Anda di halaman 1dari 13

BAB II

Mineral Tulang : Pembaruan pada Komposisi dan Struktur Kimia

Struktur Ca-P fase padat dalam tulang pertama kali diidentifikasi oleh de Jong pada tahun
1926 sebagai kristal kalsium fosfat yang mirip dengan apatit geologi dengan analisis kimia dan,
yang paling penting dengan difraksi sinar-X [1]. Data difraksi sinar-X dikonfirmasi beberapa
tahun kemudian [2].
Temuan ini didasari dari sebuah penelitian yang mendadak pada komposisi kimia lebih
rinci dan struktur kristal dari apatit geologi dan sintetis apatit mineral tulang, awalnya penelitian
ini dilakukan oleh ahli geologi, kristalografi, dan ahli kimia, tetapi kemudian dilakukan oleh ahli
biokimia dan fisiologi karena pada penelitian ini sudah ada potensi yang jelas dari informasi
penemuan baru untuk menjelaskan fungsi biologis dan fisiologis mineral tulang dan sebagai
indikator gangguan dari sistem tulang.
Penelitian ini

menjadi jelas bahwa ada struktur yang signifikan dan perbedaan

komposisi kimia antara banyaknya hidroksiapatit geologi yang berbeda, hidroksiapatit sintetis,
dan kristal apatit yang ditemukan di tulang dan berkaitan dengan jaringan kerangka sebagai
tambahan menjadi ukuran yang sangat besar dari geologi dan banyak kristal apatit sintetik,
dibandingkan dengan ukuran partikel sangat kecil dari mineral tulang.
Penelitian lebih lanjut diarahkan pada tiga cara: penelitian ini dilanjutkan dengan lebih
berhati-hati dan lengkap mengenai komposisi analitis data mineral tulang, yang jelas ditetapkan
bahwa komposisi kimia dari kristal tulang pada banyak cara tidak sesuai dengan komposisi kimia
hidroksiapatit stoikiometri. Sebenarnya, kristal tulang yang ditemukan mengandung signifikan
dan bervariasi karbonat dan ion HPO4. Kemudian, Kristal tulang ini ditemukan dengan berbagai
teknik, termasuk solid-state NMR [3], Raman spektroskopi [4], dan neutron inelastis hamburan
[5], apatit tulang biologis hanya berisi persentase yang sangat kecil dari jumlah total gugus
hidroksil yang ada pada saat dimurnikan sintesis kalsium hidroksiapatit.
Penelitian lainnya jelas menunjukkan bahwa substansial sebagian kecil dari ion fosfat
yang terletak di permukaan kristal mineral tulang terprotonasi dan dalam lingkungan tidak teratur

[6], berbeda dengan ion fosfat dalam posisi kisi, yang tidak terprotonasi. Selain itu, keunikan ion
fosfat terprotonasi lainnya yaitu diidentifikasi dalam mineral tulang dengan fosfor 31 NMR
spektroskopi, yang tidak ada dalam kalsium sintetis apatit fosfat [7].
Penelitian Struktural pertama kali dilakukan untuk menentukan ukuran kristal dengan
mengukur sejauh mana puncak pelebaran difraksi sinar-X [8], yang menghasilkan ukuran kristal
yang berbeda-beda dari 31 ke 290. Data struktural lebih rinci yang diperoleh baru-baru ini
diperkenalkan dengan mikroskop elektron dan difraksi elektron [9-11], yang mengungkapkan
bahwa kristal tulang yang lempengan tipis, panjangnya sekitar 500A, lebar 250A , dan tebal
100A. Namun, perhitungan dari sudut rendah studi hamburan difraksi sinar-X [12-14] lebih
konsisten dengan kesimpulan bahwa Kristal tulang yang sangat jauh lebih kecil daripada yang
diamati oleh Robinson et al. dengan TEM yang panjang batangnya 250A dan tebal 50A dan
bukan trombosit (lempengan) . Kesempurnaan kristal,

properti struktural lainnya dari

nanokristal tulang seseorang, juga merupakan fungsi dari tingkat mineralisasi, sebagai
demonstrasi oleh perubahan pola difraksi sudut lebar sinar-X [15] (Gbr. 1).
Dihan
Evaluasi yang lebih akurat dari ukuran dan bentuk kristal tulang kemudian diperoleh
pengembangan teknik, pada dasarnya yang di hapus semua konstituen matriks organik sampel
tulang sebelum tem tanpa mengubah kristal tulang, sehingga memungkinkan mereka melakukan
pemeriksaan dengan resolusi tinggi TEM dan difraksi elektron serta stereoskop TEM 3D,
ditetapkan bahwa kristal apatit tulang memang berukuran nano, sangat tipis, trombosit panjang
(nanocrystals), dan tidak sperti batang [16-18]. Ini selanjutnya dikonfirmasikan dengan kekuatan
atom pada mikroskop [19, 20]. TEM melanjutkan studi komposisi dari kristal tulang dari
berbagai spesies sebagai fungsi "usia kristal" (vide infra) mengungkapkan bahwa awal Ca-P fase
padat

disimpan

tidak

teratur,

kira-kira

putaran elektron partikel padat, beberapa sekecil ~ 10A [21]. Data ini memusatkan perhatian
pada fisiologis penting implikasi luas permukaan yang sangat besar dari tulang nanocrystals,
terutama selama tahap-tahap awal pembentukan tulang baru, kalsifikasi, dan perannya dalam
homeostasis ion cairan ekstraseluler. Data ini menunjukkan lain pada karakteristik struktur kimia
dan fisik kristal tulang sebagai fungsi dari usia kristal (vide infra), masalah kuantitatif lebih rumit
dengan

menggambarkan

kristal

tulang

pada

sampel

tertentu

substansi

tulang.

Langkah besar telah dilakukan dalam memanfaatkan percobaan in vitro menggunakan kolagen
asli yang dimurnikan dengan fibril dan solusi metastabil dari Ca dan P untuk mendapatkan
informasi mengenai komposisi dan struktur awal Ca-P fase padat terbentuk selama nukleasi
heterogen. Ini telah menunjukkan bahwa dimurnikan native 3D yang dikemas dalam bentuk
molekul kolagen di fibril kolagen dengan periode aksial sekitar 670 mampu melakukan
pencampuran inti kristal apatit in vitro [22-24]. Diharapkan informasi ini pada potensial kimia
dan struktur inti awal dalam fibril kolagen yang memberikan informasi untuk memulai
kristalisasi yang diperoleh nukleasi percobaan in vitro
Himmah

Dilakukan nukleasi nanokristal secara in vitro, dengan menggunakan serat

kolagen
Yang diperoleh berdasarkan percobaan tsb: lokasi spesifik nanokristal, dan

pengukuran secara kuantitatif (Katz)


Ditemukan adanya ikatan serylphosphate-calcium
Eksperimen lain juga dilakukan untuk menghindari kontak antara sampel tulang
dengan air, karena akan mengubah komposisi fisik dan kimiawi dari kristal tulang

tsb
Konsep baru: Komposisi, struktur, dan karakteristik apatit tulang berbeda-beda
bukan karena usia tulang (usia hewan) berbeda, melainkan karena waktu yang
digunakan sejak sampel tulang tersebut diambil dari jaringan

Data secara kimia dan data dari difraksi x-ray yang mengidentifikasi nanokristal yang
dibentuk secara in vitro menggunakan serat kolagen telah dikonfirmasi di kemudian hari.
Eksperimen yang digunakan yaitu dengan difraksi sinar x bersudut kebar dan rendah.
Selanjutnya, Katz juga melanjutkan eksperimen ini dengan beberapa eksperimen kuantitatif
mengenai nukleasi in vitro, yang mampu mengukur kinetika dari kalsifikasi in vitro dari serat
kolagen asal dan mengemukakan ukuran dari inti apatit yang ditemukan melalui studinya tentang
nukleasi in vitro (~20 ion yang diberi perlakuan berbeda). Sejumlah skema dan eksperimen telah
dirancang berdasarkan percobaan-percobaan nukleasi in vitro ini, dengan kemungkinan susunan
nukleus (fase padat pertama dimana Ca-P terbentuk selama kalsifikasi in vitro) dan kemungkinan

fungsi dari kelompok fosfor dan rantai asam glutamat dari matriks protein tulang yang tidak
berkolagen (bone-sialoprotein-BSP).
Yang terpenting, analisis P NMR dari tulang asal termuda yang bisa didapatkan pada saat
itu telah mengidentifikasi untuk pertama kalinya bahwa ada ikatan serylphosphate-calcium, yang
barangkali mengaitkan langsung dengan protein penting pada matriks organik tulang (BSP)
dengan fase mineral.
Beberapa eksperimen lain juga telah dilakukan untuk mengatasi kesulitan dalam
mengisolasi kristal mineral termuda pada tulang tanpa memberikan kontak apapun dengan air.
Apabila terjadi kontak antara sampel dengan air, akan ada peleburan yang terjadi sangat cepat
pada kristal, dan juga akan ada perubahan komposisi fisik dan kimiawi pada kristal yang masih
terdapat pada sampel tulang.
Sementara komposisi, struktur, ukuran partikel, dan dreajat kekristalan dari sampel tulang
individu merupakan petunjuk dari usia hewan tersebut, sebuah konsep baru telah mengemukakan
bahwa fungsi waktu yang berpengaruh terhadap komposisi, struktur, dan karakteristik apatit
tulang bukanlah usia dari hewan tersebut, melainkan usia dari kristal itu sendiri (crystal age),
atau dari kata lain, merupakan waktu yang diperlukan sejak deposisi awal hingga pemindahan
dari jaringan. Perubahan secara kimia dan struktural dari fase padat mineral merupakan fungsi
dari usia kristal dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan pergantian bahan pada tulang
dan kristal-kristalnya, yang dalam banyak kasus terjadi pada bagian-bagian tulang tertentu yang
terpisah.

Amel
Kesulitan lain dalam menentukan secara akurat komposisi bahan kimia dan struktur dari mineral
tulang pada satu waktu dalam lokasi yang spesifik dari partikel tulang selama pembentukan awal
dan proses pematangan yang terjadi selanjutnya (sebagai fungsi dari masa hewan, dan khususnya
masa kristal -ti disini aku bingung, soalnya ada tulisan agenya, it entah artinya umur atau
massa) adalah juga karena disposisi geometris internal yang sangat kompleks/rumit dari
substansi dalam tulang yang mengandung kristal dalam semua level menurut hirarki anatomi, hal
ini tampak jika di lihat oleh mikroskop cahaya maupun tampak oleh elektron mikroskop dengan
transmisi resolusi yang tinggi. Contohnya, sangat terlihat jelas daari mikroskop cahaya dan
mikroskop X Ray bahwa terdapat perbedaan yang sangat jelas dalam kadar mineral individual,
contohnya saja perbatasan langsung oeston, dan dalam perbatasan langsung satu lamellae dari
satu osteon. Memang, mikroskop transmisi elektron dan difraksi elektron dan tekni teknik lain
dengan resolusi yang tinggi sudah pernah menunjukkan kpmosisi, struktur, dan perbedaan
kandungan kadar mineral dari kandungan mineral tulang karena tanda heterogenitas dengan
variasi volume kandungan pada tulang dalam semua level anatomi, tampak oleh mikroskop
cahaya sampai dengan mikroskop elektron, mikroskop dengan penembakan atom, dan resolusi
lainnya yang lebih tinggi.

Hal tersebut juga jelas terlihat dari awal percobaan/eksperimen dengan menggunakan TEM
bahwa pencahayaan dari sampel tulang terhadap air menunjukkan pembiasan yang siginifikan
dari nanokristal tulang serta fase dan perubahan komposisi di dalam banyak dari kristal yang
tersisa di dalam sampel tulang. Itu menjelaskan bahwa preparat dari sampel tulang untuk
mikroskop dan pada semua level resolusi dan bahan kimianya serta sifat fisiknya membutuhkan
persiapan dan analisis dari sampel tulang tanpa pencahayaan dengan terhadap air.

Awal percobaan tersebut dilakukan pada bagian irisan terluar tulang dari embrio anak ayam (dan
spesies lainnya) dengan hanya menggunakan pelarut yang bukan air. Sampel-sampel tulang
diberikan bubuk, dan di pisahkan massa jenisnya dalam pelarut non air. Fraksi massa jenis paling
kecil pertama-tama di uji dengan sudut besar difraksi X Ray, komposisi bahan kimia, dan 31P

NMR, mengungkapkan adanya apatit yang mengkristal dengan buruk. Tidak ada bukti terhadap
awal fase solid amorf Ca-P (tidak berbentuk), yang telah terlebih dahulu di kemukakan oleh
Posner dan kawan-kawan, yang mana pada waktu itu (sampel dengan massa jenis lebih tinggi)
melewati salah satu keadaan fase solid berubah ke keadaan apatit yang mengkristal secara sangat
buruk atau pertama2 terlarut terlebih dahulu lalu mengkristal kembali sebagai apatit yang
mengkristal secara buruk.

Studi lain mengenai komposisi dan struktur untuk memastikan struktur awal inti kristal tulang
dilakukan dalam tulang yang melekat pada otot dari variasi spesies ikan. Gunanya tulang tersebut
adalah mengandung serat kolagen tinggi yang memberikan banyak fungsi penting dalam
mengidentifikasi lokasi dan alam dari awal fase solid Ca-P terbentuk sangat akurat dalam
resolusi yang tinggi. Menggunakan definisi tinggi dari yang dihasilkan oleh generator X Ray
diffraksi dan FTIR, dan pengukuran simultan konsentrasi kalsim dan anorganik fosforpada lokasi
yang sama. Jelas terpapar bahwa fase paling awal dari solid Ca P terjadi selama kasifikasi dari
tulang ikan adalah apatit yang mengkristal secara buruk, serupa dengan hasil yang diperoleh dari
tahap awal fase solid mineral Ca-P yang ditmukan pada spesie unggas dan spesies lainnya.
Dicatat bahwa tahap awal fase solid mineral Ca-P di dalam tulang ikan dihasilkan dari ikan yang
masih segar dan baru saja di tangkap secara langsung dan dibekukan dalam nitrogen dan diuji
dalam temperatur yang rendah.
Tyas
The location of the nanocrystals of bone mineral in bone substance
banyak perhatian lebih terfokus pada dimana nanocrystals berada pada material tulang sebagai
fungsi waktu, penyebaran yang bervariasi dari kristal di dalam fibril kolagen, dan efeknya pada
sifat biologis dan mekanis dari berbagai lokasi dalam fibril kolagen sebagai fungsi waktu.
Pertama, pada dasarnya semua kristal tulang terbentuk dalam fibril kolagen, awalnya di lokasi
tertentu sepanjang sekitar 670 periode berulang longitudinal fibril kolagen. Proses
pembentukan kristal ini dilakukan secara besar-besaran yang diawali oleh proses nukleasi
heterogen. Nukleasi terus berlanjut dari kristal yang lebih banyak dan pertumbuhan kristal yang
sebelumnya diendapkan akhirnya menempati "semua" ruang bebas dalam fibril kolagen tulang.

Dasar tersebut adalah mengubah material tulang menjadi struktur bahan komposit dengan
mengubah fungsi fisiologis dan mekanik, kimia, dan sifat interaksi sebagai fungsi dari perubahan
Lokasi-lokasi nanocrystals di dalam fibril kolagen dan tingkat mineralisasi kolagen fibril.
Sebagai contoh, kita perhatikan kesalahpahaman sering dari implikasi dari bahan atau materi
menjadi "komposit". Hal ini tidak sesederhana bahwa sifat mekanik, kimia, listrik, dll dari bahan
komposit dapat nyata diubah hanya dengan penambahan sifat yang berbeda dari masing-masing
komponen individu melainkan oleh ruang geometris, hubungan antara lapisan individu, dan oleh
sifat dan kekuatan kumpulan dan interaksi antara komponen yang terpisah secara individu.
Dengan demikian, satu poin dari membuat sebuah material komposit terlewati jika semua tujuan
untuk mencapai adalah menambahkan bersama variasi sifat dari masing-masing komponen
komposit. Sebagai contoh, jika dihadapkan dengan material tulang sebagai bahan komposit, sifat
mekaniknya tidak bisa dikaitkan dengan sifat mekanik dari masing-masing komponen dari bahan
yang dibuat tersebut. Dengan kata lain, bahwa fibril kolagen berkontribusi sifat kekuatan tarik
longitudinal untuk komposit, kristal berkontribusi sifat kompresi, dan lain-lain. Sifat mekanik
dari komposit bertgantung pada hubungan antara macam lapisan dan interaksi gerombolan
lapisan, viz, kolagen, mineral kristal, kimiawi, dan gerombolan lain antara dua atau lebih
komponen.

Iti
Apa yang telah kita coba untuk menegaskan sejauh ini adalah meskipun mengambil keuntungan
dari memperluas kemajuan teknologi dalam mengamati dan mengukur sifat dari nanokristal
tulang dan apatit sintetis dan teori, praktik, dan memahami fase tranformasi, banyak sekali
kompleksitas dalam menggambarkan dan mengukur komposisi dan struktur mineral tulang dan
sifat interaksi mereka dengan komponen lainnya, dan perubahan dalam nanokristal, yang
berlangsung sangat cepat sebagai fungsi dari usia kristal, yang semua tergantung pada lokasi
bruto dari tulang yang spesifik dan distribusi mikroskopik dan ultrastruktural dari sampel yang
akan dianalisis.
Sebagai contoh, salah satu kesulitan utama dalam menggambarkan secara benar komposisi bahan
kimia dari apatit tulang adalah karena kurangnya teknik analitik yang sangat akurat untuk

mengukur komposisi bahan kimia yang kompleks. Contohnya, jumlah ion HPO4 2- dan OHdalam sampel apatit tulang tidak dapat diukur menggunakan teknik analitik dengan akurasi yang
cukup untuk menentukan komposisi mereka. Selain itu, jaringan yang termineralisasi sering
mengandung banyak elemen, yang menggantikan unsur lain dari jaringan substansi tulang dan
kristalnya. Beberapa elemen ini berkaitan erat dengan fase mineral padat (F-, Sr 2+), lainnya
yang terutama terdapat dalam matriks organik (contohnya Si, Cu), dan lainnya seperti Zn
mungkin berlokasi di keduanya, fase mineral solid dan/atau matriks organik. Sering kali,
meskipun begitu, elemen seperti itu bahkan tidak dapat berlokasi secara akurat dalam komponen
yang spesifik dalam substansi tulang. Namun, kesulitan penting lain yang dihadapi adalah
keberadaan lapisan permukaan kristal tulang dan kristal apatit sintetis yang terhidrasi, yang
mengandung berbagai konsentrasi dari berbagai macam ion mineral.
Sebagai hasil dari kesulitan-kesulitan ini, sejumlah peneliti telah mengarahkan penelitian mereka
pada sifat apatit kalsium sintetis yang sangat kristal. Sesungguhnya, beberapa kemajuan yang
signifikan dalam memahami struktur penting dan sifat bahan kimia dari apatit biologi tulang
(nanokristal) telah diperoleh dari penelitian seperti itu pada apatit kalsium sintetis atau dalam
beberapa hal dari apatit geologi yang terjadi secara alami.
Penting untuk dicatat bahwa fisiologi, bahan kimia, struktur, dan sifat interaktif yang spesifik
dari nanokristal mineral tulang asli tidak berasal dari struktur kisi stokiometrik hidroksiapatit
melainkan dari substitusi kisi dan ion vakansi.
Mitha
Komposisi dari tiruan apatit kalsium fosfat
Komposisi dari tiruan apatit kalsium sangat kompleks dan umumnya lebih kompleks dari
pada

biologi apatit karena beberapa substitusi kisi dan kehadiran dari berbagai jumlah

kekosongan ion. Yang paling relevan dari substitusi di apatit biologis adalah penggantian dari
PO43 anion oleh spesies bivalen, HPO4

2-

dan CO3 2-, yang juga telah terdeteksi oleh besar dan

jumlah variabel pada sampel di mineral tulang.


Analisis kimia dari tiruan apatit kalsium mengungkapkan mekanisme kompensasi beban
pada umumnya yang mengandung ion bivalen ini, yang diciptakan oleh dua kekosongan ionik:

salah satunya adalah tempat kationik dan lainnya pada tempat anionik monovalen secara umum
rumus kimia: Ca10x (PO4)6x (HPO4 or CO3)x (OH)2x. Kevalidan dari beban konpensasi mekanik
baru-baru ini dikonfirmasi oleh analisis Rietveld dari susunan difraksi sinar X dari penggantian
apatit

sintetis,

Selain

itu,

kekosongan

kation

telah

terbukti

muncul

terutama pada Ca (II) tempat di dekat monovalen tempat anionik. menunjukkan adanya
kelompok
kekosongan yang sering diamati pada senyawa dengan besar jumlah kekosongan sesuai dengan
peraturan Pauling pada konspensasi daerah beban di molekul-molekul. Pada proses subtitusi
dijelaskan pada bagian rendah consentrat dari OH- ion terdeteksi pada apatit tiruan yang luas dan
apatit mineral tulang. Bagaimanapun, Raman spectroscopy dari tulang tikus hanya
mengindikasikan beberapa persen dari prediksi konsentrat dari ion-ion OH - pada tulang apatit.
Studi-studi tersebut memang menyajikan beberapa informasi baru yang lebih signifikan pada
kemungkinan struktur, komposisi, dan reaktivitas dari nanokristal pada mineral tulang yang
berasal dari pencarian tiruan apatit kalsium. Pada induksi variasai ini komposisi dari apatit terjadi
pada semua tahapan dari usia dari kristal. Meskipun sebagian besar perubahan adalah karena
sebagian besar kelipatan ion substitusi dan peluang, secara umum fenomena pencarian pada
apatit tiruan, yang mungkin juga ditemukan di apatit biologis, konsisten pada internal biologis
pada ion ion PO3- dan molekul air pada fase padat. PO3-4 +H2O

HPO2- 4 + OH-

Raksi juga dapat ditemukan terdapat pada tiruan kalsium dan fosfat tak berbentukdan
octakalsium fosfat dan dapat di tunjukan pada apatit nonstoichiometric. Hal tersebut sangat
terbatas, bagaimanapun juga angka pada peluang OH- , memimpin untuk mengikuti rumus kimia
: Ca10-x(PO4)6-x-y(HPO4)x+y(OH)2-x+y

Gledys
Lingkungan Non-Apatit Pada mineral tulang
Studi spektroskopi mineral tulang tidak hanya terdeteksi dengan adanya komponen apatit tetapi
juga keberadaan ion mineral dalam array non-apatitic [50-53]. Studi spektroskopi kalsium
nanokristalin sintetis apatit telah menunjukkan bahwa ion ini juga terletak di lapisan terhidrasi
pada permukaan kristal [54].

Permukaan terhidrasi lapisan apatit nanokristal sintetis mengandung ion bivalen, yang sebagian
besar adalah ion CO32- dan HPO42- (Gambar. 3). Namun, ion karbonat dan HPO42- juga telah
ditemukan dalam domain apatit. Temuan ini membuat perlunya untuk merevisi komposisi kimia
kristal apatit tulang berdasarkan kristalisasi yang baik, apatit sintetis non-stoikiometrik besar,
yang tidak termasuk komposisi lapisan permukaan terhidrasi. Data menarik yang diperoleh NMR
sintetis apatit [55] menunjukkan bahwa sebanyak 55% dari total ion fosfat anorganik berada pada
lapisan permukaan yang terganggu nanocrystals apatit sintetis.
Sedikit yang diketahui tentang struktur lapisan terhidrasi ini pada permukaan apatit kalsium
sintetis. Tambahan spektroskopi analisis sampel basah kalsium sintetis kristal apatit telah
menunjukkan bahwa permukaan terhidrasi menghasilkan berkas spektroskopi yang spesifik
namun terbatas tergantung pada komposisi [56]. Sebagai contoh, penting, spektrum FTIR
nanocrystals sintetis basah yang mengandung HPO4 2- telah ditemukan sangat mirip tetapi tidak
identik dengan OCP, sementara spectrum 31p NMR padat sangat berbeda dari octacalcium fosfat
dan mengandung HPO42- lingkungan sangat mirip dengan dihidrat fosfat dicalcium (DCPD)
[56].
Data ini menggambarkan sulitnya mengidentifikasi keseimbangan lingkungan non-apatitic dari
sintetis Ca-P apatit. Selain itu, perbedaan yang ditemukan tergantung pada teknik yang
digunakan untuk memeriksa lingkungan ini. Yang penting, data spektroskopi apatit sintetis juga
telah terbukti sangat sensitif terhadap pengeringan parsial dan lengkap. Misalnya, puncak
spektroskopi tidak sepenuhnya diawetkan dalam sampel kering, yang menunjukkan hanya
sebuah berkas spektroskopi luas tunggal dari fase mineral seperti amorf [56]. Selanjutnya,
tergantung pada kondisi eksperimental, struktur non-apatitic dalam sampel yang sama telah
diidentifikasi sebagai DCPD menggunakan solid-state NMR, OCP dengan FTIR,
dan ACP dalam sampel sepenuhnya kering!

Novita

Dari percobaan serupa, peneliti menyimpulkan bahwa struktur seperti DCPD juga
dihasilkan berdasarkan fase padat 31P tulang meskipun fase pemisahan DCPD tidak
dapat terdeteksi

Studi lebih lanjut tentang fase padat NMR dengan sampel tulang kering menunjukkan
adanya ion HPO4 2-

Jaringan dimineralisasi oleh deposisi dari fasa padat CaCO3 bukan kristal kalsium fosfat

Fase padat CaCO3 dalam jaringan awalnya berbentuk padatan amorf kemudian
mengalami fase transisi dan berubah menjadi lebih besar dan menjadi kristal CaCO3
(kalsit atau aragonit)

Namun urutan tersebut tidak selalu terjadi dalam semua mineralisasi biologis jaringan

Pada tulang tidak ditemukan fase lain selain fase kristal CaCO3

Anna
Fase-fase Pendahuluan Nanokristal Apatitik
Sebuah studi akhir-akhir ini berkenaan dengan kemungkinan Ca-P fase-fase
pendahuluan terbentuk lebih dahulu pembentukan kristal-kristal dengan kurang baik Ca-P
apatitik pada tulang telah dipublikasikan. Pada percobaan tersebut, para penulis memanfaatkan
sebuah protokol percobaan yang banyak akal dan sangat cerdas yang menggunakan sintesa baru
kehidupan intramembranous tengkorak pada garis sutura dan menganalisis jaringan
menggunakan

microspectroscopy

Raman.

Penulis

mengidentifikasi

beberapa

tempat

peristirahatan fase Ca-P padat dari octacalcium phosphate (OCP) atau fase OCP seperti padat
maupun komponen lain seperti fase padat ACP. Pada awal fase padat dari Ca-P berisi angka
besar dari ion karbonat pada lingkungan non-apatitik. Adanya ion karbonat pada OCP tidak
cocok dengan identifikasi mineral kristal Ca-P berisi OCP sejak tidak adanya karbonat dalam
kristal OCP atau fase kristal non-apatitik lain yang berisi karbonat mempunyai hitherto yang
telah diidentifikasi.

Juga, tidak ada penjelasan untuk kehadiran OCP/ seperti OCP fase padat menggunakan
spectroscopy jadi bisa disebut fase pendahuluan berbeda dari apatitik jika satu manfaat hanya
satu fakta ion campuran untuk mengidentifikasi fase padat. Contoh, analisis yang mirip dari
ikatan FTIR-PO4 apatit nanokristal dan OCP, yang ketika diberikan dapat dengan pasti
diidentifikasikan oleh spectroscopic yang lebih spesifik ikatan dari ion pospat pada 915 cm-1 dan
yang tidak pernah terdeteksi pada sampel tulang atau fase mineral, terbentuk secara in vivo
selama stimulasi tulang baru pada cairan intracranial. Kami tidak merasakan kesimpulan bahwa
OCP atau seperti OCP kristal keberadaannya pada tulang sebagai fase-fase kristal yang jelas
dan dapat menghitung untuk setiap angka besar dari lingkungan non-apatit mineral ditemukan
pada awal pembentukan tulang pada semua tahap pembentukan tulang baru.
Seperti yang telah disebutkan, pembentukan pertama kristal sangat tidak stabil dan
dengan mudah diubah ke fase selanjutnya seperti OCP atau DCPD setelah eksposur ke air. Misal,
kita mengamati bahwa OCP atau OCP-like fase padat dan padatan Ca-P lain fase padat juga
diberlakukan untuk eksposur ke air selama waktu pembentukan sampai untuk mengubah
bentukan baru yang muda dari fase Ca-P ke OCP atau OCP-like kristal dan ACP, dll.
Penerbit dari buku oleh Crane et al menimbulkan respon tajam. Weiner berkomentar
bahwa lama terakhir, fakta-fakta percobaan akhirnya diperoleh bahwa awal dari fase padat
pembentukan Ca-P selama klasifikasi tulang bukan kristal apatit yang kurang baik, tapi, lebih
baik seperti klasifikasi pada kerang invertebrata oleh CaCO3, awal fase padat dari pembentukan
Ca-P di tulang tidak terbentuk Ca-P, hanya setelah dipindah dengan kristal apatit yang kurang
baik. Sayangnya, data spectroscopy Raman diperoleh oleh Crane et al. Sebenarnya ditunjukkan
bahwa mayoritas Ca-P fase padat pertama kali dideteksi adalah OCP atau OCP like kristal,
maupun yang lainnya, minor Ca-P yang tidak terdefinisi fase padat termasuk ACP tak berbentuk.
Sebuah balasan untuk publikasi asli oleh Crane et al dan editornya adalah Weiner telah
dikritisi keduanya pada publikasi asli dan editan Weiner. Penulisnya juga memiliki perasaan
khawatir yang serius tentang intepretasi Crane et al dan peringatan dari kami bahwa salah satu
berhadapan dengan pembentukan fase padat terdiri hanya sebuah angka yang sangat kecil dari
ion (nanokristal) yang interaksi properti, sangat jelas dari klasikal, kimia fisikal dari bentuk besar
kristal.