Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Percobaan


2. Mahasiswa memahami fungsi kurva kalibrasi dan cara membuatnya.
3. Mahasiswa memahami prisip penentuan kadar zat aktif secara
spektrofotometri UV-Visibel dan dapat menentukan kadar zat aktif dalam
sediaan secara spektrofotrometri UV-Visibel.

1.2 Prinsip Percobaan


Berdasarkan kemampuan suatu senyawa untuk menyerap (absorpsi) energy
radiasi pada panjang gelombang UV-Visibel, dimana serapan berbanding lurus
dengan konsentrasi senyawa tersebut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Spektrofotometri derivatif merupakan metode manipulatif terhadap spektra


pada spektrofotometri UV-Vis.
Metode spektrofotometri derivatif dapat digunakan untuk analisis kuantitatif
zat dalam campuran dimana spektrumnya mungkin tersembunyi dalam suatu bentuk
spektrum besar yang saling tumpang tindah dengan mengabaikan proses pemisahan
zat terlebih dahulu.
Spektrum yang dialih bentuk ini menghasilkan profil yang lebih rinci yang
tidak terlihat pada spektrum normal.
Kegunaan spektrofotometri derivatif adalah :
1. Apabila menghadapi campuran dua komponen yang spektrumnya saling
tumpang tindih, maka analisis kuantitatif cara derivatif menjadi metoda
yang terpilih.
2. Analisis kuantitatif campuran dua komponen yang keruh.
3. Analisis kuantitatif campuran dua komponen yang merupakan isometrik
(kecuali isomer optis aktif atau rasemik).
4. Spektra derivatif dapat dipakai untuk maksud kualitatif atau sebagai data
pendukung.
Dalam suatu campuran, pengukuran konsentrasi dalam suatu sampel (analit)
dapat dilihat dalam campuran sehingga dapat membuat pengerjaan ini menjadi lebih
mudah atau lebih akurat. Tetapi yang sering menjadi kendala yaitu spektra derivatif
tidak dapat mengurangi atau menghindakan adanya gangguan dari rasio serapan
pengganggu yang lain (signal-to-noise ratio).
Konsep derivatif telah diperkenalkan pertama kali pada tahun 1950, dimana
terlihat memberikan banyak keuntungan. Aplikasi utama spektroskopi derivatif
ultraviolet-cahaya tampak adalah untuk identifikasi kualitatif dan analisis sampel.
Metode spektroskopi derivatif sangat cocok untuk analisis pita absorbansi yang
overlapping atau terlalu landai.

Spektrofotometri Derivatif Ultraviolet (SDUV)

Metode SDUV merupakan kombinasi dari spektrofotometri UV konvensional


dan kemometrik yang memerlukan peralatan optik, elektronik, dan metode
matematika untuk menghasilkan spektrum turunan. Kelebihan SDUV antara lain
mampu meningkatkan pemisahan pita pemisahan dari spektrum yang tumpang tindih,
mendeteksi dan menentukan panjang gelombang serapan senyawa target dari
spektrum kompleks, dan mengurangi gangguan yang disebebkan oleh penghamburan
dan serapan senyawa lain. Oleh karena karakteristik SDUV tersebut, proses isolasi
dan preparasi senyawa aktif yang biasanya diperlukan untuk prosedur analisis
kualitatif dan kuantitatif didalam sistem yang kompleks dapat dihindari.
OHaver (1979) menyatakan bahwa spektroskopi derivatif merupakan suatu
pengukuran spektrum yang berasal dari rata-rata perubahan absorbans dengan
panjang gelombang. Spektroskopi derivatif dirumuskan sebagai berikut.
D/dA = 1/1A - 2/2A
Dengan A adalah absorban dan adalah panjang gelombang (nm). Plot
hubungan antara dA/d terhadap nilai menghasilkan plot spektrum turunan orde
pertama, nilai plot spektrum turunan pertama digunakan untuk menentukan d2A//d2
yang apabila diplot terhadap maka akan menghasilkan plot spektrum turunan orde
kedua, dan seterusnya. Untuk turunan orde ke-n maka dibuat plot hubungan dnA/dn
terhadap .
Hal yang tidak diinginkan dalam spektrum turunan adalah penurunan nisbah
sinyal dan noise (S/N). Oleh karena itu, proses smoothing (penghalusan) spektrum
dengan menggunakan suatu filter diperlukan untuk meminimalkan noise tanpa
mengurangi informasi yang ada. Filter smoothing Savitzky-Golay merupakan filter
yang paling umum digunakan untuk menghilangkan noise. Namun proses
penghalusan spektrum yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan penyimpangan
spektrum dengan menurunkan intensitas dan pemisahan spektrum.
Analisis kuantitatif spektrum turunan sama halnya dengan spektrum UV
konvensional, didasarkan pada hokum Lambert-Beer yang dirumuskan sebagai
berikut.

Spektrum awal : A = b c
Turunan pertama : d/dA = d/d b c
Turunan ke-n : dn/dAn = dn/dn b c
Dengan A adalah absorbans, panjang gelombang, adalah absorptivitas
molar, c adalah konsentrasi, dan b adalah tebal sel. Pada spektrum awal konsentrasi
analit sebanding dengan absorbans pada panjang gelombang tertentu, sedangkan pada
spektrum turunan konsentrasi analit sebanding dengan amplitudo. Macam-macam
amplitudo dalam SDUV adalah DL (amplitudo puncak ke puncak yang panjang), DS
(amplitudo puncak ke puncak yang pendek), D Z (amplitudo dari garis nol ke puncak),
dan Dt (amplitudo tangen). Untuk membuat kurva kalibrasi, maka dipilih amplitudo
yang memberikan linearitas terbaik.
Pada spektrofotometri konvensional, spektrum serapan merupakan plot
serapan (A) terhadap panjang gelombang (). Pada metode spektrofotometri derivatif
ini perajahan absorbansi terhadap panjang gelombang ditransformasikan menjadi
peranjahan d/dA terhadap untuk derivatif pertama, dan d2A/d?2 terhadap ? untuk
derivatif kedua, dan seterusnya. Panjang gelombang serapan maksimum suatu
senyawa pada spektrum normal akan manjadi panjang gelombang zero-crossing pada
spektrum derivatif pertama. Panjang gelombang tersebut tidak mempunyai serapan
atau dA/d? = 0.
Spektra derivatif ini biasanya digambarkan oleh diferensiasi digital atau
dengan modulasi panjang gelombang dari radiasi yang mengenai sampel. Interval
modulasi panjang gelombang menjadi sangat berkurang dibanding dengan lebar pita
dari pita absorbsi apapun dalam spektrum. Penggunaan spektroskopi derivatif adalah
untuk menurunkan rasio pengganggu (noise). Metode yang mungkin untuk evaluasi
kuantitatif dari spektrum derivatif adalah metode zero-crossing, metode tangent, dan
metode peak to peak.
Spektrofotometri UV-Vis derivatif kedua dapat menampilkan dan memberikan
keuntungan dalam pengukuran untuk sediaan formulasi tablet yang terdiri dari zat
aktif dan zat tambahan. Pada sediaan farmasi yang terdiri dari zat campuran yaitu zat
4

aktif dan zat tambahan menghasilkan larutan yang keruh sehingga spektrofotometri
derivatif metode tangent dapat digunakan untuk larutan yang keruh seperti sediaan
tablet anti influenza.
Metode tangent dapat digunakan dengan mudah dalam aplikasi karena lebih
mudah, lebih sederhana, dan lebih cepat menganalisis suatu penelitian yang bersifat
ilmiah.
Spektro derivatif dapat dilakukan dengan menggunakan metode matematika.
Keuntungan dari metode matematika adalah spektra derivatif dapat lebih mudah
dihitung dan dihitung kembali dengan parameter yang berbeda yaitu dengan teknik
smoothing yang dapat digunakan untuk menghilangkan rasio serapan pengganggu
(signal-to-noise ratio).
Menurut Is Fatimah (2003) metode spektrofotometri merupakan salah satu
metode yang cukup sensitif untuk mendeteksi analit fenol dalam konsentrasi yang
rendah. Akan tetapi, metode spektrofotometri ini memiliki kelemahan pada
pendeteksian analit jika analit berada pada sampel air yang menggandung banyak ion
pengganggu. Interferensi ion dan senyawa pengganggu dalam sampel dapat
menyebabkan kesalahan deteksi sehingga serapan radiasi dapat berasal dari
pengganggu. Hal ini tentu akan menyebabkan kesalahan analisis, terutama untuk
analisis kuantitatif. Terlebih lagi dalam analisis fenol, sampel terlarut dalam aquadest
biasanya akan memberikan respon yang kurang bagus karena adanya pengaruh
matriks larutan.
Untuk meminimalkan kesalahan analisis dalam spektrofotometri, telah
dilakukan beberapa pengembangan metode, antara lain dengan penggunaan
spektrofotometri derivatif. Spektrofotometri derivatif didasarkan pada penurunan
fungsi spektra yang diperoleh dari satu analit dengan tujuan meminimalkan gangguan
penyerap spektra. Derivatisasi (penurunan) spektrum ini dapat digunakan untuk
meminimalisasi efek matriks dalam analit. Spektrofotometri derivatif merupakan
metode manipulatif terhadap spektra pada spektrofotometri ultraviolet dan cahaya
tampak.

Spektrofotometer

sangat

berhubungan

dengan

pengukuran

jauhnya

pengabsorbansian energi cahaya oleh suatu sistem kimia sebagai fungsi panjang
gelombang dengan absorban maksimum dari suatu unsur atau senyawa. Konsentrasi
unsur suatu senyawa dapat dihitung dengan menggunakan kurva standar yang diukur
pada panjang gelombang absorban tersebut, yaitu panjang gelombang yang diperoleh
dari hasil nilai absorbansi yang tertinggi. Spektrum absorban selain bergantung pada
sifat dasar kimia, juga bergantung pada faktor-faktor lain. Perubahan pelarut sering
menghasilkan pergeseran dari pita absorbansi. Larutan pembanding dalam
spektrofotometri pada umumnya adalah pelarut murni atau suatu larutan blanko yang
mengandung sedikit zat yang akan ditetapkan atau tidak sama sekali.
Monografi sampel
-

Sulfametoksazol
Rumus molekul :

Rumus strukur : C10H11N3O3S


BM : 253,28
Pemerian : serbuk hablur, putih sampai hampir putih, praktis tidak berbau.
Kelarutan : praktis tidak larut air, larut dalam 50 bagian etanol (95%) P; dalam
3 bagian aseton P; mudah larut dalam larutan natrium hidroksida.
Serapan ultraviolet : spektrum serapan ultraviolet larutan 0,001% b/v dalam
natrium hidroksida 0,1N menunjukan maksimum dan minimum pada pajang
gelombang yang sama dengan sulfametoksazol PK; perbedaan daya serap,
dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan, pada maksimum lebih kurang
257 nm, tidak lebih dari 2%.
(Farmakope Indonesia III, hal 586)
-

Trimetoprim
Rumus molekul :

Rumus struktur : C14H18N4O3


BM : 290,3
Pemerian : serbuk, putih, tidak berbau, rasa sangat pahit.
Kelarutan : sangat sukar larut dalam air, larut dalam 300 bagian etanol (95%)
P, dalam 55 bagian kloroform P, dan dalam 80 bagian methanol P, praktis
tidak larut dalam eter P.
Serapan ultraviolet : Spektrum serapan ultraviolet larutan 0,002% b/v dalam
natrium hidroksida 0,1N setebal 2 cm pada daerah panjang gelombang antara
230 nm dan 350 nm menunjukan maksimumnya hanya pada 287 nm. Serapan
pada 287 nm lebih kurang 0,98.
(Farmakope Indonesia III, hal 613)

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1. Alat
1.
2.
3.
4.
5.

Spektrofotometri UV-Visible
Labu takar 10 ml, 25 ml, 50 ml, 100 ml, 250 ml
Pipet volume 1ml, 2ml, 3ml, 5ml, 10ml, 20ml
Beaker glass
Pipet tetes

3.2. Bahan
1. Aquadest
2. Larutan NAOH 0,1 N

3. Tablet Sulfametoksazol Trimetoprim


4. Baku pemanding Sulfametoksazol Trimetoprim
3.3.

Prosedur Percobaan
1. Penentuan zero crossing sulfametoksazol dan pembuatan kurva kalibrasi
a. Ditimbang seksama 75,0 mg Baku Pembanding Sulfametoksazol,
dilarutkan dengan NAOH 0,1 N didalam labu takar 250 ml + NAOH 0,1
N ad tanda batas (larutan induk sulfametoksazol). Jika perlu untuk
melarutkan, larutan disonofikasi sampai larut.
b. Dibuat serangkaian larutan dengan kosentrasi 12, 24, 36, 48, 60 dan 72
ppm
c. Menggunakan salah satu seri larutan tentukan zero crossing
sulfametoksazol dengan membuat derivatif pertama.

zero crossing

sulfametoksazol yang diperoleh selanjutnya disebut sebagai 1.


d. Diukur serapan semua seri larutan sulfametoksazol pada 2 ( zero
crossing trimetoprim ), kemudian dibuat kurva kalibrasi dan tentukan
persamaan kurva kalibrasinya.
2. Penentuan zero crossing trimetoprim dan pembuatan kurva kalibrasi
a. Ditimbang seksama 75,0 mg Baku Pembanding Sulfametoksazol,
dilarutkan dengan NAOH 0,1 N didalam labu takar 250 ml + NAOH 0,1
N ad tanda batas (larutan induk trimetoprim). Jika perlu untuk melarutkan,
larutan disonofikasi sampai larut.
b. Dipipet 25 ml larutan induk, diencerkan dengan NaOH 0,1 N hingga 50
ml
c. Dibuat serangkaian larutan dengan kosentrasi 3,6,9,12,15,18 ppm
d. Menggunakan salah satu seri larutan tentukan zero crossing trimetoprim
dengan membuat derivatif pertama. zero crossing trimetoprim yang
diperoleh selanjutnya disebut sebagai 2.
e. Diukur serapan semua seri larutan sulfametoksazol pada 1 ( zero
crossing trimetoprim ), kemudian dibuat kurva kalibrasi dan tentukan
persamaan kurva kalibrasinya.

3. Penetapan kadar sulfametoksazol dalam tablet ( lakukan duplo )


a. Ditimbang seksama 20 tablet ,dihitung bobot rata-rata/tablet. Diserbukan
semua

tablet,

ditimbang

serbuk

yang

setara

dengan

75

mg

sulfametoksazol, kemudian dilarutkan dengan NaOH 0,1 N dalam labu


takar 250 ml + NaOH 0,1 N ad tanda batas. Larutan disonifikasi selama 15
menit.
b. Larutan disaring dengan kertas saring, kemudian dipipet 5 ml filtratnya
dan diencerkan ad 50 ml.
c. Diukur spectrum sulfametoksazol dan trimetoprim.
d. Diukur kadar sulfametosazol dalam sampel pada 2 ( zero crossing
trimetoprim ).
e. Dihitung % kadar sulfametoksazol dalam tablet.
4. Penetapan kadar trimetoprim dalam tablet ( lakukan duplo )
a. Ditimbang seksama 20 tablet ,dihitung bobot rata-rata/tablet. Diserbukan
semua tablet, ditimbang serbuk yang setara dengan 25 mg trimetoprim,
kemudian dilarutkan dengan NaOH 0,1 N dalam labu takar 250 ml +
NaOH 0,1 N ad tanda batas. Larutan disonifikasi selama 15 menit.
b. Larutan disaring dengan kertas saring, kemudian dipipet 5 ml filtratnya
dan diencerkan ad 50 ml.
c. Diukur kadar trimetoprim dalam sampel pada 1 ( zero crossing
sulfametoksazol).
d. Dihitung % kadar trimetoprim dalam tablet.

BAB IV
HASIL

4.1 Hasil Percobaan


4.1.1 Penentuan Kurva Kalibrasi Sulfametoxazol
maks = 255 nm

Pelarut

: NaOH 0.1 N

Tabel. 1 Serapan Larutan Baku Pembanding Sulfametoksazol


Konsentrasi

Absorbansi

(ppm)
12
24
36
48
60
72

(A)
-0,0908
-0,1819
-0,2785
-0,3701
-0,4574
-0,5488

Persamaan Regresi Linear y = -0,0076x 0,0004


R2 = 0,9998
4.1.2 Penentuan Kurva Kalibrasi Trimethoprim
maks =

287,4 nm

Pelarut : NaOH 0.1 N

Tabel. 2 Serapan Larutan Baku Pembanding Trimeptoprim

10

Konsentrasi

Absorbansi

(ppm)
(A)
3
-0,0148
6
-0,0278
9
-0,0427
12
-0,056
15
-0,0699
18
-0,0831
Persamaan Regresi Linear y = -0,0046x 0,0009
R2 = 0,9997

4.1.3 Lambda Maksimum Sulfametoxazol dan Trimethoprim


Tabel. 3 Panjang gelombang maksimum Sulfametoxazol dan Trimethoprim
Baku Pembanding
Pelarut
Sulfametoxazol
NaOH 0.1 N
Trimethoprim
NaOH 0.1 N
Sumber : Handbook of UV and IR Spectra

maks (nm)
255
288

4.1.4 Penetuan Kadar Sulfametoxazol dan Trimethoprim dalam Tablet


Cotrimoxazol
Bobot 20 tablet

= 11,7272 g

Bobot rata-rata per tablet

= 0.5864 g

Bobot Sulfametosaxol di etiket = 400 mg


Bobot Trimeptoprim di etiket

= 80 mg

Tabel. 4 Kadar Sulfametoxazol dan Trimethoprim


Sampel

Penimbangan Absorbansi
(mg)

(A)

11

Bobot per

%Kadar

tablet (mg)

(b/b)

Sulfametoxazol
Trimethoprim

109,9
183,2

- 0,2622
- 0,0496

459,5079
84,7181

114,8769 %
105,89%

BAB V
PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini

dilakukan penetapan kadar Sulfametoksazol dan

Trimethoprim dalam sampel tablet Cotrimoksazol dengan menggunakan metode


Spektrofotometri

Derivatif

UV-Visible,

12

dimana

pada

metode

ini

kadar

sulfametoksazol dan trimethoprim dapat ditentukan dengan membaca larutan sampel


pada panjang gelombang zero crossing. Kadar larutan campuran dua zat dapat
ditentukan dengan metode spektrofotometri tanpa harus dipisahkan lebih dahulu.
Metode spektrofotometri derivatif ini digunakan karena serapan maksimum dari
sulfametoksazol dan trimethoprim berada pada panjang gelombang yang berdekatan
yaitu pada rentang 200 300 nm. Spektrum yang tumpang tindih menyebabkan
kesulitan dalam penetapan kadar Trimethoprim karena terganggu oleh serapan
sulfametoksazol. Metode spektrofotometri derivatif dapat meningkatkan pemecahan
puncak serapan yang saling tumpang tindih tersebut sehingga trimethoprim dapat
ditetapkan kadarnya tanpa terganggu oleh serapan sulfametoksazol.
Sulfametoxazol dan trimethoprim dapat dianalisis dengan spektrofotometri UVVisible karena dilihat dari strukturnya kedua senyawa ini memiliki gugus kromofor
dan gugus auksokrom. Gugus kromofor tersebut diantaranya ikatan rangkap
terkonjugasi pada cincin benzen,ikatan C-H dan C-O pada CH 3O-, ikatan C=N , dan
gugus auksokrom yaitu NH2 dan CH3. Prinsip analisis senyawa kimia dengan
spektrofotometri UV-Visible adalah berdasarkan terbentuknya spektrum akibat hasil
absorpsi panjang gelombang cahaya UV-Visible oleh molekul yang mengalami
eksitasi dari keadaan dasar (ground state) ke keadaan eksitasi (exited state). Dari
spektrum tersebut diperoleh data absorbansinya dan maks. Berdasarkan Handbook UV
and IR Spectra Sulfametoxazol mempunyai maks = 255 nm dalam pelarut NaOH 0,1 N
dan Trimethoprim maks = 288 nm dalam pelarut NaOH 0,1 N.
Percobaan ini diawali dengan penentuan kurva kalibrasi sulfametoxazol dan
trimethoprim untuk memperoleh persamaan regresi linear keduanya. Panjang
gelombang yang digunakan untuk analisis ini terdapat pada rentang 200-300 nm
dimana kedua senyawa dapat dideteksi absorbansinya. Penentuan kurva kalibrasi ini
menggunakan baku pembanding dimana zat yang digunakan hanya mengandung
sulfametoxazol dan trimethoprim saja. Larutan baku pembanding dilarutkan dengan
pelarut NaOH 0,1 N dengan konsentrasi larutan induk masing-masing senyawa 300
ppm dan dilakukan pengenceran menjadi beberapa konsentrasi. Pelarut NaOH dipilih

13

karena kedua senyawa dapat larut dalam pelarut tersebut dan zat lainnya yang
merupakan zat tambahan (eksipien) dalam tablet tidak dapat larut. Sebelum
diencerkan dilakukan sonifikasi terlebih dahulu untuk mempercepat melarutnya analit
yang akan dianalisis. Salah satu syarat dalam analisis dengan spektrofotometri adalah
sampel yang akan dianalisis harus larut dalam pelarut yang digunakan. Tujuan
membuat kurva kalibrasi dengan rentang konsentrasi tertentu adalah agar serapan
sampel sulfametoxazol dan Trimethoprim yang dianalisis berada pada rentang
tersebut sehingga konsentrasinya dapat ditentukan melalui persamaan regresi linear.
Dari spektra larutan baku sulfametoksazol dan trimethoprim diturunkan
spektrum derivatif dari kurva normal sulfametoksazol dan trimethoprim. Ditentukan
derivat pertama untuk absorbansi sulfametoksazol dan trimethoprim. Kemudian
didapat derivat yang bernilai nol dari masing masing larutan baku. Pada
sulfametoksazol di dapat derivat nol pada panjang gelombang 287,4 nm dan pada
trimethoprim di dapat derivat nol pada panjang gelombang 256,4 nm. Hasil
percobaan diperoleh nilai zero
panjang gelombang tersebut

crossing

sulfametoxazol yaitu 287,4 nm dimana pada

sulfametoxazol tidak terdeteksi absorbansinya

sedangkan trimethoprim terdeteksi sehingga dapat ditentukan kadarnya. Sementara


zero

crossing

trimethoprim yaitu 256,4 nm dimana pada panjang gelombang tersebut

trimethoprim tidak terdeteksi absorbansinya dan sulfametoxazol terdeteksi. Larutan


baku Sulfametoxazol diukur serapannya pada panjang gelombang 287,4 nm dan
trimethoprim pada panjang gelombang 256,4 nm. Kemudian diperoleh persamaan
regresi linear sulfametoxazol

y = -0,0076x 0,0009 dengan r 0,9998 dan

Trimethoprim y = -0,0046x 0,0009 dengan r 0,9997.


Pada penentuan kadar sampel, pengujian dilakukan terhadap 20 tablet
cotrimoxazol yang kemudian diserbukkan. Penimbangan serbuk untuk analisis
sulfametoxazol 75 mg setara dengan 109,9 mg dan trimethoprim 25 mg setara dengan
183,2 mg. Pelarut yang digunakan NaOH 0,1 N. Larutan sampel terlebih dahulu
disonifikasi selama 15 menit yang bertujuan untuk mempercepat melarutnay
sulfametoxazol dan trimethoprim dalam NaOH. Karena zat tambahan dalam tablet

14

tidak dapat larut dengan NaOH maka dilakukan penyaringan sebelum dianalisis
dengan instrumen.
Pengukuran serapan dilakukan pada panjang gelombang zero crossing
masing-masing senyawa dan diperoleh absorbansi untuk sulfametoxazol sampel 1 A =
- 0,2622 dan sampel 2 A = - 0,2144. Sedangkan trimethoprim sampel 1 A = - 0,0496
dan A = - 0,0610.

Berdasarkan data tersebut nilai absorbansi kedua sampel

sulfametoxazol dan trimethoprim berbeda . Perbedaan ini terjadi karena pengukuran


serapan sampel dilakukan pada zero crossing bukan pada maks sehingga sensitifitasnya
rendah meskipun dilakukan oleh praktikan dan prosedur yang sama. Maka dari itu,
dipilih data sampel 1 untuk masing-masing senyawa, dengan alasan sampel
sulfametoxazol yang akan dianalisis memiliki konsentrasi 30 ppm , setelah
serapannya dibandingkan dengan data serapan kurva kalibrasi baku pembandingnya
diperoleh hasil serapan sampel 1 yang bernilai -0,2622 berdekatan dengan nilai
serapan baku pembanding pada konsentrasi 36 ppm yaitu -0,2785. Sedangkan pada
Trimethoprim sampel yang dianalisis memiliki konsentrasi 10 ppm dan setelah
dibandingkan dengan baku pembandingnya serapan sampel 1 yaitu -0.0496 memiliki
kedekatan dengan serapan baku pembanding pada konsentrasi 9 ppm yaitu -0,0427.
Setelah melalui proses perhitungan , diperoleh %kadar sulfametoxazol
114,8769 % dan %kadar trimethoprim 105,8976%. Nilai %kadar sulfametoxazol
tidak memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia Edisi III Halaman 586 yaitu
sebesar 114,8769%. Sedangkan %kadar trimethoprim memenuhi persyaratan
Farmakope Indonesia Edisi III Halaman 586 dengan nilai 105,8976%. Dalam
persyaratan Farmakope Edisi III menyatakan tablet cotrimoxazol mengandung
sulfametoxazol dan trimethoprim masing-masing tidak kurang dari 92,5 % dan tidak
lebih dari 107,5% dari jumlah yang tertera pada etiket

15

BAB VI
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan , dapat disimpulkan :

16

1. Spektrofotometri Derivatif UV-Visible adalah metode analisis untuk sampel


multikomponen yang nilai panjang gelombang maksimalnya tumpang tindih
(overlapping) atau berdekatan sehingga pengukuran dilakukan pada zero crossing
dimana pada panjang gelombang tersebut serapan salah satu analit dapat
dideteksi sementara analit yang lainnya tidak terdeteksi.
2. %Kadar Sulfametoxazol tidak memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia
Edisi 3 halaman 586 dengan nilai 114,8769%.
3. %Kadar Trimethoprim memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia Edisi 3
halaman 586 dengan nilai 105,8976%.

17