Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Dalam

pengertian

teknik

secara

umum,

Tanah

didefinisikan sebagai material yang terdiri dari agregat (butiran)


mineral-mineral yang tidak tersementasi (terikat secara kimia) satu
sama lain dan dari bahan-bahan organik

yang melapuk (yang

berpartikel padat) disertai dengan zat cair dan gas yang mengisi
ruang-ruang kosong diantara partikel-partikel padat tersebut. Tanah
berguna

sebagai

bahan

bangunan

pada

berbagai

maacam

pekerjaan teknik sipil, disamping itu tanah berfungsi juga sebagai


pendukung pondasi dari bangunan.
Dalam rekayasa sipil, bangunan dikelompokkan menjadi
dua bagian yaitu

Upper Structure (bagian atas tanah)


Sub Structure (bagian bawah tanah)
Upper structure adalah seluruh bagian struktur dari

bangunan yang ada diatas permukaan tanah, yang terdiri dari


struktur beton bertulang, beton pratekan, baja atau bahan lain.
Pada bagian ini yang diperlukan adalah perhitungan-perhitungan
kekuatan, kestabilan serta keamanan dari struktur tersaebut. Baik
akibat berat sendiri, angin ataupun gempa beserta pengenalan
perilaku bahan yang digunakan.
Bagian sub structure adalah bagian bangunan yang ada
dibawah tanah, yakni pondasi tempat seluruh bangunan bertumpu.
1

Untuk mendapatkan pondasi yang baik, harus memenuhi dua


kriteria yaitu daya dukung yang cukup dan penurunan yang tidak
membahayakan bangunan.
Dengan demikian diperlukan penguasaan terhadap gayagaya yang bekerja pada pondasi dan penguasaan sifat-sifat tanah,
dimana pondasi itu bertumpu.
Untuk

mendapatkan

desain

pondasi

yang

baik

dan

memenuhi kriteria perlu dicari parameter tanah baik sifat fisik


maupun mekanis tanah. Dengan demikian perlu dipelajari ilmu
mekanika tanah dan uji tanah. Uji tanah langsung dilapangan atau
laboraturium

merupakan upaya

silmulasi

untuk

mendapatkan

parameter tanah yang mendekati sebenarnya.


Yang termasuk dalam parameter sifat fisik tanah adalah :
- Berat jenis
- Berat isi
- Kadar air
- Porositas
- Derajat kejenuhan - Nilai Atterberg
- Ukuran buutir tanah Kepadatan tanah Permeabilitas
Sedangkan sifat mekanis tanah adalah :
- Nilai Kohesi
- Nilai sudut geser tanah
- Kuat tekan tanah
- Daya dukung tanah
- Kemampatan tanah
Parameter tersebut didapat dengan berbagai jenis uji
tanah.

2. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktek pengujian tanah adalah :

Agar mahasiswa dapat memahami bagaiman menguji tanah


Agar
mahasiswa
dapat
memahami
bagaimana
cara
mendapatkan parameter tanah
Agar mahasisiwa mengenal peralatan uji tanah yang pada
umumnya dijumpai dilapangan.

BAB II
DASAR TEORI
1.

PENGUJIAN KADAR AIR


Semua macam tanah,secara umum terdiri dari 3 fase,yaitu butiran

tanah,air serta udara yang terdapat dalam ruangan antara butir-butir


tersebut,dan ruangan ini di sebut pori.Tanah yang benar-benar kering
tidak terdapat air sama sekali didalam porinya,sehingga pori hanya berisi
udara.Dengan demikian tanah tersebut hanya terdiri dari dua unsur yakni
butiran tanah dan udara pengisi pori.
Sebaliknya kita dapat menemukan keadaan dimana pori tanah
tidak mengandung udara sama sekali,jadi pori tersebut menjadi penuh
terisi air.Dalm hal ini tanah dikatakan jenuh sempurna (fully saturated).
Partikel

padat,air

dan

udara

yang

terkandung

tanah,masing-masing mempunyai berat dan volume.


Untuk mencari kadar air,dapat di gunakan rumus :

Kadar Air=

Be rat Air
x 100
Berat Tanah Kering

w 2w 3
x 100
w 3w 1

Dengan keterangan:
W1 = Berat cawan
W2 = Berat cawan +tanah basah

di

dalam

W3 = Berat cawan + tanah kering oven

2. MENENTUKAN

NILAI

KONSISTENSI

TANAH

(ATTERBERG)
Nilai-nilai batas atterberg (konsistensi) ditemukan pada tahun
1919 oleh seorang bernama Atterberg. Nilai-nilai ini terdapat pada tanah
berbutir halus (clay atau silt) yang terdiri dari :
Batas cair (liquit limit) = LL
Batas Plastis (plastis limit) = PL
Batas susut (skrink limit) = ST
Bayangkanlah satu sample tanah berbutir halus yang telah di
campur air sehingga mencapai keadaan cair. Jika campuran ini kemudian
dibiarkan menjadi kering sedikit demi sedikit,maka tanah ini akan melalui
beberapa tahapan keadaan,dari keadaan padat sampai keadaan cair.
Suatu hal yang sangat penting pada tanah berbutir halus adalah
sifat plastisnya. Plastisnya disebabkan oleh adanya partikel lempung
dalam tanah.Plastisitas di gambarkan sebagai kemampuan tanah dalam
menyesuaikan perubahan bentuk dalam menyesuaikan perubahan bentuk
pada volume yang konstan tanpa retak-retak atau remuk.
Kadar air (w) membentuk tanah menjadi :Cair,Plastis,Semi plastis
dan padat.Hal ini berhubungan dengan konsistensi yakni gaya tarik
menarik antara partikel lempung.Batas cair dan batas plastis merupakan
nilai yang sangat penting,selisih antara batas cair dan batas plastis di
sebut indeks plastis.
Kadar air,dinyatakn dalam persen,dimana terjadi transisi dari
keadaan padat ke keadaan semi-padat didefinisikan sebagai batas

susut.Kadar air dimana transisi dari keadaan semi-padat ke keadaan


plastis terjadi dinamakan batas plastis dan dari keadaan plastis ke
keadaan cair dinamakan batas cair,dan batas-batas ini dinamakan dan di
kenal juga sebagai batas-batas atterberg.
Batas cair (LL) adalah batas antara keadaan cair dan plastis atau
kadar air dimana tanah mempunyai kekuatan geser yang kecil,yang
menyebabkan dapat dengan mudah mengalir menutup celah.Nilai LL
diperoleh dari pengujian dengan menggunakan alat Casagrande.Alat
tersebut terdiri dari mangkok kuningan yang bertumpu pada dasar karet
yang keras.Mangkok kuningan dapat di angkat dan di jatuhkan di atas
dasar karet keras tersebut dengan sebuah pengungkit eksentris di
jalankan oleh suatu alat pemutar.Untuk melakukan uji batas cair,pasta
tanah di letakkan didalam mangkok kuningan kemudian di gores tepat di
tengahnya dengan alat penggores standar,dengan menjalankan alat
pemutar,mangkok kemudian dinaik-turunkan dari ketinggian 0.3937 in( 10
mm ).Kadar air,dinyatakn dalam persen,dari tanah yang dibutuhkan
u8ntuk menutup goresan yang berjarak 0.5 in (12.7 mm ) sepanjang
dasar contoh tanah di dalam mangkok sesudah 25 kali pukulan di
definisikan sebagai batas cair.
Contoh tanah dimasukkan dalam cawan,tinggi contoh tanah
dalam cawan kira-kira 8 mm.Alat pembuat alur (grooving tool) di kerukkan
tepat di tengah-tengah cawan hingga menyentuh dasarnya,ketinggian
dasar cawan dengan plat landasan di atur menjadi 1 cm sebagai tinggi
jauh.Kemudian

dengan

alat

penggetar

cawan

diketuk-ketuk

pada

landasannya dengan ketinggian 1 cmtadi.Pesentase kadar air yang


diperlukan untuk menutup celah sepanjang inci (12,7mm) pasa dasar
cawan,sesudah 25 kali pukulan didefinisikan sebagai batas cair tanah
tersebut.

Karena sulitnya mengatur kadar air pada waktu celah menutup


pada 25 kali pukulan,maka biasanya percobaan di lakukan beberapa kali
yaitu dengan kadar air yang berbeda dan dengan jumlah pukulan yang
berkisar antara 15 s/d 35.
Batas

plastis

adalah

kadar

air

pada

batas

bawah

daerah

plastis.Keadaan ini ditandai dengan mulainya terjadi retak-retak rambut


apabila

tanah

tersebut

dibentuk

batang

dengan

dimeter

3,2

mm.Pengujian batas plastis di lakukan dengan cara memplintir vtanah


kohesif(butiran halus) dengan kadar air tertentu pada permukaan kaca
datar,sehigga pada diameter sekitar 3 mm tanah hasil plintiran tersebut
menjadi retak-retak.
Tanah akan berperilaku plastis pada rentang kadar air antara
batas plastis (PL) sampai batas cair (LL),rentang kadar air tersebut di
namakan indeks plastisitas yang dapat di hitung dengan rumus
IP = LL - PL
Keterangan:
IP = indeks plastis
LL = Batas cair
PL = Batas plastis
Batas

plastis di definisikan sebagai kadar air,dinyatakan dalam

persen,dimana tanah apabila digulung samapai dengan diameter 1/8 in


(3.2 mm)menjadi retak-retak.Batas plastis merupakan batas terendah dari
tingkat keplastisitasan suatu tanah.Cara pengujiannya adalah sangat
sederhana,yaitu dengan menggulung massa tanah berukuran elipsoida
dengan telapak tangan di atas kaca datar.

Sifat plastis dari suatu tanah di sebabkan oleh air yang terserap di
sekeliling permukaan lempung,maka dapat di harapkan bahwa tipe dan
jumlah mineral lempung yang dikandung dalam suatu tanah akan
mempengaruhi

batas

batas

plastis

dan

batas

cair

yang

bersangkutan.Skempton (1953) menyelidiki bahwa indeks plastis suatu


tanah akan bertambah menurut garis lurus sesuai dengan bertambahnya
persentase dari fraksi berukuran lempung yang di kandung oleh tanah.
Batas susut adalah kadar air dimana tanah mulai berbentuk
padat.Pada kadar air ini,apabila tanah tersebut dikeringkan lebih lanjut
tidak akan terjadi penyusutan volume.
Kegunaan batas-batas Atterberg
Batas Atterberg khususnya batas cair dan batas plastis tidak
secara langsung memberikan angka-angka yang dapat di pakai dalam
perhitungan,yang kita peroleh dari percobaan Atterberg adalah suatu
gamabaran

secara

garis

besar

akan

sifat-sifat

tanah

yang

bersangkutan.Tanah yang batas cairnya tinggi biasanya mempunyai sifat


teknik

yang

tinggi.Tanah

buruk,yaitu

yang

indek

kekuatannya

plastisitasnya

rendah,kompresibilitasnya

besar

biasanya

mempunyai

penyusutan dan pengembangan volume yang besar.

3. ANALISA UKURAN BUTIRAN


Analisa Saringan
Analisis ayakan adalah mengayak dan menggetarkan contoh
tanah melalui satu set ayakan dimana lubanag-lubang ayakan tersebut
makin kecil secara berurutan.Untuk standar aykan di amerika,nomor
aykan dan ukuran lubang di berikan dalam tabel di bawah ini :
Ukuran ukuran Ayakan Standart di Amerika
8

Ayakan No.
4
6
8
10
16
20
30
40
50
60
80
100
140
170
200
270

Lubang (mm)
4.750
3.350
2.360
2.000
1.180
0.850
0.600
0.425
0.300
0.250
0.180
0.150
0.106
0.088
0.75
0.053

Mula-mula contoh tanah dikeringkan terlebih dahulu,kemudian


semua gumpalan-gumpalan di pecah menjadi partikel-partikel yang lebih
kecil lalu baru di ayak dalam percobaan di laboraturium.Setelah cukup
waktu untuk mengayak dengan cara getaran,massa tanah yang tertahan
pada setiap aykan dengan cara getaran,massa tanah yang tertahan pada
setiap ayakan di timbang.Untuk menganalisis tanah-tanah kohesif,barang
kali

agar

sukar

untuk

memecahkan

gumpalan-gumpalan

tanahnya

menjadi partikel-partikel lepas yang berdiri sendiri,untuk itu tanah


tersebut perlu di campur dengan air sampai menjadi lumpur encer dan
kemudian di basuh seluruhnya melewati ayakan-ayakan tersebut
Bagian padat yang tertahan pada setiap ayakan di kumpul;kan
sendiri-sendiri,kemudian masing-masing ayakan beserta tanahnya di
keringkan dalam oven,dan kemudian berat tanah kering tersebut di
timbang.Hasil-hasil ayakan biasanya di nyatkan dalam persentase dari
berat total.

Butiran tanah yang merupakan partikel padat,terdiri atas berbagai


ukuran dari kecil hingga besar yang menurut berbagai standar .Pada
umumnya,tanah di lapangan terdiri atas beberapa kelompok,seperti kerikil
yang mengandung pasir dan lempung maupun lanau,pasir mengandung
lanau atau lempung dan sebagainya.
Untuk mengetahui jenis kelompok yang terkandung pada suatu
tanah,maka harus dilakukan analisa ukuran butiran.Ada 2 cara yang
sering di pakai untuk menganalisa butiran tanah itu:
1. Metode penyaringan (Sieve analisis)
Digunakan untuk mempunyai diameter lebih besar darin 0,075 mm
atau tertahan pada saringan No.200.
2. Metode Hidrometer
Digunakan untuk butiran yang mempunyai diameter lebih kecil dari
0,075 mm atau yang lolos saringan No.200.
Prosentase tanah yang tertinggal pada masing-masing saringan
dapat dicari dengan menggunakan rumus:

Tertahan=

Berat tanah pada saringan


x 100
Berat total

4. HIDROMETER

Analisis Hidrometer
Analisis

hydrometer

di

dasrka

pada

prinsip

sedimentasi

(pengendapan) butir-butir tanah dalam air.Bila suatu contoh tanah di


larutkan dalam air,partikel-partikel tanah akan mengendap dengan

10

kecepatan

yang

berbeda-beda

tergantung

pada

bentuk,ukuran,dan

beratnya.Untuk mudahnya kita anggap bahwa semua partikel tanah itu


berbentuk bola(bulat) dan kecepatan mengendap dari partikel-partikel itu
dapat di nyatakan dengan hokum Stokes.
Pada

pengujian

hydrometer

dilakukan

dengan

silinder

pengendap yang terbuat dari gelas dan memakai 50 gram contoh tanah
yang kering dari oven.Silinder pengendap tersebut mempunyai tinggi 18
inci (= 457.2 mm) dan diameter 2.5 (63.5 mm).Silinder tersebut di beri
tanda

yang menunjukkan

(Natrium

volume sebesar 1000 ml.Campuran Calgon

hexametaphosphate)

biasa

di

gunakan

sebagai

bahan

pendispersi.Total volume dari laritan air + calgon +tanah tanah yang


terdispersi di buat menjadi 1000 ml dengan menambahkan air suling.
Bila sebuah alat hydrometer diletakkan dalam larutan tanah
tersebut

pada

waktu

t,yang

di

ukur

dari

mula-mula

terjadinya

sedimentasi,maka alat tersebut mengukur berat spesifik dari larutan di


sekitar bola kacanya samapai sedalam L dari permukaan larutan.Harga
berat spesifik dari larutan merupakan fungsi dari jumlah partikel tanah
yang ada pada tiap satuan volume larutan sepanjang kedalaman L
tersebut.Juga karena mengendap maka pada waktu t partikel-partikel
tanah yang masih ada dalam larutan samapai kedalaman L

akan

mempunyai diameter yang lebih kecil dari D .Pada partikel-partikel yang


lebih besar dari D

telah mengendap terlebih dahulu di dalam kolom L

tersebut.Alat hydrometer tersebut di rancang untuk dapat memberikan


jumlah tanah yang masih tertinggal di dalam larutan.Alat hydrometer
telah dikalibrasi untuk tanah yang mempunyai berat-berat spesifik (Gs)
2.65.Jadi untuk tanah dengan harga GS yang lain perlu adanya koreksi.
Dengan mengetahui jumlah tanah di dalam larutan,L dan t,kita
dapat menghitung persentase berat dari tanah yang lebih hlus dari
diameter yang di tentukan.Perhatikan bahwa L adalah kedalaman yang di

11

ukur dari permukaan air terhadap pusat bola kaca dari alat hydrometer
dimana kekentalan larutan di ukur.Harga L akan berubah menurut
waktu,variasinya pada pembacaan hydrometer diberikan dalam Annual
Bookof

ASTM

Standard

(1982-Lihat

Test

Designation

D-422

Tabel

2).Analisa hydrometer sangat efektif untuki di gunakan memisahkan fraksi


tanah halus sampai dengan ukuran kira-kira 0.5n.

5. KONSOLIDASI
Konsolidasi adalah berkurangnya volume atau berkurangnya
rongga pori dari tanah jenuh yang berpermeabilitas rendah akibat
pembebanan,dimana proses nya di pengaruhi oleh terperasnya air pori
keluar dari rongga tanah.Besarnya penurunan dapat di ukurnya dengan
berpedoman pada titik referensi ketinggian tempat tertentu.Sedangkan
proses

konsolidasi

dapat

di

amati

dengan

menggunakan

piezometer,untuk mencatat perubahan tekanan air pori dengan waktunya.


Pada umumnya konsolidasi ini akan berlangsung dalam satu arah
saja,yaitu arah vertical,karena lapisan yang terkena tambahan beban
tersebut tidak akan bergerak dalam arah horizontal (tertahan oleh tanah
yang di sekelilingnya).Dalam kedaan seperti ini,pengaliran air juga akan
berjal;an terutama dalam arah vertikal saja,dan ini disebut one dimention
consolidation.Pada waktu konsolidasi berlangsung,gedung atau bangunan
di atas lapisan tersebut turun (settle).
Bilamana tanah terdiri dari lempung,maka penurunan akan besar
kalau tanah terdiri dari pasir,penurunan akan kecil.Karena itu,lempung
dikatakan

high

compressibility,sedangkan

pasir

low

compressibility.Penurunan pada lempung biasanya memakan waktu yang


lama,karena daya rembesan air sangat rendah.Sebaliknya penurunan

12

pada pasir berjalan dengan cepat sehingga pada waktu pembangunan di


atas air sudah selesai,maka penurunan juga di anggap sudah selesai.
Ada 2 hal yang perlu di ketahui,yaitu:
Besarnya penurunan yang akan terjadi
Besarnya

penurunan

pada

suatu

struktur/bangunan

akan

tergantung p[ada kemampuan mampat) (compressibility) dari


tanah dasar bangunan,yang di tandai dengan Cc.
Besarnya kecepatan penurunan,sehingga akan dapat di tentukan
lamanya waktu yang di perlukan untuk proses penurunan.
Kecepatan penurunan dipergunakan untuk menghitung lamanya
menghitung lamanya terjadi proses konsolidasi.,yang dapat di
peroleh dari persamaan berikut :

t=

Tv x H
Cv

Keterangan:
t
Tv

= waktu terjadi konsolidasi


= Faktor waktu yang besarnya tergantung derajat

konsolidasi (U)
H

= Panjang lintasan pori

Cv

= Koefesien kecepatan konsolidasi

13

Dari uraian tersebut maka Cc dan Cv merupakan parameter yang


besarnya harus

di ketahui terlebih dahulu agr besarnya konsolidasi

maupun terjadinya konsolidasi dapat di tentukan.

Penurunan

konsolidasi(Consolidation

Settlement)
Bila mana suatu lapisan tanah jenuh air di beri penambahan
bean,angka tekanan air pori akan naik secara mendadak.Pada ctanah
berpasir yang sangat tembus air,air dapat mengalir dengan cepat sehinga
pengaliran air-pori ke luar sebagai akibat dari kenaikan tekanan air pori
dapat selesai dengan cepat.Keluarnya air dalam pori selalu di sertai
dengan berkurangnya volume tanah,berkurangnya volume tanah tersebut
dapat menyebabkan penurunan lapisan tanah tersebut.Karena air pori di
dalam tanah berpasir dapat mengalir ke luar dengan cepat,maka
penurunan segera dan penurunan konsoidasi terjadi bersamaan.
Bilamana suatu lapisan tanah lempung jenuh air yang mampu
mampat di beri penambahan tegangan,maka penurunan akan terjadei
dengan segera.Koefesien rembesan lempung adalah sangat kecil di
bandingkam dengan koefesien rembesab pasir sehingga penambahan
tekanan air pori yang di sebabkan oleh pembebanan akan berkurang
secara lambat laun dalam waktu yang sangat lama.Jadi untuk tanah
lempung lembek perubahan volume yang di sebabkan oleh keluarnya air
dalam

pori(yaitu

konsolidasi)

akan

terjadi

sesudah

penurunan

segera.Penurunan konsolidasi tersebut biasanya jauh lebih besar dan


lebih lambat serta lam di bandingkan dengan penurunan segera.
Pada umumnya,bentuk grafik yang menunjukkan hubungan antara
pemampatan dan waktu dapat di lihat bahwa ada tiga tahapan berbeda
yang dapat di jalankan sebagai berikut :

14

Tahap

:Pemampatan

awal

yang

pada

umumnya

di

sebabkan oleh pembebanan awal.

Tahap II : Konsolidasi primer,yaitu periode selam tekanan air


pori secara lambat laun di pindahkan kedalam tegangan
efektif,sebagai akibat dari keluarnya air dari pori-pori tanah.

Tahap III :Konsolidasi sekunder,yang terjadi setelah tekanan


air pori hilang seluruhnya.Pemampatan yang terjadi disini
adlah di sebabkan oleh penyesuaian yang bersifat plastis dari
butiran-butiran tanah.

6. PEMADATAN TANAH
Pemadatan adalah suatu proses dimana udara pada pori-pori
tanah di keluarkan dengan salah satu cara mekanis.Untuk setiap daya
pemadatan

tertentu,kepadatan

tang

tercapai

tergantung

kepada

banyaknya air di dalam tanah tersebut,yaitu kadar airnya.Bila mana kadar


air dalam suatu tanah rendah maka tanah itu kaku dan sukar di
padatkan.Bila kadar air ditambah maka air itu berlaku sebagai pelumas
sehingga tanah tersebut akan lebih mudah dipadatkan dan ruangan
kosong diantara butir menjadi lebih kecil.
Pada kadar air tinggi,kepadatannya akan turun lagi.Karena poripori tanah menjadi penuh terisi air yang tidak dapat dikelurkan dengan
cara pemadatan
Tujuan pemadatan tanah adalah untuk meningkatkan sifat-sifat
teknis suatu jenis tanah.Pemadatan pada tanah akan menyebabkan berat
volume

dan

kekuatan

tanah

meningkat

permeabilitasnya menjadi berkurang.

15

sedangkan

koefesian

Nilai kepadatan tanah yang di peroleh sesudah pemadatan akan


berbeda-beda,tergantung

dari

kadar

air(water

content)tanah

tersebut.Hubungan antara berat isi dan kering(dry density)dari tanah


yang di padatkan dengan kadar air adalah berubah-ubah secara
parabolis.Harga maksimum dari isi berat kering di sebut berat isi
maksimum dan kadar air yang di peroleh pada kepadatan ini di sebut
kadar air optimum.
Proctor mendefinisikan 4 variabel pemadatan tanah,yaitu:
1. Usaha pemadatan (energi pemadatan)
2. Jenis tanah (gradasi,kohesif atau tidak,ukuran butir dsb)
3. Kadar air
4. Angka pori atau berat isi kering
Sedangkan maksud dari pemadatan antara lain adalah;
1. Mempertinggi kuat geser tanah
2. Mengurangi sifat mudah mampat
3. Mengurangi permeabilitas
4. Mengurangi perubahan volume sebagai akibat perubahan kadar air

A.Pemadatan Tanah Non Kohesif


Tanah tidak kohesif tidak dapat dipadatkan langsung dengan
menggunakan metode tumbukan maupun metode remasan..Tanah ini
dapat di padatkan dengan menggunakan tekanan statis terkekang,tetapi
sangat tidak efisien.Metode yang dapat di gunakan untuk memadatkan
tanah tidak kohesif adalah dengan melakukan kombinasi antara kekangan
dan getaran.
Metode

lain

yang

dapat

di

gunakan

adalah

dengan

membanjiri(menjenuhkan) tanah dan menggilasnya,sebaiknya dengan


mesin penggilas berpenggetar.Metode ini paling sesuai untuk tanah
16

sangat

berpasir,dimana

air

yang

berlebihan

bukanlah

merupakan

masalah.Kejenuhan akan menjamin hilangnya tarikan permukaan dari


tanah yang baru saja dilembabkan tersebut,dan pemakaian yang cepat
dari yang cepat dari mesin gilas akan menumbulkan tekanan pori yang
berlebihan.Tekanan

pori

tanah

ini

akan

mencairkan

tanah

untuk

semantara waktu,sehingga butiran-butirannya dengan mudah dapat di


ubah menjadi lebih padat selama terjadinya aliran air pada pori-pori
tanah.
Di laboraturium,tanah kohesi di padatkan dengan

mengekang

lapisan-lapisan tanah kering di dalam cetakan pemadat dan mertakan


sisinya dengan alat perata dengan karet.Cara lain adalah dengan mengisi
cetakan,memberikan beban dan meletakkan sisitem tersebut di atas meja
penggetar untuk periode waktu tertentu.

Metode Pengujian dan Pemadatan Tanah di Lapangan

Metode kerucut pasir (sand cone method)


Pengujian

pemadatan

seperti

ini

merupakan

pengujian

destruktif.Kepadatan lapangandi tentukan dengan melakukan penggalian


pada tanahv yang telah di padatkan sesuai dengan persyaratan yang di
inginkan.Tanah basah yang di ambil dari tanah galian di tentukan
beratnya( W ).Agar kadar air tanahnya tidak menguap maka pada saat
penggalian tanah basah langsung di masukkan dalam kantung plastik
atau tabung tertutup.Selanjutnya tanah di oven pada suhu 105 derajat
celcius selam 24 jam untuk mengetahui kadar air.
Untuk memperoleh hasil pengujian yang akurat,berikut ini di
tampilkan

syarat

volume

galian,berat

galian

dan

diameter

butir

maksimum yang di perlukan pada sutu pengujian kepadatan di lapangan


dengan menggunakan peralatan sand cone;

17

Tabel Syarat isi galian tanah sekitar lubang


Ukuran

minimum

Berat

contoh

maksimun

untuk percobaan

untuk

percobaan

(mm)
0.42
12.70
25.40
50.80

(cm)
1700
1900
2100
2800

(Gram)
100
250
500
1000

butir

Isi

Metode Pengujian Kepadatan Non Nuklir


Keuntungan dari metode ini adalah alat yang sangat aman

terhadap kesehatan dan terbebas dari radiasi.Alat TDR ini baik di


gunakan untuk tanah timbunan yang di padatkan.Untuk lebih jelas
tentang penggunaan alat ini dan hal2 lain yang lebih rinci pembaca
dapat merujuk ASTM D 6780.

Metode Pengujian Kepadatan Nuklir


Metoda nuklir di gunakan secara luas untuk menentukan kepadatan

kelembaban tanah,instrument yang di gunakan dalam pengujian ini


dapat di angkut dengan mudah ke tempat timbunan,di letakkan pada
tempat pengujian,dan dalam beberapa menit hasilnya dapat di baca
langsung pada indikator-indikatornya.
Keuntungan-keuntungan metode nuklir apabila di bandingkan
dengan metode proctor,termasuk yang berikut;

Mengurangi waktu yang di perlukan untuk pengujian dari sehari


menjadi beberapa menit,dengan demikian meniadakan kelambatan
yang berlebihan;

Tidak

memerlukan

pengambilan

pengujian;

18

contoh

tanah

dari

tempat

Memberikan cara penyelenggaraan pengujian kerapatan pada


tanah yang mengandung agregat berukuran besar pada bahanbahan yang membeku;

Mengurangi atau meniadakan pengaruh unsure perorangan,dan


kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi,atau yang dapat terjadi
dalam penyelenggaraan pengujian poctor.

Tersedia instrument yang dapat mengukur kelembaban dan


kerapatan tanah pada kedalaman sampai 200 ft atau lebih di bawah
permukaan tanah.Pengukuran itu di lakukan dengan mengebor lubang di
tanah sampai kedalaman yang di inginkan,memasang pipa aluminium
dalam lubang untuk sementara,kemudian menurunkan alay pengindra
nuklir ke dalam pipa dan nmembuat pengujian pada kedalamankedalaman yang di inginkan.

Metode Balon Karet (Rubber Ballon)


Pada prinsipnya metode balon karet ini hamper sama dengan

metode sand cone,hanya saja pada metode ini di pergunakan air untuk
menentukan volume galian.
Untuk

melakukan

pengolahan

data

pengujian

kepadatan

laboraturium dan kepadatan lapangan saat ini dapat dilakukan dengan


mudah melalui aplikasi computer yang sudah umum di pergunakan yaitu
program exell,fitur-fitur untuk grafik dan formula untuk perhitungan telah
tersedia dealam program tersebut.

7. PENGUJIAN CBR (CALIFORNIA BEARING RATIO)


Pengujian ini di maksudkan untuk menentukan CBR (California
Bearing Ratio) tanah dan camapuran tanah agregat yang di padatkan di

19

laboraturium pada kadar air tertentu.CBR adalah perbandingan antara


beban penetrasi suatu bahan terhadap bahan standar dengan kedalaman
dan kecepatan penetrasi yang sama.
CBR

biasanya

di

gunakan

antara

lain

untuk

perencanaan

pembangunan jalan baru dan lapangan terbang.Untuk menentukan nilai


CBR harus di sesuaikan dengan peralatan dan data hasil pengujian
kepadatan yaitu pengujian pemadatan ringan untuk tanah berbutir halus
atau pengujian pemadatan berat untuk tanah berbutir.

BAB III
PRAKTIKUM UJI TANAH
1. UJI BERAT ISI
1.1.

Definisi
Berat isi atau berat volume adalah berat tanah per satuan

volume.
1.2.

Tujuan Praktikum
Setelah melakukan pengujian ini, mahasiswa diharapkan

menentukan besaran berat isi atau berat volume dari tanah asli.
1.3.
Peralatan
- Cincin cetakan silinder atau persegi
- Jangka sorong
- Alas kaca
- Spectula
- Timbangan
- Palu karet
1.4.

Bahan
20

Tanah tak terganggu

1.5.
Langkah kerja
1. Bersihkan ring dari segala kotoran yang melekat
2. Hitung volume masing-masing ring serta berat ring tanpa isi

3. Isi kedua ring dengan tanah tak tertanggu hingga padat


4. Kemudian hitung berat ring beserta tanahnya dengan
menggunakan timbangan ketelitian 0,01 gr
1.6.
Perhitungan
Berat isi=

Berat tanah
volume

Ring besar
Berat isi=

136,7
78,6
= 1,74 gr/cm2

Ring kecil
Berat isi=

77,9
44,3
= 1,76 gr/cm2

21

2. PENGUJIAN KADAR AIR


2.1.

Definisi
Kadar air adalah angka dalam prosen yang menunjukan

perbandingan antara berat air dengan butiran kering dari suatu


sampel tanah.
2.2.

Tujuan Praktikum
Setelah melakukan pengujian ini, mahasiswa diharapkan

dapat menentukan besaran nilai kadar air tanah asli.


2.3.
Peralatan
- Cawan
- Timbangan dengan ketelitian 0.01 gr
- Spatula
- Oven
- Desikator
- Tang penjepit
2.4.
1.
2.
3.
4.
5.

Langkah Kerja
Timbang cawan kosong (w1)
Timbang cawan + sampel tanah asli (w2)
Masukkan cawan + sampel ke dalam oven, biarkan 24 jam
Atur suhu dalam oven 1100 c
Ssetelah kering keluarkan dari oven dan dinginkan dalam

desikator
6. Timbang cawan + sampel tanah kering (w3)

2.5.

Data dan Perhitungan

22

Kadar air=

Berat air
x 100
Berat tanahkering

w 2w 3
x 100
w 3w 1

Keterangan :
w1

= Berat cawan

w2

= Berat cawan + tanah basah

w3

= Berat cawan + tanah kering oven.

3. MENGUKUR BERAT SPESIFIK


3.1.

Definisi
Berat jenis tanah atau lebih di kenal dengan berat spesifik

(Gs) adalah perbandingan berat butir tanah dengan air standar


pada suhu tertentu.
3.2.
Tujuan Praktikum
Melakukan berat jenis ( spesific Gravity ) tanah dengan benar
Dapat menghitung spesific gravity suatu tanah
-

3.3.
Peralatan
Piknometer
Saringan no A
Palu karet
Termometer
Air suling
Botol air
Timbangan
Talam aluminium

3.4.
Langkah kerja
1. Timbang Piknometer dalam kondisi kosong (W1)

23

2. Masukkan sampel 4 sebanyak dari piknometer kemudian


timbang piknometer + sampel (W2)
3. a. Isi air ke dalam piknometer hingga memenuhi tanah.
Kemudian kocok-kocok, selanjutnya isi air piknometer dan
biarkan selama 24 jam.
b. Masukkan piknometer + sampel ke dalam dosimeter dan di
vacuum 10 menit hingga tanah yang ada didalam piknometer
berhenti bergelembung.
c. Setelah divakum, isi air hingga penuh ke dalam piknometer
yang telah dikeluarkan dari dosimeter.
4. Timbang piknometer + sampel + Air (W3)
5. Kosongkan piknometer kemudian isi air hingga penuh dan
timbang piknometer + air (W4)
3.5.
Gs

Perhitungan
adalah perbandingan

antara

dengan

pada

temperatur 200c.
Ws
s
Vs
Gs= =
w Ww
Vw
Bila Vs = Vw, maka Gs =

Ws
Ww

Sehingga dapat dikatakan Gs adalah perbandingan antara butiran


tanah

dengan

berat

air

dengan

volume

yang

sama

pada

temperature standar.
Gs=

Ws
w 2w 1
=
pada suhu 20 c
Ww ( w 4w 1 )(w 3w 2)

Bila temperature percobaan tidak 200 c maka harus dikoreksi


sebagai berikut:

24

Gs=

Ws
w 2w 1
=
pada suhu 20 c
Ww 1/k ( w 4w 1 )1 /k (w 3w 2)

Keterangan :
Gs = Berat Jenis (Spesific Gravity)
s = Berat jenis butiran padat
w = Berat volume air (cm3)
Ws = Berat butiran padat (gr)
Ww = Berat air
w1 = Berat picnometer
w2 = Berat picnometer + tanah
w3 = Berat picnometer + tanah + air
w4 = Berat picnometer (setelah dibersihkan) + air
Tabel Koreksi Suhu
Suhu
(0c)
16
18
20
22
24
26
28
30

Nilai K
1.0007
1.0004
1.0000
0.9996
0.9991
0.9986
0.9981
0.9976

3.6.
Kalibrasi Piknometer
1. Piknometer dibersihkan, dikeringkan, ditimbang dan beratnya
dicatat (w1)
2. Piknometer diisi air suling dan dimasukkan kedalam bejana air
pada suhu 200 c
3. Keringkan bagian luar piknometer dan timbang piknometer + air
(w2)
4. Hitung nilai (w4) = w2 X k
Keterangan : w4 = berat piknometer + air yang telah dikoreksi
w2 = berat piknometer + pada suhu 200 c
25

4. PENGUJIAN BATAS CAIR


4.1.
Tujuan Pengujian
Menentukan nilai Batas Cair
Menentukan nilai indeks plastisitas
Menentukan batas susut suatu sampel tanah
4.2.
-

Peralatan
Alat cassagrande serta graving tool
Timbangan
Spatula
Cawan untuk mengukur kadar air
Oven dengan pengatur suhu 1100 c
Desikator
Saringan No. 40
Kaca datar
Wash botol
Talam tempat sampel

4.3.
Tanah

Persiapan Sampel Tanah


kering udara dihancurkan terlebih

dahulu

dari

gumpalannya dan di ayak dengan saringan No. 40, seberat 200


gr
4.4.
Langkah Kerja
1. Tanah yang telah dipersiapkan seberat 200 gr letakkan diatas
plat kaca lalu dicampur air suling dan diaduk dengan spatula
hingga rata
2. Ambil alat Casagrande, atur tinggi cawan 10 mm dengan
memutar skrup yang terdapat dibelakang alat tersebut
3. Siapkan cawan yang telah ditimbang dan ditandai sebanyak 3
buah
4. Masukkan tanah yang telah diaduk kedalam cawan casagrande
5. Ratakan permukaan tanah tersebut dengan dasar alat
Casagrande
6. Buatlah alur dengan jalan menekan grooving tool pada tanah
yang diuji. Pada waktu membuat alur, posisi grooving tool
harus tegak lurus penmukaan mangkok.

26

7. Putar handle dengan kecepatan 2 X putaran per detik sehingga


kedua sisi alur merapat sepanjang 12,5 mm. hal ini dapat
dikontrol dengan pangkal dari graving tool
8. Catat jumlah putaran handle pada saat alur merapat sepanjang
12,5 mm, sebagai numer of blow ( jumlah ketukan )
9. Aduklah kembali sisa tanah diatas plat kaca dan ulangi
prosedur diatas, sehingga sekurang-kurangnya didapat 4 hasil
kadar air yang berbeda dengan jumlah ketukan antara 10 50
kali.

5. PENGUJIAN BATAS PLASTIS


5.1.
Tujuan Pengujian
Menentukan batas susut suatu sampel tanah
Menentukan nilai Batas Cair
Menentukan nilai indeks plastisitas
5.2.
-

Peralatan
Timbangan
Spatula
Cawan untuk mengukur kadar air
Oven dengan pengatur suhu 1100 c
Desikator
Saringan No. 40
Kaca datar
Wash botol
Talam tempat sampel

5.3.
Tanah

Persiapan Sampel Tanah


kering udara dihancurkan terlebih

dahulu

dari

gumpalannya dan di ayak dengan saringan No. 40, seberat 200


gr

27

5.4.
Langkah Kerja
1. Letakkan sampel tanah diatas plat kaca, kemudian diaduk
dengan air suling hingga kadar airnya merata
2. Setelah kadar air merata, buatlah bola-bola tanah dari benda
uji tersebut dengan diameter 1 cm, kemudian bola-bola tanah
tersebut digeleng-geleng di atas plat kaca. Penggelengan
dilakukan dengan telapak tangan dengan kecepatan 80 90
per menit
3. Penggelengan dilakukan terus sampai benda uji membentuk
batang

dengan

diameter

3,2

mm.

bila

pada

waktu

penggelengan ternyata sebelum benda uji mencapai 3,2 mm


sudah retak, maka benda uji disatukan kembali, ditambah air
sedikit

dan

diaduk

sampai

merata.

Apabila

ternyata

penggelengan bola-bola itu dapat mencapai diameter lebih


kecil dari 3,2 mm tanpa menunjukkan retak-retak maka sampel
tanah perlu dibiarkan beberapa saat diudara terbuka agar
kadar airnya berkurang
4. Pengadukan dan penggelengan diulangi terus sampai retakanretakan itu terjadi tepat pada saaat benda uji membentuk
batang dengan diameter 3,2 mm
5. Periksa kadar air dari batangan tanah diatas
6. Ulangi poiny 2 sampai 5, sedikitnya sampai diperoleh 3 sampel
uji
7. Batas plastis adalah kadar air rata-rata dari batang tanah
tersebut.

28

6. UJI ANALISA UKURAN BUTIRAN


6.1
Tujuan
Menentukan distribusi butiran tanah
Menentukan kelompok tanah
6.2
-

Peralatan dan bahan


Saringan No. 4, No. 10, No. 20, No. 40, No. 80, No. 200
Sikat pembersih saringan
Timbangan dengan ketelitian 0,01 gr
Oven dengan pengatur suhu 1100c
Sendok spasi sampel
Cawan
Air
Talam
Palu karet

6.3
Persiapan benda uji
1. Ambil tanah kering udara, masukkan dalam talam, tumbuk
dengan palu karet dan keringkan dalam oven 24 jam pada
suhu 1100 c
2. Dinginkan dalam desikator
3. Ambil 500 gr dari tanah kering tersebut dan rendam dalam
air 24 jam
6.4
Proses Pengujian Analisa Saringan
1. Susun saringan dari lubang saringan terbesar sampai lubang
saringan terkecil diakhiri dengan pan

29

2. Tanah yang telah direndam dicuci diatas susunan saringan


tersebut, hingga air cucian bening dan jernih
3. Tanah yang tertinggal dalam saringan dikeringkan dalam
oven, hingga didapat berat kering yang konstan.

7. ANALISA HIDROMETER

1.1
Tujuan Praktek
Untuk menentukan pembagian ukuran butiran dari tanah yang
lewat saringan No. 200
1.2
-

Peralatan dan Bahan


Saringan No. 200
- Stopwatch
Hidrometer
- Sendok
Termometer
- Talam
Mixer
- Palu karet
Evaporating disk
- Sodium Hexametaphospat
Oven
- Air Suling
Gelas ukur 1000 ml
- Pipate
Timbangan
- Water bath

1.3
-

Persiapan Benda uji


Tanah kering oven di tumbuk dengan palu karet dan saring

dengan saringan No. 10


Timbang benda uji dengan berat 60 gr
Rendam tanah dalam evaporating disk, dengan larutan 10
gr Sodium Heksametafospat + air 250 ml selama 24 jam

Bahan Pengurai
- Larutan Natrium Silikat untuk menghancurkan gumpalan-

gumpalan tanah yang tidak mengandung kapur


Larutan Natrium Heksametafosfat untuk menghancurkan
gumpalan-gumpalan tanah yang mengandung kapur

1.4
1. Setelah

Pengujian
perendaman

contoh

tanah,

semua

suspensi

pindahkan ke dalam mangkok mixer dan tambahkan air


suling hingga setengahnya, selanjutnya dimixer selama 10
menit
30

2. Pindahkan susupensi tersebut kedalam gelas ukur dan


tambahkan air suling hingga menjadi 1000 ml
3. Isi gelas ukur lain dengan air suling hingga volume 1000 ml
4. Suspensi dalam gelas ukur ditutup atasnya, lakukan
pengocokkan pada arah mendatar dengan jalan membolak
balikkan gelas ukur selama 1 menit
5. Segera setelah dikocok, letakkan gelas ukur tersebut diatas
meja,

jalankan

stopwatch

dan

masukkan

hidrometer

kedalam suspensi secara perlahan-lahan


6. Lakukan pembacaan pada angka skala hidrometer pada
interval waktu 0,5 ; 1 ; dan 2 menit tanpa memindahkan
hidrometer
7. Ukur temperatur dengan menempatkan termometer pada
gelas ukur yang berisi air suling dan ukur meniscusnya
8. Ulangi langkah 4, 5, 6, hingga didapat 2 x pembacaan yang
sama
9. Setelah pembacaan 2 menti selesai, kocok kembali gelas
ukur yang berisi suspensi dan masukkan kembali hidrometer,
lakukan pembacaan 5, 125, 30, 60, 240 dan 1440 menit
10.
Catat temperatur pada setiap kali pembacaan
11.
Setelah pembacaan terakhir, tuangkan suspensi
kedalam saringan No. 200 cuci sampai jernih airnya.

8. UJI KONSOLIDASI
8.1 Tujuan
Menentukan

kemampatan

suatu

jenis

tanah

yaitu

sifat

perubahan isi ( ketebalan ) dan proses keluarnya air pori yang


diakibatkan adanya perubahan tekanan vertikal yang bekerja
pada tanah tersebut
Dari pengujian ini akan diperoleh Cc dan Cv
8.2 Peralatan yang digunakan

31

Sel konsolidasi
Alat konsolidasi beserta penggantungnnya
Bandul untuk beban
Stopwatch
Extruder
Pisau pemotong
Dial penurunan dengan ketelitian 0,01 mm
Timbangan dengan ketelitian 0,01 mm
Oven
Cawan
Kertas saringan

8.3 Prosedur pengujian


1. Bersihkan cincin sampel atau cetakan benda uji, lalu keringkan,
timbang kemudian ukur volumenya
2. Siapkan benda uji.
3. Keluarkan sampel tanah dari tabung sampel sepanjang 2 cm
dengan menggunakan extruder lalu potong dan ratakan.
4. Pasang cincin sampel didepan tabung, lalu keluarkan sampel
tanah dengan extruder sehingga cincin sampel terisi penuh
dengan tanah.
5. Ratakan tanah yang menonjol dikedua ujung cetakan benda uji
tersebut, dengan pisau pemotong.
6. Timbang cetakan beserta sampel.
7. Tentukan kadar air sebelum pengujian, dari tanah sisi sampel
dari dalam tabung.
8. Siapkan sel konsolidasi, pasang kertas saringan dibagian bawah
dan atas benda uji, kemudian pasang batu pori sehingga benda
uji yang sudah dilapisi kertas saring terapit oleh kedua batu pori.
9. Masukkan kedalam kotak sel konsolidasi.
10.
Pasang pelat penekan di atas batu pori, sebagai
pengarah beban.
11.
Letakkan

sel

konsolidasi

yang

sudah

berisi

sampel uji pada alat konsolidasi.


12.
Atur kedudukan palang penekan agar kedudukan
horisontal denagn cara memutar skrup pengganjal beban.

32

13.

Pasang stang penekan, sehingga tepat pada

kedudukannya.
14.
Atur posisi dial penurunan dalam posisi tertekan,
kemudian nol-kan.
15.
Pasang

beban

pertama

yang

menghasilkan

tekanan pada benda uji sebesar 0,25 kg/cm2.


16.
Baca penurunan tanah pada interval waktu 15,
30, 45 detik, dilanjutkan 1, 2, 5, 15, 25, 49, 60 menit dan 24 jam.
Setelah satu menit pembacaan, sel konsolidasi diisi air. Biarkan
beban pertama ini bekerja sampai pembacaan arloji tetap,
biasanya 24 jam sudah dianggap cukup.
17.
Setelah pe,bacaan 24 jam, lanjutkan dengan
beban kedua sebesar beban pertam, sehingga teekanan menjadi
dua kali. Kemudian baca dan catat pembacaa dial penurunan
seperti beban pertama.
18.
Lakukan hal yang sama untuk beban yang sama
untuk beban-beban yang lebih besar (4x, 8x, 16x, 32x). Beban
maksimum disesuaikan dengan beban yang akan bekerja pada
lapisan tanah tersebut.
19.
Setelah

dilakukan

pembebanan

maksimum,

kurangi beban dalam dua taha sampai mencapai beban pertama.


Yakni 8,0 kg/cm2 lalu 0,25 kg/cm2. Pada waktu beban dikurangi,
setiap pembebanan harus dibiarkan bekerja sekurang-kurangnya
selama 5 jam. Dial penurunan hanya perlu dibaca sesudah 5
jam.

20.

Segera

setelah

pembacaan

terakhir

dicatat,

keluarkan sampel dari sel konsolidasi .


21.
Keringkan permukaan benda uji, lalu tentukan
berat keringnya.

33

9.UJI PEMADATAN (Proctor )


9.1
TUJUAN PRAKTIKUM
Untuk menentukan hubungan
kepadatan

tanah,

sehingga

majsimum.
Menentukan kadar Air optimum
Untuk memperbaiki sifat-sifat
tanah.

PENGUJIAN CBR LABORATURIUM

34

kadar

air

diketahui

teknik

dengan

kepadatan

suatu

massa