Anda di halaman 1dari 6

IJPST

Penentuan Kadar Teofilin dalam Sediaan Tablet Bronsolvan dengan Metode


Standar Adisi menggunakan Spektrofotometer UV-Visible
Devi Rahmawati, M. Riza Rositama, M. Indra permana, Nisa Masyitah
Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran
Jl. Raya Bandung Sumedang km 21 Jatinangor 45363
devirahmawati08@gmail.com
Abstrak
Teofilin merupakan suatu bronkodilator yang secara umum digunakan untuk mengobati penyakit
asma. Berbagai cara dapat dilakukan dalam menentukan kadar teofilin. Dalam penelitian ini,
dilakukan penentuan kadar teofilin dalam suatu sediaan tablet dengan merk dagang Bronsolvan
menggunakan spektrofotometer UV-Visibel dan metode standar adisi. Dengan metode standar
adisi, dapat meminimalkan kesalahan yang disebabkan oleh perbedaan kondisi lingkungan
(matriks). Penelitian dimulai dengan pembuatan larutan baku pembanding teofilin (stock standard
solution), pembuatan larutan sampel Bronsolvan, preparasi sampel, penetapan panjang
gelombang maksimum, pembuatan kurva baku, serta yang terakhir penetapan kadar sampel.
Berdasarkan penelitian, didapatkan kurva baku dengan persamaan y = 0,0499x + 0,31, dengan
nilai r2 sebesar 0,991. Dari proses perhitungan didapatkan konsentrasi teofilin dalam sampel
sebesar 103,54 ppm dan kadar teofilin dalam sampel sebesar 103,54 %. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa teofilin dalam sediaan tablet yang dianalisis tidak memenuhi syarat seperti
yang tercantum dalam Farmakope Indonesia III yang menyatakan bahwa teofilin mengandung
tidak kurang dari 98,5% dan tidak lebih dari 101,0% teofilina, dihitung terhadap zat yang
dikeringkan.
Kata Kunci : Teofilin, Bronsolvan, spektrofotometer UV-Visible, tablet, standar adisi

Determination the Levels of Theophylline in Bronsolvan Tablet with


Standard Addition Method using UV-Visible Spectrophotometer
Abstract
Theophylline is a bronchodilator that is generally used to treat asthma. Various ways can be done
in determining levels of theophylline. In this study, carried out the determination levels of

theophylline in Bronsolvan tablet using UV-visible spectrophotometer and standard addition


method. Standard addition method can minimize errors caused by differences in environmental
conditions (matrix). The study began with a theophylline reference standard solution preparation
(stock standard solution), preparation of Bronsolvan sample solution, determination of the
maximum wavelength, the manufacture of standard curve, and then determination of levels in
sample. Based on the research, obtained standard curve with equation y = 0,0499x + 0,31 and r 2
0,991. Of the process of the calculation, the concentration of theophylline in the sample amounted
to 103.54 ppm, and levels of theophylline in the sample amounted to 103.54%. The results
showed that theophylline in tablet dosage analyzed not qualify as listed in the Indonesian
Pharmacopoeia III which states that theophylline contains not less than 98.5% and not more than
101.0% theophylline, calculated on dried substance.
Keywords : Theophylline, Bronsolvan, UV-Visible spectrophotometer, tablet, standard addition
1

IJPST
dari konsentrasi. Dalam analisis secara
spektrofotometri terdapat tiga daerah
panjang gelombang elektromagnetik yang
digunakan, yaitu daerah UV (200 380 nm,
daerah visible (380 700 nm), daerah
inframerah (700 3000 nm).2
Spektrofotometri UV-Vis adalah
anggota teknik analisis spektroskopik yang
memakai
sumber
REM
(radiasi
elektromagnetik) ultraviolet dekat (190380 nm) dan sinar tampak (380-780 nm)
dengan
memakai
instrumen
spektrofotometer. Spektrofotometri UVVis melibatkan energi elektronik yang
cukup
besar
pada
molekul
yang
dianalisis, sehingga spektrofotometri UVVis lebih banyak dipakai untuk analisis
kuantitatif dibandingkan kualitatif.3
Hubungan antara konsentrasi dengan
cahaya dari alat spektrofotometer UV-Vis
yang diserap dinyatakan dalam hukum
Lambert - Beer, yaitu pada ketebalan
medium
tertentu,
hubungan
antara
konsentrasi substansi penyerap dengan
serapan atau absorbennya merupakan garis
lurus (hubungan linier) dengan kemiringan.
Bila cahaya monokromatis melalui suatu
larutan berwarna, jumlah cahaya yang di
serap menurunkan secara eksponensial,
sebanding dengan panjang lintasan/kolom
cahaya yang melalui larutan dan kadar zat
terlarut dalam larutan yang menyerap
cahaya.4

Pendahuluan
Teofilin adalah bronkodilator yang
digunakan untuk asma dan untuk mengatasi
penyakit paru obstruksi kronik yang stabil,
secara umum tidak efektif untuk eksaserbasi
penyakit paru obstruksi kronik. Teofilin
mungkin menimbulkan efek aditif bila
digunakan bersama agonis beta-2 dosis
kecil, kombinasi kedua obat tersebut dapat
meningkatkan risiko terjadinya efek
samping, termasuk hipokalemia.1
Teofilin dimetabolisme di hati, kadar
teofilin dalam plasma bervariasi terutama
pada perokok, pasien dengan gangguan hati
dan gagal jantung, atau jika diberikan
bersama dengan obat-obat tertentu. Kadar
teofilin dalam plasma meningkat pada gagal
jantung, sirosis, infeksi virus, pada lanjut
usia dan jika ada obat yang menghambat
metabolisme teofilin. Kadar teofilin dalam
plasma menurun pada perokok, dan
alkoholisme kronik dan oleh obat yang
menginduksi
metabolismenya
seperti
fenitoin, karbamazepin, rifampisin, dan
barbiturat.1
Spektrofotometri merupakan suatu
metoda analisa yang didasarkan pada
pengukuran serapan sinar monokromatis
oleh suatu lajur larutan berwarna pada
panjang gelombamg spesifik dengan
menggunakan monokromator prisma atau
kisi difraksi dengan detektor foto tube dan
detector vacuum phototube atau tabung
foton hampa. Alat yang digunakan adalah
spektrofotometer, yaitu sutu alat yang
digunakan untuk menentukan suatu senyawa
baik secara kuantitatif maupun kualitatif
dengan mengukur transmitan ataupun
absorban dari suatu cuplikan sebagai fungsi

Metode
Alat
Alat
yang
digunakan
dalam
penelitian ini adalah bulb pipet, kuvet tebal
1 cm, labu ukur 100 mL, labu ukur 25 mL,
2

IJPST
pipet tetes, pipet volume 1 mL, pipet volume
2 mL, timbangan digital, serta alat
spektrofotometer UV.

Penetapan
Panjang
Gelombang
Maksimum
Ukur absorbansi terhadap blanko air,
lalu ukur larutan sampel tanpa tambahan
larutan baku pada alat spektrofotometri UV,
dilakukan scan mode pada rentang 200-300
nm. Panjang gelombang maksimum teofilin
berada pada 274 nm.

Bahan
Bahan yang digunakan diantaranya
aquadest, larutan baku pembanding (stock
standard solution) dan sampel teofilin dalam

tablet Bronsolvan .

Pembuatan Kurva Baku


Larutan baku berbagai konsentrasi
diujikan dalam spektrofotometer UV pada
maksimum = 274 nm. Larutan baku tersebut
diukur
absorbansinya
dimulai
dari
konsentrasi terkecil hingga terbesar.
Absorbansi pada maksimum dicatat.

Pembuatan Larutan Baku Pembanding


(Stock Standard Solution)
Timbang secara akurat 10 mg BPFI
teofilin, masukkan ke dalam labu ukur 100
mL, lalu tambahkan aquadest hingga tanda
batas, dikocok hingga homogen, maka
didapat konsentrasi 100 mikrogram/ml atau
100 ppm.

Penetapan Kadar Sampel


Setelah didapatkan nilai absorbansi,
lalu dibuat grafik absorbansi terhadap
konsentrasi standar yang ditambahkan.
Absorbansi larutan sampel diplotkan pada
kurva kalibrasi larutan standar untuk
mengetahui konsentrasi sampel. Setelah itu,
kadar sampel teofilin dalam tablet

Bronsolvan dapat diketahui.

Pembuatan Larutan Sampel Bronsolvan


Timbang secara akurat 10 tablet
Bronsolvan, digerus hingga halus dan
homogen, lalu timbang serbuk yang setara
dengan 10 mg teofilin BPFI dimana
Bronsolvan mengandung 150 mg teofilin per
tablet. Sampel dimasukkan ke dalam labu
ukur 100 mL, dilarutkan dengan aquadest
sehingga diperoleh konsentrasi 100 ppm.

Hasil
Tabel 1 Nilai Absorbansi Larutan Baku
Pembanding Teofilin dengan Konsentrasi 0,
2, 4, 6, dan 8 ppm pada 274 nm.

Preparasi Sampel
Ke dalam lima labu ukur 25 mL,
dimasukkan larutan sampel masing-masing
1,5 mL menggunakan pipet volume.
Kemudian larutan baku pembanding
ditambahkan berturut-turut 0 mL; 0,5 mL; 1
mL; 1,5 mL; dan 2 mL ke dalam labu ukur
yang telah diisi larutan sampel. Selanjutnya,
aquadest di add hingga tanda batas lalu labu
dikocok hingga homogen.

Konsentrasi
(ppm)
0

0,2979

0,2973

0,2975

0,297567

0,4328

0,4320

0,4330

0,4326

0,5054

0,5064

0,5074

0,5064

0,5967

0,5962

0,5954

0,5961

0,7148

0,7154

0,7133

0,7145

Absorbansi (A)

Rata-rata

IJPST
Kadar Teofilin
=
=
= 103,54 %

x 100%
x 100%

Pembahasan
Grafik 1 Kurva Kalibrasi Larutan Teofilin

Spektrofotometri
adalah
suatu
metode analisis yang berdasar pada
pengukuran serapan sinar monokromatis
oleh suatu lajur larutan berwarna pada
panjang gelombang yang spesifik dengan
menggunakan monokromator prisma atau
kisi difraksi dan detektor vacuum phototube
atau tabung foton hampa. Spektrofotometri
UV digunakan untuk mengukur kadar
konsentrasi dari suatu sampel yang belum
diketahui kadarnya. Konsentrasi analit di
dalam larutan bisa ditentukan dengan
mengukur
absorban
pada
panjang
gelombang tertentu dengan menggunakan
dasar Hukum Lambert-Beer. Radiasi
ultraviolet dan sinar tampak diabsorpsi oleh
molekul organik aromatik, molekul yang
mengandung elektron- terkonjugasi dan
atau atom dengan elektron-n yang
menyebabkan transisi elektron di orbital
terluarnya dari tingkat energi dasar ke
tingkat energi tereksitasi. Besarnya serapan
radiasi
tersebut
sebanding
dengan
banyaknya
molekul
analit
yang
mengabsorpsi sehingga dapat digunakan
untuk analisis kuantitatif.
Pada praktikum ini, digunakan metode
standar adisi. Metode ini mampu
meminimalkan kesalahan yang disebabkan
oleh perbedaan kondisi lingkungan (matriks)
sampel dan standar. Dalam metode ini dua

Perhitungan Konsentrasi Sampel Teofilin

Persamaan Kurva Baku

IJPST
atau lebih sejumlah volume tertentu dari
sampel dipindahkan ke dalam labu takar.
Satu larutan diencerkan sampai volume
tertentu kemudiaan larutan yang lain
sebelum diukur absorbansinya ditambah
terlebih dahulu dengan sejumlah larutan
standar tertentu dan diencerkan seperti pada
larutan yang pertama. Menurut hukum Beer
akan berlaku hal-hal berikut:

selanjutnya adalah melakukan scan mode


pada rentang 200-380 nm dan diperoleh
max 274 nm. Larutan yang tadi telah dibuat
diukur absorbansinya dan diperoleh
absorbansi rata-rata pada konsentrasi 0 ppm,
2 ppm, 4 ppm, 6 ppm, dan 8 ppm yaitu
0,297567; 0,4326; 0,5064; 0,5961; dan
0,7145. Hasil yang didapatkan tersebut
kemudian dibuat kurva. Dari kurva yang
telah tertera, didapatkan persamaan garis
yaitu y = 0,0499x + 0,31 dengan nilai R2 =
0,9911. Nilai R2 tersebut menyatakan bahwa
terdapat korelasi yang erat dan linearitas
yang baik antara konsentrasi larutan baku
dengan absorbansinya. Hal tersebut akan
bernilai baik jika nilai kisaran R2 berada
pada rentang 0,9<R2<1. Absorbansi
berbanding lurus dengan konsentrasi artinya
semakin besar nilai konsentrasi larutan,
maka warna yang dihasilkan akan semakin
pekat dan intensitas cahaya yang diserap
oleh larutan berwarna akan semakin besar
sehingga absrobansinya pun semakin besar.
Pernyataan ini sesuai dengan hukum
Lambert beer dimana A = b c. Salah satu
syarat sampel yang dapat diukur oleh
spektrofotometer UV-Vis adalah berbentuk
liquid (cair), dan tidak keruh sehingga dapat
ditembus oleh cahaya.
Tahap selanjutnya adalah proses
perhitungan konsentrasi sampel dari teofilin.
Konsentrasi pada sampel teofilin dapat
dihitung dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:

Ax = k.Ck
AT = k(Cs+Cx)
Dimana,
Cx = konsentrasi zat sampel
Cs = konsentrasi zat standar yang
ditambahkan ke larutan sampel
Ax = absorbansi zat sampel (tanpa
penambahan zat standar)
AT = absorbansi zat sampel + zat standar
Jika kedua rumus digabung maka akan
diperoleh Cx = Cs + {Ax/(AT-Ax)}
Konsentrasi zat dalam sampel (Cx) dapat
dihitung dengan mengukur Ax dan AT
dengan spektrometri. Jika dibuat suatu seri
penambahan zat standar dapat pula dibuat
grafik antara AT lawan Cs garis lurus yang
diperoleh dari ekstrapolasi ke AT = 0,
sehingga diperoleh:
Cx = Cs x {Ax/(0-Ax)} ; Cx = Cs x (Ax/Ax)
Cx = Cs x (-1) atau Cx = -Cs
Prosedurnya pertama-tama dilakukan
pembuatan larutan baku dengan konsentrasi
100 ppm, kemudian dibuat juga larutan
sampel dari tablet teofilin dengan
konsentrasi 100 ppm. Larutan sampel
kemudian dipipet sebanyak 1 ml dan
kemudian ditambahkan larutan baku dengan
konsentrasi
yang
berbeda.
Proses

Kadar Teofilin
=

x 100%
Dari proses perhitungan, konsentrasi
teofilin yang didapatkan adalah 103,54 %.
Hal ini tidak sesuai dengan Farmakope
5

IJPST
Indonesia III (1979)(4), yang menyatakan
bahwa teofilin mengandung tidak kurang
dari 98,5% dan tidak lebih dari 101,0%
teofilina, dihitung terhadap zat yang
dikeringkan. Hal tersebut dapat disebabkan
oleh terdapatnya matriks atau pengotor
dalam sampel sehingga mengganggu
pengukuran absorbansi teofilin. Selain itu
dapat pula dikarenakan oleh adanya
kesalahan pada saat penimbangan sampel
maupun preparasi sampel.

4. Chang R. Kimia Dasar Edisi Ketiga.


Jakarta : Erlangga ; 2003.

Simpulan
Dari hasil penelitian tersebut, dapat
disimpulkan bahwa kadar teofilin didalam
sampel adalah sebesar 103,54 %. Hasil ini
tidak memenuhi syarat yang ada pada
Farmakope Indonesia III (1979). Hal ini
dapat disebabkan oleh kesalahan pada saat
preparasi sampel atau terdapatnya pengotor
di dalam sampel ketika pengukuran
absorbansi menggunakan spektrofotometer
UV.

Daftar Pustaka
1. Badan POM RI. Sistem Saluran Nafas.
[diunduh 27 April 2015] Tersedia dari :
http://pionas.pom.go.id/book/ioni-bab-3sistem-saluran-napas-31-antiasma-danbronkodilator/311-teofilin.
2. Khopkar S. Konsep Dasar Kimia
Analitik. Jakarta : Universitas Indonesia
(UI-Press) ; 1990
3. Tim
Penyusun.
Spektroskopi.
Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta ; 2007