Anda di halaman 1dari 21

ALAT KONTRASEPSI BAGI PRIA DAN WANITA

MENURUT HUKUM ISLAM

MAKALAH
Disusun untuk Memenuhi Tugas Agama yang Diampu oleh bapak Nur Ahsin,
S.Ag,M.Si
Oleh Kelompok A3/4 :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

KARTIKA HAPSARI D.P


LUTFAH AYU MAULIDA
NAWANG PRATIWI ANITAPA
NOVIE MEIRDHANIA
NUR RAMAWATI
RENI LIA RIANTIKA
SOFRI WAHYUNING YULIANTI
SULATIP
UTEH WULANSARI

PRODI DIII KEPERAWATAN SEMARANG


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
TAHUN AKADEMIK 2012/2013

HALAMAN PENGESAHAN
i

Makalah yang berjudul ALAT KONTRASEPSI BAGI PRIA DAN


WANITA MENURUT HUKUM ISLAM ini telah diterima dan disetujui sebagai
syarat memenuhi tugas kuliah pendidikan agama islam pada semester ganjil tahun
akademik 2012/2013

Disahkan pada
Hari

Tanggal

Tempat

Oleh:

Dosen Pengampu

Nur Akhsin, S.Ag, MSI

MOTTO
ii

1. Di dunia penuh persaingan, siapa yang tidak bersiap-siap


dia akan kalah.
2. Membaca adalah sumber kehidupan.
3. Kembangkan potensimu untuk meraih prestasi.
4. Selagi umur masih panjang ciptakan karya sebanyakbanyaknya.
5. Mungkin orang dapat lupa akan sesuatu, tetapi janganlah
lupa akan jasa-jasa guru.
6. Selagi masih muda banyak-banyaklah menggali ilmu
supaya berguna dikelak nanti.
7. Hargailah karya orang lain, karena dengan menghargai
karya orang lain berarti menghargai diri sendiri.

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
dengan karunianya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ALAT
KONTRASEPSI BAGI PRIA DAN WANITA MENURUT HUKUM ISLAM ini.
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai salah satu bentuk tugas mata kuliah
AGAMA. Dalam pembuatan makalah ini penulis mendapatkan data-data
melalui internet dan buku-buku sebagai bahan referensi.
Penyusunan makalah ini penulis mendapat bimbingan dan dukungan dari
berbagai pihak, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada
waktunya. Untuk itu pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima
kasih kepada :
1. Bapak dan Ibu selaku kedua orang tua kami, yang telah memberikan penulis
doa, dukungan baik moral maupun materiil.
2. Bpk. Sugiyanto,S.Pd,M.App.Sc selaku Direktur Politekhnik Kesehatan
Kemenkes Semarang.
3. Nur Ahsin, S.Ag,M.Si selaku dosen pengampu AGAMA dan semua pihak
yang telah ikut membantu penyusunan karya tulis ini yang tidak dapat penulis
sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran sangat penulis harapkan demi kesempurnaan penyusunan makalah
ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca khususnya bagi penulis
sendiri. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa meridhoi segala usaha kita.
Amin.

Semarang, Oktober 2012


Penyusun

iv

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.........................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN..........................................................................ii
MOTTO...........................................................................................................iii
KATA PENGANTAR.......................................................................................iv
DAFTAR ISI.....................................................................................................v
BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang..........................................................................1
B. Rumusan Masalah...................................................................1

C. Tujuan Penulisan........................................................................2
D. Ruang Lingkup Masalah.............................................................2
BAB II

PEMBAHASAN
A. Pengertian Kontrasepsi................................................................3
B. Metode Kontrasepsi............................................3
C. Hukum Pengesahan Alat Kontrasepsi........................................7
D. Pembahasan Hukum Halal Haram Alat Kontrasepsi................14

BAB III PENUTUP


A. Simpulan..15
B. Saran........................15
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kontrasepsi merupakan sebuah keharusan bagi seseorang yang tidak
menginginkan kehamilan.Mengapa kita membutuhkan Kontrasepsi? Ada
bermacam-macam alasan pribadi: untuk mengatur jumlah dan jarak anak yang
diinginkan, mencegah kehamilan di luar nikah dan mengurangi resiko terjangkit
penyakit hubungan seksual. Secara internasional, kontrasepsi dibutuhkan untuk
membatasi jumlah penduduk dunia dan menjamin ketersediaan sumber daya alam
sehingga menjaga kualitas hidup manusia.
Pemakaian alat kontrasepsi dalam masyarakat bukan merupakan hal yang
baru.Adanya program KB yang ditetapkan pemerintah berkaitan erat dengan
pemakaian kontrasepsi.Alat-alat kontrasepsi yang sekarang banyak digunakan
belum ada pada zaman Rasul, sehingga belum ditetapkan hukumnya. Oleh karena
itu, kami termotivasi untuk menulis makalah tentang alat kontrasepsi bagi pria
dan wanita menurut hukum islam agar para pembaca dapat mengetahui sejauh
mana hubungan tersebut diperbolehkan dalam agama islam.
B. Rumusan Masalah
Berikut ini merupakan rumusan masalah mengenai alat kontrasepsi bagi pria
dan wanita menurut hukum islam:
1.
2.
3.
4.

Apakah definisi dari kontrasepsi?


Beberapa metode kontrasepsi
Bagaimana hukum penggunaan alat kontrasepsi?
Mengetahui hukum halal / haramnya alat kontrasepsi ?

(1)
C. Tujuan
a. Menjelaskan pengertian alat kontrasepsi.

b. Menjelaskan metode kontrasepsi.


c. Menjelaskan hukum penggunaan alat kontrasepsi menurut islam.
d. Menjelaskan hukum halal dan haram penggunaan alat kontrasepasi.
D. Ruang Lingkup Masalah
a. Alat dan metode kontrasepsi.
b. Hukum penggunaan alat kontrasepsi.
c. Pandangan islam mengenai alat kontrasepsi.

(2)

BAB II
ALAT KONTRASEPSI BAGI PRIA DAN WANITA MENURUT HUKUM
ISLAM
A.

Pengertian Kontrasepsi
Konrtasepsi adalah alat untuk mencegah kahamilan setelah melakukan

hubungan intim.Cara kontrasepsi sifatnya tidak permanen dan memungkinkan


pasangan untuk mendapatkan kembali anak apabila di inginkan (Suzilawati,

2009).Menurut Wiknjosastro (2006: 534) kontrasepsi adalah usaha untuk


mencegah kehamilan.
B. Metode Kontrasepsi
a. Kontrasepsi Sterilisasi
Sterilisasi yaitu pencegahan kehamilan dengan mengikat sel indung telur
pada wanita (tubektomi) atau testis pada pria (vasektomi). Proses sterilisasi ini
harus dilakukan oleh ginekolog (dokter kandungan). Sterilisasi berbeda dengan
alat kontrasepsi lain yang pada umumnya hanya bertujuan menghindarkan
kehamilan untuk sementara.
Sterilisasi baik vasektomi maupun tubektomi sama dengan abortus, bisa
berakibat kemandulan, sehingga yang bersangkutan tidak bisa mempunyai
keturunan. Pemerintah Indonesia secara resmi tidak menganjurkan untuk
melaksanakan sterilisasi sebagai cara kontrasepsi dalam program KB.
b. Kontrasepsi Teknik
- Coitus Interruptus (senggama terputus): ejakulasi dilakukan di luar
vagina. Efektivitasnya 75-80%.Faktor kegagalan biasanya terjadi
karena ada sperma yang sudah keluar sebelum ejakulasi, orgasme
-

berulang atau terlambat menarik penis keluar.


Sistem kalender (pantang berkala): tidak melakukan senggama pada
masa subur, perlu kedisiplinan dan pengertian antara suami istri

(3)
(4)
karena sperma maupun sel telur (ovum) mampu bertahan hidup s/d 48 jam
setelah ejakulasi. Efektivitasnya 75-80%.Faktor kegagalan karena salah
menghitung masa subur (saat ovulasi) atau siklus haid tidak teratur sehingga
perhitungan tidak akurat.
c.

Kontrasepsi Mekanik
1. Kondom
Efektif 75-80%.Terbuat dari latex, ada kondom untuk pria maupun wanita
serta berfungsi sebagai pemblokir / barrier sperma.Kegagalan pada umumnya
karena kondom tidak dipasang sejak permulaan senggama atau terlambat

menarik penis setelah ejakulasi sehingga kondom terlepas dan cairan sperma
tumpah di dalam vagina.
2.

Spermatisida

Bahan kimia aktif untuk 'membunuh' sperma, berbentuk cairan, krim atau
tisu vagina yang harus dimasukkan ke dalam vagina 5 menit sebelum
senggama.Efektivitasnya 70%.Sayangnya bisa menyebabkan reaksi alergi.
Kegagalan sering terjadi karena waktu larut yang belum cukup, jumlah
spermatisida yang digunakan terlalu sedikit atau vagina sudah dibilas dalam
waktu < 6 jam setelah senggama.
3. Vaginal diafragma
Lingkaran cincin dilapisi karet fleksibel ini akan menutup mulut rahim bila
dipasang dalam liang vagina 6 jam sebelum senggama. Efektivitasnya sangat
kecil, karena itu harus digunakan bersama spermatisidauntuk mencapai
efektivitas 80%. Cara ini bisa gagal bila ukuran diafragma tidak pas, tergeser saat
senggama, atau terlalu cepat dilepas (< 8 jam ) setelah senggama.
4. IUD (Intra Uterine Device) atau spiral
Merupakan alat kecil terdiri dari bahan plastik yang lentur yang dimasukkan
ke dalam rongga rahim, yang harus diganti jika sudah digunakan selama periode
tertentu. IUD merupakan cara kontrasepsi jangka panjang. Nama populernya
adalah spiral.
(5)
Efektivitasnya 92-94%.Kelemahan alat ini yaitu bisa menimbulkan rasa
nyeri di perut, infeksi panggul, pendarahan di luar masa menstruasi atau darah
menstruasi lebih banyak dari biasanya. Bentuknya seperti cincin dari logam dan
dikelilingi dengan benang sutera.Karena banyak terjadi infeksi pada waktu, maka
metode ini ditinggalkan.Kemudian akhir-akhir ini dengan memakai plastik
seperti polithelene, metode IUD ini dikembangkan dan disempurnakan, baik
mengenai bentuknya maupun bahannya dengan kemajuan teknologi. Dari hasil
percobaan IUD sebagai alat kontrasepsi sangat efektif (Kegagalan menurut Prof.
Hanifa Wiknyosastro hanya 1-1,5 %).

IUD dipasang 2 atau 3 hari sesudah haid atau 3 bulan setelah melahirkan dan
pemasangannya harus dilakukan oleh tenaga yang telah terlatih, serta perlu
adanya kontrol setelah pemasangan.
Meskipun diakui sangat efektif dan efek samping yang tidak bahaya, namun
secara ilmiah, mekanisme kerja IUD hingga kini belum jelas 100%.Banyak teori
dari para ahli kedokteran yang berbeda-beda mengenai mekanisme alat ini, baik
tingkat nasional maupun internasional.
5. IUS atau Intra Uterine System
adalah bentuk kontrasepsi terbaru yang menggunakan hormon
progesteron sebagai ganti logam. Hampir sama dengan IUD tembaga,
tetapi lebih tidak nyeri dan kemungkinan menimbulkan pendarahan
lebih kecil dan menstruasi menjadi lebih ringan (volume darah lebih
sedikit) dan waktu haid lebih singkat.

d.

Kontrasepsi Hormonal
Dengan fungsi utama untuk mencegah kehamilan (karena menghambat

ovulasi), kontrasepsi ini juga biasa digunakan untuk mengatasi


ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh. Macam
kontrasepsi hormonal :
1. Pil Kontrasepsi Kombinasi (OC / Oral Contraception)
Berupa kombinasi dosis rendah estrogen dan progesteron. Merupakan
metode KB paling efektif karena bekerja dengan beberapa cara sekaligus
sbb:
(6)
Mencegah ovulasi (pematangan dan pelepasan sel telur)

Meningkatkan kekentalan lendir leher rahim sehingga menghalangi

masuknya sperma
Membuat dinding rongga rahim tidak siap menerima hasil pembuahan

Bila pasien disiplin minum OC-nya, bisa dipastikan perlindungan kontrasepsi


hampir 100%.Selain itu, OC merupakan metode yang paling reversibel, artinya

bila pengguna ingin hamil bisa langsung berhenti minum pil dan biasanya bisa
langsung hamil dalam 3 bulan.
2. Suntik
Kontrasepsi suntikan adalah cara untuk mencegah terjadinya kehamilan dengan
melalui suntikan hormonal. Kontrasepsi hormonal jenis KB suntikan ini di
Indonesia semakin banyak dipakai karena kerjanya yang efektif, pemakaiannya
yang praktis, harganya relatif murah dan aman.Sebelum disuntik, kesehatan ibu
harus diperiksa dulu untuk memastikan kecocokannya.Suntikan diberikan saat
ibu dalam keadaan tidak hamil. Umumnya pemakai suntikan KB mempunyai
persyaratan sama dengan pemakai pil, begitu pula bagi orang yang tidak boleh
memakai suntikan KB, termasuk penggunaan cara KB hormonal selama
maksimal 5 tahun.
3. Susuk KB (Implan)
Depot progesteron, pemasangan dan pencabutan harus dengan operasi kecil.
4. Koyo KB (Patch)
Ditempelkan di kulit setiap minggu, sayangnya bagi yang berkulit sensitif sering
menimbulkan reaksi alergi.

(7)
C.

Hukum Penggunaan Alat Kontrasepsi


Jika yang dimaksud dengan KB adalah pengaturan kelahiran; bukan

pembatasan kelahiran dengan hanya memiliki dua anak, maka Islam


membolehkan jika alasannya logis dan rasional.
Di antara alasan bolehnya KB atau mengatur kelahiran adalah:

kekhawatiran akan kesehatan ibu jika ia hamil atau melahirkan dalam waktu
tertentu berdasarkan pengalaman atau keterangan dokter yang bisa dipercaya.
Allah befirman
Janganlah kalian mencampakkan diri kalian dalam kebinasaan.

kekhawatiran terhadap anak yang masih menyusui jika ada kandungan baru.
Nabi saw. Menamai senggama yang dilakukan di masa menyusui dengan
ghilah karena bisa mengakibatkan kehamilan yang merusak ASI dan
memperlemah anak.

Adapun terkait dengan penggunaan alat kontrasepsi, kondom termasuk yang


diperbolehkan. Pasalnya, ada lima persoalan yang terkait dengan penggunaan alat
kontrasepsi, yaitu :
1. Cara kerjanya, apakah mengatur kehamilan atau menggugurkan
kehamilan (isqat al-haml)?
2. Sifatnya, apakah ia hanya pencegahan kehamilan sementara atau
bersifat pemandulan permanen (taqim)?
3. Pemasangannya, Bagaimana dan siapa yang memasang alat
kontrasepsi tersebut? (Hal ini berkaitan dengan masalah hukum melihat
aurat orang lain).
4. Implikasi alat kontrasepsi terhadap kesehatan penggunanya.
5. Bahan yang digunakan untuk membuat alat kontrasepsi tersebut.
Alat kontrasepsi yang dibenarkan menurut Islam adalah yang cara kerjanya
mengatur kehamilan, bersifat sementara (tidak permanen) dan dapat dipasang
sendiri oleh yang bersangkutan atau oleh orang lain yang tidak haram
memandang auratnya (suami) atau oleh orang lain yang pada dasarnya tidak
boleh memandang auratnya tetapi dalam keadaan darurat
(8)
ia dibolehkan. Selain itu bahan pembuatan yang digunakan harus berasal dari
bahan yang halal, serta tidak menimbulkan implikasi yang membahayakan
(mudlarat) bagi kesehatan.
1. Hukum Sterilisasi

Sterilisasi menurut Islam pada dasarnya dilarang, karena:


a. Sterilisasi berakibat pemandulan tetap. Hal ini bertantangan dengan tujuan
pokok perkawinan, yaitu selain mendapat kebahagiaan di dunia dan
akhirat juga untuk mendapat keturunan yang sah, serta merupakan bentuk
pengingkaran terhadap nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah berupa
b.

kelengkapan anggota tubuh.


Mengubah ciptaan Allah SWT dengan jalan memotong dan
menghilangkan sebagian tubuh yang sehat dan berfungsi (saluran mani/

telur).
c. Melihat aurat orang lain. Pada prinsipnya Islam melarang orang melihat
aurat orang lain meskipun satu jenis kelamin, berdasarkan hadist berikut:
Janganlah laki-laki melihat aurat laki-laki lain dan janganlah bersentuhan
seorang laki-laki dengan laki-laki lain dibawah sehelai selimut, dan tidak
pula seorang wanita dengan wanita lain dengan wanita lain di bawah satu
kain (selimut). (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi).
d. Sterilisasi adalah tindakan menyiksa diri sendiri dengan memotong bagian
dari tubuhnya yang bisa menyebabkan bahaya bagi pelakunya.
Tetapi apabila suami istri dalam keadaan terpaksa (darurat), seperti untuk
menghindari penurunan penyakit dari bapak/ ibu terhadap anak keturunannya,
atau terancamnya jiwa si ibu bila mengandung atau melahirkan, maka sterilisasi
diperbolehkan. Hal ini berdasar kaidah fiqih; keadaan darurat membolehkan halhal yang dilarang (Zuhdi, 1997: 67-71).

(9)
2. Hukum IUD
Prof. M. Toha (dalam Zuhdi: 72) membuat kesimpulan sebagai berikut:
-

IUD dalam rahim tidak menghalangi pembuahan sel-sel telur. Hal ini sesuai
dengan pengakuan IPPF (International Planned Parenthood Federation)
bahwa dengan adanya IUD sel mani masih dapat masuk dan dapat membuahi
sel telur.

94% dari wanita pemakai IUD tidak menjadi hamil melalui mekanisme
kontradiksi (menghalang-halangi bersarangnya telur yang telah dibuahi pada

dinding rahim).
Telur (fertilized ovum) itu adalah permulaan hidup manusia (human life)

yang harus dihormati.


Pemcegahan meneruskan hidup dari telur sama dengan pengguguran atau
menggagalkan kelahiran yang normal dari janin yang dapat hidup terus di
luar kandungan.

Dr. H. Ali Akbar yang dikenal mempunyai keahlian dalam bidang agama dan
kedokteran berpihak kepada yang mengharamkan pengguguran, juga
mengharamkan spiral karena bersifat abortive bukancontraceptive.
Namun Prof. M. Djuwari tidak menerima pendapat bahwa IUD ini berarti
pengguguran terus-menerus karena :
-

Kontranidasi karena IUD tidak sama dengan abortus provocatus.


Sumpah dokter yang disitir oleh Orof. M. Toha, yakni menghormati setiap
hidup insani mulai dari pembuahan sudah dirubah. Teks lafal sumpah dokter
yang baru adalah teks lama yang diamandir oleh22nd Medical Assembly,
Sydney, Australia, August 1968 yang berbunyi: a Doctor must always bear
in mind obligation of preserving human life. (Seorang dokter harus selalu
mengingat kewajiban melindungi hidup manusia).
Musyawarah Ulama Terbatas mengenai KB dipandang dari segi hukum

syariat Islam pada tanggal 26-29 Juni 1972 memutuskan antara

(10)
lain bahwa: Pemakaian IUD dan sejenisnya tidak dapat dibenarkan selama
masih ada obat-obat dan alat-alat lain, karena untuk pemasangan/
pengontrolannya harus dilakukan dengan melihat aurat besar wanita; hal ini
diharamkan oleh Syariat Islam, kecuali dalam keadaan darurat. Kemudian
Musyawarah Nasional Ulama tentang Kependudukan, Kesehatan, dan
Pembangunan pada tanggal 17-20 Oktober 1983 memutuskan antara lain bahwa,
Penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (IUD) dalam pelaksanaan KB dapat

dibenarkan, jika pemasangan dan pengontrolannya dilakukan oleh tenaga medis


wanita, atau jika terpaksa dapat dilakukan 0leh tenaga medis pria didampingi
oleh suami atau wanita lain. Namun kedua keputusan itu tidak disertai dengan
dalil-dalil syari secara rinci.
Perubahan fatwa hukum suatu masalah memang bisa dimungkinkan, karena
illat hukum yang menjadi alasan hukum ijtihad itu telah berubah, atau karena
zaman dan situasi kondisinya telah berubah. Hal ini sesuai kaidah fiqih:
1. Hukum itu berputar di atas illatnya (alasan yang menyebabkan adanya
hukum) ada/ tidaknya.
2. Hukum-hukum itu bisa berubah karena perubahan zaman, tempat, dan
keadaan.
Menurut Masjfuk Zuhdi pendapat yang mengharamkan pemakaian IUD
kecuali dalam keadaan darurat mempunyai landasan dalil yang syari yang lebih
kuat, antara lain ialah:
a.

Hadits Nabi :

Janganlah laki-laki melihat aurat laki-laki lain dan janganlah bersentuhan


seorang laki-laki dengan laki-laki lain dibawah sehelai selimut, dan tidak pula
seorang wanita dengan wanita lain dengan wanita lain di bawah satu kain
(selimut). (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi). Hadits ini
tampaknya dapat dijadikan dalil oleh pendapat pertama ini, bahwa pemasangan
dan pengontrolan IUD itu tidak boleh

( 11)
dilakukan oleh seseorang yang bukan mahramnya, sekalipun oleh tenaga medis,
kecuali darurat.
b.

IUD dipandang sebagai alat yang bersifat abortive, bukan alat

contraceptive, selain itu termasuk dalam kategori syubhat karena mekanisme alat
ini hingga kini masih belum jelas dikalangan dunia kedokteran. Alat ini masih
dipersoalkan apakah contraceptive atau abortive, sehingga IDI pada tahun 1969

memandang perlu mengusulkan perubahan sumpah dokter untuk Indonesia


dengan maksud untuk membolehkan pemakaian IUD.
Menghadapi hal-hal yang masih syubhat, kita harus berhati-hati dengan cara
menghindari atau menjauhinya, demi menjaga kemurnian jiwa dalam pengabdian
kita kepada Allah SWT. Selama cara kerja IUD belum jelas, maka IUD sebagai
alat kontrasepsi tidak dibenarkan oleh Islam, kecuali dalam keadaan darurat.
Kesimpulan diatas di dasarkan pada dalil-dalil syari sebagai berikut:
1.

Firman Allah dalam Surat Al Isra ayat 36

..........
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya...........
Ayat ini dengan jelas mengingatkan kita agar tidak ikut-ikutan melakukan
sesuatu yang kita tidak/ belum tahu benar tentang hukum yang sebenarnya.
2.

Hadits Nabi

Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara
keduanya terdapat hal-hal musyabbihat (syubhat / samar, tidak jelas halalharamnya), yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang
menjaga hal-hal musyabbihat, maka ia telah membersihkan kehormatan dan
agamanya. Dan, barangsiapa yang terjerumus dalam syubhat, maka ia seperti
penggembala di sekitar tanah
(12)
larangan, hampir-hampir ia terjerumus ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap
raja mempunyai tanah larangan, dan ketahuilah sesungguhnya tanah larangan
Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya.
Hadis ini mengingatkan kita agar kita menghindari dan menjauhi hal-hal yang
syubhat, demi menjaga agama dan kehormatan kita.

Jika penggunaan alat kontrasepsi adalah untuk pengaturan kelahiran yang bersifat
temporer (tidak permanen) telah dikonsultasikan oleh dokter dan adanya sebabsebab yang dibenarkan syariah untuk itu serta merupakan hasil musyawarah
antara suami istri maka hal itu diperbolehkan selama tidak membahayakan atau
memberikan mudharat kepada si ibu. Diantara sebab-sebab yang membolehkan
seseorang menggunakan alat kontrasepsi yang bersifat temporermenurut
Syeikh Yusuf al Qaradhawiadalah :
a.

Karena takut akan keselamatan hidup si ibu apabila mengandung atau

melahirkan lagi setelah dilakukan penelitian atau pemeriksaan oleh dokter yang
dapat dipercaya, firman Allah swt :


Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. (QS. Al
Baqoroh : 195)


Dan janganlah kamu membunuh dirimu.Sesungguhnya Allah adalah Maha
Penyayang kepadamu. (QS. An Nisaa : 29)

(13)
b.

Karena khawatir terjatuh ke dalam kesulitan duniawi yang kadang-kadang

bisa membawa kepada kesulitan dalam agamanya, sehingga dia mau menerima
yang haram atau melakukan yang dilarang

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran


bagimu. (QS. Al Baqoroh : 185
c.

Khawatir terhadap kesehatan dan pendidikan anak-anaknya.

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid bahwasanya
seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw seraya berkata,Wahai
Rasulullah, saya melakukan azal terhadap isteri saya. Maka Rasulullah saw
bertanya kepadanya,Mengapa kamu lakukan hal itu? dia menjawab,Saya
kasihan kepada anaknyaatau ia berkata,Anak-anak. Kemudian Rasulullah
saw bersabda,Seandainya hal (menyetubuhi isteri yang hamil) itu berbahaya
(terhadap kesehatan anak), nisacaya akan membahayakan bangsa Persia dan
Romawi. (HR. Muslim)
Seolah-olah Nabi saw mengetahui bahwa kondisi individual itu tidak
membahayakan bangsa secara keseluruhan, dengan dasar bahwa tindakan
semacam itu tidak membahayakan bangsa Persia dan Romawi, padahal pada
waktu itu merupakan bangsa terkuat di dunia.
d.

Khawatir terhadap isteri yang menyusui apabila dia hamil lagi dan

melahirkan anak yang baru .

(14)
D. Pembahasan Hukum Halal Haram Alat Kontrasepsi
Ada 3 macam penggunan alat pencegah kehamilan:
1. Penggunaan alat yang dapat mencegah kehamilan untuk selamanya. Hukumnya
tidak boleh, sebab menghentikan kehamilan berarti mengakibatkan berkurangnya
jumlah keturunan. Hal ini jelas bertentangan dengan anjuran Rasulullah untuk

memperbanyak jumlah umat islam, selain itu bisa saja anak-anak yang sudah ada
meninggal dunia, akibatnya akan lebih parah dengan hidup tanpa keturunan.
Adapun jiika seseorang membatasi kelahiran karena alasan duniawi , takut rizki
misalnya, maka ia benar-benar telah keliru. Karena Rabbul Izzah berfirman
dalam kitab-Nya yang mulia:





Dan tidak ada satu makhluk melata pun di bumi ini kecuali Allah-lah yang
menanggung rizkinya. (Hud:6)
Dan juga firman-Nya:



Berapa banyak hewan yang tidak dapat membawa (mengurus) sendiri rizkinya
tapi Allah lah yang memberikan rizkinya dan juga memberikan rizki kepada
kalian. (Al-Ankabut:60)
2. Penggunaan alat yang dapat mencegah kehamilan, namun sifatnya hanya
sementara. Misalnya seorang wanita ingin mengatur jarak kehamilannya menjadi
dua tahun sekali untuk meringankan dirinya dalam mengasuh anak-anak dan atau
anggota keluarganya yang lain, maka hal ini diperbolehkan. Dengan syarat atas
izin suami dan penggunaan alat itu tidak membahayakan dirinya. Dalilnya adalah
para sahabat dulu melakukan 'azl terhadap istrinya untuk menghindari kehamilan
dan Nabi tidak melarang perbuatan tersebut.
3. Penggunaan alat yang berfungsi membunuh embrio manusia maka
hukumnya haram atau tidak boleh. Contoh: IUD/spiral

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan makalah diatas dapat disipulkan bahwa alat kontrasepsi yang
dibenarkan menurut Islam adalah yang cara kerjanya mengatur kehamilan,

bersifat sementara (tidak permanen) dan dapat dipasang sendiri oleh yang
bersangkutan atau oleh orang lain yang tidak haram memandang auratnya
(suami) atau oleh orang lain yang pada dasarnya tidak boleh memandang
auratnya tetapi dalam keadaan darurat ia dibolehkan. Selain itu bahan pembuatan
yang digunakan harus berasal dari bahan yang halal, serta tidak menimbulkan
implikasi yang membahayakan (mudlarat) bagi kesehatan.
Alat kontrasepsi yang boleh digunakan di antaranya adalah kondom dan oral
pill.Sterilisasi dan IUD sebaiknya tidak dilakukan kecuali karena alasan medis
yang dipandang darurat.
Penggunaan alat kontrasepsi harus memperhatikan :
1.

Cara kerjanya

2.

Sifatnya

3.

Pemasangannya

4.

Implikasi alat kontrasepsi terhadap kesehatan penggunanya.

5.

Bahan yang digunakan untuk membuat alat kontrasepsi tersebut.

B. Saran
Apabila seseorang hendak menggunakan alat kontrasepsi dalam programkeluarga
berencana, maka sebaiknya mempertimbangkan terlebih dahulu segalaaspek
yang menyangkut kelancaran penggunaannya. Beberapa aspek yang
bharusdiperhatikan di antaranya sebagai berikut:
A. Alat kontrasepsi, apakah aman untuk digunakan atau tidak
B. Keuangan keluarga, bila memiliki keuangan yang cukup mengapa anda harus
KB.
(15)

Daftar Pustaka
Zuhdu, Masjfuk. 1997 . Masail Fiqhiyah. Jakarta: PT Toko Gunug Agung.
Majalah Ar-risalah edisi 99 Vol. 1X No. 3

Buku Saku Kontrasepsi dan Kesehatan Seksual Reproduksi, 2007, Suzanne


Everet. Jakarta: EGC
Teknologi Kontrasepsi, 2007. Siswosudarmo et al. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.