oleh pembangunan sarana dan prasarana penyediaan air minum melalui
pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kapasitas 100 l/det di Kompleks IPA
Imam Bonjol dan mulai dioperasikan pada tahun 1962. Sumber air yang digunakan
adalah air permukaan yang berasal dari S. Kapuas yang diolah secara konvensional
melalui instalasi dengan sistem pengolahan lengkap.
Pada awalnya pengelolaan ditangani oleh Dinas Saluran Air Minum kemudian pada
tanggal 14 Mei tahun 1975, Dinas Saluran Air Minum tersebut berganti nama dan
status menjadi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) melalui Peraturan Daerah
Kotamadya Dati II Pontianak Nomor : 03 tahun 1975. Sejalan dengan meningkatnya
pertumbuhan dan kebutuhan akan air minum melalui berbagai upaya pihak
manajemen Perusahaan bersama-sama Pemerintah baik Pusat dan Daerah telah
meningkatkan kapasitas Instalasi dari semula 100 l/det pada tahun 1959 menjadi
1.210 l/det sampai tahun 2009. Peningkatan ini dilakukan secara bertahap dengan
pendanaan yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja PDAM, Pinjaman
Komersial, Rekening Pembangunan Daerah, maupun Hibah Pemerintah.
1. Unit Air Baku
Unit produksi Imam Bonjol dan Sei Jawi Luar menggunakan air baku dari
S.Kapuas dan lokasi Selat Panjang menyadap dari S. Landak. Kedua sungai
tersebut berkapasitas cukup besar, namun saat air laut pasang muka air sungai
tertahan naik. Rata-rata fluktuasi pasang surut muka air sungai sekitar 1 - 2 m,
musim kemarau terhadap musim penghujan juga mengalami penurunan hingga
1m. Hal ini menyebabkan fluktuasi min. maks. mencapai 3m, bahkan walau
sesaat tahunan berkala terjadi mencapai 4 m. Sejalan dengan pasang-surut, air
baku juga mengandung fluktuasi kualitas air yang signifikan terhadap
penyadapan dan unit-unit proses IPA. Hal ini secara berkala harus dilakukan
pemeriksaan kualitasnya di laboratrium.
Musim kemarau secara berkala ditandai dengan intrusi air laut dengan kadar
klorida cukup tinggi. PDAM mencatat tahun 2009 Juni Oktober kadar klorida
tertinggi 10.601 mg/l pada bulan Agustus. Secara darurat telah disediakan
suplesi air tawar hulu s. Landak dari Penepat hanya kapasitas 275 l/d. Adapun
musim penghujan rawa-rawa melepas air gambut bersama air hujan membuat
kedua sungai mengandung warna tinggi sekitar 400 TCU dan sangat ter
pengaruh saat hujan besar daerah gambut, ditandai peningkatan warna yang
sangat tinggi pada penyadapan air baku. Gangguan lumpur dan sampah juga
meminta perhatian yang lebih. Saat ini PDAM masih melakukan kajian untuk

menanggulangi kendala air baku tersebut dan dibutuhkan studi regional


tersendiri untuk mendapat rancang-bangun penyadapan air baku yang handal.
2. Penyadapan Air Baku
Secara garis besar sistem penyediaan air minum yang dikelola PDAM Kota
Pontianak sebagai berikut :
1) Sumber Air Baku, secara kronologi terdiri dari :
Intake air baku S. Kapuas untuk Unit Produksi Imam Bonjol (Wil. Selatan),
Intake air baku S. Kapuas untuk Unit Prduksi Sei Jawi Luar (Wil. Barat ),
Intake air baku S. Landak di Penepat untuk Cadangan Unit Produksi
Imam Bonjol,
Intake air baku S. Landak untuk Unit Produksi Selat Panjang (Wil. Utara)
2) Unit Produksi, terdiri dari komponen :
Bangunan Intake dengan Pemompaan air baku pada 4 lokasi ,diatas
Bangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA),
Bangunan Reservoir produksi dengan Pemompaan Distribusi,
Bangunan Penunjang UP (peralatan mekanikal / elektrikal (M/E),
pembubuh kimia, Instrumentasi dan bangunan operasi serta sarana
operasi),
Jaringan Perpipaan Site untuk air baku, di IPA dan Reservoar serta induk
distribusi
3. Unit Instalasi
Secara keseluruhan sistem pengaliran air yang ada pada PDAM Tirta
Khatulistiwa Kota Pontianak mulai dari Intake air baku sampai ke pelanggan
dilakukan dengan sistem pemompaan selama 24 jam.
Pengolahan air dilakukan di 3 (tiga) lokasi dengan total kapasitas terpasang
sebesar 1.210 liter/detik (104.544 m3/hari)yaitu :
1) Kompleks Instalasi Imam Bonjol kapasitas total terpasang 860 l/det atau
(74.304 m3/hari).
2) Kompleks Instalasi Sei Jawi Luar kapasitas total terpasang 50 l/det atau
(4.320 m3/hari).
3) Kompleks Instalasi Selat Panjang, Pontianak Utara dengan kapasitas total
terpasang 300 liter/detik (25.920 m3/hari)
4. Kinerja Instalasi
Unit produksi Imam Bonjol merupakan induk system produksi dan distribusi,
sehingga peningkatan kapasitas yang direncanakan secara geografis dan
kebijakan teknis menuntut pengembangan dilokasi ini. Keterbatasan lahan yang
ada dan tata ruangnya menjadi perhatian utama untuk kinerja masa depan.
Bangunan unit produksi dan evaluasi survai meliputi :
1) Bangunan Intake :
Terdapat 3 saluran intake, 2 diantaranya digunakan, saluran-Int.III berikut
pompa turbin merupakan intake awal pembangunan thn. 1958, tidak
digunakan.
Bangunan rumah pompa untuk IPA 1,2 dan 3 serta bangunan khusus IPA-4
Peralatan M/E
2) Perpipaan air baku :

Meliputi tiga jalur, 2 jalur dari pemompaan intake dan tambahan jalur dari
intake Penepat sebagai cadangan. Masing-masing dicabangkan dengan
diengkapi meter induk air baku kesetiap IPA.

Tabel 12 Perpipaan Air Baku


No.
1.
2.
3.
4.
5.

Tahun
Pemasangan
Pipa
Intake I (Imam Bonjol)
450
DCIP
1982
Intake I (Imam Bonjol)
450
DCIP
1982
Intake I (imam (Bonjol)
300
GRP
1992
Intake III (Imam Bonjol)
600
PVC
1995
Intake Penepat
600
DCIP
1982
Sumber : PDAM Kota Pontianak (diolah)
Lokasi

Diamater
Pipa (mm)

Bahan

Unit
Instalasi Produksi
IPA.1 Imam Bonjol
IPA.2 Imam Bonjol
IPA.3 ImamBonjol
IPA.4 Imam Bonjol
IPA. Imam Bonjol

Pada perpipaan air baku sebelum IPA dilengkapi dengan meter induk dan
titik bubuh Koagulan (static mixer). Adapun tanki menara pengaduk cepat
yang untuk ketiga IPA tidak difungsikan karena efek aerasi tinggi dalam
proses yang akhirnya menimbulkan busa berlebihan dan melemahkan
filtrasi.
b.

Kondisi Eksisting Sistem Penyediaan Air Kabupaten Pontianak


1. Sistem Produksi
Perusahaan daerah air minum (PDAM) Kabupaten Pontianak yang instalasinya
tersebar di beberapa kecamatan dengan jumlah pelanggan keadaan Desember
2003 menurut urutan terbanyak, pertama Kecamatan Sungai Raya 7.670
pelanggan, Mempawah Hilir 2.298 pelanggan, Sungai Pinyuh 786 pelanggan.
Sungai Kunyit (Semudun) 416 pelanggan, Kecamatan Siantan (Jungkat) 240
pelanggan dan Padang Tikar 136 pelanggan. Pelayanan perusahaan daerah air
minum Kabupaten Pontianak yang tersebar dibeberapa kecamatan hanya
menjangkau 11.546 rumah tangga.
Kecilnya jangkauan pelayanan air minum terhadap masyarakat yang dikelola
PDAM tersebut barangkali terbatasnya dana yang tersedia sehingga belum
dapat menjangkau daerah lain yang hingga saat ini masih belum terlayani.
Pendistribusian air tahun 2003 ke Kecamatan Sungai Raya merupakan
kecamatan yang terbesar distribusi airnya ke pelanggan, yakni sebanyak
1.584.449 M3 (74,70%) dikarenakan pelanggan juga terbanyak dibanding
dengan daerah lain, kemudian menyusul Kecamatan Mempawah Hilir 292.806
M3 (4,30%), Sungai Pinyuh 72.996 M3 (3,40%), Semudun 53.122 M3 (2,50%)
dan Padang Tikar 25.680 M3 (1,2%). Data pada tahun 2008 sistem pelayanan
PDAM Kabupaten Pontianak dari IPA Tanjung Berkat Ke area pelayanan unit
Semudun dengan jumlah sambungan rumah 420 SR, ke daerah pelayanan unit
Kuala/Senggiring dengan jumlah Sambungan 278 SR, ke daerah pelayanan Kota
mempawah dengan jumlah sambungan rumah 2.477 SR, ke daerah pelayanan
Sei Pinyuh dengan jumlah sambungan rumah 201 SR, ke daerah pelayanan
jungkat dengan jumlah sambungan rumah 183 SR. Total jumlah sambungan
rumah 3.559 SR.
2. Unit Air Baku
Air baku bagi sistem penyediaan air minum Kabupaten Pontianak terbagi atas
pada saat normal (musim hujan) Air baku yang digunakan pada musim
normal/hujan berasal dari sumber air utama S. Mempawah, dan Intake
cadangan Sungai Bemban.
3. Unit Instalasi

Secara keseluruhan sistem pengaliran air yang ada pada PDAM Kabupaten
Pontianak mulai dari Intake air baku sampai ke pelanggan dilakukan dengan
sistem pemompaan selama 24 jam.
Pengolahan air dilakukan di 3 (tiga) lokasi dengan total kapasitas terpasang
sebesar 155 liter/detik yaitu :
1) Instalasi Mempawah kapasitas total terpasang 115 l/det.
2) Instalasi Pinyuh kapasitas total terpasang 20 l/det.
3) Instalasi Jungkat kapasitas total terpasang 20 l/det.

4. Kinerja Instalasi
Unit produksi Mempawah merupakan induk system produksi dan distribusi,
karena mempunyai kapasitas Instalasi pengolahan air yang terbesar
dikabupaten Pontianak dan mempunyai sambungan langganan yang paling
banyak.
1) Bangunan Intake :
Sumber air terinstrusi air laut.
Adanya pencemaran limbah penambangan tanpa izin (PETI)
Peralatan M/E terutama pompa air baku mengalami penurunan efisiensi
2) Perpipaan air baku :
Perpipaan air baku ke IPA Tanjung Berkat jenis pipa ACP Diameter 250 mm
mengalami keropos dengan jarak 8000 meter
3) Bangunan Pembubuh Kimia :
Bahan kimia yang digunakan dalam pengolahan air minum pada Instalasi
PDAM Kabupaten Pontianak adalah alum sebagai koagulan, Soda Ash
sebagai penyeimbang pH dan Kaporite sebagai desinfektan.
Tabel 13 Pemakaian bahan kimia utama pada proses pengolahan air Juni tahun 2010
Pemakaian
Tahun 2010
(Kg)
Alum (Tawas)
45.600
Soda Ash
1.800
Kaporit
540
Sumber : PDAM Kabupten Pontianak

No.

Rata-Rata
Perbulan
(Kg)
3.800
150
45

Bahan Kimia Utama

1.
2.
3.

4) Bangunan IPA :
Berdasarkan data operasi PDAM selama tahun 2008 menunjukan kinerja
kapasitas sbb.:
Operasi maksimum terjadi bulan Oktober, 92.880 m3.
Rata-rata penurunan kinerja IPA mencapai 50%
Tabel 14 Kapasitas Operasi Rata-Rata Bulanan Thn. 2009

Lokasi IPA
IPA Mempawah
IPA Pinyuh
IPA Jungkat

Terpasang

Realisasi

115
20
20

Sumber : data PDAM Kab. Pontianak (satuan LPS)

45
8
8

5) Bangunan Reservoar Produksi


Reservoar produksi berfungsi ganda :
Menjaga waktu kontak desinfeksi min. 5 menit dan untuk kebutuhan
operasi disetiap IPA (service water: back-wash, dosing, cleaning, dll)
Pemompaan distribusi yang membutuhkan kapasitas reservoir terhadap
tingkat fluktuasi pelayanan. Kenyataan pemompaan ini dominan untuk
transmisi air minum ke reservoir-reservoar boster.

c.

Kondisi Eksisting Sistem Penyediaan Air Kabupaten Kubu Raya


1. Sistem Produksi
Air minum merupakan kebutuhan dasar (basic need) bagi penduduk, baik untuk
memasak/minum, mencuci/mandi dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Bagi
kebanyakan penduduk secara tradisional penggunaan air minum bersumber
dari air sungai dan air hujan. Sebagian besar kebutuhan air minum di
Kabupaten Kubu Raya masih belum dapat dilayani oleh Perusahaan Daerah Air
Minum (PDAM), sehingga kebutuhan air minum masyarakat masih dilakukan
dengan menampung air hujan atau penampung air hujan (PAH), memanfaatkan
air tanah dengan menggali sumur dalam dan dengan cara langsung
memanfaatkan air dari sungai-sungai yang ada. Satu-satunya kecamatan di
Kubu Raya yang terlayani oleh PDAM Kabupaten Pontianak adalah kecamatan
Sungai Raya. Berdasarkan data PDAM Tahun 2005, jumlah pelanggan di
Kecamatan Sungai Raya sebanyak 8.310 pelanggan, dengan jumlah air yang
dapat didistribusikan sebanyak 1.398.093 m3.
Kecilnya jangkauan pelayanan air minum terhadap masyarakat yang di kelola
PDAM Kubu Raya pada saat ini selain dikarenakan oleh beberapa faktor teknis
teknologis dengan sulitnya mendapatkan air baku yang mudah dan murah
untuk diproses dan diolah menjadi air minum yang kualitasnya layak dan sesuai
dengan standar baku mutu yang berlaku dari Permenkes. Program
pengembangan mendesak sangat dibutuhkan dan perlu diprioritaskan untuk
dilakukan secara bertahap sehingga dapat menjangkau daerah lain yang
samasekali belum terakses air minum baik dengan sistem perpipaan maupun
juga dengan non perpipaan. Daerah yang saat ini sudah terakses air minum
dengan non perpipaan yang belum terlindungi diprogramkan agar menjadi
terlindungi selanjutnya daerah non perpipaan yang sudah terlindungi diplot
supaya dapat ditingkatkan menjadi sistem perpipaan.
Perusahaan daerah air minum (PDAM) Kabupaten Kubu Raya mempunya
instalasi pengolahan air (IPA) yang berlokasi di Arang Limbung Kecamatan
Sungai Raya. Kapasitas produksinya adalah 130 liter per detik dan kapasitas
reservoarnya adalah 400m3 dilengkapi beberapa booster pump di Pondok
Indah.
2. Unit Air Baku
Air baku bagi sistem penyediaan air minum Kabupaten Kubu Raya terbagi atas
pada saat normal (musim hujan) Air baku yang digunakan pada musim
normal/hujan berasal dari sumber air utama S. Kapuas Kecil
3. Unit Instalasi
Secara keseluruhan sistem pengaliran air yang ada pada PDAM Kabupaten Kubu
Raya mulai dari Intake air baku sampai ke pelanggan dilakukan dengan sistem
pemompaan selama 24 jam. Pengolahan air dilakukan di 3 (tiga) lokasi dengan
total kapasitas terpasang yaitu :
1) Instalasi Arang Limbung kapasitas total terpasang 130 l/det terdiri dari 1
paket IPA beton kapasitas 80 liter per detik, 1 paket baja 30 liter per detik
dan 1 paket baja 20 liter per detik.

2) Instalasi penglahan air di Kuala dua kapasitas terpasang 10 liter per detik
3) Instalasi penglahan air di Sungai Kakap kapasitas terpasang 20 liter per detik
4. Kinerja Instalasi
Unit produksi ini merupakan induk system produksi dan distribusi, karena
mempunyai kapasitas Instalasi pengolahan air yang terbesar dikabupaten Kubu
Raya dan mempunyai sambungan langganan yang paling banyak.
1) Bangunan Intake :
Sumber air terinstrusi air laut pada musim kemarau.
Peralatan M/E terutama pompa air baku mengalami penurunan efisiensi
2) Perpipaan air baku :
Perpipaan air baku ke IPA Arang Limbung relative dekat karena lokasi IPA
dekat dengan sumber air bakunya yaitu Sungai Kapuas Kecil .
3) Bangunan Pembubuh Kimia :
Bahan kimia yang digunakan dalam pengolahan air minum pada Instalasi
PDAM Kabupaten Kubu Raya adalah alum sebagai koagulan, Soda Ash
sebagai penyeimbang pH dan Kaporite sebagai desinfektan.
4) Bangunan IPA :
Berdasarkan data operasi PDAM selama tahun 2010 menunjukan kinerja
kapasitas sbb.:
Operasi maksimum terjadi tiap bulan, 133.175 m3.
Rata-rata penurunan kinerja IPA mencapai 40%.
Tabel 15 Kapasitas Operasi rata-rata bulanan thn. 2010

Lokasi IPA

Terpasang

Realisasi

IPA Arang Limbung

130

110

IPA Kuala Dua

10

IPA Sungai Kakap

20

15

Sumber : data PDAM Kab. Kubu Raya (satuan LPS)

5) Bangunan Reservoar Produksi


Reservoar produksi berfungsi ganda :
Untuk kebutuhan operasi disetiap IPA (service water: back-wash, dosing,
cleaning, dll)
Pemompaan distribusi yang membutuhkan kapasitas reservoir terhadap
tingkat fluktuasi pelayanan. Kenyataan pemompaan ini dominan untuk
transmisi Air Minum ke reservoar boster.

3.2 Konsep Desain Master Plan Penyediaan Air Baku-Air Bersih


Kota Metropolitan Pontianak Kalimantan Barat
Rencana pengembangan sistem penyediaan air minum Metropolitan Pontianak
disesuaikan dengan arahan pengembangan wilayah pada daerah tersebut. Dalam RTRW
Nasional ditetapkan Kota Pontianak sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN), hal ini
mengandung konsekuensi bahwa Kota Pontianak harus dapat mengemban fungsi :
Pusat yang mempunyai potensi sebagai pintu gerbang ke kawasan-kawasan internasional
dan mempunyai potensi untuk mendorong kemajuan daerah sekitarnya.
1) Pusat jasa-jasa pelayanan keuangan/bank yang telah melayani skala nasional atau
melayani beberapa provinsi.

2) Pusat pengolahan/pengumpul barang secara nasional atau meliputi beberapa


provinsi.
3) Simpul transportasi secara nasional atau untuk beberapa provinsi.
4) Pusat jasa pemerintahan untuk skala nasional atau meliputi beberapa provinsi.
5) Pusat jasa-jasa kemasyarakatan yang lain untuk skala nasional atau meliputi
beberapa provinsi.
Rencana pengembangan sistem penyediaan air minum mengikuti rencana tata ruang
wilayah metropolitan pontianak. Peta rencana pengembangan metropolitan Pontianak
ditampilkan pada peta dibawah ini. Rencana zonasi dan pentahapan berdasarkan tata
ruang dan kondisi lingkungan yang tertera pada peta.
Sehingga berdasarkan rencana pengembangan wilayah Kota Metropolitan Pontianak,
maka rencana pengembangan penyediaan air minum Metropolitan Pontianak, dilakukan
bertahap yaitu sebagai berikut:

3.2.1 Rencana Pengembangan Tahun 2010 2015


Metropolitan Pontianak tetap akan menggunakan Sungai Kapuas sebagai sumber air
baku utama. Metropolitan Pontianak tahun 2010 2015 didominasi kawasan perumahan
perkotaan, pertokoan dan industri. Sehingga ketersediaan air baku harus terjaga
sepanjang tahun. Rencana Pengembangan 2010-2015 adalah sebagai berikut :
1. Kondisi Normal
Fokus rencana pengembangan Tahun 2010 2015 Metropolitan Pontianak adalah
terkonsentrasi pada Kota Pontianak, diperhitungkan kebutuhan Kota Pontianak
sebesar 1792 liter/detik. Untuk mengatasi peningkatan kebutuhan air maka perlu
adanya peningkatkan kapasitas sebanyak 582 liter/detik. Berdasarkan lokasi daerah
pelayanan perlu adanya peningkatan kapasitas sebagai berikut :
Tabel 16 Penambahan Kapasitas IPA Tahun 2015

2. Kondisi Interusi
Permasalahan yang muncul adalah interusi air laut pada Sungai Kapuas lokasi
pengambilan PDAM Kota Pontianak Imam Bonjol. Permasalahan tersebut diatasi
dengan supply dari Waduk Penepat yang belum terintrusi air laut. Jika Sungai Landak
(waduk penepat) juga terintrusi air laut pada pekerjaan ini direncanakan pengganti
tambahan supply Sungai Landak daerah Biyung untuk memenuhi kebutuhan
Metropolitan Pontianak.

Gambar 20 Kebutuhan Air Metropolitan Pontianak 2015

Gambar 21 Rencana Pengembangan SPAM Metropolitan Pontianak 2015

3.2.2 Rencana Pengembangan Tahun 2015 2020


Pada tahap ini perkembangan Metropolitan Pontianak telah masuk pada wilayah
Kabupaten Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya tepatnya sebagai berikut:
1) Kab Kubu Raya sebelah utara Sungai Landak atau kanan dan kiri aliran Sungai
Landak yaitu Kecamatan Kuala Mandor
2) Kab. Kubu Raya sebelah kanan dan kiri aliran Kapuas kecil yaitu Kec. Sungai Raya,
3) Kabupaten Kubu Raya sebelah Barat Daya Kota Pontianak yaitu Kec. Sungai Kakap
4) Kabupaten Kubu Raya Kecamatan S. Ambawang
5) Kab. Pontianak sebelah Barat Laut kota Pontianak yaitu Kec. Siantan

Gambar 22 Wilayah Rencana Pengembangan SPAM Metropolitan Pontianak 2020

Gambar 23 Kebutuhan Air Metropolitan Pontianak 2020

Gambar 24 Skema Pengembangan Air Minum Metropolitan Pontianak 2020

Skenario yang direncanakan untuk tahun 2020 adalah sebagai berikut:


1. Kondisi Normal (tanpa interusi)
Seiring dengan adanya penambahan jumlah penduduk maka kebutuhan air juga
meningkat. Oleh karena itu peningkatan kapasitas tiap IPA diperlukan. Berikut adalah
perhitungannya:

Tabel 17Penambahan Kapasitas IPA Tahun 2020

2. Kondisi Interusi
Saat interusi umumnya seluruh IPA tidak mampu melakukan netralisir air asin. Oleh
karena itu Waduk Penepat akan dikembangkan potensinya untuk memenuhi daerah
Metropolitan Pontianak tahun 2020. Dan jika saat waduk penepat terganggu adanya
intrusi maka pembangunan intake biyung yang dilakukan untuk menghadapi
pengembangan hingga tahun 2015 dapat digunakan untuk supply pengganti penepat
untuk ke lima IPA diatas.

3.2.3 Rencana Pengembangan Tahun 2020 2030


Perkembangan wilayah Metropolitan Pontianak tahun 2020 2030 merupakan perluasan
wilayah dari tahun 2020 2030.

Gambar 25 Wilayah Rencana Pengembangan SPAM Metropolitan Pontianak 2030

Gambar 9. Kebutuhan Air Metropolitan Pontianak 2030

Skenario yang direncanakan untuk tahun 2030 adalah sebagai berikut:

1. Kondisi Normal (tanpa interusi)


a. Pada tahun 2030 terdapat perluasan wilayah Metropolitan Pontianak. Maka
diperlukan peningkatan kapasitas sebagai berikut:
Tabel 18 Penambahan Kapasitas IPA Tahun 2030

b. Pada perkembangan tahun 2020-2030 tersebut digunakan IPA yang sudah ada di
Sungai Raya/ Durian untuk mendukung kebutuhan air di daerah Sungai Raya
daerah sekitar bandara. Untuk pengembangan wilayah sebelah selatan bandara
di rencanakan pengambilan intake bebas dari sungai raya / durian dimana untuk
mengatasi permasalahan kekeruhan sungai tersebut di rencanakan pembangunan
kontruksi Wetland, dimana inflow tampungan Wetland dari debit Sungai
Raya/Durian dan dijernihkan dalam tampungan Wetland, kemudian di keluarkan
kembali menuju aliran Sungai Raya/Durian untuk ditangkap di Intake Intake bagian
hilirnya.
c. Wilayah Kecamatan S. Ambawang bagian timur dilayani oleh S. Ambawang. Pada
studi ini tidak direncanakan Bendung Karet dengan beberapa alasan yang telah
dijelaskan tentang kelemahan pembangunan Bendung Ambawang di atas. Pada
studi direncanakan sebuah intake bebas. Resiko adanya intrusi dan kondisi air
yang jelek pada sungai Ambawang, di desain untuk mengatasinya adalah dengan
pembangunan kontruksi Wetland, dengan outflownya akan di koneksikan ke Intake
IPA Ambawang.S. Ambawang juga di rencanakan untuk supply tambahan
kebutuhan air baku Metropolitan Pontianak dari waduk penepat atau biyung, yang
dikoneksikan ke Pipa Eksisting Penepat Imam bonjol.
2. Kondisi Interusi
Pada kondisi kedepan yaitu untuk Tahun 2030, saat terjadi Intrusi banyak
kemungkinan-kemungkinan kondisi yang dapat terjadi, yaitu :
a. Intrusi hanya terjadi pada daerah intake Kapuas Imam Bonjol Maka
pelaksanaan desain layanan menggunakan waduk penepat, ambawang dan raya
durian sudah layak dan cukup untuk mengairi wilayah bagian Barat, Utara, timur,
selatan Kota Pontianak. Sedangkan untuk kebutuhan layanan daerah sungai raya
di layani oleh Intake Durian Sungai Raya dan intake bagain hulu.
b. Intrusi terjadi hingga di waduk penepat maka pelaksanaan desain layanan
haruslah menggunakan tambahan supply pengganti Intake Biyung menuju
Penepat dan di bantu inflow dari ambawang. Sedangkan untuk kebutuhan

layanan daerah sungai raya di layani oleh Intake Durian Sungai Raya dan intake
bagain hulu.
c. Resiko perubahan klimatologi dan siklus hidrologi di Tahun tahun mendatang
hingga tahun 2030, sehingga di mungkinkan terjadi siklus hidrologi yang tidak
teratur, penurunan debit sungai saat musim kering, sehingga kejadian intrusi
mencapai wilayah sungai intake intake di atas, Maka perlu segera
dipersiapkan bangunan tampungan air berupa tendon-tandon yang di desain
dengan kapasitas volume untuk melayani selama 4 jam (Asumsi durasi waktu
laju intrusi air laut)

3.2.4 Kriteria Desain


Berikut ini kriteria desain yang disebutkan diatas, tentang desain-desain kusus yang
dibutuhkan yaitu :
a. Wetland
Definisi wetland sangat beragam diantaranya wetland adalah suatu lahan yang jenuh
air dengan kedalaman air tipikal yang kurang dari 0,6 m yang mendukung
pertumbuhan tanaman air emergent misalnya Cawetlandil, bulrush, umbrella plant
dan canna (Metcalf and Eddy, 1991), pengertian lainnya Constructed wetland
merupakan suatu rawa buatan yang di buat untuk mengolah air limbah untuk aliran
air hujan dan mengolah lindi (leachate) atau sebagai tempat hidup habitat liar
lainnya, selain itu constructed wetland dapat juga digunakan untuk reklamasi lahan
penambangan atau gangguan lingkungan lainnya. Wetland dapat berupa biofilter
yang dapat meremoval sediment dan polutan seperti logam berat. (wikipedia, 2007)
Pada Constructed wetland terdapat tiga faktor utama, yaitu:
Area yang digenangi air dan mendukung hidupnya aquatic plant jenis hydrophita
Media tumbuh berupa tanah yang selalu digenangi air
Media jenuh air
Tanaman yang digunakan : Eceng Gondok, tanaman akar wangi, atau tanaman
air lainnya.
b. Tandon/Tampungan
Pada studi ini dilakukan alternative pembuatan tandon-tandon penampungan air
untuk mengatasi interusi air laut saat musim kemarau. Konsep yang digunakan untuk
pembuatan tandon ini disesuaikan berdasarkan luas daerah pelayanan. Dimensi
tandon akan didesain berdasarkan kebutuhan air minum pada suatu kawasan.
Berikut adalah perhitungan sederhana dari tandon pada masing-masing zona.

Gambar 26 Lokasi Tandon dan Kawasan Peruntukan

Pada perhitungan luas tandon digunakan beberapa asumsi sebagai berikut:


1. Jumlah penduduk adalah jumlah penduduk yang masuk pada masing-masing
wilayah zona.
2. Kebutuhan air adalah 150 l/orang/hari.
3. Kolam hanya digunakan pada saat musim kemarau dengan asumsi interusi laut
selama 4 jam.
4. Sumber kolam dari air sungai yang sudah diolah. Air tersebut ditampung dan
digunakan saat interusi air laut.
5. Kedalaman kolam sebesar 3,5 m.

4 Tinjauan Terhadap Kebijakan Penataan Ruang &


Pembangunan Wilayah
4.1 Tinjauan Kebijakan Penataan Ruang
4.1.1 RTRW Nasional
Penjelasan berikut ini menjelaskan mengenai arahan pengembangan Kawasan
Metropolitan Pontianak dilihat dari segi RTRW Nasional.

Tabel 19 Arahan Sistem Perkotaan Nasional Kawasan Metropolitan Pontianak

No

Wilayah Kawasan
Metropolitan
Pontianak
Kota Pontianak

Kabupaten
Mempawah
Kabupaten Kubu
Raya

Hierarki
PKN

Arahan
Pengembanga
n
I/C/1

PKW

II/B

Penjelasan
Tahap pengembangan I Pengembangan/
peningkatan fungsi dalam rangka revitalisasi
dan percepatan pengembangan kota kota
pusat pertumbuhan
Tahap pengembangan II Mendorong
pengembangan kota kota sentra produksi
-

Tabel 20 Rencana Jalan Bebas Hambatan di Kawasan Metropolitan Pontianak


No

Rencana Jalan Bebas


Hambatan

Sei Puyuh Pontianak

Arahan
Pengembanga
n
(II/6)

Pontianak Tayan

(II/6)

Singkawang Mempawah

(III/6)

Mempawah Sei Puyuh

(III/6)

Penjelasan
Tahap Pengembangan II: Pengembangan
jaringan jalan bebas hambatan
Tahap Pengembangan II: Pengembangan
jaringan jalan bebas hambatan
Tahap Pengembangan III: Pengembangan
jaringan jalan bebas hambatan
Tahap Pengembangan III: Pengembangan
jaringan jalan bebas hambatan

Tabel 21 Rencana Pengembangan Pelabuhan Laut Nasional di Kawasan Metropolitan Pontianak


Pelabuhan Internasional
Pontianak (Provinsi Kalimantan
Barat)

Arahan
Pengembanga
n
(I/1)

Penjelasan
Tahap Pengembangan I: Pemantapan pelabuhan
internasional

Tabel 22 Rencana Pengembangan Bandar Udara Nasional di Kawasan Metropolitan Pontianak


Bandara Udara
Supadio (Provinsi
Kalimantan Barat)

Hierarki
Pusat
penyebaran
sekunder

Arahan
Pengembanga
n
(I/3)

Penjelasan
Tahap Pengembangan I: Pemantapan
Bandar Udara Sekunder

Tabel 23 Rencana Pengembangan Wilayah Sungai di Kawasan Metropolitan Pontianak


Wilayah Sungai
Kapuas

Hierarki
Strategis
Nasional

Arahan
Pengembanga
n
(I-IV/A/1)

Penjelasan
Tahapan pengembangan I IV:
Konservasi sumber daya air,
pendayagunaan sumber daya air, dan
pengendalian daya rusak air

Tabel 24 Rencana Pengembangan Kawasan Lindung di Kawasan Metropolitan Pontianak


Kawasan Lindung
Cagar Alam Mandor

Arahan
Pengembanga
n
(II/B/3)

Penjelasan
Tahapan pengembangan II Cagar alam dan cagar
alam laut dalam rangka pengembangan
pengelolaan kawasan lindung nasional

Tabel 25 Kawasan Andalan di Kawasan Metropolitan Pontianak


Kawasan
Andalan
Kawasan
Pontianak dan
Sekitarnya

Arahan
Pengembanga
n
(II/A/2)
(I/D/2)
(I/F/2)
(II/E/2)

Penjelasan

Sektor Unggulan

Tahapan pengembangan II:


Pengembangan kawasan andalan
untuk pertanian
Tahapan pengembangan I:
Pengembangan kawasan andalan
untuk industri pengolahan
Tahapan pengembangan I:
Pengembangan kawasan andalan
untuk perikanan
Tahapan pengembangan II:
Pengembangan kawasan andalan
untuk pariwisata

Pertanian
Industri
Perikanan
Pariwisata

Tabel 26 Penetapan Kawasan Strategis Nasional di Kawasan Metropolitan Pontianak


Kawasan Strategis
Nasional
Kawasan Stasiun
Pengamat Dirgantara
Pontianak

Arahan
Pengembanga
n
(I/D/2)

Penjelasan
Tahapan pengembangan I: Pengembangan/
peningkatan kualitas kawasan

4.1.2 RTRWKota dan Kabupaten


Arahan pengembangan ruang kabupaten/kota baik baik berada di cakupan kawasan
Perkotaan Pontianak maupun sebagai hinterland kawasan Perkotaan Pontianakdsk,
dijabarkan sebagai berikut:

Tabel 27 Tinjauan Tujuan, Kebijakan Dan Strategi Penataan Ruang RTRW Kabupaten Kota di Metropolitan Pontianak
PERIHAL
Tujuan penataan ruang

Kebijakan penataan
ruang

KOTA PONTIANAK
Untuk mewujudkan kota perdagangan dan
jasa terdepan di Kalimantan yang aman,
nyaman, produktif dan berkelanjutan

1.
2.
3.

4.
5.

6.
7.

8.

Pemantapan fungsi dan peran kota


sebagai ibukota Provinsi Kalimantan
Barat dan Pusat Kegiatan Nasional (PKN)
Pengembangan pusat pusat kegiatan
kota secara hierarkis dan merata
Peningkatan aksesibilitas dan
transportasi yang dapat mendorong
pemerataan pembangunan,
meningkatkan keterkaitan antar pusat
kegiatan dan keterkaitan dengan
Kabupaten di sekitarnya
Peningkatan kualitas dan jangkauan
pelayanan prasarana perkotaan
Penetapan dan pengelolaan kawasan
lindung yang mampu memperhatikan
kelestarian dukungan fungsi lingkungan
hidup
Pengembangan kawasan perdagangan
dan jasa secara merata di pusat pusat
kegiatan kota
Penetapan kawasan strategis dari sudut
kepentingan ekonomi, sosial budaya,
pendayagunaan sumbe daya alam
dan/atau teknologi tinggi serta fungsi
dan daya dukung lingkungan hidup
Peningkatan fungsi kawasan untuk
pertahanan dan keamanan negara

KABUPATEN MEMPAWAH*

KABUPATEN KUBU RAYA*

untuk mewujudkan ruang wilayah Daerah


yang aman, nyaman, produktif dan
berkelanjutan yang berbasiskan sektor
pertanian, perikanan dan kelautan dengan
mengoptimalkan sumber daya alam,
sumber daya manusia serta teknologi untuk
mewujudkan masyarakat yang berkualitas
dan sejahtera.
1. meningkatkan sektor pertanian;
2. mengembangkan sektor perikanan dan
kelautan;
3. mengembangkan penataan ruang yang
memperhatikan perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup;
4. kebijakan pengembangan struktur
ruang;
5. kebijakan kawasan lindung;
6. kebijakan kawasan strategis Daerah; dan
7. memberikan aksesibilitas ke pusat
kegiatan, khususnya pusat produksi atau
pemasaran.

Mewujudkan ruang wilayah yang aman,


nyaman, produktif, berwawasan lingkungan
dan berkelanjutan yang berbasis pertanian
dan perikanan, dengan pengembangan
wilayah pesisir dan perkotaan sebagai
beranda depan Kalimantan Barat.
1.

2.
3.
4.
5.

6.
7.

8.
Strategi penataan ruang

1.

Strategi pemantapan fungsi dan peran


wilayah Kota sebagai Ibukota Provinsi
Kalimantan Barat, Pusat Kegiatan
Nasional, dan salah satu kawasan
strategis provinsi , terdiri atas:

1.

Strategi untuk peningkatan sektor


pertanian sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 6 huruf a meliputi:
a. meningkatkan kesejahteraan petani;
b. meningkatkan potensi pertanian

1.

pengembangan fungsi dan peningkatan


peran dari pusat-pusat kegiatan
dan/atau kawasan strategis dengan
memacu peningkatan kualitas dan
jangkauan pelayanan jaringan prasarana
wilayah;
pengembangan kawasan-kawasan yang
berbasis pertanian dengan konsep
agrobisnis dan agroindustri;
pengembangan kawasan-kawasan yang
berbasis perikanan;
penataan dan pengelolaan wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil;
pengembangan dan penataan kawasan
perkotaan sehingga menjadi kawasan
yang produktif, aman, nyaman, dan
berdaya saing sesuai potensi dan daya
dukung lingkungan;
peningkatan keterpaduan dan
keterkaitan antar kegiatan budi daya;
pemeliharaan, pelestarian dan
peningkatan fungsi dan daya dukung
lingkungan hidup melalui kajian
terhadap lingkungan, dalam rangka
penerapan pembangunan yang
berwawasan lingkungan dan
berkesinambungan; dan
peningkatan fungsi kawasan untuk
pertahanan dan keamanan negara.
Strategi untuk pengembangan fungsi
dan peningkatan peran dari pusat-pusat
kegiatan dan/atau kawasan strategis
dengan memacu peningkatan kualitas
dan jangkauan pelayanan jaringan

PERIHAL

KOTA PONTIANAK
a.

KABUPATEN MEMPAWAH*

mendorong kemudahan aksesibilitas


dengan prioritas komoditas unggulan;
pelayanan kegiatan skala regional;
dan
b. meningkatkan pembangunan sarana
c. Meningkatkan investasi usaha baru
prasarana utama dan lainnya yang
yang mendukung sektor pertanian.
mampu mendorong pertumbuhan
2. Strategi untuk mengembangkan sektor
ekonomi kawasan secara signifikan
perikanan dan kelautan sebagaimana
dan merata;
dimaksud dalam Pasal 6 huruf b,
c. mengarahkan kegiatan pelayanan
meliputi :
industri, perdagangan dan jasa pada
a. mengembangkan potensi perikanan
skala regional;
dan kelautan; dan
d. mendorong pertumbuhan sektorb. menata dan mengelola wilayah
sektor strategis yang menarik pangsa
pesisir dan pulau-pulau kecil.
regional dengan mengutamakan
3. Strategi untuk mengembangkan
perkembangan ekonomi lokal;
penataan ruang yang memperhatikan
e. mengembangkan fasilitas-fasilitas
perlindungan dan pengelolaan
berskala nasional dan regional
lingkungan hidup sebagaimana
2. Strategi pengembangan pusat-pusat
dimaksud dalam Pasal 6 huruf c,
pelayanan kota secara hirarkis dan
meliputi :
merata meliputi:
a. mengembangkan tata ruang makro
a. menetapkan struktur ruang
wilayah;
berdasarkan hirarki dan fungsi sistem
b. mengembangkan tata ruang mikro
pusat pelayanan kota dengan
wilayah;
menetapkan 1 (satu) pusat kota dan
c. mengembangkan Kawasan Strategis
7 (tujuh) Sub Pusat Pelayanan Kota
dengan menitikberatkan kepada
serta pusat-pusat lingkungan;
pengembangan potensi ekonomi,
b. menghubungkan antar Sub Pusat
pemberdayaan potensi masyarakat
Pelayanan Kota dan antara masinglokal dengan tetap memperhatikan
masing Sub Pusat Pelayanan Kota
aspek kelestarian lingkungan, serta
dengan pusat kota melalui jaringan
penerapan sistem insentif dan
jalan berjenjang dengan pola
disinsentif;
pergerakan merata; dan
d. mengembangkan sarana dan
c. mengembangkan jaringan pusat kota,
prasarana wilayah;
Sub Pusat Pelayanan Kota, dan pusat
e. mengelola dan memantapkan
lingkungan yang berhirarki dan
kawasan lindung;
tersebar secara berimbang dan saling
f. mengembangkan kawasan budidaya
terkait menjadi satu kesatuan sistem
sesuai dengan daya dukung
kota.
lingkungan;
3. Strategi peningkatan aksesibilitas dan
g. membangun dan mengembangkan
transportasi yang dapat mendorong
fasilitas pelayanan wilayah;
pemerataan pembangunan,
h. mengembangkan potensi
meningkatkan keterkaitan antar pusat
perekonomian daerah melalui
kegiatan dan keterkaitan dengan
promosi, investasi, aplikasi teknologi,
Kabupaten di sekitarnya meliputi:
penciptaan iklim usaha yang baik,

KABUPATEN KUBU RAYA*


prasarana wilayah meliputi:
a. menetapkan pola pengembangan
sistem pusat-pusat pertumbuhan
wilayah sebagai dasar untuk
mendistribusikan berbagai sarana
dan prasarana pengembangan
wilayah secara proporsional dan
merata;
b. meningkatkan aksesibilitas antar
kawasan perkotaan, antara kawasan
perkotaan dan kawasan perdesaan,
serta antara kawasan perkotaan dan
kawasan strategis yang memerlukan
aksesibilitas untuk percepatan
perkembangannya terutama
kawasan-kawasan yang memiliki nilai
strategis dari sudut kepentingan
ekonomi yang berpengaruh terhadap
pertumbuhan ekonomi kabupaten;
c. mengembangkan pusat pertumbuhan
baru di kawasan yang belum
terlayani atau relatif jauh dari pusat
pertumbuhan yang telah ada dalam
rangka mempercepat upaya
pemerataan pelayanan dan
peningkatan kualitas sumber daya
manusia melalui peningkatan
pelayanan kesehatan dan pendidikan
baik formal maupun informal;
d. mendorong perkembangan kawasan
perkotaan dan pusat pertumbuhan
lainnya untuk peningkatan
keefektifan dan efisiensi pelayanan
terhadap wilayah di sekitarnya yang
lebih lanjut dapat mendorong
perkembangan wilayah perdesaan;
e. meningkatkan jangkauan dan kualitas
jaringan prasarana dan mewujudkan
keterpaduan pelayanan transportasi
darat, laut, dan udara hingga
memberikan pelayanan yang optimal
terhadap daerah-daerah terpencil
atau terisolir dengan diiringi

PERIHAL

KOTA PONTIANAK
a.

KABUPATEN MEMPAWAH*

mengembangkan sistem jaringan


serta pemberdayaan usaha ekonomi
jalan terpadu di dalam kota yang
mikro yang terintegrasi dengan
terintegrasi dengan jaringan jalan
sistem ekonomi makro;
antarwilayah dan antarsistem pusat
i. melestarikan dan merehabilitasi
pelayanan;
kawasan rawan bencana alam; dan
b. mendukung pengembangan tiga
j. menerapkan pengendalian
bagian kota yang terpisah oleh
pemanfaatan ruang.
Sungai Kapuas dan Sungai Landak
dengan jalan lingkar dan jembatan
4. Strategi pengembangan struktur ruang
penyeberangan;
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6
c. menata kembali sistem angkutan
huruf d, meliputi :
umum kota;
a. pengembangan pusat-pusat
d. mengembangkan efektivitas dan
pelayanan guna mendorong
efisiensi sistem transportasi sungai
pertumbuhan wilayah dan pusatdan penyeberangan; dan
pusat permukiman disertai
e. mengembangkan jaringan jalan yang
pemerataan secara seimbang, guna
sejajar dengan sempadan sungai dan
menggerakkan perkembangan
parit-parit besar untuk memudahkan
pertanian (dalam arti luas) dan
inspeksi dan pemeliharaan sungai
perikanan dan kelautan; dan
dan parit.
b. penyediaan sarana-prasarana
4. Strategi peningkatan kualitas dan
wilayah untuk lebih mendorong
jangkauan pelayanan prasarana
investasi produktif sesuai kebutuhan
Perkotaan meliputi:
masyarakat melalui pengembangan
a. mengembangkan integrasi sistem
dan penyediaan prasarana
prasarana terpadu antarwilayah dan
telekomunikasi, energi, sumber daya
perkotaan terdiri atas sistem jaringan
air, dan prasarana lingkungan.
energi/kelistrikan, sistem jaringan
5. Strategi Kawasan Lindung sebagaimana
telekomunikasi, sistem jaringan
dimaksud dalam Pasal 6 huruf e,
sumber daya air, sistem prasarana
meliputi :
penyediaan air minum kota, sistem
a. mengembangkan kawasan yang
pengelolaan air limbah kota, sistem
memberikan perlindungan pada
persampahan kota, sistem drainase
kawasan bawahannya sebagai hutan
kota, penyediaan dan pemanfaatan
lindung dan kawasan resapan air
prasarana dan sarana jaringan jalan
dengannya dengan menjaga fungsi
pejalan kaki, serta jalur evakuasi
perlindungan pada kawasan tersebut
bencana secara terpadu dengan
dengan tidak mengijinkan untuk
berbasis kerjasama dan kemitraan
peruntukan budidaya yang dapat
antara pemerintah, swasta, dan
merusak kawasan lindung ini
masyarakat;
sedangkan pada kawasan yang telah
b. mengembangkan prasarana sanitasi
mengalami perubahan maka
kota dengan mempertimbangkan
dilakukan pengembalian fungsi
daya dukung, daya tampung kawasan
perlindungan baik sebagai hutan
dan kualitas air, tanah dan udara;dan
lindung maupun sebagai kawasan

KABUPATEN KUBU RAYA*


peningkatan kualitas dan kuantitas
sarana perhubungan;
f. meningkatkan dan menjaga
kelancaran transportasi yang
menghubungkan daerah pesisir dan
daerah pedalaman dalam rangka
mendukung upaya peningkatan
kegiatan produksi dan memperlancar
kegiatan pemasaran hasil produksi
serta mempersiapkan secara dini
jalur utama evakuasi bencana;
g. mengembangkan sistem transportasi
air dan pembangunan/peningkatan
dermaga-dermaga di wilayah bagian
Tengah, Barat, Utara, dan Selatan.
h. meningkatkan kualitas jaringan
prasarana serta mewujudkan
keterpaduan sistem jaringan sumber
daya air;
i. meningkatkan pelayanan air bersih
dengan mempercepat pembangunan
instalasi pendistribusian terutama
pada daerah yang telah memiliki
sumber air baku berkualitas baik
yang dapat didistribusikan secara
gravitasi;
j. meningkatkan jangkauan dan kualitas
jaringan kelistrikan serta mewujudkan
keterpaduan sistem penyediaan
tenaga listrik secara interkoneksi
yang menghubungkan Kabupaten
Kubu Raya dengan kabupaten lainnya
yang berbatasan;
k. mengembangkan energi alternatif
bagi wilayah yang sulit dijangkau dan
terisolir; dan
l. mendorong pengembangan
prasarana telekomunikasi terutama di
kawasan terisolir.
2. Strategi untuk pengembangan kawasankawasan yang berbasis pertanian
dengan konsep agrobisnis dan
agroindustri meliputi:

PERIHAL

KOTA PONTIANAK

KABUPATEN MEMPAWAH*

meningkatkan kualitas dan


keterpaduan sistem jaringan sumber
daya air sebagai upaya pengendalian
banjir dan penyediaan sumber air
baku.
5. Strategi penetapan dan pengelolaan
kawasan lindung yang mampu
memperhatikan kelestarian dukungan
fungsi lingkungan hidup meliputi :
a. mengembangkan ruang terbuka hijau
(RTH) kota paling sedikit 30% dari
luas wilayah kota;
b. menetapkan kawasan berfungsi
lindung;
c. mengembalikan fungsi kawasan
lindung yang telah beralih fungsi;
d. mempertahankan dan merevitalisasi
kawasan cagar budaya;dan
e. mengembangkan kerjasama dengan
Pemerintahan Kabupaten Kubu Raya
dalam rangka meningkatkan fungsi
lindung.
6. Strategi pengembangan kawasan
perdagangan dan jasa secara merata di
pusat-pusat kegiatan kota , dilaksanakan
dengan strategi sebagai berikut:
a. mengembangkan perdagangan dan
jasa skala regional pulau Kalimantan
di pusat kota dengan dilengkapi
dengan ruang terbuka, sarana dan
prasarana serta aktifitas yang
mendukung kegiatan pariwisata ;
b. mengembangkan ruang terbuka dan
jalur pejalan kaki dalam mewujudkan
konektivitas objek-objek
perdagangan, jasa dan rekreasi di
pusat kota dan tepian Sungai Kapuas;
c. menyediakan ruang bagi kegiatan
perdagangan informal yang
bersinergi dengan kegiatan
perdagangan formal;
d. mengembangkan kegiatan
perdagangan eceran dan jasa

resapan air;
mengembangkan kawasan
perlindungan setempat dengan
pembatasan kegiatan yang tidak
berkaitan dengan fungsi ini guna
perlindungan perairan, sedangkan
fungsi tambahan yang tidak
mengganggu fungsi ini tetap diijinkan
sejauh tidak mengganggu fungsi
perlindungan setempat seperti
pengembangan wisata ekologi di
pesisir dan tepi sungai, fungsi
transportasi, hankam dsb;
c. mengembangkan kawasan cagar
budaya dan ilmu pengetahuan
dengan pengamanan kawasan
dan/atau benda cagar budaya dan
sejarah dengan melindungi tempat
serta ruang di sekitar bangunan
bernilai sejarah atau situs purbakala
juga pemberian insentif bagi yang
melestarikan benda cagar budaya;
dan
d. mengembangkan kawasan rawan
bencana alam dengan menghindari
kawasan yang rawan terhadap
bencana alam banjir, longsor dan
bencana alam lainnya sebagai
kawasan terbangun.
6. Strategi Kawasan Strategis Kabupaten
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6
huruf f, meliputi :
a. mengembangkan kawasan untuk
kepentingan pertumbuhan ekonomi,
melalui kerjasama dalam penyediaan
tanah untuk pengembangan kegiatan
industri skala besar yang ditunjang
penyediaan sarana dan prasarana
penunjang kegiatan industri serta
penyediaan infrastruktur untuk
mendorong pengembangan
pertumbuhan ekonomi wilayah
Kabupaten Pontianak; dan

c.

b.

KABUPATEN KUBU RAYA*


a.

mengembangkan sentra-sentra
produksi hasil pertanian, dan
pengolahan hasil pertanian, serta
pemasaran baik level desa,
perkotaan maupun wilayah;
b. mengembangkan pusat permukiman
perkotaan dan perdesaan yang saling
terkait dan membentuk kesatuan
ekonomi (agropolitan);
c. menetapkan kawasan agropolitan;
d. meningkatkan sarana dan prasarana
penunjang kawasan agropolitan; dan
e. mengembangkan dan melestarikan
kawasan budi daya pertanian pangan
untuk mewujudkan ketahanan
pangan nasional disertai dengan
upaya untuk peningkatan produksi
dan produktivitas pertanian serta
pengembangan agroindustri dan
agrobisnis di kawasan perdesaan.
3. Strategi untuk pengembangan kawasankawasan yang berbasis perikanan,
meliputi:
a. mengembangkan kawasan
minapolitan;
b. mengembangkan perikanan tangkap;
c. mengembangkan budidaya
perikanan;
d. mengembangkan pengelolaan hasil
perikanan;dan
e. meningkatkan sarana dan prasarana
penunjang kawasan minapolitan.
4. Strategi untuk penataan dan
pengelolaan wilayah pesisir dan pulaupulau kecil, sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 huruf d meliputi:
a. menyusun Rencana Strategis Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
(RSWP3K) Kabupaten Kubu Raya;
b. menyusun Rencana Zonasi Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
(RZWP3K) Kabupaten Kubu Raya;
c. menyusun Rencana Pengelolaan

PERIHAL

KOTA PONTIANAK
komersial berskala pelayanan lokal di
setiap subpusat pelayan kota dan
pusat pelayanan lingkungan; dan
e. merevitalisasi kawasan perdagangan
dan jasa yang mengalami penurunan
fungsi.
7. Strategi penetapan kawasan strategis
dari sudut kepentingan ekonomi, sosial
budaya, pendayagunaan sumber daya
alam dan/atau teknologi tinggi serta
fungsi dan daya dukung lingkungan
hidup meliputi:
a. mengalokasikan ruang untuk
kegiatan industri produk lokal untuk
mendorong penguatan ekonomi
kreatif;
b. menetapkan situs budaya dan
bersejarah sebagai cagar budaya
yang dapat dikembangkan menjadi
objek wisata;
c. mengembangkan kemiatan dan
kawasan wisata dan budaya yang
menjadi salah satu daya tarik kota;
d. mengembangkan kegiatan
pariwisata, rekreasi dan perlindungan
alam di kawasan pinggiran dan
badan Sungai Kapuas dengan konsep
waterfront city;
e. mengembangkan kawasan sentra
agribisnis; dan
f. memelihara dan mewujudan
kelestarian fungsi lingkungan hidup.
8. Strategi Peningkatan fungsi kawasan
pertahanan dan keamanan negara
meliputi:
a. mendukung penatapan kawasan
peruntukan pertahanan dan
keamanan;
b. mengembangkan budi daya secara
selektif di dalam dan di sekitar
kawasan untuk menjaga fungsi
pertahanan dan keamanan; dan
c. turut serta memelihara dan menjaga

KABUPATEN MEMPAWAH*

KABUPATEN KUBU RAYA*

mengembangkan kawasan untuk


kepentingan sosio-budaya, melalui
upaya pelestarian kawasan baik
sebagai benda cagar budaya dan
kawasan sekitarnya maupun kawasan
permukiman yang memiliki nilai
budaya tinggi sekaligus sebagai
identitas kawasan.
7. Strategi untuk memberikan aksesibilitas
ke pusat kegiatan, khususnya pusat
produksi atau pemasaran sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6 huruf g,
meliputi :
a. pengembangan aksesibilitas
khususnya daerah atau wilayah yang
belum terlayani untuk menuju ke
pusat kegiatan; dan
b. peningkatan kualitas jaringan
prasarana jalan agar dapat
memperlancar pola aliran barang dari
pusat produksi menuju ke
pemasaran.

Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil


(RPWP3K) Kabupaten Kubu Raya;
d. menyusun Rencana Aksi Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
(RSWP3K) Kabupaten Kubu Raya; dan
e. mengembangkan wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil dengan pendekatan
gugus pulau untuk meningkatkan
daya saing dan mewujudkan skala
ekonomi.
5. Strategi untuk pengembangan dan
penataan kawasan perkotaan sehingga
menjadi kawasan yang produktif, aman,
nyaman, dan berdaya saing sesuai
potensi dan daya dukung lingkungan,
meliputi:
a. menetapkan kawasan perkotaan;
b. menetapkan kawasan metropolitan;
c. menetapkan kawasan perumahan,
industri;
d. menyusun peraturan zonasi (zoning
regulation); dan
e. mendorong optimalisasi
perencanaan, pemanfaatan, dan
pengendalian pemanfaatan ruang
kota.
6. Strategi untuk peningkatan keterpaduan
dan keterkaitan antar kegiatan
budidaya, meliputi:
a. menetapkan kawasan budi daya yang
memiliki nilai strategis serta
pemanfaatan sumber daya alam
secara sinergis untuk mewujudkan
keseimbangan pemanfaatan ruang
wilayah;
b. memberikan arahan pemanfaatan
ruang untuk pengembangan kegiatan
budi daya unggulan khususnya
perkebunan dan pertambangan serta
kegiatan budi daya yang potensial
berkembang selaras dengan strategi
pengembangan struktur ruang agar
sinergis dan berkelanjutan untuk

b.

PERIHAL

KOTA PONTIANAK
aset-aset pertahanan dan keamanan.

KABUPATEN MEMPAWAH*

KABUPATEN KUBU RAYA*


mendorong perkembangan
perekonomian kawasan dan wilayah
sekitarnya;
c. membatasi perkembangan budi daya
di kawasan rawan bencana untuk
meminimalkan potensi kejadian
bencana dan potensi kerugian akibat
bencana;
d. mengembangkan ruang terbuka hijau
dengan luas paling sedikit 30% dari
luas kawasan perkotaan; dan
e. mengendalikan kegiatan budidaya di
wilayah pesisir dan pulau - pulau kecil
agar eksistensi pulaupulau tersebut
dapat dipertahankan.
7. Strategi untuk pemeliharaan, pelestarian
dan peningkatan fungsi, daya dukung,
dan daya tampung lingkungan hidup
melalui kajian terhadap lingkungan
dalam rangka penerapan pembangunan
yang berwawasan lingkungan dan
berkesinambungan meliputi:
a. menetapkan kawasan-kawasan
berfungsi lindung, yang meliputi
kawasan yang memberikan
perlindungan kawasan bawahannya,
kawasan perlindungan setempat,
serta kawasan lindung lainnya guna
menjamin terciptanya pembangunan
berkelanjutan yang berwawasan
lingkungan;
b. mengembalikan dan meningkatkan
fungsi kawasan lindung yang telah
menurun akibat pengembangan
kegiatan budi daya, dalam rangka
mewujudkan dan memelihara
keseimbangan ekosistem wilayah;
c. mewujudkan kawasan hutan dengan
luas paling sedikit 30% (tiga puluh
persen) dari luasnya sesuai dengan
kondisi ekosistemnya;
d. menyelenggarakan upaya terpadu
untuk melestarikan fungsi lingkungan

PERIHAL

KOTA PONTIANAK

KABUPATEN MEMPAWAH*

KABUPATEN KUBU RAYA*


hidup;
melindungi kemampuan lingkungan
hidup dari tekanan perubahan
dan/atau dampak negatif yang
ditimbulkan oleh suatu kegiatan agar
tetap mampu mendukung
perikehidupan manusia dan makhluk
hidup lainnya;
f. f. mencegah terjadinya tindakan yang
dapat secara langsung atau tidak
langsung menimbulkan perubahan
sifat fisik lingkungan yang
mengakibatkan lingkungan hidup
tidak berfungsi dalam menunjang
pembangunan yang berkelanjutan;
g. mengendalikan pemanfaatan sumber
daya alam secara bijaksana untuk
menjamin kepentingan generasi
masa kini dan generasi masa depan;
h. mengelola sumber daya alam tak
terbarukan untuk menjamin
pemanfaatannya secara bijaksana
dan sumber daya alam yang
terbarukan untuk menjamin
kesinambungan ketersediaannya
dengan tetap memelihara dan
meningkatkan kualitas nilai serta
keanekaragamannya;
i. mengembangkan kegiatan budidaya
yang mempunyai daya adaptasi
bencana di kawasan rawan bencana;
j. menetapkan kawasan strategis
berfungsi lindung;
k. melestarikan keaslian fisik serta
mempertahankan keseimbangan
ekosistem di kawasan strategis
berfungsi lindung;
l. mencegah pemanfaatan ruang di
kawasan strategis yang berpotensi
mengurangi fungsi lindung kawasan;
m. membatasi pengembangan
prasarana dan sarana di dalam dan di
sekitar kawasan strategis yang dapat
e.

PERIHAL

KOTA PONTIANAK

KABUPATEN MEMPAWAH*

KABUPATEN KUBU RAYA*


memicu perkembangan kegiatan budi
daya yang dapat menggangggu
fungsi lindung kawasan; dan
n. mengembangkan kegiatan budidaya
tidak terbangun di sekitar kawasan
strategis sebagai zona penyangga
yang memisahkan kawasan strategis
berfungsi lindung dengan kawasan
budidaya terbangun.
8. Strategi untuk peningkatan fungsi
kawasan untuk pertahanan dan
keamanan Negara sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5 huruf h
meliputi:
a. mengembangkan kawasan lindung
dan/atau kawasan budidaya tidak
terbangun di sekitar aset-aset
pertahanan dan keamanan; dan
b. mengembangkan kegiatan budidaya
secara selektif di dalam dan di sekitar
aset-aset pertahanan untuk menjaga
fungsi pertahanan dan keamanan;

Tabel 28Rencana Struktur Ruang RTRW Kabupaten Kota di Metropolitan Pontianak


NO
A
1

PERIHAL
RENCANA STRUKTUR
RUANG
Rencana sistem pusat
pelayanan kota/ pusat kegiatan
Rencana sistem pusat
a.
pelayanan kota meliputi:
a. Pusat pelayanan kota (PPK),
b. Sub pusat pelayanan kota
(SPPK) dan
c. Pusat lingkungan (PL).

KOTA PONTIANAK

PPK (pusat pelayanan kota) meliputi


a.
KelurahanMariana, Tengah, Darat
Sekip, sebagian Kelurahan Benua
Melayu Daratdi Kecamatan Pontianak
Kota, sebagian Kelurahan Benua
Melayu Laut,Kelurahan Akcaya,
sebagian Kelurahan Parit Tokaya di
KecamatanPontianak Selatan, serta
sebagian Kelurahan Siantan Tengah
b.
DiKecamatan Pontianak Utara dan

KABUPATEN MEMPAWAH

PKW, yaitu Kota Mempawah


(Kecamatan Mempawah Hilir dan
Kecamatan Mempawah Timur)
dengan fungsi sebagai pusat jasa
pelayanan pemerintahan skala
kabupaten, pendidikan, kesehatan,
objek wisata skala kota dan
permukiman.
PKL, meliputi Kecamatan Sungai
Pinyuh, Sungai Kunyit dan Anjongan

KABUPATEN KUBU RAYA

a.
b.
c.

PKWp di Kawasan Perkotaan Sungai


Raya-Sungai Ambawang;
PKL meliputi Sungai Kakap, Rasau
Jaya, Kubu, dan Batu Ampar;
PPK meliputi Padang Tikar II
(Kecamatan Batu Ampar),Terentang
Hilir (Kecamatan Terentang), Selat
Remis (Kecamatan Teluk Pakedai),
danKuala Mandor B (Kecamatan Kuala
Mandor B); dan

NO

PERIHAL

KOTA PONTIANAK
Kelurahan Dalam Bugis di
KecamatanPontianak Timur yang
memiliki fungsi-fungsi yang meliputi :
1) perdagangan dan jasa;
2) perkantoran;
3) pariwisata skala regional;
4) simpul transportasi regional;dan
c.
5) perumahan kepadatan tinggi.
b.

Sub pusat pelayanan kota meliputi:


6) Sub PPK I di Kelurahan Benua
Melayu Darat dan Benua Melayu
d.
LautKecamatan Pontianak Selatan
dan Kelurahan Bansir Laut
KecamatanPontianak Tenggara,
memiliki fungsi-fungsi yang
meliputi;
pusat perdagangan skala kota,
pusat pemerintahan kecamatan
simpul transportasi regional
pendidikan menengah - tinggi
pelayanan kesehatan skala
regional
perumahan kepadatan padat sedang
7) Sub PPK II di Kelurahan Sungai
Bangkong Kecamatan Pontianak
Kota dan Kelurahan Akcaya dan
Kota Baru Kecamatan Pontianak
Selatan,memiliki fungsi-fungsi
yang meliputi;
pusat perdagangan skala kota
perkantoran
budaya dan olah raga
pendidikan menengah dan
tinggi
pelayanan kesehatan
perumahan kepadatan sedangtinggi
8) Sub PPK III di Kelurahan Sungai
Jawi dan Mariana
KecamatanPontianak Kota dan
Kelurahan Sungai Jawi Dalam

KABUPATEN MEMPAWAH
dengan fungsi sebagai pusat kegiatan d.
ekonomi, perdagangan dan jasa,
pusat kegiatan industri, permukiman,
objek wisata skala kecamatan,
pertanian tanaman pangan dan
hortikultura.
PPK, meliputi Kecamatan Siantan,
Segedong dan Toho dengan fungsi
sebagai pusat kegiatan industri,
pertanian tanaman pangan,
hortikultura dan permukiman.
PPL, meliputi Pentek, Takong
(sepang), Semudun, Sungai Bakau
Kecil, Peniraman, Sungai Purun Kecil,
Wajok Hulu dan Sembora dengan
fungsi sebagai pusat pemerintahan
skala lokal, pendidikan skala lokal dan
pusat pengumpul/ pengolahan skala
lokal.

KABUPATEN KUBU RAYA


PPL meliputi: Sungai Kerawang (Kec.
Batu Ampar), Sungai Ambangah (Kec.
Sungai Raya), Sungai Rengas (Kec.
Sungai Kakap) dan Korek (Kec. Sungai
Ambawang).

NO

PERIHAL

KOTA PONTIANAK
KecamatanPontianak Barat,
memiliki fungsi-fungsi yang
meliputi ;
perdagangan dan jasa
pendidikan menengah dan
tinggi
pelayanan kesehatan
perumahan kepadatan sedang
perkantoran
9) Sub PPK IV di di kelurahan Sungai
Jawi Luar Kecamatan
PontianakBarat memiliki fungsifungsi yang meliputi ;
perdagangan dan jasa
pendidikan menengah dan
tinggi
pelayanan kesehatan
perumahan kepadatan rendah
sedang
perkantoran
10) Sub PPK V di Kelurahan Siantan
Hulu Kecamatan Pontianak
Utaramemiliki fungsi-fungsi yang
meliputi ;
perdagangan dan jasa
pendidikan menengah dan
tinggi
pelayanan kesehatan
perumahan kepadatan rendah
sedang
perkantoran
11) Sub PPK VI di Kelurahan Siantan
Hilir Kecamatan Pontianak
Utaramemiliki fungsi-fungsi yang
meliputi ;
perdagangan dan jasa
pariwisata
pelayanan kesehatan dan
pendidikan
perumahan kepadatan rendah
sedang
perkantoran

KABUPATEN MEMPAWAH

KABUPATEN KUBU RAYA

NO

PERIHAL

KOTA PONTIANAK

KABUPATEN MEMPAWAH

KABUPATEN KUBU RAYA

12) Sub PPK VII Kelurahan Tanjung


Hulu dan Tanjung Hilir
KecamatanPontianak Timur
memiliki fungsi-fungsi yang
meliputi ;
perdagangan dan jasa
pariwisata
pelayanan kesehatan dan
pendidikan
perumahan kepadatan rendah
sedang
perkantoran
c. Pusat Lingkunganberfungsi sebagai
pusat perdagangan dan jasa skala
lingkungan, yangtersebar di seluruh
wilayah kota
2
2.1
2.1.1
a

Rencana sistem jaringan


prasarana kota
Rencana sistem prasarana
utama
Rencana sistem jaringan
transportasi darat
Jaringan lalu lintas dan
angkutan jalan
1. jaringan jalan

a.

Jaringan Primer, meliputi:


a. jaringan jalan arteri primer,
1) Jaringan jalan arteri primer
melintasi :
meliputi Jalan Pak Kasih,
1) ruas jalan Sungai Pinyuh Sebadu;
JalanRahadi Usman, Jalan
dan
Tanjungpura, Jalan Pahlawan, Jalan
2) ruas jalan Sungai Pinyuh
SultanHamid II, Jalan Gusti Situt
Mempawah Sungai Kunyit
Mahmud, Jalan Khatulistiwa,
Sungai Duri.
JalanVeteran, sebagian Jalan
b. jaringan jalan kolektor primer K1 yang
Ahmad Yani, Jalan Ya M. Sabran
dipersiapkan untuk ditingkatkan
danJalan Kom. Yos Sudarso;
fungsinya menjadi jalan arteri primer
2) Jaringan jalan kolektor primer yaitu
meliputi :
ruas Jalan H.R.A Rachman Jalan
1) ruas jalan Sungai Pinyuh Bts Kota
Husein Hamzah Jalan
Mempawah;
Hassanuddin, ruas Jalan
2) ruas jalan Daeng Menambon;
Imambonjol Adi Sucipto, dan ruas
3) ruas jalan Raden Kusno;
Jalan Tanjung Raya II;
4) ruas jalan Gst Lelanang (Jln.
3) Peningkatan ruas jalan
Merdeka);
Tanjungpura Jalan Imam Bonjol
5) ruas jalan Bts Kota Mempawah
AdiSucipto untuk meningkatkan
Sungai Duri;

a.

jaringan jalan arteri primer meliputi:


1) Jalan Supadio; dan
2) Jalan Batas Kota Pontianak Tayan.
b. jaringan jalan kolektor primer
meliputi:
1) Jalan Adisucipto;
2) Jalan penghubung Sungai DurianRasau Jaya;
3) Jalan penghubung Pontianak
Sungai Raya Kayong Utara; dan
4) Jalan Trans Kalimantan Km 20
Landak.
c. jaringan jalan strategis provinsi
meliputi:
1) Sungai Kakap Pontianak; dan
2) Sungai Raya Pontianak Sungai
Kakap (ORR).
d. jaringan jalan lokal primer meliputi:
1) Antar PKL:

NO

PERIHAL

KOTA PONTIANAK
aksesibilitas angkutan barang
skalaregional.
b. Jaringan sekunder, meliputi:
1) Jaringan jalan arteri sekunder
meliputi :
ruas jalan Diponegoro Jalan
Gusti Sulung Lelanang
jalanSutan Syahrir;
ruas jalan K.H Wahid Hasyim
jalan Jendral Ahmad Yani;
ruas jalan Gajahmada - jalan
Pattimura jalan Zainuddin;
ruas jalan Teuku Umar; dan
peningkatan jaringan jalan
lingkar dalam Pontianak
meliputijalan Karet jalan
Berdikari 2 jalan Ampera
jalan HarapanJaya jalan
Sungai Raya Dalam.
2) Jaringan jalan kolektor sekunder
(K3) meliputi :
ruas jalan Jeranding A Rahman
ruas jalan RE Martadinata
ruas jalan Tabrani Akhmad
ruas jalan Dr. Wahidin
Sudirohusodo
ruas jalan Dr. Sutomo
ruas jalan Gusti Hamzah
ruas jalan Putri Dara Nante
ruas jalan Uray Bawadi
ruas jalan Dr. Sutomo
ruas jalan Danau Sentarum
ruas jalan Ali Anyang
ruas jalan Johar Jendral Urip
ruas jalan M. Sohor Gusti
Johan Idrus
ruas jalan Letjend Sutoyo
ruas jalan Prof. M. Yamin
ruas jalan Purnama II
ruas jalan Wonobaru Tani
Makmur
ruas jalan Karya Tani

KABUPATEN MEMPAWAH

KABUPATEN KUBU RAYA

6) ruas jalan Wan Salim Sejegi


Parit Raden Sungai Kunyit Hulu
Bukit Batu Sungai Duri II;
7) ruas jalan Sungai Pinyuh
Anjongan; dan
8) ruas jalan Anjongan Simpang
Tiga.
c. jaringan jalan kolektor primer K2 yang
ada di Kabupaten Pontianak yaitu
ruas jalan Anjongan Karangan;
d. jaringan jalan lokal primer yang
dipersiapkan untuk pengembangan
dan peningkatan fungsi yang ada di
Kabupaten Pontianak, terdiri atas :
1) Parit Bugis Peniti Besar Mandor;
2) Jungkat Peniti Dalam Mandor;
3) Peniti Besar Sungai Purun Kecil;
4) Purun Kecil Sungai Pinyuh;
5) Sungai Pinyuh Sungai Bakau
Besar;
6) Antibar Anjungan ;
7) Pasir Pentek;
8) Sungai Duri II Amawang;
9) Sungai Limau Semayar;
10) Toho Pentek Suak Barangan
Karangan;
11) Sembora Benuang Sepang;
12) Kepayang Anjongan Melancar;
dan
13) Lubuk Ubah Aris.

Jalan penghubung Rasau Jaya


Parit Sarim (Kec. Sungai Kakap);
Rasau Jaya Sungai Bulan
Jangkang I Jangkang II Teluk
Nangka Kubu;
Kubu Teluk Kelang Padang
Tikar II Batu Ampar; dan
Wonodadi Kuala Dua Rasau
Jaya.
2) PKWp/ PKL PPK
Ambawang - Mega Timur
Kuala Mandor B;
Kuala Dua Suka Lanting
Teluk Bayur Teluk Empening
Permata Terentang Hilir
Radak I Radak II;
Jalan Sungai Raya Dalam
Pasar Punggur Parit Sarem
Sungai Nipah Selat Remis
Teluk Gelam;
Gunung Ambawang Air Putih
Pinang Luar Sungai Deras
Sungai Nipah;
Teluk Nibung Sungai
Kerawang;
Teluk Nangka Sungai Dungun
Teluk Bayur; dan
Kapur Kumpai Tebang
Kacang Sungai Asam Kali
Ampok Teluk Empening
Permata Terentang Hilir
Terentang Hulu.

e.

jaringan jalan lokal sekunder yang


akan dikembangkan meliputi:
1) Kuala Mandor B Retok
Sebangki;
2) Jalan Ampera Durian- Pasak
Piang Korek;
3) Rasau Jaya Bintang Mas;
4) Sungai Kakap Pasa Punggur;
5) Jalan Lingkar Pasar Kakap
Tanjung Intan Sungai Kupah;

NO

PERIHAL

KOTA PONTIANAK
ruas jalan Parit Haji Husein II Jalan Parit Haji Husein III/Padat
Karya
ruas jalan Sejahtera
ruas jalan Daya Nasional
ruas jalan Panglima Aim
ruas jalan 28 Oktober
ruas jalan Budi Utomo
ruas jalan Parit Wan Salim
ruas jalan Merdeka
3) Pengembangan jaringan jalan
meliputi :
pembangunan jalan yang
sejajar dengan sisi luar dari
sempadanSungai Jawi dan
Sungai Raya;
ruas jalan Parit Pangeran-jalan
Parit Wan Salim jalan
TelukBetung jalan Sungai
Selamat;
ruas jalan Kebangkitan Nasional
jalan Panca Bakhti jalan
Flora;
jaringan jalan lingkar dalam
Pontianak;
ruas jalan Parit H.Husin II;
ruas jalan 28 Oktober; dan
ruas jalan Pemda.
4) Peningkatan jembatan meliputi :
perawatan jembatan Kapuas I
dan jembatan Landak;dan
perawatan jembatan di atas
Parit Primer.
5) Pengembangan jembatan
meliputi :
jembatan Bardan Hadi
Terminal Siantan di Kecamatan
PontianakKota;dan
jembatan di ruas Jl. Karet dan
Batu Layang Kecamatan
PontianakUtara.
Jembatan paralel jembatan

KABUPATEN MEMPAWAH

KABUPATEN KUBU RAYA


6) Cek Mina Parit Keladi Jalan
Propinsi KM 9 Ptk;
7) Pasar Punggur Kota Baru;
8) Sungai Itik Jeruju Besar Nipah
Kuning;
9) Medan Seri Padang Tikar Selat
Syekh;
10) Jalan Parit Bugis;
11) Jalan Wonodadi I;
12) Jalan Manunggal;
13) Jalan Parit Bugis Teluk Mulus;
14) Jalan Gertak Kuning Kampung
Jawa;
15) Jalan Lingkar Pasar Baru Rasau
Jaya;
16) Kampung Baru Olak-olak Kubu;
dan
17) Olak-olak Kubu Ambawang.

NO

PERIHAL
2.

jaringan prasarana jalan

3.

jaringan pelayanan jalan

KOTA PONTIANAK

KABUPATEN MEMPAWAH

KABUPATEN KUBU RAYA

Kapuas I dan jembatan Landak.


Terminal penumpang, meliputi;
a. Rencana pengembangan jaringan
a. Rencana pengembangan jaringan
1) Peningkatan terminal penumpang
prasarana lalu lintas dan angkutan
prasarana lalu lintas sebagaimana
Tipe B di Terminal Batu Layang di
jalan meliputi :
dimaksud pada ayat (1) huruf b
kecamatan Pontianak Utara;
1) pengembangan terminal angkutan
meliputi:
2) Peningkatan terminal penumpang
penumpang tipe B di Kecamatan
1) terminal angkutan penumpang
tipe C Nipah Kuning di Kecamatan
Mempawah Hilir dan Sungai
tipe A yaitu Terminal ALBN di
Pontianak Barat;
Pinyuh;
Kecamatan Sungai Ambawang;
3) Peningkatan terminal penumpang
2) pengembangan terminal angkutan
2) terminal tipe B di Sungai Durian
tipe C Parit Mayor di
penumpang tipe C di Kecamatan
(Kecamatan Sungai Raya);
KecamatanPontianak timur;
Siantan, Toho, Segedong,
3) terminal tipe C di Sungai Raya
4) Peningkatan terminal penumpang
Anjongan, Sadaniang dan Sungai
(Kecamatan Sungai Raya), Rasau
tipe C penumpang Pasar Dahlia di
Kunyit; dan
Jaya Umum (Kecamata Rasau
Kecamatan Pontianak Barat;
3) pengembangan terminal barang di
Jaya), Sungai Kakap dan Punggur
5) Peningkatan terminal penumpang
Kecamatan Sungai Kunyit.
(Kecamatan Sungai Kakap);
tipe C Pal Lima di Kecamatan
4) terminal tipe C yang akan
Pontianak Barat;
dikembangkan yaitu di Kubu Padi
6) Peningkatan terminal penumpang
dan Kuala Mandor B (Kecamatan
tipe C Harapan Jaya di
Kuala Mandor B), Air Putih
KecamatanPontianak Selatan;dan
(Kecamatan Kubu), Lingga
7) Peningkatan terminal penumpang
(Kecamatan Sungai Ambawang)
tipe C Siantan di Kecamatan
dan Teluk Pakedai;
Pontianak Utara
5) prasarana Pengujian Kendaraan
b. Terminal barang, meliputi;
Bermotor (PKB) di Kecamatan
1) Terminal Agribisnis jalan Budi
Sungai Ambawang; dan
Utomo di Kecamatan Pontianak
6) prasarana jembatan timbang di
Utara;
Kecamatan Sungai Ambawang.
2) Terminal barang yang terletak di
kawasan pelabuhan Pontianak.
a. Jalur trayek angkutan orang,
a. Rencana jaringan pelayanan lalu
meliputi :
lintas dan angkutan jalan meliputi:
1) rute angkutan 1 melayani wilayah
1) pengembangan angkutan antar
Kecamatan Pontianak Barat
kota dalam provinsi (AKDP)
danKecamatan Pontianak Kota;
dengan rute meliputi:
2) rute angkutan 2 melayani wilayah
Pontianak Sungai Pinyuh
Kecamatan Pontianak selatan
Mempawah Singkawang
danKecamatan Pontianak
Pemangkat Tebas Sambas
Tenggara;
Kartiasa;
3) rute angkutan 3 melayani wilayah
Pontianak Sungai Pinyuh
Kecamatan Pontianak Timur;
Anjongan Bengkayang
4) rute angkutan 4 melayani wilayah
Seluas;
Kecamatan Pontianak Utara;
Pontianak Sungai Pinyuh
5) rute angkutan 5 melayani seluruh
Ngabang Tanjung Balai
a.

NO

PERIHAL

KOTA PONTIANAK
bagian kota yang
simpulpemberhentiannya
terakhirnya di terminal Batu
Layang; dan
6) rute angkutan 6 melayani seluruh
wilayah kota yang
simpulpemberhentian terakhirnya
di terminal Internasional
SungaiAmbawang
7) rencana pengaturan rute angkutan
kota diatur lebih lanjut
dalamPeraturan Walikota.
b.

Jalur Angkutan barang regional ,


meliputi:
1) Jalur angkutan barang dari
pelabuhan ke wilayah Regional
seperti:
Jalan Kom Yos. Sudarso Jalan
Pak Kasih Jalan Rahadi
Usman Jl. Tanjung Pura Jalan
Imam Bonjol Jalan Adi Sucipto
Jembatan Kapuas II.
Jalan Kom Yos Sudarso Jalan
Karet Jalan Berdikari
JalanAmpera _ Jalan Harapan
jaya Rencana Jalan Lingkar
Selatan(Purnama-Sungai Raya
Dalam) Jalan Sungai Raya
Dalam II.
2) Jalur Angkutan barang dari
pelabuhan ke kawasan industri
danpergudangan seperti :
1. Jalan Kom Yos. Sudarso
Jalan Pak Kasih Jalan Rahadi
Usma - Jl. Tanjung Pura jalan
parallel Tol Jalan Ya M Sabran
JalanTritura Jalan Selat
Panjang Jalan Gusti Situt
Mahmud Jalan Khatulistiwa.
Jalan Kom Yos. Sudarso Jalan
Pak Kasih Jalan Rahadi
Usman Jl. Tanjung Pura Jalan

KABUPATEN MEMPAWAH
Karangan; dan
Singkawang Sungai Pinyuh
Sanggau Sintang.
2) pengembangan angkutan
perkotaan dengan asal-tujuan :
Sungai Pinyuh Mandor;
Sungai Pinyuh Takong;
Sungai Pinyuh Sadaniang;
Mempawah Sungai Pinyuh;
Mempawah Sungai Kunyit;
dan
Toho Mempawah.
3) pengembangan angkutan
pedesaan dengan asal tujuan
kecamatan dan desa di Kecamatan
Segedong, Anjongan, Toho dan
Sadaniang.

KABUPATEN KUBU RAYA

NO
b

PERIHAL
Jaringan angkutan sungai dan
penyeberangan

KOTA PONTIANAK

KABUPATEN MEMPAWAH

imam Bonjol Jalan Adi Sucipto.


Alur pelayaran sungai, meliputi:
a. Rencana sistem jaringan transportasi
1) Sungai Kapuas dari perbatasan
sungai dan penyeberangan terdiri
dengan Kabupaten Kubu Raya
atas :
hingga ke batas dengan
1) alur pelayaran sungai khususnya
Kabupaten Pontianak; dan
untuk angkutan barang skala
2) Sungai Landak dari batas dengan
besar yaitu Sungai Peniti Besar,
Kabupaten Kubu Raya hingga ke
Sungai Mempawah, dan Sungai
pertemuannya dengan Sungai
Kapuas; dan
Kapuas di pusat kota
2) pengembangan Pelabuhan
b. Lintas penyeberangan, meliputi:
Penyeberangan Sungai Rengas
1) Penyeberangan Bardan Hadi (Alun
(Kecamatan Sungai Kakap)
Kapuas) - Siantan Kecamatan
Pelabuhan Wajok (Kabupaten
Pontianak Barat; dan
Pontianak).
2) Penyeberangan Seng Hie Kampung
Beting, Kecamatan Pontianak
Selatan.
c. Pelabuhan sungai, meliputi:
1) Pelabuhan Seng Hie di Kecamatan
Pontianak Selatan; dan
2) Pelabuhan Kapuas Indah di
Kecamatan Pontianak Kota.
a.

KABUPATEN KUBU RAYA


a.

b.

c.

d.

e.

Alur pelayaran untuk kepentingan


angkutan sungaimeliputi:
1) alur pelayaran pada DAS Kapuas;
2) alur pelayaran pada DAS Punggur
Besar; dan
3) alur pelayaran pada DAS Kubu.
Lintas penyeberangan meliputi:
1) Rasau Jaya Pinang Luar;
2) Teluk Malike Jangkang II;
3) Teluk Kelang Padang Tikar;
4) Sungai Durian Sungai
Ambangah;
5) Parit Sarim Sungai Nipah;
6) Tanjung Manggis Teluk
Empening; dan
7) Sungai Rengas Wajok (Kabupaten
Pontianak).
Pelabuhan sungai meliputi:
1) pelabuhan sungai Sungai Raya KM
9,2 (Kecamatan Sungai Raya); dan
2) pelabuhan sungai Rasau Jaya
(Kecamatan Rasau Jaya).
Pelabuhan sungai yang akan
dikembangkan meliputi:
1) pelabuhan Sungai Kakap
(Kecamatan Sungai Kakap);
2) pelabuhan Sungai Durian
(Kecamatan Sungai Raya);
3) pelabuhan Seng Hie II (Parit Baru
KM. 8) (Kecamatan Sungai Raya);
dan
4) pelabuhan Sungai Kubu
(Kecamatan Kubu).
Pelabuhan penyeberangan yang akan
dikembangkan meliputi:
1) pelabuhan penyeberangan Rasau
Jaya (Kecamatan Rasau Jaya)
Pinang Luar (Kecamatan Kubu)
2) pelabuhan penyeberangan Teluk
Malike (Kecamatan Kubu)
Jangkang II (Kecamatan Kubu);
3) pelabuhan penyeberangan Teluk

NO

PERIHAL

2.1.2

Rencana sistem jaringan


perekeretapiaan

2.1.3

Rencana sistem jaringan


transportasi laut

KOTA PONTIANAK

a.

KABUPATEN MEMPAWAH

KABUPATEN KUBU RAYA

Kelang (Kecamatan Kubu)


Padang Tikar (Kecamatan Batu
Ampar);
4) pelabuhan penyeberangan Sungai
Durian (Kecamatan Sungai Raya)
Sungai Ambangah ( Kecamatan
Sungai Raya);
5) pelabuhan penyeberangan Parit
Sarim (Kecamatan Sungai Kakap)
Sungai Nipah (Kecamatan Teluk
Pakedai);
6) pelabuhan penyeberangan Tanjung
Manggis (Kecamatan Sungai Raya)
Teluk Empening (Kecamatan
Terentang); dan
7) pelabuhan penyeberangan Sungai
Rengas (Kecamatan Sungai Kakap)
Pelabuhan Wajok (Kabupaten
Pontianak).
a. Jalur kereta api terdiri atas :
a. Sistem jaringan
1) jalur kereta api umum lintas utara
perkeretaapianmeliputi jaringan
yaitu menghubungkan Pontianak
kereta api lintas Pontianak Tayan
Sungai Pinyuh Mempawah
Sanggau, yang melewati Kecamatan
Singkawang Pemangkat dan
Sungai Raya dan Sungai Ambawang.
Sambas;
b. Rencana pengembangan prasarana
2) jalur kereta api umum lintas
stasiun kereta api di Kecamatan
tengah yaitu Sungai Pinyuh
Sungai Ambawang.
Ngabang;
3) jalur kereta api khusus untuk
kepentingan kegiatan
pertambangan yaitu lintas Toho
Sungai Kunyit.
b. Rencana jaringan prasarana kereta
api terdiri atas :
1) stasiun kereta api umum terletak
di Sungai Pinyuh dan Mempawah;
dan
2) stasiun kereta api khusus terletak
di Toho dan Sungai Kunyit.
Tatanan kepelabuhanan ,meliputi
a. Tatanan kepelabuhan di Kabupaten
a. Tatanan kepelabuhanan yaitu
Pelabuhan Pontianak yang merupakan
Pontianak terdiri atas :
Pelabuhan Teluk Air (Kecamatan Batu
pelabuhan utamaterletak di
1) pelabuhan utama yang merupakan
Ampar) sebagai pelabuhan
Kecamatan Pontianak Kota dan
pelabuhan internasional yaitu
pengumpul.

NO

PERIHAL

KOTA PONTIANAK

b.

2.1.4

Rencana sistem jaringan


transportasi udara

2.2

Rencana sistem prasarana

Kecamatan Pontianak
Barat.Pengembangan pelabuhan
khusus/terminal khusus industri
yangberlokasi di Kelurahan Batu
Layang Kecamatan Pontianak Utara.
Alur pelayaran, mulai dariPelabuhan
Pontianak muara Sungai Kapuas Laut Natuna.

KABUPATEN MEMPAWAH

KABUPATEN KUBU RAYA

Pelabuhan Pontianak di Kota


b.
Pontianak dikembangkan di Temajo
Kecamatan Sungai Kunyit, dan
merupakan kesatuan dengan
pelabuhan internasional Pontianak
di Kota Pontianak;
2) pelabuhan pengumpan yang
merupakan pelabuhan regional
atau lokal yaitu di Kecamatan
Mempawah Timur; dan
3) tempat pendaratan ikan di
Kecamatan Siantan.
b. Alur pelayaran terdiri atas :
1) alur pelayaran internasional terdiri
atas Pelabuhan Temajo Sungai
Kunyit Luar Negeri; dan
2) alur pelayaran nasional meliputi
Temajo Laut Natuna.
a.

Alur pelayaran, yaitu Pelabuhan Teluk


Air Selat Padang Tikar Selat
Karimata.

Tatanan kebandarudaraan yaitu


Bandar Udara Supadio (Kecamatan
Sungai Raya) sebagai bandar udara
pengumpul dengan skala pelayanan
sekunder.
b. Ruang udara untuk penerbangan
yang merupakan Kawasan
Keselamatan Operasional
Penerbangan (KKOP), meliputi:
1) ruang udara di atas bandar udara
yang dipergunakan langsung
untuk kegiatan bandar udara,
meliputi Kecamatan Sungai Raya;
2) ruang udara disekitar bandar
udara yang dipergunakan untuk
operasi penerbangan, meliputi
Kecamatan Sungai Raya, Rasau
Jaya, Sungai Ambawang, dan
Sungai Kakap; dan
3) ruang udara yang ditetapkan
sebagai jalur penerbangan,
meliputi Kecamatan Sungai Raya,
Rasau Jaya, dan Sungai
Ambawang.

NO
2.2.1

2.2.2

PERIHAL
lainnya
Rencana sistem jaringan
prasarana energi/ sistem
jaringan energi dan kelistrikan

Rencana sistem jaringan


prasarana telekomunikasi

KOTA PONTIANAK
a.

Pembangkit tenaga listrik ,meliputi :


1) Pembangkit Listrik Tenaga Diesel
(PLTD) di Kelurahan Siantan
HilirKecamatan Pontianak Utara
dengan kapasitas 50 MW;
2) Pembangkit Listrik Tenaga Gas di
Kelurahan Siantan Hilir Kecamatan
Pontianak Utara dengan kapasitas
30 MW; dan
3) diakhir tahun rencana kebutuhan
listrik sebesar 427.979 KW.
b. Rencana jaringan transmisi tenaga
listrik, meliputi:
1) Peningkatan gardu induk di
Kelurahan Siantan Hilir
KecamatanPontianak Utara;
2) jaringan Saluran Udara Tegangan
Tinggi (SUTT);
3) peningkatan jaringan listrik dari
wilayah Kabupaten Kubu raya ke
Kota Pontianak;
4) pembangunan instalasi baru dan
pengoperasian instalasi
penyaluran di tiap SPPK;dan
5) pengembangan jaringan udara
terbuka dengan menggunakan
tiang yang memiliki manfaat
sebagai jaringan distribusi dan
penerangan jalan.
a. Jaringan kabel meliputi;
1) Pengembangan jaringan
telekomunikasi kabel secara
merata diseluruh kecamatan.
2) Stasion Telepon Otomatis (STO)
diakhir tahun rencana sebesar 33
unit yang tersebar di seluruh
wilayah kota.
b. Jaringan nirkabel meliputi:
1) Penyediaan dan pemanfaatan
menara BTS (base transceiver
station) yang digunakan secara
bersama menjangkau seluruh

KABUPATEN MEMPAWAH
a.

Rencana Pembangkit tenaga listrik,


yaitu pembangkit Listrik Tenaga Uap
(PLTU) terdapat di Mempawah dan
Siantan.
b. Rencana jaringan transmisi tenaga
listrik, terdiri atas :
1) gardu induk terdapat di
Mempawah; dan
2) jaringan Saluran Udara Tegangan
Tinggi (SUTT) yaitu
menghubungkan Pontianak
dengan Mempawah.
c. Rencana jaringan pipa minyak dan
gas bumi terdiri atas jaringan pipa
transmisi gas bumi Natuna Tanjung
Api Pontianak Palangkaraya.

KABUPATEN KUBU RAYA


a.

b.

c.
d.

a.

Rencana pengembangan sistem


jaringan telekomunikasi kabupaten
adalah jaringan terestrial dan jaringan
satelit, meliputi :
1) jaringan terestrial dikembangkan
secara berkesinambungan untuk
menyediakan pelayanan
telekomunikasi di seluruh wilayah
kecamatan;
2) jaringan satelit dikembangkan
untuk melengkapi sistem jaringan
telekomunikasi melalui satelit
komunikasi dan stasiun bumi

a.
b.

c.

d.

Pembangkit listrik, terdiri atas:


1) PLTGB 9 MWatt Bintang Mas di
Kecamatan Rasau Jaya;
2) PLTD 2 MWatt Batu Ampar di
Kecamatan Batu Ampar; dan
3) PLTS 1000 pulau di Kecamatan
Sungai Kakap, Teluk Pakedai,
Terentang dan Batu Ampar.
Jaringan transmisi tenaga listrik,
terdiri atas:
1) jaringan Saluran Udara Tegangan
Tinggi (SUTT) meliputi: SUTT yang
menghubungkan Kota Sambas,
Singkawang, Bengkayang,
Mempawah, Pontianak, Sungai
Raya, Ngabang, Sanggau,
Sekadau, Sintang, Nanga Pinoh,
Sukadana, dan Ketapang; dan
2) jaringan Saluaran Udara Tegangan
Menengah (SUTM) 84,03 KMS di
seluruh wilayah kabupaten.
Gardu Induk (GI) terdapat di Sungai
Raya (Kecamatan Sungai Raya);
Jaringan distribusi pipa minyak dan
gas bumi meliputi jaringan distribusi
Natuna-Tanjung Api-PontianakPalangkaraya, yang yang melewati
Kecamatan Sungai Raya dan Sungai
Ambawang.
Sistem jaringan kabel, yaitu sistem
jaringan kabel fixed phone yang
tersebar di wilayah kabupaten.
Sistem jaringan nirkabel melalui
pembangunan menara Base
Tranceiver Station (BTS) yang
tersebar di wilayah kabupaten.
Sistem jaringan satelit dipancarkan
melalui antar perangkat
telekomunikasi melalui satelit di
wilayah kabupaten.
Sistem jaringan data dan internet,
dapat dijangkau di seluruh wilayah

NO

2.2.3

PERIHAL

Rencana sistem jaringan


prasarana sumber daya air

KOTA PONTIANAK

a.
b.

c.
d.

wilayah kota;dan
2) Penyebaran jaringan internet
hotspot pada pusat-pusat kegiatan
dan kawasan strategis.
Sistem wilayah Sungai ,terdiri atas:
1) Wilayah Sungai Kapuas; dan
2) Wilayah Sungai Landak
Sistim jaringan air baku untuk air
bersih, terdiri atas:
1) Sistim Jaringan Primer Sungai
Kapuas;
2) Sistim Jaringan Sekunder Penepat
(Kabupaten Pontianak)-Pontianak
dan Pontianak-Danau Lait
(Kabupaten Sanggau);
3) Sistim Jaringan Tersier Sungai
Landak;dan
Cekungan air tanah adalah Cekungan
air tanah Pontianak.
Sistem pengendalian banjir di
kawasan sekitar Sungai Kapuas dan
Sungai Landak, terdiri atas :
1) mengembangkan jalur hijau di
sepanjang sungai dan parit;
2) pengendalian banjir dengan
pengerukan dan normalisasi
sungai;
3) menetapkan badan air berupa
saluran dan sungai sesuai
peruntukannya;
4) membangun saluran baru,
rehabilitasi, dan pemeliharaan
saluran alami dan saluran buatan;
dan
5) meningkatkan fungsi pelayanan
drainase primer.

KABUPATEN MEMPAWAH

KABUPATEN KUBU RAYA


kabupaten

a.

b.

c.
d.

e.

Wilayah sungai, terdiri atas :


a. Jaringan sumber daya air lintas
1) Wilayah Sungai Mempawah
kabupaten terdiri atas:
meliputi DAS Duri, DAS
1) jaringan sumber daya air nasional
Mempawah, DAS Purun Besar, dan
yang terkait dengan wilayah
DAS Raya; dan
kabupaten terdiri atas:
2) Wilayah Sungai Kapuas meliputi
Wilayah sungai (WS) strategis
DAS Kapuas, DAS Peniti.
nasional yaitu WS Kapuas; dan
Daerah Irigasi, berjumlah sebanyak
Daerah Rawa (DR) Nasional,
49 Daerah Irigasi dengan rincian
terdiri atas 26 DR yang
sebagaimana tercantum dalam
tersebar di wilayah Kabupaten
Lampiran III.8 yang merupakan
Kubu Raya;
bagian tidak terpisahkan dari
2) jaringan sumber daya air provinsi
Peraturan Daerah ini.
yang terkait dengan wilayah
Jaringan air bersih ke kelompok
kabupaten meliputi Daerah Rawa
pengguna, terdiri dari instalasi
Provinsi, terdiri atas 3 DR, yaitu:
pengolahan air minum.
DR. Punggur, DR Ambangah, dan
Sistem pengendalian banjir, terdiri
DR Air Putih;
dari:
3) jaringan sumber daya air
1) normalisasi sungai;
kabupaten terdiri dari 12 DR yang
2) pembangunan kanal pengendali
tersebar di wilayah Kabupaten
banjir apabila sungai yang ada
Kubu Raya; dan
tidak memungkinkan untuk
4) rincian jaringan sumber daya air
diperbesar dimensi salurannya;
nasional, provinsi dan
3) pembuatan pintu pengatur air;
kabupatenyang merupakan bagian
dan/atau
yang tidak terpisahkan dari
4) pembangunan tanggul dan
Peraturan Daerah ini.
bendungan pengendali.
b. Rencana pengembangan wilayah
Daerah rawa, terdiri atas :
sungai, meliputi:
1) Daerah rawa Nasional yang
1) sungai besar terdapat di Sungai
meliputi : Daerah rawa Sungai
Kapuas, Sungai Kapuas Kecil,
Kunyit Komplek, Daerah rawa
Sungai Punggur Besar, dan Sungai
Mempawah Komplek, Daerah rawa
Landak; dan
Jungkat Komplek, dan Daerah rawa
2) sungai kecil terdapat di Sungai
Penepat;
Ambawang, Sungai Mandor,
2) Daerah rawa Provinsi yang
Sungai Sepatah, Sungai Jeruju
meliputi : Daerah rawa Pinyuh
Besar, Sungai Punggur Kecil,
Komplek, Daerah rawa Siantan
Sungai Rasau, Sungai Bulan,
Komplek, Daerah rawa Segedong
Sungai Sepauk Laut, Sungai
Komplek, Daerah rawa Kunyit
Seruat, Sungai Terentang, Sungai

NO

PERIHAL

KOTA PONTIANAK

KABUPATEN MEMPAWAH
Komplek dan Daerah rawa
Kampung Pasir; dan
3) Daerah rawa Kabupaten yang
meliputi : Daerah rawa Mempawah
Komplek 5.826 Ha, Daerah rawa
Sungai Kunyit 4.212 Ha, Daerah
rawa Sungai Pinyuh Komplek 6.122
Ha, Daerah rawa Siantan 5.310
Ha, dan Daerah rawa Segedong
7.159 Ha.

2.2.4

Rencana infrastruktur kota/

a.

Sistem penyediaan air minum,

a.

Rencana pengembangan sistem

KABUPATEN KUBU RAYA


Kelabau, Sungai Keluang, Sungai
Mendawak, Sungai Kubu, Sungai
Radak, Sungai Bara Besar, Sungai
Bengkalan, Sungai Sepada, Sungai
Sopar, Sungai Krawang, Sungai
Durian Sebatang, Sungai Besar,
Sungai Mesjid, Sungai Sekapau,
Sungai Sekh, Sungai Baharu,
Sungai Raja Setelu, Sungai
Bumbun, Sungai Ayam, Sungai
Padu Empat dan Sungai Nibung.
c. Daerah irigasi Kabupaten, yaitu:
1) Daerah Irigasi Bemban Barat,
Kecamatan Kubu, seluas 200 Ha;
dan
2) Daerah Irigasi Bemban Timur,
Kecamatan Kubu, seluas 450 Ha;
d. Prasarana air baku untuk air bersih,
terdiri atas:
1) intake air baku sistem jaringan air
minum provinsi di Kabupaten Kubu
Raya;
2) jaringan pipa transmisi air baku
provinsi melalui Kecamatan Sungai
Raya dan Sungai Ambawang; dan
3) intake air baku Kabupaten Kubu
Raya meliputi Sungai Kapuas dan
Sungai Punggur Besar.
e. Jaringan air bersih ke kelompok
pengguna, terdiri atas:
1) jaringan air minum perkotaan,
meliputi: Kecamatan Sungai Raya,
Sungai Kakap, Rasau Jaya dan
Sungai Ambawang; dan
2) jaringan air minum perdesaan,
meliputi: Kecamatan Kuala Mandor
B, Teluk Pakedai, Kubu, Terentang
dan Batu Ampar.
f. Sistem pengendalian banjir, terdiri atas:
1) normalisasi sungai; dan
2) pembangunan tanggul dan pintu
air.
a. Sistem jaringan persampahan, terdiri

NO

PERIHAL
sistem prasarana pengelolaan
lingkungan

KOTA PONTIANAK

KABUPATEN MEMPAWAH

meliputi:
jaringan pengelolaan persampahan
1) Kebutuhan air minum sebesar
Kabupaten terdiri atas
lebih kurang 1.522 liter/detik;
pengembangan Tempat Pemrosesan
2) Penyediaan air minum melalui
Akhir (TPA) di Kawasan Sungai Bakau
beberapa Water Treatment Plan
Besar Laut dengan sistem sanitary
(WTP) sebagai berikut:
landfill .
Peningkatan WTP Imam Bonjol b. Rencana pengembangan sistem
jaringan air minum meliputi :
dengan kapasitas 860
1) pembangunan sistem baru untuk
liter/detik;
melayani daerah yang belum
Peningkatan WTP Jeruju dengan
terlayani;
Kapasitas 50 liter/detik;
2) peningkatan kapasitas produksi
Peningkatan WTP Selat Panjang
Perusahaan Daerah Air Minum
dengan kapasitas 300
(PDAM) dan menurunkan
liter/detik; dan
kehilangan air; dan
Peningkatan WTP Penepat yang
3) perbaikan dan rehabilitasi sistem
berlokasi di Kecamatan Sungai
transmisi dan distribusi.
Ambawang Kabupaten Kubu
Raya dengan kapasitas air lebih c. Rencana pengembangan sistem
jaringan drainase meliputi :
kurang 300 liter/detik.
1)
drainase primer dilakukan
3) Meningkatkan cakupan wilayah
normalisasi dan perkuatan tebing;
pelayanan distribusi air minum
2)
drainase sekunder dilakukan
untuk seluruh wilayah Kota.
pembangunan sistem drainase
b. Sistem pengelolaan air limbah,
pada daerah permukiman
meliputi:
perkotaan dan perdesaan yang
1) Pengelolaan air limbah domestik
rawan bencana banjir dan
dilakukan dengan sistem Septic
genangan air limbah menuju
Tank.
drainase primer; dan
2) Pengelolaan air limbah non
3) drainase tersier dilakukan
domestik yang mencakup limbah
pembangunan sistem drainase
berupa bahan kimia dan bahan
pada lingkungan permukiman
berbahaya dan beracun (B3)
perkotaan dan perdesaan menuju
ditampung di Instalasi Pengolahan
drainase sekunder.
Air Limbah (IPAL) pada masingd. Rencana pengembangan sistem
masing penggunaan lahan yang
jaringan air limbahmeliputi :
menghasilkan limbah berbahaya
1)
pengembangan sistem
dan beracun (B3).
pengelolaan limbah domestik
3) Pengembangan jaringan dan
secara off site pada daerah yang
pengolahan limbah domestik
secara teknis memungkinkan dan
wilayah kota pontianak.
ekonomis; dan
c. Sistem persampahan ,meliputi:
2)
peningkatan kesadaran
1) Pengembangan program
masyarakat untuk mau
pengelolaan sampah secara
membangun dan menggunakan
berkelanjutan dengan

KABUPATEN KUBU RAYA


atas:
1) pembangunan Tempat Pemrosesan
Akhir (TPA) Regional dengan
sistem 3R (reduce, reuse, recycle)
yang berada di Kecamatan Sungai
Ambawang;
2) peningkatan TPA di Kecamatan
Rasau Jaya;
3) mengoptimalkan Tempat
Penampungan Sementara (TPS)
dan Tempat Penampungan
Sementara Terpadu (TPST)
diseluruh wilayah kecamatan;
4) mengoptimalkan pemrosesan
sampah mendekati sumbernya
dan mengurangi proses angkut
sampah yang menimbulkan resiko
limbah; dan
5) mengoptimalkan sampah yang
memiliki nilai ekonomis,
diantaranya pengubahan bentuk
dan karakteristiknya menjadi
pupuk organik, pengubahan
sampah menjadi biogas, ataupun
pemanfaatan sampah kembali
(daur ulang) menjadi bahan
material yang disesuaikan dengan
kondisi wilayah yang ada.
b. Sistem jaringan air minum perkotaan
yang merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
c. Sistem jaringan drainase, diarahkan
pada daerah perkotaan, pararel
dengan pembangunan jaringan jalan.
d. Sistem prasarana lainnya meliputi
sistem pengolahan air limbah industri
dan pengolahan limbah rumah tangga
dengan menggunakan on site
treatment atau off site treatment di
Kota Sungai Raya.

NO

PERIHAL

KOTA PONTIANAK
mengembangkan Tempat
Pengolahan Sampah Terpadu
(TPST) di setiap kecamatan;
2) Pengembangan sistem
pengangkutan sampah
e.
lingkungan;
3) Mengembangkan dan menerapkan
model pengelolaan sampah 3R
(reuse, reduce, recycle);
4) Mengembangkan sistem
pengolahan sampah di Tempat
PemrosesanAkhir (TPA) Sampah
Batulayang di Kecamatan
Pontianak Utara; dan
5) Mengembangkan TPA Regional
yang melayani Kota Pontianak,
Kabupaten Kubu Raya dan
Kabupaten Pontianak yang
berlokasi di wilayah Kabupaten
Kubu Raya.
d. Sistem drainase,meliputi:
1) Sistem Jaringan Drainase Primer
Sungai Kapuas dan SungaiLandak;
2) Sistem Jaringan Drainase Sekunder
Sungai Jawi, Sungai Malaya,Sungai
Serok, Sungai Nipah, Sungai Raya
Dalam, Parit Haji Husin,Parit
Bangka, Parit Pangeran, Parit
Bansir, Parit Pekong, Parit
WanSalim, Parit Mayor; dan
3) Sistem Jaringan Drainase Tersier
adalah parit-parit yang
tersebarmengikuti sistem jaringan
jalan lokal.
e. jalur evakuasi bencana,meliputi :
1) Jalur evakuasi di Kecamatan
Pontianak Utara meliputi Jalan
SelatPanjang- jalan 28 OktoberJalan Lapan-jalan Gusti Situt
Mahmudjalan Flora;
2) Jalur evakuasi di Kecamatan
Pontianak Timur meliputi jalan
Sultan Hamid II- jalan Panglima

KABUPATEN MEMPAWAH
MCK baik pribadi maupun umum
untuk mengurangi beban limbah
domestik di badan air penerima.
Rencana pengembangan prasarana
air baku untuk air bersih, terdiri atas
intake air baku dan jaringan pipa
transmisi air baku.

KABUPATEN KUBU RAYA

NO

PERIHAL

KOTA PONTIANAK

KABUPATEN MEMPAWAH

KABUPATEN KUBU RAYA

Aim- jalan Tanjung Raya II-Jalan Ya


M Sabran;
3) Jalur Evakuasi di Kecamatan
Pontianak Selatan dan Pontianak
Tenggara meliputi jalan Imam
Bonjol, jalan A. Yani, Jalan, Jalan
Daya Nasional dan Sei Raya
Dalam, Jalan Veteran; dan
4) Jalur Evakuasi di Kecamatan
Pontianak Kota dan Pontianak
Barat meliputi Jalan Pattimura,
Jalan Hassanuddin, Jalan
Zainuddin, Jalan Pak Kasih, Jalan
Gusti Hamzah, Jalan Putri
Candramidi, Jalan Sutan Syahrir,
jalan Prof. M Yamin, Jalan Ampera,
Jalan Kom. Yos Sudarso dan jalan
R.E. Martadinata.
B
3
3.1

RENCANA POLA RUANG


Rencana pengembangan
kawasan lindung
Kawasan hutan lindung

a.

Kawasan hutan lindung sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 22 huruf a,
terdiri dari:
1) kawasan Hutan Lindung Bakau
Teluk Besar Parit Kelabau seluas
2.300 Ha (Kecamatan Sungai
Kakap);
2) kawasan Hutan Lindung Bakau P.
Sepok - Perupuk seluas 1.750 Ha
(Kecamatan Sungai Kakap);
3) kawasan Hutan Lindung Bakau P.
Karunia 1.800 Ha (Kecamatan
Sungai Kakap);
4) kawasan Hutan Lindung Bakau P.
Betingan - Tengah seluas 2.375
Ha (Kecamatan Sungai Kakap);
5) kawasan Hutan Lindung Bakau
Selat Dampang Teluk Pakedai
seluas 2.810 Ha
(KecamatanTeluk Pakedai);
6) kawasan Hutan Lindung Gambut S.
Arus Deras seluas 1.725 Ha

NO

PERIHAL

KOTA PONTIANAK

KABUPATEN MEMPAWAH

KABUPATEN KUBU RAYA


(Kecamatan Teluk Pakedai);
7) kawasan Hutan Lindung Gambut S.
Pinang Luar seluas 2.300 Ha
(Kecamatan Sungai Raya, Teluk
Paledai dan Kubu);
8) kawasan Hutan Lindung Gambut S.
Ambawang Kecil seluas 1.370
Ha (Kecamatan Kubu);
9) kawasan Hutan Lindung Gambut
G. Ambawang Pemancing seluas
3.370 Ha (Kecamatan Kubu);
10) kawasan Hutan Lindung Gambut S.
Ambangah seluas 4.870 Ha
(Kecamatan Sungai Raya);
11) kawasan Hutan Lindung Gambut S.
Tebedak seluas 1.200 Ha
(Kecamatan Sungai Raya);
12) kawasan Hutan Lindung Gambut P.
Limbung seluas 1.350 Ha
(Kecamatan Sungai Raya);
13) kawasan Hutan Lindung Gambut S.
Mendawak seluas 19.100 Ha
(Kecamatan Terentang);
14) kawasan Hutan Lindung Bakau S.
Seruat - P. Tiga seluas 14.363 Ha
(Kecamatan Teluk Pakedai dan
Kubu);
15) kawasan Hutan Lindung Bakau S.
Kubu S. Radak seluas 1.700 Ha
(Kecamatan Kubu) ;
16) kawasan Hutan Lindung Bakau G.
Terjun G. Radak seluas 550 Ha
(KecamatanKubu
17) kawasan Hutan Lindung Bakau Sp.
Cabai seluas 2.035 Ha
(Kecamatan Kubu);
18) kawasan Hutan Lindung Bakau P.
Panjang I seluas 3.085 Ha
(Kecamatan Batu Ampar);
19) kawasan Hutan Lindung Bakau P.
Panjang II seluas 1.211 Ha
(Kecamatan Batu Ampar);
20) kawasan Hutan Lindung Bakau P.

NO

PERIHAL

KOTA PONTIANAK

KABUPATEN MEMPAWAH

KABUPATEN KUBU RAYA

21)
22)
23)
24)
25)
26)
27)
28)

29)
30)
31)
32)

33)

Panjang III seluas 2.080 Ha


(Kecamatan Batu Ampar);
kawasan Hutan Lindung Bakau P.
Panjang IV seluas 2.657 Ha
(Kecamatan Batu Ampar);
kawasan Hutan Lindung Bakau P.
Perling seluas 1.400 Ha
(Kecamatan Kubu);
kawasan Hutan Lindung Bakau P.
Berembang seluas 850 Ha
(Kecamatan Kubu);
kawasan Hutan Lindung Bakau
Selat Pandak - S. Jenu seluas
750 Ha (Kecamatan Batu Ampar) ;
kawasan Hutan Lindung Bakau S.
Buntung seluas 700 Ha
(Kecamatan Batu Ampar);
kawasan Hutan Lindung Bakau
Teluk Air seluas 402 Ha
(Kecamatan Batu Ampar);
kawasan Hutan Lindung Bakau
Selat Tikus seluas 648 Ha
(Kecamatan Batu Ampar);
kawasan Hutan Lindung Bakau S.
Lebak S. Kerawang seluas
2.281 Ha (Kecamatan Batu
Ampar);
kawasan Hutan Lindung Bakau S.
Haur Munggulinang seluas 600
Ha (Kecamatan Batu Ampar);
kawasan Hutan Lindung Bakau S.
Paduampat seluas 3.160 Ha
(Kecamatan Batu Ampar);
kawasan Hutan Lindung Gambut S.
Jenu seluas 5.565 Ha
(Kecamatan Batu Ampar);
kawasan Hutan Lindung Bakau S.
Paduampat S. Bumbun seluas
10.000 Ha (Kecamatan Batu
Ampar);
kawasan Hutan Lindung Bakau Tj.
Prapat Muda seluas 6.094 Ha
(Kecamatan Batu Ampar); dan

NO

PERIHAL

3.2

Kawasan yang memberikan


perlindungan terhadap
kawasan bawahannya

3.3

Kawasan perlindungan
setempat

KOTA PONTIANAK

KABUPATEN MEMPAWAH

KABUPATEN KUBU RAYA


34) kawasan Hutan Lindung Gambut P.
Padang Tikar seluas 30.230 Ha
(Kecamatan Batu Ampar).
a. Kawasan resapan air tercakup di
dalam Kawasan Hutan Lindung.
b. Kawasan bergambut terdiri atas
kawasan hutan lindung gambut

Kawasan yang memberikan


a. Kawasan yang memberikan
perlindungan terhadap kawasan
perlindungan terhadap kawasan
bawahannya,yang meliputi; kawasan
bawahannya, mencakup:
bergambutdengan kedalaman gambut
1) kawasan hutan lindung meliputi :
lebih dari 4 (empat) meter seluas
hutan lindung di Kecamatan
kurang lebih641 (enam ratus empat
Sadaniang dengan luas kurang
puluh satu) hektar meliputi :
lebih 818,850 Ha;
a. Kawasan lindung gambut di
hutan lindung di Kecamatan
Kelurahan Batu Layang dan
Sadaniang dengan luas kurang
KelurahanSiantan Hulu Kecamatan
lebih 428,720 Ha;
Pontianak Utara; dan
hutan lindung di Kecamatan
b. Kawasan lindung gambut di
Sadaniang dengan luas kurang
Kelurahan Parit Tokaya
lebih 1.313,390 Ha;
KecamatanPontianak Selatan dan
hutan lindung di Kecamatan
Kelurahan Bansir Darat Kecamatan
Sadaniang dengan luas kurang
PontianakTenggara.
lebih 1.251,505 Ha;
c. Rencana pengelolaan penggunaan
hutan lindung di Kecamatan
lahan pada lahan gambut
Sadaniang dengan luas kurang
adalahsebagai berikut:
lebih 19,204 Ha;
1) melakukan rehabilitasi lahan pada
hutan lindung di Kecamatan
kawasan yang telah rusak;
Sadaniang dengan luas kurang
2) pemanfaatan ruang untuk wisata
lebih 77,704 Ha; dan
alam tanpa merubah
hutan lindung di Kecamatan
bentangalam;
Sadaniang dengan luas kurang
3) ketentuan pelarangan seluruh
lebih 39,442 Ha.
kegiatan yang berpotensi
2) kawasan bergambut di Kecamatan
merubahtata air dan ekosistem
Sungai Kunyit, Sadaniang,
unik; dan
Mempawah Hilir, Mempawah
4) pengendalian material sedimen
Timur, Sungai Pinyuh dan
yang masuk ke kawasan
Anjongan seluas kurang lebih +
bergambutmelalui badan air.
31,14 Ha; dan
3) kawasan resapan air di Kecamatan
Siantan, Sungai Pinyuh,
Mempawah Hilir dan Sungai Kunyit
seluas kurang lebih 194.016,89
Ha.
Kawasan sempadan sungai mencakup
a. Kawasan perlindungan setempat
a.
areal seluas kurang lebih 53 (lima puluh
meliputi:
tiga) hektar terdapatdi daratan
1) sempadan pantai yang tersebar
sepanjang tepian Sungai Kapuas, Sungai
pada Kecamatan Siantan,

Kawasan sempadan pantai terdapat


di kawasan pesisir pantai yaitu di
Kecamatan Sungai Kakap,Teluk
Pakedai, Kubu, dan Batu Ampar.

NO

PERIHAL

KOTA PONTIANAK
Landak dan SungaiMalaya serta saluran
drainase primer dengan jarak minimal
15 (limabelas) meter untuk Sungai
Kapuas dan Sungai Landak dan 10
(sepuluh )meter untuk Sungai Malaya
dan saluran drainase primer diukur
darititik pasang air sungai tertinggi.

3.4

Ruang terbuka hijau kota

a.

RTH Publik seluas 2.659 (dua


a.
ribuenam ratus lima puluh sembilan)
hektar atau sekitar 24,60% dari
luaswilayah kota terdiri atas :
1) RTH taman
RTH Taman meliputi :
RTH untuk taman RT, RW, dan
Kelurahan di wilayah kota
seluaskurang lebih 139 (seratus
tiga puluh sembilan) hektar;
RTH untuk taman kecamatan
seluas kurang lebih 16 hektar;
dan
RTH taman kota seluas kurang
lebih 117 hektar.
2) RTH hutan kota
RTH Hutan Kota seluas kuranglebih
252 (dua ratus lima puluh dua)
hektar.
3) RTH Lapangan olahraga
RTH lapangan olahraga seluas
kurang lebih 71 (tujuh puluh satu)
hektar terdiri atas :

KABUPATEN MEMPAWAH
Segedong, Sungai Pinyuh,
b.
Mempawah Timur, Mempawah Hilir
dan Sungai Kunyit;
2) sempadan sungai yang meliputi :
sempadan sungai besar pada
Wilayah Sungau Mempawah,
yaitu Sungai Raya Duri,
Mempawah dan Sungai Peniti;
dan
sempadan sungai kecil yang
tersebar pada Kecamatan
c.
Siantan, Segedong, Sungai
Pinyuh, Sungai Kunyit,
Sadaniang, Mempawah Hilir
d.
dan Mempawah Timur.

Kawasan lindung lainnya yaitu


kawasan RTH (Ruang Terbuka Hijau)
yang terdapat di kota/kawasan
perkotaan di Kabupaten Pontianak
dengan luas (minimal 30% dari luasan
wilayah perkotaan).

KABUPATEN KUBU RAYA


Kawasan sempadan sungai meliputi
kawasan yang dilalui oleh Sungai
Kapuas, Sungai Landak, dan Sungai
Punggur beserta anak sungainya,
dengan ketentuan untuk sungai kecil
masing-masing selebar 50 meter
dijadikan kawasan lindung pada
kawasan non pemukiman dan selebar
10 meter untuk sungai yang melewati
pemukiman yang berupa jalan
inspeksi.
Kawasan sekitar danau/waduk yang
terdapat di Kecamatan Kuala Mandor
B.
Kawasan sekitar mata air yang
terdapat di Kecamatan Batu Ampar, di
daerah konservasi Gunung
Paduampat dengan ketentuan garis
sempadan ditetapkan sekurangkurangnya 200 m disekitar mata air.

NO

PERIHAL

KOTA PONTIANAK
Kawasan Gelanggang Olah
Raga (GOR) Pangsuma Jalan
Ahmad Yani Pontianak kuang
lebih 18 hektar;
b. Lapangan Olah Raga Kebon
Sajoek Kecamatan Pontianak
Kota seluas kurang lebih 2
hektar;
Lapangan Olah Raga
Universitas Tanjungpura
Pontianak seluas kurang lebih 3
hektar;
Lapangan Olah Raga Jalan
Ampera seluas kurang lebih 5
hektar
Lapangan Olah Raga Kompleks
Golf Kecamatan Pontianak
Utara seluas kurang lebih 29
hektar;
Lapangan sepak Bola Perum IV
Kecamatan Pontianak Timur
seluas kurang lebih 1,5 hektar;
Lapangan Sepak Bola di Jalan
Ujung Pandang Kecamatan
Pontianak Kota seluas kurang
lebih 1 hektar;
Sirkuit Grass Track di Jalan Flora
Kecamatan Pontianak Utara
seluas kurang lebih 14,5
hektar;dan
Pengembangan Lapangan
Sepak Bola di Kecamatan
Pontianak Barat seluas kurang
lebih 2 hektar.
4) RTH jalur hijau
RTH Jalur hijau seluaskurang lebih
165 (seratus enam puluh lima)
hektar terdiri atas:
RTH jalur hijau sepanjang parit
Primer dan Sekunder seluas
kurang lebih 36 (tiga puluh
enam) hektar;
RTH jalur hijau jalan meliputi

KABUPATEN MEMPAWAH

KABUPATEN KUBU RAYA

NO

PERIHAL

KOTA PONTIANAK
pulau jalan, median jalan dan
jalur pejalan kaki seluas kurang
lebih 50 (lima puluh) hektar;
RTH di bawah saluran udara
tegangan tinggi (SUTT) yang
menghubungkan Gardu Siantan
dan Tayan seluas kurang lebih
54 (lima puluh empat) hektar;
RTH jalur hijau penyangga
Tempat Pengolahan Akhir
Sampah di Kelurahan Batu
Layang seluas kurang lebih
20,7 hektar; dan
RTH jalur hijau penyangga
Pembangkit Listrik PLN di
Kecamatan Pontianak Utara
seluas kurang lebih 5 hektar;
5) RTH pemakaman umum
Tempat pemakaman umum,
tersebar di seluruh kelurahan
dengan luas kurang lebih 44
(empatpuluh empat) hektar.
6) RTH sabuk hijau kota

KABUPATEN MEMPAWAH

KABUPATEN KUBU RAYA

NO

PERIHAL

3.5

Kawasan suaka alam dan


cagar budaya

3.6

Kawasan rawan bencana

KOTA PONTIANAK

KABUPATEN MEMPAWAH

KABUPATEN KUBU RAYA

Kawasan cagar budaya meliputi:


a. Kawasan suaka alam, pelestarian
a. Keraton Kadriah Pontianak di
alam dan cagar budaya terdapat di
Kelurahan Dalam Bugis;
Kecamatan Mempawah Hilir dan
b. Masjid Jami Sultan Syarif
Mempawah Timur meliputi Makam
Abdurrachman di Kelurahan Dalam
Opu Daeng Menambon, Istana
Bugis;
Amantubillah Kerajaan Mempawah,
c. Makam Kesultanan Pontianak di
Mesjid JamiAtul Khoir, Komplek
Kelurahan Batulayang;
Makam Raja-raja Mempawah, Makam
d. Tugu Khatulistiwa di Kelurahan Batu
Habib Husen Alkadri dan Kelenteng
Layang;
Long Fong Pa.
e. Masjid Baitannur di Kelurahan Dalam
Bugis;
f. Sekolah Dasar Negeri 14 Pontianak di
Kelurahan Tengah;
g. Vihara Bodhisatva di Kelurahan Darat
Sekip;
h. Kantor Pos di Kelurahan Tengah;
i. Lapangan Keboen Sajoek di Kelurahan
Darat Sekip;
j. Rumah Adat Betang/Panjang di
Kelurahan Parit Tokaya;
k. Sumur Bor di Kelurahan Sungai
Bangkong;
l. Pelabuhan Seng Hie di Kelurahan Benua
Melayu Laut;
m. Kantor Bappeda Kota Pontianak di
Kelurahan Tengah.
a. Kawasan rawan banjir,meliputi :
a. Kawasan rawan bencana, meliputi :
a. Kawasan rawan erosi, terdiri atas:
1) Kelurahan Parit Tokaya dan
1) kawasan tanah longsor di
1) kawasan rawan erosi pantai di
sekitarnya;
Kecamatan Sadaniang dan Sungai
Kabupaten terdapat di Kecamatan
2) Kelurahan Sungai Bangkong dan
Pinyuh;
Teluk Pakedai, Kubu, Batu Ampar
sekitarnya;
2) kawasan rawan kebakaran hutan
dan Sungai Kakap; dan
3) Kelurahan Siantan Hulu sekitar
dan lahan di semua kecamatan
2) kawasan rawan erosi tebing sungai
Sungai Malaya;
yang ada di Kabupaten Pontianak;
terdapat di Kecamatan Kubu,
4) Kelurahan Sungai Beliung dan Pal
3) kawasan rawan gelombang pasang
Sungai Kakap, Sungai Raya dan
Lima;
disepanjang pesisir pantai yang
Rasau Jaya.
5) Kelurahan Batu Layang;
ada di Kabupaten Pontianak; dan
b. Kawasan rawan gelombang pasang,
6) Sebagian besar Kecamatan
4) kawasan rawan banjir di
terdapat di wilayah pesisir dan pulauPontianak Timur; dan
Kecamatan Mempawah Hilir,
pulau kecil yang terdapat di
7) Kelurahan Bansir Laut, Bangka
Mempawah Timur, Sungai Kunyit,
Kabupaten.
Belitung Laut dan Bangka Belitung
Segedong, Toho dan Siantan.
c. Kawasan rawan banjir, terdapat di
Darat.
Kecamatan Kuala Mandor B, Sungai
b. Kawasan rawan Kebakaran terdapat
Kakap, Sungai Raya, Terentang, Kubu,

NO

PERIHAL

KOTA PONTIANAK

KABUPATEN MEMPAWAH

di bagian wilayah kota yang


mempunyai tingkat kepadatan dan
kerapatan bangunan yang tinggi
terutama kawasan pusat pelayanan
kota dan sub pusat pelayanan kota.

3.7

Kawasan lindung geologi

Rencana pengembangan
kawasan budidaya
Kawasan peruntukkan
perumahan/ permukiman

4.1

KABUPATEN KUBU RAYA


Teluk Pakedai, Rasau Jaya dan Sungai
Ambawang.

a.

Kawasan lindung geologi, meliputi :


1) kawasan sekitar mata air yang
tersebar pada semua Kecamatan
yang ada di kabupaten Pontianak;
dan
2) kawasan rawan abrasi tersebar
disepanjang pesisir pantai yang
ada di Kabupaten Pontianak.

Kawasan peruntukan perumahan seluas a. Rencana kawasan peruntukan


a.
4.358 hektar meliputi :
permukiman, meliputi :
a. Kawasan perumahan skala besar dan
1) kawasan peruntukan permukiman
kawasan perumahan skala bukan
perkotaan berada di kawasan
besar meliputi;
perkotaan Ibukota Kabupaten dan b.
1) Kecamatan Pontianak Utara yang
Kota, Ibukota Kecamatan dan Desa
meliputi Kelurahan Siantan Hilir;
yang sudah menampakkan gejala
2) Kecamatan Pontianak Selatan
perkotaan seperti di Kecamatan
yang meliputi Kelurahan Parit
Sungai Pinyuh, Segedong dan
Tokaya;
Mempawah Timur; dan
3) Kecamatan Pontianak Kota yang
2) kawasan peruntukan permukiman
meliputi Kelurahan Sungai Jawi;
perdesaan berada di luar kawasan
4) Kecamatan Pontianak Barat
perkotaan yang didominasi oleh
meliputi Kelurahan Pal Lima;
penggunaan pertanian lahan
5) Kecamatan Pontianak Timur
basah, pertanian lahan kering dan
meliputi Kelurahan Saigon dan
perkebunan seperti di Kecamatan
Kelurahan Parit Mayor;
Mempawah Hilir, Sungai Kunyit,
6) Kecamatan Pontianak Tenggara
Anjongan, Siantan, Toho dan
meliputi Kelurahan Bansir Darat.
Sadaniang.
b. Kawasan Perumahan skala menengah
dialokasikan sebagai berikut:
1) Kecamatan Pontianak Selatan
yang meliputi Kelurahan
ParitTokaya;
2) Kecamatan Pontianak Kota yang

Kawasan peruntukan permukiman


perkotaan, tersebar di Kecamatan
Sungai Raya, Rasau Jaya, Sungai
Ambawang, dan Sungai Kakap.
Kawasan peruntukan permukiman
perdesaan, tersebar di Kecamatan
Kuala Mandor B, Kubu, Terentang,
Batu Ampar, dan Teluk Pakedai.

NO

4.2

PERIHAL

Kawasan peruntukkan
perdagangan dan jasa

KOTA PONTIANAK

KABUPATEN MEMPAWAH

meliputi Kelurahan Sungai Jawi;


3) Kecamatan Pontianak Barat
meliputi Kelurahan Pal Lima
danKelurahan Sungai Beliung;
4) Kecamatan Pontianak Timur
meliputi Kelurahan Parit Mayor;
5) Kecamatan Pontianak Tenggara
meliputi Kelurahan BangkaBelitung
Darat.
a. Pasar Tradisional meliputi :
a. Kawasan Perdagangan dan jasa skala a.
1) Peningkatan Pasar Flamboyan di
wilayah adalah :
Kecamatan Pontianak Selatan;
1) kawasan yang memiliki fasilitas
2) Peningkatan Pasar Mawar di
perdagangan dan jasa seperti
b.
Kecamatan Pontianak Kota;
pasar induk dengan skala layanan
3) Peningkatan Pasar Dahlia di
wilayah Kabupaten Pontianak dan
Kecamatan Pontianak Barat;
bahkan mungkin lebih, diarahkan
4) Peningkatan Pasar Seruni di
pada lokasi khusus yang memiliki
Kecamatan Pontianak Timur;
potensi dan daya tarik sebagai
5) Peningkatan Pasar Puring di
kawasan strategis dan/atau
Pontianak Utara;
kawasan tujuan pariwisata dan
6) Pengembangan Pasar Teratai, di
daya tarik wisata, sesuai fungsi
Kecamatan Pontianak Barat;
dan hirarki wilayah yang telah
7) Pengembangan Pasar Kemuning di
ditentukan;
Kecamatan Pontianak Kota;
2) kewajiban untuk menyediakan
8) Pengembangan Pasar Anggrek dan
sarana prasarana pendukung yang
Pasar Kenanga di Kecamatan
memadai dan memperhatikan
Pontianak Timur.
jarak antar kawasan maupun
9) Pengembangan pasar tradisionil
fasilitas yang ada dengan
lainnya akan dilakukan pada pusat
mempertimbangkan persaingan
pelayanan lingkungan.
usaha yang sehat; dan
b. Pusat perbelanjaan meliputi:
3) dikembangkan secara
1) Peningkatan Pusat perdagangan
proporsional, dan terkendali
grosir di pusat kota di Jalan Pasar
dengan memperhatikan
Tengah, sekitar Jalan Tanjung Pura
karakteristik sosial ekonomi
dan Jalan Gajahmada
masyarakat lokal, pengembangan
2) Pengembangan Pusat
UMKM (Usaha Mikro Kecil dan
perbelanjaan Kaw. Ayani dan
Menengah) dan sektor informal,
sekitarnya;
serta kebutuhan sesuai Peraturan
3) Peningkatan Pusat Perbelanjaan
perundangan yang berlaku.
Sungai Jawi;
b. Kawasan Perdagangan dan jasa skala
4) Peningkatan Pusat Perbelanjaan
lokal adalah meliputi :
Matahari Mall Jalan Jendral Urip;
1) kawasan yang memiliki fasilitas
5) Peningkatan Pusat Perbelanjaan
perdagangan dan jasa seperti

KABUPATEN KUBU RAYA

Kawasan peruntukan perdagangan


dan jasa meliputi Kecamatan Sungai
Raya dan Sungai Ambawang.
Kawasan peruntukan pergudangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b meliputi Kecamatan Sungai
Ambawang

NO

PERIHAL

KOTA PONTIANAK
Jalan Gajahmada; dan
6) Peningkatan Pusat Perbelanjaan
Pasar Siantan di Kecamatan
Pontianak Utara.
c. Toko Modern dapat berupa
minimarket, supermarket,
hypermarket, departement store atau
perkulakan;

4.3

Kawasan peruntukkan
perkantoran

4.4

Kawasan peruntukkan industri

a.

KABUPATEN MEMPAWAH

KABUPATEN KUBU RAYA

pasar tradisional, pasar modern


dan/atau kawasan Pusat
Perbelanjaan dengan skala
layanan lokal yaitu lingkup desa
dan/atau kecamatan, diarahkan di
setiap pusat-pusat layanan di tiap
desa dan kecamatan;
2) kewajiban untuk menyediakan
sarana prasarana pendukung yang
memadai dan memperhatikan
jarak antar kawasan maupun
fasilitas yang ada dengan
mempertimbangkan persaingan
usaha yang sehat; dan
3) dikembangkan secara
proporsional, dan terkendali
dengan memperhatikan
karakteristik sosial ekonomi
masyarakat lokal, UMKM serta
kebutuhan sesuai Peraturan
perundangan yang berlaku.

Kawasan peruntukan perkantoran


pemerintahan sebagaimana
dikembangkan di :
1) sekitar Jalan Sutoyo Kecamatan
Pontianak Selatan;
2) sekitar Jalan Ahmad Yani
Kecamatan Pontianak Tenggara
dan Pontianak Selatan;
3) sekitar Jalan Rahadi Usman dan
Jalan Alianyang di Kecamatan
Pontianak Kota; dan
4) sekitar Jalan Sutan Syahrir
Kecamatan Pontianak Kota dan
Pontianak Selatan.
b. Kawasan peruntukan perkantoran
swasta dikembangkan secara merata
di pusat pelayanan kota dan subpusat
pelayanan kota.
a. Industri rumah tangga/kecil
a. Rencana kawasan peruntukan
a. Kawasan peruntukan industri, terdiri
dikembangkan di seluruh kawasan
industri, terdiri atas :
atas:
permukiman.
1) kawasan peruntukan industri besar
1) kawasan peruntukan industri kecil
b. Kawasan peruntukan industri ringan
meliputi industri kimia dan bahan
dan menengah meliputi kawasan

NO

PERIHAL

KOTA PONTIANAK
seluas kurang lebih 258
dikembangkan di Kecamatan
Pontianak Utara meliputi kelurahan
Batu Layang, Siantan Hilir dan
Siantan Hulu. Di Kecamatan Pontianak
Timur meliputi kelurahan Tanjung Hilir
dan Tanjung Hulu. Di Kecamatan
Pontianak Barat pada kelurahan
Sungai Beliung dan di Kecamatan
Pontianak Tenggara pada kelurahan
Bangka Belitung Laut.

4.5

Kawasan peruntukkan

a.

Pariwisata budaya seluas 67,88

KABUPATEN MEMPAWAH

KABUPATEN KUBU RAYA

bangunan (pengetaman,
pengolahan hasil perikanan di
moulding, arang tempurung),
Kecamatan Sungai Kakap, Kubu,
industri sandang dan kerajinan
dan Batu Ampar; dan
(tukang emas), industri pangan
2) kawasan peruntukan industri
(minyak kelapa, tepung, jagung,
menengah dan besar meliputi
beras dll, industri es batu, industri
kawasan pengembangan industri
kecambah dan batu, industri
terpadu berbasis Perkebunan dan
minuman ringan dan AMDK);
Pertanian di Kecamatan Sungai
2) b. kawasan peruntukan industri
Raya, Sungai Ambawang, dan
menengah meliputi industri logam
Terentang.
dan elektronika (las dan bubuk,
bak truk, reparasi kapal dan
perahu, reparasi roda empat),
industri kimia dan bahan
bangunan (peti kemas dari kayu,
photocopy, percetakan, sablon,
vulkanisir ban, pemecah batu,
pasir zicron, furnitur dari kayu dan
meubel kayu) industri sandang
dan kerajinan (pengolahan kulit
kayu dan penjahit pakaian)
industri pangan (udang dan ikan,
minyak nabati dan garahu, minyak
sawit, kopi bubuk, kerupuk, selai
pisang); dan
3) kawasan peruntukan industri
rumah tangga meliputi industri
logam (tralis pagar dari logam,
alat angkut), industri kimia dan
bahan bangunan (sablon, karet
remah, kaca cermin, bengkel las
dan pengisian accu dan cas accu),
industri sandan dan kerajinan (alat
dapur dan pakaian jadi tekstil),
industri pangan (kue kering, roti &
roti bakar, mie basah).
b. Alokasi lahan untuk rencana kawasan
peruntukan industri yaitu :
1) kecamatan Siantan dengan luas
kurang lebih 1.000 Ha; dan
2) kecamatan Sungai Kunyit dengan
luas kurang lebih 600 Ha.
a. Kawasan peruntukan wisata alam
a. Kawasan peruntukan pariwisata

NO

PERIHAL
pariwisata

KOTA PONTIANAK
hektar, meliputi :
1) Kawasan pariwisata Tugu
Khatulistiwa di Kelurahan Batu
Layang, Kecamatan Pontianak
Utara;
2) Kawasan pariwisata Keraton
Kadriyah di Kelurahan Dalam
Bugis, Kecamatan Pontianak
Timur;
3) Kawasan pariwisata Kampung
Beting di Kelurahan Tanjung Hilir,
Kecamatan Pontianak Timur;
4) Kawasan pariwisata Makam Batu
Layang di Kelurahan Batu Layang,
Kecamatan Pontianak Utara;
5) Kawasan pariwisata Museum dan
Taman Budaya di Kelurahan Parit
Tokaya Kecamatan Pontianak
Selatan;
6) Kawasan pariwisata Cagar Budaya
Rumah Betang di Kelurahan Parit
Tokaya Kecamatan Pontianak
Selatan;
7) Kawasan pariwisata Kampung
Budaya di Kelurahan Sungai
Bangkong Kecamatan pontianak
Kota; dan
8) Kawasan pariwisata Cagar Budaya
Kelenteng Tua di Kelurahan Tengah
Kecamatan Pontianak Kota.
b. Pariwisata alam, meliputi kawasan
tepian dan badan Sungai Kapuas,
Taman Agro Khatulistiwa di Kelurahan
Siantan Hilir, dan Taman Alun-alun
Kapuas di Kelurahan Tengah
Kecamatan Pontianak Kota.
c. Pariwisata minat khusus, meliputi
kawasan wisata belanja di kawasan
perdagangan dan jasa pusat kota,
serta aloevera center di Kelurahan
Siantan Hilir Kecamatan Pontianak
Utara

KABUPATEN MEMPAWAH

b.

c.

d.

e.

KABUPATEN KUBU RAYA

meliputi :
budaya, yaitu: kawasan wisata Situs
1) pulau temajo terdapat di Sungai
Tanjung Intan, Makam Fattah
Kunyit;
Mumbung, Situs Kepurbakalaan, Situs
2) pantai kijing terdapat di
Tanggak Mas, Situs Mungguk Mas,
Kecamatan Sungai Kunyit;
Robok-robok, Kelenteng Terapung, di
3) jungkat beach terdapat di
Kecamatan Sungai Kakap, Makam
Kecamatan Siantan;
Raja Kubu, Replika Keraton Kubu,
4) air terjun sambora terdapat di
Situs Panglima Raja Kubu, Situs Batu
Kecamatan Toho; dan
Masjid, dan SItus Batu Wengkang di
5) Kawasan lainnya yang terdapat di
Kecamatan Kubu.
sepanjang garis pantai di
b. Kawasan peruntukan pariwisata alam,
Kabupaten Pontianak.
meliputi:
Kawasan peruntukan wisata budaya
1) kawasan wisata Tanjung Intan dan
dan peninggalan sejarah meliputi :
Pantai Indah Kakap di Kecamatan
1) keraton amantubillah terdapat di
Sungai Kakap;
kecamatan Mempawah Timur;
2) kawasan wisata Gunung
2) makam habieb husein Al-Qadry
Ambawang, Air Terjun Bujang
terdapat di Kecamatan Mempawah
Bahar dan Pulau Bidara di
Timur;
Kecamatan Kubu;
3) makam opu daeng manambon
3) kawasan wisata Pantai Paloh di
terdapat di Kecamatan Mempawah
Kecamatan Teluk Pakedai;
Hilir;
4) kawasan wisata Danau Kongsi di
Kawasan peruntukan wisata religi
Kecamatan Kuala Mandor B;
meliputi :
5) kawasan wisata Pantai
1) masjid jamiatul khoir terdapat di
Tasikmalaya di Kecamatan Batu
Kecamatan Mempawah Timur;
Ampar; dan
2) vihara thein hew sin mu terdapat
6) kawasan wisata hutan bakau/
di Kecamatan Mempawah Hilir;
mangrove di Kecamatan Batu
dan
Ampar dan Sungai Kakap.
3) goa maria bernadetha terdapat di c. Kawasan peruntukan pariwisata
Kecamatan Toho dan Anjongan.
buatan, meliputi:
Kawasan peruntukan pariwisata minat
1) kawasan wisata kebun binatang, di
khusus meliputi :
Kecamatan Sungai Ambawang;
1) wisata pemancingan ikan atau
2) kawasan wisata penangkaran
udang lokal di DAS Mempawah
arwana, di Kecamatan Sungai
2) wisata kuliner di Kecamatan
Raya;
Sungai Kunyit, Segedong,
3) kawasan wisata Keramba Ikan
Mempawah Hilir, dan Mempawah
Kerapu di Kecamatan Kubu;
Timur; dan
4) kawasan wisata Kebun Wisata
3) wisata nusantara terdapat di
Rakadena, Wisata Agro, di
Kecamatan Mempawah Hilir.
Kecamatan Sungai Kakap.
Kawasan peruntukan efen unggulan,
meliputi :

NO

PERIHAL

KOTA PONTIANAK

KABUPATEN MEMPAWAH

KABUPATEN KUBU RAYA

1) Kegiatan robo-robo di kuala


mempawah terdapat di Kecamatan
Mempawah Timur;
2) cap go meh terdapat di Kecamatan
Sungai Pinyuh;
3) naik dango terdapat di Kecamatan
Anjongan, Sadaniang dan Toho;
4) sahur-sahur terdapat di Kecamatan
Mempawah Hilir; dan
5) sedekah bumi terdapat di
Kecamatan Anjongan, Toho dan
Mempawah Hilir.
4.6

Kawasan peruntukkan ruang


terbuka non hijau

4.7

Kawasan peruntukkan ruang


evakuasi bencana

Kawasan peruntukan ruang terbuka non


hijau
seluas kurang lebih 277 hektar,
meliputi:
a. Kawasan Sepanjang Kanan Kiri Tepian
Sungai Kapuas Mulai
dariPersimpangan Sungai KapuasSungai Landak sampai Kelurahan
ParitMayor;
b. Lahan Parkir Komunal yang diperkeras
di pusat-pusat perdagangan
danperkantoran;
c. Plaza dan pedestrian yang telah
diperkeras tersebar di bagian
wilayahkota;
d. Lapangan Olahraga terbuka yang
diperkeras; dan
e. Ruang terbuka biru berupa Alur
Sungai Kapuas, Sungai Landak
sertaparit-parit primer.
Kawasan peruntukan ruang evakuasi
bencana meliputi :
a. Gelanggang Olah Raga (GOR)
Pangsuma Jalan Ahmad Yani
Pontianak;
b. Lapangan Olah Raga Kebon Sajoek
Kecamatan Pontianak Kota;
c. Lapangan Olah Raga Universitas
Tanjungpura Pontianak;
d. Lapangan Olah Raga Jalan Ampera;
e. Lapangan sepak Bola Perum III

Kawasan peruntukan olah raga (sport


center) di Kecamatan Sungai Ambawang

NO

PERIHAL

4.8

Kawasan peruntukkan ruang


bagi kegiatan sektor informal

4.9

Kawasan hutan produksi

KOTA PONTIANAK
Kecamatan Pontianak Timur;
f. Lapangan Sepak Bola di Jalan Ujung
Pandang Kecamatan PontianakKota;
g. Sirkuit Grass Track di Jalan Flora
Kecamatan Pontianak Utara; dan
h. Lapangan Sepak Bola di Kecamatan
Pontianak Barat.
Kawasan peruntukan ruang bagi
kegiatan sektor informal meliputi:
a. kawasan pedagang kaki lima pinggir
jalan di kawasan Pusat Perdagangan
Nusa Indah, Pasar Tengah, Pasar
Kapuas dan Pasar Siantan;
b. kawasan pujasera di pelataran pusat
pertokoan, di sekitar pasar, terminal
dan pelabuhan;
c. kawasan pedagang kaki lima yang
merupakan bagian dari tamantamankota;
d. kawasan pedagang kaki lima di
Tempat Rekreasi Kawasan Wisata
Tugu di Kelurahan Batu Layang dan
Kawasan Pusat Kuliner di Kelurahan
Darat Sekip dan Benua Melayu Darat;
dan
e. pemanfaatan beberapa ruas jalan
pada waktu-waktu tertentu yang
diatur melalui peraturan walikota.

KABUPATEN MEMPAWAH

KABUPATEN KUBU RAYA

Kawasan Perdagangan dan jasa sektor


informal dikembangkan secara
proporsional dan terkendali untuk
mendukung penguatan ekonomi
kerakyatan di setiap kawasan perkotaan
dan perdesaan, diatur oleh Pemerintah
Daerah, dan/atau disediakan ruangnya
oleh masyarakat umum, sektor swasta,
Pemerintah Daerah, Pemerintah Daerah
Propinsi maupun Pemerintah Daerah
Kabupaten.

a.

Kawasan peruntukan hutan produksi a. Kawasan peruntukan hutan produksi


meliputi :
tetap, terdiri atas:
1) hutan produksi Sungai Kunyit
1) kawasan Hutan Produksi S. Peniti
dengan luas kurang lebih
(Kecamatan Kuala Mandor B);
19.217,259 Ha;
2) kawasan Hutan Produksi S. Sengah
2) hutan produksi Sungai Kunyit,
S. Ambawang (Kecamatan
Mempawah Hilir, Mempawah
Sungai Ambawang);dan
Timur, Toho dan Sadaniang dengan
3) kawasan Hutan Produksi S.
luas kurang lebih 12,100 Ha;
Mendawak (Kecamatan Terentang
3) hutan produksi Sadaniang dengan
dan Batu Ampar).
luas kurang lebih 36,817 Ha;
b. Kawasan peruntukan hutan produksi
4) hutan produksi Anjongan dengan
terbatas, terdiri atas:
luas kurang lebih 23.743,281 Ha;
1) kawasan Hutan Produksi Terbatas
5) hutan produksi Sadaniang dengan
S. Mandor (Kecamatan Kuala

NO

4.10

PERIHAL

Kawasan peruntukkan
pertanian

KOTA PONTIANAK

a.

Kawasan peruntukan pertanian


meliputi:

KABUPATEN MEMPAWAH

KABUPATEN KUBU RAYA

luas kurang lebih 2.804,990 Ha;


Mandor B);
dan
2) kawasan Hutan Produksi Terbatas
6) hutan produksi Segedong dan
S. Memperigang (Kecamatan Kuala
Siantan dengan luas kurang lebih
Mandor B);
4.215,808 Ha
3) kawasan Hutan Produksi Terbatas
b. Kawasan peruntukan hutan produksi
S. Bumbun Paduampat
konversi, meliputi :
(Kecamatan Batu Ampar);dan
1) hutan produksi konversi di
4) kawasan Hutan Produksi Terbatas
Kecamatan Sadaniang dan
S. Kubu Munggulinang
Mempawah Hilir dengan luas
(Kecamatan Kubu dan Batu
kurang lebih 128,688 Ha; dan
Ampar).
2) hutan produksi konversi di
c. Kawasan peruntukan hutan produksi
Kecamatan Sadaniang dengan luas
yang dapat dikonversi, terdiri atas:
kurang lebih 2.238,683 Ha.
1) kawasan Hutan Produksi Konversi
c. Kawasan peruntukan hutan produksi
S. Ambawang I (Kecamatan Sungai
terbatas, mencakup :
Raya dan Terentang);
1) hutan produksi terbatas di
2) kawasan Hutan Produksi Konversi
Kecamatan Sungai Kunyit,
S. Ambawang II (Kecamatan
Mempawah Hilir dan Sadaniang
Sungai Raya dan Terentang); dan
dengan luas kurang lebih 716,740
3) kawasan Hutan Produksi Konversi
Ha;
Selat Sekh (Kecamatan Batu
2) hutan produksi terbatas di
Ampar).
Kecamatan Sungai Kunyit dan
Mempawah Hilir dengan luas
kurang lebih 3.501,060 Ha;
3) hutan produksi terbatas di
Kecamatan Mempawah Timur
dengan luas kurang lebih 18,762
Ha;
4) hutan produksi terbatas di
Kecamatan Mempawah Timur,
Sungai Pinyuh dan Anjongan
dengan luas kurang lebih
4.528,772 Ha;
5) hutan produksi terbatas di
Kecamatan Sadaniang dengan luas
kurang lebih 5.493,624 Ha; dan
6) hutan produksi terbatas di
Kecamatan Sadaniang dan Toho
dengan luas kurang lebih 380,395
Ha.
a. Kawasan pertanian tanaman pangan, a. Kawasan pertanian tanaman pangan,
berada di kawasan pertanian lahan
tersebar di seluruh Kecamatan,

NO

PERIHAL

KOTA PONTIANAK
1) kawasan peruntukan pertanian
hortikultura seluas 775 hektar di
Kelurahan Siantan Hilir Kecamatan
Pontianak Utara;
2) kawasan peruntukan peternakan
seluas kurang lebih 170 hektar di
Kelurahan Siantan Hulu Kecamatan
Pontianak Utara;

KABUPATEN MEMPAWAH
basah dan lahan kering dengan
pengembangan jenis komoditas :
1) padi sawah di Kecamatan Toho,
Siantan dan Segedong dengan
luas kurang lebih 11.405 Ha;
2) padi ladang di Kecamatan Toho
dengan luas kurang lebih 185 Ha;
3) jagung di Kecamatan Segedong
dan Siantan dengan luas kurang
lebih 633 Ha;
4) ubi kayu di Kecamatan Segedong
dan Mempawah Hilir dengan luas
kurang lebih 223 Ha;
5) ubi jalar di Kecamatan Siantan dan
Toho dengan luas kurang lebih 33
Ha;
6) kacang tanah di Kecamatan Toho
dan Sungai Kunyit dengan luas
kurang lebih 6 Ha;
7) kedelai di Kecamatan Toho dan
Segedong dengan luas kurang
lebih 9 Ha; dan
8) kacang hijau di Kecamatan
Mempawah Hilir dan Segedong
dengan luas kurang lebih 18 Ha.
b. Kawasan pertanian tanaman pangan
dikembangkan sebagai lahan
pertanian pangan berkelanjutan
(LP2B).
c. Kawasan pertanian hortikultura,
berada di kawasan pertanian lahan
kering dengan pengembangan jenis
komoditas :
1) buah-buahan meliputi pisang,
durian, nenas, jeruk siam,
rambutan dengan luas kurang
lebih 12.959,30 Ha, diarahkan di
setiap kecamatan; dan
2) sayur-sayuran meliputi semangka,
kacang panjang, petsai, terung,
ketimun
dengan luas kurang
lebih 375 Ha, diarahkan di setiap
kecamatan.

KABUPATEN KUBU RAYA

b.

c.

d.

e.

dengan penghasil utama meliputi


Kecamatan Sungai Kakap, Sungai
Raya, Kubu, dan Batu Ampar.
Kawasan pertanian hortikultura,
tersebar di seluruh Kecamatan,
dengan penghasil utama meliputi
Kecamatan Sungai Raya, Sungai
Kakap, Kubu, dan Rasau Jaya.
Kawasan perkebunan, terdiri atas :
1) kawasan perkebunan kelapa sawit,
tersebar di seluruh kecamatan;
2) kawasan utama perkebunan karet,
terdapat di Kecamatan Sungai
Raya, Kuala Mandor B dan Sungai
Ambawang;
3) kawasan utama perkebunan
kelapa dalam, terdapat di
Kecamatan Sungai Kakap, Teluk
Pakedai dan Batu Ampar;
4) kawasan utama perkebunan kopi,
terdapat di Kecamatan Sungai
Ambawang, Kuala Mandor B, dan
Batu Ampar; dan
5) kawasan utama perkebunan
kakao, terdapat di Kecamatan
Sungai Raya, Sungai Kakap, dan
Rasau Jaya.
Kawasan peternakan, tersebar di
seluruh kecamatan, dengan penghasil
utama meliputi Kecamatan Sungai
Ambawang, Rasau Jaya, dan Sungai
Kakap.
Kawasan ketahanan pangan (food
estate) meliputi:
1) Kawasan Paduampat Kecamatan
Batu Ampar dengan luas +5.000
Ha;
2) Kawasan Desa Kerawang
Kecamatan Batu Ampar luas
+8.250 Ha; dan
3) Kawasan Kakap Kompleks luas +
6.610 Ha.

NO
4.11

4.13

PERIHAL
Kawasan peruntukkan
perikanan

Kawasan peruntukkan
perkebunan

KOTA PONTIANAK
a.

KABUPATEN MEMPAWAH

Kawasan peruntukan perikanan


a. Rencana kawasan peruntukan
meliputi:
perikanan terdiri atas :
1) Kawasan perikanan budidaya
1) kawasan peruntukan perikanan
meliputi sepanjang kanan kiri
tangkap yang terdapat di
tepianSungai Kapuas mulai dari
Kecamatan Sungai Pinyuh,
persimpangan Sungai KapuasMempawah Hilir, Mempawah Timur
Sungai Landak sampai Kelurahan
dan Sungai Kunyit;
Parit Mayor dan sepanjang kanan
2) kawasan peruntukan perikanan
kiri tepian Sungai Landak sampai
budidaya yang terdapat di
Kelurahan Siantan Hulu;
Kecamatan Mempawah Hilir,
2) Pangkalan Pendaratan Ikan yang
Mempawah Timur, Anjongan dan
kemudian disingkat PPI terletak
Toho; dan
ditepian sungai Kapuas di
3) kawasan pengolahan hasil
Kelurahan Sungai Jawi Luar
perikanan, yaitu industri perikanan
Kecamatan Pontianak Barat yaitu
dan tempat pelelangan ikan, yang
PPI Kota Pontianak;
tersebar di Kecamatan Mempawah
3) Pusat Pemasaran Ikan Hias
Timur dan Mempawah Hilir.
(Raiser) sebagai pusat
pengembangan bibit ikan hias
yang berdaya jual tinggi yang
berlokasi di jalan 28 Oktober;
4) Balai Benih Ikan selanjutnya
disingkat (BBI) sebagai wadah
pendistribusian benih ikan air
tawar di Kalimantan Barat yang
berlokasi di Kelurahan Parit Mayor
Kecamatan Pontianak Timur;
5) Stasiun Pengisian Bahan Bakar
Diesel Nelayan di Komplek PPI Kota
Pontianak.
a. Kawasan peruntukan perkebunan,
terdiri atas:
1) kawasan perkebunan karet
terutama di Kecamatan Toho,
Sadaniang, Sungai Pinyuh dan
Anjongan dengan luas kurang
lebih 12.387,27 Ha;
2) kawasan perkebunan Kelapa
Dalam terutama di Kecamatan
Siantan, Segedong, Sungai Pinyuh,
Mempawah Hilir, Mempawah Timur
dan Sungai Kunyit dengan luas
kurang lebih 19.843,74 Ha; dan

KABUPATEN KUBU RAYA


a.

b.
c.

d.

e.

Kawasan peruntukan perikanan


tangkap, terdapat di Kecamatan Teluk
Pakedai, Sungai Raya, Sungai
Ambawang Sungai Kakap, Kubu,
Rasau Jaya, dan Batu Ampar.
Kawasan peruntukan budidaya
perikanan, terdapat di seluruh
kecamatan di Kabupaten.
Kawasan pengolahan ikan, meliputi:
1) kawasan Minapolitan Batu Ampar
kawasan pengolahan terdapat di
Desa Padang Tikar I dan Padang
Tikar II;
2) kawasan Minapolitan Kubu
kawasan pengolahan terdapat di
Desa Dabong; dan
3) kawasan Minapolitan Sungai Kakap
kawasan pengolahan terdapat di
Desa Sungai Kupah, Sungai Kakap,
dan Tanjung Saleh.
Unit Pangkalan Pendaratan Ikan (UPPI)
terdapat di Kecamatan Batu Ampar,
Kubu, Teluk Pakedai dan Sungai
Kakap.
Kawasan pelabuhan perikanan,
terdapat di Sungai Rengas
(Kecamatan Sungai Kakap) dan Muara
Kubu (Kecamatan Kubu).

NO

PERIHAL

KOTA PONTIANAK

KABUPATEN MEMPAWAH

KABUPATEN KUBU RAYA

3) kawasan perkebunan Kelapa


Hybrida terutama di Kecamatan
Siantan dengan luas kurang lebih
777 Ha.
4.14

Kawasan peruntukkan
peternakan

4.15

Kawasan peruntukkan
pertambangan

a.

Kawasan peruntukan peternakan,


terdiri atas :
1) ternak besar meliputi komoditas
sapi yang terdapat di Kecamatan
Sungai Kunyit dan Toho;
2) ternak kecil meliputi komoditas
babi yang terdapat di Kecamatan
Toho, Sadaniang, Anjongan dan
komoditas kambing yang terdapat
di Kecamatan Sungai Kunyit; dan
3) ternak unggas meliputi komoditas
ayam ras yang terdapat di
Kecamatan Mempawah Hilir,
Mempawah Timur, Anjongan,
komoditas ayam buras dan
komoditas itik yang terdapat di
Kecamatan Siantan, Segedong,
Sungai Pinyuh, Anjongan,
Mempawah Hilir, Mempawah
Timur, Sungai Kunyit, Sadaniang.
a. Kawasan Peruntukan Pertambangan, a. Kawasan peruntukan pertambangan
terdiri atas :
mineral dan batubara, terdiri atas:
1) Kecamatan Anjongan, Kecamatan
1) pertambangan mineral logam di
Mempawah Hilir, Kecamatan Toho
seluruh wilayah kecamatan;
dan Kecamatan Sadaniang
2) pertambangan mineral non logam
termasuk kawasan peruntukan
dan batuan diseluruh wilayah
pertambangan/wilayah usaha
kecamatan;
pertambangan mineral logam;
3) pertambangan batubara di
2) Kecamatan Anjongan, Kecamatan
Kecamatan Terentang; dan
Toho dan Kecamatan Sadaniang
4) pertambangan minyak dan gas di
termasuk kawasan
Kecamatan Sungai Kakap.
peruntukan/wilayah usaha
pertambangan mineral non logam;
3) Kecamatan Sungai Kunyit,
Kecamatan Mempawah Hilir,
Kecamatan Mempawah Timur,
Kecamatan Anjongan dan
Kecamatan Toho termasuk

NO

PERIHAL

KOTA PONTIANAK

4.16

Kawasan peruntukkan
pertahanan dan keamanan

a.

Kawasan pertahanan dan keamanan


meliputi:
1) Markas TNI di Kelurahan Benua
Melayu Darat; dan
2) Markas Angkatan Laut di
Kelurahan Sungai Jawi Luar

4.17

Kawasan peruntukkan
pelayanan umum dan
kesehatan

a.

Kawasan peruntukan pelayanan


umum meliputi:
3) Kawasan peruntukan pendidikan
seluas 357,5 hektar meliputi :
Kawasan Pendidikan Universitas
Tanjungpura dan Politeknik di
Kecamatan Pontianak Tenggara;
Kawasan Pendidikan Gembala
Baik dan Sekolah Luar Biasa di
Kecamatan Pontianak Tenggara;
Kawasan Pendidikan STAIN di
Kecamatan Pontianak Selatan;
Kawasan Pendidikan Sekolah
Swasta di jalan A. Yani di
Kecamatan Pontianak Selatan;
Kawasan Pendidikan Sekolah
Negeri di Kelurahan Akcaya,

KABUPATEN MEMPAWAH

KABUPATEN KUBU RAYA

kawasan peruntukan
pertambangan/wilayah usaha
pertambangan batubara (gambut);
dan
4) Kecamatan Sungai Pinyuh,
Kecamatan Sungai Kunyit,
Kecamatan Anjongan, Kecamatan
Mempawah Hilir dan Kecamatan
Toho termasuk kawasan
peruntukan pertambangan/wilayah
usaha pertambangan batuan.
a. Kawasan peruntukan pertahanan dan a. Kawasan peruntukan pertahanan dan
keamanan yaitu:
keamanan meliputi:
1) Kodim 1201/Mempawah di
1) Markas Kodam Tanjungpura di
Kecamatan Mempawah Hilir;
Kecamatan Sungai Raya;
2) Yonif 643/Wanara Saktidi
2) Kawasan TNI AU Supadio di
Kecamatan Anjongan;
Kecamatan Sungai Raya;
3) Denzipur-6/Satya Dikdaya di
3) Kompleks Lapangan Tembak di
Kecamatan Anjongan;
Gunung Tamang, Kecamatan
4) Koramil yang terdapat di
Sungai Raya; dan
kecamatan-kecamatan wilayah
4) Lapangan Tembak di Kecamatan
Kabupaten;
Rasau Jaya.
5) Pos TNI AL Tipe A Mempawah di
Kecamatan Mempawah Hilir; dan
6) Pos TNI AL Tipe B Temajo di
Kecamatan Sungai Kunyit.

NO

PERIHAL

KOTA PONTIANAK

KABUPATEN MEMPAWAH

KABUPATEN KUBU RAYA

Kecamatan Pontianak Selatan;


Kawasan Pendidikan Widya
Dharma dan sekitarnya di
Kecamatan Pontianak Selatan;
Kawasan Pendidikan Universitas
Panca Bhakti di Kelurahan
Sungai Beliung Kecamatan
Pontianak Barat;
Kawasan Pendidikan Tinggi di
Jalan Ampera di Kelurahan
Sungai Jawi Kecamatan
Pontianak Kota;
Kawasan Pendidikan Sekolah
Terpadu di Kecamatan
Pontianak Timur; dan
Kawasan Pendidikan Tinggi
Politeknik Kesehatan Negeri di
Kecamatan Pontianak Utara;
4) Kawasan peruntukan kesehatan,
meliputi :
Puskesmas dan balai
pengobatan diarahkan di setiap
pusat lingkungan;
Rumah Sakit Umum di
Kelurahan Bangka Belitung
Laut, Kelurahan Sungai Jawi,
Kelurahan Sungai Beliung, dan
Kelurahan Tambelan Sampit.
5) Kawasan peruntukan peribadatan
diarahkan menyebar dan merata
di seluruh kawasan kota dan/atau
permukiman.

4.18

Kawasan peruntukkan hutan


rakyat

PENETAPAN KAWASAN
STRATEGIS WILAYAH
Kawasan strategis nasional

Kawasan peruntukan hutan rakyat,


terdapat di Kecamatan Sungai Raya,
Sungai Ambawang, Kubu, Terentang,
Batu Ampar dan Teluk Pakedai.
Kawasan Strategis Nasional adalah
Kawasan Strategis Nasional Stasiun
Pengamat Dirgantara Pontianak yang
merupakan kawasan strategis dari sudut
kepentingan penggunaan sumberdaya

Kawasan Strategis Nasional yang ada di


Kabupaten Pontianakadalah kawasan
strategis dari sudut kepentingan
pendayagunaan sumberdaya alam dan
teknologi tinggi yaitu Kawasan Stasiun

NO

PERIHAL

Kawasan strategis provinsi

Kawasan strategis
kota/kabupaten

KOTA PONTIANAK

KABUPATEN MEMPAWAH

alam dan teknologi tinggi yang berlokasi Pengamat Dirgantara Pontianak yang
Kabupaten Pontianak berbatasan
terdapat di Kecamatan Siantan.
dengan Kecamatan Pontianak Utara.
Kawasan Strategis Provinsi , terdiri
Kawasan Strategis Provinsi yang ada di
atas :
Kabupaten Pontianak, adalah kawasan
a. Kawasan Pusat pemerintahan Provinsi strategis dari sudut kepentingan
Kalimantan Barat yang merupakan
pertumbuhan ekonomi di Kawasan
kawasan strategis yang berlokasi di
Pelabuhan Utama Temajo dan sekitarnya
Kelurahan Bangka Belitung Darat
di Kecamatan Sungai Kunyit (Kabupaten
Kecamatan Pontianak Tenggara
Pontianak) dengan sektor unggulan
ditandai dengan adanya Kantor
industri pengolahan bauksit dan industri
Gubernur Kalimantan Barat serta
lainnya.
instansi terkait;
b. Kawasan Pusat pelayanan Olahraga
Stadion Sultan Syarif Abdurahman
yang berlokasi di Kelurahan Akcaya
Kecamatan Pontianak Selatan;
c. Kawasan Pusat Pelayanan Kesehatan
di rumah Sakit Sudarso yang
berlokasi di Kelurahan Bangka
Belitung Laut Kecamatan Pontianak
Tenggara; dan
d. Kawasan Universitas Tanjung Pura
yang berlokasi di Kelurahan Bansir
Laut Kecamatan Pontianak Tenggara.
a. Kawasan strategis dari sudut
Kawasan Strategis Kabupaten, meliputi :
kepentingan ekonomi terdiri atas:
a. kawasan yang memiliki nilai strategis
1) kawasan Perdagangan Tanjung
dari sudut kepentingan pertumbuhan
Pura dan Gajah Mada, meliputi
ekonomi meliputi :
Kecamatan Pontianak Kota dan
1) kawasan sub pusat perdagangan
Pontianak Barat;
dan jasa di Kecamatan Sungai
2) kawasan Komersial Ahmad Yani di
Pinyuh
Kecamatan Pontianak Selatan;
2) kawasan industri di Kecamatan
3) kawasan Pelabuhan Seng Hie,
Sungai Kunyit dan Siantan; dan
yaitu kawasan strategis dari sudut b. kawasan yang memiliki nilai strategis
kepentingan distribusi barang dan
dari sudut kepentingan sosial budaya
pergerakan orang melalui
terdiri atas Kawasan Keraton
transportasi sungai lintas
Amantubillah, Makam Habib Husein di
kota/kabupaten dan Pelabuhan
Kecamatan Mempawah Timur dan
Nusantara Nipah Kuning yang
Sebukit di Kecamatan Mempawah
melayani pelayaran skala regional
Hilir.
dengan berbagai rute, baik skala
provinsi maupun skala nasional;

KABUPATEN KUBU RAYA

NO

PERIHAL

KOTA PONTIANAK
dan
4) kawasan terminal, industri dan
pergudangan di Kecamatan
Pontianak Utara.
b. Kawasan strategis dari sudut
kepentingan sosial budaya dan
pariwisata terdiri atas :
1) Kawasan Konservasi Cagar Budaya
Keraton Kadriah di Kecamatan
Pontianak Timur; dan
2) Kawasan Pemakaman Kerajaan
Pontianak di Batulayang di
Kecamatan Pontianak Utara.
c. Kawasan strategis dari sudut
kepentingan pendayagunaan sumber
daya alam dan/atau teknologi tinggi
yaitu Kawasan Tugu Khatulistiwa.
d. Kawasan strategis dari sudut
kepentingan fungsi dan daya dukung
lingkungan hidup meliputi:
1) Kawasan sentra agribisnis,
resapan air dan lahan gambut di
Kecamatan Pontianak Utara; dan
2) Kawasan alur Sungai Kapuas dan
Sungai Landak.

KABUPATEN MEMPAWAH

KABUPATEN KUBU RAYA