Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan suatu masalah penting dalam
setiap proses operasional, baik di sektor tradisional maupun moderen.
Berdasarkan data ILO tahun 2003, angka keselamatan kerja Indonesia masih
sangat buruk, yaitu berada pada peringkat 26 dari 27 negara yang diamati. Pada tahun
tersebut, terdapat 51523 kasus kecelakaan kerja yang terdiri dari 45234 kasus cidera
kecil, 1049 kasus kematian, 317 kasus catat total dan 5400 cacat sebagian (Suardi,
2005).
Efek dari neurotoksik, pelarut organik, dan logam berat, juga menjadi
penyebab penyakit akibat kerja. Terpajan oleh zat-zat tersebut mengakibatkan
gangguan pada saraf tepi dan sistem saraf pusat.
Disisi lain penyebab utama kecelakaan kerja yang disebabkan oleh manusia
adalah stress dan kelelahan (fatique). Kelelahan kerja memberi kontribusi 50%
terhadap terjadinya kecelakaan kerja (Setyawati, 2007). Kelelahan bisa disebabkan
oleh sebab fisik ataupun tekanan mental. Salah satu penyebab fatique adalah ganguan
tidur (sleep distruption) yang antara lain dapat dipengaruhi oleh kekurangan waktu
tidur dan ganguan pada circadian rhythms akibat jet lag atau shift kerja (Wicken, et
al, 2004). Sharpe (2007) menyatakan bahwa pekerja pada shift malam memiliki resiko
28% lebih tinggi mengalami cidera atau kecelakaan.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Diketahuinya penyakit akibat kerja karena gangguan dari neurologis and perilaku
di tempat kerja
2. Tujuan khusus
a. Diketahuinya gangguan saraf akibat kerja
b. Diketahuinya gangguan perilaku akibat kerja
c. Diketahuinya pencegahan dari gangguan saraf akibat kerja
d. Diketahuinya penatalaksanaan stres akibat kerja

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sistem Saraf
Unit dasar dari saraf ialah neuron yang mempunyai empat komponen berikut,
rangsangan berjalan dari yang pertama menuju yang terakhir.
1. Dendrit
2. Badan selnya sendiri
3. Akson
4. Terminal sinaptik
Akson merupakan satu serabut saraf panjang dengan atau tanpa selubung
mielin yang mempercepat konduksi saraf. Pada keadaan istirahat normal, membran
akson memiliki tegangan potensial -85 Mv, muatan positif luar ini dipertahankan oleh
mekanisme pompa natrium aktif. Rangsangan saraf adalah gelombang depolarisasi
repolarisasi, yang berjalan disepanjang serabut saraf sepanjang permeabilitas
memberan terhadap natrium meningkat, sehingga memungkinkan perbaikan polaritas
dengan cepat dan di ikuti oleh periode pemulihan ketika permeabilitas normal normal
kembali. Konduksi disepanjang akson bersifat all or none (berlangsung mulus atau
tidak sama sekali), tetapi di dendrit konduksi berlangsung bertahap. Pada sinaps
energi listrik di ubah menjadi energi kimia dengan pengeluaran neurotransmiter
seperti asetilkolin. Neuro transmitter ini dapat menimbulkan eksitasi atau inhibisi.
B. Gangguan Saraf Akibat Kerja
1. Gangguan Saraf Tepi Akibat Kerja
Gangguan ini merupakan gangguan motorik atau sensorik, biasanya berupa
keduanya. Gangguan sensorik biasanya terjadi pada bagian distal, bagian motorik
mungkin terjadi dibagian distal atau proksimal. Sebagian besar bahan beracun
menyebabkan degenerasi akson, biasanya dengan mekanisme yang pada
umumnya belum diketahui. Kerusakan mungkin terbatas dan dapat pulih kembali
atau berat dan menetap, bergantung pada bagan, dosis, dan lama pajanan.
Untuk n-heksane dan metil butil keton, nampaknya efek yang timbul disebabkan
oleh suatu metabolit, 2,5 heksanedion, dan menimbulkan pembengkakan akson
raksasa dibagian proksimal akson, yang disertai kematian perifer terbalik. Selain
gambaran klinis neuropati perifer, efek sub klinis dapat ditemukan melalui
pemeriksaan kondusif saraf, yang bermanfaat pada deteksi dini pada para pekerja
yang terpajan pada neuro toksin yang sudah dikenal.
Neurotoksin yang sidah dikenal adalah :
a. Pestisida oerganofosfat
b. Pestisida karbamat
c. Toorthocresyl fosfat
d. N-heksane
2

e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.

Metilbutilketon
Acrylamide dan/atau dimetilaminoproprionitril (DMAPN)
Karbondisulfida
Senyawaan merkuri (inorganik dan organik)
Timbal dan senyawanya (inorganik)
Arsen
Talium
Antimon

2. Gangguan Sistem Saraf Pusat (SSP) Akibat Kerja


Gangguan fungsi otak menyebabkan gambaran klinis yang konsisten,
meskipun organ yang terganggu amat beragam. Perubahan pertama adalah
gangguan kesadaran, mulai dari disorientasi ringan sampai koma yang dalam.
Psikosis organik sering kali amat memburuk pada malam hari, dan bila pasien
mengalami amat kelelahan. Efek ini mungkin diselingi dengan masa normal.
Disamping itu, halusinasi visual mungkin terjadi dengan atau tanpa gangguan
ingatan, gagasan rujukan, paranoia, kecemasan, dan akhirnya apati.
Racun ditempat kerja jenis ini sering berupa pelarut organik atau logam berat
seperti :
a. Arsenik
b. Timbal (termasuk epilepsi)
c. Mangan (termasuk parkinsonisme)
d. Merkuri
e. Karbon disulfida (termasuk parkinsonisme)
f. Senyawa timbal organik
g. Hidrokarbon berklorin, pestisida seperti dieldrin (termasuk epilepsi)
h. Karbon monoksda
i. Halotan
j. Toluen
k. Benzen
l. Metil klorofom
m. Spiritus putih
n. Perklorothilen
Penyaringan gangguan susunan saraf pusat tidak mudah dan memerlukan rentetan
uji perilaku, termasuk penilaian psikomotor kognitif dan perseptual. Pertemuan
internasional baru-baru ini menunjukkan adanya kesepakan bahwa rangkaian uji
psikologik dapat dirumuskan.
Cara Pencegahan :
Cara pencegahan agar terhindar dari gangguan saraf tepi dan gangguan saraf pusat
akibat kerja ialah dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) selama bekerja.

Seperti menggunakan masker dan sarung tangan khusus. Selain itu juga bisa
dilakukan dengan menghindari pajanan.
C. Gangguan Perilaku Akibat Kerja
Stress Akibat Kerja
Setiap aktivitas normal akan menghasilkan stres, dan stres tak dapat dihindari.
Stres dapat ditoleransi hanya dalam waktu yang terbatas. Tidak pernah ada dua
orang yang identik, maka stres yang sama akan berpengaruh secara berbeda
terhadap masing-masing individu, serta berat ringannya juga sangat bervariasi.
Hubungan antara masing-masing perubahan patologis seorang individu tidak
banyak diketahui secara detail, tetapi sebagian besar peneliti mengakui bahwa
rangsangan psikologis dalam hal ini termasuk stres akibat pekerjaan, atau yang
disebut stresor penting sebagai faktor penyerta dari timbulnya suatu penyakit
tertentu, seperti penyakit jantung iskemik, hipertensi esensial, gangguan saluran
cerna serta beberapa penyakit neuropsikiatris. Selanjutnya peranan faktor
psikologis menjadi jelas setelah pada penelitian lain terbukti secara bermakna
adanya beberapa stresor psikologis sebagai penyebab terjadinya penyakit
penyumbatan pembuluh jantung, seperti:
a. perubahan jenis pekerjaan
b. perubahan besar-besaran pada jadwal kerja
c. perubahan dalam derajat tanggung jawab
d. ketidak sesuaian dengan atasan
e. ketidak sesuaian dengan teman-teman sekerja
Pekerjaan itu sendiri tidak selalu sebagai sumber penyebab satu-satunya
gangguan-gangguan psikologis, tetapi dapat merupakan status dari kerentanan
terhadap kegagalankegagalan tertentu di lingkungan pekerjaan yang penuh dengan
stresor-stresor fisik, emosional dan mental. Stresor fisik di tempat kerja misalnya
bising, penerangan yang kurang memadai, temperatur ruangan yang terlalu tinggi
serta bahaya-bahaya kerja fisik lainnya, atau bahaya-bahaya kerja kimiawi,
misalnya debu kerja yang berlebihan, bahaya kerja ergonomis, misalnya meja
kerja yang terlalu tinggi/terlalu rendah, jangkauan yang jauh, bekerja dengan
posisi sulit dan lain-lain. Stresor emosional atau mental, bisa merupakan kondisi
yang tidak menyenangkan atau bahkan kondisi yang menyenangkan misalnya
suatu promosi dapat mengakibatkan timbulnya stres akibat kehilangan posisi. Sifat
4

stresor adalah bertambah terus dan bertumbuh. Respon individu dalam


menghadapi stresor tergantung pada nilai-nilai, pengalaman dan daya penyesuaian
dirinya. Suatu stresor tunggal dapat menjadi majemuk jika terjadi kegagalan
elemen-elemen dari sistem pendukung.
Tahap Reaksi Tubuh
Dalam menghadapi stressor, manusia menghadapi tiga tahap reaksi tubuh, yaitu:
a. Reaksi alarm (tanda bahaya)
Respon yang datangnya dengan cepat untuk menghadapai suatu tantangan
atau ancaman. Pada tahap ini tubuh belum dapat beradaptasi terhadap paparan
ancaman bahaya. Terjadi mobilisasi dari sistim saraf otonom yang
mencetuskan respon stres dalam bentuk respon perlawanan (fight) atau respon
menghindar (flight). Bermacam-macam sistem tubuh ikut mengkoordinasi
kesiap-siagaan untuk bereaksi, mempengaruhi kejiwaan (sistem limbik),
pengaturan sistem kardiovaskuler, pernafasan, ketegangan otot serta aktivitasaktivitas motorik yang halus.
b. Tahapan Kebal (Resisten)
Reaksi alarm tidak dapat dipelihara untuk jangka waktu yang tidak terbatas.
Pemaparan yang berkepanjangan terhadap stresor-stresor menyebabkan
individu menjadi kebal. Pada tahap ini sesungguhnya tubuh sudah dapat
beradaptasi, di mana individu mengembangkan suatu strategi perjuangan
untuk bertahan hidup dan membina daya perlawanan justru untuk meredam
respon dari stresor yang telah dimulai pada tahap sebelumnya. Mekanisme
penanggulangan ini bisa menguntungkan atau tidak menguntungkan bagi
perkembangan mental individu. Ternyata individu cenderung untuk lebih baik
melaksanakan penanggulangan dengan cara yang cepat dari pada cara yang
lebih lama dalam menangani masalah tersebut dan mencoba melarikan diri
dari kondisi yang kurang menyenangkan.
c. Tahap kelelahan
Respon terhadap stres pada dasarnya sehat dan penting untuk menimbulkan
daya motivasi dan adaptasi seseorang. Bila beban mental terlalu berat atau
tidak dapat menemukan solusi yang memadai maka individu tersebut akan
menanggung banyak kesukaran. Stres yang lama dan berkelanjutan dapat
menimbulkan

masalah-masalah

yang

menahun

yang

pada

akhirnya

menyebabkan individu akan menderita suatu kelelahan yang berat seakan5

akan semua cadangan energi menghilang, sehingga timbul depresi yang


sungguh-sungguh. Gejala-gejala fisik dari tahap awal kelelahan tampak
sebagai perasaan lelah yang berlebihan, lemah dan tidak punya daya.
Tanda-tanda non-spesifik lainnya biasanya dalam bentuk penglihatan yang
kabur, rasa pusing, vertigo, tangan tremor, nyeri otot, palpitasi, napas terasa
berat, nyeri dada, sesak napas atau gangguan pernafasan yang lain, gejalagejala gangguan saluran cerna seperti rasa kering di mulut, rasa leher tercekik,
mualmual atau muntah, konstipasi yang menahun, diare atau sakit perut yang
melilit. Berat badan bertambah atau menjadi kurus, perubahan corak makan
dalam bentuk berkurangnya nafsu makan atau nafsu makan menjadi lebih
besar atau makan coklat secara berlebihan. Individu ini biasanya kalau di
tempat kerja bisa menyembunyikan gejala-gejalanya kecuali kalau terasa
sangat berat, pada keadaan ini cederung untuk bolos kerja. Tetapi sayangnya
gejala-gejala ini tidak hanya timbul di tempat kerja, bisa juga di rumah atau di
mana saja, sehingga individu menjadi sangat menderita.
Gejala-gejala emosi dari stres pada tahap kelelahan berhubungan dengan
sindrom depresi dan frustrasi, manifestasinya dalam bentuk tangisan yang tak
terkontrol, perasaan takut mati, tidak berani bicara di depan publik, mudah
terkejut, tidak suka berteman atau bertemu keluarga atau menyalurkan
hobinya, kurang perhatian pada hal-hal personal seperti olah raga, pakaian
dan makan. Pada kasus-kasus yang ekstrem bisa merusak diri atau percobaan
bunuh diri. Mudah marah, dingin dan kaku pada orang lain serta disertai
perasaan bersalah yang berlebihan. Serangan panik dan gelisah dapat
mengakibatkan kesulitan melaksanakan pekerjaan, yang akan menambah stres
di tempat kerja karena gejalagejala tersebut terlihat oleh teman-teman
kerjanya. Disfungsi mental pada tahap kelelahan tampak sebagai gangguan
tidur seperti sulit bangun dari tidur, bangun tidur terlalu dini yang disertai
dengan mimpi-mimpi buruk, hilangnya daya konsentrasi dan koordinasi. Hal
ini mendorong timbulnya gangguan penampilan di tempat kerja serta daya
untuk mempertimbangkan suatu masalah, sehingga tidak jarang timbul
perilaku negatif dalam melaksanakan pekerjaan atau seringkali timbul keraguraguan dalam memutuskan suatu masalah. Di tempat kerja tanda-tanda
disfungsi mental biasanya lebih mudah tampak daripada tanda-tanda
gangguan fisik karena gejalagejala tersebut berhubungan langsung dengan
6

penampilan kerja dan jelas dapat dirasakan oleh teman sekerja. Hal ini
mengakibatkan hilangnya rasa percaya diri dan gangguan kontrol individu,
sehingga makin mendorong penurunan penampilan dirinya. Penyalahgunaan
alkohol dan obat-obat penenang serta obat-obatan yang lain, merokok
berlebihan seringkali menjadi solusi yang diambil oleh individu ini.
Jenis Stresor dan Hubungannya dengan Spesifikasi Pekerjaan
Stresor seringkali berhubungan langsung dengan sistem tugas, volume
pekerjaan, lingkungan tempat kerja atau sebagai akibat ketidak-keharmonisan
hubungan dengan individu lain di tempat kerja serta faktor-faktor budaya
organisasi tempat kerja, beberapa stresor juga berhubungan pada identifikasi
dari peranan seseorang di organisasi tempat kerja.
a. Sistem Tugas
1) Kerja Lembur
Menurut beberapa penelitian, kerja lembur yang terlalu sering, apalagi
kalau tanpa kontrol jumlah jam kerja yang berlebih-lebihan ternyata
tidak hanya mengurangi kuantitas dan kualitas hasil kerja, juga
seringkali meningkatkan kuantitas absen dengan alasan sakit atau
kecelakaan kerja. Misalnya: pekerja-pekerja di industri pengemasan
buah kaleng yang biasanya banyak berhubungan dengan musim buah.
2) Tugas Kerja Malam
Kerja malam merupakan tugas yang berat bagi individu pekerja,
seringkali mengakibatkan timbulnya gangguan fisik akibat kurang
tidur serta perubahan tingkah laku yang dapat mendorong individu
untuk penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang serta
perubahan kebiasaan makan. Misalnya: polisi, perawat, satpam,
anggota pemadam kebakaran, pekerja-pekerja di industri pelayanan
(hotel, transportasi, dan lain-lain), termasuk pekerja dengan tugas
malam lainnya. Penelitian yang dilaksanakan oleh Bilat dkk pada
tahun 2002 ditemukan bahwa cuti sakit perawat wanita dan pekerja
rumah sakit lainnya mencapai lebih dari 13% dari seluruh jumlah hari
kerja akibat jadwal kerja malam yang terlalu sering di rumah sakit.
3) Kecepatan Mesin
Kecepatan kerja yang didasarkan semata mata pada kapasitas
kecepatan mesin sangat menguras energi fisik dan psikologis individu
pekerja karena harus terpaku untuk menyesuaikan kecepatan mesin,
7

ban berjalan atau proses produksi, sehingga sedetik pun tak


memungkinkan pekerja untuk meninggalkan tempat kerjanya tanpa
digantikan atau ditolong temannya. Misalnya produk-produk kontrol
kualitas yang dihasilkan oleh mesin-mesin yang berkecepatan tinggi
dan produk-produk yang harus berdasarkan jadwal yang ketat.
4) Gerakan Tangan yang Berulang Secara Monoton
Pekerjaan-pekerjaan yang harus dilaksanakan dengan gerakan
anggauta badan yang berulang secara monoton, yang kadangkadang
pula disertai posisi kerja yang sulit, atau sambil membawa beban atau
menahan beban seringkali sangat memberatkan individu pekerja.
Misalnya pekerjaan-pekerjaan di industri penggergajian kayu,
pengemasan, pemilihan dan asembling pada ban berjalan. Walsh dkk
menyimpulkan dalam penelitiannya bahwa pekerjaan yang banyak
menggerakkan tangan berulang dan membosankan seperti pada para
pekerja penggergajian kayu lebih banyak menimbulkan penyakitpenyakit psikosomatik dan gejala-gejala stres mental lainnya sehingga
meningkatkan frekuensi cuti sakit.
5) Kekangan
Tidak adanya kebebasan bekerja, misalnya tahapan-tahapan pekerjaan
yang mempunyai jadwal tugas yang ketat dan detail. Misalnya
pemeliharaan/perawatan/pengujian mesin kapal terbang yang harus
mengikuti/berdasarkan checklist yang ketat, pekerjaan mencocokkan
memasang/merakit elemen-elemen jadi bangunan rumah/mesin-mesin,
pekerjan akunting.
6) Komunikasi yang Menjemukan/Membebankan
Pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan kontak yang memberatkan
karena memerlukan negosiasi untuk perihal yang sulit diterima atau
tidak selaras dengan kehendak lawan bicara. Misalnya manajer
pemasaran, personil promosi obat-obatan.
Penatalaksanaan Stres Akibat Kerja
Jika seseorang mempunyai gejala-gejala stres yang berkepanjangan
sukar untuk dicari akar masalahnya atau pencetus timbulnya gejala-gejala
tersebut. Tetapi pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan gejalagejala
dini (reaksi alarm) dapat menolong untuk mengidentifikasi akar masalah
tersebut. Misalnya; restrukturisasi yang baru terjadi di lingkungan tempat
kerja, kesulitan-kesulitan khusus terutama dalam hubungan interpersonal, saat
8

timbulnya gejala dalam hubungan terhadap stresor, deskripsi menyeluruh


tentang tempat kerja serta penyalahgunaan alkohol dan obat-obat terlarang.
Bila pasien menemui dokter pada saat gejala-gejala stres baru timbul,
beberapa pertanyaan langsung pada akar masalah tersebut dapat menolong
untuk mengidentifikasi situasi-situasi pencetus stres. Pada saat ini nasehat
medis yang memadai dapat mengatasi masalah-masalah jangka pendek atau
jangka panjang. Untuk selajutnya pasien ini membutuhkan perhatian yang
lebih besar dan membutuhkan pemeriksaan selanjutnya, guna mencegah
berkembangnya penyakit ini. Anxiolitika, antidepresan dan -blocker dapat
mengatasi gejala-gejala stres untuk jangka pendek, tetapi tidak dapat dipakai
untuk jangka panjang karena pasien tidak diobati pada akar masalahnya, juga
bahaya ketergantungan obat-obat tersebut serta depresi miokard akibat blocker perlu mendapat perhatian.
Guna mendorong terjadinya perubahan perilaku kerja dan persepsi
terhadap responrespon biologis, pasien dinasehatkan untuk datang diam-diam
secara reguler biasanya 1 jam dalam seminggu, untuk bimbingan dan
konseling oleh dokter perusahaan, terutama untuk kasus-kasus dengan akar
masalah psikologis seperti kesulitan-kesulitan interpersonal atau perilaku
ketergantungan alkohol/obat-obat terlarang.
Istilah konseling harus dibedakan dengan memberi nasehat. Suatu
nasehat terbatas pada satu paket solusi yang diberikan pada pasien untuk
mengatasi masalah, sedang seorang konselor membantu pasien dengan
memberikan sejumlah pilihan solusi untuk mengatasi masalahnya. Konselor
akan membantu menyeleksi solusi-solusi tersebut sampai pasien memperoleh
pilihan terbaik dan selanjutnya melaksanakannya dengan usaha-usaha pasien
itu sendiri. Penelitian oleh Walsh dkk pada tahun 2005 melaporkan bahwa
bimbingan dan konseling yang dilakukan dokter perusahaan pada karyawan
kantor pos di Ingris berhasil mengurangi cuti sakit dan secara bermakna dapat
mengatasi gejala-gejala kecemasan, depresi dan dapat meningkatkan harga
diri.
Pelatihan Manajemen Stres dapat dilaksanakan secara berkelompok 6
sampai 12 pekerja yang ada indikasi mempunyai gejala-gejala stres akibat
kerja. Materi-materi pelatihan yang perlu diajarkan seperti: teknik fisiologis
untuk mengurangi serangan stres misalnya teknik relaksasi, biofeedback,
meditasi atau latihan pernafasan, teknik psikologis dan kognitif pembentukan
9

diri kembali, macam-macam keterampilan kerja misalnya manajemen waktu,


skala prioritas, keterampilan interpersonal misalnya pelatihan berpidato,
presentasi, tatacara mengikuti rapat, dan lain-lain. Pasien perlu dianjurkan
untuk menciptakan keseimbangan stres di tempat kerja, dengan demikian
gaya hidup yang sehat dan aktivitas relaksasi di tempat kerja sangat
dibutuhkan. Beberapa teknik relaksasi di tempat kerja dapat dianjurkan,
seperti istirahat pendek tapi sering misalnya 5 menit setiap jam kerja lebih
berguna daripada istirahat panjang tapi jarang, sedikit latihan fisik secara
reguler sangat berguna pada pekerja komputer, olah pernafasan yang rutin
bermanfaat untuk mencegah serangan stres yang datangnya mendadak atau
serangan panik. Gaya hidup yang sehat di luar tempat kerja harus dianjurkan
seperti: olah raga rutin, makanan sehat, berhenti merokok dan minum alkohol,
penyaluran hobi serta pasien dianjurkan memperbanyak berkomunikasi
dengan keluarga dan teman-temannya. Penatalaksanaan stres di tempat kerja
secara menyeluruh tidak hanya membutuhkan kooperasi dan partisipasi pasien
tapi juga partisipasi aktif organisasi tempat kerja, seperti: melaksanakan
perbaikan tempat kerja seoptimal mungkin, menciptakan manajemen yang
terbuka, terlaksananya komunikasi dua arah antara pekerja dan pimpinan,
memberikan tugas-tugas dan otoritas tugas yang jelas, memberikan targettarget yang menantang tapi mampu dicapai, jadwal kerja yang fleksibel tapi
terencana, memberikan teguran pada pekerja yang salah secara wajar, adil
tanpa kekerasan.

10

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Gangguan neurologis akibat kerja dapat berupa :
1. Gangguan sistem saraf tepi akibat kerja yang disebabkan oleh neurotoksik
2. Gangguan sistem saraf pusat akibat kerja yang disebabkan logam berat dan pelarut
Semua pekerjaan menanggung beban tanggung jawab, masalah-masalah, tuntutantuntutan, kesulitan-kesulitan dan tekanan-tekanan yang mencetuskan timbulnya stres
psikologis pada individu pekerja. Pada akhirnya bila stres berkepanjangan akan
menghasilkan respon tubuh dalam bentuk gangguan faal tubuh, gangguan emosional
dan perubahan tingkah laku serta menurunnya produktivitas kerja.
B. Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangannya. Untuk itu
penulis

mengharapkan

kritik

dan

saran

yang

bersifat

membangun

guna

menyempurnakan makalah yang telah dibuat.

DAFTAR PUSTAKA
Harington J.M, Gill F.S. 2003. Buku Saku Kesehatan Kerja. Jakarta. Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Harrianto, Ridwan. 2009. Buku Ajar Kesehatan Kerja. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
Maurits, Lientje Setyawati dan Widodo, Imam Djati. 2008. Faktor dan Penjadualan Shift
Kerja. Teknoin, volume 13 No. 2
11

F,Shaftarina dan L, Hasanah. 2014. Hubungan Shift Kerja dengan Gangguan Pola Tidur
pada Perawat Instalasi Rawat Inap di RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung 2013.
Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Volume 2 No.2.

12