Anda di halaman 1dari 2

Pertanyaan:

Mengapa Indonesia meninggalkan sistem moneter emas dan beralih ke Dollar AS?
Jawab:
Perubahan sistem emas ke sistem Dollar AS yang dianut Indonesia tak lepas dari kondisi
perekonomian dunia. Dunia tercatat pernah mengikuti sistem standar emas, sistem Bretton
Woods, dan sistem nilai tukar mengambang. Berikut sejarah sistem moneter dunia dan Indonesia.
Sistem Standar Emas
Tahun 1870-an adalah tonggak sejarah dimulainya sistem keuangan berstandar emas.
Pada saat itu, logam mulia yakni emas dan perak sudah banyak dipakai sebagai alat pembayaran
internasional di banyak negara. Namun, saat itu muncul persoalan tentang besaran nilai emas dan
perak belum ada standar yang disepakati di dunia.
Indonesia di bawah pendudukan Kolonial Belanda saat itu juga mengadopsi standar
emas. Pada Desember 1872 sebuah komisi Negara Belanda mengumumkan bahwa standar perak
dapat dipertahankan di Indonesia karena di Asia perak lebih disukai ketimbang emas. Presiden
Bank Jawa saat itu, N P Van den Berg, dengan segera menganjurkan standar emas untuk koloni
juga, guna menekankan ketidakstabilan nilai perak.
Pada tanggal 28 Maret 1877 sebuah undang-undang disahakan yang mengadakan
pecahan 10 Gulden emas sebagai uang logam standar. Kebijakan pertukaran emas oleh Bank
Jawa berjalan sepanjang 1895-1939.
Sementara itu, tahun 1919 situasi politik di Benua Eropa memanas. Perang dunia II pecah
pada tahun 1939-1945, menyebabkan banyak proyek-proyek militer yang menelan dana sangat
besar. Hal itu menyebabkan kebutuhan uang meningkat dan tidak bisa diimbangi dengan jumlah
emas yang ada. Terjadi krisis emas pada masa ini.
Sistem Bretton Woods
Untuk menyelamatkan perekonomian dunia, pada Juli 1944 diselenggarakan pertemuan
tingkat dunia di Bretton Woods, New Hampshire, Amerika Serikat, yang dihadiri 700 perwakilan
dari 45 negara di dunia. Indonesia adalah salah satu negara yang hadir dalam pertemuan Bretton
Woods ini.
Pertemuan Bretton Woods tersebut menyepakati beberapa hal berkaitan dengan sistem
keuangan. Pada intinya, pertemuan tersebut menyepakati negara-negara di dunia boleh
menjadikan mata uang USD dan poundsterling sebagai cadangan devisanya sebagai pengganti
emas. Syaratnya, AS dan Inggris akan mengontrol jumlah Dollar dan Poundsterling sesuai
dengan cadangan emas yang mereka miliki. Dengan kata lain, standar emas sebenarnya juga
masih berlaku karena uang saat itu tidak dicetak semaunya. Dalam sistem ini, Presiden
Rooselvelt juga membuat kebijakan moneter agar setiap negara diberi kemudahan untuk
menyetarakan uangnya terhadap emas ataupun terhadap Dollar AS dengan sistem kurs fixed
exchange rates.
Namun, perang Vietnam memberikan tekanan kuat pada ekonomi Amerika Serikat. The
Fed tergiur mencipta dollar melebihi kapasitas emas yang dimiliki. Akibatnya, terjadi krisis
kepercayaan masyarakat dunia terhadap dolar AS.
Negara-negara Eropa kemudian melakukan penukaran Dollar AS besar-besaran. Perancis
adalah negara yang pertama kali melakukan reaksi dengan menukaran 150 juta Dollar AS yang

dipegang negara itu dengan emas. Tindakan Perancis selanjutnya diikuti Spanyol yang juga
menarik 60 juta Dollar AS dengan emas. Hal itu menyebabkan cadangan emas di Fort Knox
berkurang drastis. Peristiwa tersebut akhirnya membuat Amerika Serikat membatalkan sistem
Bretton Woods secara sepihak lewat Dekrit Presiden Nixon pada 15 Agustus 1971. Isi dekrit
tersebut menyatakan bahwa Dollar AS tidak lagi dijamin dengan emas.
Berkaitan dengan sistem Bretton Woods, Indonesia juga pernah menerapkan Fixed
Exchanged Rate tahun 1970- 1978 terhadap Dollar AS. Dalam sistem ini ditetapkan bahwa nilai
tukar Indonesia sebesar Rp 415 per Dollar AS. Sedangkan nilai tukar Indonesia terhadap negara
lainnya ditetapkan berdasarkan nilai tukar dollar terhadap negara tersebut sesuai dengan yang
berlaku di pasar valuta asing Jakarta dan internasional.
Sistem Nilai Tukar Mengambang
Namun, karena tidak ada standar lain yang diterima luas di dunia kecuali Dollar dan
Emas, maka Dollar tetap menjadi mata uang internasional untuk cadangan devisa negara-negara
di dunia.
Sistem Bretton Woods secara de jure berakhir melalui sebuah pertemuan dari anggota
IMF diadakan di Kingston, Jamaika, 1976. Mulai tahun 1976, dunia mengaut sistem baru yang
disebut dengan floating exchange rate atau sistem nilai tukar mengambang.
Sistem kurs mengambang (floating exchange rate) adalah kurs ditentukan oleh
mekanisme pasar dengan atau tanpa adanya campur tangan pemerintah dalam upaya stabilisasi
melalui kebijakan moneter.
Dalam sistem Floating exchaged rate juga dikenal dua macam kurs mengambang.
Pertama adalah kurs mengambang bebas yakni sistem kurs mata uang ditentukan sepenuhnya
oleh mekanisme pasar tanpa adanya campur tangan pemerintah. Adapun yang kedua adalah
sistem kurs mengambang terkendali (Managed floating rates) dimana otoritas moneter
mempunyai peran aktif dalam menstabilkan kurs pada tingkat tertentu.
Indonesia pernah menganut sistem kurs mengambang terkendali mulai tahun 1978-1997
sebelum krisis moneter. Pada tahun 1997 saat mulai memasuki krisis moneter, Indonesia
memasuki sistem kurs mengambang bebas hingga sekarang.
Referensi
Buku

Pedoman
Tentang
IMF,
2003.
Washington,
D.C.,
USA,
dalam
https://www.imf.org/external/pubs/ft/exrp/what/IND/whati.pdf
Deliarnov, 2006. penetapan Sistem Kurs Diindonesia, dalam Ekonomi Politik. Penerbit
Erlangga. Jakarta.
http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20150824135719-78-74090/dolar-sentuh-rp-14-ribu-bidiminta-jaga-cadangan-devisa/