Anda di halaman 1dari 19

POLIP NASI

TIARA AYU PRATIWI


1310211201

Polip nasi adalah.


Polip nasi atau polip
hidung adalah kelainan
selaput permukaan
hidung berupa massa
lunak yang
bertangkai
berbentuk bulat atau
lonjong, berwarna
putih keabu-abuan
dengan permukaan
licin dan agak
bening karena
mengandung banyak
cairan

Poli
p

Polip nasi bukan merupakan penyakit


tersendiri tapi merupakan manifestasi klinik
dari berbagai macam penyakit dan sering
dihubungkan dengan sinusitis, rhinitis alergi,
fibrosis kistik dan asma.

Epidemiologi
Prevalensi polip nasi di Amerika
Serikat sekitar 1-4% pada orang
dewasa dan 0,1% pada anak-anak
Polip nasi lebih banyak terjadi pada
laki-laki dengan perbandingan 2-4:1
Insidennya meningkat seiring usia
(>50 tahun)

Etiologi
Terdapat 3 faktor penting
yang berperan di dalam
terjadinya polip, yaitu
Peradangan lama dan berulang
pada selaput permukaan
hidung dan sinus
Gangguan keseimbangan
Vasomotor
Peningkatan tekanan cairan
antar ruang sel dan bengkak
selaput permukaan hidung

Rhinitis Alergi
Asma
Riwayat atopi
lainnya
Sinusitis kronik

Patofisiologi
teori Brenstein, terjadi
perubahan mukosa hidung akibat peradangan
atau turbulensi udara terutama di daerah
sempit di kompleks ostiomeatal
prolaps submukosa yang diikuti oleh
reepitelisasi dan pembentukan kelenjar baru
peningkatan penyerapan natrium oleh
permukaan sel epitel yang berakibat retensi air

POLIP NASI

Patofisiologi
Teori ketidakseimbangan saraf
vasomotor
peningkatan permeabilitas kapiler
dan gangguan regulasi vascular
edema polip.
Bila proses terus berlanjut, mukosa
yang sembab semakin membesar
turun ke rongga hidung dengan
membentuk tangkai

Diagnosis
Anamnesis

hidung rasa tersumbat


rinore
hiposmia atau anosmia.
bersin-bersin, rasa nyeri pada hidung disertai sakit kepala daerah
frontal.
Bila infeksi sekunder didapati post nasal drip dan rinore purulen

Gejala sekunder

bernafas melalui mulut,


suara sengau,
halitosis,
gangguan tidur dan
penurunan kualitas hidup

riwayat rhinitis alergi, asma, alergi makanan.

Pemeriksaan fisik
Inspeksi
Polip nasi yang massif dapat
menyebabkan deformitas hidung luar
sehingga hidung tampak mekar karena
pelebaran batang hidung. Dapat
dijumpai pelebaran kavum nasi
terutama polip yang berasal dari sel-sel
etmoid

Rhinoskopi anterior (Polip dapat terlihat)


Tampak adanya massa lunak, bertangkai, tidak nyeri jika
ditekan, tidak mudah berdarah
Tampak sekret mukus dan polip multipel atau soliter.

Pembagian stadium polip menurut


Mackay dan Lund (1997)
Stadium 1: polip masih terbatas
dimeatus medius
Stadium 2: polip sudah keluar dari
meatus
medius,
tampak
dirongga
hidung tapi belum memenuhi rongga
hidung
Stadium 3: polip yang massif

Endoskopi nasal
Polip stadium 1 dan 2 kadang-kadang tidak
terlihat
pada
pemeriksaan
rinoskopi
anterior
tetapi
tampak
dengan
pemeriksaan nasoendoskopi.

Pemeriksaan radiologi
Foto polos sinus paranasal (posisi
waters, AP, aldwell dan lateral) dapat
memperlihatkan penebalan mukosa dan
adanya batas udara cairan didalam sinus,
tetapi kurang bermanfaat pada kasus polip.
Karena dapat memberikan kesan positif
palsu atau negative palsu dan tidak dapat
memberikan informasi mengenai keadaan
dinding lateral hidung dan variasi anatomis
didaerah kompleks osteomeatal.

Tindakan operasi
meliputi :

yang

dapat

dilakukan

Polipektomi intranasal
merupakan tindakan pengangkatan polip
menggunakan senar polip dengan bantuan
anestesi lokal. Kategori polip yang diangkat adalah
polip yang besar namun belum memadati rongga
hidung.
Bedah Sinus Endoskopi Fungsional (BSEF)
merupakan tindakan pengangkatan polip sekaligus
operasi sinus. Kriteria polip yang diangkat adalah
polip yang sangat besar, berulang, dan jelas
terdapat kelainan di kompleks osteomeatal

Pemeriksaan tomografi computer sangat


bermanfaat untuk melihat dengan jelas keadaan di
hidung dan sinus paranasal apakah ada proses
radang, kelainan anatomi, polip atau sumbatan
pada kompleks osteomeatal.
CT terutama diindikasikan pada kasus polip yang
gagal diterapi dengan medikamentosa, jika ada
komplikasi dari sinusitis dan pada perencanaan
tindakan bedah terutama bedah endoskopi.

Rhinoskopi posterior
Tujuan: untuk melihat apakah polip sudah
masuk ke koana atau nasofaring
Pada pemeriksaan rhinoskopi posterior bila
ukurannya besar akan tampak massa
berwarna putih keabu-abuan mengkilat
yang terlihat mengggantung di nasofaring

Tata laksana
Tujuan utama pengobatan pada kasus
polip nasi ialah menghilangkan keluhankeluhan yang dirasakan oleh pasien.
kortikosteroid pada polip yang masih kecil
dan belum memasuki rongga hidung.
Caranya bisa sistemik, intranasal atau
kombinasi keduanya. Berikan antibiotik
jika ada tanda infeksi. Berikan anti alergi
jika pemicunya dianggap alergi.

Dosis dewasa: prednison (30-60mg) selama 4-7 hari dan


diturunkan selama 1-3 minggu.
Dosis anak-anak: max 1mg/kb/hari selama 5-7 hari dan
diturunkan selama 1-3 minggu.

Leukotrin inhibitor

Menghambat pemecahan asam arakidonat oleh enzyme


5-lipoxygenase yang akan menghasilkan leukotrin yang
merupakan mediator inflamasi.
Pengobatan juga dapat ditujukan untuk mengurangi
reaksi alergi pada polip yang dihubungkan dengan
rhinitis alergi.
Pada penderita dapat diberikan antihistamin oral untuk
mengurangi reaksi inflamasi yang terjadi.
Bila telah terjadi infeksi yang ditandai dengan adanya
sekret yang mukopurulen maka dapat diberikan
antibiotik.

PROGNOSIS
Polip nasi dapat muncul kembali
selama iritasi alergi masih tetap
berlanjut.
Rekurensi dari polip umumnya terjadi
bila adanya polip yang multipel.