Anda di halaman 1dari 123

EVALUASI DRUG THERAPY PROBLEMS

OBAT HIPOGLIKEMIA KOMBINASI


PADA PASIEN GERIATRI DIABETES MELLITUS TIPE 2
DI INSTALASI RAWAT JALAN RSUP Dr. SARDJITO YOGYAKARTA
PERIODE JANUARIJUNI 2009
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.)
Program Studi Farmasi

Oleh :
Maria FeaYessy Ayuningtyas
NIM : 068114152

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2010

EVALUASI DRUG THERAPY PROBLEMS


OBAT HIPOGLIKEMIA KOMBINASI
PADA PASIEN GERIATRI DIABETES MELLITUS TIPE 2
DI INSTALASI RAWAT JALAN RSUP Dr. SARDJITO YOGYAKARTA
PERIODE JANUARIJUNI 2009
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.)
Program Studi Farmasi

Oleh :
Maria FeaYessy Ayuningtyas
NIM : 068114152

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2010
ii

iii

iv

Ketika kumohon kepada Tuhan kekuatan,


Tuhan memberiku kesulitan agar aku kuat
Ketika kumohon kepada Tuhan kebijaksanaan,
Tuhan memberiku masalah untuk dipecahkan
Ketika kumohon kepada Tuhan kesejahteraan,
Tuhan memberiku akal untuk berfikir
Ketika kumohon kepada Tuhan keberanian,
Tuhan memberiku kondisi bahaya untuk kuatasi
Ketika kumohon kepada Tuhan cinta,
Tuhan memberiku orang-orang bermasalah untuk kutolong
Ketika kumohon kepada Tuhan bantuan,
Tuhan memberiku kesempatan untuk berusaha
Ketika kumohon kepada Tuhan kesabaran,
Tuhan memberiku kesempatan untuk melayani
Aku tidak menerima apa yang aku pinta,
tetapi aku menerima apa yang aku butuhkan

(Anonim, 2002)

Ia membuat segala sesuatu


indah pada waktunya
(Pengkhotbah, 3:11a)

Karya ini kupersembahkan kepada


Tuhan Yesus Kristus yang selalu ada untukku..
Bapak Ibuku yang selalu memberiku dukungan..
Sahabat-sahabatku yang mewaarnai pelangi hidupku..
Almamaterku ..

vivi

Prakata

Puji dan syukur penulis panjatkan pada Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat kasih dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang
berjudul Evaluasi Drug Therapy Problems Obat Hipoglikemia Kombinasi pada
Pasien Geriatri Diabetes Mellitus Tipe 2 di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr.
Sardjito Yogyakarta Periode Januari-Juni 2009 ini dengan baik.
Penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat
memperoleh gelar sarjana farmasi pada program studi Ilmu Farmasi, Jurusan Farmasi,
Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini bukanlah suatu hal yang
mudah, banyak pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan sehingga
penulis mampu menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan lancar. Oleh karena itu,
penulis mengucapkan terima kasih yang kepada:
1.

Tuhan yang Maha Baik atas segala berkat dan semangat sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini.

2.

Kedua orangtuaku Bapak Antonius Purwanto dan Ibu Brigita Sri Setyasih yang
dengan tulus mendampingi dengan kasih, memberikan nasehat dan materi untuk
membantu penulis menyelesaikan skripsi ini.

3.

Direktur RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta yang telah memberikan izin untuk
penulis dapat melakukan penelitian.

vii

4.

Ibu Rita Suhadi, M.Si., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi dan dosen penguji
skripsi atas dukungan, arahan, kritikan dan masukan serta semangat yang
diberikan kepada penulis.

5.

Ibu Maria Wisnu Donowati, M.Si., Apt selaku dosen pembimbing yang telah
dengan sabar memberikan bimbingan, saran, semangat, dan dukungan dalam
proses penyusunan skripsi.

6.

Ibu dr. Fenty, M.Kes, Sp.PK. selaku dosen penguji yang telah memberikan saran
dan masukan yang berharga dalam proses penyusunan skripsi ini.

7.

Bapak Dr. Osman Sianipar, DMM, M.Sc.,Sp PK (K) selaku kepala Bagian
Pendidikan dan Penelitian (Diklit), Bapak Mt. Sutena, SKM., MM.,M.Sc selaku
Ka Sub Bag Diklit Keperawatan dan Non Medis dan ibu Mamik selaku staff
Diklit

8.

Bagian Rekam Medik RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta (Ibu Nani, Pak Dirman, Ibu
Dari, Ibu Meta, dr. Endang) atas bantuan dan dukungannya.

9.

Seluruh pasien geriatri diabetes mellitus tipe 2 yang menerima terapi obat
hipoglikemia kombinasi Yogyakarta yang secara tidak langsung telah membantu
penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

10. Segenap dosen pengajar, staf sekretariat Fakultas Farmasi Sanata Dharma atas
dukungan dan bantuannya dalam menyelesaikan skripsi ini.
11. Kakak dan adikku, Lukas Okta Prasetyawanto dan Yohanes Karisma
Kristiawanto, atas dukungan dan semangat yang diberikan.

viii

ix
ix

INTISARI

Diabetes Mellitus pada orang dewasa hampir 90% masuk diabetes tipe 2. Dari
jumlah tersebut bahwa 50% adalah pasien berumur lebih dari 60 tahun. Obat
hipoglikemia kombinasi (lebih dari 1 obat hipoglikemia) yang digunakan untuk
mengatasi diabetes yang dialami oleh pasien geriatri harus diperhatikan, mengingat
fungsi organ dan aktivitas fisik yang sudah mengalami penurunan. Mengingat hal
tersebut maka dianjurkan pemilihan dan dosis pemberian untuk pasien usia lanjut
harus berhati-hati. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi Drug Therapy Problems pada
pasien geriatri.
Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan rancangan
penelitian deskriptif evaluatif yang bersifat retrospektif. Bahan yang digunakan
adalah lembar rekam medis.
Pasien geriatri diabetes mellitus tipe 2 yang menerima obat hipoglikemia
kombinasi di instalasi rawat jalan RSUP Dr. Sardjito adalah 26 pasien. Karakteristik
pasien berdasarkan jenis kelamin terbanyak adalah perempuan yaitu 57,7% (15
pasien), usia lansia (elderly) terbanyak yaitu 73,1% (19 pasien), komplikasi paling
banyak adalah hipertensi 92,3% (24 pasien) dan penyakit penyerta adalah osteoatritis
19,2 % (5 pasien). Terdapat 11 kelas terapi yang diberikan kepada pasien. Drug
Therapy Problems (DTPs) yang terjadi adalah dosis terlalu rendah sebanyak 3,8 % (1
pasien) dan Adverse Drug Reaction (ADR) sebanyak 53,8% (14 pasien).

Kata kunci : drug therapy problems, obat hipoglikemia kombinasi, Diabetes Mellitus
tipe 2

xi

ABSTRACT

Diabetes Mellitus on adults are almost 90% included in DM Type 2. From


that total amount, as much as 50% are patients above 60 years of age. Combined
hypoglycemic drugs (more than 1 hypoglycemic drug) used to treat diabetes on
geriatric patients need a special attention, remembering their body organs and
physically activities are decreasing. Because of that reasons, it is highly
recommended to be aware on drugs selection and dosing on geriatrics. Since then,
the evaluation of DTPs on geriatric needed to be done.
This research is a non experimental with descriptive-evaluative design and
also retrospective type. Medical records used as research materials.
The total amount of geriatric patients with DM Type 2 who get combined
hypoglycemic drugs installation of outpatient RSUP Dr. Sardjito are 26 patients.
Percentage for most gender is female with 57,7% (15 patients), the elderly age is
73,1% (19 patients), most complicating disease is hypertension for 92,3% (24
patients) and accompanying disease is ostheoarthritis for 19,2% (5 patients). 11
class of therapy is used. DTPs found are dosage too low as much as 3,8 % (1
patient) and ADR for 53,6% (14 patients).
Keywords: DTPs, combined hypoglycemic drugs, DM type 2

xii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................... ii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................. iii
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ......................................................................... v
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH
UNTUK KEPENTINGAN AKADEMISI .......................................................... vi
PRAKATA .......................................................................................................... vii
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................. x
INTISARI............................................................................................................ xi
ABSTRACT .......................................................................................................... xii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... xiii
DAFTAR TABEL ...............................................................................................xviii
DAFTAR GAMBAR ..........................................................................................xix
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... xx
BAB I PENGANTAR ......................................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................................... 1
1. Permasalahan .............................................................................................. 3
2. Keaslian penelitian ..................................................................................... 4
3. Manfaat penelitian ...................................................................................... 5
B. Tujuan Penelitian ............................................................................................ 6

xiii

1. Tujuan umum ............................................................................................. 6


2. Tujuan khusus............................................................................................. 6
BAB II PENELAAHAN PUSTAKA.................................................................. 8
A. Drug Therapy Problems ................................................................................. 8
B. Diabetes Mellitus ............................................................................................ 12
1. Klasifikasi ................................................................................................... 12
2. Gejala.......................................................................................................... 14
3. Diagnosis .................................................................................................... 15
4. Komplikasi ................................................................................................ 16
a. Komplikasi Akut..................................................................................... 16
1) Hipoglikemia ...................................................................................... 16
2) Ketoasidosis Diabetik ........................................................................ 16
b. Komplikasi Kronis ................................................................................. 16
1) Makroangiopati (makrovaskuler) ....................................................... 17
2) Mikroangiopati (mikrovaskuler) ........................................................ 17
5. Penatalaksanaan ........................................................................................ 18
a. Terapi non farmakologi ......................................................................... 20
1) Diet .................................................................................................... 20
2) Olah raga ............................................................................................ 20
b. Terapi Farmakologi ............................................................................... 20
1) Terapi Insulin ...................................................................................... 20
2) Terapi Obat Hipoglikemia Oral .......................................................... 22
xiv

a. Golongan Sulfonilurea ................................................................... 22


1. Glibenklamid .............................................................................. 23
2. Gliklazid ..................................................................................... 23
3. Glipizid....................................................................................... 24
4. Glikuidon ................................................................................... 24
5. Glimepiride ................................................................................ 24
b. Golongan Meglitinida dan Turunan Fenilalanin ............................ 24
c. Golongan Biguanida ....................................................................... 25
d. Golongan Tiazolidindion ............................................................... 26
e. Golongan Inhibitor - Glukosidase ................................................ 26
f. Golongan Dipeptidyl-peptidase-4 (DPP-4) .................................... 27
g. Golongan Glucagonlike Peptide-1 Agonist (GLP-) ........................ 27
3) Terapi Kombinasi ................................................................................ 29
C. Geriatri ............................................................................................................ 30
D. Keterangan Empiris ........................................................................................ 31
BAB III METODE PENELITIAN...................................................................... 32
A. Jenis dan Rancangan Penelitian ..................................................................... 32
B. Definisi Operasional ....................................................................................... 32
C. Subyek Penelitian ........................................................................................... 33
D. Bahan Penelitian ............................................................................................. 33
E. Lokasi Penelitian ............................................................................................ 34
F. Tata Cara Penelitian ........................................................................................ 34
xv

1.Persiapan ..................................................................................................... 35
2. Pengambilan data ....................................................................................... 35
3.Pengolahan data ........................................................................................... 36
F. Tata Cara Analisis Hasil ................................................................................. 37
1. Karakteristik Pasien .................................................................................... 37
2. Profil Obat ................................................................................................... 37
3. Evaluasi Drug Therapy Problem ................................................................ 38
G. Kesulitan Penelitian........................................................................................ 38
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................ 40
A. Karakteristik Pasien........................................................................................ 40
1. Berdasarkan jenis kelamin.......................................................................... 40
3. Berdasarkan kelompok usia........................................................................ 41
4. Berdasarkan penyakit komplikasi .............................................................. 42
5. Berdasarkan penyakit penyerta .................................................................. 44
B. Profil Obat ...................................................................................................... 45
a. Obat Susunan Saraf .................................................................................... 46
b. Obat Kardiovaskuler................................................................................... 47
c. Obat Saluran Pernapasan ............................................................................ 48
d. Obat Saluran Cerna .................................................................................... 49
e. Obat Anti Alergi ......................................................................................... 50
f. Cairan untuk Keseimbangan Air, Elektrolit dan Nutrisi ............................. 50
g. Obat Anti Diabetik ..................................................................................... 51
xvi

h. Anti Infeksi ................................................................................................. 54


i. Vitamin, Mineral dan Metabolitropikum .................................................... 55
j. Obat yang Mempengaruhi Darah ................................................................ 56
k. Obat Penyakit Kulit .................................................................................... 56
C. Evaluasi DTPs ................................................................................................ 57
a. DTPs dosis terlalu rendah ........................................................................... 58
b. DTPs Advers Drug Reaction ...................................................................... 59
D. Rangkuman Pembahasan................................................................................ 62
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 65
A. Kesimpulan .................................................................................................... 65
B. Saran ............................................................................................................... 65
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 67
BIGRAFI PENULIS ........................................................................................... 103

xvii

DAFTAR TABEL
Tabel I.

Peringkat Signifikansi Klinis Interaksi Obat Menurut Tatro(2001) 10

Tabel II.

Korelasi Nilai HbA1C dengan Kadar Glukosa Darah ................... 19

Tabel III.

Beberapa Sediaan Insulin di Indonesia .......................................... 21

Tabel IV.

Obat Hipoglikemia Oral yang Beredar di Indonesia ..................... 28

Tabel V.

Jenis dan Presentase Penyakit Komplikasi .................................... 43

Tabel VI.

Jenis dan Persentase Penyakit Penyerta ......................................... 44

Tabel VII.

Pengunaan Obat Kelas Terapi Sistem Saraf Pusat......................... 47

Tabel VIII. Pengunaan Obat Kelas Terapi Kardiovaskuler .............................. 48


Tabel IX.

Pengunaan Obat Kelas Terapi Saluran Pernapasan ....................... 49

Tabel X.

Pengunaan Obat Kelas Terapi Saluran Cerna ................................ 49

Tabel XI.

Pengunaan Kelas Terapi Anti Alergi ............................................. 50

Tabel XII.

Pengunaan Kelas Terapi Cairan untuk Keseimbangan Air, Elektrolit,


Dialisis dan Nutrisi ........................................................................ 51

Tabel XIII. Pengunaan Obat Kelas Terapi Anti Diabetik ................................. 51


Tabel XIV. Penggunaan Obat Hipohlikemia Kombinasi.................................. 53
Tabel XV.

Pengunaan Kelas Terapi Vitamin, Mineral dan Metabolitropikum 56

Tabel XVI. Pengunaan Kelas Terapi Obat yang Mempengaruhi Darah ........... 56
Tabel XVII. Pengelompokan Kejadian DTPs .................................................... 58
Tabel XVIII. Kejadian DTPs Dosis Terlalu Rendah .......................................... 59
Tabel XIX. Potensial Kejadian DTPs Advers Drug Reaction .......................... 62

xviii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Algoritma untuk Mengotrol Glukosa Darah Menurut AACE ........... 19
Gambar 2. Persentase Karakteristik Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin ........... 41
Gambar 3. Persentase Karakteristik Pasien Berdasarkan Usia .......................... 42
Gambar 4. Distribusi Penggunaan Obat Berdasarkan Kelas Terapi ................... 45

xix

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran I.

Kajian DTPs Pasien Penggunaan Obat Hipoglikemia Kombinasi


pada Pasien Geriatri DM Tipe II di Instalasi Rawat Jalan RSUP
Dr Sardjito Yogyakarta Periode Januari-Juni 2009 .....................74

Lampiran II. Nilai Rujukan dari RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta .................. 100
Lampiran III. Obat Paten yang Digunakan ..................................................... 100
Lampiran IV. Daftar Singkatan ....................................................................... 101
Lampiran V. Surat Ijin Penelitian dari RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta........... 102
Lampiran VI. Surat Kalaikan Etik ................................................................... 103

xx

BAB I
PENGANTAR

A. Latar Belakang
Diabetes Mellitus (DM) ialah suatu penyakit yang ditandai dengan kadar
glukosa yang tinggi di dalam darah karena tubuh tidak dapat melepaskan atau
menggunakan insulin secara tepat ( Triplitt, Reasner, Isley, 2005). Diabetes Mellitus
menjadi salah satu penyakit yang menarik perhatian karena penderitanya terus
bertambah banyak. Menurut hasil survei yang dilakukan oleh WHO di Indonesia pada
tahun 2000, penderita Diabetes Mellitus sekitar 17 juta orang (8,6 persen dari jumlah
penduduk) atau menduduki urutan terbesar ke-4 setelah India, Cina, dan Amerika
Serikat (AS). WHO memperkirakan bahwa penderita diabetes di Indonesia akan
mengalami kenaikan dari 17 juta jiwa pada tahun 2000, diperkirakan menjadi 21,3
juta jiwa pada tahun 2030 (Anonim, 2009 b).
Hampir 90% Diabetes Mellitus pada orang dewasa merupakan Diabetes
Mellitus Tipe 2. Dari jumlah tersebut, 50% adalah pasien berusia lebih dari 60 tahun.
Berdasarkan data statistik dunia, pasien geriatri pada tahun 2007 berjumlah sekitar
450 juta jiwa (7% dari total penduduk dunia) dan sekitar 50-92% mengalami
gangguan toleransi glukosa. Dapat diperkirakan bahwa dengan laju kenaikan jumlah
penduduk geriatri yang semakin cepat, maka prevalensi pasien gangguan toleransi
glukosa dan diabetes pada geriatri juga akan semakin cepat (Rochmah, 2006).

Penyakit diabetes tidak dapat disembuhkan secara total namun bisa


dikendalikan dengan 2 cara yaitu secara farmakologis dan nonfarmakologis. Terapi
farmakologi yang dapat digunakan adalah terapi obat hipoglikemia yang dapat
diberikan secara tunggal maupun kombinasi. Penelitian oleh Turner, Cull, Frighi, dan
Holman (1999) menyatakan bahwa DM tipe 2 sangat progresif hingga setelah 3 tahun
monoterapi, 50% akan memerlukan lebih dari 1 obat hipoglikemia, dan setelah 9
tahun angka ini akan meningkat menjadi 75%.
Bagi pasien geriatri, pemberian terapi kombinasi ini harus diperhatikan
mengingat fungsi organ dan aktivitas fisik yang sudah mengalami penurunan.
Perubahan fisiologi pada pasien geriatri mempengaruhi kinerja farmakokinetik dan
farmodinamik obat. Proses farmakokinetik meliputi absorbsi, distribusi, metabolisme
dan ekskresi, sedangkan proses farmakodinamik berupa antaraksi obat dengan
reseptor. Salah satu organ yang mengalami penurunan fungsi yaitu ginjal yang
merupakan jalur utama ekskresi mengalami perubahan saluran ginjal (laju filtrasi
glomeruler) akibatnya waktu paruh eliminasi obat dapat lebih lama berada dalam
tubuh. Hal ini memungkinkan perpanjangan kinerja farmakologi dan toksikologi obat
(Donatus, 1999). Maka dianjurkan untuk pemilihan obat yang tepat dan pemberian
dosis yang disesuaikan dengan kondisi pasien geriatri, hal tersebut berkaitan dengan
pencapaian outcome dan pencegahan terjadinya DTPs.
Apoteker memiliki peran

yang sangat penting dalam keberhasilan

penatalaksanaan diabetes. Apoteker berperan untuk mendampingi, memberikan


konseling dan bekerja sama dengan penderita dalam penatalaksanaan diabetes. Selain

itu apoteker juga berperan untuk membantu penderita menyesuaikan pola diet
sebagaimana yang disarankan ahli gizi, mencegah dan mengendalikan komplikasi
yang mungkin timbul, mencegah dan mengendalikan efek samping obat, memberikan
rekomendasi penyesuaian rejimen dan dosis obat yang harus dikonsumsi penderita
bersama-sama dengan dokter yang merawat penderita. Peran seorang apoteker sangat
penting dalam keberhasilan penatalaksanaan dan pemberian terapi yang tepat,
sehingga tidak menimbulkan Drug Therapy Problems (DTPs). Dengan demikian
diperlukan penelitian tentang keberhasilan penatalaksanaan terapi obat melalui
evaluasi DTPs untuk pasien diabetes.
Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr. Sardjito karena rumah sakit ini
merupakan paling besar di Yogyakarta, dengan jumlah pasien DM tipe 2 yang
mendapatkan terapi kombinasi yang melakukan pemeriksaan rutin di rumah sakit
tersebut cukup banyak. Selain itu, RSUP Dr. Sardjito memiliki instalasi famasi,
instalasi rawat jalan, unit rekam medis dan unit geriatri yang mendukung pelayanan.
Dari data rekam medik yang diperoleh dapat diidentifikasi adanya DTP pada
penggunaan obat hipoglikemia sehingga diharapkan dapat membantu meningkatkan
kualitas layanan RSUP Dr. Sardjito kepada pasien untuk mendapatkan terapi yang
optimal serta untuk mendukung pelaksanaan patient safety saat ini.
1. Perumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang ada, permasalahan yang dapat dirumuskan adalah :
a. Bagaimana karakteristik pasien geriatri DM tipe 2 yang mendapat terapi obat

hipoglikemia kombinasi di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr Sardjito Yogyakarta


periode Januari-Juni 2009 (berdasarkan jenis kelamin, usia, penyakit komplikasi
dan penyakit penyerta) ?
b. Bagaimana profil penggunaan obat pada pasien geriatri DM tipe 2 yang mendapat
terapi obat hipoglikemia kombinasi di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr Sardjito
Yogyakarta periode Januari-Juni 2009 ?
c. Berapa besar angka dan persentase kejadian DTPs pada pengobatan pasien geriatri
DM tipe 2 yang mendapat terapi obat hipoglikemia kombinasi di Instalasi Rawat
Jalan RSUP Dr Sardjito Yogyakarta periode Januari-Juni 2009 yang meliputi:
1) butuh tambahan obat (need for additional drug therapy) ?
2) obat tanpa indikasi (unnecessary drug therapy) ?
3) salah obat (wrong drug) ?
4) dosis terlalu rendah (dosage too low) ?
5) adverse drug reaction ?
6) dosis terlalu tinggi (dosage too high) ?
2. Keaslian Penelitian
Terdapat beberapa penelitian tentang evaluasi DTPs penyakit Diabetes
Mellitus tipe 2 yang sudah dilakukan di RSUP Dr. Sardjito. Perbedaan penelitian ini
dengan penelitian sebelumnya terletak pada subyek penelitian dalam penelitian ini
yaitu pasien geriatri yang mendapat obat hipoglikemia kombinasi di Instalasi Rawat
Jalan, periode yang digunakan Januari-Juni 2009, sedangkan penelitian sebelumnya
tidak memiliki kriteria inklusi tersebut. Maka dapat dikatakan penelitian mengenai

Evaluasi Drug Therapy Problems Obat Hipoglikemia Kombinasi pada Pasien Geriatri
Diabetes Mellitus tipe 2 di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr Sardjito Yogyakarta
Periode Januari-Juni 2009 belum pernah dilakukan. Penelitian yang terkait mengenai
evaluasi DTPs obat hipoglikemia untuk penderita Diabetes Mellitus tipe 2 yang telah
dilakukan oleh beberapa peneliti lain dengan judul sebagai berikut ini :
a. Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2
Komplikasi Hipertensi di Rumah Sakit Umum Dr. Sardjito Yogyakarta Periode
Tahun 2007-2008 oleh Herlinawati pada tahun 2009 .
b. Evaluasi Drug Related Problems pada Peresepan Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2
dengan Komplikasi Ishemic Heart Disease di Instalasi Rawat Inap RS Panti Rapih
Yogyakarta Periode Januari 2005- Desember 2007 oleh Larasati pada tahun 2008.
c. Identifikasi Drug Related Problems dan Pengaruhnya Terhadap Kontrol Gula
Darah pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Rawat Jalan yang Diterapi dengan
Insulin di Rumah Sakit D. Sardjito oleh Puspitasari pada tahun 2008.
3.

Manfaat penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah


a. menjadi sumber informasi tentang DTPs pada pengobatan Diabetes Mellitus tipe 2
di RSUP Dr. Sardjito
b. menjadi bahan pertimbangan dalam mengembangkan konsep pelayanan farmasi
klinik di RSUP Dr Sardjito serta untuk meningkatkan kualitas pelayanan
kesehatan.

B. Tujuan
1.

Tujuan umum
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengevaluasi adanya Drug Therapy
Problems obat hipoglikemia kombinasi pada pasien geriatri DM tipe 2 di
Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr Sardjito Yogyakarta periode Januari-Juni 2009 .

2.

Tujuan khusus
Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk :
a. Mengetahui karakteristik pasien geriatri DM tipe 2 yang mendapat terapi obat
hipoglikemia kombinasi di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr Sardjito
Yogyakarta periode Januari-Juni 2009

(berdasarkan jenis kelamin, usia,

penyakit komplikasi dan penyakit penyerta).


b. Mengetahui profil penggunaan obat pada pasien geriatri DM tipe 2 yang
mendapat terapi obat hipoglikemia kombinasi di Instalasi Rawat Jalan RSUP
Dr Sardjito Yogyakarta periode Januari-Juni 2009.
c. Mengetahui besar angka dan persentase kejadian DTPs pada pengobatan
pasien geriatri DM tipe 2 yang mendapat terapi obat hipoglikemia kombinasi
di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr Sardjito Yogyakarta periode Januari-Juni
2009 yang meliputi:
1) butuh tambahan obat (need for additional drug therapy)
2) obat tanpa indikasi (unnecessary drug therapy)
3) salah obat (wrong drug)
4) dosis terlalu rendah (dosage too low)

5) adverse drug reaction


6) dosis terlalu tinggi (dosage too high)

BAB II
PENELAAHAN PUSTAKA

A. Drug Therapy Problems


Drug Therapy Problems (DTPs) merupakan peristiwa yang tidak diinginkan
yang dialami pasien yang memerlukan atau diduga memerlukan terapi obat dan
berkaitan dengan tercapainya tujuan terapi yang diinginkan. Identifikasi DTPs
menjadi fokus penilaian dan pengambilan keputusan terakhir dalam tahap proses
patient care (Cippole, Strand , Morley, 2004). Kejadian DTPs ini menjadi masalah
aktual maupun potensial yang kental dibicarakan dalam hubungan antara farmasis
dengan dokter. Yang dimaksud dengan masalah aktual DTPs adalah masalah yang
sudah terjadi pada pasien dan farmasis harus berusaha menyelesaikannya. Masalah
DTPs yang potensial adalah suatu masalah yang mungkin menjadi risiko yang dapat
berkembang pada pasien jika farmasis tidak melakukan tindakan untuk mencegah
(Rovers, 2003). Mengetahui hal tersebut maka seorang farmasis memegang peran
penting dalam mencegah maupun mengendalikan masalah tersebut.
Ada beberapa hal yang termasuk dalam kategori penyebab timbulnya
permasalahan yang berhubungan dengan DTPs (Cippole dkk., 2004).
1. Butuh tambahan obat (need for additional drug therapy)
Pasien mempunyai masalah medis yang membutuhkan terapi obat meliputi
kondisi penyakit meningkat sehingga membutuhkan obat baru, mengalami penyakit
kronis, terapi obat pencegahan untuk mengurangi risiko berkembangnya kondisi baru
8

dan pemberian pengobatan tambahan untuk mencapai sinergi dan efek tambahan.
2. Obat tanpa indikasi (unnecessary drug therapy)
Hal ini terjadi jika pasien menggunakan obat tanpa indikasi yang tepat, terapi
dengan dosis toksis, kondisi pengobatan lebih tepat ditangani dengan terapi nonfarmakologi, terapi obat diberikan untuk menghindari efek merugikan dari
pengobatan yang lain dan penyalahgunaan obat, penggunaan alkohol atau merokok,
polifarmasi yang sebaiknya terapi tunggal dan terapi efek samping akibat suatu obat
yang sebenarnya dapat digantikan dengan obat yang lebih aman.
3. Salah obat (wrong drug)
Pasien mendapatkan terapi tidak tepat seperti obat bukan yang paling efektif
dan aman, pasien alergi atau kontraindikasi, sudah resisten terhadap infeksi, dan
kondisi pengobatan yang tidak dapat sembuh dengan produk obat.
4. Dosis terlalu rendah (dosage too low)
Penyebab terjadinya ialah dosis terlalu rendah untuk menghasilkan respon
yang diinginkan, interaksi obat mengurangi jumlah ketersediaan obat yang aktif,
durasi obat terlalu singkat untuk menghasilkan respon yang diinginkan, pemilihan
obat, dosis, rute pemberian dan sediaan obat tidak tepat.
5. Adverse Drug Reaction
Penyebabnya ialah pasien menerima produk obat yang menyebabkan reaksi
alergi atau idiosinkrasi, pengaturan dosis obat diganti terlalu cepat, bioavalibilitas
atau efek obat diubah oleh obat lain atau makanan dan interaksi obat.

10

Salah satu yang menjadi kriteria terjadinya DTPs Adverse Drug Reaction
adalah terjadinya interaksi obat. Tidak semua obat bermakna secara klinis. Beberapa
interaksi obat secara teoritis mungkin terjadi, sedangkan interaksi obat yang lain yang
harus dihindari atau memerlukan pemantauan yang cermat. Tatro (2001) menilai
interaksi obat melalui peringkat signifikasi, onset, tingkat keparahan efek interaksi
dan dokumentasinya.
a. Peringkat Signifikansi
Peringkat signifikansi interaksi bervariasi dari derajat 1 sampai 5. Derajat 1
adalah interaksi yang parah dan telah terdokumentasi dengan baik. Derajat 5 adalah
interaksi yang dokumentasinya tidak lebih dari possible atau unlikely.
Tabel I. Peringkat Signifikansi Klinis Interaksi Obat Menurut Tatro (2001)
Peringkat signifikansi
1
2
3
4
5

Signifikansi
Major
Moderate
Minor
Major/Moderate
Minor
Any

Dokumentasi
Suspected atau lebih
Suspected atau lebih
Suspected atau lebih
Possible
Possible
Unlikely

b. Onset
Onset adalah mulai efek kerja interaksi suatu obat yang terbagi dalam 2
kelompok yaitu rapid dan delayed. Onset rapid ialah efek akan terjadi dalam kurun
waktu 24 jam setelah pemakaian obat yang berinteraksi, sehingga diperlukan tindakan
segera. Onset delayed ialah efek tidak akan terjadi sampai beberapa hari atau minggu
setelah pemakaian obat. Tidak memerlukan tindakan segera.

11

c.

Tingkat keparahan efek interaksi


Berdasarkan tingkat keparahan efek interaksi suatu obat terbagi dalam 3

kelompok yaitu major, moderate, minor. Tingkat keparahan major ialah efek yang
terjadi secara potensial mengancam jiwa atau dapat menyebabkan kerusakan yang
bersifat menetap. Efek dapat menyebabkan perubahan status klinik dan penambahan
pengobatan merupakan tingkat keparahan moderate. Efek yang biasanya ringan tidak
memerlukan tambahan pengobatan merupakan tingkat keparahan minor.
d. Dokumentasi
Dokumentasi adalah derajat kepercayaan dari interaksi obat yang dapat
menyebabkan perubahan respon klinis. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi
terdokumentasinya suatu efek interaksi obat khususnya pada pasien tertentu.
Dokumentasi tidak menunjukkan besarnya insidensi atau frek uensi interaksi, serta
tidak tergantung pada keparahan efek interaksi. Dekomentasi terbagi dalam 5
kelompok yaitu established, probable, suspected, possible dan unlikely. Dokumentasi
established ialah derajat kepercayaan yang telah dapat membuktikan interaksi terjadi
disertai suatu kontrol penelitian yang baik. Kelompok kedua yaitu probable ialah
sangat mungkin terjadi interaksi tetapi tidak ada bukti klinis. Yang ketiga yaitu
suspected ialah interaksi obat mungkin terjadi dan terdapat beberapa data yang baik,
tetapi membutuhkan studi penelitian lebih lanjut. Kelompok keempat yaitu possible
ialah interaksi obat dapat terjadi tetapi data masih sangat terbatas. Dan yang kelima
yaitu unlikely ialah derajat kepercayaan yang meragukan untuk terjadi interaksi obat
dan tidak ada perubahan efek klinis yang jelas.

12

6. Dosis terlalu tinggi (dosage too high )


Beberapa penyebabnya ialah dosis pemberian terlalu tinggi,

frekuensi

pemberian terlalu cepat, durasi obat terlalu panjang, dan interaksi obat yang terjadi
menghasilkan efek toksik.
7. Ketidaktaatan (inappropiate compliance)
Beberapa penyebabnya ialah pasien tidak memahami instruksi, lebih memilih
untuk tidak melakukan pengobatan, lupa melakukan pengobatan, tidak sanggup
menebus obat karena terlalu mahal, tidak dapat menelan atau melakukan pemberian
sendiri dengan tepat dan produk obat tidak tersedia.
B. Diabetes Mellitus
Diabetes Mellitus

(DM)

merupakan

suatu

penyakit

atau

gangguan

metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula
darah (hiperglikemia) disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan
protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Insufisiensi fungsi insulin dapat
disebabkan oleh gangguan atau defisiensi produksi insulin oleh sel-sel beta
Langerhans kelenjar pankreas, atau disebabkan oleh kurang responsifnya sel-sel
tubuh terhadap insulin (WHO, 1999).
1. Klasifikasi
Berdasarkan

etiologi,

American

Diabetes

Association

(ADA)

mengklasifikasikan Diabetes Mellitus menjadi :


a. Diabetes Mellitus tipe 1 atau Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM)
Diabetes Mellitus tipe 1 merupakan diabetes yang tergantung pada insulin

13

yang disebabkan oleh adanya reaksi autoimun sehingga sel beta () penghasil insulin
pada pulau-pulau langerhans pankreas menjadi rusak, akibatnya tubuh menjadi
kekurangan insulin (Triplitt dkk., 2005).
Destruksi autoimun dari sel langerhans kelenjar pankreas melibatkan
defisiensi sekresi insulin sehingga menyebabkan gangguan metabolisme yang
menyertai DM tipe 1. Selain itu, sel alfa (a ) kelenjar pankreas pada penderita DM tipe
1 yang tidak normal. Secara normal, hiperglikemia akan menurunkan sekresi
glukagon, namun pada penderita DM tipe 1 sekresi glukagon tetap tinggi walaupun
dalam keadaan hiperglikemi. Hal ini memperparah keadaan ketoasidosis diabetik jika
tidak mendapat terapi insulin (Anonim, 2005 a).
b. Diabetes Mellitus tipe 2 atau Non-Insulin-Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM)
Pada diabetes tipe ini terjadi penurunan kemampuan insulin bekerja di
jaringan perifer (resistensi insulin dan disfungsi sel ). Akibatnya, pankreas tidak
mampu memproduksi insulin yang cukup untuk mengkompensasi resistensi insulin.
Kedua hal ini menyebabkan terjadinya defisiensi insulin relatif (Widijanti, 2006)
Berbeda dengan DM tipe 1, pada penderita DM tipe 2 terutama yang berada
pada tahap awal, umumnya dapat terdeteksi jumlah insulin yang cukup di dalam
darahnya, di samping kadar glukosa yang tinggi. Jadi, awal patofisiologis DM tipe 2
bukan karena kurangnya sekresi insulin, tapi karena sel-sel sasaran insulin tidak
mampu merespon insulin secara normal. Apabila tidak ditangani dengan baik, pada
perkembangannya penderita DM tipe 2 akan mengalami kerusakan sel-sel pankreas
yang terjadi secara progesif yang seringkali akan mengakibatkan defisiensi insulin

14

sehingga akhirnya penderita memerlukan insulin eksogen (Anonim, 2005 a).


c. Diabetes Mellitus Tipe Spesifik
Meliputi individu dengan gangguan genetik fungsi sel , gangguan genetik
kerja insulin, penyakit endokrin pankreas, endokrinopati (akromegali, sindrom
Chusing), Diabetes Mellitus karena obat atau bahan kimia, infeksi dan sindrom
genetik (Triplitt dkk., 2005)
d. Diabetes Mellitus Gestasional
Diabetes Mellitus gestasional adalah diabetes yang dialami oleh wanita
terutama pada masa kehamilan yang diakibatkan adanya intoleransi glukosa selama
kehamilan. Diabetes gestasional terjadi pada 7% dari seluruh wanita hamil (Triplitt
dkk., 2005).
2. Gejala
Pada DM Tip e 1 gejala awalnya adalah rasa haus dan berkemih yang
berlebihan, mual, muntah, lelah dan nyeri perut (terutama pada anak-anak).
Pernafasan menjadi dalam dan cepat karena tubuh berusaha untuk memperbaiki
keasaman darah. Bau nafas penderita tercium seperti bau aseton. Tanpa pengobatan,
ketoasidosis diabetikum bisa berkembang menjadi koma, kadang dalam waktu hanya
beberapa jam. Bahkan setelah mulai menjalani terapi insulin, penderita Diabetes tipe I
bisa mengalami ketoasidosis jika mereka melewatkan satu kali penyuntikan insulin
atau mengalami stres akibat infeksi, kecelakaan atau penyakit yang serius (Anonim,
2008 a).
Penderita DM tipe 2 bisa tidak menunjukkan gejala- gejala selama beberapa

15

tahun. Jika kekurangan insulin semakin parah, maka timbullah gejala ya ng berupa
sering berkemih dan sering merasa haus. Jika kadar gula darah sangat tinggi (sampai
lebih dari 1.000mg/dL, biasanya terjadi akibat stres misalnya infeksi atau obatobatan), maka penderita akan mengalami dehidrasi berat, yang bisa menyebabkan
kebingungan mental, pusing, dan kejang (Anonim, 2008 a).
3. Diagnosis
Menurut American Association of Clinical Endocrinologists (2007), diagnosa
Diabetes Mellitus baru dapat dipastikan jika :
a. Adanya gejala seperti poliuria, polidipsia dan penurunan berat badan yang cepat
tanpa sebab yang jelas dan kadar glukosa darah acak = 200mg/dl atau
b. Kadar glukosa darah puasa (GDP) (dengan menggunakan plasma vena) =
126mg/dl. Puasa didefinisikan sebagai tidak adanya masukan kalori selama
setidaknya 8 jam atau
c. Kadar glukosa plasma = 200mg/dl pada 2 jam sesudah beban glukosa 75 gram
pada tes toleransi glukosa oral (TTGO).
Untuk kelompok tanpa keluhan khas, hasil pemeriksaan kadar glukosa darah
abnormal tinggi (hiperglikemia) satu kali saja tidak cukup kuat untuk menegakkan
diagnosis DM. Diperlukan konfirmasi atau pemastian lebih lanjut dengan
mendapatkan paling tidak satu kali lagi kadar gula darah sewaktu yang abnormal
(Anonim, 2005 a).

16

4. Komplikasi
Komplikasi dapat bersifat akut atau kronis. Komplikasi akut terjadi jika kadar
glukosa darah seseorang meningkat atau menurun drastis jika seseorang menjalani
diet terlalu ketat. Komplikasi kronis berupa kelainan pembuluh darah yang akhirnya
dapat menyebabkan serangan jantung, ginjal, saraf dan penyakit berat lainnya.
a.

Komplikasi Akut
1) Hipoglikemia
Hipoglikemia adalah suatu keadaan klinik gangguan saraf yang disebabkan
penurunan glukosa darah. Hipoglikemia ditandai dengan lemas, gemetar, pusing,
pandangan berkunang-kunang, keluar keringat dingin, detak jantung meningkat,
sampai kehilangan kesadaran. Jika tidak tertolong dapat terjadi kerusakan otak
dan akhirnya kematian (Soegondo, 2006 a).
2) Ketoasidosis Diabetik
Asidosis yang disebabkan oleh pemecahan lemak yang ber lebih, yang
menyebabkan akumulasi asam-asam lemak dan senyawa-senyawa keton di dalam
tubuh. Salah satu gejalanya nafas penderita berbau khas seperti buah dan
kecepatan nafas lebih cepat dari normal. Keadaan ketoasidosis ini dapat
mengakibatkan kehilangan kesadaran, koma dan akhirnya meninggal dunia
(Soegondo, 2006 a).

b. Komplikasi Kronis
Komplikasi kronis Diabetes Mellitus terjadi pada semua pembuluh darah
di seluruh bagian tubuh (angiopati diabetik). Angiopati dibagi menjadi 2 yaitu :

17

1) Makroangiopati (makrovaskuler)
Jenis komplikasi makrovaskuler yang umum berkembang adalah penyakit
vaskuler perifer, gagal jantung, jantung koroner, infark miokard, dan kematian
mendadak. Diabetes Mellitus merupakan salah satu penyebab timbulnya penyakit
jantung (Triplitt dkk., 2005). Yang lebih sering merasakan komplikasi ini adalah
DM tipe 2 yang umumnya menderita hipertensi, dislipidemia dan atau
kegemukan (Soegondo, 2006 a).
2) Mikroangiopati (mikrovaskuler)
Yang termasuk dalam komplikasi mikrovaskuler yaitu retinopati,
nefropati dan neuropati. Hal yang dapat mendorong terjadinya komplikasi
terseb ut ialah terjadinya hiperglikemia dan pembetukan protein terglikasi yang
menyebabkan dinding pembuluh darah menjadi semakin lemah dan rapuh dan
terjadi penyumbatan pada pembuluh darah kecil (Soegondo, 2006 a).
a) Retinopati
Kejadian retinopati diabetik dikarenakan mikroangiopati yang terjadi
pada arteriola prekapiler retinal, kapiler, dan venula. Kerusakan disebabkan
karena kebocoran mikrovaskuler karena terurainya barier retinal sehingga darah
dapat masuk dan adanya sumbatan mikrovaskuler (Watkins, 2003).
b) Neuropati
Neuropati terjadi, akibat adanya kerusakan pada pembuluh darah kecil
yang memberi nutrisi pada saraf perifer dan metabolisme gula yang abnormal
(Triplitt dkk., 2005).

18

c) Nefropati
Kadar glukosa yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh
darah sehingga dapat menyebabkan penurunan kualitas kerja ginjal (Triplitt dkk.,
2005).
5. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus
Tujuan umum penatalaksanaan Diabetes Mellitus adalah memperbaiki
kelainan metabolisme pasien sehingga dapat mempertahankan status kesehatan pasien
dan memperpanjang harapan hidup pasien. Pendekatan penatalaksanaan terapi
Diabetes melitus yang lain dipusatkan pada adanya resistensi insulin dan usaha untuk
meningkatkan kemampuan insulin yang tersedia dalam memacu pengambilan glukosa
oleh jaringan (Asdie, 2000).
Pada penatalaksanaan terapi Diabetes Mellitus terdapat terapi primer dan
terapi sekunder. Penatalaksanaan terapi primer meliputi edukasi, diet, dan olahraga
sedangkan terapi sekunder dengan insulin , obat hipoglikemia oral dan cangkok
pankreas (Asdie, 2000).
Apabila penatalaksanaan terapi tanpa obat (pengaturan diet dan olahraga)
belum berhasil mengendalikan kadar glukosa darah penderita, maka perlu dilakukan
langkah berikutnya berupa penatalaksanaan terapi obat, baik dalam bentuk terapi obat
hipoglikemik oral, terapi insulin, atau kombinasi keduanya (Anonim, 2005 a).

19

Gambar 1. Algoritma Terapi untuk Pasien DM Tipe 2 Menurut AACE

Tabel II. Korelasi Nilai HbA1C dengan Kadar Glukosa Darah


HbA1C
(%)
6
7
8
9
10
11
12

Kadar Glukosa Darah


(mg/dl)
126
154
183
212
240
269
298

(ADA, 2009)

20

a.

Terapi non farmakologi


1) Diet
Terapi nutrisi medis direkome ndasikan untuk semua penderita DM.
Melalui terapi ini diharapkan dapat mencapai outcome metabolik yang optimal
dan pencegahan serta terapi komplik asi. Untuk orang dengan DM tipe 1, fokus
terutama pada pemberian insulin dan diseimbangkan dengan diet untuk mencapai
dan menjaga berat badan yang ideal. Pada pasien DM tipe 2 dilakukan
pembatasan kalori untuk mencapai penurunan berat badan. Penurunan berat
badan dapat menurunkan faktor risiko pada orang DM tipe 2 (Triplitt dkk.,
2005).
2) Olah Raga.
Berolah raga secara teratur dapat menurunkan dan menjaga kadar gula
darah tetap normal. Prinsipnya, tidak perlu olah raga berat, olah raga ringan
asalkan dilakukan secara teratur akan bagus pengaruhnya bagi kesehatan. Olah
raga akan memperbanyak jumlah dan meningkatkan aktivitas reseptor insulin
dalam tubuh dan juga meningkatkan penggunaan glukosa (Anonim, 2005 a).

b. Terapi Farmakologi
1) Terapi Insulin
Bagi penderita DM Tipe 1 terapi insulin sangat dibutuhkan karena pada
penderita DM Tipe 1, sel-sel Langerhans kelenjar pankreas penderita telah
rusak, sehingga tidak lagi dapat memproduksi insulin. Untuk itu penderita harus
mendapat insulin eksogen untuk membantu agar metabolisme karbohidrat di

21

dalam tubuhnya dapat berjalan normal. Penderita DM Tipe 2 tertentu


kemungkinan juga membutuhkan terapi insulin apabila terapi lain yang diberikan
tidak dapat mengendalikan kadar glukosa darah (Anonim, 2005 a).
Dahulu terapi insulin untuk pasien DM tipe 2 dianggap sebagai pilihan
yang terakhir, tetapi, hal tersebut mulai berubah seiring dengan waktu. Blonde
(2007) menyatakan bahwa terapi insulin intensif pada DM tipe 2 yang baru
terdiagnosa dapat meningkatkan kontrol glukosa darah dalam jangka waktu lama
menurunkan

risiko

mikrovaskular

dan

makrovaskuler,

serta

potensial

meningkatkan fungsi sel pankreas.


Insulin yang disekresikan oleh sel-sel pankreas akan langsung
diinfusikan ke dalam hati melalui vena porta, lalu didistribusikan ke seluruh
tubuh melalui sirkulasi sistemik yang selanjutnya berperan untuk membantu
transpor glukosa dari darah ke dalam sel. Kekurangan insulin menyebabkan
glukosa darah tidak dapat atau terhambat masuk ke dalam sel. Akibatnya,
glukosa darah akan meningkat, dan sebaliknya sel-sel tubuh kekurangan bahan
sumber energi sehingga tidak dapat memproduksi energi sebagaimana
seharusnya (Anonim, 2005 a).
Tabel III. Beberapa Sediaan Insulin di Indonesia
Nama
1. Kerja Cepat
Actrapid
Humulin-R
2. Kerja menengah
Insultard
Humulin N

Awal Kerja
(jam)

Efek Puncak
(jam)

Lama Kerja
(Jam)

0,5-1

0,5-1,5

3-5

2-4
3-4

4-10
4-12

10-16
12-18

22

3. Kerja campur
Mixtard 30
Humulin 30/70
4. Kerja panjang
Lantus

0,5-1

Tidak ada

10-16

2-4

Tidak ada

24

(Soegondo, 2006 a)
2) Terapi Obat Hipoglikemia Oral
Berdasarkan mekanisme kerjanya, obat-obat hipoglikemik oral dapat
dibagi menjadi beberapa golongan, yaitu:
a)

Golongan Sulfonilurea
Sifat perangsangan obat golongan ini berbeda dengan perangsangan

oleh glukosa, karena ketika kondisi hiperglikemia sel pankreas gagal


merangsang sekresi insulin, senyawa-senyawa obat ini masih mampu
meningkatkan sekresi insulin. Oleh sebab itu, obat-obat golongan sulfonilurea
sangat bermanfaat untuk penderita diabetes yang kelenjar pankreasnya masih
mampu memproduksi insulin, tetapi karena sesuatu hal terhambat sekresinya
(Anonim, 2005 a). Obat golongan sulfonilurea be risiko tinggi terjadi
hipoglikemia jika pasien berusia lanjut dan mengalami insufisiensi renal atau
gangguan hati (Triplitt dkk., 2005).
Golongan sulfonilurea terdiri dari 2 agen generasi. Agen generasi
pertama

meliputi klorpropamid, tolbutamid, karbutamid,

asetoxamid,

tolazamid dan glikodiazin. Agen generasi kedua meliputi glibenklamid,


glipizid, glik lazid dan glimepirid (Karam, 2007).

23

(1) Glibenklamid
Cara kerja glibenklamid adalah dengan meningkatkan sekresi insulin
dari sel pankreas, menurunkan glukosa dari hati, dan meningkatkan
sensitifitas insulin di jaringan perifer. Untuk pasien geriatri dosis awalnya
adalah 1,25-5 mg perhari dapat ditingkatkan dengan dosis maksimal yang
dianjurkan 20 mg perhari. Obat golongan tiazid dan beta bloker dapat
menurunkan efektfitas glibenklamid. Sedangkan penggunaan yang bersamaan
dengan golongan obat antikoagulan, salisilat, anti inflamasi non steroid atau
pun MAO inhibitor dapat meningkatkan risiko terjadinya hipoglikemia (Lacy,
Armstrong, Goldman,Lance, 2006).
(2) Glik lazid
Durasi obat ini di dalam tubuh adalah 12 jam untuk itu pemberiannya
cukup 1-2 kali dalam sehari. Dosis awal penggunaannya 40-80 mg sekali
sehari, dosis maksimumnya 320 mg dalam sehari. Obat ini dimetabolisme di
hati dan metabolit dan konjugatnya ini tidak menyebabkan efek hipoglikemia
(Karam, 2007).
(3) Glipizid
Efek maksimumnya mampu menurunkan kadar glukosa post prandial.
Glipizid mempunyai waktu paruh 2-4 jam dengan lama kerjanya 10-16 jam.
Obat ini seharusnya dikonsumsi 30 menit sebelum makan karena jika
bersamaan dengan makanan maka kecepatan absorpsinya dapat tertunda
(Karam, 2007). Dosis awal 2,5-5 mg 30 menit sebelum sarapan. Bila

24

diperlukan ditingkatkan 5 atau 10 mg sampai 3 kali sehari sebelum makan,


maksimal 20 mg sehari (Anonim, 2000).
Obat ini dikontraindikasikan untuk pasien yang memiliki gangguan
hati atau ginjal, memiliki risiko tinggi terhadap hipoglikemia tetapi karena
potensinya lebih rendah dan durasinya lebih singkat maka obat ini lebih baik
digunakan untuk pasien lanjut usia dibandingkan dengan gliburid (Karam,
2007).
(4) Glikuidon.
Dosis awalnya adalah 15 mg sehari, sebelum makan pagi, dapat
ditingkatkan menjadi 45-60 mg sehari terbagi dalam 2 atau 3 dosis. Dosis
maksimal glikuidon dalam sehari adalah 180 mg (Soegondo, 2006 a).
(5) Glimepirid
Obat ini diberikan sekali sehari untuk monoterapi namun dapat juga
dikombinasikan dengan insulin untuk menurunkan kadar glukosa pasien yang
tidak dapat dikontrol hanya dengan diet dan olahraga (Karam, 2007). Dosis
awal untuk pasien usia lanjut yaitu 0,5-1 mg sekali konsumsi dan dosis
maksimalnya 8 mg per hari (Soegondo, Soewondo, Subekti, 2004).
b) Golongan Meglitinida dan Turunan Fenilalanin
Obat golongan glinida ini merupakan obat hipoglikemik generasi baru
yang kerjanya mirip dengan golongan sulfonilurea. Kedua golongan senyawa
hipoglikemik oral ini bekerja meningkatkan sintesis dan sekresi insulin oleh
kelenjar

pankreas.

Umumnya

senyawa

obat

hipoglikemik

golongan

25

meglitinida dan turunan fenilalanin ini dipakai dalam bentuk kombinasi


dengan obat-obat antidiabetik oral lainnya (Carlisle, Kroon, Kimble, 2005).
c) Golongan Biguanida
Obat hipoglikemik oral golongan biguanida bekerja langsung pada hati
dengan menurunkan produksi glukosa hati. Senyawa-senyawa golongan
biguanida tidak merangsang sekresi insulin, dan hampir tidak pernah
menyebabkan hipoglikemia. Satu-satunya senyawa biguanida yang masih
dipakai sebagai obat hipoglikemik oral di United State adalah metformin.
Kerja obat ini adalah meningkatkan sensitivitas insulin pada hati dan jaringan
perifer, sehingga meningkatkan ambilan glukosa (Triplitt dkk., 2005).
Sangat penting untuk memulai dosis dari dosis rendah dan dapat
ditingkatkan secara bertahap digunakan bersama an waktu makan hal ini
dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan saluran pencernaan yang
mungkin dapat terjadi (Karam, 2007). Tablet 500 mg dapat digunakan 3 kali
sehari bersamaan dengan waktu makan, atau 850 mg digunakan 2 kali sehari
namun pada beberapa pasien dapat digunakan 3 kali sehari (Semla, Beizer,
Higbee, 2002)
Monoterapi dengan metformin secara konsisten menurunkan level
HbA1c sebanyak 1,5-1,7% dan level GDP sebesar 50-70 mg/dl. Metformin
juga menurunkan kadar asam lemak bebas, kolesterol total (5-10%), dan
trigliserid plasma (10-20%) dengan sedikit atau tanpa perubahan pada HDL
(Carlisle dkk., 2005).

26

Beberapa obat dapat berinteraksi dengan meformin seperti simetidin,


nifedipin, furosemid, ranitidin, amiloridine, prokainamid yang dapat
meningkatkan efek dari metformin sehingga dapat meningkatkan terjadinya
hipoglikemia (Semla dkk., 2002).
d) Golongan Tiazolidindio n (TDZ)
Golongan obat ini bekerja dengan cara meningkatkan kepekaan tubuh
terhadap insulin dengan mengikat PPAR? (peroxisome proliferator activated
receptor-gamma) yang terutama terdapat pada sel lemak dan sel vaskuler.
Dengan demikian thiazolidindion secara tidak langsung meningkatkan
sensitivitas insulin pada otot, liver, dan jaringan lemak (Triplitt dkk., 2005).
Seperti halnya biguanin, obat golongan ini juga tidak menyebabkan
hipoglikemia. Pioglitazone dan rosiglitazone termasuk dalam obat golongan ini,
kedua obat ini efektif jika digunakan secara tunggal maupun dikombinasikan
dengan golongan sulfonilurea atau metformin atau insulin (Karam, 2007).
e) Golongan Inhibitor a-Glukosidase
Golongan obat ini bekerja dengan cara menghambat enzim alfa
glukosidase yang terdapat di dinding usus halus. Enzim-enzim a-glukosidase
(maltase, isomaltase, glukomaltase dan sukrase) berfungsi untuk menghidrolisis
oligosakarida, pada dinding usus halus. Inhibisi kerja enzim ini secara efektif
dapat mengurangi pencernaan karbohidrat kompleks dan absorbsinya, sehingga
obat dapat mengurangi peningkatan kadar glukosa post prandial pada penderita
Diabetes. Senyawa inhibitor a- glukosidase juga menghambat enzim a-amilase

27

pankreas yang bekerja menghidrolisis polisakarida di dalam lumen usus halus.


Sehingga obat ini hanya mempengaruhi kadar glukosa darah pada waktu makan
dan tidak mempengaruhi kadar glukosa darah setelah itu (Triplitt dkk., 2005).
Akarbose merupakan obat yang termasuk dalam golongan ini, tersedia
dalam tablet 50 mg dan 100 mg. Dosis awal pengunaan dapat dimulai dengan
pemberian 50 mg 3 kali sehari, secara bertahap dapat ditingkatkan hingga 100
mg untuk 3 kali sehari. Obat ini memiliki keuntungan untuk mengatasi
hiperglikemia postprandial, sehingga alangkah baik jika digunakan setelah
suapan pertama saat makan (Karam, 2007).
f)

Golongan Dipeptidyl-peptidase-4 (DPP-4)


DPP 4 inhibitor menurunkan hormon inkretin yang berfungsi

meningkatkan sekresi insulin dan menekan produksi glukagon, sehingga dapat


memperbaiki fungsi keseimbangan antara glukagon dan insulin (AACE, 2007).
DPP 4 menghambat penurunan glukosa darah puasa dan glukosa post prandial.
Obat golongan ini berperan untuk menghambat DPP 4. Pada suatu penelitian,
efektivitas obat golongan ini sebanding dengan obat golongan sulfonilurea dan
metformin. Obat yang termasuk dalam golongan ini adalah vildagliptin,
saxagliptin dan sitagliptin yang digunakan satu kali sehari. Sitagliptin
dieliminasi melalui ginjal, pada pasien yang menderita insufisiensi renal dosis
penggunaannya harus diturunkan (AACE, 2009).
g) Glucagonlike Peptide-1 Agonist (GLP-1)
Obat golongan ini berperan seperti halnya GLP-1 (glucagon- like

Obat golongan ini berperan seperti halnya GLP-1 (glucagon-like


peptide-1). GLP-1 berfungsi untuk memacu sekresi insulin dan menghambat
pelepasan glucagon. Mekanisme aksi penurunan glukosa darah dari obat
golongan ini terjadi secara alami seperti pada hormon inkretin. Aksinya
meliputi memacu produksi insulin, dan merespon peningkatan glukosa darah,
menghambat pelepasan glukagon setelah makan, dan memperlambat absorbsi
makanan. Exenatide merupakan salah satu obat yang termasuk dalam golongan
ini. Exenatide dapat dikombinasikan dengan golongan sulfonilurea, metformin,
dan tiazollidindion.
Tabel IV. Obat Hipoglikemia Oral yang Beredar di Indonesia

Nama
Generik

Nama
Dagang

Dosis
harian
(mg)

Dosis Awal
untuk Elderly
(mg/hari)

1. Sulfonilurea
Klorpropamid
Diabenese
100-500
300
(100-250 mg)
Glibenklamid
2,5-5
Euglucon
(2,5mg-5mg)
Prodiabet
Glipizid
Minidiab
5-20
2,5-5
(5 mg-10mg)
Glucotrol
Glikazid
Diamicron
30-120
(80 mg)
Glucodex
Glikuidon
Glurenorrn
30-120
(30 mg)
Glimepirid
Amaryl
6
0,5-1
(1 mg, 2 mg, 3
Gluvas
mg, 4 mg)
2. Short-Acting Insulin Secretagogues (Glinid)
Nateglinid
Starlix
360
120 dengan
(120 mg)
makanan
Repaglinid
Novonorm
6
0,5-1 dengan
(0,5 mg, 1 mg,
makanan
2 mg)

Dosis
maksimal
(mg/hari)

Lama
kerja
(jam)

500

24-36

12-24

40

10-16

10-20

24

360

16

Nama
Generik
3. Biguanid
Metformin
(500-850mg)

Nama
Dagang

Dosis
harian
(mg)

Glucopaghe 250-3000
Diabex
Neodipar
4. Thiazolindione/ Glitazon
Pioglitazon
Actos
15-30
(15 mg- 30
mg)
5. Penghambat -glukosidase25 mg
Acarbose
Glucobay
50-300
(50-100 mg)

Dosis Awal
untuk Elderly
(mg/hari)

Dosis
maksimal
(mg/hari)

Lama
kerja
(jam)

1000

2550

6-8

15

45

24

75

300

12-24

(Soegondo, dkk., 2004 dan Semla dkk., 2002)

b. Terapi kombinasi
Pemberian obat hipoglikemia oral (OHO) maupun insulin selalu dimulai dengan dosis
rendah, untuk kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai dengan respon kadar
glokosa darah. Terapi dengan OHO kombinasi, dipilih berdasarkan dua macam obat
dari kelompok yang mempunyai mekanisme kerja berbeda. Bila sasaran kadar
glukosa darah belum tercapai, dapat pula diberikan kombinasi tiga OHO dari
kelompok yang berbeda atau kombinasi OHO dengan insulin. Pada pasien dengan
alasan klinik di mana insulin tidak memungkinkan untuk dipakai, dipilih terapi
dengan kombinasi tiga OHO. Bila kadar glukosa darah sepanjang hari masih tidak
dapat terkendali, maka OHO dihentikan dan diberikan insulin saja. Untuk kombinasi
OHO dan insulin, yang banyak dipergunakan adalah kombinasi OHO dengan insulin
basal (insulin kerja sedang/panjang) yang diberikan pada malam hari menjelang tidur.

30

Dengan pendekatan terapi tersebut pada umumnya dapat memperoleh kendali glukosa
darah yang baik dengan dosis insulin yang cukup kecil (Soegondo, 2006 a).

C. Geriatri
Istilah geriatri berasal dari geros yang artiny usia lanjut dan iateria yg artinya
merawat. Pada usia ini terjadi proses menua yang akan mengakib atkan timbulnya
beberapa perubahan fisiologi, anatomi, psikologi dan sosiologi. Keadaan ini
cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan (Darmojo dan Martono,
2004).
Menurut WHO, geriatri diklasifikasikan menjadi 3 kelompok yaitu lansia
(elderly) dengan kisaran usia 60-75 tahun, tua (old ) dengan kisaran usia 75-90, dan
sangat tua (very old) dengan kisaran usia lebih dari 90 tahun (Laksmiarti dan
Maryam, 2002).
Proses menua dapat mempengaruhi farmakokinetik dan farmakodinamik obat
di dalam tubuh. Proses farmakokinetik meliputi absorbsi, distribusi, metabolisme dan
ekskresi, sedangkan proses farmakodinamik berupa antaraksi obat dengan reseptor.
Salah satu organ yang mengalami penurunan fungsi yaitu ginjal yang merupakan jalur
utama ekskresi mengalami perubahan saluran ginjal (laju filtrasi glomeruler)
akibatnya waktu paruh eliminasi obat dapat lebih lama berada dalam tubuh. Hal ini
memungkinkan perpanjangan kinerja farmakologi dan toksikologi obat (Donatus,
1999). Maka dianjurkan untuk pemilihan obat hipoglikemia yang tepat dan
pemberian dosis yang disesuaikan dengan kondisi pasien geriatri (Rochmah, 2006).

31

D. Keterangan Empiris
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran evaluasi Drug Therapy
Problems obat hipoglikemia kombinasi pada pasien geriatri Diabetes Mellitus tipe 2
di instalasi rawat jalan RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Januari-Juni 2009.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian


Penelitian mengenai evaluasi Drug Therapy Problems obat hipoglikemia
kombinasi pada pasien geriatri DM tipe 2 di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr Sardjito
Yogyakarta periode Januari-Juni 2009 merupakan jenis penelitian non eksperimental
dengan rancangan penelitian deskriptif evaluatif yang bersifat retrospektif. Penelitian
ini bersifat non eksperimental karena tidak ada perlakuan pada subyek penelitian
(Pratiknya, 2001). Rancangan penelitian deskriptif ini karena data yang diperoleh
kemudian dievaluasi berdasarkan studi pustaka dan dideskripsikan dengan
memaparkan fenomena yang terjadi, yang ditampilkan dalam bentuk tabel dan
gambar. Penelitian ini bersifat retrospektif karena data yang digunakan dalam
penelitian ini diambil dengan melakukan penelusuran dokumen terdahulu, yaitu pada
lembar rekam medik pasien geriatri DM tipe 2 di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr
Sardjito Yogyakarta periode Januari-Juni 2009.

B. Definisi Operasional Variabel


1. Geriatri adalah pasien yang berusia lebih atau sama dengan 60 tahun.
2. Rekam medik merupakan lembar catatan dokter dan perawat yang berisi data
laboratorium, data klinis serta perkembangan kondisi pasien geriatri DM tipe 2
yang menerima terapi obat hipoglikemia kombinasi di Instalasi Rawat Jalan RSUP
32

33

Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Januari-Juni 2009.


3. Drug Therapy Problems yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah butuh
tambahan obat, obat tanpa indikasi, salah obat, dosis terlalu rendah, adverse drug
reaction dan dosis terlalu tinggi.
4. Kelas terapi obat adalah kelompok besar obat yang terdiri dari beberapa golongan
obat yang mempunyai sasaran pengobatan yang sama, dikelompokkan berdasarkan
formularium RSUP Dr. Sardijito tahun 2009.

C. Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah pasien rawat jalan poliklinik geriatri RSUP Dr.
Sardjito Yogyakarta yang memenuhi kriteria inklusi meliputi pasien geriatri yang
berusia 60 tahun atau lebih dengan diagnosa utama Diabetes Mellitus tipe 2, memiliki
data laboratorium terutama data glukosa darah (GDP/2JPP) dan menggunakan
kombinasi 2 atau lebih obat hipoglikemia oral dan obat hipoglikemi kombinasi
dengan insulin.
Jumlah pasien DM tipe 2 di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr Sardjito
Yogyakarta periode Januari-Juni 2009 adalah sebanyak 185 pasien, di mana yang
memenuhi kriteria inklusi sebanyak 26 pasien.

D. Bahan Penelitian
Alat yang diperlukan berupa lembar pengumpulan data, alat tulis untuk
menulis data secara langsung, buku pedoman dan guideline pengobatan Diabetes

34

Mellitus seperti Pharmacotherapy, Informatorium Obat Nasional (IONI), dan


Informasi Spesialite Obat (ISO), Guidelines for Clinical Practice for The
Management of Diabetes Mellitus, Standard of Medical Care in Diabetes-2009; buku
pedoman interaksi obat dan perhitungan dosis meliputi Geriatric Dosage Handbook,
Drug Informatorium Handbook, Drug Interaction Fact.
Bahan yang digunakan adalah kartu rekam medik pasien yang mencakup data
pasien, data obat, riwayat penyakit, kondisi pasien dan data laboratorium pasien.
Kartu rekam medik merupakan informasi sekaligus sarana komunikasi yang
dibutuhkan pasien, maupun pelayanan kesehatan dan pihak terkait untuk
mempertimbangkan dalam menentukan suatu kebijakan tatalaksanan atau tindakan
medik. Rekam medik memuat informasi karakteristik demografi pasien, tanggal
kunjung, tanggal rawat, tanggal selesai rawat, riwayat penyakit riwayat pengobatan,
catatan anamnesis, gejala klinik yang diobservasi, pemeriksaan lain, catatan
diagnosis, dan paraf dokter yang menangani, dan petugas perekam medik.

E. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Instalasi Catatan Medis RSUP Dr Sardjito Yogyakarta
yang terletak di Jalan Kesehatan No. 1 Sekip Yogyakarta.

F. Tata Cara Penelitian


Penelitian mengenai Evaluasi Drug Therapy Problems Obat hipoglikemia
kombinasi pada pasien geriatri penderita DM tipe 2 di Instalasi Rawat Jalan di RSUP

35

Dr Sardjito Yogyakarta periode Januari-Juni 2009 dilakukan dalam beberapa tahap :


1. Persiapan
Tahap ini dilakukan pada bulan Agustus hingga Oktober 2009. Pada tahap awal
penelitian ini, peneliti mencari pustaka yang berkaitan dengan penelitian yang akan
dilakukan. Setelah proposal disusun, kemudian surat ijin penelitian diajukan kepada
pihak fakultas dan ditandatangani oleh Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata
Dharma. Selanjutnya proposal dan surat tersebut disampaikan kepada Direktur RSUP
Dr. Sardjito Yogyakarta untuk dapat melakukan penelitian dengan tembusan kepada
Kepala Bagian Pendidikan dan Penelitian. Setelah mendapat ijin, maka peneliti
mengajukan permohonan untuk mendapatkan keterangan kelaikan etik (Ethical
Clearance) kepada kepala Komisi Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan di
Departemen Pendidikan Nasional Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.
Setelah mendapatkan keterangan kelaikan etik (Ethical Clearance), peneliti kembali
ke bagian pendidikan dan penelitian RSUP Dr Sardjito Yogyakarta untuk
menyelesaikan administrasi.
2. Pengambilan data
Tahap pengambilan data dilakukan beberapa proses, yaitu :
a.

Penelusuran dan pengumpulan data


Proses ini dilakukan dengan cara melihat data di bagian Instalasi Catatan

Medis yang memuat laporan jenis penyakit pasien rawat jalan. Berdasarkan laporan
tersebut, kita dapat mencatat nomor rekam medik, umur, jenis kelamin, anamnesis,
diagnosis, hasil pemeriksaan fisik maupun laboratorium pasien, golongan dan jenis

36

obat, jumlah obat, bentuk sediaan, aturan pakai obat.


b.

Pencatatan data
Dari proses penelusuran data diketahui bahwa jumlah pasien geriatri penderita

DM tipe 2 di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr Sardjito Yogyakarta periode JanuariJuni 2009 adalah sebanyak 185 pasien, di mana yang memenuhi kriteria inklusi
sebanyak 26 pasien. Maka proses selanjutnya ialah pencatatan data 26 pasien
tersebut. Data yang diambil adalah nomor rekam medik, umur, jenis kelamin,
anamnesis, diagnosis, hasil pemeriksaan laboratorium pasien, golongan dan jenis
obat, jumlah obat, dan aturan pakai obat.
3.

Pengolahan data
Pengolahan data dilakukan secara deskriptif dengan mengelompokkan pasien
berdasarkan usia, jenis kelamin, penyakit komplikasi, penyakit penyerta dan
mengelompokkan obat yang digunakan dalam pengobatan Diabetes Mellitus tipe
2 berdasarkan kelas terapi, golongan obat, jenis obat, jumlah obat dan
menganalisis terjadinya DTPs. Evaluasi DTPs dilakukan per pasien dengan
menggunakan referensi Geriatric Dosage Handbook, Drug Interaction Fact,
Drug Information Handbook, Stockleys Drug Interaction, Informatorium Obat
Nasional Indonesia, Informatorium Standar Obat, Standar of Medical Care in
Diabetes 2009, AACE Guidelines.

37

G.

Tata Cara Analisis Hasil

Data dibahas secara deskriptif evaluatif dalam bentuk tabel dan gambar
1.

Karakteristik Pasien
a. Persentase jenis kelamin pasien geriatri penderita DM tipe 2 dihitung
dengan cara menghitung jumlah pasien berdasarkan jenis kelamin dibagi
dengan jumlah pasien yang dianalisis kemudian dikalikan 100%
b. Persentase umur pasien pasien geriatri penderita DM tipe 2 dikelompokkan
menjadi 3 kelompok umur yaitu : 60-75 tahun, 76-90 tahun, > 90 tahun.
Masing-masing dibagi dengan jumlah pasien yang dianalisis kemudian
dikalikan 100%.
c. Persentase jenis penyakit komplikasi pasien geriatri penderita DM tipe 2
dihitung dengan cara menghitung jumlah pasien berdasarkan jenis penyakit
komplikasi dibagi dengan jumlah kasus yang dianalisis kemudian dikalikan
100%.
d. Persentase jenis penyakit penyerta pasien geriatri penderita DM tipe 2
dihitung dengan cara menghitung jumlah pasien berdasarkan jenis penyakit
penyerta dibagi dengan jumlah pasien yang dianalisis kemudian dikalikan
100%

2.

Profil Obat
Pengelompokan kelas terapi pada profil obat menggunakan Standar
Pelayanan Medis RSUP Dr. Sardjito dan Informatorium Obat Nasional
(IONI). Persentase kelas terapi obat dihitung berdasarkan jumlah pasien yang

37

menggunakan kelas terapi obat tertentu dibagi jumlah pasien yang dianalisis
dan dikalikan 100%.
3.

Evaluasi Drug Therapy Problems


Mengevaluasi kerasionalan terapi berdasarkan Drug Therapy Problem
dengan metode SOAP secara per kasus :
a. menentukan subyek
b. menentukan obyek
c. menentukan assessment meliputi : butuh obat hipoglikemia, tidak perlu
obat hipoglikemia, obat hipoglikemia yang diberikan tidak sesuai dengan
indikasi, pasien mendapat dosis obat hipoglikemia yang kurang, mengalami
Adverse Drug Reaction, dosis obat yang diterima pasien terlalu tinggi.
d. menentukan plan/ rekomendasi

H.

Kesulitan Penelitian

Proses pengambilan data untuk evaluasi Drug Therapy Problems obat


hipoglikemia kombinasi pada pasien geriatri DM tipe 2 di Instalasi Rawat Jalan
RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Januari-Juni 2009 yang dilakukan di unit
rekam medik mengalami beberapa kesulitan meliputi :
1.

Belum terdapat rekam tahunan, maka peneliti harus membuka semua data rekam
medis pasien geriatri yang didiagnosa DM tipe 2 baru kemudian diambil yang
sesuai dengan kriteria inklusi penelitian.

39

2.

Beberapa data tidak dapat ditemukan karena ada beberapa dokter yang tidak
menulis rekam medik pasien. Selain itu ada beberapa rekam medik yang tidak
tertulis lengkap misalnya diagnosis, terapi yang diberikan serta data
laboratoriumnya. Hal tersebut diatasi dengan memasukkan ke daftar subyek
eksklusi.

3.

Kesulitan dalam membaca beberapa tulisan yang ada di rekam medik. Usaha
yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut, maka peneliti menanyakan kepada
beberapa pihak yang mengerti seperti petugas rekam medik atau dokter yang
kebetulan juga sedang mengadakan penelitian.

4.

Selain itu tidak adanya catatan keluhan pasien, di mana hal ini sangat berguna
bagi evaluasi DTPs yang mungkin terjadi. Hal tersebut diatasi dengan
menentukan DTPs pada penelitian ini bersifat aktual dan potensial.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penelitian mengenai Evaluasi Drug Therapy Problems Obat Hipoglikemia


Kombinasi pada Pasien Geriatri DM Tipe 2 di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr.
Sardjito Yogyakarta Periode Januari-Juni 2009 dilakukan dengan penelusuran data
rekam medik. Berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditentukan maka diperoleh 26
pasien sebagai subyek penelitian.
Hasil dan pembahasan penelitian ini dibagi menjadi 3 bagian. Bagian
pertama berisi karakteristik pasien ditinjau dari jenis kelamin, usia, penyakit
komplikasi dan penyakit penyerta yang dialami oleh pasien. Bagian kedua yaitu
menggambarkan profil obat meliputi kelas terapi, golongan dan jenis obat yang
digunakan untuk mengatasi penyakit yang dialami oleh pasien. Dan bagian yang
ketiga berupa evaluasi DTPs yang bersifat aktual dan atau potensial yang
dikemukakan oleh peneliti.
A. Karakteristik Pasien
Di bawah ini akan dideskripsikan karakteristik pasien menurut jenis
kelamin, usia, penyakit komplikasi dan penyakit penyerta.
1.

Berdasarkan jenis kelamin


Deskripsi jenis kelamin diperlukan untuk mengetahui ada tidaknya

dominasi antara pasien laki-laki dan perempuan. Dari data yang diperoleh, jumlah
pasien rawat jalan yang terdiagnosa Diabetes tipe 2 yang mendapat terapi obat

40

41

hipoglikemia kombinasi di RSUP Dr. Sardjito periode Januari-Juni 2009 adalah 26


pasien dengan perbandingan laki-laki sebanyak 11 pasien (42,3 %) dan perempuan
sebanyak 15 pasien (57,7%).

Gambar 2. Persentase Karakteristik Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin


Adanya perbedaan jumlah antara pasien laki-laki dan perempuan tidak
menandakan bahwa perempuan lebih berisiko menderita DM dikarenakan jenis
kelamin bukanlah suatu faktor risiko terjadinya DM. Risiko terjadinya DM pada
perempuan adalah sama yang terjadi pada laki-laki (ADA, 2009).
2.

Berdasarkan kelompok usia


Pengelompokan pasien berdasarkan usia dilakukan untuk mengetahui

karakteristik usia pasien geriatri yang terdiagnosis DM tipe 2 yang mendapat terapi
obat hipoglikemia kombinasi. Menurut WHO, pembagian terhadap populasi geriatri
meliputi 3 kelompok yaitu lansia (elderly) dengan kisaran usia 60-75 tahun, tua (old)

42

dengan kisaran usia 75-90, dan sangat tua (very old) dengan kisaran usia lebih dari 90
tahun (Laksmiarti dan Maryam, 2002).

Gambar 3. Persentase Karakteristik Pasien Berdasarkan Usia


Gambar tersebut menunjukkan bahwa jumlah penderita DM yang paling
banyak adalah pada usia lansia (elderly) sebanyak 19 pasien (73,1%), selebihnya
pada usia tua (old) sebanyak 7 pasien (27,9%) dan tidak terdapat pasien dengan usia
lebih dari 90 tahun. Hal ini mungkin dikarenakan pada saat penelitian ini jumlah
pasien yang menjalani di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr. Sardjito sebagian besar
ialah pasien usia lansia yaitu antara 60-75 tahun.
3.

Berdasarkan penyakit komplikasi


Komplikasi adalah penyakit yang menyertai DM tipe 2 terkait dengan

komplikasi mikrovaskuler

dan makrovaskuler. Komplikasi ini muncul seiring

dengan kondisi pasien yang semakin parah. Beberapa pasien mungkin saja dapat
menderita bermacam-macam komplikasi. Hal tersebut tergantung dari pengendalian
serta keberhasilan terapi yang dijalani. Semakin rendah kesadaran pasien untuk

43

memperhatikan kondisi kesehatan terutama dalam hal menjaga kestabilan glukosa


darahnya, maka semakin tinggi pula risiko pasien tersebut mengidap penyakit
komplikasi.
Tabel V. Jenis dan Persentase Komplikasi
No

Jenis komplikasi

1.

Hipertensi

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Dislipidemia
IHD (Ischemic Heart Disease)
HHD (Hipertensive Heart Disease)
APS (Angina Pektoris)
AKD (Acute Kidney Disease)
CKD (Chronic Kidney Disease)
Insufisiensi Renal
Neuropati

No Pasien
1,2,3,5,6,7,8,9,10,
11,12,13,14,15,16
,17,18,19,20,21,
22,24,25,26
1,2,3,17,19,23,25
6
7,10,14,17
1
12
12
1,19
18

Jumlah
pasien
24

Persentase
(%)
92,3

7
1
4
1
1
1
2
1

26,9
3,8
15,4
3,8
3,8
3,8
7,7
3,8

Berdasarkan data yang diambil, penyakit komplikasi yang terbanyak


diderita pasien adalah hipertensi sebesar 92,3% . Proses terjadinya DM komplikasi
hipertensi adalah saat kadar glukosa darah yang terlalu banyak akan menyebabkan
cairan ekstraselular menjadi lebih pekat karena glukosa darah tidak mudah berdifusi
melalui pori-pori membran sehingga menarik cairan dari dalam sel dan
menyebabkan volume cairan menjadi bertambah. Kenaikan volume cairan ini akan
meningkatkan cardiac output sehingga pada akhirnya akan meningkatkan tekanan
darah pasien. Hipertensi memiliki kemungkinan dua kali lebih besar terjadi pada
pasien diabetes dari pada pasien non diabetes, di mana patogenesis terjadinya
komplikasi terkait dengan resistensi terhadap insulin dan hiperinsulinnemia. Untuk

44

itu perlu dilakukan manajemen terapi untuk mengurangi risiko (Guyton dan Hall,
1996).
4.

Berdasarkan penyakit penyerta


Pasien DM tipe 2 yang menjalani rawat jalan mengalami keluhan yang

dirasakan sangat mengganggu. Selain keluhan akibat penyakit DM dan komplikasi


yang dialami, ada beberapa yang mengeluh akibat penyakit penyerta yang
dialaminya seperti gangguan saluran pernapasan, gangguan saluran pencernaan,
gangguan otot skelet dan sendi serta penyakit penyerta lain. Pada penelitian ini yang
disertai penyakit penyerta sebanyak 14 pasien (53,6%,), sedangkan yang tidak
disertai penyakit penyerta sebanyak 12 pasien (46,4%). Dari data penyakit penyerta
yang paling banyak diderita adalah osteoatritis sebanyak 5 pasien (19,2 %).
Tabel VI. Jenis dan Persentase Penyakit Penyerta
No

Penyakit Penyerta

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

Athralgia
Asma
Benign Prostat Hipertropi
Dermatitis alergi
Digitate Pedis
Dispepsia
Gastropati
Hiperuremia
Konstipasi
Low back pain (LBP)
Osteoartritis
Pneumonia
Vertigo

Jumlah
Pasien
(n=26)
1
3
1
1
1
2
1
1
1
1
5
1
1

Persentase
(%)
3,8
11,5
3,8
3,8
3,8
7,7
3,8
3,8
3,8
3,8
19,2
3,8
3,8

45

B. Profil Obat
Kelas terapi obat adalah kelompok obat yang terdiri atas beberapa
golongan obat yang mempunyai tujuan pengobatan yang sama yang diberikan kepada
pasien, baik obat hipoglikemia maupun obat lain yang digunakan untuk mengobati
penyakit komplikasi dan penyerta yang diderita.

Gambar 4. Distribusi Penggunaan Obat Berdasarkan Kelas Terapi


Penggolongan kelas terapi obat dilakukan berdasarkan formularium RSUP
Dr. Sardjito tahun 2009 hal ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi rumah
sakit tentang profil obat yang digunakan untuk menangani pasien geriatri DM tipe 2
di Instalasi Rawat Jalan rumah sakit tersebut. Dari gambar di atas dapat diketahui
bahwa obat hipoglikemia digunakan oleh semua pasien. Obat kardiovaskuler berada
diurutan kedua dari kelas terapi yang banyak digunakan. Obat kardiovaskuler
digunakan untuk menangani penyakit komplikasi yang diderita oleh beberapa pasien.

46

Penggolongan obat pada pasien geriatri penderita DM tipe 2 yang


mendapat obat hipoglikemia kombinasi ini terdiri dari 11 kelas terapi meliputi :
a.

Obat Susunan Saraf


Obat susunan saraf terdiri dari beberapa golongan yaitu analgesik narkotik,

anestetik lokal atau regional, anti inflamasi nonsteroid dan antipirai, anti migren, anti
parkinson, anti psikotik, anti vertigo, obat miastenia gravis, obat tonus, otot rangka,
dan pelumpuh otot. Tidak semua penggunaan golongan tersebut ditemukan pada
penelitian ini, hanya beberapa obat tertentu saja seperti obat analgetik narkotik, dan
psikofarmaka. Kelompok antiinflamasi non steroid, antipirai adalah obat untuk
penyakit reumatik dan gout. Obat rematik diperlukan untuk pasien DM yang telah
lanjut karena lapisan pelindung persendian yang menghalangi terjadinya gesekan
dengan tulang sudah menipis dan cairan tulang sudah mengental, menyebabkan tubuh
menjadi kaku dan sakit saat digerakkan.
Obat yang banyak digunakan adalah meloksikam yang diindikasikan untuk
menangani nyeri dan radang, gangguan otot skelet dan osteoatritis. Pada penelitian ini
obat meloksikam terutama digunakan untuk menangani penyakit osteoatritis yang
merupakan penyakit penyerta yang paling banyak diderita oleh pasien geriatri
penderita DM tipe 2. Pasien usia lanjut memiliki kerentaan terhadap efek samping
obat golongan AINS yaitu gangguan saluran cerna, untuk itu diperlukan pemantauan
yang lebih (Anonim, 2000).

47

Tabel VII. Penggunaan Kelas Terapi Sistem Obat Saraf Pusat


No
1.

2.

Golongan
Obat
Analgetik
narkotik

Psikofarmaka

Kelompok
Analgesik non
opioid
Anti Inflamasi
non steroid,
antipirai
Anti ansietas
dan anti
insomnia
Anti depresi
dan anti mania
Anti vertigo

Nama
Generik
asam salisilat
allopurinol
meloksikam

diazepam
alprazolam
loprazolam
amitriptiline
betahistine
mesylate

No
Pasien
1,3,6,
11
6,12
2,6,7,
11,24,
26
24
8
12
18

Jumlah
Pasien
4

19

Persentase
(%)

2
6
50%
1
1
1
1

Beberapa obat golongan psikofarmaka digunakan oleh subyek penelitian ini.


Psikofarmaka terutama hipnotik dan ansiolitik berfungsi dalam membantu pasien
tertidur serta mengatasi kecemasan akibat stres dengan mekanisme meningkatkan
neurotrasmiter GABA (Gama Amino Butyric Acid), suatu neurotransmiter
penghambat yang penting di sistem saraf pusat (Anonim, 2000). Sedangkan
amitriptiline yang termasuk dalam golongan anti depresi dan anti mania dalam dosis
pemberiannya berfungsi untuk mengatasi neuropati yang dialami oleh pasien.
b.

Obat Kardiovaskuler
Penggunaan obat kardiovaskuler yang paling banyak digunakan oleh

pasien adalah golongan obat antihipertensi yaitu kelompok Angiotensin Receptor


Blockers (ARBs) yaitu valsartan sebesar 50% dari 26 pasien.

48

Valsartan menurunkan tekanan darah dengan cara menghambat


angitensin II agar tidak bertemu dengan reseptor (AT1), yang terletak pada kelenjar
adrenal yang dapat mensekresikan aldosteron. Aldosteron ini yang menyebabkan
reabsorbsi sodium dan cairan dari ginjal sehingga terjadi peningkatan volume plasma
dan mengakibatkan tekanan darah menjadi naik. Penggunaan obat golongan anti
hipertensi cukup banyak, hal ini sesuai seperti yang digambarkan pada karakteristik
subyek penelitian berdasarkan penyakit komplikasi yang paling banyak diderita yaitu
penyakit hipertensi.
Tabel VIII. Penggunaan Kelas Terapi Obat Kardiovaskuler
No
1.

Golongan
Obat
Anti
Hipertensi

Kelompok
Angiotensin
Reseptor
Blockers
blocker
ACE inhibitor
Blocker
Antagonis
Kalsium
Diuretik

2.

c.

Anti Angina

Nama Generik
valsartan

tertrazosin
hidroklorida
kaptopril
lisinopril
bisoprolol
amlodipine
besylate
hidroklortiazid

CCB

nifedipin

Nitrat

isosorbit dinitrat

No
Pasien
1,2,7,8,10
12,13,14,
16,18,20,
22,26
1

Jumlah
Pasien
13

5
9,15,25
1,21
10,15,21

1
3
2
3

1,2,5,12,2
2
1,2,5,6,7,
11,24
1,6,11,17

Persentase
(%)

1
84,6 %

6
4

Obat Saluran Pernapasan


Terdapat 2 golongan obat yang digunakan pada kelas terapi obat saluran

pernapasan ini yaitu anti asma dan ekspektoran. Obat saluran pernapasan terutama

49

asma, digunakan untuk mengatasi penyakit asma yang menyertai perjalanan penyakit
pasien. Fenoterol merupakan salah satu obat asma yang digunakan, obat ini berperan
sebagai bronkodilator. Bronkodilator digunakan untuk melegakan jalan napas
sehingga dapat mengurangi gejala sesak napas. Obat ekspektoran digunakan untuk
mengurangi batuk berdahak yang dialami oleh pasien (Anonim,2000).
Tabel IX. Penggunaan Kelas Terapi Obat Saluran Pernapasan
No
1.

2.

d.

Golongan
Obat
Anti Asma

Ekspektoran

Nama Generik
teofilin
fenoterol HBr
salbutamol
obat batuk hitam
gliseril guaiakolat

No
Pasien
8
8
8,9
12,14
8

Jumlah
Pasien
1
1
2
2
1

Persentase
(%)

15,4

Obat Saluran Cerna


Obat saluran cerna yang digunakan dalam penelitian ini adalah obat

antitukak dan pencahar. Obat-obat tersebut digunakan untuk mengatasi efek samping
yang ditimbulkan dari penggunaan obat hipoglikemia dan obat anti inflamasi non
steroid (AINS) yang digunakan oleh pasien selain itu juga digunakan untuk
mengatasi dispepsia dan konstipasi yang dialami oleh pasien.
Tabel X. Penggunaan Kelas Terapi Obat Saluran Cerna
No
1.

Golongan
Obat
Anti
Tukak

Pencahar

Kelompok
Antagonis
Histamin H2
Menghambat
pompa
proton

Nama
Generik
ranitidin

No
Pasien
1,6,8,9

Jumlah
Pasien
4

Persentase
(%)

omeprazol

17

26,9

fenolftalein

7,24

50

Obat kelompok antagonis histamin H2 yaitu ranitidin digunakan oleh


beberapa pasien pada penelitian ini yakni sebesar 3 pasien. Mekanisme kerja ranitidin
yaitu menghambat reseptor histamin H2 yang terdapat di lambung akibatnya sekresi
asam lambung menjadi terhambat, volume asam lambung dan ion hidrogen dapat
berkurang (Lacy dkk., 2006). Dengan begitu diharapkan obat ini dapat menangani
dispepsia dan efek samping AINS.
e. Obat Anti Alergi
Obat anti alergi yaitu loratadin diindikasikan untuk gejala alergi hay fever
dan urtikaria. Sedangkan kortikosteroid digunakan karena efektif untuk asma dengan
cara mengurangi inflamasi pada mukosa bronkus dengan mengurangi edema dan
sekresi mukus pada saluran napas (Anonim,2000).
Tabel XI. Penggunaan Kelas Terapi Anti Alergi
No
1.
2.

Golongan
Obat
Anti Histamin
Kortikosteroid

Kelompok
Anti histamin
non sedative
Glukokorikoid

Nama
Generik
Loratadin

No
Pasien
25

Jumlah
pasien
1

Persentase
(%)
11,5

budesonide

8,9

f. Cairan untuk Keseimbangan Air, Elektrolit, Dialisis dan Nutrisi


Obat yang digunakan dalam kelas terapi ini adalah kalsium karbonat (CaCO3)
yang diberikan dalam bentuk sediaan tablet. Pada pasien yang mengalami gangguan
ginjal akan mengalami gangguan ekskresi ion H+ sehingga dapat menyebabkan
asidosis sistemik dengan penurunan pH plasma dan darah. Tablet kalsium karbonat

51

diberikan pada pasien yang mengalami insufisiensi renal untuk mengatasi risiko
asidosis yang dapat terjadi.
Tabel XII. Penggunaan Kelas Terapi untuk Keseimbangan Air, Elektrolit,
Dialisis dan Nutrisi
No

g.

Golongan
Obat
Elektrolit

Kelompok
kalsium
karbonat

Nama
Generik
CaCO3

No
Pasien
1,12,22

Jumlah
Pasien
3

Persentase
(%)
11,5%

Obat Anti Diabetik


Obat hipoglikemia adalah obat yang digunakan untuk menurunkan kadar

glukosa darah yang tinggi karena glukosa dalam darah tidak dapat masuk ke dalam
jaringan dan akibat dari defisiensi produksi insulin.
Obat yang mempunyai persentase tertinggi dari pemakaian obat antidiabetik
adalah golongan biguanida yaitu metformin dan golongan glukosidase inhibitor
yaitu akarbose. Metformin mendorong sensitivitas insulin di jaringan perifer dan
menurunkan glukogenesis hati (Semla,2002). Risiko terhadap terjadinya hipoglikemi
sangat kecil pada penggunaan obat ini, dengan alasan tersebut maka metformin
digunakan sebagai pilihan pertama dalam penanganan DM tipe 2 yang diderita oleh
pasien geriatri.
Tabel XIII. Penggunaan Kelas Terapi Obat Anti Diabetik
No
1

Golongan
Obat
Anti Diabetik
Parenteral

Kelompok

campuran

tunggal

Nama Generik
30% soluble insulin
& 70% NPH
Regular soluble
human insulin
aspart 30% + aspartprotamine
insulin glargine

No
Pasien
1,3,7,12,
13
4,20

Jumlah
Pasien
5

Persentase
(%)

100

12,13,25

20

52

No
2

Golongan
Obat
Anti Diabetik
Oral

Kelompok

Nama Generik

Sulfonilurea

glikuidon 30 mg
glikazid 80 mg

Biguanida

glipizide 5 mg
glimepirid 2 mg
metformin 500 mg

metformin 850 mg

glukosidase
inhibitor

akarbose 100 mg

No
Pasien
1,4,5,10,
15,16
2,6,8,9,
14,18,19
,22,26
23
21
2,3,7,8,9
,10,11,
13,14,16
,17,18,
20,21,24
4,5,6,19
1,8,9,11,
12,15,16
17,18,19
20,22,23
,24,25,
26

Jumlah
Pasien
5

Persentase
(%)

1
1
15

100

5
15

Golongan glukosidase inhibitor bekerja dengan cara menghambat enzim


glukosidase yang terdapat di dinding usus halus. Enzim-enzim -glukosidase
(maltase, isomaltase, glukomaltase dan sukrase) berfungsi untuk menghidrolisis
oligosakarida, pada dinding usus halus. Inhibisi kerja enzim ini secara efektif dapat
mengurangi pencernaan karbohidrat kompleks dan absorbsinya, sehingga dapat
mengurangi peningkatan kadar glukosa post prandial pada penderita Diabetes
(Triplitt, dkk., 2005).
Obat ini menjadi pilihan karena memiliki risiko hipoglikemia yang rendah
jika diberikan secara tunggal.

Untuk terapi kombinasi pada pasien usia lanjut,

beberapa diabetologist menggunakan golongan ini sebagai fist-line karena dipercaya


aman dan manjur (Chehade, 2001). Pada penelitian ini akarbose dikombinasikan

53

dengan obat hipoglikemia lain seperti golongan sulfonilurea, biguanida, maupun


insulin. Jika penggunaannya tepat maka dapat menghasilkan efek yang diinginkan
yaitu pencapaian target terapi.
Berikut ini menggambarkan pola penggunaan obat hipoglikemia yang terdiri
atas 2 atau 3 kombinasi obat hipoglikemia oral atau bersama dengan insulin.
Kombinasi golongan obat hipoglikemia yang berbeda mekanisme diharapkan
menghasilkan efek terapi yang berpengaruh baik pada pencapaian target terapi.
Tabel XIV. Penggunaan Obat Hipoglikemia Kombinasi
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

Jenis Kombinasi
akarbose + glikuidon
akarbose + gliklazid
akarbose + glipizide
akarbose + insulin
akarbose + metformin
akarbose+ metformin + glikuidon
akarbose +metformin +insulin
metformin +insulin
metformin + glimepiride
metformin +glikuidon+insulin
metfomin + glikuidon
metformin + gliklazid
metformin + gliklazid + akarbose

No Pasien
1,15,
22,25,26
23
1,12,
11,17,24
16
20
3,7,13
21
4
5,10
2,6,14
8,9,18,19

Jumlah
pasien
2
3
1
2
3
1
1
3
1
1
2
3
4

Persentase
(%)
7,7
7,7
3,8
7,7
11,5
3,8
3,8
11,5
3,8
3,8
7,7
11,5
15,4

Terlihat bahwa kombinasi yang paling banyak digunakan adalah kombinasi 3


obat hipoglikemia oral yaitu metformin, akarbose dan gliklazid. Metformin
digunakan sebagai terapi dasar karena obat berperan mendorong sensitivitas insulin
dan aman untuk digunakan karena risiko terhadap hipoglikemianya rendah. Golongan

54

glukosidase inhibitor yaitu karbose digunakan sebagai komponen kedua yang aman
digunakan dan manjur jika dikombinasikan dengan metformin (AACE, 2009).
Belum terdapat bukti yang menyatakan suatu kombinasi tertentu dengan agen
tertentu lebih efektif dalam menurunkan kadar kadar gula darah atau lebih efektif
dalam mencegah berkembangnya komplikasi. Pada prakteknya, penentuan kombinasi
sebaiknya dipakai harus didasarkan pada kriteria spesifik pasien (Inzucci, 2002).
RSUP Dr. Sardjito merupakan rumah sakit yang dijadikan rujukan dari
beberapa rumah sakit di Yogyakarta maupun Jawa Tengah di mana mayoritas
pasiennya adalah pasien anggota asuransi kesehatan (ASKES) dan keluarga miskin.
Beberapa obat dimasukkan dalam Daftar Plafon Harga Obat (DPHO) yang nantinya
obat dimasukkan dalam klaim dari perusahan asuransi. Dari penelitian ini terlihat
pada terapi kombinasi yang diberikan tidak terdapat golongan thiazolidinedion dan
meglitinid hal ini mungkin disebabkan karena obat golongan tersebut termasuk obat
yang mahal sehingga tidak masuk dalam Daftar Plafon Harga Obat (DPHO) sehingga
obat golongan ini jarang diresepkan oleh dokter. Dengan demikian, dokter lebih
sering meresepkan biguanida, glukosidase inhibitor, sulfonilurea, dan insulin
(Sariningtyas, 2008).
h.

Anti Infeksi
Penggunaan anti infeksi sebagai agen antibakteri pada pasien DM sangat

penting karena jika terjadi luka akan lebih sukar sembuh. Hal ini karena pada
lingkungan yang mengandung kadar glukosa yang tinggi merupakan tempat
perkembangbiakan bakteri yang baik.

55

Pada penelitian ini pasien no 8 menggunakan antibiotik yaitu siprofloksasin


yang termasuk dalam kelompok kuinolon. Antibiotik ini diindikasikan untuk
mengobati pneumonia yang dialami oleh pasien. Mekanisme aksi obat siprofloksasin
ini dengan menghambat DNA-gyrase yang terdapat pada bakteri penginfeksi selain
itu juga mendorong pemecahan rantai ganda dari DNA sehingga sintesis DNA bakteri
terganggu (Anonim, 2000).
i. Vitamin, Mineral dan Metabolitropikum
Obat golongan ini digunakan untuk menambah kondisi kesehatan pasien yang
tentunya diharapkan mampu mempercepat proses penyembuhan, menjaga organ agar
tetap berfungsi dengan baik, menambah tenaga serta mengatasi gejala kekurangan
nutrisi(Anonim, 2000).
Obat yang banyak digunakan dari golongan ini yaitu vitamin B kompleks.
Vitamin B kompleks sebagai vitamin neurotropik yang sangat baik diberikan pada
pasien lanjut usia. Selain itu kombinasi vitamin B1, B6 dan B12 sangat baik
digunakan pada pasien Diabetes Melitus karena dapat membantu jalannya proses
metabolisme dalam tubuh.
Obat simvastatin yang merupakan kelompok statin bekerja menghambat
secara kompetitif enzim 3-hidroksi-3-metiglutaril-coenzim A (HMG CoA) reduktase
(Lacy, dkk., 2006). Statin lebih efektif dibanding resin penukar anion dalam
menurunkan LDL, tetapi kurang efektif dibandingkan kelompok fibrat dalam
menurunkan trigliserida dan meningkatkan HDL. Statin dapat sebagai pilihan
pertama karena lebih poten menurunkan LDL (Anonim, 2000).

56

Tabel XIV. Penggunaan Kelas Terapi Vitamin, Mineral dan Metabolitropikum


No

Golongan

Kelompok

Nama

No

Jumlah

Persentase

Generik

Pasien

Pasien

(%)

vitamin B
kompleks

2,4,6,8,9
,11,12,1
3,14,16,
18,19,20
,21,22,2
4,25,26

18

Obat
1.

2.

Vitamin

Metabolitropikum

Vitamin B

glucosamin

20,23

Antihiperlipi
demia

simvastatin

1,2,9,11,
17,19,22
,23,25
2

gemfibrozil

j.

80,8

Obat yang Mempengaruhi Darah


Asam folat termasuk dalam golongan obat yang mempengaruhi darah dan

berperan sebagai suplemen penambah darah.


Tabel XVI. Penggunaan Kelas Terapi Obat yang Mempengaruhi Darah
No
1.

k.

Golongan
Obat
Anti anemia

Nama
Generik
asam folat

No
Pasien
1,12,22

Jumlah
Pasien
3

Persentase
(%)
11,5

Obat Penyakit Kulit


Obat yang digunakan adalah golongan anestetika topikal yang termasuk dalam

kelompok kortikosteroid lokal. Desoximetason digunakan untuk mengobati dermatitis


yang dialami oleh pasien, digunakan 1-2 kali dioleskan tipis dalam sehari.

57

C.

Evaluasi DTPs

Penatalaksanaan DM dengan pemberian terapi dengan obat terkadang dapat


menimbulkan masalah-masalah penggunaan obat (DTPs) yang sebaiknya dihindari
karena berdampak pada pencapaian tujuan terapi. Farmasis berperan penting untuk
meminimalkan risiko yang dapat terjadi akibat DTPs pada penggunaan obat.
Evaluasi DTPs dilakukan untuk mengetahui masalah-masalah yang berkaitan
dengan peresepan pada pasien geriatri penderita DM tipe 2 yang mendapatkan terapi
obat hipoglikemia kombinasi di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
DTPs yang diamati pada penelitian ini meliputi butuh obat, tidak butuh obat, obat
salah, dosis terlalu rendah, dosis terlalu tinggi dan Adverse Drug Reaction (ADRs).
Ketidaktaatan pasien dalam penggunaan obat yang diresepkan tidak dapat dilakukan
karena penelitian ini bersifat retrospektif.
Dari penelitian ini ditemukan 14 pasien mengalami DTPs dan 12 pasien tidak
mengalami DTPs. Beberapa kejadian DTPs yang dialami, meliputi dosis terlalu
rendah dan Adverse Drug Reaction (ADR), sedangkan jenis DTPs yang lain tidak
ditemukan sehingga tidak dibahas lebih lanjut oleh peneliti.
Pada penelitian ini yang paling banyak ditemukan adalah kejadian DTPs
Adverse Drug Reaction yaitu terdapat 14 kejadian pada penelitian ini. Hal ini
kemungkinan disebabkan oleh karena penggunaan berbagai jenis obat (polifarmasi)
pada pasien geriatri yang menjalani rawat jalan.
Kejadian DTPs yang ditemukan dalam penelitian ini terdapat 2 jenis DTPs
yang bersifat aktual dan potensial. Kejadian DTPs dosis terlalu rendah bersifat aktual

58

artinya kejadian tersebut sudah terjadi dan tanggung jawab sebagai farmasis berusaha
menyelesaikannya. Sedangkan DTPs Adverse Drug Reaction bersifat potensial yakni
suatu masalah yang mungkin menjadi risiko namun belum tentu dialami oleh pasien.
Mengetahui hal tersebut maka dibutuhkan pemantauan terhadap kejadian DTPs yang
potensial terjadi sehingga jika sungguh terjadi maka dapat dilakukan evaluasi
pemberian terapi dan rekomendasi yang tepat.
Tabel XVII. Pengelompokan Kejadian DTPs
Jenis DTPs

Jumlah yang Terjadi

No Pasien

1
14

Dosis terlalu rendah


Adverse Drug Reaction
a.

1,2,5,6,7,8,9,11,
16,17,18,19,20,24

DTPs dosis terlalu rendah


Pemberian

obat

dengan

dosis

yang

terlalu

rendah

mengakibatkan

ketidakefektifan terapi obat yang diterima. Cara menentukan dosis terlalu rendah
adalah dengan melihat terapi yang diberikan dan melihat glukosa darah puasa dan
kadar glukosa darah post-prandial yang terukur setelah pemantauan 2-3 bulan masih
lebih tinggi dari nilai rujukan dari rumah sakit namun obat yang diresepkan kurang
dari dosis yang digunakan sesuai standar Geriatic Dosage Handbook, Drug
Information Handbook, dan Informatorium Obat Nasional Indonesia. Sedangkan
dosis insulin, karena tidak memiliki dosis tetap dan pemberian dosis sangat individual
sehingga dikatakan dosis terlalu rendah apabila dosis yang diresepkan pada bulan
tersebut tidak mengalami peningkatan dosis dari dosis 2-3 bulan sebelumnya,

59

sedangkan selama pemantauan 2-3 bulan kadar glukosa puasa dan atau kadar glukosa
darah post-prandial masih di atas target glukosa dari rumah sakit.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa pasien geriatri no 7 mengalami kejadian
dosis terlalu rendah. Dosis yang terlalu rendah dapat menyebabkan tidak tercapainya
tujuan terapi, sehingga hal ini tidak menguntungkan bagi pasien. Menurut peneliti
sebaiknya dilakukan peninjauan ulang terhadap terapi yang diberikan kepada pasien
jika ditemukan bahwa dosisnya terlalu rendah maka sebaiknya dilakukan evaluasi
terhadap hal tersebut agar target terapi dapat tercapai.

Tabel XVIII. Kejadian DTPs Dosis Terlalu Rendah

Pasien
7

DTPs

Rekomendasi

Pasien mendapatkan terapi


metformin
500
mg
2x1kombinasi dengan mixtard,
tapi nilai GDP dan 2 JPP belum
mencapai target terapi

Lakukan pemantauan glukosa


darah, jika nilai GDP dan 2JJP
tetap di atas target terapi, maka
lakukan evaluasi terhadap
terapi yang diberikan.

b. DTPs Adverse Drug Reaction


Pasien geriatri DM tipe 2 dikaitkan dengan banyak penyakit lain baik
penyakit

komplikasi

maupun

penyakit

penyerta

yang

memerlukan

terapi

farmakologis, sehingga pasien tersebut seringkali menerima beberapa jenis obat


(polifarmasi). Polifarmasi akan meningkatkan kemungkinan risiko interaksi obat.
Interaksi obat merupakan salah satu kriteria dari kejadian DTPs jenis Adverse Drug
Reaction. Interaksi obat didefinisikan sebagai modifikasi efek satu obat akibat obat
lain yang diberikan pada awalnya atau diberikan bersamaan, atau bila dua atau lebih

60

obat berinteraksi sedemikian rupa sehingga keefektifan atau toksisitas satu obat atau
lebih berubah (Aslam, 2003). Fakta pada pasien DM tipe 2 terdapat banyak kejadian
interaksi obat yang meningkatkan risiko kematian. Solusinya adalah dengan
melakukan pemantauan interaksi obat yang potensial dan meningkatkan keamanan
pasien (AACE, 2007).
Interaksi obat dilihat dulu secara teoritis pada Geriatric Dosage Handbook,
Drug Information Handbook dan Drug Interaction Fact kemudian dilihat apakah
interaksi obat bermakna secara klinik (dilihat dari kadar gula darah yang terukur)
setelah terapi. Interaksi yang diihat hanya interaksi obat yang mempengaruhi
pencapaian target glukosa darah.
Dari hasil penelitian ditemukan 14 kejadian interaksi obat atau 53,85% dari
total 26 pasien dalam penelitian. Yang paling banyak ditemukan adalah potensial
interaksi antara obat metformin dengan akarbose dengan severity level : 5 atau minor,
yang terjadi pada pasien 8,9,11,16,17,18,19,20, dan 24. Efek yang dapat ditimbulkan

akibat interaksi metformin dengan akarbose yaitu akarbose dapat menunda onset
metformin dan dapat menurunkan bioavailabilitasnya. Hal tersebut dapat terjadi
karena akarbose dapat menunda absorpsi metformin ketika ada di saluran pencernaan.
Jika ditinjau dari kecepatan terjadinya efek klinik, maka interaksi kedua obat ini
tergolong pada kelompok interaksi dengan onset rapidly, yaitu efek akan terjadi
dalam waktu 24 jam setelah pemakaian obat yang berinteraksi. Secara potensial
interaksi kedua obat tersebut dapat dengan cepat dirasakan oleh pasien. Jika ditinjau
dari potensial interaksinya maka metformin dengan akarbose berada di level 5 yang

61

berarti bahwa efek biasanya ringan, efek terapetik tidak bermakna dan biasanya tidak
dibutuhkan tambahan pengobatan. Jika dilihat dari derajat kepercayaan, interaksi
antara metformin dengan akarbose dapat terjadi, namun data yang menyatakan hal
tersebut masih sangat terbatas. Walaupun demikian, perlu dilakukan pemantauan
terhadap terapi yang diberikan pada pasien karena hal ini berguna untuk
meminimalkan atau mencegah interaksi agar tidak merugikan pasien. Selain itu perlu
pemantauan yang intensif karena tidak dapat dijamin apakah efek dari interaksi
tersebut tidak akan muncul pada semua pasien. Hal tersebut dikarenakan kondisi
fisiologi setiap manusia berbeda satu dengan yang lain, sehingga nasib obat di dalam
tubuh setiap orang juga tidak sama.
Interaksi antara metformin dengan nifedipin berada diurutan kedua terbanyak
dari potensial kejadian interaksi obat. Penggunaan nifedipin bersamaan dengan
metformin dapat meningkatkan absorbsi metformin, meningkatkan konsentrasinya di
plasma darah, selain itu juga meningkatkan ekskresi metformin (McEvoy, 2005).
Pada penelitian ini juga ditemukan 3 pasien potensial mengalami DTPs
Adverse Drug Reaction akibat dari interaksi antara metformin dengan ranitidin.
Mekanisme interaksinya belum diketahui secara jelas, namun jika dilihat dari
golongan obatnya yaitu antagonis histamin H2, kemungkinan mekanismenya mirip
dengan obat simetidin. Simetidin dapat menurunkan ekskresi metformin akibatnya
metformin menjadi lebih lama dan lebih banyak tertahan di darah sehingga efek
metformin meningkat dan dapat menimbulkan terjadinya hipoglikemia (McEvoy,
2005).

62

Kriteria lain dari DTPs terjadinya efek samping akibat obat yang diberikan.
Pasien 1 mengalami kembung dan kentut terus, akibat efek samping dari akarbose
maka sebaiknya dilakukan pemantauan terhadap efek samping yang dialami oleh
pasien, jika masih berlanjut maka hentikan penggunaan obat akarbose dan diberikan
obat pilihan lain.
Di bawah ini merupakan tabel yang memuat adanya potensi interaksi yang
ditemukan pada penelitian ini. Mengetahui hal tersebut maka penting dilakukan
pemantauan terhadap terapi yang diberikan agar kejadian DTPs dapat diminimalkan
dan dapat segera ditangani jika terjadi.
Tabel XIX. Potensial Kejadian DTPs Adverse Drug Reaction
Pasien
8,9,11,1
6,17,18,
19,20,
24

Keterangan
interaksi
metformin,
akarbose

2,5,6,7,
11, 24,

metformin,
nifedipin

6, 8, 9,

metformin,
ranitidin

DTPs

Rekomendasi

metformin berinteraksi dengan


akarbose dengan severity level : 5
atau minor. Hal ini menyebabkan
bioavailabilitas metformin dapat
menurun
jika
digunakan
bersamaan dengan akarbose.
Pemberian bersamaan antara
metformin dengan nifedipin
dapat
meningkatkan
efek
metformin
yang
berakibat
munculnya efek hipoglikemia.
Ranitidin dapat meningkatkan
efek farmakologi metformin
sehingga dapat menyebabkan
hipoglikemia.

Lakukan pemantauan terhadap


nilai glukosa darah pasien dan
interaksi obat yang minor dapat
terjadi.

lakukan pemantauan terhadap


terapi yang diberikan jika
muncul efek hipoglikemia
sebaiknya diberi alternatif obat
hipoglikemia lain
Lakukan pemantauan terhadap
nilai glukosa darah pasien dan
interaksi obat yang potensial
terjadi.

63

D. Rangkuman Pembahasan
Selama periode Januari-Juni 2009 terdapat 185 pasien geriatri penderita DM
tipe 2 di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Setelah dilakukan
sensus berdasarkan pada kriteria inklusi penelitian maka dari 185 pasien tersebut
didapatkan 26 pasien untuk dievaluasi DTPs. Sampel yang diambil berupa rekam
medik yang diambil dari nstalsi catatan rekam medik RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
Berdasarkan karakteristik pasien dilihat berdasarkan usia subyek penelitian
yang paling banyak yaitu pasien lansia dengan range umur 60-75 tahun yaitu sebesar
73,1% (19 pasien). Subyek penelitian pada penelitian ini lebih banyak wanita
dibandingkan pria yaitu 57,7% (15 pasien) sedangkan pada pria 42,3%. Jika dilihat
dari penyakit komplikasi dan penyakit penyerta yang terbanyak diderita pasien, dapat
diketahui bahwa

hipertensi merupakan penyakit komplikasi yang paling banyak

diderita yaitu sebesar 92,3% (24 pasien) dan osteoatritis sebagai penyakit penyerta
yang paling banyak diderita yaitu sebesar 19,2 % (5 pasien).
Obat yang diberikan pada pasien geriatri penderita DM tipe 2 dibagi menjadi
11 kelas terapi yaitu obat susunan saraf, obat kardiovaskuler, obat saluran
pernapasan, obat saluran cerna, obat anti alergi, cairan untuk keseimbangan air,
elektrolit, dialisis dan nutrisi, obat anti diabetik, anti infeksi, vitamin, mineral dan
metabolitropikum, obat yang mempengaruhi darah, dan obat penyakit kulit. Obat
yang paling banyak digunakan yaitu obat kelas terapi kardiovaskuler.
Kejadian DTPs yang ditemukan dalam penelitian ini yaitu 2 jenis DTPs yang
bersifat aktual dan potensial. Kejadian DTPs dosis terlalu rendah bersifat aktual

64

artinya kejadian tersebut sudah terjadi dan tanggung jawab farmasis untuk
menyelesaikannya. Sedangkan DTPs Adverse Drug Reaction yang potensial adalah
suatu masalah yang mungkin menjadi risiko namun belum tentu dialami oleh pasien.
Mengetahui hal tersebut maka dibutuhkan pemantauan terhadap kejadian DTPs yang
potensial terjadi sehingga jika sungguh terjadi maka dapat dilakukan evaluasi
pemberian terapi dan rekomendasi yang tepat. Kejadian DTPs yang paling banyak
terjadi adalah Adverse Drug Reaction (ADR) yaitu sebesar 53,8% (14 pasien) dan
dosis terlalu rendah sebanyak 3,8% (1 pasien).

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.

Kesimpulan

Dari penelitian Evaluasi Drug Therapy Problems (DTPs) pada Pasien


Geriatri Diabetes Mellitus Tipe 2 di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr. Sardjito
Yogyakarta Periode Januari-Juni 2009 diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1.

Karakteristik pasien berdasarkan jenis kelamin yang terbanyak yakni


perempuan sebanyak 15 pasien (57,7%). Berdasarkan usia yakni usia lansia
(elderly) sebanyak 19 pasien (73,1%). Berdasarkan penyakit komplikasi yang
terbanyak diderita pasien adalah hipertensi sebanyak 24 pasien (92,3 %) dan
berdasarkan penyakit penyerta yang paling banyak muncul adalah osteoatritis
sebanyak 5 pasien (19,2 %).

2.

Terdapat 11 kelas terapi yang diberikan pada pasien dengan penggunaan


terbesar adalah obat kelas terapi kardiova skuler sebesar 84,6 %.

3.

Drug Therapy Problems (DTPs) yang terjadi adalah dosis terlalu rendah
sebanyak 1 pasien (3,8%) dan Adverse Drug Reaction (ADR) sebanyak 14
pasien (53,8%).
B. Saran

Saran yang dapat penulis berikan adalah :


a.

Bagi Rumah Sakit


1. Penulisan rekam medik sebaiknya dilakukan secara lengkap dan teliti.
Karena rekam medik merupakan informasi sekaligus sarana komunikasi
yang dibutuhkan pasien, maupun pelayanan kesehatan dan pihak terkait
65

66

untuk mempertimbangkan dalam menentukan suatu kebijakan tatalaksana


atau tindakan medik.
2. Sebaiknya dilakukan pengukuran HbA1C setiap 3 bulan sekali. Karena
pengukuran HbA1C berguna untuk mengetahui kepatuhan pasien dan
pemberian terapi yang tepat bagi pasien.
b.

Bagi Peneliti Selanjutnya


Sebaiknya dilakukan penelitian lanjutan untuk evaluasi Drug Therapy

Problems obat hipoglikemia kombinasi pada pasien geriatri Diabetes Mellitus tipe
2 di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada periode yang
berbeda secara prospektif.

Daftar pustaka

AACE, 2007, American Association of Clinical Endocrinologists Medical


Guidelines for Clinical Practice for The Management of Diabetes Mellitus,
Endocrine Practice, Vol 13 (suppl 1), American Association of Clinical
Endocrinologists Medical
AACE, 2009, Statement by an American Association of Clinical Endocrinologists
Consensus Panel On Type 2 Diabetes Mellitus : An Algoritm for Glycemic
Control, Vol 15 No 6, American Association of Clinical Endocrinologists
Medical
ADA,

2006,

Standar

of

Medical

Care

in

Diabetes-2006,

http://care.diabetesjournals.org/content/29/suppl_1/s4.full.pdf+html, diakses
22 November 2009
ADA,

2009,

Standar

of

Medical

Care

in

Diabetes-2009,

http://care.diabetesjournals.org/content/32/Supplement_1/S13.full.pdf+html,
diakses 22 November 2009
Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000, 19-21, 263-269,
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta
Anonim, 2002, Konsensus Pengelolaan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia,
Penerbit PERKENI, Jakarta
Anonim, 2005 a, Pharmaceutical Care untuk Penyakit Diabetes Mellitus, 8- 76,
Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Direktorat Jenderal Bina
Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI
Anonim, 2005 b, Standar Pelayanan Medis RSUP Dr. Sardjito, Medika Fakultas
Kedokteran UGM, Yogyakarta
Anonim,

2008

a,

Diabetes

Mellitus,

http://www.fortunestar.co.id/content/view/24/24/ diakses 22 Oktober 2008


Anonim, 2009 a, Informasi Spesialite Obat Indonesia, Edisi 44, 3, 238-246, 276,
281, 297, 298, 300,445-446, PT ISFI Penerbitan, Jakarta Barat
Anonim, 2009 b, 2030 Penderita Diabetes Indonesia Berjumlah 21,3 Juta Jiwa,
http://www.indofamilyhealth.com, diakses 22 Maret 2009

67

68

Asdie, A.H., 2000, Patogenesis dan Terapi Diabetes Mellitus Tipe 2, 11,41-67,
Penerbit Medika UGM, Yogyakarta
Aslam, M, dkk., 2003, Farmasi Klilnik (Clinical Pharmacy), PT. Elex Media
Komputindo, Jakarta
Bexter, K., 2006, Stockleys Drug Interaction : A Source Book of Interaction,
Their Mechanism, Clinical Impportance and Management, Sevent Edition,
1-11, 389,-424, Pharmaceutical Press, London
Blonde, L., 2007, Easing the Transition to Insulin Therapy in People with type 2
Diabetes, Diabetes Clinical Research Unit, Ochsner Clinic Foundation, New
Orleans
Carlisle, B.A., Kroon, L.A., Koda.Kimble, M.A., 2005, Diabetes Mellitus, dalam
Koda. Kimble,M.A., Young, L.Y., Kradjan, W.A., Guglielmo, B.J.,(eds),
Applied Therapeutics : The Clinical Use of Drugs, Seven Edition, 50-58,
Lippincot Williams & Walkin, Philadelpia
Chehade, J.M., and Mooradian, A.D., 2001, Drug Therapy : Current and
Emerging Agent, diakses tanggal 15 Desember 2009
Cipolle, R.J, Strand, L.M., Morley P.C., 2004, Pharmaceutical Care Practice The
Clinicians Guide, Second Edition, 73-119, McGraw-Hill, New York
Darmojo, R.B., dan Martono, H.H., 2004, Buku Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan
Usia Lanjut), Edisi 3 114, Balai Penerbit FKUI, Jakarta
Donatus, 1999, Nasib Obat dalam Diri Usia Lanjut, Majalah Sains dan Teknologi,
Volume 2, No. 2, 1-10, Bandar Lampung
Feingold K.R., and Funk, J.L., 2000, Disorder of the Endocrine Pancreas, dalam
McPee, S.J., Lingappa, W.F., Lange J.D., Pathophysology of Disease : An
Introduction to Clinical Medicine,Third Edition, 432-458, The McGrawHill Companies Inc., New York
Guyton, A.C., dan Hall, J.E., 1996, Textbook of Medical Physiology, EGC, Jakarta
Ikram, H.A., 1996, Diabetes Mellitus pada Usia Lanjut dalam Noer, S.H.,
Waspaji, S., Lesmana, L.A., Widodo, D., Isbagio, H., Alwi, I., (Editor),
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi III, 692-696, Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran UI, Jakarta

69

Inzucchi, S.E., 2002, Oral Antihyperglycemic Therapy for Type 2 Diabetes:


Scientific Review, Vol.287, No.3, 360-372, JAMA, America
Kimble, M.A.K, Young L.Y., Kradjan W.A., Guglielmo B.J., 2005, Handbook of
Applied Therapeutics, Seve nth Edition, 47.1-47.39, Lippincot Williams &
Walkins, Philadelphia
Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.O., and Lance L.L., 2006, Drug
Information Handbook, 14th Ed., 735-736, 741-742, 1016-1018, Lexi-comp,
Ohio
Laksmiarti, T., dan Maryam, H., 2002, Tetap Sehat di Usia Lanjut dengan Gizi
Sehat, Medika Jurnal Kedokteran dan Farmasi, Tahun XXVIII, No.7, 599600, PT. Grafiti Medika Pers, Jakarta
Karam, J.H., 2007, Diabetes Mellitus and Hypoglicemia, dalam McPee S.J. and
Papadakis M.A., Current Medical Diagnosis and Treatment, 1231-1241,
McGraw Hill Medical, New York
McEvoy, G.K., 2005, AHFS Drug Information 2005, 3015-3016, American
Society of Health System Pharmacists, Avenus
Pratiknya, A.W., 2001, Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan
Kesehatan, 10-18; 176-183, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta
Prest, M., 2003, Penggunaan Obat pada Lanjut Usia, dalam Aslam, M., Tan, C.K.,
Prayitno., A., Farmasi Klinis, 203-215, PT. Elex Media Komputindo,
Kelompok Gramedia, Jakarta
Rochmah, W., 2006, Diabetes Mellitus pada Usia Lanjut, dalam Sudoyo A.W.,
Setiyohadi B., Alwi I., Simabrata M., Setiati S., Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam, Jilid III, Edisi IV, 1937- 1939, Pusat Penerbitan Departemen Ilmu
Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
Rovers J.P., 2003, Identifying Drug Therapy Problems, dalam Rovers J.P., Currie
J.D., Hagel H.P., McDonough R.P., Sobotka J.L., A Practical Guide to
Pharmaceutical Care, Second Edition, 2003, 15-25, 54-64, American
Pharmaceutical Association, Washington D.C
Sariningtyas,

A.T.,

2008,

Evaluasi

Keamanan

Terapi

Kombinasi

Tiga

Antidiabetika Oral pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di RSUP Dr.

70

Sardjito Yogyakarta, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada,


Yogyakarta
Semla, T.P., Beizer, J.L., Higbee. M.D., 2002, Geriatric Dosage Handbook, 7th
Edition,16-17, 463-468, 528-536, 652-653, American Pharmaceutical
Assotiation, USA
Soegondo S., Soewondo P., Subekti I., (eds), 2004, Penatalaksanaan Diabetes
Mellitus Terpadu, Pusat Diabetes dan Lipid RSUP Nasional Cipto
Mangunkusumo-FKUI, Jakarta
Soegondo S., 2006 a, Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus
Tipe 2 di Indonesia, Penerbit Perkumpulan Endokrinologi Indonesia
(PERKENI), Jakarta
Soegondo S., 2006 b, Farmakoterapi pada Pengendalian Glikemia Diabetes
Mellitus Tipe 2, dalam Sudoyo A.W., Setiyohadi B., Alwi I., Simabrata M.,
Setiati S., Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid III, Edisi IV, 1882- 1887,
Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta
Stockley, and Ivan.H., 1994, Drug Interaction, third edition, 540-560, University
of Notingham Medical School, UK
Tatro, D.S. 2001, Drug Interaction Fact, Fact and Comparison, xiv-xvii, 846854, 992-996, A Walters Kluwer Company, St. Louis, Missouri
Tjokroprawiro, A., 2001, Diabetes Mellitus (Klasifikasi, Diagnosis, dan Terapi),
Ed. III, PT Gramedia Pustaka, Jakarta
Triplitt, C.L., Reasner, C.A. Isley.L.I., 2005, Diabetes Mellitus, dalam Dipro, J.T,
Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Welss, B.G., Posey, L.M., (Eds.),
Pharmacotherapy a Phathophysiologic Approach, sixth edition 1333-1365,
Appleton and Lange, Standford Canneticut
Turner, R.C., Cull, C.A., Frighi, V., Holman, R.R., 1999, Glicemic Control With
Diet, Sulfonilurea, Metformin, or Insulin in Patient With Type 2 Diabetes
Mellitus, Progessive Requirement for Multiple Therapies (UKPDS 49),
Volume 281, No. 21, The Journal of the American Medical Association
(JAMA), American

71

Watkins, P.J., 2003, ABC of Diabetes, Fifth Edition, BMJ Publishing Group Ltd,
London
Widijanti, A., 2006, Pemeriksaan Laboratorium Penderita Diabetes Mellitus,
http://www.tempo.co.id/medika/temp.online.old/pus-i diakses 13 April 2009
World Health Organization, 1999, Definition, Diagnosis and Classification of
Diabetes Mellitus and its Complications Report of a WHO Consultation
Part 1: Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus, WHO
Department of Noncommunicable Disease Surveillance, Geneva

73

LAMPIRAN

74

Lampiran I. Kajian DTPs Pasien Penggunaan Obat Hipoglikemia Kombinasi pada


Pasien Geriatri DM Tipe II di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr Sardjito Yogyakarta
Periode Januari-Juni 2009
Pasien 1 No. RM 00-68-33-66
Subyektif
Perempuan, 69 tahun. Diagnosa : DM tipe 2, Hipertensi, Dislipidemia, Benign Prostat
Hipertropi, Angina Pektoris, Insufisiensi Renal. Riwayat penyakit : pada bulan April, pasien
mengalami kembung dan kentut terus menerus, dokter mendiagnosis hal ini akibat efek
samping dari obat Glukobay (akarbose)
Obyektif
Tanggal Periksa (2009)
Parameter
9 Jan
7 Feb
7 Mar
4 Apr
TD
110/80
130/80
130/70
130/80
GDP
90
93
118
129
2JPP
211
201
229
243
Kolesterol
189
189
167
Trigliserida
78
79
262
LDL
122
122
92
HDL
40,3
49,3
32,8
Penatalaksanaan
Tanggal Periksa (2009)
9
7
7
4
Nama obat
Jan Feb Mar Apr
Glucobay (akarbose 100 mg) 1-1-1

Glurenorm (glikuidon 30 mg) 1-0-0

Mixtard (insulin campuran) 6-0-2

Adalat Oros (nifedipin 30 mg) (60) 1x1

Hytrin (terazosin HCL) (30) 1x1

simvastatin 10 mg (30) 0-0-1

hidroklortiazid 25 mg (30) 1x1

Aspilet ( asam salisilat 80 mg) (30) 1x1

ranitidin 15 mg (60)2x1

valsartan 80 mg (30) 1x1

bisoprolol 5 mg (30) 1x1

asam folat 3x1

CaCO3 (60) 3x1

isosorbit dinitrat(kalau perlu)(30)

Penilaian
pasien mengalami kembung dan kentut terus, akibat efek samping dari akarbose. DTPs
potensial : Adverse Drug Reaction
Rekomendasi
1. lakukan pemantauan terhadap glukosa darah pasien
2. lakukan pemantauan terhadap efek samping yang dialami oleh pasien, jika masih berlanjut
maka hentikan penggunaan obat akarbose dan diberikan obat pilihan lain.

75

Pasien 2 No. RM 01.16.18.54


Subyektif
Perempuan, 74 tahun.
Diagnosa : DM tipe 2, Hipertensi, Dislipidemia, Osteoatritis
Obyektif
Tanggal Periksa (2009)
Parameter
22 Jan
19 Feb
20 Mar
18 Apr
22 Mei
TD
125/80
135/80
120/80
130/80
110/70
GDP
122
90
152
118
129
2JPP
151
116
139
178
149
BUN
13,1
Kreatinin
1,03
Kolesterol
187
167
HDL
38,1
Trigliserida
99
182
Penatalaksanaan
Tanggal Periksa (2009)
22
19
20
18
22
Nama obat
Jan Feb Mar Apr Mei
Glucodex (gliklazid 80 mg)(30) - -0

metformin 500 mg(30) 0-0-1

valsartan 80 mg (30) 1x1

Adalat Oros (nifedipin 30 mg) (60) 1x1

hidroklortiazid 25 mg (30) 1x1

simvastatin 10 mg (30) 0-0-1

gemfibrozil 30 mg (30) 1x1

meloxicam 7,5 mg (30) 1x1

Neurodex (vit B1,vit B6, vit B12) (30) 1x1

Penilaian
pemberian bersamaan antara metformin dengan nifedipin dapat meningkatkan efek
metformin yang berakibat munculnya efek hipoglikemia. DTPs potensial : Adverse Drug
Reaction
Rekomendasi
1. lakukan pemantauan terhadap terapi yang diberikan jika muncul efek hipoglikemia
sebaiknya diberi alternatif obat hipoglikemia lain
2. pantau glukosa darah secara rutin

76

Pasien 3 No. RM 01.16.18.54


Subyektif
Laki-laki, 74 tahun.
Diagnosa : DM tipe 2, Hipertensi, Dislipidemia, Post Stroke, Digitate Pedis
Obyektif
Tanggal Periksa (2009)
Parameter
11 Feb
11 Mar
11 Apr
20 Mei
TD
110/70
100/60
120/80
100/80
GDP
149
94
125
190
2JPP
249
177
133
214
Trigliserida
233
168
212
275
Penatalaksanaan
Tanggal Periksa (2009)
11
11
11
20
Feb Mar Apr Mei

Nama obat
Mixtard (insulin campuran) 1 x 30 unit
Gludepatic (metformin HCl 500 mg) (30) 2x1
Aspilet(asam salisilat 80 mg) (30) 1x1
efedrin (30) 1x1
Penilaian
Nilai glukosa darah pasien tidak teratur, kadang terkontrol dan terkadang melebihi dari nilai
rujukan dari rumah sakit.
Rekomendasi
Lakukan pemantauan glukosa darah jika nilai GDP dan 2JJP

77

Pasien 4 No. RM 00.03.13.15


Subyektif
Laki-laki, 70 tahun.
Diagnosa : DM tipe 2
Obyektif

Parameter
TD
GDP
2JPP

Tanggal Periksa
(2009)
31 Jan
12 Mei
110/70
100/60
128
129
183
179

Penatalaksanaan

Nama obat
Humulin (insulin campuran) 0-0-10
Glurenorm (glikuidon 30 mg) 1-0-0
metformin 850 mg (30) 1-1-1
Sohobion (vit B1,vit B6, vit B12) (30) 1x1
Neurodex (vit B1,vit B6, vit B12) (30) 1 x 1

Tanggal Periksa
(2009)
31 Jan
12 Mei

Penilaian
Nilai glukosa darah pasien belum mencapai target terapi
Rekomendasi
1. Lakukan pemantauan terhadap glukosa darah pasien jika masih lebih tinggi dari target
terapi maka dapat dilakukan evaluasi terapi dengan peningkatan dosis atau penggantian
kombinasi terapi.
2. Lakukan pemantauan terhadap glukosa darah dan potensi interaksi yang dapat terjadi

78

Pasien 5 No. RM 00.87.29.11


Subyektif
Laki-laki, 70 tahun.
Diagnosa : DM tipe 2, Hipertensi
Obyektif
Tanggal Periksa
(2009)
Parameter
31 Jan
22 Mei
TD
130/80
150/90
GDP
208
187
2JPP
269
208
Penatalaksanaan
Tanggal Periksa (2009)
Nama obat
31 Jan
22 Mei
Glurenorm (glikuidon 30 mg) 1-0-0

metformin 850 mg (30) 1-1-1

Adalat oros (nifedipin 30 mg) 1x 1 (30)

hidroklortiazid 25 mg 1-0-0 (30)

kaptopril 25 mg (90) 1-1-1


Penilaian
Pemberian bersamaan antara metformin dengan nifedipin dapat meningkatkan efek
metformin yang berakibat munculnya efek hipoglikemia. DTPs potensial : Adverse Drug
Reaction
Rekomendasi
1. Lakukan pemantauan terhadap glukosa darah pasien jika masih lebih tinggi dari target
terapi maka dapat dilakukan evaluasi terapi dengan peningkatan dosis atau penggantian
kombinasi terapi.
2. Lakukan pemantauan terhadap glukosa darah dan potensi interaksi yang dapat terjadi

79

Pasien 6 No. RM 00.01.96.51


Subyektif
Laki-laki, 67 tahun.
Diagnosa : DM tipe 2, Hipertensi, Ischemik Heart Disease, Ostreoatritis
Obyektif
Tanggal Periksa
(2009)
Parameter
31 Jan
12 Mei
TD
140/80
130/80
GDP
130
126
2JPP
144
131
Ureum
334
Asam Urat
60,1
Kreatinin
1,47
Penatalaksanaan

1.

Tanggal Periksa (2009)


Nama obat
31 Jan
25 Feb
22 Mei
Glucodex (gliklazid 80 mg)(30)1 -0 -0

metformin 850 mg (30) 1-1-1

ranitidin 15 mg (60)2x1

isosorbit dinitrat (kalau perlu)(30)

Adalat oros (nifedipin 30 mg) (30) 1x1

meloxicam 7,5 mg (30) 1x1

Neurodex (vit B1,vit B6, vit B12) (30) 1x1

allopurinol (30) 1x1

Aspilet (asam salisilat 80 mg) (30) 1x1

Penilaian
1. Penggunaan ranitidin yang bersamaan dengan metformin dapat meningkatkan efek
farmakologi sehingga dapat menyebabkan hipoglikemia. DTPs potensial : Adverse Drug
Reaction
2. Penggunaan nifedipin dapat meningkatkan efek metformin yang berakibat munculnya
efek hipoglikemia. DTPs potensial : Adverse Drug Reaction
Rekomendasi
1. Lakukan pemantauan terhadap glukosa darah pasien dan potensi interaksi obat tersebut.
Jika interaksi berefek klinik menyebabkan hipoglikemia maka dapat diberikan pilihan
obat hipoglikemia lain.

80

Pasien 7 No. RM 00.53.42.91


Subyektif
Laki-laki, 78 tahun.
Diagnosa : DM tipe 2, Hipertensi, Athralgia, Hipertensi Heart Disease, Osteoatritis
Riwayat : rujukan dari puskesmas kotagedhe
Obyektif
Tanggal Periksa (2009)
23 Mei
20 Juni
24 Mar
22 Apr
Parameter
21 Jan
5 Feb
120/80
120/80
TD
120/80
135/80
130/70
120/70
145
175
GDP
185
185
190
180
167
2JPP
171
170
200
BUN
18,2
Kreatinin
0,97
Urat
4,2
Penatalaksanaan
Tanggal Periksa (2009)
21
5
24
22
23
20
Nama obat
Jan
Feb Mar Apr
Mei
Juni
Mixtard (insulin campuran) 12-0-8

Mixtard (insulin campuran) 14-0-10

metformin 500 mg(30) 1-0-1

valsartan 80 mg (30) 1x1

Adalat Oros (nifedipin 30 mg) (60) 1x1

meloxicam 7,5 mg (30) 1x1

Laxadin (fenoftalin) syr 1x CII (1)

Penilaian
1. DTPs aktual yang terjadi pasien mengalami dosis terlalu rendah, hal ini diketahui dari nilai
GDP dan 2JPP yang masih tinggi dibanding nilai rujukan
3. Pemberian bersamaan antara metformin dengan nifedipin dapat meningkatkan efek
hipoglikemia. DTPs potensial : Adverse Drug Reaction
Rekomendasi
1. Lakukan pemantauan terhadap nilai glukosa darah pasien jika masih tinggi maka dapat
dilakukan evaluasi terapi.
2. Lakukan pemantauan terhadap glukosa darah dan potensi interaksi yang dapat terjadi

81

Pasien 8 No. RM 00.41.85.86


Subyektif
Laki-laki, 84 tahun.
Diagnosa : DM tipe 2, Hipertensi, Asma, Pneumonia, Dispepsia,
Obyektif
Tanggal Periksa (2009)
Parameter
20 Jan
25 Feb
18 Mar
15 Apr
12 Mei
18 Juni
TD
130/80
135/80
140/80
180/70
120/80
120/80
GDP
85
135
120
84,7
111
100
2JPP
136
233
189
214
213
190
BUN
65,7
Kreatinin
1,37
Kolesterol
147,2
HDL
57,8
LDL
64,2
Urat
5,9
Penatalaksanaan
Tanggal Periksa (2009)
20
25
18
15
12
18
Nama obat
Jan
Feb Mar Apr
Mei Juni
Glucodex (gliklazid 80 mg) (30)2-2-0

metformin 500 mg (30) 1-0-1

Glucobay (akarbose 100 mg) 1-1-1

valsartan 80 mg (30) 1x1

alprazolam 0,5 mg (30) 1 x1

Neurodex (vit B1,vit B6, vit B12) (30)

1x1

Inflammide (budesonid)3 x 2 puff (I)

siprofloxacin 500 mg 2 x 1

Benotec (fenoterol HBr) 3 x II

ranitidin 15 mg (60)2x1

teofilin 10 mg
gliseril guaikolat 50 mg 3x1kapsul

salbutamol 2 mg
Penilaian
1. Penggunaan ranitidin yang bersamaan dengan metformin dapat meningkatkan efek
farmakologi sehingga dapat menyebabkan hipoglikemia. DTPs potensial : Adverse Drug
Reaction
2. metformin berinteraksi dengan akarbose dengan severity level : 5 atau minor. Hal ini
menyebabkan bioavailabilitas metformin dapat menurun jika digunakan bersamaan dengan
akarbose. DTPs potensial : Adverse Drug Reaction
Rekomendasi
Lakukan pemantauan terhadap nilai glukosa darah pasien dan interaksi obat yang potensial
terjadi. Selain itu sarankan pasien untuk mengatur pola makan dengan baik dan melakukan
aktivitas atau olahraga yang masih mungkin dapat dilakukan.

82

Pasien 9 No. RM 00.97.70.42


Subyektif
Laki-laki, 78 tahun.
Diagnosa : DM tipe 2, Hipertensi, Asma,
Obyektif
Tanggal Periksa (2009)
Parameter
1 Jan
16 Mar
14 Apr
13 Mei
TD
130/80
100/60
120/70
125/70
GDP
124
122
132
145
2JPP
144
150
166
189
BUN
12,1
Kreatinin
1,34
Kolesterol
171
HDL
53,5
LDL
110
Ureum
5,1
Penatalaksanaan
Tanggal Periksa (2009)
1
16
14
13
Nama obat
Jan Mar Apr Mei
Glucodex (gliklazid 80 mg)(30)2-2-0

Gludepatic (metformin 500 mg) (30) 3x1

Glucobay (akarbose 100 mg) 1-1-1

Ventolin (salbutamol) 3x puff (1)

Noperten (lisinopril 10 mg) 1x1

Neurodex (vit B1,vit B6, vit B12) (30) 1x1

Inflammide (budesonid) 3 x 2 puff (I)

simvastatin 10 mg (30) 0-0-1

ranitidin 15 mg (60)2x1

Penilaian
1. Penggunaan ranitidin yang bersamaan dengan metformin dapat meningkatkan efek
farmakologi sehingga dapat menyebabkan hipoglikemia. DTPs potensial : Adverse Drug
Reaction
2. Metformin berinteraksi dengan akarbose dengan severity level : 5 atau minor. Hal ini
menyebabkan bioavailabilitas metformin dapat menurun jika digunakan bersamaan dengan
akarbose. DTPs potensial : Adverse Drug Reaction
Rekomendasi
1. Lakukan pemantauan terhadap glukosa darah dan potensi interaksi obat yang mungkin dapat
terjadi.

83

Pasien 10 No. RM 00.03.13.15


Subyektif
Perempuan, 62 tahun.
Diagnosa : DM tipe 2, Hipertensi, Hipertensive Heart Disease, Rematoid
Riwayat : diagnosis menderita DM tipe 2 pertama kali tanggal l3 Agustus 2006. Obat
hipoglikemia yang diberikan adalah glibenklamid dan mulai mendapat terapi kombinasi sejak 4
Januari 2008
Obyektif
Tanggal Periksa
(2009)
Parameter
27 Feb
TD
130/80
GDP
125
2JPP
205
Penatalaksanaan

Nama obat
Gludepatic (metformin 500 mg) (30) 3x1
Glurenorm (glikuidon 30 mg) 1-0-0
valsartan 80 mg (30) 1x1
Amdixal (amlodipin maleat 5 mg) 1x1

Tanggal
Periksa (2009)
27 Feb

Penilaian
Nilai glukosa darah pasien lebih tinggi dari nilai rujukan rumah sakit yaitu 70-120 mg/dl untuk
GDP dan 85-145 mg/dl nilai rujukan 2JPP
Rekomendasi
1. Lakukan pemantauan glukosa darah pasien
2. Pengaturan pola makan yang baik dan olahraga yang teratur dapat menbantu pencapaian
target terapi

84

Pasien 11 No. RM 00.56.77.67


Subyektif
Perempuan, 71 tahun.
Diagnosa : DM tipe 2, Hipertensi, Osteoatritis
Obyektif
Tanggal Periksa (2009)
Parameter
12 Jan
13 Mei
17 Juni
TD
130/80
130/90
110/60
GDP
111
135
118
2JPP
184
195
182
BUN
14,9
Kreatinin
0,86
Urat
5,9
Kolesterol
165
Trigliserida
107
HDL
48
44,3
LDL
114
103
Penatalaksanaan
Tanggal Periksa (2009)
Nama obat
12 Jan
13 Mei
17 Juni
metformin 500 mg (30) 1-0-1

Glucobay (akarbose 100 mg) 1-1-1

simvastatin 10 mg (30) 0-0-1

isosorbit dinitrat (kalau perlu)(30)


Adalat oros (nifedipin 30 mg) (30) 1x1

meloxicam 7,5 mg (30) 1x1

Neurodex (vit B1,vit B6, vit B12) (30) 1x1

Aspilet (asam salisilat 80 mg) (30) 1x1

Penilaian
Metformin berinteraksi dengan akarbose dengan severity level : 5 atau minor. Hal ini
menyebabkan bioavailabilitas metformin dapat menurun jika digunakan bersamaan dengan
akarbose. DTPs potensial : Adverse Drug Reaction
Rekomendasi
Lakukan pemantauan terhadap nilai glukosa darah pasien dan interaksi obat yang mungkin
dapat terjadi

85

Pasien 12 No. RM 00.01.14.53


Subyektif
Laki-laki, 76 tahun.
Diagnosa : DM tipe 2, Hipertensi, Chronic Kidney Disease (CKD), Akut Kidney Injury (AKI),
dispepsia. Riwayat : pada bulan Mei dan Juni pasien tidak menyuntikkan insulin
Obyektif
Tanggal Periksa (2009)
Parameter
5 Jan
5 Feb
5 Mar
2 Apr
11 Mei
25 Juni
TD
130/70
120/80
130/80
130/70
110/80
120/80
GDP
226
118
110
114
330
374
2JPP
189
179
214
490
376
BUN
14,9
9
Kreatinin
1,44
1,36
Na
119
K
4,3
Cl
91
Urat
8,1
5,1
Glukosa
+
Protein
+
Keton
+
Penatalaksanaan
Tanggal Periksa (2009)
5
5
5
2
11
25
Nama obat
Jan Feb Mar Apr
Mei Juni
Mixtard (insulin campuran) 30-0-10

Novomix (insulin campuran) 30 20-0-14

Glucobay (akarbose 100 mg) 1-1-1

valsartan 80 mg (30) 1x1

hidroklortiazid 25 mg 1-0-0 (30)

Neurodex (vit B1,vit B6, vit B12) (30) 1x1

Sohobion (vit B1,vit B6, vit B12)1x1

laprazolam 1x1

asam folat(50) 3x1

CaCO3 (60)3x1

allopurinol 10 mg 1 x 1

obat batuk hitam syr 3 x CI

Penilaian
Nilai glukosa darah pasien tidak teratur, kadang terkontrol dan terkadang melebihi dari nilai
rujukan dari rumah sakit.
Rekomendasi
Lakukan pemantauan terhadap nilai glukosa darah dan sarankan pasien untuk mengatur pola
makan yang sehat serta melakukan aktivitas/ olahraga yang masih mungkin dapat dilakukan.

86

Pasien 13 No. RM 00.36.81.17


Subyektif
Perempuan, 69 tahun.
Diagnosa : DM tipe 2, Hipertensi
Obyektif
Tanggal Periksa (2009)
3 April
11 Mei
15 Juni
Parameter
19 Jan
23 Feb
TD
120/70
130/70
130/80
120/70
125/70
GDP
161
374
146
146
102
2JPP
188
376
166
166
112
BUN
9
Kreatinin
1,36
Urat
5,1
Protein
++
Penatalaksanaan
Tanggal Periksa (2009)
19
23
3
11
15
Nama obat
Jan
Feb
Apr Mei Juni
Mixtard (insulin campuran) 10-0-10

Novomix 18-0-10

Gludepatic (metformin 500 mg) (30) 3x1

metformin 850 mg (30) 1-0-1


valsartan 80 mg (30) 1x1

Sohobion (vit B1,vit B6, vit B12)1x1

Penilaian
Nilai glukosa darah pasien tidak teratur, kadang terkontrol dan terkadang melebihi dari nilai
rujukan dari rumah sakit.
Rekomendasi
1. Lakukan pemantauan terhadap nilai glukosa darah
2. Sarankan pasien untuk mengatur pola makan yang sehat dan melakukan aktivitas/ olahraga
yang masih mungkin dapat dilakukan

87

Pasien 14 No. RM 00.02.85.08


Subyektif
Perempuan, 68 tahun.
Diagnosa : DM tipe 2, Hipertensi,Hipertensi Heart Disease ,Remathoid
Obyektif
Tanggal Periksa
(2009)
Parameter
7 Jun
TD
130/80
GDP
107
2JPP
144
Penatalaksanaan

Nama obat
metformin 500 mg (30) 1-0-1
Glucodex (gliklazid 80 mg)(30)1-0-0
valsartan 80 mg (30) 1x1
Neurodex (vit B1,vit B6, vit B12) (30)
1x1
Obat batuk hitam syr 3 x CI

Tanggal
Periksa (2009)
7 Jun

Penilaian
Terapi yang diberikan dapat mengontrol kadar glukosa darah pasien.
Rekomendasi
1. Lakukan pemantauan terhadap nilai glukosa darah
2. Sarankan pasien untuk mengatur pola makan yang sehat dan melakukan aktivitas/
olahraga yang masih mungkin dapat dilakukan

88

Pasien 15 No. RM 00.43.37.19


Subyektif
Perempuan, 74 tahun.
Diagnosa : DM tipe 2, Hipertensi, Asma
Obyektif
Tanggal Periksa
(2009)
Parameter
2 Feb
6 Mar
TD
120/80 110/70
GDP
164
148
2JPP
Penatalaksanaan

Nama obat
Glurenorm (glikuidon 30 mg) 1x1
Glucobay (akarbose 50 mg) 1-1-1
amlodipin 5 mg (30) 1x1
Noperten (lisinopril 10 mg) (30) 1x1

Tanggal
Periksa (2009)
7 Jun

Penilaian
Terapi yang diberikan belum mampu mengotrol glukosa darah pasien, hal ini diketahui dari
nilai glukosa yang masih lebih tinggi dari nilai rujukan.
Rekomendasi
1. Lakukan pemantauan terhadap nilai glukosa darah
2. Sarankan pasien untuk mengatur pola makan yang sehat dan melakukan aktivitas/
olahraga yang masih mungkin dapat dilakukan

89

Pasien 16 No. RM 00.61.05.98


Subyektif
Perempuan, 71 tahun.
Diagnosa : DM tipe 2, Hipertensi
Obyektif
Tanggal Periksa (2009)
Parameter
22 Jan
20 Feb
30 Apr
26 Mei
TD
130/80
130/70
120/70
110/80
GDP
143
127
107
134
2JPP
140
181
144
198
BUN
12,1
Kreatinin
1,06
Urat
5,4
Protein
++
Penatalaksanaan
Tanggal Periksa (2009)
22
20
30
26
Nama obat
Jan
Feb
Apr Mei
Gludepatic (metformin 500 mg) (30) 3x1

Glurenorm (glikuidon 30 mg) 1x1

Glucobay (akarbose 50 mg) 1-1-1

glikuidon 30 mg (30) 1x1

valsartan 80 mg (30) 1x1

Sohobion (vit B1,vit B6, vit B12) (30) 1x1


Neurodex(vit B1,vit B6, vit B12) (30) 1x1

Penilaian
metformin berinteraksi dengan akarbose dengan severity level : 5 atau minor. Hal ini
menyebabkan bioavailabilitas metformin dapat menurun jika digunakan bersamaan dengan
akarbose. DTPs potensial : Adverse Drug Reaction
Rekomendasi
1. Lakukan pemantauan terhadap nilai glukosa darah pasien dan interaksi obat yang mungkin
dapat terjadi
2. Sarankan pasien untuk mengatur pola makan yang sehat dan melakukan aktivitas/ olah raga
yang masih dapat dilakukan.

90

Pasien 17 No. RM 00.02.85.08


Subyektif
Perempuan, 77 tahun.
Diagnosa : DM tipe 2, Hipertensi, Dislipidemia, Hipertensive Heart Disease (HHD),
Osteoporosis, dispepsia dengan gastropati
Riwayat penyakit: keluhan saat kontrol ialah perut kembung dan sulit buang air besar
Obyektif
Tanggal Periksa
(2009)
Parameter
14 Mei
TD
120/80
GDP
62
2JPP
220
Kolesterol
166
Trigliserida
133
HDL
67
LDL
72
T score
3,2
Penatalaksanaan
Tanggal
Periksa (2009)
Nama obat
14 Mei
metformin 500 mg (30) 1-0-1

Glucobay (akarbose 100 mg) 2 x1

omeprazole 30 mg (30)1x 1

simvastatin 10 mg 0-0-1 (30)

isosorbit dinitrat kl perlu (30)


Penilaian
metformin berinteraksi dengan akarbose dengan severity level : 5 atau minor. Hal ini
menyebabkan bioavailabilitas metformin dapat menurun jika digunakan bersamaan dengan
akarbose. DTPs potensial : Adverse Drug Reaction
Rekomendasi
1. Lakukan pemantauan terhadap nilai glukosa darah pasien dan interaksi obat yang minor
dapat terjadi
2. Sarankan pasien untuk mengatur pola makan yang sehat dan melakukan aktivitas/
olahraga yang masih dapat dilakukan.

91

Pasien 18 No. RM 00.38.11.98


Subyektif
Perempuan, 68 tahun.
Diagnosa : DM tipe 2, Hipertensi, Neuropati
Obyektif
Parameter
TD
GDP
2JPP

Tanggal Periksa (2009)


27 Jun
15 Jan
10 Mar
130/80
130/80
150/100
82
80
127
138
136
123

Penatalaksanaan

Nama obat
Gludepatic (metformin 500 mg) (30)
3x1
Glucodex (gliklazid 80 mg)(90) 3x1
Glucobay (akarbose 50 mg) 1-1-1
Neurodex (30) 1x1
valsartan 80 mg (30) 1x1
1
amitrptilin (15) 1x
2

Tanggal Periksa
(2009)
15
10
27
Jan Mar
Jun

Penilaian
metformin berinteraksi dengan akarbose dengan severity level : 5 atau minor. Hal ini
menyebabkan bioavailabilitas metformin dapat menurun jika digunakan bersamaan dengan
akarbose. DTPs potensial : Adverse Drug Reaction
Rekomendasi
1. Lakukan pemantauan terhadap nilai glukosa darah pasien dan interaksi obat yang mungkin
dapat terjadi
2. Sarankan pasien untuk mengatur pola makan yang sehat dan melakukan aktivitas/ olahraga
yang masih dapat dilakukan.

92

Pasien 19 No. RM 00.61.90.36


Subyektif
Laki-laki, 84 tahun.
Diagnosa : DM tipe 2, Hipertensi, Dislipidemia,Insufisiensi renal, Osteoatritis, Vertigo
Riwayat : pada bulan april, pasien disarankan menggunakan insulin tapi pasien tidak bersedia
Obyektif
Tanggal Periksa (2009)
Parameter
12 Jan
12 Feb
3 Apr
22 Mei 30 Jun
TD
110/70
120/80
120/70
120/80
120/80
GDP
140
91
115
111
111
2JPP
269
179
177
233
170
BUN
13
9,8
Kreatinin
0,84
0,71
Trigliserida
94
134
HDL
42,4
44,3
LDL
149,3
168
Kolesterol
239
Penatalaksanaan
Tanggal Periksa (2009)
12
12
3
22
30
Nama obat
Jan
Feb
Apr
Mei
Jun
Glidabet (gliklazid 80 mg) 1-1-0

metformin 850 mg (30) 1-0-1

Glucobay (akarbose 100 mg) 1-1-1

Sohobion(vit B1,vit B6, vit B12) 1x1

simvastatin 10 mg 0-0-1

Mertigo (betahistin mesylate) 1x1

Penilaian
metformin berinteraksi dengan akarbose dengan severity level : 5 atau minor. Hal ini
menyebabkan bioavailabilitas metformin dapat menurun jika digunakan bersamaan dengan
akarbose. DTPs potensial : Adverse Drug Reaction
Rekomendasi
1. Lakukan pemantauan terhadap nilai glukosa darah pasien dan interaksi obat yang mungkin
dapat terjadi
2. Sarankan pasien untuk mengatur pola makan yang sehat dan melakukan aktivitas/ olahraga
yang masih dapat dilakukan.

93

Pasien 20 No. RM 00.03.07.42


Subyektif
Perempuan, 70 tahun. Diagnosa : DM tipe 2, Hipertensi
Riwayat : Pada bulan Maret, pasien tidak menyuntikkan insulin selama 4 hari
Obyektif
Tanggal Periksa (2009)
Parameter
8 Jan
25 Feb
16 Mar
2 Apr
7 Mei
8 Juni
TD
160/90
110/70
110/80
130/90
130/70
120/80
GDP
221
220
226
165
105
100
2JPP
445
335
402
299
175
190
BUN
15
21
Kreatinin
1,06
1,01
Kolesterol
HDL
LDL
Urat
4,1
Penatalaksanaan
Tanggal Periksa (2009)
8
25
16
2
7
8
Nama obat
Jan
Feb Mar Apr
Mei Juni
Humulin 30/70 (insulin campur) 42-0-20

Lantus (insulin kerja panjang) 0-0-164

Humulin N (insulin kerja sedang) 0-0-164

Humulin N (insulin kerja sedang) 0-0-20

Humulin 30/70 (insulin campur) 14-0-10

metformin 500 mg (30) 1-0-1

Glucobay (akarbose 100 mg) 1-1-1


glukosamin (30) 1x1

valsartan 80 mg (30) 1x1

Sohobion (vit B1,vit B6, vit B12) (30) 1x1

Neurodex (vit B1,vit B6, vit B12) (30)


1x1

tanjil 200 mg (30) 1x1

Penilaian
metformin berinteraksi dengan akarbose dengan severity level : 5 atau minor. Hal ini
menyebabkan bioavailabilitas metformin dapat menurun jika digunakan bersamaan dengan
akarbose. DTPs potensial : Adverse Drug Reaction
Rekomendasi
1. Lakukan pemantauan terhadap nilai glukosa darah pasien dan interaksi obat yang mungkin
dapat terjadi
2. Sarankan pasien untuk mengatur pola makan yang sehat dan melakukan aktivitas/ olahraga
yang masih dapat dilakukan.

94

Pasien 21 No. RM 01.30.13.48


Subyektif
Perempuan, 62 tahun.
Diagnosa : DM tipe 2, Hipertensi
Obyektif
Parameter
TD
GDP
2JPP

28 Jan
130/80
125
145

Tanggal Periksa (2009)


28 Feb
18 Apr
4 Mei
130/80
120/80
130/70
130
110
124
124
168
155

Penatalaksanaan

Nama obat
glimepired 2 mg (30) 1x1
metformin 500 mg (30) 1-0-1
bisoprolol 5 mg (30) 1x1
Neurodex (vit B1,vit B6, vit B12)
(30) 1x1
Norvark (amilodipin) (30) 1x1

Tanggal Periksa (2009)


28
28
18
4
Jan
Feb
Apr Mei

Penilaian
Nilai glukosa darah pasien tidak teratur, kadang terkontrol dan terkadang melebihi dari nilai
rujukan dari rumah sakit.
Rekomendasi
1. Lakukan pemantauan terhadap nilai glukosa darah.
2. Sarankan pasien untuk mengatur pola makan yang sehat dan melakukan aktivitas/ olahraga
dengan rutin.

95

Pasien 22 No. RM 00.17.60.62


Subyektif
Laki-laki, 77 tahun.
Diagnosa : DM tipe 2, Hipertensi, Dermatitis alergi, Rematoid, Insufisiensi renal
Obyektif
Tanggal Periksa (2009)
23 Juni
30 Mar
27 Apr
Parameter
3 Jan
26 Feb
130/80
TD
110/70
150/90
130/80
130/90
151
GDP
98
110
109
166
195
2JPP
141
175
185
133
23
BUN
30
31,3
2,04
Kreatinin
2,04
2,28
Trigliserida
67
HDL
34
LDL
133
6,5
Urat
6,5
Penatalaksanaan
Tanggal Periksa (2009)
3
26
30
27
23
Nama obat
Jan
Feb Mar Apr Juni

Glidabet (gliklazid 80 mg) (30)1-0-0

Glucobay (akarbose 100 mg) 1-1-1

hidroklortiazid 12,5 mg (30) 1-0-0

valsartan 80 mg (30) 1x1

simvastatin 10 mg 0-0-1

Sohobion(vit B1,vit B6, vit B12) (30)1x1

asam folat 3x1

Inevson (desoximetason) 3dd ve

Infenhistin 2x1 (5 hari)

CaCO3 3x1

Penilaian
Nilai glukosa darah pasien tidak teratur, kadang terkontrol dan terkadang melebihi dari nilai
rujukan dari rumah sakit.
Rekomendasi
1. Lakukan pemantauan terhadap nilai glukosa darah.
2. Sarankan pasien untuk mengatur pola makan yang sehat dan melakukan aktivitas/ olahraga
dengan rutin.

96

Pasien 23 No. RM 00.41.76.52


Subyektif
Laki-laki, 77 tahun.
Diagnosa : DM tipe 2, Dislipidemia,
Riwayat : pasien rujukan dari tegalrejo. Mulai menggunakan obat hipoglikemia kombinasi sejak
10 Juni sebelumnya obat tunggal glukobay (akarbose 50 mg)
Obyektif
Tanggal
Periksa (2009)
Parameter
10 Jun
TD
110/70
2JPP
203
Trigliserida
201
Kolesterol
307
Penatalaksanaan
Tanggal
Periksa (2009)
Nama obat
10 Jun
Aldiabet (Glipizide 5 mg) (30) -0Glucobay (akarbose 50 mg) 1-1-1
simvastatin 10 mg 0-0-1
Fitbon (glukosamin) 1x1

Penilaian
Nilai glukosa darah pasien jauh melebihi dari target terapi yang dianjurkan oleh rumah sakit.
Rekomendasi
1. Lakukan pemantauan terhadap nilai glukosa darah.
2. Sarankan pasien untuk mengatur pola makan yang sehat dan melakukan aktivitas/ olahraga
dengan rutin.

97

Pasien 24 No. RM 00.02.18.17


Subyektif
Laki-laki, 76 tahun.
Diagnosa : DM tipe 2, Hipertensi, Post Stroke, Myalgia, low back pain, konstipasi
Obyektif
Tanggal Periksa (2009)
Parameter
12 Jan
16 Feb
16 Mar
17 Jun
TD
120/80
120/80
110/70
110/70
GDP
120,2
139
14
149
2JPP
178,6
197,5
208
Penatalaksanaan

Nama obat
Glucobay (akarbose 50 mg) 1-1-1
metformin 500 mg (30) 1-0-1
Adalat oros (nifedipin 30 mg) 1x1
Neurodex (vit B1,vit B6, vit B12) (30) 1x1
meloxicam 7,5 mg 1x1
diazepam 2 mg 2x1
Laxadin (fenolftalin) syr 1x CII
Penilaian

Tanggal Periksa (2009)


12
16
16
17
Jan
Feb Mar Jun

1. Pemberian bersamaan antara metformin dengan nifedipin dapat meningkatkan efek


metformin yang berakibat munculnya efek hipoglikemia. DTPs potensial : Adverse
Drug Reaction
2. metformin berinteraksi dengan akarbose dengan severity level : 5 atau minor. Hal ini
menyebabkan bioavailabilitas metformin dapat menurun jika digunakan bersamaan dengan
akarbose. DTPs potensial : Adverse Drug Reaction
Rekomendasi
1. Lakukan pemantauan terhadap nilai glukosa darah pasien dan interaksi obat yang mungkin
dapat terjadi
2. Sarankan pasien untuk mengatur pola makan yang sehat dan melakukan aktivitas/ olahraga
yang masih dapat dilakukan.

98

Pasien 25 No. RM 01.01.26.28


Subyektif
Perempuan, 74 tahun.
Diagnosa : DM tipe 2, Hipertensi, Dislipidemia, Insufisiensi Renal, Pruritis
Obyektif
Tanggal Periksa (2009)
Parameter
13 Jan
13 Feb
13 Mar
7 Apr
14 Mei
9 Jun
TD
140/80
130/80
120/80
110/70
120/80
120/80
GDP
114
119
141
105
137
97
2JPP
150
139
228
149
200
144
BUN
31,8
27,5
Kreatinin
1,44
1,57
Kolesterol
231
224
HDL
53,7
50,2
LDL
159
141
Urea
7,2
7,2
Penatalaksanaan
Tanggal Periksa (2009)
13
13
13
7
14
9
Nama obat
Jan
Feb Mar Apr
Mei
Jun
Novomix 6-0-2

Glucobay (akarbose 100 mg)(90)

1-1-1
loratadin 10 mg 1x1

Noperten (lisinopril10 mg) (30) 1x1

simvastatin 10 mg (30) 0-0-1

Neurodex (vit B1,vit B6, vit B12) (30)

1x1

Normofet (simvastatin10 mg) (30)1x1

Penilaian
Kontrol glukosa pasien cukup baik namun terkadang nilai glukosanya lebih tinggi dari nilai
rujukan dari rumah sakit.
Rekomendasi
1. Lakukan pemantauan terhadap nilai glukosa darah.
2. Sarankan pasien untuk mengatur pola makan yang sehat dan melakukan aktivitas/ olahraga
dengan rutin.

99

Pasien 26 No. RM 00.52.64.76


Subyektif
Laki-laki, 76 tahun.
Diagnosa : DM tipe 2, Hipertensi,
Obyektif
Tanggal Periksa
(2009)
Parameter
20 Feb
24 Apr
TD
140/90
150/80
GDP
150
240
2JPP
206
308
Penatalaksanaan

Nama obat
Glucobay (akarbose 50 mg) 1-1-1
Glidabet (gliklazid 80 mg) 1-0-0
valsartan 80 mg 1x1
Neurodex (vit B1,vit B6, vit B12)
(30) 1x1
meloxicam 7,5 mg 1x1

Tanggal
Periksa (2009)
20
24
Feb
Apr

Penilaian
Glukosa darah pasien jauh dari nilai rujukan yaitu 70-120 mg/dl untuk GDP dan 85-145 mg/dl
nilai rujukan 2JPP.
Rekomendasi
1. Lakukan pemantauan terhadap nilai glukosa darah.
2. Sarankan pasien untuk mengatur pola makan yang sehat dan melakukan aktivitas/ olahraga
dengan rutin.

100

Lampiran II. Nilai Rujukan dari RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta


NO
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
8.
9.

Parameter
Kadar glukosa puasa (mg/dl)
Kadar glukosa 2JPP (mg/dl)
Kolesterol (mg/dl)
LDL (mg/dl)
HDL (mg/dl)
Trigliserida(mg/dl)
Kreatinin (mg/dl)
Klirens Kreatinin (ml/menit)
BUN(mg/dl)
Asam Urat (mg/dl)

Nilai Rujukan
70,00-120,00
85,00-145,00
0,00-200,00
0,00-130,00
41,50-66,70
0,00-200,00
0,60-1,30
95-109
7,00-18,00
2,5-8,5

Lampiran III. Obat Paten yang Digunakan


No

Nama Generik
akarbose 100 mg
amilodipine besylate
amlodipine maleat
aspart 30% + aspart-protamine
bedesonide
betahistine mesylate

desoximetason
gliklazid 80 mg
glikuidon 30 mg
glipizide 5 mg
fenoftaline
fenoterol HBr
insulin glargine
lisinopril
metformin 500 mg
nifedipin
Regular soluble human insulin
salbutamol
simvastatin
tertrazosin hidroklorida
vitamin B kompleks
30% soluble insulin & 70% NPH

Nama Dagang
Glucobay
Norvask
Amdixal
Novomix
Inflammide
Mertigo
Inerson
Glidabet, Glucodex
Glurenorm
Aldiab
Laxadin
Benotec
Latus
Noperten
Gludepathic, Glucophage
Adalat Oros
Humulin R
Ventolin
Normofet
Hytrin
Neurodex, Sohobion
Mixtard

101

Lampiran IV. Daftar Singkatan


ADR = Adverse Drug Reaction
AGI = Glukosidase Inhibitor
BUN = Blood Urea Nitrogen
DM = Diabetes Mellitus
DTPs = Drug Therapy Problems
GDP = Glukosa Darah Puasa
GLP-1 = Glucagonlike Peptide-1 Agonist
GPP-4 = Dipeptidyl-peptidase-4
LDL = Low Density Lipid
Met = metformin
HDL = High Density Lipid
SU
= Sulfonilurea
TD
= Tekanan Darah
TDZ = Thiazolidinedione
2JPP = 2 jam post prandial

102

Lampiran V. Surat Ijin Penelitian dari RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

103

Lampiran VI. Surat Kalaikan Etik

104

BIOGRAFI PENULIS

Penulis skripsi Evaluasi Drug Therapy Problems Obat


Hipoglikemia Kombinasi pada Pasien Geriatri Diabetes
Mellitus Tipe 2 di Instalasi rawat Jalan RSUP Dr. Sardijito
Yogyakarta Periode Januari-Juni 2009 ini memiliki nama
lengkap Maria Fea Yessy Ayuningtyas. Penulis dilahirkan
di Bantul 8 Februari 1988 dari pasangan Antonius
Purwanto dan Brigita Sri Setyasih sebagai putri kedua dari
tiga bersaudara.
Pendidikan formal yang telah ditempuh penulis yaitu tahun
1992-1994 di TK Dharma IV Bakti Ngebel, tahun 1994-2000 di SD N Tlogo Kasihan
Bantul, tahun 2000-2003 di SLTP N 1 Yogyakarta, tahun 2003-2006 di SMU N 8
Yogyakarta. Pada tahun 2006 penulis melanjutkan pendidikan di Fakultas Farmasi
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif
dalam kegiatan kemahasiswaan antara lain tergabung dalam UKF JMKI tahun 20062007, Panitia Pengobatan Gratis JMKI 2007, Panitia Inisiasi Fakultas Farmasi
(TITRASI) 2007, Panitia Kelompok Kerja Nasional Tumbuhan Obat Indonesia
(POKJANAS TOI) 2009, Panitia Seminar Ilmiah Nasional 2009, Peserta Program
Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2009.