Anda di halaman 1dari 20

JASA AUDIT DAN JASA ASSURANCE LAINNYA

1. RUANG LINGKUP AUDIT


Audit yang dilakukan oleh auditor mempunyai peranan yang sangat penting dan
semakin menjadi perhatian seiring dengan banyaknya bermunculan perusahaan yang
hendak memberikan informasi kepada masyarakat umum (publik) mengenai efektifitas
pengelolaan perusahaan serta pelaporan keuangannya, khususnya untuk calon investor
dan kreditur. Audit ini biasanya hanya dilakukan oleh perusahaan terbuka. Audit ini
merupakan suatu kegiatan atau aktivitas untuk menghimpun kemudian melakukan
evaluasi atas bukti-bukti traksaksi (yang dapat diverifikasi) dari suatu perusahaan
kemudian membandingkannya dengan kriteria yang sudah ditetapkan. Audit ini dilakukan
oleh orang yang mempunyai keahlian khusus serta harus dapat bersikap independen.
(Arens, Elder, & Beasley, 2012)
Kriteria yang digunakan dalam melakukan audit, misal untuk audit laporan keuangan
yang dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik adalah sesuai dengan prinsip akuntansi
berterima umum ataupun IFRS (International Financial Reporting Standards). Di
Indonesia sendiri dalam melakukan audit mengacu pada Standar Akuntansi Keuangan
yang telah mengadopsi IRFS, sedangkan dalam audit sektor publik berpedoman pada
Standar Akuntansi Pemerintahan yang dituangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 71
tahun 2010 sebagai amanat dari Undang-undang Keuangan Negara Nomor 17 tahun
2003.
Bukti yang digunakan sebagai dasar dalam melakukan audit sebenarnya merupakan
semua informasi yang oleh auditor digunakan dalam membuat kesimpulan atau opini
audit. Menurut jenisnya, bukti audit ini dapat dibagi kedalam 2 kategori:
a. Bukti Fisik, merupakan semua bentuk dokumen yang dapat digunakan untuk
melakukan kegiatan audit. Misal: Nota, Kuitansi, Faktur, Laporan Keauangan, dan
dokumen lainnya.
b. Bukti Non Fisik, merupakan bukti pendukung yang menguatkan auditor dalam
pengambilan keputusan. Misal: Konfirmasi prosedur pembelian, budaya/kebiasaan
kerja, dan lainnya.
Bukti audit yang dikumpulkan, baik fisik maupun non fisik harus dalam jumlah yang
cukup. Artinya bukti-bukti tersebut mewakili populasi keseluruhan transaksi dan dapat
digunakan dalam pengambilan keputusan/opini. Proses ini memiliki peranana yang
sangat penting, karena jika salah dalam menentukan jumlah bukti serta salah dalam
memperoleh bukti, maka opini yang dihasilkan tidak dapat mencerminkan kualitas

perusahaan sesungghnya, dan tentu saja hal ini juga berpengaruh buruk terhadap reputasi
dari KAP maupun auditor yang bersangkutan.
Selain itu, sikap independen juga harus dimiliki oleh seorang auditor. Karena tanpa
independensi, maka kompetensi yang dimiliki oleh auditor menjadi tidak berguna.
Dengan menjaga sikap independensi, maka hal ini akan membantu juga menjaga
hubungan baik dan kepercayaan dari perusahaan yang akan memakai jasa auditor (KAP)
serta dari masyarakat.

Meskipun auditor menerima fee dari perusahaan yang

memanfaatkan jasanya, hal ini tidak boleh mengurangi independensi seorang auditor.
Setelah mengumpulkan bukti-bukti yang cukup, kemudian membandingkan dengan
kriteria yang telah ditetapkan, maka langkah selanjutnya adalah membuat laporan hasil
audit. Format laporan dari tiap auditor/KAP mungkin akan berbeda satu dengan yang
lain, tetapi akan memberikan informasi mengenai hasil yang sama, yaitu apakah laporan
keuangan telah sesuai atau belum.
Secara garis besar, proses pelaksanaan audit dapat dilihat pada gambar berikut :

Kriteria
Menentukan bukti Membandingkan dengan kriteriaLaporan Hasil Audit

2. AKUNTANSI DAN AUDITING


Banyak masyarakat
Gambar 1 : Proses Audit

umum

yang

masih

bingung terkait akuntansi dan auditing, bahkan tidak jarang yang menganggapnya hal
yang sama. Sebenarnya akuntansi merupakan suatu proses pengidentifikasian atas
informasi-informasi ekonomi yang terjadi dalam suatu entitas kemudian melakukan
pengukuran atas informasi tersebut yang kemudian menyampaikan hasilnya kepada pihak
lain yang membutuhkan. Biasanya informasi ini diperlukan oleh pemilik (investor) serta
kreditur. Tujuan utama dari akuntansi yaitu menyediakan informasi suatu entitas secara
jelas, komprehensif, dan dapat diandalkan mengenai posisi keuangan perusahaan untuk
pengambilan keputusan. informasi ini biasanya disajikan dalam bentuk :
a. Laporan Posisi Keuangan
1

b. Laporan Laba Rugi


c. Laporan Perubahan Ekuitas
d. Laporan Arus Kas
Sedangkan audit merupakan
suatu kegiatan
untukdan
memeriksa
Tabel 1:Perbedaan
Akuntansi
Auditing laporan keuangan yang
telah dilakukan melalui proses akuntansi sehingga menghasilkan pendapat apakah
laporan tersebut telah disajikan sesuai dengan standar atau ketentuan yang berlaku. Jadi
kegiatan audit ini memeriksa kesesuain dan ketepatan dalam proses akuntansi. Sehingga
tujuan dari audit ini sebenarnya adalah untuk melakuka evaluasi secara menyeluruh
mengenai laporan keuangan serta memberikan rekomendasi perbaikan berdasarkan
evaluasi tersebut.
Dari pemaparan diatas dapat kita tarik sebuah kesimpulan bahwa akuntansi
merupakan kegiatan memberikan informasi kepada pengguna, dan kemudian melalui
audit akan dipastikan lagi bahwa informasi tersebut dapat diandalkan dalam pengambilan
keputusan karena telah dibuat sesuai dengan standar dan ketentuan yang berlaku. Jika
dilihat dari prosesnya, maka kegiatan akuntansi dimulai dari bukti transaksi sampai
kemudian menjadi sebuah laporan keuangan, sedangkan audit diawali dari laporan
keuangan kemudian ditelusuri apakah laporan tersebut disajikan sesuai dengan bukti yang
ada. Perbedaaan antara akuntansi dan audit dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
No
.
1

Uraian
Tujuan

Metode/Kegiatan

Pihak yang
bertanggungjawab

Akuntansi

Auditing

Menyajikan Laporan Keuangan Memberikan pendapat


(Opini)
Mengidentifikasi kejadian
Mengidentifikasi bukti
ekonomi dan melakukan
audit dan
pencatatan kemudian diolah
membandingkannya
menjadi laporan keuangan
dengan kriteria
Laporan Keuangan merupakan Laporan Audit merupakan
tanggungjawab pihak
tanggungjawab Auditor
Manajemen (Perusahaan)

Dalam melakukan proses audit, seorang auditor selain memahami proses akuntansi,
dia juga harus memiliki keahlian dalam mengiterprestasikan bukti audit. Auditor akan
menentukan prosedur audit apa yang tepat untuk dilakukan, jenis dan jumlah unsur apa
yang akan diaudit, serta mengevaluasi hasilnya. Selain itu auditor dituntut untuk memiliki
sertifikasi terkait dengan keahliannya. Sesuai dengan Standar Profesional Akuntan Publik
SA 150 terkait dengan Standar Umum dijelaskan bahwa:
2

a. Auditor harus mempunyai keahlian dan pelatihan teknis yang cukup


b. Dalam melakukan perikatan, harus mempertahankan independensi
c. Menggunakan kemahiran dengan cermat dan seksama.
3. PERMINTAAN JASA AUDIT
Seiring dengan meningkatnya perkembangan perusahaan, maka kebutuhan akan jasa
audit juga meningkat. Perusahaan-perusahaan tersebut membutuhkan investasi untuk
dapat berkembang. Hal ini bisa dipenuhi dengan menambah modal maupun dengan
pinjaman. Untuk melakukan hal tersebut bukan merupakan hal yang mudah, perusahaan
harus memperoleh kepercayaan dari investor yang akan menyertakan modalnya maupun
meyakinkan pihak kreditur agar mau mengucurkan dananya. Hal yang bisa dilakukan
oleh perusahaan yaitu menggunakan jasa audit, karena dengan adanya audit yang
dilakukan secara profesional dan independen maka kondisi keuangan perusahaan dapat
diyakini keandalannya. Calon investor maupun kreditur membutuhkan informasi terkait
keberlangsungan perusahaan yang dapat dilihat dari laporan posisi keuangan, laporan rugi
laba, dan laporan arus kas. Dari laporan tersebut bisa diprediksi perkembangan
perusahaan di masa yang akan datang.
Dalam menyalurkan dananya, biasanya ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan
dari kreditur, antara lain:
a. Character
Karakter merupakan kepribadian, sifat, kebiasaan dari sebuah perusahaan. Pihak
pemberi kredit akan melihat karakter sebuah perusahaan, sampai sejauh mana dia
mempunyai itikad baik untuk melunasi hutangnya sesuai dengan kesepakatan yang
telah ditetapkan. Karena tanpa itikad baik dari perusahaan, pihak pemberi kredit
tentu enggan untuk menyalurkan dananya.
b. Capacity
Kapasitas disini diartikan sebagai kemampuan dari perusahaan untuk melunasi
hutangnya. Pemberi pinjaman akan melihat bagaimana kemampuan perusahaan
dalam menghasilkan laba, perkembangan bisnisnya dari periode ke periode, serta
sejarah dalam mengelola perusahaan. Bila perusahaan yang baru berdiri tentu akan
berbeda perlakuannya dengan perusahaan yang sudah lama beroperasi.
c. Capital
Kapital atau modal merupakan kekayaan bersih yang dimiliki sebuah perusahaan.
Pemberi pinjaman akan melihat seberapa banyak kekayaan yang dimiliki oleh
perusahaan, karena pinjaman yang diberikan biasanya sebagai stimulus untuk
memperlacar usahanya, bukan sebagai kegiatan utama untuk menambah kekayaan.
3

d. Colleteral
Jaminan yang dimiliki perusahaan juga harus diperhitungkan. Hal ini berkaitan
dengan prinsip kapital diatas. Pemberi pinjaman biasanya akan berjaga-jaga kalau
sampai perusahaan bangkrut atau tidak dapat melunasi hutangya maka ada jaminan
lain yang bisa digunakan untuk menutup hutangnya, yaitu dari modal yang dimiliki.
e. Condition of economy
Kondisi ekonomi juga menjadi perhatian dari pihak pemberi pinjaman. Akan dinilai
kelayakan dari penggunaan pinjaman yang akan diteriman. Selayaknya pinjaman
digunakan untuk kegiatan yang memang berpotensi untuk menghasilkan laba bagi
perusahaan serta mempunyai prospek yang bagus.
Hal-hal diatas dapat dilihat salah satunya melalui hasil audit yang dikeluarkan oleh
Kantor Akuntan Publik. Jika pihak pemberi pinjaman merasa yakin, maka pinjaman dapat
diterima oleh perusahaan. Sehingga dari sini bisa kita lihat bahwa audit mempunyai
peranan yang memang sangat penting bagi perusahaan maupun pihak luar perusahaan.
Perkembangan bisnis yang ada juga dapat menimbulkan informasi yang diperoleh
menjadi tidak andal. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:
a. Pengambil keputusan tidak mungkin memperoleh informasi secara langsung dari
aktivitas operasional perusahaan. Oleh karenanya dia membutuhkan informasi yang
disediakan oleh pihak lain. Sedangkan jika mendapat informasi dari pihak lain, maka
ada salah saji dalam informasi tersebut, baik disengaja maupun tidak.
b. Kadang informasi yang disajikan adalah informasi yang bias, hal ini dilakukan
dengan maksud dan tujuan tertentu dari si penyedia informasi. Hal ini tentu saja
berakibat salah dalam pengambilan keputusan. Sebagai contoh ketika hendak
meminjam uang di bank, maka bisa saja pihak peminjam memberikan informasi
kekayaan perusahaan yang tidak sesuai dengan realita serta informasi laba rugi yang
menyajikan profit yang besar, padahal pada kenyataannya tidak demikian.
c. Semakin besar sebuah perusahaan, maka transaksi yang dilakukan juga semakin
banyak. Hal ini berakibat pada arus informasi dan pertukaran data rawan terjadi
kesalahan. Misal potongan penjualan yang seharusnya selektif diberikan kepada
konsumen yang sudah menjadi langganan, ternyata diberikan kepada konsumen baru
yang ternyata jumlah transaksi pembeliannya sedikit. Hal ini berakibat pada
menurunya laba yang akan diperoleh perusahaan karena kontrol yang kurang sebagi
akibat banyaknya transaksi.

Atas informasi yang tidak tepat karena hal diatas, bagi perusahaan kecil mungkin akan
tidak menjadi masalah dan bisa dihindari. Tetapi bagi perusahaan besar dan komplek, hal
ini tentu saja bisa membawa dampak yang merugikan. Perusahaan akan lebih memilih
untuk mengeluarkan biaya untuk mendapatkan informasi yang handal. Yang yang
ditempuh antara lain:
a. Pemakai informasi akan mendatangi berbagai kantor cabang, bagian produksi, bagian
pembelian, bagian keuangan, dan bagian lainnya untuk mendapatkan informasi
secara langsung. Tetapi dengan cara ini akan menimbulkan biaya yang tidak sedikit,
membutuhkan waktu yang relatif lama, serta tidak efisien jika verfikasi dilakukan
sendiri oleh pemilik. Akan lebih efisien jika hal ini diserahkan kepada aditor yang
independen untuk melakukan hal tersebut.
b. Pemakai informasi dapat berbagi risiko dengan manajemen sebagai pihak yang
membuat dan menyajikan data. Saat informasi yang digunakan oleh pemakai tetapi
kemudian menimbulkan kerugian karena kesalahan dari informasi yang disajikan,
maka pemakai dapat menuntuk pihak manajemen atas hal tersebut. Tetapi masalah
yang selanjutnya mucul adalah pemakai tidak akan menerima penggantian atas
kerugian yang dideritanya karena pihak manajemen memang tidak mempunyai
cukup dana.
c. Pemakai informasi dapat juga menggunakan informasi yang sudah diaudit dalam
mengambil keputusan. Hal ini jauh lebih aman karena informasi yang diberikan
sudah melalui proses verifikasi , lengkap, akurat, serta terhidar dari informasi yang
bias.
Hubungan antara auditor, pemakai informasi, dan pihak perusahaan (client) dapat dilihat
pada gambar berikut ini :

Menggunakan jasa audit

Auditor menerbitkan opini


Aditor

Perusahaan (Client)

Laporan keuangan
5
Aliran modal/pinjaman

Investor/Kreditur

Gambar 2: Kebutuhan Jasa Audit

Dari gambar diatas dapat diketahui bahwa perusahaan membutuhkan jasa auditor untuk
meyakinkan pihak eksternal (investor/kreditur) bahwa perusahaan telah membuat laporan
keuangan sesuai dengan standar dan ketentuan yang berlaku. Dengan demikian pihak
eksternal menjadi yakin dan mau bergabung dengan perusahaan ataupun mengucurkan
dananya.
4. ASSURANCE SERVICES
Jasa Assurance (Assurance Services) merupakan jasa profesional yang independen,
dengan assurance services akan meningkatkan kualitas informasi bagi para pengambil
keputusan. Hal ini menjadi penting karena mereka membutuhkan informasi yang relevan
serta andal dalam pengambilan keputusannya. Dilain pihak, pemberi jasa assurance
independen dan tidak bias sehubungan dengan informasi yang diperiksanya. Jasa
assurance ini dapat dilakukan oleh akuntan publik maupun oleh profesi lainnya. Sebagai
contoh adalah lembaga yang memperhatikan kepentingan konsumen yang melakukan
pengujian serta evaluasi terhadap suatu produk sehingga membantu konsumen dalam
menentukan pilihan. Sebab kadang informasi yang dikeluarkan produsen produk tersebut
justru kurang akurat. Sedangkan jika dikeluarkan oleh lembaga yang independen jauh
lebih akurat karena bebas dari konflik kepentingan.
Terkait dengan jasa assurance ini bukan merupakan suatu hal yang baru. Sudah lama
kantor akuntan publik mengeluarkan jasa seperti ini, yaitu melalui assurance tentang
informasi keuangan historis. Jasa ini lebih dikenal dengan jasa audit. Di Amerika ada
juga jasa assurance yang memberikan kepastian bahwa pemenang lotere dan kontes
dipilih dengan cara yang benar dan sesuai. Bahkan sekarang ini cakupan jasa assurance
semakin meluas cakupannya, yang meliputi perkiraan informasi dimasa depan serta
kontrol terhadap website. Konsumen membutuhkan kepastian bahwa jalur komunikasi
ataupun internet adalah aman untuk digunakan. Dan untuk kedepannya kebutuhan akan
jasa assurance akan semakin meningkat seiring dengan kebutuhan informasi terbaru yang
andal dan dikeluarkan oleh pihak yang independen. Jenis assurance services yang
ditawarkan antara lain:
a. Jasa Atestasi
6

Jasa ini merupakan salah satu bentuk assurance services dimana akuntan publik
menyampaikan laporan terkait keandalan suatu asersi yang dibuat oleh pihak lain.
Asersi ini merupakan pernyataan yang dibuat oleh satu pihak yang secara implisit
dimaksudkan untuk digunakan oleh pihak lain. Menurut Aren, Alvin A. (2012) jasa
atestasi ini dikelompokan lagi menjadi 5 (lima) kategori, yaitu:
1. Audit atas laporan keuangan historis
Dalam laporan keuangan historis, maka manajemen akan menyampaikan bahwa
laporan tersebut telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum serta telah sesuai dengan standar. Namun kemudian auditor akan
melakukan pengecekan dan evaluasi apakah benar bahwa laporan tersebut telah
disajikan dengan benar, yaitu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum serta sesuai dengan standar. Jasa atestasi ini merupakan salah satu bentuk
jasa yang paling umum dan sering diberikan oleh Kantor Akuntan Publik. Bagi
perusahaan yang akan masuk bursa efek untuk menjual sahamnya, maka
dipersyaratkan bahwa laporan keuangannya telah diaudit. Namun demikian,
seperti yang telah disampaikan diawal bahwa perusahaan kecil yang tidak berniat
menjual saham ataupun masuk bursa efek tetap membutuhkan jasa atestasi ini
sebagai persyaratan/untuk memudahkan dalam mendapatkan pinjaman dari bank.
Para pemakai eksternal (pemegang saham dan pemberi pinjaman) menggunakan
laporan dari auditor sebagai pengambilan keputusan, apakah akan membeli
saham, memberikan pinjaman, atau tidak keduanya. Pemakai eksternal ini lebih
yakin apabila laporan keuangan tersebut telah diaudit karena sikan independensi
auditor serta kemampuan, ketrampilan, dan keahlian yang dimiliki terkait laporan
keuangan. Alur proses ini bisa dilihat kembali pada Gambar 2 dimana perusahaan
akan menggunakan jasa auditor untuk mendapatkan tambahan modal atau
pinjaman.
2. Audit internal kontrol atas pelaporan keauangan
Jasa atetasi lainnya berupa audit terhadap kontrol yang dilakukan oleh
perusahaan dalam proses pelaporan keuangan. Pihak manajemen akan
menegaskan bahwa dia telah menjalankan internal kontrol yang sudah di
kembangkan dan mengikuti kriteria yang ada. Namun demikian, dalam Undangundang Sarbanes-Oxley section 404 mewajibkan perusahaan terbuka untuk
melaporakan penilaian manajemen atas efektifitas pengendalian internal, selain
itu juga mewajibkan auditor untuk memberikan atestasi mengenai hal tersebut
(efektifitas pengendalian internal). Audit internal kontrol atas pelaporan
7

keuangan akan memberikan nilai tambah, keyakinan yang lebih bagi pengguna
informasi bila disandingkan dengan serta audit atas laporan keuangan historis.
Dengan efektifitas pengendalian internal, maka di masa yang akan datang akan
menghilangkan/mengurangi salah saji dalam penyajian laporan keuangan.
3. Reviu atas laporan keuangan historis
Tidak jauh berbeda dengan audit atas laporan keuangan historis, reviu atas
laporan keuangan juga dilakukan dengan metode yang sama tetapi dengan bukti
yang lebih sedikit. Cakupan pemeriksaan dan jaminan atas kekuratannya pun
berbeda. Kadang dengan reviu sudah dianggap cukup bagi pengguna laporan
dalam mengambil keputusan. Jasa ini diberikan oleh KAP dengan fee yang lebih
rendah bila dibandingkan dengan audit laporan keuangan historis. Banyak
perusahaan menggunakan jasa atestasi ini karena bisa menekan biaya tanpa
menghilangkan tujuan utamanya yaitu memberikan keyakinan bagi pengguna.
4. Jasa atestasi terkait teknologi informasi
Pekembangan teknologi yang cukup pesat menimbulkan permintaan akan jasa
atestasi ini meningkat. Adanya e-commerce, transaksi pembayaran, dan transaksi
lain yang memerlukan jaringan sebagai media perantaranya membutuhkan
kepastian keamanan terkait transaksi yang dilakukan. Para pelaku bisnis
menghendaki jaminan akan hal tersebut. Jasa atestasi yang dikembangkan untuk
mendukung hal tersebut diatas antara lain dengan WebTrust dan SysTrust.
WebTrust memberikan keyakinan kepada pengujung bahwa situs yang dikunjungi
telah memenuhi kriteria yang berkaitan dengan praktik bisnis yang sesuai,
integritas transaksi yang dilakukan, serta proses informasi yang dhasilkan. Situs
yang telah menggunakan jasa ini kemudian akan dipasangkan logo WebTrust di
situsnya sebagai perwakilan dari laporan akuntan publik terkait dengan asersi
manajemen.
Jika WebTrust lebih ditujukan kepada pihak ketiga, maka SysTrust lebih ditujukan
kepada pihak internal perusahaan/manajemen. SysTrust memberikan jaminan
kepada manajemen, dewan komisaris, ataupun pihak ketiga terkait realibilitas
sistem informasi yang digunakan untuk menghasilkan informasi secara real time.
Prinsip-prinsip yang digunakan dalam melakukan jasa WebTrust dan SysTrust ada
5(lima), yaitu:
N
o
1

Prinsip
Keamanan

Keterangan
Memberikan jaminan bahwa akses ke sistem dan data
dibatasi serta hanya untuk pihak yang berwenang saja
8

2
3

Ketersediaan
Pemrosesan
terintegrasi

Privasi Online

Kerahasiaan

Memberikan jaminan bahwa sisten dan data akan tersedia


bagi pemakai saat mereka membutuhkan
Memberikan jaminan bahwa transaksi diproses secara
lengkap dan akurat, tepat waktu, serta mendapat otorisasi
Memberikan jaminana bahwa informasi pribadi akan
dilindungi
Memberikan jaminan terkait informasi yang rahasia akan
dilindungi.
Tabel 2: Prinsip WebTrust dan SysTrust

5. Jasa atetasi lain yang dapat digunakan terhadap masalah lain.


Selain jasa atestasi yang telah disebutkan diatas, masih ada jasa atestasi lainnya
yang merupakan pengembangan dari audit atas laporan keuangan historis. Hal ini
didasari karena pemakai informasi juga menghendaki kepastian dan keandalan
informasi lainnya. Sebagai contoh, jika perusahaan akan meminjam dana dari
bank, mungkin pihak bank ingin mengetahui bagaimana perusahaan mematuhi
dan menjalankan ketentuan terkait pinjaman. Selain itu, kadang auditor juga
diminta untuk melakukan audit terkait perkiraan keuangan sebuah perusahaan
(forecasting).

b. Jasa Assurance Lainnya


Auditor juga dapat memberikan jasa assurance lainnya yang tidak termasuk dalam
jasa atestasi diatas. Jasa assurance lainnya ini berbeda dengan jasa atestasi karena
auditor tidak harus mengeluarkan laporan dalam bentuk tertulis, serta assurance yang
diberikan tidak harus mengenai realibilitas asersi pihak lain terkait ketaatan pada
kriteria tertentu. Namun demikian, independensi tetap harus dijaga oleh seorang
auditor meskipun jasa lain yang diminta bukan termasuk jasa atestasi karena
informasi tersebut tetap digunakan dalam pengambilan keputusan. Jasa assurance
lainnya ini fokus pada peningkatan mutu informasi untuk pengambilan keputusan,
sama dengan jasa atestasi. Perkembangan jaman dan kebutuhan akan informasi
membuat persaingan untuk jasa assurance lainnya ini meningkat. Sebab jasa ini tidak
hanya dikerjakan oleh auditor yang berlisensi, tetapi profesi lain juga dapat turut
serta memberikan jasa ini. Namun demikian, auditor mempunyai keunggulan lebih
yang tidak dimiliki profesi lain, yaitu kompetensi dan independensi.
9

AICPA (American Institute of Certified Public Accountant) membentuk SCAS


(Special Committee on Assurance Services) yang melakukan riset serta
mengembangkan jasa assurance baru untuk para akuntan sebagai akibat dari
meningkatnya permintaan akan jasa assurance lain. Beberapa contoh jasa assurance
lainnya yang diadopsi dari AICPA antara lain:
- Pengendalian atas risiko serta risiko yang berkaitan dengan investasi, yaitu
mengidentifikasi efektifitas proses yang terjadi dalam kegiatan investasi sebuah
-

perusahaan
Mystery shopping, yaitu melakukan transaksi pembelian layaknya pembeli biasa
untuk menilai apakah bagian penjualan sudah melaksanakan tugas sesuai dengan

prosedur yang ditetapkan


Menilai risiko keamanan dan pengendalian terkait pengumpulan, pendistribusian,

serta penyimpanan informasi digital


Fraud and illegal risk assesment, yaitu membuat profil risiko kecurangan dan

menilai kemampuan perusahaan untuk mencegah tindakan fraud dan ilegal


Kepatuhan terhadap kebijakan dan prosedur perdagangan, yaitu menelaah
transaksi perdagangan antar perusahaan apakah transaksi telah sesuai dengan

kesepakatan
Kepatuhan terhadap perjanjian royalti hiburan
Sertifikasi ISO 9000
Corporate Responsibility and Sustainability, yaitu melaporkan apakah informasi
yang disajikan sebagai tanggung jawab perusahaan telah sesuai dengan kriteria
dan tujuan didirikannya perusahaan.

Selain jasa assurance, Kantor Akuntan Publik jugaJASA


menyediakan
nonassurance semisal:
NONASSURANCE
a. Jasa akuntansi dan pelaporan
b. Jasa Perpajakan
c. Jasa konsultasi manajemen
KONSULTASImutu
MANAJEMEN
LAINNYA informasi,
Tujuan utama jasa assurance adalah meningkatkan
dan kualitas

sedangkan konsultasi manajemen adalah memberikan rekomendasi kepada manajemen.


Audit

Reviu berikut memperlihatkan jenis-jenis jasa assurance dan nonassurance serta


Gambar

hubungan diantaranya:

Pengendalian internal atas pelaporan keuangan


KONSULTASI MANAJEMEN TERTENTU
Jasa Atestasi terkait teknologi informasi

AKUNTANSI DAN PEMBUKUAN

JASA ASSURANCE
Jasa Atestasi lainnya

PERPAJAKAN

JASA ATESTASI
JASA ASSURANCE LAINNYA

10

Gambar 3: Jasa Assurance dan Nonassurance

5. JENIS AUDIT
Biasanya Kantor Akuntan Publik memberikan jasanya dalam bentuk audit yang dapat
dibedakan menjadi:
a. Audit Laporan Keuangan
Audit ini dilakukan dengan menentukan apakah laporan keuangan yang disajikan
adalah wajar, telah sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Kriteria ini mencakup
prinsip akuntansi yang berterima umum. Di Indonesia sendiri,untuk sektor privat
berpedoman pada PSAK, sedangkan pada sektor publik mengacu pada PSAP, dan
dengan tetap mengindahkan peraturan perundangan yang berlaku. Atau juga dapat
menggunakan kriteria lain yang sesuai dengan perusahaan yang akan diaudit. Dalam
menentukan kewajaran laporan keuangan seperti yang telah disebutkan sebelumnya,
auditor akan mengumpulkan bukti untuk menentukan apakah laporan keuangan
mengandung saah saji yang material atau salah saji yang lainnya. Perkembangan
teknologi, kemajuan jaman, perubahan proses bisnis, kesemuanya menuntut agar
auditor tidak hanya fokus pada transaksi keuangan saja dalam melakukan audit.
Auditor juga harus memahami perusahaan yang akan diaudit dan lingkungannya
secara mendasar. Selain itu juga harus memperhatikan visi misi dari perusahaan,
strategi yang digunakan, faktor-faktor penunjang keberhasilan perusahaan yang
diaudit.
b. Audit Kepatuhan
11

Audit ini dilakukan untuk mengetahui apakah pihak perusahaan telah mengikuti
prosedur, aturan, ataupun ketentuan yang yang berlaku yang ditetapkan pihak yang
berwenang. Contoh dari audit kepatuhan yang dilakukan antara lain:
- Menentukan apakah petugas akuntansi telah mengikuti prosedur yang ditetapkan
-

oleh perusahaan
Merevieu tarif upah untuk melihat kesesuaian dengan tarif minimun yang

ditentukan
Memeriksa perjanjian kontrak antara peminjam dengan pemberi pinjaman untuk
memanstikan bahwa peminjam menaati persyaratan hukum yang disepakati.

Hasil dari audit ini biasanya digunakan untuk kepentingan internal, yaitu dilaporkan
kepada pihak manajemen, bukan pihak eksternal. Hal ini karena pihak manajemenlah
yang mempunyai kepentingan paling mendasar dengan tingkat ketaatan yang dibuat
oleh perusahaan. Oleh sebab itu, biasanya pekerjaan audit kepatuhan ini dilakukan
oleh auditor internal. Sebagai contoh di Indonesia, pada sektor publik Inspektorat
Jenderal melakukan compliance audit di Direktorat Jenderal Pajak Kementerian
Keuangan.
c. Audit Operasional
Audit ini bertujuan untuk melakukan evaluasi atas efisiensi dan efektifitas
penggunaan sumber daya yang dimiliki oleh sebuah perusahaan. Setelah proses audit
selesai, pihak manajemen biasanya akan meminta saran perbaikan. Sebagai contoh
jika perusahaan beralih dari sistem manual ke sistem otomatis, maka mungkin terjadi
pemborosan sumber daya, oleh karena itu perlu adanya audit operasional. Terkait
dengan audit operasional ini, reviu yang dilakukan tidak terbatas pada proses
akuntansi saja, tetapi meliputi evaluasi terhadap struktur organisasi, metode produksi,
marketing, dan bidang lain yang dikuasai oleh auditor. Karena banyak aspek yang
menjadi bahan pertimbangan, maka antara satu perusahaan dengan perusahaan yang
lain akan berbeda metode yang digunakan oleh auditor. Dalam pelaksanaan audit
operasional, sangat sulit untuk bersikap objektif, hal ini dikarenakan kriteria yang
ditetapkan bersifat subjektif. Hal ini mengakibatkan audit yang dilakukan lebih
bersifat kepada konsultasi manajemen.
d. Audit Khusus
Audit jenis ini biasanya atas permintaan pihak manajemen atau perusahaan dan
bertujuan untuk mendeteksi serta mencegah terjadinya kecurangan yang dapat
menimbulkan gangguang terhadap pencapaian sasaran strategis organisasi. Sebagai
contoh di Indonesia, audit khusus yang dilakukan oleh BPKP dalam menangani kasus
12

Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi, Kasus pelanggaran disiplin PNS, dan


kasus pelanggaran etika. Audit yang dilakukan ini biasanya berawal dari informasi
yang berasal dari :
1. Pengaduan masyarakat melalui surat atau media lain;
2. Pengembangan dari temuan audit yang sudah/sedang dilakukan;
3. Permintaan tertulis dari unit kerja; dan
4. Adanya disposisi dari Pimpinan.
Prosedur yang dilakukan untuk melaksanakan audit khusus ini antara lain
pembentukan tim khusus yang akan menelaah kecukupan informasi, apakah audit
khusus ini perlu dilakukan atau tidak. Jika memang cukup informasi, maka akan
diberikan masukan kepada Inspektur untuk melakukan audit khusus. Penelaahan
kecukupan informasi diatas harus mempertimbangkan materi serta kelengkapan
informasi, dan juga potensi kebenaran informasi yang diterima.
6. JENIS-JENIS AUDITOR
Ada beberapa jenis auditor yang kita kenal saat ini. Mereka itu antara lain:
a. Auditor Kantor Akuntan Publik
Kantor akuntan publik mempunyai tanggung jawab untuk melakukan audit atas
laporan keuangan. Namun demikian, di lapangan para pengguna jasa ini kadang
menyamakan antara Auditor dengan KAP, karena auditor yang dapat melakukan audit
adalah auditor yang bersertifikasi, memiliki lisensi sebagai akuntan publik serta
bernaung dibawah Kantor Akuntan Publik.
b. Auditor Pemerintah
Auditor pemerintah ini melakukan audit dilingkungan pemerintahan. Di Indonesia da
2 jenis auditor pemerintah, yaitu:
1. Auditor Eksternal Pemerintah
Tugas dan pelaksananaanya dijalankan oleh BPK (Badan Pemeriksa Keuangan)
yang melakukan audit di lingkungan pemerintahan dan bertanggungjawab kepada
DPR, DPD, DPRD sesuai dengan kewenangannya. Tugas dan wewenang BPK ini
lebih jauh diatur dalam Undang-undang Nomor 15 tahun 2006 tentang Badan
Pemeriksa Keuangan.
2. Auditor Internal Pemerintah
Tugas dan pelaksanaan audit internal dilngkungan pemerintah dilkaukan oleh
BPKP serta inspektorat, baik di tingkat pusat (Kementerian) maupun di tingkat
daerah (Provinsi, Kabupaten/Kota). Auditor Internal Pemerintah ini lebih dikenal
dengan istilah APIP (Aparat Pengawas Intern Pemerintah). Mereka ini
bertanggungjawab kepada Presiden, Gubernur, ataupun Bupati/Walikota sesuai
dengan kewenangannya. APIP ini menjalankan fungsi pengawasan internal
13

pemerintah sesuai dengan amanat PP Nomor 60 tahun 2008 tentang SPIP (Sistem
Pengendalian Intern Pemerintah).
c. Auditor Penerimaan Negara
Auditor jenis ini ada di negara Amerika yang melakukan audit terhadap dana yang
dibayarkan oleh wajib pajak. Dia mereviu apakah jumlah yang dibayarkan telah
sesuai dengan ketentuan atau belum. Hal ini wajar karena peraturan terkait perpajakan
mengalami dinamika perubahan yang banyak. Kadang jika ada perubahan, belum
tentu semua wajib pajak mengetahui akan hal tersebut, atau memang karena wajib
pajak sengaja salah dalam melaporkan pajaknya. Auditor Penerimaan Negara harus
memilki pengetahuan dan ketrampilan yang cukup untuk dapat melaksanakan
tugasnya.
d. Auditor Internal
Auditor internal meruapakan auditor yang berasal dari dalam perusahaan itu sendiri.
Dia melakukan audit karena itu sudah menjadi tanggungjawabnya atau sesuai dengan
penugasan yang di berikan. Auditor internal tetap harus menjaga profesionalisme dan
sikap independensi, oleh sebab itu biasanya dia langsung melaporkan hasil auditinya
kepada pimpinan puncak perusahaan. Namun demikian, konflik kepentingan tidak
bisa dihindari karena adanya hubungan pemberi kerja - karyawan.
Praktek yang berlaku dibanyak negara, pengalaman sebagai auditor internal menjadi
syarat untuk dapat bergabung di Kantor Akuntan Publik.
7. PROFESI AKUNTAN PUBLIK
Seorang auditor akan menggunakan gelar CPA (Cerified Public Accountant) untuk
dapat beroperasi. Di Amerika sendiri pemberian gelar ini diatur dalam ketentuan di setiap
negara bagian. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi jika hendak memperoleh
gelar ini, antara lain:
a. Pendidikan, merupakan lulusan Sarjana dibidang akuntansi.
b. Ujian, mengikuti ujian yang dipersyaratkan, biasanya ujian yang diberikan adalah
terkait dengan auditing, akuntansi, peraturan-peraturan, dan lingkungan bisnis.
c. Pengalaman, persyaratan pengalam ini berbeda-beda tergantung negara bagian yang
mengaturnya.
Auditor harus mempertahankan gelar CPA nya untuk terus dapat menjalankan
tugasnya/berpraktek. Mereka harus mengalami proses pendidikan berkelanjutan dan serta
persyatan lisensi yang sudah ditetapkan.
Di Indonesia sendiri, gelar profesi akuntan dikeluarkan oleh IAI (Ikatan Akuntan
Indoensia), yaitu CA (Chartered Accountant). Latar belakang munculnya gelar ini adalah
14

untuk mensejajarkan profesi akuntan di Indonesia dengan akuntan diseluruh dunia yang
menggunakan gelar CPA, ACCA (the Association of Chartered Certified Accountants),
CIMA (Chartered Institute of Management Accountants), CMA (Chartered Management
Accountants). Memasuki Masyarakat Ekonomi Asean, maka profesi auditor ini bisa diisi
oleh siapapun, dari negara manapun,dan dengan latar belakang pendidika apapaun, yang
penting adalah mempunyai gelar dan memnpunyai ketrampilan yang dipersyartkan.
Selain itu dengan menggunakan gelar CA, akan memberikan nilai tambah bagi akuntan
beregister.
Gelar CA ini diberikan kepada anggota utama IAI yang memenuhi persyaratan:
a.
b.
c.
d.

Memiliki register akuntan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku;


Berpengalaman;
Mentaati dan menjalankan standar profesi;
Menjaga kompetensi melalui PPL (Pendidikan Profesional Berkelanjutan)

Untuk medapatakan gelar ini, ada beberapa langkah yang ditempuh, antar lain:
a. Melengkapi formulir keanggotaan yang berisi data anggota serta pernyataan menaati
AD/ART dan perturan dari IAI
b. Dokumen administrasi dilengkapi, meliputi pas foto, salinan register negara bagi yang
sudah menjadi akuntan, ijasah, surat keterangan menjalankan praktik keprofesionalan,
serta bukti pembayaran uang pangkat dan iuran tahunan
c. Permohonan tersebut dapat disampikan secara langsung maupun melalui kantor
perwakilan, dapat juga dikirim melalui fax maupun e-mail.
Secara umum, untuk mendapatkan gelar CA adalah dengan mengikuti pendidikan
formal, kemudian menjadi akuntan, dan selanjutnya dapat menjadi akuntan
profesional dengan mendapatkan gelar CA.
Prosesnya dapat dilihat pada gambar berikut ini:

15

Sumber: IAI Global

Gambar 4: Rute Menjadi Akuntan Profesional

8. PENELITIAN TERDAHULU
a. Balance between auditing and marketing: An explorative study (Broberg, Umans, &
Gerlofstig, 2013)
Pernila Broberg, Timurs Umans, dan Carl Gerlofstig melakukan penelitian terkait
dengan pemasaran jasa audit. Mereka ingin mengetahui sampai sejauh mana para
auditor membagi waktunya, antara fokus pada pemasaran jasanya ataukah fokus pada
pekerjaannya dalam mengaudit. Hal ini dilakukan untuk melihat bagaimana
perkembangan proses bisnis yang semakin maju sehingga meningkatkan kebutuhan
jasa audit serta hubungan antara profesi audit dan pemasarannya. Broberg dan rekanrekan melakukan penelitian terhadap 672 auditor di Swedia sebagai respondennya.
Dari hasil penelitian menunjukan auditor yang memandang penting pemasaran lebih
banyak menghabiskan waktunya untuk menawarkan jasanya dari pada yang lebih
memandang penting terhadap profesi pekerjaan. Sementara terhadap auditor yang
menandang sama pentingnya antara profesi audit dan pemasaran akan lebih banyak
menghabiskan waktunya untuk menawarkan jasanya. Penelitian ini dilakukan dengan
kriteria masa kerja, umur, serta tempat dia bekerja. Namun demikian seharusnya
auditor bisa imbang dalam membagi anta profesi pekerjaan dan pemasaran untuk
jasanya.
b. At the Interface of the Electronic Frontier and the Law: The International Legal
Environment for Systems Reliability Assurance Services (Pacini, Hillison, PeltierRivest, Sinason, & Alagiah, 2000)
AICPA (American Institute of Certified Public Accountants) dan CICA (Canadian
Institute of Chartered Accountants) meluncurkan layanan assurance service baru
yaitu SysTrust. Tujuan dari layanan SysTrust ini adalah untuk memberikan jaminan
keandalan dari sistem yang digunakan. Target dari pengembangan dan penyebaran
16

layanan ini adalah untuk lingkungan dengan risiko ligitasi yang tinggi, khususnya di
wilayah Amerika, Kanada, Australia, New Zealand, dan Inggris. Ligitasi disini
dimaksudkan pada penyelesaian sengketa melalui jalur peradilan. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk menilai aspek hukum dari negara-negara tersebut sehingga
CA dan CPA dapat mengetahui isu-isu yang berkembang terkait SysTrust sebelum
mereka menjalankan jasa tersebut. Dan ternyata samapai dengan penelitian dibuat,
belum ada tuntutan terhadap auditor terkait dengan kelalaian dalam pelaksanaan jasa
tersebut. Serta SysTrust ternyata dapat meminimalisasi risiko ligitasi yang mungkin
terjadi dari segi strategi manajemen risiko.
c. It`s all about audit quality: Perspectives on strategis-systems auditing (Peecher,
Schwartz, & Solomon, 2007)
Penelitian ini membahas pemikiran terkait dengan Strategic-Systems Auditing (SSA).
Berdasarkan hasil pengamatan auditor yang menggunakan SSA harus memahami
bahwa audit merupakan proses pengendalian bukti, berdasarkan kepercayaan, serta
penilaian risiko. SSA ini muncul pertama kali pada tahun 1990-an sebagai
perwujudan dari upaya meningkatkan kualitas audit serta perubahan lingkungan audit.
Dan tentu saja SSA ini harus terus beradaptasi dengan tuntutan perubahan dari
masyarakat yang menghendaki perlindungan dari fraud atas laporan keuangan.
d. Internal Audit an Asia Pasific profile and the level of compliance with Internal
Auditing Standards (Leung & Cooper, 2009)
Penelitian ini memberikan gambaran tentang audit internal di negara Australia, Cina,
Jepang, New Zealand dan Taiwan apakah sudah sesuai dengan Institute of Internal
Auditors (IIA) International Standards. Hasilnya menunjuka perbedaan penggunaan
standar di kelima negera tersebut. Negara Australia memiliki ketaatan penggunaan
standar yang tinggi, hal ini dipengaruhi oleh tingkat kematangan dan pengalaman
yang dimiliki.
e. Changes and challanges facing the audit profession in Latvia (Aizsila & Ikaunieks,
2014)
Sudah lebih dari 20 tahun jasa audit dan sertifikasinya berkembang di negara Latvia.
Bila dibandingkan dengan negara-negara lain, perkembangan tersebut memakan
waktu yang relatif singkat. Tetapi selama kurun waktu tersebut, jasa audit
mengalamai perkembangan yang cukup dinamis seiring dengan permintaan akan jasa
audit. Latvian Association of Certified Auditors dan Audit Advisory Board memegang
peranan yang sangat penting dalam pengembangan profesi audit hingga sukses seperti

17

sekarang. Jalan yang ditempuh adalah dengan mengekan peraturan yang berlaku serta
melakukan penilaian terhadap kualitas audit.
f. A descriptive study of the OHS management auditing methods used by public sector
organizations conducting audits of workplaces: Implications for audit reliability and
validity (Robson, Macdonald, Gray, Van Eerd, & Bigelow, 2012)
Penelitian ini menjelaskan 17 metode audit yang digunakan oleh organisasi yang
mengaudit OHS (Occupational Healt and Safety) di sektor publik di Provinsi Ontario,
Inggris. Aspek yang dinilai terkait keandalan dan validitas. Hasilnya menunjukan ada
perbedaan antara praktek audit yang dilakukan dengan standar internasional tentang
sistem manajemen audit.

DAFTAR PUSTAKA
Aizsila, I., & Ikaunieks, R. (2014). Changes and Challenges Facing the Audit
Profession in Latvia. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 156, 627632. doi: http://dx.doi.org/10.1016/j.sbspro.2014.11.253
Arens, A. A., Elder, R. J., & Beasley, M. S. (2012). Auditing and Assurance Services
An Integrated Approach
Broberg, P., Umans, T., & Gerlofstig, C. (2013). Balance between auditing and
marketing: An explorative study. Journal of International Accounting,
Auditing
and
Taxation,
22(1),
57-70.
doi:
http://dx.doi.org/10.1016/j.intaccaudtax.2013.02.001
IAI. Ketentuan Chartered Accountant IAI. Retrieved 11 September 2015, from
http://www.iaiglobal.or.id/v02/chartered_accountant/
Standar Profesional Akuntan Publik (2011).
Leung, P., & Cooper, B. J. (2009). Internal audit an AsiaPacific profile and the
level of compliance with Internal Auditing Standards. Managerial Auditing
Journal, 24(9), 861-882. doi: doi:10.1108/02686900910994809
MBDA. 5 Cs of Credit Analysis.
Retrieved 9 September 2015, from
http://www.mbda.gov/blogger/financial-education/5-c-s-credit-analysis
Pacini, C., Hillison, W., Peltier-Rivest, D., Sinason, D., & Alagiah, R. (2000). At the
interface of the electronic frontier and the law: the international legal
environment for systems reliability assurance services. Journal of
International Accounting, Auditing and Taxation, 9(2), 185-218. doi:
http://dx.doi.org/10.1016/S1061-9518(00)00031-8
18

Peecher, M. E., Schwartz, R., & Solomon, I. (2007). Its all about audit quality:
Perspectives on strategic-systems auditing. Accounting, Organizations and
Society, 32(45), 463-485. doi: http://dx.doi.org/10.1016/j.aos.2006.09.001
Robson, L. S., Macdonald, S., Gray, G. C., Van Eerd, D. L., & Bigelow, P. L. (2012).
A descriptive study of the OHS management auditing methods used by
public sector organizations conducting audits of workplaces: Implications
for audit reliability and validity. Safety Science, 50(2), 181-189. doi:
http://dx.doi.org/10.1016/j.ssci.2011.08.006

19