Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Analisa struktur merupakan ilmu untuk menentukan efek dari beban pada

struktur fisik dan komponennya. Adapun cabang pemakaiannya meliputi analisis


bangunan,

jembatan,

perkakas,

mesin,

tanah,

dll.

Analisis

struktur

menggabungkan bidang mekanika teknik, teknik material dan matematika teknik


untuk menghitung deformasi struktur, kekuatan internal, tekanan, reaksi tumpuan,
percepatan, dan stabilitas. Hasil analisis tersebut digunakan untuk memverifikasi
kekuatan struktur yang akan maupun telah dibangun. Dengan demikian analisis
struktur merupakan bagian penting dari desain rekayasa struktur.

1.2

Rumusan Masalah
Kita dapat mengetahui apa yang dimaksud Analisa struktur dan bagian-

bagiannya.

1.3

Tujuan
Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah

Mekanika Teknik pada Jurusan Teknik industri Universitas Malikussleh.

BAB II
TIJAUAN PUSTAKA

2.1

Pengertian Analisis Struktur


Analisa struktur merupakan ilmu untuk menentukan efek dari beban pada

struktur fisik dan komponennya. Adapun cabang pemakaiannya meliputi analisis


bangunan,

jembatan,

perkakas,

mesin,

tanah,

dll.

Analisis

struktur

menggabungkan bidang mekanika teknik, teknik material dan matematika teknik


untuk menghitung deformasi struktur, kekuatan internal, tekanan, reaksi tumpuan,
percepatan, dan stabilitas. Hasil analisis tersebut digunakan untuk memverifikasi
kekuatan struktur yang akan maupun telah dibangun. Dengan demikian analisis
struktur merupakan bagian penting dari desain rekayasa struktur.

2.1

Sejarah Analisa Struktur

Gambar 2.1

Tulisan Galileo Gallilei mengenai lentur balok kantilever

Sejarah analisis struktur lahir dari ilmu mekanika yang merupakan cabang
dari fisika. Tulisan tertua yang berisi ilmu ini dibuat oleh Archimedes (287-212
SM) yang membahas prinsip pengungkit dan prinsip kemampuan mengapung.
Kemajuan yang besar diawali oleh hukum kombinasi vektor gaya oleh Stevinus
(1548-1620), yang juga merumuskan sebagian besar dari prinsip-prinsip statika.
Penyelidikan tentang lentur pertama kali dilakukan Galileo Galilei (1564-1642)
namun baru dipecahkan dengan baik oelh Auguste Coloumb (1736-1806). Robert
Hooke (1635 - 1703) menemukan kelakuan material yang dikenal dengan hukum
Hooke sebagai dasar dari ilmu elastisitas. Metode kerja maya dikembangkan
awalnya oleh Leibnitz untuk menyelesaikan masalah mekanika biasa. Selanjutnya
pendekatan ini benar-benar sangat berguna dan penggunaannya diperluas dalam
berbagai kasus. Berbeda dengan ilmuwan lain yang menekankan persamaan
analitik, Christian Otto Mohr (18351918) mengembangkan metode grafis yang
antara lain lingkaran Mohr (untuk menentukan tegangan), dan diagram Williot-

Mohr (untuk menentukan perpindahan truss). Tokoh lain yang terlibat dalam
perkembangan ilmu analisis struktur awal diantaranya, Marotte, D'Alembert,
Euler (teori balok dan tekuk), Navier, Bernoulli (teori balok), Maxwell (Prinsip
Maxwell), Betti (hukum Betti), St. Venant (torsi), Rayleigh, dan Castigliano (teori
defleksi). Teori

balok

Euler-Bernoulli

dibuktikan

kebenarannya

dengan

diselesaikannya pembangunan Menara Eiffel di Paris. Sebelumnya teori itu hanya


dibahas oleh para ilmuwan semata.
Di abad modern, perkembangan besar ilmu bahan dilakukan oleh ilmuwan
Rusia-AS Stephen P. Timoshenko. Maha karyanya Strenght of Material
merupakan buku wajib mahasiswa teknik sipil hampir diseluruh dunia. Penemuan
penting lain adalah metode distribusi momen oleh Hardy Cross pada tahun 1930
dalam tulisannya di jurnal ASCE. Kontribusi lain Cross adalah metode analogi
kolom. Namun metode klasik yang mulai digantikan seiring dengan
berkembangnya kemampuan dan kecepatan komputer. Maka dari itu penggunaan
metode elemen hingga semakin meluas oleh insinyur struktur. Analisis yang
sebelumnya memakan banyak kertas dengan ketelitian semakin berkurang dengan
banyaknya variabel berhasil diatasi. Metode ini pertama kali dipakai dalam
menganalisis gedung Opera Sydney oleh firma konsultan kenamaan Ove Arup.
Bisa dikatakan metode elemen hingga merupakan penemuan terpenting dalam
bidang analisis struktur.
2.3

Elemen Struktur
Sebuah sistem struktur merupakan gabungan antara elemen struktur

dengan bahannya. Sangat penting bagi insinyur untuk mengklasifikasi struktur


baik bentuk maupun fungsi dengan mengenali berbagai elemen yang menyusun
struktur tersebut. Elemen struktur diantaranya :
2.3.1 Elemen lentur: Balok sederhana

Sebuah balok langsing yang diberi perletakan sederhana akan


menghasilkan lenturan. Sebutan masalah lentur diartikan pada studi
mengenai tegangan dan deformasi yang timbul pada elemen yang
mengalami aksi gaya. Umumnya tegak lurus pada sumbu elemen sehingga
salah satu tepi serat mengalami perpanjangan dan tepi serat lainnya
mengalami penyusutan. Persamaan sederhana untuk menentukan tegangan
lentur pada balok dengan perletakan sederhana adalah :[1]

Dimana

adalah tegangan lentur

M - momen pada sumbu netral

y - jarak tegak lurus sumbu netral ke tepi

Ix - momen inersia luasan pada sumbu netral x.

2.3.2

Elemen tekan
Selain dinding pemikul beban, kolom juga merupakan elemen

vertikal yang sangat banyak digunakan. Umumnya kolom tidak


mengalami lentur secara langsung dikarenakan tidak ada beban tegak lurus
pada sumbunya. Kolom dikategorikan bedasarkan panjangnya. Kolom
pendek adalah kolom yang kegagalannya berupa kegagalan material
(ditentukan oleh kekuatan material). Kolom panjang adalah kolom yang

kegagalannya ditentukan oleh tekuk, jadi kegagalannya adalah kegagalan


karena ketidakstabilan, bukan karena kekuatan.[2]
2.3.3

Pelat
Plat adalah struktur palanar kaku yang secara khas terbuat dari

material monolit yang tingginya yang kecil dibandingkan dengan dimensi


lainnya. Umumnya dapat dikatakan bahwa pelat yang terbuat dari material
homogen mempunyai sifat yang sama pada segala arah.
2.3.4

Membran
Membran adalah suatu struktur permukaan fleksibel tipis memikul

beban terutama melalui proses tegangan tarik. Struktur membran


cenderung dapat menyesuaikan diri dengan cara struktur dibebani. Selain
itu struktur ini sangat peka terhadap efek aerodinamika dari angin. Efek ini
dapat menyebabkan fluttering (getaran). Penstabilan bisa dilakukan
dengan memberi gaya pra-tegang.
2.3.5

Cangkang
Cangkang adalah bentuk struktural berdimensi tiga yang kaku dan

tipis serta mempunyai permukaan yang lengkung. Beban-beban yang


bekerja pada permukaan cangkang diteruskan ke tanah dengan
menimbulkan tegangan geser, tarik, dan tekan pada arah dalam bidang (inplane) permukaan tersebut.

2.4

Tipe Struktur
Kombinasi elemen struktur dan material yang menyusunnya disebut

sebagai suatu sistem struktur. Setiap sistem dibangun dari satu atau lebih dari
keempat tipe dasar struktur.

Gambar 2.2 Gedung John Hancock Center, merupakan gabungan struktur kerangka kotak (tube)
sebagai penahan beban gravitasi dan truss-x sebagai pengaku lateral.

2.4.1

Truss
Truss terdiri dari ikatan elemen balok tegangan tarik dan elemen

kolom pendek dan biasanya berbentuk segitiga. Truss bidang disusun dari
elemen-elemen yang berada pada bidang yang sama (2 matra) dan
seringkali

digunakan

untuk

jembatan-jembatan,

penopang

atap.

Sebaliknya, truss ruang memiliki elemen-elemen yang dapat mengembang


ke dalam tiga matra dan cocok untuk derek dan menara. Kemampuan
bentangnya mulai dari 10 m hingga 125 m. Untuk kasus jembatan di
Indonesia, kemampuan bentang truss tipe Warren bisa mencapai 60 m
dibandingkan dengan jembatan balok prategang sederhana yang hanya
mampu membentang sepanjang 30 m.
2.4.2

Kabel
Dua bentuk lain dari struktur yang digunakan untuk bentang

panjang adalah kabel dan bangunan berpola lengkungan. Kabel biasanya

fleksibel dan menyangga beban-bebannya dalam tegangan tarik. Tidak


seperti tegangan tarik yang mengikat, beban luar (eksternal) tidak dipakai
sepanjang sumbu kabel, dan akibatnya kabel mengalami bentuk
kelengkungan tertentu.
Kabel umumnya digunakan untuk tujuan seperti menopang gelagar
jembatan dan atap bangunan. Bila digunakan untuk tujuan ini, kabel
memiliki suatu keuntungan dibandingkan balok dan truss khususnya untuk
bentang melebihi 50 meter. Karena mereka berlaku sebagai tegangan tarik,
kabel-kabel tidak akan menjadi stabil dan runtuh secara mendadak seperti
yang biasa terjadi pada balok atau truss. Dalam aspek biaya, truss akan
membutuhkan

biaya

tambahan

dalam

konstruksinya

dan

terjadi

peningkatan ketinggian akibat bentang yang meningkat. Penggunaan


kabel-kabel pada sisi lain dibatasi hanya oleh berat dan metode-metode
penggantungan.
2.4.3

Lengkungan
Lengkungan atau busur (Arch) mencapai kekuatannya dalam

tegangan mampat, karena ia memiliki suatu bentuk kurva yang berlawanan


dibandingkan dengan kabel. Lengkungan meskipun harus dimampatkan
agar dapat menjaga bentuknya dan akibatnya pembebanan sekunder
seperti gaya geser dan momen, harus dipertimbangkan dalam desainnya.
Lengkungan seringkali digunakan dalam struktur jembatan, kubah, dan
untuk pintu masuk dinding bangunan batu.
2.4.4

Kerangka
Kerangka-kerangka (Frames) sering digunakan dalam bangunan

yang tersusun dari balok dan kolom yang hubungan berupa sambungan pin
(sendi) ataupun sambungan kaku. Pembebanan pada suatu kerangka
menyebabkan pembengkokan anggota bagian dan akibat dari hubungan
sambungan kaku, struktur ini umumnya menjadi struktur tak tentu dari
sudut pandang analisis. Kekuatan dari suatu kerangka diturunkan dari

interaksi momen antara balok dan kolom pada sambungan kaku, dan
hasilnya

keuntungan

ekonomis

dari

penggunaan

suatu

kerangka

bergantung pada peningkatan efesiensi dalam menggunakan ukuran balok


yang lebih kecil terhadap peningkatan ukuran kolom dari aksi balokkolom yang disebabkan pembengkokan pada sambungan-sambungan.
2.4.5

Struktur bidang permukaan


Struktur bidang permukaan dibuat dari suatu bahan yang memiliki

ketebalan yang sangat tipis dibandingkan dengan ukuran dimensi lainnya.


Kadangkala material ini sangat lentur dan dapat mengambil bentuk suatu
tenda atau struktur gelembung udara. Pada kasus ini material bekerja
sebagai suatu struktur membran yang dibebankan oleh tegangan tarik
murni.
Struktur bidang permukaan bisa juga dibuat dari bahan kaku
seperti beton pratekan atau ferro-semen. Sebagaimana mereka bisa
dibentuk sebagai pelat lipatan, silinder, atau parabola hiperbolik dan
disebut pelat tipis atau cangkang. Struktur ini bekerja menyerupai kabel
atau lengkungan karena mereka pada pokoknya menopang beban-beban
dalam bentung tegangan tarik atau mampatan (tekanan) dengan
pembengkokan yang sangat kecil. Struktur ini rumit dianalisis kecuali
dengan bantuan komputer dengan metode elemen hingga.

2.5

Beban

Gambar 2.3 Jembatan tipe Warren Truss di Leupung, Aceh. Disini beban mati adalah berat rangka
baja dan perkerasan jalan. Sedang beban hidupnya adalah beban kendaraan, angin, dan gempa.

Setelah dimensi dari struktur itu diketahui, sangat penting kemudian


menentukan beban apa saja yang ditanggung dari struktur. Beban disain biasanya
dispesifikasi oleh peraturan bangunan yang berlaku. Untuk wilayah hukum
Indonesia digunakan SNI 03 1727 1989 Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah
dan Gedung. Ada dua jenis beban pada struktur yang harus dipertimbangkan
dalam desain. Tipe pertama ini disebut dengan Beban mati yang merupakan berat
dari kumpulan setiap anggota struktur maupun berat objek benda yang
ditempatkan secara permanen. Sebagai contoh, kolom, balok, balok penopang
(girder), pelat lantai, dinding, jendela, plumbing, alat listrik, dan lain sebagainya.
Kedua adalah Beban hidup, yang mana beban yang bergerak atau bervariasi dalam
ukuran maupun lokasi. Contohnya adalah beban kendaraan pada jembatan, beban
pengunjung pada gedung, beban hujan, beban salju, beban ledakan, beban gempa,
dan beban alami lainnya.
2.5.1

Beban angin
Bila struktur merintangi aliran angin, energi kinetik angin

dikonversikan ke dalam energi potensial tekanan, yang menyebabkan


terjadinya suatu pembebanan angin. Efek angin pada struktur bergantung
pada kerapatan dan kecepatan udara, sudut datang angin, bentuk dan
kekakuan struktur dan kekesaran permukaannya. Pembebanan angin bisa
ditinjau dari pendekatan statik maupun dinamik.
2.5.2

Beban gempa
Gempa bumi menghasilkan pembebanan pada suatu struktur

melalui interaksi gerakan tanah dan karakteristik respon struktur.


Pembebanan ini merupakan hasil dari distorsi struktur yang disebabkan
oleh gerakan tanah dan kekakuan struktur. Besarnya bergantung pada
banyak dan tipe percepatan gerak tanah, masa dan kekakuan struktur.

Pembebanan dan analisis gempa di Indonesia merujuk pada SNI 03 1726


2010 Standar Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan
Gedung dan Non Gedung.
2.5.3

Tekanan Hidrostatik dan Tekanan Tanah


Bila struktur-struktur digunakan untuk menahan air, tanah atau

materi glanural, tekanan yang dihasilkan oleh beban-beban ini menjadi


suatu kriteria desain yang penting. Contohnya adalah bendungan atau
dinding penahan (retaining wall). Disini hukum-hukum hidrostatik dan
mekanika tanah dipakai untuk menentukan pembebanan struktur.

2.6

Stabilitas Struktur
Pada struktur stabil, deformasi yang diakibatkan beban pada umumnya

kecil dan gaya dakhil (internal) yang timbul dalam struktur mempunyai
kecenderugan mengembalikan bentuk semula apabila bebannya dihilangkan. Pada
struktur tidak stabil, deformasi yang diakibatkan oleh beban pada umumnya
mempunyai kecenderungan untuk terus bertambah selama struktur dibebani.
Struktur yang tidak stabil mudah mengalami keruntuhan secara menyeluruh dan
seketika begitu dibebani. Sebagai contoh, bayangkan tiga buah balok disusun
membentuk rangka segiempat. Berikan gaya horizontal diujung rangka atas balok
tersebut. Maka lama kelamaan rangka itu roboh. Salah satu cara untuk
membuatnya lebih stabil dengan bracing atau mengisinya dengan dinding. Selain
dengan yang disebutkan tadi, ketidakstabilitas struktur bisa diakibatkan juga oleh
kelemahan kolom yang diakibatkan tekuk maupun efek P-Delta.

2.7

Formasi Struktur
Formasi struktur yang dipilih tergantung dari banyak pertimbangan.

Seringkali, persyaratan fungsi struktur membatasi formasi struktur yang

dipertimbangkan. Faktor-faktor lain seperti persyaratan estetika, kondisi


lingkungan (fondasi, pembebanan dari alam), ketersediaan material dan aspek
ekonomis mungkin sangat berperan dalam pemilihan formasi struktur. Faktor
kelestarian lingkungan seperti efisiensi pemakaian energi atau gangguan terhadap
aliran sungai juga mulai mendapat perhatian.

2.8

Struktur Tarik Dan Tekan


Struktur tarik dan tekan terdiri dari elemen-elemen yang mengalami

tekanan atau tarikan murni. Struktur semacam ini bisa sangat efisien dalam
pemakaian material karena tegangan yang terjadi besarnya konstan pada suatu
penampang. Salah satu formasi struktur tarik yang paling sederhana seperti pada
struktur jembatan atau atap yang digantungkan pada kabel. Komponen utama pada
struktur seperti ini adalah kabel penggantungnya. Struktur tekan yang paling
umum adalah pelengkung. Struktur jenis ini, yang bentuknya seperti kabel
penggantung terbalik, akan mengalami gaya tekan murni pada rusuk-rusuknya
apabila dibebani sesuai dengan rencana.
Formasi struktur yang mengkombinasikan komponen tertekan dan tertarik
adalah struktur rangka batang. Masing-masing elemen mengalami gaya tekan atau
gaya tarik murni dan bekerja sama sebagai satu sistem struktur yang stabil.

St
R
ru
a
kt
n
ur
g
ta
te
k
ri
k
a
b
k
a
at
n
a
n
g

2.9

Balok Lentur dan Struktur Frame/Portal


Elemen lentur mengalami aksi lentur yang mengakibatkan

tarikan pada satu sisi dan tekanan pada sisi yang lain disamping
adanya gaya geser transversal. Bentuk paling sederhana yang
mengalami mode ini adalah balok. Struktur frame/portal disusun
dari elemen-elemen yang mengalami lentur murni dan elemenelemen yang memikul kombinasi lentur dan tarik atau tekan.
Elemen struktur lentur dapat memikul beban tidak searah
sumbu sepanjang batangnya. Sambungan antar elemen pada
struktur jenis ini umummya sambungan kaku.

2.10 Struktur Permukaan


Struktur permukaan membentuk konfigurasi ruang dengan
permukaan tiga dimensi kontinyu, dan memikul beban dengan
permukaannya sendiri. Formasi struktur seperti ini misalnya:
pelat,

pelat

terlipat,

cangkang,

dome,

struktur

kulit,

dan

membran. Jenis struktur ini sangat efisien dalam penggunaan


material struktur dan sangat flexibel.

2.11 Gaya
Gaya merupakan besaran vektor yang dinyatakan dengan:

Besar (magnitude)

Arah

Titik tangkap (garis kerja)

Px P cos
Py P sin
Gaya dapat diuraikan menjadi komponenkomponen pada arah yang dikehendaki:

Komponen-komponen gaya dapat dijumlahkan, hasilnya disebut


resultan:
R Px2 Py2
Py

tan 1

Px R P1 P2

Untuk gaya-gaya searah:

Untuk gaya-gaya yang saling tegak lurus:


Untuk gaya-gaya pada arah sembarang:

Uraikan masing-masing gaya pada dua arah yang saling


tegak lurus, misalnya sumbu x dan y.
Pix Pi cos ;

Rx

Piy Pi sin

Jumlahkan komponen-komponen pada arah-arah x dan y.

P ;
ix

Ry

R R x2 R y2 ;

iy

Ry

tan 1

Rx

Hitung resultan seperti pada

penjumlahan dua gaya yang saling tegak lurus.

2.12 Momen
M r F sin

Momen terhadap suatu sumbu, akibat suatu gaya,

adalah ukuran kemampuan gaya tersebut menimbulkan rotasi


terhadap sumbu tersebut. Momen didefinisikan sebagai:
M jarak garis kerja gaya r F r sin

dari sumbu ke titik kerja gaya dan

dimana r adalah jarak radial


adalah sudut lancip antara r

dan F. Karena jarak dari sumbu ke garis kerja gaya adalah


, momen sering juga didefinisikan sebagai:

a) Momen akibat banyak gaya

Efek rotasi yang ditimbulkan oleh beberapa gaya terhadap


suatu titik atau sumbu sama dengan penjumlahan aljabar
dari momen masing-masing gaya terhadap titik atau garis
tersebut.
M ( F1r1 ) ( F2 r2 ) ( Fn rn )

b) Momen akibat beban terdistribusi


Dalam analisa struktur seringkali pembebanan dinyatakan
sebagai gaya yang terdistribusi. Momen yang ditimbulkan
oleh beban terdistribusi dapat dicari dengan integrasi:

M
ak
ib
at
se
ba
gi
an
be
ba
n
se
le
ba
r
dx
:
M
ak
ib
at
se
lu
ru
h
ga
ya
te
rd
ist
ri
bu
si:

dM O x.w.dx
dM O
M

MO

x.w.d x

x.w.d x

x.w.dx
l

c) Momen dari suatu kopel.


Kopel adalah sistem gaya yang terdiri atas dua gaya yang
sama besar, tetapi berlawanan arah, dan garis kerjanya
sejajar dan tidak terletak pada satu garis. Kopel hanya
mengakibatkan

efek

rotasional

(tidak

ada

efek

translasional) terhadap benda. Momen akibat kopel didapat


dari hasil kali antara satu gaya dengan jarak antara garis
kerja

kedua

gaya. Momen akibat suatu

kopel

tidak

tergantung kepada titik referensi atau sumbu putar yang


dipilih.

2.12 Sistem Ekivalen Secara Statis

Sistem gaya yang bekerja pada stuktur dapat digantikan


dengan sistem yang ekivalen secara statis, yaitu sistem yang
menimbulkan efek translasi dan rotasi yang sama terhadap suatu
benda

Gaya-gaya yang bekerja melalui satu titik yang sama dapat


digantikan dengan resultan gaya-gaya

tersebut yang

bekerja melalui titik perpotongannya.

Gaya-gaya yang tidak melalui titik yang sama dapat


digantikan dengan gaya yang besarnya sama dengan
resultan gaya-gaya, dengan garis kerja diatur sehingga
momen yang ditimbulkan terhadap suatu titik sama
dengan penjumlahan momen-momen akibat semua

F F
F / F
2

Magnitude : R
Arah : tan 1

Momen yang ditimbulka n : M Ra Fx a x Fy a y


Jarak garis kerja : a

F a F a
x

2.13 Gaya-Gaya Sejajar

R = F1 + F2
Mo = a1.F1 + a2 .F2
a1.F1 + a2 .F2 = a.R

R w.dx
l

M0 = a.R
a = (a1.F1 + a2 .F2 )/R

rR M 0 w.x.dx
l

w.x.dx
l

w.dx
l

2.14

Gaya Terdistribusi

Resultan = luas bidang gaya terdistribusi


Garis kerja resultan melewati titik berat penampang bidang gaya
Contoh: gaya terdistribusi merata dan terdistribusi linier:

2.15 Sistem Gaya Sembarang

Gaya

Fx

Fy

MA akibat

M A 40 P 60 P 100 P

Fx

R Rx2 R y2 25 P

tan 1 R y / Rx 53o
a
MA
Fy
10 P

10
P

2 x 10 =
10 P

M A 100 P

4
R
25 P
akibat

10 P

10

2 x 10 =

P
11.2 P

Jumlah

5P

20 P

10

4 x 5 =

4 x 10 =

20 P

40 P

15

20

40 P

60 P

2.16 Keseimbangan
Struktur dalam keadaan seimbang apabila kondisi awalnya
diam dan tetap diam pada saat dibebani gaya-gaya luar.
Persyaratan

keseimbangan

dicapai

apabila

potensi

untuk

mengalami translasi dan rotasi dihilangkan. Apabila suatu


struktur memenuhi kondisi seimbang ini, setiap bagian dari
struktur juga dalam kondisi seimbang.

0;

0
Struktur 2-dimensi:

Keseimbangan gaya:

M 0

Keseimbangan momen:

0;

0;

0;

0;

Keseimbangan momen:

Struktur 3-dimensi:
z

Keseimbangan gaya:

2.17 Resultan Beban Diimbangi Gaya Penyeimbang

2.18 Keseimbangan Benda Dengan Dua Atau Tiga Gaya

2.19 Konfigurasi Struktur Menentukan Kestabilan

2.20 (Momen dan Gaya) Internal vs Eksternal


Gaya atau momen yang bekerja pada struktur, seperti
beban atau muatan termasuk berat sendiri struktur, disebut gaya
eksternal. Gaya atau momen yang bekerja pada suatu struktur
dapat dibedakan menjadi aksi dan reaksi. Keseimbangan tercapai
bila beban yang bekerja (aksi) diimbangi oleh gaya reaksi pada
sistem penopang struktur.
Gaya atau momen yang timbul didalam struktur sebagai
respons terhadap gaya eksternal disebut internal. Gaya atau
momen ini timbul untuk mempertahankan integritas struktur
sehingga terpenuhi keseimbangan pada setiap titik didalam
struktur. Gaya atau momen internal dapat dibedakan menjadi:

Gaya aksial: tekan atau tarik

Gaya geser

Momen lentur
Gaya

geser

dan

momen

lentur

seringkali

bersamaan pada suatu elemen struktur.

2.21 Gaya dan Momen Eksternal: Aksi dan Reaksi

muncul

2.22 Gaya Internal Tarik Dan Tekan

2.23 Momen Lentur Dan Gaya Geser

2.24 Metode Analisis

Gambar 2.4 Analisis Cremona untuk truss sederhana.

Untuk bisa menghasilkan analisis yang akurat, insinyur struktur harus


memperoleh informasi mengenai beban struktur, geometri, kondisi tumpuan, dan
sifat bahan. Hasil dari analisis biasanya berupa reaksi tumpuan, tegangan, geser,
momen, puntir, dan perpindahan. Informasi ini kemudian dibandingkan dengan
kriteria kondisi kegagalan. Analisis struktur lanjutan menyertakan respon
dinamika, stabilitas dan perilaku non-linier. Ada dua pendekatan analisis yang
umum yang : pendekatan analitik dan grafis. Pendekatan analitik menerapkan
mekanika bahan, teori elastisitas dengan jalan analisis matematika seperti vektor,
matrik ataupun elemen hingga. Pendekatan grafis menerapkan prinsip-prinsip
geometri struktur dan garis sebagai beban untuk menganalisis. Bagaimanapun

terkadang prinsip mekanika klasik tetap diterapkan seperti untuk mengecek


kesetimbangan dan untuk menganalisis balok statis tertentu.
Pendekatan analitik untuk menganalisis kerangka atau balok elastis
diantaranya adalah :

Metode Cross

Metode Takabeya

Metode distribusi momen

Metode analogi kolom

Metode kerja maya (energi virtual)

Metode kekakuan dan kelenturan

Metode defleksi kemiringan(slope deflection).

Sedangkan untuk menganalisis kestabilitas struktur (kemantapan kolom)


diantaranya :

Metode tekuk Euler

Teori modulus ganda

Teori modulus singgung

Metode Southwell

Metode energi

Analisis pelat :

Teori Khirchoff-Love

Teori Mindlin-Reissner

Teori ReissnerStein

Dengan pendekatan grafis :

Metode Cremona

Diagram defleksi Williot-Mohr

Analisis grafis pada analisis plastis (bukan elastis) kerangka atau balok.
2.7.1

Analisis Dengan Bantuan Komputer

Gambar 2.5 STAAD.Pro adalah salah satu program analisis struktur.

Hingga akhir tahun 1950an, analisis beberapa tipe struktur taktentu panjang dan rumit. Analisis struktur dengan banyak sambungan dan
anggota (truss ruang, contohnya) memerlukan beberapa bulan perhitungan
oleh tim insinyur berpengalaman. Itupun perlu banyak asumsi yang
disederhanakan sehingga hasilnya kadang justru menimbulkan keraguan.
Sekarang, program komputer yang tersedia bisa membuat pekerjaan lebih
cepat dan akurat. Beberapa pengecuali tetap ada. Jika struktur memiliki
bentuk yang tidak lazim dan komplek seperti dinding tebal wadah nuklir
atau lambung kapal selam, analisis komputer akan lebih rumit dan
memakan waktu yang banyak.
Kebanyakan program komputer ditulis untuk analisis ordepertama, dimana diasumsikan (1) kelakuan linear-elastis (2) anggota tidak
memiliki efek akibat deformasi (3) tidak ada pengurangan kekakuan akibat
beban tekan. Ketika masalah lebih rumit,dianjurkan menggunakan analisis
orde kedua dengan memperhatikan kelakuan in-elastis, perubahan
geometri, dan pertimbangan lain yang dianggap mempengaruhi perilaku
struktur.

Program analisis struktur ditulis bedasarkan metode elemen


hingga. Contohnya adalah Frame3DD, SAP2000 dan ETABS.

BAB III
KESIMPULAN

3.1

Kesimpulan
Analisa struktur merupakan ilmu untuk menentukan efek dari beban pada

struktur fisik dan komponennya. Adapun cabang pemakaiannya meliputi analisis


bangunan,

jembatan,

perkakas,

mesin,

tanah,

dll.

Analisis

struktur

menggabungkan bidang mekanika teknik, teknik material dan matematika teknik


untuk menghitung deformasi struktur, kekuatan internal, tekanan, reaksi tumpuan,
percepatan, dan stabilitas. Hasil analisis tersebut digunakan untuk memverifikasi
kekuatan struktur yang akan maupun telah dibangun. Dengan demikian analisis
struktur merupakan bagian penting dari desain rekayasa struktur.

DAFTAR PUSTAKA

Gere, J. M. and Timoshenko, S.P., 1997, Mechanics of Materials, PWS Publishing


Company.
Schodek, Daniel L., 1999, Sruktur, Erlangga.
Hibbeller, R.C, 1999, Analisa Struktur, PT. Prenhallindo.
Leet, Kenneth M. dkk., 2011, Fundamentals of Structural Analysis, Mc Graw-Hill.
http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Analisis_struktur&oldid=7679808