Anda di halaman 1dari 29

CATATAN MEDIK PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama Lengkap

: Ny Y

Nama orang tua

: Bpk A

Tempat & Tgl lahir

: Bogor, 16 April 1957

Alamat

: Kp Kalinorno RT 03/01, Bogor

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Status perkawinan

: Menikah

Pendidikan

: SMP

No Med Record

: 229794

Tgl Pemeriksaan

: 10 Februari 2012

Dokter yang memeriksa

: dr Eddy Supriadi, SpPD

Co Asisten

: Airis Meifitri

II.ANAMNESIS
Dilakukan secara autoanamnesis dengan pasien pada tanggal 10 Februari 2012 pukul 12.30 WIB
Keluhan Utama : Sesak nafas sejak 3 hari SMRS
Riwayat Penyakit Sekarang
Os datang dengan keluhan sesak nafas sejak 3 hari SMRS. Sesak nafas dirasakan hilang
timbul, tidak berkurang saat istirahat dan tidak dipengaruhi oleh perubahan posisi. Os mengeluh
mual tetapi tidak muntah, tidak nafsu makan, sakit kepala, dan tidak bisa tidur. Os memiliki
riwayat hipertensi hampir 10 tahun, minum obat Captopril namun tidak teratur. Os juga mengaku
ada benjolan di leher yang semakin lama semakin besar. Benjolan mulai muncul 2 tahun lalu,
berukuran kecil pada awalnya, kira-kira sebesar kelereng, namun tidak ada gejala. Os mengaku
benjolan di lehernya membesar secara perlahan-lahan dan tidak nyeri.

Sekitar 1 tahun lalu, benjolan di leher lebih besar dari sebelumnya. Os mulai merasa
sesak nafas, suara kadang serak, sering berdebar-debar, tidak tahan panas, susah tidur, kadangkadang silau dan gemetaran di kedua tangan. Os mengaku BABnya lancar, namun frekuensinya
2 hari sekali, konsistensi agak keras, BAK lancar. Akan tetapi, os mengaku gejala tersebut belum
dirasakan mengganggu dan sering hilang timbul.
Sekitar 3 bulan terakhir, benjolan di leher os kira-kira sebesar telur ayam. Os mulai sering
sesak nafas, suara serak, berdebar, terasa berat di leher, susah tidur, gemetar ringan. Sesak nafas
makin dirasakan dan mulai terasa mengganggu. Namun sering berkurang ketika os menkonsumsi
obat sesak saat brobat ke puskesmas. Penurunan berat badan, nyeri dada, tangan berkeringat,
peningkatan nafsu makan, diare, disangkal oleh os. Os tidak memiliki riwayat asma, sakit
jantung. Tidak ada keluarga maupun lingkungan sekitar yang mengalami hal yang sama seperti
os.
Penyakit Dahulu (tahun) :
Cacar (-)

Tuberkulosis (-)

Batu Empedu (-)

Cacar air (-)

Malaria (-)

Batu/Ginjal/Sal kemih (-)

Difteri (-)

Disentri (-)

Burut(Hernia) (-)

Batuk Rejan (-)

Hepatitis (-)

Penyakit prostat (-)

Campak (-)

Tifus Abdomen(-)

Wasir (-)

Influensa(+)

Skrofula(-)

Diabetes (-)

Tonsilitis (-)

Gonore (-)

Tumor (-)

Kornea (-)

Sifilis (-)

Alergi makanan(+)

Demam Rematik Akut(-)

Hipertensi (+)10 tahun

Peny pembuluh darah otak (-)

Pneumonia (-)

Ulkus ventrikuli (-)

Psikosis (-)

Pleuritis (-)

Ulkus duodeni (-)

Neurosis (-)

Gastritis (+)

Lain-lain : -

Operasi (-)
Kecelakaan (-)

Riwayat Penyakit Keluarga


Hubungan

Umur(tahun)

Jenis Kelamin

Keadaan

Penyebab

kesehatan

meninggal

Kakek
Nenek
Ayah
Ibu
Saudara
Anak-anak

Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Perempuan

1. 35 tahun

Laki-laki

Meninggal
Meninggal
Meninggal
Sehat
Sehat
Sehat

2. 32 tahun

Laki-laki

Sehat

3. 30 tahun

Perempuan

Sehat

4. 28 tahun

Perempuan

Sehat

5. 26 tahun

Laki-laki

Sehat

6. 24 tahun

Perempuan

Sehat

7. 22 tahun

Perempuan

Sehat

Adakah Kerabat yang Menderita?


Penyakit
1. Hipertensi
2. Asma
3. Tuberkulosis
4.Artritis
5.Reumatisme
6.Hipertensi
7.Jantung
8.Ginjal
9.Lambung
10.Diabetes
11.Kanker
12.Epilepsi
13.Sakit jiwa
14.Bunuh diri
15.Sifilis

Ya

Tidak

Hubungan

ANAMNESIS SISTEM
Kulit
( - ) Bisul

( - ) Rambut

( - ) Kuku

( - ) Lain-lain

Kepala
( - ) Trauma

( + ) Sakit kepala

( - ) Sinkop

( - ) Nyeri pada sinus

Tidak tahu
Sakit tua

Mata
( - ) Gangguan tajam penglihatan

( - ) Rasa sakit

( - ) Lapang pandang

( + ) Fotofobia

( - ) Mata merah

( - ) Lakrimasi

( - ) Sekret

( - ) Trauma

( - ) Penglihatan ganda
Telinga
( - ) Nyeri

( - ) Gangguan pendengaran

( - ) Sekret

( - ) Gangguan keseimbangan

( - ) Tinitus
Hidung
( - ) Trauma

( - ) Gejala sumbatan

( - ) Nyeri

( - ) Post nasal drip

( - ) Sekret

( - ) Gangguan penghidu

Mulut
( - ) Bibir

( - ) Lidah

( - ) Gusi

( - ) Gangguan pengecap

( - ) Selaput lendir

( - ) Gangguan pengunyah

( - ) Gigi geligi

( - ) Sekrei lidah

( - ) Stomatitis
Tenggorok
( - ) Nyeri menelan

( + ) Suara serak

( - ) Sukar menelan

( + ) Batuk

Leher
Tiroid : benjolan (+)

( - ) Adenitis

Jantung/Paru
( - ) Nyeri dada

( - ) Batuk

( + ) Berdebar

( - ) Ortopnea

( - ) Edema

( - ) Serangan asma

( + ) Sesak nafas

( - ) Batuk darah

( - ) Sianosis

( - ) Keringat malam

Lambung/usus
( - ) Rasa kembung

( - ) Ikterus

( + ) Mual

( - ) Wasir

( - ) Muntah

( - ) Mencret

( - ) Nyeri

( - ) Tinja berdarah

( - ) Sukar menelan

( - ) Tinja berwarna dempul

( - ) Muntah darah

( - ) Tinja berwarna ter

Saluran kemih/alat kelamin


( - ) Disuri

( - ) Kolik ginjal & ureter

( - ) Stranguri

( - ) Oliguri

( - ) Poliuri

( - ) Anuri

( - ) Hematuri

( - ) Retensi

( - ) Kencing batu

( - ) Kencing menetes

( - ) Kencing nanah

( - ) Inkontinensia

( - ) Ngompol
Katamenia
Menars :
( + ) Haid teratur

( - ) Gangguan haid

( - ) Nyeri

( - ) Gangguan klimakterium

( - ) Sakit kepala

( - ) Perdarahan pasca menopause

( - ) Leukorea
Saraf & otot
( - ) Anestesi

( - ) Kejang

( - ) Parestesi

( - ) Pusing ( Vertigo )

( - ) Otot lemah/lumpuh

( - ) Afasia

( - ) Pingsan

( - ) Gangguan bicara

( - ) Tidak sadar

( - ) Sukar mengingat

( - ) Kedutan (tik, fasikulasi)

( - ) Amnesia & Ataksia

Berat Badan (kg)


Berat badan rata-rata : 80 kg

Berat badan tertinggi : 82 kg


Berat badan : agak naik
Berat badan sekarang : 82 kg
RIWAYAT HIDUP
Riwayat kelahiran : lahir di rumah bersalin, spontan, ditolong bidan
Nafsu makan biasa
Pendidikan terakhir SMP
Lama perkawinan sekarang 27 tahun, jumlah perkawinan 1x, jumlah anak 7, G0P7A0
Kebiasaan : riwayat minum obat Captopril (+), merokok (-), kopi(+), teh(+)
Tidak ada kesulitan keuangan, pekerjaan, keluarga
III.

PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan umum
Tekanan Darah

: 150/110 mmHg

Tinggi badan : 160 cm

Nadi

: 80x/m

Berat badan : 80 kg

Suhu

: 36,5

Pernafasan

: 28x/m

Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Tampak sakit sedang

Keadaan gizi

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis

Sianosis (-)

Edema umum : (-)


Dispnu

: (+)

Umur menurut taksiran pemeriksaan : 50 tahun


Bentuk badan : Piknikus
Cara berbaring dan mobilitas : baik
Cara berjalan : baik
Habitus : baik
Aspek Kejiwaan :
1. Tingkah laku

: wajar

2. Alam perasaan
: biasa
3. Cara proses berpikir : wajar
Kulit : Warna

: sawo matang

Keringat( umum & setempat ) : (-)

Efloresensi

: (-)

Ikterus

Jaringan parut

: (-)

Lapisan lemak : tebal

Turgor

: baik

Edema

Pigmentasi

: (-)

KGB :

: (-)
: (-)

Pertumbuhan rambut : merata

- Submandibula : tidak membesar

Suhu raba

- Leher : tidak membesar

: hangat

- Supraklavikula : tidak membesar


- Ketiak, lipat paha : tidak membesar
Kepala : Ekspresi wajah : datar

Deformitas (-)

Muka simetris

Nyeri tekan (sinus) : (-)

Distribusi rambut merata

Noktah nyeri (saraf) : (-)

Pembuluh darah temporal normal


Mata : Eksoftalmus/enoftalmus (-)

Sklera : tidak ikterik

Gerakan simteris

Kornea bening

Deformitas (-)

Pupil isokor, 3 mm, RCL/RCTL +/+

Tekanan bola mata normal

Lensa jernih

Kelopak : oedema (-)

Visus & lapang pandang tidak diperiksa

Konjungtiva : tidak anemis


Telinga : Daun Telinga

: Deformitas (-), Tanda radang (-), Tofi (-)

Liang telinga

: Serumen (-), secret (-)

Gendang telinga

: intak

Daerah retroaurikuler

: Tanda radang (-), Fistel (-)

Uji penela (Rinne, Weber, Schwabah) tidak dilakukan


Hidung : Bentuk luar simetris, abses/trauma/deformitas (-), Vestibulum nasi simetris
Mulut & tenggorok :

Bibir

: kering, mukosa merah muda

Selaput lendir mulut : normal


Faring

: tidak hiperemis

Arkus faring

: tidak hiperemis

Tonsil

: T1-T1, tenang

Lidah

: normoglossia

Gigi geligi

: caries (-)

Bau pernafasan

: (-), oral hygiene baik

Leher
Kelenjar gondok

- Inspeksi : tampak benjolan di sebelah kiri sebesar telur ayam, warna kulit sama dengan
sekitar, ukuran 8x4 cm
-Palpasi

: teraba benjolan di sebelah kiri, konsistensi kenyal, permukaan licin, tidak

hangat pada perabaan, nyeri tekan (-), mobile (+), batas tegas, massa ikut bergerak
waktu menelan (+), pembesaran KGB di servikal, jugular, submandibular, dan
klavikular (-)
Trakea

: lurus di tengah

Tekanan vena jugularis

: 5-2cmH2O

Kaku kuduk

: (-)

Dada
Bentuk

: datar, tidak cekung

Pembuluh darah

: tidak terlihat

Buah dada

: simetris

Paru

Inspeksi

Palpasi

Perkusi

Depan

Belakang

Kiri

Simetris saat statis dan dinamis

Simetris saat statis dan dinamis

Kanan

Simetris saat statis dan dinamis

Simetris saat statis dan dinamis

Kiri

-Vocal fremitus simetris

- Vocal fremitus simetris

Kanan

-Vocal fremitus simetris

- Vocal fremitus simetris

Kiri

Sonor di seluruh lapang paru

Sonor di seluruh lapang paru

Auskultasi

Kanan

Sonor di seluruh lapang paru

Sonor di seluruh lapang paru

Kiri

- Suara vesikuler

- Suara vesikuler

- Wheezing (-), Ronki (-)

- Wheezing (-), Ronki (-)

- Suara vesikuler

- Suara vesikuler

- Wheezing (-), Ronki (-)

- Wheezing (-), Ronki (-)

Kanan

Jantung
Inspeksi : Tampak pulsasi iktus cordis.
Palpasi

: Teraba iktus cordis pada sela iga V di linea midklavikula kiri

Perkusi

:
Batas kanan : sela iga V linea parasternalis kanan.
Batas kiri

: sela iga V, 1cm sebelah medial linea midklavikula kiri.

Batas atas

: sela iga II linea parasternal kiri.

Auskultasi

: Bunyi jantung I-II murni reguler, Gallop (-), Murmur (-).

Pembuluh Darah
Arteri Temporalis

: teraba pulsasi

Arteri Karotis

: teraba pulsasi

Arteri Brakhialis

: teraba pulsasi

Arteri Radialis

: teraba pulsasi

Arteri Femoralis

: teraba pulsasi

Arteri Poplitea

: teraba pulsasi

Arteri Tibialis Posterior

: teraba pulsasi

Arteri Dorsalis Pedis

: teraba pulsasi

Perut
Inspeksi

: tidak ada lesi, tidak ada bekas operasi, datar, simetris, smiling umbilicus (-),
dilatasi vena (-)

Palpasi
Hati

: supel, nyeri tekan epigastrium(-), nyeri lepas(-), shifting dullness (-)


: tidak teraba membesar, tidak ada nyeri tekan

Limpa

: tidak teraba membesar

Ginjal

: ballotement negatif, nyeri ketok costovertebral negatif

Perkusi

: timpani

Auskultasi

: bising usus (+) normal

Refleks dinding perut: baik


Alat kelamin : tidak dilakukan pemeriksaan
Anus dan rektum : tidak dilakukan pemeriksaan
Punggung ( penderita duduk )
Inspeksi

: tidak ada efloresensi, tidak ada kelainan bentuk vertebra

Palpasi

: Vocal fremitus simetris

Nyeri ketok

: (-)

Auskultasi

: suara nafas vesikuler

Gerakan

: simetris saat statis dan dinamis

Anggota gerak
Lengan

Kanan

Kiri

Tonus

normotonus

normotonus

Massa

eutrofi

eutrofi

Sendi

tidak ada kelainan

tidak ada kelainan

Gerakan

aktif

aktif

Kekuatan

Warna

: sawo matang

Tremor

: (+)

Tangan

Kelenjar jari : clubbing finger (-)


Kuku

: sianosis (-)

Tungkai dan kaki


Luka

: (-)

Sendi

: eutrofi

Varises

: (-)

Gerakan

: aktif

Parut

: (-)

Kekuatan

:5

Otot

: normotonus

Edema

: (-)

Refleks

IV.

Kanan

Kiri

Bisep

Positif

positif

Trisep

Positif

positif

Patela

Positif

positif

Achiles

Positif

positif

LABORATORIUM ( 10 Februari 2012 )


PEMERIKSAAN

Hb
Leukosit
Trombosit
Hematokrit
SGOT
SGPT
Ureum
Kreatinin
GDS
PH
PCO2
PO2
BE
TCO2
HCO3
BE act
SO2
O2CT

HASIL
HEMATOLOGI
13,6 g/dl
6770/mm3
245000/mm3
40%
KIMIA DARAH
19 IU
13 IU
45,9 mg/dL
1,09 mg/dL
167 mmg/dL
AGD
7,44
39
87
2,1
27,9
26,6
2,6
97%
15,3

NILAI NORMAL
13-18 g/dl
4000-10000/mm3
150000-400000/mm3
40-54%
<42 IU
<47 IU
10-40 mg/dL
0,67-1,36 mg/dL
<140 mg/dL
7,35-7,45
30-50
70-700
-2,0 - +3,0
22-29
18-23
-2,0 - +3,0
95-98
15-23

Temp
FIO2

26
8,21

EKG ( 10 Februari 2012 ) :


HR 94 tpm, RR 152 m/s, QRS 86 m/s, PRT axes 12-10,Normal ECG ( Sinus Rhytm )
Hasil Seroimunologi ( 11 Februari 2012 )
TSHs : 0,114

( N : 0,550 4,789 u/IU/mL )

FT4

( N : 0,89 1,76 mg/dc )

: 0,97

Hasil USG tiroid ( 16 Februari 2012 )


Tiroid kanan : bentuk dan ukuran normal, echostruktur homogeny, tidak tampak lesi
hipo/hiperekoik maupun kalsifikasi.
Tiroid kiri

: tampak besar, nodul isoekoik, berbatas tegas, tepi rata, ukuran 4,7 cm x 3,4 cm
x 6,2 cm, tidak tampak kalsifikasi.

Kesan
V.

: Struma nodosa pada tiroid kiri

RESUME

Seorang wanita berusia 54 tahun datang dengan keluhan sesak nafas sejak 3 hari SMRS. Sesak
nafas dirasakan hilang timbul, tidak berkurang saat istirahat dan tidak dipengaruhi oleh
perubahan posisi. Os mengeluh mual tetapi tidak muntah, tidak nafsu makan, sakit kepala, dan
tidak bisa tidur. Os memiliki riwayat hipertensi hampir 10 tahun, minum obat Captopril namun
tidak teratur. Os juga mengaku ada benjolan di leher yang semakin lama semakin besar. Benjolan
mulai muncul 2 tahun lalu, berukuran kecil pada awalnya, kira-kira sebesar kelereng.
Benjolan mulai muncul 2 tahun lalu, berukuran kecil pada awalnya, kira-kira sebesar kelereng,
namun tidak ada gejala. Os mengaku benjolan di lehernya membesar secara perlahan-lahan dan
tidak nyeri. Saat benjolan sebesar telur ayam, os mulai merasa sesak nafas, suara kadang serak,
sering berdebar-debar, tidak tahan panas, susah tidur, kadang-kadang silau yang sering hilang
timbul dan gemetar ringan di kedua tangan. Pada pemeriksaan fisik, didapatkan keadaan umum
tampak sakit sedang, TD 150/110 mmHg, RR 28x/m, dispnu (+), pada kelenjar gondok tampak
benjolan di sebelah kiri sebesar telur ayam, warna kulit sama dengan sekitar, ukuran 8x4 cm,

konsistensi kenyal, permukaan licin, tidak hangat pada perabaan, nyeri tekan (-), mobile (+),
batas tegas, massa ikut bergerak waktu menelan (+), pembesaran KGB di servikal, jugular,
submandibular, dan klavikular (-), tremor halus pada kedua tangan. Hasil seroimunologi
menunjukkan kadar TSHs menurun, FT4 dalam batas normal. Hasil USG Tiroid menunjukkan
kesan struma nodosa pada tiroid kiri.
VI.

DIAGNOSA BANDING
1. Struma nodosa toksik

VII. ANALISA KASUS


Benjolan di leher
1. Sesak nafas
Keadaan ini merupakan akibat kurang lancarnya pemasukan udara saat inspirasi ataupun
pengeluaran udara saat ekspirasi, yang disebabkan oleh adanya penyempitan ataupun
penyumbatan pada tingkat bronkeolus/bronkus/trakea/larings. Pada sesak napas, frekuensi
pernapasan meningkat di atas 24 kali per menit. Sesak napas dapat digolongkan menjadi 2
kelompok besar berdasarkan penyebabnya, yaitu organik (adanya kelainan pada organ tubuh)
dan non organik (berupa gangguan psikis yang tidak disertai kelainan fisik). Sesak napas organik
tidak hanya disebabkan oleh kelainan organ pernapasan, tetapi penyakit pada organ seperti
jantung dan ginjal pun dapat menyebabkan terjadinya keluhan sesak napas. Selain karena
kelainan organ, penyakit karena gangguan metabolisme pada kelainan ginjal, jantung, paru, dan
kelainan endokrin, metabolisme lainnya seperti diabetes, dapat pula menimbulkan sesak napas.
Pada kasus ini, sesak disebabkan karena ada benjolan di leher yang menekan trakea sehingga
pertukaran udara yang masuk dan keluar kurang lancar.
2. Rasa berat di leher dan perubahan suara ( serak )
Sewaktu menelan, trakea naik untuk menutup laring dan epiglotis sehingga terasa berat karena
terfiksasi pada trakea. Disebabkan adanya pembesaran benjolan yang pertumbuhannya lambat.
Sering berdebar yang dialami oleh os kemungkinan disebabkan kompensasi dari sesak nafasnya.
Hipertensi grade II
1. Riwayat hipertensi (+) selama 10 tahun dan konsumsi Captopril namun tidak teratur
2. Tekanan darah saat masuk 150/110 mmHg

Dispepsia
1. Mual (+)
2. Riwayat gastritis (+)
VIII. DIAGNOSIS KERJA
Klinis Struma nodosa toksik
FaalEutiroid
Dasar :
Pada anamnesis didapatkan data bahwa pasien berusia 54 tahun. Perjalanan penyakit
relative lama ( 2 tahun ), pertumbuhan nodul mulai dari sebesar kelereng sampai sebesar telur
ayam, tidak disertai nyeri, tidak disertai demam atau riwayat trauma dapat menyingkirkan
kemungkinan penyebab penyakit adalah infeksi atau trauma. Tidak adanya riwayat keluarga atau
masyarakat di lingkungan sekitar yang mengidap penyakit yang sama dapat membantu
menyingkirkan diagnosis bahwa kasus ini adalah penyakit endemik. Kemungkinan bahwa kasus
ini adalah hipertiroidisme karena ditemukannya hipermetabolisme seperti gejala tremor, tangan
berkeringat, jantung berdebar-debar, sesak nafas, kadang-kadang disertai gangguan bicara (serak)
dan tidak disertai gangguan menelan, tidak tahan panas.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan sebuah massa berukuran sebesar telur ayam dengan
konsistensi kenyal, permukaan rata, terfiksir, ikut dalam gerakan menelan, tanpa disertai nyeri.
Disimpulkan bahwa penyakit yang diderita pasien ini adalah suatu pembesaran kelenjar. Tidak
didapatkannya benjolan lain baik di servikal, jugular, submandibular, ataupun klavikular juga
pada tulang tengkorak atau ekstrimitas menuntun diagnosis bahwa massa tersebut mungkin
bersifat jinak atau dapat juga ganas namun belum terdapat metastasis jauh.
Kemudian dilakukan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium,
seroimunologi, dan USG tiroid. Dari pemeriksaan laboratorium didapatkan angka yang normal
pada FT4, TSHs sedikit menurun. Hal ini menunjukkan tidak adanya hiperaktivitas dari kelenjar
tiroid. USG tiroid didapatkan tiroid kiri tampak besar, nodul isoekoik, berbatas tegas, tepi rata,
ukuran 4,7 cm x 3,4 cm x 6,2 cm, tidak tampak kalsifikasi. Gambaran tersebut memberikan
kesan struma nodosa pada tiroid kiri.
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang telah
dilakukan, disimpulkan bahwa diagnosis kerja pasien ini adalah struma nodosa toksis yang
eutiroid lobus sinistra karena memenuhi criteria klinis yaitu benjolan teraba lunak dengan batas

tegas, kecepatan pertumbuhan benjolan relative lambat, gejala hipertiroid seperti tremor halus di
kedua tangan dan gejala hipermetabolik seperti yang telah disebutkan. Perlu dipikirkan juga
pasien ini juga bisa menderita Hipertiroidisme Subklinis yaitu konsentrasi TSH serum yang rendah
dengan konsentrasi tiroksin bebas serum (FT4) dan triiodotironin bebas serum (FT3) normal,dengan
sedikit atau tanpa gejala atau tanda tirotoksikosis

IX.

PENATALAKSANAAN
1. Medikamentosa
Untuk Struma :
Antitiroid PTU 3X200 mg
Kerja : menghambat produksi dan pengeliaran hormone tiroid
Propanolol 3x10 mg
Mengeliminasi efek hormone tiroid di jaringan perifer

Untuk Hipertensi grade II :

Captopril 2x25 mg
Amlodipin 1x10 mg
HCT 1x50 mg

Untuk Dispepsia :

Ranitidin 2x1

2. Pembedahan ( isthmolobektomi ) gejala penekanan

FOLLOW UP
11/2/12
S : Sesak nafas (+),
mual (+), muntah (-),
belum BAB sejak 2
hari lalu, sering
berdebar
dan
berkeringat,
flatus
(+)
O : KU/Kes :TSS/CM
TD : 140/80 mmHg
N : 88x/m
S : 36,5
P : 18x/m
Mata : CA -/-, SI -/Leher :
- Status lokalis
regio colli sinistra :
Teraba benjolan 1
buah, ukuran 8x4
cm, merah (-), hangat
(-),
massa
ikut
bergerak
sewaktu
menelan (+), mobile
(+),
konsistensi
kenyal,
permukaan
rata, batas tegas, nyeri
tekan (-)
Thorax :
BJ I/II reg,M(-), G(-),
SN vesikuler, Rh-/-,

12/2/12
13/2/12
14/2/12
S : Sesak nafas S : Begah (+), mual S : perut begah (+),
berkurang, begah (+), (+),
dada
sering mual (+)
nyeri ulu hati (+), berdebar, gelisah (+)
mual (-), muntah (-),
makan sedikit, belum
BAB
O : KU/Kes :TSS/CM
TD : 170/100 mmHg
N : 84x/m
S : 36
P : 22x/m
Mata : CA -/-, SI -/Leher:
teraba benjolan 1
buah,
merah
(-),
hangat (-), mobile (+),
konsistensi
kenyal,
permukaan licin, batas
tegas, nyeri tekan (-)
Thorax :
BJ I/II reg, M(-), G(-),
SN vesikuler, Rh-/-,
Wh -/Abdomen:
supel, nyeri tekan (-),
BU(+)
Ekstrimitas : akral
hangat, oedem (-)

O : KU/Kes :TSS/CM
TD : 140/90 mmHg
N : 88x/m
S : 36,5
P : 18x/m
Mata : CA -/-, SI -/Leher :
teraba benjolan 1
buah,
merah
(-),
hangat (-), mobile (+),
kenyal,
permukaan
rata, batas tegas, nyeri
tekan (-), massa ikut
bergerak
sewaktu
menelan (+)
Thorax :
BJ I/II reg, M(-), G(-),
SN vesiuler, Rh-/-,
Wh -/Abdomen :
supel, nyeri tekan (-),
BU (+)

O : KU/Kes :TSS/CM
TD : 150/100 mmHg
N : 88 x/m
P : 18x/m
S : 36,5
Mata : CA -/-, SI -/Leher :
teraba benjolan 1
buah, merah (-),
hangat (-), mobile (+),
kenyal,
permukaan
rata, batas tegas, nyeri
tekan (-), massa ikut
bergerak
sewaktu
menelan (+)
Thorax :
BJ I/II reg, M(-), G(-),
SN vesikuler, Rh -/-,
Wh -/Abdomen :
supel, nyeri tekan (-),
BU (+)

Wh-/Abdomen :
supel, nyeri tekan (-),
BU(+)
Ekstrimitas :
akral hangat, oedem
(-)
A : Observasi dispnu
ec
hipertiroid,
Hipertensi grade 2,
Dispepsia

Ekstrimitas : akral Ekstrimitas : akral


hangat, oedem (-)
hangat, oedem(-)
*)Hasil seroimunologi
(TSHs, FT4) terlampir

A: eutiroid, Hipertensi A: eutiroid, Hipertensi A:eutiroid, Hipertensi


grade 2, dispepsia
grade 2, dispepsia
grade 2, dispepsia

P : Captopril 2x25 mg P : Captopril 2x25 mg P : Captopril 2x25 mg P : Captopril 2x25 mg


Amlodipin 1x10 mg
Amlodipin 1x10 mg
Amlodipin 1x10 mg
Amlodipin 1x10 mg
Propanolol 3x10 mg
Propanolol 3x10 mg
Propanolol 3x10 mg
HCT 1x1
HCT 1x1
HCT 1x1
HCT 1x1
Ranitidin 2x1 inj
Ranitidin 2x1
Ranitidin 2x1
Ranitidin 2x1
Dexamethason 3x4
Dexamethason 3x4 Dexamethason
3x4
Dexamethason 3x4 mg
mg
mg
mg

15/2/12
16/2/12
17/2/12
18/2/12
S : Sesak nafas, perut S : sesak nafas (+), S : sesak nafas (+),
S : begah (+), sesak
begah (+),
belum batuk
(+),
perut batuk (+), begah (+),
berkurang
BAB 5 hari
begah (+)
nafas pendek-pendek,
belum BAB dan
sudah diterapi
Laxadyn syrup, makan
baik
O : KU/Kes :TSR/CM
TD : 150/90 mmHg
N : 84x/m
P : 18x/m
S : 36,7
Mata : CA -/-, SI -/Leher :
teraba benjolan 1
buah, merah (-),

O : KU/Kes:TSR/CM
TD : 150/90 mmHg
N : 84 x/m
S : 36,6
P: 18x/m
Mata : CA -/-, SI -/Leher :
teraba benjolan 1
buah, merah (-),

O : KU/Kes : TSS/CM
TD : 130/80 mmHg
N : 84x/m
P : 24x/m
S : 36,7
Mata : CA-/-, SI-/Leher :
teraba benjolan 1
buah, merah (-),

O : KU/Kes:TSR/CM
TD : 140/100 mmHg
N : 68x/m
P : 20 x/m
S : 36,8
Mata : CA-/-, SI-/Leher :
teraba benjolan 1
buah, merah (-),

hangat (-), mobile (+),


kenyal, permukaan
rata, batas tegas, nyeri
tekan (-), massa ikut
bergerak sewaktu
menelan (+)
Thorax :
BJ I/II reg, M(-), G(-),
SN vesikuler, Rh -/-,
Wh -/Abdomen :
supel, nyeri tekan (-),
BU (+)
Ekstrimitas : akral
hangat, oedem(-)

hangat (-), mobile(+),


kenyal, permukaan
rata, batas tegas,
nyeri tekan (-), massa
ikut bergerak sewaktu
menelan(+)
Thorax :
BJ I/II reg, M(-), G(), SN vesikuler, Rh
-/-, Wh -/Abdomen :
supel, nyeri tekan (-),
BU (+)
Ekstrimitas : akral
hangat, oedem (-)

hangat (-), mobile(+),


kenyal, permukaan
rata, batas tegas,
nyeri tekan (-), massa
ikut bergerak sewaktu
menelan(+)
Thorax :
BJ I/II reg, M(-), G(), SN vesikuler, Rh -/-,
Wh -/Abdomen :
supel, nyeri tekan (-),
BU (+)
Ekstrimitas : akral
hangat, oedem (-)

hangat (-), mobile(+),


kenyal, permukaan
rata, batas tegas,
nyeri tekan (-), massa
ikut bergerak sewaktu
menelan(+)
Thorax :
BJ I/II reg, M(-), G(), SN vesikuler, Rh
-/-, Wh -/Abdomen :
supel, nyeri tekan (-),
BU (+)
Ekstrimitas : akral
hangat, oedem (-)

*)Hasil
USG *)Hasil USG Tiroid
Abdomen
: terlampir
Cholelithiasis
Multiple,
Nefrolithiasis dextra
(batu
ren
kanan
ukuran 4,8 mm), fatty
liver
A : eutiroid, Hipertensi A
:
eutiroid, A : eutiroid, hipertensi A
:
eutiroid,
grade 2, dispepsia
Hipertensi grade 2, grade 2, dispepsia
hipertensi grade 2,
dispepsia
ec
dispepsia
kolelitiasis multiple?
P : Amlodipin 1x10 P: Clonidin 3x1
mg
Ranitidin 2x1
HCT 1x1
Cetirizin 0,15 mg 3x1
Ranitidin 2x1
Laxadin syrup 3xC

P : Amlodipin 1x10 P : Amlodipin 1x10


mg
mg
HCT 1x1
HCT 1x1
Clonidin 3x1
Clonidin 3x1
PTU 3x200 mg
PTU 3x200 mg
Ranitidin 2x1
Ranitidin 2x1
Dexametason 3x4
Dexametason 3x4
mg
mg

19/2/12
20/2/12
S : begah (+), sesak S : Begah (+), sesak
berkurang
berkurang, BAB (-)
sejak 10 hari lalu dan
sudah diberi Laxadyn
syrup
O : KU/Kes:TSR/CM O : KU/Kes:TSR/CM
TD : 140/90 mmHg
TD : 130/90 mmHg
N : 72x/m
N : 84x/m
S : 37
P : 18x/m
P : 20 x/m
S : 36,8
Mata : CA -/-, SI -/Mata : CA -/-, SI -/Leher :
Leher :
teraba benjolan 1
teraba benjolan 1
buah, merah (-),
buah, merah (-),
hangat (-), mobile (+), hangat (-), mobile (+),
kenyal, permukaan
kenyal, permukaan
rata, batas tegas, nyeri rata, batas tegas, nyeri
tekan (-), massa ikut
tekan (-), massa ikut
bergerak sewaktu
bergerak sewaktu
menelan (+)
menelan (+)
Thorax :
Thorax :
BJ I/II reg, M(-), G(-), BJ I/II reg, M(-), G(-),
SN vesikuler, Rh -/-, SN vesikuler, Rh -/-,
Wh -/Wh -/Abdomen :
Abdomen :
supel, nyeri tekan (-), supel, nyeri tekan (-),
BU (+)
BU (+)
Ekstrimitas : akral Ekstrimitas : akral
hangat, oedem(-)
hangat, oedem (-)

21/2/12
S : begah (+), sesak
nafas
berkurang,
belum BAB sejak 11
hari lalu

A :eutiroid, Hipertensi
grade 2, dispepsia
P : Amlodipin 1x10
mg
HCT 1x1
Clonidin 3x1
Cetirizin 0,15 mg
1x1
PTU 3x200 mg
Ranitidin 2x1

A :eutiroid, Hipertensi
grade 2, dispepsia
P : Amlodipin 1x10
mg
HCT 1x1
Clonidin 3x1
PTU 3x200 mg
Ranitidin 2x1
Dexametason 3x4
mg

A: eutiroid, Hipertensi
grade 1, dispepsia
P : Amlodipin 1x10
mg
HCT 1x1
Clonidin 3x1
PTU 3x200 mg
Ranitidin 2x1
Dexametason 3x4
mg

O : KU/Kes:TSR/CM
TD : 140/90mmHg
N : 80x/m
S : 36,9
P : 20x/m
Mata : CA -/-, SI -/Leher :
teraba benjolan 1
buah, merah (-),
hangat (-), mobile (+),
kenyal, permukaan
rata, batas tegas, nyeri
tekan (-), massa ikut
bergerak sewaktu
menelan (+)
Thorax :
BJ I/II reg, M(-), G(-),
SN vesikuler, Rh -/-,
Wh -/Abdomen :
supel, nyeri tekan (-),
BU (+)
Ekstrimitas : akral
hangat, oedem (-)

Dexametason 3x4
mg

TINJAUAN PUSTAKA
STRUMA NODOSA TOKSIK
1. Definisi
Struma disebut juga goiter adalah suatu pembengkakan pada leher oleh karena pembesaran
kelenjar tiroid akibat kelainan glandula tiroid dapat berupa gangguan fungsi atau perubahan
susunan kelenjar dan morfologinya.Dampak struma terhadap tubuh terletak pada pembesaran
kelenjar tiroid yang dapat mempengaruhi kedudukan organ-organ di sekitarnya. Di bagian
posterior medial kelenjar tiroid terdapat trakea dan esophagus. Struma dapat mengarah ke dalam
sehingga mendorong trakea, esophagus dan pita suara sehingga terjadi kesulitan bernapas dan
disfagia. Hal tersebut akan berdampak terhadap gangguan pemenuhan oksigen, nutrisi serta
cairan dan elektrolit. Bila pembesaran keluar maka akan memberi bentuk leher yang besar dapat
simetris atau tidak, jarang disertai kesulitan bernapas dan disfagia.
2.

Etiologi

Penyebab pasti pembesaran kelenjar tiroid pada struma tidak diketahui, namun sebagian
besar penderita menunjukkan gejalah-gejalah tiroiditis ringan, oleh karena itu diduga tiroiditis
ini menyebabkan hipotiroidisme ringan, yang selanjutnya menyebabkan peningkatan sekresi
TSH dan pertumbuhan yang progresif dari bagian kelenjar yang tidak meradang.Beberapa penderita
struma di dalam kelenjar tiroidnya timbul kelainan pada sistem enzim yang dibutuhkan untuk pembentukan
hormon tiroid. Biasanya tiroid mulai membesar pada usia muda dan berkembang menjadi multinodular
pada saat dewasa. Karena pertumbuhannya berangsur-angsur, struma dapat menjadi besar tanpa
gejalah kecuali benjolan di leher.Sebagian besar penderita dengan srtuma nodosa dapat hidup dengan
strumanya tanpa

keluhan. Walaupun sebagian struma tidak mengganggu pernafasan karena

menonjol ke bagian depan, sebagian lain dapat menyebabkan penyempitan trakea bila
pembesarannya bilateral. Struma unilateral dapat menyebabkan pendorongan sampai jauh ke
arah pernafasan. Pendorongan demikian mungkin mengakibatkan gangguan pernafasan.
3. Epidemiologi
Prevalensi hipertiroid berkisar antara 0,3% -1,9%,Prevalensi hipotiroid berkisar antara 0,5% -24%.
Hipertiroid terutama mengenai wanita berumur 30-50 tahun dan biasanya ( 70% ) disebabkan oleh
penyakit Grave.
Hipertiroid subklinis didefinisikan sebagai konsentrasi TSH serum yang rendah dengan
konsentrasi tiroksin bebas serum (FT4) dan triiodotironin bebas serum (FT3) normal,dengan sedikit atau
tanpa gejala atau tanda tirotoksikosis. Prevalensi hipertiroid subklinis pada masyarakat bervariasi antara 0,712,4%. Pada wanita ditemukan 3,3% dan pada pria 0%.
4. Patogenesis
Struma terjadi akibat kekurangan yodium yang dapat menghambat pembentukan hormone
tiroid oleh kelenjar tiroid sehingga terjadi pula penghambatan dalam pembentukan TSH ole
hipofisis anterior. Hal tersebut memungkinkan hipofisis mensekresikan TSH dalam jumlah yang
berlebihan. TSH kemudian menyebabkan sel-sel tiroid mensekresikan tiroglobulin dalam jumlah
yang besar (kolid) ke dalam folikel, dan kelenjar tumbuh makin lama makin bertambah besar. Akibat
kekurangan yodium maka tidak terjadi peningkatan pembentukanT4 dan T3, ukuran folikel menjadi
lebih besar dan kelenjar tiroid dapat bertambah beratsekitar 300-500 gram. Selain itu struma dapat disebabkan
kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa hormon tiroid, penghambatan sintesa hormon
oleh zat kimia (goitrogenic agent), proses peradangan atau gangguan autoimun seperti penyakit
Graves. Pembesaran yang didasari oleh suatu tumor atau neoplasma dan penghambatan sintesa

hormon tiroid oleh obat-obatan misalnya thiocarbamide, sulfonylurea dan litium, gangguan
metabolik misalnya struma koliddan struma non toksik (struma endemik).
Kelenjar tiorid menghasilkan hormone tiroid itama yaitu tiroksin(T4), yang kemudian
berubah menjadi bentuk aktifnya yaitu triiyodotironin(T3). Iodium non organic yang diserap dari
saluran cerna merupakan bahan baku hormone tiroid. Zat ini dipekatkan kadarnya mejadi 30-40
kali sehingga mempunyai afinitasyang sangat tinggi di dalam jaringan tiroid. Sebagian besar T4
kemudian akan dilepaskan ke sirkualsi sedangkan sisanya tetap di dalam kelenjar yang kemudian
mengalami daur ulang. Di sirkulasi, hormone tiroid akan terikat dengan protein yaitu TBG.
Hormon stimulator tiroid (TSH) memegang peranan terpenting untuk mengatur sekresi dari
kelenja tiroid. TSH dihasilkan lobos anterior kelenjar hipofisii. Proses yang dikenal sebagai
negative feedback sangat penting dalam pengeluaran hormone tiroid ke sirkulasi. Bila suatu
sebab yodium masuk ke jaringan tiroid berkurang, maka pembentukan hormone juga berkurang.
Melalui jaringan perifer mengingatkan hypothalamus untuk mengeluarkan TRF yang
merangsang hipofisis untuk mengeluarkan TSH yang merangsang kelenjar tiroid untuk
membentuk hormone, tetapi persediaan yodium tidak ada. Karena dirangsang terus menerus,
maka akibatnya terjadi hipertrofi dan hiperplasi sehingga terjadi pembesaran kelenjar. Bila
perangsangan ini terus menerus, struma bersifat difus sehingga persebaran merata. Bila
perangsangan bersifat hilang timbul, terbentuk nodul.
5.

Manifestasi Klinis
Jika struma cukup besar, akan menekan area trakea yang dapat mengakibatkan

gangguan pada respirasi dan juga esofhagus tertekan sehingga terjadi gangguan menelan.
Peningkatan seperti ini jantung menjadi berdebar-debar, gelisah, berkeringat, tidak than cuaca
dingin, dan kelelehan. Pada umumnya kelainan-kelainan yang dapat menampakkan diri sebagai
struma seperti tiroditis. Keganasan umumnya terjadi pada nodul yang soliter dan konsistensinya
keras sampai yang sangat keras. Yang multiple biasanya tidak ganas, kecuali apabila salah satu
dari nodul tersebut lebih menonjol dan lebih kerasdari pada lainnya. Apabila suatu nodul nyeri
pada penekanan dan mudah digerakkan, kemungkinan terjadi suatu perdarahan kedalam
kista,tiroiditis.

Tetapi

kalau

nyeri

dan sukar

digerakkan

kemungkinan

besar

suara karsinoma.Pada umumnya pasien struma datang berobat karena keluhan akan keganasan ,
sebagian kecil pasien khususnya yang dengan struma besar mengeluh adanya gejalah mekanis

yaitu: penekanan pada trakea. Diagnosis ditegakkan atas dasar adanya struma yang bernodul
dengan keadaan eutiroid.
6. Klasifikasi Struma
Berdasarkan Fisiologisnya
Berdasakan fisiologisnya struma dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Eutiroidisme
Eutiroidisme adalah suatu keadaan hipertrofi pada kelenjar tiroid yang disebabkan
stimulasikelenjar tiroid yang berada di bawah normal sedangkan kelenjar hipofisis menghasilkan
TSH dalam jumlah yang meningkat. Goiter atau struma semacm ini biasanya tidak
menimbulkangejala kecuali pembesaran pada leher yang jika terjadi secara berlebihan
dapatmengakibatkan kompresi trakea.
b. Hipotiroidisme
Hipotiroidisme adalah kelainan struktural atau fungsional kelenjar tiroid sehingga sintesisdari
hormon tiroid menjadi berkurang. Kegagalan dari kelenjar untuk mempertahankan kadar plasma
yang cukup dari hormon. Beberapa pasien hipotiroidisme mempunyai kelenjar yangmengalami
atrofi atau tidak mempunyai kelenjar tiroid akibat pembedahan/ablasi radioisotopatau akibat
destruksi oleh antibodi autoimun yang beredar dalam sirkulasi.Gejalahipotiroidisme adalah
penambahan berat badan, sensitif terhadap udara dingin, dementia,sulit berkonsentrasi, gerakan
lamban, konstipasi, kulit kasar, rambut rontok, mensturasi berlebihan, pendengaran terganggu
dan penurunan kemampuan bicara. Hipotiroidisme menghasilkan gejala: suara serak, kepekaan
dingin, kulit kering, sembelit, bradycardia dan kelemahan otot. Myxedema coma merupakan
stadium lanjut akibat kekurangan hormon tiroid ditandai dengan progresif stupor, hipotermia dan
hipoventilasi. Kegagalan tiroid itu sendiri untuk mensekresikan hormon tiroid dalam jumlah
yang memadai disebut hipotiroidisme primer dan kebanyak disebabkan iatrogenik, baik hasil dari
ablasi radioaktif iodide atau karena operasi pengobatan hipertiroidisme. Hipotiroidisme sekunder
terjadi bila sekresi TSH menurun akibat gangguan hipofisis. Hipotiroidisme tersier adalah hasil
dari disfungsi hipotalamus.
c. Hipertiroidisme
Dikenal juga sebagai tirotoksikosis atau Graves yang dapat didefenisikan sebagai
respon jaringan-jaringan

tubuh

terhadap

pengaruh

metabolik

hormon

tiroid

yang

berlebihan.29Keadaan ini dapat timbul spontan atau adanya sejenis antibodi dalam darah yang
merangsangkelenjar tiroid, sehingga tidak hanya produksi hormon yang berlebihan tetapi ukuran
kelenjar tiroid menjadi besar. Gejala hipertiroidisme berupa berat badan menurun, nafsu makan
meningkat, keringat berlebihan, kelelahan, leboh suka udara dingin, sesak napas. Selain itu juga
terdapat

gejala

jantung

berdebar-debar,

tremor

pada

tungkai

bagian

atas,

mata

melotot(eksoftalamus), diare, haid tidak teratur, rambut rontok, dan atrofi otot

Penyakit tiroid seperti gondok, tiroid adenoma dan karsinoma tiroid biasanya terjadi pada
individu yang eutiroid. Pengujian subklinis untuk pengembangan yang lebih sensitif dilakukan
dengan mendiagnosis hiper dan hypothyroidism pada pasien yang tampak secara klinis eutiroid,
namun nilai-nilai TSH mereka masing-masing bisa meningkat atau menurun. Sejumlah situasi
klinis dapat mengakibatkan kesulitan dalam menginterpretasi tes fungsi tiroid: munculnya
protein abnormal binding protein (akibat kelainan kongenital atau obat-obatan), perubahan pada
metabolisme hormon tiroid seperti terlihat pada mereka yang dirawat di rumah sakit dengan
penyakit jiwa akut, atau pada pengobatan yang mempengaruhi pengikatan hormon tiroid atau
HPT axis secara langsung. Yang menjadi masalah yang paling penting dan umum pada tes fungsi
tiroid mungkin terjadi pada pasien dengan berbagai penyakit yang tidak secara langsung
melibatkan tiroid, yang disebut penyakit nontiroidal.

Hormon tiroid mengatur produksinya sendiri melalui feedback inhibition pada sintesis
kedua TRH dan TSH di hipotalamus dan hipofisis, masing-masing. TRH juga memproduksi
hormon hipofisis lain, terutama prolaktin. Leptin memainkan peran penting dalam regulasi gen
TRH yang mempengaruhi selera makanan individu. Tes laboratorium untuk serum TRH tidak
berguna untuk gangguan tiroid karena sulit untuk mengembangkan antibodi spesifik.
TSH adalah glikoprotein yang terdiri dari dua mono-kovalen dihubungkan subunit alfa dan beta.
Alpha-subunit memiliki sekuens asam amino yang sama sebagai luteinizing hormone (LH),
follicle-stimulating hormon (FSH) dan human chorionic gonadotropin (HCG). Inilah merupakan
beta-subunit yang membawa informasi khusus untuk pengikatan reseptor bagi ekspresi aktivitas

hormon. Uji TSH dapat mengidentifikasi hampir semua kasus hipertiroidisme dan
hipotiroidisme, kecuali apabila ada kerusakan pada hipotalamus atau pituitari, resistensi hormon
tiroid, atau gangguan fungsi normal dari HPT axis akibat obat-obatan. Hasil uji TSH dalam
interval referensi biasanya mengecualikan disfungsi tiroid dan membedakan supresi TSH pada
Graves tirotoksikosis yang parah (TSH <0,01 Miu/L) dari tingkat sederhana supresi TSH (0,010,1 Miu / L) diamati pada hipertiroidisme utama dan beberapa kasus penyakit nonthyroidal.
Kisaran normalnya tetap antara sekitar 0,5-5,0 Miu/L di sebagian besar laboratorium. Namun,
konsentrasi serum TSH yang menurun terdeteksi pada pasien dengan tirotoksikosis berat, serum
TSH <0,004 Miu/L pada pasien hipertiroidisme berat. Hipertiroidisme subklinis didefinisikan
oleh TSH yang rendah dengan T4 dan T3 yang normal.
Eutiroid adalah sebutan fungsi kelenjar berjalan normal,tetapi kondisinya membesar.Sementara
pada kasus hipertiroid,kelenjar terlalu aktif memproduksi hormon sehingga kadar T3 dan T4
dalam tubuh berlebih.Dampaknya terjadi peningkatan fungsi tubuh sehingga penderita kerap
buang air besar,badan sering berkeringat,letih dan lesu,serta bobot badan anjlok.
Penyebab rusaknya tiroid beragam,seperti peradangan pada kelenjar tiroid.Konsumsi hormon
tiroid berlebih dan produksi TSH (Tyroid stimulating hormone) pada kelenjar pituitari yang
abnormal.

Berdasarkan Klinisnya
Secara klinis pemeriksaan klinis struma toksik dapat dibedakan menjadi sebagai berikut :
a.Struma Toksik
Struma toksik dapat dibedakan atas dua yaitu struma diffusa toksik dan struma nodusa toksik.
Istilah diffusa dan nodusa lebih mengarah kepada perubahan bentuk anatomi dimana
strumadiffusa toksik akan menyebar luas ke jaringan lain. Jika tidak diberikan tindakan
medissementara nodusa akan memperlihatkan benjolan yang secara klinik teraba satu atau
lebih benjolan (struma multinoduler toksik).Struma diffusa toksik (tiroktosikosis) merupakan
hipermetabolisme karena jaringan tubuhdipengaruhi oleh hormon tiroid yang berlebihan dalam

darah. Penyebab tersering adalah penyakit Grave (gondok eksoftalmik/exophtalmic goiter),


bentuk tiroktosikosis yang paling banyak ditemukan diantara hipertiroidisme lainnya.
Perjalanan penyakitnya tidak disadari oleh pasien meskipun telah diiidap selama berbulan- bulan. Antibodi
yang berbentuk reseptor TSH beredar dalam sirkulasi darah, mengaktifkan reseptor tersebut dan
menyebabkan kelenjar tiroid hiperaktif
Meningkatnya kadar hormon tiroid cenderung menyebabkan peningkatan pembentukan antibodi
sedangkan turunnya konsentrasi hormon tersebut sebagai hasil pengobatan penyakit ini
cenderung untuk menurunkan antibodi tetapi bukan mencegah pembentukyna. Apabila gejala
hipertiroidisme bertambah berat dan mengancam jiwa penderita maka akan terjadi krisis
tirotoksik. Gejala klinik adanya rasa khawatir yang berat, mual, muntah, kulitdingin, pucat, sulit
berbicara dan menelan, koma dan dapat meninggal.
b. Struma Non Toksik
Struma non toksik sama halnya dengan struma toksik yang dibagi menjadi struma diffusa non
toksik dan struma nodusa non toksik. Struma non toksik disebabkan oleh kekurangan yodium yang kronik.
Struma ini disebut sebagai simple goiter, struma endemik, atau goiter koloidyang sering
ditemukan di daerah yang air minumya kurang sekali mengandung yodium dan goitrogen yang
menghambat sintesa hormon oleh zat kimia. Apabila dalam pemeriksaan kelenjar tiroid teraba
suatu nodul, maka pembesaran ini disebutstruma nodusa. Struma nodusa tanpa disertai tandatanda hipertiroidisme dan hipotiroidismedisebut struma nodusa non toksik. Biasanya tiroid sudah mulai
membesar pada usia muda dan berkembang menjadi multinodular pada saat dewasa. Kebanyakan
penderita tidak mengalamikeluhan karena tidak ada hipotiroidisme atau hipertiroidisme,
penderita datang berobatkarena keluhan kosmetik atau ketakutan akan keganasan. Namun
sebagian pasien mengeluhadanya gejala mekanis yaitu penekanan pada esofagus (disfagia) atau
trakea (sesak napas), biasanya tidak disertai rasa nyeri kecuali bila timbul perdarahan di dalam
nodul.Struma non toksik disebut juga dengan gondok endemik, berat ringannya endemisitas dinilaidari
prevalensi dan ekskresi yodium urin. Dalam keadaan seimbang maka yodium yang masuk ke
dalam tubuh hampir sama dengan yang diekskresi lewat urin. Kriteria daerah endemis gondok yang
dipakai Depkes RI adalah endemis ringan prevalensi gondok di atas 10%-< 20 %, endemik sedang 20 % - 29 %
dan endemik berat di atas 30 %

7. DIAGNOSIS
Indeks Wayne digunakan untuk menentukan apakah pasien mengalami eutiroid, hipotiroid, atau
hipertiroid
Gejala subjektif
Dispnea deffort
Palpitasi
Capai/lelah
Suka panas
Suka dingin
Keringat banyak
Nervous
Tangan basah
Tangan panas
Nafsu
makan
naik
Nafsu

Angka
+1
+2

Gejala objektif
Ada
Tiroid teraba
+3
Bruit di atas +2

+2
-5
+5
+3
+2
+1
-1
+3

systole
Eksoftalmus
Lid retraksi
Lid lag
Hiperkinesis
Tangan panas
Nadi
<80x/m
80-90x/m

makan -3

turun
BB naik
BB turun
Fibrilasi atrium

-3
+3
+3

>90x/m

+2
+2
+1
+4
+2

Tidak
-3
-2
-2
-2

-3
0
+3

<11 : eutiroid
11-18 : normal
>19 : hipertiroid

Pemeriksaan laboratorium yang digunakan dalam diagnose penyakit tiroid terbagi atas :
*) Pemeriksaan untuk mengukur fungsi tiroid. Pemeriksaan T4 total dikerjakan pada
semua penderita penyakit tiroid, T3 sangat membantu untuk hipertiroidisme. TSH sangat
membantu untuk mengetahui hipotiroidisme primer dimana mbasal TSH meningkat 6
mU/L.
USG bermanfaat pada pemeriksaan tiroid untuk :
1.
2.
3.
4.

Dapat menentukan jumlah nodul


Dapat membedakan antara lesi tiroid padat dan kistik
Dapat mengukur volume dari nodul tiroid
Dapat mendeteksi adanya jaringan kanker tiroid residif yang tidak menangkap iodium,

yang tidak terlihat dengan sidik tiroid


5. Dapat dipakai sebagai pengamatan lanjut hasil pengobatan

8. PENATALAKSANAAN
1. Operasi/Pembedahan
Pembedahan menghasilkan hipotiroidisme permanen yang kurang sering dibandingkan
dengan yodium radioaktif. Terapi ini tepat untuk para pasien hipotiroidisme yang tidak
mau mempertimbangkan yodium radioaktif dan tidak dapat diterapi dengan obat-obat anti
tiroid. Reaksi-reaksi yang merugikan yang dialami dan untuk pasien hamil dengan
tirotoksikosis parah atau kekambuhan, pada wanita hamil atau wanita yang menggunakan
kontrasepsi hormonal (suntik atau pil KB), kadar hormon tiroid total tampak meningkat.
Hal ini disebabkan makin banyak tiroid yang terikat oleh protein maka perlu dilakukan
pemeriksaan kadar T4 sehingga dapat diketahui keadaan fungsi tiroid. Pembedahan
dengan mengangkat sebagian besar kelenjar tiroid, sebelum pembedahan tidak perlu
pengobatan dan sesudah pembedahan akan dirawat sekitar 3 hari. Kemudian diberikan
obat tiroksin karena jaringan tiroid yang tersisa mungkin tidak cukup memproduksi
hormon dalam jumlah yang adekuat dan pemeriksaan laboratorium untuk menentukan
struma dilakukan 3-4 minggu setelah tindakan pembedahan.
2. Yodium Radioaktif
Yodium radioaktif memberikan radiasi dengan dosis yang tinggi pada kelenjar tiroid
sehingga menghasilkan ablasi jaringan. Pasien yang tidak mau dioperasi maka pemberian
yodium radioaktif dapat mengurangi gondok sekitar 50 %. Yodium radioaktif tersebut
berkumpul dalam kelenjar tiroid sehingga memperkecil penyinaran terhadap jaringan
tubuh lainnya. Terapi ini tidak meningkatkan resiko kanker, leukimia, atau kelainan
genetic. Yodium radioaktif diberikan dalam bentuk kapsul atau cairan yang harus
diminum di rumah sakit, biasanya diberikan empat minggu setelah operasi, sebelum
pemberian obat tiroksin.
3.

Pemberian Tiroksin dan obat Anti-Tiroid


Tiroksin digunakan untuk menyusutkan ukuran struma, selama ini diyakini bahwa
pertumbuhan sel kanker tiroid dipengaruhi hormon TSH. Oleh karena itu untuk menekan
TSH serendah mungkin diberikan hormon tiroksin (T4) ini juga diberikan untuk
mengatasi hipotiroidisme yang terjadi sesudah operasi pengangkatan kelenjar tiroid. Obat
anti-tiroid (tionamid) yang digunakan saat ini adalah propiltiourasil (PTU) dan
metimasol/karbimasol.

Indikasi operasi pada struma adalah :


1.
2.
3.
4.

Struma difus toksik yang gagal dengan terapi medikamentosa


Struma uni atau multinodosa dengan kemungkinan keganasan
Struma dengan gangguan penekanan
Kosmetik

DAFTAR PUSTAKA
1. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi Konsep Klinis Proses - Proses Penyakit. Edisi 6.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2005. hal: 1226-35.
2. Corwin EJ. Buku Saku Patofisiologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2001. hal:
414 - 6.
3. Bahar A. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta. 1998. hal: 715-9.
4. Sudoyo A, Setiyahadi B, Alwi I, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV.
FKUI. Jakarta. 2006. Hal : 1933-48.