Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

OSTEOMIELITIS

Disusun Oleh:
M. Gusti Haryandi

110100067

M. Arief Fadillah

110100287

Eka Apriani Lubis

110100068

Gita Rizki Maulida

110100227

Teh Eevy

110100463
Pembimbing:

Prof. Dr. Nazar Moesbar, Sp.B, Sp.OT(K)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER


DEPARTEMEN ORTHOPAEDI DAN TRAUMATOLOGI
RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2016

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa yang
telah memberikan rahmat dan karunia-Nya yang begitu besar sehingga penulis
dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Osteomielitis. Makalah ini disusun
sebagai rangkaian tugas kepaniteraan klinik di Departemen Orthopaedi dan
Traumatologi RSUP H. Adam Malik/Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera
Utara.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr.
Nazar Moesbar, Sp.B, Sp.OT(K) selaku pembimbing yang telah memberikan
arahan dalam penyelesaian makalah ini. Dengan demikian diharapkan makalah ini
dapat memberikan kontribusi positif dalam memperdalam ilmu pengetahuan di
bidang orthopaedi dan traumatologi.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari
sempurna, baik dari segi materi maupun tata cara penulisannya. Oleh karena itu,
dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun demi perbaikan makalah ini di kemudian hari.

Medan, Februari 2016

Penulis

ii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................

DAFTAR ISI .....................................................................................................

ii

BAB 1 PENDAHULUAN.................................................................................

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA........................................................................


2.1 DEFINISI......................................................................................................
2.2 ETIOLOGI....................................................................................................
2.3 EPIDEMIOLOGI..........................................................................................
2.4 FAKTOR RESIKO........................................................................................
2.5 KLASIFIKASI..............................................................................................
2.6 PATOFISIOLOGI..........................................................................................
2.7 DIAGNOSIS.................................................................................................
2.8 PENATALAKSANAAN...............................................................................
2.9 KOMPLIKASI..............................................................................................
2.10 PROGNOSIS...........................................................................................

3
3
3
5
6
7
8
10
12
13
14

KESIMPULAN.................................................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 16

BAB I
PENDAHULUAN

Osteomyelitis merupakan infeksi yang terjadi pada tulang. Infeksi ini


dapat terjadi akibat infeksi yang menyebar melalui pembuluh darah atau
penyebaran melalui jaringan sekitar. Infeksi ini juga dapat terjadi akibat infeksi
langsung terhadap tulang tersebut1.Kejadian kejadian seperti trauma dan trauma
dapat mengubah integrasi dari tulang dan menimbulkan onset infeksi pada tulang.1
Prevalensi terjadinya osteomyelitis telah mengalami penurunan selama
beberapa tahun disebabkan oleh semakin meningkatnya kontrol penyebaran
osteomyelitis pada banyak rumah sakit. Hal ini juga terjadi akibat semakin
meningkatnya pemahaman mengenai pengobatan osteomyelitis. Insidensi
osteomyelitis pada anak di Amerika pada tahun 1970 telah mengalami
pengurangan dari 87 per 10000 kejadian menjadi 47 per 10000 kejadian.1
Penyebab tersering pada infeksi tulang adalah Staphylococcus aureus.
Infeksi yang disertai dengan trauma terbuka (open trauma) atau penggantian sendi
(joint prostheses) diobati dengan menggunakan kombinasi antimicrobial dan
operasi. Kombinasi rifampicin dengan antibiotic lainnya mungkin diperlukan
untuk pengobatan.1
Pada umumnya, osteomyelitis dikategorikan berdasarkan hitopatologinya
bukan lama infeksinya. Berdasarkan histopatologinya, osteomyelitis menjadi dua
bagian, yaitu akut dan kronis osteomyelitis. Akut osteomyelitis dilihat
berdasarkan perubahan tulang akibat bakteri pathogen dan gejala biasanya timbul
dalam dua minggu setelah terjadinya infeksi. Klasifikasi osteomyelitis lainnya
berdasarkan pada mekanisme infeksi (melalui hemtogen atau infeksi langsung dari
jaringan lunak yang sudah terinfeksi atau luka yang terbuka lama). Sistem
klasifikasi Cierny Mader dibuat untuk manajemen operasi dan tidak digunakan
untuk pengobatan primer.2

Terapi yang tidak adekuat dapat menyebabkan infeksi ini terjadi lagi dan
menjadi infeksi kronis. Akibat dari avaskularisasi yang terjadi, osteomyelitis
kronis hanya dapat diobati dengan reseksi radikal atau amputasi. Infeksi kronis ini
terjadi lagi sebagai eksaserbasi akut yang hanya dapat ditekan dengan
debridement disertai terapi antimikroba parenteral dan oral. Fraktur patologis,
amyloidosis sekunder, dan squamous sel karsinoma merupakan komplikasi yang
jarang terjadi pada sinus tract cutaneous orifice.3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI
Osteomielitis adalah infeksi tulang dan sumsum tulang. Osteomielitis akut
terutama ditemukan pada anak-anak. Umumnya infeksi pada tulang panjang
dimulai pada metafisis. Tulang yang sering terkena ialah femur bagian distal, tibia
bagian proksimal, humerus, radius, dan ulna bagian proksimal dan distal, serta
vertebra. 4
Osteomielitis ialah proses inflamasi akut atau kronis pada tulang dan
struktur sekundermya yang biasanya diakibatkan infeksi oleh bakteri piogenik.5
Merupakan penyakit infeksi pada tulang dan medula tulang baik karena infeksi
piogenik atau non-piogenik misalnya mikobakterium tuberkulosa.6

2.2 ETIOLOGI
Staphylococcus

aureus

merupakan

organisme

tersering

penyebab

osteomielitis terutama osteomiletis akut yaitu lebih kurang 90% kasus. Tempat
masuk dari bakteri ialah melalui kulit yang terluka dan terinfeksi, lecet, dan
jerawat atau bisul. Terkadang juga dapat melalui mukosa membran selaput lendir
dari saluran napas atas sebagai komplikasi dari infeksi tenggorokan atau hidung.
Bahkan bila menyikat gigi yang telalu kuat dan menyebabkan inflamasi gusi dapat
mengakibatkan bakteremia transien. Adanya bakteremia, memainkan peranan
penting dalam menentukan bagian tulang yang berkembang menjadi osteomielitis
(kemungkinan karena ada trombosis lokal dan penurunan resistensi terhadap
infeksi) selain itu juga menjelaskan mengapa insiden osteomielitis lebih tinggi
pada laki-laki dan lebih sering menyerang ekstremitas bawah.7

Selain itu bakteri lain yang dapat menyebabkan osteomielitis ialah


Streptococcus dan Pneumococcus terutama pada bayi. Dengan berkembangnya
vaksin yang efektif maka Haemophilus influenzae sudah jarang menyebabkan
osteomielitis.7 Bakteri lain yang dapat menyebabkan osteomielitis yaitu E. colli,
Aerogenus kapsulata, Salmonella tifosa, Psedumonas aerogenus, Proteus
mirabilis, Brucella, dan bakteri anaerobik yaitu Bakteroides fragilis.6

Gambar 1. Etiologi dan Prevalensi Osteomielitis Hematogen8


Untuk osteomielitis kronis terutama disebabkan bakteri Staphylococcus
auerus (75%) atau E.colli, Proteus, atau Pseudomonas. Staphylococcus
epidermidis merupakan penyebab utama osteomielitis kronik pada pasien operasi
ortopedi yang menggunakan implan.6

Organisme penyebab osteomielitis tersering berdasarkan umur pasien :


Bayi ( < 1 tahun)

- Grup B Streptococci
- Staphylococcus auereus
- Escherichia coli
Anak (1 16 tahun)
- Staphylococcus auereus
- Streptococcus pyogenes
- Haemophilus influenzae
Dewasa ( >16 tahun) - Staphylococcus epidermidis
- Staphylococcus auereus
- Pseudomonas aeruginosa
- Serratia mercescens
- Escherichia coli
Tabel 1. Organisme Penyebab Osteomielitis Berdasarkan Umur9

2.3 EPIDEMIOLOGI
Osteomielitis memiliki beberapa kecenderungan yang luas. Insiden
osteomielitis hematogen tampaknya semakin menurun. Dalam satu studi, di
Glasgow, Skotlandia, dari 275 kasus osteomielitis hematogen akut pada anak di
bawah tiga belas tahun, penulis melaporkan penurunan kejadian sekitar 87-42 per
10.000 kasus per tahun selama periode dua puluh tahun penyelidikan. Jumlah
kasus osteomielitis yang melibatkan tulang panjang menurun sementara tingkat
osteomielitis di tempat lainnya tetap sama. Prevalensi infeksi Staphylococcus
aureus juga menurun, dari 55% menjadi 31%, selama dua puluh tahun waktu
penelitian.10
Berbeda dengan osteomielitis hematogen, kejadian osteomielitis karena
inokulasi langsung atau contiguous focus infection meningkat. Ini mungkin akibat
meningkatnya angka kejadian kecelakaan kendaraan bermotor dan meningkatnya
penggunaan perangkat fiksasi ortopedi dan jumlah implan sendi. Laki-laki
memiliki angka kejaadian yang lebih tinggi terhadap osteomielitis daripada
wanita. Osteomielitis terjadi dengan frekuensi yang lebih tinggi pada pasien
immunocompromised.10

2.4 FAKTOR RESIKO


1. Sumber Infeksi
Osteomielitis dapat disebabkan oleh penyebaran hematogen, inokulasi
langsung dari mikroorganisme ke dalam tulang, atau fokus bersebelahan infeksi.
Osteomielitis hematogen biasanya melibatkan metafisis tulang panjang pada anakanak atau badan vertebra pada orang dewasa. Penyebab paling umum dari directinokulasi osteomielitis yaitu luka tembus dan kontaminasi bedah. Osteomielitis
fokus infeksi bersebelahan umumnya terjadi pada pasien dengan penyakit
pembuluh darah yang parah.10
2. Faktor Host
Faktor

host

dapat

mempengaruhi

individu

untuk

pengembangan

osteomielitis. kekurangan host yang menyebabkan bakteremia mendukung


pengembangan osteomielitis hematogen. kekurangan host yang terlibat dalam
inokulasi langsung dari organisme atau penyebaran infeksi bersebelahan dari
daerah yang berdekatan dengan infeksi jaringan lunak terutama terlibat dalam
kurangnya pertahanan terhadap infeksi. Tiga kelompok pasien dengan kerentanan
yang tidak biasa untuk infeksi tulang akut adalah mereka dengan anemia sel sabit,
penyakit granulomatosa kronis, dan diabetes mellitus. Banyak faktor sistemik dan
lokal mempengaruhi kemampuan host untuk mendapatkan respon yang efektif
terhadap infeksi dan pengobatan (Tabel 2).10

Systemic or Local Factors That Affect Immune Surveillance, Metabolism, and


Local Vascularity
Systemic (Bs)
Local (BI)
Malnutrition

Chronic lymphedema

Renal, hepatic failure

Venous stasis

Diabetes mellitus

Major vessel compromise

Chronic hypoxia

Arteritis

Immune disease

Extensive scarring

Malignancy

Radiation fibrosis

Extremes of age

Small vessel disease

Immunosuppression or immune deficiency

Neuropathy

Asplenia
HIV/AIDS
Ethanol and/or tobacco abuse
Tabel 2. Faktor Sistemik dan Lokal Mempengaruhi Kemampuan Host untuk
Mendapatkan Respon yang Efektif terhadap Infeksi dan Pengobatan10

2.5 KLASIFIKASI
Osteomyelitis umumnya dikategorikan akut atau kronis berdasarkan
temuan histopatologi, bukan durasi infeksi. Osteomyelitis akut berhubungan
dengan perubahan inflamasi tulang yang disebabkan oleh bakteri patogen, dan
gejala biasanya hadir dalam waktu dua minggu setelah infeksi. tulang nekrotik
hadir dalam osteomyelitis kronis, dan gejala tidak mungkin terjadi sampai enam
minggu setelah timbulnya infeksi. Klasifikasi lebih lanjut dari osteomyelitis
didasarkan pada dugaan mekanisme infeksi (misalnya, hematogen atau inokulasi
langsung dari bakteri ke dalam tulang dari infeksi jaringan lunak yang berdekatan
atau di atasnya luka terbuka kronis).11

2.6 PATOFISIOLOGI
Penyebaan osteomielitis terjadi melalui dua cara, yaitu: 6
1. Penyebaran umum
- Melalui sirkulasi darah berupa bakteremia dan septikemia
- Melalui embolus infeksi yang menyebabkan infeksi multifokal
pada daerah-daerah lain
2. Penyebaran lokal
- Subperiosteal abses akibat penerobosan abses melalui periost
- Selulitis akibat abses subperiosteal menembus sampai di bawah
-

kulit
Penyebaran ke dalam sendi sehingga terjadi arthritis septik
Penyebaran ke medula tulang sekitarnya sehingga sistem sirkulasi
ke dalam tulang terganggu,

Perkembangan awal dan cepat dari osteomielitis hematogen yang tidak


diobati ditandai adanya fokus awal kecil dari inflamasi bakteri disertai hiperemia
awal dan edema pada tulang cancellous dan sumsum daerah metafisis tulang
panjang. Tidak seperti jaringan lunak yang mampu berkembang untuk
mengakomodasi pembengkakan, tulang merupakan suatu ruang yang tertutup dan
kaku.

Oleh karena itu, edema awal dari proses inflamasi menyebabkan

peningkatan tajam tekanan intraosseous. Sehingga menimbulkan gejala berupa


nyeri lokal yang berat dan konstan. Terbentuknya pus juga semakin meningkatkan
tekanan lokal dan menyebabkan trombosis pembuluh darah dan nekrosis tulang.7
Infeksi yang tidak diobati akan menyebar cepat dengan berbagai cara,
menghancurkan tulang melalui osteolisis (gambar 2). Melalui pembuluh darah
yang rusak di lesi lokal, sejumlah besar bakteri kembali menyerang aliran darah
dan bakteremia yang tidak terdeteksi tersebut menjadi septikemia yang
bermanifestasi menjadi malaise, anoreksia, dan demam. Penyebaran lokal infeksi
melalui ekstensi langsung dibantu oleh peningkatan tekanan lokal, menembus
korteks yang tipis di daerah metafisis dan melibatkan periosteum yang sangat
sensitif sehingga terjadi tenderness lokal. Periosteum yang melekat pada tulang
selama masa kanak-kanak menjadi longgar lalu terpisah dari meninggi dari

tulangnya. Hasilnya berupa abses subperiosteal yang tetap terlokalisasi atau


menyebar ke seluruh shaft tulang. Periosteum yang meninggi akan mengganggu
aliran darah yang mendasari korteks sehingga memperluas nekrosis tulang.7

Gambar 2. Mekanisme Terjadinya Osteomielitis7


Setelah beberapa hari pertama, infeksi menembus periosteum dan
menyebabkan selulitis dan akhirnya berupa abses jaringan lunak. Pada daerah
metafisis di dalam sendi sinovial, seperti ujung atas femur dan radius, penetrasi
periosteum membawa infeksi secara langsung ke dalam sendi dan menyebabkan
arthritis septik. Di sisi lain ketika daerah metafisis luar tetapi dekat dengan sendi
maka sering terbentuk efusi sinovial steril.
Sementara itu, penyebaran infeksi lokal melalui rongga meduler dapat
mengganggu sirkulasi internal. Daerah yang dihasilkan dari nekrosis tulang yang
mungkin berbeda dalam batas dari spicule kecil ke seluruh shaft dan akhirnya

10

terpisah sehingga terbentuk kepingan jaringan tulang yang sudah mati dan disebut
sebagai sekuestrum. Pembentukan tulang baru yang luas dari lapisan dalam
periosteum menyebabkan shaft tulang terbungkus atau disebut sebagai
involokrum, yang mempertahankan eterlibatan tulang bahkan ketika segemen
besar dari shaft mati dan mengalami sekuestrum (Gambar 2). Lempeng epifisis
berperan sebagai penghalang penyebaran langsung infeksi tetapi bila lempeng
tersebut sudah rusak maka gangguan pertumbuhan yang serius akan muncul di
kemudian hari.7
Jika tidak dikontrol, setiap saat septikemia dapat menyebabkan fokus
metafisis infeksi pada tulang lainnya. Lebih pentingnya hal tersebut akan
menyebabkan fokus infeksi pada organ lain terutama di paru-paru dan otak juga
menyebabkan kematian. Selain itu dapat berkembang menjadi osteomielitis kronis
berupa menginfeksi tulang yang mati.7

2.7 DIAGNOSIS
Osteomielitis harus dicurigai bila pasien datang dengan rasa sakit, bengkak,
eritema atau kehangatan kulit dan jaringan lunak diatas tulang. Pada kondisi
subakut atau kronis manifestasi yang muncul umumnya hanya berupa nyeri.
Gejala sistemik (demam yaitu dan menggigil) terjadi pada pasien dengan
osteomielitis akut tapi jarang terdapat pada pasien dengan kronis osteomielitis
kronis. Lubang drainase biasanya terlihat pada kasus-kasus osteomyelitis kronis.
Tes probe-to-bone banyak digunakan untuk mendiagnosis osteomyelitis pada
pasien dengan diabetes ulkus kaki dan contiguous osteomyelitis. Grayson et al.
menemukan bahwa tes ini memiliki sensitivitas 66% dan nilai prediksi positif
89%.12
Konfirmasi dari osteomyelitis membutuhkan penggunaan berbagai tes
laboratorium, mikrobiologi, radiografi dan tes patologis. Tingkat sedimentasi
eritrosit (ESR) dan protein C-reaktif (CRP) biasanya normal. Jumlah sel darah
putih kadang-kadang meningkat. Jumlah trombosit dapat meningkat (penanda

11

inflamasi) sedangkan konsentrasi hemoglobin bisa rendah (anemia penyakit


kronis). kultur darah mungkin positif pada hematogen akut dan osteomielitis
vertebral. Kultur pada luka dangkal atau saluran drainase harus diinterpretasikan
secara hati-hati tidak boleh digunakan untuk memilih terapi antimikroba kecuali
telah dilakukan isolasi terhadap S. aureus.12
Pengambilan sampel jaringan tulang melalui aspirasi jarum di bawah
bimbingan radiologis atau prosedur bedah memungkinkan identifikasi organisme
yang imenginfeksi dan penentuan profil kerentanan in vitro. Informasi yang
didapat penting untuk pemberian antimikroba yang tepat dan efektif. Jaringan
tulang yang dikumpulkan dari tempat terinfeksi juga dapat diajukan untuk
dilakukan pemeriksaan histopatologi yang dianggap baku emas untuk diagnosis
osteomielitis.12
Radiografi konvensional memiliki sedikit nilai dalam mendiagnosis
osteomielitis akut tetapi mungkin akan membantu dalam kasus-kasus osteomielitis
kronis. Setidaknya 10-14 hari diperlukan sebelum kelainan yang konsisten dengan
osteomielitis terlihat. Dalam sebuah penelitian, sensitivitas radiografi polos dalam
kasus

osteomielitis

kaki

diabetik

ditemukan

menjadi

54%,

sedangkan

spesifisitasnya 68%. Tanda-tanda radiografi yang dapat menggambarkan


osteomielitis termasuk adanya fokal atau wilayah geografis dari lucency sumsum,
hilangnya korteks dengan erosi tulang, pembentukan tulang baru, sklerosis tulang
dengan atau tanpa erosi, penyerapan, involucrum, dan elevasi periosteal. Scan
tulang dengan nuklir menggunakan berbagai radiotracers (Teknesium 99m metilen
diphosphonate, Galliumcitrate 67, dan Indium 111-berlabel sel darah putih) yang
umum digunakan untuk mendiagnosis osteomielitis. Kinerja dari scan bervariasi
tergantung pada klinis dan situasi. Pada orang dewasa dengan radiografi normal
(tidak ada lesi yang menyebabkan pergantian tulang meningkat), threephase bone
scan memiliki akurasi yang lebih tinggi daripada scan lainnya dengan sensitivitas
94% dan 95% spesifisitas. Namun, ketika remodeling tulang meningkat,
spesifisitas tes menurun menjadi 33%.12

12

Positron emission tomography (PET) menggunakan 18-fluorodeoxyglucose


semakin banyak digunakan dalam diagnosis osteomielitis. Dalam review
sistematis dan meta-analisis, Termaat et al. menemukan bahwa PET scan memiliki
sensitifitas 96% dan spesifisitas 91% untuk diagnosis osteomielitis. PET scan
adalah modalitas lebih murah bila dibandingkan dengan teknik pemindaian tulang
nuklir lainnya dan biasanya dilakukan dalam satu hari. Sayangnya, hasil positif
palsu dapat ditemukan pada penyembuhan tulang. Computed tomography (CT)
menampilkan detail kortikal tulang yang baik yang menunjukkan erosi tulang
kortikal atau perusakan dan reaksi periosteal. Bisa juga menunjukkan fokus kecil
udara dalam saluran medula, badan asing kecil berfungsi sebagai nidus untuk
infeksi dan pembentukan sequestrum.12
Magnetic resonance imaging (MRI) lebih sensitif dibandingkan CT dalam
mendeteksi osteomyelitis dan sensitif seperti studi nuklir. Sensitivitas dan
spesifisitas MRI berkisar antara 82% sampai 100% dan 75% sampai 96%. MRI
dianggap sebagai pilihan modalitas pencitraan dalam penegakan kasus
osteomielitis

karena

memungkinkan

penentuan

tingkat

infeksi

yang

akurat,terutama dalam hal osteomielitis vertebra (mengidentifikasi epidural abses,


phlegmon, dan cord compression).12

2.8 PENATALAKSANAAN
Pengobatan antibiotik harus didasarkan pada identifikasi kultur tulang
pada saat biopsi tulang atau debridement. Pertama, kultur tulang diambil, dan
berikan antimikroba parenteral inisiasi untuk pengobatan suspek patogen. Namun,
pengobatan dapat dimodifikasi setelah organisme diidentifikasi. Antibiotik
parenteral dan oral dapat digunakan tunggal atau dalam kombinasi tergantung
pada hasil sensivitas mikroorganisme, kepatuhan pasien, dan konsultasi penyakit
menular. Antibiotik oral yang telah terbukti efektif termasuk klindamisin,
rifampisin, trimethoprim-sulfamethoxazole, dan fluoroquinolones.13

13

Indikasi pembedahan pada osteomyelitis adalah jika pasien tidak respon


terhadap pengobatan antimikroba spesifik, jika ada bukti dari abses jaringan lunak
yang persisten, atau jika dicurigai adanya infeksi sendi bersamaan. Debridement
jaringan nekrotik, penghapusan bahan asing, dan kadang-kadang penutupan kulit
dari luka diperlukan dalam beberapa kasus.13
Osteomielitis biasanya tidak memerlukan pengobatan bedah, indikasi
pembedahan adalah kegagalan terapi antimikroba, kompresi saraf, ketidakstabilan
tulang belakang, atau drainase abses epidural atau paravertebral.13

2.9 KOMPLIKASI
Infeksi supuratif mencakup struktur tulang yang berdekatan, seperti
misalnya persendian dan jaringan lunak, yang menyebabkan terbentuknya saluran
sinus. Osteolisis dan fraktur patologis telah dijelaskan sebagai komplikasi yang
jarang dengan adanya temuan penyakit dan terapi osteomyelitis sejak dini.14
Penyebab secara hematogen dan sepsis dapat terjadi, meskipun mungkin
sulit untuk ditentukan apakah sumber utama infeksinya di darah atau di tulang.
Pembentukan saluran sinus mungkin berhubungan dengan neoplasma, terutama
pada keadaan infeksi yang lama dengan rentang waktu 4 sampai 50 tahun.14
Karsinoma sel skuamosa merupakan tumor yang paling sering
dihubungkan dengan osteomyelitis, tumor-tumor lainnya yang telah dilaporkan
terdiri atas fibrosarcoma, myeloma, lymphoma, plasmacytoma, angiosarcoma,
rhabdomyosarcoma, dan malignant fibrous histiocytoma. Pada kebanyakan pasien
yang menderita neoplasma memiliki riwayat intervensi pembedahan berulang.
Perkembangan tumor malignan ditandai dengan makin membesarnya massa
tumor, peningkatan rasa nyeri, saluran luka yang berbau busuk, perdarahan, juga
terdapat bukti radiologis yang berupa destruksi tulang. Oleh karena itu, infeksi
tulang yang tidak sembuh dengan terapi konvensional seharusnya dilakukan

14

biopsi untuk mengevaluasi adanya malignansi dari berbagai sisi (termasuk ulkus,
saluran sinus, dan dasar tulang).14

2.10 PROGNOSIS
Dengan diagnosa awal dan pengobatan yang tepat, prognosis osteomyelitis
adalah baik. Pada umumnya, pasien yang diobati dengan regimen antibiotik yang
tepat dan respon yang baik dari pasien mengalami penyembuhan total tanpa
komplikasi.15
Namun, pada pasien dengan diagnosa atau pengobatan yang terlambat atau
terjadinya kompresi pasokan darah pada jaringan tertentu akibat trauma, hal ini
dapat mengakibatkan defisit permanen pada pasien. Apabila operasi bone grafting
diperlukan, hal ini akan memperlambat proses penyembuhan.15

15

KESIMPULAN
Osteomielitis ialah proses inflamasi akut atau kronis pada tulang dan
struktur sekundermya yang biasanya diakibatkan infeksi oleh bakteri piogenik.
Staphylococcus aureus merupakan organisme tersering penyebab osteomielitis
terutama osteomiletis akut yaitu lebih kurang 90% kasus. Tempat masuk dari
bakteri ialah melalui kulit yang terluka dan terinfeksi, lecet, dan jerawat atau
bisul. Osteomielitis harus dicurigai bila pasien datang dengan rasa sakit, bengkak,
eritema atau kehangatan kulit dan jaringan lunak diatas tulang. Konfirmasi dari
osteomyelitis membutuhkan penggunaan berbagai tes laboratorium, mikrobiologi,
radiografi dan tes patologis.
Pengobatan antibiotik harus didasarkan pada identifikasi kultur tulang
pada saat biopsi tulang atau debridement. Osteomielitis biasanya tidak
memerlukan pengobatan bedah, indikasi pembedahan adalah kegagalan terapi
antimikroba, kompresi saraf, ketidakstabilan tulang belakang, atau drainase abses
epidural atau paravertebral. Osteomielitis biasanya tidak memerlukan pengobatan
bedah, indikasi pembedahan adalah kegagalan terapi antimikroba, kompresi saraf,
ketidakstabilan tulang belakang, atau drainase abses epidural atau paravertebral.
Karsinoma sel skuamosa merupakan tumor yang paling sering dihubungkan
dengan osteomyelitis. Dengan diagnosa awal dan pengobatan yang tepat,
prognosis osteomyelitis adalah baik.

16

DAFTAR PUSTAKA
1.

Kishner,

S.

2015.

Osteomyelitis.

Available

from

http://emedicine.medscape.com/article/1348767-overview#a6
2.

[Accessed February 2016]


Hatzenbuehler, J. T.J. Pulling. 2011. Diagnosis and Management of

3.

Osteomyelitis.
Mayo
Clinic.

2015.

Osteomyelitis.

Available

from

http://www.mayoclinic.org/diseasesconditions/osteomyelitis/basics/definition/con-20025518

[Accessed

4.

February 2016]
Rasad, S., 2013. Radiologi Diagnostik Edisi Kedua. Jakarta: Balai

5.

Penerbit FK UI
Priantono, D., Widiharso, W.E., 2014. Osteomielitis. Dalam Tanto, C.,
Liwang, F., Hanifati, S., Pradipta, E. Kapita Selekta Kedokteran.

6.

Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia


Rasjad, C., 2007. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta: Yarsif

7.

Watampone.
Shalter, R.B., 1999. Textbook of Disorders and Injuries of the
Muskuloskeletal System Third Edition. Baltimore: Lippincott Williams

8.

& Wilkins
Netter, F., 2015. Etiology and Prevalance of Hematogenous
Osteomyelitis. Available from : http://www.netterimages.com [Accessed

9.

February 2016]
Dirschl, DR., Almekinders, LC, 1993. Osteomyelitis, Common Causes

10.

and Treatment Recommendations Drugs. 45:29-43.


Luca Lazzarini, MD; Jon
T. Mader, MD; Jason
H. Calhoun, MD, 2004,

Osteomyelitis in Long Bones.

11.

Bone Joint Surg Am, ; 86 (10): 2305 -2318


Hatzenbuehler, J., 2011. Diagnosis and Management Osteomyelitis.

12.

American Academy of Family Physicians.


Eid AJ, Berbari EF, 2012, Osteomyelitis: Review of Pathophysiology,
Diagnostic Modalities and Therapeutic Options. J Med Liban ; 60 (1) :
51-60.

17

13.

Kishner, S., 2015. Osteomyelitis. Osteomyelitis Treatment and


Management http://emedicine.medscape.com/article/1348767-treatment

14.

[Accessed February 2016]


Achdiono, D.N.W., Richardo, M., 2014. Osteomielitis dalam Buku Ajar

15.

Ilmu Penyakit Dalam. Indonesia: Interna Publishing.


C.
Jason.,
2015.
Osteomyelitis.
Available

from

http://www.medicinenet.com/osteomyelitis/page4.htm

[Accessed

February 2016]