Anda di halaman 1dari 5

A.

Sejarah Tebentuknya SP2KP (Sistem Pemberian Pelayanan Keperawatan


Profesional)
Sejak tahun 1996, dicetuskanlah konsep Model Praktik Keperawatan Profesional
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr.
Cipto Mangunkusumo (MPKP FIKUI-RSUPNCM) oleh Dr. Ratna Sitorus.
Ditahap uji coba, terbukti bahwa konsep MPKP FIKUI-RSUPNCM terbukti dapat
meningkatkan mutu asuhan keperawatan dinilai dari kepuasan klien/keluarga, kepatuhan
perawat terhadap standar meningkat, infeksi nosokomial menurun, dan waktu perawatan
pasien menjadi lebih singkat. Konsep MPKP FIKUI-RSUPNCM mulai disosialisasikan
secara nasional dengan nama Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP) pada tahun
1998. Berdasarkan kajian sekarang ini, ditemukan banyak kendala - kendala dalam penerapan
MPKP di Indonesia. Kendala tersebut antara lain: beban kerja perawat yang tinggi, belum
memadainya tenaga perawat profesional yang berkompeten, lemahnya supervisi klinis,
tumpang tindihnya ketrampilan perawat, terbatasnya fasilitas dan dana untuk pengembangan.
Selain itu, perawat juga masih melakukan pekerjaan rumah tangga dan administrasi pasien.
Menanggapi

permasalahan

tersebut,

Pemerintah

Repubilk

Indonesia,

melalui

Kementerian Kesehatan memperkenalkan pengembangan konsep dari MPKP, yaitu Sistem


Pemberian Pelayanan Keperawatan Profesional (SP2KP).
B. SP2KP (Sistem Pemberian Pelayanan Keperawatan Profesional)
a) Definisi SP2KP (Sistem Pemberian Pelayanan Keperawatan Profesional)
Menurut Depkes RI (2009), merupakan kegiatan pengelolaan asuhan keperawatan
disetiap unit, ruang rawat di rumah sakit. SP2KP mempunyai lingkup yang meliputi aplikasi
nilai-nilai profesional dalam praktik keperawatan, manajemen dan pemberian asuhan
keperawatan, serta pengembangan profesional diri (Suhartati, 2009).
SP2KP adalah sistem pemberian pelayanan keperawatan profesional yang merupakan
pengembangan dari MPKP (Model Praktek Keperawatan Profesional) dimana dalam SP2KP
ini terjadi kerjasama profesional antara perawat primer (PP) dan perawat asosiate (PA) serta
tenaga kesehatan lain. Metode modifikasi Perawat Primer-Tim yaitu seorang PP bertanggung
jawab dan bertanggung gugat terhadap asuhan keperawatan yang diberikan pada sekelompok
pasien mulai dari pasien masuk sampai dengan bantuan beberapa orang PA. PP dan PA
selama kurun waktu tertentu bekerjasama sebagai suatu tim yang relative tetap baik dari segi

kelompok pasien yang dikelola, maupun orang-orang yang berada dalam satu tim tersebut .
Tim dapat berperan efektif jika didalam tim itu sendiri terjalin kerjasama yang profesional
antara PP dan PA. Selain itu tentu saja tim tersebut juga harus mampu membangun kerjasama
profesional dengan tim kesehatan lainnya.
Menurut (Sitorus 2011) SP2KP adalah kegiatan pengelolaan asuhan keperawatan
disetiap unit ruang rawat di rumah sakit. SP2KP ini merupakan sistem pemberian asuhan
keperawatan di ruang rawat yang dapat memungkinkan perawat dalam pelaksanaan asuhan
keperawatan yang professional bagi pasien. SP2KP ini memiliki system pengorganisasian
yang baik dimana semua komponen yang terlibat dalam pelaksanaan asuhan keperawatan
diatur secara professional (Rantung dkk, 2013).
Hasil penelitian direktorat keperawatan dan PPNI tentang kegiatan perawat di
puskesmas, ternyata lebih dari 75% dari seluruh kegiatan pelayanan adalah kegiatan
pelayanan keperawatan (Depkes, 2005), enam puluh persen (60 %) tenaga kesehatan adalah
perawat yang bekerja pada berbagai sarana/tatanan pelayanan kesehatan dengan pelayanan 24
jam sehari, tujuh hari sepekan, merupakan kontak pertama dengan system klien. Dengan
peningkatan mutu pelayanan keperawatan melalui metode SP2KP dapat meningkatkan
Keselamatan dan kenyamanan pasien, sehingga dapat mencegah terjadinya insiden yang tidak
diharapkan.
SP2KP atau Sistem Pemberian Pelayanan Keperawatan Profesional adalah kegiatan
pengelolaan asuhan keperawatan disetiap unit ruang rawat di rumah sakit.SP2KP ini
merupakan suatu sistem pemberian asuhan keperawatan di ruang rawat yang dapat
memungkinkan perawat dalam pelaksanaan asuhan keperawatan yang profesional bagi
pasien. SP2KP ini memiliki sistem pengorganisasian yang baik dimana semua komponen
yang terlibat dalam pelaksanaan asuhan keperawatan diatur secara profesional (Sitorus,
2011). Hasil riset tentang efektifitas pelaksanaan Model Praktik Keperawatan Profesional
atau MPKP dengan kualitas pelayanan keperawatan di dua rumah sakit pemerintah di Jakarta
menunjukkan bahwa pada kelompok intervensi kepuasaan pasien dengan pelayanan
keperawatan sebelum penerapan MPKP yaitu dengan kategori puas (15%), kategori cukup
puas (44,1%) dan kategori kurang puas (40,9%). Setelah penerapan MPKP hasil didapatkan
yaitu kategori puas (73,9%), kategori cukup puas (25,3%) dan kategori kurang puas (1,7%).
Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa kepuasan pasien pada saat penerapan MPKP

menunjukkan hasil yang baik sedangkan sebelum penerapan MPKP kepuasan pasien sangat
buruk (Sitorus, 2012).
Indikator mutu pelayanan keperawatan (Depkes, 2009), yaitu : keselamatan pasien,
terpenuhinya rasa nyaman, meningkatkan pengetahuan, kepuasan pasien, kemampuan
merawat diri sendiri, dan penurunan kecemasan, sistem pemberian pelayanan keperawatan
profesional meliputi :
1. Aplikasi nilai nilai profesional dalam praktik keperawatan.
2. Manajemen dan pemberian asujan keperawatan : kepemimpinan dan manajemen
keperawatan, metoda pemberian asuhan keperawatan, ketenagaan keperawatan,
dan keterampilan spesifik manajemen asuhan keperawatan.
3. Pengembangan profesional diri.
b) Komponen pelayanan keperawatan profesional
Menurut Depkes RI (2009),
1) Perawat
2) Profil pasien
3) Sistem pemberian asuhan keperawatan
4) Kepemimpinan
5) Nilai-nilai profesional
6) Fasilitas
7) Sarana prasarana (logistik)
8) Dokumentasi asyhan keperawatan
C. Peran Manajerial dan kepemimpinan
Ketua dalam tim betugas untuk membuat rencana asuhan
keperawatan, mengkoordinir kegiatan semua staf (PA) yang berada
dalam

tim,

mendelegasikan

sebagian

tindakan-tindakan

keperawatan yang telah direncanakan pada renpra dan bersamasama dengan PA mengevaluasi asuhan keperawatan yang diberikan.
Seorang PP harus memiliki kemampuan yang baik dalam membuat
renpra untuk klien yang menjadi tanggung jawabnya. Adanya renpra
merupakan

tanggung

jawab

profesional

seorang

PP

sebagai

landasan dalam memberikan asuhan keperawatan yang sesuai


dengan standar. Renpra tersebut harus dibuat sesegera mungkin
pada saat klien masuk dan dievaluasi setiap hari. PP dituntut untuk
memiliki

kemampuan

mendelegasikan

keperawatan yang telah direncanakan.

sebagian

tindakan

Pada PA, pembagian tanggung jawab terhadap klien yang


menjadi

tanggung

jawab

tim,

didasarkan

pada

tingkat

ketergantungan pasien dan kemampuan PA dalam menerima


pendelegasian.
keterampilan

Metode

tim

kepemimpinan.

PP-PA
PP

dituntut

bertugas

untuk

memiliki

mengarahkan

dan

mengkoordinasikan PA dalam memberikan asuhan keperawatan


pada kelompok klien. PP berkewajiban untuk membimbing PA agar
mampu memberikan asuhan keperawatan seuai dengan standar
yang ada. Bimbingan tersebut dapat dilaksanakan secara langsung,
misalnya mendampingi PA saat melaksanakan tindakan tertentu
pada klien atau secara tidak langsung pada saat melakukan
konferens. PP juga harus senantiasa memotivasi PA agar terus
meningkatkan
atau

bahan

keterampilannya,misalnya
bacaan

yang

diperlukan.

memberikan
Selain

terkait

referensi
dengan

bimbingan keterampilan pada PA, sebagai bagian dari peran


kepemimpinan

seorang

PP,

PP

seharusnya

juga

memiliki

kemampuan untuk mengatasi konflik yang mungkin terjadi antar PA.


PP harus menjadi penengah yang bijaksana sehingga konflik bisa
teratasi dan tidak mengganggu produktifitas PA dalam membantu
memberikan asuhan keperawatan.

Daftar Pustaka

http://repository.unhas.ac.id:4001/digilib/files/disk1/361/--dewiastuti-18021-1-15-dewi-).pdf
Rantung, Steffy R., Fredna J. Robot, dkk. (2013). Perbedaan Pendokumentasian
Asuhan KeperawatanRuangan Sp2kp dan Non-Sp2kp di Irina A dan Irina F
RsupProf. Dr. R. D. Kandou Manado.Ejournal Keperawatan (e-Kp). 1 (1-7).
Sitorus, Ratna. 2006. Model Praktik Keperawatan Profesional Di Rumah
Sakit. Jakarta: EGC.