Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
Di antara makhluk hidup yang di ciptakan Tuhan Yang Maha Esa, manusia merupakan
makhluk yang paling sempurna. Manusia membutuhkan pekerjaan agar memperoleh penghasilan
untuk membiayai kehidupan sehari-hari. Di antara manusia tersebut ada beberapa orang yang
mendapat kesempatan dan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri bahkan dapat membuka
lapangan kerja untuk orang lain. Dalam rangka pemerataan hasil-hasil pembangunan perlu lebih
di tingkatkan dan diperluas usaha-usaha untuk memperbaiki penghasilan kelompok masyarakat
yang mempunyai mata pencaharian rendah, seperti buruh tani, pedagang kecil, petani menggarap
yang tidak memiliki lahan peternak kecil, nelayan, ataupun pengrajin. Langkah tepat untuk
keluar permasalahan itu adalah dengan menumbuhkan motivasi masyarakat untuk menjadi
entrepreneur (wirausahawan). Selain itu, seorang wirausahawan harus memiliki karakter yang
berarti sifat atau watak yang menjadikan ciri khas terhadap perjuangan hidup untuk mencapai
kebahagiaan lahir dan batin. Serta memiliki role model yang merupakan hal yang sangat penting
karena dengan mengetahui serta memahami kisah-kisah para wirausahawan yang telah meraih
kesuksesan menjadikan cita-cita seseorang untuk membuka usahanya sendiri menjadi lebih
kredibel dan terjustifikasi. Dalam berwirausaha atau berbisnis tidak selalu dalam keadaan yang
baik atau selalu mendapat keberhasilan. Banyak wirausaha atau pembisnis yang harus gulung
tikar karena usahanya tidak juga meraup keuntungan meski telah lama berdiri. Kesuksesan
berwirausaha tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya modal dan sumber daya yang
dimiliki pembisnis, melainkan juga dipengaruhi oleh faktor ketahanan mental dari si pembisnis
itu sendiri.
Dari alasan tersebut, maka kita akan membahas tentang berbagai karakter wirausaha
sukses, pemilihan role model untuk membangun karakter wirausaha, serta faktor-faktor
penyebab kegagalan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Berbagai Karakter (Sikap Mental) Wirausaha Sukses
Menurut Geoffrey G. Meredith (1996 dalam Suryana 2009) bahwa wirausaha memiliki
berbagai ragam karakter dan watak sebagai berikut:
Tabel 1 Karakter dan unsur karakter wirausaha
No

Karakter

Watak

Percaya diri

terhadap orang lain, mandiri dan optimis


Berorientasi pada tugas dan Gairah untuk maju, berorientasi laba, tekun, ulet dan

3
4

hasil
Pengambil resiko
Kepemimpinan

tegas, kerja keras, bersemangat, energik, serta inisiatif.


Kemampuan mengambil resiko, suka tantangan
Berjiwa kepemimpinan, suka bergaul, terbuka terhadap

Keaslian atau originalitas

saran dan kritik.


Pandai pencipta (inovatif dan kreatif) berpikiran

Berorientasi masa depan

terbuka, penuh informasi, kaya pengetahuan.


Memiliki visi dan perspektif terhadap masa depan.

Memiliki keyakinan yang kuat, ketidaktergantungan

Karakter wirausaha yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa intisari karakter seorang
wirausaha ialah kreatifitas. Oleh karena itu, dapat dikemukakan bahwa seorang wirausaha dapat
dibentuk, bukan lahir begitu saja. Jelaslah bahwa kewirausahaan pada dasarnya merupakan jiwa
dari seseorang yang diekspresikan melalui sikap dan perilaku yang kreatif dan inovatif untuk
melakukan suatu kegiatan. Adapun orang yang memiliki jiwa tersebut tentu saja dapat
melakukan kegiatan kewirausahaan atau menjadi pelaku kewirausahaan atau lebih dikenal
dengan sebutan wirausaha. Seorang wirausaha haruslah seorang yang mampu melihat ke depan.
Melihat ke depan dengan berpikir, penuh perhitungan, mencari pilihan dari berbagai alternatif
masalah dan pemecahnnya.
1.

Percaya diri
Sifat-sifat percaya diri dimulai dari pribadi yang mantap, tidak mudah terombang-ambing
oleh pendapat dan saran-saran orang lain. Akan tetapi saran-saran orang lain jangan ditolak
mentah-mentah, pakai itu sebagai masukan untuk dipertimbangkan kemudian harus
2

memutuskan segera. Orang yang tinggi percaya dirinya adalah orang yang sudah matang,
jasmani dan rohaninya. Pribadi semacam itu adalah pribadi yang independen dan sudah
mencapai tingkat kematangan. Karakteristik kematangan sesorang adalah ia tidak tergantung
pada orang lain, ia memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, obyektif dan kritis. Tidak
begitu saja menyerap pendapat atau opini orang lain tapi dapat mengembangkan kritis.
Emosionalnya sudah stabil, tidak mudah tersinggung dan naik pitam, serta tingkat sosialnya
tinggi. Diharapkan wirausaha seperti ini betul-betul dapat menjalankan usahanya secara
mandiri, jujur dan disenangi oleh semua relasinya.
2.

Berorientasi tugas dan hasil


Wirausaha tidak mengutamakan prestise dulu, tetapi prestasi kemudian. Ia berharap pada
prestasi baru kemudian setelah berhasil prestisenya akan meningkat. Wirausaha yang selalu
memikirkan prestise dulu dan prestasi kemudian, usahanya tidak akan mengalami kemajuan.
Maka wirausaha harus mempunyai kebutuhan untuk berprestasi, berorientasi pada laba,
ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai dorongan kuat, energik dan
inisiatif.

3.

Pengambil resiko
Wirausaha dalam melakukan kegiatan usahanya penuh dengan resiko dan tantangan, seperti
persaingan, harga turun naik, barang tidak laku dan sebagainya. Tetapi semua tantangan ini
harus dihadapi dengan penuh perhitungan. Jika perhitungan sudah matang baru membuat
pertimbangan dari berbagai macam segi.

4.

Kepemimpinan
Sifat kepemimpinan memamng ada dalam masing-masing individu, maka sifat
kepemimpinan tergantung pada masing-masing individu dalam menyesuaikan diri dengan
organisasi atau orang yang dipimpin. Ada pemimpin yang disenangi oleh bawahan, mudah
memimpin sekelompok orang, ia diikuti dan dipercaya oleh bawahan. Tapi ada pula
pemimpin yang tidak disenangi bawahan atau tidak senang pada bawahannya, ia mau
mengawasi bawahannya tapi tidak ada waktu untuk itu. Menanam kecurigaan pada orang
lain pada suatu ketika akan berakibat tidak baik pada usaha yang sedang dijalankan. Maka
wirausaha sebagai pemimpin yang baik harus mau menerima kritik dan saran dari
bawahannya serta harus bersifat responsif.

5.

Keaslian atau originalitas


3

Sifat orisinil tidak selalu ada pada diri sesorang, yang dimaksud orisinil adalah tidak hanya
mengekor pada orang lain tapi memiliki pendapat sendiri dan ide yang orisinil untuk
melaksanakan sesuatu. Orisinil tidak berarti baru sama sekali, tapi produk tersebut
mencerminkan hasil kombinasi baru dari komponen-komponen yang sudah ada sehingga
melahirkan sesuatu yang baru. Bobot kreativitas orisinil suatu produk akan tampak sejauh
mana ia berbeda dari apa yang sudah ada sebelumnya.
6.

Berorientasi masa depan


Wirausaha harus perspektif, mempunyai visi ke depan, apa yang akan dilakukan dan apa
yang ingin dicapai. Karena sebuah usaha bukan didirikan untuk sementara tapi selamnay.
Maka faktor kontinuitas harus dijaga dan pandangan harus ditujukan jauh ke depan. Untuk
menghadapi pandangan jauh ke depan seorang wirausaha akan menyusun perencanaan dan
strategi yang matang, agar jelas langkah-langkah yang akan dilaksanakan.
Pengusaha yang sukses bukanlah pengusaha yang bisa memulai bisnis dalam skala besar

dalam waktu singkat. Wirausaha bukanlah sebuah hal yang bisa dibangun secara instant.
Wirausaha sukses adalah mereka yang berhasil mengatasi naik turunnya usaha dan tetap berdiri
tegak. Skala keberhasilan wirausaha bukanlah semata pada jumlah omset yang dimiliki, akan
tetapi lebih pada kemampuan sang wirausaha untuk mempertahankan usahanya dalam
menghadapi berbagai arus perubahan yang sedikit banyak memiliki pengaruh pada usahanya.
Pada bagian ini, mental wirausaha seseorang sangat diuji. Seseorang boleh saja mengklaim
bahwa dia sudah memiliki usaha tersebut sejak lama, atau mungkin usaha tersebut sudah diwarisi
dari orang tua mereka. Akan tetapi, kehidupan usaha tersebut lebih tergantung pada mental
wirausaha orang tersebut dalam menjalankan roda usahanya.
Bagaimana dengan mental wirausaha di Indonesia? Beberapa pakar mengatakan bahwa
mental wirausaha di Indonesia masih sangat lemah. Orang Indonesia lebih menyukai bekerja
sebagai karyawan daripada mencoba mendirikan usaha mandiri atau meneruskan usaha mereka.
Salah satu ciri lemahnya mental wirausaha di Indonesia adalah keengganan seseorang untuk
menempuh berbagai resiko yang mungkin timbul dalam usaha yang dijalankannya. Resiko
kegagalan ataupun resiko merugi dari sebuah usaha tentu berbanding lurus dengan resiko
mendapatkan keuntungan. Sayangnya, masih banyak orang Indonesia yang tidak siap
menghadapi resiko kegagalan. Keengganan menghadapi resiko kegagalan tersebut disikapi
dengan tidak menjalankan usaha. Semangat wirausaha seharusnya dilandasi dengan semangat
4

pantang menyerah. Ada macam sikap mental yang seharusnya dimiliki oleh seorang wirausaha,
yaitu:
1.

Memiliki semangat enterpreneurship dasar yaitu keinginan untuk memiliki penghasilan


yang lebih baik daripada bekerja pada orang lain. Keinginan untuk mandiri, lebih sejahtera
dan memiliki kehidupan yang lebih baik akan membawa seseorang pada keinginan berusaha
secara mandiri.

2.

Semangat enterpreneurship lain yang harus dimiliki adalah keinginan untuk mandiri.
Bekerja pada perusahaan milik orang lain boleh jadi lebih nyaman, akan tetapi Anda tidak
akan pernah menjadi mandiri. Sikap mental seperti ini yang masih jarang dimiliki oleh
banyak orang di Indonesia. Banyak orang memilih berada di zona nyaman mereka hingga
masa pensiun tiba dibanding membuat sebuah gebrakan besar dalam kehidupan mereka
dengan berwirausaha.

3.

Berani mencoba adalah satu bagian dari semangat enterpreneurship yang harus selalu
dimiliki para calon wirausaha. Tidak ada bayi yang langsung bisa berlari. Bayi harus melalui
fase merangkak, belajar berdiri, belajar berjalan hingga mampu berjalan dengan dua kaki
tanpa terjatuh. Analogi yang sama harus diterapkan oleh seorang wirausahawan. Berani
mencoba menjadi seorang wirausaha adalah salah satu kunci wirausaha sukses. Bagaimana
Anda bisa mendapatkan hasil wirausaha sukses sementara Anda bahkan tidak berani
mencoba

4.

Semangat enterpreneurship lain adalah tahan banting. Kegagalan memang sangat


menyakitkan, akan tetapi bukan merupakan sebuah alasan untuk menyerah. Semangat
wirausaha sukses adalah menyikapi kegagalan sebagai sebuah pelajaran besar. Evaluasi
menyeluruh akan memungkinkan Anda menjalani wirausaha sukses tersebut. Satu
keberhasilah mungkin harus ditempuh melalui 99 kegagalan. Seorang pelaku wirausaha
sukses akan selalu menerapkan prinsip tersebut pada setiap bidang usaha yang akan
dilaksanakannya.

2.2 Pemilihan Role Model Untuk Membangun Karakter Wirausaha

Role model atau tokoh panutan merupakan faktor penting yang mempengaruhi individu
dalam memilih kewirausahaan sebagai karir. Calon wirausaha pada umumnya menemukan role
model di rumah ataupun di tempat kerja. Bila seseorang banyak berhubungan serta bergaul
dengan para wirausahawan, maka ada kemungkinan dia juga akan tertarik untuk memilih jalan
hidup sebagai seorang wirausahawan. Orang tua, saudara, guru atau wirausahawan lain dapat
menjadi role model bagi individu. Individu membutuhkan dukungan dan nasehat dalam setiap
tahapan dalam merintis usaha, role model berperan sebagai mentor bagi individu. Individu juga
akan meniru perilaku yang dimunculkan oleh role model. Role model merupakan hal yang sangat
penting karena dengan mengetahui serta memahami kisah-kisah para wirausahawan yang telah
meraih kesuksesan menjadikan cita-cita seseorang untuk membuka usahanya sendiri menjadi
lebih kredibel dan terjustifikasi.
Yang paling ingin diketahui oleh orang-orang sebagai role model kesuksesan mereka adalah
profil wirausaha. Dengan membaca dan mengetahui profil juga perjuangan mereka dari bawah
sampai menjadi seseorang yang berhasil akan menjadikan motivasi untuk para wirausaha baru
untuk mencapai kesuksesan yang sama. Salah satu wirausaha di Indonesia yang dapat menjadi
role model bagi calon wirausaha adalah Bob Sadino. Gayanya yang sangat terkenal adalah gaya
dia berpakaian yang senang menggunakan celana pendek dan kaus bias walaupun dia seorang
wirausaha yang sukses dan punya kekayaan yang banyak. Boy Sadiono lahir di Lampung pada
tangga 9 Maret 1933. Dimulai saat sang teman menyarankan untuk memelihara ayam untuk
menghilangkan rasa stressnya. Dari mulai beternak ayam itu terinspirasilah Bob untuk memulai
wirausaha. Akhirnya, beberapa lama Bob bisa menjadi orang yang sukses dalam bisnisnya.
Kunci kesuksesan Bob Sadino adalah selalu mendengarkan apa kemauan dari pelanggan
sehingga dia mau memperbaiki diri sesuai dengan saran dari pelanggannya. Dengan sikap seperti
itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan
pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri, karena itu ia selalu berusaha melayani
pelanggan sebaik-baiknya.

2.3 Faktor-Faktor Penyebab Kegagalan


6

Keberhasilan atau kegagalan wirausaha sangat tergantung pada kemampuan pribadi


wirausaha. Zimmerer (1996: 14-15 dalam Suryana 2009) mengemukakan beberapa faktor yang
menyebabkan wirausaha gagal dalam menjalankan usaha barunya adalah:
1.

Tidak kompeten dalam manajerial. Tidak kompeten atau tidak memiliki kemampuan dan
pengetahuan mengelola usaha merupakan faktor penyebab utama yang membuat perusahaan
kurang berhasil.

2.

Kurang berpengalaman. Baik dalam kemampuan teknik, kemampuan memvisualisasikan


usaha, kemampuan mengkoordinasikan, ketrampilan mengelola sumber daya manusia,
maupun kemampuan mengintegrasikan operasi perusahaan.

3.

Kurang dapat mengendalikan keuangan. Agar perusahaan dapat berhasil dengan baik
faktor yang paling utama dalam keuangan adalah memelihara aliran khas. Mengatur
pengeluaran dan penerimaan secara cermat. Kekeliruan dalam memelihara aliran khas akan
menghambat operasional perusahaan dan akan mengakibatkan perusahaan tidak lancar.

4.

Gagal dalam perencanaan. Perencanaan merupakan titik awak dari suatu kegiatan, sekali
gagal dalam perncanaan maka akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaan.

5.

Lokasi yang kurang memadai. Lokasi usaha yang strategis merupakan faktor yang
menentukan keberhasilan usaha. Lokasi yang tidak strategis dapat mengakibatkan
perusahaan sukar beroperasi karena kurang efisien.

6.

Kurangnya pengawasan peralatan. Pengawasan eret kaitanya dengan efisiensi dan


efektifitas. Kurang pengawasan dapat mengakibatkan penggunaan alat tidak efisien dan
tidak efektif.

7.

Sikap yang kurang sungguh-sungguh dalan berusaha. Sikap yang setengah-setengah dalam
usaha akan mengakibatkan usaha yang dilakukan menjadi labil dan gagal. Dengan sikap
setengah hati kemungkinan gagal akan besar.

8.

Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan/transisi kewirausahaan. Wirausaha yang


kurang siap menghadapi dan melakukan perubahan, maka ia tidak ada jaminan untuk
menjadi wirausaha yang berhasil. Keberhasilan dalam berwirausaha hanya bisa diperoleh
apabila berani mengadakan perubahan dan mampu membuat peralihan setiap waktu.

Selain faktor-faktor yang membuat kegagalan wirausahawan, Zimmerer (1996) dalam


Suryana (2001) mengemukakan beberapa potensi yang membuat seseorang mundur dari
kewirausahaan, yang disebabkan berikut ini.
1. Pendapatan yang Tidak Menentu. Baik pada tahap awal maupun tahap pertumbuhan, dalam
bisnis tidak ada jaminan untuk terus memperoleh pendapatan yang berkesinambungan.Dalam
kewirausahaan,

sewaktu-waktu

dapat

mengalami

kerugian

dan

keuntungan.

Tingkat

ketidakpastian dalam bisnis berpotensi mundurnya seseorang dari kewirausahaan


2. Kerugian Akibat Hilangnya Modal Investasi. Tingkat kegagalan bagi usaha baru sangatlah
tinggi. Tingkat kegagalan/mortalitas usaha kecil di Indonesia mencapai 78% (Wirasasmita, 1998
dalam Suryana, 2001). Kegagalan investasi dapat mengakibatkan seseorang mundur dari dunia
kewirausahaan. Padahal, bagi wirausahawan, kegagalan sebaiknya dijadikan pelajaran berharga.
3. Berwirausaha Memerlukan Kerja Keras dan Waktu yang Lama. Wirausahawan biasanya
bekerja sendiri dari mulai pembelian, pengolahan, penjualan, dan pembukuan. Apabila tidak
dibarengi dengan kesabaran dan ketabahan dalam menggeluti berbagai masalah dan tantangan
dapat berpeluang mundurnya seseorang dari kewirausahaan. Bagi wirausahawan yang berhasil
pada umumnya menjadikan tantangan sebagai peluang yang harus dihadapi dan ditekuni.
4. Kualitas Kehidupan yang Tetap Rendah meskipun Usahanya Mantap. Kualitas kehidupan yang
tidak segera meningkat dalam usaha, akan mengakibatkan seseorang menjadi putus asa dan
mungkin mundur dari kewirausahaan. Wirausahawan sejati tentunya tidak akan mudah pasrah,
justru keadaan yang dihadapi mendorongnya untuk terus mengadakan perbaikan-perbaikan dan
memacu untuk maju terus pantang mundur.

BAB III
PENUTUP
Menurut Geoffrey G. Meredith (1996 dalam Suryana 2009) bahwa wirausaha memiliki
berbagai ragam karakter dan watak, yaitu percaya diri, berorientasi pada tugas dan hasil,
pengambil resiko, kepemimpinan, keaslian atau originalitas, dan berorientasi pada masa depan.
Karakter wirausaha yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa intisari karakter seorang
wirausaha ialah kreatifitas.
Role model atau tokoh panutan merupakan faktor penting yang mempengaruhi individu
dalam memilih kewirausahaan sebagai karir. Role model berperan sebagai mentor bagi individu.
Individu juga akan meniru perilaku yang dimunculkan oleh role model.
Keberhasilan atau kegagalan wirausaha sangat tergantung pada kemampuan pribadi
wirausaha. Zimmerer (1996: 14-15 dalam Suryana 2009) mengemukakan beberapa faktor yang
menyebabkan wirausaha gagal dalam menjalankan usaha barunya adalah:
1.

Tidak kompeten dalam manajerial.

2.

Kurang berpengalaman.

3.

Kurang dapat mengendalikan keuangan.

4.

Gagal dalam perencanaan.

5.

Lokasi yang kurang memadai.

6.

Kurangnya pengawasan peralatan.

7.

Sikap yang kurang sungguh-sungguh dalan berusaha.

8.

Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan/transisi kewirausahaan.

DAFTAR PUSTAKA
http://miigoedish.blogspot.com/2013/01/berbagai-karakter-wirausaha-sukses.html(diakses 13
Maret 2015)

10