Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lansia adalah periode dimana organisme telah mencapai kemasakan dalam ukuran
dan fungsi dan juga telah menunjukkan kemunduran sejalan dengan waktu. Ada beberapa
pendapat mengenai usia kemunduran yaitu ada yang menetapkan 60 tahun, 65 tahun dan 70
tahun. Badan kesehatan dunia (WHO) menetapkan 65 tahun sebagai usia yang menunjukkan
proses menua yang berlangsung secara nyata dan seseorang telah disebut lanjut usia. Dari 19
juta jiwa penduduk Indonesia 8,5% mengalami stroke yaitu lansia.
Stroke adalah suatu penyakit gangguan fungsi anatomi otak yang terjadi secara tibatiba dan cepat, disebabkan karena gangguan perdarahan otak. Insiden stroke meningkat
secara eksponensial dengan bertambahnya usia dan 1,25 kali lebih besar pada pria dibanding
wanita.
Kecenderungan pola penyakit neurologi terutama gangguan susunan saraf pusat
tampaknya mengalami peningkatan penyakit akibat gangguan pembuluh darah otak, akibat
kecelakaan serta karena proses degenerative system saraf tampaknya sedang merambah naik
di Indonesia. Walaupun belum didapat data secara konkrit mengenai hal ini.
Faktor penyebab munculnya masalah ini adalah adanya perkembangan ekonomi dan
perubahan gaya hidup terutama msayarakat perkotaan. Kemampuan masyarakat untuk
memenuhi kebutuhan hidup terlihat semakin mudah sehingga meningkatkan hasrat mereka
untuk terus berjuang mencapai tujuan dengan penuh persaingan dalam perjuangan tersebut,
benturan-benturan fisik maupun psikologis tidak pernah dipikirkan efek bagi kesehatan
jangka panjang. Usia harapan hidup di Indonesia kian meningkat sehingga semakin banyak
terdapat lansia. Dengan bertambahnya usia maka permasalahan kesehatan yang terjadi akan
semakin kompleks. Salah satu penyakit yang sering dialami oleh lansia adalah stroke. Usia
merupakan factor resiko yang paling penting bagi semua jenis stroke.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami dan membuat Asuhan Keperawatan Lansia dengan
Stroke dan mengetahui konsep dasar medis stroke.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat melakukan pengkajian pada klien lansia dengan stroke
b. Mahasiswa dapat menegakkan diagnosa keperawatan yang muncul pada
klien lansia dengan stroke
c. Mahasiswa mengetahui intervensi keperawatan berdasarkan diagnosa keperawatan
yang didapat pada klien lansia dengan stroke
d. Mahasiswa dapat melakukan implementasi keperawatan pada klien lansia dengan
stroke
e. Mahasiawa mengetahui evaluasi pada pasien lansia dengan stroke

BAB II
KONSEP TEORI
ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN GANGGUAN
NEUROLOGIS STROKE
A. PENGERTIAN STROKE
Stroke atau Cerebro Vasculer Accident (CVA) adalah kehilangan fungsi otak yang
diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak ( Brunner dan Suddarth, 2002 : hal.
2131 ).
Stroke adalah deficit neurologis akut yang disebabkan oleh gangguan aliran darah yang
timbul secara mendadak dengan tanda dan gejala sesuai dengan daerah fokal otak yang
terkena (WHO, 1989).
Stroke atau cedera serebrovaskuler attack ( CVA) adalah kehilangan fungsi otak yang
diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak (Brunner and Suddarth, 2001).
Stroke adalah sindrom klinis yang awal timbulnya mendadak yang berlangsung 24 jam atau
lebih atau menimbulkan kematian dan semata-mata disebabkan oleh gangguan peredaran
darah otak non traumatik (Mansjoer, 2000)
B. KLASIFIKASI STROKE
Berdasarkan proses patologi dan gejala klinisnya stroke dapat diklasifikasikan menjadi :
1.

Stroke Hemoragik
Terjadi perdarahan cerebral dan mungkin juga perdarahan subarachnoid yang

disebabkan pecahnya pembuluh darah otak. Umumnya terjadi pada saat melakukan
aktifitas, namun juga dapat terjadi pada saat istirahat. Kesadaran umumnya menurun dan
penyebab yang paling banyak adalah akibat hipertensi yang tidak terkontrol.
Dua jenis stroke hemoragik :
Perdarahan intraserebral. Perdarahan intraserebral adalah perdarahan di dalam otak
yang disebabkan oleh trauma (cedera otak) atau kelainan pembuluh darah (aneurisma atau
angioma). Jika tidak disebabkan oleh salah satu kondisi tersebut, paling sering disebabkan
oleh tekanan darah tinggi kronis. Perdarahan intraserebral menyumbang sekitar 10% dari
semua stroke, tetapi memiliki persentase tertinggi penyebab kematian akibat stroke.
Perdarahan subarachnoid. Perdarahan subarachnoid adalah perdarahan dalam ruang
subarachnoid, ruang di antara lapisan dalam (Pia mater) dan lapisan tengah (arachnoid
3

mater) dari jaringan selaput otak (meninges). Penyebab paling umum adalah pecahnya
tonjolan (aneurisma) dalam arteri. Perdarahan subarachnoid adalah kedaruratan medis
serius yang dapat menyebabkan cacat permanen atau kematian. Stroke ini juga satusatunya jenis stroke yang lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pada pria.
2.

Stroke Non Hemoragik


Dapat berupa iskemia, emboli, spasme ataupun thrombus pembuluh darah otak,

umumnya terjadi setelah beristirahat cukup lama atau bangun tidur. Tidak terjadi
perdarahan, kesadaran umumnya baik dan terjadi proses edema otak oleh karena hipoksia
jaringan otak. Stroke non hemoragik dapat juga diklasifikasikan berdasarkan perjalanan
penyakitnya, yaitu :

TIA (Trans Ischemic Attack)


Gangguan neurologist yang timbul mendadak dan hilang dalam beberapa menit
(durasi rata-rata 10 menit) atau beberapa jam saja, dan gejala akan hilang sempurna
dalam waktu kurang dari 24 jam.

Rind (Reversible Ischemic Neurologis Defict)


Gangguan neurologist setempat yang akan hilang secara sempurna dalam waktu 1
minggu dan maksimal 3 minggu.

Stroke in Volution atau Progresif


Stroke yang terjadi masih terus berkembang dimana gangguan yang muncul semakin
berat dan bertambah buruk. Proses ini biasanya berjalan dalam beberapa jam atau
beberapa hari.

Stroke Complete
Gangguan neurologist yang timbul bersifat menetap atau permanent, maksimal sejak
awal serangan dan sedikit memperlihatkan parbaikan dapat didahului dengan TIA
yang berulang.

C. ETIOLOGI
1) Trombosis (penyakit trombo oklusif)
Merupakan penyebab stroke yang paling sering. Arteriosclerosis selebral dan
perlambatan sirkulasi serebral adalah penyebab utama trombosis selebral, yang
merupakan penyebab umum dari stroke. Tanda-tanda trombosis selebral bervariasi. Sakit
kepala adalah awitan yang tidak umum. Beberapa pasien mengalami pusing, perubahan
kognitif atau kejang dan beberapa awitan umum lainnya. Secara umum trombosis
selebral tidak terjadi secara tiba-tiba, dan kehilangan bicara sementara, hemiplegia atau
parestesia pada setengah tubuh dapat mendahului awitan paralysis berat pada beberapa
jam atau hari.
Trombosis terjadi biasanya ada kaitannya dengan kerusakan local dinding pembuluh
darah akibat atrosklerosis. Proses aterosklerosis ditandai oleh plak berlemak pada pada
lapisan intima arteria besar. Bagian intima arteria sereberi menjadi tipis dan berserabut,
sedangkan sel sel ototnya menghilang. Lamina elastika interna robek dan berjumbai,
sehingga lumen pembuluh sebagian terisi oleh materi sklerotik tersebut. Plak cenderung
terbentuk pada percabangan atau tempat tempat yang melengkung. Trombi juga
dikaitkan dengan tempat tempat khusus tersebut. Pembuluh pembuluh darah yang
mempunyai resiko dalam urutan yang makin jarang adalah sebagai berikut : arteria
karotis interna, vertebralis bagian atas dan basilaris bawah. Hilangnya intima akan
membuat jaringan ikat terpapar. Trombosit menempel pada permukaan yang terbuka
sehingga permukaan dinding pembuluh darah menjadi kasar. Trombosit akan
melepasakan enzim, adenosin difosfat yang mengawali mekanisme koagulasi. Sumbat
fibrinotrombosit dapat terlepas dan membentuk emboli, atau dapat tetap tinggal di tempat
dan akhirnya seluruh arteria itu akan tersumbat dengan sempurna.
2) Embolisme serebral
Embolisme serebral (bekuan darah atau material lain yang dibawa ke otak dari bagian
tubuh yang lain). Abnormalitas patologik pada jantung kiri, seperti endocarditis infektif,
penyakit jantung reumatik, dan infark miokard, serta infeksi pulmonal, adalah tempattempat asal emboli. Embolus biasanya menyumbat arteriserebral tengah, atau cabangcabangnya yang merusak sirkulasi serebral.
Embolisme sereberal termasuk urutan kedua dari berbagai penyebab utama stroke.
Penderita embolisme biasanya lebih muda dibanding dengan penderita trombosis.
Kebanyakan emboli sereberi berasal dari suatu trombus dalam jantung, sehingga masalah
yang dihadapi sebenarnya adalah perwujudan dari penyakit jantung. Meskipun lebih
5

jarang terjadi, embolus juga mungkin berasal dari plak ateromatosa sinus karotikus atau
arteria karotis interna. Setiap bagian otak dapat mengalami embolisme, tetapi embolus
biasanya embolus akan menyumbat bagian bagian yang sempit. tempat yang paling
sering terserang embolus sereberi adalah arteria sereberi media, terutama bagian atas.
3) Iskemia serebral
Iskemia serebral (insufisiensi suplai darah ke otak) terutama karena konstriksi atheroma
pada arteri yang menyuplai darah ke otak.
4) Perdarahan serebral.
Perdarahan serebri termasuk urutan ketiga dari semua penyebab utama kasus GPDO
(Gangguan Pembuluh Darah Otak) dan merupakan sepersepuluh dari semua kasus
penyakit ini. Perdarahan intrakranial biasanya disebabkan oleh ruptura arteri serebri.
Ekstravasasi darah terjadi di daerah otak dan /atau subaraknoid, sehingga jaringan yang
terletak di dekatnya akan tergeser dan tertekan. Darah ini sangat mengiritasi jaringan
otak, sehingga mengakibatkan vasospasme pada arteria di sekitar perdarahan. Spasme ini
dapat menyebar ke seluruh hemisper otak dan sirkulus wilisi. Bekuan darah yang semula
lunak menyerupai selai merah akhirnya akan larut dan mengecil. Dipandang dari sudut
histologis otak yang terletak di sekitar tempat bekuan dapat membengkak dan mengalami
nekrosis. Karena kerja enzimenzim akan terjadi proses pencairan, sehingga terbentuk
suatu rongga. Sesudah beberapa bulan semua jaringan nekrotik akan terganti oleh astrosit
dan kapilerkapiler baru sehingga terbentuk jalinan di sekitar rongga tadi. Akhirnya
rongga terisi oleh serabutserabut astroglia yang mengalami proliferasi. Perdarahan
subaraknoid sering dikaitkan dengan pecahnya suatu aneurisme. Kebanyakan aneurisme
mengenai sirkulus wilisi. Hipertensi atau gangguan perdarahan mempermudah
kemungkinan ruptur. Sering terdapat lebih dari satu aneurisme.
Perdarahan serebral termasuk urutan ketiga dari semua penyebab utama kasus gangguan
pembuluh darah otak. Perdarahan serebral dapat terjadi di luar duramater (hemoragi
ekstradural atau epidural), dibawah duramater, (hemoragik subdural), diruang
subarachnoid (hemoragi subarachnoid) atau di dalam substansi otak (hemoragi
intraserebral).
1.

Hemoragi ekstradural (epidural) adalah kedaruratan bedah neuro yang


memerlukan perawatan segera. Ini biasanya mengikuti fraktur tengkorak dengan
robekan arteri dengan arteri meningea lain.

2.

Hemoragi subdural (termasuk hemoragi subdural akut) pada dasarnya sama


dengan hemoragi epidural, kecuali bahwa hematoma subdural biasanya
6

jembatan vena robek. Karenanya, periode pembentukan hematoma lebih lama


( intervensi jelas lebih lama) dan menyebabkan tekanan pada otak. Beberapa
pasien mungkin mengalami hemoragi subdural kronik tanpa menunjukkan tanda
dan gejala.
3.

Hemoragi subarachnoid dapat terjadi sebagai akibat trauma atau hipertensi,


tetapi penyebab paling sering adalah kebocoran aneurisma pada area sirkulus
wilisi dan malformasi arteri-vena kongenital pada otak. Arteri di dalam otak
dapat menjadi tempat aneurisma.

4.

Hemoragi intraserebral paling umum pada pasien dengan hipertensi dan


aterosklerosis serebral, karena perubahan degeneratif penyakit ini biasanya
menyebabkan ruptur pembuluh darah. Pada orang yang lebih muda dari 40
tahun, hemoragi intraserebral biasanya disebabkan oleh malformasi arteri-vena,
hemangioblastoma dan trauma, juga disebabkan oleh tipe patologi arteri
tertentu, adanya tumor otak dan penggunaan medikasi (antikoagulan oral,
amfetamin dan berbagai obat aditif).
Perdarahan biasanya arterial dan terjadi terutama sekitar basal ganglia. Biasanya
awitan tiba-tiba dengan sakit kepala berat. Bila hemoragi membesar, makin jelas
defisit neurologik yang terjadi dalam bentuk penurunan kesadaran dan
abnormalitas pada tanda vital. Pasien dengan perdarahan luas dan hemoragi
mengalami penurunan kesadaran dan abnormalitas pada tanda vital.

D. PATOFISIOLOGI
1.

Stroke Non Hemoragik


Iskemia disebabkan oleh adanya penyumbatan aliran darah otak oleh thrombus atau

embolus. Trombus umumnya terjadi karena berkembangnya aterosklerosis pada dinding


pembuluh darah, sehingga arteri menjadi tersumbat, aliran darah ke area thrombus
menjadi berkurang, menyebabkan iskemia kemudian menjadi kompleks iskemia
akhirnya terjadi infark pada jaringan otak. Emboli disebabkan oleh embolus yang
berjalan menuju arteri serebral melalui arteri karotis. Terjadinya blok pada arteri tersebut
menyebabkan iskemia yang tiba-tiba berkembang cepat dan terjadi gangguan neurologist
fokal. Perdarahan otak dapat disebabkan oleh pecahnya dinding pembuluh darah oleh
emboli.

2.

Stroke Hemoragik.
Pembuluh darah otak yang pecah menyebabkan darah mengalir ke substansi atau

ruangan subarachnoid yang menimbulkan perubahan komponen intracranial yang


seharusnya konstan. Adanya perubahan komponen intracranial yang tidak dapat
dikompensasi tubuh akan menimbulkan peningkatan TIK yang bila berlanjut akan
menyebabkan herniasi otak sehingga timbul kematian. Di samping itu, darah yang
mengalir ke substansi otak atau ruang subarachnoid dapat menyebabkan edema, spasme
pembuluh darah otak dan penekanan pada daerah tersebut menimbulkan aliran darah
berkurang atau tidak ada sehingga terjadi nekrosis jaringan otak.
E. FAKTOR RESIKO
Ada beberapa factor risiko stroke yang sering teridentifikasi, yaitu ;
1.

Hipertensi,
Dapat disebabkan oleh aterosklerosis atau sebaliknya. Proses ini dapat
menimbulkan pecahnya pembuluh darah atau timbulnya thrombus sehingga dapat
mengganggu aliran darah cerebral.

2.

Aneurisma pembuluh darah cerebral


Adanya kelainan pembuluh darah yakni berupa penebalan pada satu tempat
yang diikuti oleh penipisan di tempat lain. Pada daerah penipisan dengan maneuver
tertentu dapat menimbulkan perdarahan.

3.

Kelainan jantung / penyakit jantung


Paling banyak dijumpai pada pasien post MCI, atrial fibrilasi dan endokarditis.
Kerusakan kerja jantung akan menurunkan kardiak output dan menurunkan aliran
darah ke otak. Ddisamping itu dapat terjadi proses embolisasi yang bersumber pada
kelainan jantung dan pembuluh darah.

4.

Diabetes mellitus (DM)


Penderita DM berpotensi mengalami stroke karena 2 alasan, yeitu terjadinya
peningkatan viskositas darah sehingga memperlambat aliran darah khususnya
serebral dan adanya kelainan microvaskuler sehingga berdampak juga terhadap
kelainan yang terjadi pada pembuluh darah serebral.

5.

Usia lanjut
Pada usia lanjut terjadi proses kalsifikasi pembuluh darah, termasuk pembuluh
darah otak.

6.

Polocitemia
Pada policitemia viskositas darah meningkat dan aliran darah menjadi lambat
sehingga perfusi otak menurun.

7.

Peningkatan kolesterol (lipid total)


Kolesterol tubuh yang tinggi dapat menyebabkan aterosklerosis dan
terbentuknya embolus dari lemak.

8. Obesitas
Pada obesitas dapat terjadi hipertensi dan peningkatan kadar kolesterol
sehingga dapat mengakibatkan gangguan pada pembuluh darah, salah satunya
pembuluh drah otak.
9. Perokok
Pada perokok akan timbul plaque pada pembuluh darah oleh nikotin sehingga
terjadi aterosklerosis.
10. kurang aktivitas fisik
Kurang aktivitas fisik dapat juga mengurangi kelenturan fisik termasuk
kelenturan pembuluh darah (embuluh darah menjadi kaku), salah satunya
pembuluh darah otak.
F. MANIFESTASI KLINIS
1.

Hemiplegia : akibat kerusakan pada area motorik pada bagian konteks atau pada
traktus piramidal. Perdarahan atau bekuan darah pada otak kanan akan meyebabkan
tubuh pada sisi kiri akan mengalami hemiplegia. Hal ini disebabkan oleh karena
serabut saraf bersilang pada traktus piramidal dari otak menuju ke sumsum tulang
belakang, demikian juga pada area kortikal yang lain yang dapat menyebabkan
menianesthesia, apraxia, agnosia, aphasia.Otot-otot thoraks dan abdomen biasanya
tidak mengalami paralisis sebab dihubungkan kedua hemisper otak. Apabila otot
voluntary mengalami gangguan maka tidak terjadi keseimbangan antara otot rangka
fleksi dan ekstensi sehingga menyebabkan terjadinya deformitas yang serius.

2.

Aphasia ; kerusakan dalam mempergunakan atau menginterpretasikan simbol-simbol


dasn bahasa. Hal ini disebabkan oleh adanya gangguan pada korteks serebral.
Gangguan pada semua aspek berbahasa seperti bercakap, membaca, menulis dan
memahami bahasa yangdiucapkan. Dikenal dua macam aphasia , yaitu aphasia
sensorik yang berhubungan dengan pemahaman bahasa, dan aphasia motorik yang
berhubungan dengan produk bercakap-cakap. Aphasia sensorik termasuk kehilangan
9

kemampuan pemahaman menulis, menciptakan atau mengucapkan kata-kata,


misalnya klien tidak dapat memahami apa yang dibicarakan. Mendengar bunyi,
tetapi tidak mengetahui komunikasi simbolik yang berhubungan dengan suara.
Aphasia motorik, dimana klien dapat memahami kata-kata, tetapi tidak dapat
menguraikan dengan kata-kata.Aphasia disebabkan oleh adanya lesi patologis yang
berhubungan dengan lokasi tertentu pada korteks. Penyebab utamanya adalah
gangguan suplai darah ke otak terutama yang berhubungan dengan pembuluh darah.
Middle cerebral artery.
3.

Apraxia : Kondisi dimana klien dapat bergerak pada bagian tubuh yang mengalami
gangguan tetapi tidak berfungsi dengan baik, misalnya berjalan, berbicara,
berpakaian, dimana bagian yang mengalami paralisis tidak dapat dikoordinasikan.
Visual Change : Adanya lesi pada lobus parietal dan temporal sebagai akibat
perdarahan intraserebral karena terjadinya ruptur dari arterisclerosis atau hipertsnsi
pembuluh darah. Lesi pada bagian otak akan meyebabkan kerusakan bagian yang
berlawanan

pada

penglihatan.

Penurunan

kemampuan

penglihatan

sering

berhubungan dengan hemiplegia.


Agnosia : Gangguan menginterpretasikan objek, misalnya penglihatan, taktil, atau
informasi sensorik lainnya. Klien tidak dapat mengenal objek. Agnosia bisa visual,
pendengaran, atau taktil tetapi tidak sama dengan kebutaan, tuli atau kehilangan
rasa. Kehilangan sensasi misalnya tidak sadar pada posisi lengan, tidak merasakan
adanya bagian tubuh tertentu. Klien dengan agnosia penglihatan, dia melihat objek
tetapi tidak mengenal atau atau tidak dapat memberi arti pada objek.
4.

Dysarthria : Artikulasi yang tidak sempurna yang menyebabkan kesulitan berbicara.


Klien mengenal bahasa tetapi kesulitan mengucapkan kata-kata. Tidak ada gangguan
dalam tata bahasa atau ungkapan atau konstruksi kata. Klien dapat berkomunikasi
secara verbal walaupun mengalami angguan, membaca atau menulis. Kondisi ini
disebabkan akibat disfungsi saraf kranial menyebabkan kelemahan atau paralisis otot
sekitar bibir, lidah dan larynx.

5.

Kinesthesia : gangguan sensasi yang terjadi pada satu sisi tubuh, berupa :
1.

Hemianesthesia : Kehilangan asensasi.

2.

Paresthesia: Kehilangan sensasi pada otot sendi.

3.

Inkontinen : Inkontinen urin dan defekasi dapat terjadi, sebagai akibat :


1.

kurangnya perhatian.

2.

kehilangan memori
10

3.

faktor emosi.

4.

tidak mampu berkomunikasi.

4.

Nyeri pada bahu : Terjadi sebagai akibat hambatan mobilitas serta

overstreching otot bahu, serta gerakan yang tidak tepat serta kehilangan ROM
(range of motion).
5.

Horners Syndrome : paralisis saraf simpatis pada bagian mata

menyebabkan tenggelamnya bola mata sebagai akibat ptosis kelopak mata atas
dan peningkatan kelopak mata bawah, konstriksi pupil, dan berkurangnya air
mata.
6.

Gangguan emosional ; setelah menderita stroke mengakibatkan emosi klien labil,


kebingungan, gangguan memori dan frustrasi : social withdrawal terutama aphasia,
gangguan perilaku seksual, regresi, dan marah.
Secara umum manifestasi klinik dapat dijelaskan sebagai
1)

Gangguan fungsi neuromotorik : Penurunan fungsi motorik sangat sering


dijumpai pada pasien stroke. Masalah yang berhubungan dengan fungsi
neruromotorik yaitu mobilitas, fungsi pernafasan, fungsi menelan dan bicara,
refleks muntah dan kemampuan rawat diri. Terjadinya hal tersebut sebagai
akibat adanya kerusakan saraf motorik pada jalur pramidal ( serabut saraf dari
otak dan melalui sumsum tulang belakang menuju ke sel motorik).
Karakteristik penurunan motorik termasuk kehilangan kemampuan gerakan
voluntary (akinesia), hambatan integrasi gerakan, gangguan tonus otot, dan
gangguan refleks.Oleh karena jalur paramidal bersilang pada tingkat medulla,
sehingga bioa lesi terjadi pada salah satu sisi pada otak akan mempengaruhi
fungsi motorik pada sisi berlawanan (contralateral). Lengan dan tungkai akan
mengalami kelemahan. Apabila gangguan pada middle cerebral artery, maka
kelemahan pada ekstremitas atas lebih keras daripada ekstremitas bawah.

2) Gangguan komunikasi : Hemisfer kiri lebih dominan untuk keterampilan


berbahasa. Gangguan berbahasa termasuk kemampuan mengekspresikan dan
pemahaman tulisan dan mengucapkan kata-kata. Pasien dapat mengalami
aphasia (kehilangan secara total kemampuan pemahaman dan penggunaan
berbahasa). Dysphasia diartikanadanya
kemampuan

pemahaman

dan

disfungsi sehubungan dengan

penggunaan

bahasa.

Dysphasia

dapat

diklasifikasikan berupa Nonfluent ( berkurangnya aktifitas berbicara dengan


bicara yang lambat) atau fluent (bisa berbicara, tetapi hanya mengadung
11

sedikit makna komunikasi). Pada stroke yang hebat akan menyebabkan


terjadinya global aphasia, dimana semua fungsi komunikasi dan penerimaan
menjadi hilang. Stroke pada area Wernicke pada otak akan menunjukkan
gejala aphasia receptive dimana tidak terdengar suara atau sukar dimengerti.
Kerusakan area wernicke akan menyebabkan hambatan pemahaman baik
dalam berbicara maupun bahasa tulisan. Stroke yang berhubungan dengan area
Broca pada otak akan menyebabkan expressive phasia (kesulitan dalam
berbicara dan menulis). Banyak juga stroke menyebabkan dyssarthria yaitu
gangguan/hambatan pada otot bicara. Pasien mengalami hambatan dalam
mengucapan, artikulasi, dan bunyi suara. Kadang-kadang ada pasien
mengalami keduanya yaitu aphasia dan dysarthria.
3)

Emosi/perasaan : Pasien yang mengalami stroke mungkin tidak dapat


mengontrol perasaannya. Hal ini mungkin terjadi sebagai akibat adanya
perubahan dalam citra tubuh dan kehilangan fungsi motorik. Pasien akan
mengalami depresi dan frustrasi sehubungan dengan masalah mobilitas dan
dan komunikasi. Misalnya pada saat waktu makan pasien menangis karena
mengalami kesulitan memasukkan makanan kedalam mulutnya, kehilangan
kemampuan mengunyah dan menelan.

4)

Gangguan fungsi intelektual : Daya ingat dan kemampuan pengambilan


keputusan dapat mengalami gangguan sebagai akibat stroke. Stroke pada otak
kiri menyebabkan masalah gangguan ingatan sehubungan dengan berbahasa.
Pasien dengan stroke pada otak kanan sangat sulit dalam daya ingat dan
kemampuan pengambilan keputusan., milsanya pada saat pasien berdiri dari
kursi roda tanpa mengunci kursi rodanya sehingga dapat berbahaya bagi
dirinya.

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIC
Pemeriksaan penunjang diagnostik yang dapat dilakukan adalah :
1.

Laboratorium: mengarah pada pemeriksaan darah lengkap, elektrolit, kolesterol, dan


bila perlu analisa gas darah, gula darah dsb.

2.

Sinar X tengkorak untuk menggambarkan perubahan kelenjar korpengpineal daerah


yang berlawanan dari masa yang luas.

3.

Ultrasonografi doppler untuk mengidentifikasi penyakit arteriovena (masalah sistem


arteri karotis aliran darah dan atau muncul plak) atau arteriosklerotik.
12

4.

EEG (Electroencephalography) untuk mengidentifikasi masalah didasarkan pada


gelombang otak dan mungkin memperlihatkan darah lesi yang spesifik.

5.

CT scan kepala untuk mengetahui lokasi dan luasnya perdarahan atau infark.

6.

MRI (Magnetic Resonance Imaging) untuk mengetahui adanya edema, infark,


hematom dan bergesernya struktur otak

7.

Angiografi untuk mengetahui penyebab dan gambaran yang jelas mengenai


pembuluh darah yang terganggu secara spesifik.

H. PENCEGAHAN
Pencegahan utama untuk menghindari risiko adalah pendidikan kesehatan masyarakat.
Mempertahankan berat badan dan kolesterol dalam batas normal, dan menghindari
merokok atau tidak menggunakan oral kontrasepsi. Pengobatan/mengontrol diabetes,
hipertensi dan penyakit jantung. Memberikan informasi kepada klien sehubungan dengan
penyakit yang diderita dengan stroke. Apabila sudah terserang stroke, dalam situasi ini
tujuan adalah mencegah terjadinya komplikasi sehubungan dengan stroke dan infark
yang lebih luas pada masa yang akan datang. Apabila terjadi immobilitas akan
meningkatkan risiko injury sehubungan dengan paralisis dan aspirasi pada jalan nafas.
Pencegahan lebih lanjut yaitu memonitoring faktor risiko yang dapat diidentifikasi.
I.

KOMPLIKASI
Menurut Smeltzer (2001), komplikasi yang terjadi pada pasien stroke yaitu :
1)

Hipoksia serebral
Diminimalkan dengan memberikan oksigenasi darah adekuat ke otak. Fungsi otak
tergantung pada ketersediaan O2 yang dikirimkan ke jaringan. Pemberian O2
suplemen dan mempertahankan hemoglobin dan hematokrit pada tingkat dapat
diterima akan membantu dalam mempertahankan hemoglobin dan hematrokit pada
tingkat dapat diterima akan membantu dalam mempertahankan oksigenasi jaringan
adekuat.

2)

Aliran darah serebral


Bergantung pada tekanan darah, curah jantung, dan intregitas pembuluh darah
serebral. Hidrasi adekuat ( cairan intravena) harus menjamin penurunan vikosis
darah dan memperbaiki aliran darah serebral dan potensi meluasnya area cedera.

13

3)

Embolisme serebral
Dapat terjadi setelah infark miokard / fibrilasi atrium / dapat berasal dari katup
jantung protestik. Embolisme akan menurunkan aliran darah ke otak dan selanjutnya
menurunkan aliran darah serebral. Disritmia dapat mengakibtakan curah jantung
tidak konsisten dan penghentian trombul lokal. Selain itu disritmia dapat
menyebabkan embolus serebral dan harus diperbaiki.

J.

PENATALAKSANAAN
Secara umum, penatalaksanaan pada pasien stroke adalah :
1.

Posisi kepala dan badan atas 20-30 derajat, posisi miring jika muntah dan boleh
dimulai mobilisasi bertahap jika hemodinamika stabil.

2.

Bebaskan jalan nafas dan pertahankan ventilasi yang adekuat, bila perlu
diberikan ogsigen sesuai kebutuhan

3.

Tanda-tanda vital diusahakan stabil

4.

Bed rest

5.

Koreksi adanya hiperglikemia atau hipoglikemia

6.

Pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit

7.

Kandung kemih yang penuh dikosongkan, bila perlu lakukan kateterisasi

8.

Pemberian cairan intravena berupa kristaloid atau koloid dan hindari penggunaan
glukosa murni atau cairan hipotonik

9.

Hindari kenaikan suhu, batuk, konstipasi, atau suction berlebih yang dapat
meningkatkan TIK

10. Nutrisi per oral hanya diberikan jika fungsi menelan baik. Jika kesadaran
menurun atau ada gangguan menelan sebaiknya dipasang NGT.
Perawatan umum stroke
Mengenai penatalaksanaan umum stroke, konsensus nasional pengelolaan stroke di
Indonesia, mengemukakan hal-hal berikut:
Bebaskan jalan nafas dan usahakan ventilasi adekuat, bila perlu berikan oksigen 0-2
L/menit sampai ada hasil gas darah.
Kandung kemih yang penuh dikosongkan, sebaiknya dengan kateterisasi intermiten.
Penatalaksanaan tekanan darah dilakukan secara khusus. Tekanan darah dapat berkurang
bila penderita dipindahkan ke tempat yang tenang, kandung kemih dikosongkan, rasa
nyeri dihilangkan, dan bila penderita dibiarkan beristirahat.
14

Hiperglikemia atau hipoglikemia harus dikoreksi. Keadaan hiperglikemia dapat dijumpai


pada fase akut stroke, disebabkan oleh stres dan peningkatan kadar katekholamin di
dalam serum. Dari percobaan pada hewan dan pengalaman klinik diketahui bahwa kadar
glukosa darah yang meningkat memperbesar ukuran infark. Oleh karena itu, kadar
glukosa yang melebihi 200 mg/ dl harus diturunkan dengan pemberian suntikan subkutan
insulin. Konsensus nasional pengelolaan stroke di Indonesia mengemukakan bahwa
hiperglikemia ( >250 mg% ) harus dikoreksi sampai batas gula darah sewaktu sekitar 150
mg% dengan insulin intravena secara drips kontinyu selama 2-3 hari pertama.
Hipoglikemia harus diatasi segera dengan memberikan dekstrose 40% intravena sampai
normal dan diobati penyebabnya.
Suhu tubuh harus dipertahankan normal. Suhu yang meningkat harus dicegah, misalnya
dengan obat antipiretik atau kompres. Pada penderita iskemik otak, penurunan suhu
sedikit saja, misalnya 2-3 derajat celsius, sampai tingkat 33C atau 34 C memberi
perlindungan pada otak. Selain itu, pembentukan oxygen free radicals dapat meningkat
pada keadaan hipertermia. Hipotermia ringan sampai sedang mempunyai efek baik,
selama kurun waktu 2-3 jam sejak stroke terjadi, dengan memperlebar jendela
kesempatan untuk pemberian obat terapeutik.
Nutrisi peroral hanya boleh diberikan setelah hasil tes fungsi menelan baik, bila terdapat
gangguan menelan atau penderita dengan kesadaran menurun, dianjurkan melalui pipa
nasogastrik.
Keseimbangan cairan dan elektrolit dipertahankan. Pemberian cairan intravena berupa
cairan kristaloid atau koloid, hindari yang mengandung glukosa murni atau hipotonik.
Bila ada dugaan trombosis vena dalam, diberikan heparin dosis rendah subkutan, bila
tidak ada kontra indikasi.
Terapi farmakologi yang dapat diberikan pada pasien stroke :
1) Antikoagulasi dapat diberikan pada stroke non haemoragic, diberikan dalam 24 jam
sejak serangan gejala-gejala dan diberikan secara intravena.
2) Obat antipletelet, obat ini untuk mengurangi pelekatan platelet. Obat ini
kontraindikasi pada stroke haemorhagic.
3) Bloker kalsium untuk mengobati vasospasme serebral, obat ini merilekskan otot polos
pembuluh darah.
4) Trental dapat digunakan untuk meningkatkan aliran darah kapiler mikrosirkulasi,
sehingga meningkatkan perfusi dan oksigenasi ke jaringan otak yang mengalami
iskemik.
15

Terapi Khusus
Ditujukan untuk stroke pada therapeutic window dengan obat anti agregasi dan
neuroprotektan. Obat anti agregasi: golongan pentoxifilin, tielopidin, low heparin, tPA.
1) Pentoxifilin
Mempunyai 3 cara kerja :

Sebagai anti agregasi menghancurkan thrombus

Meningkatkan deformalitas eritrosit

Memperbaiki sirkulasi intraselebral

Neuroprotektan

1.

Piracetam:

menstabilkan

membrane

sel

neuron,

ex:

neotropi

Cara kerja dengan menaikkan cAMP ATP dan meningkatkan sintesis glikogen
2.

Nimodipin: gol. Ca blocker yang merintangi masuknya Ca2+ ke dalam sel,

ex.nimotup. Cara kerja dengan merintangi masuknya Ca2+ ke dalam sel dan
memperbaiki perfusi jaringan otak
3.

Citicholin:

mencegah

kerusakan

sel

otak,

ex.

Nicholin

Cara kerja dengan menurunkan free faty acid, menurunkan generasi radikal bebas dan
biosintesa lesitin.
4.

Ekstrax gingkobiloba, ex ginkan.

Perawatan Pasca Stroke


1) Rehabilitasi Stroke
Rehabilitasi stroke termasuk seluruh tujuan dari rehabilitasi lansia. Pencegahan
komplikasi dan keterbatasan sekunder adalah hasil utama yang diharapkan. Peningkatan
kualitas dan arti dalam hidup dengan keterbatasan dan deficit klien lansia juga
merupakan hal yang penting bagi keberhasilan program rehabilitasi stroke.
Selain memposisikan klien dan latihan rentang gerak , suatu program rehabilitasi stroke
memfokuskan pada AKS. Aktivitas kehidupan sehari-hari termasuk makan, berdandan,
hygiene, mandi, dan yang sejenisnya. Dengan melibatkan ahli terapi fisik dan okupasi
dapat meningkatkan kemampuan perawat untuk merencanakan perawatan.
Evaluasi tingkat sensorik motorik , pengukuran rentang gerak sendi , dan kekuatan otot
adalah tujuan spesifik bagi ahli terapi dan perawat. Pemeriksaan genggaman , kekuatan
trisep, dan keseimbangan memberikan data yang berharga untuk perencanaan strategi
kompensasi untuk menyelesaikan tugas tugas perawatan diri. Propriosepsi, sensasi,dan
tonus otot dievaluasi. Suatu pengkajian yang seksama juga termasuk tingkat deficit
neurologis yang mungkin telah di alami oleh klien akibat stroke. Data tersebut termasuk
16

kemampuan klien untuk mandi, berpakaian, makan, ke toilet, dan berpindah. Selain itu,
status fungsi usus dan kandung kemih klien adalah informasi yang sangat penting untuk
perencanaan perawatan. Fungsi penglihatan dan pendengaran dikaji dan setiap
penyimpangan dimasukkan dalam pendekatan tim.
Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kemandirian klien dengan terus
memberikan peluang untuk melakukan tugas yang mampu ia lakukan. Perawat adalah
kunci pemberi perawatan dalam proses rehabilitasi, mengkoordinasikan asuhan
perawatan dan terapi rehabilitative. Dengan memperhatikan tujuan ini, perawat dapat
memaksimalkan potensi klien tersebut.
2) Kognisi dan komunikasi
Konfusi, disorientasi, dan masalah komunikasi adalah akibat yang sering dari stroke.
Masalah komunikasi dapat diakibatkan oleh afasia dan disartria, perawat perlu
menyertakan teknik komunikasi yang memfasilitasi kemampuan klien untuk memahami
kata-kata. Teknik komunikasi tersebut meliputi berbicara secara perlan-lahan,
memberikan petunjuk sederhana(satu pada satu waktu), membatasi distraksi, dan
mendengar

secara

aktif.Selain

itu,

menghubungkan

kata-kata

dengan

objek,menggunakan pengulangan dan kata-kata yang banyak, dan mendorong keluarga


untuk membawa objek kecil yang dikenal oleh klien dan untuk menyebutkan nama
objek-objek tersebut dapat meningkatkan pola komunikasi.Dapat juga digunakan papan
abjad,mesin tik,dan program computer untuk membantu pemahaman klien tentang
lingkungannya. Mengevaluasi penglihatan dan pendengaran dapat juga membantu
mengatasi masalah yang,sekali dapat diperbaiki, secara drastic akan meningkatkan
komunikasi.
3) Dukungan psikologis
Klien lanjut usia mengalami berbagai kehilangan berdasar dengan terjadinya stroke,
mencakup perubahan citra tubuh, fungsi tubuh, dan perubahan peran. Dukungan
psikologis diarahkan agar dalam menghadapi kehilangan ini dapat mendorong
keberhasilan adaptasi dan penyesuaian. Tujuan yang realistis dapat ditetapkan hanya
setelah perawat mengkaji gaya hidup klien sebelumnya, tipe kepribadian, perilaku
koping, dan aktivitas pekerjaan. Dengan menyediakan situasi untuk penyelesaian
masalah dan pengambilan keputusan, perawat member klien suatu kesempatan untuk
memperoleh kendali atas lingkungannya. Keadaan seperti itu dapat sederhana seperti
membiarkan klien untuk memilih di antara dua aktivitas, untuk memutuskan waktu
terapi, untuk memilih pakaian, dan untuk membuat pilihan makanan. Memfokuskan pada
17

kekuatan dan kemampuan klien daripada terhadap deficit dapat mendorong harapan klien
tersebut.
Depresi sering terjadi dengan terjadinya kehilangan fungsi tubuh dan perubahan peran
dan citra tubuh. Konsultasikan kepada seorang perawat kesehatan mental untuk
membantu mengatasi masalah ini. Klienn lansia mungkin mengalami suatu perasaan
isolasi dan pengasingan. Keluarga mungkin memerlukan dukungan emosional dan
psikologis ketika berusaha untuk memahami apa arti kehilangan bagi klien. Jika
kebutuhan untuk mendapatkan dukungan keluarga ini tidak diperhatikan, klien mungkin
mempertimbangkan untuk bunuh diri.Ajarkan anggota keluarga tentang depresi dan
peringatkan mereka terhadap tanda dan gejala yang penting dalam memberikan
dukungan psikososial.
Kelabilan emosional dan ledakan-ledakan mungkin terjadi setelah stroke. anggota
keluarga yang telah diajarkan tentang strategi komunikasi dan bagaimana cara bermain
peran dalam situasi yang potensial akan menjadi lebih percaya diri.dalam merawat klien.
merujuk keluarga dan klien pada pelayanan pendukung seperti pelayanan kesehatan di
rumah, Kelompok pendukung, dan respite care dapat mengurangi beban ketergantungan
yang mungkin mengikuti stroke melibatkan manajemen factor-faktor yang pada akhirnya
dapat membuat perbedaan dalam memelihara kemandirian maksimum dan menurunkan
komplikasi sekunder yang dapat berkembang dari penyakit kronis yang melumpuhkan.
(Mickey Stanley, Buku Ajar Keperawatan gerontik edisi 2. 2006)
Gangguan emosional, terutama ansietas, frustasi dan depresi merupakan masalah umum
yang dijumpai pada penderita pasca stroke. Korban stroke dapat memperlihatkan
masalah-masalah emosional dan perilakunya mungkin berbeda dari keadaan sebelum
mengalami stroke. Emosinya dapat labil, misalnya pasien mungkin akan menangis
namun pada saat berikutnya tertawa, tanpa sebab yang jelas. Untuk itu, peran perawat
adalah untuk memberikan pemahaman kepada keluarga tentang perubahan tersebut.
Hal-hal yang bisa dilakukan perawat antara lain memodifikasi perilaku pasien seperti
seperti mengendalikan simulasi di lingkungan, memberikan waktu istirahat sepanjang
siang hari untuk mencegah pasien dari kelelahan yang berlebihan, memberikan umpan
balik positif untuk perilaku yang dapat diterima atau perilaku yang positif, serta
memberikan pengulangan ketika pasien sedang berusaha untuk belajar kembali satu
ketrampilan.

18

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
I. PENGKAJIAN
1.

Aktivitas dan istirahat


Data Subyektif:
- kesulitan dalam beraktivitas : kelemahan, kehilangan sensasi atau paralysis.
- mudah lelah, kesulitan istirahat ( nyeri atau kejang otot )
Data obyektif:
- Perubahan tingkat kesadaran
- Perubahan tonus otot ( flaksid atau spastic), paraliysis ( hemiplegia ) , kelemahan
umum.
- gangguan penglihatan

2. Sirkulasi
Data Subyektif:
- Riwayat penyakit jantung ( penyakit katup jantung, disritmia, gagal jantung,
endokarditis bacterial ) , polisitemia.
Data obyektif:
- Hipertensi arterial
- Disritmia, perubahan EKG
- Pulsasi : kemungkinan bervariasi
- Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal
3. Integritas ego
Data Subyektif:
- Perasaan tidak berdaya, hilang harapan
Data obyektif:
- Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat, kesediahan , kegembiraan
- kesulitan berekspresi diri
4. Eliminasi
Data Subyektif:
19

- Inkontinensia, anuria
- distensi abdomen ( kandung kemih sangat penuh ), tidak adanya suara usus( ileus
paralitik )
5. Makan/ minum
Data Subyektif:
- Nafsu makan hilang
- Nausea / vomitus menandakan adanya PTIK
- Kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan, disfagia
- Riwayat DM, Peningkatan lemak dalam darah
Data obyektif:
- Problem dalam mengunyah ( menurunnya reflek palatum dan faring )
- Obesitas ( factor resiko )
6. Sensori neural
Data Subyektif:
- Pusing / syncope ( sebelum CVA / sementara selama TIA )
- nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub arachnoid.
- Kelemahan, kesemutan/kebas, sisi yang terkena terlihat seperti lumpuh/mati
- Penglihatan berkurang
- Sentuhan : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas dan pada muka
ipsilateral ( sisi yang sama )
- Gangguan rasa pengecapan dan penciuman
Data obyektif:
- Status mental ; koma biasanya menandai stadium perdarahan , gangguan tingkah
laku (seperti: letergi, apatis, menyerang) dan gangguan fungsi kognitif
- Ekstremitas : kelemahan / paraliysis ( kontralateral pada semua jenis stroke,
genggaman tangan tidak imbang, berkurangnya reflek tendon dalam ( kontralateral )
- Wajah: paralisis / parese ( ipsilateral )
- Afasia ( kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa, kemungkinan ekspresif/ kesulitan
berkata kata, reseptif / kesulitan berkata kata komprehensif, global / kombinasi dari
keduanya.
- Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat, pendengaran, stimuli taktil
- Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik
- Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tak bereaksi pada sisi ipsi lateral

20

7. Nyeri / kenyamanan
Data Subyektif:
- Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya
Data obyektif:
- Tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan otot / fasial
8. Respirasi
Data Subyektif:
- Perokok ( factor resiko )
Tanda:
- Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas
- Timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur
- Suara nafas terdengar ronchi /aspirasi
9.Keamanan
Data obyektif:
- Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan
- Perubahan persepsi terhadap tubuh, kesulitan untuk melihat objek, hilang
kewasadaan terhadap bagian tubuh yang sakit
- Tidak mampu mengenali objek, warna, kata, dan wajah yang pernah dikenali
- Gangguan berespon terhadap panas, dan dingin/gangguan regulasi suhu tubuh
- Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap keamanan, berkurang
kesadaran diri
10. Interaksi social
Data obyektif:
- Problem berbicara, ketidakmampuan berkomunikasi
11. Pengajaran / pembelajaran
Data Subjektif :
- Riwayat hipertensi keluarga, stroke
- penggunaan kontrasepsi oral
12. Pertimbangan rencana pulang
- menentukan regimen medikasi / penanganan terapi
- bantuan untuk transportasi, shoping , menyiapkan makanan , perawatan diri dan
pekerjaan rumah (Doenges E, Marilynn,2000 hal 292)

21

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan keterlibatan neuromuskular :
kelemahan.
2. Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan neuromuskular,penurunan
kekuatan dan ketahanan, kehilangan kontrol/koordinasi otot.
3. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan vasospasme serebral.
4. Perubahan perfusi jaringan serebral b.d terputusnya aliran darah : penyakit oklusi,
perdarahan,

spasme

pembuluh

darah

serebral,

edema

serebral.

Dibuktikan oleh:
Perubahan tingkat kesadaran , kehilangan memori
Perubahan respon sensorik / motorik, kegelisahan
Defisit sensori , bahasa, intelektual dan emosional
Perubahan tanda-tanda vital
Tujuan Pasien / kriteria evaluasi :
Terpelihara dan meningkatnya tingkat kesadaran, kognisi dan fungsi sensori /
motorik
Menampakan stabilisasi tanda vital dan tidak ada PTIK
Peran pasien menampakan tidak adanya kemunduran / kekambuhan
Intervensi:

Tentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan situasi individu/ penyebab


koma / penurunan perfusi serebral dan potensial PTIK

Monitor dan catat status neurologis secara teratur

Monitor tanda-tanda vital

Evaluasi pupil 9 ukuran bentuk kesamaan dan reaksi terhadap cahaya 0

Bantu untuk mengubah pandangan , misalnya pandangan kabur, perubahan


lapang pandang / persepsi lapang pandang

Bantu meningkatakan fungsi, termasuk bicara jika pasien mengalami gangguan


fungsi

Kepala dielevasikan perlahan lahan pada posisi netral.

Pertahankan tirah baring , sediakan lingkungan yang tenang , atur kunjungan


sesuai indikasi
22

Kolaborasi

Berikan suplemen oksigen sesuai indikasi

Berikan medikasi sesuai indikasi :

Antifibrolitik, misal aminocaproic acid ( amicar )

Antihipertensi

Vasodilator perifer, missal cyclandelate, isoxsuprine.

Manitol

5. Ketidakmampuan mobilitas fisik b.d kelemahan neuromuskular, ketidakmampuan


dalam persespi kognitif
Dibuktikan oleh :
Ketidakmampuan dalam bergerak pada lingkungan fisik : kelemahan,
koordinasi, keterbatasan rentang gerak sendi, penurunan kekuatan otot.
Tujuan Pasien / kriteria evaluasi :
Tidak ada kontraktur, foot drop.
Adanya peningkatan kemampuan fungsi perasaan atau kompensasi dari
bagian tubuh
Menampakan kemampuan perilaku / teknik aktivitas sebagaimana
permulaannya
Terpeliharanya integritas kulit
Intervensi :
Ubah posisi tiap dua jam ( prone, supine, miring )
Mulai latihan aktif / pasif rentang gerak sendi pada semua ekstremitas
Topang ekstremitas pada posis fungsional , gunakan foot board pada saat
selama periode paralysis flaksid. Pertahankan kepala dalam keadaan netral
Evaluasi penggunaan alat bantu pengatur posisi
Bantu meningkatkan keseimbangan duduk
Bantu memanipulasi untuk mempengaruhi warna kulit edema atau
menormalkan sirkulasi
Awasi

bagian

kulit

diatas

tonjolan

tulang

Kolaborasi
23

Konsul ke bagian fisioterapi


Bantu dalam meberikan stimulasi elektrik
Gunakan bed air atau bed khusus sesuai indikasi
6. Gangguan komunikasi verbal b.d gangguan sirkulasi serebral, gangguan
neuromuskuler, kehilangan tonus otot fasial / mulut, kelemahan umum / letih.
Ditandai :
Gangguan artikulasi
Tidak mampu berbicara / disartria
Ketidakmampuan moduasi wicara , mengenal kata , mengidentifikasi objek
Ketidakmampuan berbicara atau menulis secara komprehensif.
Tujuan pasien / kriteria evaluasi
Pasien mampu memahami problem komunikasi
Menentukan metode komunikasi untuk berekspresi
Menggunakan sumber bantuan dengan tepat
Intervensi :
Bantu menentukan derajat disfungsi
Bedakan antara afasia dengan disartria
Sediakan bel khusus jika diperlukan
Sediakan metode komunikasi alternatif
Antisipasi dan sediakan kebutuhan pasien
Bicara langsung kepada pasien dengan perlahan dan jelas
Bicara dengan nada normal
Kolaborasi :
Konsul dengan ahli terapi wicara
7. Perubahan persepsi sensori b.d penerimaan perubahan sensori transmisi, perpaduan (
trauma / penurunan neurologi), tekanan psikologis ( penyempitan lapangan persepsi
disebabkan oleh kecemasan)
24

Ditandai :
Disorientasi waktu, tempat , orang
Perubahan pola tingkah aku
Konsentrasi jelek, perubahan proses pikir
Ketidakmampuan untuk mengatakan letak organ tubuh
Perubahan pola komunikasi
Ketidakmampuan mengkoordinasi kemampuan motorik.
Tujuan / kriteria hasil :
Dapat mempertahakan level kesadaran dan fungsi persepsi pada level biasanya.
Perubahan pengetahuan dan mampu terlibat
Mendemonstrasikan perilaku untuk kompensasi
Intervensi :
Kaji patologi kondisi individual
Evaluasi penurunan visual
Lakukan pendekatan dari sisi yang utuh
Sederhanakan lingkungan
Bantu pemahaman sensori
Beri stimulasi terhadap sisa-sisa rasa sentuhan
Lindungi psien dari temperatur yang ekstrim
Pertahankan kontak mata saat berhubungan
Validasi persepsi pasien
8. Kurang perawatan diri b.d kerusakan neuromuskuler, penurunan kekuatan dan
ketahanan, kehilangan kontrol /koordinasi otot
Ditandai dengan :
Kerusakan kemampuan melakukan AKS misalnya ketidakmampuan makan
,mandi, memasang/melepas baju, kesulitan tugas toileting
Kriteria hasil:
Melakukan aktivitas perwatan diri dalam tingkat kemampuan sendiri
25

Mengidentifikasi sumber pribadi /komunitas dalam memberikan bantuan sesuai


kebutuhan
Mendemonstrasikan perubahan gaya hidup untuk memenuhi kenutuhan
perawatan diri

Intervensi:
Kaji kemampuan dantingkat kekurangan (dengan menggunakan skala 1-4)
untuk melakukan kebutuhan sehari-hari
Hindari melakukan sesuatu untuk pasien yang dapat dilakukan pasien sendiri,
tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan
Kaji kemampuan pasien untuk berkomunikasi tentang kebutuhannya untuk
menghindari dan atau kemampuan untuk menggunakan urinal,bedpan.
Identifikasi kebiasaan defekasi sebelumnya dan kembalikan pada kebiasaan pola
normal tersebut. Kadar makanan yang berserat, Anjurkan untuk minum banyak
dan tingkatkan aktivitas.
Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan atau
keberhasilannya.
Kolaborasi :
Berikan supositoria dan pelunak feses
Konsultasikan dengan ahli fisioterapi/okupasi
9. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d kerusakan batuk, ketidakmampuan
mengatasi lendir.
Kriteria hasil:
Pasien memperlihatkan kepatenan jalan napas
Ekspansi dada simetris
Bunyi napas bersih saaatauskultasi
Tidak terdapat tanda distress pernapasan
GDA dan tanda vital dalam batas normal
Intervensi:
Kaji dan pantau pernapasan, reflek batuk dan sekresi
26

Posisikan tubuh dan kepala untuk menghindari obstruksi jalan napas dan
memmberikan pengeluaran sekresi yang optimal
Penghisapan sekresi
Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi jalan napas setiap 4 jam
Berikan oksigenasi sesuai advis
Pantau BGA dan Hb sesuai indikasi
10. Gangguan pemenuhan nutrisi b.d reflek menelan turun,hilang rasa ujung lidah
Ditandai dengan:
Keluhan masukan makan tidak adekuat
Kehilangan sensasi pengecapan
Rongga mulut terinflamasi
Kriteria evaluasi:
Pasien dapat berpartisipasi dalam intervensi spesifik untuk merangsang nafsu
makan
BB stabil
Pasien mengungkapkan pemasukan adekua
Intervensi :
Pantau masukan makanan setiap hari
Ukur BB setiap hari sesuai indikasi
Dorong pasien untukmkan diit tinggi kalori kaya nutrien sesuai program
Kontrol

faktor

lingkungan

(bau,

bising),

hindari

makanan

terlalu

manis,berlemak dan pedas. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan


Identifikasi pasien yang mengalami mual muntah
Kolaborasi:
Pemberian anti emetic dengan jadwal reguler
Vitamin A,D,E dan B6
Rujuk ahli diit
Pasang /pertahankan slang NGT untuk pemberian makanan enteral (DoengesE,
Marilynn,2000 hal 293-305)

27

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan

Stroke adalah suatu penyakit gangguan fungsi anatomi otak yang terjadi secara tibatiba dan cepat, disebabkan karena gangguan perdarahan otak. Stroke juga menjadi
salah satu penyebab kematian dan kecacatan neurologis yang utama. Stroke dibagi
menjadi 2 golongan, yaitu:
Infark Ischemik (Stroke non Hemoragi)
Hal ini terjadi karena adanya penyumbatan pembuluh darah otak
Perdarahan (Stroke Hemoragi)
Terjadi pecahnya pembuluh darah otak.
Faktor-faktor risiko yang dapat ditemui pada klien dengan stroke yaitu:
Faktor risiko utama
a. Hipertensi
b. Diabetes Melitus
c. Penyakit Jantung
d. Transient Ischemic Attack (TIA)
Faktor resiko tambahan
a. Kadar lemak darah yang tinggi termasuk kolesterol dan trigliserida
b. Kegemukan atau obesitas
c. Merokok
d. Riwayat keluarga dengan stroke
e. Lanjut Usia
f. Penyakit darah tertentu seperti polisitemia dan leukemia
g. Kadar asam urat darah tinggi
h. Penyakit paru-paru menahun.

28

B. Saran
Dari uraian diatas dapat kami sarankan sebaiknya para pembaca khususnya perawat
dengan kasus stroke mengetahui tentang:
Faktor-faktor resiko yang dapat ditemui pada klien dengan stroke
Laboratorium yang perlu dilakukan
Cara penatalaksanaan pada stroke

DAFTAR PUSTAKA

1. Ancowitz, A. 1993. The Stroke Book. New York : William Morrow and
Company, inc.
2. Hudak Gallo. 1997. Keperawatan Kritis Edisi VI Volume II. Jakarta : EGC.
3. Lumbantobing. 2001. Neurogeriatri. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
4. Marilynn E, Doengoes, 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta :
EGC.
5. Pahria, Tuti, dkk. 1996. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan
Sistem Persarafan. Jakarta : EGC.
29