Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN KASUS

I.

Identitas Pasien
Nama pasien

: Ny. U

Umur

: 34 tahun

Tempat, tanggal lahir : Magetan, 18 Juli 1981

II.

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Status pernikahan

: Menikah

Suku bangsa

: Jawa

Pendidikan

: D3

Alamat

: Cileungsi Gandoan, Asrama Gudpusi

No RM

: 805486

Tanggal masuk

: 16 Februari 2016, Jam 00.30 WIB, Paviliun Amino

Riwayat Psikiatri
Alloanamnesis: 22 Februari 2016 bersama Ny R, Adik kandung pasien, Pukul 10:00
WIB di Paviliun Amino
Autoanamnesis: 17-19 Februari 2016, di Paviliun Amino

A. Keluhan utama :
Pasien marah-marah dan mengamuk sejak 2 hari SMRS.
B. Keluhan tambahan :
Pasien berbicara sendiri dan berbicara kacau sehingga sulit untuk ajak komunikasi.
C. Riwayat Gangguan Sekarang:
Pasien datang ke IGD RSPAD Gatot Soebroto pukul 10.00 WIB diantar oleh adik
kandung, sepupu, adik ipar, dan kakak ipar pasien. Pada alloanamnesis dengan adik
kandung pasien, keluhan yang terdapat pada pasien yaitu marah-marah, mengamuk,
berbicara sendiri dan berbicara kacau sejak 2 hari SMRS. Saat di IGD, pasien sempat
memberontak dan melarikan diri karena tidak ingin di rawat. Pasien membantah bahwa
dirinya sakit sehingga tidak ada alasan baginya untuk di bawa ke rumah sakit. Pasien
masih menggunakan mukenah saat dibawa ke rumah sakit karena mengaku ingin sholat
1

terlebih dahulu dan tidak mau disentuh siapapun karena takut tersentuh yang bukan
muhrimnya. Sebelum dibawa ke rumah sakit, pasien marah-marah tidak terkontrol dan
mengamuk setelah sholat subuh. Marah terutama saat perkataannnya tidak didengar,
dibantah atau dipotong saat sedang berbicara. Seluruh keluarga di paksa untuk berpuasa
dan sholat. Saat keluarga menanyakan alasannya, pasien hanya menjawab saya disuruh
Allah. Merasa tidak didengar, pasien menarik ibu kandungnya kedalam kamar lalu
mengunci pintu kamar dan memaksa ibu kandungnya untuk berpuasa. Setelah itu,
pasien membuka pintu dan memanggil adik kandungnya supaya anak adiknya yang
sedang sakit disembuhkan dengan menggunakan air minum yang sudah dibacakan doa
oleh pasien, sambil mengatakan saya saja yang menyembuhkan, saya bisa. Selain itu,
pasien juga marah-marah sambil mengatakan bahwa ingin punya anak, ingin punya
anak kandung supaya ada kontak batin dengan anak saya, sekarang saya nggak ada
kontak batin dengan chacha.
Kemudian kembali marah-marah dan berteriak bahwa semua yang ada dirumah ini
selingkuh, kecuali saya. Pasien menuduh sambil menunjuk-nunjuk kearah kakak ipar
dan adik iparnya. Kemudian pasien menuju kekamar dan ingin menutup pintu. Tetapi
oleh kakak ipar pasien, pintu tersebut di dobrak dan mengakibatkan kepala pasien
terbentur pintu kemudian terjatuh. Lalu pasien di pegangi oleh kedua ipar nya tersebut
untuk dibawa ke IGD rumah sakit. Pasien kemudian semakin mengamuk, melempar
barang, dan memukul tangan adik iparnya. lalu mengatakan saya akan ingat sampai
mati orang yang membawa saya ke rumah sakit dan Saya mau sholat dulu, saya
belum sholat. Beberapa saat kemudian adik ipar pasien menanyakan sudah selesai apa
belum dan kemudian ibu kandung pasien yang berada di dalam kamar mengatakan
bahwa pasien tidak mengenakan pakaian hanya mengenakan mukena. Setelah itu pasien
di bawa secara paksa oleh keluarga untuk ke rumah sakit. Saat di rumah sakit, pasien
sempat lari dan bersembunyi dibawah pohon. Berhasil dibawa ke IGD setelah adik
kandung mencoba membujuk pasien. Saat itu pasien terus-terusan menggunakan
mukenahnya.
Pasien mulai menunjukan gejala marah-marah saat 1 minggu SMRS hanya tidak
terlalu digubris oleh keluarga pasien. Keluarga mengatakan sebelum gejala marahmarah, pasien sempat mengeluh sakit perut yang sangat mengganggu, dan pasien
mengkonsumsi Mylanta karena diakui juga bahwa pasien memiliki riwayat gastritis.
Hari Sabtu, 13 Februari 2016, pasien datang dari Magetan untuk membereskan rumah
dinas yang di cileungsi. Kemudian hari berikutnya, pasien menginap di rumah adik
2

pasien di daerah Tangerang. Saat di ajak ke pasar, adiknya mengatakan pasien tidak
menawar dan tidak mengambil kembalian belanjaan ambil saja kembaliannya untuk
bapak. Hal itu dilakukan kepada semua penjual tempat pasien membeli kebutuhannya.
Adik pasien merasa aneh karena biasanya pasien mencoba menawar harga yang
diberikan penjual dan tidak pernah melakukan hal yang sama sebelumnya.
Pada autoanamnesis dengan pasien, saat ini pasien tidak ingin mengingat mengapa
dirinya dibawa ke RSPAD. Saat ditanyakan, pasien hanya menjawab bahwa dirinya
marah tidak terkontrol, mengamuk dan mengeluh dahi terbentur pintu. Pasien sadar
bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak normal dan salah tetapi tidak
mengerti kenapa pasien di bawa ke rumah sakit. Pasien mengatakan sempat mendengar
bisikan-bisikan tetapi pasien tidak ingin membahas hal tersebut karena hal itu sudah
lewat dan pasien hanya ingin sembuh agar dapat segera pulang untuk bertemu anaknya
di Magetan.
Pasien ingat dirinya pernah dirawat di Paviliun amino 3 hari, karena marah-marah
yang tidak terkontrol. Pasien banyak menceritakan tentang anak dan suami pasien.
D. Riwayat Gangguan Sebelumnya

1. Riwayat Gangguan Psikiatri


Menurut keterangan pasien dan keluarganya, pasien pernah dirawat selama 3 hari di
Paviliun Amino, bulan Mei tahun 2015 dengan keluhan berbicara kacau. Saat itu pasien
dibawa oleh suami pasien dan tetangga. Menurut adik pasien, pasien sempat
mengatakan tidak suka dengan tetangga perempuan yang pernah meminta bantuan
kepada suaminya, namun menggunakan pakaian yang kurang sopan menurut pasien.
Saat ditanyakan dimana perempuan itu sekarang oleh adiknya, pasien terus menerus
mengatakan ada disitu sambil menunjuk kearah tanah kosong. Keluarga mengatakan
sebelum mengalami gejala kejiwaan pada bulan mei, pasien sempat mengeluh tidak
nyaman pada bagian perutnya, persis dengan gejala awal yang dirasakan sekarang.
Kemudian pasien rutin mengkonsumsi obat sehari 2 kali pagi dan sore (keluarga dan
pasien tidak tahu nama, warna, dan bentuk yang diminum) selama 2 bulan. Pasien
menghentikan minum obat karena setelah minum obat pasien selalu merasa mengantuk
dan pasien juga merasa tidak ada keluhan.
Adik pasien mengatakan bahwa pasien mulai menunjukan keanehan semenjak
pindah ke rumah dinas tentara yang berada di Cileungsi. Menurut adiknya, pasien

merupakan orang yang tertutup dan jarang mengeluh kepada keluarga, dengan alasan
tidak ingin merepotkan keluarga. Tetapi saat di Cileungsi, pasien sempat mengeluh
tidak betah karena lingkungannya terutama tetangganya kurang nyaman dan tidak
bersahabat. Berbeda dengan lingkungan rumah sebelumnya yaitu di lenteng agung,
dimana pasien sangat dekat dan akrab dengan semua tetangganya. Oleh karena itu
pasien merasa tidak memiliki teman dan terkesan seperti di musuhi selama di cileungsi.
Enam bulan tinggal di cileungsi, pasien menjadi lebih pendiam dan sangat jarang
bercerita mengenai masalahnya. Hingga kemudian mengalami gejala pertama, yaitu
pada bulan Mei 2015. Setelah pulang dari perawatan, pasien langsung diajak
keluarganya pindah ke kampung halamannya di Magetan. Kemudian pada bulan
Januari 2016, pasien diajak suaminya untuk kembali ke Cileungsi untuk mengurus
bisnis suaminya. Setelah suami pasien berangkat pendidikan pada tanggal 20 Januari
2016, pasien kembali lagi ke Magetan. Pada awal bulan Februari 2016, pasien
mendapat kabar bahwa rumah di Cileungsi akan di renovasi. Karena suami pasien
sedang pendidikan, pasien datang ke cileungsi untuk membereskan barang-barang. Satu
hari di Cileungsi, kemudian pasien menginap ke rumah adiknya dan gejala yang tidak
terkontrol tersebut mulai terlihat saat itu.

2. Riwayat Medik Umum


Pasien menyangkal adanya riwayat Hipertensi, DM, asma, kolestrol, penyakit jantung
dan ginjal. Riwayat trauma, penyakit saraf, riwayat kejang, tumor otak, nyeri kepala juga
disangkal oleh pasien. Tetapi pasien mengakui riwayat gastritis yang terutama muncul saat
dalam kondisi banyak pikiran.

3. Penggunaan Zat Psikoaktif dan Alkohol


Pasien tidak pernah mengkonsumsi alkohol, bukan perokok aktif, maupun menggunakan
obat obatan terlarang yang rutin maupun penggunaan jangka panjang. Penggunaan
narkoba disangkal.
E. Riwayat Kehidupan Pribadi :

1. Riwayat Prenatal dan Perinatal


Pasien mengaku dilahirkan secara normal oleh bidan. Pasien merupakan anak ke lima
dari enam bersaudara. Pasien merupakan anak kembar. Memiliki saudara kembar
4

perempuan.

2. Riwayat Masa Kanak Awal (0-3 tahun)


Pasien tumbuh dengan normal sesuai seusianya. Pasien tinggal dengan kedua orang
tuanya.

3. Riwayat Masa Kanak Pertengahan (3-11 tahun)


Pasien pertama kali bersekolah di TK di daerah Magetan pada usia 5 tahun. Pasien hanya
menjalani pendidikan selama setahun di TK kemudian melanjutkan ke pendidikan sekolah
dasar di Magetan. Hubungan pasien dengan saudaranya cukup harmonis. Pasien
merupakan murid yang cukup aktif dan cukup berprestasi dalam kegiatan sekolah. Pasien
selalu masuk dalam ranking 5 besar. Pasien senang bermanja-manja dengan orang tua
pasien. Menurut adik kandung pasien, pasien lebih tertutup di bandingkan dengan saudara
kembarnya.

4. Riwayat Masa Kanak Akhir dan Remaja (12-18 tahun)


Pasien menjalani pendidikan di salah satu SMP Negeri di Magetan. Pasien mengaku
prestasinya cukup baik dan mampu mengimbangi teman-teman sebayanya. Pasien juga
melanjutkan pendidikan SMA di Magetan agar pasien dapat tetap tinggal bersama dengan
kedua orang tuanya. Menurut ibu dan adik pasien merupakan orang yang suka bercanda
layaknya orang lain, tetapi cenderung tertutup jika ada masalah dengan alasan tidak ingin
merepotkan orang lain.

5. Masa dewasa
a. Riwayat Pendidikan
Pasien melanjutkan pendidikannya di jakarta, yaitu D3 komputer dan tinggal bersama
bibinya.
b. Riwayat Pekerjaan
Pasien bekerja di pabrik rokok di Magetan tapi hanya beberapa bulan karena pasien tidak
betah dan mengeluh dadanya sakit. Kemudian pasien bekerja di koperasi selama 6 bulan.
Pasien berhenti dari koperasi dan mencari pengalaman di Jakarta. Di Jakarta, pasien
bekerja di rumah makan di daerah Jakarta Utara sebagai pelayan tetapi hanya 3 bulan
karena terlalu jauh dari tempat tinggalnya di Lenteng Agung. Setelah itu pasien bekerja di
konveksi dan berhenti 1 bulan kemudian karena suaminya melarang pasien untuk bekerja.
b. Riwayat Kehidupan Beragama
Pasien beragama Islam. Pasien rajin sholat lima waktu sesuai dengan waktunya.

c. Riwayat Pelanggaran Hukum


Pasien tidak pernah terlibat masalah hingga terlibat dalam proses pengadilan.
5

d. Riwayat Pernikahan
Pasien merupakan seorang istri tentara. Pasien menikah dengan suami tahun 2007. Dirinya
kenal dengan suami atas dasar suka sama suka, tidak dijodohkan. Hanya saja suami
dikenalkan oleh bibinya yang juga merupakan istri seorang tentara. Pasien mengatakan
sangat mencintai suaminya dan bangga dengan suaminya. Pasien mengaku bahagia dengan
kehidupan pernikahannya. Pasien pernah mengatakan cemburu dengan suami, tetapi hal
tersebut merupakan cemburu yang wajar dan saya selalu percaya dengan suami saya.
Pasien belum memiliki anak kandung selama 8 tahun pernikahan. Tetapi pasien
mengatakan hanya berserah dan berusaha. Saat ini pasien memiliki anak angkat
perempuan yang berusia 4,5 tahun.
e. Riwayat Psikoseksual
Pasien memiliki orientasi seksual yang normal yaitu heteroseksual.
F. Riwayat Keluarga
Pasien merupakan anak ke 5 dari 6 bersaudara. Pasien merupakan anak kembar dari
pasangan orang tuanya. Ayah pasien sudah meninggal dunia sejak lama. Dalam
keluarga, tidak ada yang mengalami gejala seperti yang terjadi dengan pasien.
GENOGRAM

Keterangan :
Pasien
Perempuan
Laki-Laki
Meninggal

G. Riwayat Sosial Ekonomi Sekarang


Pasien tinggal satu rumah dengan orang tua dan saudaranya sekarang. Awalnya pasien
hanya tinggal bersama suami dan anak angkat pasien. Suami pasien berkerja sebagai
TNI AD dengan gaji mencukupi untuk membiayai keluarga kecilnya.
H. Persepsi
a. Persepsi pasien tentang diri dan lingkungan
Pasien menyadari bahwa dirinya sedang sakit, dan ada yang salah terhadap dirinya.
Namun pasien tidak mengerti apa yang menyebabkan dirinya sakit. Pasien merasa
rindu kepada anaknya sehingga pasien ingin segera pulang ke rumahnya.
b. Persepsi Keluarga terhadap pasien
Keluarga pasien mengetahui bahwa pasien memiliki gangguan jiwa sejak Mei
2015. Hal ini tentunya dikarenakan pasien sempat dirawat di RSPAD paviliun
Amino. Keluarga beranggapan bahwa pasien pasien banyak yang dipikirkan tetapi
karena pasien tipe orang yang kurang terbuka, maka gejala tersebut merupakan
luapan dari pikiran dan emosi pasien yang tidak pernah diceritakannya. Seluruh
keluarga dan termasuk suami pasien menerima keadaan pasien dan berusaha
membuat pasien sembuh.
III.
Status Mental
A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Pasien berjenis kelamin perempuan tampak sesuai dengan usianya, kulit sawo
matang dengan menggunakan kerudung. Kerapihan dan perawatan diri pasien
baik.
2. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
Selama wawancara, pasien duduk di kursi, tampak tenang, tetapi saat
ditanyakan mengenai hubungan pernikahan, apakah pernah mengalami rasa
cemburu atau tidak, wajah pasien langsung berubah menunjukkan bahwa
kurang senang dan cenderung iritable mengenai pertanyaan tersebut. Reaksi
yang sama juga ditunjukkan saat menanyakan hal apa yang membuat pasien
dibawa ke rumah sakit. Pasien sesekali melakukan kontak mata saat berbicara,
7

dan menjawab pertanyaan dengan jawaban yang sesuai pertanyaan (mengerti


dan menyambung).
3. Sikap terhadap pemeriksa
Pasien koorperatif dan cukup fokus saat proses wawancara berlangsung tetapi
terkesan menutupi sesuatu dari pemeriksa. Kontrol impuls pasien cukup baik.
B. Mood dan Afek
1. Mood : disforik
2. Afek : sesuai
C. Bicara
Pasien bicara cukup. Artikulasi jelas. Volume suara normal.
D. Gangguan Persepsi
Terdapat halusinasi auditorik tetapi kurang dapat digali lebih dalam karena
pasien tidak ingin membicarakan tentang hal tersebut.
E. Pikiran
1. Bentuk atau proses berpikir
Proses berpikir pasien tentang membedakan realitas dengan palsu mengenai
bisikan kurang dapat ditelusuri karena pasien tidak ingin membahas hal
tersebut. Serta tidak ditemukan kelainan bentuk berpikir pada pasien.
2. Isi Pikiran
Tidak ditemukan waham atau gangguan isi pikiran lainnya saat pemeriksaan
F. Sensorium dan Kognisi
1. Kesiagaan dan Taraf Kesadaran
Kesiagaan baik dan kesadaran Compos Mentis.
2. Orientasi
Waktu

: Baik. Pasien dapat membedakan waktu baik pagi siang


maupun malam. Pasien juga dapat mengetahui tanggal
hari dan jam.

Tempat

: Baik, pasien tahu bahwa sekarang ia berada di rumah sakit

Orang

: Baik. Pasien dapat mengetahui nama pemeriksa, pasien juga


ingat akan identitas dirinya, dan nama seluruh keluarga dekat
pasien.

3. Ingatan
Jangka Panjang

: Baik, pasien dapat mengingat tanggal lahir keluarga


dekatnya dan memori masa kecilnya

Jangka Sedang

: Baik. Pasien dapat mengingat kata-kata yang


pemeriksa tanyakan kembali setelah dialihkan pada
obrolan lain.

Jangka Pendek

: Baik. Pasien dapat mengingat menu makan siang


pasien.

Jangka Segera

: Baik, pasien langsung dapat mengulang dengan cepat


kata-kata yang pemeriksa minta tirukan.

4. Konsentrasi dan perhatian


Pasien cukup mampu mempertahankan konsentrasi dan perhatian, pasien
cukup mudah terdistraksi oleh suara luar.
5. Kemampuan Membaca dan Menulis
Baik, pasien dapat membaca dan menulis dengan lancar dan tepat
6. Kemampuan Visuo spasial
Pasien dapat menyebutkan jam berapa dengan tepat dan benar dan dapat untuk
menggambarkan.
7. Pikiran Abstrak
Pasien dapat mengerti istilah peribahasa Besar pasak daripada tiang

8. Intelegensi dan Daya informasi


Pasien dapat mengetahui dan menyebutkan nama presiden RI saat ini.
G. Pengendalian Impuls
Pengendalian Impuls pasien cukup baik. Selama proses wawancara pasien tampak
tenang.
H. Daya nilai dan tilikan
1. Daya nilai sosial
Pasien bersikap wajar terhadap pemeriksa, dokter, perawat, dan petugas
Paviliun Amino
2. Penilaian Realita
RTA baik.
3. Tilikan
Derajat 4. Sadar bahwa penyakitnya disebabkan oleh sesuatu yang tidak
diketahui pada diri pasien.
I. Taraf dapat dipercaya (Reliabilitas)
Pasien dapat dipercaya
IV.

PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Interna
- Keadaan Umum

: Baik

- Kesadaran

: Compos Mentis

- Status Gizi

: Baik (BB: 43 kg; TB: 150 cm)

- Tanda Vital
a. Tekanan darah

: 120/80 mmHg

b. Nadi

: 80x/menit

c. Respiratory rate : 20x/menit


d. Suhu

: Afebris

10

- Mata

: Visus ODS 6/6, KA anemis (-) SI (-)

- THT

: Tidak dilakukan pemeriksaan

- Mulut dan gigi

: Tidak dilakukan pemeriksaan

- Thorax

: Tidak dilakukan pemeriksaan

- Abdomen

: Nyeri tekan ulu hati (+)

- Ekstremitas

: sianosis (-) edema (-)

B. Status Neurologis
- GCS
- Tanda rangsang meningeal
- Tanda efek ekstrapiramidal
- Cara berjalan
- Keseimbangan
- Motorik
- Sensorik

: E4M5V6 = 15
: Tidak dilakukan
: Tidak ditemukan
: Normal
: Normal
: Normal
: Normal

B. Pemeriksaan Penunjang

:-

V.

Ikhtisar Penemuan Hasil Bermakna


Pemeriksaan dilakukan kepada Ny U, usia 34 tahun, agama Islam, pendidikan

terakhir D3, merupakan istri dari seorang TNI AD masuk Paviliun Amino RSPAD
Gatot Soebroto pada tanggal 16 Februari 2016. Pasien dibawa oleh keluarga nya
dengan keluhan utama pasien marah-marah dan mengamuk sejak 2 hari SMRS.
Pasien pernah dirawat di Paviliun Amino pada bulan Mei 2015 dengan keluhan
berbicara kacau. Pasien mengatakan mendengar bisikan namun tidak ingin dibahas
lebih lanjut. Pasien menunjukkan wajah kurang senang saat ditanyakan mengenai
beberapa hal sensitif.
Berdasarkan pemeriksaan status mental, aktivitas psikomotor pasien tampak
tenang, mood disforik dan afek sesuai. Proses pikirnya baik, isi pikir baik. Tampak
bicara spontan, Orientasi tempat baik dan bersikap wajar dengan orang lain
disekitarnya. Gangguan persepsi berupa halusinasi auditorik kurang dapat di nilai
dengan derajat tilikan 4. Pasien kooperatif, berbicara sesuai dengan pertanyaan, dan
terkesan ada hal yang ditutupi.
VI.

Formulasi diagnostik

Aksis I

11

Berdasarkan riwayat perjalanan penyakit pada pasien ditemukan adanya pola


perilaku yang secara klinis bermakna dan khas berkaitan dengan suatu gejala
penderitaan (distress) dan hendaya (disability), sehingga pada pasien ini dapat
disimpulkan bahwa pasien memiliki gangguan jiwa.
Pada pasien ini diambil diagnosis
Aksis II
Belum dapat di diagnosis
Aksis III
Tidak ada diagnosis
Aksis IV
Pada pasien ini ditemukan adanya masalah dengan lingkungan sosial yaitu tetangganya.
Aksis V
Penilaian kemampuan penyesuaian aktivitas sehari hari menggunakan skala Global
Assessment of Functioning. Nilai GAF pasien saat masuk RS adalah 40-31 yaitu terdapat
beberapa disabilitas dalam hubungan dengan realita dan komunikasi, serta disabilitas
berat dalam beberapa fungsi. Nilai GAF pasien saat ini adalah 70-61 yaitu beberapa
gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi secara umum masih baik.
VII.

Evaluasi multiaksial

Aksis I

Aksis II

: belum dapat di diagnosis

Aksis III

: Tidak ada diagnosis

Aksis IV

: Masalah dengan lingkungan sosial

Aksis V

: GAF Scale 70-61


GAF Scale 1 minggu terakhir 40-31

VIII. Diagnosis
Diagnosis Kerja
Diagnosa Banding : Skizofrenia Paranoid (F20.0)
IX.
Daftar Masalah
Organobiologik
: Tidak ditemukan
12

Psikologik
Mood

: Disforik

Afek

: sesuai

Gangguan persepsi

: Halusinasi auditorik

Proses/bentuk pikir

: Baik

Isi pikir

: Tidak ada gangguan

Tilikan

: Derajat 4

Lingkungan dan Sosial


Pasien ini memiliki masalah dengan lingkungan sosial
X.

Prognosis

A. Faktor faktor yang mendukung ke arah prognosis baik:

Dukungan dari keluarga pasien

Kepatuhan minum obat yang baik

Tidak memiliki riwayat keluarga skizofrenia

B. Faktor faktor yang mendukung ke arah prognosis buruk:

Sudah relaps curiga akibat adanya stressor

Cukup Dependen terhadap suami

Derajat Tilikan 4

Jadi kesimpulan prognosisnya adalah:


Quo ad vitam

: Dubia ad Bonam

Quo ad fungsionam

: Dubia ad Bonam

Quo ad sanationam

: Dubia ad Bonam

XI.
Rencara Terapi
a. Psikofarmaka
Risperidon 2x2 mg PO
Clozapine 1x25 mg PO
b. Psikoterapi
1. Terhadap pasien :

13

- Terapi perilaku
Untuk meningkatkan kemampuan sosial penderita mulai dari kemampuan
memenuhi diri sendiri, mengajarkan perilaku adaptif, keteraturan minum obat.
- Terapi Okupasi
Bertujuan untuk membantu pasien untuk bekerja dan beraktivitas seperti dulu.
2. Terhadap Keluarga
- Edukasi keluarga pasien mengenai penyakit yang pasien miliki sehingga
keluarga dapat lebih mengerti kondisi yang dialami oleh pasien saat ini dan dapat
menerima pasien dengan keadaanya yang sekarang.
- Menunjuk salah satu dari anggota keluarga untuk menjadi key person sehingga
pasien dapat terkontrol untuk minum obat agar tidak terjadi kekambuhan pada
pasien.
XII.

Diskusi Kasus

Diagnosis Bipolar diambil apabila dapat episode berulang dimana afek pasien dan
tingkat aktivitasnya jelas terganggu, pada waktu tertentu terdapat peningkatan afek
disertai penambahan energi dan aktivitas, dan pada waktu lain berupa penurunan afek
disertai pengurangan energi dan aktivitas.
Pada pasien ini disingkirkan GMO yaitu dari autoanamnesis bahwa pasien tidak ada
memiliki riwayat trauma pada kepalanya, pasien tidak ada merasakan nyeri kepala,
pusing, mual, muntah sebelumnya. Pasien tidak mengkonsumsi zat zat psikoaktif
yang dapat menjadikan etiologi dari gangguan jiwa pasien. Skizofrenia disingkirkan
karena tanda khas skizofrenia tidak ditemukan. Pada pasien ini, gangguan suasana
perasaan tampak sangat menonjol disertai adanya gejala psikosis. Sehingga diagnosis
dapat diambil pada pasien ini berdasarkan hal hal yang didapatkan dalam anamnesis
dan pemeriksaan pada pasien ini yaitu :
Gangguan Persepsi berupa :
a. Halusinasi Auditorik

: Pasien mengakui mendengar bisikan-bisikan

Gangguan mood dan afek


Pada pasien ini ditemukan mood yang eutimik-iritabel ditunjukkan pada saat
autoanamnesis, pasien terlihat mudah terganggu dan terlihat tidak senang dengan

14

beberapa topik pembicaraan. Gangguan afek juga terlihat tidak sesuai.


Ditunjukkan dari saat pasien mengatakan tentang cemburu dengan cerita yang
baik seolah-olah tidak cemburu, namun ekspresi wajah menunjukkan kurang
senang dan seketika berubah.
Tujuan dari pengobatan selama pasien dirawat adalah untuk menstabilkan mood yang
iritabel pada pasien yaitu Manik. Selain itu pengobatan diarahkan kepada mengatasi
gangguan gejala psikotiknya. Pengobatannya dengan menggunakan obat anti psikotik
golongan atipikal dengan tujuan lebih aman dan dapat mengatasi positive symptoms dan
negative symptoms.
Tujuan pengobatan non-farmakologis dari segala aspek ditujukan agar pasien dapat
memiliki prognosis yang baik, karena pasien tidak memiliki riwayat keturunan
gangguan jiwa. Lalu pasien juga disadarkan bahwa pengobatan jiwa dibutuhkan
keteraturan minum obat agar gejala dapat benar-benar diatasi sampai hilang sama
sekali. Selain itu sangat diharapkan agar pasien dapat mencapai tilikan 6 dan dapat
kembali beraktivitas seperti semula. Edukasi yang diberikan kepada keluarga pasien
juga sangat penting agar keluarga pasien dapat memahami rencana terapi yang sedang
dilakukan untuk pasien dan keluarga dianjurkan untuk berkooperatif membantu
pengobatan dengan menjaga serta mengingatkan pasien untuk tetap patuh dan rutin
minum obat.

15

DAFTAR PUSTAKA
1. Direktorat Jendral Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI. Pedoman
Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia (PPDGJ III dan
DSM 5). Cetakan kedua. Jakarta, 2013
2. Dharmady, A. Psikopatologi : Dasar dalam Memahami Tanda Dan Gejala
3.

dari Suatu Gangguan Jiwa. Jakarta, 2003


Kaplan, HI dan Sadock BJ, Greb JA, 2010. Sinopsis Psikiatri. Jilid 1. Edisi

ke-7. Binarupa Aksara: Jakarta


4. Maslim, Rusdi, 2007. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik
Edisi 2014. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya: Jakarta.

16