Anda di halaman 1dari 35

DRAFT PEDOMAN RENCANA

KAWASAN TRANSMIGRASI

DRAFT PEDOMAN RENCANA KAWASAN TRANSMIGRASI “WORKSHOP PERENCANAAN PEMBANGUNAN KAWASAN TRANSMIGRASI” Integrasi
DRAFT PEDOMAN RENCANA KAWASAN TRANSMIGRASI “WORKSHOP PERENCANAAN PEMBANGUNAN KAWASAN TRANSMIGRASI” Integrasi
DRAFT PEDOMAN RENCANA KAWASAN TRANSMIGRASI “WORKSHOP PERENCANAAN PEMBANGUNAN KAWASAN TRANSMIGRASI” Integrasi
DRAFT PEDOMAN RENCANA KAWASAN TRANSMIGRASI “WORKSHOP PERENCANAAN PEMBANGUNAN KAWASAN TRANSMIGRASI” Integrasi
DRAFT PEDOMAN RENCANA KAWASAN TRANSMIGRASI “WORKSHOP PERENCANAAN PEMBANGUNAN KAWASAN TRANSMIGRASI” Integrasi
DRAFT PEDOMAN RENCANA KAWASAN TRANSMIGRASI “WORKSHOP PERENCANAAN PEMBANGUNAN KAWASAN TRANSMIGRASI” Integrasi

“WORKSHOP PERENCANAAN PEMBANGUNAN KAWASAN TRANSMIGRASI”

Integrasi Perencanaan Kawasan Transmigrasi dalam Rencana Tata Ruang Wilayah

Page 1

Kamis, 14 November 2013

Latar Belakang Berdasarkan Undang-Undang No. 29 Tahun 2009 Tentang Ketransmigrasian yang mengatur perencanaan pembangunan

Latar Belakang

Berdasarkan Undang-Undang No. 29 Tahun 2009 Tentang Ketransmigrasian yang mengatur perencanaan pembangunan kawasan transmigrasi, maka dalam rangka perwujudan

pengembangan kawasan transmigrasi secara efisien dan

efektif, penyusunan rencana kawasan transmigrasi diamanatkan oleh RPP tentang Pelaksanaan UU 15/1997 yang telah diubah dengan UU 29/2009. Proses perencanaan harus

dilaksanakan secara baik dan benar serta implementasinya

harus disepakati oleh semua pemangku kepentingan baik di pusat maupun daerah.

Pedoman ini dimaksudkan sebagai acuan dalam penyusunan RKT oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah serta para

Pedoman ini dimaksudkan sebagai acuan dalam penyusunan RKT oleh

Pemerintah dan Pemerintah Daerah serta para pemangku kepentingan

lainnya.

Pemerintah Daerah serta para pemangku kepentingan lainnya. Pedoman ini bertujuan mewujudkan RKT yang sesuai dengan

Pedoman ini bertujuan mewujudkan RKT yang sesuai dengan ketentuan UU 26/2007 tentang Penataan Ruang dan Undang-Undang

29 Tahun 2009 tentang Perubahan UU Nomor 15 Tahun 1997 tentang

Ketransmigrasian serta peraturan pelaksanaannya.

• Keputusan Presiden Nomor 150 Tahun 2000 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu. • Permen PU

Keputusan Presiden Nomor 150 Tahun 2000 tentang Kawasan

Pengembangan Ekonomi Terpadu. Permen PU Nomor : 15/PRT/M/2012, tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis.

Peraturan Presiden RI Nomor 32 Tahun 2011 tentang Masterplan

Percepatan dan perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025.

perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025. Pedoman bidang penataan ruang saling terkait satu sama lain

Pedoman bidang penataan ruang saling terkait satu sama lain sehingga masing-masing mempunyai fungsi tersendiri dan bersifat komplementer.

UU No. 26 Th 2007, tentang Penataan UU 29 / 2009 tentang perubahan UU 15
UU No. 26 Th 2007, tentang Penataan UU 29 / 2009 tentang perubahan UU 15
UU No. 26 Th 2007, tentang Penataan UU 29 / 2009 tentang perubahan UU 15
UU No. 26 Th 2007, tentang Penataan UU 29 / 2009 tentang perubahan UU 15
UU No. 26 Th 2007, tentang Penataan UU 29 / 2009 tentang perubahan UU 15
UU No. 26 Th 2007, tentang Penataan
UU 29 / 2009 tentang perubahan UU 15
Ruang
/ 1997 tentang Ketransmigrasian
PP No. 15 Th 2010, tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang
Rancangan PP Tentang Penyelenggraan
Transmigrasi
Pedoman Penyusunan RTR
KSN
Pedoman Bidang Penataan
Ruang Lainnya
Pedoman Penyusunan
RTRW Provinsi
Pedoman Penyusunan
RTRW Kabupaten/Kota
a)
Pedoman RTR Kawasan Strategis
Provinsi
b)
Pedoman RTR Kawasan Strategis
Kabupaten
c)
Pedoman Penyusunan RDTR
Kabupaten/Kota
d)
Pedoman Terkait Lainnya.
PEDOMAN RKT
Page 5
Dikegorikan pada isu Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Kabupaten Tipologi Kawasan Perdesaan RTRKawasan
Dikegorikan pada isu Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Kabupaten Tipologi Kawasan Perdesaan RTRKawasan
Dikegorikan pada
isu Rencana Tata
Ruang Kawasan
Strategis
Kabupaten
Tipologi Kawasan
Perdesaan
RTRKawasan
Perdesaan
Kabupaten
Isu
Strategis
RKT
RKT
Sudut kepentingan dan kriteria nilai strategis menurut PP 26/2008 tentang tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Sudut kepentingan dan kriteria nilai strategis menurut PP 26/2008 tentang tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Sudut kepentingan dan kriteria nilai strategis menurut PP 26/2008 tentang tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Sudut kepentingan dan kriteria nilai strategis menurut PP 26/2008 tentang tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Sudut kepentingan dan kriteria nilai strategis menurut PP 26/2008 tentang tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Sudut kepentingan dan kriteria nilai strategis
menurut PP 26/2008 tentang tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional;
Sudut kepentingan pengembangan kawasan transmigrasi;
Sudut kepentingan pengembangan kawasan
transmigrasi;
Keputusan Menteri Nakertrans No.293/MEN/IX/2009 tahun 2009 tentang penetapan 44 KTM.
Keputusan Menteri Nakertrans
No.293/MEN/IX/2009 tahun 2009 tentang
penetapan 44 KTM.
WPT, adalah: wilayah potensial yang ditetapkan sebagai pengembangan permukiman transmigrasi yang terdiri atas beberapa
WPT, adalah: wilayah potensial yang ditetapkan sebagai pengembangan permukiman transmigrasi yang terdiri atas beberapa
WPT, adalah: wilayah potensial yang ditetapkan sebagai pengembangan permukiman transmigrasi yang terdiri atas beberapa
WPT, adalah: wilayah potensial yang ditetapkan sebagai pengembangan permukiman transmigrasi yang terdiri atas beberapa
WPT, adalah: wilayah potensial yang ditetapkan sebagai pengembangan permukiman transmigrasi yang terdiri atas beberapa
WPT, adalah: wilayah potensial yang ditetapkan sebagai pengembangan permukiman transmigrasi yang terdiri atas beberapa
WPT, adalah: wilayah potensial yang ditetapkan sebagai
pengembangan permukiman transmigrasi yang terdiri atas
beberapa satuan kawasan pengembangan yang salah satu di
antaranya direncanakan untuk mewujudkan pusat
pertumbuhan wilayah baru sebagai kawasan perkotaan baru
sesuai dengan rencana tata ruang wilayah.
LPT, adalah: lokasi potensial yang ditetapkan sebagai permukiman transmigrasi untuk mendukung pusat pertumbuhan wilayah
LPT, adalah: lokasi potensial yang ditetapkan sebagai
permukiman transmigrasi untuk mendukung pusat
pertumbuhan wilayah yang sudah ada atau yang sedang
berkembang sebagai kawasan perkotaan baru sesuai dengan
rencana tata ruang wilayah.

Setiap SP tersedia:

Setiap SP tersedia:

sarana : perumahan,

sarana : perumahan,

pelayanan umum,

pelayanan umum,

pelayanan

pelayanan

pendidikan SD,

pendidikan dasar,

pelayanan

pelayanan

kesehatan, pasar

mingguan;

Poskesdes, pasar

kesehatan

mingguan;

prasarana

prasarana

ke PKW/

PKL/ PKSN

Setiap SP sebagai puat SKP tersedia:

sarana : perumahan, pelayanan umum,

pelayanan pendidikan

SD & SLP, pelayanan kesehatan Puskesmas, pasar harian;

prasarana

sistem produksi

pertanian dan

pengelolaan sda

SP
SP

SKP

SP
SP
SP
SP

Kampung

SP
SP

Kampung

Pst

SKP

SP
SP

Pst

SKP SP SP SP
SKP
SP
SP
SP
KIM KIM Pusat KPB KIM KIM KPB
KIM
KIM
Pusat
KPB
KIM
KIM
KPB

Kampung

SP
SP

SKP

SP
SP

Kampung

sistem produksi

pertanian dan

pengelolaan sda

SP
SP

SKP

SP
SP
SP
SP

Kampung

SP
SP

Pst SKPpertanian dan pengelolaan sda SP SKP SP SP Kampung SP Pst SKP SP SP Kampung SKP

Pst

SKP dan pengelolaan sda SP SKP SP SP Kampung SP Pst SKP Pst SP SP Kampung SKP

SP
SP
SP
SP

Kampungsda SP SKP SP SP Kampung SP Pst SKP Pst SKP SP SP SKP SP Kampung

SKP

SP
SP

Kampung

9

Kawasan Perkotaan Baru sebagai PPK atau PKLp

ke PKW/

PKL/ PKSN

Batas deliniasi Kawasan Transmigrasi

PKLp ke PKW/ PKL/ PKSN Batas deliniasi Kawasan Transmigrasi SP KIMTRANS Baru SP Desa Desa penduduk

SP KIMTRANS Baru

SP Desa
SP
Desa

Desa penduduk setempat yang

dikembangkan menjadi KIMTRANS

PENETAPAN TIPOLOGI RKT UU No. 26 Th 2007, tentang Penataan Ruang UU 29 / 2009
PENETAPAN TIPOLOGI RKT
UU No. 26 Th 2007, tentang Penataan Ruang
UU 29 / 2009 tentang perubahan UU 15 / 1997
tentang Ketransmigrasian
PP No. 15 Th 2010, tentang Penyelenggaraan
Penataan Ruang
Rancangan PP Tentang Penyelenggraan
Transmigrasi
TIPOLOGI RTR KS K
PENYUSUNAN KERANGKA MUATAN RKT Identifikasi Bentuk DELINIASI PENETAPAN FOKUS Penentuan Skala Peta PENANGANAN
PENYUSUNAN KERANGKA MUATAN RKT
Identifikasi Bentuk
DELINIASI
PENETAPAN FOKUS
Penentuan Skala Peta
PENANGANAN
DELINIASI PENETAPAN FOKUS Penentuan Skala Peta PENANGANAN PERUMUSAN MUATAN RKT Tujuan, Kebijakan dan Strategi Konsep
PERUMUSAN MUATAN RKT Tujuan, Kebijakan dan Strategi Konsep Pengembangan Arah Pengendalian Kawasan Transmigrasi Arah
PERUMUSAN MUATAN RKT
Tujuan, Kebijakan dan Strategi
Konsep Pengembangan
Arah Pengendalian
Kawasan Transmigrasi
Arah Pemanfaatan
Kawasan Transmigrasi
Pengelolaan

Page 10

1. Delineasi RKT

Pertimbangan dalam penentuan delineasi RKT mengacu kepada tipologi kawasan pedesaan yang ditetapkan oleh RTR KS, mencakup:

a.

Daya dukung fisik lingkungan, ekologis dan sumber daya air

b.

Intreraksi sosial budaya masyarakat

c.

Sebaran fasilitas perekonomian kawasan

d.

Ketentuan peraturan perundang-undangan

2. Fokus Penanganan

Merupakan muatan pokok yang menjadi pertimbangan utama dalam perumusan

muatan RKT sebagai upaya untuk mengatur hal-hal penting yang perlu ditangani

RKT. Muatan RKT mencakup:

a.

Tujuan, kebijakan, dan strategi pembangunan kawasan transmigrasi.

b.

Luasan kawasan transmigrasi;

c.

Rencana struktur kawasan transmigrasi;

d.

Rencana peruntukan kawasan transmigrasi;

e.

Arahan pengembangan pola usaha pokok;

f.

Arahan jenis transmigrasi yang akan dilaksanakan;

g.

Arahan penataan persebaran penduduk dan kebutuhan SDM;

h.

Arahan indikasi program utama;

i.

Tahapan perwujudan kawasan transmigrasi; dan

j.

Ketentuan pengendalian pemanfaatan kawasan transmigrasi.

Page 11

3. Skala Peta

Penetapan skala peta RKT dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan informasi yang diperlukan dalam proses perencanaan kawasan, serta mempertimbangkan luasan geografis yang dinilai strategis. Skala peta RKT, minimal 1 : 25.000.

4. Muatan RKT Muatan yang diatur dalam RKT dirumuskan dengan mempertimbangkan:

a. Posisi geografis kawasan terhadap pusat-pusat pertumbuhan di sekitar kawasan

b. Kondisi lingkungan nonterbangun, terbangun, dan

kegiatan di sekitar kawasan

c. Daya dukung fisik dasar terkait dengan potensi bencana

yang mengancam kawasan

d. Kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat

Muatan RKT terdiri atas :

1. Muatan tujuan, kebijakan dan strategi,

Tujuan : difokuskan pada perwujudan kawasan perdesaan dalam batas area tertentu melalui dukungan jaringan prasarana yang memadai;

Kebijakan : difokuskan pada kebijakan penetapan kegiatan, kebijakan

penataan pesebaran penduduk dan penyediaan permukiman, kebijakan penetapan aksesibilitas kawasan, kebijakan penetapan spm sarana dan prasarana pendukung dan kebijakan perlindungan kawasan;

Strategi pencapaian tujuan disusun sesuai dengan arah kebijakan yang

ditetapkan.

2. Arahan rencana struktur dan pemanfaatan kawasan transmigrasi :

a. Mewujudkan permuiman di kawasan transmigrasi yang berfungsi sebagai tempat tinggal, tempat berusaha dan tempat bekerja

b. Mewujudkan penataan persebaran penduduk di kawasan transmigrasi yang serasi dan seimbang dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan

c. Menyediakan prasarana dan sarana dasar kawasan transmigrasi

Page 13

3. Arahan pengendalian dan pemanfaatan kawasan

a. Arahan pembangunan SKP;

b. Arahan pembangunan SP;

c. Arahan Pembangunan KPB dan

d. Arahan pembangunan jaringan prasarana dan sarana

dasar kawasan transmigrasi

4. Pengelolaan RKT, disusun dengan memperhatikan :

a.

Kelembagaan yang telah diatur sesuai dengan peraturan

perundang-undangan,

b.

Keterkaitan RKT dengan kewenangan Pemerintah,

c.

Keterkaitan RKT dengan kewenangan pemerintah

daerah (provinsi, kabupaten/kota), dan

d.

Pemangku kepentingan lainnya

5. Hak, Kewajiban dan Peran Masyarakat

Pelibatan peran masyarakat dalam proses perencanaan dimulai sejak awal hingga akhir kegiatan, meliputi; persiapan penyusunan, pengumpulan data dan informasi, pengolahan

dan analisis data serta perumusan konsep rencana. Hak,

kewajiban, dan peran masyarakat diatur sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Masyarakat sebagai pemangku kepentingan, meliputi :

a. Orang perseorangan atau kelompok orang

b. Organisasi masyarakat di tingkat kabupaten

c. Perwakilan organisasi masyarakat kabupaten

d. Perwakilan organisasi masyarakat kabupaten yang secara sistemik dengan wilayah yang sedang disusun RKT.

6. Format Penyajian

a. Materi teknis RKT

1) Buku data dan analisis yang dilengkapi dengan peta-

peta;

2) Buku rencana yang disajikan dalam format A4;

3) Album peta yang disajikan dengan skala minimal dalam format A1 yang dilengkapi dengan peta digital disusun

sesuai dengan ketentuan Sistem Informasi Geografis

yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang.

b. Naskah rancangan peraturan daerah (Raperda) tentang RKT 1) Naskah Raperda berupa rumusan pasal per pasal disajikan dalam A4 2) Lampiran terdiri atas peta rencana struktur dan

pemanfaatan kawasan transmigrasi yang disajikan

dalam format A3, serta tabel indikasi program utama.

Page 16

5. Masa Berlaku

RKT berlaku dalam jangka waktu 15 (lima belas) tahun dan

dapat ditinjau kembali setiap 5 (lima) tahun. Peninjauan kembali RKT dapat dilakukan lebih dari 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun apabila terjadi perubahan lingkungan strategis

berupa:

a.

Bencana alam skala besar yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan;

b.

Perubahan batas teritorial negara yang ditetapkan

dengan undang-undang;

c.

Perubahan batas wilayah daerah yang ditetapkan dengan undang-undang; dan/atau

d.

Perubahan RTRW P/K yang menuntut perubahan

terhadap RKT.

Pelaksanaan perencanaan kawasan transmigrasi meliputi serangkaian prosedur penyusunan dan penetapan RKT. Proses
Pelaksanaan perencanaan kawasan transmigrasi meliputi serangkaian prosedur penyusunan dan penetapan RKT. Proses
Pelaksanaan perencanaan kawasan transmigrasi meliputi serangkaian prosedur penyusunan dan penetapan RKT. Proses
Pelaksanaan perencanaan kawasan transmigrasi meliputi serangkaian prosedur penyusunan dan penetapan RKT. Proses
Pelaksanaan perencanaan kawasan transmigrasi meliputi serangkaian prosedur penyusunan dan penetapan RKT. Proses
Pelaksanaan perencanaan kawasan transmigrasi meliputi serangkaian prosedur penyusunan dan penetapan RKT. Proses
Pelaksanaan perencanaan kawasan transmigrasi meliputi serangkaian prosedur penyusunan dan penetapan RKT. Proses
Pelaksanaan perencanaan kawasan transmigrasi meliputi serangkaian prosedur penyusunan dan penetapan RKT. Proses

Pelaksanaan perencanaan kawasan transmigrasi meliputi

serangkaian prosedur penyusunan dan penetapan RKT.

Proses penyusunan RKT meliputi:

a.

Persiapan penyusunan;

b.

Pengumpulan data dan informasi;

c.

Pengolahan dan analisis data;

d.

Perumusan konsepsi rencana; dan

e.

Penyusunan Konsep Naskah Raperda.

TAHAPAN   PROSES PENYUSUNAN RKT   Uraian Kegiatan Persiapan Pengumpulan Data dan Informasi

TAHAPAN

 

PROSES PENYUSUNAN RKT

 

Uraian Kegiatan

Persiapan

Pengumpulan Data dan Informasi

Pengolahan dan Analisis Data

Perumusan Konsep RKT

Penyusunan Konsep Naskah Raperda

Penyusunan

Perkiraan Waktu

1 bulan

1 bulan

2

bulan

1 bulan

1 bulan

yang Dibutuhkan

 
   

6

bulan

yang Dibutuhkan       6 bulan a. Persiapan Penyusunan b. Hasil Pelaksanaan

a.

Persiapan Penyusunan

b.

Hasil Pelaksanaan Kegiatan Persiapan Administrasi

dan Teknis

c.

Waktu Pelaksanaan Kegiatan

a. Kegiatan Pengumpulan Data dan Informasi ; b. Hasil Pelaksanaan Kegiatan Pengumpulan Data dan Informasi

a.

Kegiatan Pengumpulan Data dan Informasi ;

b.

Hasil Pelaksanaan Kegiatan Pengumpulan Data dan

Informasi ;

c.

Waktu Pelaksanaan Kegiatan.

dan Informasi ; c. Waktu Pelaksanaan Kegiatan. a. Analisis Kebijakan Pembangunan Kawasan Transmigrasi

a.

Analisis Kebijakan Pembangunan Kawasan Transmigrasi

b.

Analisis Struktur dan Pemanfaatan Kawasan transmigrasi

c.

Analisis Sumberdaya dan Kemampuan Lahan

d.

Analisis Pengembangan Ekonomi Kawasan Transmigrasi

e.

Analisis Sosial dan Kependudukan

f.

Analisis Prasarana dan Sarana

g.

Analisis Transportasi

Karateristik Fisik Dasar Yaitu: Ketersediaan SDA: Jenis Dan Jumlah Topografi, Jenis Tanah, Iklim Dll Analisis
Karateristik Fisik Dasar Yaitu: Ketersediaan SDA: Jenis Dan Jumlah Topografi, Jenis Tanah, Iklim Dll Analisis
Karateristik Fisik Dasar Yaitu: Ketersediaan SDA: Jenis Dan Jumlah Topografi, Jenis Tanah, Iklim Dll Analisis
Karateristik Fisik Dasar Yaitu: Ketersediaan SDA: Jenis Dan Jumlah Topografi, Jenis Tanah, Iklim Dll Analisis
Karateristik Fisik Dasar Yaitu: Ketersediaan SDA: Jenis Dan Jumlah Topografi, Jenis Tanah, Iklim Dll Analisis
Karateristik Fisik Dasar Yaitu:
Ketersediaan SDA: Jenis Dan Jumlah
Topografi, Jenis Tanah, Iklim Dll
Analisis Kesesuaian Lahan
Analisis Ketersediaan Dan Pola Sebaran
Analisis Ketersediaan Dan Pola
Sebaran
Potensi Pengembangan
Informasi Mengenai Daya Dukung Lingkungan
Untuk Berbagai Kebutuhan Pengembangan
Wilayah

Page 21

Proyeksi Jumlah Penduduk 15 tahun ke depan Kebutuhan Fasilitas: Standar Kebutuhan Ruang Transportasi, Air Bersih,
Proyeksi Jumlah Penduduk 15 tahun ke depan Kebutuhan Fasilitas: Standar Kebutuhan Ruang Transportasi, Air Bersih,
Proyeksi Jumlah Penduduk 15 tahun ke depan Kebutuhan Fasilitas: Standar Kebutuhan Ruang Transportasi, Air Bersih,
Proyeksi Jumlah Penduduk 15 tahun ke depan Kebutuhan Fasilitas: Standar Kebutuhan Ruang Transportasi, Air Bersih,
Proyeksi Jumlah Penduduk 15 tahun ke depan Kebutuhan Fasilitas: Standar Kebutuhan Ruang Transportasi, Air Bersih,
Proyeksi Jumlah Penduduk 15 tahun ke depan Kebutuhan Fasilitas: Standar Kebutuhan Ruang Transportasi, Air Bersih,
Proyeksi Jumlah Penduduk 15 tahun ke depan Kebutuhan Fasilitas: Standar Kebutuhan Ruang Transportasi, Air Bersih,
Proyeksi Jumlah
Penduduk 15 tahun ke depan
Kebutuhan Fasilitas:
Standar
Kebutuhan Ruang
Transportasi, Air Bersih,
Jaringan Listrik,
Jaringan Telekomunikasi
dan
Persampahan Permukiman
Perencanaan
Penyediaan
Prasarana
Rencana Sistem Jaringan Dan
Prasarana: Transportasi,
Jaringan Telekomunikasi, Jaringan Air
Bersih, Jaringan Listrik, Pengembangan
Permukiman Dan Pengelolaan
Persampahan

Page 23

PROSEDUR PERSETUJUAN RENCANA LOKASI KAWASAN TRANSMIGRASI

Persiapan

Persiapan Teknis

Administrasi

a) Kajian awal potensi lahan kawasan dengan

mengacu pada kajian RTRW provinsi dan

Kajian potensi lokasi kawasan mencakup penyediaan tanah untuk pembangunan

kawasan

RTRW kabupaten/kota serta kebijakan dan peraturan lainnya.

b) Identifikasi informasi dan data awal kajian potensi kawasan;

c) Penyiapan metodologi pendekatan pelaksanaan kegiatan;

d) Penyiapan rencana kerja rinci; dan

transmigrasi dilaksanakan melalui proses pencadangan tanah/penegasan fungsi lahan oleh pemerintah daerah baik Bupati atau Gubernur

e) Penyiapan perangkat survei (checklist data yang dibutuhkan, panduan wawancara, kuesioner, panduan observasi dan

dokumentasi, dll) serta mobilisasi

peralatan dan personil yang dibutuhkan.

f) Materi yang dihasilkan adalah Proposal Teknis/Hasil Kajian Awal Lokasi Kawasan Transmigrasi

PROSES PENYUSUNAN RKT, sampai Pengesahan Dokumen RKT melalui Peraturan Daerah

(pada tahapan proses penyusunan

RKT, maka Pemerintah Pusat/Kementrian Terkait bersama Pemerintah Daerah adalah sebagai unsur teknis dalam penyusunan

materi RKT)

TIDAK DISETUJUI

DISETUJUI

Hasil Persiapan Administrasi dan Teknis

1.

SK Bupati/Walikota atau Gubernur tentang pencadangan lahan untuk kawasan transmigrasi. Pencadangan tanah dalam hal ini berarti penunjukan area tanah oleh bupati/walikota atau gubernur yang disediakan untuk pembangunan kawasan transmigrasi.

2.

Hasil kajian awal lokasi kawasan transmigrasi yang terdiri atas :

a)

Gambaran umum wilayah perencanaan

b)

Identifikasi nilai strategis kawasan transmigrasi;

c)

Identifikasi dan perumusan isu strategis perlunya penyusunan RKT;

d)

Identifikasi kebijakan terkait dengan wilayah

perencanaan;

e)

Potensi dan permasalahan awal wilayah perencanaan serta gagasan awal pengembangan wilayah perencanaan; dan

f)

Identifikasi awal batas delineasi kawasan.

PROSES PENILAIAN DAN PERSETUJUAN CALON LOKASI KAWASAN TRANSMIGRASI oleh KEMENTRIAN TERKAIT melalui GUBERNUR

 

(waktu proses maksimal 6 bulan)

PROSES PERSETUJUAN

Page 24

PROSEDUR PENYUSUNAN

RENCANA KAWASAN TRANSMIGRASI (RKT)

Page 25
Page 25

PENGENDALIAN RENCANA KAWASAN TRANSMIGRASI (RKT)

Ketentuan pengendalian pemanfaatan kawasan transmigrasi berfungsi :

a.

b.

Sebagai alat pengendali pengembangan kawasan transmigrasi;

Menjaga kesesuaian pemanfaatan kawasan dengan rencana

kawasan transmigrasi;

menjamin agar pembangunan baru tidak mengganggu

pemanfaatan kawasan transmigrasi yang telah sesuai dengan

rencana tata ruang baik RTRW Kabupaten maupun RTRW

Provinsi;

meminimalkan pengunaan lahan yang tidak sesuai dengan rencana kawasan transmigrasi;

mencegah dampak pembangunan yang merugikan; dan

melindungi kepentingan umum

c.

d.

e.

f.

Page 26

Pengendalian pemanfaatan kawasan transmigrasi diselenggarakan melalui kegiatan pengawasan dan penertiban terhadap pemanfaatan kawasan transmigrasi.

Pengawasan diselenggarakan melalui kegiatan sebagai berikut :

a) pelaporan yang menyangkut segala hal yang tentang pemanfaatan kawasan transmigrasi;

b) pemantauan terhadap perubahan pemanfaatan kawasan transmigrasi; serta

c) evaluasi sebagai upaya menilai kemajuan kegiatan pemanfaatan kawasan transmigrasi dalam mencapai tujuan

rencana kawasan transmigrasi (RKT).

A. Pengawasan
A. Pengawasan
B. Pelaporan
B. Pelaporan
C. Pemantauan
C. Pemantauan
D. Evaluasi
D. Evaluasi
E. Penertiban
E. Penertiban

Page 28

a. Pengawasan selama proses pembangunan (c onstruction ), bertujuan untuk mencegah terjadinya kelambatan atau masa

a. Pengawasan selama proses pembangunan (construction), bertujuan untuk mencegah terjadinya kelambatan atau masa idle

(non-performing) yang berdampak negatif.

b. Pengawasan pasca pembangunan, bertujuan untuk mencegah terjadinya penyimpangan kegiatan yang dilaksanakan terhadap perijinan yang telah diterbitkan.

a. Fungsi pelaporan adalah sebagai salah satu sumber informasi bagi pemerintah atau instansi yang berwenang

a.

Fungsi pelaporan adalah sebagai salah satu sumber informasi bagi pemerintah atau instansi yang berwenang dalam memantau dan mengevaluasi pemanfaatan kawasan transmigrasi sebagaimana yang telah ditetapkan dalam rencana kawasan transmigrasi.

b.

Pelaporan, Subyek pelaporan, Obyek pelaporan, Bentuk pelaporan dan Mekanisme pelaporan

c.

Tahapan pelaporan terdiri dari tahap-tahap pelaporan yang harus dilakukan oleh pengguna kawasan transmigrasi maupun masyarakat selama proses

pelaksanaan kegiatan pembangunan dilakukan.

d.

Pelaporan oleh pengguna kawasan transmigrasi

e.

Pelaporan oleh masyarakat umum dapat dilakukan kapan pun selama dalam pelaksanaan kegiatan pemanfaatan kawasan transmigrasi

Page 30

Subyek yang memiliki kewajiban untuk melaporkan adalah pihak pengguna kawasan transmigrasi, sedangkan subyek yang memiliki hak

untuk melaporkan adalah masyarakat luas dengan perincian sebagai

berikut:

a.

pengguna kawasan transmigrasi : berupa laporan kegiatan pembangunan yang akan digunakan untuk menilai sampai sejauh mana pelaksanaan pemanfaatan kawasan transmigrasi direalisasikan sesuai dengan rencana kawasan transmigrasi yang berlaku;

b.

masyarakat luas (pihak-pihak di luar pengguna baik yang berada

maupun tidak berada di sekitar kawasan pemanfaatan kawasan transmigrasi) : berguna sebagai penyeimbang informasi sekaligus

sebagai kontrol terhadap laporan yang dibuat oleh pengguna

kawasan transmigrasi.

Page 31

Pemantauan adalah aktivitas yang bertujuan mengamati, mengikuti dan mendokumentasikan perubahan status/kondisi suatu

Pemantauan adalah aktivitas yang bertujuan mengamati, mengikuti dan mendokumentasikan perubahan status/kondisi suatu kegiatan pemanfaatan kawasan transmigrasi suatu kawasan/obyek tertentu dalam periode waktu tertentu. Pemantauan merupakan kegiatan rutin dari instansi terkait dan merupakan tindak lanjut adanya laporan dari masyarakat, pengguna ruang, atau instansi terkait perihal adanya

dugaan pelanggaran pemanfaatan kawasan transmigrasi.

dugaan pelanggaran pemanfaatan kawasan transmigrasi. Evaluasi merupakan tindak lanjut dari kegiatan pelaporan

Evaluasi merupakan tindak lanjut dari kegiatan pelaporan dan pemantauan. Evaluasi merupakan bagian dari tindakan pengawasan yang menghasilkan kesimpulan dan rekomendasi pemanfaatan kawasan transmigrasi untuk ditindaklanjuti.

Penertiban merupakan tindakan yang harus dilakukan sesuai peraturan perundangan yang berlaku dan berdasarkan hasil

Penertiban merupakan tindakan yang harus dilakukan sesuai peraturan perundangan yang berlaku dan berdasarkan hasil

rekomendasi pada tahap evaluasi.

Penertiban dilakukan karena hasil rekomendasi dalam tahap evaluasi menunjukkan bahwa telah terjadi terhadap Rencana Kawasan Transmigrasi (RKT) yang berlaku.

Penertiban dilakukan melalui pemeriksaan (penyidikan) dan

penyelidikan atas pemanfaatan kawasan transmigrasi yang tidak sesuai dengan rencana kawasan transmigrasi yang berlaku.

Kelembagaan mencakup lembaga-lembaga yang memiliki wewenang dalam pengendalian pemanfaatan kawasan transmigrasi.

Kelembagaan mencakup lembaga-lembaga yang memiliki wewenang dalam pengendalian pemanfaatan kawasan transmigrasi. Lembaga-lembaga yang dimaksud meliputi

instansi pemerintah dan institusi-institusi terkait lainnya yang

berwenang dalam pengendalian pemanfaatan ruang.

yang berwenang dalam pengendalian pemanfaatan ruang. Pengendalian pemanfaatan kawasan transmigrasi

Pengendalian pemanfaatan kawasan transmigrasi diselenggarakan oleh pemerintah dengan melibatkan masyarakat, yang dilaksanakan secara terkoordinasi antara pemerintah dan masyarakat. Peran serta masyarakat merupakan hal yang penting karena hasil kegiatan penataan kawasan transmigrasi adalah untuk kepentingan masyarakat, serta terselenggaranya pengendalian

pemanfaatan kawasan transmigrasi.

Page 34

Page 35