Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

DENGAN PNEUMONIA PADA ANAK


DI PUSKESMAS PERKOTAAN RASIMAH AHMAD

OLEH

IFZUELI PUTRA
NIM 15103084109011

PRECEPTOR KLINIK

PRECEPTOR AKADEMIK

PROGRAM PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PERINTIS SUMBAR
TAHUN AJARAN 2015/2016

LAPORAN PENDAHULUAN PNEUMONIA PADA ANAK

1. Definisi
Pneumonia adalah inflasi parenkim paru, biasanya berhubungan dengan
pengisian cairan di dalam alveoli (Ngastiyah, Perawatan Anak Sakit, 1997).
Pneumonia adalah suatu penyakit peradangan akut pada parenkim paru yang
disebabkan oleh bakteri, virus, atau parasit (Standar Profesi Ilmu Kesehatan Anak FK
Unsri Palembang, 2000).
Pneumonia disebabkan oleh virus pathogen yang masuk ke dalam tubuh melalui
aspirasi, inhlasi/penyebab sirkulasi : pneumonia paling banyak disebabkan oleh bakteri
(KMB, Jilid I, Salemba Medika, 2001).
Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru distal dan bronkus
terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius lobus dan alveoli serta menimbulkan
kerusakan jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat (IPD Jilid II, Sarwono
Soeparman, 1996).
Pneumonia adalah radang paru-paru disertai dengan eksudasi dan konsolidasi.
Pada bayi baru lahir pneumonia yang fatal adalah yang disebabkan oleh sifilis congenital
yang disertai dengan generasi lemak pada paru-paru sehingga paru-paru tampak pucat
serta tidak mengandung udara (Kamus Kedokteran Dorland, edisi 25 EGC, 1998).
2. Etiologi
Sebagian besar pneumonia disebabkan oleh bakteri yang timbul secara primer
atau sekunder setelah infeksi virus. Penyebab tersering pneumonia bakterialis adalah
bakteri positif-gram, streptococcus pneumoniae yang menyebabkan pneumonia
streptococcus. Bakteri staphylococcus aureus dan streptococcus beta-hemolitikus juga
sering menyebabkan pneumonia, demikian juga pseudomonas aeruginosa.
Pada bayi dan anak-anak penyebab yang paling sering adalah : virus sinsial
pernafasan, adenovirus, virus parainfluenza dan virus influenza.
Faktor-faktor yang meningkatkan risiko kematian akibat pneumonia :
1. Umur di bawah 2 bulan

2. Tingkat sosioekonomi rendah


3. Gizi kurang
4. Berat badan lahir rendah
5. Tingkat pendidikan ibu rendah
6. Tingkat pelayanan (jangkauan) kesehatan rendah
7. Kepadatan tempat tinggal
8. Imunisasi yang tidak memadai
9. Menderita penyakit kronis.

3. Klasifikasi
Menurut buku pneumonia komuniti, pedoman diagnosis dan penatalaksanaan di
Indonesia yang dikeluarkan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003 menyebutkan
tiga klasifikasi pneumonia.
1. Berdasarkan klinis dan epidemiologis :
a. Pneumonia komuniti
b. Pneumonia nasokomial
c. Pneumonia aspirasi
d. Pneumonia pada penderita immunocompromised
2. Berdasarkan penyebab
a. Pneumonia bakteri/tipikal
Dapat terjadi pada semua usia. Pneumonia sering diistilahkan dengan
pneumonia akibat kuman. Pneumonia jenis itu bisa menyerang siapa saja, dari
bayi hingga mereka yang telah lanjut usia, para peminum alkohol, pasien yang
terbelakang mental, pasien pasca operasi, orang yang menderita penyakit
pernapasan lain atau infeksi virus adalah yang mempunyai sistem kekebalan
tubuh rendah dan menjadi sangat rentan terhadap penyakit itu. Pada saat
pertahanan tubuh menurun, misalnya karena penyakit, usia lanjut, dan malnutrisi,
bakteri pneumonia akan dengan cepat berkembang biak dan merusak paru-paru.

Jika terjadi infeksi, sebagian jaringan dari lobus paru-paru, atau pun
seluruh lobus, bahkan sebagian besar dari lima lobus paru-paru (tiga di paru-paru
kanan, dan dua di paru-paru kiri) menjadi terisi cairan. Dari jaringan paru-paru,
infeksi dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. Bakteri
pneumokokus adalah kuman yang paling umum sebagai penyebab pneumonia
bakteri tersebut.
Biasanya pneumonia bakteri itu didahului dengan infeksi saluran nafas
ringan satu minggu sebelumnya. Misalnya, karena infeksi virus (flu), infeksi virus
pada saluran pernapasan dapat mengakibatkan pneumonia disebabkan mukus
(cairan/lendir) yang mengandung pneumokokus dapat terhisap masuk ke dalam
paru-paru. Beberapa bakteri mempunyai tedensi menyerang seseorang yang peka,
misalnya klebsiella pada penderita alkoholik, staphylococcus pada penderita
pasca infeksi influenza, pneumonia atipikal. Disebabkan mycoplasma, legionella,
dan chalamydia.
b. Pneumonia akibat virus
Penyebab utama pneumonia virus adalah virus influenza. Gejala awal
dari pneumonia akibat virus sama seperti gejala influenza, yaitu demam, batuk
kering, sakit kepala, nyero otot, dan kelemahan. Dalam 12 hingga 36 jam
penderita menjadi sesak, batuk lebih parah, dan berlendir sedikit, terdapat panas
tinggi disertai membirunya bibir.
Tipe pneumonia itu bisa ditumpangi dengan infeksi pneumonia karena
bakteri. Hal itu yang disebut dengan superinfeksi bacterial. Salah satu tanda
terjadi superinfeksi bacterial adalah keluarnya lendir yang kental dan berwarna
hijau atau merah tua.
c. Pneumonia Jamur
Sering merupakan infeksi sekunder. Predileksi terutama pada penderita
dengan daya tahan lemah.
3. Berdasarkan predileksi infeksi

a. Pneumonia lobaris, pneumonia yang terjadi pada satu lobus (percabangan besar
dari pohon bronkus) baik kanan maupun kiri.
b. Pneumonia bronkopneumia, pneumonia yang ditandai bercak-bercak infeksi pada
berbagai tempat di paru. Bisa kanan maupun kiri yang disebabkan virus atau
bakteri dan sering terjadi pada bayi atau orang tua. Pada penderita pneumonia,
kantong udara paru-paru penuh dengan nanah dan cairan yang lain. Dengan
demikian, fungsi paru-paru, yaitu menyerap udara bersih (oksigen) dan
mengeluarkan udara kotor menjadi terganggu. Akibatnya, tubuh menderita
kekurangan oksigen dengan segala konsekuensinya, misalnya menjadi lebih
mudah terinfeksi oleh bakteri lain (super infeksi) dan sebagainya. Jika demikian
keadaannya, tentu tambah sukar penyembuhannya. Penyebab penyakit pada
kondisi demikian sudah beraneka ragam dan bisa terjadi infeksi di seluruh tubuh.
4.

Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala berupa :
1. Batuk nonproduktif
2. Ingus (nasal discharge)
3. Suara napas lemah
4. Retraksi intercosta
5. Penggunaan otot bantu napas
6. Demam
7. Ronchii
8. Cyanosis
9. Thorak photo menunjukkan infiltrasi melebar
10. Batuk
11. Sakit kepala
12. Sesak nafas
13. Menggigil
14. Berkeringat
15. Lelah.

5. Patofisiologi
Pneumonia dapat terjadi akibat menghirup bibit penyakit di udara, atau kuman di
tenggorokan terhisap masuk ke paru-paru. Penyebaran bisa juga melalui darah dari luka
tempat lain, misalnya di kulit. Jika melalui saluran napas, agen (bibit penyakit) yang
masuk akan dilawan oleh berbagai sistem pertahanan tubuh manusia.
6.

Komplikasi
1. Abses paru
2. Efusi pleural
3. Empisema
4. Gagal napas
5. Perikarditis
6. Meningitis
7. Atelektasis
8. Hipotensi
9. Delirium
10. Asidosis metabolik
11. Dehidrasi
12. Penyakit multi lobular

7. Pemeriksaan Diagnostik
1. Sinar X
Mengidentifikasikan distribusi struktural dapat juga menyatakan abses luas/infiltrate,
empiema, infiltrasi menyebar atau terlokalisasi, atau penyebaran/perluasan infiltrate
nodul. Pada pneumonia mikoplasma, sinar X dada mungkin bersih.
2. GDA
Tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang terlihat dan penyakit
paru yang ada.

3. JDL
Leukositosis biasanya ada, meskipun sel darah putih rendah terjadi pada infeksi
virus, kondisi tekanan imun seperti AIDS, memungkinkan berkembangnya
pneumonia bakterial.
4. Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah
Dapat diambil dengan biopsi jarum, aspirasi trakeal, bronkoskopi fiberoptik, atau
biopsi pembukaan paru untuk mengatasi organisme penyebab. Lebih dari 1 tipe
organisme ada, bakteri yang umum Diplococcus pneumonia, stapilococcus aureus,
A-hemolitik streptococcus, Haemophilus, CMV.
5. Pemeriksaan serologi
Membantu dalam membedakan diagnosis organisme khusus
6. LED
Meningkat
7. Pemeriksaan fungsi paru
Volume mungkin menurun, tekanan jalan napas mungkin meningkat dan komplain
menurun, mungkin terjadi perembesan.
8. Elektrolit
Natrium dan klorida mungkin rendah
9. Bilirubin
Mungkin meningkat
10. Aspirasi perkuatan/biopsi jaringan paru terbuka
Dapat menyatakan intraniklear tipikal dan keterlibatan sitoplastik, karakteristik sel
raksasa.

8. Penatalaksanaan
1. Oksigen 1-2 l/menit
2. IVFD dekstrose 10% : NaCl 0,9% = 3:1, +KCl 10 mEq/500 ml cairan sesuai berat
badan, kenaikan suhu dan status dehidrasi.

3. Jika sesak tidak terlalu hebat, dapat dimulai makanan enteral bertahap melalui selang
nasogastirk dengan feeding drip.
4. Jika sekresi lendir berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan salin normal dan beta
agois untuk memperbaiki transport mukosiler.
5. Koreksi gangguan keseimbangan asam dan basa elektrolit.
6. Antibiotik sesuai hasil biakan atau berikan :
a. Untuk kasus pneumonia communiti base :
a. Ampisilin 100 mg/kg BB/hari dalam 4 kali pemberian
b. Kloramfenikol 75 mg/kg BB/hari dalam 4 kali pemberian
b. Untuk kasus pneumonia hospital base :
1) Sefotaksim 100 mg/kg BB/hari dalam 2 kali pemberian
2) Amikasin 10-15 mg/kg BB/hari dalam 2 kali pemberian.

9. WOC Pneumonia

Inhalasi

Aspirasi

Tirah baring lama

Bakteri/virus
Nyeri

Kerusakan
jaringan paru
MK : Gangguan
pola nafas

Peradangan alveolus
(parenkim paru)

Suhu tubuh meningkat

Ekstrapasasi cairan
sirosa ke dalam alveoli

MK : Risiko tinggi
kekurangan cairan

Terbentuknya eksudat
dalam alveoli

Produksi sputum
meningkat

O2 ke vena alveolar
kapiler terhambat

Sputum bau dan kental


Anoreksia

Hipoksemia

MK : Gangguan
pemenuhan
nutrisi

MK : Bersihan
jalan nafas
tidak efektif

Asuhan Keperawatan Teoritis pada Pneumonia


10. Data Dasar Pengkajian
a. Aktivitas/Istirahat
Gejala : Kelemahan, kelelahan
Insomnia
Tanda : Letargi
Penurunan toleransi terhadap aktivitas
b. Sirkulasi
Gejala : Riwayat adanya GJK kronis
Tanda : Takikardia
Penampilan kemerahan atau pucat
c. Integritas Ego
Gejala : Banyaknya stressor, masalah finansial
d. Makanan dan cairan
Gejala : kehilangan nafsu makan, mual/muntah
Tanda : Distensi abdomen
Hiperaktif bunyi usus
Kulit kering dengan turgor buruk
Malnutrisi
e. Neurosensori
Gejala : Sakit kepala daerah frontus (influenza)
Tanda : Perubahan mental (bingung, somnolen)
f. Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Sakit kepala
Nyeri dada (pleuritik) meningkat oleh batuk : nyeri dada substernal
(influenza)
Mialgia, artalgia
Tanda : Melindungi area yang sakit (pasien umumnya tidak pada sisi yang sakit
untuk membatasi gerakan)

g. Pernapasan
Gejala : Takipnea, dispnea progresif, pernapasan dangkal, penggunaan otot
aksesori, pelebaran nasal.
Tanda : Sputum, merah muda, berkarat atau purulen
Perkusi : pekak di atas area yang konsolidasi
Fremitus : taktis dan vokal bertahap meningkat dengan konsolidasi
Gesekan fraksi pleural.
Bunyi napas : menurun atau tidak ada diale area yang terlibat, atau nafas
bronchial.
Warna pucat atau siunosis bibir/kaku.
h. Keamanan
Gejala : Riwayat gangguan sistem imun
Demam

Tanda : Berkeringat
Menggigil berulang, gemetaran
i. Pemeriksaan Diagnostik
Sinar X : mengidentifikasi distribusi struktural, dapat juga menyatakan abses
luas/infiltrate,

empisema,

infiltrasi

menyebar

atau

terlokalisasi,

atau

penyebaran/perluasan infiltrate nodul


GDR / nadi oksimetri : tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru
yang terlibat dan penyakit paru yang ada.
Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah : dapat diambil dengan biopsi jarum,
aspirasi transtrakeal, bronkoskopi fiberoptik atau biopsi pembukaan paru untuk
mengatasi organisme penyebab.
JDL : Leukositosis biasanya ada, meskipun sel darah putih rendah terjadi pada
infeksi virus, kondisi tekanan imun memungkinkan perkembangannya pneumonia
bakterial.

Pemeriksaan serologi : membantu dalam membedakan diagnosa organisme


khusus.
LED meningkat
Pemeriksaan fungsi paru
Elektrolit : Na & klorida mungkin rendah.
11. Prioritas Masalah
a. Mempertahankan/memperbaiki fungsi pernapasan
b. Mencegah komplikasi
c. Mendukung proses penyembuhan
d. Memberikan informasi tentang penyakit/prognosis dan pengobatan.
12. Diagnosa yang mungkin muncul
a. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan terbentuknya eksudat
dalam alveoli.
b. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolarkapiler.
c. Nyeri berhubungan dengan inflamasi parenkim paru.
d. Risiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia yang berhubungan dengan bau dan rasa sputum.
e. Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
cairan berlebihan (demam, berkeringat banyak, napas mulut/ hiperventilasi,
muntah)
13. Rencana Asuhan Keperawatan
a. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan terbentuknya eksudat
dalam alveoli.
Kriteria hasil :
1) Mengidentifikasi/menunjukkan perilaku mencapai bersihan jalan napas.
2) Menunjukkan jalan napas paten dengan napas bersih, tak ada dispnea,
sianosis.

Intervensi :
1) Kaji frekuensi/kedalaman pernapasan dan gerak dada.
Rasional : Takipnea, pernapasan dangkal, dan gerak dada tak simetris sering
terjadi karena ketidaknyamanan gerakan dinding dada dan/atau
cairan paru.
2) Auskultasi area paru, catat arena penurunan/tak ada aliran udara dan bunyi
napas adventisus, misal : krekels, mengi.
Rasional : Penurunan aliran udara terjadi pada area konsolidasi dengan cairan.
Bunyi napas bronchial (normal pada bronkus) dapat terjadi juga
pada area konsolidasi. Krekels, ronki dan mengi terdengar pada
inspirasi dan/atau ekspirasi pada respons terhadap pengumpulan
cairan, sekret kental dan spasme jalan napas/obstruksi.
3) Bantu pasien latihan napas sering. Tunjukkan/bantu pasien mempelajari
melakukan batuk, misal : menekan dada dan batuk efektif sementara posisi
batuk tinggi.
Rasional : Napas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru-paru/ jalan
napas lebih kecil. Batuk adalah mekanisme pembersihan jalan
napas alami, membantu silia untuk mempertahankan jalan napas
paten. Penekanan menurunkan ketidaknyamanan dada dan posisi
duduk memungkinkan upaya napas lebih dalam dan lebih kuat.
4) Penghisapan sesuai indikasi
Rasional : Merangsang batuk atau pembersihan jalan napas secara mekanik
pada pasien yang tidak mampu melakukan karena batuk tak efektif
atau penurunan tingkat kesadaran.
5) Berikan cairan sedikitnya 2500 ml/hari (kecuali kontraindikasi). Tawarkan air
hangat, daripada dingin.
Rasional : Cairan (khususnya air hangat) memobilisasi dan mengeluarkan
sekret
Kolaborasi :

1) Bantu mengawasi efek pengobatan nebuliser dan fisioterapi lain. Lakukan


tindakan diantara waktu makan dan batasi cairan bila mungkin.
Rasional : Memudahkan pengenceran dan pembuangan sekret. Koordinasi
pengobatan/jadwal dan masukan oral menurunkan muntah karena
batuk, pengeluaran sputum.
2) Berikan obat sesuai indikasi
Rasional : Alat untuk menurunkan spasme bronkus dengan mobilisasi sekret.
3) Berikan cairan tambahan, misal : IV, oksigen humudifikasi, dan ruangan
humudifikasi.
Rasional : Cairan

diperlukan

untuk

menggantikan

kehilangan

dan

memobilisasi sekret.
4) Awasi seri sinar X dada, GDA, nadi oksimetri.
Rasional : Mengevaluasi kemajuan dan efek proses penyakit dan memudahkan
pilihan terapi yang diperlukan.
5) Bantu bronkoskopi/torasentesis bila diindikasikan
Rasional : Kadang-kadang diperlukan untuk membuang perlengketan mukosa,
pengeluaran sekresi purulen, dan/atau mencegah atelektasis.
b. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolarkapiler.
Kriteria hasil :
1) Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam
rentang normal dan tak ada gejala distress pernapasan.
2) Berpartisipasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigenasi.
Intervensi :
1) Kaji frekuensi, kedalaman dan kemudahan bernapas.
Rasional : Manifestasi distress pernapasan tergantung pada indikasi derajat
keterlibatan paru dan status kesehatan umum.
2) Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi, napas dalam dan batuk
efektif.

Rasional : Tindakan ini meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan


pengeluaran sekret untuk memperbaiki ventilasi.
3)

Pertahankan istirahat tidur. Dorong menggunakan teknik relaksasi dan


aktifitas senggang.
Rasional : Mencegah terlalu lelah dan menurunkan kebutuhan/ konsumsi
oksigen untuk memudahkan perbaikan infeksi.

4) Observasi penyimpangan kondisi, cacat hipotensi banyaknya jumlah sputum


merah mudah/berdarah, pucat, sianosis, perubahan tingkat kesadaran, dispnea
berat, gelisah
Rasional : Syok dan edema paru adalah penyebab umum kematian pada
pneumonia dan membutuhkan intervensi medik segera.