Anda di halaman 1dari 13

REFLEKSI KASUS

OS CORPUS ALIENUM
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Salah Satu Syarat Dalam
Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Penyakit Mata
Rumah Sakit Tentara dr. Soedjono Magelang

Pembimbing :

dr. YB. Hari Trilunggono, Sp. M


dr. Dwidjo Pratiknjo, Sp. M

Disusun oleh :
Ahmad Fathoni Saifulloh
01.211.6310

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
2016
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KASUS
OS CORPUS ALIENUM

Diajukan untuk memenuhi syarat Ujian Kepaniteraan Klinik


Bagian Ilmu Penyakit Mata RST Tingkat II
dr. Soedjono Magelang

Telah disetujui dan dipresentasikan


pada tanggal:

Februari 2016

Disusun oleh:
Ahmad Fathoni Saifulloh
01.211.6310

Dosen Pembimbing,

dr. Dwidjo Pratiknjo, Sp.M

dr. YB. Hari Trilunggono, Sp.M

BAB I
REFLEKSI KASUS
1. IDENTITAS PASIEN
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Pekerjaan
Agama
Suku Bangsa
Alamat
Tanggal Datang

: Tn. M
: 30 tahun
: Laki-laki
: Swasta
: Islam
: Jawa
: Tosari RT 14 / RW 6 Rejosari Pakis Magelang
: 22 Februari 2016

2. ANAMNESIS
Autoanamnesis dilakukan pada 22 Februari 2016
a. Keluhan Utama
Mata kiri terasa mengganjal
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke poli mata RST dr. Soedjono Magelang pada tanggal 22
Februari 2016. Pasien mengeluh mengeluh mata kiri terasa mengganjal sejak 1 hari
yang lalu setelah terkena percikan dari las. Pasien juga mengeluh merasa mata kiri
nyeri, pegal, gatal, dan keluar air nerocos dan merasa pusing. Penglihatan berkurang
dan kabur. Mengganggu saat aktivitas dan berkurang jika buat tidur.
Pasien bekerja sebagai tukang las. Biasanya pasien kalo bekerja memakai
kacamata untuk melindungi matanya. Pasien saat itu tidak menggunakan kacamata las,
sehingga terkena percikan gram dari las dan mengenai mata kirinya. Saat itu pasien
berusaha mengeluarkan gram menggunakan air mengalir tetapi keluhan masih belum
berkurang. Pasien mengucek matanya karena terasa perih. Oleh sebab itu pasien
datang ke dokter.
c. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien tidak pernah merasakan keluhan yang sama sebelumnya.

Riwayat Alergi disangkal


d. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat Sakit serupa (-).
e. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien seorang tukang las dengan biaya pengobatan ditanggung oleh BPJS. Kesan:
Sosial ekonomi cukup

3. PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan pada 22 Februari 2016
a. STATUS GENARALIS
3

Keadaan umum
: Baik
Kesadaran
: Compos Mentis
Tekanan darah
: 110/70 mmHg
Nadi
: 83 x/menit
RR
: 20 x/menit
Suhu
: 36,5oC
b. STATUS OPHTHALMICUS

OD

OS

Keterangan:
Terdapat corpus alienum pada mata kiri bagian kornea berwarna hitam dengan diameter
2 mm.
N
O
1
2
3
4

PEMERIKSAAN
Visus
Gerakan bola mata
Supracillia
Palpebra superior
Ptosis
Edema
Hematom
Hiperemi
Entropion
Ekstropion
Benjolan
Palpebra inferior
Ptosis
Edema
Hematom
Hiperemi
Entropion
Ekstropion
Benjolan

OCULUS

OCULUS

DEXTER
6/6

SINISTER
6/6

Baik ke segala arah Baik ke segala arah


Normal
Normal
-

Conjunctiva

Hiperemi
Injeksi conjunctiva
Injeksicilliar
Sekret
Kornea

Permukaan
Edema
Infiltrat
Ulkus
Sikatrik
Corpus alienum

+
+
-

Jernih
-

Jernih
(+) terdapat benda
asing berwarna
hitam dengan
diameter 2 mm

COA

10

Kedalaman
Hifema
Hipopion
Iris

11

Kripte
Edema
Warna
Sinekia
Pupil

Diameter
Reflek pupil (langsung/tidak

12

langsung)
Bentuk
Letak
Lensa

13

Kejernihan
Letak
Corpus Vitreum

14

Kejernihan

Fundus Reflek

Normal
-

Normal
-

(+)
Coklat
-

(+)
Coklat
-

3 mm
+/+

3 mm
+/+

Bulat
Central

Bulat
Central

Jernih
Central

Jernih
Central

Jernih

Jernih

+ Cemerlang

+ Cemerlang

15

Funduskopi :
Arteri vena AVR
makula
reflek fovea
papil n. Opticus
retina

16

Reflek fovea (+)


Orange CDR 0,3
Normal

Reflek fovea (+)


Orange CDR 0,3
Normal

Normal

Normal

TIO

4. DIAGNOSIS BANDING
a. OS Corpus Alienum dipertahankan karena pada pasien terdapat keluhan
mengganjal, perih, dan nrocos. Serta ditemukan corpus alienum di kornea
mata kiri pasien berwarna hitam dengan diameter 2 mm.
b. OS Pingekuela Disingkirkan karena tidak terdapat penonjolan berwarna
putih kuning keabuan-abuan yang terdapat pada konjungtiva bulbi.
c. OS Pterigium Disingkirkan karena tidak ditemukan suatu lipatan berbentuk
segitiga yang tumbuh dari kelopak mata baik bagian nasal maupun temportal
yang menjalar ke kornea umumnya berwarna putih.
5. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang.
6. DIAGNOSIS KERJA
OS Corpus Alienum
7. TERAPI
a. Medikamentosa
Gentamicin 0,3% 3 kali sehari 1 tetes
b. Tindakan
Amosio Corpus Alienum ( pengambilan benda asing )
Mata tersebut ditetesi dengan anastetik tetes mata dengan pantocain.
Corpus alienum diambil menggunakan jarum spuit 1 cc.
Beri betadine menggunakan kapas
8. EDUKASI
Menjelaskan kepada pasien penyebab rasa mata mengganjal pada pasien

diakibatkan oleh adanya benda asing yang masuk ke dalam mata pasien
Menjelaskan agar selalu memakai kaca mata pelindung ketika sedang bekerja

9. PROGNOSA
Prognosis

Oculus Dexter

Oculus sinister

Quo ad visam

Ad Bonam

Ad Bonam

Quo ad sanam

Ad Bonam

Ad Bonam

Quo ad functionam

Ad Bonam

Ad Bonam

Quo ad komesticam

Ad Bonam

Ad Bonam

Quo advitam

Ad Bonam

Ad Bonam

10. KOMPLIKASI
Komplikasi terjadi tergantung dari jumlah ukuran, posisi, kedalaman, dan efek dari
corpus alienum tersebut. Jika ukurannya besar, terletak dibagian sentral dimana fokus
cahaya pada kornea dijatuhkan, maka akan dapat mempengaruhi visus. Reaksi
inflamasi juga bisa terjadi jika corpus alienum yang mengenai kornea merupakan
benda reaktif. Sikatrik maupun perdarahan juga bisa timbul jika menembus cukup
dalam.
11. RUJUKAN
Tidak dilakukan rujukan untuk pasien ini.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. KORNEA
1.1. Anatomi dan Histologi Kornea
7

Gambar 1
Kornea (Latin cornum = seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian selaput mata
yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan dan
terdiri atas 5 lapis1,3 :
1. Epitel
Epitel kornea merupakan lapis paling luar kornea dengan tebal 50 m dan berbentuk epitel
gepeng berlapis tanpa tanduk.Bagian terbesar ujung saraf kornea berakhir pada epitel
ini.Setiap gangguan epitel akan memberikan gangguan sensibilitas kornea berupa rasa sakit
atau mengganjal. Daya regenerasi epitel cukup besar, sehingga apabila terjadi kerusakan akan
diperbaiki dalam beberapa hari tanpa membentuk jaringan parut.
2. Membran Bowman
Membran bowman yang terletak di bawah epitel merupakan suatu membrane tipis yang
homogen terdiri atas susunan serat kolagen kuat yang mempertahankan bentuk kornea. Bila
terjadi kerusakan pada membrane bowman maka akan berakhir dengan terbentuknya jaringan
parut.
3. Stroma
Merupakan lapisan yang paling tebal dari kornea dan terdiri atas jaringan kolagen yang
tersusun dalam lamel-lamel dan berjalan sejajar dengan permukaan kornea.Di antara seratserat kolagen ini terdapat matriks. Stroma bersifat higroskopis yang menarik air dari bilik
mata depan. Kadar air di dalam stroma kurang lebih 70%. Kadar air dalam stroma relative
tetap yang diatur oleh fungsi pompa sel endotel dan penguapan oleh epitel. Apabila fungsi sel
endotel kurang baik maka akan terjadi kelebihan kadar air, sehingga timbul sembab kornea
(edema kornea). Serat di dalam stroma demikian teratur sehingga memberikan gambaran
kornea yang transparan atau jernih. Bila terjadi gangguan dari susunan serat di dalam stroma
8

seperti edema kornea dan sikatriks kornea akan mengakibatkan sinar yang melalui kornea
terpecah dan kornea terlihat keruh.

Gambar 2
4. Membran Descement
Merupakan suatu lapisan tipis yang bersifat kenyal, kuat, tidak berstruktur dan bening,
terletak di bawah stroma.Lapisan ini merupakan pelindung atau barrier infeksi dan masuknya
pembuluh darah.
5. Endotel
Terdiri atas satu lapis sel yang merupakan jaringan terpenting untuk mempertahankan
kejernihan kornea.Sel endotel adalah sel yang mengatur cairan di dalam stroma kornea.
Endotel tidak mempunyai daya regenerasi sehingga bila terjadi kerusakan, endotel tidak akan
normal lagi. Endotel dapat rusak atau terganggu fungsinya akibat trauma bedah, penyakit
intraocular.Usia lanjut akan mengakibatkan jumlah endotel berkurang.Kornea tidak
mengandung pembuluh darah, jernih dan bening, selain sebagai dinding, juga berfugsi sebagai
media penglihatan. Dipersarafi oleh nervus V1,3.
1.2.

Fisiologi kornea
Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan jendela yang dilalui berkas cahaya

menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan oleh strukturnya yang uniform, avaskuler
dan deturgesensi. Deturgesensi atau keadaan dehidrasi relatif jaringan kornea, dipertahankan
oleh pompa bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel.Dalam
mekanisme dehidrasi ini, endotel jauh lebih penting daripada epitel, dan kerusakan kimiawi
atau fisis pada endotel berdampak jauh lebih parah daripada kerusakan pada epitel.Kerusakan
sel-sel endotel menyebabkan edema kornea dan hilangnya sifat transparan. Sebaliknya,
9

kerusakan pada epitel hanya menyebabkan edema stroma kornea lokal sesaat yang akan
meghilang bila sel-sel epitel telah beregenerasi. Penguapan air dari lapisan air mata
prekorneal menghasilkan hipertonisitas ringan lapisan air mata tersebut, yang mungkin
merupakan faktor lain dalam menarik air dari stroma kornea superfisial dan membantu
mempertahankan keadaan dehidrasi3.
Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui cahaya, dalam perjalanan
pembentukan bayangan di retina, karena jernih, sebab susunan sel dan seratnya tertentu dan
tidak ada pembuluh darah.Biasan cahaya terutama terjadi di permukaan anterior dari
kornea.Perubahan dalam bentuk dan kejernihan kornea, segera mengganggu pembentukan
bayangan yang baik di retina. Oleh karenanya kelainan sekecil apapun di kornea, dapat
menimbulkan gangguan penglihatan yang hebat terutama bila letaknya di daerah pupil3.

2.

CORPUS ALIENUM
2.1. Definisi
Corpus alienum adalah benda asing, merupakan salah satu penyebab terjadinya cedera

mata, sering mengenai sclera, kornea, dan konjungtiva. Meskipun kebanyakan bersifat ringan,
beberapa cedera bisa berakibat serius. Apabila suatu corpus alienum masuk ke dalam bola
mata maka akan terjadi reaksi infeksi yang hebat serta timbul kerusakan dari isi bola mata.
Oleh karena itu, perlu cepat mengenali benda tersebut dan menentukan lokasinya di dalam
bola mata untuk kemudian mengeluarkannya2,4.
Benda yang masuk ke dalam bola mata dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu4 :
1) Benda logam, seperti emas, perak, platina, timah, besi tembaga
2) Benda bukan logam, seperti batu, kaca, bahan pakaian
3) Benda inert, adalah benda yang terbuat dari bahan-bahan yang tidak menimbulkan
reaksi jaringan mata, jika terjadi reaksinya hanya ringan dan tidak mengganggu fungsi
mata. Contoh : emas, platina, batu, kaca, dan porselin
4) Benda reaktif, terdiri dari benda-benda yang dapat menimbulkan reaksi jaringan mata
sehingga mengganggu fungsi mata. Contoh : timah hitam, seng, nikel, alumunium,
tembaga
Beratnya kerusakan pada organ-organ di dalam bola mata tergantung dari4 :
10

a.
b.
c.
d.

Besarnya corpus alienum,


Kecepatan masuknya,
Ada atau tidaknya proses infeksi,
Jenis bendanya.

2.2. Patofisiologi
Benda asing di kornea secara umum masuk ke kategori trauma mata ringan. Benda asing
dapat bersarang (menetap) di epitel kornea atau stroma bila benda asing tersebut
diproyeksikan ke arah mata dengan kekuatan yang besar.4
Benda asing dapat merangsang timbulnya reaksi inflamasi, mengakibatkan dilatasi
pembuluh darah dan kemudian menyebabkan udem pada kelopak mata, konjungtiva dan
kornea. Sel darah putih juga dilepaskan, mengakibatkan reaksi pada kamera okuli anterior dan
terdapat infiltrate kornea. Jika tidak dihilangkan, benda asing dapat menyebabkan infeksi dan
nekrosis jaringan.4
2.3. Penyebab
Penyebab cedera mata pada pemukaan mata adalah4 :
a. Percikan kaca, besi, keramik
b. Partikel yang terbawa angin
c. Ranting pohon
d. Dan sebagainya
2.4. Gambaran Klinik
Gejala yang ditimbulkan berupa nyeri, sensasi benda asing, fotofobia, mata merah dan
mata berair banyak. Dalam pemeriksaan oftalmologi, ditemukan visus normal atau menurun,
adanya injeksi konjungtiva atau injeksi silar, terdapat benda asing pada bola mata, fluorescein
(+)3,4.
2.5. Diagnosis
Diagnosis corpus alienum dapat ditegakkan dengan4 :
1) Anamnesis kejadian trauma
2) Pemeriksaan tajamm penglihatan kedua mata
3) Pemeriksaan dengan oftalmoskop
4) Pemeriksaan keadaan mata yang terkena trauma
5) Bila ada perforasi, maka dilakukan pemeriksaan x-ray orbita
2.6. Penatalaksanaan
Penatalaksanaannya adalah dengan mengeluarkan benda asing tersebut dari bola mata. Bila
lokasi corpus alienum berada di palpebra dan konjungtiva, kornea maka dengan mudah dapat
dilepaskan setelah pemberian anatesi lokal. Untuk mengeluarkannya, diperlukan kapas lidi
atau jarum suntik tumpul atau tajam. Arah pengambilan, dari tengah ke tepi. Bila benda
bersifat magnetik, maka dapat dikeluarkan dengan

magnet portable. Kemudian diberi

antibiotik lokal, siklopegik, dan mata dibebat dengan kassa steril dan diperban3.

11

Pecahan besi yang terletak di iris, dapat dikeluarkan dengan dibuat insisi di limbus, melalui
insisi tersebut ujung dari magnit dimasukkan untuk menarik benda asing, bila tidak berhasil
dapat dilakukan iridektomi dari iris yang mengandung benda asing tersebut3.
Pecahan besi yang terletak di dalam bilik mata depan dapat dikeluarkan dengan magnit
sama seperti pada iris. Bila letaknya di lensa juga dapat ditarik dengan magnit, sesudah insisi
pada limbus kornea, jika tidak berhasil dapat dilakukan pengeluaran lensa dengan ekstraksi
linier untuk usia muda dan ekstraksi ekstrakapsuler atau intrakapsuler untuk usia yang tua2,3.
Bila letak corpus alienum berada di dalam badan kaca dapat dikeluarkan dengan giant
magnit setelah insisi dari sklera. Bila tidak berhasil, dapat dilakukan dengan operasi
vitrektomi3.
2.7. Pencegahan
Pencegahan agar tidak masuknya benda asing ke dalam mata, baik dalam bekerja atau
berkendara, maka perlu menggunakan kaca mata pelindung4.
2.8. Komplikasi
Komplikasi terjadi tergantung dari jumlah, ukuran, posisi, kedalaman, dan efek dari corpus
alienum tersebut. Jika ukurannya besar, terletak di bagian sentral dimana fokus cahaya pada
kornea dijatuhkan, maka akan dapat mempengaruhi visus. Reaksi inflamasi juga bisa terjadi
jika corpus alienum yang mengenai kornea merupakan benda inert dan reaktif. Sikatrik
maupun perdarahan juga bisa timbul jika menembus cukup dalam2,3,4.
Bila ukuran corpus alienum tidak besar, dapat diambil dan reaksi sekunder seperti
inflamasi ditangani secepatnya, serta tidak menimbulkan sikatrik pada media refraksi yang
berarti, prognosis bagi pasien adalah baik2,3,4.

12

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata, Edisi 3. 2008. Balai Penerbit FKUI Jakarta.
2. Anonim, 2008. Trauma Mata. Available on
http://www.rsmyap.com/component/option,com_frontpage/Itemid,1/
3. Vaughan, Daniel. Oftalmologi Umum, Edisi 17. 2010. Widya Medika Jakarta.
4. Bashour M., 2008. Corneal Foreign Body. Available on http://emedicine.medscape.com/
article/

13