Anda di halaman 1dari 8

ANALISIS PENGUKURAN KERJA

WAKTU PROSES OPERASI PEMBUATAN TAS RAJUT


DI PABRIK TAS RAJUT KABOKI HOUSE OF CROCHET
PASURUAN - JAWA TIMUR
RAMADHANI ETIKA WULANDARI1, MUHAMMAD ALIFIAN NURIMAN2 ,
VINDA FERDHIANI3, DEDI SETIAWAN4
1,2, Jurusan

Statistika FMIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember-Surabaya


NRP: 11314100001, 21314100041, 11314100069, 21314100071

ABSTRAK
Pengukuran Kerja sangat perlu dalam dunia kerja, karena dengan analisis pengukuran kerja maka,
dapat diketahui apakah semua hal yang berkaitan proses kerja sudah optimal dan sudah benar. Dalam
kasus dalam laporan ini adalah pengukuran kerja untuk pabrik Tas Rajut Kaboki House of Crocchet di
Pasuruan-Jawa Timur. Pengamatan dilakukan secara langsung untuk mengetahui proses operasi
pembuatan tas rajut ini. Di sini, penulis hanya menggunakan metode Peta Kerja dan Jumlah Karyawan
yang Optimal.
Peta kerja adalah merupakan alat komunikasi yang sistematis dan logis guna menganalisis proses
kerja dari tahap awal sampai akhir. Peta kerja yang cocok untuk alur tahapan proses pembuatan tas rajut
Kaboki ini. Dengan melihat peta kerja diagram alir ini maka akan diketahui apakah tata letak setiap
stasiun kerja sudah benar atau belum, dan dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa ada penempatan
stasiun kerja yang belum efektif yaitu pada stasiun kerja reject dan tepong.
Optimal atau tidak jumlah karyawan (operator) dalam tiap tahapan peoses operasi dapat dilihat
dengan indikassi adanya botle-neck untuk kasus Kaboki ini terlihat bahwa adanya botle-neck yaitu pada
proses penjahitan, dimana pada tahap ini produk yang di hasilkan lebih sedikit dari pada produk yang
dihasilkan pada tahapan selanjutnya yaitu proses operasi cleaning. Maka dapat disimpulkan bahwa
penempatan jumlah karyawan di pabrik Kaboki ini belum optimal. Jika pabrik tas rajut Kaboki ini
menghendaki jumlah produk yang dihasilkan setiap bulannya sebanyak 4000 tas (jumlah keseluruhan yang
di accept dan yang reject) sebulan setara dengan 25 hari kerja, sehari 8 jam kerja maka jumlah karyawan
yang ditambah sebanyak 17 orang.
Kata Kunci : Karyawan , Peta Kerja,Tas

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tas adalah suatu wadah yang
digunakan untuk meletakkan barang agar
bisa dibawa ke mana pun kita pergi. Dalam
kehidupan sehari-hari, tas merupakan
bagian bagi style hidup. Bukan hanya
sekedar sebagi alat bantu untuk membawa
barang, namun kini tas menjadi bagian dari
tren fashion. Terdapat berbagai macam
jenis tas, mulai dari model, warna, jenis
bahan yang dipakai, dan harga sangat

bervariasi. Pemilihan jenis bahan yang


dipakai dalam pembuatan tas amatlah
penting, karena hal tersebut menentukan
kualitas dari sebuah tas. Dengan pemilihan
jenis bahan yang baik, membuat tas akan
lebih diminati karena akan membuat
kualitas tas terlihat unik dari bahan yang
dipakai. Apakah tas tersebut memiliki
bahan yg lembut, kuat atau faktor lainnya
yang membuat tas tersebut lebih unik dari
yang lainnya.

Salah satu pabrik tas yang membuat tas


dengan pemilihan bahan yang baik dan
melihat model trend fashion yang sedang
booming adalah KABOKI House of
Crochet. Kaboki yang terdaftar milik PT.
Valesia ini, memproduksi tas rajut yang
memiliki berbagai macam model yang unik
dan trendy. Dalam proses kerja pembuatan
tas rajut, KABOKI menggunakan tenaga
manusia dan mesin jahit. Tas hasil produksi
KABOKI dirajut secara manual oleh
karyawan-karyawan
yang
memiliki
kreativitas tinggi dengan model rajutan yang
cantik sehingga membuat tas menjadi
terlihat lebih unik daripada tas-tas biasanya.
Dalam proses kerja pembuatan tas rajut,
terdapat kelompok-kelompok kerja atau
stasiun kerja yang berkesinambungan untuk
merakit benang rajut hingga menjadi tas
rajut siap pakai. Digunakannya tenaga
manusia, memiliki resiko yang dapat
menghambat proses kerja di setiap
kelompok kerja sehingga akan terjadi
penumpukan di salah satu stasiun kerja yang
biasa disebut bottle-neck. Oleh karena itu,
dalam makalah ini, akan dianalisis tentang
adanya bottle-neck dalam pembuatan tas
rajut dan bentuk dari peta kerja pembuatan
tas rajut KABOKI House of Crochet.
Dengan adanya analisis tersebut, maka dapat
membantu memberikan saran kepada
KABOKI House of Crochet agar dapat
membantu menyelesaikan masalah dalam
proses kerja pembuatan tas rajut.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini
yaitu.
1.

2.

Bagaimana bentuk dari peta kerja


dalam pembuatan tas rajut KABOKI
House of Crochet?
Berapa jumlah karyawan yang harus
ada jika diinginkan terdapat 4000
produk tas yang dihasilkan setiap
bulannya?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui bentuk dari peta kerja
dalam pembuatan tas rajut KABOKI
House of Crochet?
2. Mengetahui jumlah karyawan yang
harus ada jika diinginkan terdapat 4000
produk tas yang dihasilkan setiap
bulannya
1.4 Manfaat
Manfaat
yang
didapatkan
dari
penelitian ini yaitu mampu menerapkan
teori-teori yang ada dalam materi kuliah
Teknik Pengukuran Kerja terutama dalam
analisis untuk mengetahui jumlah operator
yang optimal dan pembuatan peta kerja.
Selain itu, makalah ini juga memberikan
informasi tentang proses kerja pembuatan
tas rajut KABOKI House of Crochet.
II. TINJAUAN PUTAKA
2.1 Peta Kerja
Peta kerja merupakan alat komunikasi
yang sistematis dan logis guna menganalisis
proses kerja dari tahap awal sampai akhir.
Dari peta kerja ini kita bias mengetahui
informasi-informasi yang diperlukan untuk
memperbaiki metode kerja serta dapat
melihat cara kerja dan langkah demi langkah
untuk menghasilkan suatu produk.
Peta kerja dibagi menjadi 4 jenis, yaitu
peta proses operasi, peta aliran proses, peta
proses kelompok kerja, dan diagram aliran.
Di dalam pembuatan peta kerja terdapat
simbol-simbol yang diperlukan untuk
memudahkan membuat suatu peta kerja
karena setiap notasi mempunyai fleksibilitas
yang tinggi yaitu bahwa setiap simbol
mempunyai arti tertentu. Pada umunya
terdapat 5 macam lambang yang biasa
digunakan dalam membuat peta kerja,
yaitu operasi, transportasi, pemeriksaan,
delay, dan penyimpanan.

Gambar

Keterangan

Contoh

Operasi

Memaku,
mengebor,
mengetik

Transportasi

Memindahkan
barang

Pemeriksaan

Menguji
kualitas barang

Menunggu
(Delay)

Menunggu
pemrosesan
barang

Penyimpanan

Barang jadi
disimpan
dalam gudang

Gambar 2.1 Lambang yang digunakan dalam


membuat peta kerja.

Peta kerja bertujuan untuk menganalisis


suatu perkerjaan yang melibatkan semua
sistem kerja untuk membuat suatu produk.
a.

Diagram Aliran (Flow Diagram)


Peta diagam aliran menggambarkan
semua aktivitas baik produktif maupun tidak
produktif yang terlibat dalam proses
pelaksanaan kerja. Penggambaran peta
diagram aliran dilakukan diatas gambar
layout dari fasilitas kerja.
Tujuan dalam pembuatan diagram
aliran yaitu untuk mengevaluasi langkahlangkah proses dalam siatuasi yang lebih
jelas sehingga dapat dilakukan perbaikan
didalam desain layout fasilitas produksi
yang ada.
Peta Aliran proses dapat memberikan
informasi yang tepat mengenai proses kerja
yang berlangsung tetapi perlu ditambahkan
informasi berupa gambar atau sketsa yang
berupa gambar atau sketsa yang
menunjukkan area kerja di mana proses
berlangsung.

Berikut adalah gambar contoh dari peta


diagram aliran:

Gambar 2.2 Contoh peta diagram aliran (Flow


Chart)

Diagram aliran proses terlihat lebih


mempunyai arti di dalam usaha menganalisis
tata letak pabrik dan pemindahan beban
karena yang digambarkan bukan saja dalam
bentuk peta aliran proses tetapi juga layout
sebenarnya dari pabrik yang ada.
2.2 Penetapan Kapasitas Produksi Dan
Jumlah Mesin/Tenaga Kerja Yang
Dibutuhkan
Penetapan kapasitas produksi yang
diperlukan adalah kunci permasalahan
pokok tidak hanya merancang fasilitas
produksi tetapi juga untuk mengantisipasi
periode operasi yang pendek. Dalam
membuat sebuah produk yang umum
dijumpai harus melalui berbagai tahapan
proses di mana antara proses satu dengan
lainnya memiliki kapasitas yang berbeda
sehingga tampak tidak-lancaran aliran
material atau penyumbatan arus material
atau disebut bottle-neck. Untuk mengatasi
kemacetan tersebut maka dilakukan langkah
seperti pengaturan keseimbangan lintasan
produksi (line-ballancing).
Untuk menentukan jumlah mesin atau
jumlah operator yang diperlukan maka
menggunakan rumus:

Keterangan:

60

N= Jumlah mesin atau operator yang


dibutuhkan untuk operasi produksi
T= Waktu standar pengerjaan untuk proses
produksi
P= Jumlah produk yang harus dibuat oleh
masing-masing mesin per periode
waktu kerja
D= Jam operasi kerja mesin yang tersedia
E= Faktor efisiensi kerja mesin
Untuk menentukan efisiensi dari
masing-masing tahapan proses (E) maka
menggunakan rumus:
1

Keterangan:
DT = Down time
ST = Set-up time untuk proses pengerjaan
per periode
Untuk menetapkan jumlah produk yang
harus dibuat oleh masing-masing tahapan
proses menggunakan rumus:

,
1

Keterangan:
Pg,i = Jumlah produk yang berkualitas baik
yang merupakan hasil keluaran dari
tahapan proses ke i
p = Prosentase produk cacat
III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Sumber data
Sumber data yang digunakan dalam
laporan ini adalah data primer yang
didapatkan dari hasil pengamatan saat kuliah
lapangan proses kerja pembuatan tas rajut
KABOKI House of Crochet pada :
hari, tanggal :Kamis, 26 November 2015
tempat
:KABOKI House of
Crochet Pasuruan, Jawa
Timur
pukul
:10.00-13.00 WIB

3.2 Variabel Penelitian


Dalam pengamatan ini, variabel
penelitian yang digunakan adalah sebagai
berikut:
1. Jumlah produk yang harus dibuat oleh
masing-masing stasiun kerja
2. Jumlah operator yang dibutuhkan untuk
operasi produksi
3. Jam operasi kerja yang tersedia
4. Waktu standar pengerjaan yang
ditetapkan untuk proses produksi
5. Posisi setiap stasiun kerja
3.3 Langkah analisis
Dalam proses pengamatan ini, beberapa
langkah
yang
dilakukan
sebelum
menyimpulkan data yang telah terkumpul
adalah sebagai berikut :
1. Merumuskan masalah
2. Menentukan tujuan
3. Menentukan variabel
4. Melakukan pengamatan
5. Menganalisis hasil pengamatan
6. Menentukan kesimpulan dan saran
*) sengaja dikosongkan

V. ANALISIS DAN PEMBAHASAN


4.1 Peta Kerja Diagram Aliran Proses
Proses operasi pembuatan tas rajut di
pabrik Tas Rajut Kaboki House of Crochet
ini dapat petakan dengan menggunakan peta
kerja diagram aliran proses. Peta Diagaram
Aliran Proses dimulai dari bahan setengah
jadi sampai barang siap pakai dapat dilihat
pada gambar 3.1 dibawah ini

Gambar 4.2 Diagram aliran proses pembuatan


tas rajut di Pabrik Tas Rajut Kaboki (Usulan)

Dengan efektifnya tata letak stasiun


kerja maka dapat meningkatkan juga
produksinya karena tidak terjadinya
perputaran produk.
4.2 Menentukan Jumlah Operator yang
Optimum
Gambar 4.1 Diagram aliran proses pembuatan tas
rajut di Pabrik Tas Rajut Kaboki (Sekarang)

Penjelasan
Di lihat dari diagram aliran proses
produksi tas tersebut dapat diketahui bahwa
penempatan stasiun kerja ada yang belum
efektif karena ada yang masih memutar arah
sehingga yang paling efektif adalah tempat
proses operasi reject berada tepat di bawah
gudang barang setengah jadi, untuk di
bawahnya proses operasi reject adalah
proses operasi tepong. Sehingga peta perja
aliran proses operasi untuk proses produksi
tas ini menjadi seperti gambar 4. 2 dibawah
ini

Dalam Teknik Pengukuran Kerja, juga


dapat ditentukan jumlah operator yang
optimum saat diketahui jumlah output
(produk) yang dihasilkan. Dalam pabrik tas
rajut Kaboki ini menginginkan output
produk sebanyak 4000 tas per bulanya
(semua baik accept atau reject), maka dapat
di tentukan jumlah operator tiap stasiun agar
4000 tas tersebut dapat dicapai. Data
manufakturing produk tas rajut (bahan baku
sudah setengah jadi dan pembuatan kain
furing di luar proses ini) dapat ditunjukkan
tabel 4.1 di bawah ini:

Tabel 4.1 Manufakturing untuk Tas Rajut Kaboki

Reject

J am
Kerja
( D)
Menit
480

Waktu
Pengerjaan
per Produk
T (Menit)
5

Down
Time
(DT)
(Menit)
30

Set-up
Time
(ST)
(Menit)
10

Penylomotan

480

30

20

Tepong

480

15

30

20

Penjahitan

480

42

30

20

Cleaning
Quality
Control
Packing

480

4,4

30

10

480

11

30

10

480

30

10

Tahapan
Proses

5 1

30 10
1 0,083 0,917
480

6 1

30 10
1 0,083 0,917
480

7 1

30 10
1 0,083 0,917
480

Artinya, efisiensi karyawan untuk


mengerjakan pekerjaan pada tahap ini
sebesar 0.917
6. Untuk proses Quality Control
Artinya, efisiensi karyawan untuk
mengerjakan pekerjaan pada tahap ini
sebesar 0.917
7. Untuk proses Packing

Berdasarkan tabel 4.1 di atas maka


dapat menentukan jumlah operator masingmasing tahapan proses.

Artinya, efisiensi karyawan untuk


mengerjakan pekerjaan pada tahap ini
sebesar 0.917

Penetapan Efisiensi (E) dari masingmasing Proses

Penetapan Jumlah Produk (P) yang harus


dibuat oleh masing-masing tahapan
proses

Perhitungan
matematis
untuk
mendapatkan nilai Efisiensi adalah
seperti di bawah ini
1.

Untuk proses Reject


1 1

30 10
1 0,083 0,917
480

2 1

30 20
1 0,104 0,896
480

3 1

30 20
1 0,083 0,896
480

4 1

30 20
1 0,125 0,896
480

Artinya, efisiensi karyawan untuk


mengerjakan pekerjaan pada tahap ini
sebesar 0.917
2. Untuk proses Penylomotan
Artinya, efisiensi karyawan untuk
mengerjakan pekerjaan pada tahap ini
sebesar 0.896
3. Untuk proses Tepong
Artinya, efisiensi karyawan untuk
mengerjakan pekerjaan pada tahap ini
sebesar 0.896
4. Untuk proses Penjahitan
Artinya, efisiensi karyawan untuk
mengerjakan pekerjaan pada tahap ini
sebesar 0.896
5. Untuk proses Cleaning

Karena, disini tidak diketahui berapa


defect (p) untuk masing-masing tahapan
proses maka di asumsikan bahwa jumlah
4000 produk yang di hasilkan merupakan
gabungan dari jumlah produk yang accept
dan produk yang reject
Penetapan jumlah karyawan (N) yang
dibutuhkan
dalam
masing-masing
tahapan proses
Jumlah produk yang dihasilkan dalam
per bulan sebesar 4000 (total produk).
Karena, defect (p) tidak diketahui maka
diasumsikan 0% sehingga tiap tahapan harus
memproduksi jumlah produk yang sama
yaitu sebesar 4000 tas per bulan (1 bulan
sama dengan 25 hari) atau setara dengan 160
per hari (dengan Pi=160)
Perhitungan jumlah karyawan tiap
masing-masing tahapan proses dapat
ditentukan dengan menggunakan rumus
seperti dibawah ini
1.


60


60

Untuk Proses Reject


Perhitungan nya sebagai berikut:

5 160
60 80,917

1,8175 ~ 2

Artinya, jika diinginkan 160 produk


untuk tahap ini maka jumlah karyawan
minimal yang harus disediakan sejumlah 2
karyawan.
2. Untuk Proses Penylomotan
Perhitungan nya sebagai berikut:


60

2 160
60 80,896

0,744 ~ 1

Artinya, jika diinginkan 160 produk


untuk tahapan ini maka jumlah karyawan
minimal yang harus disediakan sejumlah 1
karyawan.
3. Untuk Proses Tepong
Perhitungan nya sebagai berikut:


60

15 160
60 80,917

5,453 ~ 6

Artinya, jika diinginkan 160 produk


untuk tahapan ini maka jumlah karyawan
minimal yang harus disediakan sejumlah 6
karyawan.
4. Untuk Proses Penjahitan
Untuk tahapan penjahitan ini jumlah
operator satuannya dalam kelompok
yang mana setiap kelompok terdiri dari
2 karyawan. Perhitungannya sebagai
berikut:


60

42 160
60 80,896

15,625 ~ 16

Artinya, jika diinginkan 160 produk


untuk tahapan ini maka jumlah kelompok
minimal yang harus disediakan sejumlah 16
kelompok atau 32 karyawan.

5.

Untuk Proses Cleaning


Perhitungannya sebagai berikut:


60

4,4 160
60 80,917

1,345 ~ 2

Artinya, jika diinginkan 160 produk


untuk tahapan ini maka jumlah karyawan
minimal yang harus disediakan sejumlah 2
karyawan.
6. Untuk Proses Cleaning
Perhitungannya sebagai berikut:


60

11 160
60 80,917

2,908 ~ 3

Artinya, jika diinginkan 160 produk


untuk tahapan ini maka jumlah karyawan
minimal yang harus disediakan sejumlah 3
karyawan.
7. Untuk Proses Packing
Perhitungannya sebagai berikut:


60

5 160
60 80,917

1,827 ~ 2

Artinya, jika diinginkan 160 produk


untuk tahapan ini maka jumlah karyawan
minimal yang harus disediakan sejumlah 2
karyawan.
Dengan perhitungan di atas maka dapat
ditentukan jumlah karyawan yang harus ada
jika pabrik Kaboki tersebut menginginkan
output produk sebanyak 4000 tas per
bulannya (satu bulan 25 hari) atau setara
dengan 160 tas per harinya
Berikut ini tabel jumlah karyawan yang
ada (saat ini) di pabrik tas Kaboki untuk
masing-masing tahapan dan jumlah
karyawan yang harus ada jika menginginkan
4000 buah tas yang dihasilkan tiap bulannya.

Tabel 4.2 Jumlah Karyawan

Jumlah
Karyawan
yang
harus ada

Kekurangan
karyawan

1
0
5
12
0

Tahapan
Proses

Jumlah
Karyawan
Sebelumya

Reject

Penylomotan

Tepong

Penjahitan

20

Cleaning
Quality
Control
Packing

2
1
6
32
2

Dari tabel 3.1 dapat disimpulkan bahwa


jika diinginkan jumlah total produk yang
dihasilkan sebanyak 4000 maka jumlah
karyawan tambahan yang harus ada
sebanyak 17 karyawan dengan rincian 1
orang berada di tahap Reject, 5 orang di
tahap Tepong, 12 orang di tahap Penjahitan
dan 1 orang di tahap Quality Control.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan analisa dan pembahasan
di atas maka dapat disimpulkan
1. Peta kerja yang sesuai dengan pabrik
tas rajut Kaboki House of Crochet
adalah Peta Diagram Alir (Flow Chart)
2. Jika pabrik tas rajut Kaboki House of
Crochet ini menginginkan jumlah
produk yang dihasilkan sejumlah 4000
tas (semua baik yang accept ataupun
reject) maka karyawan yang harus
ditambah sebanyak 12 orang dengan
rincian 1 orang berada di tahap Reject,
5 orang di tahap Tepong, 12 orang di
tahap Penjahitan dan 1 orang di tahap
Quality Control.
5.2 Saran
Dalam
melakukan
pengamatan
seharusnya lebih diperhatikan lagi dengan
proses operasinya dan juga lebih teliti lagi,
karena terkadang data yang kita gunakan
tidak tercatat. Dalam penulisan laporan
analisis pengukuran kerja Pabrik Tas Rajut
Kaboki House of hrochet masih banyak

kekurangan, maka kritik dan saran sangat


penulis butuhkan.
DAFTAR PUSTAKA
Wignjosoebroto, Sritomo. 2006. Ergonomi
Studi Gerak dan Waktu. Surabaya :
Gunawidya.

Anda mungkin juga menyukai