Anda di halaman 1dari 4

Lisnawati Mutia

11612001
TAKE HOME ASSIGNMENT
Infeksi Saluran Pernafasan
KASUS
Ny. KL (52 th) masuk IGD akibat keluhan 3 hari sesak, batuk dengan sputum yang purulen,
serta demam. Pemeriksaan foto toraks menunjukkan adanya kepadatan pada paru kanan pada
lobus bagian bawah.
Petanda vital : TD 150/60 mmHg, nadi 88 x/menit, respirasi 26 x/menit, suhu 38,50C.
Pemeriksaan lab: Leukosit 15.000 sel/mikroliter, bands 9%, Ureum 156, Kreatinin 2,5 mg/dL
Ny. KL (52 th) adalah pasien DM tipe II dengan glukosa darah yang tidak terkontrol dengan
komplikasi ESRD sehingga sempat menerima hemodialisis 11 hari yang lalu. Ia menerima
meropenem akibat infeksi sistemik akibat pemasangan kateter 10 hari yang lalu.
1. Apakah jenis pneumonia yang diderita Ny. KL?
2. Apa patogen yang diduga menjadi penyebab infeksi tsb?
3. Antibiotik empirik apa yang dapat Anda rekomendasikan? Bagaimana regimennya?
4. 3 hari kemudian hasil kultur dikonfirmasi Klebsiella pneumoniae (ESBL+).
Bagaimana pendekatan Anda dalam pemilihan antibiotik? Antibitotik definitif apa
yang Anda rekomendasikan & bagaimana regimennya?

PENYELESAIAN
Subjektif

: Sesak, batuk dengan sputum yang purulen, serta demam.

Objektif

Tekanan Darah
Nadi (Heart Rate)
Respirasi
Suhu tubuh
Leukosit

Nilai normal
120/90 mmHg
60 100 x/menit
14 20 x/menit
o

Hasil Pemeriksaan
150/60 mmHg
88 x/menit
26 x/menit
o

36,5 37,5 C
38,5 C
3200
15.000 sel/mikroliter

Keterangan
Hipertensi stage 1
Normal
Diatas
normal
(Takipnea)
Demam tinggi
Diatas normal

Lisnawati Mutia
11612001
Bands
Ureum
Kreatinin
Foto toraks

10.000/mm3
0 % - 12 %
0,6 1,2 mg/dL
0,6 1,3 mg/dL

9%
Normal
156 mg/dL
Diatas normal
2,5 mg/dL
Diatas normal
Adanya
kepadatan
pada

paru

kanan

lobus bagian bawah

Peningkatan leukosit mengindikasikan adanya infeksi. Adanya infeksi juga didukung oleh
adanya peningkatan respiratory rate (RR) dan suhu tubuh. Konsentrasi kreatinin serum dan
ureum yang meningkat menunjukan bahwa pasien memiliki gangguan fungsi ginjal. Pada
kasus pun sudah dinyatakan bahwa pasien merupakan penderita DM tipe 2 dengan
komplikasi ESRD dan sempat menerima hemodialisis.
1. Jenis pneumonia yang diderita oleh Ny KL adalah HCAP (Health Care Acquired
Pneumonia). Hal tersebut ditunjukan dengan beberapa faktor resiko yang dialami oleh
pasien, diantaranya :
a. Ny. KL (52 th) menggunakan layanan medis jangka panjang karena pasien adalah
pasien DM tipe II dengan glukosa darah dan komplikasi ESRD.
b. Ny KL menggunakan antibiotik (meropenem) 10 hari yang lalu. Meropenem
digunakan karena infeksi sistemik akibat penggunaan kateter.
c. Pasien menerima hemodialisis 11 hari yang lalu akibat komplikasi ESRD.
2. Patogen empirik yang diduga menjadi penyebab infeksi adalah MRSA, K.
Pneumoniae, P. aeruginosa, Acinetobacter sp. Patogen tersebut merupakan patogen
3. Antibiotik empirik yang dapat direkomendasikan adalah antibiotik dengan spektrum
luas dan bukan golongan aminoglikosida. Golongan aminoglikosida memiliki efek
samping nefrotoksik dan pasien sudah berada pada tahap ESRD (End Stage renal
Disease) sehingga tidak direkomendasikan obat golongan aminoglikosida. Antibiotik
yang dapat direkomendasikan diantaranya sefalosporin generasi ketiga seperti
sefotaksim, cefepime, meropenem, levofloksasin, siprofloksasin, ceftazidime
Karena pasien mengalami komplikasi ESRD, maka diperlukan perhitungan nilai
klirens kreatinin. Perhitungan nilai klirens kreatinin Ny. KL adalah sebagai berikut :
Clcr =

[980,8 x (umur20)]
SrCr

x 90%

Lisnawati Mutia
11612001
Clcr =
Karena nilai ClCr

[ 980,8 x (5220)]
2,5

x 90%

Clcr = 26,064 ml/menit


pasien adalah 26,064 ml/menit maka perlu adanya penyesuaian

regimen dosis untuk pasien tersebut. Adapun regimen dosis antibiotik yang
direkomendasikan untuk Ny. KL adalah sebagai berikut:
Nama Obat
Sefotaksim
Levofloksasin
Siprofloksasin

Cefepime
Ceftazidime
Meropenem

Regimen untuk Pasien dengan Gangguan Ginjal


Oral : 0,5- 1 g/ 6-12 jam atau 1-2 g setiap 24 jam.
Dosis permulaan 500 mg dilanjutkan dengan dosis 250500 mg setiap 48 jam
Oral, immediate release :
250-500 mg/18 jam
IV :
200-400 mg/18-24 jam
Untuk pasien hemodialisis,

berikan

obat

setelah

menjalani hemodialisis
Dosis pemeliharaan : 0,5-1 g/24 jam
Oral : 1 gram / 24 jam
IV : 0.5-1 g/12 jam

4. Pemilihan antibiotik untuk penanganan HCAP Ny. KL perlu memperhatikan hal-hal


berikut :
Perlu diperhatikan riwayat pengobatan pasien (obat yang pernah dan sedang
dipakai oleh pasien) sehingga dapat dihindari adanya interaksi obat yang tidak
menguntungkan. Pasien menderita DM tipe 2 namun tidak disebutkan obat yang
dikonsumsi. Selain itu tekanan darah pasien tinggi sehingga pasien kemungkinan

akan mendapatkan obat antihipertensi.


Perlu diperhatikan riwayat alergi pasien terhadap antibiotik. Namun, di kasus tidak
disebutkan adanya riwayat alergi sehingga dianggap tidak ada. Selain itu perlu
diperhatikan pula kondisi pasien yang mengalami komplikasi ESRD sehingga tidak

disarankan antibiotik golongan aminoglikosida yang bersifat nefrotoksik.


Perlu diperhatikan karakteristik bakteri yang menginfeksi dan resistensinya
terhadap antibiotik tertentu.

Patogen yang menyerang pasien adalah Klebsiella pneumoniae (ESBL+). Klebsiella


pneumonia (ESBL+) memiliki enzim yang dapat menghancurkan agen oxyimino-beta
lactam sehingga resisten terhadap antibiotik seperti golongan penisilin; sefalosporin

generasi 1, 2, dan 3; serta golongan aztreonam kecuali karbepenem. Sehingga antibiotik

Lisnawati Mutia
11612001
yang dapat direkomendasikan adalah antibiotik karbapenem (imipenem atau
meropenem. Antibiotik yang direkomendasikan untuk Ny. KL adalah meropenem
dengan regimen dosis IV : 0.5 - 1 g/12 jam.
Daftar Pustaka:
Dipiro,Joseph T.,dkk. 2008. Pharmacoteraphy Principle and Practice. Mc Graw

Hill Education
Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian. 2011. Pedoman Interpretasi Data Klinik.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta


Paterson, David L., et al. 2004. Clinical Infectious Disease: Antibiotic Therapy for
Klebsiella pneumoniae Bacteremia: Implications of Production of ExtendedSpectrum -Lactamases. Oxford Juornal. p 39:31-37.