Anda di halaman 1dari 46

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) merupakan suatu organisasi
fungsional yang bekerja dibawah dinas kesehatan yang menyelenggarakan upaya
kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu merata dapat diterima dan terjangkau
oleh masyarakat dan menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi tepat guna dengan biaya yang dapat ditanggung oleh pemerintah dan
masyarakat. Puskesmas merupakan sarana Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama
yang lebih mengutamakan pelayanan bersifat dasar serta bertanggung jawab
menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan maupun upaya kesehatan
masyarakat di wilayah kerjanya. Fungsi Puskesmas antara lain sebagai pusat
pengembangan kesehatan masyarakat melalui pengenalan masalah kesehatan
masyarakat di wilayah kerjanya, sebagai pusat pembinaan peran serta masyarakat
di wilayah kerjanya, dan sebagai pusat pelayanan kesehatan masyarakat yang
diberikan dalam bentuk kegiatan pokok Puskesmas.
Pada umumnya masyarakat Indonesia kurang sadar memanfaatkan
pelayanan kesehatan Puskesmas di lingkungan sekitar mereka. Padahal Puskesmas
dapat meningkatkan taraf kesehatan masyarakat terutama masyarakat kurang
mampu sebab Puskesmas memiliki subsidi langsung dari pemerintah. Karena itu
perlu diadakan penyuluhan dan pemahaman yang lebih dalam tentang pentingnya
Puskesmas di masyarakat untuk mendorong masyarakat lebih mengenal masalah
kesehatannya. Dengan adanya mata kuliah Pengenalan Klinik Dini ini, diharapkan
mahasiswa Kedokteran Gigi FKUB dapat meningkatkan pengetahuan dan
kesadaran tentang pentingnya Puskesmas sehingga masayarakat akan lebih sadar
menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan yang telah tersedia di Puskesmas.
1.2 TUJUAN
1

1. Untuk mengetahui profil

(peta wilayah,visi,misi,dan motto)

dari

Puskesmas Gribig
2. Untuk mengetahui program (pokok dan unggulan) yang ada di Puskesmas
Gribig
3. Untuk mengetahui struktur organisasi yang ada di Puskesmas Gribig
4. Untuk mengetahui jenis-jenis pelayanan yang ada di Puskesmas Gribig
5. Untuk mengetahui kegiatan, sarana prasarana serta SOP BP gigi di
Puskesmas Gribig
6. Untuk mengetahui alur-alur (regitrasi,perujukan,pemeriksaan,pengambilan
obat) yang ada di Puskesmas Gribig
7. Untuk mengetahui kode penyakit gigi dan mulut serta tindakan yang
dilakukan BP gigi Puskesmas Gribig
8. Untuk mengetahui Top 10 Diseases yang ada di Puskesmas Gribig
9. Untuk mengetahui kegiatan unit pelayanan lain di Puskesmas Gribig

1.3 MANFAAT
1. Mahasiswa mengetahui tentang profil dari Puskesmas Gribig
2. Mahasiswa mengetahui program program yang ada di Puskesmas Gribig
3. Mahasiswa memiliki gambara tentang pekerjaan yang ada di Puskesmas
4. Mahasiswa dapat membandingkan teori yang telah didapat selama
perkuliahan dengan kenyataan di lapangan

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 PENGERTIAN PUSKESMAS
Puskesmas adalah organisasi kesehatan fungsional yang merupakan
pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta
masyarakat dan memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada
masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok (Depkes RI, 2000).

Dengan kata lain, puskesmas mempunyai wewenang dan tanggung jawab atas
pemeliharaan kesehatan masyarakat dalam wilayah kerjanya.
Menurut Kepmenkes RI No. 128/Menkes/SK/II/2004,

puskesmas

merupakan Unit Pelayanan Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten atau Kota yang
bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah
kerja.
Wilayah kerja puskesmas meliputi satu kecamatan atau sebagian dari
kecamatan. Faktor kepadatan penduduk, luas daerah, keadaan geografis, dan
keadaan infrastruktur lainnya merupakan bahan pertimbangan dalam menentukan
wilayah kerja puskesmas. Puskesmas merupakan perangkat pemerintah daerah
kabupaten atau kota, sehingga pembagian wilayah kerja puskesmas ditetapkan
oleh bupati atau walikota, dengan saran teknis dari Dinas kesehatan kabupaten
atau kota yang telah disetujui oleh kepala dinas kesehatan provinsi (Depkes RI,
2000).
Menurut Depkes RI (2000), pelayanan kesehatan yang diberikan di
puskesmas meliputi pelayanan: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif,
ditujukan kepada semua penduduk dan tidak membedakan jenis kelamin dan
golongan umur.
Puskesmas memiliki 3 jenis program kesehatan, yaitu : program kesehatan
pokok, program inovasi, dan program kesehatan unggulan.
Program kesehatan pokok meliputi :
Kesehatan Lingkungan
Gizi
Layanan Pencegahan Penyakit Menular
Promosi Kesehatan
KIA dan KB
Program inovasi meliputi :

Program Kesehatan Mata


Program Kesehatan Gigi dan Mulut
Program Kesehatan Jiwa
Program Kesehatan Lansia
Program unggulan meliputi :

Program Puskesmas Sayang Ibu dan Anak


Program Pemantauan Gizi

2.2 MANAJEMEN PUSKESMAS


Manajemen puskesmas dapat digambarkan sebagai suatu rangkaian
kegiatan yang bekerja secara sinergik, sehingga menghasilkan pengeluaran yang
efisien yang efektif dengan menggunakan instrumen manajemen, di antaranya:
1. Perencanaan
Langkah penting dalam penyusunan perencanaan, yaitu:
a. Identifikasi kondisi masalah kesehatan masyarakat dan lingkungan
serta fasilitas pelayanan kesehatan tentang cakupan dan mutu
pelayanan.
b. Identifikasi potensi sumber daya masyarakat dan provider.
c. Menetapkan kegiatan-kegiatan untuk menyelesaikan masalah.
2. Penggerakan pelaksanaan
Penyelenggaraan penggerakkan pelaksanaan puskesmas melalui instrumen
lokakarya mini puskesmas yang terdiri dari:
a. Lokakarya mini bulanan
b. Lokakarya mini tribulan
3. Pengendalian, pengawasan, dan penilaian
Untuk terselenggaraannya proses pengendalian,

pengawasan,

dan

penilaian diperlukan instrumen yang sederhana, yaitu:


a. Pemantauan wilayah setempat (PWS)
b. Penilaian kinerja puskesmas sebagai pengganti stratifikasi, ruang
lingkup meliputi penilaian manajemen puskesmas, pencapaian hasil
cakupan (output) dan mutu pelayanan (outcome) dari kegiatan
puskesmas yang telah ditetapkan di tingkat Kabupaten/Kota.

2.3 STANDAR PELAYANAN MINIMAL PUSKESMAS


Undang-undang RI Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
telah menetapkan bidang kesehatan merupakan salah satu kewenangan wajib yang
harus dilaksanakan oleh Kabupaen/Kota. Penyelenggaraan Kewenangan Wajib

oleh Daerah adalah merupakan perwujudan otonomi yang bertanggung jawab,


yang pada intinya merupakan pengakuan/pemberiaan hak dan kewenangan.
Untuk menyamakan persepsi dan pemahaman dalam pengaktualisasian
kewenangan wajib bidang kesehatan di Kabupaten/Kota seiring dengan Lampiran
Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No.100/756/OTDA/tanggal 8 Juli 2002
tentang Konsep Dasar Penentuan Kewajiban Wajib dan Standar Pelayanan
Minimal, maka dalam rangka memberikan panduan untuk melaksanakan
pelayanan dasar dibidang kesehatan kepada masyarakat di Daerah, telah
ditetapkan Keputusan Menteri Kesehatan No.1457/Menkes/SK/X/2003 tentang
Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota. Yang
dimaksud dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) adalah suatu standar dengan
batas-batas tertentu untuk mengukur kinerja penyelenggaraan kewenangan wajib
daerah yang berkaitan dengan pelayanan dasar kepada masyarakat yang mencakup
jenis pelayanan, indikator, dan nilai (benchmark). Pelayanan dasar kepada
masyarakat adalah fungsi Pemerintah dalam memberikan dan mengurus keperluan
kebutuhan dasar masyarakat untuk meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat.
SPM Bidang Kesehatan pada hakekatnya merupakan bentuk-bentuk
pelayanan kesehatan yang selama ini telah dilaksanakan oleh Pemerintah
Kabupaten/Kota. Namun demikian mengingat kondisi masing-masing daerah
yang terkait dengan keterbatasan sumber daya yang tidak merata, maka diperlukan
pentahapan pelaksanaannya dalam mencapai pelayanan minimal target 2010 oleh
masing-masing Daerah sesuai dengan kondisi dan perkembangan kapasitas
standar teknis, mempunyai batasan tertentu. Sebagai contoh cakupan pelayanan
imunisasi harus 80% karena < 80% tidak mempunyai dampak epidemiologis.
Puskesmas

sebagai

Unit

Pelaksana

Teknis

Dinas

(UPTD)

Kesehatan

Kabupaten/Kota berperan menyelenggarakan sebagian dari tugas teknis


operasional Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan merupakan unit pelaksana
tingkat pertama serta ujung tombak pembangunan kesehatan di Indonesia
sehingga mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan SPM bidang
kesehatan.

BAB III
HASIL WAWANCARA DAN PENGAMATAN
3.1 PETA WILAYAH PUSKESMAS GRIBIG

Gambar 1. Peta Wilayah Puskesmas Gribig

Puskesmas Gribig memiliki 4 wilayah kerja Kelurahan dengan jumlah penduduk


74.483 jiwa yang terdiri dari laki- laki : 36.620 Jiwa dan perempuan : 37.863jiwa.

Kelurahan Madyopuro dengan jumlah penduduk


Kelurahan Lesanpuro dengan jumlah penduduk
Kelurahan Sawojajar dengan jumlah penduduk
Kelurahan Cemorokandang dengan jumlah penduduk

: 19.366
: 18.458
: 25.500
: 11.159
6

3.2 VISI MISI PUSKESMAS


Visi :
Terwujdnya masyarakat sehat, mandiri , dan peduli kesehatan
Misi :
1. Melakukan upaya pemberdayaan masyaraka dan keluarga
2. Menyelenggarakan pelayanan Kepala
yang berkualitas
dan professional
Puskesmas
drg.Camelia Finda
drg.Camelia Finda A

Motto :

Kepala Tata Usaha


Pitono S,AP

Kepuasan anda kebahagiaan kami

3.3.

PROGRAM PUSKESMAS

Program Pokok

Keuangan
Kepegawaian dan UmumSP2TP
Dyah A
Srinayu
Pitono

KIA & KB
Gizi
Koordinator
Upaya
Kesehatan
Masyarakat(Surveilance dan Pengendalian Penyakit)
rdinator Upaya
Kesehatan
Masyarakat
(Pemberdayaan)

Kesehatan
Lingkungan
Pengobatan Masyarakat
Program Ungggulan :
dr.Wida Sekarani P.

dr.Irham Nizami

Kesehatan Lansia
:Ellis
Kesehatan Mata Imunisasi:Ratih
& Telinga
Perkesmas
UKS dan ARU:Andre
P2
DBD:Umi
Kesehatan UKS / UKGS
Perbaikan Gizi:Eny
Kes. Jiwa:Sukarti
UKK :Rini
UKBM,Promkes.:Rini
Kes.Keluarga:Ellis
Kesling: Umi
Kes.Indera:Asmina
Poskestren:Rini

P2 Diare:Dyah
P2 TB:Rahayu TT
P2Kusta:Sukarti
P2 ISPA:Dwi M
SE :Yeti
Napza :Ayu
Kes Haji:Ulfa Rama

drg.Dwi Rahayu
Poli Umum:Asmina
Poli KIA/KB:Kholidah
Poli Gigi:Wiheni
Klinik Gizi:Eny+Rini
Ambulans:Ilfanu
UGD:Asmina
Lab:Ainun+Ina
Apotik dan Gudang Obat:Agus+Yayuk
Pusling:Ilfanu

3.4 STRUKTUR ORGANISASI


Koordinator PustuLesanpuro
Dwi Murlianti

Poskeskel L.puro
Dewi Fatimah

Koordinator PustuSawojajar
Ratih Widyaningtias

Poskeskel Sawojajar
I.Gusti Ayu

Koordinator PustuC.Kandang
Ellis Widi Astuti

Poskeskel C.Kandang7
Srimar Yulianti

3.5 PELAYANAN PUSKESMAS


Pelayanan Kesehatan Dasar
Upaya kesehatan dasar merupakan langkah awal yang sangat penting dalam
memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dengan pemberian
pelayanan kesehatan dasar secara cepat dan tepat, diharapkan sebagian besar
masalah kesehatan masyarakat sudah dapat teratasi. Berbagai pelayanan kesehatan
dasar yang dilakukan oleh fasilitas pelayanan keseahatan adalah sbb :
PROGRAM POKOK
1.Promosi Kesehatan
1.1. Hasil kegiatan : ( 75,77 % )

1.2. Pembahasan

: Semua variabel telah terealisasi dengan baik.

1.3. Hambatan

: Petugas promkes belum maksimal dalam melaksanakan


tugas.

2.Penyehatan Lingkungan
2.1. Hasil Kegiatan : ( 75,54 % )
2.2. Pembahasan

: Pengawasan sarana air bersih (SAB ) kurang.

2.3. Hambatan

: Tenaga Sanitarian merangkap tugas-tugas lain.

Data Lingkungan penyehatan


1. Jml.TPA yg ada/terdaftar
2. Jml.TPA yg mnh.syarat
3. JML.TPS yg ada /terdaftar
4. Jml.TPS yg mnh syarat
5. Jml.TTUyg ada /terdaftar
6. Jml TTU yg mnh syarat
7. Jml.TP3 yg ada/terdaftar
8. Jml.TP3yg mnh syarat
9. Jml.TPM yg ada/terdaftar
10.Jml TPM yg laik sehat
11.Jml.penjamah makanan yg ada
12.Jml.JAGA yg ada/berfungsi
13.Jml.SPAL yg ada/berfungsi
14.Jml.Rumah yg ada
15.Jml.Rumah yg mnh syarat

:
0 buah
:
0 buah
:
5 buah
:
4 buah
:
137 buah
:
85 buah
:
0 buah
:
0 buah
:
171 buah
:
111 buah
: 1.287 orang
: 17.216 buah
: 16.215 buah
: 17.532 buah
: 14.818 buah

3.Upaya Perbaikan Gizi


3.1. Hasil Kegiatan : ( 80,64 % )
3.2. Pembahasan

: Balita naik berata badannya ( N/D ) kurang


Persentase balita yang ditimbang berat badannya kurang.

3.3. Hambatan

: Petugas gizi belum maksimal dalam melaksanakan


tugas.

4.Kesehatan Ibu Anak dan KB


4.1. Hasil Kegiatan : ( 84,97 % )
4.2. Pembahasan

: Jumlah pencapaian K4 belum terpenuh


Pelayanan neonatal Resti sangat rendah.
Cakupan pelayanan KB sangat kurang

4.3. Hambatan

: Tidak semua Bumil datang ke Puskesmas sesuai dengan


Ketentuan Bufas tidak semua menggunakan pelayanan
puskesmas disebabkan adanya pelayanan BPS dan
Pelayanan Bufas yang lain.Peserta KB banyak yang ke
pelayanan BPS dan sarana pelayanan Kesehatan lain.

5.Pemberantasan Penyakit Menular


5.1. Hasil Kegiatan : ( 66,01 % )
5.2. Pembahasan

: Penemuan suspek TB paru masih kurang.


Proporsi pasien TB paru BTA positip diantara suspect
kurang Penemuan penderita ISPA rendah

5.3. Hambatan

: Belum semua Petugas aktif dalam penemuan suspek TB


paru Petugas laborat masih kurang dalam penjaringan
suspect

6.Pengobatan
6.1. Hasil Kegiatan : ( 100 % )
6.2. Pembahasan

: Visite Rate rendah.

6.3. Hambatan

: Jumlah kasus baru masih rendah

MANAJEMEN PUSKESMAS

10

1.Manajemen Operasional
1.1. Hasil Kegiatan

: (8,80% )

1.2. Pembahasan

: Pertemuan Lokmin lintas sektor belum dilaksanakan


secara berkala / rutin

1.3. Hambatan

: Koordinasi perlu ditingkatkan.

2.Manajemen Alat dan Obat


2.1. Hasil Kegiatan

: (9,15% )

2.2. Pembahasan

: Melaksanakan perawatan Alkes kurang

2.3. Hambatan

: Petugas belum melaksanakan tugasnya dengan


maksimal

3.Manajemen Keuangan
3.1. Hasil Kegiatan

: (7,75% )

3. 2. Pembahasan

: Tidak ada

3.3. Hambatan

: Tidak ada

4.Manajemen Ketenagaan
4.1. Hasil Kegiatan

: (9,35% )

4.2. Pembahasan

: Tidak ada

4.3. Hambatan

: Tidak ada

5.Manajemen Pembiayaan

11

5.1. Hasil Kegiatan

: (7,80% )

5.2. Pembahasan

: Tidak ada

5.3. Hambatan

: Tidak ada

6.Manajemen Pengelolaan Barang/Aset


6.1. Hasil kegiatan

: ( 8,20% )

6.2. Pembahasan

: tidak ada

6.3. Hambatan

: Tidak ada

PROGRAM PENGEMBANGAN
1.Upaya Kesehatan Usia Lanjut
1.1. Hasil Kegiatan

: ( 98,11 % )

1.2. Pembahasan

:Semua variabel terpenuhi.

1.3. Hambatan

: Tidak ada

2.Upaya Kesehatan Mata


2.1. Hasil Kegiatan

: ( 33,75 % )

2.2. Pembahasan

: Penemuan kasus di masyarkt melalui visus rendah

2.3. Hambatan

: Penderita tidak datang ke puskesmas,langsung ke RS.

3.Upaya Kesehatan Telinga


3.1. Hasil Kegiatan

: ( 93,66 % )

3.2. Pembahasan

: Kejadian komplikasi operasi kosong.

12

3.3. Hambatan

: Tidak ada

4.Upaya Kesehatan Jiwa


4.1. Hasil Kegiatan : ( 57,45% )
4.2. Pembahasan

: Penemuan dan penanganan kasus gangguan perilaku


rendah.

4.3. Hambatan

: Petugas belum maksimal dalam melaksanakan tugas

5.Upaya kesehatan Olahraga


5.l. Hasil kegiatan

: ( 78,33% )

5.2. Pembahasan

: Semua variabel belum terpenuhi

5.3. Hambatan

: Petugas belum maksimal melaksanakan tugasnya

6.Upaya kesehatan Gigi dan Mulut


6.1. Hasil kegiatan : ( 94,71% )
6.2. Pembahasan

: Pembinaan kesehatan gigi terpenuhi

6.3. Hambatan

: Tidak ada

7.Perawatan Kesehatan Masyarakat


7.1. Hasil kegiatan : ( 44,29 % )
7.2. Pembahasan

: Variabel belum terpenuhi

7.3. Hambatan

: Petugas belum maksimal dalam melaksanakan tugas

8.Bina Kesehatan Tradisional


8.l. Hasil kegiatan

:(0%)

13

8.2. Pembahasan

: Semua variabel kosong belum terpenuhi

8.3. Hambatan

: Petugas belum maksimal dalam melaksanakan tugas

9.Bina Kesehatan Kerja


9.l .Hasil kegiatan

: (83,00%)

9.2. Pembahasan

: Variabel masih kurang terpenuhi

9.3 .Hambatan

: Petugas masih kurang maksimal dalam melaksanakan


tugas

10.Pemberdayaan Masyarakat Dalam PHBS


10.1. Hasil Kegiatan : ( 51,60% )
10.2. Pembahasan : Variabel masih kurag terpenuhi
10.3. Hambatan

: Petugasbelum maksimal dalam melaksanakan tugas.

11.Upaya Pengembangan UKBM


11.1. Hasil Kegiatan : ( 51,67% )
11.2. Pembahasan

: Pembinaan Poskestren kurang

11.3. Hambatan

: Petugasbelum maksimal dalam melaksanakan tugas.

12.Program Gizi
12.1. Hasil Kegiatan : ( 100 % )
12.2. Pembahasan

: Klinik gizi sudah dilaksanakan

12.3. Hambatan

: -

14

JENIS PELAYANAN PUSKESMAS

1. PELAYANAN DASAR
a. Poli pengobatan umum
b. Poli Gigi
c. Poli Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
d. Pelayanan Keluarga Berencana (KB)
e. Pelayanan Imunisasi
f. Pelayanan Apotik
g. Pelayanan Laboratorium
Dasar
:
a. Urine Lengkap
b. Darah Lengkap
Tambahan :
a. Gula Darah
b. Planotes
c. Golongan Darah
d. Kholesterol
e. Trigliserida
f. Asam Urat
2. PELAYANAN INOVATIF
a. Klinik Sanitasi
b. Klinik Gizi
c. Pemeriksaan Kesehatan Haji
d. Pemeriksaan Kesehatan
e. Posyandu Balita dan Posyandu Lansia

3.6 SARANA DAN PRASARANA


Puskesmas Gribig dalam perkembangannya diupayakan terus meningkat dari sisi
kualitas dan kuantitas. Jumlah puskesmas pembantu ada 3 buah,dan memiliki 1
puskesmas keliling.
Sarana Kesehatan :
2.1. Rumah Sakit Umum

: 0

buah

2.2.Rumah Sakit Khusus

: 0

buah

15

2.3.Rumah Sakit Bersalin/RSAB

: 1

buah

2.4.BKIA

: 0

buah

2.5.Pustu

: 3

buah

2.6.Pusling

: 1

buah

2.6.Polindes

: 0

buah

2.7.Poliklinik/BP

: 1

buah

3.7 TENAGA KERJA PUSKESMAS


NO
.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

TENAGA KERJA
Dokter
Dokter Gigi
Perawat (SPK)
Bidan ( SPK +P2B )
Bidan ( D III Kebidanan)
Perawat Gigi
Sanitarian (SPPH )
Petugas Gizi ( D III Gizi )
Asisten Apoteker
Analis Laborat
Tenaga Administrasi
Sopir, Penjaga, dll
Jumlah

JUMLAH
1
3
5
1
5
2
1
2
2
2
2
1
27

3.8 ALUR REGISTRASI


16

Pasien baru
Pasien
Datang

Mendaftar dengan membawa identitas


diri

Pasien Lama

Membawa kartu berobat

Akses
Kartu

Registrasi
1. Pasien datang ke puskesmas, mendaftar di loket pendaftaran :
Pasien baru membawa identitas diri, pasien lama membawa kartu
berobat
Pasien mengutarakan poliklinik yang akan dituju kepada petugas

loket pendaftaran
Pasien umum membayar retribusi biaya pelayanan kesehatan, pasien

Askes / Jamkesmas menunjukan Kartu Askes / Jamkesmas


Pasien disiapkan dan diberikan berkas rekam medis untuk dibawa
ke poli / pelayanan yang dituju

2. Pelayanan
Pasien membawa berkas rekam medis ke tempat pelayanan :
1) Poli umum / Poli Gigi / Pelayanan Imunisasi / Pelayanan KIA/KB
2) Pelayanan di Poli Umum dengan kemungkinan :
a) Perlu pemeriksaan laboratorium
b) Perlu konsultasi antar poliklinik
c) Perlu tindakan medis
d) Pelayanan apotek / obat untuk memperoleh obat
e) Perlu pengobatan / dirujuk ke RS

3.9 ALUR RUJUKAN ( ASKES / BPJS / UMUM )

17

3.10 ALUR PEMERIKSAAN

3.11 TATA LAKSANA KEGIATAN BP GIGI


Pasien Datang

Pertama tama, pasien yang datang akan menuju


ke loket untuk melakukan registrasi. Setelah itu, pasien
akan menunggu di tempat yang telah disediakan hingga

Loket

pasien dipanggil. Setelah dipanggil, pasien akan masuk


ke poli gigi untuk melakukan pemeriksaan. Setelah

Poli Gigi

pemeriksaan selesai, dokter gigi akan memberikan


resep obat yang harus ditebus pasien di apotek. Setelah
itu, pasien menuju ke apotek untuk menebus obat.

Apotek

Setelah semua prosedur selesai, pasien pulang.


Tata Pelaksanaan di Dalam Poli Gigi

Pasien Pulang

1. Mempersilakan pasien masuk


2. Mempersilakan pasien duduk di dental chair,

dengan kondisi dokter gigi sudah mengenakan masker dan handscoon


3. Menanyakannapa keluhan yang diderita pasien
4. Tindakan. Apabila ingin mencabut gigi, sebelumnya pasien dirujuk ke
bilik lain untuk diperiksa tekanan darahnya.
5. Pasien membayar biaya perawatan
6. Mempersilakan pasien keluar

18

3.12 TARIF RETRIBUSI POLI GIGI

Kegiatan

Biaya

Konsultasi dan pemeriksaan gigi spesialis

Rp 10.000

Konsutasi, pemeriksaan, dan obat (pasien luar

Rp 3.000

kota Malang )
Tindakan Medik Ringan
Membersihkan karng gigi (per region)

Rp 10.000

Pencabutan gigi

Rp 10.000

Tindakan Medik Sedang


Membersihkan karang gigi dengan

Rp 30.000

menggunakan scaller ultrasonic


Tindakan Medik Berat
Pencabutan gigi permanen dengan operasi (per

Rp 50.000

gigi)
Tumpatan gigi permanen dengan komposit (per
gigi)

Rp 50.000

Glasionomer
3.13 KODE PENYAKIT
ICD-10 GIGI
K 00

: Persistensi

19

K 01

: Gigi impaksi + Embedded

K 02

: Karies (IP, HP)

K 03

: Kelainan Jaringan Keras (Atrisi, Abrasi, Erosi, Ankilosis)

K 04

: Pulpitis, Polip, Kelainan Periapikal, GP, Granuloma, Kista


Periapikal

K 05

: Gingivitis Kronis, Gingivitis abses, Juvenil Periodontitis (GIgi


goyang tanpa ada rangsangan)

K 06

: Edentolous Ridge, Epulis Gravidarum

K 07

: Maloklusi, Prognasi, Retronasi, Crowded (yang berhubungan


dengan Ortho)

K 08

: Kebiasaan buruk menghisap jari, GR (Gingivitis Ridge yang


atropi), Gigi lepas karena trauma,

K 09

Gigi goyang karena diabetes

: Kista RM

K 010 : Torus Palatinus, Tonjolan Tulang dari Caninus Ka-Ki,


Osteomyelis, Dry Socket
K 011 : Penyakit pada kelenjar mucosal (Mucocel)
K 012 : Sub Mandibular Abces, Stomatitis
K 013 : Leukoplakia
K 014 : Fissure Tongue, Glositis, Geografik Tongue

3.14 ALUR PENGAMBILAN OBAT

20

Pertama tama, pasien akan memberika resep


Menerima resep

yang telah diterima kepada petugas apotek.


Setelah diterima petugas, petugas akan membaca

Membaca resep

resep. Petugas akan melihat dari poli mana resep


berasal, dan dilihat pula dosis obat yang
diberikan, apakah sesuai dengan umur pasien atau

Memberi obat sesuai resep

tidak. Jika ditemukan kejanggalan, petugas akan


mengkonfirmasi resep ke poli asal resep. Jika
tidak ada masalah, petugas akan menyiapkan obat

KIA

yang diminta, kemudian memberikannya kepada


pasien. Saat memberikan obat, petugas juga akan

memberikan KIE obat kepada pasien

3.15

SARANA PRASARANA BP GIGI

21

Gambar 2. Sarana dan prasaran BP Gigi

Gambar 4. Sarana dan prasaran BP Gigi

Gambar 3. Sarana dan prasaran BP Gigi

Gambar 5. Sarana dan prasaran BP Gigi Gigi

3.16 TOP 10 DISEASES


DATA SEPULUH PENYAKIT TERBANYAK 2014
1. Infeksi Saluran pernafasan atas=J00

: 6.466

2. Batuk = R05

: 2.777

22

3. Abses,Period,Gingivitis=K05

: 2.514

4.Peny.Gastritis = K29

: 1.951

5. Penyakit Dermatitis kontak alergi =L23 : 1.664


6. Nyeri Pinggang =R12

: 1.223

7. Diare =09

: 1.102

8.Demam yg tidak diketaui sebabnya=R50 : 1.052


9. Headache =R51

: 1.025

10. Osteoarthritis =M19

964

3.17 PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI DI PUSKESMAS


Gambar 6. Grafik 10 penyakit terbanyak Puskesmas Gribik
tahun 2014

A. General precaution

23

Dari hasil pengamatan yang telah kami dapat di puskesmas Gribig. Dokter
dan perawat pada poli gigi puskesmas tersebut selalu rutin dan rajin dalam
mencuci tangan, memakai masker, dan memakai sarung tangan.

Dokter setelah melakukan tindakan selalu mencuci tangan dengan


air yang bersih dan sabun. Wastafel pun tidak jauh letaknya dari

dental unit.
Dokter selalu memakai masker pada saat melakukan praktek baik
saat melakukan tindakan terhadap pasien maupun pasien hanya cek

up saja.
Dokter memakai sarung tangan pada saat dokter melakukan
tindakan terhadap pasien, sedangkan pada saat pasien hanya cek up
saja maka dokter tidak menggunakan sarung tangan. Dokter selalu
mengganti sarung tangan setiap ada pergantian pasien.

Dapat disimpulkan bahwa dokter dan perawat pada poli gigi puskesmas
Gribig selalu menggunakan dan memperhatikan general precaution seperti
mencuci tangan, memakai masker, dan memakai sarung tangan.

B. Cara membuang alat medis/non medis


Dari hasil pengamatan yang telah kami dapat di puskesmas Gribig. Dokter
dan perawat pada poli gigi puskesmas tersebut dalam membuang alat
medis selalu pada tempatnya yaitu pada tempat sampah.
Tempat sampah terletak dibawah wastafel sehingga memudahkan dokter
dalam membuat alat medis maupun non medis seperti kapas, hasil cabut
gigi dan lain lain. Sehingga kebersihan di ruangan tersebut dapat terjaga
dengan baik.
Dapat disimpulkan bahwa dokter dan perawat pada poli gigi puskesmas
Gribig dapat menjaga kebersihan lingkungan untuk menjaga kesehatan
agar terbebas dari kuman, virus, dan bakteri penyebab penyakit
C. Cara mensterilkan alat

24

Dari hasil pengamatan yang telah kami dapat di puskesmas Gribig. Dokter
dan perawat pada poli gigi puskesmas tersebut dalam mensterilkan alat
selalu menggunakan autoklaf.
Autoklaf merupakan alat yang digunakan untuk mensterilkan alat alat
kedokteran gigi dengan meghunakan tekanan uap panas. Autoklaf
merupakan alat sterilisasi yang efektif dan harga yang terjangkau. Autoklaf
digunakan sekitar 120 C dengan waktu 60 menit.
Dapat disimpulkan bahwa dokter dan perawat pada poli gigi puskesmas
Gribig dapat menjaga kebersihan alat alat kedokteran gigi agar alat
tersebut steril dan tidak menyebabkan dampak negative pada pasien seperti
penyakit gusi bengkak atau gusi berdarah akibat alat kuman atau bakteri
yang terdapat pada alat alat kedokteran tersebut.

3.18 Laporan Tribulan


LAPORAN TRIBULAN
KEGIATAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT
TAHUN 2015

25

Puskesmas

: Gribig

Tribulan

: III

No

Variabel Kegiatan

322

558

880

241

408

647

.
I

DATA KUNJUNGAN
BARU
a

Jumlah kunjungan rawat jalan gigi di Puskesmas (baru+lama)


LAMA

Jumlah kunjungan baru rawat jalan gigi ibu hamil

10

10

Jumlah kunjungan lama rawat jalan gigi ibu hamil

Jumlah ibu hamil yang diperiksa (dengan/tanpa perawatan) di poli

15

gigi

II

III

DATA ANAK PRASEKOLAH (APRAS)


a

Jumlah TK seluruhnya di wilayah kerja puskesmas

39

Jumlah murid TK seluruhnya di wilayah kerja puskesmas

1404

Jumlah kunjungan baru rawat jalan gigi anak (1-6 tahun)

14

25

38

Jumlah kunjungan lama rawat jalan gigi anak (1-6 tahun)

32

51

83

Jumlah anak prasekolah (apras) yang disuluh

1526

Jumlah anak prasekolah (apras) yang diperiksa (tanpa perawatan)

1526

DATA USAHA KESEHATAN GIGI SEKOLAH (UKGS)


a

Jumlah seluruh SD/MI di wilayah kerja Puskesmas

Jumlah seluruh murid SD/MI di wilayah kerja Puskesmas

28
4089

26

3746

7885

Jumlah kunjungan petugas ke SD/MI untuk pembinaan

28

Jumlah SD/MI dengan UKGS tahap I s/d III yang mendapat paket

28

promotif
e

Jumlah murid SD/MI dengan UKGS tahap I s/d IIIyang mendapat

441

803

1744

paket promotif
f

Jumlah SD/MI dengan UKGS tahap I s/d III yang mendapat paket

10

preventif
g

Jumlah SD/MI dengan UKGS tahap I s/d III yang mendapat paket

1358

1251

2609

preventif
h

Jumlah SD/MI dengan UKGS tahap I s/d III yang mendapat paket

Kuratif
i

Jumlah murid SD/MI dengan UKGS tahap I s/d III yang mendapat

1786

1742

3528

169

204

373

10

30

40

paket Kuratif
j

Jumlah murid SD/MI tahap III yang telah selesai mendapat paket
Paripurna

Jumlah murid SD/MI kelas selektif (kelas IV) yang telah selesai
mendapat paket Paripurna

IV

PEMBINAAN PERAN SERTA MASYARAKAT


a

Jumlah kelurahan seluruhnya di wilayah kerja Puskesmas

Jumlah posyandu seluruhnya di wilayah kerja Puskesmas

Jumlah posyandu dengan UKGM di wilayah kerja Puskesmas

55

Jumlah kader UKGM yang dibina di wilayah kerja Puskesmas

Jumlah kader UKGM yang aktif di wilayah kerja Puskesmas

0
0

DATA PELAYANAN GIGI DAN MULUT


a

Jumlah tumpatan tetap gigi permanen


27

Jumlah pencabutan gigi permanen

79

145

224

Jumlah kasus gigi yang dirujuk ke Rumah Sakit

30

39

69
37

VI

DATA MORBIDITAS (ANGKA KESAKITAN) PENYAKIT GIGI DAN


MULUT
a

Jumlah gangguan perkembangan dan erupsi gigi

135

65

200

16

44

60

278

281

559

222

299

521

(K 00)
b

Jumlah gigi terbenam dan impaksi


(K 01)

Jumlah karies gigi


(K 02)

Jumlah penyakit jaringan karies gigi lainnya


(K 03)

Jumlah penyakit pulpa dan jaringan periapikal


(K 04)

Jumlah gingivitis dan penyakit periodontal


(K 05)

Jumlah gangguan gusi dan hubungan alveolar tak bergigi lainnya


(K 06)

Jumlah kelainan dentofacial termasuk maloklusi


(K 07)

Jumlah gangguan gigi dan jaringan pendukung lainnya


(K 08)

Jumlah kista rongga mulut yang tak ditentukan


(K 09)

Jumlah penyakit rahang lainnya


(K 10)

28

Jumlah penyakit kelenjar liur

(K 11)
m Jumlah stomatitis dan lesi lesi yang berhubungan
(K 12)
n

Jumlah penyakit bibir dan mukosa lainnya


(K 13)

Jumlah penyakit pada lidah


(K 14)

VII DATA PENILAIAN KINERJA PUSKESMAS


a

Pembinaan kesehatan gigi di Posyandu

Pembinaan kesehatan gigi pada TK

Pembinaan dan bimbingan sikat gigi missal pada SD/MI

Perawatan kesehatan gigi pada SD/MI

169

204

373

Murid SD/MI mendapat perawatan kesehatan gigi paripurna

10

30

40

Rasio gigi tetap yang ditambal terhadap gigi yang dicabut

224

69

10,5

Bumil yang mendapat perawatan kesehatan gigi

MALANG,
Mengetahui,

Drg. Camelia Finda Arisanti


NIP 1750113 200312 2 007

29

3.19 SOP PELAYANAN POLI GIGI

PEMERINTAH KOTA MALANG


UPT PUSKESMAS GRIBIG
Jln. Ki.Ageng Gribig No.97 Madyopuro, TELP (0341) 718165

STANDAR OPERASIOANAL PROSEDUR (SOP)


PELAYANAN POLI GIGI

Kode Dokumen

SOP-PPG-01

Tanggal Terbit

6 Januari 2015

Status Revisi

00

INDUK

30

Disiapkan Oleh :

Diperiksa Oleh :

Disahkan Oleh :

Koordinator Upaya Kesehatan

Koordinator Upaya Kesehatan

Kepala Puskesmas

Masyarakat

Perorangan

dr. Irham Nizami

drg. Dwi Rahayu K

NIP. 190720 200903 1 002

NIP. 19740420 200501 2 007

1.

drg. Camelia Finda Arisanti


NIP. 19750113 200312 2 007

TUJUAN
Sebagai pedoman kerja dokter gigi dan perawat gigi dalam memberikan
pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Poli Gigi Puskesmas Gribig.

31

2.

RUANG LINGKUP
Pemanggilan pasien di ruang Poli Gigi, anamnese, pemeriksaan, penegakan
diagnosa, terapi yang sesuai dengan diagnosa dan pelayanan rujukan sebagai
bagian dari tugas dan tanggungjawab dokter gigi dan perawat gigi dalam
melaksanakan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Poli Gigi Puskesmas
Gribig.

3.

REFERENSI
3.1

Standar Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut Di Puskesmas oleh


Dierktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik, Bina Pelayanan Medik
Dasar, Dep. Kes. RI Jakarta, 2007.

3.2

Pedoman Upaya Pelayanan Kesehatan Gigi Dan Mulut Di Puskesmas


oleh Dep. Kes RI Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. Dierktorat
Kesewhatan Gigi, 2000.

3.3

Pedoman

Upaya

kesehatan

Gigi

Masyarakat

(UKGM)

oleh

Dep.Kes.RI Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, 2004

4.

DEFINISI
Anamnesa penyakit adalah rangkaian wawancara terhadap pasien mengenai
keluhan utamanya.
Pemeriksaan rongga mulut adalah pemeriksaan gigi-geligi dan jaringan lunak
rongga mulut, berupa:
a.

b.

Pemeriksaan visual langsung (intra oral dan atau ekstra oral).


Pemeriksaan kondisi gigi (sondasi, perkusi, palpasi, CE).

32

c.

Pemeriksaan penunjang (rontgen foto).

4.1 Penegakan diagnosa adalah menetapkan jenis penyakit yang diderita oleh
pasien berdasarkan hasil anamnese dan pemeriksaan rongga mulut.
4.2 Terapi adalah pengobatan atau tindakan perawatan yang dilakukan sesuai
dengan diagnosa yang ditegakkan.
4.3 Pelayanan rujukan :
a. Rujukan antar klinik adalah rujukan yang ditujukan ke Klinik
Umum dalam Puskesmas (bila ada indikasi).
B.

Rujukan ke pelayanan kesehatan yang lebih tinggi dan memiliki


fasilitas kesehatan yang memadai, yang tidak dapat dilayani di
Puskesmas.

c. Menerima rujukan dari Poli KIA untuk pemeriksaan gigi dan


mulut bagi ibu hamil yang baru datang pertama kali periksa
kehamilannya.

5. TANGGUNG JAWAB
5.1 Penanggung jawab pelayanan poli gigi adalah kepala sub unit Poli gigi.
5.2 Dokter gigi bertanggung jawab dalam pelayanan kesehatan gigi dan
mulut
5.3 Petugas Perawat Gigi bertanggung jawab dalam pelayanan asuhan
keperawatan gigi dan mulut.

33

6. KETENTUAN UMUM
6.1

Pasien mendapat pelayanan sesuai nomor urut pendaftaran.

6.2

Pasien dirawat sesuai dengan Instruksi kerja yang berlaku.

6.3

Pasien mendapat pelayanan sesuai standar.

7. URAIAN PROSEDUR
7.1

Perawat Gigi melakukan Pemanggilan pasien sesuai nomor urut

7.2

Perawat Gigi mencocokkan identitas pasien dengan kartu status

7.3

Perawat Gigi mempersilahkan pasien duduk di kursi gigi (dental chair).

7.4

Melakukan anamnese.

7.5

Melakukan pemeriksaan penunjang diagnosa (roentgen foto), bila


diperlukan.

7.6

Perawat Gigi memberikan formulir pemeriksaan penunjang (bila poin 5


dilakukan).

7.7

Dokter Gigi menegakkan diagnosa.

7.8

Dokter Gigi menulis permintaan pemeriksaan laboratorium bila terdapat


hal-hal yang mencurigakan pada anamnese (DM, Hipertensi dll).

7.9

Menentukan rencana perawatan.

7.10 Melaksanakan tindakan perawatan dan atau peresepan sesuai dagnosa.


7.11 Melaksanakan rujukan kasus, bila diperlukan.
7.12 Membuat nota pembayaran tindakan.

34

7.13 Mencatat hasil perawatan di buku Rekam Medik dan Regester.


7.14 Menyerahkan buku Rekam Medik di ruang Rekam medik.

8. INDIKATOR KEBERHASILAN
8.1 Terselenggaranya pelayanan kesehatan gigi di Poli Gigi sesuai dengan
ketentuan
8.2 Tercapainya target pelayanan sesuai Sasaran Mutu

9.

ARSIP TERKAIT
9.1 Blangko Resep.
9.2 Dokumen Pemeriksaan Penunjang.
9.3 Dokumen Pemeriksaan Tambahan.
9.4 Map Rekam Medik.
9.5 Lembar Rekam Medik
9.6 Buku Registrasi,
9.7 Form Informed Consent.
9.8 Nota Pembayaran

35

3.20 REKAPITULASI HASIL KERJA DAN PENGHITUNGAN STRATA

REKAPITULASI HASIL KERJA DAN PENGHITUNGAN STRATA


KINERJA PUSKESMAS GRIBIG TAHUN 2013

MACAM VARIABEL

NILAI

PROGRAM

1.Promosi Kesehatan

75,77

POKOK

2.Upaya Penyehatan Lingkungan

75,54

3.Upaya Perbaikan Gizi

80,64

4.Kesehatan Ibu Anak dan KB

84,97

5.Pemberantasan Penyakit Menular

66,01

MANAJEMEN

6.Pengobatan

100

SUB TOTAL

80,49

1.Manajemen Operasional

8,80

2.Manajemen Alat dan Obat

9,15

3.Manajemen Ketenagaan

9,35

4.Manajemen Keuangan

7,75

5. Manajemen Pembiayaan

7,80

6. Manajemen Pengelolaan Barang /Aset

8,20

36

SUB TOTAL

8,51

1.Upaya Kesehatan Usia Lanjut

98,11

PROGRAM

2.Upaya Kesehatan Mata

33,75

INOVATIF

3.Upaya Kesehatan Telinga

93,66

4.Upaya Kesehatan jiwa

57,45

5,upaya Kesehatan Olahraga

78,33

6.Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut

97,71

7. Upaya Kesehatan Masyarakat

44,29

8.Upaya Kesehatan Tradisional

9.Upaya Kesehatan Kerja

83

10.Pemberdayaan Masyarakat Dalam PHBS

51,60

11.Upaya Pengembangan UKBM

51,67

12.Program Gizi

100

SUB TOTAL

65,55

PKP tahun 2014 = 51,52%


3.21 KEGIATAN UNIT PELAYANAN LAIN ( KIA )
Kegiatan unit pelayanan lain KIA (untuk ibu hamil dan anak
prasekolah/sekolah).Pasien yang datang di bilik KIA dan KB adalah balita (1
tahun-5 tahun kurang 1 bulan) sakit, ibu hamil, ibu nifas, apras (di atas usia
balita/5-dibawah 7 tahun). Selain itu, bilik KIA dan KB juga melayani imunisasi
CPW (calon pengantin). Program yang ada di bilik ini adalah posyandu di mana

37

yang menjadi tanggung jawab puskesmas gribig adalah 56 posyandu yang tersebar
di kelurahan sawojajar, madyopuro, lesanpuro, dan cemorokandang.

-BP Umum
Pasien datang daftar melalui loket lalu mengambil nomor antrian. Setelah
antri, pasien dipanggil langsung oleh dokter umum yang bertugas. Selanjutnya
dokter menanyakan keluhan pasien kemudian diperiksa. Apabila pasien
mengalami rawat jalan maka langsung diberi resep untuk menuju apotek. Akan
tetapi, apabila memerlukan rawat inap maka akan di rujuk ke rumah sakit.
Pasien yang datang paling sering adalah dengan keluhan ispa, diare, kencing
manis, darah tinggi, scabies. Setiap harinya pasien yang datang ke bilik umum
berkisar antara 120-150 pasien.
- Program KB

Program KB yang ada di puskesmas Gribig adalah IUD, implan, pil dan
suntik yang dilakukan 3 bulan ataupun 1 bulan.
- Ruang rawat inap

Di puskesmas Gribig tidak ada ruang rawat inap

- UGD

Pasien yang masuk ke UGD harus mendaftar melalui loket terlebih dahulu
kecuali kecelakaan. Penangan dilakukan oleh dokter dan perawat yang menjaga
sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

38

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 KASUS PERTAMA
Kasus yang ditemui di Puskesmas Gribig yang pertama adalah dokter
gigi yang tidak menggunakan handscoon pada saat melakukan tindakan dan
menggunakan masker secara berulang kali pada pasien yang berbeda
Pembahasan
Alat pelindung diri adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan
untuk melindungi seseorang dalam pekerjaan yang fungsinya mengisolasi tubuh
tenaga kerja dari bahaya di tempat kerja. Alat pelindung diri dipakai setelah usaha
rekayasa (engineering) dan cara kerja yang aman (work practices) telah
maksimum (Barbara, 2001). Universal precaution merupakan upaya pencegahan
penularan penyakit dari tenaga kesehatan dan sebaliknya, hal ini didasari
penyebaran penyakit infeksius melalui medium cairan tubuh dan darah.
Pemakaian alat pelindung diri merupakan upaya untuk menciptakan kesehatan dan
keselamatan kerja yang optimal. Kepatuhan penggunaan APD di Puskesmas
dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, motivasi, keterbatasan alat, dan juga
sikap dan perilaku dari pekerja itu sendiri. Dari studi pendahuluan yang dilakukan
dengan cara observasi masih ada sebagian pekerja Puskesmas seperti Bidan,
Perawat dan Dokter yang tidak menggunakan Handscoon atahu masker, atahu
bahkan keduanya saat melakukan tindakan medis dan keperawatan, misalnya saat
memeriksa pasien, pengambilan sample darah, pemasangan infus dan faktor
faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pekerja rumah sakit dalam
penggunaan alat pelindung diri masih belum diketahui lebih banyak lagi.
Kepatuhan Pekerja Puskesmas dalam penggunaan alat pelindung diri dapat
juga berpengaruh pada penularan penyakit. Pada tenaga kesehatan tentunya akan
semakin bertambah risiko tertular suatu penyakit misalnya penyakit hepatitis,
AIDS jika saja kepatuhan penggunaan alat pelindung diri diabaikan, dikarenakan
setiap harinya tenaga kesehatan selalu mengalami kontak langsung dengan pasien
dengan berbagai macam jenis penyakit. Selain dikarenakan kepatuhan yang

39

bersumber dari motivasi individu tenaga kesehatan itu sendiri, keterbatasan


jumlah alat pelindung diri yang disediakan oleh Puskesmas juga bisa
meningkatkan jumlah risiko seorang tenaga kesehatan tertular oleh penyakit.
Disamping dua faktor lainya, sikap dan perilaku yang dimiliki oleh masingmasing individu juga akan mempengaruhi tingkat kepatuhan dalam penggunaan
APD. Dampak yang akan muncul dari penggunaan alat pelindung diri yang tidak
sempurna yaitu risiko tertular penyakit akan bertambah dan juga akan
mempengaruhi kualitas tindakan medis dan keperawatan yang diberikan karena
mungkin akan muncul rasa tidak aman saat berada di dekat pasien.
Penyusunan prosedur tetap atau standart operasional prosedur yang
mengatur tentang alat pelindung diri di Puskesmas, akan mengurangi risiko
seorang perawat tertular oleh penyakit sehingga keselamatan kerja perawat akan
lebih terjamin dan pemberian asuhan keperawatan akan lebih bermutu karena
dilakukan sesuai standart operasional yang ada.
4.2.

KASUS KEDUA
Kasus ketiga yang kami temui di Puskesmas Gribig adalah manipulasi

bahan tumpatan yang menurut kami kurang tepat. Menurut yang telah kami
dapatkan di perkuliahan, bahan tumpatan memiliki rasio tersendiri antara bubuk
dan liquid. Dan menurut yang kami amati, dokter gigi di Puskesmas Gribig
memanipulasi bahan tumpatan dengan mengira ngira antara rasio bubuk dan
liquid
Pembahasan
Kandungan utama bubuk semen zink fosfat adalah zinc oxide. Garam
metalik digunakan untuk mengubah karakteristik kerja dan sifat akhir semen.
Magnesium oksida biasanya ditambahkan untuk mengurangi proses pada saat
proses kalsinasi. Silikon dioksida merupakan filler inaktif pada bubuk semen.
Bismuth trioksida ditambahkan untuk menghasilkan campuran semen yang halus
dan juga untuk memperpanjang setting time.
Komposisi terdiri dari powder seng oksida 90% dan Magnesium 10 %
dan asam phorporic, garam logam dan air sebagai liquid. Penggunaan
40

sebagaibasis, konsistensi harus seperti dempul, campuran bubuk dan liquid


dengan ratio 6:1 atau sesuai kebutuhan, membentuk adonan yang tidak cairtidak
padat, aduk dengan putaran melawan jarum jam, tempatkan adonanpada tumpatan
yang telah diberi semen eugenol sebagai subbasis. Waktupengerasan sekitar 5-9
menit dan kelebihan tumpatan dibuang
Cara manipulasi zinc oxide phosphate semen

Waktu kerja dan pengerasan


Waktu dan pengerasan semen antara 5 sampai 9 menit pada temperatur badan

1,5 menit pertama.

Pengontrolan setting time


1. P-L ratio 5 Untuk memperpanjang setting time tidak dibenarkan dengan
merendahkan P-L ratio untuk menghindarkan kerugian-kerugian faktor
fisis yang lain
2. Mixing Time / spatulation Makin lambat powder dicampur dengan liquid
maka makin lama semen mengeras
3. Mixing Temperatur Makin tinggi temperatur makin cepat pengerasan
4. Pengaruh air
- Makin banyak air dalam liquid makin cepat setting time Kontak dengan
air selama mixing akan mempercepat reaksi liquid.
- Takar sesuai dengan kebutuhan & ratakan bubuk dalam sendok, letakkan
pada slab. Ratakan bubuk dan bentuk segi empat dengan spatula.
-

Bagi bubuk menjadi beberapa bagian (minimal 6 bagian).

Keluarkan cairan dari botol yang dipegang tegak lurus lantai, letakkan
dekat bubuk.

41

- Campur bagian pertama bubuk dengan liquid lalu aduk dengan gerakan
memutar pada permukaan yangseluas mungkin selama 30 detik
5. Diamkan selama 15 detik
6. Tarik bagian bubuk selanjutnya, diaduk sampai mendapatkan konsistensi
dempul. Aplikasikan semen pada dasar kavitas dengan stopper semen.
Semen tidak boleh menempel pada dinding karena akan membentuk semen
line. Gigi harus tetap kering, tidak boleh terkena ludah.
Setting time
Waktu setting tidak terlalu panjang karena bila waktu yang panjang
akan mengakibatkan pekerjaan terhadap gigi akan lama.waktu setting yang tepat
pada zinc phosphate yaitu 5- 9 menit pada temperatur 37C atau 97F.pada
kelembaban 100%.untuk memperpanjang waktu setting yaitu:
-

Menggunakan glass slab yang dingin.


Mengurangi kecepatan dalam hal mencampur bubuk kedalam tiaptiappenambalan gigi serta penghentian sesaat pada pencampuran awal
sejumlah bubuk kedalam cairan akan menambah waktu setting dalam
pencampuran zinc phosphate semen.semakin lama bubuk di tambahkan dalam

cairan akan memperlama waktu setting.


Mengurangi perbandingan bubuk dan cairan dengan menambah jumlah cairan.

Daya larut
Kelarutan semen ini sangat bergantung pada perbandingan bubuk dan
cairanya,adonan yang lebih encer akan lebih mudah larut dalam mulut,semen ini
akan larut pada aquades tapi lebih cepat dengan larutan dengan PH yang rendah.
Cara Pencampuran dan Cara penambalan Zinc Oxide Phospahate Cement
1.

Sebagai bahan tambalan sementara

42

Sebagai bahan tambalan sementara, semen ini di dasari oleh zinc oxide yang di
campur dengan cairan asam fosfat 50 %.bila menggunakan zinc phosphate cement
maka cavita tidak boleh terlalu beras dan kekuatan pengunyahan yang di pusatkan
pada gigi tersebut tidak boleh terlalu besar. Untuk menjamin kestabilan dan
kekuatan tambalan sementara serta untuk mencegah fraktur dari sisa cups di
sekeliling cavita yang besar, bahan ini di gunakan bersama dengan plat tembaga
lembut yang di potong dan di bentuk dengan semen yang sama.

BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Puskesmas adalah organisasi kesehatan fungsional yang merupakan pusat
pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat
dan memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di
wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok (Depkes RI, 2000). Dengan kata

43

lain, puskesmas mempunyai wewenang dan tanggung jawab atas pemeliharaan


kesehatan masyarakat dalam wilayah kerjanya.
Puskesmas Gribig memiliki 4 wilayah kerja Kelurahan dengan jumlah
penduduk 74.483 Jiwa yang terdiri dari penduduk yang berjenis kelamin laki-laki
sebanyak 36.620 jiwa dan perempuan : 37.863Jiwa. Empat wilayah kelurahan itu ,
meliputi Kelurahan Sawojajar, Madyopuro, Lesanpuro, dan Gemorokandang.
Puskesmas Gribig memiliki dua program yaitu program pokok dan program
unggulan. Program pokoknya meliputi KIA & KB, Gizi, Kesehatan Lingkungan,
dan Pengobatan. Sedangkan program unggulannya meliputi Kesehatan Lansia,
Kesehatan Mata & Telinga, serta kesehatan UKS & UKGS.

5.2.

SARAN
Puskesmas Gribig masih memerlukan perbaikan pada sarana dan prasarana

yang ada khususnya pada poli gigi. Selain itu, tenaga kesehatan terutama dokter
yang ada perlu ditambah.
Dengan adanya laporan ini, kami berharap Puskesmas Gribig dapat
menjadi puskesmas yang lebih baik lagi dan laporan ini dapat dilengkapi oleh
mahasiswa yang akan mengobservasi Puskesmas Gribig di lain waktu.

DAFTAR PUSTAKA
Amrin.1996.Manajemen Operasional.Jakarta:Rikena Cipta.
Azwar.1996.Pengantar Administrasi Kesehatan.Jakarta:Bina Rupa.
Depkes RI. 1995.Pedoman Upaya Pelayanan Kesehatan

Gigi

di

Puskesmas.Jakarta:Depkes RI.
Kepmenkes RI No. 128/Menkes/SK/II/2004.
Informasi dari bagian Tata Usaha Puskesmas Gribig.

44

LAMPIRAN
FOTO KEGIATAN

45

Gambar 7. Pengarahan PKD

Gambar 8. Penanganan pasien oleh Gambar 9. Poster penyuluhan


dokter gigi

46