Anda di halaman 1dari 29

REFERAT

AMNESIA PASCA TRAUMA


Disusun untuk Memenuhi Sebagian Syarat Dalam Mengikuti Ujian Kepaniteraan
Klinik
Ilmu Syaraf di RSUD Salatiga

Disusun oleh:
Haris Taqwa
20100310176

Pembimbing: dr. Gamasita. S.PS


PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER FAKULTAS
KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016

HALAMAN PENGESAHAN

Telah disetujui dan disahkan, presentasi kasus dengan judul


AMNESIA PASCA TRAUMA

Disusun oleh:
Nama: Haris Taqwa
No. Mahasiswa: 20100310176

Telah dipresentasikan
Hari/Tanggal: 14 Januari 2016

Disahkan oleh:
Pembimbing:

dr. Gamasita Sp.S

BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
1. DEFINISI
Pengertian Trauma Kepala
Trauma kepala atau trauma kapitis adalah suatu ruda paksa
(trauma) yang menimpa struktur kepala sehingga dapat menimbulkan
kelainan struktural dan atau gangguan fungsional jaringan otak
(Sastrodiningrat, 2009). Menurut Brain Injury Association of America,
cedera kepala adalah suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat
kongenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh serangan atau
benturan fisik dari luar, yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran
yang mana menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik
(Langlois, Rutland-Brown, Thomas, 2006).
2. Trauma Kepala
Jenis Trauma
Luka pada kulit dan tulang dapat menunjukkan lokasi (area)
dimana terjadi trauma (Sastrodiningrat, 2009). Cedera yang tampak pada
kepala bagian luar terdiri dari dua, yaitu secara garis besar adalah trauma
kepala tertutup dan terbuka. Trauma kepala tertutup merupakan fragmenfragmen tengkorak yang masih intak atau utuh pada kepala setelah luka.
The Brain and Spinal Cord Organization 2009, mengatakan trauma kepala
tertutup adalah apabila suatu pukulan yang kuat pada kepala secara tiba-tiba
sehingga menyebabkan jaringan otak menekan tengkorak.
Trauma kepala terbuka adalah yaitu luka tampak luka telah
menembus sampai kepada dura mater. (Anderson, Heitger, and Macleod,
2006). Kemungkinan kecederaan atau trauma adalah seperti berikut;
a) Fraktur
Menurut American Accreditation Health Care Commission,
terdapat 4 jenis fraktur yaitu simple fracture, linear or hairline fracture,

depressed fracture, compound fracture. Pengertian dari setiap fraktur


adalah sebagai berikut:
Simple : retak pada tengkorak tanpa kecederaan pada kulit
Linear or hairline: retak pada kranial yang berbentuk garis halus
tanpa depresi, distorsi dan splintering.
Depressed: retak pada kranial dengan depresi ke arah otak.
Compound : retak atau kehilangan kulit dan splintering pada
tengkorak. Selain retak terdapat juga hematoma subdural (Duldner,
2008).

Terdapat jenis fraktur berdasarkan lokasi anatomis yaitu terjadinya retak


atau kelainan pada bagian kranium. Fraktur basis kranii retak pada basis
kranium. Hal ini memerlukan gaya yang lebih kuat dari fraktur linear pada
kranium. Insidensi kasus ini sangat sedikit dan hanya pada 4% pasien yang
mengalami trauma kepala berat (Graham and Gennareli, 2000; Orlando Regional
Healthcare, 2004). Terdapat tanda-tanda yang menunjukkan fraktur basis kranii
yaitu rhinorrhea (cairan serobrospinal keluar dari rongga hidung) dan gejala
raccoons eye (penumpukan darah pada orbital mata). Tulang pada foramen
magnum bisa retak sehingga menyebabkan kerusakan saraf dan pembuluh darah.
Fraktur basis kranii bisa terjadi pada fossa anterior, media dan posterior (Garg,
2004).
Fraktur maxsilofasial adalah retak atau kelainan pada tulang maxilofasial
yang merupakan tulang yang kedua terbesar setelah tulang mandibula. Fraktur
pada bagian ini boleh menyebabkan kelainan pada sinus maxilari (Garg, 2004).
b) Luka memar (kontosio)
Luka memar adalah apabila terjadi kerusakan jaringan subkutan dimana
pembuluh darah (kapiler) pecah sehingga darah meresap ke jaringan sekitarnya,
kulit tidak rusak, menjadi bengkak dan berwarna merah kebiruan. Luka memar

pada otak terjadi apabila otak menekan tengkorak. Biasanya terjadi pada ujung
otak seperti pada frontal, temporal dan oksipital. Kontusio yang besar dapat
terlihat di CT-Scan atau MRI (Magnetic Resonance Imaging) seperti luka besar.
Pada kontusio dapat terlihat suatu daerah yang mengalami pembengkakan yang
di sebut edema. Jika pembengkakan cukup besar dapat mengubah tingkat
kesadaran (Corrigan, 2004).
c) Laserasi (luka robek atau koyak)
Luka laserasi adalah luka robek tetapi disebabkan oleh benda tumpul atau
runcing. Dengan kata lain, pada luka yang disebabkan oleh benda bermata tajam
dimana lukanya akan tampak rata dan teratur. Luka robek adalah apabila terjadi
kerusakan seluruh tebal kulit dan jaringan bawah kulit. Luka ini biasanya terjadi
pada kulit yang ada tulang dibawahnya pada proses penyembuhan dan biasanya
pada penyembuhan dapat menimbulkan jaringan parut.
d) Abrasi
Luka abrasi yaitu luka yang tidak begitu dalam, hanya superfisial. Luka ini
bisa mengenai sebagian atau seluruh kulit. Luka ini tidak sampai pada jaringan
subkutis tetapi akan terasa sangat nyeri karena banyak ujung-ujung saraf yang
rusak.
e) Avulsi
Luka avulsi yaitu apabila kulit dan jaringan bawah kulit terkelupas,tetapi
sebagian masih berhubungan dengan tulang kranial. Dengan kata lain intak kulit
pada kranial terlepas setelah kecederaan (Mansjoer, 2000).
3. Perdarahan Intrakranial
a. Perdarahan Epidural
Perdarahan epidural adalah antara tulang kranial dan dura mater.
Gejala perdarahan epidural yang klasik atau temporal berupa kesadaran

yang semakin menurun, disertai oleh anisokoria pada mata ke sisi dan
mungkin terjadi hemiparese kontralateral.
Perdarahan epidural di daerah frontal dan parietal atas tidak memberikan
gejala khas selain penurunan kesadaran (biasanya somnolen) yang
membaik setelah beberapa hari.
b. Perdarahan Subdural
Perdarahan subdural adalah perdarahan antara dura mater dan
araknoid, yang biasanya meliputi perdarahan vena. Terbagi atas 3 bagian
iaitu:
a) Perdarahan subdural akut
Gejala klinis berupa sakit kepala, perasaan mengantuk, dan kebingungan,
respon yang lambat, serta gelisah.
Keadaan kritis terlihat dengan adanya perlambatan reaksi ipsilateral pupil.
Perdarahan subdural akut sering dihubungkan dengan cedera otak besar
dan cedera batang otak.
b)

Perdarahan subdural subakut

Perdarahan subdural subakut, biasanya terjadi 7 sampai 10 hari setelah


cedera dan dihubungkan dengan kontusio serebri yang agak berat.
Tekanan serebral yang terus-menerus menyebabkan penurunan tingkat
kesadaran.
c)

Perdarahan subdural kronis


Terjadi karena luka ringan.
Mulanya perdarahan kecil memasuki ruang subdural.
Beberapa minggu kemudian menumpuk di sekitar membran vaskuler
dan secara pelan-pelan ia meluas.
Gejala mungkin tidak terjadi dalam beberapa minggu atau beberapa
bulan.
Pada proses yang lama akan terjadi penurunan reaksi pupil dan
motorik.

c. Perdarahan Subaraknoid
Perdarahan subaraknoid adalah perdarahan antara rongga otak dan
lapisan otak yaitu yang dikenal sebagai ruang subaraknoid (Ausiello,
2007).
d. Perdarahan Intraventrikular
Perdarahan intraventrikular merupakan penumpukan darah pada
ventrikel otak. Perdarahan intraventrikular selalu timbul apabila terjadi
perdarahan intraserebral.
e. Perdarahan Intraserebral
Perdarahan intraserebral merupakan penumpukan darah pada
jaringan otak. Di mana terjadi penumpukan darah pada sebelah otak yang
sejajar dengan hentaman, ini dikenali sebagai counter coup phenomenon.
(Hallevi, Albright, Aronowski, Barreto, 2008).
4. Tingkat Keparahan Trauma Kepala dengan Skor Koma Glasgow
(SKG)
Skala koma Glasgow adalah nilai (skor) yang diberikan pada
pasien trauma kapitis, gangguan kesadaran dinilai secara kwantitatif
pada setiap tingkat kesadaran. Bagian-bagian yang dinilai adalah;
1. Proses membuka mata (Eye Opening)
2. Reaksi gerak motorik ekstrimitas (Best Motor Response)
3. Reaksi bicara (Best Verbal Response)
Pemeriksaan Tingkat Keparahan Trauma kepala disimpulkan dalam
suatu tabel Skala Koma Glasgow (Glasgow Coma Scale).
Table 2.1 Skala Koma Glasgow

Eye Opening

Mata terbuka dengan spontan

Mata membuka setelah diperintah

Mata membuka setelah diberi rangsang nyeri

Tidak membuka mata

Best Motor Response


Menurut perintah

Dapat melokalisir nyeri

Menghindari nyeri

Fleksi (dekortikasi)

Ekstensi (decerebrasi)

Tidak ada gerakan

Best Verbal Response


Menjawab pertanyaan dengan benar

Salah menjawab pertanyaan

Mengeluarkan kata-kata yang tidak sesuai

Mengeluarkan suara yang tidak ada artinya

Tidak ada jawaban

Berdasarkan Skala Koma Glasgow, berat ringan trauma kapitis dibagi atas;
1. Trauma kapitis Ringan, Skor Skala Koma Glasgow

14 15

2. Trauma kapitis Sedang, Skor Skala Koma Glasgow

9 13

3. Trauma kapitis Berat, Skor Skala Koma Glasgow

38

a) Trauma Kepala Ringan


Dengan Skala Koma Glasgow >12, tidak ada kelainan dalam CTscan, tiada lesi operatif dalam 48 jam rawat inap di Rumah Sakit (Torner,
Choi, Barnes, 1999). Trauma kepala ringan atau cedera kepala ringan adalah
hilangnya fungsi neurologi atau menurunnya kesadaran tanpa menyebabkan
kerusakan lainnya (Smeltzer, 2001). Cedera kepala ringan adalah trauma
kepala dengan GCS: 15 (sadar penuh) tidak kehilangan kesadaran,
mengeluh pusing dan nyeri kepala, hematoma, laserasi dan abrasi
(Mansjoer, 2000). Cedera kepala ringan adalah cedara otak karena tekanan
atau terkena benda tumpul (Bedong, 2001). Cedera kepala ringan adalah
cedera kepala tertutup yang ditandai dengan hilangnya kesadaran sementara
(Corwin, 2000). Pada penelitian ini didapat kadar laktat rata-rata pada
penderita cedera kepala ringan 1,59 mmol/L (Parenrengi, 2004).
b) Trauma Kepala Sedang
Dengan Skala Koma Glasgow 9 - 12, lesi operatif dan abnormalitas
dalam CT-scan dalam 48 jam rawat inap di Rumah Sakit (Torner, Choi, Barnes,
1999). Pasien mungkin bingung atau somnolen namun tetap mampu untuk
mengikuti perintah sederhana (SKG 9-13). Pada suatu penelitian penderita
cedera kepala sedang mencatat bahwa kadar asam laktat rata-rata 3,15 mmol/L
(Parenrengi, 2004).
c) Trauma Kepala Berat
Dengan Skala Koma Glasgow < 9 dalam 48 jam rawat inap di Rumah
Sakit (Torner C, Choi S, Barnes Y, 1999). Hampir 100% cedera kepala berat dan
66% cedera kepala sedang menyebabkan cacat yang permanen. Pada cedera
kepala berat terjadinya cedera otak primer seringkali disertai cedera otak
sekunder apabila proses patofisiologi sekunder yang menyertai tidak segera
dicegah dan dihentikan (Parenrengi, 2004). Penelitian pada penderita cedera
kepala secara klinis dan eksperimental menunjukkan bahwa pada cedera kepala

berat dapat disertai dengan peningkatan titer asam laktat dalam jaringan otak dan
cairan serebrospinalis (CSS) ini mencerminkan kondisi asidosis otak (DeSalles
et al., 1986). Penderita cedera kepala berat, penelitian menunjukkan kadar ratarata asam laktat 3,25 mmol/L (Parenrengi, 2004).
4. Gejala Klinis Trauma Kepala
Menurut Reissner (2009), gejala klinis trauma kepala adalah seperti
berikut:
Tanda-tanda klinis yang dapat membantu mendiagnosa adalah:
a.

Battle sign (warna biru atau ekhimosis dibelakang telinga di atas os


mastoid)

b.

Hemotipanum (perdarahan di daerah menbran timpani telinga)

c.

Periorbital ecchymosis (mata warna hitam tanpa trauma langsung)

d.

Rhinorrhoe (cairan serobrospinal keluar dari hidung)

e.

Otorrhoe (cairan serobrospinal keluar dari telinga)


Tanda-tanda atau gejala klinis untuk yang trauma kepala ringan;
f.

Pasien tertidur atau kesadaran yang menurun selama beberapa saat


kemudian sembuh.

g. Sakit kepala yang menetap atau berkepanjangan.


h. Mual atau dan muntah.
i.

Gangguan tidur dan nafsu makan yang menurun.

j.

Perubahan keperibadian diri.

k.

Letargik.
Tanda-tanda atau gejala klinis untuk yang trauma kepala berat;
l.

Simptom atau tanda-tanda cardinal yang menunjukkan peningkatan


di otak menurun atau meningkat.

m. Perubahan ukuran pupil (anisokoria).


n. Triad Cushing (denyut jantung menurun, hipertensi, depresi
pernafasan).

d. Apabila meningkatnya tekanan intrakranial, terdapat pergerakan


atau posisi abnormal ekstrimitas.
5. Penyebab Trauma Kepala
Mekanisme Terjadinya Cedera
Beberapa mekanisme yang timbul terjadi trauma kepala adalah
seperti translasi yang terdiri dari akselerasi dan deselerasi. Akselerasi
apabila kepala bergerak ke suatu arah atau tidak bergerak dengan tiba-tiba
suatu gaya yang kuat searah dengan gerakan kepala, maka kepala akan
mendapat percepatan (akselerasi) pada arah tersebut.
Deselerasi apabila kepala bergerak dengan cepat ke suatu arah
secara tiba-tiba dan dihentikan oleh suatu benda misalnya kepala
menabrak tembok maka kepala tiba-tiba terhenti gerakannya. Rotasi
adalah apabila tengkorak tiba-tiba mendapat gaya mendadak sehingga
membentuk sudut terhadap gerak kepala. Kecederaan di bagian muka
dikatakan fraktur maksilofasial (Sastrodiningrat, 2009).
Penyebab Trauma Kepala
Menurut Brain Injury Association of America, penyebab utama
trauma kepala adalah karena terjatuh sebanyak 28%, kecelakaan lalu lintas
sebanyak 20%, karena disebabkan kecelakaan secara umum sebanyak 19%
dan kekerasan sebanyak 11% dan akibat ledakan di medan perang
merupakan penyebab utama trauma kepala (Langlois, Rutland-Brown,
Thomas, 2006).
Kecelakaan lalu lintas dan terjatuh merupakan penyebab rawat inap
pasien trauma kepala yaitu sebanyak 32,1 dan 29,8 per100.000 populasi.
Kekerasan adalah penyebab ketiga rawat inap pasien trauma kepala
mencatat sebanyak 7,1 per100.000 populasi di Amerika Serikat (
Coronado, Thomas, 2007). Penyebab utama terjadinya trauma kepala
adalah seperti berikut:
a) Kecelakaan Lalu Lintas

Kecelakaan lalu lintas adalah dimana sebuah kenderan


bermotor bertabrakan dengan kenderaan yang lain atau benda lain
sehingga menyebabkan kerusakan atau kecederaan kepada pengguna
jalan raya (IRTAD, 1995).
b) Jatuh
Menurut KBBI, jatuh didefinisikan sebagai (terlepas) turun atau
meluncur ke bawah dengan cepat karena gravitasi bumi, baik ketika
masih di gerakan turun maupun sesudah sampai ke tanah.
c) Kekerasan
Menurut KBBI, kekerasan didefinisikan sebagai suatu perihal
atau perbuatan seseorang atau kelompok yang menyebabkan cedera atau
matinya orang lain, atau menyebabkan kerusakan fisik pada barang atau
orang lain (secara paksaan).

II. DEFINISI
A. Amnesia
Amnesia (dari Bahasa Yunani ) adalah kondisi terganggunya
daya ingat. Penyebab amnesia dapat berupa organik atau fungsional.
Penyebab organik dapat berupa kerusakan otak, akibat trauma atau
penyakit, atau penggunaan obat-obatan (biasanya yang bersifat sedatif).
Penyebab fungsional adalah faktor psikologis, seperti halnya mekanisme
pertahanan ego. Amnesia dapat pula terjadi secara spontan, seperti terjadi
pada transient global amnesia. Jenis amnesia global ini umum terjadi
mulai usia pertengahan sampai usia tua, terutama pada pria, dan biasanya
berlangsung kurang dari 24 jam. amnesia hanya berlangsung selama
beberapa menit sampai beberapa jam dan akan menghilang dengan
sendirinya. pada cedera otak yang hebat, amnesia bisa bersifat menetap.

Jenis-jenis amnesia
1. Amnesia menyeluruh sekejap merupakan serangan lupa akan waktu,
tempat dan orang, yang terjadi secara mendadak dan berat. serangan bisa
hanya terjadi satu kali seumur hidup, atau bisa juga berulang. serangan
berlangsung selama 30 menit sampai 12 jam atau lebih. arteri kecil di otak
mungkin mengalami penyumbatan sementara sebagai akibat dari
aterosklerosis. pada penderita muda, sakit kepala migren (yang untuk
sementara waktu menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otak) bisa
menyebabkan anemia menyeluruh sekejap. peminum alkohol atau pemakai
obat penenang dalam jumlah yang berlebihan (misalnya barbiturat dan
benzodiazepin), juga bisa mengalami serangan ini. penderita bisa
mengalami kehilangan orientasi ruang dan waktu secara total serta ingatan
akan peristiwa yang terjadi beberapa tahun sebelumnya. setelah suatu
serangan, kebingungan biasanya akan segera menghilang dan penderita
sembuh total.
2. Sindroma wernicke-korsakoff alkoholik dan penderita kekurangan gizi
lainnya bisa mengalami amnesia. Sindroma ini terdiri dari kebingungan
akut (sejenis ensefalopati) dan amnesia yang berlangsung lama. Kedua hal
tersebut terjadi karena kelainan fungsi otak akibat kekurang vitamin b1
(tiamin). mengkonsumsi sejumlah besar alkohol tanpa memakan makanan
yang mengandung tiamin menyebabkan berkurangnya pasokan vitamin ini
ke otak. penderita kekurangan gizi yang mengkonsumsi sejumlah besar
cairan lainnya atau sejumlah besar cairan infus setelah pembedahan, juga
bisa mengalami ensefalopati wernicke.penderita ensefalopai wernicke akut
mengalami kelainan mata (misalnya kelumpuhan pergerakan mata,
penglihatan ganda atau nistagmus), tatapan matanya kosong, linglung dan
mengantuk. untuk mengatasi masalah ini biasanya diberikan infus tiamin.
jika tidak diobati bisa berakibat fatal.

Amnesia

korsakoff

terjadi

bersamaan

dengan

ensefalopati

wernicke. jika serangan ensefalopati terjadi berulang dan berat atau jika
terjadi gejala putus alkohol, maka amnesia korsakoff bisa bersifat
menetap. hilangnya ingatan yang berat disertai dengan agitasi dan
delirium. penderita mampu mengadakan interaksi sosial dan mengadakan
perbincangan yang masuk akal meskipun tidak mampu mengingat
peristiwa yang terjadi beberapa hari, bulan atau tahun, bahkan beberapa
menit sebelumnya.
Amnesia korsakoff juga bisa terjadi setelah cedera kepala yang
hebat, cardiac arrest atau ensefalitis akut. pemberian tiamin kepada
alkoholik kadang bisa memperbaiki ensefalopati wernicke, tetapi tidak
selalu dapat memperbaiki amnesi korsakoff. Jika pemakaian alkohol
dihentikan atau penyakit yang mendasarinya diobati, kadang kelainan ini
menghilang dengan sendirinya.
3. Amnesia Lakunar, yakni amnesia tidak bisa mengingat satu kejadian.
4. Amnesia emosional, yakni hilangnya ingatan karena trauma psikologis,
biasanya bersifat sementara.
5. Transient global amnesia merupakan kehilangan sementara seluruh
memori namun secara khusus disertai anterograde amnesia dan juga
retrograde amnesia ringan. Ini sangat jarang terjadi dan umumnya terjadi
pada orang usia lanjut dengan penyakit vaskuler. Penyebab terjadinya
amnesia bervariasi mulai dari trauma psikologis sampai kerusakan otak
karena. Kerusakan otak bisa disebabkan oleh trauma/kecelakaan, tumor,
stroke, maupun pembengkakan otak
6. Amnesia Lakunar yang merupakan ketidakmampuan mengingat kejadian
tertentu.
7. Anterograde amnesia: kejadian baru dalam ingatan jangka pendek tidak
ditransfer ke ingatan jangka panjang yang permanen. Penderitanya tidak
akan bisa mengingat apapun yang terjadi setelah munculnya amnesia ini
walaupun baru berlalu sesaat.

8. Retrograde amnesia: ketidakmampuan memunculkan kembali ingatan


masa lalu yang lebih dari peristiwa lupa biasa.

Kedua kategori amnesia terakhir dapat muncul bersamaan pada pasien yang sama.
Contohnya seperti pada pengendara sepeda motor yang tidak mengingat akan
pergi kemana dia sebelum tabrakan (retrograde amnesia), juga melupakan tentang
kejadian di rumah sakit dua hari setelahnya (anterograde amnesia).

PROSES PEMBENTUKAN MEMORI


Proses pembentukan ingatan merupakan proses yang kompleks dan masih belum
banyak dimengerti. Ingatan atau memori merupakan hasil dari perubahan kimia
atau struktural pada penyaluran sinyal yang terjadi antar sel saraf satu dan lainnya.
Adanya perubahan tersebut mengakibatkan terbentuknya semacam jalur
perambatan sinyal. Jalur ini disebut dengan memory traces. Sinyal dapat berjalan
sepanjang memory traces tersebut menuju ke otak.
Pertama-tama, memori disimpan sebagai memori jangka pendek. Memori jangka
pendek adalah memori yang bertahan dalam hitungan detik sampai jam, seperti
ketika kita mengingat nomor telepon. Memori jangka panjang bisa bertahan dalam
hitungan hari, tahun, bahkan seumur hidup.
Proses perubahan memori jangka pendek dan jangka panjang disebut
proses konsolidasi. Pada proses tersebut, memori jangka pendek mengalami
perangsangan berulang-ulang sehingga terjadi perubahan yang lebih permanen
pada sel saraf. Proses tersebut diduga terjadi pada bagian temporal otak yang
disebut hipokampus.
Amnesia retrograde biasanya terjadi setelah insiden yang mengganggu
aktivitas listrik otak, misalnya karena stroke atau benturan pada kepala. Pada saat
itu, memori jangka pendek terganggu sehingga orang tersebut tidak dapat

mengingat kejadian beberapa jam sebelum insiden tersebut. Trauma yang lebih
parah dapat pula mengganggu memori jangka panjang.
Amnesia anterograde, yang terjadi adalah ketidakmampuan menyimpan
memori pada penyimpanan jangka panjang untuk kemudian dikeluarkan kembali.
Biasanya amnesia ini terkait dengan kerusakan pada bagian temporal otak yang
bertanggung jawab untuk konsolidasi. Orang yang menderita amnesia tipe ini
dapat mengingat apa yang mereka pelajari sebelum terjadinya amnesia, tapi
mereka tidak dapat menyimpan memori baru yang permanen. Di samping itu,
pada kasus-kasus amnesia, memori yang menyangkut kemampuan-kemampuan
yang dipelajari seperti kemampuan bahasa, berolahraga, berhitung, termasuk
identitas diri tidak akan hilang kecuali pada kasus transient global amnesia yang
jarang sekali terjadi. Jadi, jangan mudah percaya jika pada film yang Anda tonton
sang tokoh mengalami amnesia sampai lupa identitas dirinya.
Orang-orang yang menderita amnesia biasanya akan pulih seiring berjalannya
waktu. Selama proses pemulihan, mereka biasanya mengingat memori yang sudah
lebih lama disimpan, lalu baru mengingat memori yang lebih baru terjadi, sampai
seluruh memori yang hilang pulih. Akan tetapi, memori yang terjadi sekitar waktu
terjadinya amnesia terkadang tidak pernah pulih. Untuk mempercepat pemulihan
amnesia, biasanya diberikan terapi atau obat-obatan yang meningkatkan fungsi
otak. Di luar terapi dan obat-obatan, cara yang paling ampuh adalah menyediakan
kondisi yang memberi rasa aman bagi penderita.

B.

Amnesia Pasca Trauma


Amnesia pasca trauma didefinisikan pertama kali oleh Russell dan
Smith sebagai periode setelah trauma kapitis dimana informasi tentang
kejadian yang berlangsung tidak tersimpan. Russel dan Smith kemudian
memperhalus

konsep

PTA untuk

memfokuskan

pada

gangguan

penyimpanan informasi kejadian yang berlangsung. Dalam istilah

neuropsikologi kognitif, PTA adalah suatu gangguan pada memori


episodik yang digambarkan sebagai ketidakmampuan. pasien untuk
menyimpan informasi kejadian yang terjadi dalam konteks temporospatial
yang spesifik. Akan tetapi, fase penyembuhan dini setelah gangguan
kesadaran juga dikarakteristikkan oleh gangguan atensi dan perubahan
behavioral yang bervariasi dari mulai letargi sampai dengan agitasi. 7
Amnesia pasca trauma merupakan masa transisional antara koma
dan kembalinya kesadaran penuh seseorang dimana di interval waktu itu,
orang tersebut mengalami kebingungan, tidak mengingat kejadian yang
sudah dan/atau sedang berlangsung serta adanya gangguan perilaku.8
EPIDEMIOLOGI
Data epidemiologis tentang cedera kepala di Indonesia hingga saat ini
belum tersedia, namun dari data yang ada dikatakan dari tahun ke tahun
mengalami peningkatan. Data cedera kepala di Makassar khususnya di Rumah
Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo pada tahun 2005 berjumlah 861 kasus, tahun
2006 berjumlah 817 kasus dan tahun 2007 berjumlah 1078 kasus. Sekitar 59%
adalah cedera kepala ringan, 24% cedera kepala sedang dan 17% cedera kepala
berat. Pada penelitian lain, dalam kurung waktu 3 bulan (November 2011-April
2012) ditemukan 524 penderita cedera kepala, 103 diantaranya mengalami
delirium dan terdiri dari 27,2% merupakan cedera kepala sedang, dan 72,8 %
cedera kepala ringan.4 Pada penelitian yang dilakukan Tate dkk di sebuah pusat
rehabilitasi, 70% dari pasien yang mengalami cedera kepala mengalami gangguan
ingatan, baik itu amnesia retrograde maupun amnesia anterograde, dan gangguan
perilaku.8
KLASIFIKASI
Post traumatic amnesia dapat dibagi dalam 2 tipe. Tipe yang pertama

adalah retrograde, yang didefinisikan oleh Cartlidge dan Shaw, sebagai hilangnya
kemampuan secara total atau parsial untuk mengingat kejadian yang telah terjadi
dalam jangka waktu sesaat sebelum trauma kapitis. Amnesia jenis ini
mempengaruhi memori yang sudah terbentuk beberapa menit, hari, bulan bahkan
tahun sebelum trauma pada otak terjadi.9 Tipe yang kedua dari PTA adalah
amnesia anterograde, suatu defisit dalam membentuk memori baru setelah
terjadinya trauma pada otak. Memori anterograde biasanya merupakan fungsi
terakhir yang kembali setelah pasien kembali sadar post trauma. 3 Amnesia
anterograde biasanya terjadi tanpa disertai amnesia retrograde, namun jarang
ditemukan amnesia retrograde yang tidak disertai amnesia anterograde.9
ANATOMI DAN FISIOLOGI MEMORI
Ada tiga bagian pada otak yang jika mengalami kerusakan dapat
menyebabkan

gangguan

pada

memori,

yaitu

lobus

temporalis

medial,

diencephalon dan basal forebrain. Struktur pada lobus temporalis medial yang
memegang peranan yang penting dalam mengingat di antaranya adalah
hipokampus, dan area korteks di sekitarnya yang secara anatomi terkait dengan
hipokampus, khususnya entorhinal, perirhinal dan korteks parahipokampus. Area
terbesar yang berperan dalam tugas memory recall adalah di lobus temporalis
medial posterior, khususnya hipokampus dan girus parahipokampus. Penelitian
yang dilakukan dengan mengangkat hipokampus (termasuk girus dentatus dan
kompleks subicular), amygdale dan area korteks yang berhubungan dengan
hipokampus dan amygdale akan menghasilkan gangguan pada memori yang
sangat parah. Penelitian dengan menggunakan tikus dan monyet juga
menunjukkan bahwa amygdale memegang peranan yang penting untuk jenis-jenis
memori yang lain, seperti memori tentang rasa takut dan jenis memori lainnya
yang berubah akibat pengalaman seseorang.
Kerusakan pada region diencephalic sudah dihubungkan dengan amnesia
hampir sejak seabad yang lalu. Ada dua struktur yang memegang peranan penting

di diencephalon yaitu nucleus mammilari dan nucleus medio-dorsal thalamic.


Namun, kerusakan pada nucleus lain di diencephalon juga bisa mengakibatkan
gangguan pada memori.10

Gambar 1
Memori paling sering berawal dari impresi sensoris. Stimulasi sensoris
ditangkap oleh reseptor tubuh akan diteruskan ke korteks sensorik primer yang
bersangkutan. Impuls kemudian diteruskan ke korteks sensorik sekunder dan
akhirnya ke stasiun akhir asosiasi yang akan menimbulkan respon terhadap
stimuli. Semua system sensoris kortkes mempunyai hubungan timbal balik
langsung dengan amigdala.
Hipokampus dan amigdala mengirim serat proyeksi ke thalamus dan
hipotalamus, yaitu suatu kumpulan nuclei diencephalon. Diensephalon dan system
limbic ini membentuk suatu sirkuit memori. Hipotalamus yang berperan sebagai
sumber respon emosional mempunyai hubungan timbale balik dengan amigdala.
Di amigdala banyak terdapat neuron pembentuk neurotransmitter opioid yang
diduga berfungsi sebagai penyaring dalam respon terhadap keadaan emosional
yang dibangkitkan di hipotalamus.

Hipokampus juga berperan mengkonsolidasi memori baru. Nucleus


thalamus mengirim proyeksi serat ke struktur limbic yang kemudian mengirim
seratnya ke korteks prefrontal. Pada manusia, bila lobus frontalis rusak, maka
penderita tidak dapat menyimpan informasi baru dalam memori.11
Pada beberapa penelitian tentang amnesia pada manusia dan beberapa
pada hewan percobaan diperoleh informasi tentang hubungan neuron dan struktur
yang mengalami kerusakan. Pada manusia, kerusakan terbatas pada hipokampus
(sebuah struktur dalam lobus temporalis medial) dapat mengakibatkan amnesia
yang cukup parah. Keparahan gangguan ingatan diperberat jika ada kerusakan
tambahan pada struktur di lobus temporalis medial selain hipokampus.6
Terjadinya amnesia post trauma kepala pada penderita cedera kepala
menunjukkan adanya kerusakan otak yang difus. Gangguan pada struktur
hipokampus/lobus temporalis medial akan memberikan gambaran klinis berupa
gangguan memori anterograde, sedangkan lesi pada struktur diensefalon (corpus
mammilaris) dan atau thalamus akan menyebabkan kesulitan mengingat kembali
memori retrograde.4

Gambar 2

Jenis memori dan struktur yang berperan

DIAGNOSIS
A. Anamnesis
Untuk mendiagnosis amnesia, khususnya amnesia pasca trauma, dapat
digunakan beberapa pertanyaan sebagai parameter. Pertanyaan pertama adalah
apa yang dilupakan oleh pasien? Pada temporal amnesia, semua memori
verbal pasien dalam periode waktu tertentu terhapus. Pada amnesia
kategorikal, semua memori verbal pasien tentang suatu topic tanpa
memandang periode waktu ataupun tempat tertentu terhapus. Salah satu
contoh kategorikal amnesia adalah pasien tidak bisa mengingat identitas
dirinya dengan masa lalunya, walaupun dia masih bisa mengingat informasi
non-personal seperti fakta atau sejarah-sejarah di masa lalu. Pada beberapa
kasus, amnesia temporal dan kategorikal dapat terjadi bersamaan. Sebagai
contoh adalah amnesia global dimana pasien tidak bisa mengingat informasi
apapun baik identitas dirinya maupun informasi non-personal.
Pertanyaan kedua yang bisa ditanyakan adalah periode waktu apa
yang hilang dari ingatan pasien? Amnesia paling sering ditemui adalah
amnesia retrograde dimana pasien tidak bisa mengingat peristiwa yang terjadi
sesaat sebelum terjadinya trauma atau penyakit yang menyebabkan amnesia.
Selain itu jenis amnesia yang jarang terjadi yaitu amnesia anterograde, dimana
pasien tidak bisa mengingat peristiwa yang terjadi setelah trauma terjadi.
Pertanyaan ketiga adalah apa yang mencetuskan atau menyebabkan
terjadinya amnesia tersebut? Faktor presipitasinya dapat berupa trauma (fisik
ataupun shock emosional) dan non traumatic (akibat dari suatu penyakit).1

Gejala Klinis
Pada trauma kepala dengan amnesia pasca trauma, pasien dapat
mengalami kebingungan, disorientasi, amnesia retrograde ataupun amnesia
anterograde bahkan kadang-kadang gelisah.9, 12 Durasi amnesia pasca trauma
sangatlah bervariasi, antara menit sampai bulan. Walaupun pada fase awal,
amnesia pasca trauma mudah dikenali, namun menentukan waktu berakhirnya
sangatlah sulit dan kompleks. Pada beberapa kasus, akhir dari amnesia pasca
trauma tidak dapat ditentukan karena terjadi gangguan ingatan yang kronis.8
Pada pasien dengan amnesia pasca trauma dapat ditemukan satu atau beberapa
hal berikut ini:
-

Disorientasi dan/atau kebingungan


Gelisah, tidak bisa tenang
Agresif
Mengerang, bertingkah seperti anak-anak
Berperilaku social yang tidak pantas

Rasa takut atau paranoid

Hipersensitivitas terhadap cahaya

Capek

Penurunan konsentrasi atau perhatian

Hilangnya ingatan yang berkelanjutan

Halusinasi

Konfabulasi (membuat cerita-cerita yang tidak nyata)

Pengulangan gerakan atau pikiran

Hanya focus pada satu topic

Siklus tidur terganggu

Impulsive

Berkurangnya

kemampuan

menyelesaikan sesuatu.13
C. Pemeriksaan Penunjang

untuk

membuat

rencana

ataupun

Sampai saat ini, belum ada gold standard untuk menilai amnesia pasca
trauma. 12
Penilaian tentang amnesia pasca trauma yang paling banyak digunakan
sekarang GOAT adalah yang paling banyak digunakan. Penilaian ini pendek
dan mudah digunakan. Penilaiannya terdiri dari sejumlah poin yang
ditambahkan ketika menjawab dengan benar atau jumlah kesalahan. Skor yang
mendekati angka 100, berarti fungsi masih terjaga. Tes ini dapat diberikan
beberapa kali dalam sehari, meskipun pada hari yang berturut-turut. Sehingga
dapat dibuat grafik untuk menggambarkan perjalanan kapasitas dari mulai
waktu tertentu sampai orientasi total tercapai. Pengarang dari test ini percaya
bahwa tes ini sesuai bagi seorang pasien untuk memulai pemeriksaan kognitif
ketika skor 75 dicapai pada tes ini yang mengindikasikan pasien tidak
mengalami kebingungan dan disorientasi lagi.7 Akan tetapi validitas dan
reabilitas GOAT dan statusnya sebagai gold standard dalam penilaian PTA
masih diperdebatkan berhubungan dengan akurasi yang tidak sempurna karena
tidak semua jawaban yang diberikan oleh pasien tentang pertanyaan tentang
memorinya dapat diverifikasi.12

Gavelston Orientation and Amnesia Test (GOAT)


PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pasien amnesia pasca trauma membutuhkan sebuah tim
untuk melakukan pendekatan dalam rangka membuat dan menjaga lingkungan
yang rendah stimulus, tenang, dan mendukung proses pemulihan pasien. Pada
tahap awal, hal-hal yang diajurkan adalah:
-

Jika memungkinkan, pasien ditempatkan dalam ruang yang berkapasitas


khusus untuk satu pasien.

Lingkungan yang tenang, untuk mengurangi stimulus eksternal seperti


televisi, radio, lampu terang, dan kebisingan

Buat lingkungan yang aman dan familiar kepada pasien, menggunakan


benda-benda dan gambar

Jangan biarkan pasien terstimulasi secara berlebihan.


Semua yang dapat pasien lihat, dengar ataupun rasakan yang dapat

menyebabkan mereka berpikir adalah stimulus, oleh karena itu benda-benda di


ruangan pasien harus seminimal mungkin. Alat-alat yang tidak diperlukan
seperti perabot yang tidak perlu, tabung oksigen, meja-meja, kursi-kursi,
symbol-simbol (kecuali yang diperlukan untuk rehabilitasi pasien), atau majalah
harus dikeluarkan. Jaga lampu agar tidak terlalu terang dan ruangan tidak terlalu
bising. Ketika berinteraksi dengan pasien, usahakan agar percakapan dan
instruksi tetap sederhana dan mudah dimengerti oleh pasien. Berbicaralah
dengan tenang dan meyakinkan. Pada tahap awal, gunakan pertanyaanpertanyaan yang hanya memerlukan jawaban singkat seperti ya atau tidak.

Pasien mungkin membutuhkan bantuan dalam membuat keputusan-keputusan.13


Ada banyak teknik rehabilitasi yang bisa digunakan untuk sebagai terapi
pada pasien amnesia. Intervensi bisa focus pada penggunaan teknik kompensasi
seperti notes, diari, ataupun melalui program-program yang melibatkan
partisipasi aktif dari individu, keluarga dan teman-temannya. 9
PROGNOSIS
Amnesia

pasca

trauma

merupakan

indikator

penting

untuk

mengklasifikasikan tingkat keparahan trauma kepala. Durasi amnesia pasca


trauma lebih efektif dalam menentukan prognosis jika dibandingkan dengan
indicator lainnya seperti GCS.14 Semakin lama durasi APT, maka semakin banyak
perubahan neurobehaviour yang dijumpai dan deficit yang paling sering dijumpai
adalah pada memori dan gejala fisik.

Durasi amnesia pasca trauma sangatlah bervariasi, antara menit sampai


bulan. Walaupun pada fase awal, amnesia pasca trauma mudah dikenali, namun
menentukan waktu berakhirnya sangatlah sulit dan kompleks. Pada beberapa
kasus, akhir dari amnesia pasca trauma tidak dapat ditentukan karena terjadi
gangguan ingatan yang kronis

Daftar Pustaka
1. Suarez JM, Pittluck AT. Global Amnesia : Organic dan Fungsional
Considerations. The Bulletin.
2. Guyton AC, Hall JE. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 11 ed. Jakarta:
EGC; 2007.
3. Cantu

RC. Posttraumatic

Retrograde

and Anterograde Amnesia:

Pathophysiology and Implications in Grading and Safe Return to Play.


Journal of Athletic Training 2001;36(3):244-248.
4. Zainuddin SZ, Kwandou L, Akbar M. Hubungan Amnesia Post Trauma
Kepala dengan Gangguan Neurobehavior pada Penderita Cedera Kepala
Ringan dan Sedang: Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.
5. Kopelman MD. Disorders of memory. Brain 2002;125:2152-2190.
6. Shrager Y, Squire LR. Amnesia. Scholarpedia;3(8):2789.
7. Asrini S, Dhanu R, Sjahrir H. Peranan Post Traumatic Amnesia (PTA) dan
Parameter Laboratorium Sebagai Prediktor Terhadap Outcome pada
Penderita Trauma Kapitis Akut Ringan-Sedang. USU e-Repository 2008.
8. Tate R, Pfaff A, Bagulley I. A multicentre, randomised trial examining the
effect of test procedures measuring emergence from posttraumatic
amnesia. J Neurol Neurosurg Psychiatry 2006(77):841-849.
9. Guise Ed. Amnesia. International Encyclopedia of Rehabilitation 2010.
10. Morgan SZ, Squire L. Neuroanatomy of Memory. Annu. Rev. Neurosci

1993;16:547-563.
11. Sumadikarya IK. Memori Jangka Pendek : Penerimaan, Penyimpanan, dan
Pemanggilan Informasi. Meditek 1999;7(20):53-62.
12. Bram J, Ekert Jv, Vernooy LP. Development and external validation of a
new PTA assessment scale. BMC Neurology 2012;12(69):1-9.
13. Gumm K, T T, L O. Post Traumatic Amnesia Screening and Management.
In: Traumatology, editor. The Royal Melbourne Hospital; 2014.
14. Nakase-Richardson R, Sepehri A, Sherer M. Classification Schema of
Posttraumatic Amnesia Duration-Based Injury Severity Relative to 1-Year
Outcome: Analysis of Individuals with Moderate and Severe Traumatic
Brain Injury. Arch Phys Med Rehabil 2009;90:17-19.