Anda di halaman 1dari 23

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Asma adalah suatu kondisi paru-paru kronis yang ditandai dengan sulit bernafas,
terjadi saat saluran pernafasan memberikan respon yang berlebihan dengan cara menyempit
jika mengalami rangsangan atau gangguan. Asma merupakan penyakit saluran napas kronik
yang penting dan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di berbagai negara
di seluruh dunia.
Hasil penelitian internasional studion asthma and allergies in childhood pada tahun
2006 menunjukkan bahwa di Indonesia prevalensi gejala penyakit asma meningkat dari
4,2% menjadi 5,4%. (Sundaru, 2008). Prevalensi asma pada anak dan dewasa meningkat
beberapa dekade terakhir. Prevalensi asma di dunia diperkirakan 7,2% yaitu 6% pada
dewasa dan 10% pada anak (Isnaniyah, Chundrayetti, & Khairsyaf, 2015).
Serangan asma yang dialami oleh individu dapat disebabkan oleh faktor pemicu
seperti alergen. Pada sebagian besar penderita asma seringkali ditemukan riwayat alergi dan
serangan asmanya juga sering dipicu oleh pemajanan terhadap alergen. Pada pasien yang
mempunyai alergi jika ditelusuri ternyata sering terdapat riwayat asma atau alergi pada
keluarganya.

Penyakit asma apabila tidak mendapat penanganan dengan benar dapat

menimbulkan munculkan beragaii macam komplikasi lain seperti status asmatikus, fraktur
iga, pneumonia, dan atelektasis. obstruksi jalan nafas. Kurangnya pengetahuan keluarga
mengenai pengaturan kesehatan dalam hal ini adalah faktor pemicu terjadinya serangan
asma, faktor kebersihan lingkungan, penanganan pada saat terjadinya serangan asma sering
kali memperburuk terjadinya serangan asma pada masyarakat dngan ekonomi menengah
kebawah.
Perawatan kesehatan keluarga merupakan salah satu komponen kesehatan masyarakat
yang sekaligus merupakan bagian dari Sistem Kesehatan Nasional. Keluarga adalah suatu
unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang
berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling
ketergantungan (Depkes RI,1988) dalam (Harnilawati, 2013). Masalah dalam keluarga akan
timbul bila status kesehatan salah satu anggota keluarga terganggu. Dukungan emosional

yang diberikan oleh keluarga seperti rasa empati, selalu ada mendampingi individu ketika
mengalami permasalahan, dan keluarga menyediakan suasana yang hangat di keluarga dapat
membuat individu merasa diperhatikan, nyaman, diperdulikan dan dicintai oleh keluarga
sehingga individu akan lebih mampu menghadapi masalah dengan lebih baik.
Pengetahuan keluarga tentang informasi mengenal suatu penyakit yang diderita oleh
pihak keluarga sangatlah penting diketahui demi tindakan pertama yang akan diambil oleh
pihak keluarga yaitu orang tua. Dalam mengambil keputusan yang tepat menangani suatu
penyakit tersebut. Status kesehatan keluarga sangat penting dijaga oleh setiap anggota
keluarga untuk meningkatkan status kesehatan keluarga pada khususnya. Penanganan secara
tepat penyakit asma harus di waspadai lebih dini dengan hidup sehat dengan cara : Menjaga
kesehatan seperti makan-makanan bergizi, istirahat cukup, olahraga, dan lain-lain. Menjaga
kebersihan lingkungan, Menghindari faktor pemicu terjadinya serangan asma. Dengan
menerapkan Asuhan Keperawatan pada keluarga dengan tujuan terjadi peningkatan
pengetahuan kesehatan keluarga bapak N khususnya ibu M , diharapkan peningkatan ststus
kesehatan keluarga bertambah. Sehingga penulis tertarik untuk melakukan studi kasus
tentang Asuhan Keperawatan Pada Keluarga bapak N khususnya ibu M Dengan Masalah
Asma.
1.2. Tujuan Penulisan Laporan
1.2.1. Tujuan Umum
Mahasiswa/I mampu menggambarkan proses asuhan keperawatan keluarga
dengan masalah asma.
1.2.2. Tujuan Khusus
1.2.2.1.

Mahasiswa/I mampu menggambarkan pengkajian keperawatan

keluarga dengan masalah asma.


1.2.2.2.
Mahasiswa/I mampu menggambarkan diagnose keperawatan
keluarga dengan masalah asma.
1.2.2.3.
Mahasiswa/I mampu menggambarkan intervensi keperawatan
keluarga dengan masalah asma.
1.2.2.4.
Mahasiswa/I mampu menggambarkan implementasi keperawatan
keluarga dengan masalah asma.
1.2.2.5.
Mahasiswa/I mampu menggambarkan evaluasi keperawatan
keluarga dengan masalah asma.
1.3. Ruang Lingkup

Laporan ini hanya membatasi tentang asuhan keperawatan keluarga pada keluarga
bapak N, khususnya ibu M dengan masalah asma.
1.4. Metode Penulisan
Laporan ini menggunakan metode penulisan deskriptif yaitu penulisan laporan
dengan menggambarkan seluruh proses pelaksanaan asuhan keperawatan pada keluarga
bapak N, khususnya ibu M dengan masalah asma.
1.5. Sistematika Penulisan
Laporan ini terdiri dari 4 (empat) bab. Untuk mempermudah pembahasan ini,
maka penulisan pemberian gambaran singkat dari keseluruhan isi proposal ini yaitu:
BAB 1: Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan Penulisan Laporan
1.3 Ruang Lingkup
1.4 Metode Penulisan
1.5 Sistematika Penulisan
BAB 2: TINJAUAN PUSTAKA

2.1
2.2
2.3

Konsep Keluarga
Konsep Dasar Asma
Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga

BAB 3: LAPORAN KASUS

3.1
3.2
3.3
3.4

Pengkajian Keperawatan
Analisa Data dan Diagnosa Keperawatan
Intervensi Keperawatan
Implementasi dan Evaluasi Keperawatan

BAB 4: KESIMPULAN

BAB 2
TINJAUAN TEORITIS
2.1 Konsep Keluarga
2.1.1 Pengertian Keluarga
Keluarga adalah sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan,
adopsi, kelahiran yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya yang
umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial dari tiap
anggota keluarga (Duval,1972) dalam (Harnilawati, 2013). Keluarga adalah suatu unit
terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang
berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling
ketergantungan (Depkes RI,1988) dalam (Harnilawati, 2013).
Ciri-ciri keluarga menurut Robert Mac Iver dan Charles Horton adalah keluarga
merupakan hubungan perkawinan, keluarga berbentuk suatu kelembagaan yang
berkaitan dengan hubungan perkawinan yang sengaja dibentuk atau dipelihara,
keluarga merupakan fungsi ekonomi yang dibentuk oleh anggota-anggotanya
berkaitan dengan kemampuan untuk mempunyai keturunan dan membesarkan anak
dan keluarga merupakan tempat tinggal bersama, rumah atau rumah tangga. Ciri
keluarga Indonesia adalah mempunyai ikatan yang sangat erat dengan dilandasi
semangat gotong royong, dijiwai oleh nilai kebudayaan ketimuran dan umumnya
dipimpin oleh suami meskipun proses pemutusan dilakukan secara musyawarah
(Harnilawati, 2013).
2.1.2

Struktur Keluarga
Struktur keluarga menggambarkan bagaimana keluarga melaksanakan fungsi

keluarga di masyarakat. Menurut (Effendy, 1998) struktur keluarga terdiri dari


bermacam-macam, diantaranya adalah:
1. Patrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam
beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah.
2. Matrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam
beberapa generasi di mana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.
3. Matrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
istri.

4. Patrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
suami.
5. Kaluarga kawinan adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan
keluarga dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian bagian keluarga karena
adanya hubungan dengan suami atau istri.
2.1.3

Tipe-Tipe Keluarga
Pembagian tipe ini bergantung kepada konteks keilmuan dan orang yang

mengelompokkan (Harnilawati, 2013).


1 Keluarga Tradisional
1) Keluarga Inti (Nuclear Family) yaitu keluarga yang terdiri dari suami,
2)

istri, dan anak kandung atau anak angkat.


Keluarga besar (extended family) yaitu keluarga inti ditambah dengan
keluarga lain yang mempunyai hubungan darah, misalnya kakek, nenek,

paman, dan bibi.


Keluarga Modern
1) Tradisional Nuclear
Keluarga inti (ayah, ibu, dan anak) tinggal dalam satu rumah ditetapkan
oleh sanksi-sanksi legal dalam suatu ikatan perkawinan, satu atau
keduanya dapat bekerja di luar rumah.
2) Reconstituted Nuclear
Pembentukan baru dari keluarga inti melalui perkawinan kembali
suami/istri, tinggal dalam pembentukan satu rumah dengan anak-anaknya,
baik itu bawaan dari perkawinan lama maupun hasil dari perkawinan baru.
Satu atau keduanya dapat bekerja diluar rumah.
3) Middle Age/ aging couple
Suami sebagai pencari uang, istri dirumah/kedua-duanya bekerja dirumah,
anak-anak sudah meninggalkan rumah karena sekolah/perkawinan/meniti
karier.
4) Dyadic Nuclear
suami istri yang sudah berumur dan tidak mempunyai anak yang keduanya
atau salah satu bekerja di rumah.
5) Single Parent
Rumah tangga yang terdiri dari satu orang tua dengan anak kandung atau
anak angkat, yang disebabkan karena perceraian atau kematian.
6) Dual Carrier

Suami istri atau keduanya orang karier dan tanpa anak.


7) Commuter Married
Suami istri/keduanya orang karier dan tinggal terpisah pada jarak tertentu,
keduanya saling mencari pada waktu-waktu tertentu.
8) Single Adult
Wanita atau pria dewasa yang tinggal sendiri dengan tidak adanya
keinginan untuk kawin.
9) Tree Generation
Tiga generasi atau lebih tinggal dalam satu rumah.
10) Institusional
Anak-anak atau orang-orang dewasa tinggal dalam suatu pantipanti.
11) Comunal
Satu rumah terdiri dari dua atau lebih pasangan yang monogami dengan
anak-anaknya dan bersama-sama dalam penyediaan fasilitas.
12) Group Marriage
Satu perumahan terdiri dari orang tua dan keturunannya didalam satu
kesatuan keluarga dan tiap individu adalah kawin dengan yang lain dan
semua adalah orang tua dari anak-anak.
13) Unmaried Parent and Child
Ibu dan anak dimana perkawinan tidak dikehendaki, anaknya diadopsi.
14) Cohibing Couple
Dua orang atau satu pasangan yang tinggal bersama tanpa kawin.
3

Keluarga non tradisional


1) Commune family yaitu lebih dari satu keluarga tanpa pertalian darah hidup
serumah
2) Orang tua (ayah/ ibu) yang tidak ada ikatan perkawinan dan anak hidup
bersama dalam satu rumah
3) Homoseksual yaitu dua individu yang sejenis kelamin hidup bersama
dalam satu rumah tangga

2.1.4

Tahap Perkembangan Keluarga


Perkembangan keluarga menurut Aldous berdasarkan pada 4 asumsi dasar, yaitu:

(1) keluarga berkembang dan berubah dari waktu ke waktu dengan cara-cara yang
sama dan dapat dikaji, (2) karena manusia menjadi matang dan berinteraksi dengan
orang lain, mereka memulai tindakan dan juga berinteraksi terhadap tuntutan
lingkungan (3) keluarga dengan anggotanya melakukan tugas tertentu yang ditetapkan
oleh mereka sendiri atau oleh konteks budaya dan masyarakat. (4) terdapat
kecenderungan pada keluarga untuk memulai sesuatu dengan sebuah awal dan akhir

yang kelihatan jelas. Siklus kehidupan keluarga dibagi menjadi 7 tahap, yaitu: (Ali,
2006)
1) Tahap I Keluarga Pemula/Pasangan Baru
Keluarga pemula adalah keluarga yang baru menikah, keluarga baru dan
perpindahan dari keluarga asal atau status lajang ke hubungan baru yang
intim. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini adalah membangun
perkawinan yang saling memuaskan, menghubungkan ikatan persaudaraan
secara harmonis, mendiskusikan rencana memiliki anak keluarga berencana
(keputusan tentang kedudukan sebagai orang tua).

2) Tahap II keluarga dengan kelahiran anak pertama


Tahap ini dimulai dengan kelahiran anak pertama hingga bayi berusia 30
bulan. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini adalah membentuk
keluarga muda segabai sebuah unit yang mantap (mengintegrasikan bayi baru
ke dalam keluarga), adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran,
interaksi, hubungan sexual dan kegiatan, mempertahankan pernikahan yang
memuaskan dan memperluas persahabatan dengan keluarga besar.
3) Tahap III keluarga dengan anak usia pra-sekolah
Tahap ini dimulai ketika anak pertama berusia 2,5 tahun dan berakhir
ketika anak berusia 5 tahun. pada tahap ini keluarga terdiri dari 3-5 orang
anggota keluarga (suami, istri, anak). Tugas perkembangna keluarga pada
tahap ini adalah memnuhi kebutuhan anggota keluarga seperti rumah, ruang
bermain, privasi, keamanan, dan lain-lain. Memenuhi kebutuhan anggota
keluarga seperti kebutuhan tempat tinggal, privasi dan rasa aman. Membantu
anak untuk bersosialisasi, beradaptasi dengan anak baru lahir, sementara tetap
memenuhi kebutuhan anak lain. Mempertahankan hubungan yang sehat baik
didalam keluarga maupun dengan masyarakat. Pembagian waktu untuk
individu, pasangan dan anak. Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.
4) Tahap IV keluarga dengan anak usia sekolah
Tahap ini dimulai ketika anak pertama telah berusia 6 tahun (mulai masuk
sekolah dasar) dan berakhir ketika anak berusia 13 tahun (awal dari masa

remaja). Tugas perkembangna keluarga pada tahap ini adalah Membantu


sosialisasi anak dengan tetangga, lingkungan dan sekolah, termasuk
meningkatkan prestasi sekolah dan mengembangkan hubungan dengan teman
sebaya yang sehat. Mempertahankan hubungan pernikahan yang memuaskan,
memenuhi kebutuhan fisik anggota keluarga.

5) Tahap V keluarga dengan anak usia remaja


Tahap ini diimulai saat anak berumur 13 tahun dan berakhir 6 sampai 7 tahun
kemudian. Tujuannya untuk memberikan tanggung jawab serta kebebasan yang
lebih besar untuk mempersiapkan diri menjadi orang dewasa. Tugas
perkembangan keluarga pada tahap ini adalah Memberikan kebebasan yang
seimbnag dengan tanggung jawab. Mempertahankan hubungan yang intim
dengan keluarga, mempertahankan komunikasi yang terbuka antara anak dan
orang tua. Hindari perdebatan, kecurigaan dan permusuhan. Perubahan sistem
peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga. Merupakan tahap paling
sulit karena orang tua melepas otoritasnya dan membimbing anak untuk
bertanggung jawab. Seringkali muncul konflik orang tua dan remaja.

6) Tahap VI Keluarga dengan anak usia dewasa


Tahap ini dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan berakhir
pada saat anak terakhir meninggalkan rumah. Lamanya tahapan ini tergantung
jumlah anak dan ada atau tidaknya anak yang belum berkeluarga dan tetap tinggal
bersama orang tua. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini adalah
Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar. Mempertahankan keintiman
pasangan. Membantu orang tua memasuki masa tua. Membantu anak untuk
mandiri di masyarakat. Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga.

7) Tahap VII Keluarga dalam masa pension dan lanjut usia


Tahap ini dimulai ketika salah satu/pasangan suami istri memasuki masa
pension sampai dengan salah satu pasangan meninggal dunia. Tugas
perkembangan keluarga pada tahap ini adalah mempertahankan suasana rumah
yang menyenangkan. Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman,
kekuatan fisik dan pendapatan. Mempertahankan keakraban suami/istri dan saling

merawat. Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat.


Melakukan life review. Mempertahankan penataan yang memuaskan merupakan
tugas utama keluarga pada tahap ini.

2.1.5 Fungsi Keluarga


Menurut Friedman (1998) dalam buku (Harnilawati, 2013).
1. Fungsi afektif
Fungsi afektif adalah fungsi keluarga yang utama untuk mengajarkan segala
sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan dengan orang lain.
2. Fungsi sosialisasi
Fungsi sosialisasi adalah fungsi yang mengembangkan dan tempat melatih anak
untuk berkehidupan sosial sebelum meninggalkan rumah untuk berhubungan
dengan orang lain di luar rumah.
3. Fungsi reproduksi
Fungsi reproduksi adalah fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga
kelangsungan keluarga.
4. Fungsi ekonomi
Fungsi ekonomi adalah keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga
secara ekonomi dan tempat untuk mengembangkan kemampuan individu dalam
meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
5. Fungsi perawatan/pemeliharaan kesehatan
Fungsi ini berfungsi untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga
agar tetap memiliki produktivitas tinggi.
2.1.6

Tugas Keluarga di Bidang Kesehatan


Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai tugas di

bidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan. Menurut Freedman (1998)
dalam (Harnilawati, 2013) membagi 5 tugas keluarga dalam bidang kesehatan yang
harus dilakukan, yaitu:
1. Mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya
perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung
menjadi perhatian dan tanggung jawab keluarga, maka apabila menyadari adanya
perubahan perlu segera dicatat.
2. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat bagi keluarga
Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk cari pertolongan yang
teapt sesuai dengan keadaan keluarga, dengan pertimbangan siapa di antara

keluarga yang mempunyai kemampuan memutuskan untuk menentukan tindakan


agar masalah kesehatan dapat dikurangi atau bahkan teratasi.
3. Memberikan keperawatan anggotanya yang sakit atau yang tidak dapat membantu
dirinya sendiri karena cacat atauu usianya yang terlalu muda.
4. Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan kesehatan dan
perkembangan kepribadian anggota keluarga.
5. Mempertahankan hubungan timbale balik antara keluarga dan lembaga kesehatan
(pemanfaatan fasilitas kesehatan yang ada).
2.1.7

Peran Perawat
Dalam upaya memandirikan keluarga untuk dalam merawat anggota keluarga,

sehingga keluarga mampu melakuakan fungsi dan tugas kesehatan. Menurut (Suprajitno,
2003) perawat yang memeberikan asuhan keperawatan keluarga mempunyai peran

dan fungsi:
1 Edikator
2 Koordinator
3 Pelaksana
4 Perawatan dan pengawas perawatan langsungp
5 Pengawas kesehatan
6 Konsultan atau penasehat
7 Kolaborasi
8 Advokasi
9 Fasilitator
10 Penemu kasus
11 Modifikasi lingkungan

2.1.8 Tahapan Keluarga Sejahtera


1. Keluarga Prasejahtera
Keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasar secara minimal, seperti
kebutuhan akan pengajaran, agama, sandang, pangan dan kesehatan. Keluarga
prasejahtera belum dapat memenuhi salah satu atau lebih indikator keluarga
sejahtera tahapan.
2. Keluarga Sejahtera Tahap I
Keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasaranya secara
minimal, tetapi belum dapat memenuhi keseluruhan kebutuhan sosial psikologis
seperti kebutuhan akan pendidikan, keluarga berencana, interaksi dalam keluarga,
iteraksi dengan lingkungan tempat tinggal dan transpotrasi.
3. Keluarga Sejahtera Tahap II

Keluarga-keluarga yang disamping dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, juga


telah dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologisnya,akan tetapi belum dapat
memenuhi keseluruhan kebutuhan pengembangan seperti kebutuhan untuk
menabung dan memperoleh informasi.
4. Keluarga Sejahtera Tahap III
Keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, kebutuhan
sosial psikologis dan kebutuhan pengembangan, namun belum dapat memberikan
sumbangan yang maksimal terhadap masyarakat.
5. Keluarga Sejahtera Tahap IV
Keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan baik yang
bersifat dasar, sosial psikologis, mupun pengembangan serta telah dapat pula
memberikan sumbangan yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat
2.2 Konsep Dasar Asma
2.2.1 Pengertian
Asma adalah penyakit peradangan saluran napas kronis akibat terjadinya
peningkatan kepekaan saluran napas terhadap berbagai rangsangan (Sunaryati, 2011).
Asma adalah penyakit jalan napas obstruktif intermiten, reversible dimana trakea dan
bronki berespons dalam secara hiperaktif terhadap stimulasi tertentu (Smeltzer &
Bare, 2002).
2.2.2

Anatomi Saluran Pernapasan

2.2.3

Struktur Pernapasan
1. Hidung adalah organ tubuh yang berfungsi sebagai alat pernafasan dan indra
penciuman.

2. Faring terdiri atas nasofaring, orofaring, dan laringofaring.


3. Laring atau pingkal tenggorokan merupakan jalinan tulang rawan yang dilengkapi
dengan otot, membrane jaringan ikat, dan ligamentum.
4. Trakea atau batang tenggorokan adalah tabung berbentuk pipa seperti huruf C
yang dibentuk oleh tulang rawan disempurnakan oleh selaput.
5. Bronkus merupakan bagian lanjutan dari trakea terletak pada ketinggian vertebra
torakalis IV dan V. bronkus mempunyai struktur yang sama dengan trakea dan
terletak mengarah ke paru-paru. Bronkus terdiri atas dua bagian yaitu, bronkus
prinsipalis dekstra dan sinistra.
6. Paru-paru adalah salah satu organ system pernafasan yang berada di dalam
kantong yang di bentuk oleh pleura parietalis dan pleura viselaris (Syaifuddin,
2009).
2.2.4

Klasifikasi
1. Asma Alergik
Merupakan jenis asma yang disebakan oleh alergen atau alergen-alergen
yang dikenal. Kebanyakan allergen terdapat di udara dan musiman.
2. Asma Idiopatik atau Nonalergik
Asma jenis ini tidak berhubungan dengan allergen spesifik. Faktor-faktor
seperti common cold, infeksi traktus respiratorius, latihan, emosi, dan polutan
lingkungan dapat mencetuskan serangan.
3. Asma Gabungan
Merupakan bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai
karakteristik dari bentuk alergik maupun bentuk idiopatik atau nonalergik
(Smeltzer & Bare, 2002).

2.2.5

Etiologi
Menurut (Sunaryati, 2011) ada dua faktor yang dapat menyebabkan terjadinya asma,
yaitu:
1. Perubahan cuaca dan suhu udara
2. Polusi udara
3. Asap rokok
4. Infeksi saluran pernafasan
5. Gangguan emosi
6. Olahraga yang berlebihan

2.2.6

Patofisiologi
Asma adalah obstruksi jalan napas yang disebabkan oleh antara lain: kontraksi
otot yang mengelilingi bronki yang menyempitkan jalan napas, pembengkakan

membrane yang melapisi bronki dan pengisisan bronki oleh mucus yang kental.
sputum yang kental banyak dihasilkan dan alveoli menjadi hiperinflasi dengan udara
terperangkap di dalam jaringan paru. Pelepasan histamine, bradikinin, dan
prostaglandin serta anafilaksis mempengaruhi otot polos dan kelenjar jalan napas,
menyebabkan bronkospasme, pembengkakan membrane mukosa, dan pembentukan
mucus yang sangat banyak. Pada asma non alergi ketika ujung saraf pada jalan napas
dirangsang oleh faktor seperti infeksi, latihan, dingin, merokok, emosi dan polutan,
jumlah asetilkolin yang dilepaskan meningkat. Pelepasan asetilkolin ini secara
langsung menyebabkan bronkokonstriksi.
2.2.7

Pathway
Menurut (Somantri, 2007):

2.2.8

Pencetus serangan

Tanda dan Gejala


emosi, dispnea,
obat-obatan,
infeksi)
Tiga gejala umum asma(allergen,
adalah batuk,
dandan
mengi.
Pada beberapa keadaan
batuk mungkin merupakan satu-satunya gejala. Serangan asma sering kali terjadi
Reaksi antigen dan antibodi

pada malam hari. Penyebabbya tidak dimengerti dengan jelas, tetapi mungkin
berhubungan dengan variasi sirkadian yang mempengaruhi ambang reseptor jalan
nafas (Smeltzer & Bare, 2002). Menurut (Sunaryati, 2011) secara spesifik, gejala
dikeluarkannya substansi vasoaktif
asma adalah sebagai berikut:
1. Napas berbunyi ngik-ngik
2. Batuk-batuk
3. Dahak yang bertambah banyak atau berbau dan berubah warna kuning pada saat

terjadinya serangandan kuning


saat terjadi infeksi
Permeabilitas
4. Sesak dada
kapiler meningkat
Kontraksi
otot
Sekresi mukus
5. Susah
berbicara dan berkonsentrasi
polos
meningkat
6. Pundak membungkuk
7. Bayangan abu-abu atau membiru pada kulit, bermula dari mulut.
kontraksi otot polos

2.2.9

Pemeriksaan Penunjang
edema
mukosa
Menentukan faktor pemicu asma
tidaklah
mudah. Tes alergi bisaproduksi
membantu
dalam
Bronkospasme
mucus
bertambah
menemukan pemicunya. Jika hipersekresi
diagnosis masih meragukan, maka
bisa dilakukan

bronchial challenge test (Sunaryati, 2011). Pemeriksaan faal paru, uji provokasi
bronkus, pengukuran status alergi (Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan Asma di
Indonesia).
kebersihan jalan

Obstruksi saluran
napas

napas tidak efektif

ketidakseimbangan
2.2.10 Penatalaksanaan
` Tujuan penatalaksanaan asma adalah mencegah kematian,
nutrisimengembalikan
kurang dari
Hipoventilas

kebutuhan
keadaan klinis dan fungsi paru
i ke tingkat terbaik secepat mungkin dan
Kerusakan
pertukaran
mempertahankan fungsi paru yang optimal serta mencegah kekambuhan dini.
Hipoksemia
gas

Penatalaksanaan asma menurut (Bakta & Suastika, 1998) adalah pemberian oksigen,
bronkodilator, dan kortikosteroid. Menurut (Smeltzer & Bare, 2002) terdapat 5

kategori pengobatan yang digunakan dalam mengobati asma yaitu agonis beta,
metilsantin, antikolinergik, kortikosteroid, dan inhibitor sel mast.
2.2.11 Komplikasi
Komplikasi asma dapat mencakup status asmatikus, fraktur iga, pneumonia, dan
atelektasis. obstruksi jalan nafas, terutama selama episode asmatik akut sering
mengakibatkan hipoksemia membutuhkan pemberian oksigen dan pemantauan gas

darah arteri. cairan diberikan karena individu dengan asma mengalami dehidrasi
akibat diaphoresis dan kehilangan cairan tidak kasat mata dengan hiperventilasi
(Smeltzer & Bare, 2002).
2.2.12 Pencegahan
Menurut (Sunaryati, 2011) cara pencegahan asma yaitu:
1. Menjaga Kesehatan
Menjaga kesehatan merupakan usaha yang tidak terpisahkan dari
pengovatan penyakit asma. Usaha menjaga kesehatan antara lain berupa makan
makanan yang bergizi baik, minum banyak, istirahat yang cukup, rekreasi, dan
olahraga yang sesuai.
2. Menjaga Kebersihan Lingkungan
Lingkungan sangat mempengaruhi timbulnya serangan asma. Rumah
sebaiknya tidak lembab, cukup ventilasi, dan cahaya matahatri. Saluran
pembuangan air juga harus lancar. Kamar tidur merupakan tempat yang perlu
mendapat perhatian khusus. Sebaiknya kamar tidur sesedikit mungkin berisi
barang-barang untuk menghindari debu rumah. hewan peliharaan, asap rokok,
semprotan nyamuk, semprotan rambut, dan lain-lain juga dapat menjadi pemicu
timbulny asama.
3. Menghindari Faktor Pemicu Asma
Alergen yang sering menimbulkan penyakit asma adalah debu. Alergen lain
seperti kucing, anjing, burung, perlu mendapat perhatian dan juga perlu diketahui
bahwa binatang yang tidak diduga, seperti kecoak dan tikus juga dapat
menimbulkan penyakit asma. Infeksi saluran pernafasan sering mencetuskan
penyakit asma.
4. Menggunakn Obat-Obatan Anti-Asma
Pada serangan penyakit asma yang ringan penderita boleh memakai
bronkodilator, baik bentuk tablet, kapsul, maupun sirup. Pengobatan asma dapat
dilakukan dengan 2 cara, yaitu pertama terapi non obat yang dapat dilakukan
dengan cara menghindari pemicu atau dengan terapi nafas. Kedua, melibatkan
obat-obat asma untuk penggunaan jangka panjang dan obat asma untuk
penggunaan jangka pendek.

2.3 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Keluarga


Asuhan keperawatan keluarga adalah suatu rangkaian kegiatan yang diberikan melalui
praktik keperawatan dengan sasaran keluarga yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah
kesehatan yang dialami keluarga dengan menggunakan metode pendekatan proses
keperawatan (Suprajitno, 2004). Proses keperawatan keluarga adalah metode ilmiah yang
digunakan secara sistematis untuk mengkaji dan menentukan masalah kesehatan dan
keperawatan keluarga, merencanakan asuhan keperawatan keluarga dan melaksanakan
intervensi keperawatan terhadap keluarga sesuai dengan rencana yang telah disusun dan
mengevaluasi mutu hasil asuhan keperawatan yang dilaksanakan terhadap keluarga
(Suprajitno, 2003). Tahap-tahap proses keperawatan keluarga yang digunakan adalah :
1)

Pengkajian
Pengkajian adalah suatu tahapan ketika seorang perawat mengumpulkan informasi secara
1

terus menerus tentang keluarga yang dibinanya. Tahap dari pengkajian yaitu:
Pengumpulan Data
Data-data yang dikumpulkan meliputi hal-hal sebagai berikut :
a. Data umum meliputi nama kepala keluarga, umur, alamat dan telepon, pekerjaan
kepala keluarga, pendidikan kepala keluarga, komponen keluarga dan status
imunisasi serta genogram keluarga 3 generasi, tipe keluarga, latar belakang
budaya (etnis), identifikasi religius, status sosial ekonomi dan aktifitas rekreasi
atau waktu luang.
b. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
1) Tahap perkembangan keluarga adalah mengkaji keluarga berdasarkan tahap
kehidupan keluarga berdasarkan duvall, ditentukan dengan anak tertua dari
keluarga inti dan mengkaji sejauhmana keluarga melaksanakan tugas sesuai
tahapan perkembangan.
2) Riwayat keluarga adalah mengkaji riwayat kesehatan keluarga inti dan riwayat
kesehatan keluarga yang meliputi tahap perkembangan keluarga saat ini, tahap
perkembangan keluarga yang belum terpenuhi, riwayat keluarga inti dan
riwayat keluarga sebelumnya.
c. Data lingkungan meliputi karakteristik rumah, karakteristik lingkungan dan
komunitas tempat tinggal yang lebih luas, mobilitas geografis keluarga,
perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat dan sistem pendukung
keluarga.

d. Struktur keluarga meliputi pola-pola komunikasi, struktur kekuatan, struktur


peran dan struktur nilai atau norma keluarga.
e. Fungsi keluarga meliputi fungsi ekonomi, fungsi mendapatkan status sosial,
fungsi pendidikan, fungsi sosialisasi, fungsi religius, fungsi rekreasi, fungsi
reproduksi, fungsi afeksi dan fungsi pemenuhan (perawatan/pemeliharaan).
Fungsi pemenuhan kesehatan dengan tugas keluarga di bidang kesehatan:
1. Mengetahui kemampuan keluarga untuk mengenal masalah kesehatan. Hal yang perlu
dikaji adalah sejauh mana keluarga mengetahui fakta dari masalah Asma meliputi:
a. Pengertian asma
b. Tanda dan gejala asma
c. Faktor penyebab asma
2. Mengetahui kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan mengenai tindakan
kesehatan yang tepat, perlu dikaji tentang:
a. Kemampuan keluarga memahami sifat dan luasnya masalah?
b. Apakah penyakit Asma dirasakan oleh keluarga ?
c. Apakah keluarga merasa menyerah terhadap masalah yang dialami ?
d. Apakah keluarga merasa takut terhadap akibat dari keadaan asma yang dialami
oleh salah satu anggota keluarga ?
e. Apakah keluarga mempunyai sikap yang tidak mendukung (negatif) terhadap
upaya kesehatan yang dapat dilakukan pada salah satu anggota keluarga yang
menderita asma ?
f. Apakah keluarga mempunyai kemampuan untuk menjangkau fasilitas pelayanan
kesehatan ?
g. Apakah keluarga mempunyai kepercayaan terhadap tenaga kesehatan ?
h. Apakah keluarga telah memperoleh informasi tentang kesehatan yang tepat untuk
melakukan tindakan dalam rangka mengatasi masalah kesehatan ?
3. Mengetahui sejauhmana kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit,
perlu dikaji tentang :
a. Pengetahuan keluarga tentang Asma yang dialami oleh salah satu anggota
keluarga
b. Pemahaman keluarga tentang perawatan yang perlu dilakukan keluarga terhadap
anggota keluarga yang menderita Asma.
c. Pengetahuan keluarga tentang peralatan, cara dan fasilitas untuk merawat anggota
keluarga yang menderita Asma

d. Pengetahuan keluarga tentang sumber yang dimiliki keluarga meliputi anggota


yang mampu dan dapat bertanggung jawab, sumber keuangan/finansial, fasilitas
fisik dan dukungan psikososial.
e. Bagaimana sikap keluarga terhadap anggota keluarga yang menderita Asma.
4. Mengetahui kemampuan keluarga memelihara/memodifikasi lingkungan rumah yang
sehat, perlu dikaji tentang:
a. Pengetahuan keluarga tentang sumber yang dimiliki disekitar lingkungan rumah.
b. Kemampuan keluarga melihat keuntungan dan manfaat pemeliharaan lingkungan
c. Pengetahuan keluarga tentang pentingnya sikap keluarga terhadap sanitasi
lingkungan yang hygienis sesuai syarat kesehatan.
d. Pengetahuan keluarga tentang upaya pencegahan Gastritis yang dapat dilakukan
keluarga.
e. Kebersamaan keluarga untuk meningkatkan dan memelihara lingkungan rumah
yang menunjang kesehatan.
5. Mengetahui kemampuan keluarga menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan di
masyarakat, perlu dikaji tentang:
a. Pengetahuan keluarga tentang keberadaan fasilitas pelayanan kesehatan yang
dapat dijangkau.
b. Pemahaman keluarga tentang keuntungan yang diperoleh dari fasilitas kesehatan.
c. Tingkat kepercayaan keluarga terhadap fasilitas pelayanan kesehatan yang
melayani.
d. Apakah keluarga mempunyai pengalaman yang kurang menyenangkan tentang
fasilitas dan petugas kesehatan yang melayani.
6. Stres dan koping keluarga meliputi stresor yang dimiliki keluarga, kemampuan keluarga
berespon terhadap stresor, strategi koping yang digunakan dan strategi adaptasi yang
disfungsi.
7. Pemeriksaan fisik pada salah satu anggota keluarga yang menderita Asma meliputi:
a. Keluhan/riwayat penyakit saat ini .
b. Riwayat penyakit sebelumnya
c. Tanda-tanda vital
d. Sistem cardiovaskuler
e. Sistem gastrointestinal
f. Sistem musculoskeletal
g. Kelemahan otot, keseimbangan terganggu

2) Analisa Data
Menurut (Effendy, 1998) di dalam menganalisa data ada 3 norma yang perlu diperhatikan
dalam melihat perkembangan kesehatan keluarga, yaitu :
1. Keadaan kesehatan dari setiap anggota keluarga meliputi :
a. Keadaan kesehatan anggota keluarga yang menderita sakit.
b. Keadaan kesehatan fisik, mental, sosial anggota keluarga.
c. Keadaan pertumbuhan dan perkembangan anggota keluarga.
d. Keadaan gizi anggota keluarga.
e. Status imunisasi anggota keluarga.
f. Kehamilan dan keluarga berencana.
2. Keadaan rumah dan sanitasi lingkungan, meliputi :
a. Rumah meliputi : ventilasi, penerangan, kebersihan, konstruksi, luas
rumah dibandingkan dengan jumlah anggota keluarga dan sebagainya.
b. Sumber air minum
c. Jamban keluarga
d. Tempat pembuangan air limbah
e. Pemanfaatan pekarangan yang ada dan sebagainya
3. Karakteristik keluarga
a. Sifat-sifat keluarga
b. Dinamika dalam keluarga
c. Komunikasi dalam keluarga
d. Interaksi antar anggota keluarga
e. Kesanggupan keluarga dalam membawa perkembangan anggota keluarga.
f. Kebiasaan dan nilai-nilai yang berlaku dalam keluarga.
3) Perumusan Masalah
Rumusan masalah kesehatan keluarga dapat menggambarkan keadaan kesehatan dan
status kesehatan keluarga, karena merupakan hasil dari pemikiran dan pertimbangan yang
emndalam tentang situasi kesehatan, lingkungan, norma, nilai, kultur yang dianut oleh
keluarga tersebut (Effendy, 1998).
Dalam tipologi masalah kesehatan keluarga ada 3 kelompok masalah besar, yaitu:
1. Ancaman kesehatan
adalah keadaan yang dapat memungkinkan terjadinya penyakit, kecelakaan dan
kegagalan dalam mencapai potensi kesehatan, seperti keluarga terlalu besar dan
tidak sesuai dengan kemampuan dan sumber daya keluarga, kekurangan gizi,
sanitasi lingkungan buruk, kebiasaan yang merugikan kesehatan, kepribadian,
peran, status imunisasi.
2. Kurang/tidak sehat

adalah kegagalan dalam memantapkan kesehatan seperti keadaan sakit, kegagalan


dalam pertumbuhan dan perkembangan anak yang tidak normal.
3. Situasi Krisis
adalah saat-saat yang banyak menuntut individu atau keluarga dalam
menyesuaikan diri termasuk juga dalam hal sumber daya keluarga, seperti:
kematian anggota keluarga, kehilangan pekerjaan, pindah rumah.
4) Prioritas Masalah
Setelah menentukan masalah kesehatan, langkah selanjutnya adalah menemukan prioritas
masalah kesehatan keluarga didasarkan pada beberapa kriteria sebagai berikut :
a. Sifat masalah, dikelompokkan dalam ancaman kesehatan, tidak/kurang sehat dan
b.

krisis.
Kemungkinan masalah dapat dirubah adalah kemungkinan keberhasilam untuk

mengurangi masalah, mencegah masalah bila dilakukan intervensi keperawatan.


c. Potensial masalah untuk dapat dicegah adalah sifat untuk bertanya masalah yang
akan timbul dan dapat dikurangi atau dicegah melalui tindakan keperawatan dan
kesehatan.
d. Masalah yang menonjol adalah cara keluarga melihat dan menilai masalah dalam
hal bertanya dan mendesaknya untuk diatasi melalui intervensi keperawatan.

Skala prioritas dalam menyusun masalah kesehatan keluarga dapat dilakukan


dengan tehnik skoring (Effendy, 1998):
Kriteria
1. Sifat Masalah
Skala:
a. ancaman
b. Tidak/kurang sehat
c. Kritis
2. Kemungkinan masalah dapat diubah
Skala:
a. Mudah
b. Sebagian
c. Tidak dapat diubah
3. Potensial masalah untuk dicegah
Skala:
a. Tinggi
b. Sedang
c. Rendah
4. Menonjolnya Masalah

Skor

Bobot

3
2
1

2
1
0

3
2
1

Skala:
a. Masalah berat harus segera
ditangani
b. Masalah yang tidak perlu
ditangani segera
c. Masalah tidak dirasakan

2
1

Skoring:
1. Tentukan skor untuk setiap criteria
2. Skor dibagi dengan angka tertinggi dan kalikan dengan bobot
Skor
X Bobot
angka tertinggi
3. Jumlahkan skor untuk semua kriteria
4. Skor tertinggi adalah 5 dansama untuk seluruh bobot
5) Perumusan Diagnosa Keperawatan
Adalah pernyataan tentang faktor-faktor yang mempertahankan respon/tanggapan
yang tidak sehat dan menghalangi perubahan yang diharapkan. dalam menentukan
diagnose keperawatan keluarga ditetapkan berdasarkaan faktor resiko dan faktor potensial
terjadinya penyakit atau masalah kesehatan keluarga, serta mempertimbangkan
kemampuan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatannya. Diagnosa keperawatan
ditegakkan dengan menggunakan formulasi PES (problem, etiologi, sign).
6) Rencana Tindakan Keperawatan
Rencana tindakan keperawatan keluarga adalah skumpulan tindakan yang
ditentukan perawat untuk dilaksanakan, dalam memecahkan masalah kesehatan dan
keperawatan yang telah diidentifikasi.
Prinsip penentuan adalah ditentukan oleh perawat bersama keluarga, dapat diterima oleh
keluarga, keluarga menyadari dan mengambil tindakan untuk memecahkannya.
Hal yang perlu diperhatikan dalam memilih tindakan keperawatan:
1. Merangsang keluarga mengenal dan menerima masalah dan kebutuhan kesehatan
mereka melalui:
a. memperluas pengetahuan kelurga melalu penyuluhan kesehatan
b. membantu keluarga melihat situasi dan akibat dari situasi tersebut
c. Mengkaitkan kebutuhan kesehatan dan sasaran kelurga
d. Mengembangkan sifat positif dalam kelurga
2. Menolong keluarga untuk menentukan tindakan keperawatan

a. merundingkan dengan keluarga mengenai akibat bila mereka tidak


mengambil tindakan
b. memperkenalkan alternative yang dapt mereka pilih
c. me3rundingkan akibat dari tindakan atau side efek yang mungkin timbul
3. Menumbuhkan kepercayaan keluarga terhadap perawat
a. Memberikan asuhakn keperawatan kepada anggota keluarga yang sakit
b. membantu memperbaiki fasilitas rumah yang sudah ada
c. Mengembangkan pola komunikasi dengan keluarga
7) Implementasi
Pelaksanaan tindakan keperawatan terhadap keluarga didasarkan kepada rencana
asuhan keperawatan yang telah disusun. hal yang perlu diperhatiakan dalam pelaksanaan
tindakan keperawatan terhadap kelurga:
a. Sumber daya keluarga (keuangan)
b. Tingkat pendidikan keluarga
c. Adat istiadat yang berlaku
d. Respond an penerimaan keluarga
e. Sarana dan pra sarana yang ada pada keluarga
8) Evaluasi
Adalah tahap yang menetukan apakah tujuan tercapai. evaluasi selalu berkaitan
dengan tujuan.